Anda di halaman 1dari 17

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4 (EMPAT)
FERNANDO TARIGAN (5193331005)
YANTI DAMELIA (5192131006)
ROBI ADITIA GULTOM (5192431007)
ISWANDI GIRSANG (5193131020)
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumWr. Wb.

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan

beribu-ribu nikmat kepada kita umatnya. Rahmat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada

junjungan kita, pemimpin akhir zaman yang sangat dipanuti oleh pengikutnya yakni Nabi

Muhammad SAW. “ FILSAFAT PENDIDIKAN ” ini sengaja di bahas karena sangat penting untuk kita

khususnya sebagai mahasiswa yang ingin lebih mengenal mengenai filsafat pendidikan.

Selanjutnya, kami kelompok 4 mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

memberikan pengarahan-pengarahan sehingga kami kelompok 4 dapat menyelesaikan makalah ini

dengan tepat waktu. Tidak lupa juga kepada Ibu dosen dan teman-teman yang lain untuk

memberikan sarannya kepada penyusun agar penyusunan makalah ini lebih baik lagi.

Demikian, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya semua

yang membaca makalah ini.

Wassallamu’alaikum Wr. Wb.

Medan,Agustus 2019

Disusun

Kelompok 4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….....i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………......ii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………...........1

a. Latar Belakang ………………………………………………………………………1

b. Rumusan Masalah …………………………………………………………………..1

c. Tujuan ………………………………………………………....................................1

BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………………3

a. Pengertian Filsafat Pendidikan ……………………………………………................3

b. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan …………………………………………………4

c. Filsafat Pendidikan sebagai Suatu Sistem …………………………………………7

d. Subtansi Filsafat Pendidikan ………………………………………………………...9

e. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan ……………………………………10

BAB III PENUTUP …………………………………………………………………. …13

a. Kesimpulan ……………………………………………………………………….13

b. Saran ………………………………………………………………………………..13

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….. ... 14


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar BelakangLatar A

Pada dasarnya manusia sebagai makhluk hidup berpikir dan selalu berusaha untuk mengetahui

segala sesuatu, tidak mau menerima begitu saja apa adanya sesuatu itu, selalu ingin tahu apa yang

ada dibalik yang dilihat dan diamati. Segala sesuatu yang dilihatnya, dialaminya, dan gejala yang

terjadi di lingkungannya selalu dipertanyakan dan dianalisis atau dikaji. Ada tiga hal yang mendorong

manusia untuk berfilsafat yaitu keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan. Berfilsafat

kerap kali didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat

berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan

tak terbatas.

Filsafat memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada tiga

peran utama yang dimiliki yaitu sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing ( Jan Hendrik Rapar

dalam Diktat Filsafat Pendidikan). Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi

manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu

menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita

kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan.

organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah

pendidikan.

Filsafat pendidikan tidak akan terlepas dari kajian Ilmu Filsafat. Filsafat pendidikan

merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat

karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi
pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak

dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh

sains pendidikan. Dalam tulisan ini akan membahas hubungan antara filsafat dengan filsafat

pendidikan agar lebih memudahkan pembaca dalam memahami keterkaitan antara keduanya.

b. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian filssafat pendidikan ?

2. Bagaimana ruang lingkup filsafat pendidikan?

3. Bagaimana pendidikan filsafat pendidikan sebagai suatu sistem?

4. Bagaimana subtansi filsafat pendidikan?

5. Bagaimana hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan?

c. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian filsafat pendidikan.

