Anda di halaman 1dari 9

Tugas Remidial Manajemen Farmasi

Perbandingan Analisa Beban Kerja Metode WISN


dengan Metode Full Time Equivalent (FTE)

Disusun Oleh:

1. Baddriyasti 17040262

2. Firmansyah 17040262
3. Nurmana Eka Saputra 1704026238
4. Sarasti Widyani 1704026274

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
2018
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, disebutkan
bahwa tenaga kesehatan adalah komponen terpenting dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan Indonesia yang setinggitingginya. Untuk itu, perencanaan sumber daya manusia
kesehatan perlu ditatalaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan dinamika dan
perkembangan serta kebutuhan masyarakat. Astiena AK (2015) menyebutkan bahwa beban kerja
tenaga kesehatan adalah banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh tenaga kesehatan
profesional dalam satu tahun dalam satu sarana pelayanan kesehatan.

Menurut Astiena AK (2015), terdapat beberapa metode penghitungan beban kerja, yaitu
Work Sampling, Time and Motion Study, Daily Log, dan Workload Indicators of Staffing Need
(WISN). Metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) merupakan suatu metode
perhitungan yang menghasilkan gambaran beban kerja sekaligus jumlah kebutuhan tenaga
sumber daya manusia berdasarkan kegiatan pokok pada suatu kategori SDM. Metode ini dinilai
lebih mudah untuk dilakukan karena untuk melaksanakannya, tidak diperlukan kompetensi
tertentu, sehingga memungkinkan bagi siapa saja untuk melaksanakannya.

Definisi WISN
Work Load Indicator Staff Need (WISN)/indikator kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja
adalah indikator yang menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga pada sarana kesehatan
berdasarkan beban kerja, sehingga alokasi/ relokasi akan lebih mudah dan rasional (MENKES
RI, 2004). Metode WISN digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan
beban kerja tenaga kesehatan dengan standar aktivitas yang diterapkan pada setiap komponen
kegiatan (WHO, 2010).Kebutuhan jumlah tenaga kesehatan didapatkan dari hasil kuantitas
kegiatan pokok, standar beban kerja (berdasarkan aktivitas tugas pokok), dan standar
kelonggaran.
Definisi Full Time Equivalent (FTE)
Full Time Equivalent (FTE) merupakan salah satu metode analisis beban kerja yang
dilakukan dengan membandingkan waktu penyelesaian pekerjaan dan waktu kerja yang tersedia
secara subjektif. Pengukuran nilai FTE dilakukan dengan menghitung beban kerja semua
pegawai dalam satu unit kerja pada periode tertentu. Metode FTE digunakan untuk mengukur
beban kerja suatu organisasi selama satu tahun dan untuk mengukur semua aktivitas pekerjaan
berdasarkan deskripsi pekerjaan yang ada. Nilai yang didapatkan menunjukkan beban kerja dan
juga jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan (Supriyatna, 2013). FTE
bertujuan menyederhanakan pengukuran kerja dengan mengubah jam kerja ke jumlah orang
yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu menurut Zimmerman 2002 (dalam
Adawiyah, 2013).

A. Penjabaran masing-masing metode dalam menghitung beban kerja


 Metode WISN

Langkah-Langkah perhitungan kebutuhan tenaga


Berdasarkan metode WISN adalah (Depkes, 2004) :
1. Menetapkan waktu kerja tersedia
Menetapkan waktu kerja tersedia bertujuan agar diperolehnya waktu kerja efektif
selama satu tahun untuk masing-masing kategori SDM yang bekerja di suatu unit atau
institusi rumah sakit. Rumus penetapan waktu kerja tersedia adalah sebagai berikut:
Waktu Kerja Tersedia = {A-(B+C+D+E)} x F
Keterangan :
A = Hari Kerja, sesuai dengan peraturan atau ketentuan yang berlaku di rumah sakit
B = Cuti tahunan, sesuai ketentuan hak SDM (12 hari kerja)
C = Pendidikan dan Pelatihan, sesuai ketentuan yang berlaku di rumah sakit
D = Hari libur nasional berdasarkan keputusan bersama menteri terkait tentang hari libur
nasional.
E = Ketidakhadiran kerja karena alasan sakit, tidak masuk dengan atau tanpa
pemberitahuan/ijin
F = Waktu kerja, sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit

2. Menetapkan unit kerja dan kategori SDM yang dihitung


Tujuan ditetapkannya unit kerja dan kategori SDM yang dihitung adalahdiperolehnya
unit kerja dan kategori SDM yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan
pelayanan kesehatan perorangan pada pasien, keluarga, dan masyarakat di dalam dan di luar
rumah sakit. Data dan informasi yang dibutuhkan untuk penetapan unit kerja dan kategori
SDM didapatkan dari:
a. Data pegawai berdasarkan pendidikan yang berkerja pada tiap unit kerja di rumah sakit
b. Peraturan perundang-undangan berkaitan dengan jabatan fungsional SDM Kesehatan
c. Standar Profesi, Standar pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP) pada tiap unit
kerja rumah sakit.

3. Menyusun standar beban kerja


Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama satu tahun per
kategori SDM. Standar beban kerja untuk suatu kegiatan pokok disusun berdasarkan waktu
yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya (rata-rata waktu) dan waktu kerja tersedia yang
dimiliki oleh masing-masing kategori SDM. Rumus standar beban kerja adalah:
𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐝𝐢𝐚
𝐒𝐭𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 =
𝐑𝐚𝐭𝐚 − 𝐫𝐚𝐭𝐚 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐧 − 𝐊𝐞𝐠𝐢𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐤𝐨𝐤
4. Menyusun standar kelonggaran
Penyusunan standar kelonggaran bertujuan untuk diperolehnya faktor-faktor
kelonggaran setiap kategori SDM, meliputi jenis kegiatan dan kebutuhan waktu untuk
menyelesaikan suatu kegiatan yang tidak terkait langsung atau dipengaruhi tinggi rendahnya
kualitas atau jumlah kegiatan pokok/pelayanan.Penyusunan standar kelonggaran dapat
dilaksanakan melalui pengamatan dan wawancara kepada setiap kategori tentang:
a. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan, contoh: rapat,
pelatihan, mengikuti seminar, penyusunan laporan kegiatan, menyusun kebutuhan obat dan
barang habis pakai, dll.
b. Frekuensi tiap faktor kegiatan dalam satuan hari, minggu dan bulan.
c. Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan setelah faktor
kelonggaran tiap kategori SDM diperoleh, langkah selanjutnya adalah menyusun standar
kelonggaran dengan melakukan perhitungan berdasarkan rumus:
𝐑𝐚𝐭𝐚−𝐫𝐚𝐭𝐚 𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫−𝐅𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐊𝐞𝐥𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐧
𝐒𝐭𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐥𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐧 =
𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐝𝐢𝐚

