Anda di halaman 1dari 159

PANDUAN

EDUKASI
PASIEN RAWAT JALAN
PKMRS RSGM UNPAD

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


UNIVERSITAS PAJAJARAN
Melayani dengan Sepenuh Hati
S R SG M U
R N
M
PA
PK

D
EDUKASI TERHADAP PENYAKIT DI KEDOKTERAN GIGI

Disusun Oleh :

160110142022 Cynthia Ngo Zhe Xiin 160110140055 Ramzy Ramadhan 160110140101 Salma Tufahati
160110140015 Sarasti Laksmi Anindita 160110140107 Umi Latifah 160110142010 Preeyanikaa Logonathan
160110140072 Yandi Kusmulyandi 160110110058 Nurul Mukhliza Safely 160110140084 Maghfira Indriawati Iswiningtyas
160110140011 Annisa Ghea Faruchy 160110140051 Miftahul Jannah 160110140021 Putri Sundari
160110140035 Puspitasari 160110142019 Khoo Cher Xing 160110140115 Denta Asnatasia Nurmadhini
Renuka Devi A/P
160110142006 160110140097 Arina Sani Nafisa 160110140075 Nabilla Rifda Arintya
R.Ramakrishnan
Yuyun Qurrota A`Yunina
160110140041 160110140092 Dengah Hadassah Govicar 160110140089 Rio Guntur Maharsi
Rahmi
160110140053 Regi Taufik Firdaus 160110140029 Riandi Verdi 160110140099 Inas Sania Afanina Habib
160110140024 Dwinda Sandyarini Susanto 160110142004 Mike Lim Zin Ming 160110140060 Alveolannisa Cintani Breccianinda
160110140031 Sinta Sondari 160110140013 Jelita Permatasari 160110140114 Ignes Nathania
160110142028 Dinisha A/P Tharmalingam 160112160519 Desyani Shalihah Setiadi 160110142002 Ika Natasha Binti Nasaruddin
160110140119 Nadiya Mujaheda Alwafa 160110140037 Ali Alfatsyah Jihadillah 160110142013 Ng Shin Hui
R.Aj Aulia Maharani
160110140080 Bilqis Quinta Fitriandari 160110140019 160110142007 Ng Jian Ming
Destiarlisa
Pratama Rizkiriandri
160110140111 160112170092 Atina Ghina Imaniyyah 160110140058 Celine Hestiana
Hanivo
160110140086 Indah Dwitasari 160110142014 Soo Ying Yu 160110140087 Fauza Raidha
Adam Nuqman Bin Abd
160110142001 160110142020 Tan Kien Huat 160110140004 Sheilla Fauzia Maretta
Karim
160110140017 Regyana Oktavaria E 160110140048 Dwita Kemala 160110140068 Adha Fatin
Raden Roro Larasati Dyah
160110140033 160110140049 Laurensius Randy Soetono
Utami
160110140078 Dhia Thifal Malihah 160110140026 Kamila Washfanabila

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN GIGI KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2019
1

1. C00 (Malignant neoplasm of lip)


Edukasi pencegahan
 Menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Berhenti atau mengurangi konsumsi rokok
 Berkumur setelah mengonsumsi rokok
 Berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol
 Mengurangi paparan sinar matahari
 Berkonsultasi dengan dokter jika mulai terlihat tanda dan gejala
Edukasi setelah perawatan
 DHE
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab, seperti konsumsi rokok,
alkohol, dll
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

2. C00.0 (Malignant neoplasm : External Upper Lip)


Edukasi pencegahan
 Menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Berhenti atau mengurangi konsumsi rokok
 Berkumur setelah mengonsumsi rokok
 Berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol
 Mengurangi paparan sinar matahari
 Berkonsultasi dengan dokter jika mulai terlihat tanda dan gejala
2

Edukasi setelah perawatan


 DHE
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab, seperti konsumsi rokok,
alkohol, dll
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

3. C00.1 (Malignant neoplasm: External Lower Lip)


Edukasi pencegahan
 Menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Berhenti atau mengurangi konsumsi rokok
 Berkumur setelah mengonsumsi rokok
 Berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol
 Mengurangi paparan sinar matahari
 Berkonsultasi dengan dokter jika mulai terlihat tanda dan gejala
Edukasi setelah perawatan
 DHE
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab, seperti konsumsi rokok,
alkohol, dll
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
3

 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

4. COO.2 (Malignant neoplasm: Exrternal lip, unspecified)


Edukasi pencegahan
 Menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Berhenti atau mengurangi konsumsi rokok
 Berkumur setelah mengonsumsi rokok
 Berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol
 Mengurangi paparan sinar matahari
 Berkonsultasi dengan dokter jika mulai terlihat tanda dan gejala
Edukasi setelah perawatan
 DHE
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab, seperti konsumsi rokok,
alkohol, dll
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

5. C00.3 Malignant Neoplasm : Upper lip, inner aspect


Edukasi pencegahan :
 Edukasi tentang faktor risiko, kondisi prekanker, tanda dan gejala awal
 Berhenti kebiasaan merokok
4

 Berhenti kebiasaan mengonsumsi alkohol


 Melakukan oral self-examination dan melaporkan adanya lesi abnormal
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Menjaga kebersihan mulut
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Luka di bibir atau di mulut yang tidak sembuh.
o Benjolan atau penebalan di bibir atau gusi atau di mulut.
o Bercak putih atau merah pada gusi, lidah, atau lapisan mulut.
o Pendarahan, nyeri, atau mati rasa di bibir atau mulut.
o Gigi atau gigi palsu yang longgar tidak lagi pas.
o Kesulitan mengunyah atau menelan atau menggerakkan lidah atau
rahang.
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik

6. C00.4 Malignant Neoplasm : Lower Lip, inner aspect


Edukasi pencegahan :
 Edukasi tentang faktor risiko, kondisi prekanker, tanda dan gejala awal
 Berhenti kebiasaan merokok
 Berhenti kebiasaan mengonsumsi alkohol
 Melakukan oral self-examination dan melaporkan adanya lesi abnormal
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Menjaga kebersihan mulut
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Luka di bibir atau di mulut yang tidak sembuh.
o Benjolan atau penebalan di bibir atau gusi atau di mulut.
5

o Bercak putih atau merah pada gusi, lidah, atau lapisan mulut.
o Pendarahan, nyeri, atau mati rasa di bibir atau mulut.
o Gigi atau gigi palsu yang longgar tidak lagi pas.
o Kesulitan mengunyah atau menelan atau menggerakkan lidah atau
rahang.
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik

7. C00.5 Malignant Neoplasm : Lip, unspecified, inner aspect


Edukasi pencegahan :
 Edukasi tentang faktor risiko, kondisi prekanker, tanda dan gejala awal
 Berhenti kebiasaan merokok
 Berhenti kebiasaan mengonsumsi alkohol
 Melakukan oral self-examination dan melaporkan adanya lesi abnormal
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Menjaga kebersihan mulut
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Luka di bibir atau di mulut yang tidak sembuh.
o Benjolan atau penebalan di bibir atau gusi atau di mulut.
o Bercak putih atau merah pada gusi, lidah, atau lapisan mulut.
o Pendarahan, nyeri, atau mati rasa di bibir atau mulut.
o Gigi atau gigi palsu yang longgar tidak lagi pas.
o Kesulitan mengunyah atau menelan atau menggerakkan lidah atau
rahang.
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol
6

 Periksa secara rutin ke dokter


 Menjaga pola makan dengan baik

8. C00.6 Malignant Neoplasm : Commisure of Lip


Edukasi pencegahan :
 Edukasi tentang faktor risiko, kondisi prekanker, tanda dan gejala awal
 Berhenti kebiasaan merokok
 Berhenti kebiasaan mengonsumsi alkohol
 Melakukan oral self-examination dan melaporkan adanya lesi abnormal
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Menjaga kebersihan mulut
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Luka di bibir atau di mulut yang tidak sembuh.
o Benjolan atau penebalan di bibir atau gusi atau di mulut.
o Bercak putih atau merah pada gusi, lidah, atau lapisan mulut.
o Pendarahan, nyeri, atau mati rasa di bibir atau mulut.
o Gigi atau gigi palsu yang longgar tidak lagi pas.
o Kesulitan mengunyah atau menelan atau menggerakkan lidah atau
rahang.
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik

9. C00.8 Malignant neoplasm : overlapping lesions of lip


Edukasi Pencegahan :
 Tidak merokok
 Tidak mengonsumsi alcohol
7

 Tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu yang lama
 Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung vitamin
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi Setelah Perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

10. C00.9 Malignant neoplasm : Lip, unspecified


Edukasi Pencegahan :
 Tidak merokok
 Tidak mengonsumsi alcohol
 Tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu yang lama
 Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung vitamin
8

 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik


 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi Setelah Perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

11. C01 Malignant neoplasm of base of tongue


Edukasi Pencegahan :
 Tidak merokok
 Tidak mengonsumsi alcohol
 Tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu yang lama
 Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung vitamin
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
9

o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit


o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi Setelah Perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

12. C02 Malignant neoplasm of other and unspecified parts of tongue


Edukasi Pencegahan :
 Tidak merokok
 Tidak mengonsumsi alcohol
 Tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu yang lama
 Makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung vitamin
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
10

o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan


o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi Setelah Perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab
 Edukasi tentang cara menjaga kebersihan mulut dan sekitarnya
 Edukasi pengurangan waktu dan jumlah terpapar sinar matahari
 Edukasi cara penggunaan obat
 Edukasi dampak atau komplikasi dari perawatan yang dilakukan
 Edukasi mengenai peran tenaga kesehatan lain yang dapat membantu proses
penyembuhan, seperti dokter bedah, radiation oncologist, terapi bicara,
psikologis, dokter bedah plastik, dll

13. C02.0 Malignant Neoplasm : Dorsal surface tongue


Edukasi pencegahan :
 Berhenti merokok.
 Tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Menjaga kebersihan mulut
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Sakit tenggorokan yang berlangsung terus menerus
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benjolan, atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada bagian atas lidah
o Sakit saat menelan
11

o Rasa kebas dalam mulut yang tidak kunjung hilang


o Perdarahan tanpa sebab yang jelas pada lidah
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik
 Mengikuti perawatan dari tim medis dengan baik apabila sudah melakukan
glosektomi (operasi pengangkatan sel kanker pada lidah)

14. C02.1 Malignant Neoplasm : Border of tongue


Edukasi pencegahan
 Berhenti merokok.
 Tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Menjaga kebersihan mulut
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Sakit tenggorokan yang berlangsung terus menerus
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benjolan, atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada lidah
o Sakit saat menelan
o Rasa kebas dalam mulut yang tidak kunjung hilang
o Perdarahan tanpa sebab yang jelas pada lidah
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik
12

 Mengikuti perawatan dari tim medis dengan baik apabila sudah melakukan
glosektomi (operasi pengangkatan sel kanker pada lidah)

15. C02.2 Malignant Neoplasm : Ventral surface of tongue


Edukasi pencegahan
 Berhenti merokok.
 Tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Menjaga kebersihan mulut
 Rutin memeriksakan ke dokter gigi
 Langsung periksa ke dokter gigi apabila terdapat tanda-tanda, seperti :
o Sakit tenggorokan yang berlangsung terus menerus
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benjolan, atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada bagian bawah lidah
o Sakit saat menelan
o Rasa kebas dalam mulut yang tidak kunjung hilang
o Perdarahan tanpa sebab yang jelas pada lidah
Edukasi setelah perawatan
 Berhenti merokok
 Periksa secara rutin ke dokter
 Menjaga pola makan dengan baik
 Mengikuti perawatan dari tim medis dengan baik apabila sudah melakukan
glosektomi (operasi pengangkatan sel kanker pada lidah)

16. C02.3 Malignant neoplasm : Anterior two-thirds of tongue,part


unspecitified
Edukasi pencegahan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman alkohol yang berlebihan
13

 Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A


 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi setelah perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Rutin memeriksakan ke dokter/dokter gigi
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi

17. C02.4 Malignant neoplasm : Lingual tonsil


Edukasi pencegahan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman alkohol yang berlebihan
 Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi setelah perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
14

 Rutin memeriksakan ke dokter/dokter gigi


 Mengkonsumsi makanan yang bergizi

18. C02.8 Malignant neoplasm : overlapping lesion of tongue


Edukasi pencegahan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman alkohol yang berlebihan
 Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik
 Langsung memeriksakan ke dokter/dokter gigi, apabila :
o Terdapat pembengkakan dan rasa sakit
o Sakit atau baal pada daerah setempat atau radier
o Terasa benjolan yang mengganggu pada saat menelan
o Terdapat bercak berwarna merah atau putih, benolan atau sariawan
yang tidak kunjung sembuh pada rongga mulut
Edukasi setelah perawatan :
 Berhenti merokok
 Berhenti mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol
 Rutin memeriksakan ke dokter/dokter gigi
 Mengkonsumsi makanan yang bergizi

19. C02.9 Malignant neoplasm: Tongue, unspecified


Edukasi pencegahan:
 Hindari merokok dan menggunakan tembakau
 Mengurangi minum alkohol
 Vaksin HPV
 Hindari seks oral
Edukasi setelah perawatan:
15

 Periksa kesehatan gigi dan mulut secara teratur

20. C03 Malignant neoplasm of gums


Edukasi pencegahan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
 Hindari minum minuman beralkohol
 Berolahraga secara teratur
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Edukasi setelah perawatan:
 Makan makanan anti kanker
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
 Periksa gigi ke dokter gigi

21. C03.1 Malignant neoplasm: Upper gums


Edukasi pencegahan:
 Jangan merokok
 Jangan mengonsumsi alcohol
Edukasi setelah perawatan:
 Menjaga kesehatan mulut
 Berolahraga secara teratur
 Makan makanan yang sehat

22. C03.1 Malignant Neoplasm : Lower gum


Edukasi pencegahan dan edukasi setelah perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi sistem
16

kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan kanker.


Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan bersihkan gigi
dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat merusak
paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut menjadi
asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker mulut.
Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti bersirih
menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkohol
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alcohol.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh, termasuk
kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk makan
banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji rami,
bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah kanker.
Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan kanker yang
tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
17

Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin setidaknya
setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining kanker mulut
agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan kanker
mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan membuka
mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian mulut,
termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.

23. C03.9 Malignant Neoplasm, Gum Unspecified


Edukasi pencegahan dan edukasi setelah perawatan:
 Selalu sikat gigi dan flosing minimal 2x sehari
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
 Hindari minuman beralkohor
 Makan makanan yang mengandung antioxidant seperti sayur dan buah
 Rutin periksa gigi min 6 bulan sekali ke dokter gigi
 Melakukan pemeriksaan sendiri
 Segera hubungin dokter jika terdapat luka atau sariawan yang tidak kunjung
sembuh

24. C04 Malignant Neoplasm of floor of mouth


Edukasi pencegahan dan edukasi setelah perawatan:
 Selalu sikat gigi dan flosing minimal 2x sehari
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
 Hindari minuman beralkohor
 Makan makanan yang mengandung antioxidant seperti sayur dan buah
 Rutin periksa gigi min 6 bulan sekali ke dokter gigi
 Melakukan pemeriksaan sendiri
18

 Segera hubungin dokter jika terdapat luka atau sariawan yang tidak kunjung
sembuh

25. C04.0 Malignant Neoplasm of Anterior Floor of Mouth


Edukasi pencegahan dan edukasi setelah perawatan:
 Selalu sikat gigi dan flosing minimal 2x sehari
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
 Hindari minuman beralkohor
 Makan makanan yang mengandung antioxidant seperti sayur dan buah
 Rutin periksa gigi min 6 bulan sekali ke dokter gigi
 Segera hubungin dokter jika terdapat luka atau sariawan yang tidak kunjung
sembuh
 Hentikan penggunaan protesa yang tidak sesuai/ melukai jaringan mulut

26. C04.1 : Maglinant neoplasm lateral floor of mouth


Edukasi tentang pencegahan
 Minum air putih yang banyak untuk mencegah terjadi nya dehidrasi.
 Hindari makanan asam.
 Menjaga kebersihan mulut dengan baik.
 Rajin cuci tangan dengan baik dan benar.
 Berkumur dengan air garam.
 Tidak merokok atau penggunaan tembakau apapun.
Edukasi setelah perawatan:
 Minum air putih yang banyak.
 Menjaga oral hygiene dengan baik.
 Menyikat gigi 2 kali sehari

27. C04.8 : Maglinant neoplasm overlapping lesion of floor mouth


19

Edukasi tentang pencegahan


 Minum air putih yang banyak untuk mencegah terjadi nya dehidrasi.
 Menjaga kebersihan mulut dengan baik.
 Berkumur dengan air garam hangat.
 Tidak merokok atau penggunaan tembakau apapun.
Edukasi setelah perawatan:
 Minur air putih yang banyak.
 Menjaga oral hygiene dengan baik.
 Menyikat gigi 2 kali sehari
 Bersihkan bekas luka supaya tidak infeksi

28. C04.9 : Maglinant neoplasm floor of mouth unspecified


Edukasi tentang pencegahan
 Minum 8 hingga 10 gelas air setiap hari dengan lemon untuk menstimulasi
air liur dan menjaga kelenjar tetap bersih.
 Menjaga kebersihan mulut dengan baik.
 Berkumur dengan air garam hangat.
 Tidak merokok atau penggunaan tembakau apapun.
Edukasi setelah perawatan:
 Minum air putih yang banyak.
 Menjaga oral hygiene dengan baik.
 Menyikat gigi 2 kali sehari
 Bersihkan bekas luka supaya tidak infeksi

29. C05 : Maglinant neoplasm of palate


Edukasi tentang pencegahan:
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi 2 kali sehari.
20

 Berhenti dari kebiasaan mengisap bibir bagian bawah, mengigit pipi atau
bibir agar saluran air luir tersebut tidak mengalami sumbatan atau kerusakan.
 Berkonsultasi dengan dokter gigi mengenai keluhan terkait.
 Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan pada rongga mulut agar dapat
mengetahui penyebab dari mukokel tersebut secara pasti.
 Perbanyak minum air putih.
 Berkumur dengan air garam hangat 3-4 kali.
Edukasi setelah perawatan:
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab berupa kebiasaan menggigit
bibir.
 Edukasi tentang control plak (edukasi, motivasi dan instruksi)
 DHE
 Seteleh pembedahan (eksisi / insisi), di berikan post medikasi berupa
antibiotik dan analgesic.
 Tidak bermain dengan lidah di bagian yang telah dioperasi.

30. C05.0 Malignant Neoplasma: Hard Palate


Edukasi Pencegahan
 Tidak merokok
Merokok Merokok dan penggunaan tembakau seperti menginang
berkaitandengan sekitar 75% kasus kanker mulut, disebabkan oleh iritasi
mukosamulut dari rokok dan panas saat menghisap rokok atau cerutu.
Tembakaumengandung karsinogenik yang poten seperti nitrosamine
(nicotine), polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrosodicthanolamine,
nitrosoprolinedan polonium.
 Tidak mengonsumsi Alkohol
Tiga dari empat orang yang menderita kanker mulut, termasuk tumor palatum
dan tenggorokan sering mengkonsumsi alkohol. Orang yangsering minum
21

alkohol memiliki resiko 6 kali lebih besar terjadinyakanker rongga mulut.


Sedangkan orang yang minum alkohol danmerokok memiliki resiko yang
lebih besar dibandingkan dengan orangyang hanya menggunakan tembakau.
Penggunaan alkohol dan tembakaumempunyai efek sinergistik. Alkohol
sebagai suatu zat yangmemberikan iritasi, secara teori menyebabkan
terjadinya pembakaranterus-menerus dan meningkatkan permeabilitas selaput
lendir. Hal inimenyebabkan penyerapan zat karsinogen yang ada di alkohol
maupuntembakau.
 Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV
Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV terutama tipe 16,
merupakan faktor resiko dan faktor penyebab kanker mulut (Gilsion dkk.
Johns Hopkins). Kanker oralkarena virus ini cenderung pada tonsil dan
peritonsil, dasar lidah danorofaring.
 Oral higiene harus baik
OH yang jelek jelek meningkatkan resiko terjadinya infeksi kronis yang dapat
menyebabkan transformasi sel epitel. Iritasi kronis dari tambalan gigi, gigi
yang tajam atau alat yang lain diduga dapatmeningkatkan resiko.
Edukasi setelah perawatan:
 Edukasi setelah terjaid kangker dapat dilakukan dengan memberikan
penjelasan bahwa tidak boleh merokok, mengonsumsi alkohol karena dapat
mencetuskan kembali keganasan neoplasma pada rongga mulut. Rutin ke
dokter gigi untuk sekedar scaling dan pemeriksaan rongga mulut dapat
dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi kembali. Keadaan rongga mulut harus
baik terutama OH dengan menyikat gigi secara teratur dan dengan gerakan
yang tepat dapat memperbaiki oral hygiene

31. C05.1 Malignant Neoplasma: Soft Palate


Edukasi Pencegahan:
22

 Tidak merokok
Merokok Merokok dan penggunaan tembakau seperti menginang
berkaitandengan sekitar 75% kasus kanker mulut, disebabkan oleh iritasi
mukosamulut dari rokok dan panas saat menghisap rokok atau cerutu.
Tembakaumengandung karsinogenik yang poten seperti nitrosamine
(nicotine), polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrosodicthanolamine,
nitrosoprolinedan polonium.
 Tidak mengonsumsi Alkohol
Tiga dari empat orang yang menderita kanker mulut, termasuk tumor palatum
dan tenggorokan sering mengkonsumsi alkohol. Orang yangsering minum
alkohol memiliki resiko 6 kali lebih besar terjadinyakanker rongga mulut.
Sedangkan orang yang minum alkohol danmerokok memiliki resiko yang
lebih besar dibandingkan dengan orangyang hanya menggunakan tembakau.
Penggunaan alkohol dan tembakaumempunyai efek sinergistik. Alkohol
sebagai suatu zat yangmemberikan iritasi, secara teori menyebabkan
terjadinya pembakaranterus-menerus dan meningkatkan permeabilitas selaput
lendir. Hal inimenyebabkan penyerapan zat karsinogen yang ada di alkohol
maupuntembakau.
 Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV
Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV terutama tipe 16,
merupakan faktor resiko dan faktor penyebab kanker mulut (Gilsion dkk.
Johns Hopkins). Kanker oralkarena virus ini cenderung pada tonsil dan
peritonsil, dasar lidah danorofaring.
 Oral higiene harus baik
OH yang jelek jelek meningkatkan resiko terjadinya infeksi kronis yang dapat
menyebabkan transformasi sel epitel. Iritasi kronis dari tambalan gigi, gigi
yang tajam atau alat yang lain diduga dapatmeningkatkan resiko.
Edukasi setelah perawatan:
23

 Edukasi setelah terjaid kangker dapat dilakukan dengan memberikan


penjelasan bahwa tidak boleh merokok, mengonsumsi alkohol karena dapat
mencetuskan kembali keganasan neoplasma pada rongga mulut. Rutin ke
dokter gigi untuk sekedar scaling dan pemeriksaan rongga mulut dapat
dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi kembali. Keadaan rongga mulut harus
baik terutama OH dengan menyikat gigi secara teratur dan dengan gerakan
yang tepat dapat memperbaiki oral hygiene

32. C05.2 Malignant Neoplasma: Uvula


Edukasi Pencegahan
 Tidak merokok
Merokok Merokok dan penggunaan tembakau seperti menginang
berkaitandengan sekitar 75% kasus kanker mulut, disebabkan oleh iritasi
mukosamulut dari rokok dan panas saat menghisap rokok atau cerutu.
Tembakaumengandung karsinogenik yang poten seperti nitrosamine
(nicotine), polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrosodicthanolamine,
nitrosoprolinedan polonium.
 Tidak mengonsumsi Alkohol
Tiga dari empat orang yang menderita kanker mulut, termasuk tumor palatum
dan tenggorokan sering mengkonsumsi alkohol. Orang yangsering minum
alkohol memiliki resiko 6 kali lebih besar terjadinyakanker rongga mulut.
Sedangkan orang yang minum alkohol danmerokok memiliki resiko yang
lebih besar dibandingkan dengan orangyang hanya menggunakan tembakau.
Penggunaan alkohol dan tembakaumempunyai efek sinergistik. Alkohol
sebagai suatu zat yangmemberikan iritasi, secara teori menyebabkan
terjadinya pembakaranterus-menerus dan meningkatkan permeabilitas selaput
lendir. Hal inimenyebabkan penyerapan zat karsinogen yang ada di alkohol
maupuntembakau.
24

 Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV


Infeksi HPV (Human Papilloma Virus)Infeksi HPV terutama tipe 16,
merupakan faktor resiko dan faktor penyebab kanker mulut (Gilsion dkk.
Johns Hopkins). Kanker oralkarena virus ini cenderung pada tonsil dan
peritonsil, dasar lidah danorofaring.
 Oral higiene harus baik
OH yang jelek jelek meningkatkan resiko terjadinya infeksi kronis yang dapat
menyebabkan transformasi sel epitel. Iritasi kronis dari tambalan gigi, gigi
yang tajam atau alat yang lain diduga dapatmeningkatkan resiko.
Edukasi setelah perawatan:
 Edukasi setelah terjaid kangker dapat dilakukan dengan memberikan
penjelasan bahwa tidak boleh merokok, mengonsumsi alkohol karena dapat
mencetuskan kembali keganasan neoplasma pada rongga mulut. Rutin ke
dokter gigi untuk sekedar scaling dan pemeriksaan rongga mulut dapat
dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi kembali. Keadaan rongga mulut harus
baik terutama OH dengan menyikat gigi secara teratur dan dengan gerakan
yang tepat dapat memperbaiki oral hygiene

33. C05.8 Malignant neoplasm: Overlapping lesion of palate


Edukasi pencegahan :
 Hindari merokok dan asap rokok
 Bersihkan rongga mulut
 Bersihkan protesa gigi palsu atau orthodonti agar tidak terjadi iritasi
 Hindari minum minuman beralkohol
 Hindari makanan tinggi lemak, makanan instant yang mengandung pengawet
dan bahan pewarna
 Hindari stres dan konflik berkepanjangan
Edukasi setelah perawatan :
25

 Olahraga secara teratur agar meningkatkan kekebalan tubuh


 Kurangi makanan olahan dengan pengawet
 Kurangi makanan yang digoreng
 Nutrisi yang tepat dengan banyak makan buah dan sayur
 Minumlah air murni yang sudah melalui proses penyaringan

34. C05.9 Malignant neoplasm: Palate, unspecified


Edukasi pencegahan :
 Hindari kebiasaan merokok dan asap rokok
 Jaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi terarur
 Bersihkan protesa gigi palsu atau orthodonti agar tidak terjadi iritasi
 Hindari minum minuman beralkohol
 Hindari makanan tinggi lemak, makanan instant yang mengandung pengawet
dan bahan pewarna
 Hindari stres dan konflik berkepanjangan
Edukasi setelah perawatan :
 Olahraga secara teratur agar meningkatkan kekebalan tubuh
 Kurangi makanan olahan dengan pengawet
 Kurangi makanan yang digoreng
 Nutrisi yang tepat dengan banyak makan buah dan sayur
 Minumlah air murni yang sudah melalui proses penyaringan

35. C06 Malignant neoplasm of other and unspecified parts of mouth


Edukasi pencegahan :
 Hindari kebiasaan merokok dan asap rokok
 Jaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi terarur
 Bersihkan protesa gigi palsu atau orthodonti agar tidak terjadi iritasi
 Hindari minum minuman beralkohol
26

 Hindari makanan tinggi lemak, makanan instant yang mengandung pengawet


dan bahan pewarna
 Hindari stres dan konflik berkepanjangan
Edukasi setelah perawatan :
 Olahraga secara teratur agar meningkatkan kekebalan tubuh
 Kurangi makanan olahan dengan pengawet
 Kurangi makanan yang digoreng
 Nutrisi yang tepat dengan banyak makan buah dan sayur
 Minumlah air murni yang sudah melalui proses penyaringan

36. C06.0 Malignant neoplasm: Cheek mucosa


Edukasi pencegahan :
 Hindari kebiasaan merokok dan asap rokok
 Hindari kebiasaan mengunyah campuran daun pinang, daun sirih, kapur dan
tembakau
 Jaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi terarur
 Hindari tambalan gigi yang menyebabkan iritasi seperti rusak atau tambalan
yang berlebih
 Jangan membiarkan gigi berlubang dan akar gigi pada rongga mulut
 Hindari makanan tinggi lemak, makanan instant yang mengandung pengawet
dan bahan pewarna
 Hindari stres dan konflik berkepanjangan
Edukasi setelah perawatan :
 Olahraga secara teratur agar meningkatkan kekebalan tubuh
 Kurangi makanan olahan dengan pengawet
 Kurangi makanan yang digoreng
 Nutrisi yang tepat dengan banyak makan buah dan sayur
 Minumlah air murni yang sudah melalui proses penyaringan
27

37. C06.1 Malignant Neoplam : Vestibule of mouth


Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
28

The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk


makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.

38. C06.2 Malignant neoplasm : Retromolar area


Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
29

 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau


Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
30

menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk


bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.

39. C06.8 Malignant neoplasm : Overlapping lesion of other and unspecified


parts of mouth
Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
31

Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya


kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
32

Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan


kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.

40. C06.9 Malignant neoplasm : Mouth, unspecified


Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
33

 Berolahraga secara teratur


Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.

41. C07 Malignant Neoplam : of Perotid Gland


Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
34

Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan


menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
35

kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan


kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.
Edukasi Setelah perawatan
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah Operasi
 Berikan makanan cair, setelah 1 minggu kemudian berubah menjadi semi
cair,
36

 Perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker rongga mulut,
apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau keunguan dan
semakin memburuk, segera laporkan ke dokter.
 Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara,
tidak dapar mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu diteliti ada
tidaknya gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang, nasal inflamasi, dan
gejala penyumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera
laporkan pada dokter.
 Sumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera laporkan pada
dokter.

42. C08 Malignant of Neoplasm : of other and Unspecified Major Salivary


Glands
Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
37

Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya


kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
38

Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan


kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.
Edukasi Setelah perawatan
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah Operasi
 Berikan makanan cair, setelah 1 minggu kemudian berubah menjadi semi
cair,
 Perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker rongga mulut,
apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau keunguan dan
semakin memburuk, segera laporkan ke dokter.
 Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara,
tidak dapar mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu diteliti ada
tidaknya gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang, nasal inflamasi, dan
gejala penyumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera
laporkan pada dokter.
 Sumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera laporkan pada
dokter.

43. C08.0 Malignant of Neoplasm: Submandibular Gland


39

Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:


 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya
kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
40

The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk


makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan
kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.
Edukasi Setelah perawatan
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah Operasi
41

 Berikan makanan cair, setelah 1 minggu kemudian berubah menjadi semi


cair,
 Perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker rongga mulut,
apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau keunguan dan
semakin memburuk, segera laporkan ke dokter.
 Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara,
tidak dapar mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu diteliti ada
tidaknya gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang, nasal inflamasi, dan
gejala penyumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera
laporkan pada dokter.
 Sumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera laporkan pada
dokter.

44. C08.1 Malignant of Neoplasm: Sublingual Gland


Edukasi Pencegahan dan Setelah Perawatan:
 Selalu sikat dan flossing secara teratur
Risiko berkembangnya sel kanker pada mulut dapat dikurangi dengan
menjaga kesehatan mulut. Kondisi mulut yang tidak sehat mengurangi
sistem kekebalan tubuh dan menghambat kemampuan tubuh untuk melawan
kanker. Gosoklah gigi Anda secara teratur minimal 2 kali sehari dan
bersihkan gigi dengan benang khusus (flossing).
 Jangan merokok atau mengunyah produk tembakau
Nikotin yang terkandung dalam produk tembakau bukan hanya dapat
merusak paru-paru tetapi juga mulut. Nikotin akan membuat kondisi mulut
menjadi asam dan tidak sehat, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker
mulut. Berhentilah merokok atau mengunyah produk tembakau seperti
bersirih menggunakan tembakau.
 Hindari minum minuman beralkoho
42

Risiko mengembangkan kanker mulut akan meningkat seiring meningkatnya


kuantitas dan lamanya seseorang mengonsumsi alkohol.
 Batasi ekspos terhadap sinar matahari
Gunakan perlindungan terhadap sinar matahari pada bibir Anda ketika
berada di bawah sinar matahari. Paparan sinar matahari yang berulang dapat
meningkatkan risiko kanker pada bibir, terutama bibir bagian bawah.
Pilihlah produk lipstik atau pelembab bibir yang mengandung tabir surya
untuk penggunaan sehari-hari.
 Berolahraga secara teratur
Gaya hidup yang aktif dan sehat diketahui dapat meningkatkan sistem
kekebalan tubuh dan membantu mencegah kanker di seluruh tubuh,
termasuk kanker mulut.
 Makan makanan anti kanker
The American Institute for Cancer Research merekomendasikan untuk
makan banyak kacang-kacangan, buah, sayuran berdaun hijau gelap, biji
rami, bawang putih, anggur, teh hijau, kedelai dan tomat untuk mencegah
kanker. Diet dan pemenuhan nutrisi telah menjadi metode pencegahan
kanker yang tepat.
 Kurangi mengolah makanan dengan menggoreng
Ganti cara pengolahan makanan dengan menggoreng dan memanggang
menjadi merebus atau mengukus. Gunakan bumbu sehat seperti bubuk
bawang putih, jahe dan kunyit untuk menambah rasa.
 Periksa gigi
Periksakan kondisi gigi dan mulut Anda ke dokter gigi secara rutin
setidaknya setiap enam bulan sekali dan meminta untuk dilakukan skrining
kanker mulut agar dapat mendeteksi kanker sejak dini.
 Melakukan pemeriksaan sendiri
43

Sama seperti memeriksa kemungkinan kanker payudara, kemungkinan


kanker mulut juga dapat diperiksa sendiri di rumah. Caranya adalah dengan
membuka mulut lebar-lebar di depan cermin dan memeriksa seluruh bagian
mulut, termasuk bagian belakang dan sisi-sisi lidah.
Edukasi Setelah perawatan
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah Operasi
 Berikan makanan cair, setelah 1 minggu kemudian berubah menjadi semi
cair,
 Perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker rongga mulut,
apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau keunguan dan
semakin memburuk, segera laporkan ke dokter.
 Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara,
tidak dapar mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu diteliti ada
tidaknya gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang, nasal inflamasi, dan
gejala penyumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera
laporkan pada dokter.
 Sumbatan saluran nafas lainnya pada pasien kanker, segera laporkan pada
dokter.
44

45. C08.8 Malignant of Neoplasm: Overlapping Lesion of Major Salivary


Glands
Edukasi Pencegahan
 Menjaga kesehatan dan kebersihan rongga mulut, dengan cara menggosok
gigi dua kali sehari. Lakukan pada pagi hari setelah makan dan malam
sebelum tidur.
 Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride agar gigi dapat terhindar dari
karies.
 Rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.
 Segera melakukan penambalan apabila terdapat lubang pada gigi.
 Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mengunyah
tembakau, minuman beralkohol.
 Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
Edukasi Setelah perawatan
 Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.

46. C08.9 Malignant of Neoplasm: Major Salivary Glands, unspecified


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kesehatan dan kebersihan rongga mulut, dengan cara menggosok
gigi dua kali sehari. Lakukan pada pagi hari setelah makan dan malam
sebelum tidur.
45

 Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride agar gigi dapat terhindar dari
karies.
 Rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.
 Segera melakukan penambalan apabila terdapat lubang pada gigi.
 Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mengunyah
tembakau, minuman beralkohol.
 Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
Edukasi Setelah perawatan
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah Operasi
 Setelah operasi pasien kanker rongga mulut diberikan makanan cair, setelah
satu minggu kemudian berubah menjadi semi-cair.
 Bagi pasien-pasien yang mendapat perawatan biasanya tidak dapat
mentoleransi rasa pasta gigi yang biasa dipakainya sehingga dianjurkan untuk
mengganti pasta gigi dengan rasa yang lain. Dianjurkan juga untuk tetap
melakukan dental floss seperti biasa, namun jika didapati bagian gusi yang
mudah berdarah sebaiknya daerah tersebut dihindari sampai daerah gusi
tersebut kembali normal.
 Menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung gel
fluoride, berkumur dengan larutan baking soda dicampur sedikit garam dan
kemudian dikumur dengan air biasa.
46

 Makan sesuai dengan aturan diet yang dianjurkan (tinggi serat dari buah dan
sayuran) dan menghentikan konsumsi tembakau dan alkohol serta melakukan
pemeriksaan kesehatan yang teratur untuk mendukung keberhasilan dan
keberlanjutan pengobatan.

47. C.14 Malignant Neoplasm of other and ill-defined sites in the lip, oral
cavity, and pharynx
Edukasi Pencegahan :
 Tembakau
Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mengunyah
tembakau, yang dapat memicu terjadinya keganasan pada mulut. Peranan
tembakau merupakan faktor etiologi pada perkembangan kanker di rongga
mulut.
 Alkohol
 Penyebab kanker rongga mulut juga berhubungan dengan kebiasaan minum
minuman keras yang kuat. Peningkatan konsumsi alkohol berhubungan
dengan meningkatnya resiko terserang tumor ganas di rongga mulut.
 Diet
Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
 Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Menjaga kesehatan dan kebersihan rongga mulut, dengan cara menggosok
gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung
fluoride agar gigi terhindar dari karies dan lakukan pada pagi hari setelah
makan dan malam sebelum tidur, rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi
minimal enam bulan sekali, dan segera melakukan penambalan apabila
terdapat lubang pada gigi. Kebersihan mulut yang buruk, restorasi yang tidak
tepat, tepi gigi-gigi yang tajam dan gigi tiruan yang longgar sering kali
merupakan faktor etiologi. Iritasi yang berulang karena tepi yang tajam dari
47

gigi yang patah, tambalan atau gigi palsu dapat merupakan resiko tambahan
untuk terjadinya kanker di rongga mulut. Agar gigi terhindar dari karies dan
lakukan pada pagi hari setelah makan dan malam sebelum tidur, rutin
melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali, dan segera
melakukan penambalan apabila terdapat lubang pada gigi. Kebersihan mulut
yang buruk, restorasi yang tidak tepat, tepi gigi-gigi yang tajam dan gigi
tiruan yang longgar dan iritasi yang berulang karena tepi yang tajam dari gigi
yang patah, tambalan atau gigi palsu dapat merupakan resiko tambahan
terjadinya penyakit.
 Mengamati Tanda-Tanda Fisik
Periksa mulut Anda secara teratur. Meskipun tidak semuanya, sebagian besar
kanker mulut dan tenggorokan menunjukkan tanda atau gejala yang dapat
dikenali sejak dini. Dalam beberapa kasus, kanker tidak menyebabkan gejala
hingga mencapai stadium lanjut. Terlepas dari itu, selain pemeriksaan rutin,
dokter dan dokter gigi menganjurkan untuk mengamati adanya tanda-tanda
abnormal pada mulut Anda menggunakan cermin paling tidak sebulan sekali.
Edukasi pasca perawatan :
Menjaga kesehatan rongga mulut selama radiasi dan kemoterapi :
 Menghilangkan dan perawatan semua infeksi (endodontik, kalkulus, karies)
 Pembuatan cast untuk melindungi bagian jaringan keras dan lunak lain saat
melakukan radiasi
 Selama radiasi melakukan perawatan ke dokter gigi sekurang-kurangnya
seminggu sekali
 Post radiasi : mengurangi xerostomia dengan perbanyak air minum atau
menggunakan saliva buatan.
Setelah operasi :
 Setelah operasi pasien kanker rongga mulut diberikan makanan cair, setelah
satu minggu kemudian berubah menjadi semi-cair.
48

 Setelah operasi perhatikan warna, suhu dan elastisitas flap pasien kanker
rongga mulut, apabila suhu flap menurun, menunjukkan warna hijau
keunguan dan semakin memburuk, segera melaporkan ke dokter.
 Secara tepat waktu menghisap keluar sekresi dimulut, hidung dan
kerongkongan pasien kanker rongga mulut, demi menjaga kelancaran
saluran pernafasan.
 Apabila pasien kanker rongga mulut setelah operasi tidak dapat berbicara,
tidak dapat mengatakan gejala tidak enak yang dirasakan, perlu secara teliti
mengamati ada tidaknya gejala dysphoria (cemas, gelisah, tidak tenang),
nasal inflamasi dan gejala penyumbatan saluran pernafasan lainnya pada
pasien kanker rongga mulut dan segera melaporkan kepada dokter.

48. D.00 Carcinoma in situ of oral cavity, oesophagus, and stomach


Edukasi pencegahan :
 Menjaga kesehatan dan kebersihan rongga mulut, dengan cara menggosok
gigi dua kali sehari. Lakukan pada pagi hari setelah makan dan malam
sebelum tidur.
 Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride agar gigi dapat terhindar dari
karies.
 Rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.
 Segera melakukan penambalan apabila terdapat lubang pada gigi.
 Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mengunyah
tembakau, minuman beralkohol.
 Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
Edukasi pasca perawatan :
 Setelah operasi pasien kanker rongga mulut diberikan makanan cair, setelah
satu minggu kemudian berubah menjadi semi-cair.
49

 Bagi pasien-pasien yang mendapat perawatan biasanya tidak dapat


mentoleransi rasa pasta gigi yang biasa dipakainya sehingga dianjurkan
untuk mengganti pasta gigi dengan rasa yang lain. Dianjurkan juga untuk
tetap melakukan dental floss seperti biasa, namun jika didapati bagian gusi
yang mudah berdarah sebaiknya daerah tersebut dihindari sampai daerah
gusi tersebut kembali normal.
 Menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung gel
fluoride, berkumur dengan larutan baking soda dicampur sedikit garam dan
kemudian dikumur dengan air biasa.
 Makan sesuai dengan aturan diet yang dianjurkan (tinggi serat dari buah dan
sayuran) dan menghentikan konsumsi tembakau dan alkohol serta
melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur untuk mendukung
keberhasilan dan keberlanjutan pengobatan.

49. D.00.0 Carcinoma in situ : lip, oral cavity and pharynx


Edukasi pencegahan :
 Menjaga kesehatan dan kebersihan rongga mulut, dengan cara menggosok
gigi dua kali sehari. Lakukan pada pagi hari setelah makan dan malam
sebelum tidur.
 Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride agar gigi dapat terhindar dari
karies.
 Rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.
 Segera melakukan penambalan apabila terdapat lubang pada gigi.
 Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok, mengunyah
tembakau, minuman beralkohol.
 Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
Edukasi pasca perawatan :
Setelah operasi :
50

 Setelah operasi pasien kanker rongga mulut diberikan makanan cair, setelah
satu minggu kemudian berubah menjadi semi-cair.
 Bagi pasien-pasien yang mendapat perawatan biasanya tidak dapat
mentoleransi rasa pasta gigi yang biasa dipakainya sehingga dianjurkan
untuk mengganti pasta gigi dengan rasa yang lain. Dianjurkan juga untuk
tetap melakukan dental floss seperti biasa, namun jika didapati bagian gusi
yang mudah berdarah sebaiknya daerah tersebut dihindari sampai daerah
gusi tersebut kembali normal.
 Menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung gel
fluoride, berkumur dengan larutan baking soda dicampur sedikit garam dan
kemudian dikumur dengan air biasa.
 Makan sesuai dengan aturan diet yang dianjurkan (tinggi serat dari buah dan
sayuran) dan menghentikan konsumsi tembakau dan alkohol serta
melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur untuk mendukung
keberhasilan dan keberlanjutan pengobatan.

ICD10 : D10 Benign Neoplasm of Mouth and Pharynx


50. D11.0 Benign Neoplasm: Lip
Edukasi Pencegahan
 Menggunakan produk pelindung bibir yang mengandung sunscreen
Penggunaan lipbalm/lipstick yang mengandung UV protection terbukti
mengurangi risiko terkena kanker pada bibir. Banyak orang tidak menyadari
betapa pentingnya penggunaan UV protector, mengingat bibir merupakan
salah satu bagian yang paling sering terpapar sinar matahari sepanjang hari.
Gunakan UV protector dengan SPF 50+++ dan digunakan cukup tebal serta
pemakaian ulang setiap 2 jam sekali.
 Menghindari penggunaan lipstick berbahan dasar karsinogenik
51

Beberapa lipstick yang beredar mengandung bahan dasar berbahaya seperti


timbal (Pb) yang bersifat karsinogenik. Periksa kandungan dasar lipstick,
pastikan tidak mengandung logam berbahaya.
 Menghindari kebiasaan mengelupas bibir kering
Apabila bibir terasa kering, perbanyak meminum air mineral dan gunakan
pelembab bibir. Hindari kebiasaan menjilat bibir agar tetap basah yang malah
membuat bibi semakin kering.
 Menjaga kesehatan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Pastikan bibir bersih dari sisa
makanan, dengan cara dibasuh air saat setelah menggosok gigi.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali
Periksakan kesehatan gigi dan mulut pada dokter gigi minimal 6 bulan sekali,
untuk menghindari diagnosis terlambat akan penyakit mulut
 Memakan makanan anti kanker
Makan makanan dengan gizi seimbang. Perbanyak memakan buah dan sayur
dengan antioksida tinggi. Hindari mengonsumsi makanan yang diolah dengan
cara dibakar pada api langsung yang dapat menjadi penyebab kanker.
 Menerapkan pola hidup sehat
Selain memakan makanan sehat dan bergizi seimbang, lakukan olahraga rutin
dan juga mengatur pola tidur yang cukup. Jangan biarkan tubuh terlalu lelah
dan hindari stress. Hindari penggunaan alkohol dan obat-obatan yang tidak
diresepkan dokter.
 Hindari rokok
Rokok merupakan salah satu pemicu berkembangnya kanker pada bibir dan
mulut
Edukasi setelah perawatan:
 Asupan gizi dan cairan yang cukup
52

Saat melakukan perawatan radioterapi banyal efek samping yang mungkin


terjadi pada pasien. Pasien diminta untuk selalu menjaga kesehatan tubuhnya
dengan cara asupan gizi yang baik untuk membantu perbaikan jaringan. Selain
itu, perbanyak meminum air mineral untuk mengganti cairan tubuh yang
berkurang. Perbanyak memakan buah dan sayuran antioksidan tinggi.
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Apabila terdapat luka pada bibir,
jangan biarkan luka terbuka.
 Memakan obat-obatan yang disarankan dokter
Obat membantu proses penyembuhan dan menghindari keluhan dari efek
samping yang mungkin terjadi pasca perawatan.
 Pola hidup sehat
Lakukan dengan “CERDIK”, yaitu Cek Rutin Kesehatan, Enyahkan Asap
Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stress.

51. D10.1 Benign Neoplasm: Tongue


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kesehatan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Pastikan bibir bersih dari sisa
makanan, dengan cara dibasuh air saat setelah menggosok gigi.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali
Periksakan kesehatan gigi dan mulut pada dokter gigi minimal 6 bulan sekali,
untuk menghindari diagnosis terlambat akan penyakit mulut
 Memakan makanan anti kanker
53

Makan makanan dengan gizi seimbang. Perbanyak memakan buah dan sayur
dengan antioksida tinggi. Hindari mengonsumsi makanan yang diolah dengan
cara dibakar pada api langsung yang dapat menjadi penyebab kanker.
 Menerapkan pola hidup sehat
Selain memakan makanan sehat dan bergizi seimbang, lakukan olahraga rutin
dan juga mengatur pola tidur yang cukup. Jangan biarkan tubuh terlalu lelah
dan hindari stress. Hindari penggunaan alkohol dan obat-obatan yang tidak
diresepkan dokter. Kurangi mengonsumsi makanan siap saji yang telah
dibekukan lama dan diberi pengawet.
 Hindari rokok
Rokok merupakan salah satu pemicu berkembangnya kanker pada bibir dan
mulut
 Hindari kegiatan seksual berisiko
Beberapa kasus kanker pada lidah disebabkan karena HPV (Human
papillomavirus)
 Hindari terekspos bahan kimia berbahaya
Bahan kimia berbahaya berupa asbestos, sulfuric acid, dan formaldehid
Edukasi setelah perawatan:
 Asupan gizi dan cairan yang cukup
Saat melakukan perawatan radioterapi banyal efek samping yang mungkin
terjadi pada pasien. Pasien diminta untuk selalu menjaga kesehatan tubuhnya
dengan cara asupan gizi yang baik untuk membantu perbaikan jaringan. Selain
itu, perbanyak meminum air mineral untuk mengganti cairan tubuh yang
berkurang. Perbanyak memakan buah dan sayuran antioksidan tinggi.
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Apabila terdapat luka pada bibir,
jangan biarkan luka terbuka.
54

 Memakan obat-obatan yang disarankan dokter


Obat membantu proses penyembuhan dan menghindari keluhan dari efek
samping yang mungkin terjadi pasca perawatan.
 Pola hidup sehat
Lakukan dengan “CERDIK”, yaitu Cek Rutin Kesehatan, Enyahkan Asap
Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stress.

