Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TENTANG PUSAT PERTUMBUHAN

Guru Pembimbing : Fitria Ardilla, S.Pd

ANGGOTA KELOMPOK :
HERMANSYAH
HARYADI
FATHULLAH
M.FIKRIYANUR

KELAS : XII A

MA AL ISTIQAMAH BANJARMASIN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang


Setiap wilayah mempunyai potensi untuk dapat tumbuh dan berkembang. Perkembangan
suatu wilayah menjadi pusat pertumbuhan terjadi karena beberapa faktor. Pusat-pusat
pertumbuhan yang muncul telah melahirkan teori pusat pertumbuhan wilayah. Selain itu, pusat
pertumbuhan yang dibangun di Indonesia, seperti kawasan pengembangan ekonomi terpadu
(KAPET) misalnya, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya.
Perkembangan wilayah diawali dengan munculnya pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan
merupakan suatu wilayah yang berkembang secara pesat khususnya kegiatan ekonomi sehingga
menjadi pusat pembangunan daerah. Pusat pertumbuhan akan mendorong perkembangan
wilayah sekitarnya. Pusat pertumbuhan yang muncul di suatu wilayah dipengaruhi oleh
karakteristik wilayahnya. Perkembangan pusat pertumbuhan di suatu wilayah ditentukan oleh
faktor-faktor sebagai berikut.
a. Sumber daya Alam
Daerah yang mempunyai kekayaan sumber daya alam berpotensi menjadi pusat
pertumbuhan. Sebagai contoh, penambangan bahan tambang yang bernilai ekonomi tinggi di
suatu wilayah merangsang kegiatan ekonomi, memberikan kesempatan kerja, dan
meningkatkan pendapatan daerah serta berpengaruh terhadap munculnya kegiatan ekonomi
penunjang.
b. Sumber daya Manusia
Sumber daya manusia sangat berperan dalam pembentukan pusat pertumbuhan di suatu
wilayah. Tenaga kerja yang ahli, terampil, andal, kapabel, dan professional dibutuhkan
untuk mengelola sumber daya alam. Pusat pertumbuhan akan berkembang dan
pembangunan berjalan lancar apabila tersedia sumber daya manusia yang andal.
c. Kondisi Fisiografi/Lokasi
Kondisi fisiografi/lokasi memengaruhi perkembangan pusat pertumbuhan. Lokasi yang
strategis memudahkan transportasi dan angkutan barang, sehingga pusat pertumbuhan
berkembang cepat. Sebagai contoh, daerah dataran rendah yang berelief rata memungkinkan
pusat pertumbuhan berkembang lebih cepat dibanding daerah pedalaman yang berelief kasar
atau berpegunungan.
d. Fasilitas Penunjang
Pusat pertumbuhan akan lebih berkembang apabila didukung oleh fasilitas penunjang yang
memadai. Beberapa fasilitas penunjang antara lain jalan, jaringan listrik, jaringan telepon,
pelabuhan laut dan udara, fasilitas air bersih, penyediaan bahan bakar, serta prasarana
kebersihan.

1.1 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Pusat pertumbuhan ?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi pusat pertumbuhan wilayah ?
3. Bagaimana teori pusat pertumbuhan ?
4. Dimana saja pusat pertumbuhan di indonesia ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pusat Pertumbuhan


Pusat pertumbuhan (growth pole) dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional
dan secara geografis. Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi
kelompok usaha atau cabang industri yang karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur
kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik ke dalam maupun ke luar
(daerah belakangnya). Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak
memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang
menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi di situ dan masyarakat senang
datang memanfaatkan fasilitas yang ada di kota tersebut, walaupun kemungkinan tidak ada pola
interaksi antara usaha-usaha tersebut.
Suatu kota dikatakan sebagai pusat pertumbuhan harus bercirikan:
(1) adanya hubungan intern antara berbagai macam kegiatan yang memiliki nilai ekonomi
(2) adanya unsur pengganda (multiplier effect),
(3) adanya konsentrasi geografis,
(4) bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya (Tarigan, 2004).

