Anda di halaman 1dari 26

1

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK LAPORAN KASUS RAWAT JALAN


FAKULTAS KEDOKTERAN JUNI 2018
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

SPONDILITIS TUBERKULOSIS

Disusun Oleh :
SRI S. N. P. KUSUMO
1408010034

Pembimbing :
dr. Debora Shinta Liana Raya, SpA
dr. Hendrik Tokan, SpA

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITRAAN KLINIK


SMF/ BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF.DR.W.Z.JOHANNES
KUPANG
2018
2

LAPORAN KASUS RAWAT JALAN


“ SPONDILITIS TB “
Sri Suryati Ningsih Putri Kusumo, S.Ked
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
dr. Debora S. Liana, Sp.A; dr.Hendrik Tokan, Sp.A

I. PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri

Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sistem skeletal merupakan suatu bentuk

penyakit TB ekstrapulmonal yang mengenai tulang dan/atau sendi. Insidens TB sendi

berkisar 1-7% dari seluruh TB, yang mana TB sendi tulang belakang merupakan

kejadian tertinggi, diikuti dengan TB sendi panggul dan sendi lutut. Tuberkulosis

pada tulang belakang dikenal sebagai spondilitis TB. Infeksi Mycobacterium

tuberculosis pada tulang belakang terbanyak disebarkan melalui infeksi dari diskus.

Mekanisme infeksi terutama oleh penyebaran melalui hematogen.1

Secara epidemiologi tuberculosis merupakan penyakit infeksi pembunuh nomor

satu di dunia, 95% kasus berada di Negara berkembang. Berdasarkan laporan World

Health Organization (WHO), kasus baru TB di dunia lebih dari 8 juta per tahun.

Diperkirakan 20-33% dari penduduk dunia terinfeksi oleh Mycobacterium

tuberculosis.2 Indonesia adalah penyumbang terbesar ketiga setelah India dan China

yaitu dengan penemuan kasus baru 583.000 orang pertahun, kasus TB menular
3

262.000 orang dan angka kematian 140.000 orang per tahun. Kejadian TB

ekstrapulmonal sekitar 4000 kasus setiap tahun di Amerika, tempat yang paling

sering terkena adalah tulang belakang yaitu terjadi hampir setengah dari kejadian TB

ekstrapulmonal yang mengenai tulang dan sendi. Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat

terjadi pada 25%-30% anak yang terinfeksi TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5%-

10% anak yang terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun, namum dapat

juga 2-3 tahun kemudian.3

Penelitian yang dilakukan di University Hospital of Fez (Morocco) januari

2001-Desember 2006 pada anak usia di bawah 15 tahun didapatkan 123 kasus

tuberculosis tulang dan 37 diantaranya di indentifikasi menderita tuberculosis tulang

belakang/Spondilitis TB. Pada penelitian ini dilaporakan bahwa anak yang paling

banyak menderita spondilitis tuberculosis adalah anak laki-laki (24 orang) dan anak

perempuan (13 orang) dengan umur berkisar antara 4-15 tahun dengan kejadian

terbanyak pada anak berumur 9 tahun. Sebanyak 56,7% berasal dari daerah pedesaan

dan sisanya dari kota. Didapatkan sebanyak 23 kasus terjadi pada daerah lumbal, 7

kasus pada thoracolumbal, 5 kasus pada thorakal, dan 2 kasus pada cervical.4

Penelitian lain yang dilakukan di Rumah Sakit Haji Adam Malik, Sumatera Utara,

terdapat 20 kasus spondilitis tuberculosis pada anak sejak juni 2015-juni 2017 dan

rata-rata anak yang menderita spondilitis tb adalah anak yang berusia 7 tahun.5

Komplikasi Spondilitis TB dapat mengakibatkan morbiditas yang cukup tinggi

yang dapat timbul secara cepat ataupun lambat. Paralisis dapat timbul secara cepat
4

disebabkan oleh abses, sedangkan secara lambat oleh karena perkembangan dari

kifosis, kolaps vertebra dengan retropulsi dari tulang dan debris.6


5

LAPORAN KASUS
Identitas pasien:

Nama : An. JN

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 9 Tahun 7 bulan

Tgl Lahir : 2 Januari 2009

Alamat : Sabu (Di Kupang tinggal bersama saudara di Belo)

Identitas Orang Tua:

Nama : Ny. TN

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 35 Tahun

Alamat : Sabu

Anamnesis:

Keluhan Utama: Bengkak pada tulang belakang.

