Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Akreditasi RS merupakan suatu proses dimana suatu lembaga yang independen
melakukan asesmen terhadap rumah sakit. Tujuannya untuk menentukan apkah rumah
sakit telah memenuhi standar yang dirancang untuk memperbaiki keselamatan dan mutu
pelayanan. Standar Akreditasi merupakan suatu persayaratan yang optimal dan dapat
dicapai. Standar akreditasi ini merupakan upaya mendorong rumah sakit senantiasa
meningkatkan mutu dan keamanan pelayanan dan distimulasi melakukan bperbaikan
yang berkelanjutan dan terus menerus serta perbaikan sistem yang meliputi input,
proses, produk, output dan out come.

Berdasarkan standar Akreditasi rumah sakit dikelompokan menurut fungsi-fungsi


konsisten dan harus dipatuhi oleh setiap unit/bagian dan Instalasi. Undang-undang
Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit mewajibkan rumah sakit menjalani akreditasi
dengan demikian rumah sakit harus menerapkan standar akreditasi termasuk standar-
standar lainnya yang berlaku bagi rumah sakit sesuai dengan penjabaran dalam standar
Akreditasi Rumah Sakit versi 2012.

Hal ini sebagai dasar dimulainya pembangunan sistem di rumah sakit dalam
menerapkan standar-standar akreditasi diperlukan dokumen yang merupakan regulasi di
Rumah Sakit diatur dalam bentuk Panduan Tata Naskah rumah sakit.

Mengacu pada Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi Rumah Sakit bahwa


dokumen akreditasi yang harus disiapkan rumah sakit meliputi dokumen yang merupakan
regulasi dan dokumen bukti pelaksanaan kegiatan. Untuk dokumen yang merupakan
regulasi dibuat dalam bentuk Pedoman/Panduan Tata Naska Rumah Sakit. Bentuk
pedoman Tata Naska Dinas dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Kesatu Regulasi Pelayanan Rumah Sakit, yang terdiri dari :


 Kebijakan Pelayanan RS
 Pedoman/Panduan Pelayanan RS
 Standar Prosedur Operasional (SPO)
 Rencana Jangka Panjang (Renstra, Rencana Strategis Bisnis, Bisnis Plan, dll
 Rencana Kerja Tahunan (RKA, RBA, atau lainnya).

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 1


2. Kedua Regulasi di unit kerja RS yang terdiri dari:
 Kebijakan Pelayanan RS
 Pedoman/Panduan Pelayanan RS
 Standar Prosedur Operasional (SPO)
 Program (Rencana Kerja Tahunan Unit Kerja)
Kebijakan rumah sakit ditetapkan oleh Direktur bersifat garis besar dan mengikat,
karena kebijakan bersifat garis besar dan mengikat maka untuk penerapan kebijakan
perlu disusun pedoman/panduan dan prosedur sehingga ada kejelasan dan langkah-
langkah untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

Pedoman adalah kumpulan ketentuan dasar yang memberi arah bagaimana sesuatu
harus dilakukan dan merupakan hal pokok yang menjadi dasar untuk menentukan atau
melaksanakan kegiatan dan mengatur beberapa hal terkait bidangnya masing-masing.
Sedangkan panduan adalah merupakan petunjuk dalam melaksanakan kegiatan dan
hanya mengatur satu hal/kegiatan. Ada beberapa Pedoman dan Panduan yang harus
dibuat rumah sakit yaitu Pedoman Penggorganisasian Unit Kerja, Pedoman Pelayanan
Unit Kerja dan Panduan Pelayanan Rumah Sakit.

Terkait hal diatas maka kami menyusun pedoman palayanan Ambulance dan
jenazah, agar petugas baik kepala instalasi maupun pelaksana ambulance lebih terarah
dalam melaksanakan tugas sehari-hari di rumah sakit.

B. Tujuan Pedoman
Sebagai acuan dalam bekerja sehari-hari dalam pelayanan tranfer pasien dan
pelayanan jenazah yang meninggal didalam dan diluar RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov.
Sulsel

C. Definisi
1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada
suatu bidang atau jenis penyakit btertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur,
orang atau jenis penyakit.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 2


3. Rumah Khusus Kelas B adalah rumah sakit khusus yang mempunyai sekurang-
kurangnya fasilitas pelayanan medic umum, pelayanan gawat darurat sesuai
kekhususannya, pelayanan medic spesialis dasar sesuai kekhususannya, pelayanan
keperawatan dan kebidanan, pelayanan penunjang klinik, pelayanan penunjang non
klinik.
4. Fasilitas adalah segala sesuatu yang menyangkut Sarana, Prasrana maupun Alat
(baik alat medik maupun alat non medik) yang dibutuhkan oleh rumah sakit dalam
memberikan pelayanan yang sebaik-bauiknya bagi pasien.
5. Sarana adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi mata maupun
teraba oleh panca indra dan dengan mudah dapat dekenali oleh pasien dan
(umumnya) bagian dari suatu gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.
6. Prasarana adalah benda maupun jaringan/instalasi yang membuat suatu srana yang
ada bias berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
7. Instalasi Ambulance dan jenazah adalah fasilitas untuk meletakan/penyimpanan
sementara jenazah, sebelum diambil oleh keluarganya, memandikan jenazah,
pemulasaraan, dan pelayanan ambulance.
8. Tata Laksana Pelayanan adalah suatu pengaturan kegiatan dalam bentuk sistem,
prosedur atau metode tertentu diberikan kepada orang lain, dalam hal ini, kebutuhan
pelanggan tersebut dapat terpenuhi sesuai dengan harapan atau keinginan pelanggan.
9. Logistik adalah suatu ilmu pengetahuan atau seni serta proses mengenai
perencaanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan
pemeliharaan serta penghapusan material-material/alat-alat.
10. Keselamatan kerja adalah sasaran utama untuk mencegah kecelakaan,cacat dan
kematian sebagai akibat kecelakaan kerja.Adapun definisi keselamatan kerja.
11. Pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dikembangkan oleh organisasi
untuk menghadapi resiko, dan mutu diartikan sebagai keseluruhan karakteristik produk
dan jasa dari pemasaran rekayasa, pembuatan dan pemeliharaan yang membuat
produk dan jasa yang digunakan memenuhi harapan-harapan pelanggan.
12. Keselamatan kerja adalah usaha untuk sedapat mungkin memberikan jaminan
kondisi kerja yang aman dan sehat pada setiap karyawan dan untuk melindungi
sumber daya manusia.
13. Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 3


kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil.

D. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan Unit Pelayanan Instalasi Ambulance dan Jenazah adalah
transfer pasien ke tempat rujukan, mengantarkan jenazah dengan disimpan sementara di
ruangan jenazah.

E. Dasar Hukum
Dasar hukum yang mendasari penyusunan Pedoman Pelayanan Instalasi ambulance
dan jenazah adalah :

1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana


tealah diubah kedua kali dengan Undang-Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012;
2. Unadang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Unadang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit
4. Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 06 Tahun tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah;
7. Peraturan Daerah No.5 tahun 1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit.;

8. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan mengeluarkan Standar Akreditasi


Rumah Sakit Nomor HK.02.04/I/2790/11 tentang Standar Akreditasi Rumash Sakit;
9. Keputusan Komisi Akreditasi Rumah Sakit tahun 2012 tentang Panduan Penyusunan
Dokumen Akreditasi

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 4


BAB II
KETENAGAAN PELAYANAN AMBULANCE DAN JENAZAH

Untuk menjalankan pelayanan Ambulance dan jenazah didukung oleh tenaga


pengelola dan supir.
Kualifikasi Tenaga Instalasi Ambulance dan Jenazah
1. Kepala Instalasi Ambulance dan jenazah
Nama Jabatan : Kepala Instalasi Ambulance dan jenazah
Unit Kerja : penunjang non medis
1) Ikhtisar Jabatan :
a. Membuat dan mengevaluasi sitem, pedoman, SPO, juknis kegiatan
pelayanan Ambulance dan jenazah, meliputi penerimaan pasien di rujuk,
penyelesaian administrasi, proses pelayanan dan akhir pelayanan
Ambulance dan jenazah.
b. Merencanakn sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi
kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan.
c. Mengkoordinir, mengawasi dan mengendalikan pendayagunaan tenaga dan
fasilitas unit keja dengan berorientasi pada mutu pelayanan
d. Memberi petunjuk dan bimbingan dalam pendayagunaan tenagadan fasilitas
unit Ambulance dan jenazah.
e. Mengawasi perawatan dan izin penggunaan alat-alat Ambulance dan
jenazah.
f. Membuat, memeriksa, memaraf dan atau menandatangani surat, nota dinas.
g. Menyusun program kerja dan anggaran unit Ambulance dan jenazah.
h. Membuat dan mengatur jadwal dinas dokter Ambulance dan jenazah.
i. Melaporkan adanya pelanggaran disiplin atau peraturan Rumah Sakit
j. Menangani dokumen sesuai kewenangan yang dimiliki, antara lain surat
usulan, laporan bulanan, permintaan fasilitas rutin dan notulen rapat.
k. Menyelenggarakan dan memimpin rapat unit Ambulance dan jenazah.
l. Bertanggungjawab dan menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di
Ambulance dan jenazah.
2) Hasil kerja :
a. SPO, petunjuk teknis kegiatan pelayanan Ambulance dan jenazah, pedoman
pengorganisasian .
b. Petunjuk kerja bawahan.
c. Supervisi pelaksanaan tugas bawahan

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 5


d. Jadwal dinas dokter Ambulance dan jenazah,
e. Rencana kerja dan anggaran kebutuhan Ambulance dan jenazah,
f. Program kerja tahunan dan anggaran kebutuhan unit kerja
g. Supervisi internal dan eksternal.
3) Uraian Tugas
a.Melaksanakan Fungsi Perencanaan (PI), meliputi :
1) Menyusun sistem kerja dan SPO
2) Mengevaluasi prosedur kerja
3) Membuat program pengembangan profesionalitas SDM Ambulance dan
jenazah.
4) Membuat dan mengatur jadwal supir Ambulance dan jenazah
5) Menyusun program kerja tahunan
6) Menyusun program orientasi bagi tenaga baru
7) Menyusun dan mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu-waktu bila
diperlukan.
8) Menyusun rencana kebutuhan tenaga dari segi jumlah maupun kualifikasi
sesuai kebutuhan
9) Meyusun rencana kebutuhan peralatan dari segi jumlah maupun jenis
dan kualitas alat.
10) Menyusun program pengembangan staf sesuai kebutuhan pelayanan
yang berada diwilayah tanggungjawabnya.
11) Menyusun dan mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu-waktu bila
diperlukan.

b. Melaksanakan fungsi penggerakan dan pelaksanaan (P2), meliputi :


