Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit protozoa saluran pencernaan adalah penyakit yang disebabkan


oleh protozoa yang berada didalam saluran pencernaan. Didalam makalah ini
fokus yang diambil adalah protozoa saluran pencernaan pada unggas, yaitu
penyakit Koksidiosis.

Koksidiosis adalah unggas merupakan salah satu penyakit terpenting yang


menyerang dunia perunggasan. Penyakit ini merupakan penyakit pada intestinal
yang disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Eimeria (Michels, et al, 2011).
Penyakit asal parasit seringkali berbeda dengan penyakit viral atau bakteri dalam
beberapa aspek, yaitu siklus hidup yang komplek, metode penyebaran, sangat
minim/tidak ada uji serologik yang dapat dipakai sebagai metode diagnosis, dan
kadang-kadang dapat ditanggulangi dengan cara sanitasi/desinfeksi dan isolasi
yang ketat (Tabbu, 2002).

Koksidiosis atau sering disebut berak darah adalah penyakit parasiter yang
menimbulkan gangguan terutama pada saluran pencernaan bagian aboral, angka
kesakitan dan kematian dapat mencapai 80-90% (Retno, et al, 1998). Koksidiosis
merupakan salah satu penyakit yang banyak mendatangkan masalah dan kerugian
pada peternak ayam. Kerugian yang ditimbulkan meliputi kematian (mortalitas),
penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, nafsu makan menurun, produksi
daging turun, meningkatnya biaya pengobatan, upah tenaga kerja dan lain-lain.
Kerugian yang ditimbulkan dapat menghambat perkembangan peternakan ayam
dan menurunkan produksi protein hewani, oleh karena itu pengendalian
koksidiosis pada ayam perlu mendapat perhatian (Tabbu, 2006).

Untuk mengatasi koksidiosis banyak dilakukan dengan sanitasi kandang


dan pemberian koksidiostat dalam pakan (Wallach dan Waldenstedt, 1999).
Penanggulangan koksidiosis pada ayam dapat dilakukan dengan sanitasi atau

1
desinfeksi yang ketat serta menjaga kualitas litter yang optimal. Kontak dengan
Eimeria dapat ditekan jika litter tetap kering, karena mencegah proses sporulasi
oosista yang cepat. Kekebalan pada ayam terhadap Eimeria sp. dapat dirangsang
dengan pemberian vaksinasi terhadap koksidia serta penggunaan koksidiostat
dalam pakan selama periode starting dan growing (Tabbu, 2002).

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimanakah morfologi dan klasifikasi parasit penyebab penyakit


Koksidiosis ?

2. Bagaimanakah sifat penyakit Koksidiosis ?

3. Bagaimanakah cara penularan penyakit Koksidosis ?

4. Bagaimanakah gejala klinis penyakit Koksidosis ?

5. Bagaimanakah patogenitas penyakit Koksidiosis ?

6. Bagaimanakah diagnosa penyakit Koksidiosis ?

7. Bagaimanakah diagnosa banding penyakit Koksidiosis ?

8. Bagaimanakah pengendalian dan pengobatan penyakit Koksidiosis ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui morfologi dan klasifikasi parasit penyebab penyakit


Koksidiosis

2. Mengetahui sifat penyakit Koksidiosis

3. Mengetahui cara penularan penyakit Koksidosis

4. Mengetahui gejala klinis penyakit Koksidosis

2
5. Mengetahui patogenitas penyakit Koksidiosis

6. Mengetahui diagnosa penyakit Koksidiosis

7. Mengetahui diagnosa banding penyakit Koksidiosis

8. Mengetahui pengendalian dan pengobatan penyakit Koksidiosis

3
BAB II

ISI

2.1 Struktur dan Morfologi

Koksidia adalah parasit intraseluler yang berkembang di dalam saluran


pencernaan induk semang. Infeksi yang ditimbulkan oleh E. tenella dikenal
dengan nama koksidiasis, sedangkan penyakitnya disebut dengan koksidiosis
(Noble, 1989)

Klasifikasi E. tenella adalah sebagai berikut :

Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoasida
Ordo : Eucoccidiorida
Famili : Eimeriidae
Genus : Eimeria
Spesies : : Eimeria tennela

Pada ayam domestik (Gallus gallus) ada 9 spesies yang dikenal antara lain
yang paling pathogen yaitu E. tennela, E. necatrix, E.maxima, dan E.brunette
sedangkan E. acervulina, E. mitis, dan E. mivanti cukup pathogen, dan E. hagani,
E. praecox adalah kurang pathogen.
Ookista E. tenella tidak bersporulasi didalam tinja ayam yang terinfeksi.
Ookista lebar, berbentuk ovid lebar dan tidak ada perbedaan nyata dari lebar
kedua ujung. Ukurannya sangat bervariasi, panjang berkisar antara 14-31 mikron,
lebar 9-25 mikron, dengan rata-rata panjang 23 mikron dan lebar 19 mikron.
Dinding ookista halus, tidak ada mikropil (‘micropyle’) pada ujung yang lebih
kecil. Ookista yang disimpan dalam suhu kamar dengan suhu dan kelembapan
yang cukup membutuhkan waktu untuk bersporulasi dalam waktu kira-kira 48 jam
(1-2 hari). Ookista yang bersporulasi mengandung empat sporokista dan masing-
masing sporokista mengandung dua sporozoit. Sporokista berbentuk tanpa
residudan berukuran kira-kira lebar 7 mikron dan panjang 11 mikron. Sporokista
pada ujung yang lebih kecil terdapat sumbat berbentuk bulat kecil yang mengisi

4
suatu lubang pada dindingnya dan agak menonjol keluar. Sporozoit berbentuk
sosis kecil terdapat dua dalam masing-masing sporokista dengan massa bulat
hyalin dekat salah satu ujungnya.

(Gambar struktur morfologi E. tenella) (Gambar mikroskopik E. tenella)

2.2 Sifat Penyakit Koksidiosis

Koksidiosis memiliki host specificity yang tingi sehingga jarang teradi


penularan penyakit dari induk semang yang satu ke induk semang lain yang
berbeda bangsa hewan. Koksidiosis sering menyerang ayam muda yang berumur
3 sampai 6 minggu dan jarang menyerang ayam pada umur kurang dari 3 minggu.
Ayam yang berumur kurang dari 3 minggu masih belum menghasilkan banyak
chymotripsin dan garam empedu sehigga proses keluarnya sporozoit dari oocyt
tidak terjadi. Reaksi imun tubuh dapat dihasilkan dengan cepat setelah terpapar
penyakit ini, namun imunitas yang dihasilkan bersifat spesifik dan tidak berlaku
untuk infeksi oleh agen penyebab dari spesies Eimeria yang lain. Secara umum
untuk penyakit ini bersifat endemis.

5
2.3 Cara Penularan Penyakit Koksidiosis

Penularan Koksidiosis terjadi ketika (menelan) oocyst infektif dalam


pakan atau air minum. Tidak ada vektor biologis yang membantu penyebaran
penyakit ini, namun terdapat vektor mekanik berupa lalat yang membantu
menyebarkan oocyst dalam feses. Fasilitas peternakan yang terkontaminasi dan
migrasu burung liar juga dapat membantu penyebaran penyakit Oocyst
bersporulasi yang tertelan akan berkembang biak di dalam sel epitel saluran
pencernaan usus halus dan menghasilkan oocyst yang belum bersporulasi akan
dikeluarkan ke lingkungan bersama feses.

2.4 Gejala Klinis Penyakit Koksidiosis

Gejala klinik yang disebabkan oleh parasit ini bervariasi tergantung atas
umur hewan yang terserang dan spesies parasit yang menyerang. Gejala umum
diantaranya adalah nafsu makan menurun, nasfu minum meningkat, hewan
menjadi kurus, depresi, bulu kusut, dan pucat. Unggas yang terinfeksi penyakit
Koksidiosis menunjukkan gejala klinis berupa anoreksia, depresi, bulu berdiri,
kepucatan pada pial dan jengger, kekurusan, dan kematian.

