Anda di halaman 1dari 3

Hukum Agustusan

Bismillah

ACARA AGUSTUSAN

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, ketika ditanya tentang hadir di acara-acara HUT Kemerdekaan.
Maka jawab beliau pertama dengan bentuk pertanyaan kepada yang bertanya, "Apakah hal itu
termasuk urusan agama? Apakah hal itu termasuk urusan ibadah?
Maka jawabnya tidak dan bukan urusan ibadah. Oleh sebab itu perkara yang mubah.

Adapun tergantung bentuk acaranya bisa haram jika isinya musik dan biduan yang mengumbar
aurat, dan sebagaianya. Untuk lebih jelasnya bisa disimak juga tulisan dibawah ini terjemahan
Ust Aris Munandar hafidzahullah.

Acara Agustusan yang kita kenal di Indonesia di Arab Saudi disebut yaum wathoni atau hari
nasional. Mari kita simak penjelasn Syaikh Dr Khalid Mushlih, murid dekat dan menanti Ibnu
Utsaimin tentang yaum wathoni [agustusan ala Saudi].

“Hukum asal perayaan atau menentukan hari tertentu dalam satu tahun untuk mengenang
terjadinya penyatuan beberapa wilayah dalam satu kekuasaan atau mengenang kemerdekaan
negara tersebut ada dua pendapat ulama dalam hal ini.
Ada yang berpendapat bahwa hal ini adalah kegiatan non ritual ibadah yang pada dasarnya
diperbolehkan. Menimbang bahwa hal ini tradisi dan budaya masyarakat yang tidak ada di
dalamnya melainkan sekedar ekspresi gembira dan menyebut-nyebut nikmat Allah dengan
adanya peristiwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya kegiatan di hari tersebut. Mereka
berargumen dengan hukum asal segala sesuatu adalah halal dan mubah.

Pendapat yang kedua melarang dengan alasan bahwa ini adalah ied sedangkan hukum asal ied
adalah haram. Hal itu karena saat Nabi tiba di kota Madinah penduduknya baik Aus ataupun
Khajraj merayakan dua hari. Saat ditanyakan kepada mereka mengenai dua hari tersebut. Mereka
mengatakan bahwa dua hari tersebut adalah dua hari yang mereka isi dengan ‘main-main’
semenjak masa jahiliah. Nabi lantas bersabda bahwa Allah telah ganti dua hari tersebut dengan
dua hari yang lebih baik yaitu Iedul Adha dan Iedul Fitri.
Dari hadits ini sejumlah ulama membuat kesimpulan bahwa tidak boleh menentukan hari tertentu
dalam satu tahun untuk diisi dengan acara senang-senang dan main-main karena hari semacam
itu telah diganti dengan dua hari yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Iedul Fitri.

Sesuatu yang telah diganti itu semestinya ditinggalkan dan tidak boleh diambil. Ini dua pendapat
ulama dalam masalah ini. Masing masing pendapat ini memiliki ulama ulama yang membela dan
mendukungnya.

Yang paling dekat dengan kebenaran dari dua pendapat ini dari alasan dan kaedah adalah
pendapat yang mengatakan bahwa peringatan semacam ini tergolong masalah tradisi, bukan
ibadah yang manusia punya hak untuk menentukan hari tertentu yang mereka inginkan karena
tidak ada unsur ritual keagamaan di dalamnya sedangkan yang namanya bid’ah itu terkait dengan
unsur ibadah.
Jika ada orang yang mengatakan bahwa HP itu bid’ah maka itu tidak benar karena HP itu tidak
memiliki kaitan dengan ritual ibadah. Adanya penggunaan HP untuk mengetahui waktu ibadah,
menuntut ilmu dan menambah wawasan itu tidak ada kaitannya dengan ritual ibadah. Itu sekedar
sarana yang dalam masalah saranan kebaikan terdapat aturan yang longgar.

Sesuatu yang disebut ied sacara syariat itu harus memuat dua unsur, disamping ada unsur ritual
ibadah ada juga unsur non ibadah.
Menimbang bahwa unsur ritual ibadah itu tidak ada dalam acara peringatan semacam ini, tidak
ada orang yang membuat ritual ibadah semisal shalat pada hari kemerdekaan maka acara ini
tergolong non ibadah sehingga hukum asalnya adalah mubah.
Longgar dalam memberikan label bid’ah pada kegiatan semisal ini menyebabkan banyak hal-hal
yang tergolong budaya akan dilabeli bid’ah.

Misalnya saat pagi orang terbiasa mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ini bisa kita katakan
dilakukan setiap hari. Demikian pula ‘selamat sore’ di sore hari, ‘selamat tidur’ saat malam.
Apakah rutinitas semisal ini tergolong bid’ah? Jawabannya tentu saja ‘tidak’ karena ini tergolong
non ritual keagamaan. Tidak ada orang merasa beribadah kepada Allah dengan melakukan hal-
hal di atas.

Oleh karena itu unsur ibadah itu tidak terlihat dalam acara peringatan ini.

Memang ada yang menganut kaedah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Sebenarnya saya pribadi berusaha untukmenemukan landasan kaedah ini dari perkataan para
ulama terdahulu namun saya belum mendapatkannya. Saya memang belum maksimal
mencarinya namun saya sudah cukup bersusah payah untuk mendapatkannya dari perkataan para
ulama sebelum Ibnu Taimiyah. Kaedah Ibnu Taimiyah tersebut mengatakan bahwa ied itu
tergolong bab ibadah bukan bab non ibadah.

Dampak jika kita terima kaedah ini banyak hal yang berputar secara periodik tergolong bid’ah.

Intinya mengenai hukum peringatan semisal ini ada ulama yang berpendapat hukumnya mubah,
ada yang berpendapat hukumnya makruh dan ada juga yang mengharamkannya. Ini tiga
pendapat ulama mengenai membuat hari tertentu yang diperingati secara periodik.

Perbedaan pendapat ini tentu harus dipertimbangkan supaya tidak ada yang beranggapan hanya
ada satu pendapat dalam masalah ini baik mubah atau pun haram.

Initinya ada kelonggaran dalam masalah ini. Hal ini bukanlah permasalahan ushuliyyah [hal-hal
mendasar] yang tidak ada perselisihan di dalamnya.

Allahu'alam
Abu Salman Abdurrhaman Ayyub
WA081310144169
www.yusna.com
Komentar Ahsi

Klo lomba yg tdk menyusahkan / membahayakan org lain atau diri sendiri boleh saja, seperti :
futsal , bulu tangkis yg tak menampakkan aurat, sepeda hias , jln.santai .dll yg tak melanggar
syariat.

Klo lomba makan kerupuk di gantung sambil berdiri jelas keharamannya.

Lomba balap karung, bawa kelereng dalam sendok, panjat pinang , atau lomba lain yg bikin
bahaya diri sendiri n org lain jelas terlarang. HR.al hakim, malik n lainnya. Allahu musta'an.

Tts Bapang Hada/ Sukpandiar Idris Advokat As-salafy. Hp.0811195824