1) Menyampaikan dan menjelaskan kebijaksanaan pada staf yang berada di
bawah tanggungjawabnya.
2) Memberi bimbingan pelaksanaan kepada seluruh tenaga dalam lingkup
tugasnya
3) Menghadiri pertemuan yang diadakan oleh manajer direksi,
4) Mengadakan pertemuan secara berkala atau sewaktu-waktu bila
diperlukan,
5) Menerima laporan rutin dan berkala dari pengemudi Ambulance dan
jenazah tentang SDM fasilitas, produktifitas dan mutu pelayanan
6) Membantu menyelesaikan masalah-masalah internal Ambulance dan
jenazah.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 6


7) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan di unit Ambulance
dan jenazah sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan/ ketentuan rumah
sakit.
8) Melaksanakan program orentasi kepada tenaga baru.
9) Memelihara suasana kerja harmonis di tempat kerja
10) Memberi motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan
Lingkungan
11) Meneliti dan mempertimbangkan surat permohonan, cuti, pindah,
berhenti dari pengemudi Ambulance dan jenazah.

c. Melaksanakan Fungsi Pengawasan, pengedalian dan penilaian (P3),


meliputi :
1) Mengendalikan pelaksanaan peraturan/tata tertib/ SPO/ unit
Ambulance dan jenazah yang berlaku
2) Mengendalikan pendayagunaan peralatan, tenaga secara efektif dan
efisien.

4) Tanggung Jawab :
a. Mewujudkan terlaksananya SPO dan penunjuk teknis pelayanan Ambulance dan
jenazah
b. Ketepatan dan kesesuaian catatan pemenuhan kebutuhan SDM dengan
realisasi
c. Kesesuaian dan kebenaran dalam membuat laporan kepada manajemen
d. Dapat menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di Ambulance dan jenazah
e. Bertanggungjawab terhadap seluruh pemeriksaan Ambulance dan jenazah
f. Menjamin tidak ada masalah dalam penjadwalan dinas para pengemudi
Ambulance dan jenazah.
g. Kelancaran, ketepatan waktu pelaksanaan tugas semua tenaga dan menjaga
kepuasan pelanggan terhadap pelayanan unit Ambulance dan jenazah.
h. Kebenaran dan ketepatan usulan rencana kebutuhan dan pengaturan tenaga di
instalasi Ambulance dan jenazah.
i. Keobyektifan dan kebenaran penilaian kinerja tenaga dan unit kerja.
j. Mengatur rencana kegiatan pelayanan instalasi Ambulance dan jenazah.
k. Memberikan ide/masukan kepada atasan mengenai pengembangan Ambulance
dan jenazah.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 7


l. Menilai, menegur dan memotivasi pengemudi Ambulance dan jenazah.
m. Meminta masukkan dari staf karyawan dan unit kerja lainnya.
n. Meminta arahan dari atasan.
o. Mengatur jadwal dinas-dinas pengemudi Ambulance dan jenazah
5) Syarat Jabatan :
NO JENIS PENDIDIKAN PELATIHAN PENGALAMAN

1 Minimal S1 Transfer pasien, Pengalaman di


kesehatan/adm dan pemulasaraan jenazah Ambulance dan jenazah
manajemen minimal 5 tahun

2. Pengelola Administrasi/logistik
Nama Jabatan : Pengelola administrasi/logistik
Unit Kerja : Instalasi Ambulance dan jenazah

1) Ikhtisar Jabatan :
a. Menyusun langkah kegiatan penerimaan pendaftaran pasien dirujuk dan kegiatan
pencatatan registrasi
b. Membuat laporan kegiatan yang berhubungan dengan administrasi dan logistik
c. Membuat laporan kegiatan pelayanan Ambulance dan jenazah berupa jumlah
pasien dirujuk dan meninggal
d. Melakukan pengawasan terhadap keadaan stock barang-barang logistik dan
masa expirenya.
e. Membuat dan mengatur pengarsipan surat menyurat Ambulance dan jenazah.
2) Hasil kerja :
a. Pasien yang dirujuk dan meninggal tercatat dalam pembukuan/registrasi
Ambulance dan jenazah
b. Laporan Jumlah pasien yang dirujuk dan meninggal
c. Adanya uraian dan petunjuk kerja
d. Pencatatan surat-menyurat
e. Laporan stock barang-barang logistic

3) Uraian Tugas :
a. Membuat laporan harian Ambulance dan jenazah
b. Mengawasi dan mencatat surat masuk dan keluar
c. Mengawasi dan mencatat permintaan barang-barang logistik

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 8


d. Mengontrol alat-alat atau fasilitas yang berhubungan dengan aktifitas tulis
menulis
e. Membuat laporan catatan kerusakan mobil Ambulance dan jenazah
f. Membuat laporan hasil pemeliharaan ambulance dan jenazah
g. Membuat jadwal dinas.

