Anda di halaman 1dari 39

ANALISIS PERBANDINGAN LEVEL PENERIMAAN

SINYAL WIFI PADA ANTENA YAGI

SKRIPSI

Oleh:

LA ODE MUHAMMAD YAMIN


E1D1 13 044

JURUSAN TEKNIK ELEKRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi telekomunikasi berkembang begitu cepat

seiring dengan perkembangan pengetahuan.Salah satu perkembangan

teknologi ini adalaah perkembangan teknologi komunikasi.Manusia

berkomunikasi kapan dan dimana saja dan dengan siapa saja tidak lagi

membutuhkan waktu lama karena didukung dengan teknologi canggih.

Kecanggihan teknologi komunikasi diantaranya telepon genggam atau

adalah HP (Hand Phone) yang awalnya hanya bisa dipakai untuk mengirim

pesan teks atau sms (Sort Massage Sistem) dan menelepon kini bisa

berkomunikasi tatap muka (Video Call) dan internetan berbasis IP (Internet

Protocol), perkembangan teknologi kabel yang mampu mentransfer data

dengan cepat.

Contoh lain adalah perkembangan alat komunikasi jaringan nirkabel

(wireless) yang kecepatan awal hanya berkisar 11 Kbps kini mampu sampai

54 Mbps bahkan lebih.teknologi wireless memungkinkan sebagai penunjang

dalam kelancaran berkomunikasi. Teknologi ini banyak dipakai selain,

selain mudah, juga harganya murah serta efisien karena tidak memerlukan

kabel sebagai media konfigurasi jaringan.Teknologi wireless banyak di

implementasikan pada alat komunikasi seperti telepon genggam, Tablet,

computer pribadi (laptop), bahkan media penghubung antara daerah-daerah

yang memungkinkan jaringan kabel yang tidak memungkinkan digunakan.

1
2

Selain itu teknologi nerkabelmenggunakansaluran yang cepat melalui

gelombang radio yang menjadi salah satu teknologi nirkabeldibading

dengan yang lain seperti Bluetooth.

Tentunya teknologi wireless ini selain mempunyai kelebihan yang

dimilikinya, masih ada kekurangan-kekurangan dari setiap produk yang

dikembangkan. Diantara kekurangannya yaitu access point dari sebuah wifi

memiliki radius yangmasihterbatas.Untuk mengatasi ini dibutuhkan antena

dalam memberikan jangkauan yang lebih efisien dan baik terhadap

penerimaan sinyal wifi yang diarahkan ke access point.

Antena tidak hanya digunaan pada media menghubungkan internet

tetapi juga antena bisa digunakan sebagai penyiaran radio, pesawat televisi,

dan radar atmosphere.Dalammembatupekerjan manusia Teknologi antena

yang dijual di pasaran baik jenis dan jumlahnya banyak seperti antena Yagi,

omni, parabola, helix, dan lain-lain.masing-masing mempunyai karakteristik

yang berbeda-beda.

Dalam dunia telekomunikasi terdapat dua jenis antena directional

yang dapat dibuat secara homemade dengan bahan-bahan yang mudah

ditemukan, salah satu antena ini yaitu antena Yagi.Antena ini memiliki pola

radiasi directional dan dapat diaplikasikan sebagai receiver pada sebuah

peralatan komuniksi. Antena ini dirancang agar bisa bekerja pada frekuensi

2.4 GHz yang mana merupakan standar dari protocol IEEE802.11/b/g/n

untuk wireless LAN [1].


3

Dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “ANALISIS PERBANDINGAN LEVEL

PENERIMAAN SINYAL WIFI PADA ANTENA YAGI”.Penelitian ini

akanmembandikan elemen director dari antena Yagi dalam kemampuannya

menerima wifi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka penulis merumuskan masalah

sebagai berikut:

1. Apakah ada perbedaan level penerimaan sinyawifibahanAluminium,

besi, Stainless, Tembaga, Plastik dan Kayu?

2. Bahan elemen manakah yang baik untuk penerimaan sinyal

wifiberbahan dari Aluminium, besi, Stainless, Tembaga, Plastik dan

Kayu ditinjau dari kekuatan penerimaan sinyal wifi, dan karakteristik

antena yang dirancang?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perbandingan level penerimaan sinyal

wifiyangelemenyaberbahan dari Aluminium, besi, Stainless, Tembaga,

Plastik dan Kayu.

2. Untuk mengetahui bahan yang baik penerimaan sinyal wifiberbahan dari

Aluminium, Besi, Stainless, Tembaga, Plastik dan Kayu ditinjau dari

kekuatan penerimaan sinyal wifi, dan karakteristik antena yang

dirancang.
4

1.4 Manfaat Pelelitian

Manfaat yang didapat dalam penelitian ini adalah.

1. Bagi mahasiswa pada umumnya dapat dijadikan sebagai bahan rerefensi

untuk selanjutnya bagi yang menyelesaikan tugas akhir mengingat

mahasiswa yang mengambil tentang antena masih sedikit

2. Memberikan pengetahuan kepada siapa saja yang mau merancang

antena Yagi yang elemen directornya bahan yang baik akan digunakan.

3. bagi penulis disamping sebagai syarat tugas akhir, manfaat yang didapat

adalah menambah ilmu pengetahuan.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika yang dipakai dalam penelitian ini adalah :

1. BAB I Pendahuluan menyangkut Latar belakang mengambil penelitian

ini, Rumusan masalah, tujuan, Manfaat, serta Sistematika Penulisan

penelitian.

2. BAB II adalah yang berhubungan dengan Landasan Teori dari Judul

Penelitian yang diambil dan Penelitian yang relevan.

3. BAB III membahas mengenai metode yang digunakan dalam penelitian

ini.

4. BAB IV membahas hasil penelitian yang sesuai dengan Bab-bab

sebelumnya.

