Anda di halaman 1dari 120

362.

1
Ind
p

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2018
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

362.1
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal
p Kesehatan Masyarakat
Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan.—
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2018

ISBN 978-602-416-394-5

1. Judul I. HOMELESS YOUTH


II. CHILD HEALTH SERVICES III. SOCIAL WELFARE
IV. HEALTH SERVICE

ii
PEDOMAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK JALANAN
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat
Direktorat Kesehatan Keluarga
Jakarta, 2018

Penasehat
dr. Eni Gustina, MPH (Direktur Kesehatan Keluarga)

Penanggung Jawab
dr. Christina Manurung, MKM (Kepala Subdit Kesehatan Usia
Sekolah dan Remaja)

Tim Penyusun
dr. Linda Siti Rohaeti, MKM
dr. Ni Made Diah Permata, MKM
dr. Stefani Christanti
Putu Ayu Merry Antarina, SKM
dr. Florentine Marthatilova
Sari Angreani, SKM
Sri Hasti
dr. Erni Risvayanti, M.Kes
Maya Raiyan, M.Psi
Evasari Ginting, SKM
Hana Shafiyyah Z., SKM
Putu Krisna Saputra, SKM
Desi Widi Astuti, SKM
Sartiyem, SKM
Hadi Mulyono, S.Kom

iii
Kontributor
Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, Kementerian Sosial
Direktorat Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi, Ditjen PAS,
Kementerian Hukum dan HAM
Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus, Kemendikbud
Direktorat Pencatatan Sipil, Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil,
Kementerian Dalam Negeri
Direktorat Pondok Pesantren, Kementerian Agama
Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat
Pusat Data dan Informasi
Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan
Pusat Analisis Determinan Masalah Kesehatan
Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Direktorat Gizi Masyarakat
Direktorat Kesehatan Lingkungan
Direktorat P2 Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza
Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan
Direktorat P2 Penyakit Tidak Menular
Direktorat P2 Penyakit Menular Langsung
Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat, Setdijen
Kesehatan Masyarakat
Satgas Perlindungan Anak IDAI (perwakilan DKI Jakarta)
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur
Puskesmas Duren Sawit
Puskesmas Cengkareng
Puskesmas Tebet
Puskesmas Cakung
Puskesmas Pademangan
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Dinas Kesehatan Kota Surabaya
Puskesmas Medokan Ayu Surabaya

iv
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
Dinkes Kabupaten Bogor
UPT Puskesmas Kecamatan Cibinong
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
Dinkes Kota Medan
Puskesmas Kota Medan
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh
Dinkes Kota Banda Aceh
Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh
Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta
Prof. Irwanto, PhD.
Dr Anasrul SR (Fasilitator PKPR)
Rumah Singgah Himmata
Panti Parapattan
Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama, Jakarta Barat
Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama 3, Jakarta Timur
Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Taruna Jaya, Jakarta Timur
WHO, MSF, Save The Children, UNICEF

Diterbitkan Oleh :
Kementerian Kesehatan RI

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang


Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau
seluruhnya dalam bentuk dan dengan cara apapun
juga, baik secara mekanis maupun elektronik termasuk
fotocopy rekaman dan lain-lain tanpa seizin tertulis
dari penerbit.

v
KATA PENGANTAR
Anak jalanan merupakan salah satu kelompok anak yang
rentan terhadap masalah kesehatan yang perlu
mendapatkan perhatian dan pelayanan kesehatan.
Walaupun jumlah mereka kecil, tapi mereka berhak
mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama dengan
anak-anak yang lain, sesuai dengan amanat UUD 45 pasal
34 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh
Negara. Selain itu Undang Undang No 35 Tahun 2014
tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak juga mengisyaratkan bahwa
perlindungan anak harus bisa menjamin dan melindungi
anak dan hak-hak nya agar dapat hidup, tumbuh
berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Untuk menjamin pemenuhan hak dimaksud, sekaligus
dalam rangka mendorong upaya peningkatan status
kesehatan anak jalanan, maka disusunlah Pedoman
Pelayanan Kesehatan bagi Tenaga Kesehatan, sebagai
acuan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Diharapkan buku ini dapat digunakan sebagai panduan
bagi tenaga kesehatan di lapangan dalam memberikan
pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan anak jalanan, dan
melakukan pembinaan pemberdayaan anak jalanan agar
tahu, mau dan mampu meningkatkan dan
mempertahankan perilaku hidup bersih dan sehat.

vi
Kami mengucapkan banyak terima kasih untuk semua
pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu atas
semua kontribusinya, serta penghargaan yang setinggi
tingginya atas kerjasamanya selama proses revisi buku
pedoman ini. Kami menyadari buku ini masih jauh dari
sempurna, oleh karenanya kritikan dan masukan dari
pelaksana di lapangan sangat diharapkan untuk
melengkapi dan menyempurnakannya.

Jakarta, 14 Februari 2018


Direktur Kesehatan Keluarga

dr. Eni Gustina, MPH


NIP. 196308201994122003

vii
DAFTAR ISI

Halaman
BAB I. PENDAHULUAN……………………… 1
A. Latar Belakang……………………………. 2
B. Keadaan dan Masalah………………........... 5
1. Demografi……………………………… 5
2. Kategori Anak Jalanan………………… 8
3. Masalah Kesehatan……………………. 9
4. Faktor Penyebab……………………….. 15
C. Pengertian……………………….………… 18
D. Ruang Lingkup……………………………. 23
E. Dasar Hukum……………………………… 23
F. Tujuan……………………………………… 25
G. Sasaran …………………………………… 26
BAB II. KEBIJAKAN DAN STRATEGI………. 27
A. Kebijakan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan 28
B. Strategi dan Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Anak Jalanan……………………………… 29
BAB III. PELAYANAN KESEHATAN BAGI
ANAK JALANAN…………………………… 43
A. Sistem Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan. 46
1. Pelayanan Kesehatan di Dalam Gedung. 46
2. Pelayanan Kesehatan di Luar Gedung… 52
B. Langkah Langkah Pendampingan Anak Jalanan 58
C. Penanganan Masalah Kesehatan Spesifik
pada Anak Jalanan……………………….. 62
D. Mekanisme Rujukan dan Rujuk Balik……. 78

viii
BAB IV. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN.. 79
A. Pencatatan dan Pelaporan…………………. 80
B. Monitoring dan Evaluasi………………….. 83
C. Indikator…………………………………… 84
BAB V. PENUTUP……………………………… 87
LAMPIRAN……………………………………… 89
Lampiran 1 : Daftar Singkatan……………..… 90
Lampiran 2 : Contoh Materi Penyuluhan……. 92
Lampiran 3 : Kohort Pelayanan Kesehatan Balita
dan Pra Sekolah………………… 94
Lampiran 4: Register Pelayanan Kesehatan Anak
di Lembaga Kesejahteraan Sosial
Anak (LKSA)………………… 96
Lampiran 5 : Register Pelayanan Kesehatan
Remaja………………………….. 97
Lampiran 6 : Laporan Bulanan Pelayanan
Kesehatan Remaja…………….. 98
Lampiran 7 : Laporan Bulanan Pelayanan
Kesehatan Anak Jalanan/Terlantar
di LKSA………………………… 102
Lampiran 8 : Laporan Bulanan Pelayanan
Kesehatan Anak Jalanan/Terlantar
di Puskesmas…………………….. 103
Lampiran 9 : Instrumen Pemantauan Pelayanan
Kesehatan Anak di Panti (LKSA).. 105
DAFTAR PUSTAKA……………………………... 109

ix
x
BAB I
PENDAHULUAN

“ Anak merupakan generasi penerus yang akan


melanjutkan pembangunan bangsa sehingga perlu
diperhatikan dan dilindungi oleh orangtua, keluarga,
masyarakat dan negara. “

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan di bidang kesehatan sebagai salah satu
aspek penting pembangunan bangsa diarahkan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam
rangka mewujudkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Sehingga upaya pembangunan bidang
kesehatan harus dilaksanakan sejak dini dengan
memperhatikan proses tumbuh kembang anak sesuai
siklus kehidupannya.

Anak merupakan generasi penerus yang akan


melanjutkan pembangunan bangsa sehingga perlu
diperhatikan dan dilindungi oleh orangtua, keluarga,
masyarakat dan negara. Undang-Undang Dasar 1945,
pasal 34 (ayat 1) mengamanatkan bahwa fakir miskin
dan anak terlantar dipelihara oleh negara, (ayat 3)
negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum
yang layak. Hal ini juga sejalan dengan apa yang
diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang perlindungan anak pada pasal 1
yaitu: perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar

2
dapat hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi
secara optimal, sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi. Dengan demikian anak
jalanan yang merupakan bagian dari golongan anak
terlantar termasuk kelompok yang menjadi tanggung
jawab negara. Sebagai bagian dari anak bangsa,
keberadaan anak jalanan perlu mendapat perhatian
baik dari segi pangan dan papan, maupun dari segi
pendidikan dan kesehatan.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan menyatakan bahwa setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses
atas sumber daya kesehatan dan pelayanan kesehatan
yang komprehensif yang meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif, tidak terkecuali
bagi anak jalanan.

Jumlah anak saat ini diperkirakan sekitar 77 juta jiwa


(Kemendagri, 2016) atau kira-kira sepertiga total
jumlah penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2010).
Menurut data Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak,
Kementerian Sosial 2015 terdapat 2,9 juta anak
terlantar di seluruh Indonesia dimana 33.400
diantaranya merupakan anak jalanan. Jumlah ini
mengalami penurunan dari sebelumnya pada tahun

3
2006 sebesar 232.894. Menurut hasil penelitian STKS
2014, usia pertama kali anak turun ke jalanan adalah
pada usia 7-10 tahun (42,67%) usia 5-7 tahun
(21,33%), usia 3-5 tahun (13,33%) usia <3 tahun
(6,67%), usia 10-18 tahun (5,33%) dimana 81% anak
jalanan masih bersekolah dengan tingkat pendidikan
terbanyak berada di sekolah dasar (61,54%).

Kelompok anak terlantar termasuk di dalamnya anak


jalanan sejauh ini masih belum mendapatkan perhatian
penuh, khususnya program pelayanan kesehatan yang
dikaitkan dengan risiko permasalahan kesehatan
mereka. Hal ini antara lain di sebabkan tingginya
tingkat mobilisasi anak jalanan dan kurangnya
pemahaman mereka tentang akses terhadap pelayanan
kesehatan, sehingga sulit dijangkau oleh tenaga
kesehatan dan keterbatasan dana pendukung kegiatan
program juga merupakan kendala tersendiri.

Di sisi lain kehidupan anak jalanan dengan segala


keterbatasannya menyebabkan anak jalanan sangat
rentan terhadap berbagai masalah kesehatan antara
lain buruknya kebersihan perorangan, fasilitas sanitasi
dan asupan nutrisi yang tidak memadai, perilaku seks
berisiko, penyalahgunaan NAPZA (termasuk
menghirup lem), kekerasan (fisik, psikis dan seksual),
dan trafiking, Infeksi Menular Seksual (IMS) dan

4
HIV/AIDS dengan segala komplikasi yang
menyertainya. Hal ini banyak terjadi oleh karena
pengaruh tekanan sosial dari teman sebaya sesama
anak jalanan maupun sebagai korban perlakuan
sekelompok masyarakat yang menggunakan mereka
sebagai obyek untuk mendapatkan kenikmatan
ataupun keuntungan.

Kementerian Kesehatan telah melaksanakan berbagai


program kesehatan anak yang diarahkan pada
pemenuhan hak dan perlindungan anak melalui
intervensi program sesuai dengan sasaran yang
memang bervariasi baik dalam jenis maupan strategi
dalam memberikan pelayanan kesehatan. Untuk itu,
diantaranya telah dikembangkan beberapa program
untuk peningkatan akses pelayanan kesehatan anak
seperti pemanfaatan buku KIA, MTBS, SDIDTK,
Puskesmas PKPR, Puskesmas KtP/A, Puskesmas
membina anak di panti/LKSA dan anak jalanan.

B. Keadaan dan Masalah


1. Demografi
Hasil penelitian STKS Bandung di 16 provinsi
pada tahun 2014 menunjukkan bahwa persentase
anak jalanan laki-laki sebanyak 64,6% dan anak
jalanan perempuan sebanyak 35,4%. Sebanyak
72,15% anak jalanan masih mempunyai orang tua,

5
50% anak jalanan tinggal bersama orangtuanya
dan 11,5% tidak tinggal bersama orangtuanya.
Penelitian lain di Makassar menunjukkan bahwa
45,1% anak jalanan berada di jalan selama 4-8
jam. Lebih dari setengah anak jalanan memiliki
status pendidikan tidak/belum tamat SD (58,8%).
Sebagian besar anak jalanan tidak terdaftar di
LSM ataupun organisasi lainnya (82,7%)
(Indina,2012).

