Anda di halaman 1dari 28

Laporan Tutorial Skenario 2

Blok 13
Farmakologi, Farmasi Dan Obat Alami

Dosen Tutor : Dr. drg. IDA Susilawati, M. Kes


Anggota :
Fahmi Firdhaus E. D (171610101139)
Mahriana (171610101140)
Daragyta Purnama R (171610101141)
Iza Afkarina (171610101142)
Desy Sofyah H (171610101143)
Mulki Nur Maajid (171610101144)
Kevin Justisio (171610101145)
Muhammad Rizky Y (171610101146)
Annisa Ayah Esa S (171610101147)
Maria Eklevina W (171610101148)

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Jember
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tutorial Blok 13
Farmakologi, Farmasi Dan Obat Alami Skenario 2. Tutorial Blok Farmakologi, Farmasi Dan
Obat Alamiini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember. Dengan selesainya laporan tutorial ini, tidak terlepas
dari bantuan banyak pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk
itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Dosen Pembimbing Tutorial : Dr. drg. IDA Susilawati, M. Kes


2. Anggota Kelompok Tutorial 15

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Jember, 18 Mei 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….. 2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… 3
BAB I……………………………………………………………………………………… 4
PENDAHULUAN………………………………………………………………………… 4
BAB II…………………………………………………………………………………….. 5
PEMBAHASAN…………………………………………………………………………. 5
Step I. Mengklarifikasi Istilah Atau Konsep……………………………………….. 5
Step II. Menetapkan Permasalahan…………………………………………………. 7
Step III. Penyelesaian Masalah……………………………………………………… 8
Step IV. Pemetaan…………………………………………………………………… 9
Step V. Menentukan Objek Pembelajaran……………………………………………10
Step VII. Jawaban Objek Pembelajaran……………………………………………. 10
BAB III……………………………………………………………………………………. 17
KESIMPULAN…………………………………………………………………………… 17
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………... 18

3
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Antibiotika adalah zat-zat kimia oleh yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang
memiliki khasiat mematikan ataumenghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya
bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini, yang dibuat secara semi-sintesis, juga termasuk
kelompok ini, begitu pula senyawa sintesis dengan khasiat antibakteri. Antibiotik adalah zat
biokimia yang diproduksi oleh mikroorganisme, yang dalam jumlah kecik dapat menghambat
pertumbuhan atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain.

SKENARIO I.
ANTI BIOTIKA

Tono, 20 tahun, sedang sakit gigi sampai gusinya bengkak besar, tono minum obat
asamefenamet 500 mg, namun setelah 3 jam sakit itu kambuh lagi. Kemudian tono minum
asamefenamat lagi dan ditambah dengan cataflam 50 mg. Namun tetap saja rasa sakit itu
muncul setelah beberapa pemakaian. Oleh ahmad teman kost tono , (2 hari yang lalu ahmad di
diagnosa sakit typus dan oleh dokter diberi Tiamphenicol). Tono dianjurkan untuk minum
antibiotik, dan dan ahmad memberikan antibiotik miliknya (Thiampenicol) untuk diminum
Tono, karena ahmad merasa perutnya sudah membaik setelah meminumnya 3 kali dan
berhenti untuk meminumnya. Setelah meminum Tiamphenicol, ternyata sakit gigi dan
bengkak gusinya tetap ada. Selang beberapa hari sakit thypus Ahmad kambuh lagi. Akhirnya
Tono dan Ahmad ke dokter, oleh dokter keduanya diberi resep obat yang berbeda walaupun
sama-sama mengandung antibiotik. Dan dokter mengatakan bahwa lemungkinan Ahmad
mengalami resistensi obat.

4
BAB II
PEMBAHASAN

STEP 1 Mengidentifikasi kata sulit


1. Rasa sakit
: Rasa sakit (nyeri/ngilu) adalah pengalaman sensor dan emosional yang tidak menyenangkan
yang
berhubungan dengan kerusakan atau potensi kerusakan organ tubuh
2. Antibiotik
3. Tyamphenicol
4. Jejas/rangsang
5. Analgesik
6. Thypus
7. Resistensi obat
8. Asamefenamat

STEP 2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Sistem saraf Otonom?


2. Bagaimana garis besar fisiologi dasar SSO dan peran neurotransmiter dalam
kemunikasi kejadian-kejadian ekstraseluler dan perubahan-perubahan kimiawi di
dalam sel?
3. Apa yang dimaksud dengan neuron Kolinergik dan neurotransmitter apa yang
berperan?
4. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Agonis Kolinergik?
5. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Antagonis Kolinergik?
6. Apa yang dimaksud dengan neuron Adrenergik dan neurotransmitter apa yang
berperan?
7. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Agonis Adrenergik?
8. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Antagonis Adrenergik?

5
STEP 3 Brain Storming
1. Apa yang dimaksud dengan Sistem saraf Otonom?
Kinetik :
- Adalah cabang ilmu farmako yang mempelajari tentang perjalanan obat mulai
dari diminum hingga keluar melalui organ eksresi
- Jadi mulai obat masuk ada berbagai cara tidak hanya diminum, yang nantinya
akan mengalami absorbsi masuk kedalam darah, di distribusi kemudian di
metabolisme dan nantinya akan menimbulkan efek setelah itu ada zat sisa yang
nantinya akan di ekskresi
- Absorpsi adalah proses masuknya obat ke dalam sirkulasi darah, waktu
absorpsi tergantung pada kelarutan, Ph cth bersifat asam lemak maka akan mudah
menembus membran sel pada suasana asam dan jika ph berubah maka akan
menghambat penyerapan, sirkulasi darah cth pembeerian obat melalui sublingual akan
lebih cepat diabsorpsi dibandingkan di subkutab dan tempat absorpsi misalkanya di
kulita di membran mukosa usus halus, dan lambung
- Terdapat 5 fase, pertama absorpsi yairtu fase penyerpan obat, fase
bioafailablitas, fase distribusi, fase biotransformasi, dan fase eksresi
Dinamik :
Yang mempelajari fungsi obat terhadap organ, pengaruh obat terhadap biokimia
- Adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang fisiologi obat,
efek, dan mekanisme kerja
- Ada efek utama adalah efek yang diharapkan obat dan efek samping adalah
efek yang tidak diarapkan
- Adalah pngaruh obat pada tubuh atau respon biologik terhadap tubuh
- Lebih kepada organnya
- Pada dinamik akan membicarakan respon krja dan dimana dinamikanya