5. Menghitung kebutuhan tenaga per-unit kerja


Perhitungan kebutuhan SDM per unit kerja memiliki tujuan untuk diperolehnya
jumlah dan jenis/kategori SDM yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan
wajib dan upaya pengembangan selama kurun waktu satu tahun. Rumus Perhitungan
kebutuhan SDM per unit kerja :
𝐊𝐮𝐚𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐊𝐞𝐠𝐢𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐤𝐨𝐤
𝐊𝐞𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 = + 𝐒𝐭𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐥𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐧
𝐒𝐭𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚
 Metode Full Time Equivalent (FTE)
Langkah-langkah dalam dalam melakukan analisis beban kerja menggunakan metode
FTE dengan cara membuat tabel aktivitas dan waktu kerja. Tabel aktivitas kerja mengenai
deskripsi pekerjaan dan waktu yang dibutuhkan pekerja untuk menyelesaikan aktivitas
tersebut dalam 1 periode kerja. Data beban kerja tersebut diperoleh dari daily log. Daily log
dipilih karena metode ini digunakan untuk mengetahui beban kerja yang berhubungan
dengan kegiatan administrasi sehingga, memudahkan pekerja untuk menulis sendiri kegiatan
dan waktu yang digunakan dalam melakukan pekerjaan. Selanjutnya dilakukan wawancara
untuk memastikan kembali uraian kegiatan yang telah dicatat pada lembar daily log. Proses
ini mencegah terjadinya kesalahan perhitungan dikarenakan adanya uraian kegiatan yang
belum tercatat.
Langkah kedua yaitu, menghitung total waktu kerja yang tersedia tiap kategori SDM
yang ada di suatu unit kerja. Langkah ketiga adalah menghitung beban kerja tahunan
berdasarkan data uraian pekerjaan dan alokasi waktu yang tercatat pada daily log dengan
menjumlahkan seluruh waktu kerja yang dibutuhkan selama periode tertentu. Langkah
selanjutnya yaitu, menghitung waktu kelonggaran. Waktu kelonggaran adalah waktu kerja
yang digunakan untuk keperluan pribadi, seperti pergi ke toilet, beribadah, makan siang dan
istirahat. Langkah terakhir yaitu menghitung Nilai Indeks FTE berdasarkan rumus:

FTE = Total Waktu Kerja rill/tahun


Waktu kelonggaran/tahun
Total waktu kerja riil per tahun didapatkan dari perhitungan beban kerja tahunan.
Sedangkan, total waktu kerja tersedia didapatkan dari jumlah hari kerja tersedia tiap kategori
SDM yang dikalikan dengan jam kerja tiap kategori SDM. Berdasarkan pedoman analisis
beban kerja yang dikeluarkan oleh Badan Kepegawaian Negara pada tahun 2010, indeks nilai
FTE yang antara 1,00–1,28 memiliki arti bahwa beban kerja masih dalam batas normal.
Indeks nilai FTE >1,28 memiliki arti bahwa beban kerja diatas normal atau overload dan jika
indeks nilai FTE. Indeks nilai FTE dapat dikonversikan menjadi standar jumlah tenaga kerja
yang dibutuhkan, yaitu bila indeks nilai FTE >1,28 maka jumlah orang yang dibutuhkan
adalah 2 orang. Indeks nilai FTE >2,56 membutuhkan 3 orang tenaga kerja dan seterusnya
(Sugiono & Palit, 2016). Implikasi dari nilai FTE terbagi menjadi 3 jenis yaitu overload,
normal dan underload. Beban kerja yang terlalu berat atau terlalu ringan akan mengakibatkan
terjadi inefi siensi kerja. Beban kerja berlebih (overload) mengindikasikan bahwa jumlah
tenaga yang dipekerjakan tidak sesuai dengan beban kerja yang diterima sehingga dapat
memicu terjadinya kelelahan fi sik dan juga psikologis yang nantinya akan berdampak pada
produktivitas tenaga kerja. Beban kerja yang terlalu rendah (underload) mengindikasikan
bahwa jumlah tenaga yang dialokasikan terlalu banyak sehingga perusahaan harus
mengalokasikan biaya untuk gaji karyawan lebih banyak yang menyebabkan terjadinya
inefisiensi biaya (Wardanis, 2018).
B. Kelebihan dan kekurangan metode WISN dan metode FTE
1. Kelebihan Metode WISN

