Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

Gangguan Identitas Gender

Disusun oleh :
Yulita Hera

11.2018.058

Pembimbing :
dr. Evalina Asnawi, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KESEHATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 04 MARET – 06 APRIL 2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Jenis kelamin merupakan hal yang sangat penting bagi individu sebagai sebuah “identitas”,
pada masyarakat umum, jenis kelamin yang diakui secara resmi adalah laki-laki dan
perempuan. Jenis kelamin individu ditentukan oleh fenotip, genotip (termasuk seks gonad
ditentukan oleh organ seks internal dan eksternal), status endokrin dan metabolik, jiwa, dan
sertifikat kelahiran penunjukan seks (jenis kelamin sosial).1
Di antara “tipe” seks tersebut, seks psikologis individu yang menentukan identitas jenis
kelaminnya. Gangguan identitas jenis kelamin atau gender identification disorders (GID)
adalah suatu kondisi yang memiliki karakteristik berupa perasaan tidak nyaman atau rasa
ketidaksesuaian yang menetap terhadap anatomi seksual yang dimilikinya. Menurut
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) gangguan identitas
jenis kelamin adalah suatu gangguan dengan ciri berupa preferensi seseorang yang kuat untuk
hidup sebagai individu yang memiliki jenis kelamin berlawanan dari anatomi seksnya.1,2
Gangguan identitas jenis kelamin (GID) sering disebut sebagai transeksualisme, dapat juga
didefinisikan sebagai perbedaan antara jenis kelamin psikologis dan seks morfologi, biologi,
dan sosial, yang sering dianggap sebagai “non-self” dan milik lawan jenis. GID merupakan
salah satu diagnosis yang paling kontroversial pada DSM-IV dan termasuk kompleks
dipandang dari segi sosial dan etik. Para ahli menyatakan sedikit sekali anak-anak yang
memenuhi kriteria diagnosis GID. 1,2

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. EPIDEMIOLOGI

Mayoritas anak dengan gangguan identitas jenis kelamin dibawa untuk diperiksa pada
masa awal sekolah. Berdasarkan data demografi, prevalensi gangguan identitas jenis kelamin
lebih tinggi pada laki-laki, namun tidak ditemukan data penelitian yang akurat mengenai hal
ini. Prevalensi gangguan ini lebih akurat pada dewasa. Di Eropa, prevalensi pada laki-laki
sekitar 1: 30.000 dan perempuan 1: 100.000. Salah satu pendekatan untuk mengetahui
prevalensi gangguan ini adalah dengan menggunakan kuesioner, didapatkan kecenderungan
anak untuk bertingkah laku sebagai jenis kelamin berbeda lebih besar daripada yang
menginginkan jenis kelamin yang berlawanan. 1,2

2. PENGERTIAN IDENTITAS GENDER DAN GANGGUAN IDENTITAS GENDER

1. Identitas Gender :

Identitas gender adalah keadaan psikologis yang merefleksikan perasaan dalam diri
seseorang berkaitan dengan keberadaaan diri sebagai laki-laki atau perempuan.2

2. Gangguan Identitas Gender:

Gangguan identitas gender adalah keinginan untuk memiliki jenis kelamin yang
berlawanan dengan kenyataan (wanita ingin menjadi pria, pria ingin menjadi wanita); atau
keyakinan bahwa seseorang telah masuk ke dalam sebuah tubuh dengan jenis kelamin yang
salah.2

Istilah identitas gender merujuk pada bagaimana persepsi individu akan dirinya sebagai
seorang pria atau wanita. Peran gender pada saat ini merujuk pada perilaku atau sikap
seseorang yang mengindikasikan makulinitas atau feminitas dalam lingkungan sosial. Dari
peran gender inilah timbul yang disebut sebagai orientasi gender, yang mana menunjukkan
sejauh mana seseorang secara erotis menjadi tertarik terhadap anggota dari jenis kelamin yang
sama ataupun yang berlawanan dengan dirinya.1 Sebagian besar orang memiliki orientasi yang
jelas untuk memiliki aktivitas seksual dengan anggota dari jenis kelamin lain, namun beberapa

3
orang tertarik dengan terhadap anggota dari jenis kelamin yang sama dengan dirinya, dan ada
yang tertarik pada kedua jenis kelamin sekaligus. Orientasi seksual ini memiliki konsistensi
yaitu tipikal namun tidak universal, beberapa orang dapat berubah seiring berjalannya waktu
atau sebagai akibat dari dari tekanan lingkungan.1,3