Pada umumnya anak jalanan merupakan keluarga


miskin, tidak mampu menyekolahkan anaknya,
bekerja sebagai pedagang asongan, pengamen,
buruh, pemulung, pedagang kecil, dan lain-lain
dengan pendapatan yang rendah jauh di bawah
upah minimum regional (UMR). Hasil penelitian
tahun 2012 menunjukkan jenis pekerjaan berbeda
sesuai dengan rentang usianya. Pada usia anak
yang belum dapat berjalan, maka anak dibawa
oleh orang yang lebih dewasa untuk meminta
belas kasih. Setelah usia 3-5 tahun anak dibiarkan
untuk meminta-minta uang sendiri. Usia 6-8 tahun
anak mulai belajar mengamen dan selanjutnya
pada usia 9-15 tahun anak mengamen dan
berdagang asongan, ketika usia 16-18 tahun
penghasilannya di jalanan semakin berkurang dan
berangsur keluar dari jalanan untuk mencari

6
pekerjaan seperti buruh bangunan atau sektor
informal lainnya (Suharma, 2013). Bekerja di
jalanan seolah menjadi lingkaran setan, jika yang
pertama kali bekerja dijalanan ayah atau suami,
maka ia akan mengajak dan melibatkan istrinya
untuk ikut serta bekerja dijalanan. Jika yang
pertama kali melakukan aktivitas di jalanan
tersebut adalah ibu/isteri, maka ia akan mengajak
suaminya untuk bekerja di jalanan. Ketika salah
satu atau kedua orang tuanya berada di jalanan,
maka mereka akan melibatkan dan membawa
anak-anaknya untuk beraktivitas mencari
penghasilan di jalanan. Hal ini akan memperburuk
kualitas hidup dan masa depan anak sebab jika
seorang anak menjadi anak jalanan pada saat
berusia dibawah tiga tahun maka dia cenderung
untuk berada di jalanan sampai dengan usia 18
tahun (Suharma, 2013).

Beberapa alasan anak turun ke jalan adalah faktor


ekonomi (64.7%), diajak teman (19.6%) dan
lainya (15.7%). Alasan lainnya dalam hal ini
adalah faktor keluarga dan untuk sekedar mengisi
waktu. Hal ini menunjukkan bahwa alasan utama
contoh turun ke jalan adalah ekonomi (64.9%)
(Nur’aini, 2009).

7
Orang tua mempunyai kontribusi dalam
menentukan keberadaan anak di jalanan. Sebagian
besar dari orang tua yang anaknya berada di
jalanan tidak peka terhadap kebutuhan atau hak-
hak anak mereka, tidak peka dan tidak peduli
terhadap risiko kehidupan jalanan bagi anak, dan
tidak berusaha keras melindungi anak dari
kehidupan jalanan.

2. Kategori Anak Jalanan


Kategori anak jalanan terdiri dari:
a. Anak jalanan yang hidup di jalanan (children
of the street = true street children), dengan
kriteria:
- Hampir seluruh hidupnya habis di jalanan.
- 8-10 jam berada di jalanan untuk
“berkerja” (mengamen, mengemis,
memulung) dan sisanya
menggelandang/tidur.
- Putus hubungan atau lama tidak bertemu
dengan orang tuanya.
- Tidak lagi bersekolah.
- Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.
b. Anak jalanan yang bekerja di jalanan (children
of the street=working children), dengan
kriteria:
- Keberadaan di jalanan untuk bekerja.

8
- Berhubungan tidak teratur dengan orang
tuanya.
- 8-16 jam berada di jalanan.
- Mengontrak kamar sendiri, bersama teman,
ikut orang tua/saudara, umumnya di daerah
kumuh.
- Tidak lagi bersekolah.
- Lokasi tersebar pada umumnya di lampu
merah, pasar dan terminal.
- Pekerjaan: penjual koran, pengasong,
pencuci bus, pemulung, penyemir sepatu,
dll
- Rata-rata berusia di bawah 16 tahun.
c. Anak yang rentan menjadi anak jalanan
(children vulnerable to be street children)
dengan kriteria:
- Bertemu teratur setiap hari/tinggal dan
tidur dengan keluarganya.
- 4-6 jam bekerja di jalan.
- Masih bersekolah.
- Pekerjaan: penjual Koran, penyemir,
pengamen, dll
- Usia rata-rata di bawah 14 tahun.

3. Masalah Kesehatan
a. Masalah kesehatan umum dan perilaku
berisiko lainnya

9
Seorang anak dikatakan sehat jika ia sehat
secara fisik, sehat sosial dan sehat jiwa.
 Sehat fisik artinya memiliki badan yang
sehat dan bugar.
 Sehat sosial artinya mampu menjalin
hubungan baik dengan orang lain.
Sehat jiwa artinya : merasa senang dan
bahagia, mampu menyesuaikan diri dengan
kehidupan sehari-hari (di rumah dan di
sekolah), dapat menerima kekurangan dan
kelebihan diri sendiri dan teman, melakukan
kegiatan yang bermanfaat.

Kehidupan anak jalanan biasanya berkaitan


dengan lingkungan tempat tinggal yang tidak
sehat; kurangnya akses terhadap pelayanan
kesehatan yang disebabkan oleh keterbatasan
pengetahuan, perilaku hidup tidak sehat;
kecenderungan mendapatkan tindakan
kekerasan dari lingkungan keluarga dan luar
keluarga. Anak jalanan yang masih tinggal
dengan orang tua, umumnya berada di
lingkungan pemukiman kumuh dengan sanitasi
buruk sehingga mereka rentan terhadap
berbagai macam penyakit infeksi antara lain:
infeksi saluran pernapasan, diare, typhus,

10
hepatitis, kulit, maupun rawan karena masalah
gizi.

Keterbatasan pengetahuan terhadap kesehatan


mengakibatkan anak jalanan tidak
mendapatkan hak mereka untuk memperoleh
pelayanan kesehatan seperti imunisasi,
pemantauan tumbuh kembang, dan informasi
terhadap kesehatan, dll. Selain itu, aktifitas
kegiatan sehari-hari yang berisiko akan
menyebabkan mereka mudah terkena
gangguan kesehatan, terutama dampak
langsung sengatan matahari, pencemaran udara
seperti debu, gas kendaraan bermotor dan
industri yang dapat menyebabkan efek iritasi
dan toksik pada saluran pernapasan. Pada anak
jalanan yang berusia remaja sangat berisiko
terhadap gangguan akibat rokok,
penyalahgunaan Napza, serta masalah
kesehatan reproduksi seperti penyakit menular
seksual, perilaku seks berisiko

b. Masalah kesehatan jiwa, penyalahgunaan


NAPZA
Usia remaja merupakan masa peralihan dari
anak untuk menjadi usia dewasa. Banyak
perubahan yang terjadi secara biologi yaitu

11
perubahan hormonal seiring berkembang dan
berfungsinya organ seksual dan reproduksi,
perubahan fisik, postur tubuh juga suara,
perubahan psikologis dengan berkembang dan
terbentuknya kepribadian sesorang, perubahan
status sosial dalam keluarga dan masyarakat.
Dengan adanya perubahan-perubahan ini usia
remaja rentan terhadap perilaku berisiko.

Secara umum masalah kesehatan jiwa dan


perilaku anak jalanan antara lain : gangguan
cemas, depresi, stres pasca trauma, psikotik
dan kecenderungan berperilaku antisosial
(berkelahi, mencuri, memeras, dll), perilaku
agresif implusif, penyalahgunaan NAPZA
(nge-lem, ganja, napacin), dan
ketidakharmonisan keluarga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidup di


jalanan merupakan hal yang menyakitkan,
tidak lebih baik dibandingkan hidup di rumah.
Mereka juga merasa lelah hidup di jalan dan
merasa tersingkirkan, sebab tidak bersekolah
dan sulit mencari pekerjaan. Kegiatan mencuri,
mencium bau lem, merokok, menyileti diri
sendiri adalah hal yang tidak terhindar
(Kristanti, 2009).

12
c. Masalah Sosial
Masalah sosial muncul akibat terjadinya
perbedaan yang mencolok antara nilai dalam
masyarakat dengan realita yang ada. Adanya
masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan
oleh lembaga yang memiliki kewenangan
khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah,
organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan
lain sebagainya.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4


jenis faktor, yakni antara lain:
1. Faktor Ekonomi : kemiskinan,
pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : perceraian, kenakalan
remaja, dll.
3. Faktor Biologis : penyakit menular,
keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit jiwa, aliran
sesat, dsb.

Permasalahan sosial yang sering dihadapi anak


jalanan antara lain: kultur kehidupan anak
jalanan yang memang keras, sering mendapat
tindak kekerasan seperti diperlakukan kasar /
sering mendapatkan pelecehan, pemukiman

13
kumuh yang berpindah, higiene dan sanitasi
lingkungan yang buruk. Hal ini dapat
menyebabkan masalah perilaku pasif (merasa
rendah diri, merasa tidak dihargai dan merasa
tidak berguna di masyarakat) atau agresif
(berteriak, premanisme / kriminalitas,
kekerasan, penganiyaan, meminta dengan
memaksa, menghina, mengumpat, berkata-kata
kotor, tidak mau komentar, menendang,
membuat perangkap untuk orang lain dan
mendorong) (Intan, 2014).

d. Masalah Pemenuhan Kebutuhan Makanan dan


Gizi
Penyelenggaraan makanan dan gizi pada anak
jalanan sangat terbatas sesuai dengan kondisi
dan lokasi di mana mereka berada, antara lain
terbatas pada :
- Menu / kelengkapan komposisi bahan
makanan serta kandungan kalori dan zat
gizi yang belum tentu memenuhi
kebutuhan energi anak-anak sebagai
individu yang masih dalam masa
pertumbuhan.
- Ketersediaan air bersih untuk proses
pengolahan makanan, termasuk untuk

14
mencuci peralatan memasak dan peralatan
makan.
- Kebersihan, pengolahan dan proses
pemasakan makanan belum tentu
memenuhi syarat.

e. Masalah Akses terhadap Pelayanan Kesehatan


Secara umum sumber daya untuk memberikan
pelayanan kesehatan bagi anak jalanan masih
terbatas. Diperlukan kemampuan pendekatan
yang baik untuk dapat menjangkau anak
jalanan. Umumnya pelayanan kesehatan yang
diberikan Puskesmas lebih banyak
menjangkau anak jalanan yang ada di panti /
rumah singgah. Sedangkan untuk anak jalanan
yang benar-benar ada di jalanan lebih sering
diberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk
bakti sosial / secara insidentil, belum secara
rutin.

4. Faktor penyebab
Faktor yang menyebabkan adanya anak jalanan
dapat dibagi dua, yaitu: faktor eksternal dan
internal.

15
a. Faktor Eksternal
Faktor eksternal biasanya berkaitan dengan
kondisi masyarakat, lingkungan, dan sosial,
antara lain:
- Pemukiman padat dan kumuh (keadaan
penuh sesak di daerah kumuh dan fasilitas
perumahan yang tidak memadai)
- Kelemahan nilai/norma yang ada di
masyarakat.
- Terbatas dan tidak bervariasinya pelayanan
pendidikan.
- Adanya urbanisasi
- Kesempatan kerja yang terbatas (distribusi
sumber daya dan kesempatana yang tidak
merata dalam masyarakat, misalnya
kurangnya kesempatan mendapatkan
pekerjaan)
- Masalah dalam penegakan hukum
- Kondisi politik dan ekonomi, misalnya
kemisikinan dan sumberdaya yang rendah.
- Layanan rujukan penanganan anak
terlantar di lembaga yang tidak tuntas
(misalnya anak yang meninggalkan rumah
binaan tanpa ijin)

16
b. Faktor internal
Faktor internal adanya anak jalanan dapat
berasal dari diri sendiri ataupun kondisi dan
situasi anak dalam keluarga.
Peran orang tua terhadap adanya anak jalanan
sangat penting mengingat sebagian besar anak
jalanan masih tinggal bersama orang tuanya.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak
jalanan, sebagian besar anak masih tinggal
dengan orang tuanya (90.2%) dan beberapa
diantaranya mendukung anaknya untuk turun
ke jalan mencari uang (47.1%) (Nur’aini,
2009).
Faktor penyebab internal, antara lain:
- Ekonomi sulit.
- Hubungan yang tidak harmonis dalam
keluarga (perceraian orangtua, konflik
dalam keluarga, penolakan anak oleh
orangtua dan kondisi terpisah dari orangtua
atau kehilangan orangtua)
- Adanya kesenjangan komunikasi antara
orangtua dan anak
- Adanya kekerasan dan perlakuan yang
salah terhadap anak di dalam keluarga
(penganiayaan anak)
- Status pendidikan anak atau orang tua yang
rendah.