2. Untuk mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan.

3. Untuk mengetahui pendidikan filsafat pendidikan sebagai suatu sistem.

4. Untuk mengetahui subtansi filsafat pendidikan.

5. Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat adalah proses pencarian kebenaran dengan cara menelusuri hakikat dan sumber
kebenaran secara sistematis, logis, kritis, rasional, dan spekulatif. Alat yang digunakan untuk mencari
kebenaran adalah akal yang merupakan sumber utama dalam berfikir. Dengan demikian, kebenaran
filosofis adalah kebenaran berfikir rasional, logis, sistematis, kritis, radikal dan universal. Kajian
utama filsafat berkaitan dengan masalah ilmu pengetahuan dengan memikirkan hakikat
pengetahuan, dan hakikat keberadaan segala sesuatu. Kajiannya mengarahkan diri pada dasar-dasar
pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran. Hakikat
filsafat memfokuskan pada batas-batas penjajahan ilmu yang dilengkapi perspektif epistemologis
tentang sistem berfikir dan struktur pengetahuan ilmiah. Penyelidikan filosofis akan terus bekerja
secara radikal sampai dengan ditemukannya jawaban masalah yang dikajinya. Filsafat terus bekerja
meskipun ilmu pengetahuan telah berhenti melakukan penyelidikan. Filsafat tidak dimiliki oleh ilmu
pengetahuan karena didalamnya terdapat sistem kerja yang menyeluruh, mendasar, praduga yang
logis, rasional, dan spekulatif.

Pendidikan merupakan proses mendidik, membina, mengendalikan, mengawasi,


memengaruhi, dan mentransmisikan ilmu pengetahuan yang dilaksanakan oleh para pendidik
kepada anak didik untuk membebaskan kebodohan, meningkatkan pengetahuan, dan membentuk
kepribadian yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Pendidikan juga merupakan
usaha dan upaya para pendidik yang bekerja secara interaktif dengan para peserta didik untuk
meningkatkan dan mengembangkan serta memajukan kecerdasan dan keterampilan semua orang
yang terlibat dalam pendidikan.

Jadi filsafat pendidikan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat pendidikan dan
pelaksanaannya. Pelaksanaan pendidikan dilakukan dengan merujuk pada tujuan pendidikan yang
telah dirumuskan sebelumnya. Dengan demikian, proses dan tujuan yang hendak dicapai oleh
pendidikan merupakan hakikat pendidikan itu sendiri, artinya perjalanan pendidikan bergantung
pada tujuannya. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan merumuskan berbagai metode, strategi, cara
yang akan diterapkan dalam kependidikan, dan proses pembelajaran. Kemudian, disiapkan pula alat-
alat pendidikan, sarana dan prasarana yang memperkuat dan mempercepat tercapainya tujuan
tersebut.

B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan

Ruang lingkup filsafat pendidikan adalah sebagai berikut :

1. Pendidik
Para pendidik adalah guru, orang tua, tokoh masyarakat, dan siapa saja yang memfungsikan
dirinya untuk mendidik. Siapa saja dapat menjadi pendidik dan melakuakn upaya untuk mendidik
secara formal maupun nonformal. Para pendidik haruslah orang yang patut diteladani. Orang yang
membina, mengarahkan, menuntun, dan mengembangkan minat, serta bakat anak didik, agar tujuan
pendidikan tercapai dengan baik. Para pendidik adalah subjek yang melaksanakan pendidikan.
Pendidik mempunyai peran penting untuk berlangsungnya pendidikan. Baik atau tidaknya pendidik
berpengaruh besar terhadap hasil pendidikan. Para pendidik memikul tanggung jawab yang berat
untuk memajukan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, Negara bertanggung jawab untuk
meningkatkan kinerja para pendidik melalui berbagi peningkatan, misalnya peningkatan
kesejahteraan para pendidik, menaikkan tunjangan fungsional para pendidik, membantu dana
pendidikan lanjutan hingga meraih galar doctor, dna memberikan beasiswa untuk berbagai
penelitian.