Riwayat penyakit sekarang:

Pasien anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke poli anak dengan keluhan

bengkak pada tulang belakang sejak ± 7 bulan yang lalu. Keluhan tersebut dirasakan

sejak bulan Desember tahun 2017. Bengkak tersebut awalnya kecil lama kelamaan

menjadi besar pada bulan Mei 2018. Bengkak disertai dengan nyeri jika berjalan,

sehingga pasien harus berjalan membungkuk. Nyeri tersebut sampai mengganggu

aktivitas pasien. Nyeri hilang saat tidur posisi menyamping. Tidak pernah mendapat

terapi obat sebelumnya.


6

Awalnya pada bulan Januari 2017 pasien sering mengeluhkan batuk-batuk (+) ≥

2 bulan lamanya, batuk tidak disertai darah (-), lendir berwarna kuning (+), sesak

nafas (-). Pasien belum pernah mendapatkan obat batuk sebelumnya. Pada bulan

maret 2017, pasien merasakan adanya penurunan nafsu makan sehingga terjadi

penurunan berat badan. Pasien juga mengeluhkan sering keringat setiap malam, dan

demam ≥ 2 minggu. Demamnya hilang timbul dengan suhu yang berubah-ubah dan

meningkat pada sore hari. Pasien tidak pernah mendapat obat demam. BAB dan

BAK dalam batas normal.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Pasien hanya

sering batuk-batuk 1 tahun yang lalu tetapi tidak pernah memeriksakan diri ke

sarana kesehatan untuk keluhan ini. Keluhan tersebut membaik dengan sendirinya.

Pasien terdiagnosis menderita Spondilitis TB pada bulan Juni 2017.

Riwayat Penyakit Keluarga

Nenek pasien sering batuk-batuk berdahak sejak 4 tahun yang lalu (tahun 2014) dan

pernah mengkonsumsi obat-obatan selama 6 bulan dan tidak tuntas.

Riwayat Pengobatan

Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan apapun.

Riwayat Imunisasi

Pasien tidak mendapatkan imunisasi sejak lahir.

Riwayat ASI
7

Pasien mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 1 tahun 7

bulan. Sejak usia 8 bulan pasien di berikan tambahan susu formula, air gula sabu,

dan kuah sayur.

Riwayat Kehamilan

Kehamilan cukup bulan, ibu tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan ketika

hamil. Saat hamil ibu pasien tidak pernah menderita penyakit berat apapun.

Riwayat Persalinan

Pasien dilahirkan di rumah dibantu oleh nenek pasien. Selama proses melahirkan

menurut om pasien, ibu pasien tidak mendapatkan kesulitan dan pasien langsung

menangis. Berat Badan pasien saat lahir tidak diketahui

Riwayat Sosial

Pasien tinggal bersama dengan mama, nenek dan omnya. Rumah pasien baratap

seng, berdinding kayu dan berlantai kasar. Disekitar tempat tinggal pasien dipenuhi

dengan banyak penduduk, dengan rumah yang berdempet-dempet. Mama pasien

bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pasien merupakan anak tunggal, pasien belum

bersekolah, pasien sering bermain dengan teman-teman dilingkungan tempat

tinggalnya. Menurut Omnya dalam tempat tinggal mereka ada nenek yang

menderita penyakit Tuberculosis (TB) tetapi sudah tidak mengkonsumsi obat

selama 6 bulan lagi (putus obat).

