Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gizi, immunitas dan vaksinasi ketiganya memiliki keterkaitan. Contoh hubungan
gizi dengan immunitas, salah satunya yaitu peran vitamin dan mineral sebagai antioksidan
yang mampu memperkuat sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun). Peran vitamin
Abanyak pada pemeliharaan sel epitel, dimana sel epitel merupakan salah satu jaringan
tubuh yang terlibatdi dalam fungsi imunitas non-spesifik. Vitamin E atau α-tokoferol
mempunyai peran penting di membrane eritrosit dan lipoprotein plasma, vitamin ini
mampu mempertahankan integritas membran sel karenavitamin E mempunyai cincin fenol
yang mampu memberikan ion hidrogennya kepada radikal bebas.Demikian pula dengan
vitamin C sebagai donor elektron sehingga cepat memutus rantai reaksi SOR(Spesies
Oksigen Reaktif) dan SNR (Spesies Nitrogen Reaktif). Selenium merupakan mineral
kelumit yangpenting untuk sintesis protein dan aktivitas enzim glutation peroksidase
(GSH-PX). Selenium mempunyaiperanan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida
yang terbentuk di dalam tubuh menjadi ikatanyang tidak bersifat toksik. Maka karena itu
kecukupan zat gizi terutama vitamin dan mineral sangatdiperlukan dalam
mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang optimal sebagai upaya preventif agar selalu
sehat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan immunitas ?
2. Apa saja bahan-bahan makanan yang berkaitan dengan modulasi sistem imun ?
3. Bagaimanakahhubungan status gizi dengan immunitas ?
4. Apakah yang dimaksud denganvaksinasi ?
5. Apa saja jenis-jenis vaksinasi ?
6. Bagaimanakah hubungan gizi dan immunitas pada vaksinasi ?

1
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari immuntitas.
2. Untuk mengetahui bahan-bahan makanan yang berkaitan dengan modulasi sistem
imun.
3. Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan immunitas.
4. Untuk mengetahui pengertian vaksinasi.
5. Untuk mengetahui jenis-jenis vaksinasi.
6. Untuk mengetahui gizi dan immunitas pada vaksinasi.

1.4 Manfaat
Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca atau pun pendengar dapat
mengetahui hubungan antara gizi dan immunitas pada vaksinasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Immunitas
Sistem imun (immune system) atau sistem kekebalan tubuh adalah kemampuan
tubuh untuk melawan infeksi, meniadakan kerja toksin dan faktor virulen lainnya yang
bersifat antigenik dan imunogenik. Antigen sendiri adalah suatu bahan atau senyawa yang
dapat merangsang pembentukan antibodi. Antigen dapat berupa protein, lemak,
polisakarida, asam nukleat, lipopolisakarida, lipoprotein dan lain-lain. Sementara itu
antigenik adalah sifatsuatu senyawa yang mampu merangsangpembentukan antibodi
spesifik terhadapsenyawa tersebut. Sedangkan imunogen yaitusenyawa yang dapat
merangsang pembentukan kekebalan/imunitas, dan imunogenik adalah sifat senyawa yang
dapat merangsang pembentukan antibodi spesifikyang bersifat protektif dan peningkatan
kekebalan seluler.Respon terhadap antigen terdiri dari :
a. Fisik atau mekanik : kulit, selaput lendir, silia, batuk, dan bersin.
b. Biokimia dan faktor terlarut
− Biokimia : asam lambung, lisozim, laktoferin, dan asam neuraminic.
− Humoral : komplemen, interferon, dan CRP.
c. Selular
− Sel fagosit : monosit, makrofag, neutrophil, dan eosinophil.
− Sel nul : sel NK dan sel K.
− Sel mediator : Basofil, mastosit, dan trombosit.

Respon imun terhadap benda asing secara garis besar dibagi dalam dua
sistemutama, yaitu innate / non spesifik/bawaan danadaptif/acquired atau imunitas
spesifik.Imunitas adaptif akan bekerja apabila imunitasbawaan (innate) tidak dapat
meniadakaninfeksi dalam waktu dekat/pendek.Selanjutnya, pada saat serangan kedua
bendaasing ke dalam tubuh, sel B dan T memoriakan membantu sistem imun beraksi
lebihcepat. Imunitas bawaan (innate)/non spesifikterdiri dari garis pertahanan epitel,
komponenseluler (makrofag, lekosit polimorfonuklear,natural killer (NK) dan dendritic
cell (DCs)) dankomponen non-seluler dengan molekulmarker/pendeteksi (CRP/C-reactive
protein,serum amiloid protein, complement). Dalambekerja, baik imunitas bawaan
maupunimunitas adaptif tidak dapat dipisah-pisahkan,namun saling melengkapi.

