Anda di halaman 1dari 7

Penerapan Dome House di Era Post Modern

A. Pendahuluan
Pada tahun 2006, Indonesia kembali
berduka dengan terjadinya musibah gempa bumi
yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta
sebesar 6,7 sr. Banyak korban jiwa, kerusakan
fasilitas umum, rumah ambruk, dan kerusakan
lainnya yang ditimbulkan dari bencana gempa
bumi ini. Trauma yang begitu mendalam bagi
warga Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkena
dampak musibah ini, banyak dari mereka yang
kehilangan sanak keluarga, orang tua, bahkan
Gambar 1. Contoh Arsitektur Post Modern. anak-anak.
Sumber : http://edupaint.com/jelajah/cipta-dan-
karya/6356-sejarah-arsitektur-post-modern.html
Disuatu daerah di Yogyakarta timur, tepatnya di Kecamatan Prambanan, Dusun Semingir,
Kelurahan Sumberharjo, terdapat sebuah perkampungan kecil di lereng perbukitan namanya
Kampung Nglepen. Perkampungan ini tidak luput dari bencana gempa bumi ini. Bahkan di Kampung
Nglepen dampak yang ditimbulkan dari gempa bumi sangat parah sekali. Mulai dari jalan yang retak,
tanah amblas, dan longsor. Para penduduknya pun segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Para
penduduk di Kampung Nglepen tidak hanya kehilangan tempat tinggal akan tetapi tanah kelahirannya
ini tidak bisa ditempati lagi.

Setelah berbulan-bulan lamanya penduduk di Kampung Nglepen tinggal ditenda, akhirnya ada
kabar yang menggembirakan dari pihak pemerintah, bahwa Kampung Nglepen akan di relokasi di
tempat yang lebih aman. Bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Non Pemerintah di Amerika
Serikat, dibuatlah rumah dengan bentuk geometris dan unik yaitu rumah Domes atau lebih dikenal
dengan rumah igloo, serta rumah ini memiliki bentuk menyerupai rumah Teletubbies. Nama
Kampungnya pun diganti dengan nama Kampung “The New Nglepen”.

Mengenai arsitekturnya yang berbentuk dome atau setengah lingkaran, ternyata ada alasannya,
disamping aman, yaitu penyesuaian dengan zaman dimana kita sendiri sudah memasuki fase zaman
post modern yang juga dikatakan pencerminan masyarakat modern dengan rasa keterasingan, rasa
tidak aman, dan ketidakpastian mengenai identitas, sejarah, kemajuan, dan kebenaran. Arsitektur
dengan bentuk dome sendiri merupakan bentuk representasi dari masyarakat post modern, tentang
kebebasan, tidak ada kekangan, bentuk bangunan yang tidak biasa menjadikan post modern dikenal,
urbanism serta bersifat plural dan ekletik.

1
B. Pembahasan
1. Arsitektur Post Modern

Gambar 2. Contoh Arsitektur Post Modern.


Sumber : http://edupaint.com/jelajah/cipta-dan-karya/6356-
sejarah-arsitektur-post-modern.html, diakses pada 7 Mei 2019

Arsitektur Post-Modern merupakan kelanjutan atau perkembangan dari arsitektur


modern. Pada dasarnya Arsitektur Post-Modern muncul akibat terjadinya kejenuhan terhadap
karya-karya arsitektur modern yang lebih menonjolkan fungsi dari pada estetika pada suatu
bangunan. Hal ini menunjukan bahwa dasar filosofi dan teori Arsitektur Modern sudah tidak
relevan aau sesuai dengan tuntutan zaman.

Gerakan atau gaya arsitektur post modern mulai lahir pada era tahun 1960-an sebagai
bentuk reaksi perlamanan terhadap nilai minimalistik, formalitas, dan kurangnya variasi dalam gaya
arsitektur modern yang berkembang saat itu. Nilai yang dimaksud ini bisa terlihat dari gaya
arsitektur arsitek Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe.

Gaya arsitektur post modern akhirnya terus berkembang dari 1980-an hingga era 1990-an.
Arsitek yang terkenal sebagai tokoh arsitektur post modern adalah Charles Jenks, Venturi, Philip
Johnson, dan Michael Graves. Pada akhir era 1990-an, arsitektur post modern berkembang lebih
jauh dan terbagi ke dalam berbagai aliran dengan perbedaan pendekatan seperti hi-tech
architecture, arsitektur neo-klasik, dan gaya arsitektur dekonstruktivisme.

Berkembang di berbagai area oleh banyak pakar arsitektur, arsitektur post modern
kemudian berkembang menjadi berbagai aliran. Aliran-aliran dalam arsitektur post modern sendiri
diklasifikasikan berdasarkan konsep perancangan dan respon dari desain terhadap lingkungannya.

