Anda di halaman 1dari 10

Surat Rujukan

Surat rujukan adalah surat pengantar tenaga medis dalam hal ini ditujukan kepada dokter
maupun dokter gigi secara tertulis yang bertujuan sebagai advice (petunjuk pengobatan) maupun
pengobatan secara lebih lanjut kepada tenaga medis yang lebih berkompeten dalam bidangnya.
Dalam dunia kedokteran gigi, surat rujukan biasanya diberikan oleh dokter gigi umum kepada
dokter yang lebih berkompeten atau dokter spesialis, contohnya diagnosa sementara dokter gigi
umum adalah tumor maka sebaiknya pasien segera dirujuk kepada dokter gigi yang lebih
berkompeten, yaitu dokter gigi spesialis penyakit mulut. Ataupun dokter gigi yang ingin
mengetahui kadar gula darah dan tekanan darah pasien dapat memberikan surat rujukan kepada
dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam.
Surat rujukan berisi tentang:
 Dokter yang dituju
 Identitas pasien
 Anamnesa
 Keluhan utama
 Pemeriksaan klinis
 Diagnosa sementara
 Terapi yang telah diberikan
Fungsi Pengukuran vital sign (Tekanan Darah, Nadi Pernapasan, Suhu Tubuh)

Vital sign terdiri dari tekanan darah, nadi, laju respirasi, dan suhu tubuh. Terdapat dua
keuntungan dari pengukuran vital sign selama pemeriksaan awal.

Tekanan darah
Tekanan darah menuju kepada tekanan yang dialami oleh pembuluh darah arteri darah saat
darah dipompa oleh jantung dan pasokan darah disebarluaskan ke seluruh bagian anggota tubuh
manusia. Cara mengetahui tekanan darah adalah dengan mengambil dua ukuran yang umumnya
diukur dengan menggunakan alat yang disebut tensimeter/sfigmomanometer, kemudian
diketahui tekanan darah contoh 120/80 mmHg. Angka 120 menunjukkan tekanan darah atas
pembuluh arteri ketika jantung berdetak atau kontraksi, darah akan terdorong melalui arteri ke
seluruh tubuh Anda. Gaya ini menciptakan tekanan pada arteri. Inilah yang disebut tekanan
darah sistolik. Kemudian angka 80 merupakan fase darah yang kembali ke jantung pada saat
relaksasi arteri yang disebut tekanan darah diastolik. Cara yang paling efektif untuk mengetahui
tekanan darah seseorang secara pasti, benar dan akurat pada saat tubuh sedang beristirahat dan
dalam keadaan duduk ataupun berbaring.
Kedua nilai baik sistolik dan diastolik sama-sama penting. Pada orang tua tekanan sistolik
lebih penting karena apabila tekanan sistolik tingga maka dapat meningkatkan resiko serangan
jantung dan stroke. Sedangkan pada orang muda tekanan darah diastolik lebih penting karena
apabila orang muda memiliki tekanan diastolik yang tinggi maka pada saat dewasa mereka akan
memiliki tekanan darah yang tinggi.
Tekanan darah rendah dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah melalui vena dan
arteri apabila tekanan darah terlalu rendah dapat menyebabkan serangan jantung. Hal lain yang
dapat ditimbulkan karena tekanan darah rendah adalah penglihatan kabur, pingsan, jantung
berdebar, pusing, dan berkeringat dingin. Selain itu, kondisi hipotensi yang berkepanjangn dapat
menyebabkan syok.
Klasifikasi Tekanan Darah Orang Dewasa
Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Pre hipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Stadium 1 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2 ≥160 mmHg ≥ 100 mmHg
Denyut Nadi
Salah satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut nadi pada saat
beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita bangun pagi dan
sebelum melakukan aktivitas apapun. Pada saat itu kita masih relaks dan tubuh masih terbebas
dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan kafein. Kita dapat mengecek sendiri dengan
merasakan denyut nadi kita di bagian tubuh tertentu.
Apabila jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut bradicardi. Jika
jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi. Takikardi adalah denyut
jantung yang lebih cepat dari denyut jantung normal pada saat istirahat. Ketika jantung berdetak
terlalu cepat, fungsinya memompa darah ke seluruh tubuh tidak akan efektif karena jantung
terlalu cepat berkontraksi sedangkan darah yang dipompakan hanya sedikit. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya pusing, sesak nafas, nyeri dada, pingsan dan pada kasus berat dapat
mengakibatkan serangan jantung, gagal jantung dan kematian mendadak.
Bradikardi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perlambatan detak jantung.
Jika terjadi bradikardi, otak dan organ lainnya mungkin tidak akan mendapat pasokan oksigen
yang memadai sehingga dapat menyebabkan pusing, lemas, kelelahan, sesak nafas, dan sinkop.
Namun denyut nadi bisa lebih cepat jika seseorang dalam keadaan ketakutan, habis berolah raga,
atau demam. Umumnya denyut nadi akan meningkat sekitar 20 kali permenit untuk setiap satu
derajat celcius penderita demam.

