Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang“Struktur Beton
I” ini dengan baik meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.
Diharapkan makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Struktur Beton. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... 2

DAFTAR ISI..................................................................................................................... 3

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 : Latar belakang…………………………………………………………... 4

1.2 : Rumusan masalah……………………………………………………….. 4

1.3 : Tujuan penulisan………………………………………………………… 4

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 : Bahan Dasar Penyusun Beton…………………………………………... 5

2.2 : Keuntungan dan Kerugian Beton Untuk Konstruksi……………………. 8

2.3 : Aplikasi Beton Pada Konstruksi Bangunan Gedung……………………. 9

2.4 : Jenis-Jenis Tulangan Pada Aplikasi Beton Pada Konstruksi Bangunan

Gedung…………………………………………………………………… 20

BAB III : PENUTUP

3.1 : Kesimpulan……………………………………………………………… 27

3.2 : Saran.......................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA….....……………………………………………………….......... 28

Page 2 of 24
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang masih sangat banyak dipakai dalam
pembangunan fisik. Harganya yang relatif murah dan kemudahan dalam pelaksanaannya
membuat beton semakin tak tergantikan dalam dunia konstruksi. Namun selain keuntungan
yang dimilikinya beton juga memiliki beberapa kekurangan seperti tegangan tarik yang
rendah, daktibilitas rendah, dan keseragaman mutu yang bervariatif. Karena kekurangan yang
dimiliknya maka diperluakan pengetahuan yang cukup luas,antara lain mengenai sifat bahan
dasarnya, cara pembuatannya, cara evaluasi, dan variasi bahan tambahnya agar dapat
meningkatkan fungsi beton itu sendiri menjadi lebih maksimal.

Dalam pembuatannya, keseragaman kualitas beton sangat dipengaruhi oleh keseragaman


bahan dasar dan metode pelaksanaan. Pada prakteknya dilapangan, umumnya beton yang
disuplai oleh perusahaan pembuatan beton (ready mix) telah terjamin keseragaman bahan
dasarnya. Untuk mendapatkan kualitas dan keseragaman beton sesuai seperti yang
disyaratkan maka pelaksanakan pembuatan beton harus dilakukan dengan baik dan sesuai
dengan prosedur. Yang dimaksud dengan kualitas beton seperti yang disyaratkan disini
adalah kuat tekan beton pada umur ke-28 hari. Oleh karena sebab-sebab diatas maka
diperlukan adanya kontrol kualitas yang dapat mengetahui kemungkinan terjadinya output
yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan sedini mungkin.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a) Bagaimana sejarah beton?
b) Apakah yang dimaksud dengan beton?
c) Apa saja bahan dasar penyusun beton?
d) Bagaimakah sifat – sifat beton?
e) Sebutkan jenis-jenis beton dan kegunaanya?
f) Apa keuntungan dan kerugian beton kontruksi?
g) Bagaimana aplikasi beton pada kontruksi bangunan gedung?
h) Bagaimanakah standar perencanaan beton?

Page 3 of 24
1.3 TUJUAN PENULISAN
a) Mengetahui sejarah beton
b) Mengetahui apa itu beton
c) Mengetahui apa saja bahan dasar penyusun beton
d) Mengetahui sifat-sifat beton
e) Memahami jenis beton beserta kegunaannya
f) Mengetahui apa keuntungan dan kerugian beton kontruksi
g) Memahami bagaimana aplikasi beton pada kontruksi bangunan gedung
h) Memahami serta mengetahui standar perencanaan beton

BAB II

PEMBAHASAN

Page 4 of 24
2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN BETON
Pemakaian beton dan bahan-bahan vulkanik sebagai bahan pembentuknya telah dimulai
sejak zaman Yunani dan Romawi, bahkan diperkirakan sebelum itu. Penggunaan beton
bertulang secara intensif dimulai pada awal abad ke-19.
Pada tahun 1801, F.Coignet menerbitkan tulisannya mengenai prinsip-prinsip konstruksi
dengan meninjau kelemahan bahan beton terhadap tariknya. Pada tahun 1850, J.L.Lambot
untuk pertama kalinya membuat kapal kecil dari bahan semen untuk dipamerkan pada
pameran dunia tahun 1855. J.Monir, seorang ahli taman dari Prancis, mematenkan rangka
metal sebagai tulangan beton untuk mengatasi tariknya pada tempat tamannya. Pada tahun
1886, Koenen menerbitkan tulisan mengenai teori dan perancangan struktur beton.
Seiring perkembangan yang terjadi dalam bidang ini, terbentuklah berbagai
komite/lembaga seperti German Committe, Reinforce Concrete, Australian Concrete
Committe, American Concrete Institute dan British Concrete Institute.
Di Indonesia terbentuk Departemen Pekerjaan Umum yang selalu mengikuti
perkembangan beton melalui Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan (LPMB). Melalui
lembaga ini diterbitkan peraturan-peraturan standar beton yang biasanya mengadopsi
peraturan internasional yang disesuaikan dengan keadaan bahan-bahan bangunan di
Indonesia.
Perkembangan dalam bidang seni serta analisis perancangan dan konstruksi beton, maka
dapat dibangun kostruksi beton atau bangunan-bangunan yang sangat khas seperti Marina
Tower, Lake Point Tower Chicago, Keong Mas ditaman mini Indonesia dan lain-lain.

