Anda di halaman 1dari 18

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH UTARA

DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA
Jln. Irigasi Krueng Pasee – Jungka Gajah Kecamatan Meurah Mulia Kode Pos 24372
email : meurahmulia.puskesmas@yahoo.com Blog : http://meurahmuliapuskesmas.blogspot.com

KEPUTUSAN
KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA
Nomor : /MM/KEP/I/2019

TENTANG
PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN
UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka peningkatan mutu layanan klinis dan


keselamatan pasien, maka tenaga klinis wajib berperan aktif
dalam pelaksanaan UPTD Puskesmas Meurah Mulia;
b. bahwa untuk melakasanakan tanggung jawab tersebut, perlu
kewajiban tenaga klinis dalam peningkatan mutu klinis;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan
Kepala UPTD Puskesmas Meurah Mulia tentang kewajiban
tenaga klinis dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan
pasien UPTD Puskesmas Meurah Mulia.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014


Tentang Kesehatan;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Tenaga Kesehatan;
3. Peraturaan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
296 tahun 2008 tentang Pedoman Pengobatan Dasar di
Puskesmas;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
46 tahun 2015 tentang Peningkatan Mutu Klinis dan
Keselamatan Pasien.

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN KLINIS UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA;
KESATU : Peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien di UPTD
Puskesmas Meurah Mulia, sebagaimana tercantum dalam
Lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat
keputusan ini.
KEDUA : Pembentukan Tim Peningkatan Mutu Pelayanan Klinis Dan
Keselamatan Pasien Dan Penyusunan Indikator Klinis,
Sebagaimana Dicantumkan dalam Lampiran 1;
KETIGA : Identifikasi Dokumentasi dan Pelaporan Kasus KTD, KPC,
KNC, Sebagaimana Dicantumkan Dalam Lampiran 2;
KEEMPAT : Penanganan KTD, KPC, KNC, sebagaimana dicantumkan dalam
lampiran 3;
KELIMA : Penerapan Manajemen Resiko Klinis, sebagaimana dicantumkan
dalam lampiran 4;
KEENAM : Budaya Mutu Dan Keselamatan Pasien, sebagaimana
dicantumkan dalam lampiran 5;
KETUJUH : Standar Layanan Klinis, sebagaimana dicantumkan dalam
lampiran 6;
KEDELAPAN : Penetapan Dokumen Eksternal Sebagai Acuan Dalam
Penyusunan Standar Pelayanan Klinis, sebagaimana
dicantumkan dalam lampiran 7;
KESEMBILAN : Indikator Mutu Layanan Klinis, sebagaimana dicantumkan
dalam lampiran 8;
KESEPULUH : Sasaran Keselamatan Pasien, sebagaimana dicantumkan dalam
lampiran 9;
KESEBELAS : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan
ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan
diadakan perbaikan/perubahan sebagaiman mestinya.

Ditetapkan di : Meurah Mulia


Pada tanggal : Februari 2019

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA,

NURZAHRI
LAMPIRAN I :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

IDENTIFIKASI DOKUMENTASI DAN PELAPORAN KASUS KTD, KPC, KNC

1. Identifikasi dan pelaporan kasus KTD, KPC, dan KNC dilakukan oleh semua tenaga klinis
serta wajib melaksanakan identifikasi, dokumentasi, dan melaporkan apabila menemukan
kejadian tidak diharapkan, kejadian potensial cedera, dan kejadian nyaris cedera.
2. Laporan yang dimaksud dalam bentuk diktum pertama adalah dilaporkan lisan kepada
Dokter penanggungjawab pelayanan pada saat kejadian agar dilakukan pencegahan dan
pertolongan sesegera mungkin, dan laporan harus dibuat 2x24 jam.

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 2 :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

PENANGANAN KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN, KEJADIAN POTENSIAL CEDERA,


DAN KEJADIAN NYARIS CEDERA

A. PENDAHULUAN
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien lebih
aman yang meliputi assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan resiko
pasien, pelaporan dan analisis pasien, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalisasikan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera
yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan untuk tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil.
Insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut insiden adalah setiap kejadian yang
tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat
dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan
Kejadian Nyaris Cedera

B. TEMA
Penggunaan Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian Nyaris
Cedera akan meningkatkan mutu pelayanan klinis.