5. BAB V adalah penutup, di bab ini ada dua sub pembahasan yaitu

Kesimpulan mengenai Penelitian dan Saran untuk untuk bagi yang

menjadikan penelitian ini sebagai acuan atau referensi kedepan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian yang relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Gali EndangPratomo dari Program Studi

Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura dengan judul

penelitian yang dilakukan adalah pengaruh material dalam perancangan

reflector antena bolic untuk meningkatkan daya terima wifi. Dalam

penelitian yang dilakukan adalah menguji jenis material reflector antena

bolic yaitu aluminium, kawat karsa, tripleks, plastic dan semen.

Parameter yang dipakai adalah untuk mengetahui daya penguatan (gain).

Dari haril penelitiannya bahan yang baik digunakan adalah kawat karsa

dalam penangkapan sinyal wifi untuk jarak 50, 75, dan 100 meter dan

aluminium di atas 100 meter. Kesimpulan yang ditarik dalam

penelitiannya adalah penggunaan berbagai bahan reflector berpengaruh

terhapap penggunaan signal strength[2].

2. Penelitian yang dilakukan oleh Made Wirayana dan KadekAmertaYarsa

dari jurusan teknik elektro Politeknik Negeri Bali dengan judul

penelitian adalah perbedaan kuat sinyal penerimaan sinyal wifi 2.4 GHz

pada antena homebrewwajanbolicberbahan reflector aluminium cor dan

berbahan reflector besi. Dalam penelitiannya melakukan pengujian (1)

perbedaan kuat sinyal penerimaan sinyal wifi2.4 GHz, (2), mengetahui

bahan refectorantenhomebriewwajanbolic yang memerikan rata-rata

kuat sinyal penerimaan sinyal wifi 2,4 GHz yang lebih baik, hasil dari

5
6

penelitiannya adalah (1) terdapat perbedaan signifikan kuat sinyal

penerimaan sinyal wifi 2,4 GHz pada antena wajanbolic, (2) jenis

wajanbolic dengan berbahan reflector aluminium cor rata-rata kuat

sinyal penerimaan sinyal wifi 2,4 GHz lebih baik dari pada antena

wajanbolic dengan bahan reflector berbahan besi [3].

3. Penelitian yang dilakukan oleh Teguh Aryanto dari Jurusan Teknik

Elektro Universitas Diponegoro Semarang, dengan judul Simulasi

Perbandingan Antena MikrostripRectangularpatch dan

CircangularpatchmenggunankanSoftwareMatlab. Dalam penelitiannya

merancang antena dengan varian 5 bahan substrat yaitu Bakelite, FR4

Glass Epoxy, RO4003, Tectonic TLC, dan dan RT Duroid 5880. Hasil

pengujian program simulasi perbandingan antena mikrostriprectangular

patch dengan antena mikrostripcircular patch yaitu hasil pengujiannya

menunjukkan bahwa dari semua penujian yang dilakukan antena

mikrostrip circular patch memiliki direktifitas lebih besar dari antena

mikrostrip rectangular patch yaitu7,3856 dB diperoleh saat

disimulasikan menggunakan subtract RT/Duroid 5880 dan direktivitas

terbesar antena mikrostriprectangularpacth yaitu 7,1822 dB antena

mikrostripcircular patch yaitu 7,3856 dBdiperoleh saat disimulasikan

menggunakan substrat RT/duroid 5880 dan direktivitas terbesar antena

mikrostriprectangular patch yaitu 7,1822 dB diperoleh saat

disimulasikan menggunakan substrat RT/duroid 5880. Dimensi terbesar

antena mikrostriprectangular patch yaitu 22,1425 cm diperoleh saat


7

disimulasikan menggunakan substrat RT/duroid 5880 dan terkecil yaitu

11,2281 cm diperoleh saat disimulasikan menggunakan substrat

Bakelite. Dimensi terbesar antena mikrostripcircularpatch yaitu 18,8465

cm diperoleh saat disimulasikan menggunakan substrat RT/duroid5880

dan terkecil yaitu 9,0029 cm diperoleh saat disimulasikanmenggunakan

substrat Bakelite[4].

4. Penelitian yang dilakukan oleh Brian Handias dari jurusan Teknik

Elektro, Universitas Gunadarma, Depok dengan judul Perbandingan

Implementasi Antena Yagi dan Helix sebagai aplikasi Wireless Fidelity

(Wi-Fi). Kedua antena dirancang untuk bisa bekerja pada Frekuensi 2,4

GHz. Kesimpulan yang didapatkan adalah Half Power Bandwidth

(HPBW) antena Helix yang berukuran lebih kecil dibanding dengan

antena Yagi menunjukkan direktivitas yang lebih baik dan terarah, gain

antena Helix bernilai lebih besar dibanding dengan antena Yagi, dan

antena helix memiliki performa yang lebih baik sebagai antena

receiverdirectional dibanding dengan antena Yagi[1].

Perbedaan dengan penelitian ini adalah meneliti khusus antena Yagi

dengan membandingkan elemen director yang bahannya dari aluminium,

besi, tembaga, stainless, plastik dan kayu terhadap level penerimaan

sinyal wifi yang bekerja pada frekuensi 2.4 GHz.Antena

2.1.1 Umum

Dalam pembuatan antena diperlukan pemilihan bahan berdasarkan

parameter tertentu. Parameter bahan tersebut meliputi konduktivitas,


8

permealibilitas, dan permitivitas. Konduktivitas adalah parameter bahan

yang berpengaruh dalam pembuatan antena sehingga diperlukan

konduktivitas yang maksimal untuk mengoptimalkan efisiensi antena.

Untuk menghasilkan direktivitas yang optimum, dibutuhkan dari dimensi

antena yang tepat, mulai dari dimensi saluran pandu gelombang

pencatunya, dimensi panjang dari pencati ke bidang aperture sampai

dengan dimensi pelebaran kearah bidang medan magnet. [3].

Dalam antena, penyebaran gelombang electromagnet ke udara

dipengaruhi oleh:

1. Defraksi (defraction)

Yaitu sedikit membeloknya arah gelombang. Hal ini terjadi ketika

gelombang mengenai atau memalui ujung suatu benda (rintangan).

Defraksi termasuk pengaruh yang penting terhadap gelombang yang

berfrekuensi rendah.

