Anda di halaman 1dari 4

1.

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang)
dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan
memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami
memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari
segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
2. “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70
rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil
dari Abu Hurairah)
3. “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah,
dari Aisyah r.a.)
4. “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai
wewangian, bersiwak dan menikah”(HR. Tirmidzi)
5. “Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena
pihak ketiga adalah syaithan” (HR. Abu Dawud)
6. “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka
hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan
dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia
berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-
Muslim)
7. “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya.
Janganlah salah seorang diantara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai
mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
8. “Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri
yang sholihah” (HR. Muslim)
9. “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya,
maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya
terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi)
10. “Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya
pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang
lain” (HR. Al-Hakim dan At-Thohawi)
11. “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : 1. Orang yang berjihad / berperang di
jalan Allah. 2. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 3. Pemuda / I yang menikah
karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan
Hakim)
12. “Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah,
karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan
Muslim dari Ibnu Mas’ud)
13. “Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya
aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
14. “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah
(keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang
lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
15. “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah
yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
16. “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian
kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup
membujang” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani)
17. “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun
buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya,
Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan
kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan
memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan
menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin
menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah
senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
18. “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu
membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja
harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena
agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah
lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
19. “Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. Telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu
dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah
yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
20. “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR.
Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
21. “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan
takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali
pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
22. “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya
(maharnya)” (HR. Ahmad)
23. “Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa
keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
24. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
25. “Rasulullah Saw melarang laki-laki yang menolak kawin (sebagai alasan)untuk beralih
kepada ibadah melulu.” (HR. Bukhari)
26. “Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baik benda
(perhiasan) adalah wanita (isteri) yang sholehah”. (HR. Muslim)
27. “Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu
tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap
penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang
meminangnya.” (HR. Ahmad)
28. “Seorang janda yang akan dinikahi harus diajak bermusyawarah dan bila seorang gadis
maka harus seijinnya (persetujuannya), dan tanda persetujuan seorang gadis ialah diam
(ketika ditanya). “(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
29. “Kawinilah gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih sedap mulutnya dan lebih banyak
melahirkan serta lebih rela menerima (pemberian) yang sedikit.”(HR. Ath-Thabrani)
30. “Janganlah seorang isteri memuji-muji wanita lain di hadapan suaminya sehingga
terbayang bagi suaminya seolah-olah dia melihat wanita itu.” (HR. Bukhari)
31. “Seorang isteri yang ketika suaminya wafat meridhoinya maka dia (isteri itu) akan masuk
surga. “(HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
32. “Hak suami atas isteri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami dan memperlakukannya
dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya dan tidak ke luar (meninggalkan) rumah
kecuali dengan ijin suaminya, tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak
disukai suaminya. “(HR. Ath-Thabrani)
33. “Tidak sah puasa (puasa sunah) seorang wanita yang suaminya ada di rumah, kecuali
dengan seijin suaminya. “(Mutafaq’alaih)
34. “Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan kalau dibenarkan manusia sujud
kepada manusia, aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya
jasa (hak) suami terhadap isterinya.”(HR. Ahmad)
35. “Apabila di antara kamu ada yang bersenggama dengan isterinya hendaknya lakukanlah
dengan kesungguhan hati. Apabila selesai hajatnya sebelum selesai isterinya, hendaklah
dia sabar menunggu sampai isterinya selesai hajatnya. “(HR. Abu Ya’la)
36. “Apabila seorang di antara kamu menggauli isterinya, janganlah menghinggapinya seperti
burung yang bertengger sebentar lalu pergi. “(HR. Aththusi)
37. “Seburuk-buruk kedudukan seseorang di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang
menggauli isterinya dan isterinya menggaulinya dengan cara terbuka lalu suaminya
mengungkapkan rahasia isterinya kepada orang lain. “(HR. Muslim)
38. “Sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok. Bila kamu membiarkannya
(bengkok) kamu memperoleh manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya maka
kamu mematahkannya. “(HR. Ath-Thahawi)
39. “Talak (perceraian) adalah suatu yang halal yang paling dibenci Allah. “(HR. Abu Dawud
dan Ahmad)
40. “Ada tiga perkara yang kesungguhannya adalah kesungguhan (serius) dan guraunya
(main-main) adalah kesungguhan (serius), yaitu perceraian, nikah dan rujuk. “(HR. Abu
Hanifah)
41. “Apabila suami mengajak isterinya (bersenggama) lalu isterinya menolak melayaninya
dan suami sepanjang malam jengkel maka (isteri) dilaknat malaikat sampai pagi.
“(Mutafaq’alaih)
42. “Allah tidak akan melihat (memperhatikan) seorang lelaki yang menyetubuhi laki-laki lain
(homoseks) atau yang menyetubuhi isteri pada duburnya. “(HR. Tirmidzi)