Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hiperbilirubinemia merupakan peningkatan kadar plasma bilirubin
2 standar deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur
bayi atau lebih dari presentil 90. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu
fenomena klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Lebih
dari 85% neonates cukup bulan kembali dirawat dalam minggu pertama
kehidupan disebabkan oleh keadaan ini. Insiden hiperbilirubinemia di
Amerika 65%, Malaysia 75%, sedangkan Surabaya 30% pada tahun 2000,
dan 13% pada tahun 2002. Ikterus atau jaundice terjadi akibat akumulasi
bilirubin dalam darah sehingga kulit, mukosa, dan atau sclera bayi tampak
kekuningan. Hal tersebut disebabkan karena adanya akumulasi bilirubin
tak terkonjugasi yang berlebih. Hiperbilirubinemia merupakan istilah yang
sering dipakai untuk icterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium
yang menunjukkan peningkatan kadar bilirubin. Icterus akan tampak
secara visual jika kadar bilirubin lebih dari 5-7 mg/dl.
Hiperbilirubin merupakan keadaan yang umum terjadi pada bayi
pretern maupun aterm. Peningkatan kadar bilirubin > 2mg/dl sering
ditemukan di hari-hari pertama setelah kelahiran. 60% neonates yang sehat
mengalami icterus. Pada umumnya, peningkatan kadar bilirubin tidak
berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Namun beberapa kasus
berhubungan dengan beberapa penyakit, seperti penyakit hemolitik,
kelainan metabolism, dan endokrin, kelainan hati dan infeksi. Pada kadar
lebih dari 20mg/dl bilirubin dapat menembus sawar otak sehingga bersifat
toksik terhadap sel ota. Kondisi hiperbilirubinemia yang tak terkontrol dan
kurang penanganan yang baik dapat menimbulkan komplikasi yang berat
seperti bilirubin ensefalopati dan kernicterus akibat efek toksik bilirubin
pada sistem saraf pusat dimana pada tahap lanjut dapat menjadi Athetoid
Cerebral Palsy yang berat.

1
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian dari hiperbilirubinemia?
2. Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari hiperbilirubinemia?
3. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari hiperbilirubinemia?
4. Untuk mengetahui bagaimana pathway dari hiperbilirubinemia?
5. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari
hiperbilirubinemia?
6. Untuk mengetahui bagaimana pengobatan dari hiperbilirubinemia?
7. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan penunjang dari
hiperbilirubinemia?
8. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan dari
hiperbilirubinemia?

2
BAB II
KONSEP DASAR MEDIS

A. Pengertian
Hiperbilirubinemia adalah berlebihnya kadar bilirubin dalam darah
lebih dari 10mg% pada minggu pertama yang mengakibatkan jaundice,
warna kuning yang terlihat jelas pada kulit, mukosa, sclera, dan urin, serta
organ lain, sedangkan pada bayi normal kadar bilirubin serum totalnya
5mg%. (Sembiring, 2017)
Hiperbilirubinemia adalah icterus dengan konsentrasi bilirubin
serum yang menjurus kea rah terjadinya kern icterus atau ensefalopati
bilirubin apabila kadar bilirubin tidak dikendalikan. (Sutjahjo, 2016).
Hyperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang
kadar nilainya lebih dari normal. (Suriadi, 2010)

B. Etiologi
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh bermacam-mcam
keadaan. Penyebab yang tersering ditemukan disini adalah hemolysis yang
timbul karena adanya inkompatibilitas golongan darah ABO atau
defisiensi enzim G6PD. Hemolisis ini dapat timbul karena adanya
perdarahan tertutup (sefal hematoma, perdarahan subaponeoratik) atau
inkompatibilitas golongan darah Rh. Infeksi memegang peraan penting
dalam terjadinya hiperbilirubinemia : keadaan ini terutama terjadi pada
penderita sepsis dan gastroenteritis.
Beberapa faktor lain yang juga merupakan penyebab
hiperbilirubinemia adalah hipoksia atau anoksia, dehidrasi, dan asidosis,
hipoglikemia, dan polisitemia. Peningkatan bilirubin dapat terjadi karena;
polycetlietnia isoimmun hemolytic disease, kelainan struktur dan enzim sel
darah merah, keracunan obat (hemolisis kimia: salisilat, kortikosteroid,
klorampenikol), hemolisis ekstravaskuler; cephalhematoma, ecchymosis.
(Suradi, 2010)