3. ETIOLOGI

Tidak ada keterangan jelas mengenai penyebab, mungkin ada kelainan biologis yang kuat
pada gangguan tersebut. Penentuan jenis kelamin pada manusia ditentukan oleh kromosom.
Pada laki-laki terdapat kromosom Y dan X, sedangkan wanita memiliki dua kromosom X.
Kromosom Y mengandung gen yang disebut sebagai faktor determinasi testis. Gen tersebut
yang menyebabkan sel pada embrio berdiferensiasi dan berkembang menjadi alat kelamin laki-
laki. Embrio yang tidak memiliki gen tersebut maka akan berkembang menjadi jenis kelamin
perempuan.1,4 Pada bulan ketiga kehamilan, akan dilepaskan suatu hormone yang akan
mempercepat diferensiasi alat kelamin, hormon tersebut juga akan meningkat antara minggu
ke-2 hingga ke-12 setelah kelahiran. Hormon tersebut diproduksi supaya terjadi maskulinisasi
pada perkembangan janin. Jika hormon androgen tidak cukup diproduksi atau terlambat atau
terlalu dini, proses maskulinisasi akan terganggu. Gangguan hormonal dapat berasal dari
berbagai sumber, seperti sistem endokrin ibu, stres pada masa kehamilan, atau zat kimia (obat,
dll) yang dikonsumsi pada masa kehamilan. Studi post mortem pada transeksual (laki laki dan
wanita) dan non-transeksual (laki-laki dan wanita) menunjukkan perbedaan signifikan proporsi
volume hipotalamus yang erat kaitannya dengan perilaku seksual. Penelitian awal
menunjukkan bahwa persepsi seseorang mengenai jenis kelamin pada dasarnya ditentukan
oleh otak dan dapat dipengaruhi secara kimiawi. Selain faktor biologis, kondisi lingkungan
juga memiliki peranan penting pada gangguan identitas jenis kelamin.1,4,5

Menurut para ahli, penyebab dari gangguan identitas gender ini tidak di ketahui secara
pasti, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan, diantaranya adalah :

3.1. Faktor Biologis

Gangguan Identitas Gender terlepas dari berbagai isu, bahwa secara meragukan pola
tersebut dapat disebabkan oleh gangguan fisik. Secara spesifik, bukti menunjukkan bahwa
identitas gender dipengaruhi oleh hormon dalam tubuh. Tubuh manusia menghasilkan
hormon testosterone yang mempengaruhi neuron otak, dan berkontribusi terhadap

4
maskulinisasi otak yang terjadi pada area seperti: hipotalamus, dan sebaliknya dengan
hormone feminism.5

3.2. Faktor Sosial dan Psikologis

Menurut pendekatan Psikososial, terbentuknya Gangguan Identitas Gender


dipengaruhi oleh interaksi temperamen anak, kualitas dan sikap dari orang tua. Secara
budaya, masih terdapat larangan bagi anak laki-laki untuk menunjukkan perilaku
feminisme dan anak wanita menjadi tomboy, termasuk akan pembedaan terhadap pakaian
dan mainan untuk anak laki-laki dan wanita.6 Hipotesis lain adalah bahwa perilaku
feminism yang stereotip pada anak laki-laki di dorong oleh ibu yang sejak sebulan
kelahiran anak sangat menginginkan anak perempuan.

3.3. Dinamika Gangguan Identitas Gender

Pengalaman homoseksual ketika penderita pernah dijadikan objek seksual oleh orang
dewasa sesama jenis. Pola asuh keluarga yang sangat menginginkan anak perempuan
sehingga mendandani anak laki-lakinya seperti mendandani anak perempuan, pada masa
anak-anak tahap perkembangan psikoseksual.7

Perlu dicatat adalah sejak bayi dilahirkan, orang tua sebagai lingkungan terdekat sudah
membuat perbedaan perlakuan terhadap bayi laki-laki dan bayi perempuan. Ayah akan
bermain relatif lebih kasar terhadap bayi laki-laki dibandingkan terhadap bayi perempuan,
sementara ibu akan memberikan perlakuan yang lebih hangat dan penuh kasih sayang
terhadap bayi perempuan. Akan tetapi, terkadang orang tua menginginkan anak yang
berbeda dari yang telah dilahirkannya, memperlakukan anak tersebut sesuai dengan yang
diinginkan oleh orang tuanya. Sehingga, hal tersebut dapat menyebabkan pembentukan
identitas yang berlawanan dengan gender anak tersebut.4,8

Identifikasi yang dekat dengan orang tua jenis kelamin yang berbeda, anak laki-laki
terhadap ibunya. Pada masa kanak-kanak awal, khususnya pada tahap perkembangan
psikoseksual (Selama dua tahap terakhir), dalam tahap ini anak memulai relasi khusus
dengan orang tua lawan jenisnya. Anak akan menggunakan relasi ini sebagai landasan
kesehatan relasi dengan lawan jenisnya di kemudian hari. Oedipus Complex pada anak
laki-laki dan Electra Complex pada anak perempuan merupakan drama relasi segitiga

5
antara anak dengan pasangan sejenis dan berlawanan jenis, fase inilah yang menentukan
identitas seksual anak dikemudian hari.5,8

