Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

INFORMED CONCENT PADA PASIEN YANG AKAN MENJALANKAN


OPERASI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Perioperatif


Mahasiswa Semester VII Prodi D-IV Keperawatan

Disusun Oleh:
1. Sumirat Nurcahyani (P07120216047)
2. Umi Kalsum Mustalqimah (P07120216059)
3. Atika Fajrin Ayuningtyas (P07120216067)
4. Sera Adhe Anantigas Timor (P07120216074)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah Keperawatan
Perioperatif yang berjudul “Informed Concent Pada Pasien Yang Akan
Menjalankan Operasi” ini dapat terselesaikan tanpa halangan yang berarti.
Makalah Keperawatan Perioperatif tentang “Informed Concent Pada
Pasien Yang Akan Menjalankan Operasi” ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Perioperatif semester VII D-IV Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Yogyakarta tahun ajaran 2019/2020.
Dengan disusunnya makalah Keperawatan Perioperatif tentang “Informed
Concent Pada Pasien Yang Akan Menjalankan Operasi” ini pembaca diharapkan
dapat mengetahui tentang Informed Concent Pada Pasien Yang Akan
Menjalankan Operasi serta dapat menggunakan makalah ini sebagai salah satu
media pembelajaran untuk mata kuliah Keperawatan Periopertif selanjutnya.
Kami sadar, sebagai pelajar yang masih dalam proses pembelajaran,
penulisan makalah tentang “Informed Concent Pada Pasien Yang Akan
Menjalankan Operasi” ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan
makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Yogyakarta, Agustus 2019


Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Informed Concent 7
B. Peraturan Informed Concent 8
C. Penanggung Jawab Informed Concent 8
D. Syarat Pasien Memberikan Pernyataan 9
E. Ketentuan Informed Concent 10
F. Manfaat Penjelasan Informed Concent 10
G. Hak-hak Pasien dalam Informed Concent 11
H. Peran Perawat dalam Pemberian Informed Concent pada Pasien 11
I. Contoh Lembar Informed Concent 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 17

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kesehatan
adalah merupakan hak asasi manusia. Pada pasal 28 H dijelaskan bahwa
setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan.
Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan
menurut Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996. Perawat diposisikan
sebagai salah satu dari profesi tenaga kesehatan yang menempati peran
yang setara dengan tenaga kesehatan lain. Perjalanan awalnya perawat
hanya dianggap okuvasi (pekerjaan) saja yang tidak membutuhkan
profesionalisme. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan praktek
keperawatan, perawat sudah diakui sebagai suatu profesi, sehingga
pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan harus didasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan, perawat harus terlebih
dahulu memberikan informed consent kepada pasien. Persetujuan tindakan
medik atau informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik
yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Persetujuan dapat diberikan
secara tertulis maupun lisan, tetapi setiap tindakan medik yang
mengandung resiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang hendak memberikan persetujuan.
Informed consent berasal dari hak legal dan etis individu untuk
memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, dan kewajiban
etik dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meyakinkan individu yang
bersangkutan untuk membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan
terhadap diri mereka sendiri.

4
Dalam permenkes 585/Men.Kes/Per/ IX/1989 tentang persetujuan
medik pasal 6 ayat 1 sampai 3 disebutkan bahwa yang memberikan
informasi dalam hal tindakan bedah adalah dokter yang akan melakukan
operasi, atau bila tidak ada, dokter lain dengan pengetahuan atau petunjuk
dokter yang bertanggung jawab. Dalam hal tindakan yang bukan bedah
(operasi) dan tindakan invasif lainnya, informasi dapat diberikan oleh
dokter lain atau perawat, dengan pengetahuan atau petunjuk dokter yang
bertanggung jawab.
Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun
1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 disebutkan bagi tenaga
kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya
berkewajiban untuk diantaranya adalah kewajiban untuk menghormati hak
pasien, memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan
yang akan dilakukan, dan kewajiban untuk meminta persetujuan terhadap
tindakan yang akan dilakukan.
Tenaga kesehatan yang tidak menunaikan hak pasien untuk
memberikan informed consent yang jelas, bisa dikategorikan melanggar
case law (merupakan sifat hukum medik) dan dapat menimbulkan gugatan
dugaan mal praktek. Belakangan ini masalah malpraktek medik (medical
malpractice) yang cenderung merugikan pasien semakin mendapatkan
perhatian dari masyarakat dan sorotan media massa. Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) Kesehatan Pusat di Jakarta mencatat sekitar 150 kasus
malpraktik telah terjadi di Indonesia. Meskipun data tentang malpraktek
yang diakibatkan oleh informed consent yang kurang jelas belum bisa
dikalkulasikan, tetapi kasus-kasus malpraktek baru mulai bermunculan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Informed concent?
2. Apa Peraturan Informed Concent?
3. Bagaimana Penanggung Jawab Informed Concent?
4. Apa Syarat Pasien Memberikan Pernyataan?