3
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat
penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal
ini dapat sitemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit,
polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin atau bayi, meningkatnya
bilirubin dari sumber lain atau terdapatnya peningkatan sirkulasi
enterohepatik.
Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin
adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar (definisi enzim
glukoronil transferase) atau bayi yang menderita gangguan ekskresi,
misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra
atau ekstra ghepatik.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksit dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek
yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini
memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak ini disebut
kernicterus neonatal atau sumbatan saluran empedu intra atau ekstra
hepatic.
Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila
bayi terdapat keadaan imaturitas, berat badan lahir rendah, hipoksia,
hiperkarbia, hipoglikemia, dan kelainan susunan saraf pusat yang terjadi
karena trauma atau infeksi. (Sembiring, 2017)

C. Patofisiologi
Bilirubin diproduksi dalam sistem retikuloendotelial sebagai
produk akhir dari katabolisme heme dan terbentuk melalui reaksi oksidasi
reduksi. Pada langkah pertama oksidasi, biliverdin terbentuk dari heme
melalui kerja heme oksigenase, dan terjadi pelepasan besi dan
karbonmonoksida. Bila terjadi gangguan pada ikatan bilirubin tak
terkonjugasi dengan albumin dengan baik oleh faktor endogen maupun
eksogen (misalnya obat-obatan), bilirubin yang bebas dapat melewati

4
membrane yang mengandung lemak (double lipid layer), termasuk
penghalang darah otak, yang dapat mengarah ke neurotoksisitas.
Bilirubin yang mencapai hati akan diangkut ke dalam hepatosit,
dimana bilirubin terikat ke ligandin. Masuknya bilirubin ke hepatosit akan
meningkat sejalan dengan terjadinya peningkatan konsentrasi ligandin.
Konsentrasi ligandin ditemukan rendah pada saat lahir namun akan
meningkat pesat selama beberapa minggu kehidupan.
Bilirubin terikat menjadi asam glukuronat di reticulum
endoplasmic reticulum melalui reaksi yang dikatalisis oleh uridin
difosfoglukuronil transferase (UDPGT). Konjugasi bilirubin mengubah
molekul bilirubin yang tidak larut air menjadi molekul yang larut air.
Setelah diekskresikan ke dalam empedu dan masuk ke usus, bilirubin
direduksi dan menjadi tetrapirol yang tak berwarna oleh mikroba di usus
besar. Sebagian dekonjugasi terjadi di dalam usus kecil proksimal melalui
kerja B-glukuronidase. Bilirubin tak terkonjugasi ini dapat diabsorbsi
kembali dan masuk ke dalam sirkulasi sehingga meningkatkan bilirubin
plasma total. Sirkulasi absorbs, konjugasi, ekskresi, dekonjugasi, dan
reabsorbsi ini disebut sirkulasi enterohepatik. Proses ini berlangsung
sangat panjang pada neonates, oleh karena asupan gizi yang terbatas pada
hari-hari pertama kehidupan.
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin
yang melebihi kemampuan hati normal untuk ekskresinya atau disebabkan
oleh kegagalan hati (karena rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang
dihasilkan dalam jumlah normal. Tanpa adanya kerusakan hati, obstruksi
saluran ekskresi hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia. Pada
semua keadaan ini, nilirubin tertimbun di dalam darah dan jika
konsentrasinya mencapai nilai tertentu (sekitar 2-2,5mg/dl), senyawa ini
akan berdifusi ke dalam jaringan yang kemudian menjadi kuning. Keadaan
ini disebut icterus atau jaundice (Muarry et al, 2009)