Pernapasan
Pemeriksaan pernapasan perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi abnormalitas
pada sistem pernapasan. Sehingga dapat mencegah hal yang dapat memicu kekambuhan dan
melakukan pengelolaan yang tepat selama perawatan kedokteran gigi. Bernafas adalah sutu
tindakan yang tidak disadari, diatur oleh batang otak dan dilakukan dengan bantuan otot-otot
pernapasan. Pada suatu inspirasi, diafragma dan otot-otot intrekostalis berkontraksi, memperluas
rongga toraks dan memekarkan paru-paru. Dinding dada akan bergerak ke atas, ke depan, dan ke
lateral, sedangkan diafragma bergerak ke bawah. Setelah inspirasi berhenti, paru-paru akan
mengkerut, diafragma akan naik secara pasif dan dinding dada akan kembali ke posisi semula.
Pola pernafasan adalah:
 Pernafasan normal (euphea)
 Pernafasan cepat (tachypnea)
 Pernafasan lambat (bradypnea)
 Sulit/sukar bernafas (oypnea)
Jumlah pernafasan seseorang adalah:
 Bayi : 30 - 40 kali per menit
 Anak : 20 - 50 kali per menit
 Dewasa : 16 - 24 kali per menit

Suhu
Untuk menjaga fungsi metabolisme normal, suhu tubuh secara umum diatur oleh
hipotalamus agar selalu berada pada rentang suhu yang sempit. Produksi panas, yang terjadi
sebagai bagian dari metabolism dan ketika berolahraga, diseimbangkan dengan hilangnya panas
terutama melalui penguapan keringat. Rentang suhu tubuh normal untuk dewasa adalah
36,4-37,2°C (97,5 – 99,0 °F). Suhu tubuh normal dapat dipengaruhi oleh ritme biologis, hormon-
hormon, olahraga dan usia. Pengukuran suhu tubuh merupakan bagian rutin pada hampir semua
penilaian klinis, karena dapat menggambarkan tingkat keparahan penyakit (misalnya, infeksi).
Peningkatan suhu tubuh dapat disebabkan karena adanya ineksi pada rongga mulut atau bagian
tubuh lainnya.
Jenis - jenis Kandidiasis Oral

Adapun kandidiasis oral dikelompokkan atas dua, yaitu


1. Akut, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis pseudomembranosus akut yang disebut juga sebagai thrush, pertama sekali
dijelaskan kandidiasis ini tampak sebagai plak mukosa yang putih, difus, bergumpal atau seperti
beludru, terdiri dari sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur, dapat dihapus meninggalkan
permukaan merah dan kasar. Pada umumnya dijumpai pada mukosa pipi, lidah, dan palatum
lunak. Penderita kandidiasis ini dapat mengeluhkan rasa terbakar pada mulut. Kandidiasis seperti
ini sering diderita oleh pasien dengan sistem imun rendah, seperti HIV/AIDS, pada pasien yang
mengkonsumsi kortikosteroid, dan menerima kemoterapi. Diagnosa dapat ditentukan dengan
pemeriksaan klinis, kultur jamur, atau pemeriksaan mikroskopis secara langsung dari kerokan
jaringan.

b. Kandidiasis Atropik Akut


Kandidiasis jenis ini membuat daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan tampak sebagai
bercak-bercak merah difus yang rata. Infeksi ini terjadi karena pemakaian antibiotik spektrum
luas, terutama Tetrasiklin, yang mana obat tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem
oral antara Lactobacillus acidophilus dan candida albicans. Antibiotik yang dikonsumsi oleh
pasien mengurangi populasi Lactobacillus dan memungkinkan candida tumbuh subur. Pasien
yang menderita Kandidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.
2. Kronik, dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Kandidiasis Atropik Kronik
Disebut juga “denture stomatitis” atau “alergi gigi tiruan”. Mukosa palatum maupun mandibula yang
tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini dikategorikan sebagai bentuk dari infeksi
kandida. Kandidiasis ini hampir 60% diderita oleh pemakai gigi tiruan terutama pada wanita tua yang
sering memakai gigi tiruan selagi tidur.