2. Bagaimana garis besar fisiologi dasar SSO dan peran neurotransmiter dalam
kemunikasi kejadian-kejadian ekstraseluler dan perubahan-perubahan kimiawi di
dalam sel?

Saraf adalah bagian dari sistem saraf periferal. Saraf aferen membawa sinyal sensorik
ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa sinyal dari sistem saraf pusat
ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar. Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau
disebut potensial akson.
6
3. Apa yang dimaksud dengan neuron Kolinergik dan neurotransmitter apa yang
berperan?
Kolinergika atau parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat
menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena
melepaskan neurohormon asetilkolin (Ach) di ujung-ujungneuronnya.

4. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping


obat Agonis Kolinergik?
5. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Antagonis Kolinergik?
6. Apa yang dimaksud dengan neuron Adrenergik dan neurotransmitter apa yang
berperan?
7. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Agonis Adrenergik?
8. Bagaimana Farmakokinetik, farmakodinamik,penggunaan terapi dan efek samping
obat Antagonis Adrenergik?

7
STEP 4 Mapping

Sistem Saraf

Sistem Saraf Sistem Saraf


Pusat Tepi

Aferen Eferen

Somatik Otonom

Obat Otonom

Obat Kolinergik Obat Adrenergik

Agonis Antagonis Agonis Antagonis

Farmakokinetik Farmakodinamik Fungsi Obat Efek Samping

8
STEP 5 Learning Objective

1. Mahasiswa Mampu Mengetahui struktur dan macam system saraf


2. Mahasiswa Mampu Mengetahui mekanismeimpuls saraf
3. Mahasiswa Mampu Mengetahuitransport membran
4. Mahasiswa Mampu Mengetahuifarmakokinetik
5. Mahasiswa Mampu Mengetahuifarmakodinamik
6. Mahasiswa Mampu Mengetahuiagonis kolinergik
7. Mahasiswa Mampu Mengetahuiantagonis kolinergik
8. Mahasiswa Mampu Mengetahuiagonis adrenergik
9. Mahasiswa Mampu Mengetahuiantagonis adrenergic

STEP 7 Jawaban Learning Objective

1. Mahasiswa Mampu Mengetahui struktur dan macam system saraf

A. Struktur sel saraf

Sel saraf atau neuron merupakan satuan kerja utama dari sistem saraf yang
berfungsi menghantarkan impuls listrik yang terbentuk akibat adanya suatu stimulus
(rangsang). Jutaan sel saraf ini membentuk suatu sistem saraf. (Sloane Ethel., 2004)
Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma
dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf,
yaitu dendrit dan akson.Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf,
sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke sel saraf yang lain
atau ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek.
Pada ujung akhir dari akson terdapat sinapsis yang merupakan celah antara ujung saraf
di mana neurotransmiter dilepaskan untuk menghantar impuls ke saraf selanjutnya
atau organ yang dituju.(Sloane Ethel., 2004)

Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua
serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak
9
disebut myelin yang dibentuk oleh sel Schwann yang menempel pada akson. Sel
Schwann merupakan sel glia utama pada sistem saraf perifer yang berfungsi
membentuk selubung myelin. Fungsi myelin adalah melindungi akson dan memberi
nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus ranvier, yang
dapat mempercepat penghantaran impuls. (Sloane Ethel., 2004)

a. Badan Sel

Badan sel adalah bagian dari jaringan yang terbesar. Didalam badan sel
terdapat nucleus yaitu inti sel jaringan saraf. Bagian ini berfungsi sebagai
penerima impus atau rangsangan dari sitoplasma bercabang menuju akson.(Sloane
Ethel., 2004)

b. Inti sel
Bagian jaringan safar inti sel atau biasa di sebut dengan nucleus berfungsi
sebagai regulator dari seluruh aktivitas sel saraf. Inti sel berada di dalam badan sel,
dan mengambang di antara sitoplasma.(Sloane Ethel., 2004)

c. Dendrit

Dendrit adalah bagian saraf yang sekumpulan serabut sel saraf pendek yang
bercabang-cabang halus dan merupakan perluasan dari badan sel. Bagian ini
berfungsi sebagai penerima impuls dan menyampaikan impuls yang diterimanya
menuju badan sel.(Sloane Ethel., 2004)

d. Neurit (Akson)

10
Bagian saraf neurit atau akson adalah selaput sel saraf yang Panjang perluasan
dari badan sel. Neurit berfungsi sebagai pengirim impus yang diperoleh badan sel
menuju sel saraf melalui sinapsis. Akson dilindung oleh selubung meilin.
Selubung ini berupa selaput berbahan lemak yang berfungsi melindungi akson dari
kerusakan.(Sloane Ethel., 2004)

e. Sel Schwann

Sel schwann adalah sel penyokong akson yang berfungsi menyediakan suplai
makanan bagi metabolisme akson dan membantu regenerasi akson. (Sloane Ethel.,
2004)

f. Sinapsis
Bagian sel safar sinapsis adalah ujung akson berfungsi untuk meneruskan
impuls menuju ke neuron lainnya. Sinapsis dari satu neuron akan terhubung
dengan dendrit dari neuron lainnya.(Sloane Ethel., 2004)