5
D. Pathway
Hepar yang belum matang,
Eritroblastosis foetalis, sepsis,
Penyakit inklusi sitomegalik,
Rubella, toksoplasmosis kongenital

Hati

Bilirubin direk Bilirubin bebas >>

Sistemik

Otak

Letargi, kejang, opistotnus, Menetap


Tidak mau menghisap

Resti
Fototerapi ----------- kemiktorus
Resti kurang Resti injuri
cairan

Gangguan rasa Resti injuri Resti


nyaman & aman mata gangguan
integritas kulit

E. Manifestasi Klinis
Secara umum gejala dari penyakit hiperbilirubin ini antara lain:
1. Pada permukaan tidak jelas, tampak mata berputar-putar
2. Letargi
3. Kejang

6
4. Tidak mau menghisap
5. Dapat terjadi tuli, gangguan bicara, retardasi mental
6. Bila bayi hidup pada umur lanjut disertai spasme otot, kejang, stenosis
yang disertai ketegangan otot
7. Perut membuncit
8. Pembesaran pada hati
9. Feses berwarna seperti dempul
10. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap
11. Tampak ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit
yang cenderung tampak ukning terang atau orange, ikterus pada tipe
obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarna kuning kehijauan
atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat dari ikterus yang berat.
(Suradi, 2010)
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan
menjadi 2 yaitu:
1. Gejala akut: gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernicterus
pada neonatuus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
2. Gejala kronik: tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi
hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala
sisa berupa paralysis serebral dengan stetosis, gangguan pendengaran,
paralysis sebagian otot mata dan dysplasia dentalis.
Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning
(ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sklera) mata
terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40µmol/l

F. Pengobatan
1. Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan tunggalatau dikombinasikan dengan
transfusi pengganti untuk menurunkan bilirubin. Bila neonates dipapar
dengan cahaya berintensitas tinggi, tindakan ini dapat menurubkan
bilirubin dalam kulit. Secara umum, fisioterapi harus diberikan pada

7
kadar bilirubin indirek 4-5mg/dl. Neonates yang sakit dengan berat
badan kurang dari 1000 gram harus difisioterapi bila konsentrasi
bilirubin 5mg/dl. Beberapa pakar mengarahkan untuk memberika
fisioterapi profilaksis 24 jam pertama pada bayi beresiko tinggi dan
berat badan lahir rendah.
2. Intravena Immunoglobulin (IVIG)
Pemberian IVIG digunakan pada kasus yang berhubungan dengan
faktor immunologic. Pada hiperbilirubinemia yang diseabkan oleh
inkomtapibilitas golongan darah ibu dan bayi, pemberian IVIG dapat
menurunkan kemungkinan dilakukannya transfuse tukar.
3. Transfusi Pengganti
Transfuse pengganti digunakan untuk mengatasi anemia akibat eritrosit
yang rentan terhadap antibody eritrosit maternal; menghilangkan
eritrosit yang tersensitisasi; mengeluarkan bilirubin serum; serta
meningkatkan albumin yang masih bebas bilirubin dan meningkatkan
keterikatannya dengan bilirubin.
4. Penghentian ASI
Pada hiperbilirubinemia akibat pemberian ASI, penghentian ASI
selama 24-48 jam akan menurunkan bilirubin serum. Mengenai
penggantian pemberian ASI (walaupun hanya sementara) masih
terdapat perbedaan pendapat.
5. Terapi Medikamentosa
Phenobarbital dapat merangsang hati untuk menghasilkan enzim yang
meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini
efektif diberikan pada ibu hamil selama beberapa hari sampai beberapa
minggu sebelum melahirkan. Penggunaan phenobarbital post natal
masih menjadi pertentangan oleh karena efek sampingnya (letargi).
Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya
melalui urin sehingga dapat menurunkan kerja siklus enterohepatika.