3
2.2 Bahan-Bahan Makanan Yang Berkaitan Dengan Modulasi Sistem Imun

1. Air mineral
Menjaga tubuh agar terhidrasi sangatlah penting. Hal ini menjadi salah satu cara membuang
racun dan bakteri jahat yang ada di tubuh. Selain itu, minum air mineral juga dapat
memperlancar saluran pernapasan. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk mengonsumsi air
mineral 10 hingga 12 gelas per hari untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
2. Bawang Putih
Selain menjadi penyedap rasa, bumbu dapur yang satu ini ternyata memiliki khasiat
antibakteri dan antivirus yang baik bagi tubuh. Hal ini dapat memperkuat sistem kekebalan
tubuh Anda.
Tak hanya itu, bawang putih juga mengandung antioksidan, fosfor, potasium, seng, dan
kalsium. Hal ini pun dapat membantu memperkuat sistem pernapasan dan turut menambah
jumlah sel darah putih dalam darah Anda.
3. Jeruk
Memiliki kadar vitamin C yang tinggi membuat buah ini dianggap sebagai makanan
penjaga sistem kekebalan tubuh terbaik. Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan, sehingga
dapat mencegah penyakit yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan mempercepat
penyembuhan terhadap penyakit-penyakit lainnya.
Selain vitamin C, kandungan yang terdapat pada buah jeruk yaitu serat, kalium,
magnesium, dan kalsium. Hal tersebut merupakan nutrisi penting guna memperkuat tulang,
otot, dan membantu mengelola sistem saraf. Oleh sebab itu, Anda dapat mengonsumsi buah
ini agar sistem kekebalan tubuh dapat terjaga dengan baik.
4. Madu
Manis dan sedapnya madu ternyata tidak hanya terbatas pada rasa saja. Khasiat yang
dihasilkan oleh madu pun banyak dan baik bagi tubuh. Madu mengandung antioksidan
yang dapat membantu meredakan batuk, menjaga agar tenggorokan tidak kering, dan
menyingkirkan dahak.
Selain itu, madu juga berperan dalam menenangkan sistem saraf, mengatur kadar
kolesterol dalam darah, dan tentunya menjaga sistem kekebalan tubuh.
5. Bawang bombay
Kandungan vitamin, garam mineral, magnesium, belerang, sodium dan zat besi yang
terdapat pada salah satu anggota keluarga bawang ini dapat mengatasi berbagai macam

4
permasalahan dalam tubuh. Bawang putih dipercaya dapat membantu mencegah
munculnya diabetes, penyakit jantung, dan masalah pencernaan.
Oleh sebab itu, bawang bombay menjadi salah satu solusi alami dalam memperkuat sistem
kekebalan tubuh anda.
6. Buah-buahan berwarna merah dan sayuran
Warna buah dan sayuran menjadi penanda kandungan apa yang terdapat di dalamnya.
Buah-buahan dan sayuran berwarna merah dipercaya mengandung karoten dan vitamin A.
Hal ini sangat baik bagi sistem kekebalan tubuh. Buah-buahan dan sayuran seperti stroberi,
ceri, semangka, apel merah, bit, tomat dan paprika bersifat antioksidan, yang itu berarti
dengan mengonsumsi buah dan sayuran tersebut, racun dalam tubuh Anda dapat hilang,
dan tubuh anda menjadi kebal terhadap beragam penyakit.
7. Jamur
Jamur yang dapat dikonsumsi memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Tanaman yang satu
ini bersifat antimikroba dan antiviral, serta mengandung potassium. Oleh sebab itu, jamur
dapat mengelola cairan tubuh, membantu menyeimbangkan tekanan darah, mempercepat
metabolisme dan tentunya menjaga sistem kekebalan tubuh.
8. Makanan mengandung vitamin E
Brokoli, kacang almond, bayam, alpukat, kedelai, dan sebagainya, merupakan makanan-
makanan yang mengadung vitamin E. Kandungan vitamin E dalam makanan tersebut
bersifat antioksidan, sehingga dapat merangsang sistem kekebalan tubuh.
9. Makanan mengandung zat besi
Zat besi yang terdapat pada makanan berfungsi untuk menjaga sistem kekebalan tubuh
Anda. Zat besi dipercaya mampu mencegah anemia dan dapat memberi suplai energi pada
tubuh Anda.
Makanan yang memiliki kandungan zat besi yaitu daging merah, ikan laut, sayuran hijau,
dan ayam.