2.2 DEFINISI BETON


Beton merupakan fungsi dari bahan pembentuknya yaitu semen hidrolik (portland
cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambahan (additive). Untuk mengetahui
perilaku bahan-bahan pembentuk beton, diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik
masing-masing komponen pembentuknya.
Menurut Nawy (1985:8) beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimia
sejumlah material pembentuknya. Oleh karena itu, masing-masing bahan pembentuk beton
perlu dipelajari sebelum mempelajari beton secara keseluruhan. Dalam usaha untuk
memahami karakteristik bahan pembentuk campuran beton sebagai dasar perancangan beton,
Departemen Pekerjaan Umum melalui LPMB banyak mempublikasikan standar-standar
beton.

Page 5 of 24
DPU-LPMB memberikan definisi tentang beton sebagai campuran antara semen portland
atau semen hidrolik yang lainnya, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa
bahan tambahan membentuk massa padat (SK.SNI T-15-1990-03:1).

2.3 BAHAN DASAR PENYUSUN BETON


Sebelum mengenal tentang bahan dasar penyusun beton, kita harus mengetahui bahwa
beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat dan
pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri
dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air. Berikut penjelasan tentang
bahan dasar penyusun beton :
 SEMEN PORTLAND
Semen adalah bahan pengikat hidrolis yang terbuat dari penggilingan halus (klingker)
dan gips, bila dicampur air didiamkan akan mengikat, mengeras, membatu dan direndam
dalam air tidak larut.
 Ada 4 unsur yang paling penting dalam susunan semen yaitu :
1. Trikalsium silikat (C3S ) atau 3CaO.SiO2
2. Dikalsium silikat (C2S ) atau 2CaO.SiO2
3. Trikalsium aluminat (C2A) atau 3CaO.AlO3
4. Tetrakalsium aluminoferit (C2AF ) atau 4Cao.Al2O3.Fe2O
 Keempat bahan tersebut digiling halus dengan perbandinngan tertentu, setelah digiling
dibakar dengan suhu 1350° dengan proses bertahap.
1. Pada suhu 100°C (dalam keadaan kering oven kandungan H2O masih ada)
2. Pada suhu 250°-300°C(warnanya kemerahan, H2O sudah hilang)
3. Pada suhu 800° C(proses kalsinasi) CO2 hilang peruraian dari Batu kapur ke kapur
toho (kapur hidup)
4. Pada suhu 1350°C terjadi proses sintering (pelelahan)
 Setelah melalui proses pemansan tersebut kemudian dialirkan ke tungku putar pendingin
suhunya menjadi 60° berbentuk klingker. Kemudian klingker-klingker tersebut digiling
halus dengan gips dan menjadi semen.
 Senyawa C3S dan C2S memiliki sifat mengikat, senyawa C3A dan C4AF memiliki sifat
mengeras dan mengeluarkan panas hidrasi. Sifat Gypsum (CH4) memperlambat
pengerasan semen dan pengikatannya yang digunakan untuk member kesempatan pada
proses pengerjaan.
 AGREGAT (Pasir & Kerikil)

