Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

Permasalahan Pembangunan Perkotaan dan Wilayah

Nama : Rizal

NIM : 18.70.251.007

TAHUN 2019

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNIK


PROGRAM STUDI : KAJIAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN WILAYAH

UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA
Jurnal Penelitian

No Jurnal Penelitian Intisari Permasalahan Kesimpulan Penelitian


1. “Identifikasi alif fungsi lahan
Pertambahan penduduk dan 1. Alih fungsi lahan pertanian di
pertanian dan kondisi sosial perkembangan Kota Semarang pinggiran Kota Semarang dalam
ekonomi masyarakat daerah yang mengarah hingga ke daerah hal ini di Kecamatan
Gunungpati terjadi secara
pinggiran di Kecamatan pinggiran (wilayah peri-urban)
progresif pada area-area tertentu
Gunungpati Kota Semaran” menyebabkan kebutuhan lahan di atau area pengembangan,
area pinggiran kota semakin seperti pada area dekat dengan
Penulis: Nurma Kumala meningkat. Adanya alih fungsi pusat kota, kawasan pendidikan,
Dewi & Iwan Rudiarto lahan terutama lahan pertanian dan pada area strategis lain
Jurusan Magister tentunya menyebabkan terjadinya yaitu pada koridor lain atau
Pembangunan Wilayah dan perubahan kondisi sosial ekonomi pintu masuk ke Kecamatan
Gunungpati.
Kota UNDIP masyarakat disana. Dari alih
2. Perubahan kondisi sosial
fungsi lahan tersebut sangat ekonomi secara nyata dirasakan
dimungkinkan terjadi perubahan oleh penduduk asli Kecamatan
matapencaharian penduduk. Dari Gunungpati yang dulunya
yang semula menjadi petani, menjadi petani. Petani yang
menjadi bukan petani, atau kehilangan lahan sawahnya
bahkan menjadi pengangguran. tersebut mayoritas mengalami
penurunan pendapatan. Hal ini
Jika dibiarkan terus-menerus, hal
dikarenakan tingkat pendidikan
tersebut dapat mengancam dan ketrampilan para petani
keberlanjutan sistem livelihood yang terbatas atau tergolong
masyarakat peri-urban khususnya rendah sehingga mereka tidak
petani. dapat mengakses pekerjaan
formal.
3. Selain itu, perubahan juga
terasa pada kondisi sosial
masyarakat yang berada pada
area-area pengembangan
tersebut. Perubahan tersebut
nantinya akan berujung pada
memudarnya kekerabatan antar
warga.
2. “Faktor-faktor yang Kabupaten Lamongan sebagai 1) Jenis alih fungsi lahan sawah
mempengaruhi alih fungsi lumbung pangan di Jawa Timur di Kabupaten Lamongan pada
pertanian sebagai upaya mengalami penurunan luas lahan tahun 2009-2012 antara lain
prediksi perkembangan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan Alih fungsi lahan pertanian
pertanian di Kabupaten pada periode 2009-2012, disisi sawah terhadap permukiman;
Lamongan” lain adanya tuntutan terhadap Alih fungsi lahan pertanian
pertumbuhan ekonomi di wilayah sawah terhadap industri; Alih
Penulis :Merisa Kruniasari ini terutama disektor non fungsi lahan pertanian sawah
dan Putu Gde Ariastita pertanian terus dilakukan. terhadap perdagangan dan jasa
Jurusan : PWK ITS Penelitian ini bertujuan untuk 2) Melalui analisis GWR, proses
memprediks perkembangan lahan analisis faktor-faktor yang
pertanian berdasarkan mempengaruhi alih fungsi
kecenderungan alih fungsi lahan lahan sawah di Kabupaten
pertanian. Lamongan dapat
memunculkan hasil yang lebih
spesifik terkait faktor yang
bersifat lokal pada masing-
masing lokasi dengan melihat
keragaman antar wilayah pada
masing-masing kecamatan
tersebut yang kemudian
dihasilkan suatu model per
kecamatan sebagai input pada
analisis penelitian selanjutnya
yaitu kecenderungan
perkembangan alih fungsi
lahan sawah.
3) Terdapat 2 variabel yang
berpengaruhdalam
mempengaruhi luasan alih
fungsi lahan sawah di wilayah
penelitian, yaitu rasio harga
lahan (X2) dan rasio
aksesibilitas wilayah (X4).
Pada dua variabel yang
signifikan mempengaruhi alih
fungsi lahan sawah di
kabupaten Lamongan
menghasil kelompok-
kelompok kecamatan yang
mempunyai kesamaan
karakteristik yang bisa
mempengaruhi nilai
penambahan luas alih fungsi
lahan sawah di Kabupaten
Lamongan.
3. “Dampak Konversi Lahan Penelitian ini bertujuan untuk Perubahan penggunaan lahan
Pertanian Terhadap Kondisi menjelaskan dampak konversi pertanian di Kecamatan
Sosial Ekonomi Petani” lahan pertanian terhadap kondisi Pamanukan menyebabkan:
sosial ekonomi petani dari aspek 1. Perubahan struktur mata
Penulis : Linda Dwi struktur mata pencaharian, pencaharian rumah tangga
Rohmadiani kepemilikan lahan pertanian, dan petani dari sektor primer
(pertanian) menjadi ke sektor
migrasi. Metode yang digunakan
sekunder dan tersier (buruh,
adalah metode deskriptif dengan pengrajin, PNS/TNI/POLRI,
menggunakan pendekatan dan pedagang).
kualitatif dan kuantitatif.Trend 2. Jumlah petani pemilik lahan
pertanian lebih kecil daripada
konversi lahan di wilayah studi
jumlah petani non pemilik
dari tahun 1997 ke tahun 2006 dengan perbandingan 1:5.
berupa berkurangnya sawah 3. Penyusutan luasan kepemilikan
sebesar 34,48%, tambak sebesar lahan pertanian menyebabkan
2,75%, kebun campuran sebesar kenaikan migrasi keluar dengan
2,03%, dan hutan sebesar 0,2%. tujuan mencari pekerjaan
(sebagai TKI dan buruh
bangunan di Jakarta dan
Bekasi).