Berdasarkan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

a. Sel saraf sensorik

Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem
saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung
akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).(Sloane
Ethel., 2004)

b. Sel saraf motorik

Fungsi sel saraf motorik adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke
otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan.
Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek
berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat
panjang.(Sloane Ethel., 2004)

c. Sel saraf penghubung

Sel saraf penghubung disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di
dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motorik dengan
sel saraf sensorik atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam
sistem saraf pusat. Sel saraf penghubung menerima impuls dari reseptor sensorik
atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan
dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan
badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.(Sloane Ethel.,
2004)

2. Mahasiswa Mampu Mengetahui mekanismeimpuls saraf

11
Kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas terhadap stimulus dan
konduktivitas, atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respons terhadap stimulasi,
diatur oleh system saraf dalam tiga cara utama yaitu :
1. Input sensorik
• Sistem saraf menerima sensasi atau stimulus melalui reseptor, yang terletak
di tubuh baik eksternal (reseptor somatic) maupun internal (reseptor visceral)
2. Aktivitas Integratif
• Reseptor mengubah stimulus menjadi impuls listrik yang menjalar di
sepanjang saraf sampai ke otak dan medulla yang kemudian akan
menginterpretasi dan mengintegrasi stimulus sehingga respon terhadap
informasi bisa terjadi
3. Output motoric
• Impuls dari otak dan medulla spinalis memperoleh respon yang sesuai dari
otot dan kelenjar tubuh, yang disebut sebagai efektor

• Otak
Sistem saraf pusat (SSP)
• Medulla Spinalis

• Meliputi seluruh jaringan


saraf lain dalam tubuh
Sistem saraf Perifer
• Saraf Aferen (sensorik)
• Saraf Eferen (motoric)

Sistem saraf Perifer


(Sloane Ethel., 2004)

a. saraf eferen
Dibagi menjadi 2 divisi, yaitu :

12
1. Divisi Somatik (volunter)
1. Berkaitan dengan perubahan lingkungan eksternal dan
pembentukan respons motoric volunteer pada otot rangka

2. Divisi Otonom (involunter)


1. Mengendailikan seluruh respons involunter pada otot polos,
otot jantung, dan kelenjar dengan cara mentransmisi impuls
saraf melalui dua jalur
1. Saraf simpatis berasal dari area toraks dan lumbal
pada medulla spinalis
2. Saraf parasimpatis berasal dari area otak dan sacral
pada medulla spinalis
(Sloane Ethel., 2004)

Impuls
Impuls yang diterima oleh reseptor dan disampaikan ke efektor
akanmenyebabkan terjadinya gerakan atau perubahan pada efektor. Perambatan
impuls saraf sebagai berikut :
1. Setelah inisiasi, potensial aksi menjalar di sepanjang serabut
saraf dengankecepatan dan amplitude yang tetap.
2. Arus listrik local menyebar ke area membran yang berdekatan.
Hal inimenyebabkan gerbang natrium membuka dan
mengakibatkan gelombangdepolarisasi menjalar di sepanjang
saraf.
3. Dengan cara ini, sinyal atau impuls saraf, ditransmisi dari satu
sisi ke delamsistem saraf sisi yang lain.
(Sloane Ethel., 2004)

Sinaps

Sinaps merupakan tempat khusus dimana neuron itu berkomunikasi dengan


neuron/sel lainnya, menyalurkan sinyal ke satu arah. Ada tipe sinaps transmisi terdiri
atas sinaps kimia dan sinaps listrik/elektrik. (Sloane Ethel., 2004)

13
Sinaps adalah suatu daerah kontak dimana informasi neuron ditransfer ke sel
lain. Struktur dan fungsi sinaps adalah sangat sederhana, dan berperan dalam
memindahkan ion-ion (molekul bermuatan) dari satu sel ke sel lain.Sinaps elektrik
terjadi di area khusus yang dikenal dengan “ gap junction” (celah gabungan).Pori yang
dibentuk oleh celah ini akan mengalirkan ion-ion dari satu sel ke sel lain dan
ukurannya lebih besar dari kanal ion. “Gap junction”, kanal yang berlekatan dan
berada di tempat atau situs berperan menghubungkan membran dari dua sel yang
letaknya sangat berdekatan (3 nm). Celah sempit ini dibentuk dari sekelompok protein
khusus yaitu “connexin” yang bergabung dalam 6 “connexin”. Membentuk satu kanal
ini dikenal dengan “connexon”.” Connexon” membran sel 1 akan berlekatan dengan
“connexon” membran sel 2 membentuk kanal “ gap junction”.

Kanal ini akan mengalirkan ion-ion dan molekul kecil dari sitoplasma sel 1 ke
sitoplasmasel 2. Karena ion-ion dapat bergerak dari satu sel ke sel lain melalui kanal-
kanal ini sehinggasatu sel dan sel lain, jumlah ionnya seimbang, maka berperan dalam
membantu sinkronisasiaktivitas dari suatu kelompok neuron ( jadi depolarisasi dan

14
hiperpolarisasi dapat tersebar darisatu neuron ke neuron lain secara seketika).(Sloane
Ethel., 2004)