Dalam hal ini, anak harus menerima kenyataan akan ketidakmampuan untuk memiliki
orang tua yang berlawanan jenis, baik secara emosional maupun seksual. Relasi cinta
terhadap jenis kelamin ini harus direlakan demi kemungkinan kepuasan relasi cinta dengan
orang lain di kemudian hari. Hanya dengan sikap menyerah dalam pertarungan keluarga
untuk merebut posisi orang tua dari jenis kelamin lain, anak akan mampu melalui
perkembangan identitas seksual yang sehat dan proporsional. Apabila pada saat tersebut
lingkungan keluarga tidak bersifat hangat dalam pertarungan segitiga ini, maka anak akan
berpeluang untuk mengambil alih ciri hakekat identitas gender dari orang tua yang
berlawanan jenis.

Maksudnya ialah, anak laki-laki akan mengambil alih ciri kewanitaan dari ibunya,
sedangkan anak perempuan akan mengambil ciri hakekat kelaki-lakian dari ayahnya. Efek
yang muncul kemudian adalah anak laki-laki akan mengembangkan kepribadian homo,
sedangkan anak perempuan akan mengembangkan kepribadian lesbian.2

Hubungan antara perkembangan identitas seksual secara kompleks yang melanda anak
laki-laki dan perempuan itu, dengan istilah proses identifikasi, yaitu proses perkembangan
identitas seksual sejalan dengan kenyataan seksual biologis anak. Hal ini berarti bahwa
anak laki-laki mengambil alih dan menginternalisasikan hakekat kelaki-lakian dari pihak
ayah, sedang anak perempuan mengambil alih dan menginternalisasikan hakekat
kewanitaan dari ibunya.2 Namun, kehangatan relasi yang dibina dalam keluarga baik oleh
figure ayah maupun ibu akan membuka peluang perkembangan kemampuan anak dalam
menjalin relasi yang hangat dan sehat pula dengan jenis kelamin lain di kemudian hari.

Sedangkan menurut teori psikoanalisa, tentang perkembangan kepribadian individu


yang dimulai dengan tahapan perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari
lahir hingga dewasa. Menurut Psikoanalisa, periode perkembangan ini merupakan
landasan bagi perkembangan kepribadian selanjutnya. Berikut adalah tahapan yang di
uraikan oleh psikoanalisa :

a. Fase oral

6
Dari lahir hingga akhir usia satu tahun, seorang bayi menjalani fase oral. Menghisap buah
dada ibu memuaskan kebutuhannya akan makanan dan akan kesenangan. Karena pada
masa ini, mulut dan bibir merupakan zona-zona erogen yang peka selama fase oral ini, bayi
merasakan kenikmatan erotic dari tindakan menghisap ini. Kerakusan dan keserakahan
bayi berkembang sebagai akibat kurang memperoleh makanan dan cinta pada tahun-tahun
awal kehidupan. Benda-benda yang dicari anak dapat menjadi substitute bagi apa yang
sesungguhnya di inginkannya, yaikni makanan dan cinta dari ibunya. Masalah-masalah
kepribadian yang muncul kemudian yang bersumber dari fase oral adalah pengembangan
pandangan tehadap dunia yang didasari ketidakpercayaan, ketakutan untuk menjangkau
orang lain, penolakan terhadap afeksi, ketakutan untuk mencintai dan mempercayai, rasa
harga diri yang rendah, isolasi dan penarikan diri, dan ketidakmampuan membangun atau
memelihara hubungan akrab.1,5
Tugas perkembangan utama pada fase oral adalah memperoleh rasa percaya yakni prcaya
kepada ornag lain, kepada dunia, dan kepada diri sendiri. Cinta adalah perlindungan terbaik
terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yang dicintai oleh orang lain hanya
kan mendapat sedikit kesulitan dalam menerima dirinya sendiri.5 Sedangkan anak yang
merasa tidak di inginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai, cenderung mengalami kesulitan
yang besar dalam menerima diri sendiri. Efek penolakan pada fase oral ini adalah
kecenderungan di masa anak-anak selanjutnya untuk menjadi penakut, tidak aman, haus
akan perhatian, iri, agresif, benci dan kesepian.5,6
b. Fase anal
Fase anal ini dimulai ketika individu berusia satu sampai tiga tahun, fase anal memiliki arti
penting bagi pembentukan kepribadian. Anak terus menerus berhadapan dengan tuntutan
dari orang tua, menjadi frustasi jika gagal dalam menangani objek- objek dan
lingkungannya. Dan diharapkan mampu buang air dengan cara toilet training. Metode toilet
training dan perasaan-perasaan, sikap-sikap, dan reaksi otrang tua terhadap anak pada fase
ini bisa memiliki efek – efek jauh kedepan atas pembentukan ciri-ciri (traits) kepribadian.
Selama fase ini, anak akan dipastikan mengalami perasaan-perasaan negative seperti benci,
hasrat merusak, marah, dan sebagainya. Penting bagi anak bahwa perasaan negative itu
bisa diterima adanya.2,6,7

