Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

Indeks Diversitas Vegetasi di Kawasan Hutan Curug Sewu dengan


Menggunakan Metode Plot

Dosen Pengampu:

Drs. Nugroho Edi Kartiyono, M.Si

Drs. F. Putut Martin, M.Si

Disusun oleh:
Rombel 2 Biologi 2017
Kelompok 6
Dian Oktaviani 4411417050
Vio Aneta Sari Devi 4411417057
Isnaeni Nur Khasanah 4411417062
Cindyla Ega Lusiana 4411417064
Dimas Agung Yunanto 4411417070

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
Indeks Nilai Penting Vegetasi di Kawasan Hutan Curug Sewu
dengan Menggunakan Metode Plot

A. Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui Indeks Nilai
Penting suatu spesies herba dalam vegetasi di kawasan hutan Curug Sewu,
Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal

B. Landasan Teori
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari
beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama
individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga
merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
sebaran berbagai spesies dalam suatu area melalui pengamatan langsung.

Analisa vegetasi merupakan cara untuk mempelajari susunan (komposisi jenis)


dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pada suatu kondisi
hutan yang luas, kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling sehingga
cukup ditempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Ada tiga
hal yang perlu diperhatikan dala sampling ini, yaitu jumlah petak contoh, cara
peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Soerianegara,
2005).
Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan
tajuk. Analisis data memerlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk
menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan
analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi
suatu komunitas tumbuhan (Michael,1994).
Pada suatu wilayah yang berukuran luas atau besar, vegetasinya terdiri dari
beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Hal ini
menyebabkan adanya berbagai tipe vegetasi. Vegetasi terdiri dari semua spesies
tumbuhan dalam suatu wilayah dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang
dan waktu. Tipe-tipe vegetasi sendiri dicirikan oleh bentuk pertumbuhan tumbuhan
dominan atau paling besar atau paling melimpah dan tumbuhan karakteristik atau
paling khas (Harjosuwarno, 1990).
Menurut Michael (1994), metode- metode yang umum dan sangat efektif serta
efisien jika digunakan untuk penelitian komunitas tumbuhan, pada garis besarnya
digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Metode petak ukur (plot), adalah prosedur yang umum digunakan untuk sampling
berbagai tipe organisme. Bentuk plot biasanya segi empat atau persegi ataupun
lingkaran. Sedangkan ukurannya tergantung dari tingkat keheterogenan
komunitas. Contohnya:
a. Petak tunggal yaitu metode yang hanya satu petak sampling yang mewakili
satu areal hutan.
b. Petak ganda yaitu pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan
banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata (sebaiknya secara
sistematik). Ukuran berbeda- beda berdasarkan kelompok tumbuhan yang
akan dianalisis. Perbandingan panjang dan lebar petak 2:1 merupakan
alternatif terbaik daripada bentuk lain.
c. Petak jalur
2. Metode tanpa petak ukur (plotless) yaitu suatu metode berupa titik, dalam metode
ini bentuk percontohan atau sampel berupa titik karena tidak menggambarkan
suatu luas area tertentu. contohnya metode kuadrat, yaitu bentuk sampel dapat
berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu.
Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas
minimumnya. Untuk analisa yang menggunakan metode ini dilakukan
perhitungan terhadap variabel- variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi.
Menurut Mc Noughton dan Wolf (1990), bentuk-bentuk pertumbuhan
(growth form) dapat dinyatakan berdasarkan batas ketinggiannya, misalnya untuk
komunitas hutan, terdapat 4 tingkatan:
1. Lapisan pohon (tree layer)
Tingkatan ini terdiri atas semua tumbuhan yang tingginya lebih dari 5 m. Pada
hutan-hutan tinggi, lapisan ini dapat dibagi lagi menjadi 2, 3, atau bahkan 4
lapisan.
2. Lapisan semak (schrub layer)
Tingkatan ini terdiri atas tumbuhan dengan tinggi antara 0,5 m sampai 5 m.
Lapisan ini dapat dibagi lagi menjadi S1 (tinggi 2-5 m) dan S2 (tinggi 0,3 atau 0,5
m sampai 2 m).
3. Lapisan herba (herb layer)
Pada tingkatan ini, tumbuhan yang ada adalah dengan tinggi kurang dari 0,3 atau
0,5 m atau kurang dari 1 m. Seperti tingkatan di atas, lapisan ini dibagi lagi
menjadi H1 atau lapisan herba tinggi (tinggi lebih dari 0,3 m), H2 (tinggi 0,1 – 0,3
m), dan lapisan herba rendah (tinggi kurang dari 0,1 m).
4. Lapisan lumut dan lichenes
Merupakan lapisan yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan lumut.

