Anda di halaman 1dari 184

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan kemajuan teknologi pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK)
perlu adanya dukungan dari berbagai pihak yang berkaitan dengan bidang
keahlian yang dibutuhkan oleh siswa di lapangan kerja yang akan berguna di
pihak DU/DI (dunia usaha/dunia industri). Pelajaran praktek yang didapatkan
dari sekolah masih belum ada artinya jika para siswa tidak dibekali atau
diberikan praktek kerja lapangan seperti yang terjadi langsung di dunia usaha
atau dunia industri. Oleh karena itu, Praktik industri adalah salah satu saran untuk
mengaplikasikan teori dan pengetahuan yang didapat di sekolah.
Praktek kerja industri (PRAKERIN) merupakan sarana yang paling tepat bagi
para siswa untuk mengetahui dan mempraktekkan secara langsung bagaimana
proses produksi yang sedang berlangsung di sebuah industri dan juga sebagai
tahapan awal untuk beradaptasi sebelum nantinya para siswa bekerja setelah
keluar dari sekolah. Dengan begitu, siswa diharapkan dapat meningkatkan
kegiatan belajarnya di sekolah dengan berpijak bahwa kalau mereka nantinya
bekerja di dunia usaha atau dunia industri sudah benar-benar siap dan matang,
sebab para siswa lebih dahulu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman
tentang situasi dan kondisi pada saat melaksanakan praktek kerja industri.

1.2 Tujuan Praktik Industri


1.2.1 Tujuan Pelaksanaan Praktik Industri
a. Menyelaraskan siswa agar memiliki teori yang diperoleh siswa di sekolah
dengan yang ada di suatu industri
b. Melatih siswa agar memiliki rasa disiplin dan tanggung jawab
c. Membekali siswa dengan pengalaman dunia industri secara luas sebelum
terjun ke dunia setelah tamat belajar
1.2.2 Tujuan penulisan laporan praktik industri
a. Sebagai bukti tertulis mengenai apa yang telah dilakukan siswa selama
mengikuti praktik kerja industri

SMK NEGERI 1 CERME Page 1


b. Siswa dapat lebih menguasai menguasai materi dan memahami serta
mampu menyusun laporan
c. Siswa dapat lebih menguasai materi dan memahami serta mampu
menyusun laporan
d. Melengkapi pelajaran yang diperoleh siswa di sekolah tentang industri,
sehinnga dapat menunjang peningkatan taraf pengetahuan siswa
e. Berguna sebagai acuan bagi siswa yang akan datang dalam pelaksanaan
praktik kerja industri tersebut

1.3 Manfaat Praktik Industri


1.3.1 Manfaat bagi pihak industri
a. Perusahaan dapat membagi tugas pada siswa untuk mencari ilmu
pengetahuan dan teknologi (dari sekolah) demi kepentingan perusahaan
b. Siswa dapat bekerja lebih disiplin selama proses pendidikan kerja industri
c. Siswa dapat memberi keuntungan pada perusahaan karena telah ikut aktif
dalam proses industri dan secara tidak langsung mengurangi tenaga yang
dibutuhkan
1.3.2 Manfaat bagi pihak sekolah
a. Hak sekolah dapat menjalin hubungan baik dengan perusahaan
b. Sekolah dapat mengetahui bagaimana proses yang terjadi di perusahaan
melalui siswa
c. Siswa dapat mempratikkan teori yang didapat dari perusahaan terhadap
sekolah
1.3.3 Manfaat bagi siswa
a. Siswa dapat memperoleh tambahan pengalaman sebagai bekal kerja nanti
b. Siswa dapat belajar bersosialisai dengan lingkungan perusahaan sebelum
mulai kerja

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktik Industri


Penyusun melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) selama ± 3 bulan, yang
terhitung dari tanggal 3 Juli 2017 s/d 30 September 2017. Penyusun ditugaskan
untuk melakukan praktik kerja industri di pabrik gula, tepatnya di PG Lestari
yang berlokasi di Desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk.

SMK NEGERI 1 CERME Page 2


1.5 Jadwal Kegiatan Praktik Industri
Kelompok 1
Tanggal tempat kegiatan

03 Juli - 05 Juli 2017 Kantor Pengenalan Lingkungan


Pabrik
06 Juli – 10 Juli 2017 Emplacement Mengetahui tujuan,
ketentuan, fungsi, syarat,
cara kerja, cara kerja alat
di emplasement
11 Juli – 14 Juli 2017 St. Gilingan dan Kantor Mengetahui tujuan,
QC fungsi alat dan bagian
dari setiap mesin di St.
Gilingan, serta
mengetahui mutu dan
varietas tebu di Kantor
QC
15 Juli – 18 Juli 2017 St. Pemurnian Mengetahui proses,
fungsi alat, dan bagian
bagian dari setiap mesin
di St. Pemurnian
19 Juli 2017 Aula Menyusun Laporan

20 Juli – 21 Juli 2017 St. Penguapan Mengetahui proses,


fungsi alat, dan sistem
yang digunakan di St.
Penguapan
24 Juli – 25 Juli 2017 St. Masakan Mengetahui proses,
fungsi alat, dan macam
macam gula di St.
Masakan
26 Juli 2017 Aula Memahami ulang data
observasi di St. Masakan
27 Juli – 28 Juli 2017 St. Putaran Mengetahui fungsi alat,
dan memahami setiap
proses di St. Putaran
29 Juli – 4 Agustus 2017 St. Penyelesaian Mengetahui tujuan, cara
kerja, bahan, fungsi alat di
St penyelesaian,syarat
gudang
5 Agustus – 24 Agustus Laboratorium Mengetahui tujuan, fungsi,
2017 lokasi pengambilan
contoh, jenis-jenis dan
prosedur analisa di PG
Lestari

SMK NEGERI 1 CERME Page 3


25 – 26 Agustus 2017 Ipal (limbah) Jenis-jenis, pengendalian,
parameter, sanitasi limbah
28 – 30 Agustus 2017 Aula Revisi laporan
3 – 18 September 2017 St.gilingan ; St.pemurnian ; Mempelajari ulang materi
St .penguapan ; St.masakan gilingan sampai
; St.Putaran ; pengemasan
St.penyelesaian
19 September 2017 Aula Tes
20 – 30 September 2017 Aula Mempelajari ulang materi
gilingan sampai
pengemasan

Kelompok 2

Tanggal Tempat Kegiatan


03 Juli - 05 Juli 2017 Kantor Pengenalan Lingkungan
Pabrik
06 Juli – 10 Juli 2017 St. Gilingan dan Kantor Mengetahui tujuan,
QC fungsi alat dan bagian
dari setiap mesin di St.
Gilingan, serta
mengetahui mutu dan
varietas tebu di Kantor
QC
11 Juli – 14 Juli 2017 Emplacement Mengetahui tujuan,
ketentuan, fungsi, syarat,
cara kerja, cara kerja alat
di emplasement
15 Juli – 17 Juli 2017 St. Penguapan Mengetahui proses,
fungsi alat, dan sistem
yang digunakan di St.
Penguapan
18 Juli 2017 Aula Menyusun laporan

19 Juli – 21 Juli 2017 St. Pemurnian Mengetahui proses,


fungsi alat, dan bagian
bagian dari setiap mesin
di St. Pemurnian
22 Juli – 24 Juli 2017 St. Putaran Mengetahui fungsi alat,
dan memahami setiap
proses di St. Putaran
25 Juli – 26 Juli 2017 St. Masakan Mengetahui proses,
fungsi alat, dan macam
macam gula di St.

SMK NEGERI 1 CERME Page 4


Masakan

27 Juli 2017 Aula Memahami ulang data


observasi di St. Masakan

28 Juli – 5 Agustus 2017 Laboratorium Mengetahui tujuan, fungsi,


lokasi pengambilan
contoh, jenis-jenis dan
prosedur analisa di PG
Lestari
6 Agustus – 12 Agustus St. Penyelesaian Mengetahui tujuan, cara
2017 kerja, bahan, fungsi alat di
St penyelesaian,syarat
gudang
13 Agustus – 24 Agustus Laboratorium Mengetahui tujuan, fungsi,
2017 lokasi pengambilan
contoh, jenis-jenis dan
prosedur analisa di PG
Lestari

25 – 26 Agustus 2017 Ipal (limbah) Jenis-jenis, pengendalian,


parameter, sanitasi limbah

28 – 30 Agustus 2017 Aula Revisi laporan

3 – 18 September 2017 St.gilingan ; Mempelajari ulang


St.pemurnian ; St materi gilingan sampai
.penguapan ; St.masakan pengemasan
; St.Putaran ;
St.penyelesaian
19 September 2017 Aula Tes

20 – 30 September 2017 Aula Mempelajari ulang


materi gilingan sampai
pengemasan
1.6 Metodologi
a. Observasi
Melakukan kunjungan ke Pabrik Gula Lestari dan mengamati proses produksi
yang dilakukan.
b. Wawancara
Melakukan pengumpulan data melalui tanya jawab dengan karyawan yang
terkait.
c. Dokumentasi

SMK NEGERI 1 CERME Page 5


Mengumpulkan data dengan cara mengambil gambar-gambar yang erat
kaitannya dengan pengendalian mutu, mulai dari bahan baku, proses produksi
sampai dengan produk akhir.
d. Studi kepustakaan
Mempelajari dan membaca buku-buku, bulletin, jurnal dan pustaka lain yang
berkaitan dengan pengolahan gula, tanaman tebu, pengawasan proses,
pengendalian mutu, analisa gula serta pengepakan/pengemasan dan
penyimpanan gula.

1.7 Tinjauan Pustaka


1.7.1 Tebu
Tebu (Saccarum Officinarum) adalah tanaman semusim artinya sekali tanam
untuk sekali panen. Syarat untuk pertumbuhannya ialah didaerah yang
memiliki iklim biasa dan iklim kering. Banyak air pada masa pertumbuhan
(masa muda) dan sedikit air pada masa tua.Daerah yang beriklim semacam
ini kebanyakan di daerah tropis dan ada beberapa di daerah sub tropis.
Tebu dipanen pada saat tepat tua (masak), untuk sampai pada tahap
tepat tua (masak) dalam batang tebu terjadi perkembangan kadar gula.Gula
hasil proses asimilasi(Penggabungan hara mineral dengan senyawa organik
membentuk pigmen, kofaktor enzim, lipid, asam nukleat dan asam amino)
dalam hijau daun disimpan di dalam batang penyimpanan dilakukan terus
menerus setiap hari dengan membagi hasil gula kedalam semua ruas yang
ada. Karena mekanisme yang demikian ruas yang pertama kali lahir akan
mengandung gula yang terbanyak. Setelah ruas tertua kandungan gulanya
maksimal maka penyimpanan berikutnya dilakukan di ruas yang kandungan
gulanya belum maksimal. Begitu seterusnya sampai seluruh ruas kandungan
gulanya maksimal. Pada saat inilah dikatakan tebu telah tua (Soejardi, 2002).
Batang tebu jika dipotong dan diserabutkan akan memperlihatkan serat –
serat dan cairan yang manis. Serat –serat ini disebut sabut sedangkan cairan
yang manis disebut nira.
Susunan tebu menurut sistem pengawasan Indonesia (J. Sartono, 1988)

Air bebas brix


Air (air adsorbsi)
(air adsorbsi)
Tebu
(air dalam nira tebu)
pol
Brix
Zat Air (ZK terlarut) Bukan gula
mengandung
(ZK) Sabut (ZK tak larut)
SMK NEGERI 1 CERME Page 6
Kotoran (Zk tak larut)
Susunan tebu menurut sistem pengawasan ISSCT (The Internasional Society
of Sugar Cane Technologist). J. Sartono, 1988

Air
Nira mentah

pol
Tebu
Brix
- Sabut Bukan
gula
- Kotoran

Susunan tebu menurut zat-zat penyusunnya :


Zat penyusun Kandungan dalam %
a . Air 69,0 – 75,0
b .Sakarosa 8,0 _ 16,0
c .Gula reduksi 0,5 _ 2,0
d . BahanOrganik 0,5 _ 2,0
e . Bahananorganik 0,2 _ 0,6
f . Senyawa nitrogen 0,5 _ 1 ,0
9 . Abu 0,3 _ 0,8
H . Sabut 10,0 _ 16,0
Sumber : M. Syawaludin Harnain

1.7.2 Gula
Gula kristal yang kita kenal selama ini sebenarnya merupakan proses
pengkristalan sakarosa atau sukrosa. Sakarosa atau sukrosa adalah suatu zat
disakarida (karbohidrat yang dibuat ketika dua monosakarida bergabung)
yang pada hidrolisa menghasilkan glukosa dan fruktosa (A. Moerdokusumo,
1993).
Kadar gula dinyatakan dengan % pol (singkatandaripolarisasi), % pol adalah
kadar yang diperoleh dari analisis cara polarisasi tunggal (langsung) dengan
alat sakarimeter. Sakarimeter adalah polarimeter yang dikhususkan untuk
mengukur kadar gula (sakarosa).

SMK NEGERI 1 CERME Page 7


Gula dalam larutan merupakan zat padat (vahan kering) terlarut. Pengukuran
kadar zat padat terlarut dilakukan dengan alat pengukur (penimbang) brix.
Dalam larutan gula teknis (nira, stroop, bilasan), [bukan gula] yang
terkandung biasa terdiri dari glukosa, fruktosa, garam-garam dan asam-asam
organik maupun anorganik. [Bukan gula] ada yang bersifat optic aktif
(memutar bidang polarisasi), misalnya glukosa (memutar bidang polarisasi
kekanan atau +), asam-asam amino (+ atau -), ada yang tidak bersifat optic
aktif . Hasil analisa pol sangat dipengaruhi oleh zat-zat optic aktif non
sakarosa.

1.7.3 Tahap Pembuatan Gula


Proses produksi dipabrik gula tingkat keberhasilannya sangat dipengaruhi
oleh kualitas bahan baku. Tebu dikatakan layak giling apabila mempunyai
kualitas manis, bersih, segar (MBS) atau mutu B, selain itu jumlah tebu harus
sesuai dengan kapasitas giling (Bidang Pengolahan PTPN X (Persero) , 2006)
Tugas utama pabrik adalah untuk menjaga kelancaran giling dan
mengamankan kristal yang terkandung dalam tebu sampai menjadi gula
produksi. Alur kegiatan produksi gula dibagi menjadi dua yaitu on farm
(meliputi kegiatan dikebun) dan off from (meliputi kegiatan dipabrik)
Kegiatan di kebun (on farm) terdiri dari :
1. Agro input
a. Lahan
b. Bibit
c. Pupuk
d. Air
e. Obat-obatan
2. Budidaya
a. Bukaan (land preparation)
b. Tanam/kepras
c. Kultirasi/pemeliharaan
d. Pemupukan
e. Pengairan
f. Sanitasi dan PHT
3. Kebun layak tebang

SMK NEGERI 1 CERME Page 8


a. Tegak
b. Diameter batang > 2,5 cm
c. Potensi rendemen tinggi
d. Kebun bersih
4. Manajemen tebang dan angkut
a. Pemilihan kebun
b. Pelaksanaan tebang
c. Pengangkutan
d. Pengawasan
5. Tebu layak giling
a. Kualitas manis, bersih, segar
b. Jumlah sesuai kapasitas giling
c. Biaya terkendali

Kegiatan di pabrik (off farm) terdiri dari :


1. STASIUN GILINGAN :
Tugas stasiun gilingan adalah untuk memerah nira, pemerahan nira
dilakukan untuk memperoleh nira (sebanyak-banyaknya) dari tebu dan
menekan kehilangan gula dalam ampas seminimal mungkin. Untuk
mempermudah pemerahan, batang tebu terlebih dahulu di potong-potong
menggunakan pisau tebu (cane cutter) dan diserabutkan dengan unigrator,
kemudian diperah secara bertahap dengan 4 unit gilingan. Pada ampas
Gilingan ke 3 diberi air imbibisi untuk memaksimalkan perahan Gilingan
ke 4 dan ampas yang keluar dari gilingan 4 digunakan untuk bahan bakar.

2. STASIUN PEMURNIAN
Tujuan proses pemurnian adalah untuk memisahkan kotoran dan zat-zat
bukan gula dalam nira jernih yang memenuhi syarat untuk diproses di
stasiun berikutnya. Stasiun ini juga bertujuan untuk mencegah kehilangan
gula (sukrosa) dan menjaga kestabilan gula reduksi .
Gula reduksi yang rusak merugikan pabrik gula dalam dua hal :
a. Hasil perpecahan gula reduksi berakibat dapat meningkatkan intensitas
warna nira yang berakibat hasil gula tidak putih
b. Hasil perpecahan gula reduksi adalah asam yang akan bereaksi dengan
ion Ca2+ menbentuk garam kapur yang larut yang mengakibatkan
bertambahnya jumlah kerak di stasiun penguapan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 9


Rusaknya sukrosa dan gula reduksi dalam larutan disebabkan oleh pH,
temperatur dan waktu tinggal.
Sukrosa pecah menjadi gula invert dengan hidrolisa dalam médium asam,
Gula reduksi tahan dalam médium asam tetapi pecah dalam larutan
alkakis. Kerusakan sukrosa dan gula reduksi ini akan semakin cepat jika
terjadi pada suhu yang tinggi dan waktu tinggal yang lama (P. Honig,
1963)

3. STASIUN PENGUAPAN
Proses penguapan adalah proses memindahkan panas dalam nira. Didalam
peristiwa ini proses perpindahan akan dapat berlangsung bila ada daya
dorong terjadinya perpindahan ini, dan daya dorong terjadinya
perpindahan adalah selisih suhu antara sumber panas dan yang dipanasi,
semakin besar selisih suhu nya akan semakin besar panas yang berpindah,
berarti semakin banyak pula air yang diuapkan.(Soejardi, 2002)
Penguapan yang menggunakan uap sebagai pemanas dengan bejana
tunggal disebut single effect. Jika uap nira dari bejana ini dipergunakan
untuk memanasi bejana kedua kita sebut double effect. Dengan cara yang
sama jika kita pergunakan tiga bejana kita sebut triple effect, dan
seterusnya ada quadruple effect, quintuple dan sextiple effect. (E .Hugot,
1986).
Penguapan atau pemekatan nira yang sudah dimurnikan dilaksanakan
pada suhu diantara 60ºC s/d 130ºC. Proses ini dilakukan dalam penguapan
berganda (multiple), umumnya digunakan 4 tingkat (quadruple effect)
atau 5 tingkat (quintuple effect). (E .Hugot, 1986)
Kaidah yang digunakan dalam proses penguapan adalah kaidah Rellieux
yaitu : “Didalam suatu seri penguapan maka setiap badan penguapan akan
menguapan 1 kg air untuk setiap kg steam (uap) pemanas yang
digunakan”
Hal ini berarti semakin banyak badan didalam suatu seri penguapan akan
menyebabkan semakin sedikit penggunaan bahan pemanas (steam).
Tetapi perlu disadari bahwa daya dorong perpindahan panas tergantung
pada selisih suhu antara bahan pemanas dengan nira. KESTNER
memberikan batasan suhu maksimal untuk bejana pertama adalah 135ºC
(pembatasan ini dilakukan untuk menjaga keamanan sukrosa).
Untuk memperbesar daya dorong dilakukan dengan menurunkan titik
didih nira. Penurunan titik didih nira di lakukan dengan mengatur
distribusi tekanan pada masing-masing bejana dalam satu seri penguapan,
semakin kebelakang tekanan dalam bejana semakin rendah, bahkan pada
bejana terakhir tekanan kurang dari 1 atm (umumnya 63 cmHg)
keuntungan penggunaan suasana hampa adalah :
a. Daya dorong penguapan menjadi lebih tinggi sehingga nira yang
diuapkan lebih banyak (kapasitas giling lebih besar)

SMK NEGERI 1 CERME Page 10


b. Suhu penguapan lebih rendah, kerusakan sukrosa lebih sedikit dan
pembentukan zat warna dapat ditekan, kualitas hasil lebih baik
Pembuatan Susana hampa ini di lakukan dengan alat pembuat hampa
yaitu :kondensor,pompa injeksi, dan pompa hampa. ( E.Hugot, 1986).

4. STASIUN KRISTALISASI
Salah satu tujuan dalam proses kristalisasi adalah mengambil sukrosa
dalam bentuk murni dengan cara yang cepat murah tidak mengalami
banyak kehilangan serta kristal sukrosa yang didapatkan memenuhi selera
konsumen (Soejardi, 1975).
Untuk dapat mencapai tujuan diatas maka kondisi proses dimana sukrosa
dikristalkan akan turut menentukan : sukrosa adalah bahan yang tidak
tahan suhu tinggi jika sukrosa berada dalam suhu tinggi akan muncul zat-
zat berwarna gelap sebagai akibat rusaknya sukrosa. Berkenaan hal
tersebut maka proses kristalisasi dilaksanakan pada suhu yang rendah.
Didalam praktek proses kristalisasi sukrosa dikerjakan didalam bejana
hampa. penggunaan bejana hampa akan diperoleh 2 keuntungan :
a. Proses kristalisasi terjadi pada suhu rendah sehingga kerusakan
sukrosa karena pengaruh suhu dapat dieliminir
b. Dalam suasana hampa titik didih larutan menjadi lebih rendah.
Akibatnya beda suhu antara pemanas dengan bahan yang dipanasi
menjadi lebih tinggi. Dampaknya daya dorong perpindahan panas juga
lebih besar, sehingga kapasitas bejana kristalisasi lebih besar.
 Pembentukan kristal
Mekanisme terbentuknya kristal sukrosa dari molekul sukrosa didalam
larutan encer dapat diuraikan sebagai berikut :
Dalam larutan nira encer jarak antara molekul satu dengan lainnya masih
cukup besar sehingga molekul satu dengan lainnya belum begitu nampak
saling berpengaruh.
Pada proses pemekatan atau penguapan jarak antara masing-masing
molekul dalam larutan tersebut saling mendekat dikarenakan adanya
penguapan air pelarutnya. Apabila jaraknya sudah cukup dekat masing-
masing molekul dapat mempengaruhi sehingga dapat saling tarik-
menarik. Jika pada saat itu disekitarnya terdapat sukrosa kristal maka
akan ada keseimbangan antara molekul sukrosa yang melarut dan molekul
sukrosa yang menempel (mengkristal), keadaan ini disebut sebagai
larutan jenuh.
Tahap selanjutnya bila kepekatan naik maka molekul-molekul dalam
larutan akan dapat saling bergandengan dan membentuk rantai-rantai
molekul sukrosa pada pemekatan lebih tinggi lagi rantai-rantai sukrosa
tersebut akan dapat saling bergabung dan membentuk suatu kerangka atau
SMK NEGERI 1 CERME Page 11
polakristal sukrosa. Terbentuknya pola yang khusus dari kristal sukrosa
ini dalam istilah (crystallography) disebut kristal monoklinhemimorfi
(monoclinichermiphorficcrystal) artinya bahwa sukrosa tidak dapat
mengkristal dalam bentuk lain kecuali bentuk khusus tersebut( P. Honiq,
1963)
 Kecepatan kristalisasi
Yang dimaksud dengan kecepatan kristalisasi adalah angka yang
menggambarkan jumlah sukrosa yang berubah menjadi kristal setiap
satuan waktu (Soejardi, 1988)
Sedang faktor yang mempengaruhi kecepatan kristalisasi adalah :
a. Ukuran kristal
b. Konsentrasi larutan
c. Kandungan kotoran dalam larutan
d. Percampuran atau sirkulasi larutan

5. STASIUN PEMUTARAN
Tugas utama stasiun pemutaran adalah memisahkan kristal gula dari
larutan (stroop) dengan menggunakan gaya sentrifugal (putaran) sehingga
massa terlempar menjauhi titik pusat lingkaran. Kristal gula akan tertahan
didinding saringan sedang larutannya akan menerobos lubang saringan.
Untuk mempermudah pemisahan kristal gula dari larutannya maka
ditambah air siraman atau air pencuci pada masing-masing alat putar.
(soejardi, 1985)
Kristal gula yang dihasilkan mesin putar dalam keadaan biasa. Maka perlu
dikeringkan dan didinginkan pada alat pengering dan pendingin gula
(sugar dryer and cooler).
Pada alat ini maka mula-mula akan dihembuskan udara panas dari
pemanas udara (air heater) melalui platt berlubang (perforated platte)
sehingga gula yang biasa menjadi kering. Pada proses pengeringan ini
akan terdapat juga debu-debu gula yang berterbangan, untuk mencegah
kerugian karena debu gula maka dipasanglah alat penangkap debu gula
(dust catcher) yang bertugas menangkap debu-debu gula sekaligus
melarutkan untuk diproses kembali di stasiun kristalisasi
Gula setelah dikeringkan akan memiliki suhu yang tinggi, gula dengan
suhu yang tinggi sangat mempengaruhi waktu tahan simpan, untuk
menghindari hal tersebut maka suhu gula diturunkan dengan alat-alat
pendingin gula sampai suhu kurang dari 38 ºC (E. Hugot, 1986)
Setelah gula memiliki suhu seperti yang dikehendaki selanjutnya gula
disaring dengan mengunakan saringan getar (vibrating screen) tujuannya
penyaringan ini adalah untuk memisahkan gula halus (jenis butir < 0,8

SMK NEGERI 1 CERME Page 12


mm) gula kasar/krikilan (jenis butir > 1,2 mm) ,dipisahkan dari gula
produksi yang memiliki besar jenis butir 0,9 – 1 mm.
Gula halus dan gula krikilan dilarutkan untuk diproses ulang, sedangkan
gula produksi dimasukkan di penampung gula (sugar bin) kemudian
ditimbang dipak/dikemas sesuai bobot yang dukehendaki kemudian
dimasukkan ke gudang untuk disimpan atau didistribusikan ke konsumen.

1.8 Perbandingan Kemanisan Gula


Fruktose : 1,4
Sucrose : 100
Gula inversi : 95
Glyserol : 75
Salactose : 63
Maltose : 40
Lactose : 39

1.9 Hal – hal yang mempengaruhi timbulnya tanaman tebu supaya di dapat
kadar gula yang baik dan banyak
1. Iklim
2. Keadaan tanah
3. Pembibitan baik
4. Pengairan
5. Cara penanaman
6. Pemberantasan hama pada tanaman tebu sendiri
7. Pemupukan
8. Jenis tanaman tebu sendiri

SMK NEGERI 1 CERME Page 13


BAB II
DESKRIPSI PERUSAHAAN

2.1 Sejarah perusahaan

Sejarah berdirinya perusahaan

Pabrik Gula Lestari didirikan pada tahun 1909 oleh Pemerintahan Belanda yaitu CV
CULTURAL MAATCHAAPY (CV. CM) Panji Tanjung Sari, yang pada waktu itu
berkedudukan di Amsterdam, tata kepengurusan dan tata usaha diserahkan kepada
Tiedeman On Van Kerchen Indonesia di Surabaya.

Pada tahun 1960 diadakan reorganisasi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Baru
menjadi unit-unit perkebunan yang daerah kerjanya meliputi wilayah karesidenan,
Kemudian unit-unit perkebunan diubah menjadi kesatuan-kesatuan perkebunan
sesuai dengan peraturan pemerintah no : 141-no 175, sedangkan PPN Baru Pusat
(Jakarta) diubah menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (
BPU PPN) dan perwakilannya didaerah menjadi cabang-cabang. Pabrik Gula Lestari
masuk kedalam kesatuan II (Karesidenan Kediri) sesuai dengan Peraturan
Pemerintahan no : 166/1961 tanggal 26 April 1961 yang berbadan hukum sendiri.

Pada tahun 1973 menjadi bagian dari PTP XXI – XXII (Persero) berdasarkan kuasa
Menteri Pertanian tanggal 31 Desember 1973. Selainjutnya PTP XXI – XXII
(Persero) dilebur dengan PTP XXVII (Persero) menjadi PT. Perkebunan Nusantara X
(Persero). Jadi sampai dengan saat ini Pabrik Gula Lestari berada dibawah naungan
PT Perkebunan Nusantara X (Persero) bersama 19 unit usaha sektoral lainnya.

2.2 Visi dan Misi

Visi
Menjadi perusahaan agribisnis berbasis perkebunan yang terkemuka di Indonesia
yang tumbuh dan berkembang bersama mitra.

Misi
a) Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku yang berdaya saing
tinggi untuk pasar domestic dan internasional
b) Mendedikasikan pelayanan rumah sakit kepada masyarakat umum dan
perkebunan untuk hidup sehat

SMK NEGERI 1 CERME Page 14


c) Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai perusahaan bagi
kepuasan stake holder, melalui kepemimpinan inovasi dan kerjasama team,
serta orang yang efektif

2.3 Lokasi Perusahaan


Tata letak Usaha
Pabrik gula lestari terletak didesa ngrombot, Kecamatan Patianrowo,
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Secara geografis terletak 07º 34’ 21” Lintang Selatan dan 112º 04’ 38” Bujur
Timur, sedang wilayah kerjanya meliputi : Kecamatan Kertosono, Patianrowo,
Jati Kalen, Lengkong, Tanjung Anom, Baron, Ngrombot, Sukomoro, Gondang,
Rejoso.
Area kerja di Kabupaten Kediri, meliputi : Kecamatan Purwoasri, Kunjang,
Plemahan dan Papar. Daerah pengembangan dikabupaten Bojonegoro meliputi :
Kecamatan kedungasem, Sugihwaras, Boureno, Dander, Kapas dan Sumber rejo.
Kabupaten Tuban meliputi kecamatan Tuban, Semanding, Palang, Jenu,
Merak-Urak, Kerek, Jatirogo, Banjar, Kenduruan, Bangulan, Senari, Singgahan,
Tambakboyo, Rengel, Parengan, Montang, Soko, Plempang, Widang.
Tata letak bangunan PG Lestari memiliki ketinggian tapak sekitar 40 cm dari
punggung jalan dengan lantai bangunan pabrik setinggi 30 cm.
Batas-batas PG Lestari :
Sebelah Utara : Perumahan penduduk desa Ngrombot
Sebelah Barat : Jalan Raya Patianrowo
Sebelah Selatan : Perumahan Desa Pecuk
Sebelah Timur : Sunga Brantas
Jarak lokasi PG Lestari dengan perumahan karyawan yang terdekat ± 100 m
(sebelah selatan lokasi pabrik), sedangkan jarak antara pabrik dengan rumah
penduduk ± 50 m (sebelah barat lokasi pabrik).

2.4 Struktur Organisasi

SMK NEGERI 1 CERME Page 15


Struktur organisasi PG Lestari adalah lini dan staf. Tiap-tiap bagian ber
tanggung jawab kepada kepala bagian, tiap tiap kepala bagian bertanggung jawab
kepada administratur. Pimpinan tertinggi di PG Lestari adalah Administratur.
 Administratur
Merupakan pejabat puncak yang mempunyai tanggung jawab kepada direksi
tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehari-hari oleh seluruh kepala
bagian. Sedangkan tugas pokok nya adalah :
a. Menentukan kebijaksanaan perusahaan baik keluar maupun kedalam
sesuai dengan kebijaksanaan direksi PT Perkebunan Nusantara X
(Persero).
b. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan kerja masing-masing kepala
bagian.
c. Meminta pertanggung jawaban kepada semua kepala bagian mengenai
aktifitas yang dilakukan.
 Kepala Bagian Tanaman
Kepala Bagian Tanaman membawahi sinder kebun kepala (SKK), sinder
kebun wilayah (SKW), mandor dan PTRI sedangkan tugas-tugasnya adalah :
a. Membantu dan bertanggung jawab kepada administratur atas kelancaran
tugas bagian tanaman.
b. Mengkoordinir pelaksanaan tugas-tugas dibagian tanaman.
c. Merencanakan luas areal dan produksi bahan baku tebu sesuai kebutuhan.
d. Menyediakan bahan baku tebu sesuai dengan kapasitas giling.
e. Mengelola pembiayaan bagian tanaman sesuai rencana kerja dan anggaran
perusahaan (RKAP)
f. Mengaplikasikan hasil-hasil sub bagian Penelitian dan Pengembangan
(Litbang).

Kepala bagian administrasi keuangan dan umum (AK & U)


Kepala bagian administrasi keuangan dan umum (UK & U) membawahi sub
bagian perencanaan, sub bagian hak & umum, sub bagian seketaris umum,
sedangkan tugas-tugasnya :
a. Membuat administrasi dalam pengelolaan keuangan.
b. Bertanggung jawab kepada administrator mengenai tugas-tugas dibagian
adminidtrasi keuangna dan umum.

SMK NEGERI 1 CERME Page 16


c. Mengkoordinir pelaksaan tugas-tugas dibagian adminidtrasi keuangan dan
umum.
 Kepala Bagian Pengolahan
Kepala bagian pengelolahan membawahi Ajunt (Asisten) kepala bagian
pengolahan para ahli gula (Chemiker) dan para mandor. Sedangkan tugas-
tugasnya adalah :
a. Membantu dan bertanggung bjawab kepada administratur atas kelancaran
tugas bagian pengolahan.
b. Melaksanakan kebijakan perusahaan dibagian pengolahan.
c. Menyusun rencana kerja dan anggaran untuk bagian pengolahan.
d. Mengawasi pelaksanaan evaluasi pada giling tahun sebelumnya.
e. Mengkoordinir membuat laporan pabrik baik yang bersifat rutin maupun
insidentil.
 Kepala Bagian Instalasi
Kepala bagian instalasi membawahi asisten kepala bagian, para ahli mesin
(masinis) dan para mandor, sedangkan tugas-tugasnya adalah :
a. Membantu dan bertanggung jawab kepada administratur atas kelancaran
tugas bagian instalasi.
b. Melaksanakan kebijakan perusahaan dibagian instalasi.
c. Menyusun rencana kerja dan anggaran perusahaan untuk bagian instalasi.
d. Malaksanakan penggantian atau perbaikan alat sesuai hasil evaluasi giling
tahun sebelumnya.

 Ketenaga Kerjaan
Dalam undang-undang Republic Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang
ketenaga kerjaan yang dimaksud dengan.
1. Ketenagakerjaan adalah segala hak yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja.
2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan /atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri atau untuk masyarakat.
3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah
atau imbalan dalam bentuk lain.

SMK NEGERI 1 CERME Page 17


4. Pemberi kerja adalah seseorang ,pengusaha,badan hokum atau badan-
badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah
atau imbalan dalam bentuk lain.

Pengaturan pekerjaan di PG. Lestari mengacu pada perjanjian kerjasama


bersama (PKB) antara direksi dengan serikat pekerja PT. Perkebunan Nusantara
X (Persero) tahun 2008-2009.
a. Pengertian dan hubungan tenaga kerja
Karyawan adalah pekerja yang bekerja pada perusahaan dalam lingkup PT
Perkebunan Nusantara X (Persero) dengan mendapat gaji dalam hal itu
sebagai penerima kerja yang terdiri dari :
1. Karyawan tetap yang hubungan kerjanya diatur didalam PKB.
2. Karyawan tidak tetap yang hubungan kerjanya diatur didalam kontrak
kerja perorangan
yang diatur dalam lampiran dan menjadi bagian tidak terpisahkan dengan
PKB,yang terdiri dari :
 Karyawan kampanye Pabrik Gula Lestari
 Karyawan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)
b. Hari kerja resmi
Hari kerja dalam 1 minggu adalah 5 hari kerja dan atau 6 hari, 40 jam dalam
seminggu.
c. Jam kerja resmi
1. Jam kerja 1 hari bagi yang melaksanakan ketentuan hari kerja 5 hari dalam
seminggu adalah 8 jam dan 40 jam seminggu.
2. Jam kerja 1 hari bagi yang melaksanakan ketentuan hari kerja 6 hari dalam
seminggu adalah 7 jam dan 40 jam seminggu.
3. Dengan tetap memperhatikan ketentuan pada ayat 1 dan 2 maka
pelaksanaan hari kerja dan kerja diatur unit-unit masing-masing.
4. Khusus untuk pekerjaan yang sifatnya harus dilakukan terus menerus
selama 24 jam, maka jam kerjanya diatur menurut sistem kerja shift.