2.3 Hubungan Status Gizi Dengan Immunitas (malnutrisi dan obesitas)


Walaupun ada bukti bahwa kekurangangizi dapat mempengaruhi patogen
(Levander,1997), akan tetapi, pada umumnya dampakkekurangan gizi pada penyakit
infeksidikaitkan dengan menurunnya fungsiimunitas tubuh. Kekurangan energi-
protein,misalnya, antara lain, menyebabkanpenurunan pada proliferasi limposit,
produksisitokin, dan respons antibodi terhadap vaksin(Lesourd, 1997).

5
1. ENERGI DAN PROTEIN
Dampak KEP (zat gizi makro) pada timbulnya penyakit infeksi, terutama pada
bayi dan anak-anak telah diteliti secara luas. Intervensi gizi (energi dan protein) pada
bayi dan anak-anak dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian di Asia dan
Amerika Latin. Berbagai penelitian juga telah secara meyakinkan menunjukkan bahwa
peranan gizi pada penurunan angka kematian dan kematian ini adalah melalui perbaikan
pada fungsi imunitas. Kekurangan energi-protein, misalnya, berkaitan dengan
gangguan imunitas berperantara sel (cell-mediated immunity), fungsi fagosit, sistem
komplemen, sekresi antibodi imunoglobulin A, dan produksi sitokin (Chandra, 1997).
Penelitian pada orang usia lanjut juga menunjukkan fenomena yang sama.
Kekurangan energi-protein dapat mengarah pada imunodefisiensi yang parah pada
orang usia lanjut, yang mempengaruhi tidak hanya imunitas spesifik (B- dan T-
lymphocytes) tetapi juga imunitas nonspesifik (polymorphonuclear dan monosit).
Orang usia lanjut penderita KEP melepaskan lebih sedikit monokin yang menyebabkan
menurunnya rangsangan limposit (Lesourd, 1997). Sebagai konsekuensinya, untuk
merangsang respons imunitas spesifik pada taraf yang memadai, tubuh
mengekspresikan respons fase-akut jangka panjang. Efek ini lebih berat pada orang usia
lanjut karena mobilisasi simpanan zat gizi dalam tubuh kurang efektif pada usia ini
(Klasing, 1988).

2. VITAMIN
a) Vitamin A
Vitamin A secara luas beperan pada fungsi imunitas. Vitamin A sangat
penting untuk memelihara integritas epitel, termasuk epitel usus. Hal ini berkaitan
dengan hambatan fisik terhadap patogen dan imunitas mukosal. pada penelitian efek
status zat gizimikro pada fungsi imunitas NK-cell, Ravaglia dan kawan-kawan
menujukkan bahwa status zat gizi mikro individual (termasuk vitamin A) dapat
mempengaruhi jumlah dan fungsi NK cell pada subyek usia lanjut (Ravaglia et al.,
2000). Selain itu, imunokompeten T cell dapat dipengaruhi oleh kekurangan
vitamin A pada berbagai tingkatan, termasuk limpopoiesis, distribusi, ekspresi, dan
produksi sitokin (Villamor and Fawzi, 2005).
Pemberian vitamin A juga dapat menurunkan episode dan kejadian diare
pada anak-anak ketika dikombinasikan dengan mineral seng (Rahman et al., 2001).
Efek suplementasi vitamin A pada morbiditas anak meliputi penurunan keparahan

