Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH STUDI FIQH

PEMBAGIAN HUKUM ISLAM


(TAKLIFI DAN WADH’I)
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Studi Fiqh

Dosen pebimbing:
Teguh Setiabudi,M.H

Oleh:
Eko Suhartono (08650012)
M Fikri Muhtadi Hisyam (08650121)
Dian Ayu Kurniawati (09650002)
Ludvi Andini (09650184)

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Oktober 2011

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang

Dilihat dari segi kebahasaan, kata hukum bermakna “menetapkan sesuatu pada yang

lain”. Seperti menetapkan haram pada khamar, atau halal pada air susu. Sedangkan istilah

para ulama ushul, sebagaimana diungkapkan Abu Azhar adalah “titah (khitab) syari’ yang

berkaitan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan atau wadh’i.

Ketentuan-ketentuan hukum bagi umat manusia ini, pada dasarnya disyari’atkan


Tuhan untuk mengatur tata kehidupan mereka di dunia ini, baik dalam masalah-masalah
keagamaan maupun kemasyarakatan. Dengan mengkuti ketentuan-ketentuan hukum ini,
mereka akan memperoleh ketentraman dan kenyamanan , serta kebahagian dalam hidupnya.
Fungsi hukum diatas telah dinyatakan secara tegas oleh Allah SWT dalam surat Al-nisa ayat
105 yang berbunyi :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa


kebenaran, supaya kamu dapat enetapkan hukum kepada manusia dengan apa yang telah
Allah wahyukan kepadamu”

Tata kehidupan itu perlu diatur dengan norma-norma hukum yang diambil dari ajaran-
ajaran islam, karena semua mereka selain hidup di dunia juga akan menjalani kehidupan
akhirat yang kebahagian atau kesengsaraannya ditentukan oleh akumulasi pahala dari
perbuatan-perbuatan baik didunia ini. Sementara ketentuan-ketentuan hukum yang diambil
dari ajaran agama termasuk bagian yang menyediakan pahala tersebut. Demikian, menaati
ketentuan-ketentuannya itu, disamping akan membawa ketentraman, kenyamanan serta
kebahagiaan dalam kehidupan di dunia ini, juga akan membawa pada kebahagiaan dalam
kehidupan akhirat kelak.
II. Rumusan Masalah
Makalah ini disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian, macam-macam, relevansi dan contoh dari Taklifi?
2. Bagaimana pengertian, macam-macam, relevansi dan contoh dari Wadh’i?
III. Tujuan
Mengetahui pembagian hukum islam atau hukum syar’i, mengetahui pengertian dan
macam2 dari taklifi dan wadh’i.
BAB II
PEMBAHASAN