Page 6 of 24
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam
campuran mortar atau beton. Kira-kira 70 % volume mortar atau beton diisi oleh
agregat. Agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mortar atau beton,
sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan
mortar atau beton. Dari segi ekonomis lebih menguntungkan jika digunakan
campuran beton dengan sebanyak mungkin bahan pengisi dan sedikit mungkin
jumlah semen. Namun keuntungan dari segi ekonomis harus diseimbangkan dengan
kinerja beton baik dalam keadaan segar maupun setelah mengeras.
Pengaruh kekuatan agregat terhadap beton begitu besar, karena umumnya
kekuatan agregat lebih besar dari kekuatan pasta semennya. Namun kekasaran
permukaan agregat berpengaruh terhadap kekuatan beton. Agregat dapat dibedakan
berdasarkan ukuran butiran. Agregat yang mempunyai ukuran butiran besar disebut agregat
kasar, sedangkan agregat yang berbutir kecil disebut agregat halus.
Dalam bidang teknologi beton nilai batas daerah agregat kasar dan agregat halus adalah
4,75 mm atau 4,80 mm. Agregat yang butirannya lebih kecil dari 4,8
mm disebut agregat halus. Secara umum agregat kasar sering disebut kerikil, kericak,
batu pecah atau split. Adapun agregat halus disebut pasir, baik berupa
pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai, tanah galian atau dari hasil
pemecahan batu. Agregat yang butiranya lebih kecil dari 1,2 mm disebut pasir halus,
sedangkan butiran yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut lanau, dan yang lebih kecil dari
0,002 mm disebut lempung.
Agregat umumnya digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
 Batu, umumnya besar butiran lebih dari 40 mm
 Kerikil, untuk butiran antara 5 sampai 40 mm
 Pasir, untuk butiran antara 0,15 sampai 5 mm
Agregat harus mempunyai bentuk yang baik (bulat dan mendekati kubus), bersih, keras,
kuat dan gradasinya baik. Bila butiran agregat mempunyai ukuran yang
sama (seragam) volume pori akan besar. Sebaliknya bila ukuran butiranya
bervariasi maka volume pori menjadi kecil. Hal ini karena butiran yang kecil dapat
mengisi pori diantara butiran yang lebih besar sehingga pori-pori menjadi sedikit, dengan
kata lain agregat tersebut mempunyai kemampatan tinggi.
Agregat harus pula mempunyai kestabilan kimiawi dan dalam hal-hal tertentu harus
tahan aus dan tahan cuaca.
 AIR
Page 7 of 24
Air diperlukan pada pembentukan semen yang berpengaruh terhadap sifat kemudahan
pengerjaan adukan beton (workability), kekuatan, susut dan keawetan beton. Air yang
diperlukan untuk bereaksi dengan semen hanya sekitar 25 % dari berat semen saja, namun
dalam kenyataannya nilai faktor air semen yang dipakai sulit jika kurang dari 0,35.
Kelebihan air dari jumlah yang dibutuhkan dipakai sebagai pelumas, tambahan air ini
tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan beton menjadi rendah dan beton menjadi
keropos.
 ADMIXTURE
Bahan campuran tambahan (admixtures) adalah bahan yang bukan air, agregat maupun
semen yang ditambahkan ke dalam campuran sesaat atau selama pencampuran. Fungsi dari
bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat beton atau pasta semen agar menjadi cocok
untuk pekerjaan tertentu, atau ekonomis untuk tujuan lain seperti menghemat energi
(Nawy,1996).
Suatu bahan tambah pada umumnya dimasukkan ke dalam campuran beton dengan
jumlah sedikit, sehingga tingkat kontrolnya harus lebih besar daripada pekerjaan beton biasa.
Oleh sebab itu, kontrol terhadap bahan tambah perlu dilakukan dengan tujuan untuk
menunjukkan bahwa pemberian bahan tambah pada beton tidak menimbulkan efek samping
seperti kenaikan penyusutan kering, pengurangan elastisitas (L.J. Murdock dan K.M. Brook,
1991)
 Puzolan
Pozolan adalah bahan alam atau buatan yang sebagian besar terdiri dari unsur-unsur
silikat atau aluminat yang reaktif (Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia ,
PUBI 1982). Pozolan sendiri tidak mempunyai sifat semen, tetapi dalam keadaan halus
(lolos ayakan 0,21 mm) bereaksi dengan air dan kapur padam pada suhu normal (24 –
270 C) menjadi suatu massa padat yang tidak larut dalam air.
Unsur silikat dan aluminat yang reaktif akan bereaksi dengan kapur bebas yang
merupakan hasil sampingan proses hidrasi antara semen dan air menjadi kalsium silikat
hidrat (“tobermorite”). Secara sederhana proses kimianya dapat dituis sebagai berikut:

CH + S + H → C – S – H
Dan
CH + A + H → C – A – H

Page 8 of 24
Keterangan :
CH = kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
S = silikon dioksida (SiO2)
A = aluminium oksida (Al2O3)
C-S-H = kalsium silikat hidrat (C3S2H3)
Pozolan dapat dipakai sebagai bahan tambahan atau sebagai pengganti sebagian
semen portland. Bila dipakai sebagai pengganti sebagian semen portland, umumnya
berkisar antara 10 sampai 35 persen berat semen. Bahan tambahan ini dapat membuat
beton lebih tahan terhadap garam, sulfat, dan air asam. Laju kenaikan kekuatannya lebih
lambat daripada beton normal. Pada umur 28 hari kuat tekannya lebih rendah daripada
beton normal, namun sesudah 3 bulan (90 hari) kuat tekannya dapat sedikit lebih tinggi.

2.4 SIFAT-SIFAT BETON


Untuk keperluan perancangan dan pelaksanaan struktur beton, maka pengetahuan tentang
sifat-sifat adukan beton maupun sifat-sifat beton setelah mengeras perlu diketahui. Sifat-sifat
tersebut antara lain:
 Durability (Keawetan)
Merupakan kemampuan beton bertahan seperti kondisi yang direncanakan tanpa terjadi
korosi dalam jangka waktu yang direncanakan. Dalam hal ini perlu pembatasan nilai faktor
air semen maksimum maupun pembatasan dosis semen minimum yang digunakan sesuai
dengan kondisi lingkungan.
 Kuat Tekan
Kuat tekan beton ditentukan berdasarkan pembebanan uniaksial benda uji silinder beton
diameter 150 mm, tinggi 300 mm dengan satuan MPa (N/mm2) untuk SKSNI 91. Benda uji
silinder juga digunakan pada standar ACI sedangkan British Standar benda uji yang
digunakan adalah kubus dengan sisi ukuran 150 mm. Benda uji dengan ukuran berbeda dapat
juga dipakai namun perlu dikoreksi terhadap size efek.
 Kuat Tarik
Kuat tarik beton jauh lebih kecil dari kuat tekannya, yaitu sekitar 10 % - 15 % dari kuat
tekannya. Kuat tarik beton merupakan sifat yang penting untuk memprediksi retak dan
defleksi balok. Metode pengujian kuat tarik beton akan dibahan pada bab selanjutnya.
 Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas beton adalah perbandingan antara kuat tekan beton dengan regangan
beton biasanya ditentukan pada 25-50 % dari kuat tekan beton.