5
5. Apa Ketentuan Informed Concent?
6. Apa Manfaat Penjelasan Informed Concent?
7. Apa Hak-hak Pasien dalam Informed Concent?
8. Apa Peran Perawat dalam Pemberian Informed Concent pada Pasien?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang Informed concent.
2. Untuk mengetahui tentang Peraturan Informed Concent.
3. Untuk mengetahui tentang Penanggung Jawab Informed Concent.
4. Untuk mengetahui tentang Syarat Pasien Memberikan Pernyataan.
5. Untuk mengetahui tentang Ketentuan Informed Concent.
6. Untuk mengetahui tentang Manfaat Penjelasan Informed Concent.
7. Untuk mengetahui tentang Hak-hak Pasien dalam Informed Concent.
8. Untuk mengetahui tentang Peran Perawat dalam Pemberian Informed
Concent pada Pasien.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Informed consent adalah lembar persetujuan yang diberikan pada
saat sebelum operasi dan ditanda tangani oleh pasien atau keluarga.
Partisipan berpendapat bahwa informed consent adalah lembar persetujuan
yang diberikan pada saat sebelum operasi dan ditanda tangani oleh pasien
atau keluarga yang merupakan pengesahan dari mereka untuk dilakukan
tindakan medik kepadanya. Hal ini sejalan dengan tinjauan teori yang
mendefinisikan bahwa Informed Consent adalah suatu izin (consent) atau
pernyataan setuju dari pasien yang diberikan dengan bebas dan rasional,
sesudah mendapatkan informasi dari dokter dan yang sudah
dimengertinya. (J. Guwandi, 2004)
Informed consent atau persetujuan tindakan adalah persetujuan
seseorang untuk memperoleh sesuatu yang terjadi (mis. Operasi transfuse
darah, prosedur invasig). (Potter & Perry, 2005)
Informed consent memungkinakan pasien dan keluarga membuat
keputusan berdasarkan informasi penuh tetang fakta. Persetujuan harus
diperoleh dari seseorang yang dapat memahami penjelasan supaya mereka
memahamu benar keputusan yang mereka buat. Perawat harus selalu
mengklalifikasi pemahaman pasien dan keluarga tetang informasi yang
telah diberitahukan kepada mereka untuk memastikan bahwa persetujuan
diberikan berdasarkan informasi kepada meraka untuk memastikan bahwa
persetujuan diberikan berdasarkan informasi yang sebenarnya. Pasien yang
menolak diberikan berdasarkan informasi yang sebenarnya. Pasien yang
menolak suatu tindakan perawatan atau tindakan medis lainnya harus
diinformasikan tetang apapun konsekuensi bahayanya. (Potter & Perry,
2005).

7
B. PERATURAN INFORMED CONSENT
Pelayanan medis di Indonesia mengenaI informed consent telah
tertuang dalam permenkes No. 585 Th. 1989 tentang persetujuan medik,
informed consent didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik
yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut (Dahlan, 2002).
Informed consent melindungi pasien dari pembedahan yang lalai
dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum.
Sebelum pasien menandatangani lembar informed consent, dokter ahli
bedah harus memberikan penjelasan tentang pembedahan yang akan
dijalani pasien, dalam hal ini perawat bertanggung jawab untuk
memastikan pasien telah mendapat penjelasan dan bahwa informed
consent telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter (Smeltzer &
Bare, 2002).