Gejala klinis khusus yang paling mudah dilihat adalah adanya berak darah
pada ayam. Gejala ini tampak ketika skizon generasi kedua membesar dan
mengeluarkan merozoit generasi kedua. Pecahnya skizon generasi kedua yang
berukuran besar menyebabkan kerusakan epitel sekum dan pendarahan yang
meluas pada lumen sekum (Levine, 1990).

Perkembangbiakan Eimeria sp. di sel epitel mukosa usus halus


menyebabkan terjadinya kerusakan sel epitel dan terjadi reaksi peradangan Sel-sel
radang yang berkumpul di sekitar lesi akan meningkatkan permeabilitis pembuluh
darah usus halus sehingga terjadi hemoragi perdiapedesis. Terjadi erosi mukosa
usus halus menyebabkan penyerapan nutrisi menjadi tidak optimal dan terjadi
dehidrasi. Kematian terjadi setelah 4 sampai 6 hari post infeksi.

6
2.5 Patogenitas Penyakit Koksidiosis

Patogenitas infeksi E.tenella pada ayam tergantung beberapa faktor antara


lain jumlah ookista yang termakan oleh ayam, strain dari koksidia, faktor
lingkurangan yang berpengaruh pada tingkat ketahanan ookista, stadium
perkembangan ookista dalam tubuh induk, usia ayam dan kondisi tubuh induk
(Kennedy, 2001).

Penyakit ini sangat patogen terutama pada ayam umur empat sampai
delapan minggu, sedangkan pada ayam yang berumur satu sampai dua minggu
lebih tahan karena ookista belum mampu dipecah disebabkan lemahnya gerakan
lambung otot (gizzard) dan sistem pencernaan enzimatis yang belum bekerja
secara maksimal, sehingga pemecahan dinding ookista kurang sempurna
(Soulsby, 1986).

2.6 Diagnosa Penyakit Koksidiosis

 Berdasarkan gejala klinik fese bercampur darah adalah diduga koksidiosis


 Pemeriksaan feses ditemukan ookista dengan metode apung atau
pemeriksaan langsung
 Perubahan pasca mati adanya pendarahan dan penebalan dinding usus.

2.7 Diagnosa Banding Penyakit Koksidiosis

Diagnosis banding untuk penyakit Koksidiosis antara lain nekrotik


enteritis akibat C. perfringens, infeksi Salmonella, infeksi parasit saluran
pencernaan dan penyakit viral yang menyerang saluran intestinal.

7
2.8 Pengendalian dan Pengobatan Penyakit Koksidiosis

 Pengobatan
Pengobatan Koksidiosis dapat dilakukan dengan pemberian obat-
obatan koksidiostat atau koksidiosidal. Pemberian koksidiostat tidak
mengeliminasi seluruh parasit yanga ada di dalam tubuh. Dengan jumlah
parasit yang terkontrol, tubuh diharapkan mampu merespon dengan
membentuk antibodi/kekebalan tubuh.
Biasanya hewan akan sembuh sendiri, asal tidak ada reinfeksi
dengan spesies yang sama. Pengobatan untuk stadium yang sudah lanjut
tidak efektif. Pengobatan pada awal infeksi dapat digunakan:
- Sulfaquinoxaline 6 mg/lb/hari selama 3-5 hari.
- Amprolium 10 mg/kg/hari selama 5 hari.
- Sulphadimidine 1 g/5 kg bb.
- Zoaquin 1 g/50 bb diberikan selama 1-3 hari.
-
 Pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan

Pencegahan Koksidiosis pada unggas dapat dilakukan denga


penerapan tindakan biosecurity dan pemberian vaksin secara teratur.
Selain itu perbaikan manajemen kandang juga akan membantu mencegah
penyebaran penyakit Koksidiosis. Tindakan-tindakan yang dapat
dilakukan antara lain :

- Pemisahan flok antara unggas muda dari unggas tua. Unggas muda
ditempatkan pada flok tertentu yang bebas dari litter yang mengandung
oocyst.
- Meningkatkan sanitasi dan kebersihan kandang.
- Pembersihan dan kontrol litter/sekam. Litter sebaikanya diganti atau
ditambah secara teratur dengan tujuan mengurangi konsentrasi feses
atau cemaran ooccyst dalam litter. Litter diusahakan selalu dalam
keadaan kering untuk mencegah oocyst bersporulasi.
- Menjaga kecukupan udara dan ruang bagi unggas dengan mangatur
ventilasi udara dan kepadatan ternak.

