Anda di halaman 1dari 5

TERM OF REFERENCE (TOR)

SEMINAR NASIONAL DAN DISKUSI PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA


“SIKAP TERHADAP ISU PERPECAHAN DAN RASISME DI KALANGAN
MAHASISWA”

A. Nama Kegiatan
Seminar Nasional Persatuan dan Kesatuan bangsa, dengan Tema: Isu Perpecahan di Kalangan
Mahasiswa
B. Latar Belakang Kegiatan
Ekses rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa tak pernah siap dikendalikan oleh
pemerintah Indonesia sendiri di Jakarta. Pada Senin kemarin, 19 Agustus, dua hari setelah
negara ini merayakan kemerdekaannya ke-74, gelombang orang Papua menumpahkan
kekecewaannya di Jayapura, ibu kota Papua, dan di Manokwari, ibu kota Papua Barat, serta
Kota Sorong. Di Jayapura, lautan manusia berdemo jalan kaki sepanjang 18 kilometer dari
Waena, pusat keramaian di kota itu, menuju kantor gubernur; menuntut rasialisme terhadap
orang Papua harus dihentikan.
Selain persoalan rasisme yang dialami mahasiswa Papua, yang baru juga terjadi adalah
pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 diharapkan aman dan damai, namun fenomena
yang terjadi banyak isu-isu yang berkembang. Sebuah isu mempresentasikan suatu
kesenjangan antara praktek koorporat dengan harapan stakeholdersnya. Pilpres tahun 2019
dikhawatirkan akan tercoreng oleh maraknya ujaran kebencian dan isu SARA. Hal itu terjadi
karena ada sebagian orang yang memanfaatkan ujaran kebencian dan isu SARA sebagai salah
satu model kampanye hitam untuk menyerang lawan politiknya. Isu tersebut akan digunakan
berbagai pihak untuk mengusung diri maupun menjatuhkan pihak lain, baik secara konvesional
maupun melalui media sosial.
Isu SARA berpotensi menjadi salah satu bahan kampanye dalam Pilpres tahun 2019
yang akan datang. Isu SARA yang sering kali digunakan dalam kontes politik lebih kepada
mengasosiasikan sosok tertentu dengan fakta yang tidak sebenarnya, dan sejauh asosiasi itu
dibuat tidak jarang hanya karena berbeda kepercayaan, seorang calon disebut sebagai orang
yang tidak beragama. Mereka tidak peduli dampak negatif dari ujaran kebencian yang
disebarnya terhadap publik. Publik menjadi terpecah dan rentan bermusuhan. Peran partai
politik sangat besar untuk mengantisipasinya.
Berkaca pada kasus yang terjadi pada Pilkada DKI 2017, isu penistaan agama yang
ditujukan kepada Ahok dinilai efektif untuk menurunkan jumlah pendukungnya. Isu tersebut
mampu memobilisasi massa Islam untuk melakukan Aksi Bela Islam. Aksi itu tidak hanya
berlangsung di DKI saja, namun telah menjadi isu nasional yang sempat menimbulkan pro dan
kontra. Hal ini menunjukkan bahwa isu SARA menjadi isu sensitif yang potensial untuk
menjatuhkan lawan dan memecah belah bangsa. Isu agama rawan ditunggangi dengan
kepentingan politik tertentu, oleh karena itu sebagai generasi muda harus mampu menerima
informasi secara lebih selektif terhadap informasi yang didapatkan, tidak semua informasi yang
diterima merupakan fakta yang sebenarnya. Informasi yang diterima adalah isu yang
disebarkan oleh kelompok kepentingan untuk mencapai tujuan tertentu. Peran perspektif
pemuda termasuk mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dalam menyikapi isu SARA
sangat dibutuhkan, dan saat ini Indonesia menghadapi Pilpres 2019.
Mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran
di Perguruan Tinggi dengan batas usia sekitar 18 – 30 tahun. Mahasiswa merupakan suatu
kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan Perguruan
Tinggi. Mahasiswa merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan
masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.
Peran dan fungsi mahasiswa, dapat sebagai iron stock; agent of change; social control;
moral force dan guardian of value. Hal ini karena mahasiswa memiliki kemampuan dan juga
kesempatan untuk belajar di Perguruan Tinggi, sehingga dapat digolongkan dalam golongan
intelegensia. Dengan memiliki kesempatan yang ada, mahasiswa diharapkan kelak bisa
bertindak sebagai pemimpin yang mampu serta terampil, baik sebagai pemimpin masyarakat
maupun dalam dunia kerja nantinya; dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses
modernisasi dalam kehidupan mayarakat. Dari latarbelakang di atas yang melandasi adanya
seminar dan diskusi tentang sikap terhadap isu perpecahan dan rasisme di kalangan mahasiswa.
C. Tujuan Kegiatan
1. Menyambung tali silaturahmi antar mahasiswa di seluruh Indonesia
2. Mengetahui jenis, bentuk dari isu SARA yang berkembang pada Pilpres 2019
3. Mendiskusikan perspektif dan upaya mahasiswa terhadap isu SARA yang berkembang pada
Pilpres 2019
4. Menyampaikan harapan mahasiswa terhadap kondisi persatuan dan kesatuan Bangsa
Indonesia pasca Pemilu 2019.
D. Jadwal dan Tempat Pelaksanaan
Hari :
Tanggal :
Jam :
Tempat :
Tanggal
Pukul Kegiatan Penanggung Jawab
1. Registrasi Panitia
2. Pra Acara Sie Acara
Pembukaan Panitia
1. Menyanyikan Lagu Indonesia
Raya
2. Pembacaan Ayat Suci AlQuran
3.Sambutan
Coffe Break Panitia
Seminar
Diskusi
Tanya Jawab
Ishoma Panitia
Paralel Sesion Panitia
Penutup Panitia