8
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Bilirubin Serum
Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan
diagnosis icterus neonatorum serta untuk menentukan perlunya
intervensi lebih lanjut. Pelaksanaan pemeriksaan serum bilirubin total
perlu dipertimbangkan karena hal ini merupakan tindakan invasive
yang dianggap dapat meningkatkan morbiditas neonates
2. Bilirubinometer Transkutan
Bilirubinometer merupakan instrument spektrofotometrik dengan
prinsip kerja memanfaatkan bilirubin yang menyerap cahaya (panjang
gelombang 450nm). Cahaya yang dapat dipantulkan merupakan
representasi warna kulit neonates yang sedang diperiksa.
3. Pemeriksaan Bilirubin Bebas dan CO
Bilirubin bebas dapat melewati sawar darah otak secara difusi.
Oleh karena itu, ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada konsentrasi
bilirubin serum yang rendah.
Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar
bilirubin bebas, antara lain dengan metode oksidase-perioksidase.
Prinsip cara ini yaitu berdasarkan kecepatan reaksi oksidasi
perioksidasi terhadap bilirubin dimana bilirubin mejadi substansi tidak
berwarna, dengan pendekatan bilirubin bebas, tata laksana icterus
neonatorum akan lebih terarah.
Pemecahan heme menghasilkan bilirubin dan gas CO dalam
jumlah yang ekuivalen. Berdasarkan hal ini, maka pengukuran
konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan dapat digunakan
sebagai indeks produksi bilirubin.
4. Ultrasound untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu
5. Radioisotope scan dapat digunakan untuk membantu membedakan
hepatitis dari atresia biliary. (Suradi, 2010)

9
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Aktivitas/ istirahat : letargi, malas
2. Sirkulasi : mungkin pucat, menandakan anemia
3. Eliminasi : Bising usus hipoaktif, vasase meconium mungkin lambat,
faeces mungkin lunak atau coklat kehijauan selama pengeluaran
billirubin. Urine berwarna gelap.
4. Makanan cairan : Riwayat pelambatan/ makanan oral buruk.
5. Palpasi abdomen : dapat menunjukkan pembesaran limpa, hepar.
6. Neurosensori :
a. Chepalohaematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua
tulang parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran.
b. Oedema umum, hepatosplenomegali atau hidrops fetalis, mungkin
ada dengan inkompathabilitas Rh.
c. Kehilanga refleks moro, mungkin terlihat.
d. Opistotonus, dengan kekakuan lengkung punggung, menangis lirih,
aktifitas kejang.
7. Pernafasan : krekels (oedema fleura)
8. Keamanan : Riwayat positif infeksi atau sepsis neonatus, akimosis
berlebihan, pteque, perdarahan intrakranial, dapat tampak ikterik pada
awalnya pada wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh.
9. Seksualitas : mungkin praterm, bayi kecil usia untuk gestasi (SGA), bayi
dengan letardasio pertumbuhan intra uterus (IUGR), bayi besar untuk
usia gestasi (LGA) seperti bayi dengan ibu diabetes. Terjadi lebih sering
pada bayi pria daripada bayi wanita.

10
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko defisien volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
(IWL) tanpa disadari akibat dari fototerapi dan kelemahan menyusu.
2. Resiko terjadi komplikasi; kernikterus b.d peningkatan kadar bilirubin.
3. Hambatan rasa nyaman berhubungan dengan akibat pengobatan/terapi
sinar.
4. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fototerapi.
5. Resiko injuri berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder
dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin.