b. Kandidiasis Hiperplastik Kronik


Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintik-bintik putih yang tepinya
menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi displasia berat
atau keganasan, dan kadang disebut sebagai Kandida leukoplakia.Bintik-bintik putih tersebut tidak dapat
dihapus, sehingga diagnosa harus ditentukan dengan biopsi. Kandidiasis ini paling sering diderita oleh
perokok.

c. Median Rhomboid Glositis


Median Rhomboid Glositis adalah daerah simetris kronis di anterior lidah ke papila sirkumvalata,
tepatnya terletak pada duapertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Gejala penyakit ini asimptomatis
dengan daerah tidak berpapila.

d. Cheilitis Angularis
Cheilitis angularis merupakan infeksi Kandida albikan pada sudut mulut, dapat bilateral maupun
unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi tampak merah dan pecah-pecah, dan terasa sakit ketika
membuka mulut. Keilitis angularis ini dapat terjadi pada penderita defisiensi vitamin B12 dan anemia
defisiensi besi.
Diagnosa Banding Kandidiasis Pseudomembran Akut

Coated tounge adalah suatu keadaan dimana permukaan lidah terlihat berwarna putih atau
berwarna lain yang merupakan tumpukan dari debris, sisa-sisa makanan dan mikroorganisme
yang terdapat pada permukaan dorsal lidah.

Gambaran Klinis Coated Tongue

Linchen planus. Jenis yang paling umum adalah jenis retikuler yang ditandai dengan lesi berupa
garis keratotik putih (dikenal sebagai Wickham's striae). Varian OLP retikuler adalah bentuk
seperti plak, yang secara klinis menyerupai leukoplakia tetapi memiliki multifokal terdistribusi.
Lesi seperti plak ini memiliki gambaran klinis beragam yaitu dapat berupa lesi halus yang datar
atau meninggi dengaan batas ireguler biasanya terjadi pada dorsum lidah dan mukosa bukal.
Pasien dengan lesi retikuler sering asimtomatik, tapi bentuk atrofi (eritematosa) atau erosif
(ulseratif) sering dikaitkan dengan sensasi terbakar dan rasa sakit. Beberapa pasien mengeluhkan
permukaan kasar pada rongga mulut disertai meningkatnya sensitivitas mukosa dengan makanan
panas atau pedas dan mukosa terasa perih. OLP sering memiliki distribusi simetris, terutama
pada mukosa pipi, berdekatan dengan molar, dan pada mukosa lidah, lebih jarang di mukosa dari
bibir (lichenous cheilitis) dan pada gusinya (bentuk atrofi dan erosif terlokalisasi pada gusi
bermanifestasi sebagai gingivitis deskuamatif), lebih jarang di langit-langit dan dasar mulut.
LEUKOPLAKIA
Leukoplakia merupakan lesi putih keratosis berupa bercak atau plak pada mukosa mulut
yang tidak dapat diangkat dengan cara usapan atau kikisan. Secara mikroskopis, leukoplakia
nampak sebagai keratinosis hiperplasia dengan karakter hiperorthokeratosis, hiperparakeratosis,
dan acantosis atau beberapa atipia selular yang diklasifikasikan sebagai lesi ringan, sedang atau
berat, tergantung dari jumlah munculnya atipia dan keterlibatan epitelium

Faktor lokal penyebab terjadinya leukoplakia berhubungan dengan iritasi kronis :


a. Trauma, trauma dapat merupakan gigitan pada tepi atau akar gigi yang tajam, iritasi dari
gigi yang malposisi, pemakaian protesa yang kurang baik, serta adanya kebiasaan yang
jelek seperti menggigit-gigit jaringan mulut, bukal, maupun lidah sehingga menyebabkan
iritasi kronis pada mulut.
b. Kemikal atau termal, iritan mekanis lokal dan berbagai iritan kimia akan menimbulkan
hiperkeratosis dengan atau tanpa disertai perubahan displastik. Penggunaan bahan-bahan
kaustik kemungkinan akan menyebabkan terjadinya leukoplakia dan terjadinya
keganasan. Bahan-bahan kaustik tersebut antara lain alkohol dan tembakau. Terjadinya
iritasi pada rongga mulut tidak hanya karena asap rokok dan panas yang terjadi pada
waktu merokok, akan tetapi dapat juga disebabkan karena zat-zat didalam tembakau yang
ikut terkunyah. Sedangkan alkohol merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya leukoplakia. Menurut sebuah studi, penggunaan alkohol dalam jangka waktu
lama dapat menyebabkan iritasi mukosa.