Pembagian Hukum Islam atau Hukum Syar’i

Ketentuan syar’i terhadap para mukallaf itu ada tiga bentuk yaitu tuntutan, pilihan dan
wadh’i. Ketentuan yang dinyatakan dalam bentuk tuntutan disebut hukum taklifi, yang dalam
bentuk pilihan disebut takhyiri, sedangkan yang mempengaruhi perbuatan taklifi disebut hukum
wadh’i.
Ketentuan syar’i yang dikemukakan dalam bentuk tuntutan kemudian terbagi dua, yaitu
tuntutan untuk dikerjakan dan tuntutan untuk ditinggalkan. Masing-masing dari dua tuntutan ini
ada yang mengikat dan ada pula yang tidak mengikat. Tuntutan untuk dikerjakan dengan
mengikat menimbulakan hukum wajib, sedangkan yang tidak meningkat menimbulkan hukum
mandub. Adapun tuntutan untuk ditinggalakan dengan mengikat dengan menimbulkan hukum
haram, sedangkan yang tidak mengikat menimbulkan hukum makruh. Sementara ketentuan
syar’i yang dinyatakan dalam bentuk pilihan/takhyiri menimbulkan hukum mubah.
Hukum wajib, mandub, haram dan makruh tergolong hukum taklifi, sedangkan mubah
menurut sebagian ulama disebut hukum takhyiri. Walaupun umumnya para ulama ushul
menggolongkan mubah pada kelompok hukum taklifi, akan tetapi, karena pada mubah ini tidak
ada unsur tuntutan, maka dalam pembahasan ini akan dipakai istilah hurum takhsyiri. Sedangkan
hukum wadh’i adalah ketentuan-ketentuan tentang perbuatan mukallaf yang mempengaruhi
perbuatan-perbuatan taklifinya yang lain, dan secara keseluruhan hukum wadh’i ada tiga yaitu
sebab, mani’ dan syarath.
Keempat macam hukum wajib, mandub, haram dan makruh disebut sebagai hukum
taklifi karena syar’i menuntut para mukallaf untuk mentaatinya. Sedangkan mubah disebut
hukum takhyiri karena syar’i member peluang peluang para mukallaf untuk melakukannya.
Sementara sebab, syarat, mani’ disebut hukum wadhi’ karena ketiganya menjadi tanda penentu
ada atau tidak adanya, serta sah atau tidaknya perbuatan-perbuatan taklif.
Para ulama ushul membagi hukum syar’i/ hukum islam kepada dua bagian, yaitu:
A. Hukum Taklifi
Yang dimaksud huk taklifi adalah hukum syar’i yang mengandung tuntutan (untuk
dikerjakan atau ditinggalkan oleh para mukallaf) atau yang mengandung piilihan antara yang
dikerjakan dan ditinggalkan.

Hukum taklifi sebagaimana telah diuraikan bahwa terbagi menjadi emapat yaitu, :
1. Wajib
Pada pokoknya yang disebut dengan wajib adalah segala perbuatan yang diberi
pahala jika mengerjakannya dan di beri siksa (‘iqab) apabila meninggalkannnya.
Misalnya, mengerjakan beberapa rukun islam yang kelima.
Dilihat dari beberapa segi, wajib terbagi empat:
a. Dilihat dari segi tertentu atau tidak tertentunya perbuatan yang dituntut, wajib dapat
dibagi dua:
 Wajib mu’ayyan, yaitu yang telah ditentukan macam perbuatannnya misalnya
membaca fatihah dalam shalat.
 Wajib mukhayyar, yaitu yang boleh dipilih salah satu dari beberapa macam
perbuatan yang telah ditentukan. Misalnya, kifarat sumpah yang member piihan
tiga laternatif, member makan 10 orang miskin atau member pakaian 10 orang
miskin atau memerdekakan budak.
b. Dilihat dari segi waktu yang tersedia untuk menunaikannya, adakalanya wajib itu
dtentukan waktunya, seperti shalat lima waktu dan puasa ramadhan dan adakalanya
tidak ditetukan waktunnya, seperti membayar kifarat sumpah bagi orang yang
melanggar sumpah.
Wajib yang ditentukan waktuny terbagi kepada dua :
 Wajib mudhayyaa, waktu yang ditentukan untuk melaksanakan kewajiban itu
sama banyaknya dengan waktu yang dibutuhkan untuk itu. Misalnya, bulan
Ramadhan untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Puasa itu sendiri menghabiskan
seluruh hari bulan Ramadhan.
 Wajib muwassa’, waktu yang tersedia lebih banyak dari waktu yang dibutuhkan
untuk menjalankan kewajiban tersebut. Mislnya, shalat zhuhur. Waktu yang
tersedia untuk melaksankan shalat tersebut jauh lebih lapang dibandingkan
dengan waktu yang terpakai untuk menunaikan shalat itu. Hal ini memberikan
kemungkinan kepada mukalaf untuk leluasa menunaikan shalatnya disembarang
waktu dalam batas waktu yang ditentukan diawal waktu dan dipertengahan atau
juga dipenghujungnnya.
c. Dilihat dari segi siapa saja yang harus memperbuatnya, wajib terbagi kepada dua
bagian:
 Wajib ‘aini, yaitu wajib yang dibebankan atas pundak setiap mukalaf. Misalnya,
mengerjakan shalat lima waktu, pusa ramdhan, dan lain sebagainya. Wajib ini
disebut juga fardhu ‘ain.
 Wajib kifayah, yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota
masyarakat, tanpa melihat siapa yang mengerjakanny. Apabila kewajiban itu telah
ditunaikan salah seorang diantara mereka, hilanglah tuntutan terhadap yang
lainnya. Namun, bila tidak seorangpun yang melakukannya, berdosalah semua
anggota masyarakat tersebut. Misalnnya mendirikan tempat peribadatan,
mendirikan rumah sakit, sekolah, menyelenggarakan shalat jenasah dan lain
sebagainya.
d. Dilihat dari segi kadar (kuantitas) nya, wajib itu terbagi kepada dua:
 Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan kadar atau jumlahnya.
Misalnya, umlah zakat yang mesti dikeluarkan, jumlah rakaat shalat, dan lan-lain.
 Wajib ghairu muhaddad, yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas
bilangannya. Misalnya, membelanjakan harta dijalan Allah, berjihad, tolong
menolong dan lain sebagainya.