E. Peserta
Jumlah peserta kegiatan ini sekitar . Peserta seminar nasional adalah:
1. Dosen
2. Mahasiswa S1, S2, dan S3,
4. Praktisi
5. Birokrat,
6. Tokoh Masyarakat dan pemerhati masalah persatuan dan kesatuan
7. Pengamat dan peneliti masalah persatuan dan kesatuan
F. Penyelenggara
Penyelenggara kegiatan ini adalah .
G. Perencanaan Anggaran

HARGA
No. URAIAN JUMLAH JUMLAH JUMLAH
SATUAN

I KESEKRETARIATAN
1. Biaya Kertas Untuk Dokumentasi 1 Rim 20.000,00 20.000,00
2. Biaya Fotocopy Proposal 10 Lbr 40 Expl 125,00 50.000,00
3. Biaya Map 40 Buah 500,00 20.000,00
4. Biaya Stempel KPLI + Panitia 2 Buah 20.000,00 40.000,00
5. Biaya transportasi panitia 1 LS 150.000,00 150.000,00
280.000,00

II KONSUMSI
1. Makan siang peserta dan panitia 200 orang 1 kali 10.000,00 2.000.000,00
2. Snack peserta dan panitia 200 kotak 2 kali 5.000,00 2.000.000,00
4.000.000,00

III PUBLIKASI DAN DOKUMENTASI


1. Biaya cuci cetak 60.000,00 120.000,00
2. Biaya pembuatan spanduk jalan 4 lembar 5 Meter 25.000,00 500.000,00
3. Biaya izin pemasangan spanduk 5 hari 5 spanduk 25.000,00 625.000,00
4. Iklan seminar di surat kabar 5 hari 50.000,00 250.000,00
5. Iklan seminar di radio 5 kali 5 hari 10.000,00 250.000,00
1.745.000,00

IV TRANSPORTASI & AKOMODASI TEAM PEMBICARA


kali
1. Tiket pesawat 2 3 orang 465.000,00 2.790.000,00
(PP)
2. Honor 3 Orang 750.000,00 2.250.000,00
5.040.000,00

V PERLENGKAPAN SEMINAR
1. Biaya map exclusive 200 buah 10.000,00 2.000.000,00
2. Block Note 200 buah 2.000,00 400.000,00
3. Ballpoint 200 buah 1.000,00 200.000,00
4. Penggandaan materi seminar 200 Expl 50 Lbr 125,00 1.250.000,00
5. Sertifikat peserta seminar 200 Lbr 2.000,00 400.000,00
6. Kartu Undangan Seminar 200 Lbr 1.000,00 200.000,00
4.450.000,00
REKAPITULASI

I KESEKRETARIATAN 280.000,00
II KONSUMSI 4.000.000,00
III PUBLIKASI DAN DOKUMENTASI 1.745.000,00
IV TRANSPORTASI & AKOMODASI TEAM PEMBICARA 5.040.000,00
V PERLENGKAPAN SEMINAR 4.450.000,00
TOTAL SELURUH BIAYA 15.515.000,00

KET :

Fasilitas yang disediakan oleh pihak Pertamina :

 Gedung Full AC kapasitas 500 orang


 Peralatan audio visual untuk seminar ( Infocus dan sound system )
 Komputer dan aksesorisnya
 Penginapan, Konsumsi & Transportasi pembicara selama di Palembang

H. Penutup
Demikianlah Term Of Reference tentang kegiatan Seminar Nasional dan Diskusi tentang
Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia ini dibuat semoga dapat menjadi bahan
pertimbangan sebagaimana mestinya.