4) Tanggung jawab :
a. Kelancaran proses administrasi pasien
b. Kebenaran laporan kegiatan pelayanan Ambulance dan jenazah
c. Kelancaran dan ketepatan dalam pengadaan barang-barang logistik
d. Kelancaran dalam pelayanan Ambulance dan jenazah
e. Ketepatan dalam service Ambulance dan jenazah

5) Wewenang :
a. Mengatur petugas dalam pembuatan laporan kegiatan pelayanan Ambulance
dan jenazah
b. Meminta masukan dan arahan dari atasan
c. Mengontrol dan meminta stock barang-barang logistik
d. Melakukan protes/komplain jika proses administrasi mengalami masalah
e. Membuat dan mengatur proses surat-menyurat dan pengarsipan

6) Syarat Jabatan :
NO JENIS PENDIDIKAN PELATIHAN PENGALAMAN

SMA Administrasi Pengalaman minimal


satu bulan

3. Pengemudi Ambulance dan jenazah


Nama Jabatan : Pengemudi
Unit Kerja : Instalasi Ambulance dan jenazah
1) Ikhtisar Jabatan :
a. Melakukan pengawasan terhadap kebersihan alat-alat Ambulance dan jenazah
b. Merujuk pasien ke rumah sakit rujukan
c. Mengantar pasien ke keluarga pasien
d. Mengantar jenazah ke keluarga pasien
e. Melaporkan pada unit terkait apabila ada keruskan peralatan
f. Menjamin tersedianya peralatan maupun obat-obatan emergensi di ambulance

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 9


g. Menjaga kelengkapan, kerapian dan kebersihan ambulance dan jenazah
h. Melaksanakan tugas lain dari atasan

2) Hasil Kerja :
a. Format expedisi pengantaran pasien
b. Laporan format kondisi Ambulance
c. Laporan jumlah pengguna Ambulance dan jenazah

3) Uraian Tugas :
a. Menjaga kebersihan alat-alat Ambulance dan jenazah
b. Mengantar pasien ke rumah sakit rujukan
c. Mengantar pasien ke rumah keluarga pasien
d. Mengantar jenazah ke rumah duka
e. Mengontrol fungsi dan sarana Ambulance dan jenazah

4) Tanggung Jawab :
a. Terlaksananya aktifitas kebersihan alat-alat Ambulance dan jenazah
b. Terlaksananya kontrol sarana ambulance dan jenazah
c. Ketepatan dan kelancaran pelaksanaan servise Ambulance dan jenazah sesuai
dengan perjanjian
d. Terlaksananya pengantara pasien dan atau jenazah
e. Terjaga kerapian ruangan
f. Tetap terjaga kualitas alat-alat Ambulance dan jenazah

5) Wewenang :
a. Memeriksa sarana ambulance dan jenazah
b. Melaporkan kondisi ambulance dan jenazah
c. Memberi dan meminta saran kepada atasan berkenaan dengan kondisi
Ambulance dan jenazah

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 10


6) Syarat Jabatan :

NO JENIS PENDIDIKAN PELATIHAN PENGALAMAN

1 SMA Surat Izin mengemudi Pengalaman minimal


satu tahun

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 11


BAB III
STANDAR FASILITAS AMBULANCE DAN JENAZAH

A. Denah Instalasi Ambulance dan jenazah

Ruangan pengelola staf

Ambulance dan jenazah

B. Fasilitas Ambulance dan jenazah


Instalasi Ambulance dan jenazah bertempat bersatu dengan IPSRS.
Instalasi Ambulance dan jenazah memiliki fasilitas garasi yang terdiri dari :
 1 Ruang garasi Ambulance dan jenazah
 Ambulance terdiri dari 1 ambulance

1. Ruang Pengelola
Ruang pengelola bersatu dengan ruangan IPSRS dan bekerjaa sama dalam
pemakaian perkakas serta penggunaan akomputer untuk jalannya
pengadministrasian ambulance dan jenazah

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 12


BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Persiapan
Persiapan yang harus dilakukan oleh pengelola ambulance dan jenazah adalah
memimpin operan antara dinas malam dan dinas pagi, langkah –langkahnya sebagai
berikut:

1. Pengelola ambulance memimpin operan


2. Petugas dinas malam menyampaikan pelaksanaan pada malam hari
3. Petugas malam hari melaporkan :
a. Jumlah pasien yang dirujuk
b. Jumlah pasien meninggal dan dikirim kerumah duka
c. Menyerahkan format laporan harian
d. Melaporkan kondisi ambulance
4. Petugas dinas pagi mengecek formulir kondisi ambulance
5. Pengelola menerima format laporan untuk dilaporkan kepada seksi Sapras
6. Pengelola ambulance menutup operan
7. Mengechek kondisi ambulaance dan mencatat amper bensin
8. Pengelola menyiapkan kupon bensin bila rujukan lebih dari 1 pasien
9. Petugas dinas pagi minta pengechekan kondisi kesehatan kepada poliklinik
10. Petugas dinas pagi menyiapkan ambulance dengan pengechekan sesuai dengan
formulir pengecekan ambulance:
11. Setelah selesai diserahkan kepada tim transfer pasien di IGD
12. Petugas jaga di meja tunggu supir ambulance di pendaftaran untuk siap-siap bila
sewaktu-waktu dibuuhkan

B. Pelaksanaan
1. Rujukan
a. Tim transfer menghubungi pengemudi jaga
b. Pengemudi menyiapkan ambulance didepan IGD
c. Pihak keluarga menyelesaikan aadministrasi ke keuangan
d. Tim transfer bersama pengemudi melakukan mobilisasi pasien
e. Pengemudi membawa lembaran formullir expedisi

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 13


f. Pengemudi membawa pasien bersama tim transfer
g. Setelah kembali pengemudi minta di tandatangan/diparaf formulir expedisi oleh tim
transfer
h. Pengemudi mengisi kembali bahan bakar untuk persiapan bila ada rujukan kembali