PG Lestari melaksanakan ketentuan hari kerja 6 hari dalam seminggu , dengan


pembagian jam kerja sebagai berikut :
Yang bekerja dalam shift:
 shift pagi 06.00 _ 14.00
 shift siang 14.00 _ 22.00
 shift malam 22.00 _ 06.00
SMK NEGERI 1 CERME Page 18
Yang bekerja tidak didalam shift:
 Hari senin sampai dengan hari kamis 06.00 _ 15.00
Dengan waktu istirahat 11.30 _ 12.30
 Hari jumat 06.00 _ 11.30
 Hari sabtu 06.30 _ 11.30

BAB III

PROSES DALAM PRODUKSI

3.1 EMPLACEMENT

Emplacement merupakan tempat awal proses produksi yaitu masuknya tebu


yang sudah ditebang dari kebun para petani tebu. Tebu yang masuk tidak hanya
dari wilayah Nganjuk sendiri melainkan dari luar kota seperti Malang,
Lumajang, Lamongan, Rembang, Bojonegoro, Tuban, Kediri, Madiun, Sragen,
Jember,dll. Tebu yang masuk dibedakan menurut wilayahnya yaitu TAD
(wilayah sendiri), ML (wilayah luar), MLL (luar wilayah).
Petani tebu dapat bekerjasama dengan PG Lestari melalui perjanjian dengan
pihak pabrik agar tidak ada kerugian di kedua pihak . Bibit tebu di sediakan oleh
pabrik agar cita rasa gula yang di hasilkan tetap terjaga . Setiap bulan diadakan
FTK (Forum Temu Kemitraan) untuk membahas penanaman tebu.
Pada tahap ini tebu tidak langsung bisa masuk, misalnya tebu dari luar
wilayah harus melalui pos pemantau yang disediakan oleh pihak PG Lestari
yang terletak disetiap kota untuk mengambil surat pengantar atau yang biasa
disebut girik yang berisi data brix, nomor kontrak, lokasi, nama pelaksana
tebang, tanggal dan jam, yang nantinya dibawa ke pos Emplacement I
(penerimaan) untuk ditukar dengan SPTA (Surat Perintah Tebang Angkut).
Apabila tidak membawa surat pengantar (Girik) maka tidak diperbolehkan
masuk ke Emplacement penerimaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari
adanya kecurangan. Karena setiap “rit” tebu yang masuk memiliki biaya
kompensasi sendiri sesuai dengan jarak dan waktu yang telah ditentukan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 19


CONTOH GIRIK untuk ditukar dengan CONTOH SPTA
CONTOH GIRIK

TRM LL MALANG

NO URUT : 12

Pemilik : Sukarman

No Kontrak : Zx 9643

Kebun : Kali Pare

Kec :-

Tanggal : 12.08.2015
Proses masuknya tebu ke dalam PG.Lestari :
Jam Pos : 11.00
 Proses penebangan tebu dari kebun yang sudah mempunyai kontrak kerja
No Truk
dengan :PG
N LESTARI,
9280 UJ Desa Ngombrot, Kec. Patianrowo, Nganjuk 64391.
 Tebu yang telah ditebang, diangkut menggunakan truk yang telah
Brix : 19
mendapatkan Surat Perintah Tebang Angkut ( SPTA ).
Petugas : Imam
 Truk masuk ke Emplasement 1
Setelah truk masuk ke emplacement 1, surat SPTA di validasi (validasi
Sopir : Pahat
dilakukan untuk pemeriksaan data dan tanggal kedaluwarsa SPTA). Jika
SPTA telah divalidasi, dilakukan pemeriksaan pH dan brix tebu yang dikirim.
Setelah pemeriksaan pH dan brix dinyatakan lulus, truk mendapat nomor
antrian untuk masuk ke emplacement 2.
 Truk masuk ke Emplacement 2
Setelah truk masuk ke Emplacement 2, menyerahkan SPTA kepada petugas,
dilanjutkan dengan pengaturan alat transportasi dan sistem bongkar tebu.

SMK NEGERI 1 CERME Page 20


Tebu yang diangkut dengan lori akan masuk ke penampungan sementara
sebelum diproses,sedangkan truk yang langsung bongkar muat pada meja
tebu akan langsung diproses.

Halaman pabrik (Emplacement) berfungsi:


1. Untuk mengatur tebu sehingga tebu yang masuk lebih awal dapat digiling terlebih
dahulu.
2. Untuk menampung jumlah tebu yang masuk tiap hari sehingga pabrik dapat
beroperasi secara continue.
3. Sebagai tempat pembongkaran tebu dari truk ke lori dengan menggunakan crane.
4. Menampung lori-lori yang siap digunakan untuk membawa tebu ke stasiun
gilingan.
Dengan adanya Emplacement yang berfungsi seperti diatas sehingga dapat
menunjang kelancaran proses dalam pabrik gula . Truk merupakan alat transportasi
yang digunakan untuk mengangkut tebu dari lahan ke pabrik (Emplacement). PG
Lestari tidak kekurangan pasokan tebu karena jumlah tebu yang masuk sudah
diperkirakan sebelumnya. Untuk menghitung tebu yang digiling dalam satu hari
dilakukan perhitungan tebu sisa pada akhir periode satu hari itu, biasanya dilakukan
setiap pagi, maka tebu yang digiling dapat dihitung :
Tebu masuk hari ini = a ku
Tebu sisa kemarin = b ku
 +
= a + b ku
Tebu sisa hari ini = c ku
 -
Tebu digiling hari ini = ( a+b ) – c ku

Emplacement di PGLestari dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

1. Emplacement I

SMK NEGERI 1 CERME Page 21


Emplacement I ini mencapai luasan 2,5 Ha dimana ½ Ha digunakan untuk
jalur antrian truk dan Emplacement I memiliki 10 jalur dengan kapasitas 20
truk/jalur. Dan sisanya digunakan untuk perkebunan tebu. Emplacement ini
tepatnya berada ± 2 km dari emplacement II.
Untuk menampung atrian truk sebelum mendapatkan giliran masuk ke
Emplacement II (halaman penampungan dan tempat pembongkaran). Di
Emplacement ini dilakukan
pemeriksaan terhadap truk pengangkut tebu yang meliputi :Girik, SPTA, Visual
kotoran tebu,MBS (Manis, Bersih, Segar), % brix dan pH pada contoh tebu, dll.
Kriteria MBS:
 Manis : Tebu yang sudah masak/tua, minimal usia 8 bulan.
 Bersih : Bersih dari sogol, tanah, daun,dll.
 Segar : Tidak lebih dari 2x24 jam setelah ditebang.
Pengukuran pH menggunakan WalkLAB dan pengukuran brix% menggunakan
Refraktometer. Standar brix di PG Lestari yaitu 16 dan standart pH 4,7. Jika brix
dan pH dibawah standart maka tebu akan dikembalikan. Setelah semua hasil di
catat selanjutnya truk antri pada jalur yang ditentukan sesuai dengan urutan
kedatangan, untuk menunggu giliran menuju Emplacement II.

2. Emplasement II

Emplacement II adalah penampungan tebu setelah truk pembawa tebu telah


melengkapi surat-surat dan telah diperiksa di Emplacement I, Emplacement II ini

SMK NEGERI 1 CERME Page 22


tepatnya berada didalam pabrik. Emplasemen II PGLestari ini mencapai luasan 5
Ha dengan daya tampung (kapasitas) sebanyak 204 lori yang aktif dan sisanya
sudah tidak layak pakai (rusak).
Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan di emplasemen II, ialah:
- Penerimaan tebu
- Pengaturan alat transportasi dan sistem pembongkaran tebu
- Penampungan sementara sebelum tebu diproses

Cara Mengatur Tebu di Halaman Pabrik :

Pengaturan tebu yang ada di PG Lestari menggunakan sistem “FIFO” (First


InFirst Out) yaitu tebu yang masuk pertama kali di Emplacement siap untuk
digiling terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mencegah kerusakan sukrosa
(inversi) didalam batang tebu dan mencegah tumbuhnya siwilan pada batang tebu.
Tebu yang masuk ditimbang terlebih dahulu lalu dipindahakan ke lori-lori dengan
menggunakan crane, lalu kemudian dicatat nomor lori dan tanggal tebu masuk
untuk mempermudah pengaturan tebu yang akan digiling, kemudian lori yang
berisi tebu didorong dengan traktor pada jalur rel dengan lori yang bertanggal
sama.
Pengaturan dilakukan untuk menyediakan tebu di halaman pabrik bertujuan
untuk menjamin kelancaran proses produksi. Agar pengaturan bisa mendapatkan
hasil sebaik-baiknya maka di PG Lestari pada Emplacement II inidibagi menjadi 3
blok, yaitu :
1. Penampungan C
Dipergunakan sebagai antrian truk untuk ditimbang memakai Digital Crane
Scale(DCS) dan kemudian di pindahkan kelori.
2. Penampungan B
Diper gunakan sebagai penampungan sementara lori/truk sebelum masuk
kemeja tebu.
3. Penampungan A
Dipergunakan sebagai tempat menimbang tebu dengan memakai Digital Crane
Scale (DCS) jika tebu dari truk belum ditimbang pada penampungan C, hal ini
dikarenakan tempat pada penampungan B sudah penuh sehingga truk yang
datang langsung menuju penampungan A dan jika dari lori langsung ke meja
tebu.

SMK NEGERI 1 CERME Page 23


Bagian dan fungsi alat-alat di Emplacement II :

 Timbangan Tebu
Tebu yang sudah datang dari kebun sebelum ditempatkan di halaman
penampungan/digiling langsung, terlebih dahulu harus ditimbang. Dengan tujuan:
1) Sebagai dasar untuk perhitungan dan pengawasan pabrik gula.
2) Sebagai penentuan hasil bagi antara pabrik gula dan petani tebu rakyat.

Timbangan Digital Crane Scale

Timbangan Digital Crane Scale berfungsi untuk menimbang tebu yang


diketahui bobotnya sekaligus memindahkan tebu dari truk kelori atau dari lorike
meja tebu. Di PG Lestari mempunyai 4 buah crane, yaitu 2 crane untuk
memindahkan tebu dari truk kelori yang berada di emplasement II, dan2 crane untuk
memindahkan tebu dari lori kemeja tebu(crane unloading) yang terdapat di stasiun
gilingan.Tebu biasanya di timbang sebanyak 5 ton untuk satu lori atau satu rit.

Bagian-bagian Timbangan gantung dan Pemindah Tebu(Digital Crane Scale

Keterangan :
1. DCS
2. Ruang Operator
3. Penggulung Sling
4. Corongan

SMK NEGERI 1 CERME Page 24


Fungsi masing-masing bagian Digital crane scale :
1. Katrol : Tempat bergulungnya sling dan bergantungnya
rantai pengikat tebu
2. Ruang operator : tempat untuk mengoperasikan alat
3. Penggulung sling : untuk menggulung tali sling
4. Corongan : untuk menata tebu pada lori
5. Pengait : Tempat peletakkan beban yang diukur
6. Loadcell : Sensor beban terukur
7. Transmiter : Pemancar data ke receiver
8. Receiver : Penerima data dari transmiter
9. Display : Penunjuk nilai beban LoadCell
10. Komputer : Pencatat dan pengolahan data
11. Printer : Output data yang tertera pada komputer.

Cara Kerja Timbangan Digital Crane Scale


Nyalakan tombol power (untuk melihat apakah alat bekerja atau tidak) ,Tebu
yang berada di atas truk diangkat dengan crane yang dilengkapi dengan Sling pada
waktu diangkat dan bebas dari truk maka timbangan Digital Crane Scale akan
menunjukkan netto. Setelah itu dikirim lewat kabel Transmisi kelayar monitor dan
dicatat oleh petugas.

Untuk mengetahui ketelitian timbangan :


TimbanganTebu untuk memperoleh ketelitian dalam penimbangan maka
dilakukan cara sebagai berikut :
1. Sebelum gilingan dimulai, gilingan tebu di tarra terlebih dahulu oleh dinas
metrologi.
2. Pembulatan angka bertujuan untuk meminimalisir kesalahan penimbangan.
3. Tarra (rantai dan sling) sebelum digunakan diketahui dulu beratnya.

Unit Lori

Unit Lori merupakan tempat penampungan tebu sementara ,perbaikan dan


perawatan alat (perbaikan roda yang putus atau aus, perbaikan aspot,dan tajuk yang
patah)PG.Lestari memiliki ± 204 lori aktif.

SMK NEGERI 1 CERME Page 25


Unit Traktor

Alat yang digunakan utuk mendorong lori dari Emplacement kemeja giling
dan menarik lori untuk kembali keEmplacement. Kekuatan traktor maksimal 16 lori.
Beban traktor maksimal 6 ton.Di PG lestari sendiri ada 11 unit traktor yang terdiri
dari:

1. 5 unit traktor aktif (yang digunakan)


2. 6 unit traktor yang ready (digunakan apabila diperlukan)
Alat-alat pendukung traktor untuk pengolahan tanah :
1) Bajak/Displow : Untukmembuka tanah pertama sebelum ditanami
tebu.
2) Kayar : Untuk persiapan penanaman tebu

Alat-alat pendukung traktor untuk pengolahan tebu :


1) FA (Fertilizer Aplicator) :Memutuskan akar dan memupuk tanaman(tebu)
2) Sub soiler :Memecah tanah yang paling keras dan paling
dalam
3) Teratin : Memutus akar bagian dalam
4) Subtiler :Untuk memperluas tanah sehingga akar baru bisa
terbentuk
Selain itu, juga terdapat alat yang digunakansebagai perawatan tebu hasil karya
PG Lestari yang diberinama 3 in 1 yang memiliki fungsi seperti Teratin/subsoiler,
Displow, dan Kayar.

SMK NEGERI 1 CERME Page 26


3.2 STASIUN GILINGAN
Stasiun Gilingan bertujuan untuk memerah dan memperoleh nira yang
terdapat dalam batang tebu dengan semaksimal mungkin, serta menekan sekecil-
kecilnya kadar sukrosa yang tertinggal dalam ampas tebu. Untuk mempermudah tebu
yang akan masuk kestasiun pemerahan, sebelumnya harus melewati alat pendahuluan
(cane preparation) yaitu suatu tindakan agar tebu yang akan diperas oleh gilingan
menjadi bagian-bagian yang kecil yang berarti memperingan kerja gilingan, sehingga
hasilnya akan lebih baik sesuai dengan yang diharapkan yaitu :
1. Ekstraksi lebih baik.
2. % Pol ampas rendah.
3. % Zat kering ampas maksimal.
4. % Bukan gula minimal ikut gula.
Peralatan pendahuluan (cane preparation) dalam stasiun gilingan bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas dan mempermudah pekerjaan gilingan.Selain
memperingan kerja gilingan, alat pendahuluan ini berfungsi untuk membuka sel
batang tebu dengan sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk alat pemerahan
berikutnya dapat memisahkan nira dengan semaksimal mungkin. Di PG Lestari yang
menjadi alat pendahuluan (cane preparation) adalah Cane Cutter I, Cane CutterII,
dan Unigrator. Sedangkan pemberian air imbibisi pada ampas gilingan III adalah
untuk memperkecil gula yang masih terbawa ampas, sehingga kapasitas alat
pemerahan menjadi lebih besar dan memperkecil kemungkinan terjadinya slip.

SMK NEGERI 1 CERME Page 27


Keterangan :
1. Desinfektan diberikan ditalang nira gilingan IV.
2. Susu kapur ºBe = 3 diberikan ditalang nira gilingan II.
3. Asam fosfat cair dengan konsentrasi 5kg/1000 kuintal tebu diberikan ditalang nira
gilingan II setelah susu kapur.
4. Air Imbibibsi diberikan dibelakang gilingan III
Sebelum masuk ke stasiun gilingan petugas quality control terlebih dahulu
melakukan penilaian mutu tebu secara visual. Berikut dibawah ini kriteria uji visual
kualitas bahan baku tebu (BBT) beserta beberapa varietas tebu

SMK NEGERI 1 CERME Page 28


KRITERIA UJI VISUAL
KUALITAS BAHAN BAKU TEBU (BBT)

Mutu A = PRIMA
 Tebangan Once/Dongkel, pada puncak masak
 Bersih Mutlak(bebas Daduk, Pucuk, Tanah, Akar,
Sogolan, Tebu mati)
 Batang Besar, Lurus, Tidak dicacah, Sangat Segar,
Ruas Normal
Mutu B = MBS
 Masak Optimal, Tidak di Cacah, Bebas Sogolan
 Bersih(sedikit Daduk, Pucuk, Tanah dan Akar, Tebu
mati)
 Batang agak Besar, agak Bengkok, Ruas
Medium/sedang

Mutu C = KOTOR
 Ada Daduk, Pucuk, Tanah, Akar, Sogolan, Tebu mati
 Batang Kecil, Bengkok, Ruas Pendek, di Cacah
 Agak Wayu, Tercampur Tebu Mati

Mutu D = SANGAT KOTOR


 Banyak(Daduk, Pucuk, Tanah, Akar, Sogolan)
 Tebu Mati, Wayu dan Sangat Muda
 Batang Kecil, Bengkok, Sangat Pendek, banyak
Cacahan

Mutu E = TERBAKAR

SMK NEGERI 1 CERME Page 29


VARIETAS TEBU

CIRI CIRI
KODE LAPISAN
BATANG DAUN MATA
LILIN
Silindris dengan Hijau
Bulu
penampang bulat, kekuningan, Pada bekas pangkal Tipis
Lawang
warna coklat panjang pelepah
(BL)
kemerahan lebar
Tersusun lurus, bentuk Tebal
Kentung Hijau muda, Pada bekas pelepah
silindris, warna hijau mempengaruhi
(PL 54) lebar daun
kekuningan warna batang
Silindris, susunan antar
Kidang ruas lurus sampai
Pada bekas pangkal
Kencana berbiku dengan Hijau muda Tipis
pelepah
(PA penampang melintang
198) bulat, hijau kekuningan
Tersusun agak berbiku
Tebal
dengan penampang Hijau Pada bekas pangkal
PS 851 mempengaruhi
agak pipih, hijau kekuningan pelepah daun
warna batang
kekuningan
Konis sampai ruas-ruas Sedang
tersusun lurus agak Pada bekas pangkal tetapi juga bisa
PS 862 Hijau
berbiku, warna hijau pelepah daun mempengaruhi
kekuningan warna batang
Konis, susunan antar
ruas berbiku dengan
Hijau Pada bekas pangkal
PS 864 penampang melintang Tipis
kekuningan pelepah daun
agak pipih, hijau
kekuningan
Silindris, susunan antar Tebal
Pada bekas pangkal
PS 865 ruas lurus dengan Hijau mempengaruhi
pelepah daun
penampang melintang warna ruas

SMK NEGERI 1 CERME Page 30


bulat
Hijau
Silindris dengan sedikit kekuningan, Tebal
Pada pangkal
PS 882 konis dan tersusun segitiga Mempengaruhi
pelepah daun
lurus, kuning kehijauan daun warna warna
kekuningan
Hijau tua
dengan
Silindris terkadang Tebal
PSJT segitiga Bekas pangkal
berbentuk kumparan, Mempengaruhi
941 daun pelepah daun
hijau kuning kecoklatan warna
bewarna
kekuningan
VMC Tersusun agak berbiku, Pada pangkal
Hijau Tipis
76-16 kuning keunguan pelepah daun
Ruas tersusun lurus Terletak diatas
PSJK
sampai berbiku, hijau Hijau pangkal pelepah Tipis
922
kekuningan daun
Sedangkan cara dalam melakukan penilaian mutu di PG Lestari yakni sebagai
berikut:

- Mengamati tebu yang telah jatuh di meja tebu, hal yang diamati meliputi: jumlah
sogolan, diameter, banyak ruas, panjang ruas, akar tebu yang ikut dan juga tebu
terbakar.
- Apabila tebu sudah jatuh di canecarrier maka memencet tombol analisa sebagai
tanda urutan truk atau urutan lori sehingga pada saat analisa di dalam tebu tidak
tertukar sehingga dapat dilakukan secara berurutan sesuai dengan kode atau
tanda yang telah di kode oleh tim analisa visual.
- Berbagai kriteria tebu yang sudah diamati dimasukan kedalam progam SIPG
(Sistem Informasi Pengelolahan Gula).Progam SPIG hanya sebagai alat bantu
berupa progam untuk mempercepat dalam menilai mutu tebu yang telah masuk.
Namun penilaian mutu dilakukan secara visual pada saat tebu masuk di meja
tebu. Penggunaan progam SPIG dilakukan dengan cara mengklik nomer urut
truk atau lori, setelah di klik akan muncul pertanyaan seperti jenis kuisioner
yang harus diisi. Kuisioner tersebut berisikan mengenai jenis varietas tebu,

SMK NEGERI 1 CERME Page 31


panjang ruas, diameter tebu, banyak sogolan, banyak daduk, banyak akar, dan
juga tebu terbakar. Pilih criteria sesuai dengan yang di amati, jika semua sudah
tercentang kemudian klik view maka akan muncul mutu tebu. lalu klik save
untuk menyimpan data mutu tersebut. Data penilaian mutu tebu tersebut
digunakan sebagai dasar criteria tebu yang masuk.

Proses dari awal tebu masuk gilingan sampai menjadi nira mentah:

Tebu

Menimbang tebu

Meletakkan tebu pada meja tebu

Memotong tebu dengan cane cutter 1 dan 2

Menghancurkan tebu dengan unigator

Memerah sabut/ampas pada Gilingan 1


Nira 1 Ampas gilingan 1
Saringan Memerah sabut/ampas pada Gilingan 2

DSM Nira 2 Ampas gilingan 2


Memerah sabut/ampas pada Gilingan 3
Nira gilingan 3
Air imbibisi Ampas gilingan 3
Memerah sabut/ampas pada Gilingan 4
Nira gilingan 4

Ampas gilingan4
boiler

Setelah truck pengangkut tebu tiba, kemudian tebu dibongkar dan diangkut
menggunakan timbangan digital crane scale, lalu dipindahkan pada lori-lori yang
sudah disiapkan. Kemudian, tebu pada lori tersebut diatur dan diarahkan ke proses

SMK NEGERI 1 CERME Page 32


pada stasiun gilingan. Setelah itu, tebu pada lori ditarik menggunakan cane lier,
diikat dengan pengait dan dikatrol keatas oleh cane unloading crane untuk
diletakkan diatas meja tebu.
Selanjutnya, tebu-tebu tersebut diangkut oleh cane carrier I menuju cane cutter I dan
cane cutter II untuk dipotong-potong menjadi berukuran ± 9 cm, karena tebu yang
telah dipotong-potong sifatnya masih kasar, maka perlu dihaluskan lagi oleh
unigrator untuk dicacah yang sifatnya sama dengan penumbuk. Setelah dari
unigrator, tebu diteruskan oleh cane carrier II untuk dibawa menuju gilingan untuk
diperah.
Untuk memerah sabut/ampas menjadi nira, ada 4 unit gilingan. Pada unit gilingan
pertama, hasil pemerahannya yaitu nira disaring oleh DSM screen dan hasil dari
saringan DSM screen disebut nira mentah, kemudian sisa ampas hasil saringan
masuk pada unit gilingan dua untuk digiling kembali. Pemerahan pada unit gilingan
dua, hasilnya sama seperti nira dari unit gilingan pertama yang kemudian disaring
kembali oleh DSM screen dan nira mentah yang dihasilkan dipompa ketimbangan
bolougne pada stasiun pemurnian bersama nira mentah dari unit gilingan pertama,
sedangkan ampas dari unit gilingan II diperah kembali pada unit gilingan berikutnya.
Ampas yang keluar dari unit gilingan II ini, masih mengandung kadar gula, sehingga
masih mengalami 2 kali pemerahan lagi pada unit gilingan III dan unit gilingan IV.
Sebelum masuk ke unit gilingan III ampas dari unit gilingan II ditambahkan blotong
sebesar 10-20℅. Penambahan blotong bertujuan untuk mengambil sisa nira yang
terkandung dalam nikot/blotong. Pada unit gilingan III ampasnya sudah jadi kering
sehingga gula yang masih menempel tidak dapat diambil. Sehingga ampas yang
keluar dari unit gilingan III, sebelum masuk pada unit gilingan IV terlebih dahulu
diberi air imbibisi dengan tujuan untuk menyempurnakan ekstraksi nira dari cacahan
tebu dan untuk menekan kehilangan gula didalam ampas, dan nira yang dihasilkan
oleh unit gilingan III digunakan untuk melarutkan gula dalam ampas unit gilingan I.
Setelah ampas unit gilingan III masuk pada unit gilingan IV, nira yang dihasilkan
dipakai untuk pengenceran ampas pada unit gilingan II dan untuk ampas yang
dihasilkan oleh unit gilingan IV diangkut oleh bagasse carrier menuju boiler (ketel)
sebagai bahan bakar. Setiap 1 jam sekali, ampas dari gilingan IV ini dianalisa untuk
mengetahui banyak sedikitnya kadar gula atau pol yang masih terkandung pada
ampas gilingan IV ini. Selain itu, pada tiap-tiap unit gilingan dilakukan sanitasi
gilingan atau pembersihan gilingan dengan tujuan mengendalikan laju pertumbuhan

SMK NEGERI 1 CERME Page 33


bakteri dan jamur dalam nira serta menurunkan kehilangan sukrosa yang terjadi
karena inversi, hal ini biasa dilakukan setiap 15 menit sekali dengan cara
menyemprotkan uap, bisa juga dilakukan dengan pemanasan dan dilakukan secara
otomatis pada tiap-tiap gilingan.

Bahan-bahan yang digunakan :


1. Tebu
Merupakan bahan baku yang digunakan untuk membuat gula di PG Lestari.
2. Air Imbibisi
Digunakan untuk memerah nira dan menghasilkan ampas dengan kadar nira
sekecil mungkin.
3. Surfaktan
Digunakan untuk menurunkan tegangan permukaan agar nira dapat lebih banyak
diperas oleh gilingan.
4. Susu kapur
Digunakan untuk preliming atau untuk menjaga kestabilan pH nira agar sukrosa
yang terkandung dalam nira tidak rusak dalam keadaan asam. Preliming
digunakan terutama pada tebu yang layu.
5. Bionature enzim
Digunakan untuk mengetahui zat bukan gula dengan cara diteteskan pada Nira
Perahan Pertama (NPP).
6. Blotong
Blotong yaitu hasil pengendapan dari nira kotor yang dikembalikan lagi ke proses
penggilingan untuk mengambil kadar gula yang masih tersisa pada nira kotor.
Blotong memiliki suhu >100˚C

Alat-alat yang digunakan :


1. Crane Unloading
Berfungsi untuk mengangkut tebu dari lori atau truck yang kemudian diangkat
menuju meja tebu. PG Lestari memiliki 2 buah Cane Unloading Crane yaitu
Crane untuk truck dan Crane untuk lori.

SMK NEGERI 1 CERME Page 34


GAMBARCRANE UNLOADING

Bagian dan fungsi alat :


1. Katrol : Tempat menggulung tali baja
2. tali baja : Menggerakkan naik turunnya gabaral
3. Roll putar : Untuk menggerakakan ke kanan dan ke kiri alat
penggerak
4. Electromotor : Menggerakkan naik turunnya kabel baja.
5. Ruang operator : Sebagai tempat pengendali jalannya crane
unloading crane
6. Lori : Tempat untuk mengangkut tebu
7. Meja tebu : Tempat meletakkan dan mengatur pemasukkan
tebu ke krepyak tebu (cane carrier)

Cara kerja alat :


Lori yang telah berisi tebu dibawa menuju meja tebu untuk dibongkar dengan
crane. Setelah tebu tepat berada dibawah rantai crane kemudian rantai
diturunkan dengan menggunakan tombol penggerak. Letak tombol pengggerak
terletak diatas yang dioperasikan secara manual dengan bantuan manusia.
Setelah rantai crane turun, kemudian rantai diikatkan pada tebu yang ada di lori
dengan bantuan manusia, kemudian diangkat keatas menggunakan tombol

SMK NEGERI 1 CERME Page 35


pengatur. Tombol penggerak ditekan dantebu diletakkan diatas meja tebu
dengan posisi searah gerakan meja tebu, tebu dijatuhkan dan rantai pengikat
dilepaskan.

2. Cane Table
Berfungsi untuk tempat meletakkan dan mengatur pemasukkan tebu ke cane
carrier. Meja tebu juga dihubungkan dengan ± 10 buah rantai yang dapat
bergerak, rantai inilah yang digunakan untuk jatuhnya tebu ke cane carrier.PG
Lestari memiliki 2 buah meja tebu (cane table).

GAMBAR CANE TABLE


Bagian dan fungsi alat :
1. Meja : Untuk tempat meletakkan tebu dari crane
2. Roda penggerak : Untuk menggerakkan meja tebu
3. Rantai : Menggerakkan tebu dari meja tebu menuju
krepyak tebu
4. Motor penggerak : Untuk menggerakkan meja tebu

Cara kerja alat :


Setelah crane mengangkat tebu dan meletakannya diatas meja tebu kemudian
sirip – sirip yang berada diatas meja tebu akan mendorong tebu ke cane carier.
Meja tebu digerakan oleh elektromotor yang dikendalikan oleh tenaga manusia
yang berupa tombol pengatur.

SMK NEGERI 1 CERME Page 36


3. Cane Carrier
Berfungsi untuk mengantarkan tebu menuju alat pendahuluan dan cacahan tebu
menuju gilingan. Ada 2 buah Cane Carrier :
a. Cane Carrier 1
Berfungsi untuk mengangkut tebu yang jatuh dari meja tebu dan masuk ke
alat pendahuluan dan memakai penggerak electromotor.

1 3 4

GAMBAR CANE CARRIER I

a. Bagian dan fungsi alat :


1. Sprocket : Untuk menggerakkan rantai krepyak tebu.
2. Krepyak : Untuk membawa tebu ke pisau tebu dan
unigrator.
3. Rantai krepyak : Tempat kedudukan krepyak tebu.
4. Pisau tebu : Untuk memotong motong tebu dengan
ukuran tertentu.
5. Unigrator : Untuk menghancurkan struktur tebu.

Cara kerja alat :


Krepyak tebu atau cane carrier berupa lempengan plate
bergelombang dan disusun berjajar, sisinya dihubungkan dengan rantai,
dengan tenaga penggerak elektromotor.
b. Cane Carrier 2
Berfungsi untuk mengangkut serabut-serabut tebu yang telah melewati cane
cutter I, cane cutter IIdan unigrator yang kemudian akan diperah oleh unit
gilingan 1.

SMK NEGERI 1 CERME Page 37


GAMBAR CANE CARRIER II
Keterangan :
1. Carrier II
2. Roda penahan
3. Roda pengerak
4. Roll atas gilingan nomor 1
Cara kerja alat:
1. Elektromotor dijalankan.
2. Tebu dari meja tebu dijatuhkan ke cane carrier I, melewati cane cutter I,
II dan unigrator, kemudian diteruskan cane carrier II.
3. Tebu mengalami pencacahan dan pemukulan sehingga jadi sabut dalam
cane carrier Iyang dilakukan oleh cane cutter I,II dan unigrator dan
dibawa oleh cane carrier II menuju ke donally chute untuk diteruskan ke
gilingan I.

4. Cane Cutter
Berfungsi untuk membuka sel-sel tebu dengan memotong-motong tebu menjadi
berukuran ± 9 cm, sehingga didalam gilingan nira akan terperah semaksimal
mungkin. PG Lestari memiliki 2 buah cane cutter yang dipasang secara seri.

SMK NEGERI 1 CERME Page 38


Cane cutter digerakkan oleh electromotor. Cane cutter I dan Cane cutter II
memiliki jumlah pisau yang sama yaitu 56 buah dengan putaran 700-750 rpm.
Cane cutter 1 berputar searah jarum jam, sedangkan Cane cutter 2 berputar
berlawanan arah jarum jam. Pemasangan disc atau piringan pada cane cutter
dilakukan secara berkesinambungan dengan jarak disc atau piringan ± 10 dm
dan jarak antara ujung pisau dengan cane carrier ± 1 dm.

GAMBAR CANE CUTTER

Bagian dan fungsi alat :


1. Mata pisau : Untuk memotong- motong batang tebu menjadi
bagian tertentu
2. Baut pengikat : Untuk mengikat pisau tebu agar tidak mudah lepas
3. Disc : Tempat menempelnya pisau tebu
4. Poros : Tempat kedudukan disc dan pisau tebu
5. Piringan : Tempat dipasangnya pisau-pisau pemotong

Cara kerja alat :


Tebu yang berada di meja tebu selanjutnya dibawa oleh krepyak tebu atau cane
carrier menuju pisau tebu. Oleh pisau tebu dipotong-potong dan dicacah

SMK NEGERI 1 CERME Page 39


menjadi bagian kecil-kecil, sehingga sel-sel tebu terbuka dan pemerahan nira
lebih mudah.

5. Unigrator
Berfungsi menghancurkan potongan tebu menjadi sabut dengan anvil yang
terdapat di dalam unigrator, ukuran anvil sekitar 18 ml. Alat ini digerakkan oleh
turbin uap dengan putaran 4000 rpm. Unigrator ini memiliki putaran±750 rpm.

GAMBAR UNIGRATOR
Keterangan :
1. Hammer
2. Piringan
3. Anvil
4. Poros hammer
5. Poros
6. Shredder spie
7. Baut setelan
8. Poros hammer

SMK NEGERI 1 CERME Page 40


Bagian dan fungsi alat:
1. Hammer : Untuk memukul cacahan tebu
2. Piringan : Tempat menempelnya hammer
3. Anvil : Landasan pemukul
4. Poros : Tempat kedudukan hammer shredder
5. Baut setelan : Untuk mengatur kedudukan hammer

Cara kerja alat :


1. Turbin uap dijalankan sehingga unigator berputar.
2. Hammer berputar berlawanan arah dengan krepyak tebu.
3. Tebu yang sudah terpotong-potong terlempar ke landasan (Anvil), lalu
terpukul oleh palu (hammer) sehingga bentuk tebu menjadi serabut yang
halus seperti ampas dan siap untuk diperah.

6. Gilingan
PG Lestari memiliki 4 unit gilingan yang dipasang secara seri dan masing-
masing gilingan terdiri dari 3 buah roll. Sehingga pada tiap-tiap unit tebu
mengalami 2 kali pemerahan. Gilingan berfungsi untuk memerah sabut/ampas
agar dapat mengeluarkan nira semaksimal mungkin dan menekan kehilangan
sukrosa seminimal mungkin sehingga diharapkan pol ampas yang sekecil-
kecilnya. Setiap unit gilingan memiliki tekanan hidrolis sekitar 3000 Psi.
Pengaturan jarak antara roll gilingan dilakukan pada saat sebelum proses giling
dimulai dan jaraknya disesuaikan dengan kapasitas giling.