52. D10.2 Benign Neoplasm: Floor of Mouth


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kesehatan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Pastikan bibir bersih dari sisa
makanan, dengan cara dibasuh air saat setelah menggosok gigi.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali
Periksakan kesehatan gigi dan mulut pada dokter gigi minimal 6 bulan sekali,
untuk menghindari diagnosis terlambat akan penyakit mulut
 Memakan makanan anti kanker
Makan makanan dengan gizi seimbang. Perbanyak memakan buah dan sayur
dengan antioksida tinggi. Hindari mengonsumsi makanan yang diolah dengan
cara dibakar pada api langsung yang dapat menjadi penyebab kanker.
 Menerapkan pola hidup sehat
Selain memakan makanan sehat dan bergizi seimbang, lakukan olahraga rutin
dan juga mengatur pola tidur yang cukup. Jangan biarkan tubuh terlalu lelah
dan hindari stress. Hindari penggunaan alkohol dan obat-obatan yang tidak
diresepkan dokter. Kurangi mengonsumsi makanan siap saji yang telah
dibekukan lama dan diberi pengawet.
 Hindari rokok
55

Rokok merupakan salah satu pemicu berkembangnya kanker pada bibir dan
mulut
 Hindari kegiatan seksual berisiko
Beberapa kasus kanker pada lidah disebabkan karena HPV (Human
papillomavirus)
 Hindari terekspos bahan kimia berbahaya
Bahan kimia berbahaya berupa asbestos, sulfuric acid, dan formaldehid
Edukasi setelah perawatan:
 Asupan gizi dan cairan yang cukup
Saat melakukan perawatan radioterapi banyal efek samping yang mungkin
terjadi pada pasien. Pasien diminta untuk selalu menjaga kesehatan tubuhnya
dengan cara asupan gizi yang baik untuk membantu perbaikan jaringan. Selain
itu, perbanyak meminum air mineral untuk mengganti cairan tubuh yang
berkurang. Perbanyak memakan buah dan sayuran antioksidan tinggi.
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut
Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari, gunakan alat bantu untuk
membersihkan di kotoran di sela-sela gigi. Apabila terdapat luka pada bibir,
jangan biarkan luka terbuka.
 Memakan obat-obatan yang disarankan dokter
Obat membantu proses penyembuhan dan menghindari keluhan dari efek
samping yang mungkin terjadi pasca perawatan.
 Pola hidup sehat
Lakukan dengan “CERDIK”, yaitu Cek Rutin Kesehatan, Enyahkan Asap
Rokok, Rajin Olahraga, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stress.

53. D10.3 Benign neoplasm: Other and unspecified parts of mouth


Minor salivary glands
Edukasi tentang Pencegahan:
56

 Menjelaskan bahwa penyakit ini terkait dgn faktor lingukangan, radiation


exposure dan herediter
 Menjaga diet dengan mengkonsumsi buah buahan dan sayur sayuran
 Mengurangkan konsumsi makanan yang berkolesterol
Edukasi setelah Perawatan:
 Edukasi diet supaya menjaga makanan yang dikonsumsi
 Menjelaskan tentang kontrol 1 minggu, 4 minggu dan 12 minggu setelah
perawatan untuk melihat proses penyembuhan dan gejala atau keluhan yang
baru

54. D11 Benign neoplasm of major salivary glands


Edukasi tentang Pencegahan:
 Menjelaskan bahwa penyakit ini terkait dgn faktor lingukangan, radiation
exposure dan herediter
 Edukasi tentang keburukan merokok
Edukasi setelah Perawatan:
 Edukasi diet supaya menjaga makanan yang dikonsumsi
 Menjelaskan tentang kontrol 1 minggu, 4 minggu dan 12 minggu setelah
perawatan untuk melihat proses penyembuhan dan gejala atau keluhan yang
baru

55. D11.0 Benign neoplasm: Parotid Gland


Edukasi tentang Pencegahan:
 Menjelaskan bahwa penyakit ini terkait dgn faktor lingukangan, radiation
exposure dan herediter
 Menjaga diet dengan mengkonsumsi buah buahan dan sayur sayuran
 Mengurangkan konsumsi makanan yang berkolesterol
57

Edukasi setelah Perawatan:


 Edukasi tentang kontrol yang harus diteruskan seumur hidup.
 Edukasi tentang kepentingan tes fizikal yang harus dilakukan tiap 3 bulan
selama 2 tahun setelah perawatan, kemudian tiap 6 bulan selama 3 tahun.
 Edukasi diet supaya menjaga makanan yang dikonsumsi

56. D11.7 Bening neoplasm : Other major salivary glands


Sublingual and Submandibular Gland
Edukasi tentang Pencegahan:
 Menjelaskan bahwa penyakit ini terkait dgn faktor lingukangan, radiation
exposure dan herediter
 Menjaga diet dengan mengkonsumsi buah buahan dan sayur sayuran
 Mengurangkan konsumsi makanan yang berkolesterol
Edukasi setelah Perawatan:
 Edukasi tentang kontrol yang harus diteruskan seumur hidup.
 Edukasi tentang kepentingan tes fizikal yang harus dilakukan tiap 3 bulan
selama 2 tahun setelah perawatan, kemudian tiap 6 bulan selama 3 tahun.
 Edukasi diet supaya menjaga makanan yang dikonsumsi

57. D11.9 Benign neoplasm of major salivary gland


Edukasi tentang pencegahan
 Memahami mengenai penyebab serta gejala terjadinya neoplasma kelenjar
saliva.
 Melakukan pengecekan riwayat medis, serta pemeriksaan fisik.
 Memakan makanan yang bergizi, anjuran untuk tidak merokok, serta tidak
meminum minuman beralkohol.
Edukasi setelah perawatan
 Diberikan terapi medikasi pasca bedah berupa antibotik dan analgesik
58

 Kontrol secara berkala untuk melihat perbaikan jaringan serta perkembangan


penyembuhan penyakit.

58. K00.1 Superumerary Teeth


 Distomolar
 Fourth molar
 Mesiodens
 Paramolar
 Supplementary teeth
Edukasi tentang pencegahan
 Edukasi mengenai jumlah gigi yang normal serta posisi gigi yang normal
pada rongga mulut saat periode gigi sulung serta gigi permanen.
 Menjelaskan mengenai tanda-tanda atau gejala yang timbul serta penyebab
terjadinya supernumerary teeth yang biasanya timbul karena faktor herediter
serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi.
 Pasien sebaiknya datang ke dokter gigi sehingga dapat dilakukan rencana
penatalaksanaan yang tepat untuk dilakukan koreksi, tindakan serta
penanganan lebih lanjut.
 Menjaga kesehatan sebaik mungkin penting dilakukan karena tidak diketahui
adanya pencegahan yang paling efektif.
Edukasi setelah perawatan
 Kontrol ke dokter gigi secara rutin.
 Menjaga oral hygiene sesuai dengan anjuran dokter gigi terutama jika telah
dipasangkan alat aktif untuk mengkoreksi keluhan tersebut.

59. K00.2 Abnormalities of Size and Form of Teeth


 Concrescence
 Fusion
59

 Gemination
 Dens : evaginatus, in dente, invaginatus
 Enamel pearls
 Macrodontia
 Microdontia
 Peg-shaped [conical] teeth
 Taurodontism
 Tuberculum paramolare
Edukasi tentang pencegahan
 Menjelaskan mengenai perbandingan ukuran, serta bentuk yang normal pada
gigi dengan ukuran, serta bentuk gigi yang mengalami kelainan.
 Menjelaskan mengenai tanda tanda atau gejala terjadinya abnormalitas pada
ukuran serta bentuk gigi
 Konsultasikan ke dokter gigi untuk mengetahui penyebab serta untuk
mengetahui perawatan yang dapat dilakukan.
 Menjaga kesehatan rongga mulut dan gigi dengan baik karena gigi yang
mengalami ukuran dan bentuk yang abnormal sangat rentan mengalami
kerapuhan, keretakan bahkan perlubangan.
Edukasi setelah perawatan
 Mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi baik bagi kesehatan
gigi gemination agar tidak mudah rapuh atau berlubang.
 Kontrol ke dokter gigi secara rutin

60. K00.3 Mottled Teeth


 Dental fluorosis
 Mottling of enamel
 Nonfluoride enamel opacities
Edukasi tentang pencegahan
60

 Tidak mengonsumsi air dengan kandungan fluoride yang tinggi


 Rajin menyikat gigi yaitu sebanyak 2 x sehari. Anak-anak harus didampingi
pada saat menggosok gigi untuk menghindari tertelannya pasta gigi.
 Mengkonsumsi makanan yang baik untuk gigi seperti buah dan sayuran
Edukasi setelah perawatan
 Hindari makanan dan minuman yang dapat membuat stain pada gigi seperti
minuman yang mengandung kafein

61. K00.4 Disturbances in Tooth Formation


 Aplasia and Hypoplasia of cementum
 Dilaceration of Tooth
 Enamel hypoplasia
 Regional odontodysplasia
 Turner’s Tooth
Edukasi tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi tiap 6 bulan
 Edukasi tentang kepentingan mendeteksi penyakit sebelum kondisi
memperparah
 Edukasi tentang diet dengan mengkonsumsi vitamin A dan D, sayur sayuran
dan susu
Edukasi setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik
 Menyikat gigi 2x sehari
 Kurang mengkonsumsi minuman yang staining seperti kopi.

62. K00.5 Hereditary Disturbances in Tooth Structure, not elsewhere


classified
 Amelogenesis imperfecta
61

 Dentinogenesis imperfecta
 Odontogenesis imperfecta
 Dentinal dysplasia
 Shell Teeth
Edukasi tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi tiap 6 bulan
 Edukasi tentang kepentingan mendeteksi penyakit sebelum kondisi
memperparah
 Edukasi tentang diet dengan mengkonsumsi vitamin A dan D, sayur sayuran
dan susu
Edukasi setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik
 Menyikat gigi 2x sehari
 Kurang mengkonsumsi minuman yang staining seperti kopi.

63. K00.6 Disturbances in Tooth Eruption


 Dentia praecox
 Natal tooth
 Neonatal tooth
 Premature eruption of tooth
 Premature shedding of primary tooth
 Persistent primary tooth
Edukasi tentang Pencegahan:
 Edukasi ke pasien tentang penyakit2 ini yang terkait dengan penyakit sistemik
lainnya
 Edukasi tentang faktor local yang boleh menghindar gigi dari erupsi
 Edukasi tentang kepentingan pemeriksaan gigi ke dokter gigi tiap 6 bulan
Edukasi setelah Perawatan:
62

 Mengurangi pendorongan gigi dengan menggunakan lidah


 Menyikat gigi 2x sehari
 Menjaga oral hygiene dengan baik

64. K00.7 Teething syndrome


Edukasi tentang Pencegahan:
 Edukasi ke pasien tentang penyakit2 ini yang terkait dengan penyakit sistemik
lainnya
 Edukasi tentang faktor local yang boleh menghindar gigi dari erupsi
 Edukasi tentang kepentingan pemeriksaan gigi ke dokter gigi tiap 6 bulan
Edukasi setelah Perawatan:
 Mengurangi pendorongan gigi dengan menggunakan lidah
 Menyikat gigi 2x sehari
 Menjaga oral hygiene dengan baik

65. Other Disorders of Tooth Development (K00.8)


Edukasi Pencegahan :
 Memperhatikan penggunaan obat antibiotik tetrasiklin bagi ibu hamil dan
anak-anak.
 Menghindari terjadinya trauma selama pertumbuhan dan perkembangan gigi.
Edukasi setelah Perawatan :
 Menghindari makanan yang dapat menyebabkan diskolorisasi pada gigi
seperti kopi dan teh.
 Makan buah dan sayur sehingga dapat menetralisir asam dan melindungi gigi.
 Menjaga kebersihan rongga mulut dan gigi dengan baik.

66. Disorder of Tooth Development, unspecified (K00.9)


Edukasi Pencegahan :
63

 Nutrisi yang cukup bagi ibu hamil dan anak-anak.


 Menghindari paparan radiasi sinar X bagi ibu hamil.
Edukasi setelah Perawatan :
 Memperhatikan kesehatan rongga mulut dan gigi.
 Meminum air putih atau susu rendah lemak dan hindari minuman
berkarbonasi.
 Mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

67. KO1. Embedded Teeth


Edukasi tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
 Edukasi tentang pola erupsi gigi dengan waktu erupsinya.
 Edukasi tentang penyakit sistemik mengenai osteoporosis, ektodermal
dysplasia, rakhitis, dan kretinisme.
 Edukasi tentang penyakit kista dan tumor.
Edukasi setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik.
 Menyikat gigi 2x sehari.
 Mengikuti instruksi pasca bedah dengan baik.

68. KO1.1 Impacted Teeth


Edukasi tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
 Edukasi tentang pola erupsi gigi dengan waktu erupsinya.
 Edukasi tentang gejala-gejala apabila terdapat impaksi gigi
Edukasi setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik.
 Menyikat gigi 2x sehari.
64

 Mengikuti instruksi pasca bedah dengan baik.


 Edukasi apabila diperlukan perawatan orthodontic.

69. K02. Dental Caries


Edukasi tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
 Edukasi tentang faktor-faktor penyebab terjadinya karies gigi.
 Edukasi tentang menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride.
 Edukasi tentang aplikasi fissure sealant untuk mencegah gigi berlubang.
 Edukasi tentang makan buah dan sayur.
Edukasi setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik.
 Menyikat gigi 2x sehari.
 Perbanyak mengonsumsi makanan seperti sayur dan buah-buahan.

70. K02.0 Caries Limited To The Enamel (Karies Enamel)

Tindakan Pencegahan Primer:


 Memilih makanan dengan cermat
o TIndakan pencegahan lebih menekankan pada pengurangan konsumsi
dan pengendalian frekeunsi asupan gula yang tinggi. Hal ini dapat
65

dilaksanakan dengan kontrol diet dan menggunakan bahan pengganti


gula.
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal. Makanan seperti
gulam kacang bersalut gula, serial kering, roti dan kismis akan
menempel pada gigi. Usahakan membersihkan gigi dalam waktu 20
menit setelah makan. Apabila tidak menyikat gigi, maka berkumurlah
dengan air putih
o Memilih snek dengan cermat. Snek yang dimakan setiap hari
memungkinkan bakteri terus membentuk asam yang merusak gigi.
Jangan makan makanan manis terus, mengunyah permen karet atau
permen penyegar nafas.
o Faktor makanan yang dihubungkan dengan terjadinya karies adalah
jumlah fermentasi, konsentrasi dan bentuk fisik (bentuk cair, tepung,
padat) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi di mulut, frekuensi
makan serta lamanya interval waktu makan
 Pemeliharaan gigi
o Mulut tidak bisa dihindari dari bakteri, tetapi mencegah bakteri dengan
membersihkan mulut dengan teratur. Belajar untuk menyikat gigi > 2
kali sehari. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gigi tiap 6 bulan
sekali.
o Metode penyikatan gigi yang ideal untuk dewasa adalah metode bass
dan dianjurkan pemakaian benang gigi pada orang yang berusia 12
tahun ke atas
o Profilaksis professional dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
kebersihan gigi.
o Mengunakan obat kumur antimikrobia seperti klorheksidin untuk
mengurangkan pertumbuhan karies
 Pemberian flour
66

o Flour digunakan secara luas untuk mencegah karies. Pengunaan flour


dapat dilakukan dengan flouridasi air minum, pasta gigi dan obat
kumur mengandung flour, pemberian tablet flour, topical varnish.
o Membubuhkan flour dalam air minum yang kekurangan flour untuk
mencegah karies gigi yang dapat berupa tetes atau tablet. Obat ini
biasanya dikumurkan dalam mulut sekitar 30 detik kemudian dibuang.
Tindakan Pencegahan Sekunder:
 Penambalan gigi. Kerusakan gigi biasanya dihentikan dengan membuang
bagian gigi yang rusak dan diganti dengan tamalan gigi. Jenis tambalan
tergantung pada lokasi dan fungsi gigi.
 Dental sealant. Ini digunakan untuk menutupi permukaan gigi dengan suatu
bahan. Dental sealant dilakukan pada permukaan kunyah gigi premolar dan
molar. Gigi dibersihkan dan kemudian memberi pelapis pada gigi. bahan yang
sering digunakan adalah glass ionomer
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Tingkat keberhasilan dari pencegahan dan perawatan karies, tergantung pada
kondisi restorasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Permukaan restorasi yang
kasar akan menyebabkan terjadinya penumpukan plak, selain itu juga bentuk
yang tidak sesuai dengan anatomi gigi akan menyebabkan tidak terjadinya
kontak proksimal dan harus ditaggulangi untuk mecegah terjadinya karies
sekunder. Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga untuk mencegah terjadinya
karies sekunder dan juga dapat menunjang keberhasilan perawatan karies gigi.

71. K02.1 Caries Of Dentine (Karies Dentin)


67

Tindakan Pencegahan Primer:


 Memilih makanan dengan cermat
o TIndakan pencegahan lebih menekankan pada pengurangan konsumsi
dan pengendalian frekeunsi asupan gula yang tinggi. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan kontrol diet dan menggunakan bahan pengganti
gula.
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal. Makanan seperti
gulam kacang bersalut gula, serial kering, roti dan kismis akan
menempel pada gigi. Usahakan membersihkan gigi dalam waktu 20
menit setelah makan. Apabila tidak menyikat gigi, maka berkumurlah
dengan air putih
o Memilih snek dengan cermat. Snek yang dimakan setiap hari
memungkinkan bakteri terus membentuk asam yang merusak gigi.
Jangan makan makanan manis terus, mengunyah permen karet atau
permen penyegar nafas.
o Faktor makanan yang dihubungkan dengan terjadinya karies adalah
jumlah fermentasi, konsentrasi dan bentuk fisik (bentuk cair, tepung,
padat) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi di mulut, frekuensi
makan serta lamanya interval waktu makan
 Pemeliharaan gigi
o Mulut tidak bisa dihindari dari bakteri, tetapi mencegah bakteri dengan
membersihkan mulut dengan teratur. Belajar untuk menyikat gigi > 2
68

kali sehari. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gigi tiap 6 bulan


sekali.
o Metode penyikatan gigi yang ideal untuk dewasa adalah metode bass
dan dianjurkan pemakaian benang gigi pada orang yang berusia 12
tahun ke atas
o Profilaksis professional dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
kebersihan gigi.
o Mengunakan obat kumur antimikrobia seperti klorheksidin untuk
mengurangkan pertumbuhan karies
 Pemberian flour
o Flour digunakan secara luas untuk mencegah karies. Pengunaan flour
dapat dilakukan dengan flouridasi air minum, pasta gigi dan obat
kumur mengandung flour, pemberian tablet flour, topical varnish.
o Membubuhkan flour dalam air minum yang kekurangan flour untuk
mencegah karies gigi yang dapat berupa tetes atau tablet. Obat ini
biasanya dikumurkan dalam mulut sekitar 30 detik kemudian dibuang.
Tindakan Pencegahan Sekunder:
 Penambalan gigi. Kerusakan gigi biasanya dihentikan dengan membuang
bagian gigi yang rusak dan diganti dengan tamalan gigi. Jenis tambalan
tergantung pada lokasi dan fungsi gigi.
 Dental sealant. Ini digunakan untuk menutupi permukaan gigi dengan suatu
bahan. Dental sealant dilakukan pada permukaan kunyah gigi premolar dan
molar. Gigi dibersihkan dan kemudian memberi pelapis pada gigi. bahan yang
sering digunakan adalah glass ionomer
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Tingkat keberhasilan dari pencegahan dan perawatan karies, tergantung pada
kondisi restorasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Permukaan restorasi yang
kasar akan menyebabkan terjadinya penumpukan plak, selain itu juga bentuk
69

yang tidak sesuai dengan anatomi gigi akan menyebabkan tidak terjadinya
kontak proksimal dan harus ditaggulangi untuk mecegah terjadinya karies
sekunder. Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga untuk mencegah terjadinya
karies sekunder dan juga dapat menunjang keberhasilan perawatan karies gigi.

72. K02.2 Caries Of Cementum (Karies Sementum)

Tindakan Pencegahan Primer:


 Memilih makanan dengan cermat
o TIndakan pencegahan lebih menekankan pada pengurangan konsumsi
dan pengendalian frekeunsi asupan gula yang tinggi. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan kontrol diet dan menggunakan bahan pengganti
gula.
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal. Makanan seperti
gulam kacang bersalut gula, serial kering, roti dan kismis akan
menempel pada gigi. Usahakan membersihkan gigi dalam waktu 20
menit setelah makan. Apabila tidak menyikat gigi, maka berkumurlah
dengan air putih
o Memilih snek dengan cermat. Snek yang dimakan setiap hari
memungkinkan bakteri terus membentuk asam yang merusak gigi.
Jangan makan makanan manis terus, mengunyah permen karet atau
permen penyegar nafas.
70

o Faktor makanan yang dihubungkan dengan terjadinya karies adalah


jumlah fermentasi, konsentrasi dan bentuk fisik (bentuk cair, tepung,
padat) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi di mulut, frekuensi
makan serta lamanya interval waktu makan
 Pemeliharaan gigi
o Mulut tidak bisa dihindari dari bakteri, tetapi mencegah bakteri dengan
membersihkan mulut dengan teratur. Belajar untuk menyikat gigi > 2
kali sehari. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gigi tiap 6 bulan
sekali.
o Metode penyikatan gigi yang ideal untuk dewasa adalah metode bass
dan dianjurkan pemakaian benang gigi pada orang yang berusia 12
tahun ke atas
o Profilaksis professional dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
kebersihan gigi.
o Mengunakan obat kumur antimikrobia seperti klorheksidin untuk
mengurangkan pertumbuhan karies
 Pemberian flour
o Flour digunakan secara luas untuk mencegah karies. Pengunaan flour
dapat dilakukan dengan flouridasi air minum, pasta gigi dan obat
kumur mengandung flour, pemberian tablet flour, topical varnish.
o Membubuhkan flour dalam air minum yang kekurangan flour untuk
mencegah karies gigi yang dapat berupa tetes atau tablet. Obat ini
biasanya dikumurkan dalam mulut sekitar 30 detik kemudian dibuang.
Tindakan Pencegahan Sekunder:
 Penambalan gigi. Kerusakan gigi biasanya dihentikan dengan membuang
bagian gigi yang rusak dan diganti dengan tamalan gigi. Jenis tambalan
tergantung pada lokasi dan fungsi gigi.
71

 Dental sealant. Ini digunakan untuk menutupi permukaan gigi dengan suatu
bahan. Dental sealant dilakukan pada permukaan kunyah gigi premolar dan
molar. Gigi dibersihkan dan kemudian memberi pelapis pada gigi. bahan yang
sering digunakan adalah glass ionomer
Tindakan Pencegahan Tersier:
 Gigi dengan karies yang sudah dilakukan pencabutan terhadap rehabilitasi
dengan pembuatan gigi palsu
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Tingkat keberhasilan dari pencegahan dan perawatan karies, tergantung pada
kondisi restorasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Permukaan restorasi yang
kasar akan menyebabkan terjadinya penumpukan plak, selain itu juga bentuk
yang tidak sesuai dengan anatomi gigi akan menyebabkan tidak terjadinya
kontak proksimal dan harus ditaggulangi untuk mecegah terjadinya karies
sekunder. Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga untuk mencegah terjadinya
karies sekunder dan juga dapat menunjang keberhasilan perawatan karies gigi.