Salah satu tokoh arsitektur post modern, Charles Jenks mengelompokan arsitektur post
modern kedalam 6 jenis aliran arsitektur post modern yang menurutnya sudah ada sejak tahun
1960-an, di mana arsitektur post modern mulai berkembang. Aliran arsitektur post modern
tersebut meliputi:

2
a. Hictoricism

Dalam aliran arsitektur post


modern historicism, desain bangunan
atau rumah modern dikombinasikan
dengan berbagai elemen klasik
seperti kolom-kolom ionic dan doric
serta ukiran-ukiran yang umumnya
lebih banyak ditemukan pada
arsitekur klasik dibandingkan
arsitektur modern. Tokoh arsitek yang
mengikuti aliran historicism ini adalah
Gambar 3. Arsitektur Post Modern “Hictoricism”. Aero Saarinen, Phillip Johnson, Robert
Sumber : Venturi, Kisho Kurokawa, dan Kyionori
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri- Kikutake.
arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019

b. Straight Revibalisme

Pada aliran arsitektur post


modern straight revibalisme, elemen-
elemen pada gaya arsitektur neo klasik
kembali dihidupkan lewat desain yang
bersifat monumental dan pengaplikasian
komposisi desain yang berirama dan juga
simetris.
Tokoh arsitek yang mengikuti
aliran straight revivalisme ini adalah Aldo
Rossi, Monta Mozuna, Ricardo Bofill, dan
Mario Botta.

Gambar 4. Arsitektur Post Modern “Straight


Revibalisme”.
Sumber :
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri-
arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019

c. Neo Vernaculirism

Aliran arsitektur post modern


neo-vernacularism, elemen arsitektur
yang sudah modern kemudian
dikawinkan dengan elemen tradisional
atau lokal yang ada pada lingkungan
sekitar. Pengaplikasiannya bisa seperti
penggunaan pola dekorasi arsitektur
Gambar 5. Arsitektur Post Modern “Neo- Jawa pada bangunan modern, atau
Vernacularism”. penggunaan bentuk atap gadang.
Sumber :
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri- 3
arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019
Tokoh arsitek yang mengikuti aliran neo-vernacularism ini adalah Darbourne and Darke,
Joseph Isherick, Aldo Van Eyck.

d. Contextualism

Pada aliran arsitektur post


modern contextualism, semua konsep
desain mengarah dan terpusat pada
lokasi penempatan bangunan, di mana
desain harus memperhatikan lingkungan
sekitar agar bisa tercipta komposisi yang
selaras dengan lingkungan sekitar. Aliran
ini juga terkenal dengan nama aliran
urbanist. Kalau dalam bangunan rumah,
bisa dibilang ini adalah
filosofi menciptakan rumah ramah
Gambar 6. Arsitektur Post Modern lingkungan. Tokoh arsitek yang mengikuti
“Contextualism”. aliran contextualism ini adalah Lucien
Sumber : Kroll, Leon Krier, dan James Stirling.
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri-
arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019

e. Methapor dan Metasphisicial


Bentuk dari desain arsitektur
merupakan ekspresi eksplisit dan implisit
dari ungkapan metafora dan metafisika
(spiritual) dari sang arsitek yang
umumnya memiliki cerita yang filosofis
dibalik desain tersebut. Tokoh arsitek
yang mengikuti aliran methapor &
metaphisical ini adalah Stinley Tigerman,
Antonio Gaudi, dan Mimoru Takeyama.

Gambar 7. Arsitektur Post Modern “Methapor dan


Metasphisicial”.
Sumber : https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri-
arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019
f. Modern Space
Aliran arsitektur post modern
yang terakhir adalah aliran space, di
mana desain arsitektur
memperlihatkan salah satu prinsip
arsitektur, yaitu pembentukan ruang
dengan mengkomposisikan komponen
Gambar 8. Arsitektur Post Modern “Modern bangunan itu sendiri.
Space”.
Sumber :
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri- 4
arsitektur-post-modern , diakses pada 7 Mei 2019
Tokoh arsitek yang mengikuti aliran arsitektur post modern space ini adalah Peter
Eisenman, Robert Stern, Charler Moore, Kohn, dan Pederson-Fox.

2. Ciri Arsitektur Post Modern


Sebagai salah satu gaya arsitektur yang populer, arsitektur post modern punya ciri khas
sendiri. Menurut salah satu tokoh arsitektur Indonesia, Budi Sukada (1988), arsitektur post modern
memiliki ciri umum sebagai berikut:
a. Mengandung unsur-unsur komunikatif yang bersifat lokal atau populer
b. Membangkitkan kembali kenangan kembali historik
c. Berkonteks urban
d. Menerapkan kembali teknik ornamentasi
e. Bersifat representasional
f. Berwujud metaforik (dapat berarti dari bentuk lain)
g. Dihasilkan dari partispasi
h. Mencerminkan aspirasi umum serta berifat plural dan ekletik

3. Penerapan Arsitektur Post Modern pada Rumah Dome di Kampung “New Nglepen” Sleman,
Yogyakarta
Berada di kawasan “ring of fire” membuat
Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi. Tak
heran jika bangunan tahan gempa telah dikembangkan
dan kini telah banyak konsep bangunan tahan gempa
yang diaplikasikan di Indonesia, khususnya di daerah-
daerah rawan terjadi bencana gempa bumi.