Page 9 of 24
 Rangkak (Creep)
Merupakan salah satu sifat beton dimana beton mengalami deformasi terus menerus
menurut waktu dibawah beban yang dipikul.
 Susut (Shrinkage)
Merupakan perubahan volume yang tidak berhubungan dengan pembebanan.
 Kelecakan (Workability)
Workability adalah sifat-sifat adukan beton atau mortar yang ditentukan oleh kemudahan
dalam pencampuran, pengangkutan, pengecoran, pemadatan, dan finishing. Atau workability
adalah besarnya kemudahan kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan kompaksi penuh.

2.5 JENIS-JENIS BETON


Ada sepuluh jenis beton yang saat ini umum digunakan dalam pekerjaan konstruksi:
a) Beton Non-Pasir
Seperti namanya, beton non-pasir, proses pembuatannya sama sekali tidak menggunakan
pasir. Hanya kerikil, semen, dan air. Hal ini menyebabkan terbentuknya rongga-rongga yang
berisi udara di celah-celah kerikil sehingga total berat jenisnya pun lebih rendah. Karena
tidak memakai pasir, persentase semen pada beton ini juga lebih sedikit. Beton non-pasir
biasanya digunakan pada pembuatan struktur ringan, kolom dan dinding sederhana, bata
beton, serta buis beton.
b) Beton Ringan
Beton ringan dibuat dengan memakai agregat yang berbobot ringan. Seringkali
ditambahkan zat aditif yang dapat menyebabkan terbentuknya gelembung-gelembung udara
di dalam adonan beton. Banyaknya gelembung udara yang terjadi menyebabkan volume
adonan juga semakin besar sementara bobotnya lebih ringan dibandingkan beton lain dengan
volume yang sama. Beton ringan biasanya digunakan untuk dinding non-struktural.
c) Beton Hampa
Beton jenis ini banyak digunakan untuk pembangunan gedung-gedung tinggi, karena
memiliki kekuatan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena proses penyedotan air
pengencer adonan beton dengan alat vakum sehingga adonan hanya mengandung air yang
sudah tercampur dengan semen saja.
d) Beton Serat
Beton serat dibuat dengan menambahkan serat-serat tertentu ke dalam adonan beton,
seperti: asbestos, plastik, kawat baja, dan sebagainya. Denghan penambahan serat, beton yang
dihasilkan memiliki nilai keuletan tinggi (ductility) sehingga tidak mudah retak.

Page 10 of 24
e) Beton Mortar
Beton mortar terdiri atas mortar, pasir, dan air. Ada tiga macam mortar yang sering
digunakan antara lain semen, kapur, dan lumpur.
f) Beton Massa
Beton massa adalah penuangan beton yang sangat besar di atas kebutuhan rata-rata.
Umumnya, beton massa memiliki dimensi yang berukuran lebih dari 60 cm. Perbandingan
antara volume dan luas permukaannya pun sangat tinggi. Beton ini digunakan dalam
pembuatan pilar-pilar bangunan, pondasi berukuran besar, dan juga bendungan.
g) Beton Bertulang
Beton bertulang adalah adukan beton yang diberi tulangan dari baja. Penambahan
tulangan baja ini akan meningkatkan kekuatan terhadap gaya tarik dan juga ductility struktur
bangunan. Beton bertulang cocok digunakan dalam struktur dengan bentangan yang lebar,
seperti jalan raya, jembatan, pelat lantai dan sebagainya.
h) Beton Prategang
Beton prategang adalah beton bertulang yang tulangan bajanya diberi tegangan lebih
dulu sebelum dicor, sehingga kuat untuk menyangga struktur dengan bentangan lebar.
i) Beton Pracetak
Beton pracetak adalah beton yang dicetak terpisah di luar area pekerjaan. Hal ini
biasanya dilakukan karena terbatasnya lahan area pekerjaan dan juga karena alasan
kepraktisan. Pengerjaan bangunan dapat dipersingkat sehingga lebih efektif dan efisien.
j) Beton Siklop
Beton jenis ini menggunakan bahan tambahan agregat yang berukuran besar (sekitar 15
sampai 20 cm) dalam adonan beton. Hal ini untuk meningkatkan daya tahan beton untuk
digunakan dalam pengerjaan bangunan yang bersinggungan dengan air, seperti jembatan dan
bendungan.