73. K02.3 Arrested Dental Caries


Merupakan daerah karies yang perkembangan lesinya telah terhenti. Sering disertai
oleh pengerasan lesi yang dapat dideteksi secara klinis.
Tindakan Pencegahan Primer
 Diet makanan
o Mengurangi konsumsi asupan gula yang tinggi
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal
o Membersihkan gigi 20 menit setelah makan makanan manis, boleh
dengan cara berkumur air putih atau menyikat gigi
 Pemeliharaan gigi
72

o Membersihkan gigi dengan teratur, yakni sikat gigi 2x sehari dan bila
perlu menggunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi
yang berjejal
o Menyikat gigi dengan teknik yang benar yakni teknik bass untuk orang
dewasa dan menggunakan sikat gigi yang memiliki bulu sikat yang
halus
o Melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali
 Pemberian flouride
o Pengaplikasian fluoride dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
mencegah karies
o Kadar fluor dapat diperoleh dari air minum, pasta gigi, maupun dalam
bentuk obat
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Penambalan gigi sedini mungkin agar karies tidak semakin dalam
 Pit dan fissure sealant untuk menutupi permukaan kunyah gigi premolar
maupun molar yang memiliki cekungan yang dalam
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Setelah dilakukan pencegahan baik primer maupun sekunder, keberhasilan
perawatan tergantung dari jenis perawatan yang dilakukan dan kualitas
perawatan yang diberikan. Tambalan yang baik adalah tambalan yang halus
agar tidak menyebabkan terjadinya penumpukan plak dan sisa makanan di
permukaan gigi yang ditambal. Selain itu, tambalan juga harus sesuai dengan
anatomi gigi agar tidak terjadi kontak prematur. Sesudah ditambal, pasien
juga harus tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya agar tidak terjadi
karies sekunder.

74. K02.4 Odontoclasia


73

Merupakan kondisi yang ditandai oleh lesi mendominasi pada permukaan labial gigi
rahang atas anterior
Tindakan Pencegahan Primer
 Diet makanan
o Mengurangi konsumsi asupan gula yang tinggi
o Mengurangi minum susu formula dengan menggunakan botol atau dot
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal
o Membersihkan gigi 20 menit setelah makan makanan manis, boleh
dengan cara berkumur air putih atau menyikat gigi
 Mengonsumsi makanan bergizi dan tinggi kalsium
 Pemeliharaan gigi
o Membersihkan gigi dengan teratur, yakni sikat gigi 2x sehari dan bila
perlu menggunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi
yang berjejal
o Menyikat gigi dengan teknik yang benar yakni teknik bass untuk orang
dewasa dan menggunakan sikat gigi yang memiliki bulu sikat yang
halus
o Melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali
 Pemberian flouride
o Pengaplikasian fluoride dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
mencegah karies
o Kadar fluor dapat diperoleh dari air minum, pasta gigi, maupun dalam
bentuk obat
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Penambalan gigi sedini mungkin agar karies tidak semakin dalam
 Pit dan fissure sealant untuk menutupi permukaan kunyah gigi premolar
maupun molar yang memiliki cekungan yang dalam
74

Penatalaksanaan Setelah Perawatan


 Setelah dilakukan pencegahan baik primer maupun sekunder, keberhasilan
perawatan tergantung dari jenis perawatan yang dilakukan dan kualitas
perawatan yang diberikan. Tambalan yang baik adalah tambalan yang halus
agar tidak menyebabkan terjadinya penumpukan plak dan sisa makanan di
permukaan gigi yang ditambal. Selain itu, tambalan juga harus sesuai dengan
anatomi gigi agar tidak terjadi kontak prematur. Sesudah ditambal, pasien
juga harus tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya agar tidak terjadi
karies sekunder.

75. K02.8 Other Dental Caries


Merupakan daerah karies yang perkembangan lesinya telah terhenti. Sering disertai
oleh pengerasan lesi yang dapat dideteksi secara klinis.
Tindakan Pencegahan Primer
 Diet makanan
o Mengurangi konsumsi asupan gula yang tinggi
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal
o Membersihkan gigi 20 menit setelah makan makanan manis, boleh
dengan cara berkumur air putih atau menyikat gigi
 Pemeliharaan gigi
o Membersihkan gigi dengan teratur, yakni sikat gigi 2x sehari dan bila
perlu menggunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi
yang berjejal
o Menyikat gigi dengan teknik yang benar yakni teknik bass untuk orang
dewasa dan menggunakan sikat gigi yang memiliki bulu sikat yang
halus
o Melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali
 Pemberian flouride
75

o Pengaplikasian fluoride dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk


mencegah karies
o Kadar fluor dapat diperoleh dari air minum, pasta gigi, maupun dalam
bentuk obat
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Penambalan gigi sedini mungkin agar karies tidak semakin dalam
 Pit dan fissure sealant untuk menutupi permukaan kunyah gigi premolar
maupun molar yang memiliki cekungan yang dalam
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Setelah dilakukan pencegahan baik primer maupun sekunder, keberhasilan
perawatan tergantung dari jenis perawatan yang dilakukan dan kualitas
perawatan yang diberikan. Tambalan yang baik adalah tambalan yang halus
agar tidak menyebabkan terjadinya penumpukan plak dan sisa makanan di
permukaan gigi yang ditambal. Selain itu, tambalan juga harus sesuai dengan
anatomi gigi agar tidak terjadi kontak prematur. Sesudah ditambal, pasien
juga harus tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya agar tidak terjadi
karies sekunder.

76. K02.9 Karies gigi tidak spesifik (Dental caries unspecified)


Tindakan Pencegahan Primer
 Diet makanan
o Mengurangi konsumsi asupan gula yang tinggi
o Menghindari makanan yang lengket dan kenyal
o Membersihkan gigi 20 menit setelah makan makanan manis, boleh
dengan cara berkumur air putih atau menyikat gigi
 Pemeliharaan gigi
76

o Membersihkan gigi dengan teratur, yakni sikat gigi 2x sehari dan bila
perlu menggunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi
yang berjejal
o Menyikat gigi dengan teknik yang benar yakni teknik bass untuk orang
dewasa dan menggunakan sikat gigi yang memiliki bulu sikat yang
halus
o Melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali
 Pemberian flouride
o Pengaplikasian fluoride dapat dilakukan oleh dokter gigi untuk
mencegah karies
o Kadar fluor dapat diperoleh dari air minum, pasta gigi, maupun dalam
bentuk obat
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Penambalan gigi sedini mungkin agar karies tidak semakin dalam
 Pit dan fissure sealant untuk menutupi permukaan kunyah gigi premolar
maupun molar yang memiliki cekungan yang dalam.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Setelah dilakukan pencegahan baik primer maupun sekunder, keberhasilan
perawatan tergantung dari jenis perawatan yang dilakukan dan kualitas
perawatan yang diberikan. Tambalan yang baik adalah tambalan yang halus
agar tidak menyebabkan terjadinya penumpukan plak dan sisa makanan di
permukaan gigi yang ditambal. Selain itu, tambalan juga harus sesuai dengan
anatomi gigi agar tidak terjadi kontak prematur. Sesudah ditambal, pasien
juga harus tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya agar tidak terjadi
karies sekunder.

Other diseases of hard tissue of teeth


77. K03.0 Atrisi gigi berlebihan (Excesive atrition of teeth)
77

Hilangnya permukaan jaringan keras gigi yangdisebabkan oleh proses


mekanis yang terjadi pada gigiyang saling berantagonis (sebab fisiologis
pengunyahan.) Atrisi adalah hilangnya email, dentin, atau restorasi karena ada kontak
dengan gigi antagonisnya. Proses atrisi disebabkan oleh faktor oklusi yang terjadi
akibat adanya kontak dengan gigi antagonisnya saat mengunyah. Atrisi gigi
merupakan salah satu bentuk keausan gigi, yang memiliki tanda klinis yang mudah
diamati (Oltramari-Navarro dkk., 2010).
Atrisi diawali dengan proses kehilangan struktur email pada bagian insisal
atau oklusal gigi, yang semakin lama akan mengenai struktur dentin di bawahnya.
Pada saat berhasil melewati email maka proses atrisi akan dengan cepat
menghancurkan struktur dentin yang memiliki konsistensi lebih lunak dibandingkan
email (Garg dkk., 2009). Proses tersebut juga dapat terjadi pada permukaan bukal
atau lingual gigi, terutama pada individu dengan maloklusi gigi tertentu (Lussi,
2006).
Terdapat tiga tipe atrisi gigi yaitu atrisi fisiologis, intensif, dan patologis.
Atrisi fisiologis terjadi secara konstan dan seiring dengan proses penuaan setiap
individu akibat mastikasi. Proses atrisi fisiologis dimulai dari keausan pada tepi
insisal gigi insisivus kemudian tonjol palatal dan tonjol bukal gigi posterior rahang
atas. Atrisi juga dapat terjadi pada permukaan proksimal gigi pada area kontak. Atrisi
patologis terjadi karena adanya abnormalitas oklusi, pola mastikasi, dan kerusakan
struktur gigi individual. Pada atrisi jenis tersebut, keausan yang terjadi melibatkan
struktur gigi yang banyak sehingga fungsi mastikasi dan estetikanya terganggu
(Purkait, 2011). Maloklusi gigi merupakan salah satu faktor resiko penyebab
terjadinya atrisi gigi. Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi
normal meliputi ketidakteraturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi
berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi
antagonisnya (Djnaid dkk., 2013).

Tindakan Pencegahan Primer


78

 Pemberian edukasi mengenai hal-hal yang menyebabkan atrisi pada gigi.


 Menghentikan kebiasaan buruk
 Memakai mouth guard
 Menghentikan aktivitas yang menjadi penyebab atrisi gigi
 Perawatan orthodontik untuk memperbaiki oklusi
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Perawatan saluran akar, dengan restorasi pada gigi posterior mahkota tuang
dan gigi anterior menggunakan mahkota metal keramik/mahkota jaket.
 Jika keausan sangat luas sehingga banyak jaringan gigi yang hilang,
maka pulpa mungkin akan terbuka sehingga harus dilakukan.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Pemberian edukasi tentang penyebab dan hal-hal yang diakibatkan atrisi
terhadap pasien sangat penting dilakukan, hal ini berkaitan dengan perilaku
dan kebiasaan pasien yang memungkinkan terjadinya atrisi kembali.

78. K03.1 Abrasion of teeth

Gambar Abrasi Gigi


Abrasi merupakan kehilangan struktur gigi akibat proses mekanis dengan
objej eksternal. Abrasi gigi berasal dari bahasa Latin “abrader” yang artinya
mengikis. Dalam arti lain abrasi gigi merupakan keausan patologis yang melibatkan
jaringan keras gigi melalui proses mekanik yang disebabkan oleh benda asing (Hanif
dkk,2015). Gambaran klinis abrasi berupa cekungan halus pada servikal gigi,
umumnya mengenai banyak gigi sesuai jalur penggunan sikat gigi yang horizontal.
79

Cara menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi dan tekanan yang diberikan saat
menyikat gigi menjadi faktor yang berhubungan dengan abrasi gigi pada seseorang.
Selain itu tipe dari bulu sikat gigi, kekakuan bulu sikat gigi dan sifat abrasif pasta gigi
yang digunakan juga menjadi faktor dalam terjadinya abrasi gigi (Meshramkar
dkk,2012).

Tindakan Pencegahan Primer


 Pemberian edukasi mengenai cara menyikat gigi menggunakan teknik yang
benar.
 Penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan penekanan berlebih adalah
penyebab paling sering ditemukan pada abrasi gigi. Edukasi untuk menyikat
gigi dengan teknik yang benar sesuai dengan kebutuhan (seperti metode Bass,
Fones, Charter, Stillman) sangat diperlukan. Teknik menyikat gigi metode
bass dilakukan dengan cara mengarahkan bulu sika 45o terhadap sumbu gigi
kearah gingival kemudian menyikat gigi dalam arah vertikal dari gingival ke
oklusal. Tteknik fones dilakukan dengan cara gigi dalam keadaan oklusi
dengan gerakan berputar yang biasanya digunakan untuk anak-anak.
Sedangkan metode charter digunakan untuk pasien pengguna alat orthodonti,
dan stillman digunakan untuk gusi resesi.
 Edukasi untuk tidak menggunakan sikat gigi berbulu terlalu keras namun
menggunaan sikat gigi berbulu lembut dan halus.
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Perawatan yang dapat dipilih pada lesi abrasi gigi adalah perawatan dengan
restorasi. Perawatan restorasi dipilih karena dapat menggantikan struktur gigi
yang telah hilang (Spivakovsky dkk,2014). Bahan yang digunakan untuk
merestorasi gigi adalah GIC, komposit, maupun amalgam. Pemilihan behan
restorasi dilakukan sesuai dengan indikasi untuk keadaan gigi pasien.
80

79. K03.2 Erosion of teeth

Gambar Erosi pada gigi


Erosi gigi adalah luruhnya jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam
ekstrinsik maupun intrinsik yang tidak diproduksi oleh bakteri (Balogh dan
Fehrenbach, 2006). Kehilangan struktur gigi akibat proes kimiawi seperti jus
buah/jeruk atau akibat asam intrinsik yang disebabkan oleh muntah.
Gejala awal erosi adalah bercak putih, yang secara mikroanatomi terlihat
bulat, licin dan mengkilap. Pada tahap lanjut, enamel akan semakin banyak hilang,
permukaan gigi semakin licin dan mengkilap serta permukaan yang membulat pada
elemen gigimenjadi rata. Pada permukaan oklusal akan timbul cekungan sebagai ciri
khas daridentin yang lunak dan kurang mineralisasi.

Pencegahan Primer
 Edukasi penyebab terjadinya erosi gigi pada masyarakat
Erosi akibat dari paparan asam non bakterial secara ekstrinsik (asam berasal
dari makanan yang dikonsumsi) dan intrinsik (asam berupa aliran balik dari
lambung) pada email dan dentin mengakibatkan permukaan gigi kehilangan
mineral. Gigi yang berkontak dengan asam dalam jangka waktu yang lama
akan mengalami pelunakan pada jaringan kerasnya (Domenick dkk., 2005).
Erosi yang tidak dirawat dapat berkembang progresif, sehingga akan
terbentuk lesi luas dan dalam pada tonjol gigi. Kondisi ini akan menyebabkan
dentin menjadi terbuka, sehingga gigi akan kehilangan bentuk morfologi
aslinya (Ren, 2011). Asam yang kontak dengan gigi akan menyebabkan
pelepasan kalsium dari email gigi. Proses ini berjalan terus-menerus selama
81

asam belum dinetralkan sehingga menyebabkan sebagian elemen email


hilang, dan apabila proses ini telah berlanjut sampai ke dentin maka penderita
akan merasa ngilu (Prasetyo, 2004).
 Edukasi pada ibu hamil ataupun yang sering mengalami muntah untuk
berkumur dengan soda kue atau menyikat gigi satu jam setelah muntah untuk
mencegah adanya erosi gigi.
 Edukasi kepada masyarakat untuk berkumur setelah makan makanan yang
mengandung asam.
 Mengurangi konsumsi minuman berkarbonasi
Dalam tiga dekade terakhir ini, konsumsi minuman berkarbonasitelah
meningkat (Owens dkk., 2014). Hal ini dapat meningkatkan resikoerosi gigi.
Karena semakin lama enamel berkontak dengan minumanberkarbonasi, maka
semakin tinggi resiko untuk terjadinya erosi gigi (Ehlendkk., 2008).Minuman
berkarbonasimengandung beberapa zat pengasam seperti asam fosfat dan
asam sitrat. Asam sitrat, asam malat dan asam tartarat pada
minumanberkarbonasi bersifat asam dan memiliki kemampuan dalam
berikatandengan kalsium pada enamel gigi, sehingga dapat mengakibatkan
erosi gigi(Bamicedkk., 2009)
Pencegahan sekunder
 Manajemen untuk penanganan erosi gigi pada tahap intervensi dini salah
satunya adalah mineralisasi. Mineralisasi dapat dilakukan dengan
penambahan paparan flouride, kalsium, dan fosfat (Ren, 2011). Pasta CPP-
ACP (Casein Phospopeptide-Amorphous Calcium Phosphate) dengan contoh
merk Tooth Mousse® merupakan pasta dengan kandungan kalsium dan
fosfat yang telah diteliti efektif dalam penanganan erosi. Kemudian
dikembangkan juga penambahan fluoride untuk meningkatkan remineralisasi
pada gigi.
82

 Jika erosi hanya terdapat pada bagian enamel yaitu erosi ringan, dapat
dilakukan aplikasi flour atau ditambal dengan menggunakan bahan restoratif
komposit. Bagi erosi pada bagian labial yaitu erosi sedang, dilakukan
pemasangan veener keramik atau overlaymahkota, serta pada erosi berat
dilakukan pemasangan mahkota,bridge atau overdenture. Etiologi erosi perlu
disingkirkan seminimal mungkin

80. K03.3 Pathological resorption of teeth


Dalam ilmu kedokteran gigi, resorpsi akar adalah pengrusakan atau
penghancuran yang menyebabkan hilangnya struktur gigi. Hal ini disebabkan oleh
kerja sel tubuh yang menyerang bagian dari gigi. Bila kerusakan meluas ke seluruh
gigi, dinamakan resorpsi gigi. Kerusakan akar yang parah dapat terjadi bila kerusakan
sudah mencapai pulpa, sehingga sangat sulit untuk dirawat dan biasanya memerlukan
ekstraksi gigi. Resorpsi akar terjadi akibat diferensiasi makrofag menjadi odontoklas
yang akan meresorpsi sementum permukaan akar serta dentin akar. Tingkat
keparahannya bervariasi dapat dilihat dari bukti-bukti berupa lubang mikroskopis
yang dapat menyebabkan kehancuran pada permukaan akar.
Resorpsi akar dapat disebabkan oleh tekanan pada permukaan akar gigi.
Tekanan tersebut dapat berasal dari trauma, erupsi gigi ektopik yang mengenai akar
gigi tetangga, infeksi, beban oklusal yang berlebihan , pertumbuhan tumor yang
agresif, maupun yang tidak dapat diketahui . penyebabnya atau idiopatik. Menurut
Weiland, penyebab yang paling umum adalah kekuatan ortodonti.
Resorbsi internal adalah destruksi gigi yang diawali pada daerah yang
berdekatan dengan pulpa pada dinding internal dentin dan berkembang kearah luar,
yang akhirnya menembus permukaan eksternal dari mahkota ke akar. Paling banyak
kasus resorbsi internal tidak diketahui penyebabnya ( idiopatik ). Walaupun faktor-
faktor pendukung tidak diketahui, proses yang terlihat dihubungkan dengan inflamasi
pulpa, saat ini dipercaya bahwa resorbsi internal disebabkan oleh pulpitis irreversible
83

kronis. resorpsi eksterna biasanya secara klinis sulit ditemukan karena tidak ada
keluhan pasien, biasanya ditemukan ketika dibuatkan gambaran radiografis ketika
dalam kondisi berat disertai kegoyangan gigi. Factor etiologi belum diketahui namun
berdasaekan anamnesis biasanya ada riwayat mengalami trauma, avulsi, perawatan
orthodonti, atau bleaching.
Pencegahan primer
 Kunjungan rutin kedokter gigi 6 bulan sekali untuk deteksi dini penyakit.
 Edukasi untuk melakukan perawatan gigi seperti pemasangan orthodonti di
dokter gigi bukan ke tukang gigi.
 Melakukan perawatan gigi sesuai dibawah pengawasan dokter gigi.
Pencegahan sekunder
 Pada kasus resorpsi patologis, penting untuk mengkonsultasikan ke dokter
gigi agar mengetahui dengan pasti penyebab terjadinya sehingga dapat
diketahui penatalaksanaan yang tepat. Perawatan untuk resorpsi patologis
biasanya dilakukan oleh dokter gigi spesialis.

81. K03.4 Hypercementosis

Hipersementosis (cemental hyperplasia) adalah deposisi sementum yang


berlebihan pada akar gigi (White dan Pharoah, 2004). Hipersementosis adalah
keadaan gigi dimana terjadi pembesaran di daerah akar baik di apikal, lateral,
maupun di seluruh permukaan akar gigi (Darmayanti, 2008).
84

Gambar 1 Gambaran radiografi dari hipersementosis pada gigi M1 atas.


Gambar 2 Gambaran radiografi dari hipersementosis pada gigi M1 bawah,
terlihat lapisan tebal dari sementum yang membuat akar tampak gemuk
(Dunlap, 2004)

Hipersementosis pada gigi dapat disebabkan karena factor lokal atau


sistemik. Factor lokal yang dapat menyebabkan hipersemtosis diantaranya adalah
trauma oklusal, inflamasi pada pulpa, periapical, dan periodontal, gigi yang tidak
memiliki lawan, perbaikan dari fraktur akar gigi vital. Sedangkan factor
sistemiknya diantaranya akromegali dan gigantisme, artritis, alsinosis, penyakit
Paget, demam rematik, pembengkakan kelenjar tiroid, dan sindrom Gardner.
Tindakan Pencegahan Primer
 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini. Pemeriksaan hipersementosis dilakukan dengan
pemeriksaan keseluruhan dan penunjang radiografi. Selain itu pemeriksaan ke
dokter gigi dapat mendeteksi factor lokal penyebab hipersementosis pada gigi
seperti adanya trauma oklusal, inflamasi pada pulpa, periapikal, dan
periodontal, gigi yang tidak memiliki lawan, perbaikan dari fraktur akar gigi
vital sehingga selanjutnya dapat ditangani.
 Memilih makanan
85

Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi


yang dapat menyebabkan hipersementosis.
Tindakan Pencegahan Sekunder
Hipersementosis sendiri tidak memerlukan perawatan. Perawatan diperlukan
apabila terdapat lesi inflamasi pada periapikal. Namun dapat dilakukan tindakan
pencegahan sekunder yaitu:
 Mengilangkan penyebab trauma oklusi
 Perawatan pulpa
 Scaling dan root planing pada jaringan periodontal
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan faktor
penyebab kerusakan gigi seperti bakteri dapat teratasi

82. K03.5 Ankylosis of teeth


Ankilosis gigi merupakan salah satu anomali gigi yaitu terjadinya fusi antara
tulang alveolar dengan sementum dan atau dentin sebelum atau setelah gigi erupsi.
Penyebab utama ankilosis masih belum dapat diketahui, walaupun beberapa faktor
sering disebutkan antara lain: trauma terhadap tulang dan ligamen periodontal,
defisiensi pertumbuhan tulang lokal arah vertikal, gangguan metabolisme lokal dan
inflamasi lokal (Kusumadewy dan Ismaniati, 2016).
Tindakan Pencegahan Primer
 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini. Pemeriksaan ankilosis dilakukan dengan pemeriksaan
keseluruhan dan penunjang radiografi.
 Memilih makanan
86

Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi


yang dapat menyebabkan ankilosis. Selain itu pemilihan makanan empat sehat
lima sempurna dapat mencegah terjadinya kelainan pada tulang dan gigi.
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Ektraksi pada gigi sulung ankilosis dengan benih gigi permanen dapat
dilakukan karena dengan ekstraksi akan memutus fusi antara tulang dengan
gigi. Jika gigi sulung ankilosis ini sudah diambil, maka benih gigi permanen
dapat erupsi pada posisinya, terkadang dibutuhkan space maintainer untuk
mempertahankan ruang.
 Luksasi gigi yaitu melepaskan ikatan antara tulang dengan gigi sehingga
erupsi dapat terjadi. Metode ini dilakukan pada gigi permanen yang ankilosis.
Gigi ankilosis juga dapat dibiarkan tanpa perawatan jika ankilosis terjadi
setelah tumbuh kembang dan tidak terjadi gangguan pertumbuhan maka tidak
dibutuhkan ekstraksi.
 Restorasi menggunakan built up dengan komposit resin. Atau dengan restorasi
indirect seperti mahkota stainless steel, onlay komposit atau porcelain.
Tidakan Rehabilitatif
 Tindakan rehabilitatif dapat dilakukan setelah ekstraksi pada gigi anylosis
dengan pembuatan protesa atau perawatan ortodonti.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan faktor
penyebab kerusakan gigi seperti bakteri dapat teratasi.