Pemeriksaan Fisik

Anak laki-laki umur 9 tahun 7 bulan. BB 19 kg, TB 114 cm


8

Status Gizi :

IMT : BB/TB2 = 19/ (1,14) = 16,66

IMT/ U = {-1 SD sampai 1 SD } (Gizi normal)

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

1. Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)

2. Tanda Vital

a. Tekanan Darah : 90/ 70 mmHg

b. Nadi : 100x/menit, regular kuat angkat

c. Laju Pernapasan : 22 x/menit

d. Suhu : 36,7oC

e. Sp02 : 98%

3. Status Internus

a. Kulit : sianosis (-), Ikterik (-) petechie (-), nemis (-)

b. Kepala : Normocephal

c. Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut.

d. Mata : Konjungtiva anemis (-/-) Sklera ikterik (-/-)

e. Hidung : rhinorea (-/-), Nafas cuping hidung (-/-)

f. Telinga : othorea ( -/-)

g. Mulut : mukosa bibir lembab, sianosis (-)

h. Leher : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan

tiroid

i. Tenggorok : Faring hiperemis (-),T1/T1 hiperemis (-)


9

j. Thorax :

PULMO :

 Pengembangan hemithorax dextra sama dengan sinistra

 Sonor seluruh lapang paru

 Vesikuler +/+, Wheezing (-), Ronki (-)

COR :

 Iktus cordis tidak teraba, Thrill (-)

 S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), Gallop (-)

k. Abdomen :

 Datar

 BU(+) kesan normal

 Nyeri Tekan (-), Hepar dan lien tidak teraba

l. Genitalia : Dalam batas normal

m. Anggota Gerak : Atas Bawah

 Capilary refill : < 3” < 3”

 Edema : -/- -/-

 Akral hangat : +/+ +/+

Status Lokalis:

 Regio Lumbal

 Inspeksi : Vertebra lumbalis terdapat penonjolan (gibbus), kifosis, tepi

tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang ±18 cm, tanda-tanda peradangan (-)
10

 Palpasi : Nyeri tekan (-)

Status Neurologis pada esktremitas:


Tangan Kaki
Kanan Kiri Kanan Kiri
Tenaga 5 5 5 5
Tonus Normal Normal Normal Normal
Trofi Normal Normal Normal Normal
BPR +2 +2 - -
TPR +2 +2 - -
KPR - - +2 +2
APR - - +2 +2
R. patologis - - - -
11

HASIL CT SCAN THORACOLUMBAL (26 JUNI 2018)

Kesan:
 Abscess m. psoas kanan-kiri
& prevertebral L4-
Coccigeus 1 disertai fraktur
atau destruksi corpus
Lumbal 1-5
 Massa kistik di cavum
pelvis sangat mungkin
merupakan vesika urinaria
yang distended ec retensi
urine
 Curiga limfadenopati di
axilla dextra & lesi paru kiri
curiga TB paru
Kesimpulan: Spondilitis TB
12
13

RESUME

Pasien anak laki-laki berusia 9 tahun datang ke poli anak dengan keluhan

bengkak pada tulang belakang sejak ± 7 bulan yang lalu. Keluhan tersebut dirasakan

sejak bulan Desember tahun 2017. Bengkak tersebut awalnya kecil lama kelamaan

menjadi besar pada bulan Mei 2018. Bengkak disertai dengan nyeri jika berjalan,

sehingga pasien harus berjalan membungkuk. Nyeri tersebut sampai mengganggu

aktivitas pasien. Nyeri hilang saat tidur posisi menyamping. Tidak pernah mendapat

terapi obat sebelumnya.

Awalnya pada bulan Januari 2017 pasien sering mengeluhkan batuk-batuk (+) ≥

2 bulan lamanya, batuk tidak disertai darah (-), lendir berwarna kuning (+),sesak

nafas (-). Pasien belum pernah mendapatkan obat batuk sebelumnya. Pada bulan

maret 2017, pasien merasakan adanya penurunan nafsu makan sehingga terjadi

penurunan berat badan. Pasien juga mengeluhkan sering keringat setiap malam, dan

demam. Demamnya hilang timbul dengan suhu yang berubah-ubah, meningkat pada

sore hari dan pasien tidak pernah mendapat obat demam. BAB dan BAK dalam

batas normal.