C. PENANGGUNG JAWAB INFORMED CONSENT


Pemberian penjelasan kepada pasien sebelum penandatanganan
informed consent adalah tanggung jawab dokter dan hal ini tidak dapat
didelegasikan kepada perawat. Perawat tidak berwenang dalam
memberikan informasi karena memberikan informasi mengenai suatu
tindakan medik (operasi) termasuk medical care (bidang pengobatan)
hanya dapat dilakukan oleh dokternya sendiri. Perawat tidak
diperbolehkan memberikan informasi mengenai suatu tindakan medik
meskipun pasien yang memintanya. Perawat menjelaskan kepada pasien
bahwa hal tersebut adalah wewenang dokter untuk menjelaskan. (J.
Guwandi, 2004)
Proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan rencana
diberikan oleh perawat dokter maupuan petugas medis lain yang diberikan
wewenang/ delegasi untuk melakukan tindakan medis maupun perawatan.
Pasien berhak bertanya apabila informasi yang diberikan dirasakan masih
belum jelas, pasien berhak meminta pendapat ataupun penjelasan dari

8
semua rencana tindakan yang akan dilakukan dan berhak menolak
tindakan ataupun yang akan dilakukan terhadap dirinya. (Rano, 2008)

D. SYARAT PASIEN MEMBERIKAN PERNYATAAN


Tidak semua pasien boleh memberikan pernyataan, baik setuju
maupun tidak setuju, syarat sesorang pasien berhak memberikan
pernyataan, adalah : pasien tersebut sudah dewasa. Dewasa yang
dimaksudkan disini adalah :
1. Mereka yang telah dianggap bias membuat keputusan secara rasional,
yaitu usia lebih dari 21 tahun
2. Pasien dalam keadaan sadar ( pasien harus dapat diajak komunikasi
secara wajar dan lancer jadi tidak sedang pingsan, coma atau
terganggu kesadarannya karena pengaruh obat, tekanan jiwa dll)
3. Pasien dalam keadaan sehat akal ( keadaan sadar penuh tetang
pikirannya atau tidak gila)
(Potter & Perry, 2005)

Oleh karena itu, yang paling berhak dalam menentukan tindakan


yang akan dilakukan adalah pasien itu sendiri, apabila ia memenuhi tiga
kriteria diatas. Bila dikarenakan suatu hal makan persetujuan tindakan bisa
diwakilkan oleh wali keluarga atau wali hukumnya, bila pasien itu anak-
anak makan orang tuanya, atau paman/ bibinya, atau urutan wali lainnya
yang sah. (Rano, 2008)
Proses pemberian onformasi dna permintaan persetujuan rencana
tindakan bisa saja dilakukan oleh dokter apabila situasi pasien tersebut
dalam kondisi gawat darurat. Dalam kondisi ini tindakan yang dilakukan
adalah tindakan untuk penyelamatan nyawa pasien. Semua tindakan yang
dilakukan tidak berarti kebal hukum karena bila tindakan itu tidak sesuai
dengan standar pelayanan atau prosedur yang berlaku disertai
profesionalisme yang dijunjung tinggi maka pasien ataupun keluarga dapat
mengajukan tututan hukum.

9
E. KETENTUAN INFORMED CONSENT
Menurut Rano (2008) pelaksanaan Informed consent dianggap benar bila
memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Persetujuan atau penolakan tindakan medis dan perawatan diberikan
untuk tindakan medis dan perawatan yang dinyatakan secara spesifik.
2. Persetujuan atau penolakan tindakan medis dan perwatan diberikan
tanpa paksaan
3. Persetujuan atau penolakan tindakan medis dan perawatan diberikan
oleh seseorang(pasien) yang sehat mental dan yang berhak
memberikannya dari segi hukum
4. Persetujaun atau penolakan tindakan medis dan perawatan diberikan
setelah diberikan cukup informasi dan pejelasan yang diperlukan. Jadi
Informed consent adalah suatu ijin atau pernyataan setuju dari pasien
yang diberikan dengan bebas dan rasional sesudah mendapatkan
informasi dari dokter atau perawat dan yang sudah dimengertinya.