2. Murid atau anak didik

Anak didik secara filosofis merupakan objek para pendidik dalam melakukan tindakan yang
bersifat mendidik. Dikaji dari beberapa segi, seperti usia anak didik, kondisi ekonomi keluarga, minat
dan bakat anak didik, serta tingkat intelegensinya. Dengan cara ini, tindakan pendidik akan
mengutamakan fleksibilitas dalam mendidik. Anak didik merupakan subjek pendidikan, yaitu orang
yang menjalankan dan mengamalkan materi pendidikan yang diberikan oleh pendidik.
Perkembangan anak didik harus memperoleh perhatian serius karena semua anak didik mengalami
masa-masa pertumbuhan dan perkembangan, baik secara lahiriah maupun batiniah, secara fisikal
maupun mentalitasnya. Dengan demikian, agar pendidikan dapat berhasil dengan sebaik –baiknya,
jalan pendidikan yang ditempuh harus sesuai dengan perkembangan anak didik. Anak didik, metode,
pendidikan, alat, media pendidikan, para pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan,
evaluasi pendidikan, dan proses belajar mengajar merupakan ruang lingkup kajian filsafat pendidikan
dalam perspektif ontologi, epistomologi, dan aksiologi.

3. Materi pendidikan

Materi pendidikan yaitu bahan-bahan atau pengalaman-pengalaman belajar yang disusun


sedemikian rupa (dengan susunan yang lazim dan logis) untuk disajikan atau disampaikan kepada
anak didik. Materi pendidikan sebaiknya dirumuskan dari kumpulan pengalaman dan proses
rasionalisasi yang juga dilengkapi oleh muatan kultural masyarakat yang hidup dari zaman ke zaman
sehingga materi pendidikan yang diberikan kepada anak didik menjadi hidup suatu bangsa dan
Negara.

Secara filosofis, filsafat pendidikan menyuguhkan materi-materi kependidikan yang


berhubungan dengan hal-hal berikut :

a. Segala sesuatu yang bersifat metafisik yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

b. Alam semesta yang fisikal dan terbentuk oleh hokum perubahan.

c. Segala sesuatu yang rasional dan irasional.

d. Semua yang bersifat natural dan supranatural.

e. Akal, rasa, pikiran, intuisi, dan persepsi.

f. Hakikat yang terbatas dan yang tidak terbatas.

g. Teori pengetahuan pada semua keberaddan pengetahuan manusia yang objektif dan subjektif.

h. Fungsi dan manfaat segala sesuatu yang didambakan manusia atau dihindarinya.

i. Kebenaran rasional tanpa batas sehingga berlaku pemahaman dialektis terhadap berbagai
penemuan hasil pemikiran manusia. Tesis yang melahirkan antitetis dan terciptanya sintesis.

4. Perbuatan mendidik

Perbuatan mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilakukan
oleh pendidik sewaktu menghadapi atau mengasuh anak didiknya yang disebut dengan tahzib.
Mendidik, artinya menigkatkan pemahaman anak didik tentang kehidupan, mendalami pemahaman
terhadap ilmu pengetahuan dan manfaatnya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata dan sebagai
pendangan hidup. Filsafat pendidikan mengkaji berbagai faktor yang menjadi sebab dan akibat
manusia membutuhkan ilmu pengetahuan, baik ilmu yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat
batiniah.

5. Metode pendidikan

Metode pendidikan yaitu strategi yang relevan yang dilakukan oleh dunia pendidikan pada saat
menyampaikan meteri pendidikan kepada anak didik. Metode berfungsi mengolah, menyusun, dan
menyajikan materi pendidikan, agar materi pendidikan tersebut dapat dengan mudah diterima dan
dimiliki oleh anak didik.

6. Evaluasi pendidikan dan Tujuan pendidikan

Evaluasi yaitu sistem penilaian yang diterapkan kepada anak didik, untuk mengetahui
keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan. Evaluasi pendidikan sangat bergantung pada tujuan
pendidikan. Jika tujuannya membentuk siswa yang kreatif, cerdas, beriman, dan bertakwa, sistem
evaluasi yang dioperasionalkan harus mengarah pada tujuan yang dimaksudkan. Dengan demikian,
pendidikan yang dilaksanakan benar-benar memberikan hasil yang aplikatif bagi kehidupan siswa
dan manfaat yang besar pada masa depan.