2. Pemantulan (Reflection)

Pantulan terjadi bila gelombang membentur suatu benda dan

gelombang tersebut memantul. Pantulan dari gelombang tersebut dapat

saja memiliki intensitas kuat dan dapat pula lemah, tergantung dari

bagaimana keadaan refleksi terjadi.

3. Refkaksi (Reflaction)

Yaitu membeloknya gelombang ketika gelombang berjalan dari suatu

bahan perantara ke bahan perantara lain. Reflaksi sering kali


9

menghasilkan pembelokkan gelombang radio turun ke bawah sehingga

gelombang-gelombang berjalan mengikuti kelengkungan bumi.

4. Penyerapan (Absorpsi)

Penyerapan gelombang terjadi jika bahan perantara menyerap energy

gelombang. Bahan ini menyerap jika mempunyai tahanan jenis listrik

tertentu.

Ketika antena dicatu oleh suatu daya masuk di keterminal input,

maka daya tersebut tidak akan seluruhnya dipancarkan oleh antena ke

udara, tetapi ada factor rugi-rugi antena yang disebabkan oleh material,

semakin tinggi nilai konduktivitas material dinding suatu antena, maka

semakin tinggi nilai efisien suatu antena. Sebagai ilustrasi, jika antena

terebut terbuat dari bahan dielektrik sempurna maka nilai efisiensi

e  100% , artinya antena tersebut akan meradiasikan gelombang radio

dengan sempurna, tanpa rugi-rugi[3]

2.1.2 Pengertian Antena

Antena adalah perangkat yang berfungsi untuk mengubah

gelombangelektromagnetikdari media kabel ke udara atau sebaliknya dari

media udara ke kabel. Karena antena merupakan perantara dari

mediakabel ke udara tau sebaliknya maka antena harus mempunyai sifat

yang tepat (match) dari penyedia pencatunya [6]. Antena adalah alat

pasifyang tidak ada catu daya (power), yang tidak bisa meningkatkan

kekuatan sinyal radio. Antena membantu mengkonsetrasi dan

memfokuskan sinyal.
10

Gambar 2. 1 Simbol Antena

Antena adalah sebuah komponen yang dirancang untuk bisa

memancarkan dan atau menerima gelombang elektromagetika. Antena

sebagai pemancar (transmitting Antenna) adalah sebuah transducer

(pengubah) elektromagnetis, yang digunakan untuk mengubah gelombang

teruntun di dalam saluran transmisi kabel, menjadi gelombang yang

merambat di udara beba, dan sebagai alat penerima (receiving antenna)

mengubah ruang bebas menjadi gelombang tertuntun [7].

Antena dapat didefinisikan sebagai suatu alat yang merubah sinyal

gelombang tertuntun menjadi ruang bebas atau sebaliknya merubah sinyal

gelombang bebas menjadi gelombang tertuntun [5].

2.1.3 Fungsi Antena

Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal

elektromagnetik lalu meradiasikannya (pelepasan energi elektromagnetik,

ke udara atau ruang bebas). Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi

untuk menerima sinyal elektromagnetik (penerima elektromagnetik dari

ruang bebas) dan mengubahnya menjadi sinyal listrik [1].


11

Antena adalah salah satu perangkat yang mengubah sinyal-sinyal

listrik menjadi gelombang elektromagnetik dan memancarkannya ke udara

bebas atau sebaliknya menangkap sinyal gelombang elektromagnetik dari

udara dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Berdasarkan defenisi

tersebut antena memiliki 3 fungsi pokok yaitu[8]

a. Antena berfungsi sebagai converter. Dikatakan sebagai converter

karena antena tersebut mengubah sinyal, yaitu dari sinyal listrik

menjadi sinyal elektromagnetik, atau sebaliknya.

b. Antena berfungsi sebagai radiator. Dikatakan sebagai radiator karena

antena tersebut meradiasikan (memancarkan) gelombang

elektromagnetik ke udara bebas sekelilingnya. Jika sebaliknya (antena

menerima atau menangkap energi radiasi gelombang elektromagnetik

dari udara bebas), maka fungsinya dikatakan radiator.

c. Antena berfungsi sebagai impedance matching (penyesuai impedansi).

Dikatakan sebagai impedance matchingkarena antena tersebut akan

selalu menyesuaikan impedansi sistem. Sistem yang dimaksud adalah

saluran transmisi dan udara bebas. Pada saat antena tersebut bekerja

atau beroperasi maka antena akan menyesuaikan impedansi

karakteristik saluran impedansi karakteristik ke udara.

2.1.4 Macam-Macam Antena dan Pemancarannya

Jenis-jenis atau macam-macam antena dapat dibagi kedalam 5

kategori, yaitu[8]:
12

a. Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya antena dibedakan menjadi 2 antara lain

adalah antena pemancar, antena penerima, dan antena pemancar

sekaligus penerima. Di Indonesia antena pemancar banyak

dimanfaatkan pada stasium-stasium radio dan televisi. Selanjutnya

antena penerima, antena ini biasanya digunakan pada alat-alat radio,

TV, dan alat komunikasi lainnya.

b. Berdasarkan Gainnya

Berdasarkan besarnya gainnya dibedakan menjadi 2 macam

antena yaitu VHF dan UHF. Kedua antena ini biasanya digunakan

pada TV. Pada umumnya besarnya daya pemancar, akan

mempengaruhi besarnya sinyal penerimaan siaran televisi di suatu

tempat tertentu pada jarak tertentu dari stasium pemancar televisi.

Semakin tinggi daya pemancar semakin besar level kuat medan

penerimaan siaran televisi. Untuk memperbesar daya pancar pada

stasium TV dan daya terima pada TV maka perlu digunakan antena.

Besarnya gain antena dipengaruhi oleh jumlah dan susunan

director serta fungsi yang digunakan. Antena pemancar UHF tidak

mungkin digunakan untuk pemancar TV VHF dan sebaliknya karena

menimbulkan VSWR yang tinggi. Sedangkan antena penerima VHF

dapat saja untuk menerima signal UHF dan sebaliknya, namun gain

antenanya akan sangat mengecil dari yang seharusnya.