Keunggulan metode ini mudah dioperasikan, mudah digunakan, secara teknis mudah
diterapkan, komprehensif dan realistis. Keunggulan metode WISN adalah (Depkes, 2004):
a. Mudah dilaksanakan karena menggunakan data yang dikumpulkan atau didapat dari
laporan kegiatan rutin masing-masing unit pelayanan.
b. Mudah dalam melakukan prosedur perhitungan, sehingga manajer kesehatan di semua
tingkatan dapat memasukkannya ke dalam perencanaan kesehatan.
c. Hasil perhitungannya dapat segera diketahui, sehingga dapat segera dimanfaatkan hasil
perhitungan tersebut oleh para manajer kesehatan di semua tingkatan dalam mengambil
kebijakan atau keputusan/kebijakan.
d. Metode perhitungan ini dapat digunakan bagi berbagai jenis ketenagaan, termasuk tenaga
non kesehatan.
e. Hasil perhitungannya realistis, sehingga memberikan kemudahan dalam menyusun
perencanaan anggaran dan alokasi sumber daya lainnya.

2. Kekurangan Metode WISN

Perhitungan kebutuhan tenaga medisd an non medis berdasarkan beban kerja dilakukan
oleh Rumah Sakit Bedah Surabaya menggunakan metode WISN. Penelitian yang dilakukan
oleh Permatasari & Pudjirahardjo (2015) menyebutkan bahwa perhitungan beban kerja
menggunakan metode WISN umumnya menggunakan data sekunder yang mungkin belum
dijamin kelengkapannya sehingga dapat menimbulkan kurangnya data yang dianalisis dan
memberikan hasil yang kurang akurat. Kelemahan utama melakukan perhitungan beban kerja
dengan metode WISN adalah sangat tergantung pada kelengkapan dan keakuratan data.
Adanya uraian tugas atau pun kegiatan riil yang tidak tercatat dan tidak masuk keperhitungan
dapat memberikan hasil kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit. Selain itu, penerapan
metode WISN tidak memperhatikan produktivitas kerja dari tenaga yang ada sehingga
pekerjaan yang terhitung belum tentu sampai pada menghasilkan pelayanan yang optimal.
Perlu dilakukan perhitungan beban kerja obyektif untuk melihat kesesuaian beban kerja yang
terjadi di lapangan. Adanya ketidaksesuaian antara hasil perhitungan kebutuhan tenaga di
unit Rekam Medis berdasarkan metode WISN dengan jumlah tenaga yang ada di lapangan
menuntut adanya perhitungan menggunakan metode lain sebagai perbandingan.

3. Kelebihan Metode FTE

FTE merupakan metode yang umumnya digunakan untuk mengatur efektivitas dan
efisiensi tenaga kerja berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan. FTE dapat diterapkan untuk
menghitung beban kerja karyawan di semua sektor, termasuk sector kesehatan. Metode FTE
telah banyak diaplikasikan untuk menghitung kebutuhan tenaga medis seperti dokter ataupun
tenaga kesehatanl ain seperti perawat, bidan dan juga petugas rekam medis.

FTE dilakukan dengan menganalisis, mengambil keputusan dan


mengimplementasikan proses yang menentukan jumlah pegawai yang dibutuhkan. Beberapa
hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan perhitungan beban kerja dan
kebutuhan tenaga menggunakan metode FTE yaitu spesifikasi proses kinerja, standar beban
kerja untuk suatu proses atau aktivitas dan jumlah jam kerja pada suatu posisi pekerjaan
(Susilo & Yustiawan, 2015). Implikasi dari nilai FTE terbagi menjadi 3 jenis yaitu overload,
normal dan underload. Beban kerja yang terlalu berat atau terlalu ringan akan mengakibatkan
terjadi inefi siensi kerja. Beban kerja berlebih (overload) mengindikasikan bahwa jumlah
tenaga yang dipekerjakan tidak sesuai dengan beban kerja yang diterima sehingga dapat
memicu terjadinya kelelahan fi sik dan juga psikologis yang nantinya akan berdampak pada
produktivitas tenaga kerja. Beban kerja yang terlalu rendah (underload) mengindikasikan
bahwa jumlah tenaga yang dialokasikan terlalu banyak sehingga perusahaan harus
mengalokasikan biaya untuk gaji karyawan lebih banyak yang menyebabkan terjadinya
inefisiensi biaya (Wardanis, 2018).
4. Kekurangan Metode FTE