2. Haram
Haram adalah segala perbuatan yang dilarang mengerjakannya. Orang yang
melakukkannya akan disiksa, berdosa (‘iqab) dan yang mennggalkannya diberi pahala.
Misalnya, mencuri, membunuh, tidak menafkahi orang yang menjadi tanggungan dan
lain sebagainya. Perbuatan ini disebut juga maksiat, qabih.

Secara garis besarnya haram dibagi kepada dua:


a. Haram karena perbuatan itu sendiri atau haram karena zatnya. Haram seperti ini pada
pokoknya adalah haram yang memang diharamkan sejak semula. Misalnnya,
membunuh, berzina, mencuri dan lain-lain.
b. Haram karena berkaitan dengan perbuatan lain atau haram karena factor lain yang
dating kemudian. Misalnnya, jual beli yang hukum asalnya mubah, nerubah menjadi
haram ketika azan jum’at sudah berkumandang. Begitu juga dengan pusa ramadhan
yang semulanya wajib berubah menjadi haram karena dengan berpuasa itu akan
menimbulkan sakit yang mengancam keslamatan jiwa.

3. Mandub
Mandub adalah segala perbuatan yang dilakukan akan mendpatkan pahala, tetapi
bila tidak dilakukan tidak akan dikenakan siksa, dosa (‘iqab). Biasannya, mandub ini
disebut juga sunat atau mustahab dan terbagi kepada:
a. Sunat’ain, yaitu segala perbuatan yang dianjurkan kepada setiap pribadi mukallaf
untuk dikerjakan, misalnya shalat sunnah rawatib.
b. Sunat kifayah, yaitu segala perbuatan yang dianjurkan untuk diperbuat cukup oleh
salah seorang saja dari suatu kelompok, misalnnya mengucapkan salam, mendo’akan
orang bersin, dan lain-lain.

Salin itu sunat juga di bagi kepada:


a. Sunat muakkad, yaitu perbuatan yang sunat yang senantiasa dikerjakan oleh rasul
atau lebih banyak dikerjakan rasul dari pada tidak dikerjakannya, misalnya shalat
sunat Hari Raya.
b. Sunat ghairu muakkad, yaitu segala macam perbuatan sunnat yang tidak selalu
dikerjakan rasul, misalnnya sdekah pada fakir miskin.