13

Kualitas hail pemancaran dari Pemancar VHF dibandingkan

dengan kualitas hasil pancaran dari pemancar UHF adalah sama

asalkan keduanya memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang telah

ditentukan.

c. Berdasarkan Polarisasinya

Antena dibedakan menjadi 2 yaitu antena dipole dan monopole.

Antena dipole memiliki polarisasi linear vertikal, sedangkan antena

monopole polarisasinya hanya pada satu arah. Anten dipole banyak

dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang

luas.

d. Antena Direktional dan Antena Omnidirektional

Antena directional adalah antena yang pola radiasi

pencarannya terarah sehingga efektivitas pancaran radio hanya satu

arah saja, sedangkan antena omnidirectional dapat memancarkan

gelombang ke segala arah. Yang termasuk antena directional adalah

antena model Yagi seperti kebanyakan sebagai penerima siaran TV.

Contoh antena omnidirectional adalah antena model groundplane.

e. Berdasarkan bentuknya

Antena berdasarkan bentuknya antara lain: mikrostrip,

parabola, vee, horn, helix, dan loop. Walaupun sangat sering dijumpai

teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk parabola, ada

beberapa jenis antena lainnya yang juga digunakan pada sebuah

teleskop atau iterforemeter. Misalnya Mauritius Radio Telescope


14

(MRT) yang menggunakan 1084 buah antena berbentuk helix. Contoh

lainnya teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn, yang

digunakan oleh Arno Penzias dan Robert Woodrow Wilson ketika

menemukan Cosmic Microware Background (CMB). Antena parabola

merupakan antena yang berbentuk parabola, pemancaran sinyal akan

dikonsentrasikan pada titik tengah antena. Antena parabola biasanya

didesain untuk Frekuensi Ultra Tinggi (UHF), penerima siaran TV

satelit, dan transmisi gelombang mikro.

2.1.5 Parameter Antena

a. Direktivitas Antena

Directivity dari sebuah antena atau deretan antena diukur pada

kemampuan yang dimiliki antena untuk memusatkan energi dalam satu

atau lebih ke arah khusus. Antena dapat juga ditentukan pengarahnya

tergantung dari pola radiasinya. Kekuatan pengarahnya (directifity)

merupakan factor penentu besaran penguatan (gain) dari sebuah

antena[8].

Kekuatan pengarahan antena didefinisikan sebagai

perbandingan intensitas radiasi antena (praktis) teradap radiasi antean

isotropis (referensi). Persamaan umum ditulis dari :

u
Direktivitas  D  ...........................................................(2.1)
u0

Dimana:

D = Kekuatan Pengarahan (tanpa satuan)


15

u = intensitas radiasi antena praktis (watt/Sr)

u0 = intensitas radiasi antena isotropis (Watt/Sr)

Kekuatan pengarahan dapat juga ditulis dalam satuan dB,

dengan persamaan:

D  10 Log DtTanpa Satuan) ` .......................................................(2.2)

Kekuatan pengarahan antena akan mempunyai nilai-

nilai/persamaan sesuai dengan jenis antena, dimana persamaannya

ditulis berdasarkan bentuk pola radiasi. Untuk antena directional

(antena Yagi) mempunyai kekuatan pengarahan yang tidak konstan ini

disebabkan intensitas radiasi yang tidak rata. Ditulis dengan

persamaan[8]:

Pradeff
D .............................................................................(2.3)
Prad

Antena dengan persamaan radiasi directional mempunyai


n
persamaan radiasi U = Umaxcos θ maka persamaan kekuatan

pengarahan dapat ditulis :

4U maxCos n
D 
Prad

Praderff max
 Cos n
Prad

D  Dmas cos n  (2.4) ............................................................(2.4)

Dimana:

4U max
Dmas  .....................................................................(2.5)
Prad
16

b. Gain Antena

Gain atau penguatan dari sebuah antena Yagi diperoleh dari

memaksimalkan factor-faktor penting elemen-elemen parasitic antena

Yagi. Dalam meningkatkan gain antena Yagi mengubah pengaturan

driver tidak akan memberikan efek yang banyak dalam penguatannya,

cara yang paling efektif adalah dengan melakukan pengaturan yang

tepat pada besarnya ukuran serta jarak dalam penempatan elemen

tersebut[9].

gain antena Yagi merupakan peningkatan antena dipole sebagai

drivernya, adapun secara teori gain maksimal dari atenadipole  2

adalah 10 log 1,66 atau 2,2 dBi. Dalam hal ini peningkatan jumlah

factor elemen yang meningkatakn gain tersebut seperti yang terlihat

pada persamaan di bawah ini:

G  10 Log 1,66 (nelemen) ..............................................(2.6)

Umumnya gain antena Yagiakan menurun secara nyata apabila

panjang reflector lebih kecil ataupun sebaliknya panjang directori

lebih besar daripada panjang dipole. Selain dari tinjauan diatas terdapat

juga formula yang menyatakan bahwa gain antena Yagi bisa di lihat

dari analisa gambar, persmaan yang digunakan pada analisa gambar

adalah:

41253
G  10 Log ................................................................(2,7)
 H E

dimana:
17

G = gain terhadap antena isotropic

 H = sudut ½ kekuatan horizontal polarisasi

 E = sudut ½ kekuatan elliptical polarisasi

Dalam meningkatkan gain antena Yagi mengubah pengaturan

driver tidak akan memberikan efek yang banyak dalam penguatannya,

cara yang paling efektif adalah dengan melakukan pengaturan yang

tepat pada besarnya ukuran serta jarak dalam penempatan elemen

tersebut[8].

sc G max10 Log G max ................................................................(2.8)

c. Pola Radiasi Antena

Pola radiasi (Radiation Pattern) merupakan salah satu

parameter penting suatu antena. Parameter ini sering dijumpai dalam

spesifikasi suatu antena, sehingga pembaca dapat membayangkan

bentuk pemancaran yang dihasilkan oleh antena tersebut. Dalam hal

ini, maka pola radiasi tersebut juga menyatakan secara grafis yang

menggambarkan sifat radiasi dari suatu antena (pada medan jauh)

sebagai fungsi dari arah. Dimensi pola radiasi yang sudah diplot sesuai

dengan hasil pengukuran sinyal radiasi dari suatu antena[7].