2.6 KEUNTUNGAN & KERUGIAN BETON KONTRUKSI


Beton adalah hasil pencampuran semen portland, air, dan agregat (terkadang bahan
tambah, yang sangat bervariasi mulai dari bahan kimia tambahan, serat, sampai bahan
buangan non kimia). Dan bias dilihat perbandingan antara keuntungan dan kerugian dibawah
ini:
 KEUNTUNGAN
1) Mudah dicetak sehingga bentuk bervariasi
2) Awet dan tahan lama

Page 11 of 24
3) Tahan api
4) Ekonomis
5) Dapat dicor di tempat
6) Harganya relatif murah karena menggunakan bahan-bahan dasar dari bahan lokal,
kecuali semen Portland.
7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran, sehingga biaya perawatan termasuk
rendah
8) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi, serta mempunyai sifat tahan
terhadap pengkaratan/pembusukan oleh kondisi lingkungan.
9) Ukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan beton tak bertulang atau pasangan
batu.
10) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak dalam bentuk apapun
dan ukuran seberapapun tergantung keinginan
 KERUGIAN
1) Tegangan tarik rendah
2) Duktilitas rendah
3) Berat sendiri sangat besar
4) Volume tidak stabil
5) Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak. Oleh karena itu
perlu diberi baja tulangan, atau tulangan kasa.
6) Beton segar mengerut saat pengeringan dan beton keras mengembang jika basah
sehingga dilatasi (constraction joint) perlu diadakan pada beton yang panjang/lebar
untuk memberi tempat bagi susut pengerasan dan pengembangan beton.
7) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga
perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah terjadinya retak-retak akibat
perubahan suhu.
8) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat dimasuki air,
dan air yang membawa kandungan garam dapat merusakkan beton.
9) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan didetail secara
seksama agar setelah dikombinasikan dengan baja tulangan menjadi bersifat daktail,
terutama pada struktur tahan gempa.

Page 12 of 24
2.7 APLIKASI BETON PADA KONTRUKSI BANGUNAN GEDUNG
Dalam konstruksi bangunan gedung penggunaan beton umumnya dilengkapi dengan besi
tulangan, sehingga beton yang memiliki kuat tekan yang baik dilengkapi dengan besi
tulangan yang memiliki kuat tarik yang baik. Beton bertulang hampir dapat di jumpai pada
semua elemen struktur bangunan, dari pondasi, tie beam/sloof, kolom, balok, dan pelat lantai.
Adapun penjelasannya sebagai berikut
A. Pondasi
Pengertian pondasi yang dimaksud disini adalah suatu jenis konstruksi yang menjadi
dasar dan pondasi ini berfungsi sebagai penopang bangunan yang ada di atasnya dan ini
bertujuan untuk diteruskan secara bertahap dan merata ke lapisan tanah. Namun terdapat juga
pengertian pondasi yang lain yang mengatakan bahwa pondasi adalah konstruksi yang telah
diperhitungkan sebaik mungkin sehingga hal ini dapat menjamin keseimbangan dan
kestabilan bangunan terhadap berat yang akan dibebankan pada pondasi tersebut.
Setelah mengetahui pengertian dari pondasi tersebut, selanjutnya akan kita lihat jenis-jenis
pondasi di antaranya:
1) Pondasi telapak (untuk Rumah Panggung)

Gambar pondasi telapak

Pondasi telapak merupakan jenis pondasi sederhana yang telah digunakan oleh
masyarakat indonesia sejak zaman dulu. Pondasi ini terbuat dari beton tanpa tulang yang
dicetak membentuk limas segi empat seperti pada gambar disamping. Sistem kerja
pondasi ini menerapkan sistem tanam. Jadi pondasi telapak ini menahan kolom yang
tertanam di dalamnya sehingga tidak masuk dalam tanah. Seperti halnya ketika kita
menggunakan sebuah ganjalan yang pipih atau ganjalan yang lebih lebar untuk standar
motor ketika di tempatkan pada tanah yang lembek.

Page 13 of 24
2) Pondasi Rollag Bata (untuk Penahan lantai)

Gambar pondasi rollag bata


Rollag bata merupakan pondasi sederhana yang fungsinya bukan menyalurkan beban
bangunan, melainkan untuk menyeimbangkan posisi lantai agar tidak terjadi amblas pada
ujung lantai. Pondasi ini biasanya digunakan untuk membuat teras rumah, fungsinya
hampir sama dengan sloof gantung namun rollag bata tidak sekuat sloof gantung dan
tidak semahal sloof gantung.
3) Pondasi Batu Kali (untuk Bangunan Sederhana 1-2 lantai)

Gambar pondasi batu kali


Pondasi batu kali merupakan pondasi penahan dinding yang digunakan pada
bangunan sederhana. Pondasi ini terdiri dari batu kali dan perekat yang berupa campuran
pasir dan semen. Biasanya campuran agregat untuk merekatkan batu kali ini
menggunakan perbangingan 1 : 3 karena batu kali akan selalu menerima rembesan air
yang berasal dari tanah. Sehingga membutuhkan campuran yang lebih kuat menahan
rembesan.
4) Pondasi Batu Bata (untuk Bangunan Sederhana)