C. TUJUAN
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di puskesmas
b. Meningkatnya akuntabilitas puskesmas terhadap pasien dan masyarakat
c. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian
Nyaris Cedera di puskesmas
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera

D. SASARAN
a. Puskesmas
b. Puskesmas Pembantu
c. Poskesdes

E. BENTUK KEGIATAN
Penanggulangan terhadap terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial
Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi kasus
b. Pelaporan kepada Tim Manajemen Mutu Puskesmas
c. Analisis kasus oleh Tim Manajemen Mutu Puskesmas
d. Implementasi/pelaksanaan perbaikan pada mutu layanan klinis oleh semua tenaga
klinis di puskesmas
e. Pencegahan terulangnya kembali kasus yang sama oleh semua tenaga klinis di
puskesmas

F. PENUTUP
Demikian program ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai penanganan
Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Potensial Cedera, dan Kejadian Nyaris Cedera di UPTD
Puskesmas Meurah Mulia.

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 3 :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

PENERAPAN MANAJEMEN RESIKO

A. PENDAHULUAN
Manajemen resiko klinis merupakan suatu upaya sistematis yang dilakukan di puskesmas
dalam rangka mengurangi resiko akibat pelaksanaan pelayanan medis. Resiko klinis dapat berupa
bahaya, kesalahan, musibah, atau potensi terjadinya hal-hal yang merugikan pasien terkait dengan
atau sebagai dampak asuhan klinis yang diberikan kepadanya.

B. TUJUAN
Meminimalisasikan terjadinya kesalahan medis, kejadian yang tidak diharapkan, dan
kerugian pada pasien sehingga membuat asuhan pasien menjadi lebih lama.
Meminimalisasikan kemungkinan terjadinya klaim dan mengendalikan biaya klaim yang
harus menjadi tanggungan institusi.

C. SASARAN
a. Puskesmas
b. Puskesmas Pembantu
c. Poskesdes

D. TAHAPAN MANAJEMEN RESIKO KLINIS


a. Identifikasi resiko: keluhan pasien, klaim, pelaporan insiden, audit medis
b. Pembahasan: Tim PMKP, Koordinator pemegang program
c. Kesimpulan: RCA: tipe medical error, sumber medical error; FMEA: kebijakan,
perbaikan prosedur, peraturan, dll.
d. Tindak lanjut

E. LAPORAN KEJADIAN
Pelaporan setiap masalah atau kejadian yang menyimpang dari yang direncanakan atau
secara normal seharusnya tidak terjadi dan berdampak pada keselamatan pasien, bepotensi
menghadapkan puskesmas pada tuntutan hukum, berpotensi menghadapkan pasien pada keadaan
yang beresiko.
Masalah/kejadian tidak harus selalu menyebabkan cedera, tetapi termasuk juga kejadian
yang potensial menyebabkan cedera.
Pelaporan atas masalah/kejadian yang dapat dijadikan pelajaran untuk mengeliminasi dan
meminimalisasikan resiko terutama yang mempunyai dampak terhadap anggaran dan resiko
ketersediaan keuangan dan peralatan.

F. SUMBER KESALAHAN MEDIS

Manusia Kelelahan
Kurang terlatih
Komunikasi yang buruk
Kekuasaan monopoli
Keterbatasan waktu
Sanksi yang lemah
Keraguan
Tidak percaya diri
Tidak mau belajar

Organisasi Perencanaan kebijaksanaan yang tidak jelas


Administrasi dan pembiayaan yang minimal
Umpan balik yang tidak jelas
Ketidakjelasan peraturan
Ketidakjelasan pembagian tugas