Dari Pemeriksaan Fisik ditemukan:

Kesadaran compos mentis, tampak sakit sedang

Status Gizi :

IMT : BB/TB2 = 19/ (1,14) = 16,66

IMT/ U = {-1 SD sampai 1 SD } (Gizi normal)


14

Tanda Vital

Tekanan Darah : 90/ 70 mmHg

Nadi : 100x/menit, regular kuat angkat

Laju Pernapasan : 22 x/menit

Suhu : 36,7oC

Sp02 : 98%

Status Lokalis:

 Regio Lumbal

 Inspeksi : Vertebra lumbalis terdapat penonjolan (gibbus), kifosis, tepi

tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang ±18 cm, tanda-tanda peradangan (-)

 Palpasi : Nyeri tekan (-)

Skoring TB pada anak:


Parameter Kontak TB
Kontak TB 3
Tes Mantoux tidak dilakukan
Status gizi 0
Demam ≥ 2 minggu 1
Batuk ≥ 2 minggu 1
Pembesaran KGB 0
Pembengkakan tulang 1
Foto thoraks curiga spondylitis TB 1
Total 7
15

DIAGNOSIS KERJA

1. Spondilitis TB

TERAPI

1. Isoniasid 1× 200 mg

2. Rifampisin 1 × 300 mg

3. Pirazinamid 2 × 300 mg

4. Etambutol 2 × 300 mg

5. B6 1 × 1

II. DISKUSI

Pasien anak laki-laki berusia 9 tahun mengeluhkan bengkak pada tulang

belakang sejak ± 7 bulan yang lalu. Keluhan tersebut dirasakan sejak bulan

Desember tahun 2017. Bengkak tersebut awalnya kecil lama kelamaan menjadi

besar pada bulan Mei 2018. Bengkak disertai dengan nyeri jika berjalan, sehingga

pasien harus berjalan membungkuk. Nyeri tersebut sampai mengganggu aktivitas

pasien. Nyeri hilang saat tidur posisi menyamping. Awalnya pasien sering

mengeluhkan batuk-batuk (+) ≥ 2 bulan lamanya, batuk tidak disertai darah (-),

lendir berwarna kuning (+), sesak nafas (-), adanya penurunan nafsu makan

sehingga terjadi penurunan berat badan, selain itu pasien juga mengeluhkan sering

keringat setiap malam, dan demam. Demamnya hilang timbul dengan suhu yang
16

berubah-ubah dan meningkat pada sore hari. BAB dan BAK dalam batas normal.

Pasien didiagnosis Spondilitis TB pada juni 2017. Nenek pasien menderita TB

tetapi tidak mengkonsumsi OAT lagi (Putus obat), pasien tidak pernah mendapat

imunisasi sejak lahir, pasien mendapat ASI sejak lahir sampai dengan umur 1 tahun

7 bulan kemudian mendapat MPASI.

Pada kasus ini anak laki-laki berusia 9 tahun didiagnosis menderita Spondilitis

TB. Spondilitis Tb merupakan infeksi pada tulang belakang yang disebabkan oleh

Mycobacterium Tuberculosis. Tuberkulosis tulang atau sendi merupakan suatu

bentuk infeksi tuberculosis ekstrapulmonal yang mengenai tulang atau sendi.

Insidens tuberkulosis tulang dan sendi berkisar 1-7% dari seluruh TB.

Kasus ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di University Hospital of

Fez (Morocco) januari 2001-Desember 2006 pada anak usia di bawah 15 tahun

didapatkan 123 kasus tuberculosis tulang dan 37 diantaranya di indentifikasi

menderita tuberculosis tulang belakang/Spondilitis TB. Pada penelitian ini

dilaporakan bahwa anak yang paling banyak menderita spondilitis tuberculosis

adalah anak laki-laki (24 orang) dan anak perempuan (13 orang) dengan umur

berkisar antara 4-15 tahun dengan kejadian terbanyak pada anak berumur 9 tahun.

