Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

GANGGUAN PENDENGARAN PADA GERIATRI

Disusun oleh :
1. Ira Nurul Afina 030.10.135
2. Goentor Priambodo Joeang 030.11.116
3. Topan Goesdar 030.11.288
4. Andi Nita Apriliana 030.12.017

Pembimbing :
dr. Satria Nugraha W, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BEKASI
PERIODE 23 JANUARI – 25 FEBRUARI 2017

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatnya penulis dapat

menyelesaikan laporan kasus dengan judul “GANGGUAN PENDENGARAN PADA

GERIATRI” yang merupakan salah satu syarat untuk menempuh kepaniteraan klinik Ilmu

Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok di RSUD Kota Bekasi periode 23 Januari 2017 - 25

Februari 2017.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

dr. Satria Nugraha W, Sp.THT-KL, sebagai pembimbing yang telah membantu penyelesaian

makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dan semua pihak

yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini.

Mengingat pengetahuan dan pengalaman penulis serta waktu yang tersedia untuk

menyusun laporan kasus ini sangat terbatas, penulis sadar masih banyak kekurangan baik dari

segi isi, susunan bahasa maupun sistematika penulisannya. Oleh karena itu penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.

Akhir kata penulis berharap laporan kasus ini dapat menjadi masukan yang berguna dan

dapat menambah informasi bagi tenaga medis dan profesi lain yang terkait dengan masalah

kesehatan.

Bekasi, Februari 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan pendengaran atau tuli bukan saja merupakan masalah kesehatan perorangan

namun menimbulkan masalah psikologis dan kesehatan komunitas. Gangguan pendengaran

seringkali menimbulkan masalah sosial mengingat erat kaitannya tuli dengan tanda-tanda

penuaan, rasa malu dan berkurangnya kualitas hidup seseorang. Berbeda dengan menurunnya

penglihatan yang dapat diatasi dengan kacamata, yang dengan mudah dapat diterima masyarakat,

masih menjadi stigma di masyarakat sehingga sering menyebabkan tekanan psikologis bagi

penderitanya dan para pengguna alat bantu mendengar.

Prevalensi kasus gangguan pendengaran 1 : 10.000 jiwa pertahun, tidak di pengaruhi

jenis kelamin dan usia. Namun kebanyakan kasus ditemukan pada usia 30-60 tahun. Biasanya

unilateral, hanya 1.7% - 2% yang bilateral. Apabila menyangkut anak-anak, gangguan

pendengaran menyebabkan konsekuensi yang berat. Diluar kehilangan kemampuan berbahasa

dan berkomunikasi secara utuh, anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan psikologi

karena ketidakmampuan berkomunikasi secara emosional dengan lingkungannya. Sementara

bagi orang dewasa, ketulian sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang sehingga sulit

bekerja, berkomunikasi, dan bersosialisasi yang dapat menimbulkan masalah sosial. Karenanya

penting untuk mengenal, mendiagnosis secara dini dan menangani secara tepat penderita

gangguan pendengaran sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TELINGA

2.1.1. Telinga Luar

Telinga luar sendiri terbagi atas daun telinga (pinna), liang telinga dan bagian

lateral dari membran timpani. Daun telinga di bentuk oleh tulang rawan dan otot serta

ditutupi oleh kulit. Ke arah liang telinga lapisan tulang rawan berbentuk corong

menutupi hampir sepertiga lateral, dua pertiga lainnya (liang telinga) dibentuk oleh

tulang yang ditutupi kulit yang melekat erat dan berhubungan dengan membran timpani.

Bentuk daun telinga dengan berbagai tonjolan dan cekungan serta bentuk liang telinga

yang lurus dengan panjang sekitar 2,5 cm, menyebabkan terjadinya resonansi bunyi

sebesar 3500 Hz.4 Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan

terhadap liang telinga, sementara prosesus mastoideus terletak di belakangnya. Tulang

rawan liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan untuk mencari saraf

fasialis, patokan lainnya adalah sutura timpanomastoidea.

Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk

kerucut dengan umbo sebagai puncaknya mengarah ke medial. Membran timpani

umumnya berbentuk bulat. Membran timpani tersusun dari lapisan epidermis di bagian

luar, lapisan fibrosa di bagian tengah sebagai tempat melekatnya tangkai maleus, dan

lapisan mukosa di bagian dalam. Lapisan fibrosa tidak terdapat di atas prosesus lateralis

maleus dan ini menyebabkan bagian membran timpani yang disebut membran

Sharpnell menjadi lemas (pars flaksid).


Gambar 2.1 Anatomi Telinga Manusia

2.1.2 Telinga Tengah

Telinga tengah berbentuk seperti kubah dengan enam sisi. Telinga tengah

terbagi atas tiga bagian dari atas ke bawah, yaitu epitimpanum terletak di atas dari batas

atas membran timpani, mesotimpanum disebut juga kavum timpani terletak medial dari

membran timpani dan hipotimpanum terletak kaudal dari membran timpani. Organ

konduksi di dalam telinga tengah ialah membran timpani, rangkaian tulang

pendengaran, ligamentum penunjang, tingkap lonjong dan tingkap bundar. Kontraksi

otot tensor timpani akan menarik manubrium maleus ke arah anteromedial,


mengakibatkan membran timpani bergerak ke arah dalam, sehingga besar energi suara

yang masuk dibatasi.

Dinding superior dari telinga tengah berbatasan dengan lantai fossa cranii

media. Bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di

bawahnya terdapat saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan

tendonnya menembus melalui suatu piramida tulang menuju leher stapes. Saraf korda

timpani timbul dari saraf kranialis di bawah stapedius dan berjalan ke arah lateral

menuju inkus dan keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani

kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut sekretomotorik

ke ganglion submandibularis dan serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah. Dasar

telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang pada sebelah superolateral menjadi

sinus sigmoidea dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran

vena utama rongga tengkorak.

Fungsi dari telinga tengah akan meneruskan energi akustik yang berasal dari

telinga luar kedalam koklea yang berisi cairan. Sebelum memasuki koklea bunyi akan

diamplifikasi melalui perbedaan ukuran membran timpani dan tingkap lonjong, daya

ungkit tulang pendengaran dan bentuk spesifik dari membran timpani. Meskipun bunyi

yang diteruskan ke dalam koklea mengalami amplifikasi yang cukup besar, namun

efisiensi energi dan kemurnian bunyi tidak mengalami distorsi walaupun intensitas

bunyi yang diterima sampai 130 dB.