Pembahasan

Pengertian alih fungsi lahan

Alih fungsi lahan merupakan salah permasalahan pembangunan yang kerap terjadi terutama di
kawasan perkotaan, alih fungsi lahan atau biasa disebut konversi lahan merupakan sebuah
perubahan fungsi sebagian atau seluruh lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi yang lain
yang berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar atau pada lahan itu sendiri.

Alih fungsi lahan sering kali sulit terhindarkan dikarenakan adanya faktor-faktor tertentu
diantaranya adalah semakin bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan
ruang untuk berusaha, bertempat tinggal atau kebutuhan akan fasilitas-fasilitas pendukung
lainnya akan semakin meningkat.

Alih fungsi lahan dapat terjadi pada kawasan-kawasan yang mulai mengalami perubahan
orientasi perekonomian, yang semula berbasis pertanian berubah menjadi non pertanian seperti
industry, perdagangan dan jasa dan lain-lain, kondisi ini banyak terjadi pada daerah-daerah
pinggiran perkotaan yang awalnya merupakan kawasan perdesaan mulai berubah karena adanya
perkembangan kota yang massif, istilah ini biasa disebut urban sprawl atau terjadinya
pemekaran perkotaan pada daerah sekitarnya namun cenderung tidak terstruktur tanpa adanya
rencana. Perdesaan yang dikenal sebagai penyokong kehidupan perkotaan, yaitu penghasil padi,
ternak, perkebunan dan sebagainya telah berubah fungsi menjadi permukiman yang padat bahkan
menjadi kawasan industri. Terjadinya urban sprawl dikarenakan berubahnya pola pikir
masyarakat yang berasumsi bahwa harga tanah di daerah pinggiran lebih murah dan terjangkau
serta kondisi udara yang masih sehat, adanya permintaan yang tinggi terhadap lahan di pinggiran
menyebabkan terjadinya alih fungsi pertanian menjadi non pertanian.

Berdasarkan hasil telaah terhadap jurnal penelitian diatas bahwa proses alih fungsi lahan yang
dilakukan oleh pihak lain biasaya berlangsung melalui dua tahapan yaitu:

1. Pelepasan hak pemilikan lahan petani kepada pihak lain, dan


2. Pemanfaatan lahan tersebut untuk kegiatan non pertanian

Konversi lahan dilakukan oleh orang lain atau individu kepada individu dan individu kepada
swasta atau pemerintah.

Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Non Pertanian

Terkonsentrasinya pembangunan di kawasan perkotaan menyebabkan tingginya harga tanah


karena permintaan sangat tinggi sehingga orang cenderung mencari lahan yang dianggap masih
murah dan terjangkau, namun disisi lain alih fungsi lahan menimbulkan dampak negative antara
lain:

1. Berkurangnya luas lahan sawah yang mengakibatkan turunnya produksi padi, yang
mengganggu tercapainya swasembada pangan.
2. Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan bergesernya lapangan kerja dari sektor
pertanian ke non pertanian, yang apabila tenaga kerja lokal tidak terserap seluruhnya
justru akan meninggikan angka pengangguran. Dampak sosial ini akan berkembang
dengan meningkatnya kecemburuan sosial masyarakat setempat terhadap pendatang yang
pada gilirannya berpotensi meningkatkan konflik sosial.
3. Investrasi pemerintah dalam pengadaan prasarana dan sarana pengairan menjadi tidak
optimal pemanfaatannya.
4. Kegagalan investor dalam melaksanakan pembangunan perumahan maupun industry
sebagai dampak krisis ekonomi atau karena kesalahan perhitungan mengakibatkan tidak
termanfaatkannya tanah yang telah diperoleh sehingga meningkatkan luas lahan tidur.