17
- Orang tua yang tidak bertanggung jawab
(penelantaran terhadap anak).
- Penanaman nilai etika, moral dan pola asuh
dalam keluarga (masalah perilaku dalam
pengasuhan anak, misalnya orangtua
penjudi, penyalahgunaan NAPZA)
- Kelemahan internal dalam diri anak sendiri
(sikap dan perilaku anak yang
pembangkang)

C. Pengertian
1. Anak
Adalah seseorang yang berusia 0-18 tahun
termasuk anak di dalam kandungan (Undang-
Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun
2002).
2. Anak terlantar
Adalah anak yang karena suatu sebab orangtuanya
melalaikan kewajibannya sehingga kebutuhan
anak tidak terpenuhi secara wajar baik secara
rohani, jasmani maupun sosial (Undang-Undang
Kesejahteraan Anak Nomor 4 Tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak).
3. Anak jalanan (anjal)
Anak yang melakukan aktifitas ekonomi atau
aktifitas lainnya di jalan secara langsung termasuk

18
di dalamnya balita yang dimanfaatkan (Panduan
Umum Menuju Bebas Anak Jalanan 2017).
4. Pelayanan Kesehatan Anak
Adalah upaya pelayanan kesehatan yang meliputi
berbagai upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
5. Tenaga Kesehatan
Adalah setiap orang yang mengabdikan diri di
bidang kesehatan, serta memliki pengetahuan atau
keterampilan melalui pendidikan dibidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
6. Puskesmas
Adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif, untuk mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di
wilayah kerjanya (Permenkes Nomor 75 Tahun
2014).
7. FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama)
Adalah fasilitas kesehatan yang melakukan
pelayanan kesehatan perseorangan yang bersifat
non spesialistik untuk keperluan observasi,
diagnosis, perawatan, pengobatan dan atau

19
pelayanan kesehatan lainnya (Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 21 Tahun 2016).
8. PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja)
Adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan
dapat dijangkau oleh remaja serta berkesan
menyenangkan, menerima remaja dengan tangan
terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan,
peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatan
remaja, serta efektif, efisien dan komprehensif
dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
9. Kemitraan
Adalah bentuk kerjasama yang terintegrasi,
berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan dalam
melaksanakan suatu program/kegiatan secara
efektif dan efisien sesuai bidang, kondisi, dan
kemampuan masing-masing, sehingga hasil yang
dicapai menjadi lebih optimal.
10. Jejaring
Adalah suatu hubungan kerjasama antara 2 (dua)
pihak atau lebih berdasarkan prinsip kemitraan
untuk mencapai tujuan bersama yang telah
disepakati sesuai peran, tanggung jawab dan
fungsi masing-masing.
11. Panti/LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial
Anak)

20
Adalah lembaga yang memberikan pelayanan
kesejahteraan social bagi anak terlantar yang
berada di dalam panti maupun anak terlantar di
lingkungan sekitar panti/pelayanan luar panti.
12. Rumah singgah (LKSA non panti)
Adalah suatu wahana yang dipersiapkan sebagai
perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak
yang akan membantu dan membimbing mereka,
dan merupakan proses informal yang memberikan
suasana resosialisasi terhadap sistem nilai dan
norma yang berlaku di masyarakat dan merupakan
tahap awal bagi anak jalanan untuk memperoleh
pelayanan selanjutnya, sehingga diciptakan
sebagai tempat yang aman, nyaman, menarik dan
menyenangkan bagi anak jalanan. (Permensos
Nomor 30 Tahun 2011 tentang Standar Nasional
Pengasuhan Anak).
13. Leader
Adalah pimpinan kelompok anak jalanan yang
sudah tidak berada di jalan lagi dan menjadi
koordinator anak jalanan di rumah singgah.
14. Jeger
Adalah pimpinan kelompok anak jalanan yang
masih berada di jalan dan menguasai beberapa
kantong anak jalanan.

21
15. Pekerja sosial
Adalah seseorang yang mempunyai kompetensi
profesional dalam pekerjaan sosial yang
diperolehnya melalui pendidikan formal atau
pengalaman praktek di bidang pekerjaan
sosial/kesejahteraan sosial yang diakui secara
resmi oleh pemerintah dan melaksanakan tugas
profesional pekerjaan sosial (Kepmensos No.
10/HUK/2007).
16. Big brother
Adalah orang yang paling dituakan di kantong-
kantong anak jalanan yang memiliki pengaruh
yang kuat dan besar pada jeger dan anak jalanan.
17. Titik – titik lokasi
Adalah lokasi berkumpul dan beraktifitasnya anak
jalanan pada tempat-tempat tertentu, seperti:
terminal, stasiun, mall, pasar, perempatan jalan,
kuburan.
18. Kohort berasal dari kata cohort
Adalah suatu proses pengamatan prospektif, survei
prospektif terhadap suatu subjek maupun objek.
19. Pendamping
Adalah pekerja sosial yang mempunyai
kompetensi profesional dalam bidangnya.
(Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).

22
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan kesehatan anak jalanan
adalah pelayanan kesehatan bagi anak jalanan usia 0-
18 tahun, yang meliputi:
1. Pelayanan kesehatan bayi
2. Pelayanan kesehatan balita dan anak pra sekolah
3. Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja
Upaya pelayanan yang dilakukan mencakup upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di dalam
dan di luar gedung.

E. Dasar Hukum
1. Undang Undang Dasar Tahun 1945 pasal 34,
bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara
oleh Negara.
2. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak.
3. Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Pusat Daerah.
4. Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
HAM
5. Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak.
6. Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Administrasi Kependudukan
7. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan

23
8. Undang Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Kesejahteraan Sosial
9. Undang Undang No 10 Tahun 2012 Tentang
Pengesahan Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak
Anak Mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak,
Dan Pornografi Anak
10. Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Perubahan Undang Undang Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak
11. Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah
12. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
13. Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2016 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor
12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
14. Keppres No 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan
Konvensi Hak-Hak Anak
15. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2015
tentang perubahan Peraturan Pemerintah 101
tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun
2010 tentang Pedoman Pendataan dan Penerbitan

24
Dokumen Kependudukan Bagi Penduduk Rentan
Administrasi Kependudukan
17. Peraturan Menteri Sosial Nomor 30 / HUK / 2011
tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak
18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 72 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Layanan Khusus
19. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan
Anak
20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun
2016 tentang Percepatan Peningkatan
Kepemilikan Akta Kelahiran

F. Tujuan
1. Tujuan umum
Meningkatkan status kesehatan anak jalanan.
2. Tujuan khusus
a. Terlaksananya pelayanan kesehatan bagi anak
jalanan secara terintegrasi
b. Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan
anak jalanan.
c. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan anak
jalanan.
d. Terbentuknya jejaring dan kemitraan dalam
upaya pelayanan kesehatan anak jalanan.

25
G. Sasaran
Sasaran Langsung, yaitu :
1. Anak jalanan
2. Tenaga Kesehatan

Sasaran Tak langsung, yaitu:


1. Orang tua atau keluarga dari anak jalanan.
2. “Koordinator” (jeger, leader dan big brother).
3. Pekerja sosial, pendamping anak jalanan.
4. Organisasi/ kelompok masyarakat/LSM/ dunia
usaha/ swasta yang menangani anak jalanan.
5. Pengelola lintas program dan lintas sektor terkait
di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

26
BAB II
KEBIJAKAN DAN STRATEGI

“Arah kebijakan difokuskan pada upaya untuk


meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup anak
dalam rangka pemenuhan hak-hak anak. “

27
BAB II
KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. Kebijakan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan


Kebijakan kesehatan bagi anak jalanan merupakan
suatu kesatuan dari kebijakan kesehatan bagi anak
secara umum. Arah kebijakan difokuskan pada upaya
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas
hidup anak dalam rangka pemenuhan hak-hak anak.
Upaya pemenuhan hak anak dilaksanakan berdasarkan
4 prinsip hak anak dalam konvensi hak anak, yaitu:
a. Non-diskriminasi
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan
perkembangan
d. Penghargaan terhadap pendapat anak

Pelayanan kesehatan anak jalanan diselenggarakan


melalui jaringan pelayanan upaya kesehatan dasar.
Pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkeadilan
bagi anak jalanan diselenggarakan dengan pendekatan
siklus hidup (Continuum of Care), yang meliputi:
a. Pelayanan kesehatan bayi
b. Pelayanan kesehatan balita dan anak pra sekolah
c. Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja

28
Penanganan anak jalanan difokuskan pada upaya
promotif dan preventif agar anak terlantar dan rentan
tidak jatuh menjadi anak jalanan, tanpa meninggalkan
upaya kuratif dan rehabilitatif.

Pembinaan kesehatan anak jalanan disesuaikan


dengan kebutuhan dan proses tumbuh kembang yang
dilaksanakan secara terpadu lintas program dan
membangun jejaring dengan lintas sektor dan
masyarakat (dunia usaha, LSM/organisasi
kemasyarakatan, dll) berdasarkan prinsip kemitraan.

B. Strategi dan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Anak


Jalanan
Masalah anak jalanan adalah masalah sosial yang
cukup rumit dan kompleks, sehingga upaya
penanganan kesehatannya tidak dapat dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan saja, akan tetapi perlu
kerjasama dengan sector terkait, masyarakat termasuk
dunia usaha, LSM, dll. Oleh karena itu dalam
memberikan informasi kesehatan, mereka harus
dilibatkan guna mendukung pelaksanaan di lapangan.
Dalam rangka memudahkan pelaksanaan
intervensinya, perlu dirumuskan strategi pelayanan
kesehatan anak jalanan, yang terdiri dari :

29
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan
kesehatan anak jalanan.
2. Melaksanakan pendekatan Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR)
3. Memperkuat mekanisme kemitraan dan jejaring
4. Meningkatkan pembiayaan pelayanan kesehatan
anak jalanan
5. Memfasilitasi kearifan lokal (local wisdom)

Strategi ini merupakan strategi konvensional yang


selama ini sudah dilaksanakan dan masih akan tetap
digunakan unutk mendukung pelaksanaan pelayanan
kesehatan bagi anak jalanan dengan berbagai
penguatan dan lebih fokus dalam implementasinya.
Startegi ke 4, merupakan upaya terobosan karena
dapat segera dilaksanakan dengan memanfaatkan
segala potensi masyarakat setempat, termasuk
pemanfaatn CSR dunia usaha. Pelaksanaan kegiatan
dapat menggunakan potensi budaya, agama, adat
istiadat dan nilai-nilai lokal.

Kegiatan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan


1. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas
Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan
a. Melatih tenaga kesehatan pengelola program
bagi anak jalanan

30
b. Melaksanakan orientasi dan sosialisasi tentang
program kesehatan bagi anak jalanan

2. Melaksanakan Pendekatan Pelayanan


Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Usia remaja merupakan proporsi terbesar pada
populasi anak jalanan, sehingga pelayanan
kesehatan dilakukan dengan pendekatan Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).
a. Memberikan pelatihan PKPR untuk puskesmas
yang belum terlatih PKPR dan peningkatan
strata puskesmas yang mampu
menyelenggarakan PKPR menggunakan SN
PKPR
b. Memfasilitasi pelatihan kader kesehatan di luar
sekolah (kader kesehatan karang taruna,
masjid/gereja dan konselor sebaya)
c. Meningkatkan kegiatan PKPR di luar gedung,
misalnya melalui Posyandu Remaja (referensi:
Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu
Remaja, Kemenkes 2018)

3. Memperkuat Mekanisme Kemitraan dan


Jejaring
Pembentukan kemitraan dan jejaring pelayanan
kesehatan anak jalanan dapat diinisiasi melalui
pelaksanaan program kesehatan anak agar semua

31
mitra yang terkait dalam jejaring ini secara
spontan dapat berbagi peran yang setara, mitra
terkait antara lain Kementerian Sosial,
Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama,
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan
Anak, BKKBN, BNP dan LSM terkait.

Jejaring pelayanan kesehatan anak jalanan


meliputi lintas program, lintas sektor, organisasi
profesi, organisasi kemasyarakatan, institusi
pendidikan, pihak swasta serta mitra potensial lain
yang ditujukan untuk mengatasi masalah yang
terkait dengan kesehatan anak jalanan di suatu
wilayah tertentu. Adapaun kegiatan yang dapat
dilakukan dalam upaya memperkuat mekanisme
kemitraan dan jejaring antara lain:
a. Mengembangkan Usaha Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM) yaitu posyandu remaja,
kelompok remaja
b. Melakukan penguatan mekanisme kemitraan
antara pemerintah dan masyarakat di bidang
kesejahteraan anak dan keluarga antara lain:
komisi nasional perlindungan anak (komnas
PA), lembaga perlindungan anak (LPA), dan
lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga
(LK3)

32
c. Melakukan orientasi dan sosialisasi kegiatan
pelayanan anak jalanan kepada pimpinan panti,
pendamping panti, kantong anak jalanan,
kelompok pendukung / koordinator anak
jalanan.
d. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan
anak jalanan melalui daerah
tangkapan/saluran, antara lain:
- Organisasi sosial (orsos) bidang
kesejahteraan anak.
- Rumah belajar anak jalanan.
- Mobil sahabat anak.
- Institusi pendidikan non formal (PKBM).
- Organisasi kemasyarakatan/LSM/swasta.
e. Melaksanakan pertemuan rutin antar anggota
jejaring. Dilakukan secara periodik, bersama-
sama secara bergantian sebagai ajang
pertukaran informasi dan pengalaman, dalam
bentuk rapat, pertemuan, atau lokakarya.
f. Membangun komunikasi berkala melalui
sarana komunikasi seperti: telepon, fax, email,
telekonferen, internet, aplikasi gadget seperti
BBM, WA, FB, Twitter, dan sebagainya.
Perkembangan di bidang teknologi informasi
sangat membantu kecepatan dan efisiensi kerja
suatu organisasi.