Aktifitas dari otot stapedius disebut juga refleks stapedius pada manusia akan

muncul pada intensitas bunyi diatas 80 dB (SPL) dalam bentuk refleks bilateral dengan

sisi homolateral lebih kuat. Refleks otot ini berfungsi melindungi koklea, efektif pada
frekuensi kurang dari 2 khz dengan masa latensi 10 mdet dengan daya redam 5-10 dB.

Dengan demikian dapat dikatakan telinga mempunyai filter terhadap bunyi tertentu,

baik terhadap intensitas maupun frekuensi.

Tuba eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.

Bagian lateral tuba eustachius bersifat pertulangan, sementara dua pertiga bagian medial

bersifat kartilaginosa. Origo otot tensor timpani terletak di sebelah atas bagian bertulang

dan kanalis karotikus terletak di bagian bawahnya. Tuba eustachius dapat dibuka

melalui kontraksi otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing – masing

dipersarafi pleksus faringealis dan saraf mandibularis. Tuba eustachius berfungsi untuk

menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.

Gambar 2.2 Membran Timpani


2.1.3. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari organ keseimbangan dan organ pendengaran. Telinga

dalam terletak di pars petrosus os temporalis dan disebut labirin, karena bentuknya

kompleks. Telinga dalam pada waktu lahir bentuknya sudah sempurna dan hanya

mengalami pembesaran seiring dengan pertumbuhan tulang temporal. Telinga dalam

terdiri dari dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin membran. Labirin tulang

merupakan susunan ruangan yang terdapat dalam pars petrosa os temporalis (ruang

perilimfatik) dan merupakan salah satu tulang terkeras. Labirin tulang terdiri dari

vestibulum, kanalis semisirkularis dan kohlea. Labirin membran diisi oleh endolimfe,

satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium.

Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe yang tinggi natrium dan rendah

kalium yang terdapat di kapsula otika bertulang.

Vestibulum merupakan bagian yang membesar dari labirin tulang dengan

ukuran panjang 5 mm, tinggi 5 mm dan dalam 3 mm. Bagian vestibulum telinga dalam

dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus

mengandung makula yang diliputi oleh sel rambut. Sel rambut ini ditutupi oleh lapisan

gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolith yang

mengandung kalsium, dengan berat jenis lebih besar daripada endolimfe. Karena

pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolith akan membengkokkan silia sel rambut dan

menimbulkan rangsangan pada reseptor. Dinding medial menghadap ke meatus

akustikus internus dan ditembus oleh saraf. Pada dinding medial terdapat dua cekungan

yaitu spherical recess untuk sakulus dan eliptical recess untuk utrikulus. Di bawah
eliptical recess terdapat lubang kecil akuaduktus vestibularis yang menyalurkan duktus

endolimfatikus ke fossa kranii posterior diluar duramater.

Di belakang spherical recess terdapat alur yang disebut vestibular crest. Pada

ujung bawah alur ini terpisah untuk mencakup recessus cochlearis yang membawa

serabut saraf koklea ke basis koklea. Serabut saraf untuk utrikulus, kanalis

semisirkularis superior dan lateral menembus dinding tulang pada daerah yang

berhubungan dengan N. Vestibularis pada fundus meatus akustikus internus. Di dinding

posterior vestibulum mengandung 5 lubang ke kanalis semisirkularis dan dinding

anterior ada lubang berbentuk elips ke skala vestibuli koklea.

Ada tiga buah semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis superior, posterior dan

lateral yang terletak di atas dan di belakang vestibulum. Bentuknya seperti dua pertiga

lingkaran dengan panjang yang tidak sama tetapi dengan diameter yang hampir sama

sekitar 0,8mm. Pada salah satu ujungnya masing – masing kanalis ini melebar disebut

ampula yang berisi epitel sensoris vestibular dan terbuka ke vestibulum.

Ampula kanalis superior dan lateral letaknya bersebelahan pada masing –

masing ujung anterolateralnya, sedangkan ampula kanalis posterior terletak dibawah

dekat lantai vestibulum. Ujung kanalis superior dan inferior yang tidak mempunyai

ampula bertemu dan bersatu membentuk crus communis yang masuk vestibulum pada

dinding posterior bagian tengah. Ujung kanalis lateralis yang tidak memiliki ampula

masuk vestibulum sedikit dibawah crus communis. Kanalis lateralis kedua telinga

terletak pada bidang yang hampir sama yaitu bidang miring ke bawah dan belakang

dengan sudut 30o terhadap bidang horizontal bila orang berdiri. Kanalis lainnya letaknya

tegak lurus terhadap kanal ini, sehingga kanalis superior sisi telinga kiri letaknya hampir
sejajar dengan posterior telinga kanan demikian pula dengan kanalis posterior telinga

kiri sejajar dengan kanalis superior telinga kanan.

Koklea membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang

sekitar 35mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani. Koklea

melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu –setengah putaran. Skala timpani

dan skala vestibuli berisi cairan perilimfe dengan konsentrasi K + 4 mEq/l dan Na+ 139

mEq/l. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah

ujung buntu yang dikenal dengan helikotrema. Skala media berada dibagian tengah,

dibatasi oleh membran reissner, membran basilaris, lamina spiralis dan dinding lateral,

berisi cairan endolimfe dengan konsentrasi K+ 144 mEq/l dan Na+ 13 mEq/l. Membran

basilaris sempit pada basis (nada tinggi) dan melebar pada apeks (nada rendah).

Gambar 2.3 Anatomy of Labyrinth


Organ corti terletak di membran basilaris yang lebarnya 0,12mm di bagian

basal dan melebar sampai 0,5 mm di bagian apeks, berbentuk seperti spiral. Beberapa

komponen penting pada organ corti adalah sel rambut dalam, sel rambut luar, sel

penunjang Deiters, Hensens, Claudius, membran tektoria dan lamina retikularis. Sel

rambut tersusun dalam 4 baris, yang terdiri dari 3 baris sel rambut luar yang terletak

lateral terhadap terowongan yang terbentuk oleh pilar – pilar Corti, dan sebaris sel

rambut dalam yang terletak di medial terhadap terowongan. Sel rambut dalam yang

berjumlah sekitar 3.500 (satu baris sel rambut dalam) dan sel rambut luar dengan jumlah

12.000 (tiga baris sel rambut luar) berperan dalam merubah hantaran bunyi dalam

bentuk energi mekanik menjadi energi listrik.

Gambar 2.4 Potongan sagittal koklea


2.1.4 Vaskularisasi Telinga Dalam

Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirin, cabang A. Cerebelaris

anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A. Vertebralis. Arteri ini masuk ke

meatus akustikus internus dan terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis

communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A. Vestibulokohlearis. A.