SMK NEGERI 1 CERME Page 41


GAMBAR GILINGAN

Keterangan :
1. Feeding roll 5. Roll atas 9. Plat ampas
2. Plat peluncur 6. Skrap ampas 10. Standart
3. Pipa minyak 7. Roll depan 11. Bed plat
4. Metal gilingan 8. Roll belakang 12. Lubang nira

Bagian dan fungsi alat :


1. Feeding roll : Rol pengumpan ampas yang masuk pada
gilingan
2. Plat peluncur : Laluan ampas menuju gilingan
3. Pipa minyak : Saluran minyak hydrolis penekan gilingan
4. Metal gilingan : Sebagai bantalan as gilingan agar berputar
pada sumbunya
5. Roll atas : Memberikan tekanan pada ampas
yang masuk terhadap rol depan saat
pemerahan pertama dan memberikan
tekanan pada pemerahan kedua saat
masuk terhadap roll belakang
6. Skrap ampas : Membersihkan ampas yang menempel
pada roll gilingan

SMK NEGERI 1 CERME Page 42


7. Roll depan : Melakukan pemerahan pertama terhadap
roll atas
8. Roll belakang : Melakukan pemerahan kedua terhadap roll
atas
9. Plat ampas : Jembatan ampas dari pemerahan pertama
menuju pemerahan kedua
10. Standart gilingan : Sebagai tempat tumpuan ketiga roll
gilingan
11. Bed plat : Plat bagian bawah / bak penampung nira
hasil pemerahan
12. Lubang nira : Sebagai tempat aliran nira ke peti penarik

Cara Kerja Unit Gilingan I :


Didalam tiap-tiap unit gilingan dilengkapi 3 buah roll gilingan, tebu tersebut
dipotong-potong denganCane Cutter dan dipecah-pecah denganUnigrator,
fungsinya untuk memudahkan pemerahan pada tiap-tiap gilingan. Kemudian
tebu-tebu yang telah menjadi serabut-serabut ini, masuk pada unit gilingan I dan
hasil pemerahannya yaitu nira dari gilingan I disaring dengan DSM screen, hasil
dari saringan DSM screen disebut nira mentah dan sisa ampas hasil saringan
masuk lagi ke unit gilingan untuk digiling pada unit gilingan berikutnya. Nira
mentah yang dihasilkan dipompakan ketimbangan Bolougnepada stasiun
pemurnian.
Cara Kerja Unit Gilingan II :
Pada unit gilingan II kelanjutan dari pemerahan ampas unit gilingan I, untuk
memeras nira yang masih terkandung pada ampas dari unit gilingan I, Unit
gilingan II ini nira hasil pemerahannya dialirkan pada saringanDSM screenyang
hasilnya sama seperti nira dari gilingan I, selanjutnya dipompakan ketimbangan
Bolougne pada stasiun pemurnian bersama dengan nira dari gilingan I,
sedangkan ampas dari gilingan II untuk proses pemerahan berikutnya ke unit
gilingan III.
Cara Kerja Unit Gilingan III :
Ampas yang keluar dari gilingan II ini masih mengandung kadar gula, sebab
masih mengalami 2 kali pemerahan lagi pada unit gilingan III dan IV. Ampas
dari gilingan II sebelum masuk gilingan III dialiri nira dari gilingan IV dan

SMK NEGERI 1 CERME Page 43


diberi blotong, sedangkan nira yang dihasilkan dari gilingan III dipakai
pengenceran pada ampas gilingan I. Ampas dari gilingan III ini kelanjutannya
pada pemerahan gilingan IV.
Cara Kerja Unit Gilingan IV :
Ampas yang keluar dari gilingan III sebelum masuk pada unit gilingan IV,
terlebih dahulu diberi air imbibisi. Sedangkan hasil pemerahan dari unit gilingan
IV untuk niranya dipakai pengenceran ampas gilingan II dan untuk ampasnya
setelah proses unit gilingan IV diangkut oleh krepyak ampas (bagasse
carrier)menuju ketel sebagai bahan bakar dan kelebihannya ampas dibal sebagai
bahan bakar cadangan. Untuk bahan pemeriksaan di laboratorium ampas dari
gilingan IV diperiksa tiap 1 jam sekali yang gunanya untuk mengetahui banyak
sedikitnya kadar gula atau pol yang masih terkandung pada ampas gilingan IV
ini.

7. Roll Gilingan
Berfungsi untuk memeras serabut-serabut tebu yang sudah dipotong-potong oleh
cane cutter dan dicacah oleh unigrator. Pada permukaan roll terdapat saluran-
saluran (alur-alur) agar gilingan tidak terjadi slip dan nira mudah mengalir,
sehingga pemerasan dapat berjalan dengan baik.

GAMBARROLL GILINGAN
Bagian dan fungsi alat :
1. As roll gilingan : Sebagai poros roll
2. Plat pelindung : Sebagai plat penahan nira dan ampas tidak keluar
saat pemerahan
3. Alur roll : Untuk aliran nira hasil pemerahan

SMK NEGERI 1 CERME Page 44


4. Gigi : Sebagai pemerah cacahan tebu
5. Tempat metal : Tempat terletaknya roll gilingan
.
Cara kerja alat:
1. Tebu yang dibawa oleh cane carrier sudah dalam bentuk cacahan yang
kemudian masuk ke gilingan
2. Saat tebu atau ampas sudah berada di mulut gilingan maka rol pengumpan
yang berputar searah dengan rol gilingan bawah yang akan menekan tebu atau
ampas untuk masuk ke mulut gilingan.
3. Selanjutnya proses pemerahan oleh rol gilingan berlangsung, kemudian
ampas tebu akan keluar dari gilingan menuju intermediate carrier.
4. Nira hasil pemerahan akan keluar melalui alur-alur gilingan kemudian
disaring dan ditampung dalam bak penampungan serta akan dipompa menuju
proses selanjutnya.

8. Accumulator
Berfungsi untuk memberikan tekanan yang teratur dan merata pada gilingan agar
ampas yang masuk ke gilingan mendapatkan tekanan, sehingga dapat
menyesuaikan dengan tebal tipisnya ampas, maka akan menghasilkan jumlah
nira yang semaksimal mungkin.

GAMBAR ACCUMULATOR

SMK NEGERI 1 CERME Page 45


Keterangan :
1. Metal rol atas
2. As rol gilingan
3. Torak
4. Ruang minyak
5. Akumulator
6. Tabung gas nitrogen
7. Manometer
8. Pipa minyak
9. Tangki minyak
10. Pompa

Bagian dan fungsi alat :


1. Metal rol atas : Untuk dudukan rol gilingan
2. As rol gilingan : Untuk menggerakkan rol gilingan
(dihubungkan dengan motor penggerak)
3. Torak : Untuk meneruskan minyak ke metal atas
4. Ruang minyak : Untuk meneruskan tekanan dari rol gilingan
ke tabung akumulator
5. Akumulator : Sebagai tempat tabung gas nitrogen dan
minyak
6. Tabung gas nitrogen : Sebagai tempat gas nitrogen untuk
memberikan tekanan balik
7. Manometer : Sebagai penunjuk tekanan pada gilingan
8. Pipa minyak : Sebagai aliran minyak ke akumulator
9. Tangki minyak : Untuk menampung minyak
10. Pompa : Untuk memompa minyak untuk memberikan
awal
Cara kerja alat :
Berdasarkan tekanan hidrolis, minyak yang dihubungkan pada roll gilingan,
akan dipompakan kedalam tabung dan diberikan tekanan sesuai dengan
kebutuhan. Apabila tekanan ampas pada gilingan berubah, maka tekanan dalam
accumulator juga berubah. Tekanan roll akan terkontrol mengikuti fluktuasi

SMK NEGERI 1 CERME Page 46


tebal tipisnya ampas. Pemerahan dilakukan dengan tekanan yang tinggi sampai
300 kg/cm2.

9. Intermediate Carrier
Berfungsi untuk mengangkut sabut tebu yang keluar dari gilingan pertama
sampai akhir. Intermediate carrier di PG Lestari ada 3 yang terletak didepan
masing-masing gilingan dan mempunyai fungsi yang sama.

GAMBAR INTERMEDIATE CARRIER


Bagian dan fungsi alat :
1. Plat samping : Sebagai penutup samping kiri/kanan
2. Cakar ampas : Untuk mencakar ampas yang jatuh dari roll
gilingan untuk dibawah ke gilingan berikutnya
3. Plat dasar :Sebagai penutup bagian bawah carrier juga
sebagai tempat jalannya ampas
4. Bantalan cakar : Sebagai tempat/kedudukan cakar
5. Rantai : Sebagai tempat penyusunan deretan cakar ampas
6. Gear Box :Tempat roda gigi melakukan transmisi/perubahan
putaran
7. Roda gigi/sproket : Roda gigi yang menggerakkan rantai cakar ampas
8. Elektromotor : Sebagai penggerak roda melalui gear box

SMK NEGERI 1 CERME Page 47


Cara kerja alat :
Sebagai penggerak intermediate carrier digunakan elektromotor,sehingga
kecepatan carrier konstan, roda gigi penggerak dihubungkan dengan roda gigi
sprokret yang akan menarik rantai cakar yang dibawahnya terdapat bantalan,
cakar dapat berputar sehingga ampas yang ada diplat dasar dapat terbawa
samp6ai puncak dan ampas jatuh ke peluncur menuju ke gilingan
berikutnya.Setelah cakar melepaskan ampas yang dibawa, cakar akan berputar
kembali untuk membawa ampas lagi, dan berulang kembali. Untuk
mengimbangi banyaknya ampas yang masuk maka operator dapat menyesuaikan
putaran gilingan.

10. Saringan nira mentah(DSM Screen)


Berfungsi untuk menyaring nira mentah yang berasal dari gilingan I dan gilingan
II yang kemudian menuju ke stasiun pemurnian. DSM Screen memiliki ukuran
saringan 0,8 cm.

GAMBAR SARINGAN NIRA MENTAH (DSM SCREEN)

SMK NEGERI 1 CERME Page 48


Bagian dan fungsi alat:
1. Pipa pemasukan nira mentah : Saluran pemasukan nira dari
gilingan
2. Saringan : Sebagai penyaring nira dari
gilingan
3. Pipa pengeluaran nira tersaring : Saluran pengeluaran nira yang
telah tersaring
Cara kerja alat :
Nira hasil gilingan I dan gilingan II dipompa menuju saringan nira mentah
sehingga nira akan tersaring dan terpisah dari kotoran. Kemudian nira yang
sudah tersaring dipompa menuju timbangan boulogne.

11. Pemberian Air Imbibisi


Berfungsi untuk menyempurnakan ekstraksi nira dari cacahan tebu dan untuk
menekan kehilangan gula didalam ampas.
Didalam gilingan tersusun 3 rol gilingan sehingga dalam satu gilingan terjadi
pemerahan dua kali. Ini berarti didalam stasiun gilingan yang tersusun 4 bagian
gilingan terjadi pemerahan 8 kali .Bila gilingan bekerja dengan baik maka
pemerahan di gilingan kedua saja ampas sudah kering sehingga pada gilingan ke
tiga dan ke empat tidak keluar nira. Inilah tugas seorang chemiker bagaimana
caranya agar nira yang dihasilkan sebanyak mungkin yaitu dengan cara
pemberian imbibisi. Air atau nira encer diberikan pada ampas yang baru lepas
dari celah gilingan agar pencampuran antara ampas tebu dapat sempurna
sehingga daya serap yang dihasilkan maksimal.

SMK NEGERI 1 CERME Page 49


GAMBAR PEMBERIAN AIR IMBIBISI
Cara kerja alat :
Air imbibisi diberikan dengan cara majemuk. Air imbibisi diberikan pada
gilingan III sebelum diperas di gilingan IV sedangkan pemberian imbibisi nira
encer dari gilingan IV digunakan untuk imbibisi gilingan II. Air imbibisi pada
suhu ± 70-80oC diberikan pada ampas yang keluar dari gilingan III secara
merata melalui sistem pipa yang berlubang. Air panas berasal dari bak air
imbibisi yang dipompa melalui pipa penyemprot dengan debit yang telah
ditentukan. Tujuan daripada penggunaan air panas sebagai air imbibisi adalah
untuk mempercepat pencampuran dan pelarutan nira dengan air.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kehilangan gula :
Kadar gula yang terdapat pada batang tebu harus dijaga, sebab apabila sudah
rusak tidak dapat diperbaiki lagi.
Hal-hal yang menyebabkan kehilangan gula dalam stasiun gilingan :
1. Faktor asam
Gula tidak tahan akan suasana asam (kecut) jadi nira yang dihasilkan tidak
baik apabila dibiarkan terlalu lama dalam penggilingan, karena akan menjadi
asam dan kemudian gulanya rusak.

2. Faktor jasad renik


Didalam batang tebu dan udara terdapat banyak sekali jasad renik (semacam
bakteri) yang diantaranya suka memakan gula, maka adanya jasad ini harus
dicegah.
3. Hilang di dalam ampas

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah kerusakan ini :


1. Pengaturan gilingan harus sebaik-baiknya
2. Air imbibisi harus tercampur sempurna dengan ampas
3. Nira tidak dibiarkan terlalu lama dalam gilingan
4. Bagian-bagian dari alat penggilingan harus selalu bersih (jangan sampai ada
ampas yang masih tersisa dibawah gilingan)
5. Setiap 15 menit sekali bagian-bagian dari gilingan disemprot dengan steam
(uap) atau sejenis bahan kimia agar bakteri yang terdapat mati.

SMK NEGERI 1 CERME Page 50


3.3 STASIUN PEMURNIAN

Stasiun pemurnian bertujuan untuk memisahkan kotoran (komponen yang


bukan gula) yang terdapat pada nira mentah dengan semaksimal mungkin, sehingga
meningkatkan harga kemurnian nira agar bisa mengkristal semaksimal mungkin
tanpa merusak sukrosa dan monosakarida. Apabila sukrosa rusak, maka gula yang
dihasilkan juga tidak bisa maksimal karena tidak dapat mengkristal. Zat yang
termasuk dalam komponen bukan gula adalah zat-zat asam. Oleh karena itu, nira
mentah bersifat asam dengan pH antara 5,4 - 5,6. Sedangkan sakarosa tersebut
mudah pecah/terinversi pada suasana asam. Oleh karena itu, harus ditambahkan susu
kapur (basa) agar netral dan sukrosa tidak mudah pecah didalam defekator. PG
Lestari menggunakan pH mula-mula 6,5 dinaikkan menggunakan susu kapur sampai
pH 8,6 dan diturunkan lagi menjadi netral dengan pH 7,2.
Proses pemurnian nira adalah suatu proses yang harus dilakukan setelah tahap
penggilingan sebelum masuk pada stasiun penguapan. Dengan adanya proses
pemurnian ini maka akan didapat nira yang jernih dan bebas dari kotoran yang dapat
merusak gula.Nira mentah yang dihasilkan dari stasiun gilingan terdapat komponen-
komponen yang larut didalamnya, karena komponen tebu terdiri atas air, sakarosa,
monosakarida, garam, asam, lempung, pasir atau tanah, lilin, zat warna, zat sejenis
putih telur, ampas dsb. Komponen-komponen tebu tersebut akan membawa pengaruh
terhadap sifat nira. Selain itu masih banyak lagi komponen nira yang berhubungan
dengan proses di stasiun permunian, antara lain: zat warna, koloid, garam-garam

SMK NEGERI 1 CERME Page 51


anorganik, asam-asam anorganik,silikat dll.Adapun kandungan nira mentah antara
lain:
 Air, sebagai pelarut.
 Dispersa molekuler, yaitu sukrosa, monosakarida, garam-garam, asam-asam bebas
dsb.
 Dispersa koloid, yaitu protein(putih telur), blondok, pectin, zat warna dsb.Yang
termasuk bukan gula : fruktosa, glukosa, lilin, bahan organic, gum, sabut.
 Suspense kasar, yaitu ampas halus, pasir, tanah, lempung dsb.
Proses pemurnian nira yang banyak digunakan pada pabrik gula di Indonesia
ada tiga macam, yaitu:
1. Pemurnian dengan cara defekasi.
2. Pemurnian dengan cara sulfitasi.
3. Pemurnian dengan cara karbonatasi.

Pada stasiun pemurnian di PG Lestari menggunakan sistem pemurnian dengan cara


sulfitasi, yaitu pemberian susu kapur sehingga pH nira 8,6 dan ditambah gas SO2 pH
nira menjadi 7,2. Pemberian gas SO2 ini menyebabkan SO2 bergabung dengan CaO
membentuk CaSO3 yang mengendap.
Ada beberapa cara menghilangkan bukan gula/kotoran, sebagai berikut :
a. Cara kimia. Penghilangan kotoran secara kimia adalah dengan penambahan bahan
pembantu yaitu kapur tohor (CaO) dalam bentuk susu kapur (Ca(OH)2) dan gas SO2
yang dapat bereaksi dengan nira sehingga menimbulkan efek pemurnian yang baik.
b. Cara kimia fisika. Proses penghilangan kotoran secara kimia fisika atau fisis khemis
berawal dari cara kimia adalah menghilangkan sifat fisis dengan pemanasan
kemudian terjadi penempelan (adsorbsi dan absorbsi) dari komponen bukan gula.
c. Cara fisika.Penghilangan kotoran kasar atau endapan yang terbentuk dengan
penyaringan atau penapisan.Keberhasilan proses penghilangan kotoran secara fisis
tergantung dari hasil pekerjaan secara kimia fisika.

SMK NEGERI 1 CERME Page 52


PROSES PEMURNIAN

Nira mentah

Ditimbang menggunakan timbangan boulogne

Peti nira mentah

Dipanaskan pada PP I hingga mencapai suhu 75-80°C

Penambahan Ca(OH)2pada defekator I untuk mencapai pH 7,2-7,4

Penambahan Ca(OH)2pada defekator II sehingga mencapai pH 8,6

Penambahan SO2 di bejana sulfitir sampai dengan pH 7,2

Dipanaskan pada PP II hingga mencapai suhu 105-110°C

Melepaskan gas yang terlarut dalam nira di flash tank

Penambahan flokulan dan terjadi pengendapan di STC

Nira jernih Nira kotor


RVF Blotong

Nira tapis
Saringan STC

Stasiun Penguapan

Nira mentah dari penggilingan diberi bahan tambahan phospat cair (H2PO3) dengan
kadar 300 - 350 rpm dan untuk mencapai pH mula-mula yaitu 6,5. Pemberian
phospat cair agar terbentuk endapan Ca3(PO4)2. Endapan Ca3(PO4)2 dapat menyerap
koloid pada nira mentah. Setelah itu, nira mentah disaring menggunakan saringan
DSM screen lalu ditimbang dengan timbangan boulogne. Untuk mengetahui berat

SMK NEGERI 1 CERME Page 53


nira dalam 8 jam atau 24 jam harus diketahui berapa kali timbangan boulogne
menurunkan nira dalam 1 jam dengan memasang alat penghitung/teller. Kapasitas
timbangan boulogne per tiap bak timbang ± 6 ton/bak waktu pengisian tergantung
pada kapasitas giling.

Kemudian nira mentah masuk ke peti nira mentah tertimbang untuk di pompa
ke pemanas nira I (PP I). Pada PP I menggunakan juice heater V - VIII, nira
dipanaskan dengan suhu 75°C - 80ºC. PP I bertujuan untuk mempercepat terjadinya
reaksi antara nira dengan larutan phospat cair dan mematikan bakteri yang terdapat
dalam nira.
Hal – hal yang dapat menyebabkan suhu kurang atau lebih dari 75 – 80ºC antara lain:

- Kecepatan aliran nira.


- Bahan pemanas.
- Luas bidang pemanas.
- Kebersihan pipa nira.
- Gas tak terembunkan.
- Kecepatan aliran air kondenser.

Nira dari Pemanas Pendahuluan I (PP I) dialirkan ke dalam defekator I. Pada


defekator I ditambahkan larutan kapur (Ca(OH)2). Penambahan larutan kapur 6ºBe
ini bertujuan untuk menetralkan pH nira yang bersifat asam dengan pH nira 6,5
menjadi 7,2 – 7,4 dengan rentang waktu 2,5 – 3,0 menit sehingga membentuk inti
endapan [Ca2(PO4)2]. Endapan Ca2(PO4)2 berguna untuk mengikat zat bukan gula
dan koloid. Kemudian nira dialirkan pada defekator II disertai dengan penambahan
larutan kapur hingga dicapai pH 8,6 dengan rentang waktu kurang lebih 15 detik.
Untuk mengetahui pH 7,2 di defekator I menggunakan indikator BTB dan untuk
mengetahui pH 8,6 di defekator II menggunakan indikator PP yang dapat dicocokkan
dengan tabel warna pada kartu warna dari BP3G. Susu kapur yang digunakan
sebanyak 110 kg kapur/1000 ku tebu. Penambahan susu kapur dilakukan pada
defekator I dan pada tangki defekator II berguna untuk menyempurnakan reaksi nira
dengan susu kapur saat dilakukan penambahan susu kapur pada defekator I.
Pengendapan kotoran dapat lebih efektif, karena terjadi reaksi antara susu kapur
dengan phospat membentuk Ca3(PO4)2 yang mengikat kotoran serta mempersiapkan
reaksi dengan SO2.
Reaksi utama yang terjadi pada defekator :
I. CaO + H2O Ca(OH)2
Ca(OH) Ca2+ + 2 OH-
II. P2O5 + 3 H2O 2 H3PO4
2 H2PO4 6 H+ + 2 PO42+
III. 3 Ca2+ + 2 PO43- Ca3(PO4)

SMK NEGERI 1 CERME Page 54


Endapan kalsium phospat yang terbentuk dapat menyerap dan mengikat koloid yang
ada di sekitarnya.
Dari defekator II, nira dialirkan ke bejana sulfitir sampai pH 7,2. Pada bejana sulfitir
dilakukan penambahan belerang (SO2(g))
Tujuan dari penambahan gas SO2 ini adalah untuk :
1. Mencegah pecahnya monosakarida yang dapat menyebabkan timbulnya zat warna
dan terbentuknya asam organik. Asam organik dapat bereaksi dg kapur membentuk
garam terlarut. Garam terlarut akan memperbesar pergerakan pada penguapan dan
menurunkan panas yang akan menyebabkan reaksi tidak sempurna serta mengurangi
viskositas nira.
2. Efek bleaching Gas belerang merupakan unsur bleaching yang kuat. Bleaching
bertujuan untuk mengurangi intensitas warna dalam nira. Intensitas warna akan
berkurang atau turun perlahan-lahan pada proses selanjutnya. Selain itu, bleaching
juga untuk mereduksi ikatan ferri yang berwarna gelap menjadi ikatan ferro yang
berwarna lebih ringan. Efek bleaching ini hanya bersifat sementara dan akan timbul
lagi setelah adanya kontak dengan udara.
Gas belerang (SO2) yang digunakan berasal dari pembakaran belerang di unit
pembuatan gas belerang. Tujuan dari penambahan gas belerang selain sebagai
bleaching, juga untuk menetralisir kelebihan pemberian susu kapur akan bereaksi
dengan gas SO2 dan membentuk endapan CaSO3 yang kemudian diabsorbsi oleh inti
endapan yang sudah ada [Ca3(PO4)2] sehingga terbentuk endapan dengan diameter
yang lebih besar.
Reaksi-reaksi yang terjadi sebagai efek netralisir :
a. Ca(OH)2 + H2SO3 ↔ CaSO3 + 2H2O
b. Ca(OH)2 + 2H2SO3 ↔ Ca(HSO3)2 + 2H2O
Ca(OH)2 + Ca(H2SO3)2 ↔ 2CaSO3 + 2H2O
c. 2Ca(OH)2 + 2H2SO3 ↔ 2CaSO3 + 4H2O
Dari bejana sulfitir, nira dipanaskan pada PP II (Pemanas Pendahuluan II)
yang meggunakan juice heater I – IV hingga mencapai temperatur 105 – 110ºC. Nira
dipanaskan pada suhu 105 - 110ºC bertujuan untuk :
1. Menyempurnakan reaksi gas belerang dengan kelebihan kapur dalam nira.
2. Mempercepat reaksi pengendapan dan pengeluaran gas.
3. Menurunkan viskositas dan densitas nira sehingga memudahkan pengeluaran gas dari
cairan dan akhirnya mempercepat proses pengendapan.
Untuk memisahkan gas-gas terlarut, nira dialirkan flash tank (Dual Action
Tower/DAT). Nira dialirkan ke flash tank untuk melepaskan gas-gas terlarut dalam
nira yang dapat menghambat proses pengendapan dan juga untuk mengeliminer
fluktuasi aliran yang masuk clarifier. Kemudian nira ditambahkan flokulan (amyfloc)

SMK NEGERI 1 CERME Page 55


terlebih dahulu sebanyak 2-3 ppm. Flokulan ini berfungsi untuk menarik atau
menggumpalkan kotoran sehingga akan membantu dalam proses pengendapan.
Setelah penambahan flokulan, nira dialirkan ke dalam snow balling tank. Dalam
snow balling tank terbentuklah suatu tangensial yang dapat mempercepat proses
pengendapan. Nira dari snow balling tank dialirkan ke singgle dray clarifien. singgle
dray clarifien berfungsi untuk memisahkan nira jernih dari nira kotor dengan cara
mengendapkan kotoran dalam nira.
Usaha-usaha untuk mempercepat pengendapan :
 Memperbesar selisih densitas antara partikel dengan cairan, yaitu dengan jalan
memperbanyak jumlah endapan ekstra Ca3(PO4)2 dan CaSO3 serta menurunkan
densitas cairan dengan pemanasan.
 Memperbesar diameter endapan dengan jalan memberikan zat penggumpal
(flokulan), sehingga terjadi penggabungan partikel-partikel kecil menjadi
sekelompok partikel dalam ukuran yang lebih besar.
 Menurunkan viskositas dengan jalan memanaskan nira.

Faktor-faktor yang menghambat pengendapan :


 Arus Balik, suatu partikel/endapan yang bergerak kebawah akan meninggalkan ruang
kosong dan akan menekan nira dibawahnya atau di tempat kedudukannya yang baru,
sehingga terjadi aliran naik yang mengisi kekosongannya. Bila pada nira terdapat
partikel yang lebih ringan maka dengan gaya arus keatas ini partikel akan bergerak
keatas.
 Arus Konveksi, akibat perbedaan suhu pada suatu bejana akan dapat menimbulkan
arus konveksi, perbedaan suhu akan menyebabkan perbedaan berat jenis, ini yang
menimbulkan arus.
 Getaran Mesin, getaran mesin dapat menggangu ketenangan, karena itu peti
pengendapan harus diberi fondasi tersendiri. Dengan demikian adanya getaran mesin
di dalam pabrik tidak sampai berpengaruh terhadap proses pengendapan.
Dari singgle tray clarifien, nira yang keluar berupa nira jernih dengan nira
kotor. Nira jernih keluar secara overflow yang kemudian disaring oleh saringan
DSM, nira jernih akan ditampung pada clear juice tank untuk dimasak pada stasiun
berikutnya, yaitu stasiun penguapan. Parameter yang harus dicapai untuk nira jernih
yaitu tingkat kejernihan kurang dari 40 ppm (semakin kecil maka kualitas nira jernih
semakin bagus). Sedangkan nira kotor yang keluar dari door clarifier berupa slurry
mengalir keStasiun Gilingan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 56


Bahan – bahan tambahan dalam proses pemurnian :
1. Asam phospat
Asam phospat berfungsi untuk mendapatkan endapan kalsium phospat Ca3(PO4)2,
endapan ini digunakan agar bahan yang bukan gula ikut terendapkan dalam kalsium
phospat Ca3(PO4)2 tersebut.

2. Susu kapur Ca(OH)2


Susu kapur berfungsi untuk menaikkan pH nira mentah dan mendapatkan endapan
kalsium phospat Ca3(PO4)2 dan kalsium sulfit CaSO3.

3. Gas belerang (SO2)


Gas belerang berfungsi untuk menetralkan nira dari defekator II dan menghilangkan
zat-zat warna pada nira kental.

4. Flokulan
Flokulan berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan kotoran dan koloid atau
kotoran bukan gula.

Alat-alat yang digunakan :

1. DSM Screen
Digunakan untuk menyaring nira dari gilingan I dan II, supaya kotoran-kotoran tidak
terbawa. Untuk ampasnya dikembalikan ke gilingan dan nira masuk ke timbangan
boulogne.

GAMBAR DSM SCREEN

SMK NEGERI 1 CERME Page 57


Keterangan :
1. Pipa pemasukan nira
2. Saringan
3. Pipa pengeluaran nira
Bagian dan fungsi alat :
4. Pipa pemasukan nira : Saluran pemasukan nira mentah dari gilingan.
5. Saringan : Sebagai penyaring nira dari gilingan.
6. Pipa pengeluaran nira : Saluran pengeluaran nira yang telah tersarin

Cara kerja:
Nira hasil gilingan I dan gilingan II yang telah diberi phosphat dipompa menuju
saringan nira mentah sehingga nira akan tersaring dan terpisah darikotoran.
Kemudian nira yang sudah tersaring dipompa menuju timbangan boulogne.

2. Timbangan Boulogne
Digunakan untuk mengetahui banyaknya nira yang dihasilkan oleh stasiun gilingan.
PG Lestari menggunakan timbangan boulogne dengan kapasitas ±6 ton dalam 1 bak.
Bila nira dalam timbangan boulogne kurang dari 6 ton, maka nira tidak akan turun ke
dalam peti tampung.
1
3

5
4

2
7

NO URUT : 12

Pemilik
GAMBAR :
TIMBANGAN BOULOGNE
Sukarman
SMK NEGERI 1 CERME
No Kontrak : Zx Page 58
9643
Keterangan :
1. Bandul pemberat
2. Bak timbangan
3. Shock/peredam kejut
4. Pipa masukan
5. Bak tunggu
6. Katup/klep atas
7. Bak nira
8. Katup/klep bawah

Bagian dan fungsi alat :


1. Bandul pemberat : tempat kesetimbangan berat dengan bak
timbangan.
2. Bak timbangan : tempat aliran nira telah tertimbang.
3. Shock/peredam kejut : sebagai peredam kejutan yang keras pada
lengantimbangan.
4. Pipa masukan : pipa saluran masuknya nira.
5. Bak tunggu : peti tempat berhentinya nira mentah yang
akanditimbang.
6. Katup/klep atas : klep buka/tutup saat aliran nira ke bak
timbang.
7. Bak nira : penampung nira yang akan dipompa ke
juice heater.
8. Katup/klep bawah : pembuka/penutup aliran nira yang telah
tertimbangke bak nira mentah tertimbang.
Cara kerja :
1. Saat Mengisi
Dalam keadaan kosong, kedudukan klep akan menutup lubang pengeluaran peti
timbangan, tetapi membuka lubang pengeluaran peti tampung yang ada di atas
timbangan. Oleh karena itu nira mentah masuk ke peti timbangan. Keadaan ini
berlangsung terus sampai peti timbangan penuh, saat itu sejenak terjadi
keseimbangan. Dan bandul mulai terangkat pelan-pelan. Karena pengisian
berlangsung terus, pada akhirnya keseimbangan menjadi terganggu.
2. Saat Mengosongkan
Karena keseimbangan terganggu, maka peti timbangan akan turun (bandul bergeser)
pada saat turun peti timbangan akan menarik klep untuk bergerak turun. Dengan

SMK NEGERI 1 CERME Page 59


demikian klep pada peti tampung menutup lubang pengeluaran dan nira mentah akan
mengisi peti tampung. Setelah menutup saluran pengeluaran peti tampung, klep akan
berhenti. Tetapi peti timbang tetap bergerak turun dalam jarak tertentu, dengan
demikian akan membuka saluran pengeluarannya. Selanjutnya nira mentah akan
keluar dan tertampung di peti tampung nira tertimbang. Setelah peti timbangan
kosong, keadaan kesetimbangan akan kembali seperti saat peti timbangan mengisi
(bandul kembali ke tempat semula), peti timbangan terangkat naik dan saluran
pengeluarannya akan tertutup oleh klep. Dan sementara itu peti bergerak naik sambil
mendorong klep, maka pada akhirnya akan membuka saluran pengeluaran peti
tampung, yang selanjutnya nira mentah akan mengisi peti timbangan kembali.
Demikian seterusnya, dan setiap gerak mengisi serta mengosongkan disebut satu
siklus.

3. Peti nira mentah tertimbang


Berfungsi sebagai peti penampung nira mentah setelah ditimbang menggunakan
timbangan boulognesebelum ke Pemanas Pendahuluan I (PP I) untuk dipanaskan.

4. Pemanas Pendahuluan (Juice Heater)


Jumlah pemanas pendahuluan di PG Lestari memiliki 8 unit juice heater, untuk PP I
menggunakan juice heater VI - VIII, dan untuk PP II menggunakan juice heater I -
IV. Juice heater V netral, bisa sebagai PP I dan PP II , sebagai pengganti apabila ada
salah satu juice heater yang di bersihkan atau di perbaiki. Setiap pemanas
mempunyai lebih dari satu juice heater dikarenakan supaya kerja dari juice heater
dapat bergantian, sehingga juice heater yang tidak digunakandapat dibersihkan
terlebih dulu.Juice heater berbentuk silinder tegak lurus yang didalamnya terdapat
pipa-pipa nira. Diantara pipa-pipa nira yang dibagian atas dan bawahnya tertutup
oleh tube plate, kemudian dialirkan uap nira atau uap bekas sebagai bahan pemanas.
PP I dan PP II dipanaskan menggunakan uap nira atau uap bekas.
Pemanasan nira di PG Lestari dilaksanakan dalam 2 tahap:

1. PP I memanaskan nira dengan suhu 75 - 80ºC untuk mempercepat reaksi dengan


mengumpulkan zat organik yang terkandung didalam nira dan jasad renik.
2. PP II memanaskan nira dengan suhu 105 - 110ºC untuk mengumpulkan kotoran
3. yang dapat mengumpul pada suhu tinggi, menyempurnakan reaksi dan menurunkan
viskositas.

SMK NEGERI 1 CERME Page 60


GAMBAR PEMANAS NIRA (JUICE HEATER)

Keterangan :
1. Kran pengeluaran gas/udara
2. Penutup atas/baawah
3. Pipa amoniak
4. Pemberat
5. Pipa keluar masuk nira
6. Pipa nira
7. Pemasukan uap nira
8. Pemasukan uap bekas
9. Ruang pemanas
10.Pipa embun
11.Thermometer
12.Sekat nira
13.Lubang kurasan

Bagian dan fungsi alat :


1. Kran pengeluaran gas/udara : jalan keluarnya gas/udara yang berada di
ruang sisi atas.
2. Penutup atas/bawah : sebagai penutup sisi atas/bawah.

SMK NEGERI 1 CERME Page 61


3. Pipa amoniak : pipa pengeluaran gas yang tak
terembunkan/condens pada sisi uap.
4. Pemberat : alat keseimbangan dengan penutup bila
sewaktu-waktu dibuka.
5. Pipa keluar masuk nira : pemasukan dan pengeluaran nira.
6. Pipa nira : tempat nira dalam juice heater
(bersirkulasi).
7. Pemasukan uap nira/bleding : Tempat masuknya pemanas berupa uap
nira/bleding.
8. Pemasukan uap bekas :Tempat masuknya pemanas berupa uap
bekas.
9. Ruang pemanas : Ruang sisi luar pipa sebagai tempat pipa
pemanas masuk.
10. Pipa embun : Pipa pengeluaran uap yang terembunkan.

11. Thermometer : Alat ukur suhu nira dalam juice heater.

12. Sekat nira : Pengatur sirkulasi nira dalam alat


pemanas.
13. Lubang kurasan : Pembuangan untuk pembersihan.