Ciri ciri pusat pertumbuhan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Adanya hubungan intern dari berbagai macam kegiatan hubungan internal sangat
menentukan dinamika sebuah kota. Ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor
lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan
sektor lainnya, karena saling terkait. Dengan demikian kehidupan kota menciptakan
sinergi untuk saling mendukung terciptanya pertumbuhan.
2. Adanya unsur pengganda (multiplier effect) keberadaan sektor-sektor yang saling terkait
dan saling mendukung akan menciptakan efek pengganda. Maknanya bila ada permintaan
satu sektor dari luar wilayah, peningkatan produksi sektor tersebut akan berpengaruh
pada peningkatan sektor lain. Peningkatan ini akan terjadi beberapa kali putaran
pertumbuhan sehingga total kenaikan produksi dapat beberapa kali lipat dibandingkan
dengan kenaikan permintaan di luar untuk sektor tersebut. Unsur efek pengganda
memiliki peran yang signifikan terhadap pertumbuhan kota belakangnya. Hal ini terjadi
karena peningkatan berbagai sektor di kota pusat pertumbuhan akan membutuhkan
berbagai pasokan baik tenaga kerja maupun bahan baku dari kota belakangnya.
3. Adanya konsentrasi geografis konsentrasi geografis dari berbagai sektor atau fasilitas,
selain bisa menciptakan efisiensi di antara sektor-sektor yang saling membutuhkan, juga
meningkatkan daya tarik (attraciveness) dari kota tersebut. Orang yang datang ke kota
tersebut bisa mendapatkan berbagai kebutuhan pada lokasi yang berdekatan. Jadi
kebutuhan dapat diperoleh dengan lebih hemat waktu, biaya, dan tenaga. Hal ini
membuat kota tersebut menarik untuk dikunjungi dan karena volume transaksi yang
makin meningkat akan menciptakan economic of scale sehingga tercipta efisiensi lebih
lanjut.
4. Bersifat mendorong pertumbuhan daerah belakangnya sepanjang terdapat hubungan yang
harmonis di antara kota sebagai pusat pertumbuhan dengan kota belakangnya maka
pertumbuhan kota pusat akan mendorong pertumbuhan kota belakangnya. Kota
membutuhkan bahan baku dari wilayah belakangnya dan menyediakan berbagai fasilitas
atau kebutuhan wilayah belakangnya untuk dapat mengembangkan diri.

Pusat-pusat yang pada umumnya merupakan kota–kota besar tidak hanya berkembang sangat
pesat, akan tetapi mereka bertindak sebagai pompa-pompa pengisap dan memiliki daya penarik
yang kuat bagi wilayah-wilayah belakangnya yang relatif statis. Wilayah-wilayah pinggiran di
sekitar pusat secara berangsur angsur berkembang menjadi masyarakat dinamis. Terdapat arus
penduduk, modal, dan sumberdaya ke luar wilayah belakang yang dimanfaatkan untuk
menunjang perkembangan pusat-pusat dimana pertumbuhan ekonominya sangat cepat dan
bersifat kumulatif. Sebagai akibatnya, perbedaan pendapatan antara pusat dan wilayah pinggiran
cenderung lebih besar (Rahardjo Adisasmito, 2005).

2.2 Faktor yang mempengaruhi Pusat Pertumbuhan wilayah.


Setiap wilayah mempunyai potensi untuk dapat tumbuh dan berkembang. Perkembangan
suatu wilayah menjadi pusat pertumbuhan terjadi karena beberapa faktor. Pusat-pusat
pertumbuhan yang muncul telah melahirkan teori pusat pertumbuhan wilayah. Selain itu, pusat
pertumbuhan yang dibangun di Indonesia, seperti kawasan pengembangan ekonomi terpadu
(KAPET) misalnya, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya.
Perkembangan wilayah diawali dengan munculnya pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan
merupakan suatu wilayah yang berkembang secara pesat khususnya kegiatan ekonomi sehingga
menjadi pusat pembangunan daerah. Pusat pertumbuhan akan mendorong perkembangan
wilayah sekitarnya. Pusat pertumbuhan yang muncul di suatu wilayah dipengaruhi oleh
karakteristik wilayahnya. Perkembangan pusat pertumbuhan di suatu wilayah ditentukan oleh
faktor-faktor sebagai berikut.