4. Makruh
Yang dimaksud dengan makruh adalah perbuatan yang bila ditinggalkan, orang
yang meninggalkannya mendapat pahala, tapi orang yang tidak meninggalakannya tidak
mendapat dosa (‘iqab). Misalnya merokok, memakan makanan yang menimbulkan bau
yang tidak sedap dan lain sebagainnya.
Pada umumnya, ulama membag makruh pada dua bagian yaitu:
a. Makruh tanzih, yaitu segala perbuatan yang meninggalkan lebih baik daripada
mengerjakan, seperti contoh-contoh tersebut diatas.
b. Makruh tahrim, yaitu segala perbuatan yang dilarang, tetapi dalil yang melarangnya
itu zhanny, bukan qath’i. Misalnya, bermain catur, memakan kala dan memakan
daging ular(menurut mazhab hanafiyah dan malikiyah)

5. Mubah
Yang dimaksud dengan mubah adalah segala perbuatan yang diberi pahala karena
perbuatannya, dan tidak berdosa karena meninggalakannya. Secara umum, mubah ini
dinamakan juga halal atau jaiz.
Mubah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Perbuatan yang ditetapkan secara tegas kebolehannya oleh syara’, dan manusia diberi
kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukannya. Misalnya, meminang wanita
dengan sindiran-sindiran yang baik (QS. Al-Baqarah:225).
b. Perbuatan yang tidak ada dalil syara’ menyatakan kebolehan memilih, tetapi ada
perintah untuk melakukannya. Hanya saja, perntah itu hanya dimaksudkan
berdasarkan qainah-menunjukkan mubah atau kebolehan saja, bukan untuk wajib.
Misalnya, perntah berburu ketika telah selesai melaksanaka ibadah haji. (QS Al-
Maidah:2)
c. Perbuata yang tidak ada keterangannya sama sekali dari syar’i tentang kebolehan atau
tidak kebolehannnya. Hal ini dikembalikan kepada hukum baraat al-ashliyah (bebas
menurut asalnya). Oleh sebab itu, segala perbuatan dalam bidang muamalat menurut
asalnya adalah dibolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Untuk itu, ulama
ushul fiqih membuat kaidah “menurut asalnya segala sesuatu itu adalah mubah”.

B. Hukum Wadh’i
Yang dimaksud dengan hukum wadh’i adalah titah Allah menjadikan sesuatu sebagai
sebab bagi adanya sesuatu yang lain, atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain atau juga
sebagai penghalang (man’) bagi adanya sesuatu yang lain tersebut? Oleh karenanya,
ulama membagi hukum Wadh’i ini kepada: sebab, syarat, mani’. Namun, sebagian ulama
memasukkan sah dan batal, azimah dan rukhshah.

1. Sebab
Yang dimaksud dengan sebab adalah segala sesuatu yang dijadikan oleh
syar’i sebagai alas an bagi ada dan tidak adanya hukum. Adanya sesuatu
menyebabkan adanya hukum dan tidak adanya sesuatu itu melazimkan tidaka adanya
hukum.

Ulama membagi sebab ini menjadi dua bagian :


a. Sebab yang diluar kemampuan mukalaf. Misalnya keadaan terpaksa menjadi
sebab bolehnya memakan bangkai dan tergelincir atau tenggelamnya matahari
sebagai sebab wajibnya shalat.
b. Sebab yang berada dalam kesanggupan sebagai seorang mukallaf. Sebab ini
dibagi dua:
 Yang termasuk dalam hukum taklifi, seperti menyaksikan bulan menjadikan
sebab wajib melaksanakan puasa (QS. Al-Baqarah:185). Begitu juga keadaan
sedang dalam perjalanan menjadi sebab boleh tidaknya berpuasa di bulan
Ramadhan (QS. Al-Baqarah :185).
 Yang termasuk dalam hukum wadh’i seperti perkawinan menjadi sebabnya
warisan antara suami istri dan menjadi sebab haramnya mengawini mertua
dan lain sebagainnya.