Cara kerja alat :


Nira masuk pada lubang pemasukkan atas dan turun ke bawah. Setalah sampai di
bawah akan berbentuk aliran karena adanya sekat-sekat pembagian, naik ke atas
kembali sampai mencapai ruang sirkulasi bagian atas. Di bagian atas nira akan turun
kembali, demikian seterusnya.
Proses pemanasan terjadi saat uap pemanas (uap bekas/uap nira) masuk pada badan
pemanas dan memanaskan pipa-pipa yang berisi nira, sambil nira melakukan
sirkulasi. Karena suhu nira dalam pipa lebih rendah di banding dengan suhu ruang
yang diluar pipa pemanas, maka akan terjadi proses pemindahan panas dan uap
pemanas mengalami kondensasi. Hasil peristiwa ini akan mengakibatkan nira
menjadi naik suhunya sedang pada hal lain terbentuk air konden yang dapat
digunakan untuk keperluan imbibisi pada gilingan.

Agar pemanas pendahuluan dapat bekerja dengan baik, harus diperhatikan:


1. Pengeluaran air embun dapat berlangsung dengan baik.
2. Pembuangan udara dari sisi uap (pemanas) maupun sisi nira dapat berlangsung
dengan baik suhu yang dicapai 75-80οC untuk pemanas I, dan 105-110οC untuk
pemanas II

SMK NEGERI 1 CERME Page 62


5. Prekontraktor
Prekontraktor berfungsi sebagai tempat pembagi susu kapur pada nira mentah.
Pembagian ini dilakukan supaya perbandingan bagian susu kapur (Ca(OH)2) pada
nira mentah terjadi sempurna.

6. JUICE FLOW STABILIZER (JFS) dan FSB

GAMBAR JFS DAN FSB

Didalam reaktor JFS terjadi proses sulfitasi dengan mencampur nira, susu kapur,
dan gas belerang (SO2), dimana penambahan susu kapur ini dilakukan secara volume

SMK NEGERI 1 CERME Page 63


by volume dan dicontrol dengan control valve yang terdapat pada control room JFS.
Waktu tinggal didalam rektor JFS maksimal adalah 30 detik. Hal ini dikarenakan
sifat gula reduksi yang mudah rusak pada kondisi PH yang tinggi, sehingga
diharapkan tidak terlalu lama dalam kondisi alkalis sehingga gula reduksi tidak
terdekomposisi.
SO2 yang digunakan merupakan hasil pembakaran belerang cair dengan O2
dalam furnace JFS. Syarat pembakarannya adalah sebagai berikut :
1. Arus masuk belerang dan gas SO2 harus konstan.
2. Jumlah air pendingin bersuhu 70-80oC harus cukup banyak agar gas yang
dihasilkan dapat cepat didinginkan hingga suhunya dibawah 200oC untuk
menghindari terbentuknya gas SO3.

Proses pembakaran yang terjadi pada furnace adalah sebagai berikut :


1. Udara dilewatkan pada dehumidifier untuk menyaring udara luar sehingga
diperoleh udara kering.
2. Tekanan udara yang masuk pada pembakaran dijaga konstan, yaitu sebesar
0,5kg/cm² dengan menggunakan root blower.
3. Belerang cair hasil dari melter dimasukkan kedalam cerobong yang diselubungi
mantel berisi steam bersuhu ±200ᵒC dan kemudian dihembuskan dengan udara
kering sehingga bereaksi dengan gas O₂ menjadi SO₂.
4. Gas SO₂ yang dipanaskan dialirkan ke cooler, dimana gas tersebut akan dingin
kembali dengan suhu dibawa 200ᵒC (disesuaikan dengan suhu pada reaktor).
5. Gas SO₂ kemudian dialirkan ke sublimator untuk menangkap padatan belerang
yang terbentuk karena O₂ yang berlebih (ekses).

7. Defekator
Defekator adalah tempat untuk mereaksikan nira mentah dengan susu kapur
(Ca(OH)2). Untuk memperbesar kemungkinan pencampuran nira dengan susu kapur
(Ca(OH)2) pada peti defekasi dilakukan sirkulasi mekanis pengaduk dan sirkulasi
alami dengan pipa, sehingga diharapkan diperoleh hasil reaksi yang sempurna.
PG Lestari memiliki 2 buah defekator :
a. Defekator I
Sebagai tempat reaksi pencampuran susu kapur dengan nira mentah sampai pH 7,2
untuk di aduk supaya homogen. Untuk mengetahui pH 7,2 digunakan indikator BTB
(hijau menjadi hijau).
Reaksi utama yang terjadi dalam peti ini adalah ion Ca2+ dari kapur dengan fosfat
(PO4-3) dari nira.
Ca2+ + PO4-3 → Ca3(PO4)2

b. Defekator II
Berfungsi untuk mendapatkan nira mentah dengan pH 8,6 diukur menggunakan
indikator PP (jernih menjadi merah) dicocokan tabel warna pada kartu warna dari
BP3G.

SMK NEGERI 1 CERME Page 64


GAMBAR DEFEKATOR

Keterangan:
a. Pipa susu kapur e. Pipa pengeluaran nira
b. Pipa pemasukan nira f. Propeller (pengaduk)
c. Motor penggerak pengaduk g. Plate blade turbine
d. As pengaduk h. Pipa tap tapan

Bagian dan fungsi alat :


a. Pipa susu kapur : saluran masuknya susu kapur ke
petidefekator.
b. Pipa pemasukan nira : sebagai saluran masuknya nira.
c. Motor penggerak pengaduk : untuk pemutar stirer/pengaduk.
d. As penggerak : sebagai lengan pengaduk.
e. Pipa pengeluaran nira : sebagai saluran keluarnya nira ke
petinetralisator.

SMK NEGERI 1 CERME Page 65


f. Propeller (pengaduk) : untuk mengaduk nira, susu kapur
dan asam phospat supaya
homogen.
g. Plate blade turbine (pengaduk) : untuk mengaduk nira, susu kapur
dan asam phospat supaya
homogen.
h. Pipa tap tapan : untuk saluran pengosongan waktu
dibersihkan.

Cara kerja :
Nira dan susu kapur dimasukkan bersama-sama melalui sisi atau peti defekator. Alat
penberian susu kapur diletakkan diatas peti defekator. Setelah terjadi reaksi antara
komponen nira mentah dengan susu kapur, terbentuklah endapan-endapan garam
kalsium. Untuk menyempurnakan reaksi tersebut maka pada peti defekator dipasang
alat pengaduk yang digerakkan oleh motor listrik. Nira yang telah tercampur akan
keluar dari defekator dengan cara overflow (luapan). Luapan tersebut akan dialirkan
ke peti sulfitasi nira mentah untuk di beri gas SO2.

PROSES PEMBUATAN SUSU KAPUR


Proses ini bertujuan untuk memadamkan kapur tohor (CaO) dalam bentuk padat
menjadi susu kapur (Ca(OH)2).
Pemberian kapur dalam bentuk susu ini memberikan keuntungan antara lain :
1. Jika ditambahkan kapur padat dikhawatirkan akan diperoleh pH yang tinggi pada
tempat tertentu karena terjadi penumpukan kapur di suatu tempat.
2. Dengan penambahan susu kapur maka penggaraman yang terjadi akan lebih
sempurna.
3. Reaksi berlangsung lebih cepat dibanding dengan pemberian Ca(OH)2 dalam bentuk
serbuk, karena Ca yang bereaksi berasal dari Ca(OH)2 yang terlarut.
4. Pengaturan dalam densitas susu lebih mudah.
Susu kapur dibuat sekitar 12 - 24 jam sebelum digiling dengan cara :
1. Tromol pemadaman diaktifkan, saringan susu kapur disiapkan.
2. Valve-valve peti ditampung ditutup dan pengaduk diaktifkan.
3. Valve pipa ditarik, sirkulasi dibuka dan diatur.
4. Pompa air dinyalakan, valve air ke dalam diaktifkan.
5. Kapur dimasukkan ke dalam tromol, aliran air diatur secukupnya. Susu kapur
dialirkan ke peti tampung melalui penyaring pasir dan batu.

SMK NEGERI 1 CERME Page 66


6. Tambahkan air dingin pada peti tampung sampai beume susu kapur mencapai ±
6ºBe.
7. Setelah susu kapur melewati luapan, pompa susu kapur dijalankan ke peti tampung
kira – kira 4 jam.
8. Secara continue dan periodik kapur ditambahkan ke dalam tromol pemadam.
Penambahan air pengencer disesuaikan beume tetap 6ºBe.

GAMBAR PEMBUATAN SUSU KAPUR


Keterangan :
1. Tromol kapur 6. Talang getar
2. Elektromotor 7. Talang air
3. Tuas 8. Bak pengendap
4. Kapur 9. Peti pelarutan
5. Air 10. Pompa

Bagian dan fungsi alat :


1. Tromol kapur :Tempat pemutaran kapur agar membentuk emulsi.
2. Elektromotor : Sebagai penggerak alat pembuat susu kapur.

SMK NEGERI 1 CERME Page 67


3. Tuas : Penghantar dari peralatan untuk bekerja.
4. Kapur :Bahan pembantu dalam proses pemurnian.
5. Air : Pengencer kapur agar dapat membentuk emulsi atau
larut.
6. Talang getar : Talang dengan dasar berlubang yang berfungsi
memisahkan antara kotoran/kerikil dengan emulsiyang
terdapat dalam kapur yang bekerja dengangaya getar.
7. Talang alir : Talang tempat mengalirnya emulsi kapur menuju bak
pengendap.
8. Bak pengendap : Bak untuk mengendapkan kotoran yang masih
bercampur dengan emulsi seperti pasir halus.
9. Peti pelarutan : Peti tempat pelarutan emulsi sebelum bereaksi dengan
nira.
10. Pompa : Pompa untuk mengalirkan susu kapur menuju
defekator.

8. Peti sulfitir nira mentah


Berfungsi sebagai tempat untuk menetralkan pH atau kelebihan susu kapur dengan
penambahan gas belerang (SO2) dan membentuk endapan kalsium sulfit (CaSO3)
untuk mengikat kotoran sehingga nira akan menjadi jernih. Peti sulfitasi ditempatkan
dekat dengan defekator dimaksudkan agar :
1. Nira dengan pH 8,6 dan suhu 75°C dalam waktu yang singkat.
2. Tidak terjadi penurunan panas karena gas SO2 bereaksi lambat sehingga masih
diperlukan pemanasan sempurnanya reaksi.

SMK NEGERI 1 CERME Page 68


GAMBAR SULFITATOR
Keterangan:
1. Pipa pengeluaran gas
2. Pipa pemasukan nira
3. Sekat parabolik
4. Pipa pengeluaran nira
5. Pipa pemasukan gas SO2.

Bagian dan fungsi alat :


1. Pipa pengeluaran gas : Saluran pengeluaran gas yang sudah
terpakai.
2. Sekat parabolik : Untuk membantu mempermudah proses.
3. Pipa pengeluaran nira : Mengeluarkan nira hasil sulfitasi.
4. Pipa gas SO2 : Sebagai saluran pemasukan gas SO2.
5. Pipa pemasukan nira : Sebagai saluran masuknya nira.
Cara kerja :
Nira setelah dari defekator II lalu masuk ke peti sulfitasi untuk selanjutnya di
campur dengan gas SO2 sehingga pH nira menjadi netral (7,0 – 7,2), lalu keluar
melalui pipa pengeluaran untuk selanjutnya ditampung di bak tarik untuk dipompa
menuju PP II.

SMK NEGERI 1 CERME Page 69


9. Flash tank (Dual Action Tower)
Flash tank merupakan gabungan antara bejana pengembang dengan peti reaksi
penggumpalan, sehingga selain berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas yang tak
terembunkan dalam nira yang akan mengganggu proses pengendapan, alat tersebut
juga berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam nira
setelah mengalami flashing. Tetapi fungsi yang paling utama adalah untuk
meningkatkan kualitas kristal gula, karena di dalam flash tankterjadi proses
pencampuran yang homogen.

8
9

6 4 3

5
2

GAMBAR FLASH TANK (DUAL ACTION TOWER


Keterangan :
1. Pipa kebak nira kotor
2. Pipa pengeluaran buih
3. Pipa krengsengan
4. Manhole

SMK NEGERI 1 CERME Page 70


5. Peti overflow
6. Pipa oulet nira
7. Pipa flokulan
8. Pipa inlet nira
9. Penangkap nira

Bagian dan fungsi alat :


1. Pipa inlet nira : Saluran pemasukan nira dari PP II ke
preflocktower.
2. Pipa outlet nira : Saluran pengeluaran nira ke snow balling tank.
3. Pipa krengsengan : Saluran uap pemanas pada saat alat dibersihkan.
4. Cerobong gas : Untuk mengeluarkan gas-gas yang terlarut.
5. Manhole : Tempat masuknya pekerja kedalam alat saat
pembersihan.

Cara kerja alat :


Nira yang telah masuk ke PP II kemudian masuk pada flash tank untuk
mengeluarkan gas-gas terlarut yang mengganggu proses pengendapan melalui
cerobong gas.

PROSES PENGGUNAAN FLOKULAN


1. Periksa valve, pipa air, stirrer dan buat larutan flokulan.
2. Nyalakan pompa flokulan.
3. Nyalakan pompa air sumur, isi tangki sampai 50%, buat larutan induk ± 1% dengan
waktu tinggal ± 4 jam.
Encerkan larutan induk menjadi 0,1% dengan waktu tinggal ± 4 jam.
4. Buka valve flokulan ke peralatan yang membutuhkan, antara lain: snow balling tank,
saluran nira masuk door clarifier, dan rotary vacum filter.

10.Single Tray Clarifier


Single Tray Crarifier merupakan rangkaian tahapan pengaturan suhu, pH, waktu
dan penambahan bahan pembantu (flokulan).
Single Tray Clarifier memiliki bagian-bagian yaitu :
a. Snow Balling Tank
Berfungsi sebagai tempat bercampunya nira dengan flokulan dengan konsentrasi
0,05, sehingga akan mempercepat proses pengendapan dan akan menjadi lebih
sempurna.

SMK NEGERI 1 CERME Page 71


b. Door Clarifier
Berfungsi sebagai tempat untuk memisahkan nira jernih dan nira kotor. Nira jernih
menuju tangki nira jernih yang kemudian diuapkan di bagian penguapan
(evaporator), sedangkan nira kotor akan dikeluarkan dan masuk ke dalam Stasiun
Gilingan.

2
4
3
6 5
8
9

7
10
11

12

13

single tray clarifier

Keterangan gambar :

1. Motor lisrik 8. Nira jernih


2. Pipa input nira 9. Pipa nira level I – IV
3. Pipa output nira 10. Saput bawah
4. Talang luapan nira 11. Badan bagian bawah
5. Defraktor 12. Pipa nira kotor
6. As pengaduk 13. Tap – tapan
7. Saput

1. Bagian – bagian dan Fungsinya


Motor Listrik : Menggerakkan penggaruk nira kotor
Pipa Input Nira : Saluran nira ke peti pengendapan
Pipa output nira : Saluran pengeluaran nira jernih
Talang luapan nira : Saluran yang menerima luapan nira jernih
secara merata

SMK NEGERI 1 CERME Page 72


Defraktor : Untuk menahan laju nira dan penyekat nira
jernih dengan nira yang masuk
As Pengaduk : Poros dari pengaduk
Saput : Stang pengaduk untuk menyapu endapan agar
masuk ke ruang bawah
Nira jernih : Nira yang sudah diendapkan kotorannya
Nira level I – IV : Saluaran pengontrol proses pengendapan
yang terjadi pada posisi empat tingkat nira
terproses
Saput Bawah : Untuk menyapu dan mengaduk agar kondisi
nira kotor tetap homogen, sehingga nira kotor
dapat keluar dengan lancar
Badan Bawah : Tempat terkumpulnya nira kotor
Pipa Nira Kotor : Saluran nira kotor menuju ke peti nira kotor
Pipa Pengetapan : Saluran untuk mengeluarkan air bilasan pada
waktu peti pengendapan dicuci

2. Cara Kerja Alat


Nira mentah yang telah melalui Expandeur untuk dikeluaran gas-gas dan
telah ditambahkan floculant akan masuk ke peti pengendap melalui pipa pemasukan
dan melewati kompartemen, selanjutnya kotoran akan mengendap kebawah
sehingga dibagian atas tinggal nira jernih dan dikeluarkan menuju ke bak luapan, dari
bak luapan nira jernih disaring menggunakan saringan tipe DSM Screen, Sementara
itu skraper dalam single tray secara kontinyu berputar untuk menyapu endapan agar
mengumpul di bawah, kemudian dikeluarkan ke peti nira kotor untuk ditapis pada
RVF (Rotary Vacuum Filter).

PROSES PEMBUATAN GAS BELERANG


Belerang diberikan dalam bentuk gas SO2, gas ini dibuat dari hasil pembakaran
belerang menurut reaksi : S + O2 → SO2
Dua jam sebelum dimulai sudah disiapkan tabung belerang.
1. Buka valve air pendingin sublimator dan tabung belerang (sebaiknya manhole
sublimimator masih terbuka).
2. Tutup manhole apabila tidak ada bocoran air masuk sublimator.

SMK NEGERI 1 CERME Page 73


3. Penyaring udara diisi kapur tohor.
4. Belerang diisikan ke dalam tabung (isi laci secukupnya dengan belerang padat).
5. Pintu tabung di tutup.
6. Tabung pelelehan diisi belerang padat diawali dengan menutup klep pengisiannya
(kalau ada steam dipanaskan). Valve uap dibuka juga valve kondensornya.
7. Pompa kompresor dicoba, tekanan dapat mencapai >1,5 atau pada saat valve
tertutup.
8. Valve outlate SO2 diatur sesuai kebutuhannya.
9. Pembakaran belerang :
 Buangan SO2 ke udara terbuka.
 Belerang dalam tabung dibakar menggunakan spiritus/bara besi yang dimasukkan
dari lubang penyalaan.
 Kompresor dijalankan, diamati dan diatur udaranya agar belerang tetap menyala
membara.
 Setelah digiling, sulfitir terisi nira buangan SO2 di tutup dan udar ditambah
 Pendingin tabung dibuka, air pendingin dipertahankan ± 80ºC.

GAMBAR PEMBUATAN GAS BELERANG

SMK NEGERI 1 CERME Page 74


Keterangan :
1. Pengering udara 10. Valve bersungkup
2. Kompresor 11. Saluran pemasukan
3. Ketel angin 12. Pipa uap
4. Pipa udara kering 13. Pipa air pendingin
5. Manometer 14. Pipa gas keluar
6. Sekat 15. Mantel pendingin
7. Dapur pembakaran 16. Pipa luapan
8. Kaca pengamat 17. Sublimator
9. Thermometer 18. Pipa pengeluaran

Bagian dan Fungsi :


1. Pengering udara : Untuk menghilangkan uap air yang ada didalam
udara.
2. Kompresor : Untuk menarik udara kering.
3. Ketel angin : Untuk mengatur tekanan udara agar konstan.
4. Pipa udara kering : Untuk mengalirkan udara kering ke tobong.
5. Manometer : Untuk mengukur ketekanan udara yang masuk ke
dalam tobong belerang.
6. Sekat : Untuk menjaga agar belerang bisa menyatu
saat pemasukannya.
7. Dapur pembakaran : Sebagai tempat pembakaran belerang.
8. Kaca pengamat : Untuk melihat keadaan didalam tobong saat
operasi.
9. Thermometer : Untuk mengetahui suhu ruangan tobong.
10. Valve bersungkup : Sebagai katup pembuka dan penutup untuk
pemasukan belerang ke dalam ruang bakar.
11. Saluran pemasukan : Sebagai jalan untuk pemasukan belerang.
12. Pipa uap : Sebagai saluran untuk pengeluaran uap.
13. Pipa air pendingin : Saluran untuk air pendingin tobong.
14. Pipa gas keluar : Sebagai saluran gas SO2 keluar tobong.
15. Mentel pendingin : Untuk mendinginkan gas SO2. Dialiri air
pendingin.
16. Pipa luapan : Sebagai saluran luapan air pendingin.

SMK NEGERI 1 CERME Page 75


17. Sublimator : Untuk menyublimkan gas selain SO2.
18. Pipa pengeluaran : Saluran pengeluaran gas SO2 keluar tobong ke
peti sulfitasi.

11. RVF (Rotary Vacum Filter)


Berfungsi untuk memisahkan nira tapis dan blotong dengan proses penapisan
vacuum oleh drum filter. Drum filter akan berputar dan masuk daerah vacuum tinggi,
dimana disemprotkan air seduhan agar air nira yang terkandung pada kotoran dapat
larut dan terserap dan masuk sebagai nira tapis. Selanjutnya putaran drum filter akan
dibersihkan dengan scrapper kotoran ini disebut blotong yang kemudian ditampung
dan dibawa ke tempat penampungan blotong. Pada tahun 2016 PG. Lestari tidak
menggunakan RVF, karena nikot dari STC diproses kedalam stasiun gilingan.

GAMBAR ROTARY VACUUM FILTER


Keterangan :
1. Bak penampung
2. Bak nira kotor
3. Saluran air
4. Drum vacuum
5. Scrapper
6. Pipa highvacuum
7. Pipa low vacuum
8. Luapan

SMK NEGERI 1 CERME Page 76


9. Kurasan
10. Penggerak drum
11. Penggerak agitator
12. Agitator
13. Pipa kurasan
14. Screen
15. Pipa siraman

Bagian dan fungsi alat :

1. Bak penampung : Penampungan nira kotor sebelum masuk ke RVF.


2. Bak nira kotor : Tempat nira kotor dipisahkan antara blotong
dengancairan/nira tapis.
3. Saluran air : Saluran air untuk penyiraman blotong yang
menempelpada screen agar kehilangan dapat
ditekan sekecil-kecilnya.
4. Drum vacum : Sebagai tempat pemisahan dengan cara kerja
vacuum.
5. Scrapper : Bagian untuk melepas blotong dari screen.
6. Pipa high vacuum : Pipa tempat vacuum tinggi.
7. Pipa low vacuum : Pipa tempat vacuum rendah.
8. Luapan : Tempat untuk mencegah agar tidak tumpah bila isi
nirapada bak berlebih.
9. Kurasan : Tempat untuk menguras bila bak dibersihkan.
10. Penggerak drum : Motor yang meggerakkan/memutar drum.
11. Penggerak agitator : Motor yang menggerakkan agitator/scrapper.
12. Agitator : Bagian yang mengaduk nira kotor agar homogen.
13. Pipa kurasan : Tempat untuk menguras luberan.
14. Screen : Saringan untuk memisahkan antara blotong
dengan niratapis.
15. Pipa siraman : Saluran air untuk mengencerkan agar nira dalam
kotoran larut.

Cara kerja :
 Silinder berputar, mula-mula bagian yang tercelup nira kotor yang keluar dari door
clarifier berhubungan dengan vacuum rendah, sehingga nira terhisap masuk ke

SMK NEGERI 1 CERME Page 77


lubang saringan yang selanjutnya akan segera ditutup oleh lapisan endapan
(termasuk ampas halus yang sengaja diberikan), filtrat mula-mula masih kotor.
 Setelah terbentuk lapisan endapan, bagian silinder segera masuk ke daerah dengan
hampa yang lebih tinggi. Hal ini diperlukan karena dengan terjadinya lapisan
endapan dibutuhkan beda tekanan yang lebih tinggi agar terjadi penyaringan. Filtrat
dari daerah ini lebih jernih daripada filtrat sebelumnya. Lapisan blotong/endapan
terus berbentuk sampai meninggalkan permukaan nira kotor.
 Permukaan silinder akan sampai pada daerah dengan hampa tinggi, dimana
penghisapan nira yang terdapat dalam blotong berlangsung terus menerus.
 Pada putaran selanjutnya silinder sampai pada daerah pencucian yang terdapat
beberapa sprayer air panas yang disemburkan pada blotong, agar pada pemberian air
ini dapat menarik sisa nira yang masih ada dalam blotong sehingga nira yang hilang
terikut dalam blotong sekecil-kecilnya.
 Sesaat sebelum segmen ini masuk kembali kedalam lapisan nira kotor, terlebih
dahulu berada di daerah tanpa hampa, dimana terjadi penyekrapan blotong masuk
dalam corong pembuangan.

12. Clear Juice Tank


Berfungsi sebagai tempat menampung nira jernih/nira encer yang sudah bersih.Clear
juice tank menampung nira jernih dari door clarifier yang sesudahnya disaring oleh
saringan STC sebelum menuju stasiun penguapan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 78


3.4 Stasiun penguapan
Stasiun penguapan bertujuan untuk menguapkan air yang terkandung dalam
nira encer yang masih mengandung air ± 85 % (kadar brixnya 15 %) sampai
konsentrasi nira encer mendekati jenuh dengan parameter akhir 310Be atau kadar
airnya 35-40 % dengan kadar brix 64%. Untuk proses selanjutnya di stasiun
masakan. Sistem pada stasiun penguapan yang digunakan di PG lestari ada 2 yaitu
quaddrupple & quintupple tetapi sistem yang utama digunakan adalah 4 tingkat
(quaddrupple), yakni ‘’dengan 1 kg uap dapat digunakan untuk menguapkan air
sebanyak 4 kg’’. Didalam proses penguapan selisih suhu badan pemanas dengan nira
mempengaruhi kecepatan penguapan.
Untuk mencegah kerusakan gula di stasiun penguapan badan suhu I dibatasi
1000C dengan vacuum minimal 60cmHg di badan akhir, sedangkan untuk badan
berikutnya dilakukan dalam suasana vacuum dan pengaliran uap nira maupun nira
terjadi karena perbedaan tekanan antara badan I dengan badan yang lainnya.
Dalam proses ini, dilakukan dengan cara menguapkan air yang menggunakan
media pemanas uap bersuhu tinggi, yang dikontakkan secara tidak langsung dengan
nira dalam sebuah badan penguapan yang disebut evaporator,adapun nira hasil
penguapan yang dikehendaki,diharapkan mempunyai kekentalan yang mendekati
sekitar 31-32 °Be.
Keberhasilan proses penguapan dapat dicapai jika :
1. Uap pemanas yang digunakan cukup.
2. Pembuatan hampa lancar.
3. Pengeluaran air embun lancar.
4. Pengeluaran gas yang tidak terembunkan berjalan lancar.
5. Tidak terjadi kebocoran pada perpipaan.
6. Pengaruh kerak dan pengaturan level nira.
Pada proses penguapan diupayakan :
 Waktu penguapan pendek
 Tidak terjadi kerusakan gula karena vacum kurang rendah
 Tidak menimbulkan kesulitan dalam proses pengerjaan

SMK NEGERI 1 CERME Page 79


 Proses penguapan harus efektif dan efisien (dengan pemakaian biaya yang paling
rendah)

Kondisi operasi :
 BP I : Tekanan Ube = 0,6 kg/cm2
Suhu badan = 1000C
 BP II : Tekanan Nira = 0,3 kg/cm2
Suhu badan = 900C
 BP III : Tekanan vacuum = 30cmHg
Suhu badan = 800C
 BP IV : Tekanan vacuum = 60 cmHg
Suhu badan = 700C
Bahan-bahan yang digunakan :
1. Nira encer
Nira encer adalah hasil pemisahan nira yang terjadi didalam door clarifier atau
pada stasiun pemurnian. Nira encer merupakan bahan baku yang digunakan pada
stasiun penguapan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 80


2. SO2
Berfungsi untuk proses bleaching atau memucatkan nira kental.
3. Air injeksi
Berfungsi untuk mengembunkan kelebihan uap pada Badan Penguapan (BP).
4. Bahan Pemanas
Bahan pemanas yang digunakan adalah uap bekas (UBE) yang berasal dari stasiun
gilingan dan dari uap nira yang pertama.
Alat-alat yang digunakan :
1. Clear Juice Tank
Berfungsi untuk menampung nira jernih dari stasiun pemurnian sebelum
dipompakan ke badan penguapan I.
2. Saringan nira encer (DSM)
Berfungsi untuk menyaring kotoran ampas halus yang terdapat di nira encer
yang dihasilkan dari stasiun pemurnian sebelum diuapkan di stasiun penguapan.
3. Pipa Ammonia
Berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas yang tidak terembunkan didalam ruang
uap pemanas. Alat ini terdapat di badan penguapan (evaporator).

4 3

GAMBAR PIPA AMMONIA


Keterangan:
1. Pipa amoniak 3. Pipa nira
2. Ruang uap panas 4. Pipa jiwa
4. Pompa hampa
Berfungsi untuk membantu terbentuknya kondisi hampa udara pada kondensor

SMK NEGERI 1 CERME Page 81


5. Pompa air Injeksi
Berfungsi untuk membentuk kondisi hampa udara pada kondensor dengan
proses perubahan wujud uap air menjadi fase cair
6. Pipa air
Berfungsi sebagai saluran masuknya air, saluran air untuk membilas pada saat
pembersihan pipa saluran nira setelah memasak soda dan untuk mengontrol
kemungkinan adanya kebocoran pada evaporator.
7. Evaporator/ Badan Penguapan
Berfungsi untuk menguapkan air yang terkandung dalam nira encer agar
menjadi kental.

GAMBAR EVAPORATOR

Keterangan:
1. Pipa pemasukan nira 11. Kaca penglihat
2. Pipa pengeluaran nira 12. Pipa pemasukan uap
3. Ruang uap 13. Pipa pengembalian nira
4. Thermometer 14. Pipa pengeluaran uap nira
5. Pipa tap tapan 15. Lampu
6. Pipa air embun 16. Manhole(lubang kontrol)

SMK NEGERI 1 CERME Page 82


7. Pipa pemanas soda 17. Penangkap nira
8. Pipa pemanas 18. Pipa pengaman tekanan
9. Pipa jiwa 19. Manometer
10. Pipa ammonia 20. Pembagi nira

Bagian dan fungsi alat :


1. Pipa pemasukan nira : Untuk memasukan nira dari badan
penguapan sebelumnya atau dari peti
tampung nira jernih
2. Pipa pengeluaran nira :Untuk mengeluarkan nira ke badan
berikutnya
3. Ruang uap : Untuk uap bekas sebagai pemanas nira
4. Thermometer : Untuk mengetahui suhu nira didalam
evaporator
5. Pipa tap tapan : Tempat pembuangan kotoran saat
pembersihan evaporator
6. Pipa air embun : Untuk mengeluarkan air kondensat
kedalam tangki penampung air embun
7. Pipa pemanas soda : Untuk memanaskan soda pada waktu
memasak soda
8. Pipa pemanas :Untuk memanaskan nira
9. Pipa jiwa :Untuk sirkulasi nira menuju badan
berikutnya
10. Pipa ammonia : Untuk mengeluarkan gas yang tak
terembunkan
11. Kaca penglihat : Untuk melihat keadaan nira didalam
evaporator
12. Pipa pemasukan uap : Untuk memasukan uap bekas atau uap
nira
13. Pipa pengembalian nira : Untuk mengembalikan nira yang terbawa
oleh uap nira yang tertangkap oleh
penangkap nira
14. Pipa pengeluaran : Untuk mengeluarkan uap yang ada di
badan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 83


15. Lampu : Sebagai penerangan ruang diluar
evaporator
16. Manhole : Tempat masuk orang saat membersihkan
kerak
17. Penangkap nira : Untuk menangkap nira yang ikut uap
atau nira yang terpercik ke atas
18. Pipa pengaman tekanan : Untuk mengatur tekanan steam pada
badan penguapan
19. Manometer : untuk mengetahui tekanan di dalam
evaporator
20. Pembagi nira : untuk membagi nira ketika memasukkan
nira.
Cara kerja alat :
Afsluiterpipa uap nira pada penguap no IV yang dihubungkan dengan kondensor
dibuka dahulu, sehingga badan penguap no IV menjadi hampa. Selanjutnya
afsluiter pipa uap nira badan penguap pipa no I, II, III, IV dibuka, pipa afsluiter
pemasukan nira dibuka. Apabila sudah memenuhi ±1/3 badan penguap,
kemudian afsluiter pipa uap dibuka sehingga uap masuk ke badan penguap
sebagai pemanas nira. Sehingga suhu nira naik dan uap dari badan penguap I
digunakan sebagai badan pemanas berikutnya. Secara perlahan lahan kondensat
akan melalui pipa pengeluaran kondensat. Dan untuk gas yang tak terembunkan
yang ada dalam badan penguap dikeluarkan melalui pipa amoniak. Pengeluaran
gas gas tak terembunkan diatur sesuai dengan tekanan pada masing masing
badan penguap.
8. Alat penangkap nira
Berfungsi menahan percikan nira yang terbawa oleh uap nira agar tidak terbawa
ke evaporator berikutnya atau ke kondensor yang berakibat menambah
kehilangan gula. Alat ini terdapat di badan penguapan (evaporator).

SMK NEGERI 1 CERME Page 84


GAMBAR PENANGKAP NIRA
Keterangan:
1. Penangkap nira
2. Pipa pengeluaran uap nira

Bagian dan fungsi alat :


1. Penangkap nira :Untuk menangkap nira, tersusun dari plat
nira sehingga terjadi aliran berputar-putar
2. Pipa pengeluaran uap : Tempat pengeluaran uap nira dari badan
penguapan nira.

Cara kerja alat :


Setiap badan mempunyai separator (penangkap nira) yang terletak di dalam
badan penguap bagian atas yang berbentuk lingkaran plat. Separator berfungsi
untuk menangkap percikan nira yang terbawah oleh uap nira, sehingga tidak
masuk kebadan berikutnya.
9. Verkliker
Berfungsi untuk menghindari dan menampung terbawanya nira kedalam air
jatuhan kondensor. Nira yang tertampung dalam verkliker ditarik pompa untuk
dikembalikan ke peti nira tertimbang.
10. Bejana Pengembun (kondensor)
Berfungsi mengembunkan uap nira pada badan penguapan terakhir.
11. Manometer

SMK NEGERI 1 CERME Page 85


Berfungsi untuk mengukur tekanan dan pengamanan pada badan penguapan.Ada
dua jenis manometer yaitu manometer logam dan manometer air raksa.

GAMBAR MANOMETER LOGAM


Keterangan:
1. Jarum penunjuk 5. Pipa Bourdon
2. Pir rambut 6. Tangkai Sector
3. Roda gigi 7. Sector bergigi
4. Skala

Bagian dan fungsi alat :


1. Jarum penunjuk : Jarum yang menunjukkan besarnya tekanan yang
terjadi
2. Pir rambut : Pir yang menggerakkan jarum penunjuk
3. Roda gigi : Penghubung antara pir rambut dengan sector
bergigi
4. Skala : Angka sebagai penunjuk besarnya tekanan
5. Pipa Bourdon : Pipa tempat mengalirnya arus yang diukur
sehingga dengan tekanannya arus menggerakkan
tabung bourdon yang elastis
6. Tangkai Sector : Penghubung antara pipa bourdon dengan sector
bergigi
7. Sectoro bergigi : Sector yang menggerakkan pir rambut sebagai
penentu besarnya tekanan

SMK NEGERI 1 CERME Page 86


1
65
3
60 2
55
7
50

45

40
4
35

30

25

20

15

10 5
5
6

GAMBAR MANOMETER AIR RAKSA

Keterangan :

1. Pipa hampa/vacuum
2. Botol pengaman
3. Skala
4. Papan
5. Karet penutup
6. Botol air raksa
7. Pipa kapiler

Bagian dan fungsi alat :

1. Pipa hampa/vacuum : Untuk menghubungkan tekanan hampa pada


badan penguap
2. Botol pengaman : Untuk mengamankan bila terjadi luapan atau
percikan air raksa

SMK NEGERI 1 CERME Page 87


3. Skala satuan : Sebagai penunjuk ketinggian tekanan air raksa
yang menyatakan besarnya tekanan hampa
4. Papan : Sebagai tempat kedudukan manometer
5. Karet penutup : Sebagai tempat kedudukan ujung pipakapiler
padabotol air raksa
6. Botol air raksa : Tempat pengisi air raksa
7. Pipa kapiler : Untuk jalan naik turun air raksa

Cara kerja alat :

Sebelum manometer dihubungkan dengan ruang vacuum, maka skalanya harus

menunjukkan angka nol, bila pipa hampa dihubungkan dengan manometer,maka

air raksa akan tertarik dan naik dalam pipa kapiler.Hal ini menyatakan besarnya

tekanan hampa yang ada dibadan penguap dengan ditunjukkan oleh skala satuan.