Pola radiasi dari sebuah antena adalah suatu pernyataan grafis

yang menggambarkan sifat radiasi dari gelombang electromagnetic

yang dipancarkan oleh suatu antena pada daerah medan jauh, diukur

pada jarak yang tetap dari antena tersebut[1]


18

Gambar 2. 2 Parameter Pola Radiasi

1. Cuping utama, adalah berkas radiasi dimana terdapat kekuatan

pancaran radiasi dari antena yang terebar.

2. Minor Lobe, adalah berkas radiasi selain major lobe.Minor Lober

dikelompokkan menjadi dua sesuai dengan posisinya, yaitu:

a) Side Lobe

b) Back Lobe

3. HPBW (Half Power BeamWidth), adalah merupakan sudut yang

dibentuk oleh titik yang bernilai dari daya pancar maksimum pada

major lobe.

d. Polarisari [7]

Polarisasi didefinisikan sebagai orientasi medan listrik

gelombang elektromagnetik. Polarisasi pada umumnya digambarkan

seperti elips. Dua kasus istimewa polarisi elips adalah polarisasi linear

dan polarisasi sikular. Awal polarisasi gelombang radio ditentukan

oleh antena.

Dalam polarisasi sirkular, vektor medan listrik kelihatannya

berotasi dengan gerakan berputar searah propagasi, membuat satu


19

putaran penuh untuk setiap RF. Rotasi ini mungkin berada di sebelah

kananatau sebelah kiri. Pilihan polarisasi adalah salah satu pilihan

bentuk yang tersedia kepada sistem perancangan RF.

Polarisai merupakan orientasi perambatan radiasi gelombang

elektromagnetik, yang dipancarkan oleh sautu antena dimana arah

vector mendan Listrik E terhadap permukaan bumi digunakan sebagai

referensi arahnya. Ada beberapa jenis polarisasi yang dapat dihasilkan

suatu antena, yakni polarisasi linear dan circular. Bila medan listrik E

merambat tegak lurus terhadap arah rambatan berarti polarisasinya

linear sedangkan ila medan listrik E merambat pada sumbu

perambatan dengan berputar, maka polarisasinya circular[1].

e. line of sight (LOS)

Salah satu mekanisme perambatan gelombang radio adalah

LOS, yang merupakan lintasan gelombang radio yang mengikuti garis

pandang. Transmisi initerjadi jika antena pemancar dan penerima dapat

“saling melihat” yaitu jika diantara keduanya dapat ditarik garis lurus

tanpa hambatan apa pun. Perhatikan gambar 2.3 Lintasan LOS

merupakan lintasan yang menghasilkan daya yangtertinggi diantara

mekanisme-mekanisme yang lain[8]

Dengan kata lain, lintasan LOS menawarkan rugi-rugi lintasan

(pathloss) yang terendah. Di atas permukaan bumi, transmisi ini

dibatasi jaraknya oleh lengkungan bumi. Perhatikan gambar 2.3 Rugi-

rugi lintasan yang menyatakan penyusutan sinyal sebagai besaran


20

positif dalam desibell (dB), didefinisikan sebagai perbedaan antara

daya yang ditransmisikan (oleh pemancar) dengan daya yang diterima

(oleh penerima). Dengan memperhitungkan perolehan antena

pemancar dan penerima, maka rugi-rugi lintasan dapat ditentukan

sebagai :

Pt
PL(dB )  10 log
Pr

 G G 2 
=  10 log  t 2r 2  .............................................................(2.9)
 (4 ) d 

Dimana:

PL = Rugi-rugi lintasan (dB)

Pt = daya yang ditransmisikan (dalam watt)

Pr = daya yang diterima (dalam watt)

Gt = Perolehan antena pemancar

Gr = Perolehan antena penerima

λ = panjang gelombang radio (dalam meter)

d = jarak antara pemancar dan penerima

Pada kondisi radio di frekuensi sangat tinggi, kondisi LOS

antara pemancar dan penerima sangat penting. Ada dua jenis LOS

yaitu:

a. Optical Line of Sight, kedua stasium harus dapat melihat satu sama

lain.
21

b. Radio Line of Sight, tidak boleh ada refleksi, refleksi dan difrasi

dari sinyal radio

Gambar 2. 3 Fresnel Zone

Dalam daerah Fresnel Zone tidak boleh ada pengganggu sinya.

Kita biasanya menggunakan konsensus bahwa 80% dari Fresnel Zone

harus tidak ada halangan yang mengganggu sinyal. Kalkulasi radius

dari Fresnel Zone yaitu[8]:

d
r  43.3 * .................................................................. (2.10)
4f

Dimana:

r = radius Fresnel zone dalam feet (1 feet = 0.3048 m)

d = jarak antara dua titik dalam miles ( 1 miles 1,609 m)

f = Frekuensi (GHz).

f. Bandwidth

Bandwidth merupakan range frekuensi dimana suatu antena

masih dapat beroperasi dengan optimal. Bandwidth suatu antena dapat


22

diketahui dari karakteristiknya seperti side lobe, gain, hal power

beamwitdh. VSWR ataupun impedansinya, pada range frekuensi

tersebut masih optimal atau tidak. Hanya ini diketahui dengan

melakukan pengukuran terhadap kinerja antena itu pada frekuensi yang

berbeda. Bandwidth antena dapat dihitung menggunakan rumus[1]:

BW = F2-F1 ..................................................................... (2.11)

Dimana:

BW = Bandwidth

F2 = Frekuensi Upper

F1 = Frekuensi Blower

Frekuensi Upper merupakan komponen frekuensi yang berada

di atas frekuensi carrier. Sedangkan frekuensi lower merupakan

komponen frekuensi yang berada dibawah frekuensi carrier.

g. Voltase Standing Wave Ratio (VSWR)

VSWR adalah singkatan dari Voltase Standing Wave Ratio,

biasa disebut dengan SWR. Atau kalau diterjemahkan secara bebas

adalah, perbandingan tegangan gelombang berdiri. Mungkin kata

“berdiri” di sini akan menimbulkan kesan atau pertanyaan sendiri.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan mencoba memberikan

gambaran mengenai VSWR. SWR ini harus diamati pada waktu kita

memasang antena untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan

menjaga awetnya perangkat transceiver. Perbandingan antara arus atau


23

perbandingan antara voltage maksimum dengan voltage minimum

disebut Standing Wave Ratio (SWR).