6
cacar air yang dapat berkorelasi dengan peningkatan produksi antibodi T-cell-
dependent (Coutsoudis et al., 1991). Oleh karena itu, suplementasi vitamin A
dianjurkan untuk penanganan infeksi cacar air (Beck, 2001).
b) Vitamin E
Vitamin E sering disebut sebagai vitamin antioksidan. Hal ini dikarenakan
perannya untuk menangkal radikal bebas. Karena kemampuannya menahan tekanan
radikal oksidatif ini pula vitamin E disebut sebagai vitamin antipenuaan. Selain
sebagai antioksidan, vitamin E juga dikenal sebagai zat gizi penting untuk
pencegahan penyakit infeksi. Penelitian pada berbagai jenis hewan coba
mengindikasikan bahwa vitamin antioksidan berkaitan dengan peningkatan fungsi
imunitas (Bendich, 1990 dalam Pallast et al., 1999). Lebih spesifik lagi,
suplementasi vitamin E megadosis (melebihi angka kecukupan gizi) memiliki efek
perangsangan pada imunitas humoral dan berperantara sel (Tangerdy et al., 1989
dalam Pallast et al., 1999).
Mekanisme peningkatan fungsi imunitas oleh vitamin E masih belum
seluruhnya dipahami. Dugaan mekanisme tersebut diduga melalui efek langsung
dan tidak langsung (melalui makrofag) vitamin E pada fungsi T-cell. Efek langsung
vitamin E mungkin diperantarai oleh perubahan molekul reseptor membran T-cell
yang diinduksi oleh vitamin E.
c) Vitamin C
Seperti halnya vitamin E, vitamin C juga temasuk vitamin antioksidan.
Sebagai antioksidan, efek vitamin C pada respons imunitas juga sudah banyak
diteliti. Vitamin C berakumulasi (dengan konsentrasi milimol/l) dalam neutrofil,
limposit, dan monosit (Evans et al., 1982), yang mengindikasikan bahwa vitamin C
berperan penting pada fungsi imunitas. Penelitian menunjukkan fungsi pagosit,
proliferasi Tcell, dan produksi sitokin dipengaruhi oleh status vitamin C.
Pada masa infeksi, pagosit teraktivasi menghasilkan agen pengoksidasi
yang memiliki efek antimikrobial. Akan tetapi, itu dilepaskan ke media ektraselular
sehingga membahayakan inang. Untuk menetralisir efek peningkatan oksigen
radikal ini, sel memanfaatkan berbagai mekanisme antikoksidatif, termasuk vitamin
antioksidan seperti vitamin C (Li et al., 2006).

3. MINERAL
a) Selenium (Se)

7
Selenium (Se) adalah suatu zat gizi mikro (trace element) yang sangat
esensial pada sejumlah protein yang berkaitan dengan fungsi enzim, termasuk
glutation peroksidase, glutation reduktase, dan tioredoksin reduktase. Selenoprotein
(ikatan antara Se dan protein) dipercaya memainkan peran penting sebagai enzim
antioksidan (selenosistein) (Beck, 2001).
Selain peran Se dalam fungsi imunitas, kekurangan Se diketahui
mempengaruhi virus patogen. Salah satu contohnya adalah efek kekurangan Se
pada patogenitas coxsackievirus, suatu jenis virus mRNA (Levander, 1997; Beck,
2001, Beck et al., 2003).
b) Seng (Zn)
Asupan seng merupakan faktor penting pada modulasi respons imunitas
berperantara sel. Kekurangan seng berdampak pada penurunan respons
pembentukan antibodi dalam limfa (Chandra and Au, 1980). Kekurangan seng juga
berkaitan dengan respons imunitas yang diindikasikan oleh kuantitas limposit
dalam darah perifer, proliferasi T-lymphocyte, pelepasan IL-2, atau citotoksik
limposit (Keen and Gerswhin, 1990).
Suplemetasi seng pada orang usia lanjut yang kekurangan seng dapat
memperbaiki respons imunitas (Lesourd, 1997). Suplementasi seng bersama-sama
dengan mikromineral lain (selenium dan kuprum) juga menurunkan infeksi
bronchopneumonia dan mempersingkat waktu rawat pasien yang menderita luka
bakar (Berger et al., 1998).