Kendala yang terjadi selama pelaksanaan analisis beban kerja menggunakan metode FTE
dengan instrument berupa daily log adalah terdapat beberapa kegiatan yang tidak tercatat
pada daily log dan juga membutuhkan kejujuran dari petugas mengenai apa saja kegiatan
yang dilakukan dan lama waktu pelaksanaan kegiatan yang dapat memengaruhi hasil
perhitungan

C. Pembahasan mengenai metode analisa beban kerja yang paling baik antara WISN dan
FTE
WISN umumnya menggunakan data sekunder yang mungkin belum dijamin
kelengkapannya sehingga dapat menimbulkan kurangnya data yang dianalisis dan
memberikan hasil yang kurang akurat. Perhitungan beban kerja dengan metode WISN adalah
sangat tergantung pada kelengkapan dan keakuratan data. Adanya uraian tugas ataupun
kegiatan riil yang tidak tercatat dan tidak masuk ke perhitungan dapat memberikan hasil
kebutuhan tenaga kerja yang lebih sedikit. Selain itu, penerapan metode WISN tidak
memperhatikan produktivitas kerja dari tenaga yang ada sehingga pekerjaan yang terhitung
belum tentu sampai pada menghasilkan pelayanan yang optimal. Perlu dilakukan perhitungan
beban kerja obyektif untuk melihat kesesuaian beban kerja yang terjadi di lapangan. Adanya
ketidaksesuaian antara hasil perhitungan kebutuhan tenaga di unit Rekam Medis.
Berdasarkan metode WISN dengan jumlah tenaga yang ada di lapangan menuntut
adanya perhitungan menggunakan metode lain sebagai perbandingan. FTE merupakan
metode yang umumnya digunakan untuk mengatur efektivitas dan efisiensi tenaga kerja
berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan. FTE dapat diterapkan untuk menghitung beban
kerja karyawan di semua sektor, termasuk sektor kesehatan. FTE dilakukan dengan
menganalisis, mengambil keputusan dan mengimplementasikan proses yang menentukan
jumlah pegawai yang dibutuhkan. Metode FTE telah banyak diaplikasikan untuk menghitung
kebutuhan tenaga medis seperti dokter ataupun tenaga kesehatan lain seperti perawat, bidan
dan juga petugas rekam medis.
DAFTAR PUSTAKA

Adawiyah, W. & Sukmawati, A., 2013. Analisis beban Kerja Sumber Daya manusia dalam
Aktivitas Produksi Komoditi Sayuran Selada (Studi Kasus:CV Spirit wira Utama). Jurnal
Manajemen dan Organisasi, IV (2), pp. 128-143.
Astiena AK. Manajemen Sumber Daya Manusia Kesehatan. Padang: Andalas University Press;
2015.

Sari, W.O.S.R., Sakka, A. & Paridah. 2017. Analisis Beban Kerja dengan Metode Full Time
Equivalent (FTE) pada Dokter Umum di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 2(6),
pp. 1–9.

Sugiono, H.S. & Palit, H.C., 2016. Penentuan Jumlah Tenaga Kerja pada Departemen MPC: A
Case Study. Jurnal Tirta, 4 (2), pp. 223–228.

Supriyatna, Y. 2013. Analisis Kesesuaian Antara Beban Kerja terhadap Jumlah SDM SAP
Operasional Divisi Information Technology Shared Services: Studi Kasus PT XYZ,
Depok: Universitas Indonesia.
Wardanis, D. T. 2018. Analisis Beban Kerja Tenaga Rekam Medis Rumah Sakit Bedah Surabaya
Menggunakan Metode FTE. Surabaya. Jurnal Ilmiah. 6 (1). Hal. 1-8.