83. K03.6 Deposits (acceretions) on teeth


Deposit pada permukaan gigi dapat dikelompokan menjadi acquired
pellicle, materia alba, food debris, dental plak, dental stain, dan kalkulus.
Penyebabnya dapat lokal atau sistemik dan termasuk penggunaan tembakau,
87

makanan, plak gigi, karies, bahan pengisi restoratif, trauma, obat-obatan, infeksi,
penyakit keturunan, dan defisiensi nutrisi.

Tindakan Pencegahan Primer


 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini.
 Memilih makanan
Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi.
Pemilihan makanan empat sehat lima sempurna dapat mencegah terjadinya
kelainan pada tulang dan gigi. Selain itu mengurangi soft food dan
memperbanyak konusmsi makanan kaya serat dan air seperti sayur dan buah-
buahan dapat membantu untuk menjaga kebersihan mulut.
 Oral Hygiene Instruction
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Scaling dan root planing
Scaling dan root planing dilakukan untuk membersihkan deposit yang
menempel pada gigi dan akar. Scaling dilakukan setiap enam bulan sekali ke
dokter gigi untuk menghindari terjadinya penyakit jaringan periodontal seperti
gingivitis atau periodontitis.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan bersih. Oral
Hygiene Instruction harus dilakukan dengan baik dan benar. Seperti Teknik
88

menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi, serta makanan yang sebaiknya


dikonsumsi.

84. K03.7 Posteruptive color changes of dental hard tissues


Posteruptive color changes of dental hard tissues adalah diskolorasi
dan/atau perubahan warna yang tampak pada jaringan keras gigi pasca erupsi
(Cameron, 2013). Diskolorisasi gigi terbagi menjadi diskolorasi ekstrinsik dan
diskolorasi intrinsik (Grossman, dkk, 2015). Diskolorasi intrinsik merupakan
diskolorasi yang terjadi akibat substansi yang masuk ke jaringan dentin saat masa
pertumbuhan gigi. Diskolorisasi ekstrinsik biasanya terjadi di jaringan enamel dan
bersifat lokal. Berdasarkan penyebabnya diskolorisasi ekstrinsik dibagi menjadi 2
kategori:
 Diskolorasi non metalik
Diskolorisasi non metalik disebabkan oleh kromogen organik melekat pada
pelikel. Warnanya berasal dari warna asli kromogen tersebut. Faktor-faktor
yang dapat menyebabkan stain langsung adalah merokok, mengunyah
tembakau, teh, dan kopi. Pada gigi akan terlihat warna berasal dari komponen
polyphenol yang memberikan warna makanan.
 Diskolorasi metalik
Diskolorisasi metalik dihasilkan dari interaksi kimia antara komponen
penyebab perubahan warna dengan permukaan gigi. Metal akan masuk ke
dalam substansi gigi atau menempel pada pelikel dan menyebabkan stain
pada permukaan gigi. Proses tersebut dapat terjadi karena pekerja industri
menghirup debu industri melalui mulut sehingga menyebabkan substansi
logam berkontak dengan gigi. Perubahan warna gigi yang terjadi akan
berbeda bergantung pada bahan logam kontaminan, contoh : tembaga (hijau),
besi (coklat), magnesium (hitam), perak (hitam), iodine (hitam), dan nikel
89

(hijau). Penetrasi metal ke dalam substansi gigi menyebabkan perubahan


warna gigi bersifat permanen dan bisa terjadi
pada seluruh bagian gigi.

Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 Diskolorisasi non metalik yang disebabkan oleh kebiasaan
mengonsumsi teh
Gambar 2 Diskolorisasi metalik yang disebabkan oleh paparan kimia
(Sumber: Khalisa, 2014)

Tindakan Pencegahan Primer


 Memperhatikan konsumsi makanan dan/atau minuman berwarna
Konsumsi makanan dan/atau minuman berwarna seperti teh, kopi, sirup tidak
boleh berlebihan. Setelah mengonsumsi makanan dan/atau minuman tersebut
disarankan untuk menyikat gigi dan berkumur-kumur untuk menghindari
akumulasi zat pewarna makanan pada gigi
 Menghindari kebiasaan mengunyah tembakau dan merokok
Tar dan nikotin yang terkandung dalam rokok dapat mengendap pada
permukaan gigi, terutama daerah akar gigi, sehingga mempermudah
perlekatan plak. Paparan asap yang ditimbulkan juga menyebabkan
kontaminasi substansi metal pada gigi.
 Menyikat gigi minimal 2x/hari dan menggunakan alat bantu lainnya seperti
toothpick, dental floss, obat kumur apabila memungkinkan
90

Tindakan Pencegahan Sekunder


 Scaling dan polishing gigi
 Bleaching
 Abrasif gigi
 Penggunaan porcelain veneer dan crown
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Rutin kontrol ke dokter gigi pasca perawatan
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut

85. K03.8 Other specified diseases of hard tissues of teeth


Other specified diseases of hard tissues of teeth merupakan penyakit-
penyakit spesifik lain pada jaringan keras gigi. Contohnya yaitu cracked tooth
(keretakan gigi).

Gambar 1 Cracked tooth (Sumber: google.com)

Tindakan Pencegahan Primer


 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini. Pemeriksaan ankilosis dilakukan dengan pemeriksaan
keseluruhan dan penunjang radiografi.
 Memilih makanan
91

Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi


yang dapat menyebabkan ankilosis. Selain itu pemilihan makanan empat sehat
lima sempurna dapat mencegah terjadinya kelainan pada tulang dan gigi.
 Oral Hygiene Instruction
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Perawatan penyakit ini disesuaikan dari hasil pemeriksaan intraoral,
ekstraoral, dan penunjang. Pada kasus cracked teeth yang masih di sekitar
mahkota dan belum mencapai akar, perawatan konservasi gigi seperti
penambalan, perawatan saluran akar, dan pembuatan mahkota pasak dapat
dilakukan. Kasus cracked teeth yang telah mencapai daerah akar biasanya
sulit untuk mempertahankan mahkota gigi dan lebih disarankan untuk
dilakukan ekstraksi gigi.
Tindakan Rehabilitatif
 Tindakan rehabilitatif yang dapat dilakukan setelah ekstraksi pada kelainan
jaringan keras gigi lainnya adalah pembuatan protesa, implant, dan perawatan
ortodonti.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan faktor
penyebab kerusakan gigi seperti bakteri dapat teratasi

86. K03.9 Disease of hard tissues of teeth, unspecified


Disease of hard tissues of teeth, unspecified adalah kerusakan jaringan keras
gigi yang sifatnya tidak terspesifikasi, baik diagnosa maupun etiologinya (idiopatik).
Tindakan Pencegahan Primer
 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini.
 Memilih makanan
92

Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi.


Pemilihan makanan empat sehat lima sempurna dapat mencegah terjadinya
kelainan pada tulang dan gigi. Perilaku mengurangi soft food dan
memperbanyak konsumsi makanan kaya serat dan air seperti sayur dan buah-
buahan dapat membantu untuk menjaga kebersihan mulut.
 Oral Hygiene Instruction
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Tindakan perawatan untuk penyakit ini disesuaikan dengan hasil pemeriksaan
intraoral, ekstraoral, dan penunjang yang dilakukan
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan bersih. Oral
Hygiene Instruction harus dilakukan dengan baik dan benar.

87. K04 Diseases of pulp and periapical tissues


Penyakit pada jaringan pulpa dan periapikal terdiri dari pulpitis, nekrosis
pulpa, degenerasi pulpa, pembentukan jaringan keras abnormal pada pulpa,
periodontitis apikal akut yang berasal dari pulpa, periodontitis apikal kronis, abses
periapikal dengan sinus, abses periapikal tanpa sinus, kista radikular, dan penyakit-
penyakit lainnya.
Tindakan Pencegahan Primer
 Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin
Pemeriksaan ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali dianjurkan
untuk diagnosa dini.
 Memilih makanan
Pemilihan makanan sebaiknya dilakukan untuk menghindari kerusakan gigi.
Pemilihan makanan empat sehat lima sempurna dapat mencegah terjadinya
kelainan pada tulang dan gigi. Selain itu mengurangi soft food dan
93

memperbanyak konusmsi makanan kaya serat dan air seperti sayur dan buah-
buahan dapat membantu untuk menjaga kebersihan mulut.
 Oral Hygiene Instruction
Tindakan Pencegahan Sekunder
 Perawatan yang dapat dilakukan pada kasus ini meliputi penambalan gigi,
perawatan saluran akar, pembuatan porcelain veneer dan crown hingga
ekstraksi gigi.
Penatalaksanaan Setelah Perawatan
 Kebersihan gigi dan mulut harus dijaga agar gigi tetap sehat dan bersih. Oral
Hygiene Instruction harus dilakukan dengan baik dan benar.

88. K 04.0 Pulpitis


Edukasi pencegahan:
 Jenis-jenis gigi dan fungsinya: gigi seri untuk memotong makanan, gigi
taring untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham untuk mengunyah
makanan.
 Peradangan pada pulpa dapat disebabkan oleh gigi yang berlubang. Gigi
dapat berlubang disebabkan oleh bakteri pada gigi yang menghasilkan
asam sehingga membuat gigi berlubang.
 Deteksi awal gigi berlubang ditandai dengan adanya lesi berwarna
putih yang berkembang menjadi kecoklatan hingga akhirnya berwarna
kehitaman dan akhirnya membuat gigi berlubang.
 Gigi yang berlubang dan sudah mencapai email dan dentin akan terasa
sakit ketika makan-makanan manis atau minum-minuman yang dingin.
Namun, ketika lubang sudah mencapai pulpa, maka gigi akan terasa sakit
meskipun tidak ada rangsangan yang merangsang.
 Rencana perawatan yang akan dilakukan tergantung dari kedalaman
lubang. Jika masih mencapai email atau dentin maka dapat dilakukan
94

penambalan, namun jika sudah mencapai pulpa maka harus dilakukan


perawatan saluran akar.
Edukasi setelah perawatan
 Cara pemeliharaan agar gigi tidak mudah berlubang adalah dengan
menghindari makanan manis dan asam dan menambah makanan yang
berserat dan banyak vitamin serta rajin menyikat gigi 2x sehari setelah
makan pagi dan sebelum tidur malam. Selain itu, diberikan penjelasan
mengenai pemilihan pasta gigi dan sikat gigi yang benar
 Pasien diinstruksikan untuk pemeriksaan rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

89. K 04.1 Nekrosis pulpa


Edukasi pencegahan:
 Jenis-jenis gigi dan fungsinya: gigi seri untuk memotong makanan, gigi
taring untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham untuk mengunyah
makanan.
 Peradangan pada pulpa dapat disebabkan oleh gigi yang berlubang. Gigi
dapat berlubang disebabkan oleh bakteri pada gigi yang menghasilkan asam
sehingga membuat gigi berlubang.
 Deteksi awal gigi berlubang ditandai dengan adanya lesi berwarna putih
yang berkembang menjadi kecoklatan hingga akhirnya berwarna kehitaman
dan akhirnya membuat gigi berlubang.
 Gigi yang berlubang dan sudah mencapai enamel, dent in atau pulpa akan
terasa sakit.
 Namun, apabila gigi sudah tidak terasa sakit lagi berarti gigi tersebut sudah
nekrosis atau mati.
95

 Gigi yang sudah nekrosis berarti bakteri yang menyebabkan gigi


berlubang sudah mencapai pulpa sehingga harus dilakukan perawatan
saluran akar untuk membersihkan akar gigi dari bakteri yang tersisa.
Edukasi setelah perawatan:
 Cara pemeliharaan agar gigi sampai nekrosis adalah dengan menghindari
makanan manis dan asam yang terlalu banyak dan menambah makanan
yang berserat dan banyak vitamin serta rajin menyikat gigi 2x sehari setelah
makan pagi dan sebelum tidur malam. Selain itu, diberikan penjelasan
mengenai pemilihan pasta gigi dan sikat gigi yang benar
 Apabila gigi sudah terasa sakit segera lakukan pemeriksaan dokter
gigi atau melakukan pemeriksaan rutin 6 bulan sekali.

90. K 04.2 Pulp Degeneration


Edukasi pencegahan:
 Jenis-jenis gigi dan fungsinya: gigi seri untuk memotong makanan, gigi
taring untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham untuk mengunyah
makanan.
 Deteksi awal degenerasi pulpa biasanya dapat terlihat adanya perubahaan
warna menjadi kehitaman akibat dari matinya pulpa. Umumnya terjadi pada
orang yang sudah lanjut usia karena factor usia, namun dapat juga terjadi
pada usia muda bila terjadi trauma atau pada penderita kanker mulut.
 Hindari makan makanan yang bersuhu ekstrim, hindari konsumsi alcohol
dan rokok yang berlebihan karena dapat memicu kanker mulut.
Edukasi setelah perawatan:
 Cara pemeliharaannya adalah dengan menghindari makanan manis dan
asam yang terlalu banyak dan menambah makanan yang berserat dan banyak
vitamin serta rajin menyikat gigi 2x sehari setelah makan pagi dan sebelum
96

tidur malam. Selain itu, diberikan penjelasan mengenai pemilihan pasta gigi
dan sikat gigi yang benar
 Apabila gigi terasa sakit segera lakukan pemeriksaan dokter gigi atau
melakukan pemeriksaan rutin 6 bulan sekali.

91. K04.3 Abnormal hard tissue formation in pulp


Edukasi Pencegahan:
 Konsumsi gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan gigi
pada ibu hamil maupun anak pada masa pertumbuhan
 Konsultasikan ke dokter gigi sedini mungkin tentang gizi untuk
pertumbuhan dan perkembangan gigi
 Segera mengunjungi dokter gigi untuk dilakukan pemeriksaan jika
ditemukan kecurigaan dalam perkembangan gigi
Edukasi setelah perawatan:
 Konsumsi makanan dengan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan
perkembangan gigi
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
 Kunjungan berkala ke dokter gigi

92. K04.4 Acute apical periodontitis of pulpal origin


Edukasi Pencegahan:
 Saat gigi berlubang, segera pergi ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan
penambalan gigi, karena jika lubang sudah semakin dalam maka bakteri
akan lebih mudah untuk masuk ke jaringan periodontal dan menyebabkan
infeksi
 Hindari makan makanan yang bersuhu ekstrim, setelah mengonsumsi
makanan manis dan asam segera minum air putih
97

Edukasi setelah perawatan:


 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Ikuti instruksi yang diberikan oleh dokter gigi

93. K04.5 Chronic apical periodontitis


Edukasi Pencegahan:
 Teknik menyikat gigi harus baik dan benar, menggunakan alat bantu seperti
dental floss
 Melakukan skeling setiap 6 bulan sekali
 Jika terdapat gejala lebih awal, segera ke dokter gigi untuk pemeriksaan
dan perawatan dini
Edukasi setelah perawatan:
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Ikuti instruksi yang diberikan oleh dokter gigi

94. K04.6 (Periapical Abscess With Sinus)


Abses periapikal terbentuk karena kerusakan gigi, yang mengikis
enamel dan dentin sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk ke pulpa, yang
merupakan suplai saraf dan darah gigi. Apabila gigi berlubang dibiarkan terus
menerus, maka dapat terbentuk pus/nanah di bawah akar gigi. Sinus maksilaris,
merupakan salah satu tempat penyebaran infeksi karena letaknya sedikit di atas gigi
sehingga dapat menyebabkan sinusitis maksilaris.
Edukasi Pencegahan
 Sikat gigi dua kali sehari (setelah sarapan dan sebelum tidur) dengan
pasta gigi berfluoride.
98

 Gunakan benang gigi atau pembersih interdental untuk membersihkan sela-


sela gigi.
 Ganti sikat gigi setiap tiga atau empat bulan, atau saat bulu sikat rusak.
 Makan makanan sehat, kurangi makanan manis dan camilan di antara waktu
makan.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali.
 Pertimbangkan untuk menggunakan obat kumur antiseptik untuk
menambahkan lapisan perlindungan tambahan terhadap gigi berlubang.
 Mengubah gaya hidup dan kebiasaan yang memicu terjadinya sinusitis
seperti udara malam, konsumsi rokok, kopi.
 Jika lubang gigi terdeteksi lebih awal, segera ke dokter gigi untuk dilakukan
penambalan karena gigi berlubang yang dibiarkan dan tidak dirawat dapat
berkembang menjadi abses.
 Jika sudah terjadi abses maka harus dilakukan perawatan pada sumber
absesnya.
 Perawatan ini terdiri atas terapi antibiotik yang disertai dengan inisisi dan
drainase bila diindikasikan, dan terapi lanjutan yang meliputi perawatan
endodontic. Biasanya lubang ke saluran sinus akan tertutup dalam waktu 1
minggu setelah prosedur cleaning and shaping.
Edukasi Setelah Perawatan
 Gigi yang telah dirawat saluran akar harus dievaluasi kembali untuk
menyingkirkan kemungkinan pembesaran lesi dan untuk memastikan
penyembuhan total, sehingga pasien diharapkan berkunjung ke dokter gigi
untuk kontrol perawatan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
 Mengonsumsi antibiotik dan analgesik yang telah diresepkan oleh dokter gigi.
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut.

95. K04.7 (Periapical Abscess Without Sinus)


99

Edukasi Pencegahan
 Sikat gigi dua kali sehari (setelah sarapan dan sebelum tidur) dengan
pasta gigi berfluoride.
 Gunakan benang gigi atau pembersih interdental untuk membersihkan sela-
sela gigi.
 Ganti sikat gigi setiap tiga atau empat bulan, atau saat bulu sikat rusak.
 Makan makanan sehat, kurangi makanan manis dan camilan di antara waktu
makan.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali.
 Pertimbangkan untuk menggunakan obat kumur antiseptik untuk
menambahkan lapisan perlindungan tambahan terhadap gigi berlubang.
 Jika lubang gigi terdeteksi lebih awal, segera ke dokter gigi untuk dilakukan
penambalan karena gigi berlubang yang dibiarkan dan tidak dirawat dapat
berkembang menjadi abses.
 Jika sudah terjadi abses dan terasa sakit, pasien dapat meminum obat
pereda nyeri dan segera ke dokter gigi untuk dilakukan drainase
(pembukaan rongga abses) agar nanah dapat keluar dan dapat dilakukan
perawatan saluran akar pada gigi tersebut.
Edukasi Setelah Perawatan
 Gigi yang telah dirawat saluran akar harus dievaluasi kembali untuk
menyingkirkan kemungkinan pembesaran lesi dan untuk memastikan
penyembuhan total, sehingga pasien diharapkan berkunjung ke dokter gigi
untuk kontrol perawatan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
 Mengonsumsi antibiotik dan analgesik yang telah diresepkan oleh dokter gigi.
 Selalu menjaga kebersihan da kesehatan gigi dan mulut.

96. K04.8 (radicular cyst)


100

Kista radikuler disebabkan oleh infeksi karena gigi berlubang. Apabila


gigi yang berlubang dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan
peradangan pada jaringan pulpa gigi (pulpitis) kemudian terjadi kematian saraf
pada gigi tersebut. Setelah gigi nonvital (mati) lama-kelamaan akan dapat
terbentuk kista periapikal pada ujung akar gigi tersebut.
Perawatan kista radikuler pada gigi dewasa yaitu merawat pulpa nekrotik
(sumber infeksi) melalui perawatan saluran akar (pulpektomi). Pada beberapa
kasus dengan kista yang sangat besar, setelah perawatan di atas, dilakukan
manajemen bedah tambahan (prosedur enukleasi atau marsupialisasi). Selain
perawatan saluran akar, gigi dengan kista radikuler juga dapat dilakukan
pencabutan.
Edukasi Pencegahan
Kista radikuler berasal dari gigi berlubang yang dibiarkan dan tidak
dirawat, sehingga untuk pencegahan terjadinya kista radikuler, maka dimulai dari
pencegahan gigi berlubang, yaitu:
 Sikat gigi dua kali sehari (setelah sarapan dan sebelum tidur)
dengan pasta gigi berfluoride.
 Gunakan benang gigi atau pembersih interdental untuk membersihkan sela-
sela gigi.
 Ganti sikat gigi setiap tiga atau empat bulan, atau saat bulu sikat rusak.
 Makan makanan sehat, kurangi makanan manis dan camilan di antara waktu
makan.
 Periksa rutin ke dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali untuk
pembersihan karang gigi dan dilakukan penambalan apabila ada gigi
berlubang.
Edukasi Setelah Perawatan
 Gigi yang telah dirawat saluran akar harus dievaluasi kembali untuk
menyingkirkan kemungkinan pembesaran lesi dan untuk memastikan
101

penyembuhan total, sehingga pasien diharapkan berkunjung ke dokter gigi


untuk kontrol perawatan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
 Mengonsumsi antibiotik dan analgesik yang telah diresepkan oleh dokter gigi.
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut.