2. Syarat
Yang dimaksud dengan syarat adalah segala sesuatu yang tergantung adanya
hukum dengan adanya sesuatu tersebut, dan tidak adanya sesuatu itu mengakibatkan
tidak ada pula hukum. Namun, dengan adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya
hukum. Misalnya, wajib zakat perdagangan apabila usaha perdagangan itu sudah
berjalan satu tahun bila-syarat berlakunya satu tahun itu-belum terpenuhi, zakat itu
belum wajib. Namun, dengan adanya syarat-berjalan, satu tahun-itu saja belumlah
tentu wajib zakat, karena masih tergantung kepada sampai atau tidaknya dagangan
tersebut senisab.

Ulama Ushuliyyin membagi syarat kepada beberapa bagian:


a. Syarat hakiki (syar’i) yaitu segala pekerjaan yang diperintahkan sebelum
mengerjakan yang lain dan pekerjaan itu tidak diterima (sah) bila pekerjaan yang
pertama belum dilakukan. Misalnya, wudhu menjadi syarat sahnya shalat dan
menjadi saksi syarat sahnya nikah. Syarat hakiki ini dibagi ke dalam dua bagian:
 Syarat untuk menyempurnakan sebab. Misalnya, adanya unsure kesengajaan
dan permusuhan adalah dua buah syarat bagi pembunuhan yang menjadi
sebab wajibnya hukuman qishas. Begitu juga genap satu tahun adalah syarat
penyempurnaan untuk memenuhi nisab yang menjadi sebab wajib zakat. Dan,
adanya dua orang saksi yang adil adalah syarat penyempurna akad perkawinan
yang menjadi sebab halalnya “berkumpul” antara seorang laki-laki dan
perempuan.
 Syarat untuk menyempurnakan musabbab. Misalnya, bersuci adalah syarat
penyempurnaan shalat yang wajib disebabkan telah masuknya waktu shalat.
Begitu juga matinya orang yang akan menerima waris adalah dua syarat
penyempurna untuk saling mempusakai yang disebabkan adanya ikatan
perkawinan atau adanya hubungan kekerabatan (keturunan).
b. Syarat ja’li
yaitu segala syarat yang dibuat oleh orang-orang yang mengadakan
transaksi dan dijadikan tempat bergantungnya serta terwujudnya transaksi
tersebut. Misalnya seorang pembeli membuat syarat bahwa ia mau membeli
sesuatu barang-dari seorang penjual-dengan syarat boleh dengan cara mencicil.
Bila syarat itu diterima oleh si penjual jual-beli tersebut dapat dilakukan.
Syarat yang dibuat oleh orang yang melakukan transaksi (ja’li) ini disebut
syarat kamal (syarat penyempurnaan), bila hal itu dimaksudkan untuk menambah
kesempurnaan masyrutnya, yakni ketiadaan tidak akan menyebabkan gagalnya
masyrut, tetapi hanya menjadikan kurang sempurnanya masyrut tersebut. Selain
itu, syarat seperti ini dapat disebut syarat sah bila syarat tersebut dijadikan untuk
mensahkan masyrutnya. Artinya, bila tidak ada syarat, tidak akan terwujud
masyrut.
Perlu ditambahakan bahwa ada pekerjaan yang tergantung adanya kepada
sebab dan syarat sekaligus. Telah adanya sebab tetapi syarat belum ada, maka
sebab tersebut tidak dapat bekerja atau tidak dapat mempengaruhi kepada
pekerjaan itu. Wdhu adalah syarat sah shalat magrib, misalnya dan terbenamnya
matahari adalah sebab wajibnya shalat itu. Sebelum berwudhu, tidak sah
mengerjakan shalat magrib meskipun matahari telah terbenam di ufuk barat.