12. Peti nira kental


Berfungsi untuk menampung nira kental dari badan penguapan terakhir, sebelum
disulfitasi di stasiun pemurnian.
13. Peti nira tersulfitasi
Berfungsi untuk menampung nira kental yang telah tersulfitasi sebelum dipompa
ke stasiun masakan.
14. Condensate Receiver (Pengeluaran air embun)
Berfunsi untuk mengeluarkan dan menampung air embun yang terbentuk dari
setiap evaporator. Air embun yang terbentuk, dengan sendirinya akan terjatuh ke
condensate receiver karena adanya gaya gravimetris

SMK NEGERI 1 CERME Page 88


GAMBAR CONDENSAT RECEIVER

Keterangan :
1. Pipa pengeluaran 5. Pipa keseimbangan tangki dengan pompa
2. Pompa 6. Pipa keseimbangan tangki dengan evaporator
3. Ke imbibisi / ketel 7. Pipa pemasukan
4. Kaca penglihat 8. Pipa tap tapan

Bagian dan fungsi alat :


1. Pipa pengeluaran air embun : Saluaran air embundari tangki kepompa
2. Tangki : Penampung air embun dari evaporator
3. Pompa : Untuk memompa air embun keimbibisi
ataupun ke ketel
4. Pipa pemasukan air embun : Saluran air embun dari ruang evaporator

Cara kerja alat :


Air embun yang terbentuk, dengan sendirinya akan terjatuh ke condensate
receiver karena adanya gaya gravimetris. Air embun ini kemudian dipompa
untuk ketel dan imbibisi.
15. Bejana Pengembun (kondensor)
Alat ini digunakan untuk mengembunkan uap nira dari evaporator terakhir.
Didalam bejana pengembun terdapat ruang kontak antara uap dengan air injeksi.
Sehingga uap akan mengembundan keluar bersama air jatuhan. Uap yang tak
terembunkan didalam kondensor harus dikeluarkan dengan vacuum. Hal ini
dimaksudkan supaya air kondensor dapat jatuh secara gravimetris.

SMK NEGERI 1 CERME Page 89


GAMBAR KONDENSOR
Keterangan :
1. Bak air jatuhan 6. Pipa pemasukan nira
2. Pompa vacuum 7. Sekat kondensor
3. Thermometer 8. Pipa pengeluaran udara
4. Pipa air jatuhan 9. Pipa sir injeksi
5. Ruang kondensor 10.Pengeleuaran gas tak terembunkan dari pompa

Bagian dan fungsi alat :


1. Pipa pengeluaran udara : Untuk mengeluarkan udara atau gas yang
tak terembunkan menuju ke pompa
vacuum.
2. Pipa air injeksi : Sebagai saluran air pendingin uap nira
yangmasuk ke kondensor.

SMK NEGERI 1 CERME Page 90


3. Pipa pemasukan uap : Sebagai saluran masuknya uap nira yang
nira berasal dari badan pemanas terakhir.
4. Sekat : Untuk memperluas bidang kontak antara
uapnira dengan air pendingin.
5. Pipa air jatuhan : Saluran embun uap nira dan air pendingin
ke selokan.
6. Pompa vacum : Untuk menarik gas yang tak terembunkan.
7. Pompa air injeksi : Untuk menarik air injeksi dari sungai dan
mentransportasikannya ke kondensor.
8. Bak tampung air : Untuk menampung air jatuhan.

PERJALANAN NIRA DAN UAP NIRA

1 2

3
5

4
GAMBAR PERJALANAN NIRA DAN UAP NIRA

Keterangan:
1. Saluran uap bekas 5. Tangki kondensat
2. Saluran nira encer 6. Pompa nira kental
3. Pipa air embun 7. Kondensor
4. Pompa kondensat

SMK NEGERI 1 CERME Page 91


Bagian dan fungsi alat:
1. Saluran uap bekas : sebagai tempat pemasukan uap evaporator
2. Saluran nira encer : Saluran pemasukan nira jernih menuju penguapan
3. Pipa air embun : Sebagai pemasukan saluran air embun
4. Pompa kondensat : Untuk memompa air kondens menuju ketelan.
5. Tangki kondensat : Sebagai tempat penampung air kondensat
evaporator
6. Pompa nira kental : Untuk memompa nira menuju tempat nira kental
tersulfitir
7. Kondensor : Untuk mengembunkan uap nira darievaporator
terakhir

Teknik pengoperasian badan penguapan :


Langkah operasional :
Setelah mengetahui cara kerja badan penguapan maka para operator dituntut terampil
dalam pengoperasian badan penguapan. Langkah pengoperasiannya antara lain :
1. Meneliti pan/ badan penguapan yang hendak digunakan.
 Kebersihan pipa-pipa
 Tesvacuum (tidak terjadi kebocoran), penurunan vacuum maximum 2,5
cm/30 menit
 Valve nira, valve uap nira, tap-tapan dalam keadaan baik
 Alat bantu yang digunakan dalm keadaan baik
2. Setelah yakin badan penguapan siap digunakan, panasi tromol pelan-pelan
sampai badan penguapan tersebut menjadi hangat/panas.
3. Lakukan pengoperan pan dengan cara membuka terlebih dahulu valve uap nira
keluar dan valve uap nira masuk (secara bersamaan), vacuum BP akan naik
secara perlahan.
4. Selanjutnya valve nira masuk dibuka perlahan-lahan, sehingga nira mengisi
badan penguapan tanpa adanya pendidihan. Valve nira keluar sementara tidak
dibuka hingga pengisian nira mencapai kaca terbawah (± mencapai 30%) ,
setelah mencapai kaca tebawah valve nira keluar dibuka. Pengaturan buka tutup
valve untuk mencapai pengisian ± 30%, isi pipa cukup dilakukan dari valve nira
masuk. Beberapa pipa bukaan valve tiap pabrik tidak sama, karena itu dicari

SMK NEGERI 1 CERME Page 92


posisi yang sesuai dengan model dan type valve sesuai tiap-tiap pabrik.
Bersamaan valve nira masuk dibuka, valve nira bypass segera ditutup penuh.
5. Setelah nira masuk kedalam pan, jalankan pompa air konden (nampak airnya
turun dengan lancar. Periksa posisi valve pengeluaran pompa air kondens ini
menuju air pabrikat/ air ketel. Untuk BP 1-2 dan terkadang BP 3 air kondens
biasanya dikirim ke ketel. Untuk BP 4/5 dan terkadang BP 3 air konden biasanya
dikirim ke air pabrikat.
6. Air konden yang keluar harus dipantau/ diperiksa kandungan gula yang ikut
larut.
 Untuk air yang dikirim ke ketel, pemeriksaanya minimal ½ jam sekali
 Untuk air pabrikat cukup 1 jam sekali, karena ini bertujuan menghemat
bahan kimia.
7. BP yang telah memiliki jadwal pembersihan/ skrap dihentikan. Pan atau BP
yang dihentikan segera disiapkan untuk memasak soda.
 Buka kran buangan vacuum atau kran uap soda atas
 Kosongkan nira dengan jalan disedot kebadan berikutnya(valve nira keluar
dibuka)
 Setelah isinya habis dan manometer air raksa naik, segera ditutup valve
pengeluaran nira ini rapat-rapat
 Sisa-sisa nira yang tidak tersedot alirkan dengan pipa tap-tapan menuju peti
tap-tapan (clear juice tank)
 Masukkan soda padat dan cairan soda sampai mendekati permukaan tube
plate ± 10-15 cm
 Panasi dengan steam sampai mendidih ± 4 jam
 Setelah mendidih, matikan steam lanjut dengan perendaman selama ± 5-6
jam
 Dinginkan pan dengan semprotan air, hal tersebut juga berguna untuk
membersihkan sisa-sisa soda
 Setelah dingin (sama dengan suhu ruangan), segera lakukan penyekrapan
 Sikat pipa-pipa sampai bersih > 95%
 Adakan tes pemadatan badan (2,5-3 kg/cm2)
 Adakan tes penurunan vacuum (vac-drop) tiap ½ jam, maksimum turun 1
inch (2,5 cm)

SMK NEGERI 1 CERME Page 93


Untuk memperoleh hasil yang maksimal ada tiga syarat :
1. Terdapat kelebihan luas pemanas dalam rangkaian badan penguap
2. Penyadapan dikerjakan dibawah tekanan
3. Uap bekas bertekanan 0,6 kg/cm2

Pada pabrik-pabrik yang cenderung kekurangan uap atau uap bekasnya


bertekanan kurang dari 0,6 kg/cm2, tidak dianjurkan untuk penyadapan uap nira.Uap
nira badan I masih mempunyai suhu tinggi, bisa disadap untuk pemanasan nira
mentah tersulfitir, dan pan masakan. Sedang uap nira dari bahan II suhunya lebih
rendah bisa disadap untuk pemanasan.Untuk penghematan lebih lanjut biasanya
pabrik gula menggunakan ‘’vapour heater’’, yaitu uap nira badan akhir yang masuk
ke kondensor, disadap dipakai untuk pemanasan nira mentah tertimbang. Dengan
cara ini diharapkan pemakaian uap akan lebih hemat lagi, rugi panas yang hilang ke
kondensor lebih sedikit, pemakaian air injeksi lebih hemat.
Tetapi dalam merancang vapour heater ini harus lebih cermat, mengingat uap
nira badan terakhir ini suhunya sudah rendah, angka transmisinya rendah dan
vacuum tinggi. Penyadapan uap nira menuju PP lebih lancar dibandingkan
penyadapan ke pan masak, karena PP bekerja secara continue sedangkan pan masak
bekerja secara terputus-putus.

SMK NEGERI 1 CERME Page 94


Proses :

Nira encer

Saringan getar

Clear juice tank (CJT)

BP I, dipanasi dengan uap bekas

BP II, dipanasi dengan uap nira dari BP I


Kondensat

BP III, dipanasi dengan uap nira dari BP II

BP IV dan V, dipanasi dengan uap nira dari BP sebelumnya

Kondensator
Nira kental

Peti tunggu nira kental

Reaktor sulfitasi, untuk penambahan gas SO 2 di stasiun pemurnian

Stasiun masakan

Nira encer dari stasiun pemurnian disaring dahulu dengan saringan STC
untuk memisahkan kotoran-kotoran yang ikut terlarut dalam nira encer. Kemudian
nira yang sudah bersih akan ditampung didalam clear juice tank(CJT).
Nira encer yang masuk kedalam BP (Badan Penguapan) masih mengandung
air sekitar ± 85% dengan kadar brix 15%. Kemudian pada BP ini, nira akan diuapkan
agar menjadi kental dengan kadar air 35 - 40% dan kadar brix 64% atau sampai 31⁰
be. Nira dari clear juice tank akan dipompa menuju BP I untuk dipanaskan dengan
uap bekas, dimana uap yang digunakan adalah bertekanan 0,6 kg/cm2. Nira dialirkan
ke BP melalui pipa pemasukan, kemudian melalui pipa-pipa sirkulasi dan

SMK NEGERI 1 CERME Page 95


mendapatkan pemanasan sehingga temperaturnya naik dan terjadi penguapan.
Setelah disirkulasi, nira masuk ke pipa jiwa (saluran sirkulasi nira dan saluran keluar
nira) yang dilengkapi pipa penangkap nira dan dihubungkan ke BP selanjutnya.
Embun air yang keluar dari setiap BP menjadi air kondensat kecuali pada BP
terakhir, air yang akan mengembun di pompa ke kondensator untuk diembunkan
menggunakan air injeksi bersuhu 400C. Hasil dari pengembunan tersebut menjadi air
jatuhan bersuhu 540C .
Tekanan pada masing-masing BP dibuat berbeda, dimana pada BP II lebih
rendah daripada tekanan pada BP I. Tekanan pada BP III lebih rendah daripada
tekanan pada BP II dan seterusnya hingga BP terakhir. Karena tingkat tekanan yang
berbeda inilah, maka nira akan mengalir dengan sendirinya sampai pada BP terakhir.
Nira kental hasil penguapan terakhir biasanya berwarna agak gelap. Agar
nanti bisa diperoleh hasil kristal gula yang putih. Nira kental dari badan penguapan
terakhir masuk ke peti tunggu nira kental, kemudian masuk ke reaktor sulfitasi, zat
warna yang ada pada nira direaksikan dengan gas SO2 hingga menjadi pH 5,0 - 5,2
(sehingga tidak berwarna) terjadi di stasiun pemurnian. Setelah bercampur sempurna
kemudian dikirim ke stasiun masakan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penguapan :
 Kapasitas giling
 Luas pemanas
 Temperatur uap bekas yang digunakan sebagai pemanas
 Tekanan uap bekas untuk pemanas
 Kebersihan pipa nira dari kotoran atau kerak
 Kelancaran pengeluaran kondensat
 Distribusi tekanan dan suhu mulai badan penguapan pertama sampai badan
penguapan terakhir
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mendapatkan penguapan yang optimal,
antara lain :
1. Membersihkan kerak-kerak yang terdapat pada pipa-pipa nira maupun pipa-pipa
pemanas secara periodik (diluar masa gilingan).
2. Menghilangkan gas-gas yang tidak terembun karena gas-gas tersebut dalam ruang
pemanas dapat menurunkan luas pemanasan sehingga jumlah pemanas yang
dibutuhkan tidak sesuai dengan ketentuan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 96


3. Memperlancar aliran kondensat sehingga permukaan pemanas tidak tertutup oleh
adanya embun yang dapat menghambat perjalanan daripada panas dan
mengurangi jumlah uap.

Badan Penguapan (BP) atau evaporator yang terdapat pada stasiun penguapan di PG
Lestari, berjumlah 7 buah dimana badan I terdiri dari 2 unit evaporator dioperasikan
secara pararel, badan II terdiri dari 2 unit evaporator dioperasikan secara pararel, dan
badan (III, IV, V) dioperasikan secara seri. Dan setiap hari 1 buah evaporator di
nonaktifkan secara bergantian untuk di skrap (dibersihkan secara bergilir) dari badan
I sampai badan V. Oleh karena itu evaporator yang bekerja setiap hari di stasiun
penguapan berjumlah 6 buah.
1. Badan I terdiri dari BP IA dan BP IB, pemanasnya menggunakan uap bekas
(UBE) sedangkan uap nira yang dihasilkan untuk pemanas badan II (vacuum
pan),untuk juice heater II, uapnya juga dipergunakan di stasiun masakan.Embun
air yang dihasilkan keluar menjadi condensate. Badan IA mempunyai tekanan uap
bekas 0,6 kg/cm2, suhu pemanas 1000C, luas pemanas 3000m2, pipa pemanas ±
12000, dan berdiameter 33X36m2. Sedangkan badan IB mempunyai suhu
pemanas 1000C, luas pemanas 1500m2, pipa pemanas ± 6000, dan berdiameter
33X36m2.
Badan penguap 1A dan 1B menggunakan uap bekas. Uap bekas dihasilkan dari
sisa-sisa Kinerja turbin di St. Gilingan , Ketel dan kekurangannya disuplei dari
LPSH.
2. Badan II terdiri dari BP IIA dan BP IIB, pemanasnya menggunakan uap nira dari
badan IA dan IB (UNI I) sedangkan uap nira yang dihasilkan untuk badan III dan
untuk juice heater I.Embun air yang dihasilkan keluar menjadi condensate. Badan
IIA dan IIB memiliki tekanan uap nira 0,3 kg/cm2, suhu pemanas 900C, luas
pemanas 1200m2, pipa pemanas ± 6000, dan berdimeter 33X36m2.
3. Badan III atau BP III, pemanasnya menggunakan uap nira dari badan IIA dan IIB
(UNI II), embun air yang dihasilkan keluar menjadi condensate. Badan III
memilki tekanan vacuum 30 cmHg, suhu pemanas 800C, luas pemanas 1000m2,
pipa pemanas sebanyak ± 4000, dan berdiameter 33X36m2.
4. Badan akhir terdiri dari BP IV dan V pemanasnya menggunakan uap nira dari
badan III, sedangkan embun air yang dihasilkan badan penguapan paling akhir
penggunaannya diembunkan di kondensor. Badan akhir ini memilik itekanan

SMK NEGERI 1 CERME Page 97


vacuum 60 cmHg, suhu pemanas 700C, luas pemanas 1000m2, pipa pemanas
sebanyak ± 4300, dan diameternya 33 X 36m2.

Cara pembersihan badan penguap :


Kotoran yang terdapat pada BP (Badan Penguapan) berasal dari kotoran nira, baik
yang terlarut dalam nira tersebut maupun kotoran partikel-partikel lembut yang
melayang diudara kemudian akan menempel pada dinding-dinding BP tersebut. Hal
ini terjadi karena proses pemurnian yang kurang sempurna.
Kotoran-kotoran pada BP harus dibersihkan sehingga tidak akan menghambat proses
perpindahan panas. Pembersihan badan penguapan dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Pembersihan secara kimia : yaitu pembersihan dengan memberikan bahan kimia
seperti soda api dan soda abu (NaOH), agar kerak menjadi lunak sehingga mudah
untuk dibersihkan.
2. Pembersihan secara mekanis : dilakukan dengan menggunakan alat-alat sekrap
terlebih dahulu, kemudian di lakukan pembersihan dengan air atau secara manual.
Pada stasiun penguapan juga menghasilkan air condensate. Untuk melihat kadar gula
pada larutan air condensate menggunakan H2SO4 (13 – 15 tetes) dan juga
menggunakan Napthol (3 tetes).
 Larutan air condensate yang mengandung gula (+) berwarna ungu dan digunakan
untuk proses imbibisi
 Larutan air condensate yang tidak mengandung gula (-) akan masuk ke
Ketel

KETENTUAN PADA STASIUN PENGUAPAN


1. Tekanan Ube : ≥ 0,60 kg/cm2
2. Suhu Ube : ≥100°C
3. Be Nira kental : ≥ 31°Be
4. Kebersihan BP : ˃ 90%
5. Vacuum Badan Akhir : ≥ 60 cmHg

SMK NEGERI 1 CERME Page 98


3.5 STASIUN MASAKAN(KRISTALISASI)

Stasiun Masakan (kristalisasi) bertujuan untuk mengubah sukrosa dari bahan dasar
nira kental menjadi bentuk kristal sebanyak mungkin.Dalam proses ini, terjadi
penempelan dan pembesaran inti kristal sukrosa yang mempunyai ukuran yang sama
dan sesuai dengan standart. Proses kristalisasi dilakukan dalam bejana hampa atau
vacuum pan(VP) untuk menghindari kerusakan sukrosa akibat suhu yang tinggi.
Dalam proses ini juga menghindari terbentuknya kristal palsu, karena akan
mempersulit proses pemisahan stroop pada pemutaran.PG Lestari melaksanakan pola
masak A-C-D/A-D yang bertujuan menekan kehilangan gula yang terbawa tetes
(molasses).

SMK NEGERI 1 CERME Page 99


Bahan-bahan yang digunakan :
1. Nira kental
Adalah nira yang dihasilkan oleh stasiun penguapan dan merupakan bahan baku
di stasiun masakan.
2. Klare SHS
Adalah bahan dari pemutaran gula A yang menghasilkan klare SHS dan gula
SHS. Klare SHS menjadi salah satu bahan masakan di VP A.
3. Stroop A
Adalah salah satu bahan yang dihasilkan dari putaran HGF A dan menjadi salah
satu bahan masakan di VP C
4. Stroop C
Adalah bahan dari pemutarangula C yang menghasilkan gula C dan stroop C.
Stroop C menjadi salah satu bahan masakan di VP D.
5. Klare D
Adalah bahan dari pemutaran gula D1 di pemutaran D2 menghasilkan gula D2
dan klare D. Klare D menjadi salah satu bahan masakan di VP D.
6. Gula D2 (Babonan D)
Adalah bahan dari pemutaran gula D1 di pemutaran D2 menghasilkan gula D2
dan klare D. Gula D2 menjadi salah satu bahan masakan di VP C.
7. Air injeksi
Digunakan untuk mengkondensasi uap.
8. Fondan
Digunakan untuk bibitan pembuatan kristal gula. Fondan menjadi salah satu
bahan masakan di VP D.
9. Leburan gula
Adalah gula halus dan gula kasar yang tidak memenuhi standar yang dilebur
kembali dan menjadi salah satu bahan masakan di VP A.

Alat-alat yang digunakan :


1. Vacuum pan(VP)
Berfungsi sebagai tempat memasak dan merubah nira kental menjadi kristal gula
dengan jalan menguapkan air yang masih dikandung nira kental.
PG Lestari memiliki 8 vacuum pan yang berjenis sama yaitu calandria.
Data penggunaan vacuum pan di PG Lestari :
VP Tipe Kapasitas(HL) Penggunaan
I Calandria 200 Masakan A
II Calandria 400 Masakan A
III Calandria 400 Masakan A
IV Calandria 300 Masakan A

SMK NEGERI 1 CERME Page 100


V Calandria 400 Masakan A
VI Calandria 400 Masakan C
VII Calandria 400 Masakan D
VIII Calandria 500 Masakan D

27

15

29
26

28
23 24

400
25
22
350

300

13 20 12
21 250 70
65
60
200 55
50
45
40
150
35
30

100
25
29
16 17 18 19
20
15
10

7 5
0

6 11

14
8
29

1 2 3 4 5
9
10

GAMBAR VACUUM PAN TIPE CALANDRIA

Bagian dan fungsi alat:


1. Valve dan pipa saluran masuk nira kental
Valve buka/tutup dan pipa saluran masuknya nira kental.
2. Valve dan pipa saluran masuk stroop
Valve buka / tutup dan pipa saluran masuknya stroop.
3. Valve dan pipa saluran masuk klare
Valve buka / tutup dan pipa saluran masuknya klare.
4. Valve dan pipa saluran masuk molasses klare
Valve buka / tutup dan pipa saluran masuknya molasses klare.
5. Valve dan pipa saluran masuk air panas
Valve buka / tutup dan pipa saluran masuknya air panas.
6. Dis down take
7. Pipa saluran nira bersirkulasi.
8. Pipa saluran air pencuci
Pipa saluran air pencuci kaca penglihat.

9. Pipa nira / tube


Pipa pemanas nira.

SMK NEGERI 1 CERME Page 101


10. Pipa operan
Pipa saluran operan bahan dan saluran masuknya bibit masakan.
11. Discharge valve
Valve buka / tutup saluran bahan turun ke palung pendingin.
12. Pipa saluran masuk uap pemanas
Pipa saluran masuknya uap pemanas ke dalam ruang pemanas.
13. Pipa ammonia
Pipa saluran pengeluaran gas yang tak terembunkan didalam ruang pemanas.
14. Pengaman tekanan (safety valve)
Pengatur tekanan supaya tidak terjadi tekanan berlebih.
15. Pipa saluran pengeluaran air embun
Pipa saluran pengeluaran kondensat dari ruang pemanas.
16. Pipa saluran pengeluaran uap nira
Pipa saluran pengeluaran uap nira yang terjadi saat proses penguapan.
17. Kran sogokan
Tempat mengambil contoh bahan masakan.
18. Termometer ruang pemanas
Alat ukur temperatur uap dalam ruang pemanas.
19. Manometer ruang pemanas
Alat ukur tekanan dalam ruang pemanas.
20. Thermometer ruang nira
Alat ukur temperatur bahan masakan.
21. Manometer air raksa
Alat ukur tekanan dalam ruang nira.
22. Kaca penglihat
Kaca untuk mengontrol bahan masakan didalam ruang nira.
23. Skala volume
Skala untuk mengetahui volume bahan masakan.
24. Pipa siwaran
Pipa saluran masuknya udara luar ke dalam ruang nira.
25. Pipa air panas
Pipa saluran air panas pencuci ruang bahan masakan.
26. Pipa krengsengan
Pipa saluran uap pemanas, pembersih ruang nira.
27. Penangkap nira
Alat untuk menangkap nira yang terbawa oleh uap nira.
28. Pengarah uap
Pengarah uap dan menangkap nira yang tidak tertangkap separator.

SMK NEGERI 1 CERME Page 102


29. Pipa saluran pengembalian nira
Pipa saluran pengembalian nira yang tertangkap oleh penangkap nira.
30. Lubang kontrol (man hole)
Lubang untuk mengontrol dan memperbaiki bagian dalam badan kristalisasi.

Cara kerja :
1. Cara memulai masak
a. Sebelum digunakan vacuum pan dikrengseng dengan steam untuk
membersihkan sisa-sisa masakan/kristal dalam ruang pan.
b. Kaca penglihat juga dibersihkan agar pengamatan saat memasak tidak
terganggu.
c. Setelah semua bersih, valve yang berhubungan dengan ruang nira ditutup
kemudian valve vacuum pancingan dibuka hingga kondisi vacuum 30
cmHg.
d. Kemudian valve outlet uap nira yang berhubungan dengan kondensor
dibuka hingga kondisi vacuum dalam ruang nira mencapai 63 cmHg dan
kemudian valve pancingan ditutup.
e. Penarikan masakan untuk proses kristalisasi dimulai dari bahan dengan
Hasil Kemurnian (HK) dari rendah ke tinggi.
f. Bahan masakan dimasukan berupa nira kental atau stroop hingga volume
rata-rata 100-120 HL.
g. Uap pemanas dialirkan dengan membuka katup pemasukan steam yang
berupa uap bekas.
h. Kemudian bahan masakan lain ditarik secara continue sampai volume
efektif 200 HL tercapai.
i. Lamanya proses masak tergantung dari jenis masakan, kondisi vacuum
dan uap pemanas yang digunakan.
j. Setelah masakan dianggap masak/tua, kristal telah terbentuk telah sesuai
ukuran yang diinginkandan larutan disekeliling kristal tipis/bening maka
masakan siap diturunkan. Masakan dapat diturunkan bila memenuhi
syarat - syarat sebagai berikut:
 Kristal sudah tua dan bebas kristal palsu
 Larutan kristal yang melapisi masakan sudah tipis
 Kristal masakkan ukurannya seragam

SMK NEGERI 1 CERME Page 103


k. Pemeriksaan kondisi masakan dalam pan dapat diketahui dengan
pengambilan sogokan untuk dianalisa.

2. Mengakhiri kerja pan masakan


a. Valve uap bekas ditutup.
b. Kemudian asfluiter uap nira yang berhubungan dengan kondensor ditutup.
c. Valve buangan vacuum dibuka.
d. Kemudian asfluiter outlet masakan dibuka.
e. Setelah masakan turun dilakukan pembersihan dengan cara steaming.

3. Cara Oper Masakan


i. VP yang mengoper masakan
a. Valve pemanas ditutup.
b. Valve uap nira yang berhubungan dengan kondensor ditutup.
c. Valve buangan vacuum dibuka.
d. Valve operan masakan dibuka.
ii. VP yang menerima masakan
a. Valve steam / uap pemanas ditutup.
b. Valve operan yang berada disamping valve penurun masakan dibuka.

4. Cara Oper Bibitan


a. Valve operan pada VP dibuka.
b. Valve outlet bibitan pada receiver(palung pendingin) dibuka.

2. Palung pendingin(receiver)
Berfungsi untuk menampung sementara hasil masakan yang turun dari VP
sebelum diputar dan untuk mendinginkan hasil masakan sebelum diproses lebih
lanjut, dan sebagai tempat terjadinya kristalisasi lanjut. PG Lestari memiliki
palung (receiver) sebanyak 9 buah, yang masing-masing untuk masakan A–C–
D.
NO PALUNG PENDINGIN MASAKAN
1 Palung pendingin 1-6 Masakan A
2 Palung pendingin 7 Masakan C
3 Palung pendingin 8-9 Masakan D

Palung pendingin dilengkapi dengan pengaduk yang berputar dengan maksud:


a. Masakan agar dapat bercampur dengan homogen

SMK NEGERI 1 CERME Page 104


b. Masakan tidak mengeras akibat penurunan suhu
c. Proses pendinginan berjalan lebih cepat

Depan 3

Samping
2

4
6
1

GAMBAR PALUNG PENDINGIN (RECEIVER)

Keterangan :
1. Sirip pengaduk
2. Roda gigi
3. Roda pulli
4. Pintu pengeluaran
5. Tempat kamprat
6. Poros pengaduk

Bagian dan fungsi alat :


1. Sirip pengaduk :Untuk mengaduk (sebagai mixer) masakan agar
tercampur rata dan tidak mengeras akibat penurunan
suhu.
2. Roda gigi : Bagian yang berhubungan degan roda pulli
3. Roda pulli : Bagian yang berhubungan dangan roda gigi dan
penghantar as besi selanjutnya akan digerakkan
berputar oleh elmo
4. Pintu pengeluaran : Pintu tempat pengeluaran masakan selanjutnya
dipompa ke putaran

SMK NEGERI 1 CERME Page 105


5. Tempat kamprat :Sebagai tempat kamprat yang berfungsi untuk
memperkuat cengkraman antara roda gigi dan pulli
6. Poros pengaduk :Tempat kedudukan pengaduk
Cara Kerja :
Setelah masakan siap untuk diturunkan, maka palung pendingin(receiver) dan
talang distribusi dipersiapkan. Masakan yang turun dialirkan masuk kedalam
palung dan diaduk dengan pengaduk agar masakan tetap homogen dan tidak
mengeras. Setelah stasiun putaran siap untuk memutar, maka masakan
dikeluarkan ke talang bawah dan dialirkan ke stasiun putaran dengan pompa rota

PROSES

Nira kental Vacuum pan C Vacuum pan D


sulfitasi

Palung pendingin Palung pendingin


Vacuum pan A

Mixer Mixer Air


Palung pendingin
Air

Putaran LGF D1
Putaran LGF C
Mixer Air

Gula C Stroop C Gula D1


Putaran HGF A
Tetes

Gula A Mixer
Stroop A Air

Feed mixer
Uap
Putaran LGF D2

Klare D
Putaran HGF SHS Air Gula D2

Klare SHS Gula SHS Stasiun Penyelesaian

Pada proses masakan ini dimaksudkan untuk mengubah sukrosa dalam nira kental
menjadi kristal gula sebanyak-banyaknya dan kehilangan gula sekecil-

SMK NEGERI 1 CERME Page 106


kecilnya.Proses kristalisasi larutan gula dapat dibagi dalam beberapa tahapan sebagai
berikut :
1. Menarik hampa
Pembuatan hampa VP dimulai dengan menutup semua kran atau afsluiter yang
berhubungan dengan VP. Kemudian dibuka kran pancingan ialah kran kecil yang
menghubungkan VP kristal dengan bejana pengembunan atau pesawat pembuat
hampa. Sementara itu bejana kristalisasi akan mulai menjadi hampa. Perubahan
kehampaan dapat diikuti dengan manometer atau vacuum meter, bila gerakan naik
air raksa sudah sekitar 45 cm air raksa maka mulailah afsluiter besar yang
menghubungkan VP dengan bejana pengembunan dibuka. Pembukaan kran atau
afsluiter dilakukan perlahan-lahan sehingga perubahan tekanan dalam VP juga
berjalan perlahan-lahan sampai terbuka penuh. Pada keadaan maksimal
kehampaan pan akan sekitar 65 cm air raksa. Sementara itu afsluiter setum
pemanas mulai terbuka kecil untuk maksud pemanasan VP.
2. Menarik larutan
Larutan sukrosa yang akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kristal
disimpan dalam peti-peti larutan yang berupa peti nira kental, peti stroop, peti
klare dan peti leburan. Dalam peti-peti penampungan larutan ini diperlengkapi
dengan pipa-pipa pemanas dengan lubang-lubang terbuka dimana dapat dialirkan
setum kedalam larutan. Sebelum larutan ditarik masuk kedalam VP terlebih
dahulu dipanasi dengan setum (afsluiter setum dibuka) dengan demikian larutan
dalam peti akan dipanasi dan sementara itu juga diencerkan. Pada penarikan
larutan pertama dengan cara membuka afsluiter larutan sampai sejumlah tertentu
akan dilanjutkan dengan mencuci sehingga larutan benar-benar bebas dari kristal
lembut.
3. Membuat bibit
Di PG Lestari bibitan yang harus disiapkan adalah bibitan D (PDC D) dan bibitan
A. Pembuatan PDC D dilakukan dengan pemberian inti penuh (Full Sheeding)
yaitu inti yang dibuat diluar VP dengan suatu cara tertentu yang lebih dikenal
dengan nama FONDAN, sedang untuk bibitan A diambilkan dari kristal lembut
hasil putaran masakan C/gula C yang biasa disebut babonan C.
4. Membesarkan kristal
Setelah bibit siap dibuat langkah selanjutnya adalah pembesaran bibit sampai
mencapai ukuran kristal yang diharapkan dan bila perhitungan pembuatan bibit
baik maka bersamaan itu pula VP masak akan menjadi penuh. Untuk dapat
menjaga agar kecepatan kristalisasi tetap tinggi adalah dengan menjaga agar
jumlah molekul-molekul sucrose yang ada diskitar kristal tetap, ini dapat
dilakukan dengan setiap kali menggantikan sucrose yang telah mengkristal
dengan yang baru (memasukkan larutan baru). Untuk menambahkan larutan
kedalam VP dapat dilakukan dengan cara terputus (discontinue) dan terus
menerus (continous feeding).

SMK NEGERI 1 CERME Page 107


5. Memasak tua
Memasak tua adalah langkah terakhir dalam proses pengkristalan apabila VPnya
telah penuh atau telah dicapai ukuran kristal ataupun kemurnian masakan yang
sesuai dengan ketentuannya. Selanjutnya penguapan massa dalam VP tanpa
menambah larutan yang baru sehingga didapat kepekatan (%brix)
setinggi-tingginya agar larutan atau air yang tertinggal sedikit sehingga sucrose
yang terdapat di dalam larutan juga rendah, disamping hal tersebut harus dicegah
kemungkinan terjadinya kristal baru.
6. Menurukan masakan
Masakan yang telah tua akan diturunkan kedalam palung pendingin yang terdapat
dibawah VP kristalisasi. Penurunan isi VP akan dimulai dengan menghilangkan
hampa dengan mula-mula menutup hubungan VP kristalisasi dengan bejana
pengembunan (sementara setum juga dikurangi) kemudian kran yang
menghubungkan VP dengan udara luar dibuka, maka tekanan dalam VP akan
menaik atau hampa menurun. Setelah kehampaan hilang, maka pintu pengeluaran
dibuka. Masakan akan jatuh turun kebawah dan melewati talang (saluran)
dibawah VP akan masuk kedalam palung pendingin (ingat bahwa pengaduk dalam
palung pendingin harus bergerak) sementara itu aliran setum pemanas telah
dimatikan. Setelah seluruh massa dalam VP keluar maka VP kristalisasi dicuci
(dikrengseng) dengan menggunakan semburan setum basah ataupun setum dengan
air panas. Setelah VP dicuci maka siap untuk beroperasi kembali.