F. MANFAAT PENJELASAN INFORMED CONCENT


Informed consent adalah supaya pasien tahu prosedur penanganan
penyakitnya bisa membahayakan atau tidak, serta mendapatkan informasi
tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum operasi. Hal ini agak
berbeda dengan tinjauan teori yang menjelaskan tujuan informed consent
adalah untuk memberikan perlindungan pasien terhadap tindakan dokter
yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar
pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya dan juga
untuk memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu
kegagalan dan bersifat negatif, karena prosedur medik modern tidak tanpa
resiko dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko (inherent
risk). (J. Guwandi, 2004)

10
G. HAK-HAK PASIEN DALAM INFORMED CONSENT

Hak-hak pasien dalam informed consent adalah mendapat


informasi, menerima ganti rugi bila merasa dirugikan, menolak
pengobatan.Partisipan lain mengatakan bahwa hak-hak pasien dalam
informed consent adalah menerima maupun menolak persetujuan.
Konsumen pelayanan kesehatan mempunyai hak umum untuk menentukan
jenis pelayanan kesehatan dan harus bersedia untuk kebutuhan saat ini dan
saat yang akan datang.(http://klinikandalas.wordpress.com/2008/04/25/
menentukan-kehamilan-pasca-operasi-caesar-dan-informed-concent, 2008)

H. PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN INFORMED


CONSENT PADA PASIEN
1. PERAN SEBAGAI ADVOCATE
Peran advokasi dilakukan perawat dalam membantu pasien dan
keluarga dalam menginterpretasi berbagai informasi dari pemberi
layanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan
atas tindakan keperawatan yang diberikan terhadap pasien juga dapat
berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang
meliputi hak oleh pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi
tentang penyakitnya, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak
untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. (M. Dwidiyanti, 2007)
2. PERAN SEBAGAI COUNSELLOR
Counsellor adalah mengatasi tekanan psikologis dengan
mencari penyebab kecemasannya, memberikan keyakinan dalam
mengurangi kecemasan pasien. Konseling adalah proses membantu
pasien untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau
masalah sosial, untuk membangun hubungan interpersonal yang baik,
dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang dimana didalamnya
diberikan dukungan emosional dan intelektual. (Mubarak dan Nur
Chayatin, 2009)

11
3. PERAN SEBAGAI CONSULTANT
Hak pasien dalam menentukan alternatif baginya dalam
memilih tindakan yang tepat dan terbaik serta memposisikan dirinya
sebagai tempat berkonsultasi untuk memecahkan suatu permasalahan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi bagi pasien terhadap
masalah yang dialami atau mendiskusikan tindakan keperawatan yang
tepat untuk diberikan. (Mubarak dan Nur Chayatin, 2009)

12
I. CONTOH LEMBAR INFORMED CONSENT

PERSETUJUA RUMAH SAKIT


“IBNU SINA”
YAYASAN WAKAF UMI
Jl. Urip Sumiharjo Km. 05 No. 264 Telp (0411) 5055103 -
452917 - 452958
Makassar 90231
TINDAKAN KEDOKTERAN
(BEDAH DAN INVASIF)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Alamat  Laki – laki 
Perempuan
Bukti Diri / KTP / SIM / Pasport
Telah mendapat penjelasan dari dokter tentang:
 Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran

 Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan

 Alternatif tindakan lain / perluasan daerah


operasi dan risikonya

 Risiko dan komplikasi yang mungkin


terjadi

13
 Prognosis terhadap tindakan yang mungkin
Dilakukan

Di samping itu dokter juga telah menjelaskan


kepada saya bahwa :

 Tindakan pemberian obat – obatan dan transfusi darah kemungkinan di perlukan


dan semua tindakan ini mengandung resiko
 Operasi atau tindakan tambahan kemungkinan diperlukan jika dokter menemukan
sesuatu yang tak terduga
 Operasi / Tindakan ini kemungkinan tidak memberikan hasil yang sesuai harapan
walaupun sudah dilakukan sesuai standar prosedur yang berlaku

Saya sudah mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan saya sudah mengerti
dan puas dengan penjelasanyang diberikan sehubungan dengan pernyataan -
pernyataan saya, di samping itu jika terjadi kecelakaan seperti tertusuknya jarum
atau alat tajam pada petugas medis selama berlangsungnya tindakan, saya
memberikan izin untuk mengambil darah pasien untuk tes HIV dan penyakit
lainnya yang menularnya melalui darah.
Makassar, .......................... 20..........
Dokter yang memberi penjelasan Pasien /
Keluaraga