Rancang bangun gedung/ Peralatan yang buruk


Tehnikal Peralatan yang minimal
Tidak banyak informasi penggunaan alat
Tidak menggunakan SOP
Kurang integrasi
Tipe kesalahan medis Kekeliruan konsep
Kekeliruan konsep penyakit
Kekeliruan konsep pengobatan
Kekeliruan diagnosa
Missdiagnosed
Late-diagnosed
Gagal melakukan prosedur diagnosa
Gagal melakukan pemantauan dan follow-up
Hasil pemeriksaan penunjang yang tidak valid

Kekeliruan terapi Salah melakukan tindakan medis


Salah memberikan terapi
Salah menetapkan diagnosa
Salah menetapkan jenis obat
Salah memberikan terapi media meskipun indikasi
medis jelas
Melakukan tindakan medis yang tidak ada indikasinya

Kekeliruan pencegahan Gagal melakukan terapi pencegahan sesuai yang


Diperlukan
Tidak adekuat melakukan pemantauan terapi

Lainnya Gagal dalam berkomunikasi baik dengan pasien


Maupun tenaga kesehatan lainnya
Kesalahan/kegagalan sistem lainnya

G. PENUTUP
Demikian hal ini dibuat untuk gambaran mengenai penerapan manajemen resiko klinis di
UPTD Puskesmas Meurah Mulia.

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 4 :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

BUDAYA MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN DALAM PELAYANAN KLINIS

1. Kesadaran (Awareness)
Seluruh staf harus sadar untuk bekerja dengan berhati-hati. Seluruh staf puskesmas mampu
mengenali kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, serta mengambil tindakan untuk
memperbaikinya.

2. Terbuka dan Adil


Bagian yang fundamental dari organisasi dengan budaya keselamatan adalah menjamin
adanya keterbukaan yang adil, berbagi informasi secara “terbuka dan bebas”, perlakuan yang adil
terhadap staf saat terjadi insiden. Adapun konsekuensi terbuka dan adil adalah:
a. Staf harus terbuka terhadap insiden yang melibatkan mereka
b. Staf harus akuntabel terhadap tindakan mereka
c. Staf merasa mampu berbicara kepada pasien dan atasannya tentang insiden yang
terjadi
d. Puskesmas terbuka dengan staf, pasien, dan masyarakat
e. Staf diperlakukan adil dan didukung jika terjadi insiden

3. Pendekatan Sistem
Memiliki budaya keselamatan akan mendorong terciptanya lingkungan yang
mempertimbangkan semua komponen sebagai faktor yang ikut berkontribusi terhadap insiden yang
terjadi.

Hal ini menghindari kecenderungan untuk menyalahkan individu dan lebih melihat kepada
sistem dimana individu tersebut bekerja. Inilah yang disebut pendekatan sistem (System Approach).

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 5 :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

STANDAR LAYANAN KLINIS

Penetapan standar layanan klinis di UPTD Puskesmas Meurah Mulia adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan klinis berorientasi pada SPM (Standar Pelayanan Minimal) Kabupaten, apabila
tidak terdapat pada SPM Kabupaten maka mengacu pada SPM Propinsi dan atau Nasional.
2. Pelayanan klinis dilakukan sesuai dengan SOP UPTD Puskesmas Meurah Mulia.

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 6 :KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN
KESELAMATAN PASIEN DI UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA

PENETAPAN DOKUMEN EKSTERNAL YANG MENJADI ACUAN DALAM MENYUSUN


STANDAR PELAYANAN KLINIS

Dalam penyususnan standar pelayanan klinis dipandang perlu untuk mengacu terhadap
dokumen-dokumen tertentu sebagai referensi, berikut ini dokumen eksternal yang ditetapkan
sebagai acuan penyusunan standar pelayanan klinis:

NO JUDUL DOKUMEN
1. Undang undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
2. Undang Undang no 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi Publik
3. Undang Undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan
4. Peraturan presiden no 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
5. Permenpan 13 tahun 2009 tentang Pedoman peningkatan Kualitas pelayanan
6. Permenkominfo no 10 tahun 2010 tentang pengelolaan Informasi dan Dokumentasi
7. Permenkes 35 tahun 2012 tentang standart penyususnan SOP Admin pemerintah
8. Kepmenkes 81 tahun 2004 tentang pedoman penyusunan perencanaan SDM
Kesehatan
9. Pedoman minilokakarya Puskesmas 2006
10. Undang-undang no 74 tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya
11. Sistem manajemen Mutu ISO 9001 – 2008
12. Permenkes No 75 tahun 2014 tentang Puskesmas
13. UU no 36/2009 ttg kesehatan
14. UU 44/2009 tentang Rumah sakit
15. Standar Profesi pelayanan medis
16. Standar asuhan Keperawatan
17. Pedoman triase
18. Standar pelayanan Klinis Puskesmas
19. PMK 128/2008 ttg Kebijakan Dasar puskesmas
20. Pedoman Pelananan klinis dari organisasi
21. Panduan kewaspadaan universal
22. Pedoman Anastesi dan sedasi
23. PMK 37/2012 ttg penyelenggaraan laboratorium Pusat kesehatan masyarakat
24. Peraturan Pemerintah ttg pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun
25. SK Menkes 382 tahun 2007
26. SK Menkes No 270 tahun 2007
27. Permenkes 30/2014 ttg standart pelayanan kefarmasian di puskesmas
28. Pedoman Interpretasi data klinik
29. Panduan tertulis untuk evaluasi reagensia
30. Formulariu obat
31. Buku pedoman pengelolaan Obat di Puskesmas oleh Direktorat jendral pembinaan
kesehatan masyarakat Depkes RI 1994
32. Klasifikasi diagnosis
33. PMK 269/2008 ttg Rekam Medis
34. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi no PER 04/MEN/1980 ttg syarat-
syarat pemasangan dan pemeliharaan Alat pemadam api ringan
35. PMK 13/2015 ttg penyelenggaraan pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas
36. PMK 755/2011 ttg penyelenggaraan komite medic Rumah sakit
37. Standar pelayanan rekam Medis
38. Modul pelatihan pengelolaan Peralatan puskesmas
39. PMK 5/2014 Panduan praktek klinis
40. Pedoman Keselamatan Pasien
41. Panduan manajemen resiko Klinis
42. KEP.MENKES RI. NO 284/MENKES/SK/IV/2006, tentang Standar Pelayanan
Asuhan Kesgilut
43. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor: HK.02.04/II/964/2012
tentang Pedoman Paket Dasar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas
44. Per Men Kes No. 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
45. Pedoman pelaksanaan mutu klinis
46. Panduan pelayanan medis
47. Pedoman pemeriksaan Fisik
48. Pedoman pengobatan dasar
49. Pedoman pemeriksaan Diagnosa
50. Pedoman pelaksanaan laboratorium

KEPALA UPTD PUSKESMAS MEURAH MULIA

NURZAHRI
LAMPIRAN 7 : KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I /2019
TENTANG : INDIKATOR MUTU LAYANAN KLINIS UPTD
PUSKESMAS MEURAH MULIA

PENETAPAN PRIORITAS INDIKATOR MUTU KLINIS


PUSKESMAS MEURAH MULIA

No Jenis Pelayanan Indikator Yang Dinilai Ketersediaan Standar


Tenaga Pencapaian
Kesehatan
1. Ruang Pendaftaran / Kepatuhan melakukan identifikasi 13 orang 100%
Rekam Medik pasien saat pengambilan Rekam
Medis pasien ( SKP 1 )
Kelengkapan Pengisian Rekam 100%
Medik 24 Jam setelah selesai
Pelayanan
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
resiko jatuh dan transfer pasien
prioritas dan anak – anak ke unit
pelayanan (SKP 6)

2. Ruang Pemeriksaan Kepatuhan melakukan identifikasi 6 orang 100


Umum pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Waktu pelayanan ≤ 10 menit 100%
Kesesuaian diagnosa dan terapi 100%

3. Ruang Unit Gawat Kepatuhan memasang gelang 13 orang 100%


Darurat identitas (SKP 1)
Kepatuhan pelaksanaan SBAR dan 100%
TBK (SKP 2)
Kepatuhan penandaan sisi 100%
penyuntikan, insisi, hecting, operasi
dan compliance rate pada prosedur
– prosedur kritis (SKP 4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene (SKP 5)
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