3. Mahasiswa Mampu Mengetahuitransport membrane


Membran sel. Membran plasma terdiri dari dua lapisan lipid amphipathic dengan
rantai hidrokarbonnya berorientasi ke dalam ke tengah bilayer untuk membentuk
hidrofobik kontinufase dan kepala hidrofilik mereka berorientasi ke luar. Individu molekul
lipid dalam lapisan ganda bervariasi sesuai dengan yang khusus membran dan dapat
bergerak ke samping dan mengatur diri dengan kolesterol (mis., sphingolipid),
memberkahi membran dengan fluiditas, fleksibilitas, organisasi, hambatan listrik yang
tinggi, dan impermeabilitas relatif terhadap molekul yang sangat polar. Selaput protein
yang tertanam dalam bilayer berfungsi sebagai reseptor, saluran ion, atau transporter
untuk mentransduksi jalur pensinyalan listrik atau kimia dan memberikan target selektif
untuk aksi obat. Protein ini dapat dikaitkan dengan caveolin dan diasingkan di dalamnya.
Caveolae, mereka mungkin dikeluarkan dari caveolae, atau mereka mungkin diatur dalam
domain pensinyalan yang kaya akan kolesterol dan sphingolipid yang tidak mengandung
caveolin.(Goodman & Gilman’s., 2006)

Selaput sel relatif permeabel terhadap air baik melalui difusi atau aliran akibat
perbedaan hidrostatik atau osmotik melintasi membran, dan aliran besar air dapat
membawa obat itu molekul. Namun, protein dengan molekul obat terikat padanya
terlalu besar dan polar untuk jenis transportasi ini terjadi; dengan demikian,
perpindahan transmembran umumnya terbatas pada obat yang tidak terikat.
Paraseluler transportasi melalui celah antar sel cukup besar bagian itu di sebagian
besar kapiler dibatasi oleh aliran darah dan bukan oleh faktor lain (lihat di bawah).
Seperti yang dijelaskan kemudian, jenis transportasi ini merupakan faktor penting
dalam filtrasi melintasi membran glomerulus di ginjal. Namun, ada beberapa
pengecualian penting dalam difusi kapiler tersebut. karena persimpangan interseluler
"ketat" hadir dalam jaringan tertentu, dan transportasi paraseluler di dalamnya
terbatas. Kapiler pusat sistem saraf (SSP) dan berbagai jaringan epitel harus
ketatpersimpangan (lihat di bawah). Aliran air curah bisa terbawa kecil zat yang larut
dalam air, tetapi transportasi aliran massal terbatas ketika massa molekul zat terlarut
melebihi 100 hingga 200 dalton. Demikian, sebagian besar obat lipofilik besar harus
melewati membran sel itu sendiri.(Goodman & Gilman’s., 2006)
Transport Membran Pasif.

15
Obat melintasi membran baik oleh proses pasif atau dengan mekanisme yang
melibatkan partisipasi aktif komponen membran. Dalam transpor pasif, obat Molekul
biasanya menembus oleh difusi sepanjang gradien konsentrasi berdasarkan
kelarutannya dalam lapisan ganda lipid. Transfer tersebut adalah berbanding lurus
dengan besarnya gradien konsentrasi melintasi membran, ke koefisien partisi lipid-air
dari obat, dan ke area permukaan membran yang terkena obat. Itu semakin besar
koefisien partisi, semakin tinggi konsentrasi obat dalam membran, dan semakin cepat
difusi. Setelah mantap keadaan tercapai, konsentrasi obat yang tidak terikat adalah
sama di kedua sisi membran jika obat tersebut adalah nonelektrolit. Untuk senyawa
ionik, konsentrasi tunak tergantung pada gradien elektrokimia untuk ion dan
perbedaan pH lintas membran, yang dapat mempengaruhi keadaan ionisasi. Molekul
terpisah di kedua sisi membran.(Goodman & Gilman’s., 2006)
Elektrolit yang lemah dan Pengaruh pH. Sebagian besar narkoba adalah asam
atau basalemah yang ada dalam larutan karena keduanya spesies yang tidak terionisasi
dan terionisasi. Molekul-molekul yang tidak terionisasi biasanya lebih larut dalam
lemak dan dapat berdifusi dengan mudah melintasi membran sel. Sebaliknya, molekul
terionisasi biasanya tidak dapat menembus membran lipid karena kelarutan lemaknya
rendah. (Goodman & Gilman’s., 2006)
Oleh karena itu, distribusi transmembran dari elektrolit yang lemah ditentukan
oleh pKa dan gradien pH melintasi selaput. PKa adalah pH di mana setengah obat (le-
mahelektrolit) dalam bentuk terionisasi. Untuk menggambarkan efek pH pada
distribusi obat, partisi asam lemah (pKa =4,4) antara plasma (pH = 7,4) dan jus
lambung (pH = 1,4) adalah digambarkan pada Gambar 1-2. Diasumsikan bahwa
mukosa lambung membran berperilaku sebagai penghalang lipid sederhana yang
permeabel hanya untuk bentuk asam yang larut dalam lemak dan tidak terionisasi. Itu
rasio obat nonionisasi dengan ion pada setiap pH mudah dihitung dari persamaan
Henderson-Hasselbalch(Goodman & Gilman’s., 2006)
Transport Membran yang Dimediasi oleh Operator.