Vestibularis anterior memperdarahi N. Vestibularis, urtikulus dan sebagian duktus

semisirkularis. A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal kohlea

terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang koklear. Cabang vestibular

memperdarahi sakulus, sebagian besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea.

Cabang koklear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea, limbus dan

ligamen spiralis. A. Koklearis berjalan mengitari N. Akustikus di kanalis akustikus

internus dan didalam koklea mengitari modiolus. Vena dialirkan ke V. Labirin yang

diteruskan ke sinus petrosus inferior atau sinus sigmoideus. Vena – vena kecil melewati

akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke sinus petrosus superior dan inferior.

Gambar 2.5 Vaskularisasi telinga dalam


2.1.5 Persarafan Telinga Dalam

N. Vestibulokoklearis (N. Akustikus) yang dibentuk oleh bagian koklear dan

vestibular, didalam meatus akustikus internus bersatu pada sisi lateral akar N. Fasialis

dan masuk batang otak antara pons dan medula. Sel –sel sensoris vestibularis dipersarafi

oleh N. Kohlearis dengan ganglion vestibularis (scarpa) terletak didasar dari meatus

akustikus internus. Sel – sel sensoris pendengaran dipersarafi N. Kohlearis dengan

ganglion spiralis corti terletak di modiolus.

Gambar 2.6 Persarafan telinga dalam

2.2 FISIOLOGI TELINGA

2.2.1 Fisiologi Pendengaran

Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah

membran tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting

tersebut sangat berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut sangat

kaku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya,

sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku secara
bersamaan. Pada bagian puncak stereosilia terdapat rantai pengikat yang

menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan stereosilia yang lebih rendah, sehingga

pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan – gabungan

yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan

stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan mengakibatkan terbukanya kanal ion pada

membran sel, maka terjadilah depolarisasi. Gerakan yang berlawanan arah akan

mengakibatkan regangan pada rantai tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup.

Terdapat perbedaan potensial antara intra sel, perilimfe dan endolimfe yang

menunjang terjadinya proses tersebut. Potensial listrik koklea disebut koklea

mikrofonik, berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai

pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel

rambut luar. Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan

amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang

diterima. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi

tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea, sedangkan

stimulus berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih ke

arah apeks. Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat

mencapai bagian apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui

bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat

meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan

gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai

cochlear amplifier.
Skema proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh

telinga luar, lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah

melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut

melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran

timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan

ke telinga dalam dan diproyeksikan pada membran basilaris, sehingga akan

menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini

merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel – sel

rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari

badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga

melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi

pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks

pendengaran.

Gambar 2.7 Fisiologi Pendengaran


2.2.2 Fisiologi Sistem Vestibularis

Pengaturan keseimbangan di dalam telinga dalam diatur oleh aparatus

vestibularis yang memberikan informasi penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk

koordinasi gerakan – gerakan mata dan posisi tubuh. Aparatus vestibularis terletak di

dalam tulang temporalis di dekat koklea – kanalis semisirkularis dan organ otolith yaitu

sakulus dan utrikulus. Kanalis semisirkularis terdiri dari tiga saluran semisirkuler yang

tersusun dari tiga dimensi bidang yang tegak lurus satu sama lain di dekat koklea jauh di

dalam tulang temporalis. Ini berfungsi sebagai mendeteksi akselerasi, deselerasi

rotasional atau angular. Utrikulus mempunyai struktur seperti kantung di rongga

bertulang antara koklea dan kanalis semi sirkularis. Ini mempunyai fungsi sebagai

mendeteksi perubahan kepala menjauhi sumbu vertikal dan mengerahkan akselerasi dan

deselerasi linear secara horizontal. Sakulus terletak di samping utrikulus. Ini

mempunyai fungsi mendeteksi perubahan posisi kepala menjauhi sumbu horizontal dan

mengarahkan akselerasi dan deselerasi linear secara vertikal.

2.3 HISTOLOGI TELINGA DALAM

Telinga dalam tersusun dari dua labirin. Labirin tulang terdiri dari serial

ruangan dalam bagian petrosa dari tulang temporal yang melingkupi labirin

membranosa. Labirin membranosa adalah kavitas dari ektoderm yang dilapisi epitel

secara kontinu. Labirin membranosa berasal dari vesikel auditori yang berkembang di

bagian lateral kepala embrio. Selama perkembangan embrionik, vesikel ini mengalami

invaginasi ke jaringan ikat sekitar, kehilangan kontak dengan Ectoderm sefalik dan

masuk ke dalam rudimenter yang akan berkembang menjadi tulang temporal. Selama
proses ini terjadi perkembangan kompleks hingga terbentuk utrikulus dan sakulus.

Duktus semisurkularis berasal dari utrikulus dan duktus koklearis berasal dari sakulus.

Pada setiap area ini, lapisan epitel menjadi terspesialisasi untuk membentuk struktur

sensoris seperti makula utrikulus dan sakulus, krista dari duktus semisirkularis, dan

organ korti dari duktus koklearis.

Labirin tulang memiliki kavitas ireguler dan vestibulum meliputi sakulus dan

utrikulus. Di belakang struktur tersebut terdapat tiga kanalis semisirkularis yang terdiri

dari duktus – duktus semisirkularis. Koklea yang berada pada posisi anterolateral terdiri

dari duktus koklearis. Koklea memiliki panjang total 35 mm dan membentuk dua

setengah putaran inti tulang yang disebut modiolus. Modiolus memiliki ruangan berisi

pembuluh darah dan badan sel serta prosesus cabang akustik dari nervus kranial ke – 8

(ganglion spiralis). Lamina spiralis oseosa berada lateral dari modiolus. Struktur ini

membentang melewati koklea lebih jauh pada region basal. Labirin tulang berisi

perilimf dengan komposisi ion serupa dengan cairan ekstraselular namun dengan protein

yang sangat rendah. Labirin membranosa berisi endolimfe dengan karakteristik kadar

sodium dan protein yang rendah serta potasium yang tinggi. Duktus koklearis, suatu

divertikulum dari sakulus sangat terspesialisasi sebagai reseptor suara dan dikelilingi

oleh ruang perilimfatik. Panjang dari duktus koklearis kurang lebih 35 mm. Koklea

(labirin tulang) dibagi menjadi 3 ruangan yaitu skala vestibuli di bagian atas, skala

media (duktus koklearis) di bagian tengah, dan skala timpani. Duktus koklearis yang

berisi endolimfe berakhir pada apeks koklea. Skala vestibuli dan timpani mengandung

perilimfe dan merupakan suatu tuba yang panjang yang dimulai dari jendela oval dan
berakhir pada tingkap bundar. Terdapat komunikasi antara kedua skala pada apeks

koklea melalui helikotrema.