SWR ini biasanya tergantung dari besarnya arus balik makin

besar arus balik, maka SWR menjadi semakin besar pula. Adanya

standing wave da feeder line ini tidak dikehendaki karena hal ini

memberikan indikasi adanya mismatch. Arus balik ini akan masuk ke

final dan ditransformasikan menjadi panas, dimana panas ini bila

cukup tinggi akan dapat merusak sinyal[7].

2.2 Antena Yagi

Antena Yagi mudah dikenal karena antena ini merupakan antena yang

umum digunakan untuk menerima siaran televisi. Akan tetapi lahan

frekuensi kerjanya tidak terbatas pada kanal-kanal TV. Antena ini diketahui

digunakan untuk komunikasi HF, baik amatir maupun professional. Bahkan

digunakan juga sebagai antena Radar dalam bentuk larik pada masa Perang

Dunia II[10].

2.2.1 Arsitekur Antena Yagi

Antena Yagi terdiri dari empat bagian yaitu[1]:

a. Driven adalah titik catu dari kabel antena, biasanya panjang fisik

driven adalah setengah panjang gelombang (0,5 λ) dari frekuensi radio

yang dipancarkan atau diterima.

b. Reflector adalah bagian belakang antena yang berfungsi sebagai

pemantul sinyal, dengan panjang fisik lebih panjang daripada driven.

panjangnya adalah 0,55 λ.


24

c. Director adalah bagian pengarah antena, ukurannya sedikit lebih

pendek daripada driven. Penambahan batang director akan menambah

gain antena, namun akan membuat pola pengarahan antena menjadi

lebih sempit. Semakin banyak jumlah director, maka semakin sempit

arahnya.

d. Boom adalah bagian ditempatkanya driven, reflektor, dan direktor.

Boom berbentuk sebatang logam atau kayu yang panjangnya

sepanjang antena itu.

AntenaYagi, juga memiliki spasi (jarak) antara elemen sepanjang

antena itu. Jaraknya umumnya sama, yaitu 0.1 λ dari frekuensi.

`
Gambar 2. 4 Antena Yagi

2.2.2 Parameter Antena Yagi

Parameter yang digunakan dalam merancang sebuah antena Yagi

adalah sebagai berikut[1]:

a. Panjang Gelombang di Udara ():

c
 .......................................................................................... (2.12)
f

Dimana:

c = Kecepatan cahaya di udara (3x108 m/s)


25

f = Frekuensi kerja (2,4 GHz)

b. Panjang Driven Eleme (L)

L = 0.5 x K x ............................................................................. (2.13)

K = Velocity factor (pada logam, 0.95)

c. Panjang reflector diatur 7 % lebih panjang dari driven element.

L+(Lx7%) .................................................................................... (2.14)

d. Panjang director diatur 5% lebih pendek dari driven element.

L-(Lx5%) ..................................................................................... (2.15)

2.3 Wireless Berdasarkan Cakupannya.

2.3.1 WPAN (Wireless Panel Area Network)

WPAN memiliki teknologi personal area network wireless seperti

Bluetooth (IEEE 802.15) dan infrared (IR). Jaringan ini menghubungkan

peralatan personal dalam satu area berkisar 30 feet (1 feet = 12 Inch)[13].

Gambar 2. 5 WPAN
2.3.2 WLAN(Wireless Local Area Network)

Wireless Local Area Network (WLAN) atau biasa disebut Wi-fi

memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding WPAN. Saat ini

WLAN mengalami banyak peningkatan dari segi kecepatan dan luas

cakupannya. Awalnya WLAN ditujukan untuk penggunaan perangkat


26

jaringan lokal, namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses

internet[14].

Gambar 2. 6 WLAN

Dengan adanya WLAN, maka biaya pengeluaran yang digunakan

untuk membuat suatu infrastruktur jaringan dapat ditekan menjadi lebih

rendah dan mendukung suatu jaringan Mobile (dapat berpindah) yang

menawarkan berbagai keuntungan dalam hal Efisiensi proses akulasi, dan

biaya pengeluaran[15].

2.3.3 WMAN (Wireless Metropolitan Area Network)

Teknologi ini mengizinkan koneksi dari berbagai jaringan dalam

suatu area metropolitan seperti bangunan-bangunan yang berbeda dalam

suatu kota yang mana dapat menjadi alternatif atau cadangan untuk

memasang kabel tembaga atau fiber.

Wireless Metropolitan Area Network adalah jaringan wireless

network yang menghubungkan beberapa jaringan WLAN. Contoh

teknologi WMAN dan WiMAX[11].


27

Gambar 2. 7WMAN

2.3.4 WWAN (Wireless Wade Area Network)

Wireless Wide Area Network (WWAN) adalah jaringan wireless

yang umumya menjangkau area yang luas misalnya menghubungkan

kantor pusat dan cabang antar propinsi

Gambar 2. 8WWAN

2.4 Wireless fidelity (Wi-fi) dan Komponen wi-fi

wi-fi adalah singkatan dari Wireless Fidelity yaitu seperangkat standar

yang digunakan untuk komunikasi jaringan lokal tanpa kabel (Wireless

Local Area Network-WLAN) yang didasari pada spesifikasi The Institute of

Electrical and Electronic Engineer (IEEE 802.11). Fungsinya

menghubungkan jaringan dalam satu area lokal secara nirkabel. Awalnya


28

wi-fi dipakai untuk penggunaan perangkat nirkabel dan jaringan area local

(LAN), namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet.

Hal ini memungkinkan seseorang dengan komputer, dengan kartu nirkabel

(wireless card) atau Personal Digital Assistant (PDA) untuk terhubung

dengan internet dengan menggunakan titik akses (hotspot) terdekat[12].