7
Hal yang penting juga pada fase ini adalah anak memperoleh rasa memiliki kekuatan,
kemandirian, dan otonom. Jika orang tua berbuat teralu banyak untuk anak, ini berarti
bahwa si orang tua mengajari anaknya itu untuk tidak memiliki kesanggupan menjalankan
fungsi diri. Pada fase ini, anak perlu bereksperimen, berbuat salah dan merasa bahwa
mereka tetap di terima dnegan kesalahannya itu, dan menyadari sebagai individu yang
terpisah dan mandiri.
c. Fase falik
Fase ini dimulai ketika anak memasuki akhir usia tiga tahun hingga lima tahun. Fase ini
adalah fase ketika kesangguapan-kesanggupan untuk berjalan, berbicara, berpikir, dan
mengendalikan otot-otot berkembang pesat. Dengan meningkatnya perkembangan
kemampuan-kemampuan motorik dan perseptual, maka kecakapan interpersonal anak pun
mengalami perkembangan. Kemajuan anak dari periode penguasaan pasif dan represif
kepada penguasaan aktif, menyusun tahapan bagi perkembangan psikoseksual berikutnya
(fase falik). Selama fase falik, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian
dipusatkan pada alat-alat kelamin (penis) pada laki-laki dan klitoris pada perempuan.7 Pada
fase falik, anak-anak menjadi lebih ingin tahu tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk
mengeksplorasi tubuh sendiri, dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan diantara kedua
jenis kelamin. Karena banyak sikap terhadap seksualitas yang bersumber pada fase falik,
maka penerimaan terhadap seksualitas dan penanganan dorongan seksual pada fase ini
menjadi penting. Fase falik adalah periode perkembangan hati nurani, suatu masa ketika
anak-anak belajar mengenal standart moral. Selama masa falik ini, anak perlu belajar
menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang
tubuhnya sendiri secara sehat. Merek membutuhkan model-model yang memadai bagi
indetifikasi peran seksual. Pada fase falik ini akan membentuk sikap-sikap mengenai
kesenangan fisik, mengenai apa yang benar dan yang salah serta mengenai apa yang
maskulin dan yang feminism.6,7

4. MANIFESTASI KLINIS

Perubahan fisik sekunder di masa puber pada orang dengan gangguan identitas
kelamin, terutama laki-laki, meningkatkan tingkat kecemasan dan frustrasi. Beberapa
kasus berusaha menjadi “lebih laki-laki” dengan melakukan aktivitas yang super-maskulin.

8
Sebagai contoh, seorang laki-laki melakukan olahraga seperti gulat dan sepakbola agar
merasa “lebih laki-laki”. Namun, pada kenyataannya, hal tersebut sering kali
meningkatkan kecemasan pasien tentang identitas jenis kelaminnya. 7,8

Fase cemas dikarakteristikkan dengan perasaan bersalah, malu, bingung dan takut.
Individu merasa bingung dengan ketidakmampuan mengatasi masalah, malu akibat
ketidakmampuan melakukan apa yang dianggap “normal” dalam masyarakat, rasa bersalah
karena tidak jujur terhadap keluarga dan teman. Walaupun terkadang individu berpakaian
atau berkhayal menjadi jenis kelamin yang berlawanan, sensasi puas yang dirasa hanya
bersifat sementara. Individu cenderung menutupi hal tersebut karena takut dianggap
“sakit”, diabaikan, dan ditolak oleh orang di sekitarnya.7,8

4.1. Ciri-ciri klinis dari gangguan identitas gender

1. Identifikasi yang kuat dan persisten terhadap gender lainnya: adanya ekspresi yang
berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lain, preferensi untuk
menggunakan pakaian gender lain, adanya fantasi yang terus menerus mengenai
menjadi lawan jenis, bermain dengan lawan jenis.8

2. Perasaan tidak nyaman yang kuat dan terus menerus, biasa muncul pada anak-anak
dimana anak laki-laki mengutarakan bahwa alat genitalnya menjijikkan, menolak
permainan laki-laki, sedangkan pada perempuan adanya keinginan untuk tidak
menumbuhkan buah dada, memaksa buang air kecil sambil berdiri. 8

3. Penanganannya sama seperti menangani gangguan seksual.8

5. JENIS GANGUAN IDENTITAS GENDER DAN DIAGNOSIS


5.1.1. GID (GENDER IDENTITY DISORDER)
pertama kali diakui sebagai entitas kejiwaan dalam DSM-III, dibagi menjadi
dua diagnosis terpisah berdasarkan umur:
GID masa kanak-kanak, dan transeksualisme (remaja dan orang dewasa). Dalam
DSM edisi ke empat, kedua diagnosis tersebut disatukan, GID dengan kriteria yang
berbeda untuk anak-anak dan untuk remaja dan orang dewasa. Menurut DSM-IV-TR
terdapat empat kriteria diagnosis GID, sebagai berikut :2