97. K04.9 Other and unspecified diseases of pulp and periapical tissues
Edukasi Tentang Pencegahan:
 Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kesehatan gigi mulut sejak dini
 Dokter gigi memberikan penjelasan kepada pasien mengenai
keuntungan melakukan perawatan sedini mungkin dan dampak yang
diterima pasien jika menunda perawatan
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap enam bulan
Edukasi Setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik
 Mengurangi mengonsumsi makan manis dan lengket
 Sikat gigi 2x sehari

K05 Gingivitis and periodontal diseases


98. K05.0 Acute Gingivitis
Edukasi Tentang Pencegahan:
 Melakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap enam bulan sekali
 Mengedukasi mengenai gejala penyakit
 Menggunakan alat bantu untuk membersihkan gigi
Edukasi Setelah Perawatan:
 Menjaga kebersihan rongga mulut dengan sikat gigi 2x sehari
 Mengurangi mengonsumsi kopi dan minuman yang dapat menimbulkan stain
 Mengurangi mengonsumsi rokok
102

99. K05.1 Chronic gingivitis


Edukasi pencegahan :
 Kontrol Plak dengan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan dental
floss
 Profilaksis mulut dengan cara melakukan skeling
 Pencegahan trauma dari oklusi, misal memastikan tidak ada tambalan gigi
yang berlebih
 Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila
segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan.
Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang
paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit.
 Menegaskan bukti bahwa seperti karies gigi, penyakit periodontal
biasanya tidak menimbulkan rasa sakit pada awalnya sehingga
masyarakat tidak menyadarinya.
Edukasi setelah perawatan :
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Mengikuti instuksi dokter gigi dalam menjaga kesehatan mulut

100. K05.2 Acute periodontitis


Edukasi pencegahan :
 Kontrol Plak dengan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan dental
floss
 Profilaksis mulut dengan cara melakukan skeling
 Pencegahan trauma dari oklusi, misal memastikan tidak ada tambalan gigi
yang berlebih
 Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila
segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan.
103

Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang
paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit.
 Menegaskan bukti bahwa seperti karies gigi, penyakit periodontal
biasanya tidak menimbulkan rasa sakit pada awalnya sehingga
masyarakat tidak menyadarinya.
Edukasi setelah perawatan :
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Mengikuti instuksi dokter gigi dalam menjaga kesehatan mulut
 Melakukan penambalan pada lesi karies dan mengkoreksi tepi tambalan
sebelumnya
 Koreksi kebiasaan buruk misal bruxism
 Melakukan prosedur splinting
101. K05.3 Chonic periodontitis
Edukasi pencegahan :
 Kontrol Plak dengan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan dental
floss
 Profilaksis mulut dengan cara melakukan skeling
 Pencegahan trauma dari oklusi, misal memastikan tidak ada tambalan gigi
yang berlebih
 Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila
segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan.
Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang
paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit.
 Menegaskan bukti bahwa seperti karies gigi, penyakit periodontal biasanya
tidak menimbulkan rasa sakit pada awalnya sehingga masyarakat tidak
menyadarinya.
Edukasi setelah perawatan :
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
104

 Mengikuti instuksi dokter gigi dalam menjaga kesehatan mulut


 Melakukan penambalan pada lesi karies dan mengkoreksi tepi tambalan
sebelumnya
 Koreksi kebiasaan buruk misal bruxism
 Melakukan prosedur splinting

102. K05.4 Periodontitis


Edukasi pencegahan :
 Kontrol Plak dengan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan dental
floss
 Melakukan skeling ke dokter gigi

 Pencegahan trauma dari oklusi, misal memastikan tidak ada tambalan gigi
yang berlebih
 Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila
segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan.
Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang
paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit.
Edukasi setelah perawatan :
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Mengikuti instuksi dokter gigi dalam menjaga kesehatan mulut
 Melakukan penambalan pada lesi karies dan mengkoreksi tepi tambalan
sebelumnya
 Koreksi kebiasaan buruk misal bruxism
 Melakukan prosedur splinting

103. K05.5 Other Periodontal Disease


Edukasi pencegahan :
105

 Kontrol Plak dengan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan dental
floss
 Melakukan skeling ke dokter gigi
 Pencegahan trauma dari oklusi, misal memastikan tidak ada tambalan gigi
yang berlebih
 Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila
segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan.
Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang
paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit.
Edukasi setelah perawatan :
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Mengikuti instuksi dokter gigi dalam menjaga kesehatan mulut
 Melakukan penambalan pada lesi karies dan mengkoreksi tepi tambalan
sebelumnya
 Koreksi kebiasaan buruk misal bruxism
 Melakukan prosedur splinting

104. K05.6 Periodontal Disease, Unspecified


Edukasi Pencegahan:
 Teknik menyikat gigi harus baik dan benar, menggunakan alat bantu seperti
dental floss
 Melakukan skeling setiap 6 bulan sekali
 Jika terdapat gejala lebih awal, segera ke dokter gigi untuk pemeriksaan
dan perawatan dini
Edukasi setelah perawatan:
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Ikuti instruksi yang diberikan oleh dokter gigi
106

105. K06 Other Disorder of Gingiva and edentulous Alveolar Ridge


Edukasi Pencegahan:
 Teknik menyikat gigi harus baik dan benar, menggunakan alat bantu seperti
dental floss
 Melakukan skeling setiap 6 bulan sekali
 Jika terdapat gejala lebih awal, segera ke dokter gigi untuk pemeriksaan
dan perawatan dini
Edukasi setelah perawatan:
 Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
 Kunjungan berkala ke dokter gigi
 Ikuti instruksi yang diberikan oleh dokter gigi
106. K06.0 Gingival recession
Edukasi Pencegahan :
 Kontrol Plak
Menjelaskan pada pasien bahwa kontrol plak merupakan cara yang paling
efektif dalam mencegah pembentukan kalkulus dan merupakan dasar pokok
pencegahan penyakit periodontal, tanpa kontrol plak kesehatan mulut tidak
dapat dicapai atau dipelihara. Secara mekanis merupakan cara yang paling
dapat dipercaya, meliputi penggunaan alat-alat fisik dengan memakai sikat
gigi, alat pembersih proksimal seperti dental floss, tusuk gigi dan kumur-
kumur dengan air. Kontrol plak secara kimia adalah memakai bahan kumur -
kumur seperti chlorhexidine.
 Profilaksis mulut
Menjelaskan pada pasien bahwa profilaksis mulut merupakan tindakan yang
dapat dilakukan di dokter gigi, dapat berupa penyingkiran plak, kalkulus
(supra dan sub gingiva) pada seluruh permukaan, memakai zat profilaksis
yang ada dalam pasta pemoles/pasta gigi.
107

Edukasi setelah Perawatan :


 Setelah kesehatan jaringan tercapai, diberikan instruksi hygiene mulut, cara
dan waktu sikat gigi yang baik dan benar, kunjungan berkala ke dokter gigi
untuk memeriksa kondisi gigi dan mulut.

107. K06.1 Gingival enlargement


Edukasi Pencegahan :
 Kontrol Plak
Menjelaskan pada pasien bahwa kontrol plak merupakan cara yang paling
efektif dalam mencegah pembentukan kalkulus dan merupakan dasar pokok
pencegahan penyakit periodontal, tanpa kontrol plak kesehatan mulut tidak
dapat dicapai atau dipelihara. Secara mekanis merupakan cara yang paling
dapat dipercaya, meliputi penggunaan alat-alat fisik dengan memakai sikat
gigi, alat pembersih proksimal seperti dental floss, tusuk gigi dan kumur-
kumur dengan air. Kontrol plak secara kimia adalah memakai bahan kumur -
kumur seperti chlorhexidine.
 Pencegahan dengan tindakan sistemik
Cara lain untuk mencegah penyakit periodontal adalah dengan tindakan
sistemik sehingga daya tahan tubuh meningkat yang juga mempengaruhi
kesehatan jaringan periodontal. Agen pencedera seperti plak bakteri dapat
dinetralkan aksinya bila jaringan sehat.
 Profilaksis mulut
Menjelaskan pada pasien bahwa profilaksis mulut merupakan tindakan yang
dapat dilakukan di dokter gigi, dapat berupa penyingkiran plak, kalkulus
(supra dan sub gingiva) pada seluruh permukaan, memakai zat profilaksis
yang ada dalam pasta pemoles/pasta gigi.
Edukasi setelah Perawatan :
108

 Pemeliharaan kesehatan gingiva yang telah sembuh yaitu dengan memberikan


instruksi hygiene mulut (kontrol plak), cara dan waktu sikat gigi yang baik
dan benar, kunjungan berkala ke dokter gigi untuk memeriksa kondisi gigi
dan mulut.

108. K06.2 Gingival and edentulous alveolar ridge lesions associated


with trauma
Edukasi Pencegahan :
 Pencegahan trauma dari oklusi
 Menyesuaikan hubungan gigi-gigi yang mengalami perubahan secara perlahan
lahan. Hubungan tonjol gigi asli dengan tambalan gigi yang tidak tepat dapat
menimbulkan kebiasaan oklusi yang tidak baik seperti bruxim atau clenching.
 Pencegahan dengan prosedur ortodontik
 Prosedur ortodontik sangat penting dalam pencegahan penyakit periodontal.
Tujuan koreksi secara ortodontik ini adalah untuk pemeliharaan tempat gigi
tetap pengganti, letak gigi dan panjang lengkung rahang.
 Kontrol Plak
Edukasi setelah Perawatan :
 Setelah kesehatan jaringan tercapai, diberikan instruksi hygiene mulut, cara
dan waktu sikat gigi yang baik dan benar, kunjungan berkala ke dokter gigi
untuk memeriksa kondisi gigi dan mulut.

109. K06.8 Other specified disoders of gingiva and edentulous alveolar


ridge
Edukasi Pencegahan :
 Kontrol plak secara mekanis dan kimia.
 Profilaksis
 Pencegahan trauma dari oklusi
109

Edukasi setelah Perawatan :


 Setelah kesehatan jaringan tercapai, diberikan instruksi hygiene mulut, cara
dan waktu sikat gigi yang baik dan benar, kunjungan berkala ke dokter gigi
untuk memeriksa kondisi gigi dan mulut.

110. K06.9 Disorder of gingival and edentulous ridge, unspecified


 Menjelaskan perawatan
Melakukan prophylaxis (Scaling) pada gigi sisa and memberikan instruksi
cara jaga oral hygiene dan cara merawat gusi atau linggir.
 Cara rawat linggir tersisa
Mengganti ruangan dengan gigi tiruan sebagian atau lengkap. Gigi tiruan
harus direndam dalam air waktu malam tidur dan harus disikat tanpa pasta
gigi supaya tidak menempel kuman dan bakteri sehingga menjadi masalah
infeksi rongga mulut dan gusi. Pemakaian obat kumur disarankan untuk
meningkatkan kebersihin gusi dan mulut. Gigi tiruan dan sisa linggir harus
dibersihkan dengan hati-hati setelah makan. Bau gigi tiruan adalah akibat dari
sisa-sisa makanan yang menempel di bawah gigi tiruan. Pasien harus diajarin
cara bersihkan gusi dengan sikat gig lembut dan pasta gigi (Georgia 2012).
Seterusnya, setelah perawatan gigi tiruan, pengunyahan harus pakai 2 sisi
kanan dan kiri supaya tidak menimbulkan masalah sendi TMJ. Misalnya
terjadi infeksi pada rongga mulut (denture stomatitis) segera konsul ke bagian
penyakit mulut kedokteran gigi.
Pencegahan:
 Kalo ada sakit atau tidak nyaman harus segera kunjungi ke dokter gigi untuk
penyesuaian gigi tiruan. Periksa ke dokter gigi setahun 2 kali untuk deteksi
dini masalah rongga mulut.

111. K07 Dentofacial anomalies (including malocclusion)


110

Pencegahan:
 Mengunyah makanan memakai 2 sisi gigi kiri dan kanan untuk mencegah
gangguan sendi TMJ
Setelah perawatan:
 Perawatan bedah misalnya orthognathic surgery
o Misalnya perawatan orthognathic bedah dilakukan untuk menkoreksi
kelainan dentofasial dan maloklusi, instrusi pasca bedah seperti
berikut harus diberikan kepada pasien. Pressure band (Jaw Bra) harus
dipakai terus selama 48 jam. Setelah 48 jam, pressure band dapat
digunakan sebagai pendukung rahang sesuai kebutuhan. Cold pack
direkomendasikan untuk dua hari pertama setelahnya operasi dan
pasien mengganti penggunaan dengan hot pack setelah dua hari
operasi. Kebersihan mulut dan gigi harus diperhankan dengan
menggunakan sikat gigi kecil dan berbulu halus tanpa mengganggu
luka bedah (Carolina 2017).
 Orthodontics
Pasien yang selesai perawatan orthodontics disarankan mencegah menjadi
gigi berjejal lagi dengan mengikuti instruksi pasca perawatan behel seperti
memakai Essix retainer (bening) pada malam hari tidur. Pasien harus rajin
menjaga oral hygiene gigi dan juga melakukan pembersihan pada Essix
retainer supaya retainer tidak menjadi tempat pembiakan kuman dan bakteri.
Essix retainer harus dipakai sepenuh waktu selama 6 bulan kecuali waktu
makan(Tully 2015). Pasien disarankan untuk kunjungi ke dokter gigi untuk
pemeriksaan kondisi gigi dan mulut.

112. K07.1 Anomalies of jaw- cranial base relationship


Edukasi Pencegahan :
111

 Menghilangkan kebiasaan buruk sejak kecil (bernafas lewat mulut, menhisap


ibu jari, menggigit ibu jari, mengunyah hanya di satu sisi dll)
 Penggunaan Space Regainer dan Space Maintainer pada anak
 Penggunaan alat ortodonti cekat atau lepasan
 Melakukan bedah ortognatik bila kondisi sudah cukup parah (tidak bisa
dengan alat ortodonti aja)
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah Perawatan :
 Pemakaian alat orthodonti dan patuh terhadap instruksi dokter serta kontrol
rutin harus tepat waktu
 Bila sudah selesai penggunaan alat orthodonti cekat, dianjurkan untuk
menggunakan alat orthodonti lepasan (retainer) minimal selama 1 tahun agar
tidak relaps
 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi dua kali sehari (pagi setlah
sarapan dan malam sebelum tidur) dengan teknik yang tepat, penggunaan obat
kumur serta dental floss)
 Melakukan perawatan scaling 6 bulan sekali
 Menghubungi doker gigi jika terdapat keluhan

113. K07.2 Anomalies of Dental Arch Relationship


Edukasi Pencegahan :
 Penggunaan Space Regainer dan Space Maintainer pada anak
 Penggunaan alat orthodonti cekat atau lepasan
 Melakukan bedah orthognatik bila kondisi sudah cukup parah (tidak bisa
dengan alat orthodonti aja)
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah Perawatan :
112

 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi dua kali sehari (pagi setlah
sarapan dan malam sebelum tidur) dengan teknik yang tepat, penggunaan obat
kumur serta dental floss)
 Pemakaian alat orthodonti dan patuh terhadap instruksi dokter serta kontrol
rutin harus tepat waktu
 Bila sudah selesai penggunaan alat orthodonti cekat, dianjurkan untuk
menggunakan alat orthodonti lepasan (retainer) minimal selama 1 tahun agar
tidak relaps
 Melakukan perawatan scaling 6 bulan sekali
 Menghubungi doker gigi jika terdapat keluhan

114. K07.3 Anomalies of tooth position


Edukasi Penegahan:
 Mengetahui masa pertumbuhan erupsi gigi sehingga gigi sulung lepas sesuai
waktunya dan gigi permanen bisa tumbuh sesuai dengan waktu dan tempatnya
 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi dua kali sehari (pagi setlah
sarapan dan malam sebelum tidur) dengan teknik yang tepat, penggunaan obat
kumur serta dental floss)
 Penggunaan Space Regainer dan Space Maintainer pada anak
 Penggunaan alat orthodonti cekat atau lepasan
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah perawatan:
 Pemakaian alat orthodonti dan patuh terhadap instruksi dokter serta kontrol
rutin harus tepat waktu
 Bila sudah selesai penggunaan alat orthodonti cekat, dianjurkan untuk
menggunakan alat orthodonti lepasan (retainer) minimal selama 1 tahun agar
tidak relaps
 Menjaga kebersihan rongga mulut
113

o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
o Menggunakan benang gigi
 Menghubungi doker gigi jika terdapat keluhan

115. K07.4 Malocclusion, unspecified


Edukasi pencegahan:
 Menginformasikan bahwa maloklusi merupakan suatu kelainan dimana
susunan/posisi gigi tampak tidak sejajar
 Menginformasikan kepada ibu bahwa ketika gigi susu anaknya goyang jangan
dicabut terlebih dahulu bila gigi penggantinya belum teriihat namun dibiarkan
saja lepas sendiri hingga gigi penggantinya tumbuh.
 Menjelaskan bahwa harus adanya kesadaran untuk menjaga kesehatan dan
kebersihan gigi mulut sejak dini karna akan berpengaruh pada gigi tetapnya,
seperti menyikat gigi 2 kali sehari dengan gerakan membulat di seluruh
permukaan gigi pada waktu yang tepat yaitu pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur; mengurangi makan makanan manis dan lengket; berkumur
setelah makan manis dan banyak minum air putih.
 Menginformasikan juga untuk menghindari kebiasaan buruk, seperti
menghisap ibu jari, bernapas melalui mulut, menggigit pensil sejak dini
karena dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi tetap.
Edukasi setelah perawatan:
 Bila pasien menggunakan alat ortodonti lepasan diinformasikan untuk rutin
membersihkan baik gigi dan juga alat ortodontinya secara berkala
 Bila pasien menggunakan alat ortodonti cekat diinformasikan untuk tetap
rutin menyikat gigi dengan sikat gigi khusus, teknik sikat gigi yang tepat, dan
114

menggunakan alat bantu pembersih gigi seperti tusuk gigi dan benang gigi
agar dapat membersihkan hingga ke sela-selat alat cekat.

116. K07.5 Dentofacial functional abnormalities


 Abnormal jaw closure
 Malocclusion due to:
o Abnormal swallowing
o Mouth breathing
o Tongue, lip, or finger habits
 Excl: Bruxism
o Teeth-grinding NOS
Edukasi pencegahan:
 Edukasikan pasien untuk menghindari dan menghentikan kebiasaan buruk
(bernapas melalui mulut, menggigit bibir, pipi, menghisap jari, dan lain-lain)
karena dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi tetapnya
 Informasikan kepada pasien untuk tidak mengunyah di satu sisi saja namun di
kedua sisi
 Jelaskan kepada pasien untuk tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya
dengan menyikat gigi secara teratur dan mengurangi makanan manis
Edukasi setelah perawatan:
 Bila pasien menggunakan alat ortodonti lepasan diinformasikan untuk rutin
membersihkan baik gigi dan juga alat ortodontinya secara berkala
 Bila pasien menggunakan alat ortodonti cekat diinformasikan untuk tetap
rutin menyikat gigi dengan sikat gigi khusus, teknik sikat gigi yang tepat, dan
menggunakan alat bantu pembersih gigi seperti tusuk gigi dan benang gigi
agar dapat membersihkan hingga ke sela-selat alat cekat.

117. K07.6 Temporomandibular Joint Disorders


115

 Costen complex syndrome


 Derangement of temporomandibular joint
 Snapping jaw
 Temporomandibular joint-pain-dysfunction syndrome
 Excl: Current temporomandibular joint:
o Dislocation
o Strain
Edukasi pencegahan:
 TMJ merupakan sendi yang menghubungkan tulang tengkorak dengan tulang
rahang bawah. TMD merupakan kelainan yang terjadi pada TMJ yang
ditandai dengan rasa nyeri pada sendi, susah membuka mulut, bunyi pada
sendi. Penyakit ini dapat disebabkan karena adanya kebiasaan buruk.
 Bila pasien mempunyai kebiasaan mengeratkan gigi saat tidur informasikan
untuk ke dokter gigi agar dibuatkan suatu alat (night guard) sehingga TMD
dapat ditanggulangi
 Informasikan kepada pasien bahwa penyakit bila tidak ditangani akan
menyebabkan susah untuk membuka mulut dan dapat mengganggu proses
makan.
Edukasi setelah perawatan:
 Edukasi pasien untuk melatih sendi dan otot wajah
 Informasikan untuk tidak menguap dan tertawa terlalu besar
 Jelaskan kepada pasien untuk periksa ke dokter gigi secara berkala

118. K07.8 Kelainan Dentofasial Lainnya


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
116

o Menggunakan obat kumur


o Menggunakan benang gigi
 Melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi dan plak pada
rahang atas dan rahang bawah
 Melakukan perawatan penambalan gigi
 Melakukan perawatan pencabutan gigi
 Melakukan perawatan alat terapi myofungsional
 Melakukan perawatan bedah untuk memperbaiki kelainan dan
mengembalikan ke keadaan normal (contoh, bedah orthognatik)
 Melakukan perawatan Space Regainer dan Space Maintainer (pada anak)
 Menggunakan alat ortodontik cekat maupun lepasan
 Menjaga asupan makanan
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah Perawatan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
o Menggunakan benang gigi
 Menjaga asupan makanan
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali

119. K07.9 Kelainan Dentofasial, tidak terspesifikasi


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
117

o Menggunakan benang gigi


 Melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi dan plak pada
rahang atas dan rahang bawah
 Melakukan perawatan penambalan gigi
 Melakukan perawatan pencabutan gigi
 Melakukan perawatan alat terapi myofungsional
 Melakukan perawatan bedah untuk memperbaiki kelainan dan
mengembalikan ke keadaan normal (contoh, bedah orthognatik)
 Melakukan perawatan Space Regainer dan Space Maintainer (pada anak)
 Menggunakan alat ortodontik cekat maupun lepasan
 Menjaga asupan makanan
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah Perawatan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
o Menggunakan benang gigi
 Menjaga asupan makanan
 Memeriksakan keadaan rongga mulut dan gigi ke dokter gigi 6 bulan sekali

120. K08 Kelainan pada Gigi dan Jaringan Pendukung lainnya


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
o Menggunakan benang gigi
118

 Melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi dan plak pada
rahang atas dan rahang bawah
 Melakukan perawatan penambalan gigi
 Melakukan perawatan pencabutan gigi
 Melakukan perawatan periodontal lanjutan baik infasif maupun non infasif
(contoh : splinting, dan bedah periodontal)
 Menggunakan alat terapi gigi tiruan lepasan dan cekat (contoh : GTSL, GTL,
Perawatan Pasak dan Mahkota Jembatan, dan lainnya)
 Menjaga asupan makanan
 Memperhatikan kondisi sistemik tubuh
 Memeriksakan kondisi rongga mulut dan gigi pada dokter gigi 6 bulan sekali
Edukasi Setelah Perawatan
 Menjaga kebersihan rongga mulut
o Menyikat gigi rutin dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam
sebelum tidur) dengan cara yang tepat
o Menggunakan obat kumur
o Menggunakan benang gigi
 Menjaga asupan makanan
 Memperhatikan kondisi sistemik tubuh
 Memeriksakan kondisi rongga mulut dan gigi pada dokter gigi 6 bulan sekali

121. K08.0 Exfoliation of teeth due to systemic causes


Pencegahan
 Penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hypophosphatasia, leukemia,
hyperthyroidism, Hyperpituitarism dan Osteoporosis dapat menyebabkan gigi
goyang ataupun exfoliation gigi
119

 Pasien yang punya riwayat penyakit sistemik harus kontrol ke dokter umun
atau dokter spesialis untuk mendapat perawatan yang seharusnya supaya
penyakit sistemik nya dapat terkontrol.
 Tidak merokok dan minum keras
 Sering berolahraga dan mempunyai gaya hidup yang sehat
 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi 2 kali sehari, flossing
dengan benang gigi, kumur-kumur pakai obat kumur antiseptik)
Setelah perawatan
 Setelah gigi dicabut, pasien harus jaga kebersihan rongga mulut nya supaya
bekas luka cabut bisa sembuh dengan cepat dan sempurna
 Harus hindari merokok setelah gigi dicabut
 Berkumur-kumur setelah makan supaya bekas luka cabut bersih
 Tidak makan atau minum yang panas dan asam
 Banyak makan makanan bergizi (sayur-sayuran, buah-buahan, susu)
 Tidak memainkan bekas luka cabut
 Tidak menyikat bekas luka cabut dengan kuat

122. K08.1 Loss of teeth due to accident, extraction or local periodontal


disease
Pencegahan
 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi 2 kali sehari, flossing
dengan benang gigi, kumur-kumur pakai obat kumur antiseptik)
 Diperiksa gigi ke dokter gigi tiap 6 bulan
 Tidak merokok dan minum keras
 Sering berolahraga dan mempunyai gaya hidup yang sehat
 Banyak makan makanan bergizi (sayur-sayuran, buah-buahan)
 Banyak minum air putih dan susu segar
Setelah perawatan
120

 Setelah gigi dicabut, pasien harus jaga kebersihan rongga mulut nya supaya
bekas luka cabut bisa sembuh dengan cepat dan sempurna
 Harus hindari merokok setelah gigi dicabut
 Berkumur-kumur setelah makan supaya bekas luka cabut bersih
 Tidak makan atau minum yang panas dan asam
 Banyak makan makanan yang bergizi (sayur-sayuran, buah-buahan, susu)
 Tidak memainkan bekas luka cabut
 Tidak menyikat bekas luka cabut dengan kuat

123. K08.2 Atrophy of edentulous alveolar ridge


Pencegahan
 Menjaga kebersihan rongga mulut (menyikat gigi 2 kali sehari, flossing
dengan benang gigi, kumur-kumur pakai obat kumur antiseptik)
 Banyak makan makanan bergizi (sayur-sayuran, buah-buahan)
 Rehabilitasi dengan pemakaian alat prosthodontic (gigi tiruan lepasan,
implant supported dentures)
 Therapi bedah (bone graft, screw implants, augmentasi tulang alveolar)
 Rehabilitation dengan alat prosthodontic (gigi tiruan lepasan, implant
supported dentures)
Setelah perawatan
 Pakai gigi tiruan tiap hari dan harus menjaga kebersihannya dengan menyikat
gigi tiruan tiap malam
 Menjaga kebersihan rongga mulut
 Kunjungi ke dokter gigi setiap 6 bulan untuk evaluasi follow-up perawatannya
 Menghubungi doker gigi jika ada keluhan ketika pemakaian gigi tiruan

124. K08.3 Retained Dental Root


Edukasi Pencegahan :
121

 Deteksi karies sejak dini, mengenal bentuk kariesatau gigi bolong agar segera
dibawa ke dokter gigi
 Berkunjung ke dokter gigi 6 bulan sekali
 Pola diet yang seimbang dan menghindari makanan yang manis
 Teknik dan waktu menyikat gigi yang baik dan benar
Edukasi setelah perawatan :
 Untuk menjaga agar tambalan dapat menempel pada gigi dengan baik pasca
perawatan, sebaiknya kurangi mengunyah di daerah gigi yang menjalani
perawatan
 Tetap jaga kebersihan gigi selama masa penyembuhan pasca perawatan
dengan menyikat gigi dan berkumur menggunakan obat kumur antiseptic
 Jangan lupa untuk melakukan pengecekan secara rutin ke dokter gigi untuk
memantau penyembuhan gigi
 Nyeri dan sensitivitas pada gigi yang muncul setelah perawatan dapat diatasi
dengan mengonsumsi obat-obatan antiradang, seperti ibuprofen dan naproxen
 Jika infeksi muncul kembali setelah perawatan saluran akar gigi, perawatan
dapat diulangi kembali untuk menyembuhkan infeksi yang terjadi.