Gambar pondasi batu bata

Page 14 of 24
Seperti halnya pondasi Batu Kali, pondasi batu bata memiliki fungsi sama. Namun
yang membedakan keduanya hanyalah bahan yang digunakan serta kondisi alam di
daerah sekitarnya. Dikarenakan batu-bata merupakan bahan yang rentan terhadap air,
maka pemasangan harus lebih maksimal artinya bata yang dipasang harus dapat
terselimuti dengan baik.
5) Pondasi Tapak atau Ceker Ayam (untuk Bangunan bertingkat 2-3 Lantai)

Gambar pondasi tapak


Pondasi tapak merupakan pondasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia
ketika mendirikan sebuah bangunan. Terutama bangunan bertingkat serta bangunan yang
berdiri di atas tanah lembek. Pondasi tapak di temukan oleh Alm Prof Ir Sediyatmo tsb,
dan dikembangkan oleh Prof Ir Bambang Suhendro, Dr harry Christady dan Ir Maryadi
Darmokumoro, yang dikenal dengan Sistim Cakar Ayam Modifikasi (CAM). Modifikasi
yang dilakukan adalah : penggantian pipa beton menjadi pipa baja tipis tebal 1.4 mm,
perhitungan dalam 3 Dimensi dan penambahan "koperan" pada tepi slab. Sistim CAM
tsb telah di uji skala penuh oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan di ruas jalan Pantura
Indramyu-Pemanukan (2007) dan digunakan di Jalan Tol seksi 4 Makasar (2008).
6) Pondasi Sumuran (untuk Bangunan Bertingkat)

Gambar pondasi sumuran


Pondasi sumuran memiliki fungsi sama dengan pondasi footplat. Pondasi sumuran
merupakan pondasi yang berupa campuran agregat kasar yang dimasukan kedalam
lubang yang berbentuk seperti sumur dengan besi-besi di dalamnya. Pondasi ini biasanya
digunakan pada tanah yang labil dan memiliki sigma 1,50 kg/cm2. Pondasi sumuran juga

Page 15 of 24
dapat digunakan untuk bangunan beralantai banyak seperti medium rise yang terdiri dari
3-4 lantai dengan syarat keadaan tanah relatif keras.
7) Pondasi Bored Pile atau Strauss pile (untuk Bangunan Bertingkat)

Gambar pondasi bored pile


Pondasi Bored pile digunakan untuk banguna berlantai banyak seperti rumah susun
yang memiliki lantai 4-8 lantai. Pondasi ini berbentuk seperti paku yang kemudian di
tancapkan kedalam tanah dengan menggunakan alat berat seperti kren.
8) Pondasi Tiang Pancang atau Paku Bumi (untuk bangunan bertingkat)

Gambar pondasi tiang pancang


Pondasi tiang pancang ini merupakan pondasi yang banyak digunakan untuk
pembangunan gedung berlantai banyak seperti Apartment, Kondominium, Rent Office
dan sebagainya. Pondasi ini hampir sama dengan pondasi bored pile. Namun pondasi
tiang pancang memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan pondasi bored
pile.
B. Tie Beam/ Sloof

Page 16 of 24
Sloof adalah struktur bangunan yang terletak di atas pondasi bangunan. Jenis Konstruksi
Beton Bertulang ini biasanya dibuat pada bangunan Rumah atau Gedung, dan posisinya
biasanya pada Lantai 1 atau Orang-orang biasa menyebutnya Lantai Dasar. Inilah sebab nya
mengapa kita jarang melihat bentuk sloof saat bangunan sudah “Berdiri” tegak. walau bentuk
sloof tidak terlihat tapi fungsi sloof sangat dibutuhkan dalam suatu bangunan. Seperti dapat
kita lihat pada Gambar dibawah :

Gambar sloof pada konstruksi bangunan


Namun berdasarkan konstruksinya, ada beberapa macam sloof sebagai berikut :
 Konstruksi Sloof dari Beton Bertulang. Konstruksi sloof ini bisa digunakan di atas
pondasi batu kali apabila pondasi tersebut dimaksudkan untuk rumah atau
gedung(bangunan) tidak bertingkat dengan perlengkapan kolom praktis pada jarak
dinding kurang lebih 3 m. Untuk ukuran lebar / tinggi sloof beton bertulang adalah >15 /
20 cm. Konstruksi sloof dari beton bertulang juga bisa dimanfaatkan sebagai balok
pengikat pada pondasi tiang.
 Konstruksi Sloof dari Batu Bata. Rolag dibuat dari susunan batu bata yang dipasang
dengan cara melintang dan yang diikat dengan adukan pasangan (1 bagian portland
semen : 4 bagian pasir). Konstruksi rolag ini tidak memenuhi syarat untuk membagi
beban.
 Konstruksi Sloof dari Kayu. konstruksi rumah panggung dengan pondasi tiang kayu
(misalnya di atas pondasi setempat), sloof dapat dibentuk sebagai balok pengapit. Jika
sloof dari kayu ini terletak di atas pondasi lajur dari batu atau beton, maka dipilih balok
tunggal.
Sloof adalah jenis Konstruksi Beton Bertulang yang sengaja didisain khusus Luas
Penampang dan Jumlah Pembesiannya, disesuaikan dengan kebutuhan Beban yang akan
dipikul oleh Sloof tersebut nantinya.
Untuk menetukan Luas Penampang (ukuran Sloof ini), dibutuhkan Perhitungan Teknis
yang Tepat agar Sloof tersebut nanti “benar-benar Mampu” untuk memikul Beban Dinding