9
A. Identifikasi cross-gender yang kuat dan gigih. Individu memenuhi kriteria ini jika
individu memiliki karakter sedikitnya empat dari lima hal berikut:2
1. Keinginan berulang yang dinyatakan untuk menjadi jenis kelamin yang
berlawanan.
2. Preferensi untuk cross-dressing dan memakai stereotipikal pakaian lawan jenis.
3. Preferensi kuat untuk memainkan peran sebagai jenis kelamin yang berlawanan dan
berusaha membuat hal tersebut menjadi nyata.
4. Keinginan kuat untuk berpartisipasi dalam permainan stereotip lawan jenis.
5. Preferensi kuat untuk memilih teman bermain yang jenis kelaminnya berlawanan.
B. Ketidaknyamanan atau rasa ketidaksesuaian yang menetap dengan jenis kelamin
biologis. Individu disebut memenuhi kriteria ini jika memiliki salah satu dari hal-hal
berikut:2
1. Pada anak laki-laki, perasaan jijik terhadap penis atau testis, keinginan untuk tidak
memiliki organ seksual laki-laki, enggan bermain kasar, dan penolakan terhadap
stereotipe laki-laki kegiatan dan permainan.
2. Pada anak perempuan, keinginan untuk tidak memiliki organ seksual wanita,
sebuah pernyataan bahwa dia telah atau akan tumbuh penis, dan kebencian
terhadap pakaian feminin.
3. Pada remaja dan orang dewasa yang sibuk menyingkirkan karakteristik seks primer
dan sekunder dan/atau mengungkapkan keyakinan bahwa mereka lahir dengan
jenis kelamin yang salah.
C. Adanya kondisi interseks fisik, di luar diagnosis GID.2
D. Distres klinis yang signifi kan atau kerusakan fungsi yang berat akibat gangguan.2

Transeksualisme juga dapat dicurigai pada anak-anak. Keasyikan dengan kegiatan


khas seks berlawanan jenis kelamin biologis individu yang paling sering menjadi jelas
antara usia 2 dan 4 tahun.2

5.2. Transsexualism (Transeksual )

Transeksual adalah suatu kelainan identitas jenis kelamin yang nyata dimana penderita
meyakini bahwa mereka adalah korban dari suatu kecelakaan biologis yang terjadi sebelum

10
mereka lahir yang secara kasar terpenjarakan dalam sebuah tubuh yang tidak sesuai dengan
identitas jenis kelamin mereka yang sesungguhnya.

Penderita gangguan transeksual sebagian besar adalah laki-laki yang mengenali dirinya
sebagai wanita, yang biasanya timbul pada awal masa kanak-kanak dan melihat alat
kelamin dan penampakan kejantanannya dengan perasaan jijik. Transeksual jarang
ditemukan pada wanita. Penyebab terjadinya transeksual karena adanya perasaan tidak
nyaman akan kondisi fisik tubuhnya yang kemudian menyebabkan individu terkait
melakukan penggantian alat vitalnya.

Menurut ICD-10, kriteria diagnosis GID sebagai berikut :2

1. Individu yang ingin hidup dan diterima sebagai seseorang yang memiliki jenis kelamin
berlawanan dengan anatomi seksnya, terkadang disertai dengan keinginan untuk
mengubah penampilan fisik.
2. Identitas transeksual dijalani minimal 2 tahun
3. Gangguan ini bukan akibat gangguan mental lain seperti skizofrenia, atau abnormalitas
kromosom.

5.3. Dual – Role Transvestism (Transvestisme Peran Ganda )

Pedoman Diagnostik ( PPDGJ ), yaitu:2

1. Individu memakai pakaian jenis kelamin yang berlawanan, untuk dapat merasakan
menjadi jenis kelamin tersebut secara sementara.
2. Perilaku cross-dressing tidak didasari motivasi seksual.
3. Individu tidak memiliki keinginan untuk melakukan perubahan permanen terhadap alat
kelaminnya.
5.4. GENDER IDENTITY DISORDER OF CHILDHOOD
5.4.1. Laki-laki 2
1. Individu menunjukkan rasa distres yang intens dan permanen terhadap kondisi
sebagai laki-laki dan memiliki keinginan untuk menjadi perempuan atau yakin
bahwa adalah perempuan.
2. Harus disertai salah satu dari pernyataan di bawah ini:

11
a) Preokupasi terhadap aktivitas feminin, seperti cross dressing berperilaku seperti
wanita dalam kehidupan sehari – hari, seperti memilih permainan wanita dan
menolak permainan yang bersifat maskulin.
b) Menolak struktur anatomi yang dimiliki, seperti:
1) Yakin bahwa akan tumbuh menjadi seorang wanita
2) Merasa jijik pada penis dan testis yang dimilikinya
3) Merasa lebih baik tanpa memiliki penis dan testis.
3. Individu belum masuk masa pubertas.
4. Gangguan ini harus berlangsung minimal selama 6 bulan.
5.4.2. Perempuan2
1. Individu menunjukkan rasa distres yang intens dan permanen terhadap kondisi
sebagai perempuan dan memiliki keinginan untuk menjadi laki-laki atau yakin
bahwa dia adalah laki-laki.
2. Harus disertai salah satu dari pernyataan di bawah ini:
a) Menolak memakai pakaian perempuan dan merasa harus memakai pakaian yang
maskulin atau laki-laki.
Contoh: pakaian dalam laki-laki
b) Menolak struktur anatomi seksual yang dimiliki, seperti:
1) Perasaan yakin akan tumbuh penis
2) Menolak buang air kecil dalam posisi jongkok
3) Pernyataan bahwa individu tidak mau tumbuh payudara dan menstruasi.
3. Individu belum masuk masa pubertas.
4. Gangguan ini harus berlangsung minimal selama 6 bulan.

5.5. GID TIPE LAIN


Gangguan identitas jenis kelamin yang tidak dapat diklasifikasi.

6. TERAPI
6.1. Anak

Pada saat ini, tidak ada bukti signifikan yang menunjukkan bahwa intervensi
psikiatrik atau psikologik pada anak dapat mempengaruhi orientasi seksual mereka di

12
kemudian hari. Penatalaksanaan terhadap anak dengan gangguan ini harus diikuti peran
serta lingkungan (penyediaan pakaian yang sesuai jenis kelaminnya) dan nasihat tentang
peran dari anatomi seksualnya. Hormon dan psikofarmakologi tidak pernah digunakan.2,8

6.2. Remaja
Remaja muda yang mengalami gangguan ini pada awalnya merasa bahwa dirinya
seorang homoseksual. Perasaan cemas, takut serta malu dapat menyebabkan konflik dalam
perjalanan hidupnya. Para orang tua diharapkan mengerti kondisi psikologis anak
sehingga tekanan yang dirasakan oleh anak berkurang. Pada fase ini, akan timbul perilaku
menyembunyikan perubahan-perubahan sekunder tubuh, mulai dari minum obat
hormonal hingga rencana menjalani operasi di kemudian hari.2 Terapi psikologik untuk
anak dan orang tuanya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak baik dalam
kehidupan sehari-hari di keluarga maupun masyarakat.
6.3. Dewasa
Pada orang dewasa sering ditemukan permintaan langsung untuk operasi
penggantian anatomi kelamin dan pemakaian hormonal.

6.4. Body Alterations

Pada terapi jenis ini, usaha yang dilakukan adalah mengubah tubuh seseorang agar
sesuai dengan identitas gendernya. Untuk melakukan body alterations, seseorang terlebih
dahulu diharuskan untuk mengikuti psikoterapi selama 6 hingga 12 bulan, serta menjalani
hidup dengan gender yang diinginkan.6 Perubahan yang dilakukan antara lain bedah
kosmetik, elektrolisis untuk membuang rambut di wajah, serta pengonsumsian hormon
perempuan. Sebagian transeksual bertindak lebih jauh dengan melakukan operasi
perubahan kelamin.

Keuntungan operasi perubahan kelamin telah banyak diperdebatkan selama


bertahun-tahun. Di satu sisi, hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada keuntungan
sosial yang bisa didapatkan dari operasi tersebut. Namun penelitian lain menyatakan bahwa
pada umumnya transeksual tidak menyesal telah menjalani operasi, serta mendapat
keuntungan lain seperti kepuasan seksual yang lebih tinggi.

6.5. Ganti kelamin

13
Sebelum tindakan operasi kelamin ada beberapa hal yang harus diperhatikan
individu. Ada beberapa tahap yang harus dialaui sebelum tindakan operasi kelamin
dilakukan. Tahap – tahap tersebut adalah:

Memastikan kemantapan dalam mengambil keputusan. Jika terdapat delusi


paranoid dalam memutuskan mengganti kelamin, maka ahli bedah harus menolak
permintaanya.6

Orang yang ingin merubah dari pria menjadi wanita, estrogennya ditingkatkan
untuk menumbuhkan karakteristik alat kelamin sekunder wanita. Sedangkan pada wanita
yang ingin menjadi pria, hormon androgennya ditingkatkan untuk mengembangkan
karakteristik alat kelamin sekunder pria.6

Sebelum operasi diwajibkan hidup selama satu tahun sebagai orang dari gender
lawan jenisnya untuk memprediksi penyesuaian setelah operasi. Untuk orang yang
mengganti kelamin dari pria menjadi wanita, penis dan testis dibuang. Kemudian jaringan
dari penis digunakan untuk membuat vagina buatan. Jika dari wanita menjadi pria, ahli
bedah membuang organ kelamin internal dan meratakan payudaranya dengan membuang
jaringan lemak.