Indeks Nilai Penting (INP) merupakan gambaran lengkap mengenai karakter


sosiologi suatu spesies dalam komunitas. INP ini digunakan untuk menetapkan
dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting
menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks nilai
penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi
relatif (FR), dan dominansi relatif (DR).Pada praktikum ini,dalam menganalisi
vegetasi perlu dibuat suatu petak berbentuk persegi dengan ukuran 2m x 2m.
Percobaan ini penting dilakukan untuk mengetahui keberagaman suatu spesies di
suatu tempat dan dominasi spesies pada suatu vegetasi di kawasan hutan Curug Sewu.

C. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Pasak
2. Tali rafia
3. Worksheet
4. Gunting / cutter
5. Alat tulis

D. Prosedur Kerja
1. Mencari suatu daerah yang terdapat komunitas vegetasi tumbuhan
2. Membuat petak ukur berukuran 2m x 2m pada masing-masing plot
3. Setiap sudut pada plot dibatasi dengan empat buah pasak yang saling dihubungkan
dengan tali rafia sebagai pembatas petak ukur dengan area luar petak
4. Setelah itu, pada masing-masing plot, jenis tanaman yang ada di dalam petak ukur
dicatat jumlahnya dan diidentifikasi jenis serta kelompoknya.
5. Indeks Nilai Penting setiap jenis tumbuhan yang ditemukan pada plot tersebut
dihitung dengan menggunakan rumus :

INP = DR + FR
Keterangan :
INP = Indeks Nilai Penting
DR = Dominansi Relatif
FR = Frekuensi Relatif
Satuan dalam persentase (%)

E. Hasil Pengamatan
*Hasil pengamatan terlampir

F. Pembahasan
Vegetasi adalah suatu kumpulan dari tumbuhan yang pada umumnya terdiri
dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama dalam suatu habitat atau tempat. Pada
mekanisme hidup bersama tersebut terdapat interaksi yang sangat erat, baik interaksi
antara sesama individu penyusun vegetasi tersebut maupun organisme lainnya
sehingga terjadi suatu sistem hidup dan tumbuh yang dinamis (Marsono, 1997).
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melalui pengamatan langsung.
Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi
yang ada. Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif
bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas (Rohman dan Wayan,
2001).

Analisis vegetasi juga merupakan cara untuk mempelajari susunan


(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.
Pada suatu kondisi hutan yang luas, kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan
sampling sehingga cukup ditempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat
tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sampling ini, yaitu jumlah petak
contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan
(Soerianegara, 2005).

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP)
suatu spesies dalam vegetasi di kawasan hutan Curug Sewu. Adapun alat yang
digunakan untuk mem-plot adalah empat pasak yang telah dihubungkan dengan tali
rafia dengan ukuran 2 m x 2 m. Kami melakukan plotting sebanyak 50 plot pada
kawasan yang kami anggap sebaga pusat distribusi vegetasi herba di kawasan hutan
Curug Sewu. Pada saat melakukan plotting, tanaman
Indeks Nilai Penting (INP) dihitung dengan cara menjumlahkan DR
(Dominansi Relatif) dan KR (Kerapatan Relatif). Namun untuk menghitung keduanya
maka perlu dilakukan analisis data yang meliputi nilai dominansi, nilai dominansi
relatif, nilai frekuensi, dan nilai frekuensi relatif. Nilai dominansi dapat dihitung
dengan cara mengubah persentase data dari worksheet ke dalam nilai skala Braun
Blanquet.
Dominansi dihitung dengan nilai skala Braown Blanquet.