4. Ruang PTM Kepatuhan melakukan identifikasi 6 orang 100%


pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kesesuaian diagnosa dan terapi 100%
Waktu pelayanan ≤ 10 menit 100%

5. Ruang Pemeriksaan Kepatuhan melakukan identifikasi 3 orang 100%


Gigi dan Mulut pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan penandaan sisi 100%
penyuntikan dan pencabutan (SKP
4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene (SKP 5)

6. Ruang Kesehatan Kepatuhan melakukan identifikasi 5 orang 100%


Ibu dan Anak / KB pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan penandaan sisi 100%
penyuntikan KB, pemasangan
implant dan spiral (SKP 4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene (SKP 5)
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

7. Ruang IVA Kepatuhan melakukan identifikasi 3 orang 100%


pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Ketepatan lokasi pemasangan 100%
speculum pada pemeriksaan di
portio (SKP 4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene (SKP 5)
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

8. Ruang Laboratorium Kepatuhan melakukan identifikasi 5 orang 100%


pasien pada saat memberikan
tindakan (SKP 1)
Kepatuhan pelaksanaan SBAR dan 100%
TBK (SKP 2)
Ketepatan lokasi penusukan, tepat 100%
prosedur dan tepat pasien sesuai
pemeriksaan yang dilakukan (SKP
4)
Kepatuhan pemakaian hand hygiene 100%
(SKP 5)

9. Ruang Farmasi Kepatuhan melakukan identifikasi 7 orang 100%


pasien pada saat memberikan obat
(SKP 1)
Pelabelan dan penyimpanan obat – 100%
obatan LASA/NORUM dan
Elektrolit Konsentrat pada area
yang dibatasi ketat (SKP 3)
Kepuasaan Pelanggan ≥ 80%

10. Ruang Imunisasi Kepatuhan melakukan identifikasi 2 orang 100%


pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan dalam penandaan lokasi 100%
dan prosedur penyuntikan sesuai
vaksin yang diberikan(SKP 4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene(SKP 5)

11. Ruang Gizi Kepatuhan melakukan identifikasi 3 orang 100%


pasien pada saat memberikan obat
(SKP 1)
Konseling gizi oleh petugas gizi 100%
Kepuasaan Pelanggan ≥ 80%

12. Ruang Persalinan Kepatuhan melakukan identifikasi 5 orang 100%


pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene (SKP 5)
Kepatuhan penandaan sisi 100%
penyuntikan oksitosin dan
pemasangan infus (SKP 4)
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

13. Rawat Inap Kepatuhan melakukan identifikasi 14 orang 100%


pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan pelaksanaan SBAR dan 100%
TBK (SKP 2)
Kepatuhan penandaan sisi 100%
penyuntikan, insisi, hecting, operasi
dan compliance rate pada prosedur
– prosedur kritis (SKP 4)
Kepatuhan pemakaian hand 100%
hygiene(SKP 5)
Kepatuhan melakukan assesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

14. Ruang Pencegahan Kepatuhan pemakaian hand 2 orang 100%


Infeksi hygiene (SKP 5)
Ketersediaan Sterilisator 100%
Ketersediaan APD 100%

15. Pelayanan Ketersediaan pelayanan Ambulance 2 orang 100%


Ambulance 24 Jam
Kepatuhan melakukan identifikasi 100%
pasien pada saat memberikan
obat/tindakan (SKP 1)
Kepatuhan melakukan asesmen 100%
jatuh pada pasien (SKP 6)

16. Pelayanan Laundry Kepatuhan pemakaian hand 3 orang 100%


hygiene (SKP 5)
Ketepatan pengelolaan linen 100%
infeksius
Bekerja sesuai SOP 100%

17. Pelayan Pantry Kepatuhan melakukan identifikasi 2 orang 100%


pasien pada saat memberikan diet
makanan (SKP 1)
Ketepatan waktu pemberian ≥ 90%
makanan pada pasien
Adanya penanggung jawab 100%
pelayanan Pantry
LAMPIRAN 8 : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS
MEURAH MULIA
NOMOR : /MM/KEP/I/2019
TENTANG :SASARAN-SASARAN KESELAMATAN
PASIEN