Sedangkan difusi pasif melalui bilayer yang dominan dalam disposisi sebagian
besar obat-obatan, mekanisme carriermediated juga memainkan peran penting.
Transportasi aktif adalah ditandai dengan kebutuhan langsung untuk energi, gerakan
melawan suatu gradien elektrokimia, saturabilitas, selektivitas, dan penghambatan
kompetitif oleh senyawa transpor. Na +, K + -ATPase adalah mekanisme transportasi
aktif. Transportasi aktif sekunder menggunakan elektrokimia energi yang tersimpan
dalam gradien untuk menggerakkan molekul lain melawan gradien konsentrasi; mis.,
protein penukar Na + –Ca2 + menggunakan energi disimpan dalam gradien Na + yang
ditetapkan oleh Na +, K + -ATPase untuk diekspor sitosolik Ca2 + dan
mempertahankannya pada tingkat basal yang rendah, sekitar 100 NM di sebagian
besar sel (lihat Bab 33); sama halnya, glukosa yang bergantung pada Na + transporter
SGLT1 dan SGLT2 memindahkan glukosa melintasi membran epitel gastrointestinal
(GI) dan tubulus ginjal dengan menggabungkan glukosa transportasi ke downhill Na +
fluks. (Goodman & Gilman’s., 2006)
Difusi yang difasilitasi menggambarkan suatu proses pengangkutan yang
dibuat melalui kapal di mana tidak ada input energi, dan Oleh karena itu, peningkatan
pergerakan zat yang terlibat turun gradien elektrokimia seperti pada permeasi glukosa
melintasi membran sel otot yang dimediasi oleh transporter glukosa yang sensitif-
insulin protein GLUT4. Mekanisme seperti itu, yang mungkin sangat selektif untuk a
struktur konformasi spesifik obat, terlibat dalam pengangkutan senyawa endogen yang
laju pengangkutannya dengan difusi pasif kalau tidak akan terlalu lambat. Dalam
kasus lain, mereka berfungsi sebagai penghalang sistem untuk melindungi sel dari zat
yang berpotensi toksik. Transporter yang penting secara farmakologis dapat
16
memediasi penyerapan atau penghilangan obat dan sering memfasilitasi transportasi
vektor di sel terpolarisasi. Pengangkut eflux penting yang ada di banyak tempat adalah
P-glikoprotein yang dikodekan oleh gen multidrug resistance-1 (MDR1). P-
glikoprotein terlokalisasi dalam enterosit membatasi penyerapan oral obat yang
diangkut karena itu mengekspor senyawa kembali ke saluran GI setelah penyerapan
oleh difusi pasif. P-glikoprotein juga dapat memberi resistensi ke beberapa agen
kemoterapi kanker (Goodman & Gilman’s., 2006)
4. Mahasiswa Mampu Mengetahuifarmakokinetik

Tujuan terapi obat adalah untuk mencegah, menyembuhkan, atau mengendalikan


berbagai stadium penyakit. Untuk mencapai tujuan ini, dosisi obat yang memadai harus
tertuju kepada jaringan target sehingga kadar terapeutik (Terapi yang tidak menyabkan
toksik) diperoleh. (Goodman & Gilman’s., 2006)
Farmakokinetik mengevaluasi pergerakan obat didalam tubuh selama kurun
waktutertentu. Dimulai dari obat memasuki tubuh maka tubuh akan beraksi terhadap obat
dimulai dari absorbsi, distribusi, metabolism (Biotransformation), dan eliminasi.
(Goodman & Gilman’s., 2006)

a. Absorbsi obat
Absorbsi adalah pemindahan obat dari lokasi pemberian menuju
aliran darah. Kecepatan dan efisiensi absorbsi tergantung cara pemberiannya.
Untuk pemberian intravena, absorbsi berlangsung sempurna karena
dosis total obat mencapai sirkulasi sistemis. Pemberian obat dengan rute
lain hanya bisa menghasilkan absorbsii parsial sehingga menurunkan
bioavailabilitas.(Goodman & Gilman’s., 2006)

Pengangkutan obat dari saluran cerna tergantung sifat – sifata


kimiawinya, obat terabsorbsi dari saluran cerna melalui difusi pasif atau
transpor aktif. (Goodman & Gilman’s., 2006)

i. Difusi Pasif :
Sebagian besar obat masuk kedalam tubuh melalui mekanisme
ini. Obat-obat larut lemak mudah melintasi sebagian besar membrane
biologis karena kelauratannya didalam lapisan ganda membrane
(Membrane Bilayers). Obat-obatan larut air menembus membran sel
melalui saluran atau pori pori berair. Sedangkan obat obatan lain dapat
masuk kedalam sel melalui protein.(Goodman & Gilman’s., 2006)

17
ii. Transpor Aktif :
Cara ini melibatkan protein-protein karier spesifik yang
bergantung pada membrane sel. Sejumlah kecil obat ysng memiliki
struktur metabolit-metabolit ditranspor melalui membrane sel
menggunakan protein protein karier khusus ini. Transpor aktif
bergantung pada energi tubuh.(Goodman & Gilman’s., 2006)

Faktor- factor fisik yang mempengaruhi absorbs obat, yaitu :

• Aliran darah pada lokasi absorbsi :


Aliran darah menuju usus jauh lebih besar daripada aliran darah
yangmenuju lambung jadi, absorbsi dari usus jauh lebih baik daripada
lambung.
• Jumlah area permukaan yang tersedia untuk absorbsi :
Karena usus memiliki permukaan yang kaya akan
mikrovilii,usus mempunyai luas permukaan kira-kira 1000 kali lebih
luas disbanding permukaan lambung; jadi, absorbsi melalui usus lebih
efisien.
• Lama kontak dengan permukaan absorbsi
Jika suatu obat dalam saluran cerna bergerak sangat cepat,
seperti pada keadaan diare berat obat tidak diabsorbsi secara baik.
Sebaliknya segala sesuatu yang menghambat transport obat dari
lambung menuju usus akan memperlambat kecepatan absorbsi obat
tersebut.
(Goodman & Gilman’s., 2006)

b. Distribusi obat
Distribusi obat merupakan sebuah proses perpindahan suatu obat secara
reversible dari sirkulasi darah meuju ke interstisium (cairan ekstraseluler) dan/atau
sel-sel jaringan. Perpindahan obat dari plasma menuju interstisial terutama
tergantung pada aliran darah, premabilitas kapiler, derajat ikatan obat tersebut
dengan protein plasma dan jaringan, dan sifat hidrofobik relative obat
tersebut.(Goodman & Gilman’s., 2006)