Duktus koklearis terdiri dari membran vestibuli (Reissner’s) yang disusun dari

dua lapis epitel skuamosa (salah satunya berasal dari skala media dan lainnya dari skala

vestibuli). Sel – sel dari kedua lapisan ini dihubungkan oleh tight junction yang

membantu mempertahankan gradien ionik yang sangat tinggi melewati membran ini.

Stria vaskularis adalah epitel bervaskularisasi terletak di dinding lateral duktus

koklearis. Stria mengandung sel – sel yang memiliki banyak lipatan ke dalam pada

membran plasma basal yang megandung banyak mitokondria. Karakteristik ini

menandakan bahwa sel – sel bertindak sebagai transport ion dan air. Sel – sel ini

diyakini berperan dalam komposisi ionik dari endolimfe. Struktur dari telinga dalam

memngandung reseptor auditori khusus yang dinamakan organ korti. Organ korti

mengandung sel – sel rambut yang memberi respon terhadap frekuensi suara yang

berbeda. Sel – sel rambut terletak pada lapisan tebal yang disebut membran basilar. Sel

rambut dibagi menjadi dua tipe yaitu sel rambut luar dan sel rambut dalam dan terdapat

juga sel penyokong. Karakteristik dari sel rambut ialah adanya stereosilia berbentuk W

pada sel rambut luar dan berbentuk linear pada sel rambut dalam. Tidak adanya

kinosilium memberikan kesimetrisan pada sel rambut yang penting untuk proses

transduksi sensoris. Ujung dari stereosilia tertinggi pada sel rambut luar terkumpul

dalam membran tektorial. Sel – sel pilar yang merupakan sel penyokong mengandung

banyak mikrotubulus yang menyebabkan kekakuan dari sel penyokong. Sel – sel pilar

mengisi ruang antara sel rambut luar dan dalam (terowongan dalam). Struktur ini

penting untuk transduksi suara. Sel rambut luar maupun dalam memiliki ujung saraf
aferen dan eferen. Meskipun sel rambut dalam memiliki inervasi aferen yang lebih

banyak, fungsi dari hal ini tidak diketahui. Badan sel dari neuron aferen bipolar terletak

pada inti tulang dalam mediolus dan membentuk ganglion spiralis.

Gambar 2.8 Histologi Telinga Dalam

2.4 Definisi

Presbikusis adalah hilangnya pendengaran terhadap nada murni berfrekuensi

tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang berhubungan dengan lanjutnya usia.

Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut akibat prose degenerasi organ

pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara progresif

lambat, dapat dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang

mendasari selain proses menua secara umum. Presbikusis adalah tuli sensorineural yang

biasanya simetris dan pada pasien yang berusia diatas 60 tahun. Orang-orang diatas 60

tahun normal mengalami penurunan pendengaran. Presbikusis dapat mulai pada


frekuansi 100 Hz atau lebih dan meningkat secara perlahan-lahan sampai dengan

frekuensi diatas 2000 Hz.

Seperti organ-organ yang lain, telinga pun mengalami kemunduran pada usia

lanjut. Kemunduran ini dirasakan sebagai kurangnya pendengaran, dari derajat yang

ringan sampai dengan yang berat. Bila kekurangan pendengaran ini berat, akan

menimbulkan banyak masalah bagi penderita dengan orang-orang sekitarnya. Misalnya

salah faham dalam komunikasi. Penderita sering membantah karena mengira orang lain

marah-marah kepadanya, tak perduli kepadanya, atau malah mentertawakannya,

mengejeknya atau lain-lain lagi. Dalam perjalanan mencapai usia lanjut, alat

pendengaran dapat mengalami berbagai gangguan. Gangguan ini dibagi dalam dua

bagian besar; yaitu gangguan di bagian konduksi yang biasanya dapat diobati dengan

hasil memuaskan, dan pada bagian persepsi yang biasanya sulit diobati.

Berkurangnya fungsi sistem pendengaran kita pada usia senja, adalah sebagian

dari proses penuaan yang juga terjadi pada sistem-sistem lain di tubuh kita. Proses

berkurangnya fungsi oleh karena penuaan ini disebut juga proses degenerasi. Proses

degenerasi yang terjadi pada sistem pendengaran kita sehingga mengakibatkan

fungsinya berkurang sampai hilang disebut presbikusis. Mulainya proses degenerasi

tidak sama untuk setiap orang, tapi tergantung pada faktor keturunan dan lingkungan

tempat tinggalnya. Sedangkan kelainan yang terjadi tidak hanya pada koklea, tapi juga

telinga tengah, saraf pendengaran, di nukleus koklea dan di pusat pendengaran di

susunan saraf pusat.


2.5 FAKTOR PENYEBAB

Terjadi akibat proses degenerasi yang berhubungan dengan faktor-faktor

herediter, kebisingan lingkungan hidup dan kerja, penyakit sistemik, hipertensi, diabetes

mellitus, anemia, arteriosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor.

Biasanya terjadi pada usia diatas 60 tahun.

1. Internal

Degenerasi primer aferen dan eferen dari koklea, degenerasi primer organ corti

penurunan vascularisasi dari reseptor neuro sensorik mungkin juga mengalami

gangguan. Sehingga baik jalur auditorik dan lobus temporalis otak sering terganggu

akibat lanjutnya usia.

2. Eksternal

Terpapar bising ynag berlebihan, penggunaan obat ototoksik dan reaksi pasca

radang.

Schucknecht menerangkan penyebab kurang pendengaran pada presbikusis antara lain :

a Degenerasi primer aferen dan eferen dari koklea, degenerasi ini dimulai dengan

terjadinya atrofi dibagian epitel dan saraf pada organ corti. Lambat laun secara

progresif terjadi degenerasi sel ganglion spiral pada daerah basal hingga kedaerah

apeks yang pada akhirnya terjadi degenerasi sel-sel pada jaras saraf pusat dengan

manifestasi gangguan pemahaman bicara karena penurunan vascularisasi dari

reseptor neuro sensorik yang mengalami gangguan. Sehingga baik jalur auditorik

dan lobus temporalis otak sering terganggu akibat lanjutnya usia.

b Penelitian tentang penyebab presbiakusis sebagian besar menitik beratkan pada

abnormalitas genetik yang mendasarinya (Dilaporkan bahwa salah satu strain


yang berperan terhadap terjadinya prebikusis , yaitu C57BL/6J sebagai penyandi

saraf ganglion spiral dan sel stria vaskularis pada koklea), dan salah satu

penemuan yang paling terkenal sebagai penyebab potensial presbikusis adalah

mutasi genetik pada DNA mitokondrial.