A. Sumberdaya Alam
Daerah yang mempunyai kekayaan sumber daya alam berpotensi menjadi pusat
pertumbuhan. Sebagai contoh, penambangan bahan tambang yang bernilai ekonomi
tinggi di suatu wilayah merangsang kegiatan ekonomi, memberikan kesempatan kerja,
dan meningkatkan pendapatan daerah serta berpengaruh terhadap munculnya kegiatan
ekonomi penunjang.
B. Sumberdaya Manusia
Sumber daya manusia sangat berperan dalam pembentukan pusat pertumbuhan di suatu
wilayah. Tenaga kerja yang ahli, terampil, andal, kapabel, dan professional dibutuhkan
untuk mengelola sumber daya alam. Pusat pertumbuhan akan berkembang dan
pembangunan berjalan lancar apabila tersedia sumber daya manusia yang andal.
C. Kondisi Fisiografi/Lokasi
Kondisi fisiografi/lokasi memengaruhi perkembangan pusat pertumbuhan. Lokasi yang
strategis memudahkan transportasi dan angkutan barang, sehingga pusat pertumbuhan
berkembang cepat. Sebagai contoh, daerah dataran rendah yang berelief rata
memungkinkan pusat pertumbuhan berkembang lebih cepat dibanding daerah pedalaman
yang berelief kasar atau berpegunungan.
D. Fasilitas Penunjang
Pusat pertumbuhan akan lebih berkembang apabila didukung oleh fasilitas penunjang
yang memadai. Beberapa fasilitas penunjang antara lain jalan, jaringan listrik, jaringan
telepon, pelabuhan laut dan udara, fasilitas air bersih, penyediaan bahan bakar, serta
prasarana kebersihan.
2.3 Teori Pusat Pertumbuhan