2. Pasien Meninggal
a. Perawat/bidan menghubungi pengemudi ambulance
b. Pengemudi mendata pasien yang meninggaal kepada petugas ruangan
c. Pengemudi menghubungi pihak keluarga untuk persiapan pengantaran pasien
d. Pihak keuarga menyelesaikan administrasi ke keuangan
e. Jenazah disimpan sementara di ruangan jenazah selama 2 jam
f. Jenazah setelah 2 jam dibawa ke rumah duka
g. Pengemudi minta formulir expedisi untuk di paraf oleh keluarga jenazah
h. Bila tidak ada keluarga maka pengemudi membawa jenazah kekamar jenazah
RSHS dengan langkah-langkah sebagai berikut
1) Petugas di ruangan menghubungi kamar jenazah RSHS
2) Bila sudah bisa diantar
3) Petugas ruangan untuk menghubungi pengemudi
4) Pengemudi mengurus administrasi pembayaran penyimpanan jenazah di
kamar jenazah RSHS kepada petugas keuangan
5) Pengemudi membawa kuitansi dan formulir expedisi
6) Pengemudi membawa jenazah bersama tim transfer di ruangan
7) Sampai di tempat laakukan operan jenazah dengan meminta tanda tangan
penyerahan jenazah, expedisi dan kuaitaansi pembayaran dengan cap RSHS

C. Pelaporan
Pelaporan dilakukan setelah selesai merujuk pasien dan di rekap 1 jam sebelum
operan dengan dinas berikutnya.

D. Evaluasi
Lakukan evaluasi dengan memberikan indikator kepuasan pelanggan kepada tim
transfer pasien sebagai pengguna dan langsung ambil quisener oleh pengelola, hasil
laporkan kepada kepala seksi setiap 6 bulan sekali

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 14


BAB V

LOGISTIK

Logistik diartikan suatu kegiatan dalam mengelola sarana dan prasarana mulai dari
perencanaan, penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, penyaluran,
pengamanan, penghapusan, pengendalian dan evaluasi/penilaian mutu. Definisi logistik
dalam buku, The World Book Encyclopedia Dictionary yang dikutip oleh H. Subagya M.
Suganda disebutkan bahwa : "Logistics is the art of supply : logistics is the arithmetical
calculation". (Subagya, Manajemen Logistics, 1988 : 4). Bila diterjemahkan secara bebas
mengenai logistik merupakan salah satu kegiatan yang bersangkutan dengan segi - segi :

1. Perencanaan dan pengembangan, pengadaan, penyimpanan, pemindahan,


penyaluran, pemeliharaan, pengungsian dan penghapusan alat alat perlengkapan.
2. Pemindahan, pengungsian dan perawatan personil.
3. Pengadaan dan pembuatan, penyelenggaraan, pemeliharaan dan penghapusan
fasilitas-fasilitas.
4. Pengusahaan atau pemberian layanan atau bantuan dalam hal ini mencakup
perencanaan termasuk pula penentuan kebutuhan - kebutuhan serta penggunanya.
Dari uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa logistik merupakan suatu ilmu
pengetahuan atau seni serta proses mengenai perencaanaan dan penentuan kebutuhan,
pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material-
material/alat-alat.

Logistik unit Pelayanan ambulance dan jenazah meliputi kebutuhan sarana kantor,
gudang, Ruang Kantor, peralatan rumah tangga, suku cadang, pakaian, alat keselamatan
kerja dalam pemenuhan logistik Instalansi ambulance dan jenazah harus melalui tahapan
sebagai berikut:

A. PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGANGGARAN


Dalam Pemenuhan kebutuhan Logistik, Unit pelayanan Ambulance dan jenazah
menyusun rencana kebutuhan logistik disusun dalam rencana kerja dan anggaran Unit
Kerja Instalansi setelah memperhatikan ketersediaan barang yang ada dalam gudang.
Untuk mendapatkan anggaran kebutuhan logistik tersebut melalui tahapan sebagai
berikut:

1. Instalasi ambulance dan jenazah menyusun Rencana Kebutuhan dan anggaran


diusulkan pada Seksi Sarana dan Prasarana sebagai atasan langsung sebagai
dasar penyusunan RKA Unit Kerja Seksi Sarana dan Prasarana.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 15


2. Seksi Sarana dan Prasarana menghimpun usul rencana dari unit kerja dibawahnya
sabagai dasar penyususnan RKA Unit Kerja Seksi Sarana dan Prasarana dan
diusulkan ke Pengguna Anggaran SKPD.
3. Pengguna Anggaran menghimpun usul rencana dari unit kerja para seksi dan Ka
Subag Tata Usaha dan unit dibawahnya sebagai dasar penyusunan RKA-SKPD.
4. Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat daerah diusulkan ke TPAD
melalui DPKAD sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD) Ke RSKD Inu dan Anak
Pertiwi.