_________________________
_________________________
Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya SETUJU untuk
dilakukan operasi atau tindakan medis yang sudah dijelaskan di atas berupa* :
Terhadap diri saya* / Anak* / Istri* / Suami* / Ayah* / Ibu* / Saya

14
.............................................., dengan :
Nama
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin  Laki – laki  Perempuan
Alamat
Dirawat di Perawatan / Kelas /
Kamar
No. Rekam Medik
Demikian persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan

Makassar, .......................... 20..........


Dokter Yang membuat
pernyataan

Tanda tangan & Nama lengkap Tanda tangan & Nama


lengkap

Saksi I Saksi II
(Pihak Rumah Sakit) (Pihak Keluarga
Pasien)
* Isi dengan jenis tindakan medis yang akan dilakukan
 Isi dengan tanda silang (X) atau rumput () jika telah dijelaskan
Bila pasien berusia di bawah 21 tahun atau tidak dapat memberikan persetujuan
karena alasan (*) tidak dapat menandatangani surat di atas, pihak rumak sakit
mengambil kebijaksanaan dengan memperoleh tandatangan dari orang tua,
pasangan, anggota keluarga terdekat atau wali dari pasien.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Informed consent adalah lembar persetujuan yang diberikan
sebelum operasi dan ditanda tangani oleh pasien atau keluarga yang
merupakan pengesahan dari mereka untuk dilakukan tindakan medik
kepadanya. Informed consent melindungi pasien dari pembedahan yang
lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga
hukum. Sebelum pasien menandatangani lembar informed consent, dokter
ahli bedah harus memberikan penjelasan tentang pembedahan yang akan
dijalani pasien, dalam hal ini perawat bertanggung jawab untuk
memastikan pasien telah mendapat penjelasan dan bahwa informed
consent telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter. Pasien yang
menolak suatu tindakan perawatan atau tindakan medis lainnya harus
diinformasikan tetang apapun konsekuensi bahayanya.
Pemberian penjelasan kepada pasien sebelum penandatanganan
informed consent adalah tanggung jawab dokter dan hal ini tidak dapat
didelegasikan kepada perawat. Pasien berhak bertanya apabila informasi
yang diberikan dirasakan masih belum jelas, pasien berhak meminta
pendapat ataupun penjelasan dari semua rencana tindakan yang akan
dilakukan dan berhak menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap
dirinya.
B. Saran
Sebagai seorang tenaga kesehatan hendaknya berhati-hati dalam
melakukan segala tindakan medis dengan selalu melakukan tindakan yang
seharusnya dikerjakan serta tidak melakukan tindakan yang seharusnya
tidak dikerjakan. Hal yang tak kalah penting sebelum melakukan tindakan
kepada pasien adalah selalu meminta persetujuan pasien baik lisan
maupun tertulis, lebih baik lagi jika ada saksi dan bukti dokumentasi agar
terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan

16
DAFTAR PUSTAKA

Guwandi. 2005. HAM dalam Persetujuan Tindakan Medik. Jakarta : FKUI

J. Guwandi. 2004. Tanya-Jawab Persetujuan Tindakan Medik. Edisi kedua.


Jakarta : FKUI.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


290/Menkes/Per/III/ 2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.

Realita, Friska. 2014. Implementasi Persetujuan Tindakan Medis (Informed


Consent) pada Kegiatan Bakti Sosial Kesehatan di Rumah Sakit Islam
Sultan Agung Semarang. Jurnal Involusi Kebidanan 4(7).

Samino. 2014. Analisis Pelaksanaan Informed Consent. Jurnal Kesehatan,


V(1).

Soekanto, Soerjono. 2009. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta,


Universitas Indonesia Press.

Stevani, Windi Patricya. 2016. ”Hubungan Pemberian Informasi Sebelum


Tindakan Operasi dengan Tingkat Kepuasan Keluarga Pasien di
RSUP Prof. Dr.R.D. Kandou Manado.” E-Journal Keperawatan
(EKP) 4 (1)

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.

Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.

17