18
Kecepatan aliran darah kapiler jaringan sangat bervariasi sebagai akibat
distribusi curah jantung yang tidak sama ke berbagai organ. Aliran darah yang
menuju otak, hati dan ginjal lebih besr daripada aliran darah yang menuju otot
rangka; jaringan adiposa tetap mendapat aliran darah yang lebih rendah. Perbedaan
aliran darah ini turut menjelaskan durasi singkat hipnosis yang dihasilkan oleh
bolus suntikan intravena thiopental Besamya aliran darah, bersama kelarutan lipid
thiopental yang tinggi, memudahkan pergerakan yang cepat menuju ke susunan
saraf pusat (SSP) dan menghasilkan efek anestesia. Distribusi yang lebih lambat ke
otot rangka dan jaringan adiposa menurunkan konsentrasi plasma dengan cukup
sehingga konsentrasi dalam SSP yang tinggi menjadi turun dan kesadaran pulih
kembali. Meskipun fenomena ini terjadi pada semua obat hingga derajat tertentu,
redistribusi terutama terjadi pada kerja obat berdurasi sangat singkat, thiopental,
dan senyawa yang memiliki sifat kimiawi dan farmakologi yang
serupa.(Goodman & Gilman’s., 2006)

c. Metabolisme/biotransformasi
Metabolisme/biotransformasi merupakanproses perubahan struktur kimia obat
yang terjadi dalam tubuh, oleh enzim-enzim yang pada umumnya menghasilkan
bentuk bersifat:
i. Inaktif dan tidak/kurang toksik
ii. Mudah larut dalam air (polar) dan kuranglarut dalam lemak sehingga
mudah/cepat diekskresi melalui ginjal

Dibedakan menjadi :
i. Reaksi fase I ( oksidasi, reduksi dan hidrolisis)
ii. Reaksi fase II ( konjugasi dg zat endogen, spt : asam glukoronat, sulfat,
asetat, glutation)

Faktor-faktor yg mempengaruhi biotransformasiobat:


• Ikatan dg protein
• Penyakit hepar atau belumsempurnanya pembentukan enzim yang
melakukan biotransformasi (masa neonatal)
• Obat-obat tertentu dapat menghambat atau mempercepat
biotransformasi (metabolisme) obat lain.
Enzim-enzim yang berperan pdbiotransformasi:
19
• Enzim mikrosom
• Enzim non mikrosom
(Goodman & Gilman’s., 2006)

d. Ekskresi
Obat diekskresi dari tubuh dalam bentuk metabolit hasil biotansformasi
atau dalam bentuk asalnya. Organ yang berperan dalam ekskresi obat:
i. Ginjal
ii. Empedu usus (feses), tetapi lebih sering diserap kembali melalui usus
halus yang akhirnya diekskresi melalui ginjal
iii. Paru, pada obat berupa gas atau cairan yg mudah menguap
iv. Air susu ibu
v. Ludah, untuk Anti mikroba tertentu penting dlm tx infeksi RM
vi. Keringat
vii. Rambut, dpt digunakan tuk menemukan logam-logam toksik

Beberapa faktor yang mempengaruhi ekskresi ialah pH Urine dalam


tubuh. Hal ini menentukan derajat ionisasi. Pengaruh dari organ seperti
Gangguan fungsi ginjal akan mempengaruhi proses ekskresi obat. (Goodman
& Gilman’s., 2006)

5. Mahasiswa Mampu Mengetahuifarmakodinamik

Farmakodinamik berkaitan dengan studi biokimia dan efek fisiologis dari


obatobatan dan mekanisme kerjanya. Sebuah analisis menyeluruh dari kerja obat dapat
memberikan dasar untuk penggunaan terapi obat Penelitian dasar dalam farmakodinamik
juga menyediakan pengetahuan mendasar secara biokimia dan fisiologis. (Goodman &
Gilman’s., 2006)

a. Mekanismer kerja obat


Efek dari sebagian besar obat dihasilkan dari interaksi obat dengan
komponen makromolekul organisme. Interaksi ini mengubah fungsi yang
bersangkutan komponen dan dengan demikian perubahan biokimia dan perubahan
fisiologis yang merupakan karakteristik dari respon terhadap obat. Istilah reseptor
20
menunjukkan komponen organisme dengan bahan kimia tersebut memungkinkan
untuk berinteraksi.(Goodman & Gilman’s., 2006)

b. Reseptor obat
Secara umum, reseptor obat dapat diartikan setiap molekul target yang
harus diikat oleh obat supaya obat tersebut dapat menghasilkan efeknya yang
spesifik.Secara farmakologi istilah reseptor dibatasi hanya untuk interaksi obat
dengan reseptor tipe regulasi sehingga suatu ligan (obat/molekul kecil) bisa
berfungsi sebagai suatu agonis atau antagonis.Aktivitas suatu agonis merupakan
hasil dari afinitas dan aktivitas intrinsik. Afinitas adalah kemampuan untuk
mengikat reseptor, Aktivitas intrinsik adalah kemampuan suatu obat untuk
menimbulkan suatu efek. (Goodman & Gilman’s., 2006)
Proten penting yang termasuk dalam reseptor obat :Contohnya termasuk
reseptor untuk hormon, faktor pertumbuhan, faktor transkripsi, dan
neurotransmiter; nzim metabolisme penting (mis., dihydrofolate reductase,
asetilkolinesterase, dan nukleotida fosfodiesterase siklik); protein yang terlibat
dalam proses transportasi (mis., Na +, K + ) ; glikoprotein yang disekresikan (mis.,
Wnts); dan protein struktural (mis., tubulin). Sifat mengikat spesifik seluler
lainnya juga dapat dieksploitasi untuk tujuan terapeutik. Jadi asam nukleat itu
penting sebagai reseptor obat, terutama untuk kemoterapi kanker. (Goodman &
Gilman’s., 2006)