Page 17 of 24
Bata diatasnya nanti. Untuk itu ada baiknya kita menggunakan jasa Konsultan untuk
menghitung dan mendisain dimensi Sloof ini.
Sloof ini berfungsi untuk memikul Beban dinding, sehingga dinding tersebut
“BERDIRI” pada beton yang kuat, sehingga tidak terjadi penurunan dan pergerakan yang
bisa mengakibatkan dinding rumah menjadi Retak atau Pecah.
Adapun fungsi sloof lainnya adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pengikat kolom.
2. Meratakan gaya beban dinding ke pondasi.
3. Menahan gaya beban dinding.
4. Sebagai balok penahan gaya reaksi tanah yang disalurkan dari pondasi lajur.
Jadi bisa dikatakan Sloof juga merupakan salah satu Pondasi bagi rumah. Spesifiknya
adalah mendukung beban dinding rumah tersebut. Bila dikategorikan Sloof adalah termasuk
Pondasi Menerus.
C. Kolom

Gambar pembuatan kolom pada proyek gedung


Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok.
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu
bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996).
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan
yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak
ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan Dipohusodo, 1994), ada tiga jenis
kolom beton bertulang yaitu :
 Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom beton
yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu

Page 18 of 24
diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang
tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.
 Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja
sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan
keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral
adalah memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum
runtuh, sehingga mampu mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum
proses redistribusi momen dan tegangan terwujud.
 Struktur kolom komposit, merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah
memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang
tulangan pokok memanjang.
D. Balok
Balok adalah bagian dari structural sebuah bangunan yang kaku dan dirancang untuk
menanggung dan mentransfer beban menuju elemen-elemen kolom penopang. Selain itu ring
balok juga berfungsi sebag pengikat kolom-kolom agar apabila terjadi pergerakan kolom-
kolom tersebut tetap bersatu padu mempertahankan bentuk dan posisinya semula. Ring balok
dibuat dari bahan yang sama dengan kolomnya sehingga hubungan ring balok dengan
kolomnya bersifat kaku tidak mudah berubah bentuk.Pola gaya yang tidak seragam dapat
mengakibatkan balok melengkung atau defleksi yang harus ditahan oleh kekuatan internal
material.
Beberapa jenis balok antara lain :
1) Balok sederhana bertumpu pada kolom diujung-ujungnya, dengan satu ujung bebas
berotasi dan tidak memiliki momen tahan. Seperti struktur statis lainnya, nilai dari semua
reaksi,pergeseran dan momen untuk balok sederhana adalah tidak tergantung bentuk
penampang dan materialnya.

2) Kantilever adalah balok yang diproyeksikan atau struktur kaku lainnya didukung hanya
pada satu ujung tetap.
3) Balok teritisan adalah balok sederhana yang memanjang melewati salah satu kolom
tumpuannya.
4) Balok dengan ujung-ujung tetap ( dikaitkan kuat ) menahan translasi dan rotasi
5) Bentangan tersuspensi adalah balok sederhana yang ditopang oleh teristisan dari dua
bentang dengan konstruksi sambungan pin pada momen nol.

Page 19 of 24
6) Balok kontinu memanjang secara menerus melewati lebih dari dua kolom tumpuan untuk
menghasilkan kekakuan yang lebih besar dan momen yang lebih kecil dari serangkaian
balok tidak menerus dengan panjang dan beban yang sama.
E. Pelat lantai
Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, merupakan lantai
tingkat pembatas antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain. Plat lantai didukung oleh
balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan. Ketebalan plat lantai ditentukan
oleh :
1. Besar lendutan yang diinginkan
2. Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung
3. Bahan konstruksi dan plat lantai
Plat lantai harus direncanakan: kaku, rata, lurus dan waterpas (mempunyai ketinggian
yang sama dan tidak miring), agar terasa mantap dan enak untuk berpijak kaki. Ketebalan plat
lantai ditentukan oleh : beban yang harus didukung, besar lendutan yang diijinkan, lebar
bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung, bahan konstruksi dari plat lantai.
Pada plat lantai hanya diperhitungkan adanya beban tetap saja (penghuni, perabotan,
berat lapis tegel, berat sendiri plat) yang bekerja secara tetap dalam waktu lama. Sedang
beban tak terduga seperti gempa, angin, getaran, tidak diperhitungkan.
Fungsi plat lantai adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pemisah ruang bawah dan ruang atas
2. Sebagai tempat berpijak penghuni di lantai atas
3. Untuk menempatkan kabel listrik dan lampu pada ruang bawah\
4. Meredam suara dari ruang atas maupun dari ruang bawah
5. Menambah kekakuan bangunan pada arah horizontal
Plat lantai beton bertulang umumnya dicor ditempat, bersama-sama balok penumpu dan
kolom pendukungnya. Dengan demikian akan diperoleh hubungan yang kuat yang menjadi
satu kesatuan, hubungan ini disebut jepit-jepit. Pada plat lantai beton dipasang tulangan baja
pada kedua arah, tulangan silang, untuk menahan momen tarik dan lenturan. Untuk
mendapatkan hubungan jepit-jepit, tulangan plat lantai harus dikaitkan kuat pada tulangan
balok penumpu.
Perencanaan dan hitungan plat lantai dari beton bertulang harus mengikuti persyaratan
yang tercantum dalam buku SNI Beton 1991.

