Anda di halaman 1dari 17

PROFIL

BADAN USAHA MILIK DESA BERSAMA

SARONDE

PROFIL BADAN USAHA MILIK DESA BERSAMA “ SARONDE ” KECAMATAN KWANDANG & PONELO KEPULAUAN KABUPATEN GORONTALO

KECAMATAN KWANDANG & PONELO KEPULAUAN KABUPATEN GORONTALO UTARA PROVINSI GORONTALO TAHUN 2019

PROFIL BADAN USAHA MILIK DESA BERSAMA (BUM DESA BERSAMA) “SARONDE”

A. LATAR BELAKANG Usaha skala lokal Desa yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) mulai tumbuh pasca UU No. 6/2014 Desa dijalankan. Selain BUM Desa yang tumbuh pada skala lokal desa, UU Desa juga memberikan ruang dan kesempatan kepada 2 (dua) Desa atau lebih menjalin kerjasama, termasuk membangun BUM Desa Bersama di Kawasan Perdesaan. Pengembangan BUM Desa Bersama itu juga menjadi kebijakan strategis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Melanjutkan kebijakan ini, selama tahun 2016, Dalam sektor pembangunan ekonomi di kawasan perdesaan dengan lahirnya Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa merupakan landasan hukum yang diarahkan untuk dapat menumbuhkembangkan perekonomian di desa dan kawasan perdesaan dengan maksud untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADES) mengurangi peran para tengkulak yang seringkali menyebabkan tidak berkembanganya perekonomian di desa serta meningkatnya biaya transaksi (transaction cost) antara harga produk dari produsen kepada konsumen akhir. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Bersama telah diamanatkan di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah dengan PP No. 47 Tahun 2015. Sebagai operasionalisasi penerapan landasan hukum melalui Permendesa Nomor 4 tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Peraturan ini mengamanatkan BUM Desa dan BUM Desa Bersama sebagai lembaga pelayanan sosial dan pengembangan ekonomi baik yang berskala lokal desa maupun skala antar desa. Pada konteks ini, BUM Desa

adalah representasi dari “Desa Membangun” sementara BUM Desa

Bersama merupakan representasi dari “Membangun Desa”. BUM Desa

Bersama lahir berdasarkan kerjasama antar desa berupaya

mengkonsolidasikan skala ekonomi desa yang lebih besar dan luas

sekaligus berupaya untuk memotong mata-rantai pasar yang

merugikan pelaku ekonomi desa.

Pembangunan Desa saat ini menjadi prioritas dan berimbas

kepada peluang usaha . Sebagai contoh hampir 60% kebutuhan hidup

di supply dari desa dan sampai saat ini yang memanfaatkan peluang

tersebut bukan pelaku di desa. Hal ini tentu membawa dampak

menyeluruh kepada kehidupan masyaraat. Banyak usaha baik usaha

rumahan maupun skala antar desa tidak mampu bertumpu dari

potensinya sendiri. Dari sini kita dapat melihat potensi yang sangat

bagus karena kebutuhan hidup di supply dari desa.

Kebutuhan ini menjadi peluang usaha yang sangat potensial

untuk dijalankan jika telah memiliki banyak potensial pelanggan di

desa sendiri. Dengan melihat pada kondisi yang demikian maka saya

berencana mendirikan usaha Bersama.

Dengan pendirian usaha bersama diharapakan akan lebih

banyak produk local desa dapat ditawarkan dan memeberikan

peluang pekerjaan yang tertampung serta dapat menghasilkan

keuntungan yang dapat membuat hubungan saling menguntungkan

antara pihak penyandang dana maupun pelaku usaha yang berperan

di dalamnya.

Fungsi Badan Usaha Milik Desa bersama adalah ;

1. Melibatkan perwakilan-perwakilan 5 desa yang masuk dalam kawasan

2. Mengelola dan memanfaatkan bantuan untuk mendukung kawasan

perdesaan

3. Mencegah “klaim” kepemilikan bantuan secara sepihak

4. Membuka peluang pasar

5. Menjaga stabilitas harga

6. Mengembangkan unit usaha lain

B. Visi Misi BUMDes Bersama Visi

Mewujudkan Perekonomian Masyarakat Kawasan Perdesaan yang mandiri melalui pengembangan usaha berdaya saing