33
g. Memanfaatkan informasi dasar nasional
tentang berbagai kegiatan yang terkait dengan
upaya kesehatan remaja, termasuk anak
jalanan. Jejaring harus mendorong dan
memfasilitasi adanya data dasar nasional
sebagai dokumentasi dan bukti atas upaya
yang sudah dilaksanakan.
h. Memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber
daya manusia dan infrastruktur sesama
anggota jejaring. Jejaring menyiapkan
informasi yang dapat diakses oleh setiap
anggota jejaring untuk memperoleh bantuan
teknis dan pendampingan dalam
pengembangan dan pelaksanaan upaya terkait
dengan kesehatan remaja, termasuk anak
jalanan.

Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam


pelayanan kesehatan anak jalanan dapat dilakukan
melalui pendekatan edukatif, yaitu suatu rangkaian
kegiatan yang sistematis, terencana dan terarah
dengan partisipasi stake holder dan anak jalanan
untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan
menggunakan potensi yang dimiliki, langkah-
langkah tersebut sebagai berikut:
1. Analisa situasi, untuk memperoleh gambaran
tentang masalah dan potensi yang dimiliki

34
masyarakat setempat (mapping dan
pendataan).
2. Pengkajian hasil analisa situasi, guna
membahas hasil temuan dalam analisa situasi,
yang meliputi: rumusan masalah, prioritas
masalah, alternatif pemecahan masalah,
sumber daya yang digunakan dan rencana
waktu pelaksanaan kegiatan.
3. Pendekatan sosial, yang ditunjukkan kepada
penentu kebijakan untuk memperoleh
dukungan agar kegiatan yang telah
direncanakan dapat terlaksana. Bentuk
pendekatan sosial, antara lain: anjang sana,
seminar, lokakarya, dll.
4. Pelaksanaan kegiatan, yang merupakan
intervensi untuk memecahkan masalah yang
ada sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Bentuk intervensi kegiatan, antara lain:
orientasi peningkatan kemampuan petugas,
sosialisasi, penyuluhan, pendampingan,
pemberdayaan, dll.
5. Pembinaan, dapat dilakukan dengan mengkaji
laporan yang masuk, monitoring, evaluasi.
6. Kesinambungan program melalui peningkatan
jejaring dan kemitraan.
7. Pengembangan program dalam peningkatan
jangkauan pelayanan kesehatan anak jalanan.

35
Peran dari masing – masing sektor sebagai berikut:
No Sasaran Peran
1 Dinas - menyediakan data
Kesehatan fasilitas pelayanan
Kabupaten / kesehatan
Kota
- menyediakan data-data
tentang masalah
kesehatan
- melaksanakan pelayanan
kesehatan yang bersifat
promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif
2 Dinas Sosial - menyediakan data anak
Kabupaten jalanan
/Kota - menyediakan data
pekerja sosial
- menyediakan data
rumah singgah, Non
Panti Sosial Asuhan
Anak (PSAA), Taman
Anak Sejahtera (TAS),
titik titik rawan PMKS,
dll
3 Dinas - menyediakan data
Pendidikan PKBM dan lembaga non

36
Kabupaten/ formal lainnya
Kota - menyediakan data anak
jalanan yang bersekolah
- menyediakan data anak
jalanan usia sekolah
yang tidak bersekolah
4 Dinas - menyediakan data Balai
Transmigrasi Latihan Kerja (BLK),
dan Tenaga - menyediakan data anak
Kerja jalanan yang bekerja
Kabupaten/
Kota
5 Kantor - menyediakan data
Kementerian Pondok Pesantren
Agama - menyediakan data anak
Kabupaten/
jalanan yang berada di
Kota
Pondok Pesantren
6 Institusi yang - menyediakan data
menangani Lembaga Perlindungan
pemberdayaan Anak/Perempuan,
perempuan,
P2TP2A
pemuda dan
olahraga - menyediakan data kasus
kekerasan dan
perlakukan salah lainnya
yang ditangani oleh

37
Lembaga Perlindungan
Anak/Perempuan,
P2TP2A
- Menyediakan data
terkait organisasi
pemuda

4. Meningkatkan Pembiayaan Pelayanan


Kesehatan Anak Jalanan
Pembiayaan dalam pelaksanaan pelayanan
kesehatan bagi anak jalanan berasal dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), Dana BOK dan sumber dana lainnya
yang tidak mengikat.

Dalam rangka meningkatkan cakupan dan kualitas


pelayanan kesehatan anak jalanan maka perlu
dilakukan perencanaan secara terpadu di tingkat
provinsi dan kabupaten/kota yang melibatkan
semua unsur terkait yang memberikan pelayanan
kepada anak jalanan. Perencanaan ini disusun
untuk kebutuhan satu tahun dan dilaksanakan
secara efisien, efektif dan dapat
dipertanggungjawabkan. Perencanaan pembiayaan
bertujuan agar dapat melakukan penyelarasan

38
program dan efisiensi pemanfaatan dana di setiap
sektor terkait sehingga pelayanan kesehatan anak
jalanan dapat terlaksana tepat sasaran.

Sesuai Undang Undang Dasar 1945 Pasal 34,


mengatakan bahwa; fakir miskin dan anak
terlantar dipelihara oleh negara, hal tersebut juga
diperkuat dengan Undang Undang Nomor 11
Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial,
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang
Penanganan Fakir Miskin, Peraturan Pemerintah
Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima
Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan, Peraturan
Presiden Nomor 19 Tahun 2016 tentang Jaminan
Kesehatan Nasional dan Keputusan Menteri Sosial
Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2013
tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir
Miskin dan Orang Tidak Mampu serta Keputusan
Menteri Sosial Nomor 170 Tahun 2015 tentang
Penetapan Penerima Bantuan Iuran Jaminan
Kesehatan.

Pada intinya bahwa semua fakir miskin dan orang


tidak mampu (termasuk gelandangan, pengemis,
anak terlantar dan anak jalanan, perempuan rawan
sosial ekonomi, penghuni Rutan/Lapas/LPKA)
baik yang teregister maupun yang belum teregister

39
berhak mendapat pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak. Apabila fakir miskin
dan orang tidak mampu belum teregister, maka
menjadi kewenangan pemerintah dan/atau
pemerintah daerah, terkait penentuan siapa saja
yang berhak menjadi penerima bantuan iuran.

Pendamping anak jalanan melalui Dinas Sosial


dapat mengusulkan identitas kependudukan bagi
anak jalanan yang belum terdaftar dan belum ada
nomor induk kependudukan (NIK) bekerjasama
dengan dukcapil (Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil). Apabila anak jalanan tersebut
dinilai memenuhi syarat sebagai PBI, maka BPJS
Kesehatan akan menerbitkan Kartu Indonesia
Sehat (persyaratan sesuai dengan Permensos
Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan PP
Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan atas PP
Nomor 101 Tahun 2012 tentang PBI Jaminan
Kesehatan).

Untuk memperoleh pengobatan di Puskesmas atau


FKRTL/Rumah Sakit, bagi anak jalanan yang
sudah masuk dalam daftar penetapan PBI biaya
pengobatannya ditanggung oleh Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) sedangkan bagi anak
jalanan yang belum masuk dalam daftar penetapan

40
PBI didorong untuk menjadi tanggungan
pemerintah daerah.

5. Memfasilitasi Kearifan Lokal (Local Wisdom)


a. Mengoptimalkan pemnafaatan CSR sesuai
kondisi lapangan
b. Pemanfaatan pendekatan keagamaan untuk
pesan dalam rangka penyampaian pesan
kesehatan termasuk perilaku berisiko,
kesehatan reproduksi
c. Memanfaatkan nilai-nilai local, budaya local
dan acara keagamaan
d. Membuat kebijakan inovatif local yang
memiliki daya ungkit terhadap pembinaan dan
peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak
jalanan

41
42
BAB III
PELAYANAN KESEHATAN
BAGI ANAK JALANAN

“ Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam


memperoleh akses atas sumber daya kesehatan dan
pelayanan kesehatan yang komprehensif, tidak terkecuali
bagi anak jalanan. “

43
BAB III
PELAYANAN KESEHATAN BAGI ANAK
JALANAN

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab
terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan
secara komperhensif kepada semua lapisan masyarakat
termasuk anak jalanan, agar memperoleh derajat
kesehatan yang optimal.

Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas


terdiri dari upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan, yang termasuk dalam upaya
kesehatan wajib adalah promosi kesehatan, kesehatan
lingkungan, kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana,
perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular dan tidak menular serta
pengobatan. Upaya kesehatan pengembangan ditetapkan
bersama dinas kesehatan Kabupaten/Kota dengan
mempertimbangkan masukan dan kebutuhan dari
masyarakat, dan bila Puskesmas belum mampu maka
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota wajib
menyelenggarakannya.

44
Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan berbagai
organisasi / LSM yang menangani anak jalanan adalah
dengan melihat potensi anak tersebut apakah mampu
didik, sehingga bisa diarahkan ke sekolah formal atau
mampu latih yang lebih diarahkan pemberian
keterampilan hidup agar mereka dapat bekerja dan
mandiri. Pelayanan kesehatan pada anak jalanan
diintegrasikan dalam upaya kesehatan wajib dan upaya
kesehatan pengembangan yang ada di Puskesmas. Selama
ini pelayanan kesehatan pada anak jalanan yang diberikan
baru sebatas pengobatan dengan berbagai kesulitan karena
masalah dana maupun hambatan administrasi pada waktu
mengunjungi layanan kesehatan baik di dalam gedung
maupun di luar gedung. Untuk mewujudkan pelayanan
kesehatan pada anak jalanan agar bisa terselenggara
secara optimal, sebaiknya bekerjasama dengan lintas
sektor terkait agar pelayanan ini bisa diberikan secara
menyeluruh mulai dari promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.

Untuk memudahkan pelayanan dan mengetahui


perkembangaan kesehatan dapat diberikan laporan
perkembangan kesehatan dan atau rapor kesehatan bagi
anak jalanan maupun organisasi/LSM yang
menanganinya.

45
A. Sistem Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan
Dalam sistem pelayanan kesehatan pada anak jalanan
terbagi menjadi 2 kategori, yaitu Pelayanan Kesehatan
di dalam gedung dan pelayanan kesehatan di luar
gedung.

1. Pelayanan Kesehatan di Dalam Gedung


Pelayanan kesehatan di dalam gedung adalah
pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan di
dalam gedung FKTP secara komprehensif dan
terintegrasi untuk anak jalanan yang datang
langsung atau dirujuk oleh rumah singgah, panti
sosial asuhan anak (PSAA), pusat layanan di
masyarakat atau Lembaga Pembinaan Khusus
Anak (LPKA) atau anggota Satuan Polisi Pamong
Praja pada saat melakukan patrol ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat. Bila ada kasus yang
tidak dapat ditangani oleh FKTP dapat dirujuk ke
rumah sakit sesuai dengan mekanisme rujukan.

46
Tabel Paket Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan Berdasarkan Usia

Usia Promotif Preventif Kuratif Rehabilitatif Sasaran


Bayi (0- 1. Penyuluhan 1. Pemberian 1. Pengobatan 1. Rehabilitasi 1. Orangtua
12 Gizi tentang MPASI sesuai jenis Bersumber 2. Wali
bulan) Pemberian (makanan penyakit daya 3. Pendamping
Makanan pendamping dan Masyarakat
Gizi ASI) dan permasala- (RBM), jika
Seimbang Pemberian hannya. programnya
2. Penyuluhan Vitamin A. 2. Merujuk ke ada di
Pola Asuh 2. Imunisasi Rumah wilayah kerja
Anak dasar Sakit setempat.
3. Pemanfaatan 3. Penerapan setempat.
Buku KIA. pola asuh.
4. Penyuluhan 4. Stimulasi,
tentang Deteksi
pencegahan dan Intervensi
Kekerasan Dini Tumbuh
Terhadap Kembang
Anak (KTA). (SDIDTK)
5. Penyuluhan 5. Konseling
kesehatan mengenai
lingkungan. KTA terhadap

47
6. Penyuluhan orangtua asuh
penyakit 6. Peningkatan
menular dan kualitas
tidak kesehatan
menular. lingkungan
dan konseling
kesehatan
lingkungan.
7. Skrining HIV-
AIDS
Anak 1. Penyuluhan 1. Pemberian 1. Pengobatan 1. Rehabilitasi 1. Orangtua
Balita Gizi tentang makanan sesuai jenis Bersumber 2. Wali
(12-59 pemberian tambahan dan penyakit dan daya 3. Pendamping
bulan) makanan gizi Vitamin A. permasala- Masyarakat 4. Anak
seimbang. 2. Imunisasi hannya. (RBM), jika Jalanan
2. Penyuluhan lanjutan pada 2. Merujuk ke programnya
Pola Asuh balita ada di
Rumah Sakit
Anak. 3. Konseling wilayah
setempat
3. Pemanfaatan mengenai KtA kerja
Buku KIA. terhadap setempat.
4. Penyuluhan orangtua dan
PHBS anak.
(perilaku hidup 4. Penerapan
bersih dan PHBS.