C. Intervensi
Tujuan dan
Diagnosa Intervensi Keperawatan
NO Kriteria Hasil
Keperawatan (NIC)
(NOC)
1 Resiko defisien Keseimbangan Resusitasi Cairan(4140):
1. Dapatkan dan
volume cairan cairan(0601):
1. (060107) pertambahan saluran
berhubungan
Keseimbangan IV yang besar
dengan kehilangan
2. Kelola cairan IV
intake dan output
cairan (IWL) tanpa
seperti yang
dalam 24 jam dari
disadari akibat dari
diresepkan
skala 2(banyak
fototerapi dan 3. Dapatkan specimen
terganggu)
kelemahan untuk pengecekan
ditingkatkan 4. Pantau Hemodinamik
menyusu.
menjadi skala 5 pasien
5. Monitor output
(tidak terganggu)
2. (060119 kehilangan cairan
Hematokrit dari
sakala 2 (sedikit
terganggu)
ditingkatkan
menjadi skala
5(tidak

11
terganggu)
Hidrasi (0602):
1. (060215) Intake
cairan dari skala
2(besarly
compromised)
ditingkatkan
menjadi skala
5(tidak
terganggu)
2. (060211) output
urin dari skala 2
(besarly
compromised)
ditingkatkan
menjadi skala 5
(tidak terganggu)
2 Resiko terjadi Resolusi Peningkatan mekanika
komplikasi; berduka(1304): tubuh(0140):
1. (130414) 1. Kaji komitmen pasien
kernikterus b.d
melaporkan tidur untuk belajar dam
peningkatan kadar
yang cukup dari menggunakan postur
bilirubin.
skala 2 (jarang tubuh yang benar
2. Kolaborasikan dengan
menunjukan
fisioterapis dalam
ditingkatkan
mengembangkan
menjadi skala 5
peningkatan mekanika
(secara konsisten
tubuh
menunjukan)
3. Edukasi pasien tentang
2. (130415)
pentingnya postur yang
Melaporkan
benar untuk mencegah
intake nutrisi
kelelahan, ketegangan
yang cukup dari
atau injuri
skala 2 (jarang
4. Edukasi pasien/keluarga

12
menunjukan tentang frekuensi dan
ditingkatkan jumlah penggulangan
menjadi skala 5 dari setiap latihan
5. Monitor perbaikan
(secara konsisten
postur tubuh mekanika
menunjukan)
tubuh pasien
3 Hambatan rasa Status Manajemen Terapi
nyaman kenyamanan(2008) Radiasi(6600):
1. Monitor pemeriksaan
berhubungan :
1. (200801) skrining sebelum
dengan akibat
Kesejahteraan pengobatan pada pasien
pengobatan/terapi
fisik dari skala yang beresiko untuk
sinar.
1(sangat mengalami kejadian
terganggu) yang lebih awal
2. Dukung aktivitas-
ditingkatkan
aktivitas untuk
menjadi skala 5
memodifikasi factor
(tidak terganggu)
2. (200804) resiko
3. Monitor adanya efek
Lingkungan fisik
samping dan efek toksik
dari skala
dari pengobatan
1(sangat
4. Gunakan tindakan
terganggu)
pencegahan radiasi yang
ditingkatkan
direkomendasikan
menjadi skala 5
dalam manajemen
(tidak terganggu)
pasien yang
3. (200805) suhu
menggunakan
ruangan dari skla
pacemaker jantung
1(sangat
5. Monitor perubahan pada
terganggu)
integritas kulit dan
ditingkatkan
lakukan pengobatan
menjadi skala 5
dengan tepat
(tidak terganggu)
4 Resiko kerusakan Integritas jaringan: Fototerapi:Neonatus(6924)

13
integritas kulit kulit dan :
1. Kaji ulang riwayat
berhubungan membrane mukosa
mental dan bayi
dengan fototerapi. (1101)
1. (110101) Suhu mengenai adanya factor
kulit dari skala 1 resiko terjadinya
(sangat hyperbbilirubinemia
2. Observasi tanda-tanda
terganggu)
warna kuning
ditingkatkan
3. Laporkan hasil
menjadi skala 5
laboratorium pada
(tidak terganggu)
dokter
2. (110102) Sensasi
4. Edukasi keluarga
dari skala
mengenai prosedur dan
1(sangat
perawatan fototerapi
terganggu) 5. Ubah posisi bayi setiap
ditingkatkan 4 jam per prontokol
6. Monitor kadar serum
menjadi skala 5
bilirubin per prontokol
(tidak terganggu)
3. (110113) atau sesuai dg
integritas kulit permintaan dokter
dari skala 1 (tidak
terganggu)
ditingkatkan
menjadi skala 5
(tidak terganggu)
5 Resiko injuri Bayi terbebas dari Pencegahan perdarahan
berhubungan injury yang (4010):
1. Monitor dengan ketat
dengan ditandai dengan:
1. Serum bilirubin resiko terjadinya
peningkatan serum
menurun perdarahan pada pasien
bilirubin sekunder
2. Tidak ada 2. Catat nilai hemoglobin
dari pemecahan sel
jaundice refleks dan hematokrit sebelum
darah merah dan
moro normal dan setelah pasien
gangguan eksresi 3. Tidak terdapat
kehilangan darah sesuai