Istilah reseptor telah digunakan untuk menunjukkan makromolekul seluler


tempat obat terikat untuk memulai efeknya. Di antara reseptor obat yang paling
penting adalah protein seluler, yang fungsinya adalah sebagai reseptor untuk ligan
endogen — khususnya hormon, faktor pertumbuhan, dan neurotransmiter. Fungsi
reseptor fisiologis terdiri dari pengikatan ligan endogen yang sesuai dan, sebagai
respons menyebarkan sinyal ke sel target. (Goodman & Gilman’s., 2006)

Reseptor obat telah diidentifikasi dan diklasifikasikan terutama


berdasarkan efek dan kerelatifan potensi agonis selektif dan antagonis. Sebagai
contoh, efek asetilkolin yang sama dengan alkaloid muscarine dan yang secara
selektif dihambat oleh atropin disebut efek muskarinik. Efek lain dari asetilkolin
yang sama oleh nikotin dijelaskan sebagai efek nikotinik. efek kedua jenis
kolinergik ini dikatakan dimediasi oleh muscarinic atau reseptor nikotinik. Meski
21
sering berkontribusi sedikit untuk penggambaran mekanisme kerja obat, hal ini
seperti memberikan dasar yang mudah untuk menjelaskan efek obat. (Goodman &
Gilman’s., 2006)

Apabila kita tetap berpedoman bahwa reseptor adalah suatu makromolekul


fungsional yang harus diikat obat supaya dapat menghasilkan efek, terdapat pula obat
yang dapat dikatakan bekerja tanpa berkombinasi dengan reseptor merupakan mekanisme
kerja obat non spesifik. Contoh obat yang bekerja secara nonspesifik, yaitu:
i. Anestetik umum yang volatil (eter, kloroform, halotan) yang berinteraksi denga
membran sel untuk menekan eksitabilitas sampai tercapai keadaan anestesi
ii. Netralisasi asam lambung oleh suatu basa (antasid)
iii. Manitol, bila diberikan dalam jumlah tertentu akan meningkatkan osmolaritas
cairan tubuh dan dapat dipakai untuk mengurangi edema otak
(Goodman & Gilman’s., 2006)

6. Mahasiswa Mampu Mengetahuiagonis kolinergik

Efeknya mirip dengan perangsangan aktifitas susunan saraf parasimpatis. Reseptor


kolinergik :
• muskarinik : merangsang otot polos dan memperlambat denyut jantung
• nikotinik : mempengaruhi otot rangka

Pengolongan Kolinergik :
i. Golongan Ester Kolin (asetil kolin, metakolin, karbakol, betanekol)
ii. Golongan Anti Kolinesterase (eserin, prostigmin, dilsopropil fluorosfat)
iii. Golongan Alkoid Tumbuhan (muskarin, pilokarpin, arekolin)

22
7. Mahasiswa Mampu Mengetahuiantagonis kolinergik
Antagonis kolinergik disebut juga obat penghambat kolinergik atau obat
antikolinergik.Yang paling bermanfaat dari golongan obat ini adalah antagonis reseptor
muskarinik sinaps pada saraf parasimpatis secara selektif.

Antagonis Kolinergik dibagi menjadi :


1. Obat Antimuskarinik
Obat golongan ini bekerja mengantagonis reseptor muskarinik yang
menyebabkan hambatan semua fungsi muskarinik. Obat ini mengantagonis sedikit
kecuali neuronsimpatis yg jg kolinergik seperti saraf simpatis yg menuju ke
kelenjar keringat.Obat ini tidak mengantagonis reseptor nikotinik, maka obat
antimuskarinik ini sedikit atau tidak mempengaruhi sambungan sarafotot rangka
atau ganglia otonom. Contoh obat antimuskainik adalah Atropin, Ipratropium,
Skopolamin. Atropin berasal dari tanaman Atropa belladonna.Memiliki afinitas
kuat terhadap reseptormuskarinik, obat ini terikat secara kompetitif, sehingga
mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinikAtropin
mengantagonis reseptor muskarinikbaik di sentral maupun di saraf tepi

2. Antagonis ganglionik
Secara spesifik bekerja pada reseptor nikotinikdengan mengantagonis kanal
ion gangliaotonom. Obat ini menunjukantidak adanya selektivitas terhadap ganglia
simpatis maupun parasimpatis. Tidak efektif sebagai antagonis neuromuscular.
Contoh obat penyekat ganglion Mekamilamin, Nikotin, Trimetafan.

23
3. Antagonis Neuromuskular
Contoh : Atrakurium, Doksakurium, Metokurin, Mivakurium, dll.

8. Mahasiswa Mampu Mengetahuiagonis adrenergic

Agonis Adrenergik merupakan golongan stimulan yang memiliki efek agonis pada
sistem saraf simpatis dan mengakibatkan pelepasan serta aksi non-epinefrin dan epinefrin.
Hormon epinefrin dan non-epinefrin dikenal juga sebagai adrenalin dan non-adrenalin
yang disekresi oleh kelenjar adrenal.

Klasifikasi obat simpatomimetik


obat simpatomimetik digolongkan sebagai simpatomimetik kerja langsung,
tidak langsung, atau campuran.