48
sehat). 5. Skrining KPSP
5. Penyuluhan (kuesioner pra
tentang skrining
kesehatan perkembangan)
jiwa. 6. Penerapan
6. Penyuluhan SDIDTK
tentang 7. Skrining
penyakit HIV/AIDS.
menular dan 8. Penerapan
tidak menular. penyehatan
7. Penyuluhan lingkungan
penyehatan
lingkungan.
Anak 1. Penyuluhan 1. Penerapan dan 1. Pengobatan 1. Rehabilitasi 1. Orangtua
Usia kesehatan konseling sesuai jenis Bersumber 2. Wali
Sekolah tentang PHBS, PHBS penyakit daya 3. Pendampin
(6-10 gizi, NAPZA, 2. Konseling 2. Merujuk ke Masyarakat 4. Anak
tahun) bahaya mengenai Rumah Sakit (RBM), jika Jalanan
merokok dan Gizi,bahaya setempat. programnya
HIV- AIDS NAPZA, ada di
2. Penyuluhan merokok dan wilayah
kesehatan gigi HIV-AIDS kerja
dan mulut 3. PKHS setempat
3. Penyuluhan (pendidikan

49
Kesehatan keterampilan
Lingkungan. hidup sehat)
4. Penyuluhan 4. Pemberian
penyakit tablet tambah
menular dan darah
tidak menular. 5. Skrining HIV-
AIDS
6. Imunisasi
lanjutan anak
usia sekolah
7. PMT Anak Usia
Sekolah
Remaja 1. Penyuluhan 1. Penerapan 1. Pengobatan 1. Rehabilitasi 1. Orangtua
(10-18 kesehatan PHBS dan gizi. sesuai jenis Bersumber 2. Wali
tahun) tentang PHBS, 2. Konseling penyakit. daya 3. Pendampin
gizi, NAPZA, bahaya 2. Merujuk ke Masyarakat 4. Anak
bahaya NAPZA, Rumah Sakit (RBM), jika Jalanan
merokok, merokok, setempat programnya
HIV- AIDS dan HIV/AIDS, 3. Upaya ada di
kesehatan kesehatan berhenti wilayah
reproduksi. reproduksi, dan merokok kerja
2. Penyuluhan kesehatan setempat
kesehatan gigi lingkungan.
dan mulut. 3. Konseling

50
3. Penyuluhan sebaya.
Kesehatan 4. PKHS
Lingkungan. 5. Pemberian
4. Penyuluhan tablet tambah
penyakit darah.
menular dan 6. Peningkatan
tidak menular. kualitas
kesehatan
lingkungan.
7. Skrining dan
imunisasi
lanjutan Td
WUS
8. Pemenuhan
gizi seimbang.
9. Skrining
HIV/AIDS.

51
2. Pelayanan Kesehatan di Luar Gedung
Pelayanan kesehatan di luar gedung adalah
pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan di luar
Puskesmas berbentuk promotif, preventif, maupun
kuratif dan rehabilitatif secara komperhensif dan
terintegrasi untuk anak jalanan yang berada di
LKSA seperti rumah singgah, panti sosial asuhan
anak (PSAA), atau pusat layanan di masyarakat
serta anak jalanan yang belum pernah mengakses
layanan kesehatan. Bila ada kasus yang tidak dapat
ditangani oleh Puskesmas, maka Puskesmas dapat
merujuk ke FKRTL/Rumah Sakit setempat sesuai
mekanisme rujukan.

Berikut ini adalah bagan pelayanan kesehatan anak


jalanan dan beberapa kegiatan yang dapat
digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan
dalam memberikan pelayanan kesehatan.

52
BAGAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK JALANAN

1
Alternatif pendekatan sasaran langsung 3 4
Kelompok pendukung & koordinator
Anak jalanan P
 Hidup di jalanan U  Individu:
 Bekerja di jalanan S relawan/peksos
 Rentan menjadi anak K leader, jeger
jalanan
E  Keluarga: orang tua
 Kelompok: pimpinan
S
panti sosial asuhan
M
anak [PSAA],
2 Kelembagaan A pimpinan rumah
S singgah
 Rumah singgah
 Swasta: perusahaan
 Panti sosial asuhan anak
 Lintas sektor
[PSAA]
 Pusat layanan di
masyarakat Rumah sakit

53
Model 1: Pelayanan kesehatan melalui
pendekatan sasaran langsung:
Pelayanan kesehatan yang secara langsung
ditujukan kepada kelompok sasaran pada waktu
yang telah ditentukan minimal 2 kali dalam
setahun. Misalnya dilakukan pada kegiatan besar
nasional dan daerah seperti Hari Anak Nasional,
Hari Kemerdekaan, HUT kab/kota, dll.

Tujuan dari pelayanan ini adalah untuk


memberikan pelayanan yang cepat dan mudah
dengan cakupan luas.

Sasaran adalah anak jalanan yang:


• Hidup di jalanan
• Bekerja di jalanan
• Rentan menjadi anak jalanan.

Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai sasaran


langsung adalah :
• Koordinasi dengan lintas program dan lintas
sektor terkait untuk pendataan sasaran.
• Pemetaan wilayah daerah titik rawan anak
jalanan.
• Identifikasi dan melakukan pemilahan
terhadap anak yang hidup di jalanan, bekerja di
jalanan dan anak yang rentan menjadi anak
jalanan.

54
Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan melalui
pendekatan sasaran lamgsung berupa pelayanan
promotif, preventif dan kuratif. Pelayanan
kesehatan, penjaringan kesehatan, pemeriksaan
berkala, imunisasi, pengobatan masal dan rujukan
kasus bila dibutuhkan. Pelayanan ini diberikan
oleh petugas kesehatan dengan lintas program dan
lintas sektor terkait. Pelayanan diberikan oleh
petugas kesehatan bekerjasama dengan sektor
terkait, LSM/organisasi masyarakat lainnya.

Model 2: Pelayanan kesehatan melalui


pendekatan kelembagaan
Pelayanan kesehatan melalui pendekatan
kelembagaan adalah pelayanan kesehatan untuk
anak jalanan melalui wadah pembinaan yang
sudah ada di masyarakat.

Tujuan dari pelayanan ini adalah


• Meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
anak jalanan
• Meningkatkan ketrampilan hidup sehat
• Memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan anak jalanan

Sasaran adalah anak jalanan yang dibina oleh


LKSA meliputi:
• Rumah singgah
• Panti sosial asuhan anak (PSAA)
• Pusat layanan masyarakat.

55
Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai sasaran
kelembagaan adalah :
• Koordinasi dengan lintas program dan lintas
sektor terkait untuk pelaksanaan kegiatan.
• Pelaksanaan kegiatan
• Monitoring, evaluasi dan pelaporan

Pelayanan kesehatan yang diberikan melalui


pendekatan kelembagaan bersifat promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif. Bentuk
kegiatan: penyuluhan kesehatan, penjaringan
kesehatan, pemeriksaan berkala, imunisasi,
pengobatan, rujukan kasus ke Puskesmas dan
FKRTL/Rumah Sakit, inspeksi kesehatan
lingkungan. Pelayanan diberikan oleh petugas
kesehatan bekerja sama dengan lintas program dan
lintas sektor terkait.

Model 3: Pelayanan Kesehatan di Puskesmas


Pelayanan kesehatan di Puskesmas adalah
pelayanan kesehatan dasar yang komprehensif dan
terintegrasi untuk anak jalanan yang datang
langsung atau dirujuk oleh rumah singgah, panti
sosial asuhan anak (PSAA), atau pusat layanan di
masyarakat. Bila ada kasus yang tidak dapat
ditangani Puskesmas, dirujuk ke FKRTL/Rumah
Sakit. Puskesmas peduli remaja, dapat melakukan
bimbingan dan konseling kasus anak jalanan usia
remaja.

56
Model 4: Pelayanan kesehatan melalui
pendekatan kelompok pendukung dan
koordinator
Pelayanan kesehatan melalui pendekatan
kelompok pendukung adalah pelayanan kesehatan
untuk anak jalanan melalui pembinaan/pelatihan
kelompok pendukung dan koordinator anak
jalanan.

Tujuan dari pelayanan ini adalah memperluas


jangkauan pelayanan kesehatan anak jalanan
melalui peningkatan peran kelompok pendukung.
Sasaran :
• Orang tua anak jalanan
• ”Koordinator” : Leader, Jeger
• Pimpinan rumah singgah
• Pimpinan panti sosial asuhan anak [PSAA]
• Koordinator pusat layanan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai


kelompok pendukung adalah :
• Koordinasi dengan lintas program dan lintas
sektor terkait untuk pendataan sasaran.
• Pemetaan wilayah daerah titik rawan
kelompok pendukung atau koordinator.
• Identifikasi kelompok pendukung.

Pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas


bersifat promotif, preventif. Bentuk kegiatan:

57
kunjungan rumah/Puskesmas untuk memberikan
penyuluhan/pembinaan kepada orang tua anak
jalanan, pendampingan kesehatan oleh relawan
atau pembinaan/pelatihan bagi: leader, jeger,
pimpinan rumah singgah, pimpinan panti sosial
asuhan anak (PSAA), koordinator pusat layanan di
masyarakat. Pelayanan ini diberikan oleh petugas
kesehatan melalui kerja sama dengan pusat
layanan yang ada di masyarakat/lintas sektor
terkait.

B. Langkah Langkah Pendampingan Anak Jalanan


Agar berhasil dengan baik dalam mendampingi anak
jalanan, perlu dilakukan langkah - langkah yang tepat.

1. Membangun Komunikasi yang Efektif


Komunikasi adalah suatu proses penyampaian
pesan dari seseorang kepada orang lain.
Komunikasi adalah suatu cara yang amat penting
dalam mempengaruhi kehidupan anak jalanan.
Komunikasi dilakukan setiap saat misalnya ketika
mengajarkan ilmu pengetahuan, mempengharuhi
sikap dan perilaku serta menyampaikan tanggung
jawab.

Komunikasi dapat dengan kata-kata (komunikasi


verbal), yaitu melalui pembicaraan atau tanpa
kata-kata (komunikasi non verbal), misalnya
melalui gerak tubuh, raut wajah atau penampilan.

58
 Keterampilan mendengarkan aktif.
Mendengarkan dengan seksama pembicaraan
anak jalanan, akan membantu anda memahami
minat, ide, dan kebutuhan mereka.
Keterampilan mendengar aktif meliputi:
membuat kontak mata, perhatikan anak,
perlakukan anak jalanan sebagai seorang
individu, ketrampilan berbicara.

 Keterampilan berbicara
Komunikasi yang baik antar 2 orang, perlu
menggunakan bahasa yang lazim dipakai. Hal
berikut akan membantu anda agar berbicara
efektif :
- Bicara dengan jelas, mulut terbuka dan
cukup dapat didengar.
- Gunakan bahasa yang sederhana dan dapat
dengan mudah dimengerti oleh anak.
- Ingatlah, berbicara hanya berguna ketika
seseorang siap untuk berbicara. Hargai
anak untuk tetap diam dan tidak mau
bicara.

 Umpan balik
Memberikan umpan balik dapat merupakan
proses 2 arah. Mengulangi apa yan telah
mereka katakan, dapat memberikan klarifikasi
yang sangat menolong bagi mereka. Umpan
balik akan bersifat positif bila :

59
- Kontruktif (membangun) dan tidak
menilai.
- Jelas, spesifik dan benar
- Segera dilakukan setelah menerima suatu
pesan atau melihat perilaku anak.