Perubahan patologis mukosa mulut menjadi leukoplakia terdiri dari dua tahap. Yaitu tahap
praleukoplakia dan tahap leukoplakia. Pada tahap praleukoplakia mulai terbentuk warna plaque
abu-abu tipis, bening, translusen, permukaannya halus dengan konsistensi lunak dan datar. Tahap
leukoplakia ditandai dengan pelebaran lesi ke arah lateral dan membentuk keratin yang tebal
sehingga warna menjadi lebih putih, berfisura dan permukaan kasar sehingga mudah
membedakannya dengan mukosa sekitarnya.
Berdasarkan bentuk klinisnya Bucket dalam Patterson menggolongkan leukoplakia dalam 3 jenis:
1) Homogenous leukoplakia (leukoplakia kompleks)
Suatu lesi setempat atau bercak putih yang luas, memperlihatkan suatu pola yang relatif
konsisten, permukaan lesi berombak-ombak dengan pola garis-garis halus, keriput atau
papilomatous.
2) Nodular leukoplakia (bintik-bintik)
Suatu lesi campuran merah dan putih, dimana nodul-nodul keratotik yang kecil tersebar pada
bercak-bercak atrofik (eritroplaqueik) dari mukosa.Dua pertiga dari kasus menunjukkan
tanda-tanda displasia epitel atau karsinoma pada pemeriksaan histopatologik.
3) Verrucous leukoplakia
Lesi putih di mulut, dimana permukaannya terpecah oleh banyak tonjolan seperti papila
yang berkeratinisasi tebal, serta menghasilkan suatu lesi pada dorsum lidah.

Gambaran Klinis
Penderita leukoplakia tidak mengeluhkan rasa nyeri, tetapi lesi pada mulut tersebut sensitif
terhadap rangsangan sentuh, makanan panasm dan makanan yang pedas. Dari pemeriksaan klinis
oral leukoplakia mempunyai bermacam-macam bentuk. Pada umumnya lesi ini sering ditemukan
pada penderita dengan usia di atas 40 tahun dan lebih banyak pada pria daripada wanita. Hal ini
terjadi karena sebagian besar pria adalah perokok berat. Lesi ini sering ditemukan pada daerah
alveolar, mukosa lidah, bibir, palatum mole dan durum, daerah dasar mulut, gingiva, mukosa
lipatan bukal, serat mandibular alveolar ridge. Secara klinis lesi tampak kecil, berwarna putih,
terlokalisir, berbatas tegas, dan permukaan tampak melipat. Bila dilakukan palpasi akan terasa
keras, tebal, berfisure, halus, datar atau agak menonjol. Kadang kala lesi ini dapat berwarna
seperti mutiara atau kekuningan.

Gambaran Histopatologis
Pemeriksaan mikroskopis akan membantu penegakan diagnosa leukoplakia. Bila dilakukan
pemeriksaan histopatologis dan sitologis akan tampak perubahan keratinisasi sel epitel terutama
pada bagian superfisial, hyperkeratosis, akantosis
Cara pengambilan spesimen (swab lidah)

1. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan pada pagi hari, lebih disarankan pasien untuk
puasa sebelum pengambilan spesimen untuk mencegah kontaminasi sisa makanan
2. Instruksikan pasien untuk membuka mulut
3. Penggunaan spatula dianjurkan untuk menekan lidah agar lebih memudahkan
4. Swab dilakukan pada daerah lesi yang dicurigai
5. Swab dilakukan menggunakan cotton bud steril, dengan gerakan memutar dan penekanan
sedang.
6. Lakukan swab minimal 3 kali untuk memastikan lesi terangkat dengan benar
7. Masukkan cotton bud pada tube steril
8. Beri label pada tube spesimen (identitas pasien, tanggal pengambilan spesimen)
9. Sesegera mungkin kirimkan spesimen ke laboratorium maksimal 1 jam setelah pengambilan.
Bila terpaksa ditunda: suhu 4º C, maksimal 24 jam.