8
- Isolasi dan mengobati unggas pada flok yang sakit dan memberikan
pakan ternak yang mengandung coccidiocidal/coccidiostat tergantung
tingkat keparahan penyakit pada satu flok.

9
BAB III

KESIMPULAN

Koksidiosis adalah penyakit yang sangat penting pada peternakan


khususnya ayam, pada mamalia penyakit ini tidak sehebat pada unggas. Salah satu
spesies yang paling pathogen pada ayam adalah E. tenella. Secara umum
penularan penyakit akibatt tertelannya ookista yang sudah bersporulasi yang
mengkontaminasi pakan dan minuman. Gejala klinik yang sering ditemukan
adalah diare berdarah, kekurusan, anoreksia, kelemahan dan anemia. Salah satu
diagnosis penyakit adalah dengan ditemukannya ookista dalam pemeriksaan feses.

Diagnosis dapat dilakukan dengan bedah bangkai dan kerokan usus yang
mengalami lesi. Pengendalian penyakit ditujukan pada sanitasi perkandangan,
pakan dan minum sehingga terhindar dari penularan penyakit .

PENUTUP

Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu peternak, mahasiswa,


ataupun khalayak awam untuk lebih mengenali dan memahami penyakit Koksidiosis pada
unggas. Serta saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu
terselesaikannya makalah ini, mohon maaf jika terjadi banyak kesalahan dan kekurangan
dalam penulisan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Suwanti, Lucia T, dkk. 2016. Buku Ajar Ilmu Penyakit Protozoa. Surabaya:
Airlangga University Press.

Medion. 2008. Koksidiosis dan Necrotic Enteritis.


https://info.medion.co.id/index.php/artikel-broiler/artikel-penyakit/88-koksidiosis-a-
necrotic-enteritis ,diakses tanggal 05 Maret 2019.

Nugroho, Dimas T. 2011. Koksidiosis pada ayam.


https://pustakavet.wordpress.com/2011/01/22/koksidiosis-pada-ayam/ , diakses tanggal
05 Maret 2019.

Karimy, Mohammad F.2015. Koksidiosis dan Pencegahannya dengan


Koksidiosat dari Kekayaan Alam Indonesia.
http://bptba.lipi.go.id/bptba3.1/img/koksidiosis.pdf , diakses tanggal 05 Maret 2019.

Wiki Sumber Informasi Iskhnas. 2015. Coccidiosis.


http://wiki.isikhnas.com/images/6/6c/COCCIDIOSIS.pdf , diakses tanggal 05 Maret
2019.

Mahmudah, Siti M. 2006. Pengaruh Infeksi Ookista Eimeria tenella Hasil


Penyinaran Ultraviolet terhadap Gambaran Patologis Sekum dan Jumlah Produksi
Ookista pada Ayam Pedaging [Skripsi]. Surabaya: Universitas Airlangga.

Erly Sri Rohayati. 2011. Pengaruh Temperatur Terhadap Patogenesitas Oosista


Eimeria tenella pada Ayam Pedaging. J. Sain Vet. 29 (1) : 31-32.

Fadhillah, D. 2017. Struktur dan Morfologi Eimeria tenella.


http://ilmuveteriner.com/struktur-dan-morfologi-eimeria-tenella/ , diakses tanggal 05
Maret 2019.

11
Daftar Pustaka

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/125/jtptunimus-gdl-elvatrihan-6218-3-babii.pdf
(di akses tanggal 26 November 2018)

Buntuan, Velma. 2014. Gambaran Basil Tahan Asam (BTA) Positif Pada
Penderita Diagnosa Klinis Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam
Manado Peroiode Januari 2014 s/d Juni 2014. (2) 593-594.

http://pelajaranilmu.blogspot.com/2012/06/mycobacterium-tuberculosis.html
(diakses tanggal 26 November 2018)

12