3. Mani’
Yang dimaksud dengan mani’ adalah segala seuatu yang dengan adanya dapat
meniadakan hukum atau dapat membatalakan sebab hukum. Dari definisi d ats dapat
diketahui bahwa mani’ itu terbagi kepada dua macam:
a. Mani’ terhadap hukum. Misalnya perbedaan agama natara pewaris dengan yang
akan diwarisi adalah mani’ (penghalang) hukum pusaka mempusakai sekalipun
sebab untuk saling mempusakai sudah ada, yaitu perkawinan. Begitu juga najis
yang terdapat di tubuh atau di pakaian orang yang sedang shalat, yaitu suci dari
najis. Oleh sebab itu, tidak ada hukum sahnya-shalat. Hal ini disebut mani’
hukum.
b. Mani’ terhadap sebab hukum. Misalnya, seseorang yang memiliki harta senisab
wajib mengeluarkan zakatnya. Namun, karena ia mempunyai hutang yang
jumlahnya sampai mengurangi nisab zakat, ia tidak wajib membayar zakat.
Namun,keadaannya memiliki banyak hutang tersebut menjadikan penghalang
sebab adanya hukum wajib zakat. Dengan demikian mani’ dalam contoh ini
adalah mengahalangi sebab hukum zakat. Hal ini disebut man’ zakat.

Kemudian, Al-Amidi menambahakan pembicaraan mengenai sah dan batal,


serta azimah dan rukhshah kedalam pembagian hukum wadh’i ini.
4. Sah dan Batal
Secara harfiah, sah berarti “lepas tanggung jawab” atau “gugur kewajiban di
dunia serta memperoleh pahala dan ganjaran di akhirat”. Shalat dikatakan sah karena
telah dilaksanakan sesuai dengan yang diperintah syara’. Sebaliknya, batal dapat
diartikan tidak melepaskan tanggung jawab, tidak mengugurkan kewajiban di dunia
dan di akhirat tidak memperoleh pahala.
Setiap perbuatan yang dibebankan kepada mukallaf sudah ditetapkan rukun
dan syaratnya dan perbuatan itu harus disesuaikan dengan perintah Allah atau
sekurang-kurangnya tidak dilarang. Setiap perbuatan yang telah memenuhi rukun dan
syarat serta dilaksanakan enurut ketentuan yang ditetapkan syara’dinamakan sah dan
sebaliknya perbuatan yang kurang rukun dan syarat serta betentangan dengan
ketentuan syara’ dinamakan batal.
Kalau perbuatan yang dituntut syara’ dikatakan sah, orang yang
melaksanakanya dikatakan telah menunaikan tuntutan, lepaslah ia dari tanggung
jawab, tidak dituntut hukuman, baik didunia mapun diakhirat, bahkan ia mendapat
pahala di akhirat kelak. Sebaliknya perbuatan yang tidak memenuhi persyaratan dan
rukun serta bertentangan dengn ketentuan syara’ tidak dapat menghapuskan
kewajiban, yang melakukannya pun dituntut, baik di dunia maupun di akhirat.
Menurt para ulama, setiap perbuatan apakah ibadah maupun muamalah
bertujuan untuk mencapai kemaslahatan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
Dalam hal ini, termasuk semua macam perjanjian yang mengandung dua tujuan
pokok yaitu memenuhi tuntutan syara’ dan mewujudkan kemaslahtan hidup.
Namun, sebagai ulama di kalangan madzab hanafi mengatakan bahwa
dalam tujuan perjanjian, tujuan kedua lebh menonjol, karena itu mereka mebedakan
antara ibadah dan muamalah. Dalam ibadah mereka sependapat dengan para ulama
dikalang madzhab syafi’i, yaitu hanya berlaku dua hal yaitu sah dan batal. Ibadah
yang batal tidak dapat menghapus kewajiban dan yang bersangkutan wajib
mengqadha. Namun, dalam perjanjian terdapat tiga macam; perjanjian yang tidak sah
dibagi menjadi dua macam yaitu batal dan fasid. Perjanjian batal yaitu perjanjian
yang rukun dan syaratnya kurang, sedangkan perjanjian fasid ialah perjanjian yang
tidak sempurna syaratnya. Perjanjian jual-beli yang dilakukan oleh orang gila atau
anak yang belum memasuki usia mumayiz (dewasa) atau memperjuala belikan
sesuatu yang tidak ada dimakan perjanjian yang batal. Jual-beli denga harga yang
tidak ditentukan jumlajnya maka perjanjian itu dinamakan perjanjian yang fasid.
Akad nikah dari orang yang belum mencapai usia mumayiz (dewasa) atau menikah
dengan wanita yang haram dinikahi padahal dia telah mengetahui, maka perjanjian itu
dinamakan perjanjian fasid, suami wajib membayar mahar, istri tetap menjalankan
masa iddahnya, dan keturunan anak masih dapat dihubungkan dengan suaminya.