Misi

1. Pengembangan Potensi Wisata Pariwisata Kawasan Perdesaan dan

Pemanfaatan pulau-pulau

2. Mendorong pengelolaan Manajamen Industri Rumah Tangga berkualitas

3. Memaksimalkan potensi usaha antar desa guna mendorong peningkatan PAD Desa melalui Penyertaan Modal BUMDesa Bersama.

C. Tujuan Pendirian Usaha

1. Menggerakkan Sektor Pariwisata Mandiri dan Terpadu melalui dukungan penyertaan modal Desa dan Daerah;

2. Menggerakkan potensi pesisir pantai yang kaya akan ikan dan pesona pulau, sebesar-besarnya untuk perekonomian masyarakat

3. Meningkatkan kecakapan hidup (life skill) warga desa dalam menciptakan industri rumah tangga berdaya saing;

4. Melindungi dan mempromosikan potensi lokal daerah hasil

industri rumah tangga;

5. Menjadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Lokal

D. Rencana Usaha

Salah satu cara mengembangkan usaha adalah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksud adalah swasta, BUMN/BUMD, Perguruan Tinggi, organisasi sosial kemasyarakatan, lembaga donor, dan institusi dari luar Desa lainnya. Kerjasama yang dilakukan dapat berupa kerjasama penetrasi pasar, promosi, penguatan kapasitas pengelola BUM Desa Bersama, atau dapat juga dalam bentuk kerjasama murni antara unit usaha BUM Desa Bersama dengan Pihak ketiga dengan konsep symbiosis-mutualisme

(saling menguntungkan).

Dengan melihat kondisi yang demikian maka kami berencana mendirikan usaha Bersama. Dengan Memulai atau mengembangkan bisnis atau usaha membutuhkan perencanaan dan keberanian serta perhitungan yang matang. Dengan demikian resiko usaha dapat diantisipasi sedini mungkin. Di bawah adalah bisnis model untuk

mengembangkan SWADESA Unit Usaha BUM Desa Bersama. Perkembangan usaha toko swalayan sudah dapat kita lihat hasilnya. Pada dasarnya masyarakat menyukai kebebasan untuk melayani dirinya sendiri. Dengan jalan-jalan di mengelilingi toko swalayan, melihat-lihat, dan memilih sendiri barang yang dia sukainya. Namun demikian, tamu yang datang juga dapat bertanya apabila mereka membutuhkan bantuan mencari barang yang dibutuhkannya. Di sisi lain, ada konsumen yang karena sesuatu hal tidak cukup pendirian usaha bersama diharapkan akan lebih banyak produk local desa dapat ditawarkan dan memeberikan peluang pekerjaan yang tertampung serta dapat menghasilkan keuntungan yang dapat membuat hubungan saling menguntungkan antara pihak penyandang dana maupun pelaku usaha yang berperan di dalamnya. Rencana Usaha yang akan dirintis/dijalankan Bundesa Bersama antata lain; a. Pengembangan usaha bidang jasa kepariwisataan b. Pengembangan Usaha Berbasis Komunitas (UBK) dalam pengolahan Rumput Laut dan Ikan c. Pengembangan Industri Kerajinan UMKM d. Usaha lainnya dalam mendekatkan masyarakat akan suplay kebutuhan dasar pokok yang harganya bersaing dan lebih murah

E. Profil BUMDes Bersama “SARONDE”

1. Data Umum Pengurus A. Identitas BUMDes Bersama Nama Lembaga Alamat Lembaga

Bidang Usaha

: BUMDES BERSAMA “SARONDE” : Jl. Pelabuhan Desa Katialada Kec. Kwandang Kab. Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo : Pariwisata, Perikanan dan UMKM

Jenis Produk Unggulan

Akte Pendirian NPWP Lembaga Tahun Berdiri

Tahun Pembaruan B. Identitas Pengurus

a. Ketua

b. Sekretaris

c. Bendahara

: Produk Olahan Rumput Laut dan Ikan

- : 86.674.006.1-822.000 : 2017 : 29 Oktober 2018

:

: MAHFUD HARIM, S.PdI, M.Pd : SAHRIN SOGA : KARTIN MADI

2. Legalitas Pendirian BUMDes Bersama “SARONDE”

1 Undang-undang Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Gorontalo (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 258, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4060)

2 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasonal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

3 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4438);