Mekanisme pembentukan kristal dapat diuraikan sebagai berikut :


Jarak molekul sukrosa dalam nira kental saling mendekat sehingga antar
molekul saling mempengaruhi dan saling tarik menarik. Apabila disekitarnya
terdapat kristal sukrosa maka akan ada kesetimbangan antara molekul sukrosa yang
melarut dengan sukrosa yang mengkristal. Apabila keadaan tersebut tercapai maka
larutan tepat jenuh. Bila kepekatan terus dinaikkan, maka molekul-molekul sukrosa
akan membentuk rantai yang kemudian membentuk suatu ikatan/pola kristal sukrosa.
Dengan meningkatnya penguapan, maka pembesaran kristal semakin mengikuti pola
yang ada (menempel) dengan bentuk khusus dari kristal sukrosa. Kristal sukrosa
merupakan kristal monoklin (kristal yang hanya bisa membentuk dengan bentuk
khusus).
Kondisi operasi proses kristaliser pada tekanan vacuum ± 76 cmHg. Keadaan
vacuum ini dilakukan untuk menurunkan titik didih dari sukrosa karena sukrosa
dapat terdekomposisi pada suhu tinggi. Dalam proses kristalisasi selalu didapatkan
kristal yang tidak memenuhi syarat serta kristal palsu (kristal-kristal halus) sehingga
perlu dilebur kembali untuk diolah lagi bersama dengan nira kental.
Hal ini dapat dikurangi dengan cara :
 Mengurangi tekanan vacuum/menaikkan tekanan vacuum
 Penambahan nira kental
 Penambahan air panas dengan suhu ≤ 47°C

SMK NEGERI 1 CERME Page 108


Tahap atau tingkat masakan tergantung dari hasil kemurnian bahan dasar,
peralatan yang tersedia, mutu gula yang diharapkan dan uap pemanas yang tersedia.
PG Lestari menggunakan sistem masak A-C-D/A-D karena tergantung dengan hasil
kemurnian bahan dasar . Pada sistem A-C-D, gula A sebagai produk, gula C untuk
bibitan masakan A dan gula D untuk bibitan masakan C. Bahan masakan tiap tahap
masakan (A-C-D) berbeda-beda berdasarkan Hasil Kemurnian (HK) masakan yang
diinginkan. Untuk masakan D yang digunakan sebagai bibitan masakan A dan
masakan C, bahan yang masuk memiliki nilai HK yang lebih kecil dibandingkan
bahan masakan A dan masakan C. Hal ini bertujuan untuk menghindari tetes
(mollase) yang dihasilkan memiliki nilai HK yang tinggi, yang berarti kehilangan
gula yang tinggi pula, karena itu HK maksimal tetes (mollase) diharapkan yang
seminimal mungkin.

Ketentuan-ketentuan stasiun masakan PG Lestari pada tahun 2014 :


1. Sistem masak A-D (melihat situasi HK bahan masak)
2. Menonaktifkan 1 bulan vacuum pan masak
3. Menurunkan masakan sesuai volume kerjanya (lihat sikon pasir)
4. Menarik bahan dari HK yang paling tinggi
5. Menarik nira kental bergantian (tidak bersamaan)
6. Vacuum pan 7 dipakai untuk bibitan D2 dengan HK >64%
- HK masakan D1 turun 60,0% - 62,0%
- HK babonan D2 antara 93,0 – 95,0%
- Inti kristal dengan fondan sebanyak 200ml
7. Bibitan masakan utama dibuat A3 dengan HK setinggi mungkin, sbb :
- Melebur seluruh gula halus dengan air panas
- Klare SHS difokuskan untuk bibitan A3
- Bibitan ditarik dari gula D2 atau gula C

Adapun data analisa sistem masakan A – C – D sebagai parameter dan sasaran proses
sebagai berikut :
MASAKAN
Keterangan
A C D
Brix (%) > 94 > 97 > 98
HK ≥ 80 72-74 56-59
HK Stroop 62-65 49-51 28-32
Purity Drop 20-24 22-26 26-30
Besar Kental (mm) 0,9-1,1 0,5-0,7 0,3-0,5
Waktu Pendinginan (jam) ±1 1-2 28-30
Rendemen Kristal (% Brix) 58-64 45-50 40-45
Pemerahan Kristal (% Pol) 65 65-69 70

Pada proses kristalisasi dengan sistem masakan A-C-D ini dimulai dari VP A.
Pada masakan A dimulai dari VP A4 diperoleh dari nira kental, klare SHS, leburan
gula dan gula C sebagai inti kristal. Proses pembesaran kristal pada VP A2 dilakukan
dengan menambahkan nira kental sedikit demi sedikit. Nira masakan A4 dibagi ke

SMK NEGERI 1 CERME Page 109


dalam VP A2. Kemudian nira masakan A2 dibagi lagi ke dalam VP A1. Pembagian
nira masakan A pada VP tergantung dari nilai Hasil Kemurnian (HK) nira kental
yang belum mencapai standar. Masakan A1 ditambah dengan hasil operan dari A2
sedikitdemi sedikit untuk mendapatkan ukuran kristal yang diinginkan. Setelah
ukuran kristal tercapai, dengan HK mencapai ± 82,4, dan %Brix nya mencapai ±
93,4, mascuite diturunkan ke palung pendingin A selama ± 1-3 jam. Mascuite
dipompa masuk ke dalam putaran HGF A. Pada putaran HGF A ini, mascuite diputar
dua kali. Pemutaran pertama di putaran HGF A menghasilkan gula A dan stroop A.
Stroop A digunakan sebagai bahan masakan C dan masakan D (pada VP D1). Stroop
A memiliki HK ± 64,6. Sedangkan gula A yang memiliki HK ± 96,5 dan %Brix ±
99,4 mengalami proses pemutaran lagi dalam putaran HGF SHS yang sebelumnya
sudah mengalami pencampuran dengan air dimingler. Pada pemutaran kedua di
putaran HGF SHS ini menghasilkan gula SHS dan klare SHS. Klare SHS yang
memiliki HK ± 88 digunakan sebagai bahan masakan A, sedangkan gula SHS masuk
ke stasiun penyelesaian dengan HK ± 99,8, %Brix ± 99,97, dan ICUMSA ± 196 IU.
Pada masakan C digunakan stroop A dan gula D2 sebagai inti kristal gula.
Pada proses masakan C, pembesaran kristal dilakukan dengan menambahkan stroop
A sedikit demi sedikit. Setelah diperoleh ukuran kristal yang diinginkan, dengan HK
mencapai ± 68,9 dan %Brix ± 97,56. Maka mascuite diturunkan ke palung pendingin
C selama 1-2 jam sampai temperaturnya 55°C. Mascuite dialirkan ke putaran LGF C
sehingga diperoleh gula C dan stroop C. Gula C digunakan sebagai bibit masakan A
(dalam VP A4) dengan HK ± 92,6 dan %Brix ± 98,31. Sedangkan stroop C
digunakan sebagai bahan masakan D (dalam VP D) dengan HK ± 54,1.
VP D ada 2 macam yaitu VP D1 dan VP D2. Proses pertama kali dilakukan
pada VP D1. Bahan masakan ini adalah stroop A ditambahkan fondan dari sebanyak
200 ml. Fondan meggunakan bibit kristal (gula halus) yang berfungsi sebagai inti
kristal gula D. Fondan ditambahkan agar pengambilan sukrosa dari larutan lebih
cepat sehingga pembesaran inti kristal gula juga lebih cepat. Bahan-bahan tersebut
(stroop A dan fondan) dimasak sampai diperoleh ukuran kristal dan kemurnian
masakan yang sesuai ketentuan. Hal tersebut dilakukan dengan cara menambahkan
stroop A sedikit demi sedikit. Pada awal proses belum diperoleh stroop A sehingga
pada pertama kali proses digunakan nira kental.
Nira kental juga dapat ditambahkan jika kemurnian nira kurang. Setelah
mencapai volume yang diinginkan nira masakan D1 dibagi ke dalam VP D2. Pada VP
D2 nira dimasak dengan menambahkan stroop C sedikit demi sedikit dan malase
klare (klare D). Hal tersebut dilakukan sampai ukuran kristal yang diinginkan,
dengan HK mencapai ± 59,0, %Brix ± 98,53 dan dengan banyaknya volume dalam
VP. Jika semuanya tercapai, mascuite diturunkan ke dalam palung pendingin D
selama ± 28-30 jam. Pendinginan dalam palung dilakukan untuk menurunkan
temperatur mascuite sampai mencapai 55°C. Pendinginan mascuite bertujuan agar
molekul gula yang masih larut dapat mengkristal atau menempel pada kristal yang
lain dan viskositas gula rendah sehingga dapat dilakukan proses pemutaran. Mascuite
dari VP D dialirkan ke RCC untuk mendinginkan dan diteruskan oleh Re-Heater
untuk menstabilkan suhu, kemudian dialirkan ke putaran LGF D1sehingga diperoleh

SMK NEGERI 1 CERME Page 110


gula D1 dan tetes. Nilai HK tetes yang diperoleh ± 34,8, %Brix ± 87,15, dan %Pol ±
30,29. Tetes keluar sebagai hasil samping yang dapat digunakan sebagai campuran
pakan ternak dan bahan pembuatan MSG (Monosodium Glutamate). Sedangkan gula
D1 yang memiliki HK ± 90,4 dan %Brix ± 97,68 dapat diputar kembali dalam
putaran LGF D2 sehingga diperoleh gula D2 dan klare D (malasse klare). Gula D2
dipakai sebagai bibitan masakan C yang memiliki HK ± 95,1 dan %Brix ± 98,59.
Sedangkan klare D digunakan kembali untuk masakan D (dalam VP D1).

Kecepatan kristalisasi (dinyatakan dalam mg sukrosa per menit) sangat


dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Ukuran kristal
Semakin besar ukuran inti kristal (maka semakin lambat proses
kristalisasinya). Hal ini disebabkan karena semakin besar ukuran inti kristal
maka kristal tersebut semakin jenuh sehingga molekul sukrosa sukar untuk
saling mengikat.
b. Konsentrasi larutan
Semakin tinggi konsentrasi larutan maka jarak antar molekulnya semakin
dekat. Hal ini dapat mempercepat proses penggabungan molekul-molekulnya.
c. Kemurnian larutan
Larutan yang memiliki tingkat kemurnian rendah akan memperlambat atau
mempersulit proses kristalisasi yang berlangsung.
d. Viskositas larutan
Jika viskositas larutan tinggi, maka dapat menghambat gerakan dari molekul-
molekul sukrosa dan akan memperlambat proses kristalisasi.
e. Pencampuran sirkulasi
Sirkulasi larutan yang baik dan teratur akan dapat mempercepat proses
kristalisasi. Oleh karena itu, kondisi vacuum didalam VP harus dijaga stabil
lebih besar 65 cmHg.

Pemakaian uap dan air dalam proses masakan :


1. Pemakaian uap
Proses penguapan air dari nira kentalmemakai bahan pemanas uap. Untuk vacuum
pan calandria dipakai uap bekas yang dihasilkan dari mesin-mesin. Kebutuhan
uap pemanas selama proses tidak tetap, pada waktu mengentalkan larutan
diperlukan panas yang banyak, sedangkan pada waktu masak tua diperlukan
sedikit. Agar pemakaian uap dapat dihemat, maka pengaturan masak perlu diatur
dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi masakan mulai dan berakhir secara
bersama-sama, sehingga pada waktu awal kekurangan uap dan kelebihan uap pada
saat-saat masakan berakhir. Selain untuk pemanas, uap diperlukan untuk
membersihkan vacuum pan (krengsengan). Uap diperlukan pula untuk
menghilangkan pasir yang terlarut dalam stroop. Untuk memudahkan
pengendalian diperlukan beberapa hal, antara lain :

SMK NEGERI 1 CERME Page 111


- Tekanan uap/stoom harus tetap
- Harus diatur pada harga yang ditentukan sebelumnya
- Harus dicatat
2. Pemakaian air
Air diperlukan dalam proses masak, antar lain untuk :
- Air sirkulasi
Air sirkulasi diperlukan untuk mempertahankan kejenuhan dan sirkulasi bahan
dalam vacuum pan. Tentunya karena air ini harus diuapkan lagi, maka
diperlukan pengendalian yang baik agar pemakaian air ini dapat ditekan.
- Air untuk krengsengan masakan
Untuk menghilangkan sisa-sisa kristal gula (masakan) yang masih tertinggal
didalam vacuum pan(VP) agar tidak menyulitkan proses masak,
selanjutnyadimasukkan uap kedalam VP agar kristal-kristal tersebut larut dan
keluar dari vacumm pan. Air dimasukkan dengan pancaran kemudian disusul
dengan memasukkan steam. Larutan yang diperoleh disebut krengsengan,
seyogyanya dipisahkan dengan masakannya, ditampung pada tempat tersendiri
guna diproses lebih lanjut.
- Air untuk mencuci vacuum pan
Selama vacuum pan masak dipakai akan terjadi penempelan-penempelan
kerak, kotoran-kotoran dan sebagainya pada bidang pemanas yang akan
mengurangi kecepatan pemindahan panas dari uap pemanas kebahan yang
dimasak. Dimana hal tersebut akan memperpanjang waktu masak. Selama
masak akan terjadi percikan-percikan nira yang naik dan tertahan pada alat
penangkap nira (sapvanger) dimana hal ini dapat mempersempit laluan uap
dan mengganggu proses masak. Untuk mengatasi hal tersebut haruslah
dilakukan pencucian VP dengan mendidihkan air seminggu sekali.
Untuk memenuhi kebutuhan air ini dipakai air embun dari badan penguapan
III dan IV karena disamping suhunya yang tinggi juga bebas dari kotoran-
kotoran.

SMK NEGERI 1 CERME Page 112


3.6 STASIUN PEMUTARAN

Stasiun pemutaran bertujuan untuk memisahkan kristal gula dari larutan


pencampurnya (stroop), pada proses pemutaran ini menggunakan sistem penyaringan
yang bekerja berdasarkan gaya centrifugal(gaya berputar) sehingga sistem kristal
akan tertahan pada saringan dan stroopnya akan keluar. PG Lestari melakukan 2
macam sistem pemutaran yaitu HGF dan LGF.

Bahan-bahan yang digunakan :


1. Air
Berfungsi untuk membantu proses penghilangan lapisan stroop yang menempel
pada kristal gula
2. Hasil masakan A,C,D
Masakan yang akan diputar agar bisa menghasilkan gula kristal putih
3. Steam (uap bekas)
Pada masakan tidak memakai uap baru karena pada uap baru suhu/tekanannya
terlalu tinggi

SMK NEGERI 1 CERME Page 113


Alat-alat yang digunakan :
1. LGF (Low Grade Fugal)
Berfungsi untuk memutar masakan yang mempunyai HK rendah (masakan C
dan D) yang bekerja secara continue. Jumlah LGF ada 9 unit, masing-masing
dibagi 3 yaitu LGF D1, LGF D2, dan LGF C. Untuk jumlah LGF D1 ada 5 unit,
LGF D2 ada 2 unit, dan LGF C ada 2 unit. Untuk gula D1 dan D2 bekerja
dengan putaran 2000 rpm dan untuk gula C bekerja dengan putaran 1500 rpm.

2
5
3 6
4

7 9
8
11 10
12

13
14

15

GAMBAR LOW GRADE FUGAL

Keterangan :
1. Feed mixer
2. Handle
3. Pipa air
4. Corong
5. Pipa uap
6. Pembilas saringan
7. Working screen
8. Backing screen
9. Basket
10. Ruang pemisahan
11. Tabung contoh
12. Pipa pengeluaran

SMK NEGERI 1 CERME Page 114


13. Motor listrik
14. Ruang gula
15. Lubang pengeluaran

Bagian dan fungsi alat :


1. Feed mixer : Penampung masakan sebelum disalurkan ke
puteran.
2. Handle :Sebagai pembuka / penutup saluran pemasukan
3. Pipa air : Saluran air untuk siraman atau pelarut stroop.
4. Corong : Alat pengatur masuknya masakan ke
dalam basket.
5. Pipa uap :Saluran uap atau krengsengan untuk
pembersihan.
6. Pembilas saringan : Saluran air pencuci saringan puteran.
7. Working screen :Untuk memisahkan gula dengan stroop, tetes,
klare D.
8. Backing screen :Saringan dibelakang working screen sebagai
penahan.
9. Basket : Tempat saringan dan masakan diputar.
10. Ruang pemisahan : Tempat stroop, tetes, klare D setelah di pisahkan
11. Tabung contoh : Tempat mengambil contoh gula yang akan
dianalisa.
12. Pipa pengeluaran : Saluran pengeluaran stroop,tetes, klare D
13. Motor listrik : Untuk menggerakkan atau memutar basket
14. Ruang gula : Tempat gula atau kristal hasil pemutaran.
15. Lubang pengeluaran : Saluran untuk mengeluarkan gula.

Cara Kerja alat:


Sebelum LGF dipergunakan, pompa minyak dijalankan terlebih dahulu untuk
mensirkulasikan minyak dalam puteran dan melumasi alat-alat kerja, setelah
siap, puteran dijalankan sampai bergerak stabil dengan melihat penunjukkan
amper meter + 30 A tanpa beban. Jika puteran diberi beban, ampere meter
menunjukkan nilai + 60 A.
Setelah puteran bergerak stabil, katup pengisian dibuka perlahan-lahan dengan
menggeser handle pemasukan masakan sehingga masakan turun dan masuk ke
dalam basket. Saat diputar, kristal gula akan terlempar ke dinding basket

SMK NEGERI 1 CERME Page 115


disebabkan oleh gaya centrifugal. Karena dinding basket dilapisi saringan
berbentuk kerucut terbalik, kristal yang tertahan oleh saringan akan bergerak
naik dan akhirnya keluar dari basket.
Kristal kemudian turun menuju saluran pengeluaran gula, larutan bukan gula
yang lolos saringan, yaitu tetes, dan klare, dialirkan melalui pipa pengeluaran, ke
dalam puteran D diberikan air siraman untuk mengurangi tetes dan klare D yang
menempel pada kristal gula.

Kegunaan Low Grade Fugal :


1. Putaran C digunakan untuk memutar masakan C, yang menghasilkan gula C
dan stroop C. Gula C dilebur dan digunakan sebagai bibitan masakan A
sedangkan stroop C digunakan untuk bahan masakan D.
2. Putaran D1 digunakan untuk memutar masakan D yang telah mengalami
proses Na-Cristalisasi (kristalisasi lanjut) di Cryztallizer. Putaran D1
menghasilkan gula D1 dan tetes, sedangkan gula D1 diputar di putaran D2
yang menghasilkan gula D2 dan klare D. Gula D2 dilebur lagi untuk bibitan
masakan C, sedangkan klare D untuk bahan masakan D.

2. HGF (High Grade Fugal)


Berfungsi untuk memutar gula yang mempunyai HK tertinggi (masakan A).
HGF bekerja secara discontinue dan otomatis. Jumlah unit HGF ada 7 dibagi
menjadi 2 yaitu HGF A dan HGF SHS. Jumlah unit HGF A ada 4 sedangkan
jumlah unit HGF SHS ada 3. Pada putaran HGF A dan putaran HGF SHS
mempunyai basket berbentuk silindris dengan 2 lapisan saringan, yaitu :
Working Screen dan Backing Screen.

SMK NEGERI 1 CERME Page 116


1

3
4

5
6
7
8 12

9
10

11

GAMBAR PUTARAN HIGH GRADE FUGAL

Keterangan :
1. Elektromotor
2. Mixer penampung
3. Rem
4. Hidrolik
5. Poros penggerak
6. Pintu inlet masakan
7. Hidrolis scraper
8. Pipa air siraman
9. Working screen
10. Backing screen
11. Katup pengeluran
12. Scraper

Bagian dan fungsi alat :


1. Elektromotor : Untuk menggerakkan atau memutar basket
2. Mixer penampung : Sebagai penampung bahan puteran
3. Rem : Untuk menghentikan poros basket.

SMK NEGERI 1 CERME Page 117


4. Hidrolik : Sebagai pembuka / penutup saluran bahan
keputeran.
5. Poros penggerak : Sebagai poros pemutar basket puteran
6. Pintu inlet masakan : Sebagai aliran masuknya bahan yang
akan diputer.
7. Hidrolis scraper : Berfungsi untuk menggerakan secraper.
8. Pipa air siraman : Sebagai aliran pemasukan air panas
untukbilasan
9. Working screen : Untuk memisahkan gula dengan stroop,
tetes, dan klare
10. Backing screen : Saringan dibelakang working screen
sebagai penahan
11. Katup pengeluran : Untuk membuka / menutup saluran
pengeluaran gula.
12. Scraper : Penyekrap gula pada dinding basket
setelah diputar

Cara kerja High Grade Fugal :


Putaran HGF bekerja secara otomatis apabila bekerjanya diatur oleh control
timer, sedangkan secara manual apabila bekerjanya diatur oleh manusia
(operator). Sebelum digunakan putaran terlebih dahulu diperiksa keadaan
minyak pelumas, katup-katup silinder hidrolik, kemudian menjalankan mixer
pengaduk tank, pompa stroop dan talang goyang yang terdapat dibawahnya,
dijalankan juga kipas pendingin putaran dan memeriksa tekanan uap (5kg/cm²).
a. Putaran HGF A
Basket washing(cuci basket saringan) dilakukan pada putaran 90-200 rpm
selama 10 detik. Kemudian pada rpm 200-250 selama 10 detik selanjutnya
dilakukan pengisian bahan selama 10 detik. Setelah bahan terisi ke dalam
putaran terjadi proses akselerasi pada putaran 600-1000 rpm selama 25 detik
yang meliputi akselerasi selama 15 detik dan pada 400-600 rpm terjadi
penyiraman pada masakan selama 10 detik. Kemudian dilakukan spinning
pada putaran 1000 rpm selama 15 detik. Kemudian bahan dibongkar pada
putaran 80 rpm selama 60 detik.
b. Putaran HGF SHS
Bahan yang sudah ada di distributor gula SHS selanjutnya diputar di putaran
HGF SHS. Pada putaran 150 rpm mengalami basket washing (cuci basket
saringan) selama 15 detik. Setelah basket saringan bersih maka dilakukan
pengisian bahan selama 8 detik dengan putaran tetap 150 rpm. Siraman

SMK NEGERI 1 CERME Page 118


diberikan pada putaran 450 rpm selama 15 detik. Spinning terjadi selama
150 detik pada putaran 900 rpm. Selama spinning ada waktu 30-50 detik
steaming menggunakan uap bara bertekanan 6 𝑘𝑔/𝑐𝑚2 . Setelah itu
pembongkaran gula selama 30 detik pada putaran 80 rpm. Gula akan turun
melalui saluran pengeluaran gula menuju grassoper conveyor. Pada
kecepatan 90-200 rpm, setelah semua proses diatas selesai perputaran
kembali naik dan terjadi pembilasan air untuk proses perputaran
selanjutnya.

3. Crystallizer (RCC)
Berfungsi untuk mendinginkan masakan gula D dengan cara menyalurkan air
pendingin didalam tangki-tangki pengaduk.

4. Re-Heater
Berfungsi untuk menstabilkan suhu gula D yang telah didingankan di
Crystallizer (RCC) dengan cara menyalurkan air panas didalam tangki-tangki
pengaduk. Hal ini dilakukan agar tidak merusak saringan pada putaran
5. Mixer
Berfungsi untuk mencampur gula dengan air agar memisahkan antara gula dan
larutan pencampurnya.
6. Talang goyang
Berfungsi untuk menampung gula produk (SHS) dan membawanya ke tahap
pengeringan. Talang goyang ini selalu bergetar dengan tujuan untuk mengatur
dan mengeringkan gula sebelum masuk ke alat pengering.

GAMBAR TALANG GOYANG

Keterangan :
1. Kipas pendingin (blower)
2. Talang goyang
3. Penggerak talang goyang

SMK NEGERI 1 CERME Page 119


Bagian dan fungsi alat :
1. Kipas pendingin : Untuk mendinginkan gula
2. Talang goyang : Membawa gula SHS menuju ke
pengemasan
3. Penggerak talang goyang : Untuk menggerakkan talang goyang

Cara kerja :
Gula yang keluar dari putaran HGF SHS turun melalui talang goyang dan
dibawah menuju tangga yakob. Sepanajng talang goyang terdapan dua buah
blower yang berfungsi untuk mengeringkan dan mendinginkan gula. Pada
blower pertama menghembuskan udara panas, sedangkan pada blower kedua
menghembuskan udara dingin yang bertujuan untuk mendinginkan dan
mengeringkan gula yang keluar dari putaran HGF SHS.

Suatu pemutaran akan berlangsung dalam 3 langkah antara lain :


1. Penghilangan larutan yang ada disekitar kristal
2. Penghilangan sisa larutan yang masih tertinggal disekitar kristal
3. Mengurangi jumlah atau ketebalan lapisan kotoran gula yang tertinggal pada
permukaan kristal, biasanya dilakukan pencucian baik dengan air maupun
dengan uap panas

Untuk memperoleh hasil pemutaran yang sempurna maka diperlukan hal-


hal sebagai berikut :
1. Waktu putaran yang cukup
2. Kecepatan putaran yang cukup
3. Viskositas stroop yang rendah
4. Tebal lapisan gula tipis
5. Keadaan kristal rata
Adapun didalam putaran terdapat beberapa jenis saringan, yaitu :
1. Saringan kerja (Working Screen)
2. Saringan penahan (Bakcing Screen)

SMK NEGERI 1 CERME Page 120


PROSES PEMUTARAN
1. Proses pemutaran gula D
Vacuum pan 8 → RCC → Reheater → Mixer → LGF D1 → LGF
D2→ Mixer
→ Masakan

Gula dari vacuum pan 8 dibawa menuju RCC yang berfungsi untuk
mendinginkan gula dari masakan. Kemudian dimasukkan ke reheater untuk
dipanaskan menggunakan air panas dan masuk ke mixer yang bertujuan untuk
mencampur kristal gula dengan air, dan dibawa menuju putaran LGF D1 untuk
memisahkan gula D1 dan tetes. Untuk gula D1 di putar di putaran LGF D2 untuk
memisahkan gula D2 dan klare D yang kembali lagi ke stasiun masakan.
2. Proses pemutaran gula C
Vacuum pan 7→ Palung pendingin → Mixer → LGF gula C → Masakan

Gula dari vacuum pan 7 turun menuju palung pendingin dan kemudian masuk ke
dalam mixer yang bertujuan untuk mencampur kristal gula dengan bahan
pencampur (Air/Klare), disamping itu juga memberikan kesempatan pada kristal
agar saling bergesek sehingga kotoran yang masih menempel dapat dihilangkan.
Pada vacuum pan no. 7 bisa digunakan untuk masakan C ataupun D
(Situasional). Kemudian masuk kedalam putaran LGF C untuk dipisahkan antara
gula C dengan stroop C dan kembali lagi menuju stasiun masakan.
3. Proses pemutaran gula A
Vacuum Pan A → Palung Pendingin → HGF A → Mixer → HGF SHS
→ Masakan dan Stasiun Penyelesaian

Gula di vacuum pan A dimasukkan ke palung pendingin yang berfungsi sebagai


tempat untuk mendinginkan gula yang dibawa dari masakan dan kemudian
diputar di putaran HGF A untuk menjadi gula A yang kemudian di mixer, masuk
ke putaran HGF SHS yang digunakan untuk memisahkan klare SHS dan gula
SHS yang masih basah. Klare SHS kembali lagi ke stasiun masakan, sedangkan
gula SHS akan diproses ke stasiun selanjutnya.

SMK NEGERI 1 CERME Page 121


3.7 STASIUN PENYELESAIAN

Stasiun penyelesaian merupakan proses terakhir dalam proses pembuatan


gula. Pada stasiun ini bertujuan untuk mengeringkan gula yang masih basah lalu
disaring sehingga memperoleh kristal dengan ukuran standart ± 0,8 – 1,1 mm,
kemudian dikemas dan disimpan didalam gudang.

JENIS PRODUK :
Jenis produk dari PG Lestari Kertosono adalah :
 Gula SHS (Superior High Sugar) merupakan produk utama yang dihasilkan di
PG Lestari.
 Tetes merupakan hasil samping di PG Lestari yang didapat dari nira yang tidak
menjadi gula. Tetes ini akan digunakan untuk produksi alkohol, spiritus, dan
penyedap rasa.

Bahan-bahan yang digunakan :


Kristal gula SHS

Alat-alat yang digunakan :


1. Sugar dryer and cooler (SDC)
Bertujuan menguapkan air yang masih menempel pada kristal dengan cara
menghembuskan udara panas dan untuk mendinginkan kristal dengan jalan
menghembuskan udara dingin, pendinginan sampai suhu gula sama dengan suhu
gudang.
PG Lestari menggunakan sugar dryer and cooler dengan type fluidizer dan
berikut datanya :

NO URAIAN KETERANGAN
1 Kapasitas 30 ton / jam
2 Lebar 1100 mm
3 Tinggi 600 mm
4 Panjang 11500 mm
5 Suhu udara panas 80-90 °C
6 Suhu udara dingin 30°C

SMK NEGERI 1 CERME Page 122


29 27 20

26
23 19 17 12 14 13
28 22 25
24

21

11 11 11 15

18 16

4 1
10
9

3 2
5 7
8 6

GAMBAR SUGAR DRYER AND COOLER

Bagian dan tugas dari masing – masing alat :


1. Chute saluran masuk gula
Chute saluran masuknya gula dari puteran SHS
2. Ruang pemanas
Ruang untuk memanaskan gula
3. Ruang pengering
Ruang untuk mengeringkan gula
4. Ruang penghisap
Ruang untuk menghisap gula halus
5. Chute saluran pengeluaran gula
Chute saluran pengeluaran gula setelah pengeringan
6. Elecktr motor 1
Elecktro motor penggerak roda eksentrik
7. Roda eksentrik
Roda penggerak alat pengering gula dengan dengan penghubung stang kayu

SMK NEGERI 1 CERME Page 123


8. Tuas dan pegas
Tuas penguat dan pegas pelentur alat pengering gula saat bergetar
9. Perporated plate
Plate tempat gula
10. Terpal
Penghubung bagian alat yang bergetar dengan ruang hisap (statis)
11. Elecktro motor 2
Elecktro motor penggerak blower
12. Blower pemanas
Penghembus udara panas
13. Pipa saluran masuk uap panas
Pipa saluran masuknya uap pemanas
14. Alat pemanas
Alat yang memanaskan udara
15. Pipa saluran keluar uap panas
Pipa saluran pengeluaran uap pemanas
16. Pipa saluran udara panas
Pipa saluran penghembus udara panas
17. Blower pengering
Penghembus udara kering
18. Pipa saluran udara kering
Pipa saluran penghembus udara kering
19. Pipa penghisap
Pipa saluran penghisap gula halus
20. Cyclon separator
Penangkap gula halus
21. Peti penampung
Peti penampung gula halus
22. Pipa air
Pipa saluran air pelarut gula halus
23. Pipa saluran pengeluaran larutan gula
Pipa saluran pengeluaran larutan gula untuk dialirkan ke leburan
24. Kaca penglihat
Kaca untuk mengontrol larutan gula di dalam peti
25. Pipa krengsengan
Pipa saluran uap panas untuk membersihkan peti dan cyclon separator
26. Lobang kontrol (man hole)
Lobang untuk mengontrol dan memperbaiki bagian dalam cyclon separator

SMK NEGERI 1 CERME Page 124


27. Pipa penghubung
Pipa penghubung cyclon separator dengan blower penghisap
28. Blower penghisap
Menghisap udara dari dalam cyclon separator
29. Pipa pembuangan udara
Pipa saluran pembuangan udara dari dalam cyclon separator

Cara kerja alat :


1. Gula yang berasal dari putaran gula SHS masih dalam keadaan basah, maka
perlu dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 0,1% adapun
pengeringannya dilakukan 2 tahap yaitu :
 Tahap 1 : Gula dihembus dengan udara panas yang bersuhu 80°C-90°C
 Tahap 2 : Gula dihembus dengan udara normal
2. Udara yang masuk ke unit pengering gula, terlebih dahulu dihembuskan
udara pengering, yang diperoleh dari pemanas udara dengan uap baru
bertekanan 4kg/cm2
3. Setelah melewati pembatas, gula yang berjalan diatas sarangan dihembus
kembali dengan udara dingin melalui alat force draft fan, hingga suhu gula
sama dengan suhu gudang.
4. Udara pengering dan pendingin masuk dari bagian bawah melewati sarangan
atau perforated plate dengan diameter lobang 0,5 mm, dan kemudian keluar
melewati saluran udara yang berhubungan dengan exhaust fan.
5. Gula tebu yang terbawa oleh aliran udara tadi masuk ke wet dust catcher
yang didalamnya ada penyemprotan air,sehingga gula tebu tadi tertangkap
oleh air dan sama-sama jatuh ke tangki penampungan, kemudian dari tangki
penampungan dipompa ke peti leburan gula krikilan,yang selanjutnya di
pompa lagi ke peti penampung di stasiun masakan sebagai bahan masak.
2. Sugar elevator
Berfungsi untuk memindahkan gula dari talang getar sebelumnya menuju ke
talang getar selanjutnya yang letaknya lebih tinggi.
3. Vibrating screen
Berfungsi untuk memisahkan gula SHS dari leburan gula kasar/halus. PG Lestari
menggunakan vibrating screen dengan type Horizontal Vibrating, Flow type.
Dengan kapasitas 30 ton/jam.

SMK NEGERI 1 CERME Page 125


1

2
3
9
8 4
7 65
10

GAMBAR VIBRATING SCREEN

Bagian dan tugas dari masing – masing alat :


1. Elevator gula
Pengangkut gula menuju alat penyaring gula
2. Saringan atas
Saringan gula kasar
3. Saringan bawah
Saringan gula halus
4. Talang gula produksi
Talang saluran pengeluaran gula produksi
5. Talang gula kasar
Talang saluran pengeluaran gula kasar untuk dilebur
6. Talang gula halus
Talang saluran pengeluaran gula halus untuk dilebur
7. Elecktromotor
Penggerak roda eksentrik
8. Roda eksentrik
Roda penggerak stang kayu
9. Stang kayu
Stang penghubung roda eksentrik dengan alat pengering gula
10. Tuas dan pegas
Tuas penguat dan pegas pelentur alat pengering gula saat bergetar

SMK NEGERI 1 CERME Page 126


Cara kerja alat :
1. Saringan digerakkan dengan motor listrik. Saringan ini bergetar dengan
getaran sedikit vertikal dan horizontal, sehingga saringan akan bergoyang
dengan adanya goyangan ini maka kristal gula bergerak dan tersaring.
2. Kristal gula produk akan menembus saringan 1 dan gula kasar yang tidak
tersaring akan terlempar dan bergerak ke corong pengeluaran gula kasar,
kemudian turun untuk dilebur. Demikian pula untuk gula halus juga akan
menembus saringan 2, dan akan keluar melalui saluran pengeluaran gula
halus, kemudin juga akan turun untuk dilebur.
3. Gula produk dibawa sugar elevator 2 menuju ke penampung gula produk
(sugar bin), kemudian dilanjutkan ke sugar weigher, lalu diturunkan dan
dikurangi, kemudian di cek memakai timbangan berkel dengan berat netto 50
kg/karung (zak)
4. Sugar bin
Berfungsi sebagai tempat untuk menampung gula produk.