Sebanyak 56,7% berasal dari daerah pedesaan dan sisanya dari kota.

Manifestasi klinis yang ditimbulkan bersifat lambat dan tidak khas sehingga

umumnya didiagnosis sudah dalam keadaan lanjut. Dijumpai gejala umum TB pada

anak seperti:1
17

 Batuk lama ≥ 2 minggu (batuk bersifat non remitting (tidak pernah menurun atau

intesitas semakin lama semakin parah))

 Berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan sebelumnya atau terjadi gagal

tumbuh (failure to thrive) meskipun telah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik

dalam 1-2 bulan

 Demam lama (≥ 2 mingu) dan atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam

tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, dan lain-lain). Demam umumnya tidak tinggi,

keringat malam saja bukan merupakan gejala spesifik TB pada anak apabila tidak

disertai dengan gejala-gejala sistemik/umum lainnya.

 Lesu dan malaise, anak kurang aktif bermain.

Selain itu dijumpai gejala lain yang khas awalnya dikeluhkan adanya benjolan pada

tulang belakang yang disertai oleh nyeri. Untuk mengurangi rasa nyeri, pasien akan

enggan menggerakan punggungnya, sehingga seakan-akan kaku. Pasien akan

menolak jika diperintahkan untuk membungkuk atau mengangkat barang di lantai.

Nyeri tersebut akan berkurang jika pasien beristirahat. Keluhan deformitas pada

tulang belakang (kifosis) terjadi pada 80% kasus disertai oleh timbulnya gibbus

yaitu punggung yang membungkuk dan membentuk sudut, merupakan lesi yang

tidak stabil serta dapat berkembang secara progresif. Terdapat 2 tipe klinis kifosis

yaitu mobile dan rigid. Pada 80% kasus, terjadi kifosis 100, 20% kasus memiliki

kifosis lebih dari 100 dan hanya 4% kasus lebih dari 300. Benjolan tersebut seperti

abses tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan. Warna benjolan sama


18

dengan sekitarnya, tidak nyeri tekan, dan menimbulkan abses dingin. Kelainan yang

sudah berlangsung lama dapat disertai oleh paraplegia ataupun tanpa paraplegia.

Abses dapat terjadi pada tulang belakang yang dapat menjalar ke rongga dada

bagian bawah atau ke bawah ligament inguinal. Hal ini sesuai dengan teori yang

mengatakan bahwa sebelum timbul gejala bengkak pada tulang belakang, pasien

mengalami gejala-gejala TB pada umumnya.

Anamnesis bisa didapatkan adanya riwayat TB paru, atau riwayat gejala- gejala

klasik (demam lama, diaforesis nokturnal, batuk lama, penurunan berat badan) jika

TB paru belum ditegakkan sebelumnya. Pemeriksaan fisik umum dapat

menunjukkan adanya fokus infeksi TB di paru atau di tempat lain, meskipun pernah

dilaporkan banyak spondilitis TB yang tidak menunjukkan tanda- tanda infeksi TB

ekstraspinal.

TB pada anak biasanya didapat dari orang dewasa disekitarnya yang menderita

TB terlebih dahulu yang mempunyai BTA (+). Berdasarkan penelitian, anak yang

berisiko tertular TB adalah anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TB

dewasa dengan durasi kontak lebih dari 8 jam per minggu. Pada umumnya TB anak

tidak menular seperti halnya TB dewasa. Ini disebabkan karena TB anak

kebanyakan adalah TB ekstra paru, sehingga tak dapat menular melalui droplet.