6.6. Terapi Hormonal

Individu dengan gangguan ini yang lahir sebagai laki-laki hampir selalu
mengonsumsi hormon estrogen oral. Hormon estrogen membantu pembesaran payudara,
atrofi testikular, penurunan libido dan menurunkan jumlah rambut badan. Efek lain
penatalaksanaan endokrin adalah peningkatan hormon endokrin, profi l lemak, gula darah
dan enzim hepatik. Pasien yang menggunakan terapi hormonal harus selalu dipantau gula
darahnya. Konsumsi rokok dilarang saat terapi hormon karena dapat menyebabkan
trombosis vena dan emboli pulmoner. Pada wanita, penyuntikan testosteron dilakukan
setiap sebulan sekali atau tiga minggu sekali. Penggunaan testosteron memiliki efek yang
patut diperhatikan, seperti pita suara akan menjadi rendah secara permanen karena pita
suara menebal, klitoris menebal dan memanjang sekitar dua hingga tiga kali lipat dari
ukuran normal diikuti dengan peningkatan libido, pertumbuhan rambut seperti pola laki –
laki dan berhentinya siklus menstruasi.6,8

14
6.7. Pengubahan Identitas Gender

Walaupun sebagian besar transeksual memilih melakukan body alterations sebagai


terapi, ada kalanya transeksual memilih untuk melakukan pengubahan identitas gender,
agar sesuai dengan tubuhnya. Pada awalnya, identitas gender dianggap mengakar terlalu
dalam untuk dapat diubah. Namun dalam beberapa kasus, pengubahan identitas gender
melalui behavior therapy dilaporkan sukses.2,6 Orang-orang yang sukses melakukan
pengubahan gender kemungkinan berbeda dengan transeksual lain, karena mereka memilih
untuk mengikuti program terapi pengubahan identitas gender.

7. PENATALAKSANAAN
A. Psikologis dan intervensi social

Terdapat panduan sebagai berikut:2

1. Anamnesis lengkap termasuk evaluasi keluarga, penting untuk mencari


masalah emosional dan perilaku, masalah pada masa kecil yang belum
selesai efeknya hingga kini.
2. Terapi bertujuan agar terjadi perkembangan terutama identitas jenis
kelamin dengan mengeksplorasi karakteristik alamiah anak atau remaja
muda.
3. Pengenalan dan penerimaan terhadap masalah gangguan identitas dan
penghapusan stigma “tabu” dari masyarakat.
4. Keputusan untuk menerima “gender” seorang anak sangat sulit, baik anak
maupun orang tua membutuhkan dukungan untuk memperbaiki hubungan,
termasuk menghadapi tanggapan orang lain. Bantuan profesional
dibutuhkan untuk membantu mencari solusi terbaik. Intervensi terapeutik
lebih baik jika dilakukan sedini mungkin pada awal kehidupan anak untuk
prognosis yang lebih baik.

Peranan pelayanan kesehatan mental anak dan remaja muda, terbagi dalam tiga bagian:

1. Anamnesis langsung dan tata laksana terhadap kesulitan kesehatan mental


anak dan remaja anak.

15
2. Anak yang sesuai dengan kriteria gangguan identitas jenis kelamin pada
DSMIV atau ICD-10, segera dirujuk ke spesialis agar mendapat pelayanan
professional multidisipliner identitas jenis kelamin.
3. Penyediaan konsultasi dengan ahli hormonal bagian anak untuk
pemeriksaan fisik, edukasi tentang pertumbuhan dan masalah hormonal
serta intervensinya.

B. penangganan interseksualitas
Baru baru ini, sekelompok individu interseks menjadi subjek dari
sebuah evaluasi yang lebih seksama, yang menghasilkan beberapa ide baru dan
pendekatan penanganan baru. Secara spesifik, ada lima macam jenis kelamin:2
a. Males (laki-laki)
b. Famales (perempuan)
c. Hermes yang dinamai berdasarkan hemafrodit sebenarnya.
d. Mernes, yang secara otonomi lebih laki-laki daripada perempuan tetapi
memiliki beberapa aspek alat kelamin perempuan.
e. Ferms, memiliki ovarium tetapi memiliki beberapa aspek alat kelamin
laki-laki.

Ada semakin banyak dokter spesialis endrogrinologi, urologi, dan


psikologi anak, mulai mempelajari kebijaksanaan untuk melakukan operasi
kelamin yang dapat berakibat penetapan gender yang tak mungkin di putar
balik.