Teori kedudukan pusat dikemukakan oleh Walter Christaller, seorang ahli geografi
kebangsaan Jerman pada tahun 1933. Teori yang dikenal sebagai central place theory tersebut
disusun oleh Christaller untuk menjawab tiga permasalahan utama, yaitu faktor-faktor yang
menentukan banyaknya. besarnya, dan persebaran kota.
Guna menjawab pertanyaan tersebut Christaller mengemukakan beberapa konsep, dua di
antaranya yang paling penting adalah tentang range angkauan) dan threshold (ambang).
Christaller membayangkan sebuah wilayah (region) sebagai dataran yang homogen secara
geografis dengan persebaran penduduk yang merata. Sementara itu, penduduk memerlukan
berbagai barang dan jasa, antara lain makanan, misnuman, pakaian, sekolah, dokter, dan
pengacara.
Segala barang dan jasa yang diperlukan penducluk tadi memiliki dua hal yang khas, sesuai
dengan konsep Christaller. Pertama, yang disebut range adalah jarak yang perlu ditempuh untuk
mendapatkan barang kebutuhannya hanya kadang-kadang saja. Kedua, yang disebut threshold
adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan kesinambungan suplai
barang.
Sebagai contoh, dapat kita bandingkafl sebuah warung yang menjual makanan dan minuman
dengan toko emas. Warung makanan dan minuman tidak memerlukan jumlah penduduk yang
banyak agar dagangannya laku. Namun, toko emas membutuhkan jumlah penduduk yang banyak
agar dagangannya laku. Berdasarkan contoh tersebut juga dapat diketahui bahwa penduduk akan
membeli barang sesuai dengan kebutuhannya.
Barang dan jasa yang threshold dan rangenya besar disebut barang dan jasa tingkat tinggi (high
order goods and services). Namun, sebaliknya barang dan jasa yang threshold dan rangenya kecil
disebut barang dan jasa tingkat rendah (low order goods and services). Oleh karena itu,
seharusnya barang dan jasa tingkat tinggi terdapat di kota-kota besar yang banyak penduduknya.
Guna menggambarkan wilayah-wilaYah yang saling berhubungan, Christaller menggunakan
bentuk segi enam (heksagon). Lingkaran-lingkaran setiap heksagon yang mencerminkan
wilayah-wilayah pasar yang saling bertumpuk oleh Christaller dibelah (dipisah) dengan
menggunakafl garis lurus. Hal itu menggambarkan bahwa Christaller beranggapan bahwa garis
lurus merupakan jarak terdekat dan permukiman menuju pusat pertumbuhan. Sehubungan
dengan itu, Christaller bermaksud agar orang yang akan berbelanja dapat memilih tempat (kota)
yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggalnya.
Di dalam tulisannya tentang tempat-tempat pusat pertumbuhan di Jerman, Christaller
memaparkan teorinya tentang persebaran dan besarnya permukiman. Tujuan kajiannya adalah
untuk menyusun hukum tentang persebaran dan besarnya permukiman berdasarkan fungsi
pelayanannya. Karena para konsumen yang menanggung ongkos angkutan sehingga jarak ke
tempat pusat yang dinyatakan dalam biaya dan waktu dianggap sangat penting. Karena
konsumen yang menanggung ongkos angkutan sehingga jangkauan (range) suatu barang
ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu. Semua konsumen dalam usaha
mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan adalah menuju ke tempat pusat yang lokasinya
paling dekat. Kota-kota berfungsi sebagai central place bagi wilayah di sekitarnya. Artinya, ada
hubungan besarnya tempat pusat dengan luasnya wilayah pasaran dan banyaknya penduduk
denngan tingginya pendapatan di wilayah yang bersangkutan.Wilayah tersebut dianggap sebagai
dataran yang penduduknya tersebar merata dengan ciri-ciri ekonomi yang sama, khususnya
pendapatan.
Teori Christaller banyak mendapat kritikan dan menilai pola yang dikemukakannya tidak
realistis karena bagaimanapun tidak ada wilayah yang homogen. Selain itu, tidak ada pasar yang
berbentuk heksagon karena kondisi geografi fisiknya.
a. Teori Kutub Pertumbuhan
Teori kutub pertumbuhan (growth poles) dikemukakan oleh Perroux pada tahun 1955.
Dasar teori kutub pertumbuhan adalah pengamatan terhadap proses pembangunan.
Menurut Perroux bahwa pembangunan yang terjadi di manapun tidak terjadi secara
serentak, tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan intensitas yang berbeda.
Tempat-tempat itulah yang selanjutnya dinamakan titik-titik pertumbuhan atau kutub-
kutub pertumbuhan. Dimulai dan kutub-kutub pertumbuhan itulah pembangunan akan
menyebar melalui berbagai saluran dan berdampak pada perkembangan
perekonomiannya. Prinsip dan teori kutub adalah terjadinya pertumbuhan dan
perkembangan wilayah dimulai dan sebuah kota tertentu menuju daerah yang
tingkatannya lebih rendah. Proses yang berlangsung di dalam teori kutub pertumbuhan
adalah penjalaran dan penetesan (spend and tickling down) serta penarikan dan
pemusatan (back wash and polarization).
Menurut Dusseidrop terbentuknya wilayah-wilayah dalam kutub pertumbuhan didasarkan pada
faktor-faktor sebagai berikut.
 Prinsip homogenitas, yaitu adanya persamaan kriteria dalam pewilayahan.
 Adanya hubungan dalam ruang (spasial) wilayah pertumbuhan, misalnya interrelasi.
 Terbentuknya wilayah-wilayah yang lebih khusus dan berbeda dengan wilayah lainnya