Sekalipun TB paru, TB anak tidak menular karena kurang infeksius dibandingkan

TB dewasa
G
19

Anak dengan satu atau lebih gejala khasTB:


 Batuk ≥ 2 minggu
 Demam ≥ 2 minggu
 BB turunatautidaknaikdalam 2 bulansebelumnya
 Malaise ≥ 2 minggu
Gejala-gejala tersebut menetap walau sudah diberikan terapi yang adekuat

Pemeriksaan mikroskopis/tes
cepat molekuler (TCM) TB

Positif Negatif Spesimen tidak dapatdiambil

Ada akses foto rontgen toraks Tidak ada akses foto rontgen
dan/atau uji tuberkulin*) toraks dan uji tuberkulin

Skoring sistem

Skor ≥6 Skor < 6

Uji tuberkulin Uji tuberkulin


ATAU DAN
kontak TB kontak TB
paru dewasa paru dewasa (-)
(+)

TB anak
terkonfirma
Berkontak Tidak ada/ tidak
si TB anak dengan jelas berkontak
bakteriologis klinis pasienTB dengan pasienTB
paru dewasa paru dewasa

Terapi OAT**) Observasi gejala selama 2 minggu,

Menetap Menghilang

Bukan TB

Alur Diagnosis TB Paru Anak


20

Pada kasus ini anak JN mengalami gejala-gejala umum dari penyakit TB serta

adanya gejala khas dari penyakit Spondilitis TB. Pasien belum pernah melakukan

pemeriksaan mikroskopis, tetapi pasien sudah melakukan pemeriksaan CT Scan

Thoracolumbal dan hasilnya positif menderita Spondilitis TB. Uji tuberkulin juga

belum pernah dilakukan oleh pasien. Berdasarkan sistem skoring yang dilakukan

terhadap pasien, hasilnya skornya adalah 7. Setelah itu pasien mendapat terapi

OAT.

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening.

Pada foto thorakolumbal AP/lateral menunjukkan adanya spondylitis TB L1 – 5

yang penyebabnya utamanya adalah TB. Pada spondilitis TB gambaran radiologi

yang muncul adanya gambaran osteoporosis, sklerosis dan destruksi pada corpus

vertebra, penyempitan celah diskus. Sedangkan tanda infeksi primer TB pada anak

berupa kalsifikasi atau pembesaran kelenjar dihilus paru biasanya tidak khas,

sehingga diagnosis TB pada anak adalah dengan menggunakan sistem skoring TB.
21

Skor Skoring TB Anak

Pada kasus Spondilitis TB ini terapi pada fase intensif diberikan selama 2 bulan

Isoniasid 1× 200 mg, Rifampisin 1 × 300 mg, Pirazinamid 2 × 300 mg, Etambutol 2

× 300 mg, B6 1 × 1

Dalam tatalaksana Spondilitis TB anak, pengobatan TB dibagi menjadi dua

fase, yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. Prinsip

dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat pada fase intensif (2 bulan

pertama) dan dilanjutkan dengan dua macam obat pada fase lanjutan (empat bulan

atau lebih). Pemberian paduan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi
22

obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan extraseluler. Pemberian vitamin

B6 dimaksudkan untuk mencegah efek samping INH berupa neuritis perifer yang

timbul akibat inhibisi kompetitif pada metabolisme piridoksin.

Nama obat Dosis harian Dosis Efek samping


(mg/kgBB/hari) maksimal
(mg/hari)
Isoniasid (H) 10 (7-15) 300 Hepatitis, neuritis perifer,
hipersensitivitas.
Rifampisin (R) 15 (10-20) 600 Gastrointestinal, reaksi kulit,
hepatitis,
trombositopenia,peningkatan
enzim hati, cairan tubuh
berwarna orange kemerahan
Pirasinamid (Z) 35 (30-40) - Toksisitas hepar, atralgia,
Gastrointestinal
Etambutol (E) 20 (15-25) - Neuritis optik, ketajaman
mata berkuran, buta warna
merah hijau, hiper
sensitivitas, gastrointestinal.
Dosis OAT Untuk Anak
Apabila ada kenaikan berat badan maka dosis atau jumlah tablet yang diberikan
disesuaikan dengan berat badan saat itu.

Panduan OAT dan Lama Pengobatan TB Anak


23

Dosis OAT KDT TB Anak


Pada TB tulang belakang harus diperhatikan adalah kelainan neurologis atau

tidak. Apabila ditemukan kelainan neurologis misalnya berupa kelumpuhan atau

neuritis perifer, maka tindakan bedah segera dilakukan, sedangkan apabila tidak

dijumpai kelainan neurologis maka tindakan bedah dilakukan secara elektif.