1. Obat simpatomimetik yang bekerja langsung pada satu atau lebih reseptor
adrenergik. Agen-agen ini dapat menunjukkan selektivitas yang cukup untuk
subtipe reseptor spesifik.
2. Obat yang bekerja secara tidak langsung meningkatkan ketersediaan non-
epinefrin atau epinefrin untuk merangsang reseptor adrenergik. Ini dapat
dilakukan dengan beberapa cara:
24
1. Dengan melepaskan atau menggusur non-epinefrin dari varises saraf
simpatis.
2. Dengan memblokir transportasi non-epinefrin ke neuron simpatis (mis.,
Kokain)
3. Dengan memblokir enzim metabolisme, monoamine oksidase (MAO).
(Goodman & Gilman’s., 2006)

9. Mahasiswa Mampu Mengetahuiantagonis adrenergic

Banyak jenis obat mengganggu fungsi sistem saraf simpatik dan karenanya
memiliki efek mendalam pada antagonis adrenergic.Beberapa obat ini penting dalam
pengobatan klinis, khususnya untuk pengobatan penyakit kardiovaskular. Obat-obatan
yang mengurangi jumlah norepinefrin yang dilepaskan sebagai konsekuensi dari stimulasi
saraf simpatis atau yang menghambat aktivitas saraf simpatis dengan menekan aliran
simpatis dari otak.Menghambat interaksi norepinefrin, epinefrin, dan obatsimpatomimetik
lainnya. (Goodman & Gilman’s., 2006)

Sebagai contoh, antagonis selektif B, reseptor memblokir sebagian besar tindakan


epinefrin dan nor-epinefrin pada jantung, sementara memiliki efek yang lebih kecil pada
ereksi pada otot polos bronkus dan tidak berpengaruh pada respons yang dimediasi oleh
reseptor. Blokade a, reseptor juga menghambat vasokonstriksi dan peningkatan tekanan
darah yang dihasilkan oleh pemberian amina simpatomimetik. Pola efeknya tergantung
pada agonis adrenergik yang diberikan: respons pressor terhadap fenilefrin dapat
sepenuhnya ditekan. Blokade a, reseptor dengan antagonis selektif seperti yohimbine

25
dengan demikian dapat meningkatkan aliran simpatis dan mempotensiasi pelepasan
norepinefrin dari ujung saraf, yang mengarah ke aktivasi reseptor a, dan B, di jantung dan
pembuluh darah perifer dengan konsekuensi peningkatan darah tekanan. Antagonis yang
juga memblokir a, reseptor menimbulkan efek yang sama pada aliran simptetik dan
pelepasan norepinefrin, tetapi peningkatan bersih tekanan darah dicegah dengan
menghambat.

(Goodman & Gilman’s., 2006)

Penggunaan obat-obat adrenergik, antara lain:

i. Shock, dengan memperkuat kerja jantung (β1)dan melawan hipotensi ((α),


contohnya adrenalin dan noradrenalin

ii. Asma, dengan mencapai bronkodilatasi (β2), contohnya salbutamol dan


turunannya, adrenalin dan efedrin.

iii. Hipertensi, dengan menurunkan daya tahan perifer dari dinding pembuluh melalui
penghambatan pelepasan noradrenalin (α2), contohnya metildopa dan klonidin.

iv. Vasodilator perifer, dengan menciutkan pembuluh darah di pangkal betis dan paha
(claudicatio intermitens).

v. Pilek (rhinitis), guna menciutkan selaput lendir yang bengkak (α) contohnya
imidazolin, efedrin dan adrenalin.

vi. Midriatikum, yaitu dengan memperlebar pupil mata (α), contohnya fenilefrin dan
nafazolin.

vii. Anoreksans, dengan mengurangi napsu makan pada obesitas (β2), contohnya
fenfluramin dan mazindol.

viii. Penghambat his dan nyeri haid (dysmenore) dengan relaksasi pada otot rahim
(β2), contohnya isoxuprin dan ritordin.

(Goodman & Gilman’s., 2006)

26
BAB III
KESIMPULAN

Obat otonom yaitu obat yang bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom, mul
ai dari sel saraf sampai ke efektor. Terdapat 2 jenis obat otonom, yaitu obat kolinergik (agonis
dan antagonis) dan obat adrenergik (agonis dan antagonis).
Obat kolinergik adalah obat yang bekerja sama secara langsung atau tidak langsung
meningkatkan fungsi neurotransmitter asetilkolin. Kolinergik juga di sebut parasimtomimatik
karena menghasilkan efek yang mirip dengan perangsangan sistem saraf parasimpatis.
Sedangkan obat adrenergik disebut juga obat simpatomimetik, obat adrenergik cara kerjanya
merangsang pelepasan adrenalin atau non adrenalin dari ujung sel saraf yang sedang
terangsang.
Sistem saraf pusat merupakan pusat dari seluruh kendali dan regulasi padatubuh, baik
gerakan sadar atau gerakan otonom. Dua organ utama yang menjadi penggerak sistem saraf
pusat adalah otak dan sumsum tulang belakang.
Saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum tulang belakang
(spinal). Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabutsaraf sumsum
tulang belakang keluar dari sela-sela ruas tulang belakang. Tiap pasangserabut saraf otak akan
menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke hidung, mata,telinga, dan sebagainya.
Farmakokinetik mengevaluasi pergerakan obat didalam tubuh selama kurun
waktutertentu. Dimulai dari obat memasuki tubuh maka tubuh akan beraksi terhadap obat
dimulai dari absorbsi, distribusi, metabolism (Biotransformation), dan
eliminasi.Farmakodinamik berkaitan dengan studi biokimia dan efek fisiologis dari
obatobatan dan mekanisme kerjanya.

27
DAFTAR PUSTAKA
 Sloane Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : EGC
 Goodman & Gilman’s.2006. The Pharmacological Basis of Therapeutics. Mcgraw-
Hill

28