5. Azimah dan Rukhshah


a. Pengertian Azimah
Yang dimaksud dengan azimah adalah peraturan-peraturan Allah yang
asli dan terdiri atas hukum-hukum yang berlaku umum. Artinya, hukum itu
berlaku bagi setiap mukalaf dalam semua keadaan dan waktu biasa (bukan karena
darurat atau pertimbangan lain) dan sebelumperaturan tersebut belum ada
peraturan lain yang mendahuluinya. Misalnya bangkai menurut hukum asalnya
adalah haram dimakan untuk semua orang. Ketentuan ini disebut juga dengan
hukum pokok.

b. Pengertian Rukhshah
Yang dimaksud dengan rukhshah adalah peraturan-peraturan yang tidak
dilaksanakan karena adanya hal-hal yang memberatkan dalam menjalankan
azimah. Dengan kata lain, rukhshah adalah pengecualian hukum-hukum pokok
(azimah) sebagaimana disebut sebelumnya.

c. Hukum Azimah dan Rukhshah


Selama tidak ada hal-hal yang menyebabkan adanya rukhshah seorang
mukalaf diharuskan mengambil azimah, karena memang begitulah ketentuan-
ketentuan pokok dari Allah dalam mensyariatkan peraturannya. Namun, bila ada
hal yang memberatkan sehingga menimbulkan kefatalan, dibolehkan mengambil
rukhshah. Misalnya, seseorang yang dalam keadaan terpaksa dibolehkan
memakan bangkai, yang hukum asalanya adalah haram. Artinya, dalam keadaan
normal seseorang diwajibkan untuk tidak memakan bangkai sehingga memakan
bangkai itu haram hukunya bagi orang tersebut. Namun, dalam keadaan terpaksa
orang itu dberi kebolehan memakan bangkai tersebut. Maka dengan sendirinya
hukum rukhshah tersebut adalah mubah. Ketentuan semacam ini dapat dilihat
dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 173 yang membolehkan kita memakan
apa yang diharamkan ketika terpaksa. Begitu juga ayat 201 surat Al-Nisa’ yang
membolehkan kita mngqashar shalat ketika sedang dalam perjalanan. Ketika ayat
ini menyatakan bahwa rukhshah itu hukumnya boleh bukan wajib.
d. Maksud Rukhshah
Rukhshah diberikan oleh syar’i sebagai keringan bagi mukallaf
sehingga mereka bebas memilih antara azimah dan rukhshah. Namun, adakalanya
pula rukhshah itu diwajibkan melaksanakannya biala hal itu berkaitan denga
pertimbangan-pertimbangan lain. Misalnya, memakan daging babi merupakan
rukhshah dalam keadaan terpaksa dan itu satu-satunya jalan untuk memelihara
jiwa maka saat itu diwajibkan hukunya. Dalam keadaan demikian, rukhshah bias
berubah menjadi azimah, yaitu wajib menyelamatkan diri dari kehancuran atau
haram membiarkan diri jatuh pada kecelakaan.
e. Macam-Macam Rukhshah
Ualam ushul fiqh mengelompokkan rukhshah kepada empat bagian
yaitu:
 Pembolehan sesuatu yang dilarang (diharamkan) dalam keadaan darurat atau
karena hajat yang sangat mendesak sebagai keringanan bagi mukalaf.
Msalanya, barang siapa yang dipaksa mengucapkan kata-kata tersebut selama
hatinya tetap beriman kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam
surat Al-Nahl ayat 106.