 Komunikasi Non-Verbal :
- Sikap dan penampilan: Komunikasi non
verbal dapat membantu memahami anak
jalanan dan juga membantu dipahami oleh
mereka. Komunikasi non-verbal akan
banyak mengungkapkan sikap pendamping
ataupun sikap anak jalanan.
- Pertahankan sikap tubuh yang mendukung:
pada beberapa budaya duduk membungkuk
ke arah anak dapat mendukung
komuniksai. Berpangku tangan atau
menyilangkan kaki menunjukkan bahwa
anda kurang berminat mendengarkan anak
dan akan menjadi penghambat dalam
komunikasi.

 Komponen lain dari proses komunikasi :


a. Strategi komunikasi.
Anda perlu memperhatikan lawan bicara,
apakah anak jalanan atau anggota
masyarakat lainnya. Strategi
berkomunikasi disesuaikan dengan lawan
bicara.

60
b. Metode komunikasi
- Komunikasi dengan berbicara : dapat
merupakan pertemuan formal
berhadapan satu persatu atau
pembicaraan informal (baik langsung
maupun melalui telepon).
- Komunikasi melalui tulisan : dapat
melalui artikel, surat, buku, leaflet,
puisi atau nyanyian.
- Melalui sarana visual : misalnya
melalui film, video atau ilustrasi.

c. Lingkungan
Supaya komunikasi lebih efektif,
diperlukan lingkungan yang tidak ribut
dan bising, agar perhatian tidak beralih ke
arah lain. Pergilah ke sudut ruangan atau
tempat yang tidak banyak orang.

2. Membina Hubungan Saling Percaya


Pekerjaaan yang mendasar dari pendamping anak
jalanan adalah membangun hubungan dengan
mereka yang berdasarkan saling percaya, saling
menghargai dan adanya kesepakatan untuk
mengembangkannya.Proses dalam membina
saling percaya dengan anak jalanan seringkali
sulit, karena banyak diantara mereka belajar dari
pengalaman untuk tidak mempercayai orang lain.
Komunikasi memegang peranan yang amat

61
penting dalam membina hubungan yang saling
percaya dengan anak jalanan.

C. Penanganan Masalah Kesehatan Spesifik pada


Anak Jalanan

1. Kebersihan Perorangan
Kebersihan perorangan merupakan bagian dari
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang
dapat diterapkan di rumah tangga, sekolah,
tempat-tempat umum, tempat kerja, maupun di
institusi kesehatan. Bagi anak jalanan, setidaknya
diharapkan bisa menerapkan PHBS di tempat-
tempat umum, seperti di pasar, tempat ibadah,
rumah makan, atau angkutan umum.

PHBS di tempat-tempat umum, meliputi :


 Menggunakan air bersih.
 Mencuci tangan dengan air bersih yang
mengalir dan sabun.
 Menggunakan jamban.
 Membuang sampah pada tempatnya.
 Tidak merokok di tempat-tempat umum.
 Menutup makanan dan minuman.
 Tidak meludah sembarangan.
 Memberantas jentik nyamuk.

Mengingat kehidupan yang banyak dihabiskan di


jalanan, anak jalanan juga perlu ditanamkan

62
mengenai kebiasaan kebersihan perorangan dasar
seperti menggosok gigi, mandi, mencuci rambut,
dan menggunting kuku. Dengan kebiasaan dasar
yang kadang sering kali dilupakan ini, diharapkan
dapat mengurangi kejadian penyakit pada anak
jalanan seperti penyakit kulit dan diare.

2. Kekerasan terhadap Anak


Kondisi anak jalanan yang memprihatinkan
membuat mereka rentan terhadap kejahatan berupa
kekerasan, baik kekerasan fisik, seksual,
psikologis, maupun kekerasan finansial. Anak
jalanan rentan mendapatkan perlakuan kekerasan
tidak hanya dari orang lain tapi juga dari teman
sebayanya sesama anak jalanan.

Petugas kesehatan berperan untuk memberikan


penyuluhan mengenai gender, pencegahan
kekerasan, dan risiko dari kekerasan seksual, di
samping memberikan pelayanan kesehatan bagi
anak korban kekerasan. Petugas kesehatan juga
memberikan informasi pentingnya mencari
pertolongan apabila mengalami kekerasan dan
adanya pelayanan kesehatan yang bisa diakses
oleh anak jalanan.

Underwear Rule (Pesan) :


Cara membimbing anak mengenai aturan
berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan
dengan orang lain.

63
 Inti : tanamkan bahwa tidak boleh disentuh
orang lain pada bagian tubuh yang ditutupi.
Tubuhmu adalah milikmu.
 Sebaliknya, dilarang menyentuh orang lain.
 Ajarkan berani berkata TIDAK jika ada kontak
fisik.
 Harus menolak jika ingin dicium atau
disentuh, serta berani menceritakannya kepada
orang tua/guru/pendamping/petugas kesehatan.
 Beritahu bagaimana sentuhan yang baik dan
buruk.
 Ajarkan yang dimaksud rahasia itu apa. Pelaku
kekerasan biasanya meminta menjaga rahasia
kejahatannya.
 Bila ada rahasia yang membuat khawatir,
mereka tidak harus menyimpannya.
 Ajarkan selalu memberitahu orang
tua/guru/pendamping/petugas kesehatan apa
saja yang terjadi padanya :
 Siapa saja yang memberi mereka hadiah
 Siapa yang mengajak mereka menyimpan
rahasia
 Siapa saja yang mengajaknya bermain
 Bila pelaku orang asing, beritahu agar tidak
menerima hadiah atau ajakan dari orang tidak
dikenal.

64
3. Kesehatan Jiwa
Tanda-tanda adanya masalah kesehatan jiwa pada
remaja termasuk anak jalanan:

a. Gangguan cemas (anxietas)


Gangguan cemas adalah rasa kuatir yang
sangat berlebihan, yang mengakibatkan
terganggunya kegiatan yang biasa dilakukan
sehari-hari. Anak mengalami rasa cemas yang
berlebihan dan tidak masuk akal, misalnya
cemas akan terjadi sesuatu yang tidak
menyenangkan, padahal tidak ada yang perlu
dicemaskan. Selain dari gejala tersebut juga
dijumpai gejala kecemasan atau ketegangan
yang bersifat ganda (lebih dari satu gejala) :
 Ketegangan mental : cemas, bingung, rasa
tegang atau gugup, sulit memusatkan
perhatian, sulit tidur, mimpi buruk dan
mudah tersinggung.
 Ketegangan fisik : gelisah, sakit kepala,
gemetaran, tidak bisa santai, tidak
bertenaga dan mudah lelah.
 Gejala fisik : pusing, berkeringat, denyut
jantung cepat atau keras, mulut kering dan
nyeri perut, tegang seluruh otot terutama
otot bahu dan tungkai, kadang disertai sakit
perut, mual, muntah, berdebar-debar dan
gemetar. Gejala dapat berlangsung
berbulan-bulan, sering muncul kembali dan

65
sering dicetuskan oleh peristiwa yang
menegangkan.

Sikap pendamping :
• Dengarkan keluhan anak dan telusuri
penyebab keluhan tersebut.
• Tenangkan anak dengan melatih
melakukan relaksasi atau berdoa.
• Bila hal tersebut tidak meolong, segera
rujuk anak ke fasilitas yang tersedia
(Puskesmas, Rumah Sakit Umum, RSJ)
untuk mendapatkan konseling atau obat.

b. Gangguan Depresi
Gangguan depresi adalah perasaan sedih atau
murung yang mendalam dan menetap lebih
dari dua minggu berturut-turut segingga
menggangu aktifitas sehari-hari. Khusus untuk
anak dan remaja, depresi sering muncul dalam
bentuk gangguan tingkah laku, misalnya :
menantang, tawuran, tindak kriminal, kebut-
kebutan, berkelahi atau mencedarai diri
sendiri), dan penyalahgunaan NAPZA.

Sikap pendamping :
• Temani anak dan dengarkan keluhannya.
• Telusuri penyebab depresi pada anak.
• Dorong ia untuk melawan depresinya.
• Bila hal di atas tidak menolong, rujuk anak
ke fasilitas yang tersedia (Pskesmas,

66
Rumah Sakit Umum atau Rumah Sakit
Jiwa).

c. Gangguan stres pasca trauma (GSPT) :


Adalah gangguan yang tejadi setelah
mengalami peristiwa traumatik. Gejala
biasanya muncul setelah beberapa hari atau
beberapa minggu dan dapat pula setelah
beberapa tahun kemudian.

GSPT ditandai oleh 3 kelompok gejala utama :


 Mengalami kembali (Re-Experiencing),
terbayang selalu peristiwa traumatik, anak
seolah mengalami kembali kejadian
traumatik yang pernah ia alami tersebut
(flasback), terganggu mimpi buruk akan
peristiwa traumatik, merasakan ketegangan
psikologis atau terdapat reaksi fisik yang
berat seperti berkeringat, jantung berdebar
atau panik apabila di amenghadapi situasi
yang mengingtkannya pada peristiwa
traumatik.
 Reaksi menghindar (avoidance) dan
kehidupan emosi menjadi tebatas
(numbing), menghindari kegiatan, tempat,
pikiran, perasaan atau berbicara tentang
hal-hal yang berkaitan dengan kejadian
tersebut; emosi terbatas; amnesia (lupa)
psikogenik; kehilangan minat terhadap
kegiatan yang biasa dia lakukan, perilaku

67
menarik diri dan takut memikirkan masa
depan.
 Waspada atau mudah terangsang
(hyperarousal, kewasapaan berlebihan,
mudah kaget, sulit tidur, dan sulit
berkonsentrasi.

Sikap Pendamping :
• Dampingi anak dalam menghadapi situasi
krisis akibat peristiwa traumatik, tunjukan
dengan sikap bahwa anda sungguh-
sungguh ingin membantu.
• Dengarkan keluhannya dan bantu ia
mengatasi gejala-gejala yang yang ia
rasakan.
• Membantu anak menyesuaikan diri dengan
perubahan kehidupan pasca peristiwa
traumatis.
• Membantu anak menata kehidupan pasca
trauma dan merencanakan masa depan.
• Bila dengan cara tersebut, keluhan anak
masih berat, anada dapat merujuknya ke
fasilitas yang tersedia (Puskesmas, Rumah
Sakit Umum, RSJ) untuk mendapatkan
konseling atau mungkin pula anak
membutuhkan obat untuk sementara.

d. Gangguan Psikotik
Seseorang yang menderita gangguan psikotik
menunjukkan perubahan yang nyata dan

68
berlangsung lama. Orang tersebut mungkin
menunjukan gejala sebagai berikut:
 Menarik diri dari lingkungan dan hidup
dalam dunianya sendiri.
 Merasa tidak mempunyai masalah dengan
dirimya
 Kesulitan untuk berpikir dan memusatkan
perhatian
 Gelisah dan bertingkah laku atau bicara
kacau
 Sulit tidur
 Mudah tersinggung dan mudah marah
 Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak
nyata (halusinasi)
 Berkeyakinan yang keliru seakan-akan ada
seseorang yang membuntuti atau ingin
membunuhnya (waham)
 Tidak merawat diri, kadang-kadang
berpenampilan kotor

Sikap Pendamping :
• Apabila menemukan anak dengan gejala
tersebut di atas, segeralah dirujuk ke
tenaga kesehatan. Anak tersebut
membutuhkan obat untuk mengatasi
gejalanya.
• Jelaskan kepada keluargnya bahwa
perilaku anak tersebut adalah akibat

69
penyakitnya. Jadi jangan marahi anak
karena tidak akan ada manfaatnya.

e. Gangguan penggunaan NAPZA (narkotika,


psikotropika dan zat adiktif lainnya)
Anak jalanan berisiko tinggi untuk
menyalahgunakan NAPZA akibat kehidupan
mereka yang penuh dengan stres dan adanya
bandar yang memanfaatkan keberadaan
mereka.

Gejala dari penyalahgunaan NAPZA


tergantung dari keadaan (sedang menggunakan
atau gejala putus zat), juga tergantung dari
jenis NAPZA yang digunakan. Gejala yang
perlu diwaspadai adalah perubahan sikap dan
perilaku :
 Prestasi menurun, menjadi pemalas,
kurang bertanggung jawab.
 Bersikap emosional, mudah marah, mudah
tersinggung, pencuriga dan bersikap kasar.
 Sering berbohong, menipu, berhutang,
menjual barang-barang dan mencuri.
 Pola tidur berubah, malam begadang dan
siang mengantuk.
 Kehilangan minat terhadap hobi dan
kegiatan lain yang biasanya disenangi.
 Menghindari pertemuan dengan anggota
keluarga (anti sosial).

70
Gejala saat menggunakan tergantung pada
jenis NAPZA yang digunakan. Gejala yang
muncul antara lain :
 Sikap apatis (acuh tak acuh), tampak
mengantuk, jalan sempoyongan dan bicara
cadel (pelo).
 Bila kelebihan dosis : denyut nadi dan
detak jantung melambat, kulit terasa
dingin, nafas melambat sampai berhenti
dan meninggal.