Indikasi tindakan bedah umumnya adalah adanya kelainan neurologis, instabilitas

spinal, dan tidak respons terhadap OAT.9

Hasil akhir pengobatan pasien TB dinyatakan sembuh apabila dengan hasil

pemeriksaan bakteriologis positif pada awal pengobatan yang hasil pemeriksaan

bakteriologis pada akhir pengobatan dan pada salah satu pemeriksaan sebelumnya

menjadi negarif.9

Prognosis TB skeletal sangat bergantung pada cepat atau tidaknya dilakukan

terapi oleh karena disertai defisit neurologik 10% - 45% dari penderita dengan

komplikasi nyeri yang hebat 97 % yang dapat menganggu kualitas hidup

penderita.Pada kelainan lain yang minimal umumnya dapat kembali normal, tetapi

pada kelainan yang sudah lanjut dapat menimbulkan sekuele (cacat) sehingga

mengganggu mobilitas pasien.9


24

III. KESIMPULAN
Telah dilaporkan satu laporan kasus anak perempuan berusia 3 tahun dengan

diagnosis Spondylitis TB. Diagnosis TB ditegakan dengan sistem skoring TB,

anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tatalaksana dengan

OAT sesuai dengan pedoman TB pada anak.

Tatalaksana yang diberikan sekarang adalah tatalaksana pada fase intensif yaitu

Isoniasid 1× 200 mg, Rifampisin 1 × 300 mg, Pirazinamid 2 × 300 mg, Etambutol 2

× 300 mg, B6 1 × 1 Prognosis pada pasien ini yaitu dubia ad bonam.

Prognosis TB skeletal sangat bergantung pada cepat atau tidaknya dilakukan

terapi oleh karena disertai defisit neurologik 10% - 45% dari penderita dengan

komplikasi nyeri yang hebat 97 % yang dapat menganggu kualitas hidup

penderita.Pada kelainan lain yang minimal umumnya dapat kembali normal, tetapi

pada kelainan yang sudah lanjut dapat menimbulkan sekuele (cacat) sehingga

mengganggu mobilitas pasien.9


25

DAFTAR PUSTAKA
1. Pudjiadi, dkk. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia
Jilid I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2010.
2. Paramarta, I. G. E., Purniti, P. S., Subanada, I. B., & Astawa, P. (2016).
Spondilitis Tuberkulosis. Sari Pediatri, 10(3), 177-83.
3. Crofton J,Horne N,Fred M. Tuberkulosis pada anak. Dalam: Tuberkulosis
klinis. HarunN, penyunting. Edisi ke 2. Jakarta: Widya Medika; 2002. h.
31-79
4. Benzagmout M, Boujraf S, Chakour K, Chaoui MEF. Pott’s disease in
children. Surgical Neurology International. 2011

5. Dharmajaya R. Tuberculosis Spondylitis in Haji Adam Malik Hospital.


Medan; 2018
6. Rahajoe, dkk. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI; 2015. 162-267 p.
7. WHO. Global tuberculosis control - epidemiology, strategy, financing.
WHO Report 2005.
8. Hidalgo JA, Alangaden G. Pott’s Disease (Tuberculous Spondylitis).
Available at http://www.emedicine.com/; diakses 14 Agustus 2018
9. Kementrian RI, Petunjuk Teknis Manajemen dan Tatalaksana TB Anak.
Jakarta; 2016
10. Paramarta I, Purniti P, Subanada I, Astawa P. Spondilitis Tuberculosis.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Rumah Sakit Sanglah. Denpasar; 2008

11. Sharivi, Alavi. Tuberculous spondylitis: Risk factors


andclinical/paraclinical aspects in the south west of Iran. Journal of
Infection and Public Health. 2010;3:196–200.
12. Rahajoe, dkk. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI; 2015. 162-267 p.
26

13.