7. Alat-alat pendidikan dan Lingkungan pendidikan

Alat-alat pendidikan dan lingkungan pendidikan merupakan fasilitas yang digunakan untuk
mendukung terlaksananya pendidikan. Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang terdapat
di sekitar lingkungan pendidikan yang mendukung terealisasinya pendidikan.

Filsafat pendidikan mengkaji sistem yang didalamnya terdapat berbagai komponen


pendidikan, yaitu : (1) para pendidik, (2) anak didik, (3) lembaga pendidikan, (4) kurikulum dan mata
kuliah sebagai materi ilmu yang disampaikan kepada anak didik, (5) hal dan kewajiban para pendidik
dan anak didik, (6) tugas dan fungsi pendidikan.

Tujuan dipelajarinya filsafat pendidikan, yaitu menciptakan manusia yang beriman dan
bertakwa. Adapun kegunaan filsafat pendidikan, yaitu :

1. Menambah wawasan keilmuan yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya
kepada anak didik.

2. Menguatkan iman dan memperkaya pandangan anak didik tentang ajaran-ajaran agama yang
menjadi sumber kehidupan manusia dan sumber ilmu pengetahuan.

3. Memperluas penafsiran dan memperdalam pemaknaan berbagai hal yang menyangkut ilmu
pengetahuan.

4. Meyakinkan anak didik bahwa norma-norma kependidikan ditujukan untuk kemaslahatan.

5. Memberikan keterampilan hidup yang fungsional.

6. Mencerdaskan anak didik.


7. Membentuk akhlak mulia.

8. Membentuk manusia yang memiliki kepedulian sosial, menegakkan amar makruf nahi munkar.

9. Mengembangkan lembaga pendidikan.

10. Mengkaji dan merumuskan teori yang berkaitan dengan pendidikan.

11. Mengembangkan teori dan menguji teori dengan paradigma pendidikan.

12. Mengkaji berbagai teori pendidikan barat dengan pendekatan filsafat pendidikan.

13. Membangun citra lembaga pendidikan yang kharismatik.

14. Menyiapkan generasi muda yang mumpuni dalam ilmu pendidikan.

15. Membuktikan berbagai ide dasar ilmu pengetahuan yang terdapat dalam berbagai sumber ke
dalam realitas kehidupan ilmiah.

Filsafat pendidikan berusaha mencerahkan situasi pendidikan sehingga hubungan antara


unsur-unsur dasar dalam pendidikan menjadi jelas, dan orang yang mempelajarinya pun
memperoleh pegangan yang berguna untuk praktik pendidikan. Unsur-unsur dasar ini adalah anak
didik, pendidik, tujuan pendidikan, metode pendidikan, dan lain-lain. Lapangan filsafat pendidikan
adalah lapangan pergaulan, khususnya pergaulan antara orang dewasa dengan anak dalam masa
pertumbuhannya.

Selain hal tersebut, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah sebgai berikut :

1. Filsafat pendidikan tentang Tuhan sebagai pemilik ilmu dan pendidik semua makhluk ciptaan-
Nya.

2. Filsafat pendidikan tentang manusia sebagai subjek dan objek pendidikan.

3. Filsafat pendidikan tentang alam sebagai tempat tinggal manusia dan tempat manusia, serta
seluruh makhluk duniawi melanjutkan kehidupan.