Page 20 of 24
2.8 STANDAR PERENCANAAN BETON
Adapun beberapa standar perencanaan beton yang umum digunakan adalah sebagai
berikut :
 SNI 2847 2013 Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung
 SNI 6816 2002 Tata cara pendetailan penulangan beton
 SNI-7392-2008 Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel
jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan
 Perencanaan struktur beton pratekan untuk jembatan
 SNI 2823 1992 Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Memakai Gelagar Sederhana Dengan
Sistem Beban Titik Di Tengah
 SNI 6429 2000 Metode pengujian kuat tekan beton silinder dengan cetakan silinder di dalam
tempat cetakan
 SNI 3402 2008 Cara uji berat isi beton ringan structural
 SNI 3419 2008 Cara uji abrasi beton di laboratorium
 SNI 4156 2008 Cara uji bliding dari beton segar
 SNI 6369 2008 Tata cara pembuatan kaping untuk benda uji silinder beton
 SNI 2491 2002 Metode pengujian kuat tarik belah beton
 SNI 1972 2008 Cara uji slump beton
 SNI 1969 2008 Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar
 SNI 1970 2008 Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus
 SNI 1971 2011 Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan
 SNI 1973 2008 Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton
 SNI 1974 2011 Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetak
 SNI 1974 1994 Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetak
 SNI 03-6813-2002 Tata cara pembuatan silinder dan prisma uji untuk menentukan kekuatan dan
densitas beton agregat praletak di laboratorium

Page 21 of 24
BAB III

PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN
Beton adalah campuran antara semen, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau
tanpa bahan campuran tambahan yang membentuk massa padat. Bahan penyusun beton
tersebut pun memiliki banyak banyak klasifikasi yang berdasarkan kegunaan, bentuk, dan
ukuran yang mana telah diuraikan pada bagian pembahasan.
Beton sebagai bahan bangunan juga telah lama dikenal di Indonesia. Disamping
mempunyai kelebihan dalam mendukung tegangan tekan, beton mudah dibentuk sesuai
dengan kebutuhan, dapat digunakan pada berbagai struktur teknik sipil serta mudah di rawat.
Dalam pembuatan beton pun dapat dimanfaatkan bahan-bahan lokal oleh sebab itu beton
sangat populer dipakai.

3.2 SARAN
a) Perlu di perhatikan ketika menggunakan beton sebagai bahan struktur, pekerjaan
penulangan beton harus di perhitungkan dengan matang, karena jika tidak kualitas beton
menurun.
b) Seorang perencana struktur hendaklah selalu mangikuti perkembangan peraturan dan
pedoman – pedoman standar dalam perencanaan struktur, sehingga bangunan yang
dihasilkan nantinya selalu memenuh persyaratan yang terbaru yang ada ( up to date )
seperti dalam hal peraturan perencanaan struktur tahan gempa, standar perencanaan
struktur beton, harga matrial terbaru dan sebagainya.
c) Pemilihan metode pelaksanaan maupun penggunaan bahan dan peralatan berpedoman
pada faktor kamudahan dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, pengalaman tenaga
kerja serta segi ekonomisnya.

Page 22 of 24
DAFTAR PUSTAKA

https://hidayatullailiah.wordpress.com/2016/04/02/bahan-penyusun-beton/

http://kontruksibangunan-kb1.blogspot.co.id/2013/03/kelebihan-dan-kekurangan-beton-pada-
konstruksi.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Beton

http://mynewblogkti.blogspot.co.id/2016/05/struktur-beton-sebagai-salah-satu-bahan_14.html

https://www.scribd.com/doc/203868369/Makalah-Teknologi-Bahan-1-Beton

http://projectmedias.blogspot.co.id/2014/03/macam-macam-tulangan.html

http://blogargajogja.com/struktur/cara-membaca-tulangan-lapangan-dan-tumpuan-pada-
gambar-kerja-struktur.html/attachment/membaca-gambar-detail-balok-kolom-argajogja

https://vancivil.blogspot.co.id/2016/10/pbi-peraturan-beton-bertulang-indonesia.html

Page 23 of 24
Page 24 of 24