Salah satu konsep bangunan rumah tahan


gempa yang sudah direalisasikan adalah dome house atau
rumah kubah. Penggunaan konsep inipun sudah pernah
digunakan di Indonesia lebih tepatnya di Kampung “New
Nglepen” Sleman, Yogyakarta.

Gambar 9. Penerapan Arsitektur


Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu
Post Modern pada “Dome
daerah di Indonesia yang pernah terkena bencana Gempa
House”.
Sumber : tepatnya pada tahun 2006. Pasca bencana tersebut,
Dokumentasi penulis, diambil banyak orang yang mencoba mengaplikasikan teknologi
pada Sabtu, 4 Mei 2019 bangunan tahan gempa yang lebih baik.

Dan bangunan tahan gempa yang menarik perhatian pada saat itu adalah perkampungan
dengan bangunan tahan gempa “rumah dome” yang berada di Sleman. Bangunan yang merupakan
sumbangan pemerintah Amerika Serikat ini memiliki bentuk membulat layaknya rumah Igloo,
rumah khas suku Eskimo.

5
Keunikan dari bangunan tahan gempa ini tentu adalah bentuknya yang seperti kubah
membuatnya dikenal sebagai rumah “teletubies”. Bahkan, kini kawasan yang juga disebut sebagai
“kampung teletubies. Keunggulan dari bangunan tahan gempa berbentuk kubah ini adalah tidak
adanya sambungan yang merupakan titik lemah dari bangunan ketika diguncang gempa. Selain
dapat menahan gempa, hunian dengan material bangunan tahan gempa.

Gambar 10. Struktur Dome House di Kampung Nglepen,


Sleman, Yogyakarta
Sumber :
https://joshmulia.wordpress.com/2018/01/13/dome-
house-rumah-tahan-gempa-di-yogya/, diakses pada 7
Mei 2019

C. PENUTUP
Seiring dengan kemajuan zaman yang kian pesat, arsitektur mengalami perubahan pada tatanan
bangunan serta nilai estetik bangunan mengikuti fungsi dari bangunan itu sendiri, seperti contoh
arsitektur post modern. Post modern mencirikan kebebasan terhadap suatu gaya dengan menerapkan
gaya dan bentuk tidak terpaku oleh pakem manapun. Dengan mengutamakan pada fungsi bangunan
itu sendiri yang lebih efisien, aman, nyaman dan estetik.

Di Indonesia sendiri gaya arsitektur modern sudah mulai diterapkan sebagai contoh “Rumah Dome”
atau “Rumah Teletubbies” di Kampung Nglepen, Sleman, Yogyakarta. Di latarbelakangi musibah gempa
bumi tahun 2006, masyarakat yang butuh tempat tinggal yang sekiranya aman untuk ditinggali saat
terjadinya musibah itu, untuk itu dibuatlah rumah dengan berkonsep dome atau seperti rumah igloo di
kutub. Dengan perencanaan yang kuat dan matang akhirnya rumah dome ini terbangun dan sampai
pada sekarang bangunan ini masih terjaga kekokohannya.

Hal yang menjadi kunci mampu bertahannya “rumah dome” sebagai bangunan tahan gempa
adalah minimalnya jumlah sudut dan sambungan antar bagian bangunan. Ditambah,

6
penggunaan material ringan seperti styrofoam juga menjadi nilai tambah mengapa bangunan ini
mampu bertahan ketika guncangan keras akibat gempa terjadi.

Tak cuma memiliki tampilan unik dan menarik, tentunya bangunan tahan gempa ini memiliki
struktur yang sangat aman terhadap bencana. Dengan direalisasikannya konsep bangunan tahan
gempa, tentunya bahaya dari bencana gempa bisa diminimalisir.

D. DAFTAR LAMAN
http://kampungdome.blogspot.com/, diakses pada 7 Mei 2019
https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Teletubbies, diakses pada 7 Mei 2019
https://www.dekoruma.com/artikel/64593/ciri-arsitektur-post-modern, diakses pada 7 Mei 2019
https://www.dekoruma.com/artikel/77603/desain-bangunan-tahan-gempa-dome-house,diakses
pada 7 Mei 2019
https://joshmulia.wordpress.com/2018/01/13/dome-house-rumah-tahan-gempa-di-yogya/, diakses
pada 7 Mei 2019