C. Penanganan Psikososial
Di klinik-klinik tertentu para terapis, bekerja sama dengan kliennya,
berusaha mengubah identitas gender kliennya sebelum mempertimbangkan
kemungkinan opersai. Sebagian individu meminta penaganan psikologis
sebelum memulai rangkaian penanganan yang mengarah ke operasi. Biasanya
karena, mereka mengalami disstres psikologi berat atau karena operasinya
tidak dapat dilakukan dengan segera. Langkah pertama, yaitu :3

16
a. Behavioral rating scale, untuk perilaku motorik spesifik gender, untuk membantu
seseorang mengidentifikasi bagaimana persisnya bertingkah maskulin atau
feminism melalui latihan dan peniruan perilaku.
b. Role playing, dan latihan yang lebih ekstensif untuk mendapatkan berbagai
ketrampilan sosial, misalnya belajar melakukan kontak mata dengan lebih baik dan
bercakap-cakap secara lebih positif dan lebih percaya diri.
c. Selama fase berikutnya, seorang terapis perempuan secara langsung manangani
fantasi-fantasinya melalui cara yang intens, nyaris hipnotis, dengan mendorongnya
untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi seksual dengan seorang
perempuan dan untuk membangkitkan fantasi-fantasi yang lebih khas maskulin
sebagai pekerjaan sehari-harinya.
8. PROGNOSIS

Anak

Anak laki - laki biasanya mengalami gangguan ini sebelum usia 4 tahun dan konflik
kelompok mulai terjadi pada awal sekolah, sekitar usia 7 – 8 tahun. Perilaku feminin
biasanya berkurang saat anak laki-laki bertumbuh. ”Cross-dressing” adalah salah satu
contoh sikap dari gangguan tersebut, sudah terlihat dari sebelum usia 4 tahun. Baik pada
pria maupun wanita, satu hingga dua per tiga kasus tumbuh menjadi homoseksual. Jika
gangguan identitas jenis kelamin menetap hingga dewasa, maka memiliki tendensi menjadi
kronik dan disertai beberapa periode remisi.2,8

Dewasa

Laki-Laki dewasa yang mengalami rasa ketidaksesuaian dengan anatomi


seksualnya dan secara seksual tertarik pada sesama jenis, biasanya sudah mengalaminya
sedari kecil. Ketertarikan terhadap sesama jenis dimulai pada awal masa remaja dan mulai
menganggap diri mereka sebagai homoseksual. Pasien wanita mulai mengalami gangguan
ini pada saat dewasa saat menganggap dirinya sebagai lesbian karena ketertarikannya
terhadap sesame jenis. Ketertarikan ini terjadi karena wanita tersebut melihat dirinya
sebagai seorang pria; mereka meminta agar diperlakukan dan dianggap sebagai laki – laki
oleh pasangan.2,3,7

17
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Proses pembentukan dan pengenalan identitas menjadi sempurna, diperlukanm dukungan


dan pengawasan dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat serta pribadi anak itu sendiri.
Dan pengenalan identitas ini berfungsi supaya tidak terjadi penyalahgunaan identitas serta
berfungsi seksual sesuai dengan fungsinya.

Gangguan identitas jenis kelamin adalah suatu gangguan yang memiliki ciri berupa
preferensi seseorang yang kuat untuk hidup sebagai individu yang memiliki jenis kelamin
berlawanan dari anatomi seksnya. Etiologi gangguan ini belum jelas. Kriteria diagnosis dapat
menurut DSM-IV atau ICD-10; pembagian dan penggolongan gangguan ini harus dimengerti
secara seksama oleh para dokter. Selain itu alur diagnosis serta penatalaksaan juga harus diketahui
dan dipertimbangkan dengan baik mengingat tindakan yang dilakukan akan bersifat permanen
perubahannya. Terapi non-farmakologis berupa konseling merupakan tahap awal penatalaksanaan
dan jika dibutuhkan dapat berlanjut pada terapi farmakologis

DAFTAR PUSTAKA

1. Davinson, C.G., Neal, J.M., & Kring, A.M. Psikologi Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo
Persada; 2006.
2. Fausiah, F., & Widury, J. Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa. Jakarta: UI-Press Maslim,
Rusdi. .PPDGJ-III ; 2005.
3. Sadarjoen, S.S. Bunga Rampai : Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung : Refika
Aditama; 2005.
4. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-empat.
Balai Pustaka; 2008.
5. V. Mark Durank & David H. Barlow. Psikologi Abnormal.Yoryakarta: Pustaka
Pelajar;2006.

18
6. Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A. Sinopsis psikiatri ilmu pengetahuan
psiatri klinis. Jakarta : Binarupa Aksara ; 2002

7. Fausiah, Fitri. Bahan ajar mata kuliah psikologi abnormal (klinis dewasa). Depok :
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ; 2003

8. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., Greene, Beverly. Psikologi abnormal jilid dua edisi
kelima. Jakarta : Erlangga ; 2002

19