2.4 Pengertian vaksinasi


Vaksinasi adalah imunisasi aktif secara buatan, yaitu sengaja memberikan
antigen yang diperoleh dari agen menular pada tubuh sehingga tanggap kebal dapat
ditingkatkan dan tercapai resistensi terhadap agen menular tersebut. Pemberian
vaksin sudah jelas tujuannya yaitu jika terdapat wabah penyakit, maka seseorang
yang sudah diberikan vaksin penyakit itu tidak akan mengalami sakit apapun atau
menjadi seseorang yang menyalurkan penyakit ini atau jikalau sakit, mereka hanya
mengalami sakit yang ringan saja.
Vaksin adalah produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman
yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang timbulnya
kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Semua vaksin
merupakan produk biologis yang rentan sehingga memerlukan penanganan khusus.
8
Berselang suatu waktu, vaksin akankehilangan potensinya, yaitu kemampuan untuk
memberikan perlindungan terhadap suatu penyakit. Beberapa situasi yang
mempengaruhi vaksin antara lain: pengaruh kelembaban (humidity effect).
Kelembaban hanya berpengaruh terhadap vaksin yang disimpan terbuka atau
penutupnya tidak sempurna (bocor), pengaruh kelembaban sangat kecil dan dapat
diabaikan jika kemasan vaksin baik, misalnya dengan kemasan ampul atau botol
tertutup kedap (hermatically sealed
Mekanisme kerja vaksin adalah mempengaruhi respon imun (kebal) yaitu
sel-sel memori yang bersifat melindungi dan telah terbentuk pada waktu
sebelumnya. Antibodi akan terbentuk setelah dilakukan vaksinasi yang dapat
melawan suatu penyakit. Antibody akan terbentuk apabila sel penghasil antibody
yaitu sel limposit (sel β) telah berfungsi dengan baik. Antibodi yang spesifik akan
terbentuk jika ada rangsangan antigen spesifik (penginfeksi) yang masuk ke dalam
tubuh yang berfungsi merangsang makrofage untuk memfagosit (memakan) sel
tersebut.

2.5 Jenis-Jenis vaksinasi

Ada 11 jenis vaksin yang berguna sebagai pencegahan dari suatu penyakit, seperti
berikut :

1. Vaksin Polio
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap poliomyelitis. Vaksin Polio
diberikan empat kali untuk usia 0, 2, 3, dan 4 bulan.

2. Vaksin Campak
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit campak. Vaksin campak
diberikan untuk anak usia 9 bulan.

3. Vaksin Flubio
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh
virus influenza. Vaksin flubio diberikan untuk usia di atas 12 tahun, serta
direkomendasikan pemberian satu tahun sekali.

4. Vaksin Hepatitis B Rekombinan

9
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit hepatitis B. Vaksin
hepatitis B diberikan untuk usia kurang dari 10 tahun sebanyak 0,5 ml, sedangkan
untuk usia lebih dari 10 tahun sebanyak 1 ml. Jadwal pemberian vaksin ialah 0-1-6
bulan atau 0-1-2 bulan.

5. Vaksin Pentabio
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis
(batuk rejan), hepatitis B, dan infeksi haemophilus influenza tipe B, yaitu kuman
penyebab utama pneumonia (radang paru-paru) dan meningitis (radang selaput
otak) pada anak berusia kurang dari 5 tahun.

6. Vaksin BCG
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit tuberkulosis. Vaksin
BCG diberikan satu kali untuk usia 0 sampai 2 bulan.

7. Vaksin Jerap Td
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit tetanus dan difteri.
Vaksin Jerap Td diberikan satu kali sebagai booster atau lanjutan untuk usia di atas
7 tahun.

8. Vaksin Jerap DT
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit difteri dan tetanus.
Vaksin Jerap DT diberikan untuk usia kurang dari 7 tahun.

9. Vaksin TT
Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit tetanus dan neonatal
tetanus, yaitu tetanus pada bayi yang baru lahir. Vaksin TT diberikan untuk wanita
usia subur, wanita hamil, dan dewasa.

10. Vaksin DTP


Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, dan
pertusis (batuk rejan). Vaksin DTP diberikan tiga kali untuk usia 2, 3, dan 4 bulan.

11. Vaksin DTP-HB


Vaksin ini berguna sebagai pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis
(batuk rejan), dan hepatitis B. Vaksin DTP-HB diberikan tiga kali untuk usia 2, 3,
dan 4 bulan, namun didahului satu dosis vaksin hepatitis B pada saat lahir.