4 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara di Provinsi Gorontalo (Lembaran Negara republik Indonesia Tahun 2007 nomor 13, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4687)

5 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5495);

7 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679)

8 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 213, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5717);

9 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5558) sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5864);

10

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 111 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa;

11 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa;

12 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa

13 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa;

14 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pendirian Pengurusan dan Pengelolaan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa;

15 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan;

16 Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2017 tentang Penataan Desa Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 97 Tahun 2017 tentang Tata Cara Kerjasama Desa di Bidang Pemerintahan Desa

17 Peraturan Daerah Kabupaten Gorontalo Utara Nomor 5 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Gorontalo Utara (Lembaran Daerah Tahun 2013 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 185);

18 Peraturan Desa Katialada Nomor 9 Tahun 2018 Kerjasama Desa (lembaran Desa Tahun 2018 Nomor 9);

19 Peraturan Desa Ponelo Nomor 9 Tahun 2018 Kerjasama Desa (lembaran Desa Tahun 2018 Nomor 9);

20 Peraturan Desa Tihengo Nomor 5 Tahun 2018 Kerjasama Desa (lembaran Desa Tahun 2018 Nomor 5);

21 Peraturan Desa Otiola Nomor 6 Tahun 2018 Kerjasama Desa (lembaran Desa Tahun 2018 Nomor 6);

22 Peraturan Desa Malambe Nomor 5 Tahun 2018 Kerjasama Desa (lembaran Desa Tahun 2018 Nomor 5); Selain dasar-dasar hukum pendirian BUMDes Bersama “SARONDE” diatas, juga terdapat beberapa legalitas lain yang mendasari berdirinya BUMDes Bersama “SARONDE” legalitas tersebut adalah sebagai berikut; 1. Peraturan Bupati Gorontalo Utara Nomor 33 Tahun 2017 tentang Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan Kabupaten Gorontalo Utara 2. Keputusan Bupati Gorontalo Utara Nomor :

SK.347.IX.2017 tanggal 4 September 2017 Tentang Penetapan Kawasan Perdesaan Untuk Rencana Pembangunan Kawasan Pariwisata Kabupaten Gorontalo Utara; 3. Keputusan Bupati Gorontalo Utara Nomor :

SK.459.XI.2016 tanggal 8 November 2016 tentang pembentukan Tim Koordinasi Pembangunan Kawasan Perdesaan (TK-PKP) Kabupaten Gorontalo Utara. 4. Peraturan Bersama Kepala Desa Katialada, Ponelo, Tihengo, Otiola dan Malambe tentang Kerjasama Antar Desa; 5. Peraturan Bersama Kepala Desa Katialada, Ponelo, Tihengo, Otiola dan Malambe tentang Badan Usaha Milik Desa Bersama “SARONDE”;

3.

Struktur Organisasi BUMDes Bersama “SARONDE”

3. Struktur Organisasi BUMDes Bersama “SARONDE” 4. Sumber Pendanaan BUMDes Bersama “SARONDE” Sejak dibentuk

4. Sumber Pendanaan BUMDes Bersama “SARONDE”

Sejak dibentuk tanggal 29 Oktober 2018 BUMDes Bersama “SARONDE” belum mendapatkan sentuhan dana segar untuk melaksanakan aktifitasnya. Disisi lain sarana prasarana yang telah dibangun melalui Bantuan Hibah Milik Negara berupa Pasar

Kawasan dan Sarana Prasarana Pariwisata Terpadu di desa Katialada tak kunjung dapat dimanfaatkan disebabkan oleh status tanah masih diblokir oleh pihak pemilih lahan yang belum mendapatkan ganti rugi lahan dari daerah. Harapannya saat ini dan beberapa masa kedepan, BUMDes Bersama “SARONDE” akan memperoleh dukungan pendanaan melalui Pemerintah Desa berupa Penyertaan Modal, Dukungan Bantuan Keuangan Kabupaten dan Provinsi, Bantuan Dana Segar Kementerian Desa PDTT maupun bantuan dana pihak ke tiga.