Penyebab gangguan pendengaran pada presbikusis umumnya merupakan kombinasi dari

beberapa hal sebagai berikut :

 Degenerasi elastisitas gendang telinga

 Degenerasi sel rambut di koklea.

 Degenerasi fleksibilitas dari membran basilar

 Berkurangnya neuron pada jalur pendengaran

 Perubahan pada sistem pusat pendengaran dan batang otak

 Degenerasi jangka pendek dan auditory memory

 Menurunnya kecepatan proses pada pusat pendengaran di otak (central auditory

cortex )

 degenerasi otot-otot pada telinga tengah dan arthritis tulang-tulang di telinga

tengah.

Cepat lambatnya proses degenerasi ini dipengaruhi juga oleh tempat dimana

seseorang tinggal selama hidupnya. Orang kota lebih cepat datangnya presbikusis ini

dibandingkan dengan orang desa. Lalu ada korelasi antara banyaknya makan

makanan yang mengandung lemak dengan presbikusis. Seseorang yang banyak

memakan makanan yang banyak mengandung lemak lebih besar kemungkinan untuk

lebih cepat menderita presbikusis.


Diduga kejadian presbikusis usia mempunyai hubungan dengan faktor-faktor

herediter, metabolisme, arterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat

multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran secara berangsur merupakan efek

kumulatif dari pengaruh faktor-faktor diatas.

Faktor resiko yang dapat memperberat penurunan pendengaran pada presbikusis

antara lain :

a) Usia dan jenis kelamin


b) Hipertensi
c) Diabetes Melitus
d) Merokok
e) Hiperkolesterol
f) Riwayat Bising

2.6 PATOFISIOLOGI

Terjadi perubahan struktur koklea dari nervus akustik, berupa atrofi dan

degenrasi sel-sel rambut penunjang pada organ corti, disertai perubahan vaskular pada

stria vaskularis. Jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf juga bekurang. Dengan

makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ corti berupa hilangnya sel epitel

saraf yang dimulai pada usia pertengahan. juga dilaporkan bahwa keadaan yang sama

terjadi pula pada serabut aferen dan eferen sel sensorik dari koklea. Terjadi pula

perubahan pada sel ganglion siralis di basal koklea. Di samping itu juga terdapat

penurunan elastisitas membran basalais di koklea dan membrana timpani. Di samping

berbagai penurunan yang terjadi pada organ pendengaran, pasokan darah dari reseptor

neurosensorik mungkin mengalami gangguan, sehingga baik jalur auditorik dan lobus

temporalis otak sering terganggu akibat lanjutnya usia. Dari penjelasan diatas terlihat
bahwa gangguan pendengaran pada usia lanjut dapat disebabkan oleh berbagai sebab, di

samping kenyataan bahwa jenis kelainan pendengran itu sendiri yang bisa berbagai

jenis. Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur koklea dan N.VIII. Pada

koklea perubahan yang mencolok ialah atrofi dan degenerasi sel-sel rambut penunjang

pada organ corti. Proses atrofi disertai dengan perubahan vaskular juga terjadi pada

strain vaskularis. Selain itu terdapat pula perubahan berupa berkurangnya jumlah dan

ukuran sel-sel ganglion dan saraf. Hal yang sama terjadi juga pada myelin akson saraf.

Perubahan histologis berkaitan dengan bertambahnya usia terjadi sepanjang sistem

pendengaran dari rambut sel koklea ke korteks auditori di korteks pendengaran pada

lobus temporal di otak. Perubahan histologis ini kira-kira berhubungan dengan gejala

dari pendengaran.1

2.6. KALSIFIKASI

Berdasarkan perubahan histopatologi yang terjadi, Gacek dan Schuknecht

membagi presbikusis menjadi 4 jenis, yaitu: 1,2


a. Presbikusis tipe sensorik
Lesi pada tipe sensorik terbatas pada kokhlea, terdapat atrofi organ korti dan

jumlah sel-sel rambut berkurang. Pada gambaran histologi, terdapat atrofi yang terbatas

hanya beberapa milimeter pada membrana basalis dan terdapat akumulasi pigmen

lipofuscin yang merupakan pigmen penuaan. Proses ini berjalan perlahan tapi progresif

dari waktu ke waktu.1,2

Beberapa teori mengatakan perubahan pada tipe sensori terjadi akibat akumulasi

dari granul pigmen lipofusin. Ciri khas dari tipe sensory presbyacusis ini adalah terjadi

penurunan pendengaran secara tiba-tiba pada frekuensi tinggi (slooping). Gambaran


konfigurasi menurut Schuknecght, jenis sensori adalah tipe noise inducec hearing loss

(NIHL). Banyak terdapat pada laki-laki dengan riwayat bising.3

b. Presbikusis tipe neural


Presbikusis tipe neural ditandai dengan berkurangnya sel-sel neuron dan jaras

auditorik pada kokhlea. Menurut Schuknecht, 2100 neuron hilang setiap dekade (dari

total 35.000). Hal ini dimulai sejal awal kehidupan dan mungkin peran genetik yang

berpengaruh. Pengaruh tidak terlihat sampai usia tua karena rata-rata nada murni tidak

terpengaruh sampai 90% dari neuron hilang. Atrofi terjadi sepanjang koklea, dengan

hanya sedikit wilayah basilar yang terpengaruhi dari seluruh membrana basilaris di

koklea. Oleh karena itu, tidak terdapat penurunan terjal di batas frekuensi tinggi seperti

presbikusis tipe sensorik dan hanya terdapat penurunan sedang di frekuensi tinggi. Pada

presbikusis neural, terjadi pula kehilangan neuron secara umum yang berupa perubahan

SSP yang difus dan berhubungan dengan defisit lain seperti kelemahan, penurunan

perhatian dan penurunan konsentrasi.1,2


c. Presbikusis tipe metabolik (strial presbycusis)
Presbikusis tipe metabolik merupakan tipe presbikusis yang paling sering

dijumpai. Kerusakan yang terjadi pada tipe ini berupa atrofi stria vaskularis, potensial

mikrofonik menurun, fungsi sel dan keseimbangan biokimia/bioelektrik kokhlea

berkurang. Secara histologis pada kokhlea, terlihat stria vaskularis yang tipis tersebar

sepanjang kelokan kokhlea yang dengan mikroskop stria tampak berupa lapisan seluler

selapis. Juga tampak adanya degenerasi kistik dari elemen stria dan atrofi ligamen

spiralis. Seperti diketahui stria vaskularis adalah tempat produksi endolimfa dan

berfungsi dalam sistem enzim yang diperlukan untuk mempertahankan potasium,

sodium dan metabolisme oksidatif. Daerah ini juga sebagai tempat pembangkitan dari

endokokhlear potensial sebesar 80 miliVolt antara duktus kokhlea dan ruang perilimfe
yang diperlukan untuk transduksi signal di dalam kokhlea. Atrofi stria vaskularis

mengakibatkan hilangnya pendengaran diwakili oleh kurva mendengar datar karena

seluruh koklea terpengaruh. Proses ini cenderung terjadi pada orang berusia 30-60

tahun dan berjalan secara perlahan.1,2


d. Presbikusis tipe mekanik (cochlear presbycusis)
Pada presbikusis tipe mekanik terjadi perubahan gerakan mekanik duktus

kokhlearis, atrofi ligamentum kokhlearis, dan membran basilaris menjadi lebih kaku.