125. K08.8 Others Specified disorders of teeth and supporting


structure
Edukasi Pencegahan :
 Bekunjung ke dokter gigi 6 bulan sekali untuk dilakukan pemeriksaan gigi
dan juga pembersihan karang gigi atau scalling.
 Rajin menyikat gigi 2x sehari pada pagi setelah sarapan dan malam sebelum
tidur, dengan teknik menyikat gigi yang benar sesuai usia pasien.
 Rajin meminum air putih agar terciptanya self sleansing pada individu
 Dokter gigi dan perawat memberikan info tentang kesehatan gigi
 Memberikan info dan pengarahan teknik – teknik pengontrolan plak
122

Edukasi setelah perawatan :


 Pasien diajarkan bagaimana cara merawat gigi tiruan lepas dengan pelapis
lunak. Jika gigi tiruan tidak digunakan sebaiknya direndam dengan air atau
cairan pembersih, tidak boleh dalam keadaan kering. Pembersihan pelapis
lunak dapat dilakukan dengan sikat lembut bersamaandengan deterjen yang
lembut atau non abrasif pasta gigi. Karena penggunan pelapis lunak memiliki
kecenderunganmeningkatkan pertumbuhan candida albicaus dan
mikroorganisme
 Tetap jaga kebersihan gigi selama masa penyembuhan pasca perawatan
dengan menyikat gigi dan berkumur menggunakan obat kumur antiseptic
 Jangan lupa untuk melakukan pengecekan secara rutin ke dokter gigi untuk
memantau penyembuhan gigi

126. K08.9 Disorder f teeth and supporting structures, unspecified


Edukasi Pencegahan :
 Memberikan informasi mengenai tumbuh kembang gigi susu dan dewasa pada
pasien
 Memerikan informasi kepada ibu yang sedang hamil bagaimana cara merawat
gigi pada masa kehamilan, kapan dan perawatan apa saja yang dapat diterima
serta konsumsi bat-obatan yang harus dihindari oleh wanita hamil
 Rajin menyikat gigi 2x sehari pada pagi setelah sarapan dan malam sebelum
tidur, dengan teknik menyikat gigi yang benar sesuai usia pasien.
Edukasi setelah perawatan:
 Deteksi karies sejak dini, mengenal bentuk kariesatau gigi bolong agar segera
dibawa ke dokter gigi
 Berkunjung ke dokter gigi 6 bulan sekali
 Pola diet yang seimbang dan menghindari makanan yang manis
 Teknik dan waktu menyikat gigi yang baik dan benar
123

127. K.09 (Cyst of Oral Region, not elsewhere classified)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan
saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi, segera periksakan ke dokter gigi
Edukasi setelah perawatan :
 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin

K.09.0 (Developmental Odontogenic Cyst)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan
saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi dan jaringan sekitar gigi, segera periksakan ke dokter gigi
 Apabila terdapat gigi yang impaksi, segera tindak lanjuti ke dokter gigi
124

Edukasi setelah perawatan :


 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin

128. K.09.1 (Developmental non odontogenic Cysts of oral region)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan
saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi atau jaringan sekitar rongga mulut, segera periksakan ke dokter gigi
Edukasi setelah perawatan :
 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin

129. K 09.2 (Other cysts of jaws)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
125

 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan


saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi atau jaringan sekitar rongga mulut, segera periksakan ke dokter gigi
Edukasi setelah perawatan :
 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin
 Lesi dibiarkan namun terus dilakukan irigasi berulang secara rutin, maka lesi
akan berhenti meluas serta tidak akan terjadi infeksi sekunder, dan defek
rahang akan berangsur hilang

130. K 09.8 (other cysts of oral region, not elsewhere classified)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Menggunakan dental floss
 Disarankan juga untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis
yang dapat merusak gigi
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan
saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi atau jaringan sekitar rongga mulut, segera periksakan ke dokter gigi
Edukasi setelah perawatan :
126

 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin

131. K 09.9 (cyst of oral region, unspecified)


Edukasi Pencegahan
 Jagalah kebersihan rongga mulut, sikat gigi secara teratur dengan teknik yang
tepat sesuai usia (3-13 tahun teknik fones; 15-55 tahun teknik modified bass ;
55 tahun ke atas teknik stillman)
 Menggunakan dental floss
 Disarankan juga untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis
yang dapat merusak gigi
 Kunjungi dokter gigi secara berkala 6 bulan sekali
 Apabila ada gigi yang mengalami kerusakan dan dibutuhkan perawatan
saluran akar, segera tindak lanjuti perawatan sebelum kerusakan makin parah
 Apabila mengalami dan mendeteksi adanya pembengkakan dan rasa sakit
pada gusi atau jaringan sekitar rongga mulut, segera periksakan ke dokter gigi
Edukasi setelah perawatan :
 Jagalah kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi secara rutin dengan
teknik yang tepat
 Apabila setelah perawatan dibutuhkan kontrol berkala ke dokter gigi, lakukan
kontrol secara rutin

132. K10 other disease of jaws


Edukasi pencegahan :
 Hindari mengunyah permen karet atau menggigit benda-benda, seperti boplen
atau kuku.
127

 Hindari makanan yang keras atau kenyal.


 Apabila menguap, tahan rahang bawah dengan tangan.
Edukasi setelah perawatan :
 Menghindari penggunaan otot rahang yang berlebih.
 Makan makanan yang lembut. Potong makanan menjadi kecil. Hindari
makanan yang lengket dan kenyal. Hindari permen karet.
 Melakukan perenggangan dan pijat. Dokter, dokter gigi atau terapis dapat
menunjukkan bagaimana melakukan olahraga yang merenggangkan dan
memperkuat otot rahang dan bagaimana memijat otot.
 Panas atau dingin. Menempelkan panas yang hangat dan lembap atau es pada
samping wajah dapat meringankan rasa sakit.

K10.0 developmental disorders of jaws


Edukasi pencegahan :
Penyebab dari gangguan perkembangan rahang disebabkan karena mutasi genetik
bukan dari keluarga dan kelainan bawaan bayi dari keluarga. Sehingga
pencegahannya dapat melakukan :
 Memastikan kecukupan gizi bagi wanita muda dan ibu hamil, terutama
kecukupan buah dan sayur serta menjaga berat badan ideal.
 Memastikan kecukupan vitamin dan mineral pada ibu hamil terutama asam
folat.
 Menghindari paparan zat kimia berbahaya pada ibu hamil seperti pestisida,
alkohol, atau rokok.
 Menghindari bepergian ke daerah-daerah yang terkena wabah penyakit infeksi
-khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu yang memiliki anak-anak
usia dini.
 Mengontrol kondisi gula darah untuk ibu hamil secara rutin, terutama ibu
hamil yang memiliki risiko diabetes.
128

 Memastikan tindakan medis terhadap ibu hamil tidak membahayakan


kesehatan ibu hamil dan kandungannya, terutama pemberian obat-obatan atau
radioterapi.
 Melakukan vaksinasi pada wanita usia subur sebelum merencanakan
kehamilan, terutama vaksinasi rubella.
 Melakukan deteksi penyakit infeksi di lingkungan ibu hamil, khususnya
rubella, cacar air, dan sifilis.
Edukasi setelah perawatan :
Prosedur perawatan dari kelainan perkembangan rahang dapat di lakukan perawatan
pembedahan. Sehingga dapat melakukan :
 Setelah dibedah rahang diperban selama 2-3 hari sehingga pergerakkan mulut
akan sangat terbatas, dianjurkan untuk makan makanan cair atau yang
bertekstur sangat lunak.
 Hindari melakukan banyak aktivitas rahang
 Hindari membuka mulut terlalu lebar

133. K10.1 giant cell granuloma, central


Edukasi pencegahan :
 Hindari adanya infeksi yang meluas ke area gusi dan menyebabkan
peradangan yang diakibatkan oleh gigi berlubang besar
 Hindari adanya penumpukan karang gigi yang tidak dibersihkan sehingga
menimbulkan pembengkakan di area gusi
Edukasi setelah perawatan :
 Hindari adanya infeksi berulang pasca dilakukannya perawatan
 Hindari makanan yang terlalu panas dan pedas selama proses penyembuhan
pasca perawatan
 Ikuti instruksi dokter untuk meminum obat yang telah diresepkan dokter
terutama antibiotic
129

134. K10.2 (Inflammatory conditions of jaws)


Edukasi pencegahan:
 -Pasien dengan sistem imun lemah dianjurkan untuk:
o Diet sehat dan teratur serta olahraga yang sesuai untuk memperkuat
sistem imun.
o Hindari merokok karena melemahkan sistem imun dan menyebabkan
sirkulasi darah yang buruk.
o Praktekkan gaya hidup bersih, seperti mencuci tangan dengan teratur
serta baik dan benar.
o Rutin suntik yang dianjurkan oleh dokter.
 -Pasien dengan sirkulasi yang buruk dianjurkan untuk:
o Hindari merokok.
o Pertahankan berat badan ideal dengan diet sehat.
o Olahraga teratur.
o Hindari konsumsi alkohol
 -Orang yang mudah terkena infeksi harus berhati-hati saat terluka segera
dibersihkan dengan baik.
 -Perhatikan tanda-tanda infeksi pada luka.
Edukasi setelah perawatan:
 Konsumsi obat sesuai anjuran dokter

135. K10.3 (Alveolitis of Jaws)


Edukasi pencegahan:
 Dokter gigi harus memastikan luka bekas pencabutan benar-benar bersih
setelah tindakan untuk menghindari terjadinya infeksi bakteri
130

 Dokter gigi harus memastikan soket gigi kembali terisi darah setelah
dibersihkan, keping darah yang terbentuk melindungi soket gigi dari bakteri
pada rongga mulut sampai membrane mukosa menutup permukaan yang luka.
 Berikan instruksi paska pencabutan pada pasien tentang cara merawat luka
paska pencabutan, jangan merokok paska pencabutan, hindari makanan panas,
minuman berkafein, dll sampai beberapa jam setelah pencabutan.
 Berikan obat-obatan pencegahan seperti antibiotik dan obat kumur antibakteri
setelah pencabutan.
Edukasi setelah perawatan:
 Konsumsi obat sesuai resep dokter
 Hindari merokok dan menggunakan produk-produk yang mengandung
tembakau
 Minum banyak air putih untuk menghindari dehidrasi dan mual yang dapat
disebabkan oleh beberapa jenis obat penghilang rasa sakit.
 Kumur-kumur pelan dengan air garam hangat beberapa kali sehari.
 Bersihkan (sikat) gigi di sekitar daerah luka dengan pelan.
 Hati-hati saat makan dan minum, hindari minuman berkarbonasi, dan hindari
merokok dan menggunakan sedotan untuk mencegah terjadinya pergeseran
dressing.

136. K10.8 (Other specified diseases of jaws)


Edukasi pencegahan:
 Cherubism: konseling genetik pra kehamilan
 Fibrous dysplasia: perhatikan tanda-tanda asimetri atau abnormalitas pada
wajah yang sebelumnya tidak ada lalu segera ke dokter untuk pemeriksaan
lebih lanjut.
Edukasi setelah perawatan:
 Lakukan instrukri pasca operasi dari dokter.
131

137. K 10.9 (Disease of Jaw, unspecified)


Edukasi Pencegahan:
 Hindari kebiasaan menekan dan mengatup-ngatupkan gigi. Misalnya saat
menggigit benda yang bukan makanan, seperti pulpen, pensil, dan kuku.
 Hindari menelepon dengan cara menjepitnya di antara leher dan pipi.
 Jauhkan diri Anda dari aktivitas yang memaksa untuk membuka mulut lebar-
lebar.
 Kurangi bertopang dagu dan mengunyah dengan satu sisi gigi.
 Pola hidup yang sehat termasuk pola makan yang seimbang dan bergizi, tidak
merokok dan lain-lain.
Edukasi setelah perawatan:
 Pola diet lunak, hindari makanan yang keras atau renyah
 Penggunaan night guard apabila memiliki kebiasaan bruxism.
 Mengkonsumsi obat-obat anti peradangan seperti aspirin, ibuprofen.
 Jika masih rasa kesakitan atau rasa kurang nyaman, bisa konsul ke dokter gigi
lagi.

138. K 11 (Disease of Salivary Gland)


Edukasi Pencegahan:
 Menjaga kerbersihan gigi dan mulut.
 Memeriksa ke dokter gigi secara rutin, 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
 Pola makan yang seimbang dan bergizi.
 Menjaga kesehatan mental dan tidak selalu rasa stress atau tegang.
Edukasi setelah perawatan
 Kontrol rutin ke dokter gigi, 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
132

 Menjaga kebersihan gigi dan mulut.


 Konsumsi vitamin jika perlu.

139. K 11.0 (Atrophy of Salivary Gland)


Edukasi Pencegahan:
 Menjaga kerbersihan gigi dan mulut.
 Memeriksa ke dokter gigi secara rutin, 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
 Menjaga kesehatan mental dan tidak selalu rasa stress atau tegang.
Edukasi setelah perawatan
 Kontrol rutin ke dokter gigi, 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut.

140. K 11.1 (Hypertrophy of Salivary Gland)


Edukasi Pencegahan:
 Menjaga kerbersihan gigi dan mulut.
 Memeriksa ke dokter gigi secara rutin, 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
 Pola makan yang seimbang dan bergizi.
 Menjaga kesehatan mental dan tidak selalu rasa stress atau tegang.
Edukasi setelah perawatan
 Kontrol rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.
 Banyak minum air putih, 6-8 gelas per hari.
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut.

141. K11.2: Sialadenitis


Edukasi
133

Di rumah, pasien boleh mengompres bagian kulit di atas kelenjar dengan air
hangat kemudian memijatnya pelan-pelan. Pada kasus sialadenitis kronis, dapat
dilakukan pembedahan, yaitu mengangkat kalkulus saliva. Mengembalikan aliran air
liur yang tepat juga sangat penting dalam pengobatan sialadentitis akut. Hal ini paling
baik dicapai dengan meminum banyak cairan, dan makan, minum, atau mengisap hal-
hal yang merangsang aliran air liur, misalnya obat pelega tenggorokan atau obat tetes
batuk.Jika Anda sedang sakit dan menggunakan obat-obatan yang menyebabkan
mulut kering, Anda perlu berbicara dengan dokter untuk mengganti obat yang
berbeda atau cara lain yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi efek samping ini.
Perubahan gaya hidup berikut dapat Anda lakukan untuk mengatasi masalah
kelenjar air liur adalah dengan menjaga kesehatan gigi dan mulut, dengan rajin sikat
gigi dua kali sehari dan memakai benang gigi dan juga berkumur dengan air garam.
Pengobatan infeksi kelenjar ludah tergantung pada tingkat keparahan infeksi,
penyebab yang mendasari, dan gejala tambahan apa pun yang Anda miliki, seperti
pembengkakan atau nyeri. Antibiotik dapat digunakan untuk mengobati infeksi
bakteri, nanah, atau demam. Aspirasi jarum halus dapat digunakan untuk mengalirkan
abses.
Perawatan di rumah meliputi:
 Minum 8 hingga 10 gelas air setiap hari dengan lemon untuk menstimulasi air
liur dan menjaga kelenjar tetap bersih.
 Memijat kelenjar yang terkena.
 Menerapkan kompres hangat ke kelenjar yang terkena.
 Berkumur dengan air garam hangat.
 Mengisap lemon asam atau permen lemon bebas gula untuk mendorong aliran
air liur dan mengurangi pembengkakan.

142. K11.3: Abses Kelenjar Ludah


 Edukasi tentang pencegahan
134

o Minum air putih yang banyak untuk mencegah terjadi nya dehidrasi.
o Hindari makanan asam.
o Menjaga kebersihan mulut dengan baik.
o Rajin cuci tangan dengan baik dan benar.
o Berkumur dengan air garam.
o Tidak merokok atau penggunaan tembakau apapun.
o Melakukan vaksinasi MMR (measles, mumps, rubella) untuk
mengecah mumps.
 Edukasi setelah perawatan:
o Minur air putih yang banyak.
o Menjaga oral hygiene dengan baik.
o Menggunakan ubat kumur
o Menyikat gigi 2 kali sehari

143. K11.4: Fistula of Salivary Gland


Edukasi Pencegahan:
 Fistula terjadi disebabkan pasien mengalami post trauma beberapa hari setelah
kejadian pada daerah kelenjar ludah, menyebabkan mengalirnya ludah keluar
kulit wajah, maka pencegahannya hindari trauma pada daerah tersebut
 Jika sudah terjadi trauma dapat segera ditutup dengan menekan kapas atau
tissue pada jaringan
 Segera ke dokter maupun dokter gigi untuk dilakukan diagnosis dan
pengobatan segera karena dapat menyebabkan mengalirnya saliva terus
menerus dan adanya infeksi
Edukasi setelah perawatan:
 Perawatan yang dilakukan adalah penutupan fistula dengan prosedur operasi,
maka pasien dianjurkan untuk melakukan tindakan pembersihan luka dari
infeksi menggunakan antiseptik
135

 Rutin meminum air dikarenakan dapat terjadi kekeringan pada rongga mulut
selama 2-3 hari pasca operasi
 Tidak memakan makanan secara berlebihan atau mengurangi jumlah aktivitas
pengunyahan karena ketika mengunyah makanan, kelenjar ludah akan
mengeluarkan ludah terus menerus dan menyebabkan sulitnya penyembuhan
pada luka

144. K11.5: Sialolithiasis


Sialolitiasis merupakan suatu penyakit yang ditemukan pada kelenjar liur
yang ditandai adanya sumbatan sekresi air liur oleh suatu batu kelenjar liur
(kalkulus). Penyebab serta mekanisme terbentuknya kalkulus masih belum dapat
dipastikan sampai saat ini. Sialolitiasis mengandung bahan campuran dari kalsium
karbonat dan kalsium fosfat dengan bahan organik yang ditemukan antara lain
glikoprotein, mukopolisakarida, dan debrisel. Disertai kandungan amonium,
magnesium dan fosfat hanya sekitar 20 – 25% apabila didapati proses infeksi.2
Ukuran rata –rata sialolit 2 mm – 2 cm atau lebih berbentuk bulat atau irregular
dengan permukaan kasar atau halus. Dilihat dari bentuk yang sering ditemukan
adalah bulat atau lonjong, ukurannya mulai dari milimeter sampai centimeter.
Sedangkan warna bervariasi dari putih hingga coklat tua.

Kelainan ini dapat mengakibatkan rasa nyeri serta peradangan pada kelenjar
liur dan beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi kelenjar liur. Terkadang nyeri
dan pembengkakan kelenjar yang bersifat intermitten merupakan keluhan yang paling
136

sering dikeluhkan dan gejala ini muncul berhubungan dengan mealtime syndrome.
Pada saat selera makan muncul berlebihan terjadi sekresi kelenjar liur pun meningkat
sedangkan drainase melalui duktus mengalami obstruksi sehingga terjadi stagnasi
yang menimbulkan rasa nyeri dan pembengkakan kelenjar.
Sialolithiasis biasanya terdapat di kelenjar submandibula. Ada 2 faktor yang
menjadi alasan tingginya insiden sialolitiasis kelenjar submandibula. Pertama karena
sifat dari air liur yang dihasilkan banyak mengandung musin, bahan organik, enzim
fosfatase, kalsium fosfat, pH alkali serta karbon dioksida yang rendah. Kedua karena
bentuk anatomi warthon’s duct yang panjang dan berkelok dengan posisi orifisium
lebih tinggi dari duktus dan ukuran duktus yang lebih kecil dari lumennya.
Ada berbagai macam metode klinis dan radiologis untuk mendiagnosis
sialolitiasis, yaitu pemeriksaan radiologis oklusa dan panoramik, sialografi,
ultrasonografi, xeroradiografi, scintigrafi dan tomografi komputer yang secara
indirect dapat memberikan informasi mengenai keberadaan sialolith maupun kondisi
kelenjar liur.
Penanganan sialolitiasis dilakukan secara konservatif dan tindakan operasi
dengan mengeksplorasi duktus dari sialolith (sialithectomy). Pemilihan operasi
menunjukkan efikasi yang tinggi dalam keberhasilan terapi dibandingkan dengan cara
konservatif.
Terapi
 Tanpa pembedahan
Adapun penanganan sialolitiasis kelenjar liur dengan pendekatan konservatif.
Pengobatan dengan menggunakan antibiotik dan anti inflamasi dengan
harapan batu dapat keluar melalui karunkula secara spontan.
 Pembedahan
Pada beberapa kasus batu yang berada di warthon’s duct dapat dilakukan
marsupialisasi atau sialodochoplasty. Sering kali batu masih tersisa terutama
bila berada dibagian posterior warthon’s duct sehingga pendekatan
137

konservatif sering diterapkan. Sebelum teknik endoskopi dan litotripsi


berkembang pesat, terapi untuk mengeluarkan batu dengan pengangkatan
sialolit dilakukan pembedahan dengan pendekatan intraoral
(sialithectomy)terutama pada kasus dengan diameter batu yang besar atau
lokasi yang sulit. Terkadang diikuti oleh reseksi kelenjar liur. Tindakan
reseksi kelenjar liur ini dilakukan pada kasus dengan riwayat terbentuknya
batu dan sumbatan duktus kelenjar liur berulang yang dapat mengakibatkan
kerusakan parenkim karena inflamasi kronis yang bersifat irreversibel.
Sialithectomy dengan pendekatan intraoral diikuti reseksi kelenjar liur dengan
teknik operasi memakai narkose umum, kemudian dilakukan pemasangan
pembuka mulut dan lidah diangkat. Setelah dilakukan perabaan pada dasar
rongga mulut untuk menentukan lokasi kalkulus. Dilakukan diseksi secara
tumpul melalui orificium duktus submandibula menembus mukosa rongga
mulut tepat diatas lokasi kalkulus hingga kalkulus terpapar. Lalu kalkulus
dipisahkan perlahan- lahan dari jaringan sekitar kemudian diangkat.
Perdarahan diatasi sebaik mungkin kemudian dilanjutkan dengan tindakan
reseksi kelenjar submandibula dengan insisi horizontal dari tepi bawah
mandibula menembus otot aplatysma hingga lapisan superfisial fasia
servikalis.
Tahap akhir jika memerlukan tindakan ligasi terhadap pembuluh darah arteri
dan vena. Sebelum dilakukan diseksi secara tumpul untuk memisahkan
kelenjar submandibula dari jaringan sekitarnya hingga struktur anatomi
sekitar kelenjar submandibula diangkat kemudian di reseksi mulai dari bagian
inferior.
 Minimal invasif
Terapi pendekatan non invasif yang cukup efektif pada sialolitiasis merupakan
terapi dengan metode Extracorporeal Shock Wave Lithotrpsy (ESWL) dan
Interventional sialoendoscopy. ESWL menjadi alternatif penanganan batu
138

pada kelenjar liur saat ini. Tujuan ESWL untuk mengurangi ukuran batu
menjadi fragmen yang kecil sehingga tidak mengganggu aliran air liur dan
mengurangi simptom. Diharapkan juga fragmen batu bisa keluar spontan
mengikuti aliran air liur. Sehingga teknik ini mempunyai kerugian yaitu sisa
batu yang tertinggal akan menjadi nidus terbentuknya sialolit kembali. Angka
keberhasilan dengan teknik ini 40% untuk batu di kelenjar submandibula dan
75 % untuk batu di kelenjar parotis. Indikasi ESWL bisa dilakukan pada
semua sialolitiasis baik dalam kelenjar maupun duktus, kecuali posisi batu
yang dekat dengan struktur dari nervus fasialis. Inflamasi akut merupakan
kontraindikasi lokal dan inflamasi kronis bukan kontraindikasi, selain
kelainan pembekuan darah maupun kelainan kardiologi, merupakan
kontraindikasi umum dari tindakan ESWL.
Metode dengan Interventional sialendoscopy merupakan teknik minimal
invasif dalam pengeluaran sialolit dan juga sebagai alat diagnostik yang baik.
Dengan meningkatnya penggunaan endoskopi dalam berbagai macam jenis
operasi seperti pada operasi ginjal dan saluran empedu, maka teknik ini juga
digunakan dalam penatalaksanaan batu kelenjar liur. Keberhasilan dari teknik
ini sangat berhubungan dengan ukuran sialolit kelenjar air liur. 97% sialolit
berukuran kurang dari 3mm dapat dikeluarkan langsung. Sedangkan sialolit
yang berukuran lebih dari 3mm harus difragmentasi dahulu.
Komplikasi pada prinsipnya sumbatan kelenjar liur harus dihilangkan, oleh
karena apabila terjadi sumbatan yang lama dapat terjadi fibrosis dari kelenjar
liur dan sialadenitis kronik.