5. Sektor Strategis Pengembangan BUMDes Bersama “SARONDE”

Berdasarkan kesepakatan dalam agenda Focus Group Disscussion (FGD) di Kantor Bappeda Kabupaten Gorontalo Utara, tema

pengembangan kawasan adalah pariwisata, perikanan dan kerajinan (UMKM):

1. Tema Pariwisata. Peranan pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada daerah dan masyarakat. Dengan posisi dan kinerja pariwisata yang demikian luas dan potensial tersebut, sudah selayaknya sejak dalam proses perencanaan juga menerapkan konsep yang multidisiplin dan multisektor. Untuk mewujudkan tujuan itu, beberapa program pembangunan destinasi pariwisata nasional adalah: (a) Mendorong pengembangan daya tarik wisata unggulan di setiap provinsi maupun kota dan kabupaten secara bersama dengan pemerintah daerah, swasta dan masyarakat; (b) Peningkatan kualitas pelayanan dan kesiapan daerah tujuan wisata dan aset-aset warisan budaya sebagai objek daya tarik wisata yang kompetitif. Ditingkat daerah, sektor pariwisata menjadi salah satu penunjang pendapatan daerah dan kesejahteraan rakyat. Kesadaran akan pentingnya membangun dan merencanakan potensi wisata juga dilakukan pihak pemerintah, dimana sektor pariwisata telah terbukti menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi berkontribusi pada penerimaan negara. Banyaknya destinasi wisata yang telah dikenal luas oleh masyarakat dunia serta meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunnya menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan kepariwisataan di Indonesia. Dalam kaitan itu, maka pemerintah terus berupaya memantapkan potensi wisata yang ada agar menjadi destinasi yang aman, nyaman dan menarik untuk dikunjungi serta berpotensi untuk menciptakan lapangan kerja baru sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik yang di dalamnya meliputi upaya-upaya perencanaan, implementasi dan pengendalian, dalam rangka penciptaan nilai tambah sesuai yang dikehendaki. Dalam UU No 10 tahun 2009 pasal 9 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomon 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional

(RIPPARNAS) Tahun 2010-2025, pada pasal 2 menyebutkan bahwa:

Pembangunan Kepariwisataan Nasional meliputi : (a) destinasi pariwisata; (b) industri pariwisata; (c) pemasaran pariwisata; dan (d) kelembagaan kepariwisataan.

1.

DESTINASI PARIWISATA

2.

INDUSTRI PARIWISATA

1. DESTINASI PARIWISATA 2. INDUSTRI PARIWISATA 3. PEMASARAN PARIWISATA 4. KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN
1. DESTINASI PARIWISATA 2. INDUSTRI PARIWISATA 3. PEMASARAN PARIWISATA 4. KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN

3.

PEMASARAN

PARIWISATA

4.

KELEMBAGAAN

KEPARIWISATAAN

PEMASARAN PARIWISATA 4. KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN “Pembangunan daya tarik wisata, pembangunan prasarana,
PEMASARAN PARIWISATA 4. KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN “Pembangunan daya tarik wisata, pembangunan prasarana,

“Pembangunan daya tarik wisata, pembangunan prasarana, pembangunan fasilitas umum, pembangunan fasilitas pariwisata serta Pemberdayaan masyarakat, secara terpadu dan berkesinambungan”

masyarakat, secara terpadu dan berkesinambungan” “ Pembangunan struktur (fungsi, hirarkhi, hubungan)

“ Pembangunan

struktur (fungsi,

hirarkhi, hubungan) industri pariwisata, daya saing produk pariwisata, kemitraan usaha pariwisata, kredibilitas bisnis, dan tanggung jawab thd lingkungan alam dan

sosial budaya”

tanggung jawab thd lingkungan alam dan sosial budaya” “Pemasaran pariwisata bersama terpadu dan

“Pemasaran pariwisata bersama terpadu dan

berkesinambungan

dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan serta pemasaran yang bertanggung jawab dalam membangun citra Indonesia sebagai destinasi pariwisata

yang berdaya saing”

sebagai destinasi pariwisata yang berdaya saing” “Pengembangan organisasi pemerintah, pemerintah daerah,

“Pengembangan organisasi pemerintah, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional di bidang kepariwisataan

Sebagai dokumen yang mendukung sepenuhnya kebijakan nasional, maka penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) Kabupaten Gorontalo Utara ini akan mengacu pada Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut.