B. PENGADAAN
Pengadaan barang/barang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip efisien, efektif,
transparan terbuka, bersaing dan adil /tidak diskriminatif dan akuntabel. Alur
Pengadaan Barang/Jasa sebagai berikut:

1. Instalasi ambulance dan jenazah mengusulkan kebutuhan logistik kepada direktur


untuk diberikan disposisi persetujuan pengadaan barang / jasa.
2. Pengadaan barang jasa dilaksanakan oleh Panitia Pengadaan Barang Jasa/ atau
Unit Lembaga Pengadaan Barang jasa;
3. Panitia Pengadaan Barang jasa/ Unit Lembaga Pengadaan Barang jasa ditetapkan
dengan Keputusan Direktur;
4. Pengadaan Barang jasa dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundangan
yang berlaku;
5. Realisasi hasil pelaksanaan pengadaan barang jasa dilakukan pemeriksaan oleh
Panitia Penerima dan Pemeriksa Barang dan Jasa;
6. Panitia Penerima dan Pemeriksa Barang jasa ditetapkan dengan Keputusan
Direktur;
7. Pengguna Barang membuat laporan hasil pengadaan barang/jasa kepada Walikota
melalui Pengelola Barang
8. Laporan hasil pengadaan dilengkapi dengan dokumen pengadaan barang/jasa;

C. PENERIMAAN
Penerimaan barang/jasa/logistik untuk kebutuhan Unit pelayanan Ambulance dan
jenazah, sebagai tindak lanjut dari hasil pengadaan dan/atau dari pihak ketiga setelah
hasil pengadaan selesai lengkap baik dokumen maupun berita acaranya. Instalasi
Ambulance dan jenazah mengajukan permohonan kebutuhan logistik malalui surat
yang di tanda tangani oleh Kepala Instalsi dan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 16


sebagai kordinasi dengan atasan langsungnya diajukan kepada Direktur melalui
Penyimpan Barang. Alur Penerimaan Barang/Jasa/ logistik sebagai berikut:

1. Penerimaan Logistik Instalasi Ambulance dan jenazah dapat diperoleh dari


Pembelian langsung berupa barang kebutuhan yang bersifat orgen besran
pembelian dengan nominal dibawah satu juta rupiah;
2. Penerimaan barang dari hasil tindak lanjut dari pengadaan barang jasa/atau Pihak
Ketiga harus dilengkapi dengan dokumen pengadaan dan Berita Acara;
3. Penerima barang berupa barang tidak bergerak/barang inventaris diterima dari
kepala SKPD, dan dilaporkan kepada Gubernur untuk ditetapkan pengguna
barangnya sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
4. Penerima Barang berupa barang barang bergerak/Barang habis pakai dari
Penyimpan barang yang dilaksanakan di gudang tempat penyimpanan;
5. Realisasi hasil pelaksanaan pengadaan barang jasa dilakukan pemeriksaan oleh
Panitia Penerima dan Pemeriksa Barang dan Jasa;
6. Panitia Penerima dan Pemeriksa Barang jasa ditetapkan dengan Keputusan
Direktur;
7. Pengguna Barang membuat laporan hasil pengadaan barang/jasa kepada Gubernur
melalui Pengelola Barang;
8. Laporan hasil pengadaan dilengkapi dengan dokumen pengadaan barang/jasa;
9. Permohonan barang/logistik Unit Kerja/Instalansi dengan ditanda tangani oleh kepala
unit kerja/instalasi yang dapat persetujuan atasan langsungnya;
10. Menanda tangani berita acara penerimaan barang/logistik dari penyimpan barang;
11. Barang yang diterima oleh unit kerja /instalasi dilakukan pencatatan/
pengadministrasi dan disimpan digudang;

D. PENYIMPANAN
Penyimpanan adalah kegiatan untuk melakukan pengurusan, penyelenggaraan,
dan pengaturan barang didalam gudang dan/atau di ruang penyimpanan lainnya.
Penyimpananan barang/jasa/logistik untuk kebutuhan Unit pelayanan Instalasi
Ambulance dan jenazah yang diterima dari Penyimpan Barang rumah sakit disimpan di
gudang Instalasi Ambulance dan jenazah. Alur penyimpanan Barang/Jasa/ logistik
sebagai berikut:

1. Menerima, menyimpan, mengatur, merawat dan menjaga keutuhan barang dalam


gudang/ruang penyimpanan agar dapat dipergunakan sesuai dengan rencana
secara tertib, rapih dan aman;

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 17


2. Menyelenggarakan adminsitrasi penyimpanan /pergudangan atas semua barang
yang adadalam gudang;
3. Melakukan stock opname (pengadaan) secara berkala ataupun insidentil terhadap
barang persediaan yang ada didalam gudang agar persediaan selalau dapat
memenuhi kebutuhan untuk pemeliharaan;
4. Membuat laporan secara berkala atas persediaan barang yang ada di gudang.

E. PENYALURAN
Penyaluran adalah kegiatan untuk menyalurkan/mengirimkan kepada user/ teknisi
pemelihara dari gudang dan/atau di ruang penyimpanan lainnya yang ditunjuk oleh
satuan kerja pemakai. Kegiatan penyaluran barang barang/logistik yang dilaksanakan
oleh Unit Kerja Instalasi ..... yang diterima dari penyimpan barang rumah sakit disimpan
di gudang instalasi/unit kerja dengan alur sebagai berikut:

1. Menerima permohonan kebutuhan barang dari user/pelaksana Ambulance dan


jenazah untuk kegiatan Pemulasaraan jenazah sesuai kebutuhan;
2. Penyaluran barang/logistik dari gudang Instalasi Ambulance dan jenazah secara
tepat, cepat dan teratur atas dasar surat permohonan dari user/atau pelaksana
teknis pemulasaraan jenazah di catat di buku pengeluaran;
3. Kegiatan penyaluran meliputi menyalurkan barang ke user/atau pelaksana
pemulasaraan jenazah;
4. Menyelenggarakan administrasi penyaluran dengan tertib dan rapih;
5. Pengadministrasi gudang Instalasi Ambulance dan jenazah wajib dan melaporkan
stock atau sisa barang kepada atasan langsunnya;
6. Membuat laporan realisasi penyaluran barang/logistik