Secara histologis tampak hialinisasi dan kalsifikasi membrana basalis, degenerasi kistik

elemen stria, atrofi ligamen spiralis, pengurangan selularitas ligamen secara progesif

serta kadang-kadang ligamen ruptur.1,2

2.7 MANIFESTASI KLINIS

Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran secara perlahan-

lahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Kapan berkurangnya pendengaran tidak

diketahui dengan pasti. Pertama-tama terjadi sedikit demi sedikit kekurangan

pendengaran pada frekuensi tinggi, dan kemudian diikuti oleh tidak bisa mendengar

dengan jelas akibat sukarnya menangkap huruf konsonan yang bersuara mendesis (S,

SH, Z, C dan T). Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus nada tinggi). Pasien

dapat mendengar suara percakapan, tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila

diucapkan dengan cepat di tempat dengan latar belakang yang ramai (cocktail party

deafness). Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga, hal ini

disebabkan oleh faktor kelelahan saraf (recruitment). Pada kasus presbikusis yang berat

komunikasi dengan penderita lebih sukar. Umumnya penderita presbikusis ini lebih suka

bila kita berbicara lambat-lambat, jelas, kata-kata yang pendek dan bicara agak ke dekat

kuping, daripada suara yang keras.


Pasien dapat mendengar suara percakapan tapi sulilt memahaminya,

terutama bila cepat dan latarnya riuh. Bila intensitas ditinggikan akan timbul rasa

nyeri. Dapat disertai tinnitus dan invertigo. Pendengaran berkurang secara perlahan-

lahan, progresif, dan simetris pada kedua telinga.

Pada pemeriksaan otoskop tampak membran timpani suram dan

mobilitasnya berkurang. Perubahan-perubahan dalam struktur dan fungsi pada telinga

bagian dalam membuat sulit untuk memahami tipe bunyi bicara tertentu dan

menyebabkan intoleran terhdap bunyi keras. Bunyi-bunyi yang biasanya hilang pertama

kali adalah: f, s, th, ch dan sh. Saat penurunan pendengaran berlanjut, kemampuan untuk

mendengar bunyi b, t, p, k dan t juga rusak.1

Beberapa dari tanda dan gejala yang paling umum dari penurunan pendengaran :1

1. Kesulitan mengerti pembicaraan

2. Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan nada tinggi.

3. Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau atau

bergumam

4. Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama dengan latar

belakang yang bising

5. Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan

6. Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t, f dan g

7. Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u umumnya relatif

diterima dengan lengkap.

2.8. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS GANGGUAN PENDENGARAN


Diagnosis ditentukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

audiometri. Pada anamnesis akan didapatkan riwayat ketulian bilateral progresif

utamanya pada nada tinggi dan faktor predisposisi timbulnya presbikusis. Pada

pemeriksaan klinis berupa otoskopi akan didapatkan gambaran membran timpani yang

suram atau normal, mobilitasnya yang berkurang.


Pada tes garputala merupakan tes kualitatif. Garputala 512 Hz tidak terlalu

dipengaruhi suara bising disekitarnya.


Tabel 1. Pemeriksaan garputala
No. Pemeriksaaan Tuli Sensorineural
1 Rinne Positif
False positif atau negatif
2 Weber Lateralisasi ke telinga sehat
3 Swabach Memendek

Pemeriksaan audiometri merupakan pemeriksaan pokok pada kasus presbikusis.

Audiometri yang digunakan adalah audiometri nada murni dan audiometri tutur.
Tabel 2. Audiogram pada presbikusis
4

No. Tipe Audiometri nada murni Audiometri tutur


1 Sensori Penurunan ambang dengar yang Bergantung pada

curam pada frekuensi tinggi frekuensi yang

(sharply slooping) terkena


2 Neural Penurunan pendengaran sedang Gangguan

pada semua frekuensi (gently diskriminasi tutur

slooping) berat
3 Metabolik Penurunan pendengaran dengan Gangguan

(strial) gambaran flat dan berjalan diskriminasi tutur

progresif pelan ringan


4 Mekanik Penurunan pendengaran dengan Bergantung pada

kurva menurun pada frekuensi kecuraman

tinggi secara lurus berjalan penurunan


progresif pelan

2.9. KALSIFIKASI DERAJAT GANGGUAN PENDENGERAN


Berdasarkan ISO derajat tuli terbagi atas: 1
 0-25 dB : normal
 26-40 dB : tuli ringan
 41-55 dB : tuli sedang
 56-70 dB : tuli sedang berat
 71-90 dB : tuli berat
 >90 dB : tuli sangat berat (profound)

Menurut American Standard Association, derajat tuli terbagi atas:


 16-29 dB HL : tuli sangat ringan
 30-44 dB HL : tuli ringan, tidak dapat mendengar bisikan
 45-59 dB HL : tuli sedang, tidak dapat mendengar percakapan
 60-79 dB HL : tuli berat, tidak dapat mendengar teriakan
 >80 dB HL : tuli sangat berat, tidak dapat mendengar
suara yang menyakitkan bagi pendengaran manusia yang normal. (5)

Tabel 3. Klasifikasi derajat gangguan pendengaran menurut International Standard


Organization (ISO) dan American Standard Association (ASA)

2.10. PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan pada penderita presbikusis berupa rehabilitasi medik

dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid) dan dibantu dengan konseling. Alat

bantu dengar ini berfungsi sebagai alat yang membantu penggunaan sisa pendengaran

untuk kepentingan komunikasi dengan lingkungan. Seseorang dinyatakan perlu untuk

menggunakan alat bantu dengar apabila kehilangan pendengaran lebih dari 40 dB.
Alat bantu dengar memiliki beberapa jenis, diantaranya:

Jenis alat bantu


Keuntungan Kerugian
pendengaran
Harga murah Bentuk besar

Baterai tahan lama dan mudah Ada kabel


didapat
Bunyi gesekan dengan kain
Body Worn Type
Feedback tidak ada
Selit menangkap suara dari belakang
Amplifikasi lebih kuat
Dapat rusak oleh sekret telinga pasien
Pengaturan manual mudah
Amplifikasi kuat Membutuhkan ear mould

Feedback minimal Memberikan efek oklusi


Behind-the-ear
type
Pengaturan manual relatif Dapat rusak oleh sekresi telinga
pasien

Sulit terlihat Amplifikasi terbatas


In-the-ear type Membutuhkan ear mould
Sulit terlihat Rentan terhadap feedback
Pengaturan manual sulit
Amplifikasi cukup baik karena
In-the-canal type
terpasang dalam

Tidak terlihat kecuali melihat Pengaturan manual sulit


langsung ke liang telinga pemakai
Completely-in-
Rentan feedback
canal
Fitur tertentu tidak dapat digunakan
Secara kosmetik lebih dapat Letak receiver menjadi relatif tidak
Spectacle aid diterima stabil
Baterai relatif lebih tahan Harga mahal
Ketersediaan masih terbatas karena
Amplifikasi kuat merupakan teknologi baru

Feedback minimal

Pengaturan mudah
Open-fit mini
BTE Sulit terlihat

Tidak perlu ear mould

Tidak menimbulkan efek oklusi

Memungkinkan keluarnya sekret


telinga pasien

Berkat kemajuan teknologi, baru-baru ini diperkenalkan teknik pemasangan implant

cochlea. Teknik ini menggunakan tindakan operatif dengan cara menempatkannya di

telinga dalam. Implant cochlea secara elektrik akan menstimulasi membran tissue dari

neural dan saraf kranial VIII.2,6

2.11. PENCEGAHAN

Dengan meningkatnya permasalahan gangguan pendengaran dan ketulian di

Indonesia, maka perlu adanya antisipasi dengan melakukan upaya promotif, preventif.

Kementerian Kesehatan telah menyusun Rencana Strategi Nasional Penanggulangan

Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) yaitu pola hidup bersih & sehat. Salah

satu strategi dalam Renstranas PGPKT adalah penguatan advokasi, komunikasi dan

sosialisasi dengan semua sektor untuk upaya penanggulangan gangguan pendengaran

dan ketulian. Upaya sosialisasi ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan

kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan telinga dan pendengaran

Untuk itu diperlukan kerjasama dan kesamaan visi dari berbagai pihak yaitu dokter,
perawat, tenaga kesehatan (asisten audiologi, audiometris), terapis wicara, pendidik,

teknisi, serta masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan seperti :


1. Pola hidup bersih dan sehat.
2. Menghindari pendengaran dari kebisingan/ memakai APD seperti : ear

plug

3. Pemeriksaan/ deteksi dini adanya gangguan pendengaran

2.12. PROGNOSIS

Prognosis umumnya buruk, kemungkinan pendengaran kembali seperti semula

sangat kecil.
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1. IDENTITAS

Nama : Tn. MM

Umur : 63 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda

Pekerjaan : Sopir perusahaan

Alamat : Jl. P Singkap RT 4 RW 17, Aren Jaya, Bekasi Timur

3.2. ANAMNESIS

A. Keluhan Utama : Kurang mendengar pada kedua telinga sejak  1 bulan SMRS

B. Keluhan Tambahan : -

C. Riwayat Penyakit Sekarang :

Os datang ke poli THT dengan keluhan kurang mendengar pada kedua telinga

sejak  1 bulan SMRS. Penurunan pendengaran dirasakan timbul secara perlahan dan

semakin lama semakin memberat. Os menyangkal adanya keluhan lain seperti gatal,

keluar cairan, nyeri pada telinga, berdengung pada telinga, pusing berputar, demam,

batuk, pilek dan sakit tenggorok, riwayat trauma kepala, riwayat telinga tertampar,

riwayat sering terpajan bising, pemakaian obat yang rutin diminum, . Pasien belum

pernah berobat sebelumnya dan baru pertama kali ke poli THT.


D. Riwayat Penyakit Dahulu :

Os mengaku memiliki penyakit kencing manis (tidak minum obat rutin) dan

menyangkal adanya riwayat tekanan darah tinggi, keganasan, alergi maupun asma.

E. Riwayat Keluarga :

Terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit kencing manis.

Tidak ada anggota keluarga yang memilki penyaki sama seperti pasien, riwayat

tekanan darah tinggi, keganasan, alergi maupun asma

3.3. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS GENERALIS

Keadaan Umum : baik

Kesadaran : kompos mentis

Kepala : normosefali

Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Leher : KGB tidak teraba membesar

Thorax : dalam batas normal

Abdomen : dalam batas normal

Ekstremitas : dalam batas normal


B. STATUS THT

1. Pemeriksaan Telinga

KANAN TELINGA LUAR KIRI


Normotia Bentuk telinga luar Normotia
Normal, nyeri tarik (-) Daun telinga Normal, nyeri tarik (-)
Normal, nyeri tekan (-), Retroaurikular Normal, nyeri tekan (-),

tidak ada benjolan tidak ada benjolan


(-) Nyeri tekan tragus (-)
Kesan : Tidak ditemukan kelainan

KANAN LIANG TELINGA KIRI


Lapang Lapang / Sempit Lapang
Merah muda Warna Merah muda
(-) Sekret (-)
Tidak ada Serumen Tidak ada
Kesan : Tidak ditemukan kelainan

KANAN MEMBRAN KIRI

TIMPANI
Intak Bentuk Intak
Normal Warna Normal
Pukul 5 Reflek Cahaya Pukul 7
(-) Perforasi (-)
Kesan : Tidak ditemukan kelainan

2. Pemeriksaan Hidung

Kanan Hidung Kiri


Normal Bentuk Hidung Luar Normal
Tidak ditemukan Deformitas Tidak ditemukan
Nyeri Tekan pada :

Tidak ada Dahi Tidak ada


Pipi
Tidak ada Tidak ada
Tidak ditemukan Krepitasi Tidak ditemukan
Kesan : Tidak ditemukan kelainan

a. Rinoskopi Anterior

Kanan Rinoskopi Anterior Kiri


Tenang Vestibulum Nasi Tenang
Merah muda, oedem (-) Epidermis Merah muda, oedem (-)
Lapang, hiperemis (-) Cavum Nasi Lapang, hiperemis (-)
Merah muda Mukosa Merah muda
Eutrofi, hiperemis (-) Konka Media Eutrofi, hiperemis (-)
Eutrofi, hiperemis (-) Konka Inferior Eutrofi, hiperemis (-)
Tidak ada Deviasi Septum Tidak ada
Tidak ada Sekret Tidak ada
Tidak ada Massa Tidak ada
Tidak ditemukan Kelainan Lain Tidak ditemukan
Kesan : Tidak ditemukan kelainan

b. Pemeriksaan Rinoskopi Posterior : Tidak dilakukan pemeriksaan.