2. Tema Perikanan.

Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi, dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia, menurut UU RI No. 31/2004, sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 45/2009, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Perikanan di kabupaten Gorontalo Utara meliputi penangkapan ikan dan budidaya. Peralatan yang digunakan untuk penangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara antara lain adalah:

1. Bagan (Alat penangkap ikan menggunakan perahu, jaring, derek pengangkat jaring, dan lampu penerangan untuk mengundang minat ikan). 2. Jaring (Alat penangkap ikan yang terbuat dari untaian benang tipis yang dianyam membentuk jaring yang diberi pemberat, cara menggunakannya adalah dengan menebarkan jaring ke tempat yang banyak ikan dan menariknya ke perahu). 3. Pancing (Alat penangkap ikan yang terdiri dari joran, tali dan mata pancing (hook), cara menggunakannya dengan memberi umpan pada mata pancing dan ditaruh di air. 4. Sero (jebakan ikan, dengan menggunakan jaring yang ditambatkan tiang/kayu yg ditancapkan di dasar laut yang dangkal, pada saat air laut pasang, ikan masuk berenang masuk ke dalam sero, dan saat air surut terjebak di dalamnya). Sedangkan peralatan yang digunakan untuk budidaya perikanan antara lain adalah: Keramba Jaring Apung (KJA) dan Budidaya rumput laut.

adalah: Keramba Jaring Apung (KJA) dan Budidaya rumput laut. Gambar. 5.3. Bagan dan Sero di Desa

Gambar. 5.3. Bagan dan Sero di Desa Malambe

rumput laut. Gambar. 5.3. Bagan dan Sero di Desa Malambe Gambar 5.4. Sero di Desa Malambe

Gambar 5.4. Sero di Desa Malambe

dan Sero di Desa Malambe Gambar 5.4. Sero di Desa Malambe Gambar 5.5. Keramba Jaring Apung

Gambar 5.5. Keramba Jaring Apung di Desa Malambe

3. Tema Klaster Kerajinan/UMKM

Sektor kerajinan/UMKM di Kecamatan Kwandang dan Kecamatan Ponelo Kepulauan ini belum cukup berkembang, namun pemerintah daerah setempat berupaya untuk mengembangkan sektor kerajinan ini untuk menunjang pengembangan pariwisata di Kabupaten Gorontalo Utara pada umumnya dan di Kecamatan Kwandang dan Kecamatan Ponelo Kepulauan pada khususnya. UMKM di kedua Kecamatan ini memanfaatkan potensi sumber daya alam di daerah dan sangat variatif serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu produk kerajinan itu adalah kerajinan dari kerang laut dan pasir

pantai, yang banyak ditekuni masyarakat Desa Ponelo Kepulauan dan

UMKM kuliner yang berasal dari bahan dasar rumput laut di Desa Tihengo,

yang dikelola oleh ibu rumah tangga.

laut di Desa Tihengo, yang dikelola oleh ibu rumah tangga. Gambar 5.6. Souvenir Khas Desa Ponelo,
laut di Desa Tihengo, yang dikelola oleh ibu rumah tangga. Gambar 5.6. Souvenir Khas Desa Ponelo,

Gambar 5.6. Souvenir Khas Desa Ponelo, Kecamatan Ponelo Kepulauan

5.6. Souvenir Khas Desa Ponelo, Kecamatan Ponelo Kepulauan Gambar 5.7. Kuliner Olahan Rumput Laut dari Desa

Gambar 5.7. Kuliner Olahan Rumput Laut dari Desa Tihengo

Skema Pengembangan Usaha Hulu dan Hilir BUMDes Bersama

“SARONDE”:

Pariwisata

Perikanan

 

Kerajinan

Produk Pariwisata:

Perikanan Tangkap:

Produk

Kerajinan

1. Wisata pulau: Saronde, Bogisa, Mohinggito, Lampu.

1. Bagan: Malambe, Katialada.

berbasis bahan baku:

1. Pasir,

Kerang

dan

2. Sero: Malambe.

Kayu: Ponelo.

2. Guest House: Ponelo.

3. Jaring: Malambe, Ponelo, Otiola, Katialada.

2. Rumput

Laut:

3. Wisata Pantai: Ponelo.

Tihengo.

4. Mangrove: Tihengo, Otiola.

4. Pancing: Malambe, Ponelo, Katialada.

 

5. Snorkeling: Saronde.

Perikanan Budidaya:

6. Camping: Bogisa.

a. KJA: Semua desa.