Gejala putus zat :


 Mata dan hidung berair, menguap terus,
mual/muntah, sakit perut, diare, nyeri otot
dan tulang.
 Depresi (pada pengguna ekstasi), kejang
(pada pengguna alkohol dan
nezodiadiazepin/obat penenang).
Pengaruh jangka panjang :
 Badan kurus, penampilan tidak sehat, tidak
perduli terhadap kesehatan dan kebersihan
diri, gigi tidak terawat dan sering ompong
(gigi rapuh), terdapat bekas suntikan di
lenagan atau bagian tubuh lain (pada
pengguna NAPZA dengan menyuntik).

Sikap pendamping :
• Dekati anak dan terima dia apanya.

71
• Telusuri penyebab dia menggunakan
NAPZA
• Bantu anak mengatasi masalah
kehidupannya.
• Rujuk ke fasilitas yang sesuai (dalam
keadaan over dosis segera bawa ke
Puskesmas atau Rumah Sakit).

4. Kesehatan Reproduksi
Anak jalanan rentan terhadap berbagai masalah
kesehatan, terutama salah satunya terkait dengan
kesehatan reproduksi. Kehidupan yang bebas di
jalanan dan permisifnya norma moral memberikan
peluang kepada anak jalanan untuk memiliki
perilaku seksual negatif (berisiko). Banyak anak
jalanan yang seksual aktif dan bahkan ada yang
bekerja sebagai pekerja seks teritama anak jalanan
perempuan. Anak jalanan rentan untuk melakukan
perilaku seks berisiko dan tidak aman, terinfeksi
HIV/AIDS dan IMS lainnya, bahkan kehamilan
tidak diinginkan, hingga berisiko terjadinya aborsi
yang tidak aman.

Adanya keterbatasan pengetahuan mengenai


kesehatan reproduksi di kelompok anak jalanan,
menunjukkan betapa penting untuk dilakukan
kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi
(KIE)/penyuluhan kesehatan reproduksi, maupun
konseling, dan pelayanan kesehatan lainnya, yang
dapat dilaksanakan oleh petugas kesehatan di

72
fasilitas pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan
juga dapat bekerjasama dengan sektor terkait dan
organisasi berbasis masyarakat. Pelaksanaannya
dapat melalui rumah singgah/panti, karang taruna,
ataupun LSM/organisasi masyarakat.

5. Gizi
Anak jalanan termasuk dalam kelompok yang
berisiko mengalami gangguan masalah gizi.
Kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dan
pola makan yang tidak sehat karena pengaruh
kemiskinan, anak jalanan berisiko mengalami
masalah kesehatan dan masalah gizi. Infeksi dan
malnutrisi ketika anak-anak akan menjadi beban
pada usia remaja, mereka yang memiliki riwayat
penyakit diare dan ISPA semasa bayinya tidak
akan tumbuh menjadi remaja normal, sehigga
tidak dapat bekerja secara optimal dan produktif.

Masalah gizi yang sering ditemukan pada anak


jalanan adalah gizi kurang, gizi lebih dan pendek.
Gizi kurang disebabkan karena asupan makanan
sehari-hari tidak mencukupi sesuai kebutuhannya,
gizi lebih sebaliknya disebabkan karena asupan
makanan sehari-hari melebihi kebutuhannya,
sehingga menyebabkan kegemukan. Gizi lebih
pada anak jalanan umumnya disebabkan karena
asupan karbohidrat yang berlebihan. Pendek
disebabkan kekurangan gizi knonis, mungkin
sudah dimulai sejak janin dalam kandungan

73
hingga setelah anak lahir, kerena asupan gizi yang
tidak mencukupi kebutuhan dalam waktu yang
lama.

Hasil penelitian di Kota Makasar yang dilakukan


pada 277 anak berusia 10-19 tahun menunjukkan
bahwa 100% anak berusia 10-13 tahun berstatus
gemuk dan 80% berstatus gizi sangat gemuk. Pada
kelompok ini makan mereka masih teratur dan
diawasi orang tua, selain itu selama bekerja
mereka lebih sering jajan dan ngemil. Menurut
tempat tinggal yang tingal bersama orang tua
100% berstatus gizi gemuk. Sebesar 63,2 % anak
jalanan yang menghabiskan waktu 4-8 jam perhari
di jalan berstatus gizi sangat kurus. Anak jalanan
yang tidak memiliki riwayat penyakit lebih banyak
berstatus gizi sangat gemuk. Menurut pola
konsumsi yang memiliki status gizi gemuk sebesat
78,6%.

Hasil penelitian yang dilakukan di Kota Bandung


pada tahun 2011 pada anak jalanan 6-12 tahun,
menunjukkan bahwa 5,3% gizi kurang dan 8,8%
gizi lebih. Kecukupan kalori anak jalanan melebihi
kecukupan kalori yang dibutuhkan, akan tetapi
kebuthan protein dan lemak kurang.

Hasil penelitian di 10 Wilayah Kota Bandung :


kebiasaan anak jalanan lebih cenderung
menggunakan uangnya untuk jajan sembarangan.

74
Rata-rata mereka makan mie instan 2 kali sehari,
jarang makan buah dan sayur, dan kurang
terpenuhinya kebutuhan air minum bersih.

Masalah gizi pada anak jalanan, jika tidak segera


diatasi akan menghasilkan generasi yang akan
menjadi beban negara. Kriteria balita gizi kurang
bila Berat Badan (BB) menurut Panjang Badan
(PB) atau BB menurut Tinggi Badan (TB) atau
BB/PB atau BB/TB < - 2 SD sd - 3 SD. Untuk
kriteria balita gizi lebih atau risiko obesitas bila
BB/ PB atau BB/TB > +1 SD dan untuk balita
stunting bila BB/ PB atau BB/TB - 3 SD sd <- 2
SD. Untuk remaja. Mengukur status gizi pada
anak, remaja dan dewasa dapat dilakukan dengan
pengukuran IMT, sangat terkait dengan umur,
karena dengan perubahan umur terjadi perubahan
komposisi dan densitas tubuh, sehingga pada anak
dan remaja digunakan indikator IMT menurut
umur (IMT/U).

Berat Badan (Kg)


IMT = -------------------------
Tinggi badan (Cm)2

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk


ketentuan WHO yang membedakan batas ambang
normal untuk laki-laki dan perempuan. Di
Indonesia berdasarkan hasil penelitian dan

75
pengalaman klinis tidak tidak dibedakan menurut
jenis kelamin.

Batas ambang normal yang digunakan adalah


18.5-25.0, bila IMT > 25,0-27,0 dikategorikan
kegemukan (over weight). Seseorang
dikategorikan menderita obesitas jika IMTnya >
27,0.

Bila ditemukan balita atau remaja gizi kurang dan


kegemukan beritahukan petugas kesehatan di
puskesmas untuk segera ditindak lanjuti. Cara
mempertahankan berat badan normal adalah
menerapkan pola konsumsi pangan dengan prinsip
gizi seimbang.

Gambar 3.1 Tumpeng Gizi Seimbang sebagai Panduan


Konsumsi Sehari-hari

76
Empat Pilar Gizi Seimbang
1) Mengkonsumsi anekaragam pangan.
2) Membiasakan perilaku hidup bersih.
3) Melakukan aktivitas fisik.
4) Memantau Berat Badan (BB) secara teratur
untuk mempertahankan berat badan normal.

Pesan-pesan Gizi Seimbang


1) Syukuri dan nikmati anekaragam makanan;
2) Banyak makan sayuran dan cukup buah-
buahan: sayur 3-4 porsi/hari, buah 2-3
porsi/hari;
3) Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang
mengandung protein tinggi: 2-4 porsi/hari;
4) Biasakan mengonsumsi anekaragam makanan
pokok: makanan sumber karbohidrat kompleks
(jagung, umbi-umbian, nasi, sagu, tepung-
tepungan, dll) 3-4 porsi/hari;
5) Batasi konsumsi pangan manis, asin dan
berlemak: gula (<4 sdm), garam (<1 sdt), dan
minyak/lemak (<5 sdm) ;
6) Biasakan sarapan;
7) Biasakan minum air putih yang cukup dan
aman: 8 gelas (± 2 liter/hari);
8) Biasakan membaca label pada kemasan
pangan;
9) Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih
mengalir;
10) Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan
pertahankan berat badan normal.

77
D. Mekanisme Rujukan dan Rujuk Balik
Pelaksanaan pelayanan kesehatan rujukan dan rujuk
balik bagi anak jalanan mengacu pada sistem dan
mekanisme yang ada, yaitu menerapkan pelayanan
berjenjang yang dimulai dari Puskesmas. Bila
memerlukan pelayanan lebih lanjut maka dapat
dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat
Lanjut (FKRTL)/Rumah Sakit. Pelayanan kesehatan
rujukan dapat berupa rujukan rawat jalan dan rawat
inap yang diberikan berdasarkan indikasi medis
disertai surat rujukan.

Bila kondisi kesehatan anak telah stabil dan tidak


memerlukan perawatan spesialistik, tetapi masih
memerlukan pelayanan lanjutan (kontrol ulang), maka
FKRTL/Rumah Sakit dapat merujuk balik ke
Puskesmas berdasarkan surat keterangan rujuk balik.

Mekanisme rujukan pelayanan kesehatan dilakukan


pada Puskesmas dan FKRTL/Rumah Sakit yang sudah
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

78
BAB IV
PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN

“Puskesmas dapat menjadi motivator yang mendorong


keberhasilan upaya penanganan masalah anak jalanan di
masyarakat. “

79
BAB IV
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pembinaan dilakukan secara berjenjang mulai dari


Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas. Dalam
melaksanakan pembinaan dan pengawasan, Dinas
Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dapat mengikut
sertakan organisasi profesi terkait, Dinas Sosial
Provinsi/Kabupaten/Kota, Komisi Perlindungan Anak,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Organisasi
Sosial.

Pembinaan kesehatan terhadap Anak Jalanan, rumah


singgah dan LKSA dilakukan oleh petugas Puskesmas
dengan berkoordinasi instansi terkait (Kecamatan, Dinas
Sosial Kab/Kota dan Satpol PP).

A. Pencatatan dan Pelaporan


Sistem pencatatan dan pelaporan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Sistem Informasi
Puskesmas (SIP) yang mengakomodasi semua
kebutuhan pencatatan dan pelaporan setiap program
yang dilaksanakan di Puskesmas. Pembinaan
Kesehatan Anak di Panti/LKSA merupakan program
kesehatan anak yang terintegrasi dilaksanakan di Panti
oleh Puskesmas dimana sebagian besar program
tersebut terkait dengan program pokok Puskesmas,

80
seperti: Kesehatan Ibu dan Anak, Gizi, Imunisasi yang
telah memiliki format pencatatan dan pelaporan
tersendiri.

Pencatatan dilakukan melalui


a. Register pelayanan kesehatan bayi, balita dan pra
sekolah memakai Kohort
Pelayanan kesehatan yang diberikan pada anak
jalanan/terlantar dalam kategori usia bayi (0-11
bulan), balita (12-59 bulan) dan pra sekolah (5-6
tahun) menggunakan Kohort Pelayanan Kesehatan
Balita dan anak Pra Sekolah (Lampiran 3)
b. Register pelayanan kesehatan usia sekolah dan
remaja
Pelayanan kesehatan yang diberikan pada anak
jalanan/terlantar dalam kategori usia sekolah dan
remaja, yang datang ke Puskesmas menggunakan
Register Pelayanan Kesehatan Remaja (Lampiran
5)
Pelayanan kesehatan yang diberikan pada anak
jalanan/terlantar dalam kategori usia sekolah dan
remaja, yang diberikan di LKSA menggunakan
Register Pelayanan Kesehatan anak di LKSA
(Lampiran 4) termasuk Kegiatan skrining
Kesehatan dalam rangka Menuju Indonesia Bebas
Anak Jalanan

Pelaporan
Pelaporan pelaksanaan kegiatan dan pelayanan
kesehatan yang diberikan pada anak jalanan/terlantar

81
atau di panti dilaksanakan secara berjenjang, mulai
dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota,
Dinas Kesehatan Provinsi sampai dengan Pusat.