145. K11.6: Mucocele Kelenjar Ludah


Edukasi tentang pencegahan:
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi 2 kali sehari.
139

 Berhenti dari kebiasaan mengisap bibir bagian bawah, mengigit pipi atau bibir
agar saluran air luir tersebut tidak mengalami sumbatan atau kerusakan.
 Berkonsultasi dengan dokter gigi mengenai keluhan terkait.
 Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan pada rongga mulut agar dapat
mengetahui penyebab dari mukokel tersebut secara pasti.
 Perbanyak minum air putih.
 Berkumur dengan air garam hangat 3-4 kali.
Edukasi setelah perawatan:
 Edukasi untuk menghilangkan faktor penyebab berupa kebiasaan menggigit
bibir.
 Edukasi tentang control plak (edukasi, motivasi dan instruksi)
 DHE
 Seteleh pembedahan (eksisi / insisi), di berikan post medikasi berupa
antibiotik dan analgesic.
 Tidak bermain dengan lidah di bagian yang telah dioperasi.

146. K11.7: Disturbance of Salivary Secretion


Apa itu Saliva?
Saliva adalah suatu cairan mulut yang kompleks, tidak berwarna, yang
disekresikan dari kelenjar saliva mayor dan minor untuk mempertahankan
homeostasis dalam rongga mulut.Pada orang dewasa yang sehat, diproduksi saliva
lebih kurang 1,5 liter dalam waktu 24 jam. Sekresi saliva dikendalikan oleh sistem
persarafan, terutama sekali oleh reseptor kolinergik. Rangsang utama untuk
peningkatan sekresi saliva adalah melalui rangsang mekanik.
Apa fungsi Saliva?
Saliva mempunyai beberapa fungsi penting di dalam rongga mulut,
diantaranya sebagai pelumas, aksi pembersihan, pelarutan, pengunyahan dan
140

penelanan makanan, proses bicara, sistem buffer dan yang paling penting adalah
fungsi sebagai pelindung dalam melawan karies gigi.
Apa penyebab sekresi saliva terganggu?
 Sialodenitis kronis lebih umum mempengaruhi kelenjar submandibula dan
parotis.
 Kista-kista dan tumor kelenjar saliva, baik yang jinak maupun ganas dapat
menyebabkan penekanan pada struktur-struktur duktus dari kelenjar saliva dan
dengan demikian mempengaruhi sekresi saliva.
 Pada orang-orang yang menderita penyakit-penyakit yang menimbulkan
dehidrasi seperti demam, diare yang terlalu lama,diabetes, gagal ginjal kronis
dan keadaan sistemik lainnya.
 Penggunaan obat-obatan seperti :
o Analgesic mixtures
o Cold medications
o Anticonvulsants
o Diuretics
o Antiemetics
o Decongentans
o Antihistamins
o Expectorants
o Antihypertensives
o Muscle relaxants
o Antinauseants
o Psycho tropics drugs
o Antiparkinsons
o Sedatives
o Antipruritics
o Antispasmodics
141

Apa saja akibat dari terganggunya sekresi saliva?


 Mukosa mulut kering
 Mukosa mulu ,udah teriritasi
 Sukar berbicara
 Sukar mengunyah dan menelan
 Persoalan dengan protesa
 Penimbunan lendir
 Rasa seperti terbakar pada rongga mulut
 Gangguan pengecapan
 Perubahan jaringan lunak rongga mulut
 Pergeseran dalam mikroflora mulut
 Karies gigi meningkat
 Radang periodonsium
 Halitosis (nafas bau)
Bagaimana cara mengatasi gangguan sekresi saliva?
 Mencari penyebabnya.
 Pada keadaan ringan dapat dianjurkan untuk sering berkumur atau mengunyah
permen karet yang tidak mengandung Quia.
 Pada keadaan berat dapat digunakan zat perangsang saliva dan zat pengganti
saliva, seperti :
o Mouth Lubricant dan Lemon Mucilage yang mengandung asam sitrat
dan dapat merangsang sangat kuat sekresi encer dan menyebabkan rasa
segar di dalam mulut.
o Mentol dalam kombinasi dengan zat-zat manis dapat merangsang baik
sekresi seperti air maupun sekresi lendir, memberi rasa segar di dalam
mulut.
142

o Salivix, yang berbentuk tablet isap berisi asam malat, gumarab,


kalsium laktat, natrium fosfat, Iycasin dan sorbitol akan merangsang
produksi saliva.
o Pemberian obat-obatan yang mempunyai pengaruh merangsang
melalui sistem syaraf parasimpatis, seperti pilokarpin, karbamilkolin
dan betanekol.

147. K11.8 : Other Diseases of Salivary Gland (K11.8)


Sialolithiasis
Ini adalah penyumbatan kelenjar ludah oleh endapan kalsium berukuran kecil.
Hal ini menimbulkan rasa nyeri terutama saat sedang mengunyah, sehingga
memerlukan tindakan penangkatan endapan kalsium tersebut. Kondisi ini dapat
dipicu oleh dehidrasi, memakan makanan terlalu sedikit, atau pengobatan yang
mengurangi produksi air liur seperti obat antihistamin, obat hipertensi, dan obat
psikiatri. Meskipun cenderung tidak menimbulkan gejala, namun gangguan ini dapat
menyebabkan pembengkakan dan memicu infeksi sialadenitis.
Sialadenitis
Adalah infeksi bakteri yang berada di dalam mulut dan lebih umum dialami
oleh lansia dan bayi baru lahir. Infeksi ini pada umumnya ditandai dengan rasa nyeri
bagian mulut yang terinfeksi, dan berlanjut dengan adanya nanah dan gejala demam.
Jenis infeksi ini memerlukan penanganan dini sejak gejala pertama dengan
mengonsumsi antibiotik. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi akan lebih sulit untuk
disembuhkan dan bertambah parah, terutama pada individu yang mengalami
penurunan sistem imun.
Infeksi virus
Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi virus sistemik dari bagian tubuh
tertentu yang menyerang kelenjar ludah. Tanda umum dari infeksi virus adalah
pembengkakan pada wajah dan kesulitan makan. Penderita juga dapat mengalami
demam, nyeri otot dan persendian. Bentuk infeksi virus yang sering terjadi pada
143

kelenjar ludah adalah gondongan (parotitis). Pada umumnya, infeksi virus dapat
membaik dengan sendirinya seiring perbaikan daya tahan tubuh individu.
Kista
Tumbuhnya kantung berisi cairan pada kelenjar ludah dapat dipicu oleh
trauma akibat kecelakaan, pembengkakan sialolithuasis, atau merupakan
tumbuh tumor. Namun pada bayi, kista dapat tumbuh pada kelenjar saliva parotid
yang merupakan pertanda adanya gangguan perkembangan telinga sebelum
dilahirkan. Kista dapat hilang dan mengalami perbaikan dengan sendirinya, atau
dapat diangkat tanpa komplikasi yang berarti.
Tumor jinak dan ganas
Tumor pada umumnya tumbuh pada kelenjar saliva parotid, dengan gejala
berupa benjolan yang cenderung tidak menimbulkan rasa nyeri. Tumor kelenjar
parotid pada umumnya disebabkan oleh merokok dan paparan radiasi di sekitar
wajah. Tumor ini juga bersifat jinak dengan pertumbuhan yang lambat. Namun,
walaupun jarang, tumor dapat berkembang menjadi kanker sehingga memerlukan
tindakan operasi. Kanker pada kelenjar saliva dapat dipicu oleh merokok, radiasi, dan
juga sindrom Sjogren.
Sialadenosis
Berupa pembengkakan terutama pada kelenjar saliva parotid, tanpa tanda
peradangan, infeksi, maupun tumor. Penyebab spesifik tidak diketahui, namun
kondisi diabetes dan kebiasaan konsumsi alkohol dapat memicu masalah serupa.
Sindrom Sjogren
Sindrom Sjogren adalah sekumpulan gejala yang disebabkan oleh gangguan
autoimun, di mana sistem imun sel darah putih menyerang kelenjar yang berada pada
wajah, salah satunya kelenjar ludah. Sindrom ini lebih banyak dialami oleh
perempuan dengan kondisi autoimun seperti lupus pada usia dewasa. Beberapa tanda
jika seseorang mengalami sindrom Sjogren yaitu:
 Mulut dan mata terasa kering
 Gigi keropos
144

 Nyeri pada mulut


 Nyeri dan pembengkakan sendi
 Batuk kering
 Kelelahan
 Pembengkakan dan infeksi kelenjar saliva berulang

148. K11.9: Disease of salivary gland, unspecified


Edukasi untuk mengurangi gejala :
 Minum banyak air putih.
 Melakukan kegiatan yang dapat merangsang air liur, yaitu makan, minum,
atau menghisap.
 Menjaga kesehatan gigi dan mulut yang kering, dengan sikat gigi dan lidah 2
kali sehari, menggunakan mouthwash tanpa alcohol, dan menggunakan
benang gigi.
 Konsultasikan lebih lanjut mengenai benjolan pada kelenjar ludah ke dokter
gigi.
Edukasi setelah perawatan :
 Tetap jaga stimulasi kelenjar air liur dengan makan, minum, dan menghisap.
 Minum banyak air putih.
 Tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut.
 Hindari makanan bergaram.
 Kontrol ke dokter gigi, sesuai anjuran dokter gigi setelah perawatan.

149. K12: Stomatitis and related lesion


Edukasi untuk mencegah :
 Jaga kebersihan gigi dan mulut, dengan sikat gigi dan lidah 2 kali sehari
dengan sikat gigi berbulu lembut dan gunakan benang gigi sesudah makan.
145

 Hindari mulut kering, dengan minum air putih yang cukup dan kurangi
makanan kasar seperti kacang, popcorn, dan keripik kentang.
 Hindari obat kumur yang mengandung alcohol, gunakan obat kumur tanpa
alcohol dan berkumur 2 kali sehari.
 Jangan merokok.
 Hindari makanan yang mengandung asam, seperti jeruk dan makanan yang
pedas.
 Jika anda menggunakan gigi palsu, lepas gigi palsu anda pada malam hari dan
direndam dalam air pembersih sesuai anjuran dokter gigi.
 Konsumsi buah dan sayur setiap hari untuk menjaga asupan vitamin dalam
tubuh.
Edukasi setelah perawatan :
 Jaga asupan nutrisi vitamin setiap hari dengan mengonsumsi buah dan sayur.
 Tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut.
 Jangan merokok.
 Gunakan obat kortikosteroid yang diresepkan sesuai anjuran dokter pada
sariawan.
 Jika sariawan muncul kembali, segera konsultasikan ke dokter gigi.

150. K12.0 (recurrent oral apthae)


Edukasi Pencegahan :
• vitamin B ... B1, B2 dan B6. Ambil kompleks B harian.
• Lidah buaya (Aloe vera): 1-3 sendok makan jus lidah buaya digunakan
sebagai obat kumur, kemudian ditelan, tiga kali sehari.
• Kebersihan mulut yang baik: Menggunakan benang gigi setiap hari dan
menyikat gigi dan gusi setidaknya dua menit dua hingga tiga kali sehari dapat
membantu mencegah sariawan.
Edukasi setelah perawatan:
146

• Lesi perlu diikuti sampai diselesaikan, jika tidak, kembali ke dokter gigi
sampai sembuh
• Hindari pencetus (misalnya trauma)

151. K12.1 (others form of stomatitis)


Edukasi Pencegahan :
• Kebersihan mulut yang baik
• Nutrisi yang baik: multivitamin harian
• Hindari / berhenti merokok.
• Gigi palsu yang pas
Edukasi setelah perawatan:
• Lesi perlu diikuti sampai diselesaikan; biopsi jika gagal diatasi, terus
berulang, atau tampak mencurigakan
• Diet
• Hindari makanan pedas, asam, dan tajam. Tetap terhidrasi.

152. K12.2 (Cellulitis and abscess of mouth)


Edukasi Pencegahan :
• Gunakan air minum berfluoride.
• Sikat gigi Anda setidaknya dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride.
• Gunakan benang gigi atau pembersih interdental untuk membersihkan sela-
sela gigi Anda setiap hari.
Edukasi setelah perawatan:
• Ganti sikat gigi Anda setiap tiga atau empat bulan, atau kapan pun bulu-
bulunya rusak.
• Makan makanan sehat, membatasi makanan manis dan camilan di antara
waktu makan.
147

• Kunjungi dokter gigi Anda untuk pemeriksaan rutin dan pembersihan


profesional.

153. K12.3 (oral mucositis (ulcerative))


Edukasi Pencegahan :
• Sikat semua permukaan gigi setidaknya selama 90 detik, setidaknya dua kali
sehari dengan sikat gigi yang lembut.
• Floss setidaknya sekali sehari atau sesuai anjuran dokter.
• Bilas mulut empat kali sehari dengan bilasan lembut.
• Hindari tembakau, alkohol, makanan yang mengiritasi (asam, panas, kasar,
dan pedas).
Edukasi setelah perawatan:
• Biarkan sikat gigi mengering sebelum disimpan.
• Gunakan pelembab berbahan dasar air untuk melindungi bibir.
• Pertahankan hidrasi yang memadai.

154. K13 (Other diseases of lip and oral mucosa)


Edukasi Pencegahan :
• Sikat gigi setidaknya dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride
• Lembapkan bibir Anda dengan Vaseline saat kering
Edukasi setelah perawatan:
• Hindari tembakau, alkohol, makanan yang mengiritasi (asam, panas, kasar,
dan pedas).
• Hindari pemicu seperti makanan dan minuman yang panas, pedas, asin, atau
asam

155. K13.0 (Diseases of lips)


Edukasi Pencegahan :
148

• Hindari / berhenti merokok


• Gunakan air minum berfluoride
• Bilas mulut empat kali sehari dengan bilasan lembut
Edukasi setelah perawatan:
• Kunjungi dokter gigi Anda untuk pemeriksaan rutin dan pembersihan
profesional
• Hindari makanan pedas, asam, dan tajam. Tetap terhidrasi.

156. K13.3 Hairy leukoplakia


Edukasi pencegahan:
 Menyikat gigi 2x sehari dengan teknik yang benar
 Hindari kebiasaan merokok
 Hindari meminum alkohol
Edukasi setelah perawatan:
 Berhenti merokok
 Berhenti minum alcohol
 Menjaga kebersihan mulut
 Mengonsumsi vitamin A, C , dan E
 Menjaga pola makan seimbang

157. K13.4 Granuloma and granuloma-like lesions of oral mucosa


Edukasi pencegahan:
 Menyikat gigi dengan teknik yang benar dan sikat gigi dengan bulu yang
halus
 Menggunakkan alat bantu seperti benang gigi untuk membersihkan gigi
 Jika terdapat gigi berlubang di tambal segera
Edukasi setelah perawatan:
 Periksa ke dokter gigi secara berkala
149

 Menjaga kebersihan mulut


 Menjaga pola makan seimbang

158. K13.5 Oral submucous fibrosis


Edukasi pencegahan:
 Menjaga kebersihan mulut
 Makan makanan yang mengandung nutrisi
 Menghidari merokok

Edukasi setelah perawatan:


 Periksa ke dokter gigi secara berkala
 Mengurangi makanan yang pedas dan asam
 Mengonsumsi vitamin E dan B serta zat besi

159. K13.6 Irritative hyperplasia of oral mucosa


Edukasi pencegahan:
 Menjaga kebersihan mulut
 Menyikat gigi 2x sehari dengan teknik yang benar
 Menggunakkan alat bantu benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi
 Makan makanan yang mengandung nutrisi
Edukasi setelah perawatan:
 Periksa secara berkala ke dokter gigi
 Menjaga pola makan seimbang
 Mengonsumsi vitamin serta sayur-sayuran dan buah-buahan

160. K13.7 (Other and unspecified lesions of oral mucosa)


Edukasi Pencegahan :
 Hindari tembakau dan alkohol
150

 Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride


 Hidrasi yang memadai
Edukasi setelah perawatan:
 Hindari pemicu seperti makanan dan minuman yang panas, pedas, asin, atau
asam
 Bilas mulut dengan obat kumur
 Ganti sikat gigi Anda setiap tiga atau empat bulan

161. K14 (Diseases of tongue)


Edukasi Pencegahan :
 Diet dan nutrisi yang tepat
 Peningkatan kebersihan mulut
 Penurunan penggunaan tembakau
Edukasi setelah perawatan:
 Kebersihan mulut yang baik
 Bilas mulut dengan obat kumur
 Menggunakan air minum fluoride

162. K14.0 (Glossitis)


Edukasi Pencegahan :
 Diet dan nutrisi yang tepat
 Hindari iritasi seperti merokok dan makanan asam atau pedas
 Menjaga kebersihan mulut yang baik
Edukasi setelah perawatan:
 Gunakan air minum berfluoride
 Bilas mulut dengan obat kumur

163. K14.1 (Georaphic tongue)


151

Edukasi Pencegahan :
 Peningkatan kebersihan mulut
 penurunan penggunaan tembakau
 mengurangi konsumsi kopi dan teh
Edukasi setelah perawatan:
 Bilas mulut setiap hari dengan mencuci mulut
 Menyikat lidah saat menyikat gigi

164. K14.2 (Median rhomboid glossitis)


Edukasi Pencegahan :
 Jangan tidur bersama pakai gigi tiruan
 Mengurangi merokok
 Makan vitamin b setiap hari
Edukasi setelah perawatan:
 Pertahankan hidrasi yang memadai
 Makan makanan sehat, batasi makanan manis

165. K. 14.3 (hypertrophy of tongue papillae)


Edukasi pencegahan :
 Mengunyah makanan hingga halus dan tidak terburu-buru
 Mengatur pola makan seimbang
 Memperbanyak konsumsi buah dan air putih
 Cukup istirahat dan menghindarkan diri dari stress
 Membatasi konsumsi makanan yang digoreng atau terlalu pedas dan panas
Edukasi setelah perawatan :
 Menjaga pola makan seimbang
 Menjaga kebersihan mulut
152

166. K. 14.4 (atrophy of tongue papillae)


Edukasi pencegahan :
 Konsumsi vitamin B 12 dan zat besi
 Menjaga kelembaban mulut
Edukasi setelah perawatan :
 Menjaga kebersihan mulut
 Mengatasi penyakit sistemik yang dapat menyebabkan atrofi papila lidah
(anemia, defiseiensi nutrisi, celiac disease, xerostomia)
 Menjaga pola makan seimbang
 Menghindari iritan, seperti makanan terlalu panas dan pedas, rokok, dan
alcohol

167. K. 14.5 (plicated tongue)


Edukasi pencegahan :
 Tidak terdapat pencegahan karena etiologi tidak diketahui
 Edukasi setelah perawatan :
 Tidak perlu dilakukan perawatan, namun apabila plicated tongue terjadi dapat
melakukan :
o Menjaga kebersihan mulut
o Menyikat permukaan lidah dari debris terutama pada bagian lidah
yang memiliki fisur terdalam

168. K. 14.6 (glossodynia)


Edukasi pencegahan :
 Konsumsi vitamin B 12, B kompleks, dan zat besi
 Membatasi atau menghindari makan dan minum yang terlalu asam
 Hindari menggunakan obat kumur terlalu berlebihan
 Hindari merokok dan minuman beralkohol
153

Edukasi setelah perawatan :


 Menjaga kebersihan mulut
 Menghindari makan dan minum terlalu asam serta rokok dan alkohol yang
dapat menyebabkan rongga mulut menjadi kering dan semakin terasa perih
 Banyak minum air putih atau mengunyah permen karet agar mulut terasa
lembab

169. K. 14.8 (other disease of tongue)


Edukasi pencegahan :
 Mengonsumsi vitamin B 12, B kompleks, zat besi
 Hindari makanan dan minum yang dapat mengiritasi lidah seperti makanan
terlalu pedas, panas, dan asam
 Hindari merokok dan minum alkohol
Edukasi setelah perawatan :
 Menjaga kebersihan mulut
 Memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan air putih
 Menjaga pola makan seimbang

170. K14.9 (Disease of Tongue, unspecified)


Edukasi Pencegahan:
 Membersihkan lidah setelah menggosok gigi atau membersihkan lidah dengan
tongue scraper.
 Kurangi makanan yang pedas, asam, merokok, minum minuman beralkohol.
 Berkumur dengan larutan antiseptic
 Cek rutin ke dokter gigi
Edukasi Setelah Perawatan:
 Membersihkan lidah secara rutin 1x sehari setelah menyikat gigi
154

171. S02.5 (Fracture of Tooth)


Edukasi Pencegahan:
 Menghindari memakan makanan yang keras
 Apabila terdapat gigi berlubang makan segera dilakukan penambalan. Dinding
gigi berlubang bersifat rapuh apabila digunakan untuk memakan makanan
yang keras.
 Hindari kebiasaan buruk seperti menggertakkan gigi, gigit kuku atau pensil,
dan hal lainnya yang dapat menyebabkan gigi patah.
 Jaga kebersihan gigi agar gigi tidak berlubang.
Edukasi Setelah Perawatan:
 Menghindari memakan makanan yang keras
 Kontrol rutin ke dokter gigi

172. S02.6 (Fracture of Mandible)


Edukasi Pencegahan:
 Hindari risiko cedera (benturan) pada area kepala dan wajah terutama dagu.
 Gunakan mouth guard atau face cage ketika berolahraga yang beresiko cedera
tinggi, seperti olahraga tinju atau sepakbola.
 Hindari kemungkinan jatuh yang menyebabkan terbenturnya dagu
Edukasi Setelah Perawatan:
 Tidak banyak berbicara sesaat setelah perawatan
 Hindari kemungkinan jatuh paska perawatan
 Kontrol rutin setelah perawatan

173. S03.0 (Dislocation of Jaw)


Edukasi Pencegahan:
 Hindari membuka mulut terlalu lebar
 Hindari kebiasaan buruk
155

 Perawatan trauma oklusi


 Hindari jatuh
Edukasi Setelah Perawatan
 Batasi aktivitas setelah perawatan
 Tahan rahang bawah saat membuka mulut
 Gunakan penahan pada gigitan saat menutup mulut.
 Lakukan gerakan mendekatkan dagu ke dada
 Rilekskan rahang

174. S03.2 (Dislocation of Tooth)


Edukasi Pencegahan
 Menjaga kebersihan gigi dengan menyikat gigi dua kali sehari sesudah
sarapan dan sebelum tidur
 Perawatan scaling untuk pembersihan karang gigi
 Perawatan periodontal
Edukasi Setelah Perawatan
 Menjaga kebersihan gigi dan mulut
 Kontrol rutin setelah perawatan
156

DAFTAR PUSTAKA

Carolina, 2017. POST-OPERATIVE INSTRUCTIONS for ORTHOGNATHIC

SURGERY. Carolina Oral and Facial Surgery. Available at:

https://www.carolinaofs.com/files/2013/02/POST-OP-ORTHOGNATHIC.pdf.

Georgia, 2012. INSTRUCTIONS TO DENTURE PATIENTS . GRU University,

p.30912.

Tully, 2015. Instruction for Essix ( clear ) Retainers.


BUKU INI MILIK
RSGM UNPAD

JANGAN DIBAWA PULANG

RSGM UNPAD
JL Sekeloa Selatan I Bandung 40132
Tel (022)2533044 I 0813-2154-8900
email : rsgm.unpad@gmail.com