C. Filsafat Pendidikan sebagai Suatu Sistem


Filsafat ditandai dengan pemunculan atau lahirnya teori – teori atau sisten pemikiran yang
dihasilkan oleh para pemikir atau filsuf besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas,
Spinoza, Hegel, Karlmax, August Comte (Surajiyo, 2008,5). Filsafat pendidikan sebagai mana cabang
filsafat lainnya mencakup sekurang – kurangnya tiga cabang utama dari filsafat yakni, ontologi,
epistemologi, dan aksiologi. Berikut penjelasan dari ketiga cabang tersebut :

a. Ontologi pendidikan, yaitu subtansi pendidikan dalam semua perspektifnya, sebagaimana


melihat pendidikan dari tujuan esensialnya sebagai pencapaian maksimal dari pendidikan.

b. Epistemologi pendidikan, yaitu menyelidiki sumber ajaran atau prinsip yang terdapat dalam
pendidikan serta dasar atau asas yang digunakan untuk pendidikan yang dimaksudkan. Berbagai
teori pendidikan dikaji secara mendalam sehingga latar belakang kelahirannya diketahui secara
aplikatif berkaitan dengan pendidikan.

c. Aksiologi pendidikan, yaitu penyelidikan mengenai kegunaan fundamental dalam pendidikan,


baik secara jasmani maupun rohani, dampak pendidikan secara fungsional terhadap kehidupan
manusia, terhadap akal dan hati semua anak didik, aspek-aspek yang menyangkut fungsi nilai,
estetika, dan tujuan pragmatis pendidikan terkaji secara mendalam, radikal, logis dan sistematis.

Filsafat pendidikan terwujud dengan menarik garis linier antara filsafat dan pendidikan.
Dalam hal ini filsafat seolah – olah dijabarkan secara langsung kedalam pendidikan dengan maksud
untuk menghasilkan konsep pendidikan yang berasal dari satu cabang atau aliran filsafat, misalnya
idealisme, adalah sama dengan hal – hal yang bersifat kerohanian ataupun yang lain yang sejenis
dengan itu, maka pendidikan yang tersusun atas idea dan idealisme, maka tujuan dari pada
pendidikan itu adalah mengutamakan perkembangan aspek – aspek spiritual dan kerohanian pada
peserta didik.

Selain pendekatan linier, filsafat pendidikan dapar disusun dengan berpangkal kepada
pendekatan tertentu dari pada pendidikan itu sendiri. Misalnya berdasarkan suatu defenisi,
pendidikan yakni, pendidikan merupakan pemberdayaan (empowerment) sumber data manusia.
Maka pendidikan adalah memberi kebebasan kepada seseorang untuk mengembangkan dirinya
sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kekakuan harus ditembus dengan memberikan
kebebasan pada peserta didik, namun kebebasan dimaksud bukan tanpa batas, akan tetapi
kebebasan yang bertanggung jawab. Konsep ini memunculkan pandangan bahwa yang membangun
pengetahuan dan pengalaman pada diri seseorang adalah orang itu sendiri, dengan demikian
timbulah teori yang memberi kesempatan pada seseorang untuk membangun pengetahuannya dan
pengalamannya sendiri.
Pendekatan lain yang akan dikembangkan adalah ketika pendidikan itu menghadapi masalah
atau keadaan yang tidak seperti yang diharapkan,pasti memerlukan jawaban yang tidak semata –
mata berada dalam ruang lingkup pendidikan. Misalnya tentang manusia seutuhnya, untuk
memperjelas konsep ini memerlukan ilmu pengetahuan yang lain, jawaban itu tidak dapat seketika
secara spekulatif seperti halnya dalam filsafat. Kemungkinan – kemungkinan tersebut dengan
mengingat tujuan pendidikan bila dikembangkan secara proporsional akan sangat memadai dalam
mengisi fundasi – fundasi ilmu pendidikan, sebagai bagian utama dalam ilmu pendidikan umumnya.