F. PENGAMANAN
Pengamanan adalah kegiatan atau tindakan pengendalian dan pengurusan barang
dalam bentuk fisik, administratif, pengasuransian dan tindakan hukum. Instalasi
Ambulance dan jenazah wajib melakukan pengamanan barang yang berada dalam
penguasannya. Kegiatan pengamanan dimaksud meliputi:

1. Pengamanan administrasi meliputi kegiatan pembukuan, inventarisasi, pelaporan


dan penyimpanan dokumen kepemilikan secara tertib;
2. Pengamanan fisik untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi, jumlah, dan
hilangnya barang dengan cara pemanfatan sesuai tujuan,

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 18


penggudangan/penyimpanan baik tertutup maupun terbuka dan pemasangan tanda
kepemilikan;
3. Pengamanan resiko dengan kegiatan mengasuraransikan barang;
4. Pengamanan hukum yaitu kegiatan melengkapi bukti status kepemilikan.

G. PEMELIHARAAN
Pemeliharaan adalah suatau rangkaian untuk menjaga kondisis dan memperbaiki
semua barang agar berupa ruang kantor, perlengkapan kantor, kendaraan dinas dan
lainp-lain barang yang memerlukan standarisasi. Instalasi Laundri bertanggung jawab
atas pemeliharaan barang yang ada dibawah penguasannya, berdasarkan analisa
kebutuhan pemeliharaan barang dan menganggarkan untuk diusulkan ke Pengguna
Barang/Pengguna Anggaran dilakukan dalam satu tahun anggaranan sebagai bahan
evaluasi. Alur pemeliharaan barang sebagai berikut:

1. Hasil identifikasi kerusakan peralatan lingkup Instalasi Ambulance dan jenazah;


2. Analisa kerusakan dan membuat kebutuhan biaya/anggaran;
3. Melaporkan kerusakan fasilitas sarana dan prasaran yang ada dalam lingkup Instalasi
Ambulance dan jenazah kepada atasan langsung;
4. Instalasi Ambulance dan jenazah mengusulkan pemeliharaan kepada pengguna
barang/Pengguna Anggaran untuk mendapatkan disposisi pemeliharaan dan
anggaran.
5. Proses pengadaan komponen/suku cadang dan/atau bahan lainnya dapat langsung
ataupun oleh pihak ke tiga;
6. Pelaksanaan perbaikan/pemeliharaan/pemasangan komponen/ suku cadang oleh
IPSRS;
7. Sarana yang telah dipelihara dan berfungsi baik serta sesuai standar diserahkan ke
user/unit kerja pemohon untuk dimanfaatkan.

H. PENGHAPUSAN
Penghapusan adalah tindakan menghapus barang dari daftar barang milik daerah
dengan menerbitkan surat keputusan darai pejabat yang berwenang untuk
membebaskan pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang dan atau pengelola
barang milik daerah dari tanggungjawab administrasi dan fisik atas barang yang berada
dalam penguasaannya disebabkan:

1. Penyerahan kepada pengelola barang

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 19


2. Pengalihgunakan barang kepada pengguna barang lain;
3. Pemindah tanganan atas barang kepada pihak lain;
4. Pemusnahan;
5. Sebab-sebab lain (karena hilang, pencurian, terbakar, susut, menguap, mencair;
Penghapusan barang dari daftar barang milik daerah dengan menerbitkan surat
keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna barang
dan/atau kuasa pengguna barang dan atau pengelola barang milik daerah dari
tanggungjawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya,
dengan ketentuan:

a. Penghapusan tanah dan/atau bangunan berdasarkan pertimbangan alasan-alasan


sebagai berikut:
1) Rusak berat, terkena bencana alam/force majeure;
2) Tidak dapat digunakan secara optimal;
3) Tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
4) Kebutuhan organisasi karena pengembangan tugas;
5) Penyatuan lokasi dalam rangka efisiensi dan memudahkan koordinasi;
6) Pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis hokum;
b. Penghapusan selain tanah dan/atau bangunan berdasarkan pertimbangan alasan-
alasan sebagai berikut:
1) Pertimbangan teknis;
2) Pertimbangan ekonomi;
3) Karena hilang/kekurangan perbendaharaan atau kerugian.
c. Penghapusan barang milik daerah untuk:
1) Tanah dan artau bangunan
2) Selain tanah dan bangunan yang bernilai lebih dari Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) ditetapkan oleh Walikota setelah mendapatkan persetujuan DPRD;
3) Selain tanah dan bangunan yang bernilai sampai dengan Rp.
5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dilakukan oleh pengelola barang setelah
mendapatkan persetujuan Gubernur;
d. Proses penghapusan barang milik daerah diatur lebih lanjut oleh Gubernur.

e. Penghapusan barang milik daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan


apabila barang miklik daerah dimaksud:

1). Tidak dapat digunakan tidak dapat dimanfaatkan, dan tidak dapat dipindah
tangankan; atau

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 20


2). Alasan lain sesuai ketentuan perundang-undangan.

f. Pemusnaan sebagaimana dimaksud pada huruf (f ) dilaksanakan oleh Pengguna


Barang dengan surat Keputusan Pengelola Barang setelah mendapatkan
persetujuan Gubernur;
g. Pelaksanaan pemusnahan dituangkan dalam berita acara dan dilaporkan kepada
pengelola barang.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 21


BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan
belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Upaya keselamatan pasien yang terkait dengan Unit Pelayanan Instalasi


Ambulance dan jenazah menjaga agar jenazah aman dan higenis dalam mengurangi
resiko yaitu:

1. Membuat perencanaan dan program kerja mengurangi resiko.


2. Menyediakan Sumber Daya Manusia sesuai kebutuhan, kopetensi, dan kualitas
profesinya.
3. Dekontaminasi/memandikan jenazah infeksius dengan menggunakan desinfektan.
4. Pembalseman dan penyimpanan jenazah dalam peti jenazah
5. Penyimpanan jenasah dalam lemari pendingin dan tertututp.
6. Ambulance dalam kondisi baik dan fit serta higenis
7. Melaksanakan pekerjaan pemulasaraan jenazah sesuai prosedur.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 22


BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja adalah sasaran utama untuk mencegah kecelakaan, cacat dan
kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Adapun definisi keselamatan kerja menurut
Dessler (1997:634), keselamatan kerja adalah usaha untuk sedapat mungkin memberikan
jaminan kondisi kerja yang aman dan sehat pada setiap karyawan dan untuk melindungi
sumber daya manusia. Usaha untuk mencapai keselamatan kerja yang baik perlu adanya
program keselamatan kerja dengan melihat pentingnya keselamatan itu sendiri, kegiatan
keselamatan kerja dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam keselamatan kerja,
sehingga jika semua unsur tersebut di atas dilaksanakan dengan baik maka tujuan
perusahaan akan tercapai dengan mudah. Program keselamatan dalam usaha pencegahan
kecelakaan kerja merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyeluruh dan terorganisasi
dengan mengadakan kontrol terhadap tindakan-tindakan tidak aman yang didasarkan atas
pengetahuan, sikap mental dan keterampilan (Dessler,1997:934). Dengan demikian tujuan
dan rencana keselamatan perusahaan adalah mengikut sertakan usaha-usaha keselamatan
di dalam segala bidang dari semua aktivitas perusahaan sehingga semua karyawan baik
pimpinan, para pengawas, maupun karyawan biasa akan menerima keselamatan itu
sebagai bagian dari tanggung jawab mereka. Karena dengan kesadaran yang
sesungguhnya kita dapat mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan
kerja dan setidaknya mengurangi akibat dari kecelakaan yang akan terjadi.

Menururut Suma’mur (2001) Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha


untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja
di perusahaan yang bersangkutan. Lebih lanjut Simanjuntak (1994) menyatakan
Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan
kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keselamatan kerja adalah usaha
untuk sedapat mungkin memberikan jaminan kondisi kerja yang aman dan sehat pada
setiap karyawan dan untuk melindungi sumber daya manusia.

Dalam upaya menjaga keselamatan kerja mencegah dan memperkecil


kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja pada Unit Pelayanan Ambulance dan jenazah
rumah Sakit meliputi:

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 23


1. Program Pendidikan dan latihan keselamatan kerja bagi pegawai/karyawan agar
memiliki pemahaman konsep keselamatan dan kesehatan kerja dalam mencegah
terjadinya kecelakaan.
2. Mematuhi peraturan dan standar prosedur kerja yang berlaku
3. Memakai alat pelindung kerja sesuai bidang tugasnya.
4. Pengenalan bahaya di tempat kerja yang menginformasikan keberadaan bahaya di
tempat kerjanya.
5. Menetapkan prosedur pengamanan Kerja.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 24


BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dikembangkan oleh organisasi


untuk menghadapi resiko, dan mutu diartikan sebagai keseluruhan karakteristik produk dan
jasa dari pemasaran rekayasa, pembuatan dan pemeliharaan yang membuat produk dan
jasa yang digunakan memenuhi harapan-harapan pelanggan. Dari definisi di atas, dapat
disimpulkan bahwa pengendalian mutu merupakan kebijakan dan prosedur yang
dikembangkan oleh organisasi untuk menhadapi resiko, yang orientasinya merujuk kepada
kepuasan pelanggan.
Pengendalian mutu pada Unit Pelayanan Instalasi Ambulance dan jenazah meliputi:

1. Menetapkan prosedur kerja.


2. Melaksanakan pekerjaan sesuai prosdur yang telah ditetapkan.
3. Menanggapi pelayanan pemulasaraan jenaza dimulai pasien dinyatakan meninggal
sampai dengan jenazah mulai ditangani petugas ≤ 2 jam.
4. Kecepatan memberikan pelayanan ambulance dimulai permintaan mobil ambulance
yang diajukan pasien sampai tersedianya ambulance maksimal 30 menit
5. Memberikan pelayanan penyediaan mobil amulance untuk memenuhi kebutuhan
pasien 24 jam

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 25


BAB IX

PENUTUP

Dengan ditetapkannya Pedoman Pelayanan Instalasi Ambulance dan jenazah ini


diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan Pemulasaraan jenazah di
RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel.

Dalam penerapan Pedoman Unit pelayanan Pemulasaraan Jenazah di RSKD


Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel perlu dilengkapi dengan Panduan pelayanan, Standar
Prosedur Operasional (SPO) bagi Organisasi unit pelayanan ambulance dan jenazah diikuti
dengan pemantauan, evaluasi dan pelaporan yang dilakukan secara berkesinambungan.

RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Prov. Sulsel 26