7. Trekking: Ponelo.

b. Rumput laut: Tihengo, Otiola.

8. Oleh2: Tihenggo.

9. Kuliner: Malambe, Ponelo.

 

10. Budaya/Seni: Ponelo.

Khusus untuk pengolahan Rumput Laut menjadi Makanan Olahan

telah diikutkan dalam ivent yang dilaksanakan oleh Direktorat

Pengembangan Ekonomi Kawasan Dirjen PKP Kementerian Desa PDTT,

berupa Expo BUMDes Bersama pada akhir tahun 2018 di Bengkulu.

PRUKADES BUMDes Bersama Saronde dalam Expo Bengkulu 2018 Diikuti oleh Ketua BKAD dan Ketua Unit
PRUKADES BUMDes Bersama Saronde dalam Expo Bengkulu 2018 Diikuti oleh Ketua BKAD dan Ketua Unit
PRUKADES BUMDes Bersama Saronde dalam Expo Bengkulu 2018 Diikuti oleh Ketua BKAD dan Ketua Unit

PRUKADES BUMDes Bersama Saronde dalam Expo Bengkulu 2018 Diikuti oleh Ketua BKAD dan Ketua Unit Promosi dan Pemasaran Hasil IRT

Produk makanan olahan rumput laut yang dikelola oleh Kelompok Karya Bersama yang merupakan salah satu unit usaha yang dikelola BUMDes Bersama SARONDE juga selain telah beberapa kali mendapatkan kunjungan dari Pejabat pada Dirjen PKP. Untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan pasar yang lebih luas UBK Karya Bersamabinaan BUMDes Bersama SARONDE ini telah mengantongo Izin Produksi untuk beberapa jenis komuditas, label halal dan telah diikutkan pada Ekspo APKASI dijakarta 2019. Berikut daftar sertifikat PIRT beberapa produk makanan olahan dari rumput laut;

1. P-IRT Nomor : 02.06.7505.030.0056.23 untuk jenis olahan Stik Rumput laut

2. P-IRT Nomor : 02.06.7505.030.0057.23 untuk jenis olahan Panada Tore

3. P-IRT Nomor : 02.06.7505.030.0058.23 untuk jenis olahan Kerupuk

4. P-IRT Nomor : 02.06.7505.030.0059.23 untuk jenis olahan Selay

5. P-IRT Nomor : 02.06.7505.030.0060.23 untuk jenis olahan Permen

6. PERMASALAHAN / KENDALA dan PENYELESAIANNYA 1. Belum adanya penyertaan modal bagi BUMDes Bersama SARONDE
6. PERMASALAHAN / KENDALA dan PENYELESAIANNYA 1. Belum adanya penyertaan modal bagi BUMDes Bersama SARONDE

6. PERMASALAHAN / KENDALA dan PENYELESAIANNYA

1. Belum adanya penyertaan modal bagi BUMDes Bersama SARONDE oleh Pemerintah Desa dan Kabupaten sejak 2018-2019, direncanakan pada tahun 2020 baru dimasukkan dalam penyertaan modal desa;

2. Sarana Prasarana Pariwisata dan Pasar Kawasan yang lahannya belum dilakukan ganti rugi oleh Pemerintah Daerah sehingga belum dimanfaatkan secara maksimal;

3. Pengembangan kapasitas pelaku BUMDes Bersama SARONDE baru sebatas untuk pengelolaan administrasi kepada pengurus inti, dan khusus UBK Karya Bersama telah beberapa kali mengikuti pelatihan baik skala kabupaten maupun provinsi

4. Belum adanya sarana prasarana penunjang produksi sehingga nilai produksi masih sangat terbatas, target September 2019 akan beroleh bantuan dari Direktorat Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan berupa bantuan UBK senilai Rp. 200.000.000.-

5. Produk UBK belum masuk sebagai salah satu kebijakan pergerakan

pertumbuhan ekonomi kerakyatan pemerintah daerah, ditargetkan Bupati mengeluarkan edaran kepada seluruh rumah makan yang ada di Kab. Gorontalo Utara agar menampung produk olahan UBK, serta mengarahkan ASN yang ada untuk membeli produk-produk lokal, mengisi ruang tamu OPD dengan produk-produk olahan rumput laut yang dihasilkan oleh UBK Karya Bersama.