2.4 Pusat Pusat Pertumbuhan di Indonesia


Di dalam buku Geografi Baru: Organisasi Keruangan Dalam Teori dan Praktek, dijelaskan
bahwa ahli ekonomi Han Redmana menghubungkan teori central place dan Christaller dengan
teori growth pole dan Perroux untuk membahas perencanaan pembangunan di Indonesia.
Menurut Redmana pembangunan di Indonesia dilaksanakan melalui pendekatan regional.
Guna menerapkan teori kutub pertumbuhan terlebih dahulu harus diketahui antara lain hierarkhi
tempat-tempat pusat, keterjangkauan suatu tempat, tersedianya sumber daya, serta perilaku dan
sikap penduduk lokal.
Penerapan teori pertumbuhan di Indonesia dapat diketahui dan perencanaan pembangunan
yang selama ini dilakukan di Indonesia. Pembentukan pusat-pusat pembangunan atau pusat-pusat
pengembangan tersebut didasarkan atas teori kutub pertumbuhan.

a. Wilayah Pembangunan
Berdasarkan potensi geografis wilayah Indonesia, dalam pelaksanaan pembangunan
dibagi atas wilayah-wilayah pembangunan. Secara tegas pewilayah tersebut mulai
dilakukan sejak tahun 1974 hingga 1979 (Repelita II). Saat itu wilayah Indonesia dibagi
menjadi empat wilayah pembangunan utama yang mencakup sepuluh wilayah
pembangunan ekonomi, yaitu sebagai berikut.

 Wilayah Pembangunan Utama A dengan pusat utama di Medan, dibagi lagi


menjadi dua wilayah.
 Wilayah Pembangunan I, meliputi Aceh dan Sumatra Utara, pusatnya di Medan
 Wilayah Pembangunan II, meliputi Sumatra Barat dan Riau, pusatnya di Pakan Baru
 Wilayah Pembangunan Utama B, dengan pusat utama Jakarta Raya, dibagi lagi
menjadi tiga wilayah.
 Wilayah Pembangunan III, meliputi Jambi, Sumatra Selatan, dan Bengkulu, pusatnya
di Palembang
 Wilayah Pembangunan 1V, meliputi Lampung, Jakarta Raya, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan DIY, pusatnya di Jakarta Raya.
 Wilayah Pembangunan VI, meliputi Kalimantan Barat, pusatnya di Pontianak.
 Wilayah Pembangunan Utama C dengan pusat utama Surabaya, dibagi lagi
menjadi dua wilayah.
 Wilayah Pembangunan V. meliputi Jawa Timur dan Bali, pusatnya di Surabaya.
 Wilayah Pembangunan VII, meliputi Kalirnantan Tengah, Kalimantan Timur, dan
Kalimantan Selatan, pusatnya di Balik papan.
 Wilayah Pembangunan Utama D, dengan pusat utama Ujung Pandang, dibagi
lagi menjadi tiga wilayah.
 Wilayah Pembangunan VIII, meliputi NTB, NTF, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, dan Timor Timur, pusatnya di Ujung Pandang.
 Wilayah Pembangunan IX, meliputi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, pusatnya di
Manado.
 Wilayah Pembangunan X, meliputi Maluku dan Irian Jaya, pusatnya di Sorong.

Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan dunia politik di Indonesia,


perwilayahan tersebut tentu mengalami perubahan. Terlebih lagi pada saat ini, banyaknya
pemekaran wilayah tentu saja berpengaruh terhadap pola pembangunan yang berlangsung. Selain
itu, telah ada pula undang-undang tentang otonomi daerah yang memberikan keleluasaan bagi
setiap daerah untuk mengembangkan potensinya masing-masing.