10
2.6 Gizi dan Immunitas Pada Vaksinasi
Secara umum diterima bahwa gizi merupakan salah satu determinan penting respon
imunitas. Penelitian epideminologis dan klinis menunjukan bahwa kekurangan gizi
menghambat respon imunitas dan meningkatkan resiko penyakit infeksi. Sanitasi dan
higiene perorangan yang buruk, kepadatan penduduk yang tinggi , kontaminasi pangan
dan air , dan pengetahuan gizi yang tidak memadai berkontribusi terhadap kerentanan
terhadap penyakit infeksi. Berbagai penelitian yang dilakukan selama kuruun waktu 35
tahun yang lalu membuktikan bahwa gangguan imunitas adalah suatu faktor antara (
intermediate faktor) . kaitan gizi dengan penyakit infeksi. ( Chandra ; 1997 )
Sebagai contoh kekurangan berkaitan dengan gangguan imunitas berperantara sel (
cell-mediated imunity ). Fungsi fagosit,sistem komplement, sekresi antibodi
imunoglobulin A, dan produksi sitokin. Kekurangan zat gizi tunggal, seperti seng,besi,
tembaga , vitamin A, vitamin C,juga dapat memperburuk respon imunitas. (Chandra ;
1997)
Berbagai penelitian pada bayi di asia dan Amerika Latin telah secara meyakinkan
dan membuktikan intervensi gizi dapat menurunkan tingkat kematian bayi dan anak-anak
akibat penyakit infeksi yang disebabkan oleh sistem imunitas yang buruk.Pada kurun
waktu April 1968- Mei 1973, para peneliti dari departemen Kesehatan Internasional, The
John Hopkin University melakukan penelitian di bagian negara india ,yang meneliti kaitan
antara kekurangan gizi dan infeksi dan dampaknya pada mordibitas, mortalitas
pertumbuhan anak prasekolah.menurun dengan suplementasi gizi.Penurunan ini berkaitan
dengan meningkatnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. ( Kielman Et All 1978)
Pada tahun 1968 , World heath Organization (WHO) Monograph on Nutrition-
infection Interactions. Publikasi ini merupakan hasil kerjasama Nevin S. Scrimshaw, Carl
Taylor, dan John Gordon (Scrimshaw et al. 1968) Pada publikasi ini, Scrimshaw dan
koleganya untuk pertama kali mengemukakan bahwa kaitan antara malagizi dan infeksi
adalah sinergistis. Artinya, malagizi memperparah penyakit infeksi, demikian juga halnya
infeksi memperburuk malagizi. Sebaliknya, status gizi yang makin baik akan meringankan
diare, dan selanjutnya, diare yang makin ringan akan memperbaiki status gizi.
Mekanisme yang melaluinya zat gizi mencegah atau mengurangi beban penyakit
infeksi adalah peningkatan daya tahan tubuh. Peningkatan daya tahan tubuh ini tidak hanya
melalui produksi antibodi humoral dan kapasitas fagosit terhadap bakteri, tetapi juga,
antara lain, melalui sekresi antibodi mukosal, imunitas berperantara sel, pembentukan
komplemen, T-lymphocytes,dan T-cells (Scrimshaw and SanGiovanni, 1997).
11
Gangguan pada berbagai aspek imunitas termasuk fagositosis, respon ploriferasi sel
ke mitogen, serta produksi T-lymphocyte dan sitokin telah ditemukan pada kondisi
kekurangan gizi ( Chandra and Kumari : 1994 chandra , 1990; Kulkarni at all 1994) sampai
saat ini mekanisme yang melaluinya kekurangan gizi mengakibatkan gangguan fungsi
imunitas masih terus mendapat perhatian serius para ahli gizi,imunolog, ahli biologi dan
ahli dibidang yang terkait.
Karena begitu eratnya kaitan antara fungsi imunitas dan gizi berbagai penelitian baik
pada tikus maupun manusia telah menhasilkan informasi penting yang berhubungan antara
susu fermentasi dan imunitas.pemberian susu fermentasi dapat mendorong pembentukan
antibodi dan respon imunitas pada orang yang sehat , funsi imunitas yang paling
dipengaruhi adalah imunitas berperantara sel dan aktifitas sitokin ( Solis Pereira ; 1997)
Walaupun ada bukti bahwa kekurangan gizi dapat mempengaruhi patogen (
Lavender ; 1997 ),akan tetapi, pada umumnya dampak kekurangan gizi pada penyakit
infeksi dikaitkan dengan menurunnya fungsi imunitas tubuh. Kekurangan energi-protein,
misalnya, antara lain, menyebabkan penurunan pada proliferasi limposit, produksi sitokin,
dan respons antibodi terhadap vaksin (Lesourd, 1997).