Jenis-jenis format pelaporan pelaksanaan kegiatan dan


pelayanan kesehatan pada anak jalanan/terlantar atau
di panti sebagai berikut
a. Laporan Bulanan Pelayanan Kesehatan Remaja di
Puskesmas (Lampiran 6)
b. Laporan Bulanan Pelayanan Kesehatan Anak
Jalanan / Terlantar di LKSA di wilayah kerja
Puskesmas (Lampiran 7)
c. Laporan Bulanan Kegiatan Anak Jalanan/
Terlantar di Puskesmas (Lampiran 8)

Mekanisme Pelaporan
Puskesmas mencatat kegiatan pelayanan kesehatan
anak jalanan/terlantar/di panti di dalam gedung dan
pelayanan di luar gedung (panti, pusling, posyandu).
Kemudian hasilnya dilaporkan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setiap tanggal 5 pada bulan Juli dan
Januari. Selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
mengkompilasi hasil laporan Puskesmas dan Rumah
Sakit Pemerintah/Swasta di Kabupaten/Kota, pada
tanggal 10 bulan Juli dan Januari untuk dilaporkan ke
Dinas Kesehatan Provinsi.
Dinas Kesehatan Provinsi mengkompilasi hasil
laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan
rumah sakit setiap tanggal 15 pada bulan Juli dan

82
Januari kemudian mengirimkan laporan ke
Kementerian Kesehatan.

Bagan 3
Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan
Program Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan

B. Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi kegiatan secara berkala.
Monitoring dan Evaluasi dilaksanakan dengan
memantau seluruh kegiatan pelayanan anak
jalanan/terlantar/panti baik di dalam gedung
Puskesmas maupun di luar gedung Puskesmas
sehingga diperoleh gambaran mutu pelayanan anak
jalanan sebagai dasar perbaikan pelayanan anak
jalanan Puskesmas selanjutnya. Hal-hal yang perlu
dimonitor dan dievaluasi dalam pelayanan kesehatan
anak jalanan di Puskesmas antara lain:

83
a. Sumber daya manusia
b. Ketersediaan sarana dan pra sarana
c. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk
meningkatkan kesehatan anak jalanan / terlantar /
panti
d. Hasil pemeriksaan kesehatan
e. Data 10 penyakit terbanyak
f. Dukungan kebijakan
g. Dukungan anggaran

Monitoring dan Evaluasi dilakukan secara terintegrasi


dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor
terkait. Instrumen Pemantauan Pelayanan Kesehatan
Anak di Panti (LKSA) dapat dilihat pada Lampiran 9.

C. Indikator
Untuk mengukur kinerja pelayanan kesehatan anak
jalanan di Puskesmas harus ada indikator yang
digunakan yaitu Puskesmas yang membina anak
jalanan/terlantar di wilayah kerjanya.

Definisi operasional Puskesmas melakukan


pembinaan anak jalanan/terlantar meliputi:
• Puskesmas memiliki anak jalanan/terlantar di
wilayah kerja
• Melaksanakan skrining dan pemeriksaan
kesehatan berkala bagi anak jalanan/terlantar di
dalam/di luar gedung
• Melakukan konseling bagi anak jalanan/terlantar
yang membutuhkan

84
• Melaksanakan pemberian KIE dan PKHS bagi
anak jalanan/terlantar
Indikator Keberhasilan
• Jumlah anak jalanan/terlantar yang mendapat
pelayanan kesehatan
• Jumlah panti/LKSA yang dibina

85
86
BAB V
PENUTUP

“ Pelayanan kesehatan merupakan salah satu wujud


pemenuhan kebutuhan yang selayaknya menjadi hak anak
jalanan. “

87
BAB V
PENUTUP

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu wujud


pemenuhan kebutuhan yang selayaknya menjadi hak anak
jalanan. Upaya yang dilakukan dalam rangka
meningkatkan status kesehatan dan membentuk perilaku
hidup sehat anak jalanan adalah bagian kecil dari
penanganan kesehatan anak jalanan ini cukup
memberikan daya ungkit yang tinggi dalam rangka upaya
pemecahan masalah anak jalanan yang ada di masyarakat.

Mengingat begitu rumitnya masalah anak jalanan,


terutama yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan
ekonomi, maka pelaksanaan pelayanan kesehatan di
lapangan perlu didukung keterlibatan sektor terkait
termasuk LSM berdasarkan perinsip kemitraan.
Pelaksanaan tersebut dilakukan melalui upaya
penanganan yang komprehensif dengan memberdayakan
anak jalanan maupun keluarga dan masyarakat di
lingkungannya, agar masalah anak jalanan tersebut secara
berangsur-angsur tertangani.

Dengan demikian, puskesmas sebagai unit pelayanan


terdepan di masyarakat, diharapkan lebih kreatif dalam
meningkatkan pelayanan kesehatan kepada semua lapisan
masyarakat termasuk anak jalanan. Puskesmas juga dapat
menjadi motivator yang mendorong keberhasilan upaya
penanganan masalah anak jalanan di masyarakat.

88
LAMPIRAN

89
Lampiran1

DAFTAR SINGKATAN

1. BIAS : Bulan Immunisasi Anak Sekolah


2. DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
3. FKTP : Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yaitu
puskesmas, praktik dokter, praktik dokter
gigi, klinik paratama, fasilitas kesehatan
milik TNI/POLRI beserta jejaringnya,
Rumah Sakit kelas D pratama
beserta atau yang setara
4. FKRTL : Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat
Lanjut yaitu klinik utama atau yang
setara, Rumah Sakit Umum, Rumah
Sakit khusus
5. HIV : Human Immunodeviciency Virus
6. IMS : Infeksi menular Seksual
7. ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut
8. ISR : Infeksi Saluran Reproduksi
9. KDSK : Koordinator Dinas Sosial Kecamatan
10. KEP : Kurang Energi Protein
11. KOMNAS PA : Komisi Nasional Perlindungan Anak
12. LKSA : Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak
13. LPA : Lembaga Perlindungan Anak
14. LPKA : Lembaga Pembinaan Khusus Anak
15. LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
16. M C K : Mandi Cuci Kakus

90
17. MIBAJ : Menuju Indonesia Bebas Anak Jalanan
18. NAPZA : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Lainnya
19. PBI : Penerima Bantuan Iuran
20. P H B S : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
21. P K B M : Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
22. PKHS : Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat
23. P M S : Penyakit Menular Seksual
24. P M T : Pemberian Makanan Tambahan
25. P 3 K : Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
26. P S A A : Panti Sosial Asuhan Anak
27. P S B R : Panti Sosial Bina Remaja
28. T T D : Tablet Tambah Darah

91
Lampiran 2
CONTOH MATERI PENYULUHAN

Jalur yang
PESAN INTI Sasaran Yang ingin dicapai efektif

Antara Akhir Tau Mau


Remaja & SPN Ortu remaja anjal Remaja- Informasi tentang Berani Nakes orang
pimpinan/koordinasi: anjal -resiko seks bebas mengat tua anjal,
rumah -PMS akan petugas
singgah/boording -HIV/AIDS tidak terlatih
house/open -kehamilan & kom
house/panti/institusi plikasinya
tradisional/pusat -aborsi tidak aman
pelayanan masy.

92
Sehat dan Ortu remaja anjal Remaja- Informasi tentang Berani Nakes orang
produktif di pimpinan/koordinasi: anjal -ciri-ciri mengat tua anjal,
usia remaja rumah perkembangan akan petugas
singgah/boording remaja (fisik,mental tidak sosial/petugas
house/open & sosial) lain terlatih
house/panti/institusi -gizi remaja
tradisional/pusat -resiko seks bebas
pelayanan masy. -PMS
-HIV/AIDS
-kehamilan &
komplikasinya
-aborsi tidak aman

93
Lampiran 3

KOHORT PELAYANAN KESEHATAN BALITA DAN PRA SEKOLAH

94
95
Lampiran 4
REGISTER PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI LKSA

96
Lampiran 5

REGISTER PELAYANAN KESEHATAN REMAJA

Tgl No Kunjungan Nama Umur Alamat Klasifikasi Tata Laksana Asal Ket
RM KB KU L P Obat Konseling Rujuk Kasus

Keterangan:
KB: Kunjungan Baru
KU: Kunjungan Ulang

97
Lampiran 6

LAPORAN BULANAN PELAYANAN KESEHATAN REMAJA

LAPORAN BULANAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI


REMAJA

NAMA PUSKESMAS: KAB/KOTA: PROVINSI:


BULAN: TAHUN:
JUMLAH KUNJUNGAN REMAJA:

Jumlah Kelompok Remaja


No Pelayanan Sekolah
L P Luar Sekolah
1 Konseling
2 KIE
3 Konselor Sebaya
4 Tatalaksana Kasus

98
Pertumbuhan dan Perkembangan
- Gizi kurang/lebih
- Postur Pendek
- Masalah Pubertas
- Anemia
Kesehatan Reproduksi
- Masalah menstruasi
- Masalah kehamilan
- Infeksi Menular Seksual
Genitalia
- Masalah Kulit luar penis
- Masalah Skrotum
Infeksi
- HIV
- Malaria
- Tuberkolusis
Kesehatan Jiwa
- Masalah Kekerasan

99
- Masalah Mental Emosional
Masalah rokok, alkohol,
- narkoba
- Rokok
- Alkohol
- Narkotika
- Psikotropika
- Lain - lain, sebutkan
Kesehatan Indera
- Masalah Penglihatan
- Masalah Telinga
Masalah Hidung dan
- Tenggorokan
- Masalah Kulit luar penis
Lain - Lain
- Nyeri Kepala
- Nyeri Perut non Menstruasi
- Asma

100
- Diabetes Melitus
- Hipertensi
- Keganasan
Rujukan
- Masuk
- Keluar

Tempat, Tanggal Mengetahui


Pengelola PKPR Puskesmas Kepala Puskesmas

( ) ( )

Keterangan:
Pada Kolom L dan P diisi umur anak

101
Lampiran 7
LAPORAN BULANAN PELAYANAN KESEHATAN
ANAK JALANAN/TERLANTAR DI LKSA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

PUSKESMAS : Kab/Kota : Provinsi :


Bulan : Tahun :

No Nama Ala Jumlah Jumlah Masalah Kesehatan K


LKSA mat Anak anak Gizi Kulit I Gang Kecaci Gigi P I Gang Jiwa NAPZA Lain e
diperiksa kura (Scabies) S Pencer ngan Mulut T M Pengli lain t
ng P naan (Caries) M S hatan
A /

I
S
R

102
Lampiran 8

LAPORAN BULANAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK


JALANAN/TERLANTAR DI PUSKESMAS

PUSKESMAS : Kab/Kota: Provinsi :


Bulan : Tahun :

LKSA Jumlah Jumlah Pelayanan Keehatan Keterangan


yang Skrining Pemeriksaan Imunisasi PMT Tablet Vitamin Konseling KIE Rujukan
dibina Kesehatan Berkala Tambah
Darah
Kantong
Anak
Jalanan
Rumah
Singgah
Panti/LKSA

103
Jeger,
Leader
Peksos,
Pendamping
Pimpinan
Panti/LKSA,
Orang tua

104
Lampiran 9

INSTRUMEN PEMANTAUAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI PANTI


(LKSA)

Tgl Pelaksanaan :
Nama Puskesmas :
Jumlah Panti Yang Dibina oleh Puskesmas :

1. Jumlah dan Jenis Pemberi Layanan di Panti Ada/Tidak Terlatih/Belum Keterangan


(LKSA) ada Terlatih
a. Penanggung jawab kegiatan
b. Pengelola program terlatih
c. Dokter Umum
d. Perawat/Bidan
e. Dan lain-lain (spesialis, psikolog,)
1). .............................

105
2)................................
3)................................
4)................................
2. Ketersediaan sarana pendukung Ketersediaan Kecukupan
a. SOP
b. Buku Pedoman
c. Peralatan Kesehatan
d. Media KIE (brosur, leaflet, alat peraga)
e. Lain-lain (sebutkan)

3. Kegiatan yang dilaksanakan Pelaksanaan Kendala


a. Skrining Kesehatan bagi warga
binaan/anak asuh baru
b. Pemeriksaan Berkala
c. Pemberian Imunisasi
d. Penyuluhan
e. Pembinaan Konselor Sebaya
4. Data 10 penyakit terbanyak di Panti :
a). ...............................................

106
b)..................................................
c)..................................................
d)..................................................
e).................................................
f)..................................................
g)..................................................
h).................................................
i)...................................................
j)...................................................

5. Kerjasama Lintas Sektor Kecamatan Ada/Tidak Kendala


(KDSK, TKSK, PSM, Satpol PP, Karang Taruna)
a. Forum Komunikasi/Koordinasi Lintas
Sektor (bukti fisik: notulen, surat
tindak lanjut)
b. Jejaring Kemitraan (MoU)
6. Dukungan Kebijakan: Ketersediaan
a. SK Tim
b. Surat Edaran

107
7. Dukungan Dana Ketersediaan Persentase
a. APBN
b. APBD
c. Bantuan Sosial
d. CSR
8. Lain – lain

108
DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Penggolongan Dan Diagnosis Gangguan Jiwa


Di Indonesia III, Jakarta, 1995.

Laurike Moeliono, Adi Dananto, Pendampingan Anak


Jalanan Menurut Para Pendamping Anak Jalanan,
Save The Children, Jakarta, 2004

Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Buku


Pedoman Pendampingan Psikologis Anak Jalanan,
Jakarta, 2007.

Direktorat Bina Kesehatan Anak, Pedoman Pelayanan


Kesehatan Anak Di Panti, Jakarta, 2011.

Sumber Gambar :
https://pxhere.com

109
110