4. Pemeriksaan Faring

Arkus Faring : simetris, merah muda

Pilar anterior : normal, simetris

Palatum molle : licin, tidak hiperemis

Mukosa faring : tidak hiperemis

Dinding faring : licin, tidak hiperemis

Uvula : ditengah, tidak hiperemis

Tonsila palatine : Besar TI- TI, warna merah muda, kripta (-), detritus(-).

Perlekatan (-)

Pilar posterior : licin, tidak hiperemis

Gigi geligi : lengkap, oral hygiene baik

KGB regional : normal

Kesan : Tidak ditemukan kelainan

5. Pemeriksaan Laringoskopi Indirek : Tidak dilakukan pemeriksaan

6. Leher

Pemeriksaan kelenjar : tidak membesar

Kesan : Tidak ditemukan kelainan

7. Pemeriksaan fungsi pendengaran


Tes Penala 512 Hz KANAN KIRI

Rinne Positif Positif


Weber Tidak ada Tidak ada lateralisasi
lateralisasi
Schwabach Memendek Memendek

Kesan : tuli sensorineural pada kedua telinga

3. 5. PEMERIKSAAN TAMBAHAN

Hasil Audiometri menunjukkan :

 Telinga Kanan :
Tuli campuran
derajat sedang-berat
 Telinga Kiri :
Tuli sensorineural
sedang

3. 5. RESUME

Pasien laki-laki, 63 tahun datang ke poli THT dengan keluhan kurang mendengar

pada kedua telinga sejak  1 bulan SMRS dan dirasakan timbul secara perlahan, semakin

lama semakin memberat. Gatal, otore, otalgia, tinittus vertigo, demam, batuk, pilek dan

sakit tenggorok, riwayat trauma kepala, riwayat telinga tertampar, riwayat sering terpajan

bising, pemakaina obat yang rutin diminum disangkal. Os mengaku memiliki penyakit
Diabetes Melitus namun selama ini tidak minum obat. Pasien belum pernah berobat

sebelumnya.

Pada pemeriksaan fisik mulai dari pemeriksaan telinga (rinoskopi anterior),

hidung, dan tenggorokan semua dalam keadaan yang normal. Pada pemeriksaan fungsi

pendengaran didapatkan kesan : tuli sensorineural pada kedua telinga. Hasil audiometri

menunjukkan kesan : tuli campuran derajat sedang-berat telinga kanan dan tuli

sensorineural sedang telinga kiri.

3.6. DIAGNOSA KERJA

SNHL AS dan MHL AD

3.7. DIAGNOSA BANDING

- Presbikusis
- NIHL

3.8. PENATALAKSANAAN

1. Hearing Aid dan konseling

2. Mecobalamin tab. 2 x 250mg

3.9. PROGNOSIS

Ad vitam : Bonam

Ad fungsionam : Dubia ad malam

Ad sanationam : Dubia ad malam


Seringkali tuli sensorineural bersifat irreversibel sehingga pada pasien diberikan alat

bantu dengar untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

BAB IV

ANALISIS KASUS

Os laki – laki usia 63 tahun datang ke poli THT dengan keluhan kurang mendengar pada

kedua telinga sejak  1 bulan SMRS. Penurunan pendengaran dirasakan timbul secara perlahan

dan semakin lama semakin memberat dengan keluhan – keluhan lain disangkal. Dari hasil

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan status THT dalam batas normal, namun pada tes pendengaran

ditemukan Schwabach memendek pada kedua telinga, hal ini dapat mengarah pada tuli

sensorineural maupun tuli campuran. Setelah didukung dengan hasil pemeriksaan tes audiometri

pada telinga kiri, yang mana ditemukan AC dan BC > 25 dB, serta AC dan BC terlihat berimpit,

sehingga menguatkan diagnosis SNHL (Sensorineural Hearing Loss). Adapun pada telinga

kanan, Schwabach memendek memiliki kemungkinan yang sama antara tuli sensorineural

maupun tuli campuran. Namun, pada hasil pemeriksaan audiometri, tampak BC > 25 dB dengan
AC > BC dan terdapat gap. Hal tersebut mendukung diagnosis tuli campuran (Mixed Hearing

Loss) pada telinga kanan.

Presbikusis memiliki gejala klinis yang mirip dengan pasien ini. Namun menurut

literatur, umumnya presbikusis terjadi diusia 65 tahun dan pada presbikusis sensorineural akan

ditemukan penurunan yang tajam setelah frekuensi 2000 Hz. Selain itu NIHL (Noise Induced

Hearing Loss) juga dapat menjadi pembanding dikarenakan profesi pasien sebagai sopir

perusahaan cenderung memiliki resiko terpapar bising yang berlebihan. Diagnosis tersebut dapat

disingkirkan setelah pasien menjalani pemeriksaan audiometri, pada NIHL akan ditemukan tuli

sensorineural pada frekuensi 3000 – 6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik

(notch) yang patognomonis pada jenis ketulian ini.

Pada tuli sensorineural terdapat kelainan pada koklea, N VIII atau di pusat pendengaran,

oleh karena itu pada pasien ini diberikan vitamin saraf berupa mecobalamin untuk mencegah

kerusakan lebih lanjut. Seringkali tuli sensorineural bersifat irreversibel sehingga pada pasien

diberikan alat bantu dengar untuk memperbaiki kualitas hidupnya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Suwento R dan Hendarmin H. 2010. Gangguan Pendengaran pada Geriatri. Dalam Buku

Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, : Kepala dan Leher. Edisi 7. Jakarta:

Balai Penerbit FK UI.


2. Peter, S.L. 2008. Inner Ear, Presbycusis. http://emedicine.medscape.com/article/855989-

overview.
3. Presbikusis http://eprints.undip.ac.id/31380/3/Bab_2.pdf
4. Conductive hearing loss. Available from http://www.veterans-

uk.info/publications/conductive_hearing_loss.pdf
5. National Instituite on Deafness and Other Communication Disorders National Institutes of

Health. 2007. Prevalence of presbycusis. http

://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/presbycusis.asp
6. Adams, Boies, Higler. 2007. Buku ajar penyakit THT BOIES. Jakarta: EGC. 132-133.
7. Pendengaran Sehat Untuk Hidup Bahagia. Available at : www.depkes.go.id. Accesed at:

Februari, 09 2017.