Wi-fi memiliki pengertian yaitu sekumpulan standar yang digunakan

untuk jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Network – WLAN)

yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Pada wi-fi lebih dikenal 3

standar yang popular yaitu 802.11b (paling popular dengan kecepatan data

sampai 11 Mbit/sec), 802.11a (54 Mbit/sec dengan jarak lebih kecil

dibanding 802.11b) dan 802.11g (kecepatan 54Mbit/se). spesifikasi tersebut

menawarkan banyak peningkatan mulai dari luas cakupan yang lebih jauh

hingga kecepatan transfernya. Frekuensi hanya bermain pada 2 band yaitu

2,4 GHz dan 5,8 GHz[13].

Adapun perangkat wi-fi yang biasa digunakan sebagai penerus sinyal

maupun penerima sinyal yaitu

2.4.1 Access Point

Access Point atau sering disebut dengan AP, sebenarnya

mempunyai kesamaan fungsi dengan Hub dan Switch.Access Point

merupakan tipe spesial Wireless station yang menerima transmisi radio

dari station radio lainnya di jaringan wireless dan meneruskan sinyal-

sinyal tersebut ke jaringan terakhir


29

Access Point bisa merupakan perangkat yang berdiri sendiri atau

sebuah komputer yang berisikan adapter jaringan wireless yang

berhubungan dengan access point management software[15].

Gambar 2. 9Access Point (AP)

Komponen yang berfungsi menerima dan mengirimkan data dari

adapter wireless.Access point mengonversi sinyal frekuensi radion

menjadi sinyal digital atau sebaliknya. Komponen tersebut bertugas seperti

sebuah hub/switch pada jaringan Ethernet. Satu access point berdasarkan

teori dapat menampung beberapa hingga beberapa ratusan client.

Walaupun demikian, access point direkomendasikan dapat menampung

maksimal 40-an client[12].

2.4.2 PCI WLANcard (Peripheral Component InterconnectWireless Local

Area Netowrk)

PCI WLANCard dapat digunakan untuk indoor dan juga outdoor.

WLAN Card yang bisa digunakan di outdoor, perlu disambungkan dengan

antena luar, jadi jangkauannya bisa lebih luas, perlu dicatat bahwa tidak
30

semua PCIWLAN Card dapat digunakan komunikasi jarak jauh diluar

ruangan[15].

2.4.3 PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association)

PCMCIAadalah merupakan adapter yang sering digunakan pada

laptop yang mempunyai slot PCMCIA, namun pada laptop sekarang sudah

dilengkapi perangkat wi-fi yang terintegrasi. Salah satunya adalah laptop

dengan teknologi Centrino milik Intel. Alat ini dapat ditambahkan pada

notebook dengan pada PCMCIA slot. Model PCMCIAjuga tersedia

dengan tipe G atau double transmit.

2.4.4 USB wi-fi (Universal Serial Bus)

USB wi-fi merupakan perangkat baru dan praktis pada teknologi

wi-fi. Alat ini mengambil power 5 V dari USB port. Untuk kemudian

USB wi-fi adapter dengan fleksibel ditempatkan bagi notebook dan PC.

Tetapi pada perangkat USB wi-fi adapter mulai keterbatasan. Sebaliknya

USB Port 2.0 karena kemampuan sistem wi-fi mampu mencapai data rate

54 Mbps.[17]

2.5 Kabel Koaksial (Coaxial Cable)

Kabel Koaksial (Coaxial Cable) adalah suatu jenis kabel yang

menggunakan dua buah konduktor. Pusatnya berupa inti kawat pada yang

dilingkupi oleh sekat yang kemudian dililiti lagi oleh kawat berselaput

konduktor. Jenis kabel ini biasa digunakan untuk jaringan dengan

bandwidth yang tinggi. Kabel coaxial mempunyai pengalir tembaga di

tengan (centre core). Lapisan plastik (dielectric insulator) yang


31

mengelilingi tembaga berfungsi sebagai penebat di antara tembaga dan

metal shielded. Lapisan metal berfungsi untuk menghalang induksi dari

instalasi listrik, motors, dan peralatan elektronik lain. Lapisan paling luar

adalah lapisan plastik yang disebut jacket plastic. Lapisan ini berfungsi

seperti jaket yaitu sebagai pelindung bagian terluar.

Gambar 2. 10Bagan Penampang Kabel Koaksial

Kabel koaksial biasa disebut juga BNC (Bayonet Naur Connector)

atau coax kabel ini sering digunakan untuk antena TV dan juga sering

digunakan pada jaringan LAN

Kabel ini biasanya banyak digunakan untuk mentransmisikan siyal

frekuensi tinggi mulai 0 sampai 500 MHz. karena kemampuan dalam

menyalurkan frekuensi tinggi tersebut, maka sistem transmisi dengan

menggunakan kabel koaksial memiliki kapasitas yang cukup besar [16].

Dalam peralatan wi-fi, biasanya kabel coaxial menggunakan

impedansi 50 ohm, jika tidak ada impedansi, maka sinyal radio yang akan

dipantulkan kembali ke pemancarannya. Untuk menghindari pemantulan

kembali dari sinyal kabel coaxial harus tepat 50 ohm[17].


32

Gambar 2. 11 Sistem Transmisi Kabel Coaxial

Yang dimaksud dengan multiplex pada gambar 2.13 di atas adalah alat

yang digunakan untuk menyusun beberapa kanal telepon menjadi suatu

band frekuensi tertentu(base band) atau sebaliknya. Sedangkan LTE (Line

Terminal Equipment) Coax adalah interface antara multiplex dengan kabel

coaxial [13].

Gambar 2. 12 Kabel koaksial

Kabel koaksial biasa digunakan dalam jaringan LAN terutama

topologi Bus yang banyak menggunakan kabel koaksial. Kesulitan utama

dari penggunaan kabel koaksial adalah sulit untuk mengukur apakah kabel

coaxial yang digunakan benar-benar sesuai atau tidak. Keran kalau


33

tIdakbenar-benar diukur secara benar akan merusak NIC(Network Interface

Card) yang digunakan dan kinerja jaringan menjadi terhambat, tidak

mencapai kemampuan maksimalnya.

Penggunaan kabel coaxial pada LANmemiliki beberapa keuntungan.