Tujuan utama dari semua jenis vaksin adalah merangsang sistem kekebalan dalam
tubuh orang tersebut untuk melawan antigen, sehingga apabila antigen tesebut menginfeksi
kembali, reaksi imunitas yang lebih kuat akan timbul. Vaksin mengandung bakteri, virus,
atau komponennya yang dengan kemajuan teknologi sudah dikendalikan. Vaksin
mengandung antigen yang sama dengan antigen yang menyebabkan penyakit, namun
antigen yang ada didalam vaksin tersebut sudah dikendalikan (dilemahkan) maka
pemberian vaksin tidak menyebabkan orang menderita penyakit seperti jika orang tersebut
terpapar/terpajan dengan antigen yang sama secara alamiah.

Priming adalah Suatu proses buatan untuk menginduksi imunitas dengan tujuan
melindungi penyakit infeksi. Priming pada sistem imun meliputi sensitisasi atau stimulasi
respon imun dengan antigen yang dapat menghasilkan imunitas terhadap penyakit yang
disebabkan oleh organisme atau toksin (racun). Pemberian vaksinasi yang mengandung
satu atau lebih antigen dapat diberikan dalam beberapa bentuk. adalah suatu proses
sensitisasi atau stimulasi munculnya reaksi imunitas terhadap organisme atau toksin
penyebab penyakit. Vaksinasi adalah kegiatan pemberian vaksin kepada seseorang dimana
vaksin tersebut berisi satu atau lebih antigen yang tujuannya adalah apabila nanti orang
12
tersebut terpajan/terpapar dengan antigen yang sama, maka sistem imunitas yang terbentuk
akan menghancurkan antigen tersebut.

Dengan demikian ada dua cara untuk mendapat kekebalan tubuh terhadap suatu
antigen yaitu secara alamiah apabila orang tersebut terinfeksi oleh patogen tersebut atau
secara buatan melalui vaksinasi. Namun kekebalan yang didapat melalui vaksinasi,
tidaklah bertahan seumur hidup terhadap infeksi penyakit berbahaya. KIPI yang mungkin
muncul sangatlah kecil risikonya jika dibandingkan dengan risiko penyakit yang mungkin
diderita akibat tidak di-imunisasi. Risiko adalah probabilitas seseorang untuk mengalami
suatu kejadian yang mungkin terjadi. Risiko terjadi KIPI dan risikoRisikoKemungkinan
seseorang mengalami suatu kejadian tertentu dalam suatu periode waktu. sakit karena tidak
diimunisasi adalah satu contoh perbandingan probabilitas suatu kejadian.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

13
Gizi, immunitas dan vaksinasi ketiganya memiliki keterkaitan. Contoh hubungan gizi
dengan immunitas, salah satunya yaitu peran vitamin dan mineral sebagai antioksidan yang
mampu memperkuat sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun). Maka karena itu
kecukupan zat gizi terutama vitamin dan mineral sangat diperlukan dalam mempertahankan
sistem kekebalan tubuh yang optimal sebagai upaya preventif agar selalu sehat.
.

14
DAFTAR PUSTAKA

Siagian,Albiner.2015.Gizi,Imunitas dan Penyakit Infeksi.Departemen Gizi dan Kesehatan


Masyarakat FKM USUMedan.

Siswanto, dkk.2013.Peran Beberapa Zat Gizi Mikro dalam Sistem Imunitas.Gizi Indon 2013,
36(1):57-64.
Kristini, Tri Dewi. 2008. Faktor-faktor Risiko Kualitas Pengelolaan Vaksin Program
Imunisasi. Tersedia di: http://eprints.undip.ac.id/18020/1/TRI_DEWI_KRISTINI.pdf
Anonim. 2013. Gizi Dalam Kesehatan Imunitas. Tersedia di :
http://huhhubeauty.blogspot.com/2013/10/gizi-dalam-kesehatan-imunitas.html
Anonim. 2018. Bagaimana Vaksin Bekerja : http://in.vaccine-safety-training.org/how-
vaccines-work.html

15