14
bilirubin. sepsis indikasi
4. Reflek hisap dan 3. Monitor tanda dan
menelan gejala pendarahan
menetap
4. Pertahankan agar pasien
tetap tirah baring jika
terjadi perdarahan aktif
5. Monitor TTV ortostatik,
termasuk tekanan darah

D. Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah proses membandingkan efek atau hasil suatu
tindakan keperawatan dengan normal atau kriteria tujuan yang sudah dibuat
merupakan tahap akhir dari proses keperawatan evaluasi terdiri dari :
a. Evaluasi Formatif : Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon
segera pada saat dan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
b. Evaluasi Sumatif : Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa
status kesehatan sesuai waktu pada tujuan ditulis pada catatan
perkembangan.
Sedangkan evaluasi keperawatan yang diharapkan pada klien dengan
Hipebilirubin yaitu :
1) Tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
2) Tidak terjadi cedera terhadap terhadap keterlibatan sistem saraf
pusat
3) Cedera terhadap efek samping tindakan fototerapi dapat dicegah
4) Tidak terjadi cedera terhadap komplikasi dari transfuse tukar
5) Pengetahuan klien bertambah

15
16
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Hiperbilirubin merupakan keadaan yang umum terjadi pada bayi
pretern maupun aterm. Peningkatan kadar bilirubin > 2mg/dl sering
ditemukan di hari-hari pertama setelah kelahiran. 60% neonates yang sehat
mengalami icterus. Pada umumnya, peningkatan kadar bilirubin tidak
berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Namun beberapa kasus
berhubungan dengan beberapa penyakit, seperti penyakit hemolitik,
kelainan metabolism, dan endokrin, kelainan hati dan infeksi. Pada kadar
lebih dari 20mg/dl bilirubin dapat menembus sawar otak sehingga bersifat
toksik terhadap sel ota. Kondisi hiperbilirubinemia yang tak terkontrol dan
kurang penanganan yang baik dapat menimbulkan komplikasi yang berat.
Pengobatan yang dapat dilakukan apabila terjadi kasus hiperbilirubinemia
ada beberapa cara yaitu menggunakan fisioterapi, Intravena
Immunoglobulin, transfuse pengganti, penghentian pemberian ASI, dan
mengkonsumsi obat-obatan.

2. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis berharap pembaca yang budiman sudi memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah
ini dan penulisan makalah di kesempatan- kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga pembaca yang
budiman pada umumnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Murray, R.K., et al. 2009. Edisi Bahasa Indonesia Biokimia Harper. 27th edition.
Alih Bahasa Pendit, Brahm U. Jakarta : EGC
Sembiring, Juliana Br. 2017. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, Anak pra Sekolah.
Yogyakarta: CV Budi Utama
Sukardi A. 2010. Hiperbilirubinemia. In: Kosim ms, Yunanto A, Dewi R, Sarosa
GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi (Edisi ke 1). Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia
Suriadi dan Rita. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV. Sagung
Seto
Hansen TWR. 2011. http://www.emedicine.medscape.com/article/974786-
overview. 15 Oktober 2011
Emedicine. 2011. Ikterus pada Neonatus. http://tumbuhsehat.com/index. 17
Oktober 2011

18