Anda di halaman 1dari 3

2.3.

Dampak dari Pendekatan dan Metodologi Analisis Sosiologi tehadap


Bidang Keilmuan Teknologi Pendidikan
Pada 1972 Eric Ashby sebagai ketua tim studi The Carnegie Commission
on Higher Education, menyatakan telah terjadinya revolusi keempat dalam bidang
pendidikan. Revolusi pertama terjadi ketika orangtua menyerahkan pendidikan
anaknya kepada “orang yang berilmu” (atau guru). Revolusi kedua dengan
digunakannya tulisan untuk keperluan pendidikan (pada batu, keramik, daun
lontar, dan sebagainya). Revolusi ketiga terjadi dengan ditemukannya mesin cetak
sehingga materi pendidikan dapat disajikan dalam bentuk buku. Revolusi keempat
terjadi dengan ditemukannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi yang
dapat digunakan untuk penyebaran pendidikan secara lebih meluas dan cepat.
Menyambung pendapat Ashby tersebut, barangkali tepat kalau sekarang kita
memasuki revolusi kelima dengan berkembangnya teknologi telekomunikasi dan
informasi.
Beberapa ciri revolusi pendidikan keempat dalam pendidikan tinggi,
menurut Ashby, adalah: (1) Berkembangnya pembelajaran di luar kampus sebagai
bentuk pendidikan berkelanjutan. (2) Mahasiswa memperoleh akses lebih besar
dari berbagai sumber. (3) Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar merupakan
ciri dominan dalam kampus. (4) Bangunan kampus yang berserak dengan kampus
inti di pusat dan kampus satelit yang ada di tengah masyarakat. (5) Tuntutan bagi
para mahasiswa untuk menguasai teknologi. (6) Tumbuhnya profesi baru dalam
bidang media dan teknologi. (7) Mahasiswa dituntut untuk lebih banyak belajar
mandiri.
Ramalan Ashby itu telah menjadi kenyataan sekarang ini. Globalisasi telah
memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap
muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay
M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek Learning without
Frontiers dari UNESCO, dan di Australia dengan proyek Flexible Learning. Hal
ini mengingatkan kita pada ramalan Ivan illich awal tahun 70-an tentang
pendidikan tanpa sekolah (deschooling society) yang secara ekstremnya guru
tidak lagi diperlukan.
Berbagai kecenderungan lain telah pula diramalkan oleh para futuris.
Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat
lebih luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapa saja yang
memerlukannya tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan
sebelumnya. Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan
lebih ditentukan oleh jaringan, bukannya gedung sekolah. Mason mengemukakan
lima alasan mengapa digunakannya teknologi komunikasi, yaitu karena: (1)
potensinya memperluas kesempatan akses pendidikan dan latihan bagi siswa
pedesaan yang terpencil tanpa harus mengikuti pendidikan tatap muka yang
konvensional; (2) potensinya memperluas kesempatan pemerataan (equity)
dengan cara memperluas manfaat pendidikan yang diraih daerah yang kaya ke
daerah yang kurang beruntung. Namun diingatkannya bahwa penggunaan
teknologi komunikasi tetap akan memperlebar jurang pemisah antara yang kaya
dan yang miskin; (3) teknologi komunikasi merupakan satusatunya alternatif
penyelenggaraan pendidikan seumur hidup; (4) memungkinkan terjadinya
pertukaran sumber daya yang langka; dan (5) memperluas kemungkinan untuk
belajar secara interaktif dan kolaboratif antarsiswa dari jarak jauh.
Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan
kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan,
dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Juga
dikemukakan olehnya bahwa nilainya lebih besar manakala diterapkan pada
tenaga kerja ketimbang pada pendidikan penuh bagi anak-anak yang masih muda.
Iskandar Alisjahbana (1996) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan
pelatihan nantinya akan bersifat “saat itu juga” (just-on-time). Pendidikan akan
terkait pada produktivitas sesaat (just-in-time), bukannya persiapan sebelumnya.
Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan interdisipliner.
Romiszowiski & Lewis (1995) memprediksi penggunaan computer-
mediated communication (CMC) atau komunikasi multimedia dengan komputer
dengan kemampuannya mengintegrasikan sumber informasi secara online
memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalam pendidikan dan pelatihan mengingat
bahwa CMC dapat menunjang penyampaian pendidikan baik yang bersifat
sinkronis (dua arah) maupun yang asinkronis (searah). Meskipun CMC tidak
secara otomatis akan dapat mengubah perilaku belajar, namun mereka
berpendapat bahwa cepat atau lambat CMC akan ditemukan oleh generasi peserta
didik/warga belajar baru yang dididik di alam komputer dan komunikasi
internasional, sehingga penggunaannya bukan lagi merupakan pengecualian,
melainkan standar keharusan.
Dari ramalan dan pandangan para cendekiawan di atas dapat disimpulkan
bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan
lebih bersifat jaringan, terbuka, dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta
terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif.
Pemerintah Indonesia juga menyadari adanya tekanan-tekanan arus
globalisasi seperti itu. Juga disadari bahwa perluasan kesempatan pendidikan
secara linear dan konvensional memakan waktu lama dan mahal, serta mungkin
kurang responsif terhadap gejolak dinamika tuntutan perubahan; bahwa
kesenjangan antardaerah dalam pengertian kualitas, kesempatan, dan pemerataan
masih besar, terutama antara daerah yang kaya dan terjangkau dengan daerah
yang miskin, jauh, tersebar, dan terisolasi.
Pemerintah menyadari adanya peluang-peluang yang ditawarkan oleh
teknologi tinggi untuk menerobos hambatan-hambatan dan keterbatasan-
keterbatasan sistem yang konvensional; bahwa pemanfaatan teknologi tinggi
harus dilaksanakan secara bijak, yaitu sebagai upaya altematif pemecahan
permasalahan pendidikan dan latihan yang tepat guna dengan konsekuensi
keringanan bagi populasi yang miskin dan kurang mampu melalui prinsip
“kebersamaan” secara bertahap melalui kantongkantong perintisan yang
memungkinkan pelaksanaannya. Bila tidak, daerah-daerah kantong yang miskin,
jauh, dan terpencil selamanya tidak pernah akan memperoleh kesempatan
pendidikan.

Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:


Kencana