Penguatannya dari repeater tidak sebesar kabel STP atau UTP. Kabel

coaxial lebih murah dari kabel fiber optic dan teknologinya juga tidak asing

lagi. Kabel coaxial sudah digunakan selama puluhan tahun untuk berbagai

jenis komunikasi data.

2.5.1 Thick Coaxial Cable

Kabel coaxial memiliki ukuran yang bervariasi. Diameter yang

terbesar ditunjukkan untuk penggunaan kabel backbone Ethernet karena

secara histories memiliki panjang transmisi dan penolakan noise yang

lebih besar. Kabel coaxial ini seringkali dikenal thicket. Kabel coaxial

jenis ini dispesifikasikan berdasarkan standar IEEE 802.3 10 BASES,

dimana kabel ini mempunyai diameter 12 mm, dan biasanya diberi warna

kuning. Kabel jenis ini biasa disebut sebagai standard Ethernet atau thick

Ethernet, atau hanya disingkat thickNet, atau bahkan cuman disebut

sebagai yellow cable.

2.5.2 Thin Coaxial Cable

Seiring dengan pertambahan ketebalan atau diameter kabel, maka

tingkat kesulitan pengerjaannya pun akan semakin tinggi. Harus diingat

pula bawah kabel jenis ThicNet haruz ditarik melalui pipa saluran yang ada

dan pipa ini ukurannya terbatas.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kuantitatif dan metode kualitatif. Untuk metode kuantitatif yaitu

mengambil data melakukan perhitungan karakteristik antena yang akan

dirancang dengan menggunakan kalkulator online antena Yagi, sedangkan

Untuk metode kualitatif yaitu dengan melalui empat tahap:

1. Metode pengumpulan data. Metode ini dilakukan dengan mempelajari

buku-buku yang berhubungan dengan antena, browsing internet baik

itu pembuatan antena Yagi, serta banyak berdiskusi dengan teman-

teman yang mempunyai pengalaman di bidang antena.

2. Metode perancangan yaitu bagaimana melakukan pembuatan antena

Yagi.

3. Metode eksperimen yaitu melakukan percobaana-percobaan yang

berhubungan dengan penelitian pembuatan antena wajan bolic untuk

menghasilkan antena point to point yang maksimal

4. Langkah selanjutnya yaitu membandingkan hasil eksperimen terhadap

antena yang telah dibuat

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Jadwal penelitian yang akan digunakan adalah dari bulan April

sampai dengan Mei 2017. Penelitian ini akan dilakukan dengan rencana

kerja yang telah disusun. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium

34
35

Elektronika & Telekomunikasi Teknik Elektro Fakultas Teknik

UniversitasHalu Oleo.

3.3 Alat dan Bahan yang digunakan

Alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan perencanaan dan

implementasi antena yagi yaitu:

1. Tang kupas

2. Tang potong

3. Obeng bunga

4. Obeng plat

5. Baut

6. Laptop/PC

Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan antena

Yagidenganbahan director antara lain adalah :

Tabel 3. 1 Bahan yang dibuat Antena Yagi


No Nama Bahan Bentuk Diameter
1. Aluminium Pipa 8 mm
2. Besi Batangan 8 mm
3. Tembaga Batangan 8 mm
4. Plastik Batangan 8 mm
5. Stailess Pipa 8 mm
6. Kayu Kayu Jati 10 mm
7. Kabel Coaxial

Aplikasi-apliksi yang akan digunakan dalam Penelitian ini yaitu:

1. Ms Excel 2010 Untuk menghitung Panjang Director, Reflector

2. Managal Basic untuk merancang antena secara simulasi


36

3.

3.4 Teknik Pengukuran

Dalam perbandingan pengukuran level penerimaan sinyal wifi pada

antena Yagiyaitu untuk mengetahui perbandingan nilai daya penguatan

(Gain) dengan masing-masing bahan sesuai dengan tabel 3.1.yang

disajikan dalam bentuk angka dan grafik.

Dengan gambaran untuk mengetahui hasil dari uji coba sebagai

berikut:

Tabel Pengukuran Kekuatan sinyal dengan Jarak 30 Meter


Pengujian Bahan director dengan kekuatan sinyal (dB)
Aluminium Tembaga Besi Stainless Plastik Kayu
I
II
III
IV

Tabel Pengukuran Kekuatan sinyal dengan Jarak 60 Meter


Pengujian Bahan director dengan kekuatan sinyal (dB)
Aluminium Tembaga Besi Stainless Plastik Kayu
I
II
III
IV

Tabel Pengukuran Kekuatan sinyal dengan Jarak 100 Meter


Pengujian Bahan director dengan kekuatan sinyal (dB)
Aluminium Tembaga Besi Stainless Plastik Kayu
I
II
III
IV
37

3.5 Diagram Alir Penelitian

Mulai

Antena

Antena Yagi 10 Element

Perancangan Antena dengan elemen Director

Aluminium Besi Tembaga


m
Kayu Stainless Plastik

Tidak
Pengujian

Ya

Perbandingan Tiap Elemen direkctor

Analisa

kesimpulan

End

Gambar 3.1 Diagram Alir Perencanaan

Pada gambar 3.1 tersebut di atas adalah diagram alir penetitian

yang akan digunakan dimana memulai antena Yagi


38

3.6 Rencana Penelitian

A
C B

Keterangan :

A : Bagian ini adalah director sebuah antena yagi akan dipasang, dimana

elemen directornya ada 10 yang akan digunakan, masing-masing

direcor ini ada yang terbuat dari Aluminium, Besi, Tembaga,

Stainless, Kayu dan Plastik. Untuk panjang dan jarak tiap elemen

directornya akan diuraikan pada bab selanjutnya. Untuk diameter

element director yaitu 0,8 mm

B : Pada bagian ini merupakan elemen Driven bahan yang akan

digunakan yaitu aluminium saja. Diameter Driven element adalah 0,8

mm

C : Bahan Reflector antena yang akan dirancang adalah dari aluminium,

diameter reflector yaitu 0,8 mm

D : bagian ini adalah boom antena yagi. Panjang dan diameter disesuaikan