D. Subtansi Filsafat Pendidikan

Kedudukan filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai bagian fondasi-
fondasi pendidikan. Berati bahwa filsafat pendidikan perlu mengetengahkan tentang konsep-konsep
dasar pendidikan. Pancasila dan UUD 1945 dan undang-undang pendidikan merupakan dasar atau
landasan terhadap pelaksanaan pendidikan. Subtansi filsafat pendidikan adalah pengkajian dan
pelaksanaan bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk membina dan mengembangkan harkat
dan martabat manusia sebagai manusia agar hidup berbudi luhur dan berakhlak mulia serta cerdas.
Jadi, fokus pelaksanaan pendidikan betul-betul diarahkan dan dinuansai oleh nilai-nilai Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Zanty Arbi (1988) filsafat pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Menginspirasikan

Menginspirasikan adalah member inspirasi pada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu
dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idenya bagaimana
pendidikan itu, kemana diarahakan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan
bagaimana cara pendidik serta peran pendidik.

2. Menganalisis

Menganalisis adalah memeriksa dengan teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui
secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar penyusunan konsep pendidikan secara utuh
tidak terjadi tumpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demikian ide-ide yang kompleks
bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat
ditentukan dengan cepat.

3. Mendeskriptifkan
Mendeskriptifkan adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik
melalui filsafat pendidikan. Yang dijelaskan bisa berupa hakikat manusia bila dibandingkan dengan
makhluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan ; proses perkembangan itu
sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-
batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas, target-target pendidikan bila dipandang
perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat
anak-anak.

4. Menginvestigasi

Mengivestigasi adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.
Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatu konsep atau teori pendidikan untuk
dipraktikkan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan dilapangan
atau melalui penelitian-penelitan. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar
pengetahuan saja. Selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat
pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasi, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan
sebagai bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.

Nuansa serta tekanan permasalahan dari waktu ke waktu dapat berbeda, sehingga perlu
mendapatkan perhatian khusus dalam telaah pendidikan serta filsafat pendidikan. Kalau dewasa ini
persoalan yang selalu nampak adalah berkaitan dengan karakter atau perilaku manusia yang sudah
tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Mulia,
misalnya, maka sudah sewajarnyalah bila studi tentang filsafat pendidikan dan praksis serta praktek
pendidikan memperhatikan substansi dan praktek pelaksanaan pendidikan. Jadi, dalam hal ini telah
sepatutnya filsafat pendidikan, praksis pendidikan, dan praktek pendidikan mengangkat topic
tersebut sebagai substansi dan materi kajiannya.

E. Hubungan Filsafat dan Filsafat Pendidikan

Filsafat yang dijadikan pendangan hidup oleh suatu masayrakat atau bangsa merupakan asas
dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek
pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut suatu
bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan
mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku yang didasarkan pada dasar-dasar filsaft yang
dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin upaya
pendidikan dan proses tersebut efektif, dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan ilmiah sebagai
asas normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan (Mohammad Noor Syam , 1988:39) dalam
Jalaluddin dan Abdullah ( 2014:20))

Menurut John Dewey dalam Jalaluddin dan Abdullah (2014:20) dalam Jalaluddin dan Abdullah
(2014:20) , filsafat merupakan teori umum, sebagai landasan dari semua pemikiran umum mengenai
pendidikan. Dalam kaitan ini, Hasan Langgulung berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah
penerapan metode dan pandangan filsafat dalam bidang pengalaman manusia yang disebutkan
pendidikan (Hasan Langgulung, 1988:40).

Selanjutnya Al-syaibani dalm Jalaluddin dan Abdullah (2014:20) secara terperinci menjelaskan
bahwa filsafat pendidikan merupakan usaha mencari konsep-konsep diantara gejala yang
bermacam-macam meliputi (1) proses pendidikan sebagai rancangan terpadu dan menyeluruh, (2)
menjelaskan berbagai makna yang mendasar tentang semua istilah pendidikan, (3) pokok-pokok
yang menjadi dasar dari konsep dasar pendidikan dalam kaitannya dengan bidang kehidupan
manusia.

Hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sekali, supaya sebab
dia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivittas
pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan,
menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi,
terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman manusia.

