Anda di halaman 1dari 1

STATUS AHLI WARIS YANG BERAGAMA ISLAM DALAM SISTEM WARIS

ADAT BALI DAN HUKUM WARIS ISLAM

ABSTRAK
Hukum waris dalam masyarakat adat Bali menganut sistem pembagian
patrilineal, yang warisannya diberikan kepada anak laki-laki sebagai ahli waris atau
purusa. Hal sebaliknya terjadi kepada anak perempuan yaitu bukan sebagai ahli waris
karena anak perempuan melakukan perkawinan disamakan dengan orang yang
meninggalkan tanggung jawab keluarga. Status ahli waris anak laki-laki yang
berstatus purusa namun beragama islam kedudukan ahli waris namun tidak dapat
melakukan upacara dari agama leluhurnya sedangkan anak perempuan tidak
berkedudukan sebagai ahli waris baik beragama hindu atau islam dalam hukum adat
Bali. Sedangkan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 yang berbunyi bahw setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan
hukum.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskribtif analitis. Tahap penelitian
terdiri dari penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data
terdiri dari studi kepustakaan dan wawancara.
Berdasarkan hasil penelitian: Pertama, kedudukan anak laki-laki dan
perempuan yang beragama Islam dalam warisan orantuanya yang beragama Hindu
menghapus haknya sebagai ahli waris, dalam implementasi hukum waris adat bali
kepada ahli waris yang berpindah agama hindu ke islam belum memberikan kepastian
hukum dalam hukum adat bali, Kemajemukan ini terjadi karena di Indonesia belum
mempunyai undang-undang hukum waris nasional yang berlaku dalam pewarisan
bagi mereka pindah agama lain masih mendapatkan mempeluang terutama untuk
laki-laki hanya diberikan harta jiwa dana atau bekal sukarela jika orang tuanya dan
keluarganya ikhlas. Kedua, Pembaharuan hukum adat bali terhadap hak perempuan
sebagai ahli waris telah diubah walaupun sistem pembagian warisan patrilineal hanya
ahli waris laki-laki yang diakui. Bagi mereka yang berpindah agama atau menganut
agama islam tidah mudah untuk menerapkan hukum islam didalamnya karena hukum
adat yang sangat berpengaruh dan keluarga yang memaksa untuk menerapkan
hukum adat sehingga ruang untuk perempuan akan menjadi sempit. Sedangkan
dalam hukum waris islam sangat fleksibel tidak rigit dalam pembagian warisan semua
telah diatur dalam Kompilasi hukum islam yang menentukan hak waris peremuan dan
laki dapat mengikuti Al Quran atau hadist, atau dengan musyawarah dan kesepakatan
sehingga tidak ada yang lebih dominan seperti kaum laki-laki di bali.

Kata Kunci: Waris Adat, Ahli Waris, Keadilan.