Nilai Skala Coverage


5 75 – 100
4 50 – 75
3 25 – 50
2 5 – 25
1 1–5

Setelah diubah ke dalam nilai skala, selanjutnya menghitung nilai DR


(Dominansi Relatif) dan FR (Frekuensi Relatif). Nilai DR dapat diperoleh dengan
cara membagi nilai dominansi suatu spesies dengan dominansi seluruh spesies pada
semua plot dan dikalikan dengan 100%. Begitupun juga FR, dapat diperoleh dengan
cara membagi nilai frekuensi suatu spesies dengan frekuensi seluruh spesies pada
semua plot dan dikalikan dengan 100%. Dari penjumlahan kedua nilai DR dan FR
maka akan diperoleh Indeks Nilai Penting.
𝐷 𝐹
DR = x 100 FR = x 100
∑𝐷 ∑𝐹

Dari hasil penghitungan yang kami lakukan, dapat diketahui bahwa


Cyahila prostrata memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi yaitu sebesar
22.4216043252. Sedangkan untuk vegetasi herba yang memiliki Indeks Nilai Penting
terendah yaitu Cucurbita moschata, Kyllinga brevifolia, Pteris sp, dan Cyathula
prostrata dengan Indeks Nilai Penting sebesar 0,68811250539.

Indeks Nilai Penting ini menunjukkan bahwa kehadiran suatu spesies


Cyahila prostrata memiliki kemampuan spesies tersebut untuk beradaptasi dengan
kondisi lingkungan setempat, sehingga jenis yang mendominasi suatu areal dapat
dinyatakan sebagai jenis yang memiliki kemampuan adaptasi dan toleransi yang lebar
terhadap kondisi lingkungan. Semakin tinggi suatu nilai penting tanaman herba maka
semakin tinggi peran tanaman herba pada komunitas tersebut.
G. KESIMPULAN

1. Penghitungan Indeks Nilai Penting spesies berfungsi untuk mengetahui penyusun


komunitas vegetasi herba yang memiliki peran paling tinggi di kawasan hutan
Curug Sewu, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal.
2. Setiap spesies penyusun komunitas tumbuhan herba pada kawasan hutan Curug
Sewu memiliki Indeks Nilai Penting yang berbeda - beda. Tanaman yang
memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah Cyahila prostrata dengan nilai
sebesar 22.4216043252. Sedangkan untuk vegetasi herba yang memiliki Indeks
Nilai Penting terendah yaitu Cucurbita moschata, Kyllinga brevifolia, Pteris sp,
dan Cyathula prostrata dengan Indeks Nilai Penting sebesar 0,68811250539.
DAFTAR PUSTAKA

Greig and Smith P. 1983. Quantitative Plant Ecology. Blackwell Scientific


Publications. Oxford
Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara.
Krebs, J.C. 1978. Ecology The Experimental Analysis of Distribution and Abundance.
Harper and Row Publisher. London.
Marsono, D. 1977. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-Tipe Vegetasi Tropika. Fakultas
Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Mc Noughton, S. J. dan Wolf, L. L. 1990. Ekologi Umum. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Michael, P.E. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Odum, E. 1993. Fundamentals Of Ecology. W.B.Saunder Company Philadelphia.
London, Toronto.
Rahmadani, F. Dan Sumberartha, I. W. 2012. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan.
JICA, Malang.
Soerianegara, I. dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Sri dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Fahutan IPB, Bogor.
Syafei, E. S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB. Bandung.
Welles et al, J. E. dan Clements, F. E. 1996. Plant Ecology. McGraw-Hill Book
Company, inc, London.
Yatim, W. 1994. Biologi Modern. Tarsito, Bandung.

Anda mungkin juga menyukai