Filsafat menetapkan ide-ide dan idealisme, dan pendidikan merupakan usaha dalam
merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, bahkan membina
kepribadian manusia.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan fungsional antara filsafat dan teori
pendidikan adalah ;

1. Filsafat dalam arti filosofis merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam memcahkan
problematika pendidikan dan menyusun teori – teori pendidikan oleh parah ahli.

2. Filsafat berfungsi memberi arag bagi teroi pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat
tertentu yang memiliki relevansi dengan kebutuhan yang nyata.

3. Filsafat dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan
arah dalam mengembangkan teori – teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan (Jalaluddin, 1997,
23).
Dapat disimpulkan bahwa antara filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat suatu hubungan
yang erat sekali dan tidak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting
dalam suatu sistem pendidikan, karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi
usaha – usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem
pendidikan.

Filsafat pendidikan sudah seharusnya dipelajri dan didalami oleh setiap orang yang
memperdalam ilmu pendidikan, terlebih mereka yang memilih profesi sebagai tenaga pendidik. Ada
beberapa alasan yang mendasarinya, antara lain ;

1. Adanya problema – problema pendidikan dari zaman ke zaman yang menjadi perhatian para ahli
masing – masing. Pendidikan adalah usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan lahir dan
batin masyarakat dan bangsa. Banyak tulisan yang dihasilkan oleh ahli pikir, dan tidak jarang gagasan
ahli yang satu mempengaruhi gagasan ahli – ahli yang lain. Corak gagasan yang berlandaskan filsafat
sering timbul dari ahli – ahli pikir ini. Hal ini masuk dalam lapangan filsafat pendidikan.

2. Dapatlah diperkirakan bahwa bagi barang siapa yang mempelajari filsafat pendidikan dapat
mempunyai pandangan – pandangan yang jangkauannya melampaui hal – hal yang diketemukan
secara eksperimental dan empirik. Maka dari itu filsafat pendidikan dapat diharapkan merupakan
bekal untuk meninjau pendidikan beserta masalah – masalahnya secara kritis.

3. Dapat terpenuhi tuntutan intelektual dan akademik dengan landasan asas bahwa berfilsafat
adalah berpikir logis yang runtut dan kritis, maka berfilsafat oendidikan mempunyai kemampuan
semacam itu. Oleh karena itu diharapkan dapat mempunyai pengaruh terhadap terbentuknya
pribadi pendidik yang baik. Maka mempelajari filsafat pendidikan itu mengandung optimism dan
menggembirakan.

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Bahwa filsafat pendidikan adalah aktivittas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat
sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan, dan
menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Filsafat pendidikan mempunyai tiga cabang
utama yaitu ontologi, espistomologi, dan aksiologi. Filsafat penddikan memiliki ruang lingkup
maupun tujuannya. Praktek pelaksanaan pendidikan harus berlandaskan nilai dan budaya jangan
mengarah pada terbentuknya pengelompokkan praktek hidup dan kehidupan masyarakat.
Kedudukan filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai bagian fondasi-fondasi
pendidikan dan filsafat pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu sistem
pendidikan, karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha – usaha
perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.

b. Saran

Menurut kelompok 4 mahasiswa harus mempelajari dan memahami filsafat pendidikan


dengan baik. Jadikanlah filsafat sebagai penentu terhadap penentuan hidup dan pegangan
fundamental dalam memecahkan masalah politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya yang
terjadi dalam masyarakat yang setiap saat berubah dan berkembang dalam konteks akselerasi dan
modernisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2014. Filsafat Pendidikan. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Purba, Edward dan Yusnadi. 2015. Filsafat Pendidikan. Medan : Unimed Press.

Tafsir. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung : CV Pustaka Setia.

http://vie-biology.blogspot.ae/2011/03/filsafat –pendidikan.html?m=1. (23-02-2016:13.28)