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dian mendapat
kemurkaan dari Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya
tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”
 Pembolehan meninggalkan yang wajib Karena uzur, dimana jika melaksankan
kewajiban itu akan menimbulkn kesulitan bagi si mukalaf. Misalnya orang
yang sakit atau sedang dalam berpergian dibolehkan tidak berpuasa di bula
ramadhan. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah :184 yaitu
“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebnyak hari yang
ditinggalakan itu pada hari-hari yang lain”
 Pemberian pengecualian sebagian berkaitan karena menyangkut kebutuhan
masyarakat dalam penghidupan muamalat (sehari-hari). Misalnya, transaksi
jual-beli yang belum ada pada saat perikatan diadakan, tapi harganya sudah
dibayar terlebih dahulu. Pada prinsipnya, jual-beli seperti itu tidak memenuhi
prsyaratan umum untuk sahnya suatu transaksi jual-beli yaitu barang yang kan
diperjual-belikan itu ada disaat transaksi dilakukan, tetapi karena hal itu
berlaku dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat maka perikatan seperti itu
disahkan secara rukhshah. Ini sesuai dengan hadist nabi:

“Rasul melarang manusia menjual sesuatu yang ada bersamanya disaat


transaksi, namun beliau member dispensasi untuk jual beli pesanan”
 Pembatalan hukum-hukum yang merupakan beban yang meberatkan umat
terdahulu, misalnya memotong bagian kain yang kena najis, mengeluarkan
zakat seperempat harta, tidak boleh shalat selain di masjid dan lain
sebagainya. Semuanya itu tidak berlaku lagi bagi umat islam, sebagai
keringanan (rukhshah) bagi mereka. Karena itu, kalau ketentuan bagi umat
terdahulu itu diberlakukan bagi umat islam, mereka akan banyak sekali
menemukan kesulitan yang memberatkan. Hal ini di insyaratkan Allah dalam
surat Al-Baqarah:286
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engakau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami”

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari urain sebelumnya dapat dilihat perbedaan antara hukum taklifi dan hukum wadh’i dari dua
hal:
a. Dilihat dari sudut pengertiannya, Hukum taklifi adalah hukum Allah yang berisi tuntutan-
tuntutan untuk berbuat atau tidak berbuat suatu perbuatan, atau membolehkan memilih
antara berbuat dan tidak berbuat. Sedangkan hukum wadh’i tidak mengandung tuntutan
atau member pilihan, hanya menerangkan sebab atau halangan (mani’) suatu hukum, sah
dan batal.
b. Dilihat dari segi kemampuan mukalaf untuk memikulnya, hukum taklifi selalu dalam
kesanggupan mukalaf, baik dalam mengerjakan atau meninggalkanya. Sedangkan hukum
wadh’i kadang-kadang dapat dikerjakan (disanggupi) oleh mukalaf dan kadang-kadang
tidak.

DAFTAR PUSTAKA
Koto,Alaiddin Prof. Dr. H., M.A. 2004. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqih (Sebuah
Pengantar). Jakarta: PT Raha Grafindo Persada.
Naim, Ngainun. 2009. Sejarah Pemikiran Hukum Islam (Sebuah Pengantar).
Yogyakarta: Penerbit TERAS.
Djatnika,Rachmat Prof. Dr. H.,dkk. 1986. Perkembangan Ilmu Fiqh Di Dunia
Islam. Jakarta: DEPAG.
Rosyada, Dede Drs.,M.A.1993.Hukum Islam Dan Pranata Sosial (Darasah
Islamiyah III).Jakarta : Rajawali Pers.
Muhammad Al-Khudhari Biek, Syaikh.2007.Ushul al-Fiqh.Jakarta: Pustaka
Amani.

Anda mungkin juga menyukai