SASARAN KESELAMATAN PASIEN

Tujuan ditetapkannya sasaran keselamatan pasien, adalah untuk mendorong perbaikan


spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran diarahkan kepada bagian-bagian yang bermasalah
dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti dan keahlian atas permasalahan dimaksud.
Untuk meningkatkan keselamatan pasien perlu dilakukan pengukuran terhadap sasaran-sasaran
keselamatan pasien.
Indikator Pengukuran Sasaran Keselamatan Pasien

No Indikator Sasaran Keselamatan Pasien Target


1 Ketepatan Identifikasi pasien 100 %
2 Ketepatan Pemberian Obat kepada pasien 100 %
3 Ketepatan prosedur tindakan medis dan keperawatan 100 %
4 Pengurangan terjadinya resiko infeksi di Puskesmas 75 %
5 Tidak terjadinya pasien jatuh 100 %

Ketepatan Identifikasi Pasien


Identifikasi pasien yang tepat dan mendetail, meliputi : nama, umur, alamat, nomor rekam
medis pasien. Pengukuran indikator dilakukan dengan cara menghitung jumlah pasien yang
teridentifikasi tepat dibagi jumlah seluruh pasien yang dilayani dikali 100 %.

jumlah pasien yang teridentifikasi tepat


Ketepatan identifikasi pasien = X 100 %
jumlah seluruh pasien yang dilayani

Ketepatan Pemberian Obat kepada pasien


Ketepatan pemberian obat kepada pasien, dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi
pada saat memberikan obat kepada pasien. Pengukuran indikator dilakukan dengan cara
menghitung pemberian obat yang tepat sesuai dengan identifikasi pasien dibagi jumlah seluruh
pasien yang mendapat pelayanan obat dikali 100 %.
pemberian obat yang tepat sesuai identifikasi pasien
Ketepatan pemberian obat = X 100 %
jumlah seluruh pasien yang mendapat pelayanan obat.

Ketepatan Prosedur Tindakan Medis dan Keperawatan


Dalam melaksanakan tindakan medis dan keperawatan, petugas harus selalu
melaksanakannya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Identifikasi pasien yang akan
mendapatkan tindakan medis dan keperawatan perlu dilakukan, sehingga tidak terjadi keselahan
dalam pemberian prosedur.
Pengukuran indikator dilakukan dengan cara menghitung pelaksanaan tindakan medis dan
keperawatan yang tepat sesuai prosedur dibagi seluruh tindakan medis yang dilakukan dikali 100 %.

pelaksanaan tindakan medis dan keperawatan


yang tepat sesuai prosedur
Ketepatan Prosedur Tindakan Medis = X 100%
dan Keperawatan seluruh tindakan medis yang dilakukan

Pengurangan Terjadinya Resiko Infeksi di Puskesmas


Agar tidak terjadi resiko infeksi, maka semua petugas Puskesmas wajib menjaga kebersihan
tangan dengan cara mencuci tangan 7 langkah, dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Tujuh
langkah cuci tangan pakai sabun (CTPS) harus dilaksanakan pada lima keadaan, yaitu :
1. Sebelum kontak dengan pasien
2. Setelah kontak dengan pasien
3. Sebelum tindakan aseptik
4. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
5. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
Pengukuran terjadinya resiko unfeksi di Puskesmas, dilakukan dengan cara menghitung jumlah
petugas yang melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) 7 langkah pada 5 keadaan tersebut
diatas dibagi dengan jumlah semua petugas pelayanan klinis dikali 100 %

jumlah petugas yang melakukan cuci tangan


pakai sabun (CTPS) 7 langkah pada 5 keadaan
Terjadinya resiko unfeksi di Puskesmas = X 100 %
jumlah semua petugas pelayanan klinis

Tidak Terjadinya Pasien Jatuh


Setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas Meurah mulia.