2 3

6
1

9
10
12
15
13
16

11
4
5 14 14 14 14
3 17 17 17

18 18 18

GAMBAR SUGAR BIN DAN TIMBANGAN GULA

SMK NEGERI 1 CERME Page 127


Keterangan :
1. Elevator gula
2. Elecktromotor penggerak sprocket
3. Sprocket
4. Saluran masuknya gula
5. Gayung penampung gula
6. Saluran keluarnya gula
7. Sugar bin
8. Pengatur pengeluaran gula dari sugar bin
9. Peti penimbang gula
10. Kabel penghubung peti penimbang gula dengan alat kontrol
11. Alat kontrol timbangan gula
12. Pengatur pengeluaran gula dari peti penimbang gula
13. Chute pengarah gula
14. Zak berisi gula
15. Timbangan kontrol
16. Alat jahit zak
17. Elecktro motor penggerak conveyor gula
18. Conveyor gula

GUDANG PENYIMPANAN
Gudang gula merupakan tempat penyimpanan sementara hasil produk yang berupa
gula dalam kemasan sak dengan berat netto 50 kg, sebelum disalurkan ke konsumen.
Penyusunan karung dalam gudang harus memperhatikan sirkulasi udara, keselamatan
gula dari kelembaban, tikus dan rayap. Gudang yang baik harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
1. Dinding dan lantai tidak lembab
2. Kelembaban udara dalam gudang antara 50 – 60 %
3. Atap gudang tidak bocor
4. Jauh dari kemungkinan terbakar
5. Dilengkapi peralatan perlengkapan gudang seperti : thermometer, alat pemadam
kebakaran
6. Letak gudang harus strategis dan mudah dijangkau transportasi
7. Cara penyimpanan dan penyusunan gula harus baik dan benar

SMK NEGERI 1 CERME Page 128


Cara penyusunan sak gula pada tumpukan di gudang harus baik dan benar, agar saat
disimpan dalam waktu yang relatif lama tidak ada sak gula yang berserakan. Berikut
ini cara penyusunan sak gula dalam gudang :
Penyusunan dimulai dari tepi dinding dengan jarak 1 – 1,5 m dengan model penataan
4 – 6, yaitu 4 sak membujur dan 6 sak melintang.
Penyusunan ke atas model penataan berselang seling. Posisi sak di bawah melintang,
penataan di atasnya membujur, sedangkan posisi sak dibawah membujur, penataan di
atasnya melintang, jadi antara satu dan lainnya saling mengunci.

Model staple Model kapling

GAMBAR SUSUNAN SAK GULA

Gudang di PG Lestari memiliki masing-masing kapasitas sebagai berikut :


Jenis Panjang Lebar Hasil Tinggi Kapasitas
IA 30 m 18 m 540 m2 5,6 m 20.000 ku
IB 30 m 18 m 540 m2 5,6 m 20.000 ku
II 30 m 20 m 600 m2 8,7 m 23.000 ku
III 30 m 17 m 510 m2 8,7 m 19.000 ku
IV 50 m 30 m 1500 m2 7,4 m 60.000 ku
V 45 m 30 m 1350 m2 9,6 m 54.000 ku
VI 30 m 25 m 870 m2 8,4 m 34.000 ku
VII 30 m 20 m 600 m2 5,6 m 18.000 ku
VIII 60 m 30 m 1800 m2 9m 80.000 ku
Jumlah : 328.000 ku

SMK NEGERI 1 CERME Page 129


PROSES :

Gula SHS

Sugar dryer and cooler

Sugar elevator

Vibrating screen

Gula produksi
Leburan gula
kasar/halus ke
stasiun masakan Sugar bin

Ditimbang dimasukkan sak


dengan berat netto 50 kg/sak

Dijahit bagian atasnya

Lasahan

Gudang

Konsumen

SMK NEGERI 1 CERME Page 130


Gula SHS hasil putaran HGF SHS yang masih dalam kondisi basah maka perlu untuk
dikeringkan. Pengeringan dan pendinginan gula dapat dilakukan didalam sugar dryer
and cooler (SDC).
Gula SHS dapat masuk kedalam sugar dyer and cooler melalui corong SDC.
Udara panas dari pemanas udara dihembuskan melalui sisi bawah plat berlubang
(perforated platte) sehingga gula-gula biasa dan udara panas bisa saling
bersentuhan.Persentuhan cukup merata karena persentuhan gula biasa di
distribusikan melalui platte berlubang yangberdiameter ± 2 mm sehingga semua sisi
kristal tersentuh oleh udara panas. Kristal gula yang sudah tersentuh udara panas
menjadi kering tetapi suhunya sangat tinggi yaitu > 80°C.Suhu diatas 40°C berisiko
terjadi pengerasan gula dalam sak yang biasa disebut harden.
Dalam proses pengeringan dan pendinginan gula, dihasilkan juga debu gula,
debu gula ditangkap dengan penangkap debu gula (dust cather) dan ditampung
dalam bejana pelarut untuk dilarutkan dengan air dicampur dengan larutan gula
krikilan dan gula halus dipompa menuju peti penampung klare SHS yang digunakan
sebagai bahan olahan masakan A. Gula yang sudah kering dengan suhu standar
keluar dari SDC menuju ke sugar elevator.
Gula dari sugar elevator dibawa ke saringangula (vibrating screen) untuk
dipisahkan antara gula halus, gula kasar dan gula produksi. Gula produksi di
tampung dalam penampung gula (sugar bin).Gula kasar dan gula halus di lebur
dalam leburan gula kemudian bersama-sama larutan debu gula dipompa menuju peti
klare SHS untuk menjadi bahan masakan A.
Gula dari penampung gula dimasukkan dalam sak melalui timbangan curah
dengan berat netto ± 50 kg. Sak gula dibuat rangkap 2, inner bag (plastik sisi dalam)
dan outer bag(sak sisi luar). Sak gula rangkap 2 ini dimaksud untuk mencegah
meningkatnya kadar air dalam gula, karena bersifat hygrokopis.
Gula yang sudah dimasukkan kedalam sak gula dicek dengantimbangan berkel, berat
yang sudah dicek dengan timbangan berkel ini adalah bobot gula ditambah sak luar
dan plastik dalam ± 50,160 kg. Dalam 1 jam dapat memproduksi 150 karung gula.
Kemudian gula dibawa denganbelt conveyor ke mesin jahit untuk dijahit sisi atas sak
gula. Gula yang telah dikemas dalam sak diangkat menuju lasahan dengan tujuan
untuk tempat penampungan sementara dan tempat pengecekan untuk dicatat
dilaporan harian. Sedangkan suhu optimal untuk gula pada saat didalam sak ± 40°C.
Kapasitas lasahan ini dapat menampung sekitar 7000 sak gula. Dengan demikian
gula siap untuk digudangkan atau dipasarkan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 131


3.8 LABORATORIUM

Laboratorium dari suatu industri atau pabrik dalam melakukan kegiatannya


banyak menggunakan ilmu dasar, seperti : kimia, fisika, fisika kimia dsb. Untuk
laboratorium industri gula khususnya di pabrik gula juga kemudian, sebenarnya di
pabrik gula sendiri ada beberapa macam laboratorium diantaranya : laboratorium
proses, laboratorium hama penyakit, laboratorium penelitian dsb.

Laboratorium pabrik gula merupakan ruang yang digunakan untuk melaksanakan


analisa-analisa terhadap bahan yang diproses dipabrik gula, mulai dari tebu masuk
hingga gula produk (SHS) yang dihasilkan sebelum dikemas. Angka- angka hasil
pengawasan dipakai sebagai dasar perhitungan pengawasan pabrikasi untuk
mengendalikan proses pabrikasi sehingga dicapai hasil yang optimum, baik secara
kuantitatif.

Pencuplikan sampel

Pencuplikan sampel, yaitu memilih suatu sampel yang representatif dari material
yang dianalisa. Tempat sampel juga harus terbuat dari bahan gelas atau plastik (PE,
PP atau teflon), bersih dan bebas dari kontaminan, tidak mudah pecah dan tidak
berinteraksi dengan sampel.

Pelarutan sampel

Konversi analit menjadi suatu bentuk yang cocok untuk diukur.

Pengukuran

Perhitungan dan penafsiran dari hasil pengukuran.

Dalam melakukan analisa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti :

o Tenaga yang kompeten.


o Peralatan yang memenuhi syarat.
o Prosedur dan teknik pengambilan sampel yang benar.
o Sensitivitas dan selektivitas metode pengujian.
o Pengendalian dan jaminan mutu, baik dilapangan maupun
dilaboratorium.
o
ANALISA GULA

 Cara dan Tempat Sampling

Sampling adalah suatu proses penarikan atau pengambilan sebagian bahan yang
dapat mewakili populasi, yang dilakukan dengan metode tertentu. Sampling
mempunyai tujuan untuk mendapatkan sampel yang handal/representatif dan
memenuhi persyaratan. Sampling merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan

SMK NEGERI 1 CERME Page 132


dari kegiatan pengendalian mutu di laboratorium Pabrik Gula.Syarat sampel yang
baik apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

o Dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi


o Sampel harus valid
o Tingkat “bias” (kekeliruan) rendah
o Memiliki tingkat presisi estimasi tinggi

Selain syarat dalam pengambilan sampel ada juga beberapa faktor yang harus
diperhatikan dalam pengambilan sampel :

o Tenaga yang kompeten


o Menggunakan peralatan yang memenuhi persyaratan
o Prosedur dan teknik pengambilan sampel yang benar
o Sensitivitas dan selektivitas metode pengujian
o Pengendalian dan jaminan mutu, baik dilapangan maupun
dilaboratorium.

 Lokasi pengaambilan contoh

Nira gilingan I-IV

Pengambilan contoh nira gilingan untuk dianalisis diambil dari gilingan I, II, III,
dan IV.Dengan menggunakan pipa yang ujungnya di beri saringan kemudian
dihubungkan dengan tali/tampar plastik terhadap batang besi yang dilas pada top rol
tiap-tiapgilingan, maka alat ini akan bergerak naik turun karena gerakan putar dari
top rol gilingan. Bersamaan dengan gerakan tersebut alat akan mengambil nira yang
sedang mengalir pada talang nira yang berada dibawah alat.Pengambilan nira
gilingandiambil tiap jam sekali.

Nira mentah

Nira mentah yang akan dianalisa diambil secara langsung di stasiun pemurnian.
Pengambilan nira mentah II diambil di bak nira setelah nira tertimbang.Cara
pengambilan nira mentah ini menggunakan pipa yang terhubung pada bak nira
tertimbang(Boulogne). Pengambilan nira mentah dilakukan tiap jam sekali.

Nira encer

Pengambilan nira encer diambil di pipa nirajernih yang keluar dari peti
pengendap sebelum masuk ke saringan nira jernih. Pengambilan diambil secara
langsung dengan “centhung” yang kemudian ditampung di ember nira
encer.Pengambilan nira encer diambil tiap jam sekali.

Nira kental

SMK NEGERI 1 CERME Page 133


Lokasi pengambilan nira kental I berada pada BP akhir. Terdapat kran katup
yang terhubung dengan BP akhir. Apabila akan mengambil contoh maka kran katup
dibuka dan disitu nira kental diambil langsung oleh petugas dan dianalisa.

Nira kental tersulfitir

Lokasi pengambilan nira kentaltersulfitir berada di bak penampung masakan.


Terdapat kran katup yang terhubung dengan bak penampung masakan. Apabila akan
mengambil contoh maka kran katup dibuka dan disitu nira kental diambil langsung
oleh petugas dan dianalisa.

Masakan A,C,dan D

Pengambilan masakan A, C, D diambil setiap kali masakan turun dari pan masak.

Gula A dan C

Pengambilan sampen gula A dan C dilakukan distasiun putaran, pengambilan


dilakukan tiap 2 jam sekali.

Gula D1 dan D2

Pengambilan sampel gula D1 dan D2 dilakukan di stasiun putaran, pengambilan


dilakukan tiap 2 jam sekali.

Stroop A dan C

Lokasi pengambilan stroop berada pada peti stroop yang letaknya di bagian
belakang stasiun putaran. Petugas langsung mengambil dengan menciduk stroop
yang ada didalam peti menggunakan “centung”.

Klare SHS dan D

Lokasi pengambilan klare berada pada peti klare yang letaknya di bagian
belakang stasiun putaran. Petugas langsung mengambil dengan menciduk klare yang
ada didalam peti menggunakan “centung”.

Mollases/tetes

Pengambilan tetes di ambil dari hasil pemutaran di LGF. Pengambilan dilakukan


tiap jam sekali untuk di analisa brix, pol dan HK.

Blotong

Lokasi pengambilan blotong langsung di Rotary vacum filter yang terletak


disebelah barat dan selatan Single Tray Clarifier. Cara pengambilan contoh blotong
dengan cara langsung diambil oleh petugas pada blotong yang menempel pada
saringan vacuum filter sebelah kiri, tengah dan kanan kemudian dicampur.
Pengambilan blotong dilakukan tiap 1 jam sekali

SMK NEGERI 1 CERME Page 134


Gula SHS

Pengambilan sampel gula SHS dilakukan di stasiun penyelesaian, pengambilan


dilakukan tiap 1 jam sekali.

Ampas

Ampas yang dianalisa adalah ampas yang keluar dari gilingan terakhir. Cara
pengambilan contoh ampas dengan cara langsung diambil oleh petugas dari ampas
yang dibawa oleh cakar ampas ke ketel. Pengambilan ampas dilakukan tiap 2 jam
sekali.

Air pengisi ketel

Air pengisi ketel diambil dari pipa yang terhubung pada pompa air pengisi ketel
yang terendam dalam air sebagai pendingin, sehingga air yang keluar di pipatersebut
sudah dingin dan ditampung di gelas plastik. Pengambilan dilakukan tiap jam sekali.

Air ketel

Air ketel diambil dari pipa yang terhubung pada pompa air, ketika kran pada pipa
dibuka maka air ketel keluar di pipa tersebut di pipa tersebut dan ditan ditampung di
gelas plastik. Pengambilan dilakukan tiap jam sekali.

Water treatment

Water treatment dibuat apabila terjadi kekurangan air kondensat yang digunakan
sebagai bahan baku pembuat uap di stasiun ketel. Proses water treatment adalah
proses mengubah air dari sumur menjadi air yang siap digunakan untuk dimasukkan
kedalam ketel.

Air kondensat

Analisa ini dilakukan ketika air kondensat akan digunakan sebagai bahan baku
ketel. Analisa yang dilakukan pada air kondensat adalah analisa untuk mengetahui
apakah air kondensat masih mengandung gula atau tidak. Air kondensat yang
mengandung gula tidak boleh di masukkan ke ketel karena jika air kondensat itu
masuk ke pipa di dalam ketel, nanti pipa akan pecah.

Analisa pendahuluan

Analisa pendahuluan atau analisa kemasakan tebu dilakukan untuk menentukan


kapan suatu pabrik akan mulai menebang tebunya untuk digiling sekaligus untuk
menentukan ranking tebang (sebagai rekomendasi pembagian SPTA).Pengambilan
sampel tebu dilakukan pada setiap petak yang telah ditentukan sekitar 1,5 – 2 bulan
sebelum pelaksanaan tebang dilakukan. Penentuan titik samping harus bisa mewakili
setiap kebun yang diambil, bisa secara sejajar atau diagonal. Setiap titik diambil
sebanyak 7 batang dan 3 batang untuk cadangan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 135


Prosedur analisa tebu contoh adalah :

 Varifikasi data sampel tebu, mencatat data kebun

Preparasi tebu, setiap batang dipotong ujungnya sebatas 5 helai daun dihitung
dari pucuk. Batang dibersihkan dan dihitung jumlah ruasnya kemudian dipotong
menjadi 3 bagian (atas, tengah dan bawah) untuk diamati hama penyakitnya. Setiap
bagian ditimbang berat batangnya.

Sampel tebu digiling, penggilingan dimulai dari bagian atas, tengah lalu bawah.
Nira dari setiap bagian ditimbang.

Analisa nira tebu, tiap bagian dianalisa %brix, %pol dan faktor perahnya
kemudian setiap bagian dicampur dan dianalisa %brix, %pol dan faktor perahnya.

Rumus perhitungan :

o HK= (%pol)/(%brix) x 100


o FaktorPerah= beratnira/berattebu x 100
o Rendemen= FaktorPerahxNilaiNira
o FaktorKemasakan (FK)= (〖Rendemen〗_(ba wah)-〖Rendemen〗_atas)/〖
Rendemen〗_bawah x 100
o Faktor kemasakan yang optimal adalah ±20, untuk tingkat kemasakan yang
ideal yaitu apabila Rendemen atas = Rendemen bawah sehingga FK = 0
o KoefisienPeningkatan (KP)= 〖Rendemen〗_terakhir/〖Rendemen〗_(2
periodesebelumnya) x 100
o KP dihitung untuk mengetahui apakah tinkat rendemen dari analisa yang
terakhir masih dapat bertambah atau tidak jika tebunya ditunda tebang.
o KoefisienDayaTahan (KDT)= 〖HK〗_bawah terakhir/〖HK〗_(bawah 2
persebelumnya) x 100
o KDT menyatakan apakah tebu masih kuat ditahan untuk mencapai
kemasakan yang sempurna. Bila KDT < 100 artinya telah terjdi penurunan
HK, sehingga tebu harus secepatnya ditebang.

Catatan :

Tidak boleh menyamankan Rendemen tebu contoh dengan Rendemen tebu rill,
karena :

 Faktor gilingan kecil dan besar tidak sama

Daya perah gilingan kecil yang daya perahnya kecil hanya memerah tebu yang
selnya lunak sehingga polnya tinggi dan nilai niranya ikut tinggi, sedangkan gilingan
besar semua sel terperah dengan baik. Tebu contoh biasanya lebih bersih dan lebih
baik karena jumlahnya sedikit dibanding tebu giling.

SMK NEGERI 1 CERME Page 136


Analisa Gula Produk

 Analisa Brix

Brix adalah zat kering terlarut total dalam nira tebu. denga demikian ada korelasi
antara brix dengan kekentalan larutan atau berat jenis (B.J.). brix dapat diukur
dengan cara sebagai berikut :

o Penetapan kadar brix nira.


o Menyiapkan silinder mol yang akan digunakan.
o Menuangkan nira mentah kedalam silinder mol hingga luber.
o Menghilangkan buih dengan pengaduk dan tunggu selama 5 menit.
o Masukkan APB (alat penimbang brix).
o Mengamati nilai brix yang terbaca ada alat dan melihat suhu pada nira
mentah.

 Analisa Pol

Pol adalah kadar gula (karbohidrat), utamanya sukrosa dalam nira tebu yang
mampu memutar bidang polarisasi ke kanan. Pol tidak mencerminkan secara tepat
kadar sukrosa dalam nira tebu, karena ada karbohidrat lain dalam nira tebu yang juga
dapat memutar bidang polarisasi ke kanan, misal dekstran.

o Penetapan kadar pol nira.


o Mengambil nira mentah dalam silinder mol sebanyak 100 ml.
o Memasukan kedalam labu takar 110 ml.
o Menambahkan 5 ml form A dan 5 ml form B hingga batas.
o Mengojog larutan dan menapis larutan menggunakan kertas saring
hingga diperoleh filtrat 40 ml.
o Filtrat hasil tapisan, kemudian diambil dan dimasukan kedalam
sucromat.

 Perhitungan

% brix = % brix baca + koreksi brix pada T (oC)

Untuk koreksi suhu dengan brix menggunakan Tabel III Hubungan Antara Koreksi
Brix dengan Suhu dan Kepekatan. (Tabel untuk analisa gula dan pengawasan).

"% pol= " "% pol baca x 0,286" /"BJ pada T ℃"

Berat jenis menggunakan Tabel II Hubungan Antara Kepekatan dan Berat Jenis
Larutan Gula Murni pada 27,5 "℃" .

"HK=" "% pol" /"% brix" " x 100"

SMK NEGERI 1 CERME Page 137


MACAM-MACAM ANALISA

 ANALISA UMUM

1. ANALISA NIRA KENTAL (Pengenceran 5x)

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil contoh nira kental 300 gram, dan encerkan menjadi 1500.
o Aduk rata, masukkan tabung mohl dan brix Wegar.
o Amati besaran brix, suhu nira dan hasilnya dikalikan 5x akan ketemu brix
terkoreksi.
o Sisa nira pengenceran tadi, masukkan labu takar 100-110 ml sampai garis
tanda 100 ml.
o Tambahkan form A dan form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Hasil tapis, lihat putarannya dengan Pol Buis 200 mm dengan sucromat. Lihat
tabel antara putaran dan brix terbaca, dan hasilnya kalikan 5x akan ketemu %
Pol.

2. ANALISA ZAT KERING BLOTONG

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard
SMK NEGERI 1 CERME Page 138
Prosedur :

o Ambil Blotong secara periodic atau acak.


o Kemudian timbang Blotong 20 gram.
o Kemudian panaskan selama 4 jam dengan suhu 10⁰-115⁰C.
o Kemudian timbang.

3. ANALISA BLOTONG (POL BLOTONG)

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambilkan Blotong secara Periodik Timbang Blotong 50 Gram.


Masukkan ke dalam pol 20 ml.
o Tambahkan air dan penjernih form A dan form B sebanyak 5 ml.
o Kemudian kocok lalu disaring.
o Polarisasi.

4. ANALISA AMPAS (POL AMPAS)

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

SMK NEGERI 1 CERME Page 139


Prosedur :

o Timbang ampas gilingan akhir sebanyak 1 kg, masukkan dalam alat


Ekstraksi.
o Tambahkan air 10 liter dan panaskan dengan suhu 100-105⁰C selama 2 jam
terhitung adanya tetesan uap air.
o Larutannya dinginkan sampai suhu ±30⁰C dan masukkan ke labu takar 100-
110 ml sampai garis tanda 100 ml.
o Tambahkan form A dan form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Masukan hasil tapis ke dalam polbuis yang berukuran 200 ml, kemudian di
masukan kedalam alat Pol baca, dan lihat hasilnya.

5. ANALISA MASAKAN C DAN D (Pengenceran 10x)

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil contoh Gula C dan Dturun, sebanyak 150 gram dan encerkan menjadi
1500 gram.
o Aduk yang rata, masukkan dalam tabung mohl dan masukan Brix.
o Amati besaran Brix, suhu contoh dan kalikan 10x akan ketemu % Brix
terkoreksi.
o Sisa contoh yang telah di encerkan, masukan labu takar 100-110 ml sampai
garis tanda 100 ml.
o Tambahkan Form A dan Form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Hasil tapis, lihat putarannya dengan polbuis 200 mm dan sucromat, lihat tabel
antara putaran dan brix terbaca dan kalikan 10x akan ketemu % pol.

6. ANALISA MASAKAN A (Pengenceran 5x)

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

SMK NEGERI 1 CERME Page 140


2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil contoh Gula A turun sebanyak 150 gram dan encerkan menjadi 1500
gram.
o Aduk yang rata, masukan kedalam tabung mol dan masukan Brix Weger.
o Amati besaran Brix, suhu contoh dan dengan dikalikan 10x akan ketemu %
Brix terkoreksi.
o Sisa contoh yang telah di encerkan, masukan labu takar 100-110 ml sampai
garis tanda 100 ml.
o Tambahkan Form A dan Form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Hasil tapis, lihat putarannya dengan polbuis 200 mm dan sucromat, lihat tabel
antara putaran dan Brix terbaca dan kalikan 10x akan ketemu % Pol.

7. ANALISA (PI) DENGAN ALAT JEFCO

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Timbang 0,5 kgdan tambahkan air 3,5 kg lalu masukan kedalam


JEFCO.
o Jalankan air pendingin bak putar 10 menit.
o Setelah diputar ambil larutannya kemudian di analisa ke dalam
polbuis 200 mm.
o Hasilnya merupakan pol dalam Cel tebu terbuka = B.
o PI = Pol dalam ekstrak (r) = A:B.

SMK NEGERI 1 CERME Page 141


8. ANALISA TETES

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil tetes 100 gram, encerkan menjadi 1500 gram.


o Aduk yang rata, masukan ke dalam tabung mol dan masukan Brix.
o Amati besaran Brix, suhu contoh dan dengan dikalikan 15x akan ketemu Brix
terkoreksi.
o Sisa tetes pengenceran, masukan labu takar 100-110 ml sampai garis tanda
100 ml.
o Tambahkan Form A dan Form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Lihat tabel antara putaran dan Brix terbaca, dan hasilnya dikalikan 15x, akan
ketemu % Pol.
o Hasil tapis, lihat putarannya dengan polbuis 200 mm dengan sucromat.

9. ANALISA NIRA GILINGAN

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil nira contoh, masukan silinder Winter / Tabung mohl.


o Biarkan 10 menit, masukan Brix Weger secara pelan-pelan.
SMK NEGERI 1 CERME Page 142
o Amati besaran Brix pada permukaan nira dan amati pula suhu nira pada Brix
dalam keadaan bandul Brix masih tercelup nira.
o Sampai di sini akan diketahui, Pol Baca, Suhu, Koreksi Suhu dan akhirnya
ketemu Brix terkoreksi / % Brix.
o Selanjutnya sisa nira, masukan labu takar 100-110 ml sampai garis tanda 100
ml.
o Tambahkan Form A dan Form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis.
o Hasil tapis masukan pembulu Pol / Polbuis 200 mm. Dan masukan sucromat.
o Sampai disini akan kita ketahui putaran Nira, sedangakan setelah diketahui
putaran dan juga Brix terbaca diatas, akan kita lihat tabel akan ketemu % Pol.

HK = (% Pol x 100)/(% Brix)

10. ANALISA ZAT KERING AMPAS

SYARAT K3 :

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Timbang ampas 1 KG yang di ambil secara acak dari gilinganakhir.


o Masukan ke tabung pengering khusus (jangan dipadatkan).
o Panaskan selama 2 jam dengan temperatur 100⁰C.
o Timbang kembali ampas dengan seksama.

CONTOH :

o Berat ampas = 1000 gram


o Berat ampas setelah kering = 507, 40 gram
o Jadi zat kering ampas = (507,40 x 100)/1000= 50,74 %

11. ANALISA COD (Chemical Oksigen Damint)

Fungsi : Untuk mengetahui bahan kimia berbahaya yang terlarut dalam air limbah.

SMK NEGERI 1 CERME Page 143


SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil contoh air limbah yang keluar dan masuk.


o Masukan 2 ml air limbah kedalam larutan reagen.
o Masukan kedalam reaktor COD/ Pemanas COD (Suhu 105-150⁰C,
waktu = 2 jam).
o Dinginkan hingga suhu menjadi 70⁰C dan masukan ke dalam COD
Baca.

 ANALISA KHUSUS :

Fungsi : Untuk menganalisa jenis-jenis bahan pembantu yang perlu ditambahkan.

1. ANALISA SKARBLOOM

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil sampel kurang lebih 5 ml dengan menggunakan erlenmeyer.


o Tambahkan indikator nepthol.
o Tambahkan 12 tetes H_2 〖SO〗_4.
o Amati perubahan warna.
o Jika warna menjadi biru menandakan terdapat kandungan gula.
o Jika warna tetap jernih menandakan tidak ada kandungan gula.

SMK NEGERI 1 CERME Page 144


o Analisa dilakukan tiap 15 menit sekali.

2. ANALISA ICUMSA NPP

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil nira contoh, jadikan Brix 2-5 dengan aquades, lihat BJ / Densitasnya.
o Tambahkan keiselgurh ± 1-2 gram, saring dengan Kertas Whatman ukuran
42.
o Nira hasil saring dijadikan pH 7,0-7,2 dengan menambahkan NaOH 0,05 atau
HCL 0,05.
o Lihat Absorbansi dendan spectrumled dengan panjang gelombang 420, yang
sebelumnya dikalibrasi dengan aquades.

Rumus:

IU: (Absorbansi Nira Contoh x 100.000)/(Tebal couvet x Brix x BJ)

3. ANALISA PHOSPHAT

Fungsi: Untuk mengukur kadar phosphat agar tidak terjadi pengerakan pada pipa.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

SMK NEGERI 1 CERME Page 145


Prosedur:

o Ambil nira contoh sebelum dan sesudah penambahan phosphat .


o Siapkan 4 erlenmeyer yang berisi 40 ml aquades, masing-masing bertuliskan :
o Erlenmeyer I = ACT SB (Absorban contoh sebelum).
o Erlenmeyer II = ACT SD (Absorban contoh sesudah).
o Erlenmeyer III = AST (Absorban standart).
o Erlenmeyer IV = ABL (Absorban blanko).
o Siapkan corong, kertas saring, dan gelas kimia.
o Masukan sampel nira sebelum dan sesudah penambahan phosphat kedalam
masing-masing gelas kimia sebanyak 50 ml.
o Tambahkan kieshelghur sebanyak ±2 gram, kemudian aduk menggunakan
stirer selama 10 menit.
o Saring menggunakan kertas saring.
o Tambahkan 4 ml larutan Am. Molibdat kedalam masing-masing erlenmeyer
yang berisi aquades.
o Khusus erlenmeyer AST ditambahkan 3 ml larutan standart phosphat.
o Tambahkan 3 ml hasil saringan nira sebelum kedalam erlenmeyer ACT SB.
o Tambakan 3 ml hasil saringan nira sesudah kedalam erlenmeyer ACT SD.
o Panaskan semua erlenmeyer sampai mendidih (erlenmeyer harus dalam
keadaan tertutup).
o Siapkan asam askarbit sebanyak 0,1 gram sebanyak 4 takar.
o Setelah mendidih tambahkan asam askarbit sebanyak 0,1 gram pada setiap
erlenmeyer.

Perubahan warna larutan setelah penambahan asam askarbit:

ABL = Hijau pucat

ASD = Biru tua

ACT SB = Biru dongker

ACT ST = Biru pucat

o Dinginkan selama ±1 jam, masukan kedalam labu ukur.


o Tambahkan aquades sampai tanda batas 100 ml.
o Masukan kedalam cuvet.
o Masukan kedalam Spectrometer dengan panjang gelombang 650.
o Tunggu hingga menunjukan nilai absorbansinya.
o Lakukan secara bergantian pada setiap larutan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 146


Rumus Perhitungan:

SEBELUM (SB)= [(ACT SB-ABL)x (1000 x AST)]/[(AST-ABL)x (10 x AST)]

SESUDAH (SD)= [(ACT SD-ABL)x (1000 x AST)]/[(AST-ABL)x (10 x AST)

4. ANALISA SAKAROSA

Fungsi: Untuk mengukur kadar gula.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur:

o Setelah diketahui (% POL dan % Brix), ambil filtrat NPP 25 ml masukkan


ke Labu Takar 50 ml
o Tambahkan HCL 15 ml, gojog dan diamkan selama ± 2 jam, strep aquades
sampai garis tanda 50 ml
o Tambahkan keiselgurh 2 gram dan tapis
o Lihat amati putaran, setelah invert di Sucromat dengan Polbuis selubung air
200 mm

Rumus:

S = ((p-i))/((c-0,5t))

Keterangan:

P = % POL sebelum inversi

I = % POL setelah inversi

C = Tatapan tabel steverwad daftar VII

T = Suhu nira contoh

SMK NEGERI 1 CERME Page 147


5. ANALISA GULA REDUKSI

Fungsi: Untuk mengukur kelayuan tebu.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi

3. Gunakan alat pelindung diri

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur:

o Timbang nira Contoh (NPP 12 gram, NE 8 gram, NK 5 gram, NM 12 gram),


masukkan ke labu takar.
o Tambahkan EDTA 4% dan aquades sampai garis tanda, masukkan ke buret
50 ml dan ambil 15 ml dari buret masukkan erlenmeyer.
o Tambahkan Fenling normal masimg-masing 5 ml (Fenling I 5 ml dan Fenling
II 5 ml).
o Panaskan erlenmeyer sampai warna menjadi merah bata, tambahkan indikator
MB 2-3 tetes sampai warna menjadi biru.
o Titrasi sampai warna menjadi merah bata kembali (jika titrasi sampai lebih
dari 50 ml, berarti GR terlalu kecil dan nira contoh kurang pekat) lihat dan
catat volume titrasi.

6. ANALISA ICUMSA GKP

Fungsi: Untuk mengukur kejernian kristal gula.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

SMK NEGERI 1 CERME Page 148


Prosedur:

o Gula kristal putih 50 gram.


o Tambahkan aquades 50 ml, kemudian putar selama 10 menit menggunakan
stirer.
o Tambahkan keiselgurh ± 2 gram, kemudian putar kembali menggunakan
stirer selama 10 menit.
o Saring dengan kertas Whatman ukuran 42.
o Ukur % Brix menggunakan refractometer.
o Setelah mengetahui % Brix, sisa hasil saringan dimasukan kedalam cuvet.
o Hitung warna larutan gula (ICUMSA) menggunakan coloromat 100.
o Masukan % Brix gula yang terbaca di refractometer kedalam coloromat 100.
o Masukan larutan aquades kedalam cuvet, dan masukan kedalam coloromat
100 sebagai standarisasi (Sampai alat menunjukan angka 0).
o Masukan larutan gula dan tekan result.
o Tunggu sampai alat menunjukan nilai ICUMSA Gula.

7. ANALISA TURBIDITY

Fungsi: Untuk mengukur tingkat kejernian nira.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur:

Contoh Nira Encer.

Cuvet :

o Untuk Aquades.
o Untuk Standart.
o Untuk Nira Contoh.
o Lihatlah dengan alat spectrumlab dengan panjang gelombang 900.

SMK NEGERI 1 CERME Page 149


Rumus :

= V1/V2=C1/C2〖=C〗2 = (V2 x c)/V1

Keterangan :

V1 = Absorbansi Standart Turbidity.

V2 = Absorbansi Nira Contoh.

C1 = Konsentrasi Standart Turbidity (telah kita ketahui 50 ppm).

C2 = Konsentrasi Nira Contoh.

8. ANALISA DEXTRAN

Fungsi: Untuk mengukur kadar sukrosa pada nira.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Lihat Dextran % dengan Alat Dextran.


o Ppm = (dextran % x 100)/BJ.
o Harus mengetahui Brix Nira Contoh untuk mengetahui BJ/Densitas.

9. ANALISA KADAR KAPUR

Fungsi: Untuk mengukur kadar kapur.

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

SMK NEGERI 1 CERME Page 150


3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Ambil Nira Contoh 5 ml, masukkan cawan porselin tambahkan.


o Aquades 45 ml.
o KCN 10% 2 ml.
o Buffer amoniak 2 ml.
o Indikator EBT 2-4 tetes, warna menjadi ungu.
o Titrasi dengan EBT sampai warna berubah menjadi hijau kebiruan.
o Catat volume hasil titrasi.

Rumus:

Volume titrasi x 1000/5 x Normalitas EDTA

= 3,4 ml x 200 x 1,041

= 707,8 ppm

10. ANALISA BERAT JENIS BUTIR (BJB)

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri :

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

Prosedur :

o Susun ayakan pada mesin pengayak (mesh terkecil ada diatas).


o Timbang 60-70 gram contoh, masukan dapa ayakan paling atas.
o Hidupkan mesin ayakan selama 10 menit.
o Timbang contoh yang ada pada setiap fraksi ayakan.
o Hitung presentasinya.

SMK NEGERI 1 CERME Page 151


Perhitungan

Misal contoh dalam masing-masing fraksi sbb:

Fraksi I (12 Mesh) = K gram

Fraksi II (16 Mesh) = L gram

Fraksi III (20 Mesh) = M gram

Fraksi IV (30 Mesh) = N gram

Fraksi V (50 Mesh) = O gram

Fraksi VI (Baki) = P gram +

Jumlah = Y gram

Fraksi I =((K X 100))/Yx 4,8 =Q

Fraksi II = ((L X 100))/Yx 7,1 =R

Fraksi III = ((M X 100))/Yx 10,0 =S

Fraksi IV = ((N X 100))/Yx 14,1 =T

Fraksi V = ((O X 100))/Yx 24,0 =U

Fraksi VI = ((P X 100))/Yx 48,0 =V

Q+R+S+T+U+V=Z

BJB = 100/Zx 10 mm

11. ANALISA KADAR AIR DAN ZAT KERING DALAM KRISTAL GULA

SYARAT K3:

1.Pastikan anda dan dalam keadaan kondisi fit.

2. Pastikan personel yang melakukan aktifitas memiliki kompetisi.

3. Gunakan alat pelindung diri.

o Handscoon / Sarung tangan


o Jas Laboratorium
o Masker
o Helm standard

SMK NEGERI 1 CERME Page 152


Prosedur :

o Timbang 20 gram gula menggunakan Mettleer Toledo.


o Panaskan selama 10 menit.
o Tunggu sampai menunjukan nilai kadar air dan zat kering (zat kering = kadar
gula/ %Brix).