b. Kawasan Pembangunan Ekonomi


Ketidakseimbangan pembangunan di Indonesia, khususnya antara kawasan barat dan
kawasan timur mendorong pemerintah untuk membuat pusat-pusat pembangunan dan
pengembangan ekonomi. Di dalam rangka pemerataann pembangunan dan hasil-hasilnya
tersebut pada tahun 2000 dibentuk kawasan andalan sebagai pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi Sehubungan dengan itu dalam rangka mengembangkan pusat-pusat
pertumbuhan yang dimaksud dibentuklah Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
(KAPET). KAPET dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 150 tahun 2000.
Salah satu contoh KAPET adalah KAPET Sasamba yang terdiri dan Kawasan Kota
Samarinda-Sangasanga-Muarajawa-Kota Balikpapan. Luas wilayah KAPET Sasamba
adalah 4.413 km2 atau sekitar 2,05% dan wilayah Provinsi Kalimantan Timur. KAPET
Sasamba termasuk dalam wilayah kerja sama regional negara-negara ASEAN yang
tergabung dalam Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipina East ASEAN Growth
Area (BIMP-EAGA). Lokasi KAPET Sasamba yang berbatasan dengan negara-negara
tersebut membuat posisinya menjadi lebih strategis untuk berbagai kerja sama.
c. Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri
Jumlah industri nasional yang sebagian besar (lebih dan 60%) terkonsentrasi di Pulau
Jawa, selain mengakibatkan tidak meratanya aktivitas ekonomi daerah juga
mengakibatkan semakin menurunnya daya dukung lingkungan Pulau Jawa, khususnya
terjadinya pergeseran tata guna lahan. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut
prioritas pembangunan industri diarahkan ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang
disertai dengan penataan ruang.

Pembangunan Industri dalam rangka menjalin kerja sama ekonomi lintas daerah sehingga
dapat dicapai efisiensi produksi, maka ditetapkan adanva Wilayah Pusat Pertumbuhan
Industri (WPPI). Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri adalah wilayah yang
dikembangkan bertitik tolak dan pembangunan industri hulu/industri dasar sebagai
penggerak yang dapat memacu tumbuh dan berkembangnya kegiatan sosial ekonomi lain
untuk mewujudkan kesatuan ekonomi nasional.
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Pusat pertumbuhan diharapkan mampu menciptakan efek pengganda (multiplier effect),


yaitu keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan menciptakan efek
pengganda. Apabila ada satu sektor yang karena permintaan dari luar wilayah, produksinya
meningkat; karena ada keterkaitan membuat banyak sektor lain juga akan meningkat
produksinya dan akan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan sehingga total kenaikan
produksi bisa beberapa kali lipat dibanding dengan kenaikan permintaan dari luar untuk sektor
tersebut (sektor yang pertama meningkat permintaannya). Unsur efek pengganda ini sangat
berperan dalam membuat kota itu mampu memacu pertumbuhan wilayah belakangnya. Karena
kegiatan berbagai sektor di kota meningkat tajam, maka kebutuhan kota akan bahan baku/tenaga
kerja yang dipasok dari wilayah belakangnya akan meningkat tajam pula.
sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di luar
Jawa, antara lain rendahnya daya tarik investasi dan partisipasi swasta; koordinasi kelembagaan
yang lemah; keterbatasan informasi keuangan dan pasar; pemanfaatan sumber daya alam sebagai
input bahan baku industri yang kurang optimal; rendahnya kompetensi yang sesuai dari tenaga
kerja lokal; konektivitas intra dan antar pusat pertumbuhan yang tidak memadai.

3.2 Saran

Dengan adanya pelajaran geografi seharusnya masyarakat dapat mengetahui lebih banyak
lagi tentang alam, tetapi kenyataaannya masih banyak masyarakat yang belum bias
memanfaatkan alam yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Dengan mempelajari ilmu
geografi, diharapkan agar masyarakat tidak lagi berfikiran kuno tentang penyebab kejadian-
kejadian alam.
Dengan belajar geografi yang salah satu konsep dasarnya adalah globalisasi seharusnya kita
sebagai generasi muda tidak terseret kedalam dampak negatif dari globalisasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

https://harisrosi.blogspot.com/2017/07/makalah-pewilayahan-berdasarkan_8.html

https://dosengeografi.com/pusat-pertumbuhan-wilayah/

https://www.ruangguru.co.id/pengertian-dan-teori-pusat-pertumbuhan-menurut-para-ahli/

https://kinandika.wordpress.com/2012/09/17/summary-teori-dan-konsep-pusat-pertumbuhan/