SMK NEGERI 1 CERME Page 153


BAB IV
LUAR PRODUKSI

4.1 LIMBAH

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di
sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black
water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Limbah di pabrik gula adalah hasil dari pengolahan suatu industri,tetapi


limbah bukan hasil produksinya. Limbah bisa saja masih memiliki nilai
ekonomis,oleh karena itu pihak pengolahan harus selalu mengupayakan program
REUSE, sedangkan untuk limbah yang belum bisa diolah bisa melakukan upaya
program REDUCE dan RECYCLE. Sehingga menurut peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 06 Tahun 2013, program 3R (Reuse,Reduce,Recycle)
dapat dijalankan.

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk
fungsi yang sama ataupun fungsi yang lainnya. Reduce berarti mengurangi segala
sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur
ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Ditinjau dari asalnya limbah terdiri atas :


1. Limbah domestik, yaitu limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah
tangga, rumah makan, rumah sakit, dan sebagainya.
2. Limbah industri, yaitu limbah yang dihasilkan dari kegiatan proses
produksi suatu industri.
Berikut ini adalah macam – macam limbah dalam kegiatan proses produksi di
pabrik gula :
1. Limbah padat

SMK NEGERI 1 CERME Page 154


Limbah padat adalah hasil buangan suatu industri yang berupa
padatan, lumpur, bubur yang berasal dari sisa pengolahan. Limbah padat
yang dihasilkan PG Lestari adalah sebagai berikut :
a. Blotong
Blotong merupakan kotoran yang berasal dari bahan baku tebu
yang terbawa dalam nira dan dipisahkan pada proses penapisan (filtrasi)
menggunakan rotary vacuum filter di stasiun pemurnian. Blotong juga
merupakan limbah yang masih cukup banyak energi karena
mengandung nira, ampas halus dan zat – zat lain yang terikut dalam
blotong yang berasal dari nira dan zat – zat buka gula seperti sakarosa,
monosakarida, zat warna lilin, asam – asam organik dan senyawa
nitrogen. Sebagian blotong diolah menjadi ‘biokompos’ dengan
bekerjasama dengan pihak III. Jumlah blotong yang dihasilkan rata-rata
3-3,5% tebu atau ± 12 ton/hari. Blotong harus memiliki % pol
seminimal mungkin yaitu 2.
Terdapat dua alternatif pengolahan/pemanfaantan blotong, yaitu :
 Sebagai pupuk organik biokompos bekerja sama dengan pihak III
 Sebagai bahan bakar dilakukan melalui pengeringan, dimana blotong
dibuat dalam bentuk briket.

b. Abu ketel
Abu ketel adalah bahan-bahan tersisa hasil pembakaran dari
boiler (ampas tebu). Berupa partikel padat yang keluar bersamaan
dengan gas cerobong ketel yang ditangkap oleh dust collector maupun
wet scrubber. Abu ketel PG Lestari memiliki kandungan unsur logam
dengan kadar yang tidak berbahaya, sebab masih dibawah ambang batas
yang diperkenankan. Jumlah abu ketel yang dihasilkan rata-rata 3%
tebu giling dan dapat dimanfaatkan sebagai campuran pembuatan pupuk
organik bio kompos, campuran pembuatan batu merah dan tanah urug.
Pengendalian abu ketel dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
 Setiap 8 jam sekali , dapur ketel ini dibersihkan dan abu ketel yang
ada didalamnya digorek/dikeluarkan.
 Selanjutnya untuk mereduksi pencemaran debu dari pembakaran
ampas tersebut, maka cerobong asap (diameter 2 m dan tinggi 40 m)
telah dilengkapi dengan dustcollector.
 Abu ketel diproses menjadi biokompos dengan kerja sama dengan
pihak ketiga.

SMK NEGERI 1 CERME Page 155


c. Ampas tebu
Ampas tebu muncul dari kegiatan penggilingan tebu di stasiun
gilingan. Jumlah ampas yang dihasilkan ± 30 % dari jumlah tebu yang
digiling. Dengan total tebu yang digiling ± 3.750 ton tebu per hari,
maka telah dihasilkan sekitar 1.125 ton ampas tebu per hari dengan
masa giling sekitar 150 hari. Penanganan sebagai berikut :
 Digunakan sebagai bahan bakar di stasiun ketel.
 Ditempatkan/ditampung didalam gudang/staple tertutup untuk
mengindari kontak air dan angin.
 Dipadatkan sebagai ampas bal (dipadatkan ± 30-35 kg/bal), untuk
digunakan sebagai bahan bakar pada tahun berikutnya.
 Untuk ampas halus digunakan sebagai bagacilo

Penanganan limbah padat untuk blotong dan abu ketel dapat


memperoleh hasil yang memuaskan dengan cara memberikan nilai
tambah bagi masyarakat sekitar, karena dapat dijual sebagai bahan
bakar maupun pupuk dengan dosis 40 ton/ha asalkan C/N ratio kurang
dari 1,5. Pembuangan abu ketel dan sebagian blotong dilakukan oleh
pihak III tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan.

2. Limbah cair

Limbah cair yang dihasilkan PG Lestari yang mempunyai debit


rata – rata 500 m3/hari. Limbah cair yang ditinjau dari cara
penanganannya dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :

a. Limbah cair – air polutan


Air limbah ini dihasilkan dari air pendingin metal gilingan ditambahkan
dengan air skrapan dari badan – badan pemanas. Berikut adalah

penanganannya :
 Bak Pemisah Minyak
Sistem penanganan air limbah dari gilingan yaitu dipisahkan dulu
dari oli yang terikut dibak pemisah minyak dengan menggunakan
prinsip perbedaan berat jenis. Oli akan mengapung di atas air dan

SMK NEGERI 1 CERME Page 156


secara manual dikumpulkan dalam drum, kemudian dicampur. Air
bagian bawah yang tidak mengandung minyak dialirkan ke IPAL.
 Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL)
IPAL berfungsi untuk mengolah air polutan sehingga bersifat ramah
lingkungan ketika di buang ke lingkungan sebagai efluent.

IPAL terdiri dari :


1) Untuk bak pemisah minyak dan pendinginan dilakukan penarikan air
limbah berpolutan dari bak lalu dipompa ke IPAL sebagai influent
langsung kebak pemisah minyak IPAL.
2) Untuk bak pengendap awal yang berukuran 10 m x 5,7 m dengan
kedalaman 2,5 m. Dilakukan pengoperasian bak pengendap awal ini
secara continue yang berfungsi untuk mengendapkan padatan-
padatan yang tidak terlarut, sehingga beban aerator menjadi lebih
efektif. Dengan adanya bak pengandap awal ini maka cemaran BOD
dan COD serta padatan lain dapat diturunkan sebelum masuk kebak
aerasi.
3) Bak Aerasi yang berfungsi untuk menurunkan cemaran BOD dan
COD serta mengendapkan padatan terlarutnya dengan sistem proses
Faculatif Aeration Lagoon. Ukuran bak aerasi ini adalah 50 m x 27
m dengan kedalaman 5 m dan dilengkapi dengan 2 unit Root
Blower.
4) Clarifier
Fungsi dari Clarifier ini adalah untuk memisahkan air yang akan
dikeluarkan dengan lumpur yang terikut serta sehingga air yang
dibuang akan lebih jernih dan memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

5) Bak pengendap akhir merupakan proses pengendapan terakhir


sebelum air limbah yang telah diproses dilepas keperairan sesuai
baku mutu yang telah ditetapkan berdasar SK Gubernur Jawa Timur
No. 45 Tahun 2002. Ukuran bak pengendap akhir (4 x 25 x 1,8)
meter sebanyak 1 buah. Air yang keluar dari bak pengendap akhir
dilengkapi dengan Flow meter untuk mengukur debit air yang
dibuang sesuai dengan ijin maksimal 400 m3/hari.
SMK NEGERI 1 CERME Page 157
6) Flowmeter digunakan untuk mengetahui debit air yang keluar dari
IPAL.

b. Limbah cair – air non polutan


Merupakan limbah cair yang tidak terkontaminasi oleh kotoran padat
maupun cair, limbah cair ini bersumber dari air kali brantas yang
digunakan sebagai pendingin peralatan pabrik seperti kondensor,
pendingin tobong belerang dan mesin-mesin lainnya. Limbah cair ini
disebut juga sebagai air jatuhan kondensor dengan temperatur 45 – 50
°C.
Untuk air limbah non polutan (air pendingin kondensor, air pendingin
dapur belerang dan sublimator, air pendingin mesin – mesin pompa dan
air pendingin palung pendingin) dialirkan langsung melalui 2 saluran,
yaitu pertama limbah dialirkan kepersawahan untuk irigasi sawah Desa
Ngrombot dan kedua dialirkan ke Desa Patianrowo.
1. Spray Pond dan Cooling Tower
Digunakan untuk mendinginkan air jatuhan kondensor dengan suhu
45°C menjai sekitar 30°C. Sistemnya ialah kontak langsung dengan
udara dengan cara mengabutkan air dengan diberi tekanan pompa
dan dilewatkan nozzle dengan ukuran tertentu.
2. Biotray
Adalah pengolahan limbah menggunakan bakteri BT-55. Dengan
tujuan menurunkan nilai COD dan BOD air jatuhan kondensor.
3. Flow meter
Mengetahui debit air yang keluar dari IPAL.

Besarnya tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah cair dapat


dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : peralatan, sistem kerja
dan tata letak saluran buangan dalam pabrik
 Faktor peralatan dipengaruhi oleh jenis alat, umur dan pemeliharaan
berkaitan dengan kebocoran alat yang biasa terjadi setiap saat.
 Faktor tata letak saluran juga memegang peranan penting karena tata
letak saluran yang baik dapat mencegah masuknya bahan pencemar
kedalam air buangan.
Pada dasarnya limbah cair di pabrik gula dapat dibedakan menjadi dua
yaitu limbah tercemar berat dan limbah tercemar ringan.

SMK NEGERI 1 CERME Page 158


Pengelompokan limbah tersebut bertujuan untuk menentukan teknik
pengolahan limbah agar dapat meringankan proses penanggulangannya.

Kriteria limbah tercemar berat ataupun ringan dapat dilihat dari :


1. pH
2. Padatan tersuspensi dan padatan terlarut
3. Bahan organik
4. Suhu, warna, bau, dan rasa
5. Mikroorganisme
Parameter uji yang dipakai untuk menganalisa kualitas air limbah PG
lestari antara lain : BOD5, COD, TSS, Minyak dan lemak, pH serta
logam Pb yang larut pada nira bekas analisa.

3. Limbah gas
Limbah gas terutama berupa gas buang yang berasal darii proses
pembakaran belerang berupa gas SO2 dan proses pembakaran boiler
berupa gas CO2. Dengan pemakaian ampas tebu sebagai bahan bakar
boiler, maka gas buang tersebut mengandung partikel-partikel abu dan
arang. Tolak ukur dalam bahan pencemaran udara adalah : partikel
padat/debu, SO2, CO, NO dan H2S.
Upaya yang dilakukan dalam penanggulangan emisi udara PG Lestari
antara lain :
 Penggantian platt casing/ducting dan chimney ketel yoshimine.
 Pembenahan alat transportasi abu ketel.
 Pemasangan water spray disekitar chute buangan ampas converyor.
 Penyiraman rutin tepi-tepi jalan penduduk disekitar pabrik dan
penanaman pohon di lokasi boiler sampai intake sungai brantas.
 Pemeliharaan secara terus menerus terhadap dust collector dan
peralatan penunjang lainnya, sehingga dapat bekerja lebih baik dan
efektif
 Meningkatkan efektifitas pembakaran ampas di dapur ketel agar proses
pembakaran dapat berjalan lebih baik dan sempurna.
 Penyiraman abu ketel dari dapur ketel agar apabila terkena angin besar
tidak menyebar ke areal sekitar.
 Pemasangan waring penangkap ampas halus di sekitar ketel.

SMK NEGERI 1 CERME Page 159


4. Limbah B3
Limbah B3 yang dihasilkan di PG Lestari hanya akan disimpan
sementara di TPS (Tempat Penampungan Sementara) yang berikutnya
akan diolah oleh PT TRIATA.
Upaya yang dilakukan dalam penanggulangan limbah B3 PG Lestari
antara lain :
 Mengambil minyak secara rutin setiap shift pada bak penangkap
minyak di stasiun gilingan dan dibakar bersama – sama ampas di boiler.
 Membuat tangki penampung/penyimpanan sementara minyak
pelumas/oli bekas dan diganti form A dan form B.
 Melakukan elektrolisa terhadap sisa nira dari analisa laboratorium yang
menggunakan bahan penjernih form A dan Form B.

Parameter yang umum digunakan untuk menetukan kadar pencemaran


limbah buangan pabrik gula adalah :
a. Secara fisika
 Temperatur.
 Jumlah padatan terlarut.
 Padatan tersuspensi.
 Zat yang terendap.
b. Secara kimia
 pH.
 Ammoniak.
 Nitrat.
 Nitrit.
 BOD (Biochemical Oxygen Demend).
 COD (Chemical Oxygen Demend).

Teknologi Pengolahan Limbah


Definisi pencemaran sendiri adalah apabila zat pencemar yang masuk
ke dalam suatu ekosistem dan melampaui batas toleransi dari kemampuan
ekosistem tersebut untuk dapat memulihkan dirinya kepada keseimbangan

SMK NEGERI 1 CERME Page 160


alamiahnya, maka ekosistem tersebut akan tercemar dan menjadi tidak
seimbang.
Untuk mengendalikan masalah limbah dan pencemarannya maka dibuat
peraturan dan Sertifikasi yang mengatur lingkungan hidup di Indonesia,
seperti :
 AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk
pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan
Pemerintah No.27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan).
 UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup) dan UPL (Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup) adalah upaya yang dilakukan dalam
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab
dan/atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL.
 Program Kali Bersih (PROKASIH) merupakan program yang ditujukan
untuk meningkatkan kualitas air sungai sehingga dapat memenuhi fungsi
air sungai tersebut sebagaimana mestinya.
 Program Langit Biru merupakan program yang bertujuan untuk
mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan
perilaku sadar lingkungan baik sumber tidak bergerak (industri) maupun
sumber bergerak (sepeda motor).
 ISO 14000 adalah standar internasional tentang sistem manajemen
lingkungan yang sangat penting untuk diketahui dan dilaksanakan oleh
seluruh sektor industri.
 PROPER, merupakan instrumen kebijakan alternatif untuk mendorong
penataan dan kepedulian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup
melalui penyebaran informasi tingkat kinerja penataan perusahaan kepada
publik dan stakeholder (public information discosure).

Kriteria peringkat dalam PROPER, yaitu :


a. Emas
1) Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang
dipersyaratkan

SMK NEGERI 1 CERME Page 161


2) Telah melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery)
3) Menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang berkesinambungan
4) Melakukan upaya-upaya yang berguna bagi kepentingan masyarakat
jangka panjang
b. Hijau
1) Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang
dipersyaratkan dan telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan
2) Mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat
3) Melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery)
c. Biru
Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan
sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku.
d. Merah
Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian
mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan.
e. Hitam
1) Belum melakukan upaya pengelolaan lingkungan
2) Secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan
sebagaimana yang diperyaratkan serta berpotensi mencemari
lingkungan

Dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri gula adalah :


a. Polusi pada bagan air akibat kontaminasi dan deoksigenasi oleh effluen
limbah cair apabila pabrik membuang langsung limbah atau tidak
ditangani secara memadai.
b. Bau menyengat akibat biodegradasi limbah dalam bentuk gas H2S
c. Kerusakan akibat dari penguraian sisa-sisa bahan buangan oleh
mikroorganisme, penumpukan bahan padat (seperti ampas) yang
menimbulkan leachate dan adanya perubahan pH
d. Suburnya tanaman ganggang sepanjang aliran sebagai akibat banyaknya
sisa-sisa nutrien seperti phospor dan nitrogen
e. Terganggunya fotosintesis pada ekosistem air karena tumpahan minyak ke
badan air

SMK NEGERI 1 CERME Page 162


f. Menurunnya kualitas udara karena emisi asap dan gas buang hasil
pembakaran ampas pada boiler
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK


INDONESIA
NOMOR 06 TAHUN 2013 TENTANG PROGRAM PENILAIAN
PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :
a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 43 ayat (3) huruf h Undang –
Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, perlu diberikan insentif dan disinsentif kepada penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan atas pencapaian kinerja dan ketaatan terhadap
peraturan perundang – undangan di bidang pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup serta pengelolaan limbah bahan berbahay dan
beracun;
b. bahwa Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2011
tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan
Lingkungan sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, sehingga perlu
dilakukan perubahan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan
huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang
Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan
Lingkungan Hidup;

Mengingat :
1. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5059);

SMK NEGERI 1 CERME Page 163


2. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan
Organisasi Kementrian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah, terkhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 141);
3. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementrian Negara serta susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon
I Kementrian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 2011 Nomor 142);
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Lingkungan Hidup sebagaiman diubah
dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 18 Tahun 2012 (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1067)

SMK NEGERI 1 CERME Page 164


4.2 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang
sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi
masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk
mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat, yang dapat
mengakibatkan kecelakaan. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang
dapat mengacaukan proses kerja dan menimbulkan kerugian

Tujuan K3 :
1. Melindungi para pekerja dan orang lain di tempat kerja.
2. Menjamin agar setiap sumber produksi dapat dipakai secara aman dan
efisien.
3. Menjamin proses produksi berjalan lancar.

Aspek penerapan K3 :
1. Perencanaan yang meliputi pemasangan, pemakaian, perawatan.
2. Pengendalian yang meliputi administratif, perijinan, standarisasi,
sertifikasi.

Dasar hukum K3 :
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga Kerjaan.
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI nomor Per-05/MEN/1996 tentang
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
5. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul
Akibat Hubungan Kerja.
6. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor Kep-186/MEN/1999 tentang
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.
7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor Kep-187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor Per-
15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
Tempat Kerja.

SMK NEGERI 1 CERME Page 165


9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor Per-
08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.
10. Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per-
13MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor
Kimia di Tempat Kerja.

Berdasarkan undang-undang Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja itu


diperuntukkan bagi seluruh pekerja yang bekerja di segala tempat kerja, baik
di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara,
yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Jadi
pada dasarnya, setiap pekerja di Indonesia berhak atas jaminan keselamatan
dan kesehatan kerja.

Indikator keselamatan dan kesehatan kerja (K3), meliputi :


1. Faktor manusia/pribadi
Faktor manusia meliputi, antara lain kurangnya kemampuan fisik, mental
dan psikologi, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, dan stress serta
motivasi yang tidak cukup.
2. Faktor kerja/lingkungan
Faktor kerja meliputi, tidak cukup kepemimpinan dan pengawasan,
rekayasa, pembelian/pengadaan barang, perawatan, standar-standar kerja
dan penyalah gunaan.

Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai indikator


tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) meliputi: faktor lingkungan
dan faktor manusia.Aspek-aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
meliputi :
1. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang atau karyawan
dalam beraktifitas bekerja. Lingkungan kerja dalam hal ini menyangkut
kondisi kerja, suhu, penerangan, dan situasinya.
2. Alat kerja dan bahan

SMK NEGERI 1 CERME Page 166


Alat kerja dan bahan merupakan hal yang pokok dibutuhkan oleh
perusahaan untuk memproduksi barang. Dalam memproduksi barang alat-
alat kerja sangatlah vital digunakan oleh para pekerja dalam melakukan
kegiatan proses produksi dan disamping itu adalah bahan-bahan utama
yang akan dijadikan barang.

3. Cara melakukan pekerjaan


Setiap bagian-bagian produksi memiliki cara melakukan pekerjaan
yang berbeda-beda yang dimiliki oleh karyawan. Cara-cara yang biasanya
dilakukan oleh karyawan dalam melakukan semua aktifitas pekerjaan.
Identifikasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja beserta pencegahannya,
kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :
 Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban pasien.
 Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu
sendiri.
Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari
peralatan, lingkungan kerja, proses kerja, sifat pekerjaan, cara kerja.
2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia,
yang dapat terjadi antara lain karena:
 Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana.
 Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect).
 Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
 Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik.

Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di tempat kerja :


1. Terpeleset, biasanya karena lantai licin. Terpeleset dan terjatuh adalah
bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi ditempat kerja kesehatan.
Akibat yang dapat terjadi adalah sebagai berikut :
 Ringan : memar
 Berat : fraktura, dislokasi, memar otak, dll.
Pencegahannya :
 Pakai sepatu anti slip.
 Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu longgar.

SMK NEGERI 1 CERME Page 167


 Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin)
atau tidak rata konstruksinya.
 Pemeliharaan lantai dan tangga
2. Mengangkat beban. Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup
berat, terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi.
Akibat yang dapat terjadi adalah terdapat cedera pada punggung.
Pencegahannya :
 Beban jangan terlalu berat
 Jangan berdiri terlalu jauh dari beban
 Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi
pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok
 Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat

Penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja di tempat


kerja kesehatan adalah :
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab
yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya
terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara
proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat
berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat
Kerja. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan
keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor
manusia juga (WHO).
Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Akibat Hubungan
Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. Menurut Komite Ahli WHO
(1973), Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah penyakit dengan penyebab
multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan
dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat,
mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit.
Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan
dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien);
faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti
antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati;
faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat pasien salah); faktor

SMK NEGERI 1 CERME Page 168


fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi,
radiasi dll); faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien, gawat
darurat, karantina dll).
1. Faktor Biologis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang
biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic,
colli, bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda
yang terkontaminasi dan udara. Virus yang menyebar melalui kontak
dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. B) dapat menginfeksi
pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya karena
tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. Angka kejadian
infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Secara
teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar, sebagai
contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali
lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi
petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak
dengan bahan yang tercemar kuman patogen, debu beracun mempunyai
peluang terkena infeksi.
Pencegahan :
 Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan,
epidemilogi dan desinfeksi.
 Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan
dalam keadaan sehat badani, punya cukup kekebalan alami untuk
bekerja dengan bahan infeksius, dan dilakukan imunisasi.
 Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang
benar.
 Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan
infeksius dan spesimen secara benar.
 Pengelolaan limbah infeksius dengan benar.
 Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
 Kebersihan diri dari petugas.
2. Faktor Kimia

SMK NEGERI 1 CERME Page 169


Petugas di tempat kerja kesehatan yang sering kali kontak dengan
bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, demikian pula dengan
solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan
dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau
lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka.
Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat
kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan
hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik
(trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap
melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan
kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan
jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar.

Pencegahan :
 ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada
untuk diketahui oleh seluruh petugas untuk petugas atau tenaga
kesehatan laboratorium.
 Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah
tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol untuk petugas/tenaga
kesehatan laboratorium.
 Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan,
celemek, jas laboratorium) dengan benar.
 Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata
dan lensa.
 Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.

3. Faktor Ergonomi
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat,
cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan
batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang
sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya.
Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua
pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the

SMK NEGERI 1 CERME Page 170


Man to the Job. Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan
Kesehatan pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis,
misalnya tenaga operator peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang
digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai
dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan
dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien
dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan
psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri
pinggang kerja (low back pain).

4. Faktor Fisik
Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah
kesehatan kerja meliputi:
 Kebisingan, getaran akibat alat/media elektronik dapat menyebabkan
stress dan ketulian.
 Pencahayaan yang kurang di ruang kerja, laboratorium, ruang
perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan
penglihatan dan kecelakaan kerja.
 Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja.
 Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar.Terkena
radiasi
 Khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan,
penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat
membahayakan petugas yang menangani.
Pencegahan :
 Pengendalian cahaya di ruang kerja khususnya ruang laboratorium.
 Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai.
 Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
 Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
 Pelindung mata untuk sinar laser.
 Filter untuk mikroskop untuk pemeriksa demam berdarah.

SMK NEGERI 1 CERME Page 171


5. Faktor Psikososial
Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat
menyebabkan stress :
 Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut
hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di tempat kerja kesehatan di
tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai
dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan.
 Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
 Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau
sesama teman kerja.Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra
kerja di sektor formal ataupun informal.

Pengendalian penyakit akibat kerja melalui penerapan keselamatan dan


kesehatan kerja :
1. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara
lain :
 UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas
kesehatan dan non kesehatan.
 UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
 Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.
 Peraturan penggunaan bahan–bahanberbahaya.
Peraturan/persyaratan pembuangan limbah dll.

2. Pengendalian melalui Administrasi/Organisasi (Administrative Control)


antara lain :
 Persyaratan penerimaan tenaga medis, para medis, dan tenaga non
medis yang meliputi batas umur, jenis kelamin, syarat kesehatan.
 Pengaturan jam kerja, lembur dan shift.
 Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure)
untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaannya.

SMK NEGERI 1 CERME Page 172


 Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama
untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan dan
melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan.
 Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja
dan mengupayakan pencegahannya.

3. Pengendalian secara teknis (Engineering Control)


 Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja.
 Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas
kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung).
 Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain

4. Pengendalian Melalui Jalur Kesehatan (Medical Control)


Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara
mengenal (recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat
tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan
pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu
sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Dengan deteksi dini, maka
penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan
mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja.
Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit
akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Pencegahan
sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang
meliputi :
1. Pemeriksaan Awal
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang
calon/pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai
melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan
mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi
kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan
kepadanya.

SMK NEGERI 1 CERME Page 173


Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :
 Anamnese umum
 Anamnese pekerjaan
 Penyakit yang pernah diderita
 Alergi
 Imunisasi yang pernah didapat
 Pemeriksaan badan
 Pemeriksaan laboratorium rutin
 Pemeriksaan tertentu
 Tuberkulin test
 Psikotest

2. Pemeriksaan Berkala
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala
dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko
kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak
waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup pemeriksaan disini
meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada
pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan
lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.

3. Pemeriksaan Khusus
Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu
pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada
keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di
sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern di Tempat
Kerja Kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga
harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di
sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan preventif. Misalnya untuk
mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja
atau masyarakat disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam mengenali
unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan
sebagainya.

SMK NEGERI 1 CERME Page 174


Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan
agar petugas, masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja
selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan
kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap
kesehatan masyarakat, memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan,
petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin
kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan
K3 tersebut.

Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau


pengelola tempat kerja kesehatan mempunyai peran sentral dalam
pelaksanaan program ini. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan
dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini harus
berpartisipasi secara aktif, bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan
sebagai subyek dari upaya mulia ini. Melalui kegiatan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja, diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang
bekerja di tempat kerja kesehatan dapat bekerja dengan lebih produktif,
sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada masyarakat dapat
ditingkatkan mutunya, menuju Indonesia Sehat 2010.

Hirarki Pengendalian Potensi Bahaya K3 :


1. Pengendalian teknis (Iengineering control)
2. Eliminasi
3. Subtitusi
4. Isolasi
5. Perubahan proses
6. Ventilasi
7. Pengendalian administrasi
8. Pengurangan waktu kerja
9. Rotasi, mutasi
10. Alat pelindung diri

SMK NEGERI 1 CERME Page 175


Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja maka diperlukan Alat Pelindung
Diri (APD). Alat pelindung diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh
tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Alat pelindung
diri dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja
apabila usaha rekaya (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan
dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha
tersebut, melainkan sebagai usaha terakhir. Beberapa alat pelindung diri
yang digunakan di PG Lestari :

1. Safety Helmet
Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai
kepala secara langsung.

SMK NEGERI 1 CERME Page 176


2. Sabuk Keselamatan (safety belt)
Berfungsi sebagai alat pengaman ketika berada diatas ketinggian.

3. Sepatu Karet (sepatu boot)


Berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek
ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk
melindungi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia,
dsb.

4. Sepatu pelindung (safety shoes)


Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari
karet tebal dan kuat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang

SMK NEGERI 1 CERME Page 177


menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas,
cairan kimia, dsb.

5. Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat
atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk
sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan.

6. Tali Pengaman (Safety Harness)


Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan
menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter.

SMK NEGERI 1 CERME Page 178


7. Penutup Telinga (Ear Plug/Ear Muff)
Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang
bising.

8. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)


Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).

9. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat
dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

SMK NEGERI 1 CERME Page 179


10. Pelindung wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat
bekerja(misal pekerjaan menggerinda)

Secara teknis APD tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuh tetapi
akan dapat meminimalisasi tingkat keparahan kecelakaan atau keluhan yang
terjadi. Dengan kata lain, meskipun telah menggunakan APD upaya
pencegahan kecelakaan kerja secara teknis, teknologis yang paling utama.
APD dipakai apabila usaha rekayasa (engineering) dan cara kerja yang aman
(work praktis) telah maksimum.

Dalam penggunaan APD masih memiliki beberapa kelemahan seperti :


a. Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna
b. Tenaga kerja tidak merasa aman
c. Komunikasi terganggu

Adapun jenis – jenis Alat Pelindung diri yang digunakan yaitu :


1. Alat pelindung kepala
 Topi pengaman (safety helmet), untuk melindungi kepala dari benturan
atau pukulan benda – benda
 Topi/Tudung, untuk melindungi kepala dari api, uap, debu, kondisi
iklim yang buruk
 Tutup kepala, untuk melindungi kebersihan kepala dan rambut

SMK NEGERI 1 CERME Page 180


2. Alat pelindung telinga (earprotector)
 Sumbat telinga (ear plug) : dapat mengurangi intesitas suara 10
s/d 15 dB
 Tutup telinga (ear muff) : dapat mengurangi intensitas suara
20 s/d 30 dB

3. Alat pelindung muka dan mata (face shield)


 Kaca mata biasa
 Goggles
4. Alat perlindungan pernafasan
 Respirator yang sifatnya memurnikan udara
 Respirator yang dihubungkan dengan supply udara bersih
 Respirator dengan supply oksigen
5. Pakaian kerja
Pakaian kerja khusus untuk pekerjaan dengan sumber-sumber bahaya
tertentu seperti :
 Terhadap radiasi panas
 Terhadap radiasi mengion
Pakaian pelindung dipakai pada tempat kerja tertentu misalnya Apron
(penutup/menahan radiasi), yang berfungsi untuk menutupi sebagian atau
seluruh badan dari panas, percikan api, pada suhu dingin, cairan kimia, oli,
dari gas berbahaya atau beracun, serta dari sinar radiasi.
6. Tali/sabuk pengaman
Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya
digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup
atau boiler.
7. Sarung Tangan
Fungsinya melindungi tangan dan jari – jari dari api, panas, dingin, radiasi,
listrik, bahan kimia, benturan dan pukulan, lecet dan infeksi.
8. Pelindung kaki
Fungsinya untuk melidungi kaki dari tertimpah benda – benda berat,
terbakar karena logam cair, bahan kimia, tergelincir, tertusuk.

SMK NEGERI 1 CERME Page 181


Syarat-syarat APD yang digunakan :
1. Nyaman digunakan
2. Tidak mengganggu aktifitas kerja
3. Memberikan perlindungan yang efektif sesuai dengan jenis bahaya tempat
kerja.
Identifikasi bahaya :
1. Sebelum memulai suatu pekerjaan harus dilakukan identifikasi bahaya
guna mengetahui potensi bahaya dalam setiap pekerjaan
2. Identifikasi bahaya dilakukan bersama pengawas pekerjaan dan safety
departement
3. Semua hasil identifikasi bahaya harus didokumentasikan dengan baik dan
dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan setiap kegiatan
Penentuan faktor resiko :
Sifat pekerjaan, lokasi kerja, potensi bahaya ditempat kerja, potensi
kualifikasi kontraktor,lamanya pekerjaan, pengalaman dan kehlian kontraktor.

Analisis kecelakaan :
Bertujuan menemukan faktor penyebab utamanya dan menentukan tidakan
pencegahan terjadinya peristiwa yang sama
A. Akibat kecelakaan
Korban manusia : meninggal, luka berat, luka ringan
Kerugian material : bangunan, peralatan, bahan baku, bahan setengah
jadi, bahan jadi.
B. Sumber kecelakaan
Mesin produksi, permukaan lantai kerja, bahan mudah terbakar, bahan
kimia, peralatan listrik, debu,dll
C. Type kecelakaan
Terbentur, terpukul, jatuh, tergelincir, terpapar, tersengat
D. Kondisi bahaya
Pengamanan yang tidak sempurna, peralatan yang rusak, penerangan tidak
sempurna, prosedur yang salah, dll

SMK NEGERI 1 CERME Page 182


E. Tidakan berbahaya
Melakukan pekerjaan tanpa wewenag, membuat alat pengaman tidak
berfungsi, memakai peralatan yang tidak aman, melakukan proses yang
tidak aman, menggangu pekerjaan orang lain, melalaikan penggunaan alat
pelindung diri yang ditentukan, dll
Pencegahan kecelakaan kerja :
1. Peraturan
2. Standarisasi
3. Pengawasan
4. Penelitian teknik
5. Penelitian medis
6. Penelitian psikologis
7. Penelitian statistik
8. Pendidikan
9. Pelatihan
10. Persuasi
11. Asuransi
12. Penerangan 1 s/d 11

Pencegahan kecelakaan akibat faktor manusia :


1. Pemilihan tenaga kerja
2. Pelatihan sebelum mulai kerja
3. Pembinaan dan pengawasan selama kegiatan berlangsung

Pencegahan kecelakaan akibat faktor teknis :


1. Perencaan kerja yang baik
2. Pemeliharaan dan peratan peralatan
3. Pengawasan dan pengujian peralatan kerja
4. Pengguanaan metoda dan teknik krontruksi yang aman
5. Penerapan sistim manajemen mutu

SMK NEGERI 1 CERME Page 183


BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan kegiatan praktek industri adalah sebagai berikut :
1. Bahan baku pembuatan gula yang digunakan di PG Lestari adalah tebu.
2. PTPN X PG Lestari memproduksi gula jenis SHS sebanyak 484.174
ku/hari. Jumlah tebu yang akan digiling sekitar 5.893.170 ku dengan
kapasitas giling sekitar 40.000 ku/hari dan tebu harus mempunyai rendemen
8,20 %.
3. Stasiun proses dapat diklarifikasikan dalam 7 tahap yaitu : stasiun
pendahuluan (emplasement), stasiun gilingan, stasiun pemurnian, stasiun
penguapan, staisun masakan, stasiun pemutaran, stasiun penyelesaian.
4. Hasil utama PG Lestari adalah gula SHS (kristal putih) dan tetes yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan MSG dan alkohol.
5. Pengendalian dan penetapan mutu dilakukan analisa di laboratotium.
6. Di PG Lestari limbah yang dihasilkan dari proses produksi dimanfaatkan
kembali dan limbah tersebut antara lain : Blotong, ampas tebu, abu kering,
abu basah. Pengolahan limbah dilakukan dengan menganalisa di
laboratorium supaya limbah yang dibuang tidak mencemari dan merusak
lingkungan disekitar lokasi pabrik.

5.2 SARAN
Beberapa saran yang dapat kami berikan demi peningkatan dari kualitas
produksi :
1. Kebersihan di lingkungan pabrik lebih ditingkatkan.
2. Meningkatkan kualitas mengenai teori kesehatan dan keselamatan kerja.
3. Hendaknya stasiun gilingan mendapatkan perhatian khusus untuk
melakukan perawatan secara periodik.
4. Dilakukan penggantian alat-alat yang dirasa sudah tidak dapat beroperasi
secara maksimal lagi.
5. Sebaiknya dilakukan perawatan khusus untuk peralatan laboratorium.

SMK NEGERI 1 CERME Page 184