Anda di halaman 1dari 12

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE

DI SUAKA MARGASATWA TANJUNG AMOLENGO


(Kajian Materi Ekosistem SMA Kelas X)

Dwika Bramasta1, La Kolaka2, Damhuri2

1
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UHO, 2Dosen Jurusan Pendidikan Biologi
FKIP UHO, 2Dosen Jurusan Pendidikan Biologi FKIP UHO
Email: bramastadika@gmail.com

ABSTRAK
DWIKA BRAMASTA (A1C214087): Struktur dan Komposisi Vegetasi Mangrove di Suaka
Margasatwa Tanjung Amolengo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan
komposisi vegetasi mangrove di Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo Kecamatan Kolono Timur
Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian dilaksanakan di Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo dan
Laboratorium Jurusan Pendidikan Biologi, FKIP UHO. Metode yang digunakan adalah metode transek
secara purpossive dan plot secara zigzag sistematis dengan menggunakan tiga buah transek yang
diletakkan yang tegak lurus garis pantai memotong komunitas mangrove mulai dari formasi mangrove
terdepan (arah laut) sampai formasi paling belakang (berbatasan dengan tumbuhan darat). Teknik
analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menentukan jumlah spesies, kerapatan,
frekuensi, dominansi, indeks nilai penting dan indeks keanekaragaman. Hasil analisis menunjukkan
bahwa komposisi vegetasi hutan mangrove di Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo yang ada di Desa
Tanjung Bunga Kecamatan Lasolo terdiri atas 15 jenis mangrove yang terbagi atas 6 famili, yaitu
Rhizophoraceae, Lythraceae, Acanthaceae, Malvaceae, Euphorbiaceae dan Pteridaceae. Nilai Indeks
Keanekaragaman Jenis Shannon-Wiener (H’) termasuk dalam kategori rendah dengan nilai 0,67.

Kata kunci: Struktur, Komposisi, Mangrove

PENDAHULUAN dalam ekosistem membentuk struktur dan


komposisi hutan mangrove. Ismaini, dkk
Suaka Margasatwa Tanjung (2015:1398) menyatakan bahwa komposisi
Amolengo ini terdiri atas dua formasi dan struktur suatu hutan mangrove dapat
ekosistem hutan, yaitu ekosistem hutan diketahui dengan menggunakan analisis
darat dan ekosistem hutan pantai. vegetasi.
Ekosistem hutan darat merupakan
ekosistem hutan yang tidak dipengaruhi Hutan mangrove secara ekologis
oleh pasang surut air laut, sedangkan berfungsi dalam melindungi pantai dari
ekosistem hutan pantai merupakan ancaman gelombang besar, angin ribut,
ekosistem yang dipengaruhi oleh pasang pengendali intrusi air laut, habitat
surut air laut. Ekosistem hutan pantai pada berbagai fauna, tempat mencari makan dan
umumnya terdiri atas dua formasi hutan memijah bagi berbagai jenis udang
yaitu hutan mangrove dan hutan bukan dan ikan, pembangunan lahan melalui
mangrove. Hutan mangrove merupakan proses sedimentasi, pengontrolan malaria,
formasi hutan yang tumbuh pada daerah mereduksi polutan, pencemar air,
landai di muara sungai dan pesisir pantai penyerap CO2 dan penghasil O2 (Majid dkk,
yang dipengaruhi oleh pasang surut air 2016:491). Hutan mangrove merupakan
laut. Formasi hutan mangrove tersebut hutan yang dinamis dan peka terhadap

1
perubahan lingkungan yang ada di merujuk pada buku identifikasi, yakni
sekitarnya. Perubahan dalam komunitas Noor, dkk (2006) dan Pirnanda, dkk (2016).
hutan mangrove selalu terjadi, bahkan
dalam komunitas yang stabil dapat Pengukuran Faktor Lingkungan
mengalami perubahan. Perubahan suatu Pengambilan data dilakukan pada
komunitas hutan ini menyangkut perubahan saat air laut surut dengan cara mencatat dan
struktur dan komposisi hutan mangrove, menghitung semua jenis mangrove yang
oleh karena itu sesungguhnya struktur dan ditemukan dalam plot pengamatan.
komposisi hutan mangrove tidak selalu Selanjutnya, mangrove yang telah diketahui
tetap, tetapi selalu berubah setiap waktu. nama spesiesnya dicatat, dihitung jumlah
individu setiap spesiesnya dan diukur
Komposisi dan struktur suatu diameter batangnya. Mangrove yang belum
vegetasi dapat diketahui dengan diketahui nama spesiesnya, dilakukan
menggunakan analisis vegetasi. Analisis pengidentifikasian melalui pemberian
vegetasi mangrove dapat dilakukan dengan simbol huruf. Identifikasi lebih lanjut
menggunakan metode transek, yang terdiri merujuk pada buku identifikasi, yakni
dari plot-plot pengamatan yang disusun Noor, dkk (2006) dan Pirnanda, dkk (2016).
mengikuti garis transek. Ismaini, dkk
(2015:1398) menyatakan bahwa parameter Analisis Data
yang diukur di lapangan meliputi nama Data yang terkumpul dianalisis
jenis, jumlah individu tiap jenis dan secara deskriptif. Komposisi vegetasi
diameter batang. Parameter ini diukur untuk mangrove ditentukan berdasarkan jumlah
menghitung nilai kerapatan, frekuensi, spesies yang dihitung secara kuantitatif.
dominansi, indeks nilai penting dan indeks Sedangkan struktur vegetasi mangrove
keanekaragaman. ditentukan dengan rumus kerapatan,
Berdasarkan latar belakang tersebut kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi
maka perlu dilakukan penelitian tentang relatif, dominansi, dominansi relatif, indeks
analisis vegetasi mangrove untuk nilai penting dan indeks keanekaragaman
mengetahui struktur dan komposisi vegetasi dengan mengacu pada Odum (1975:232)
mangrove yang terdapat di Suaka dan Nurrahman, dkk (2012:101).
Margasatwa Tanjung Amolengo. Judul
penelitian ini adalah “Struktur dan HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Vegetasi Mangrove di Suaka
A. Hasil Penelitian
Margasatwa Tanjung Amolengo”. 1. Faktor Lingkungan
Parameter lingkungan yang
METODE PENELITIAN diukur saat pengambilan sampel
Pengambilan Data Vegetasi Mangrove meliputi salinitas substrat, suhu
Pengambilan data dilakukan pada udara, suhu tanah dan jenis substrat.
tanggal 28 -30 zulhijjah saat air laut surut Data hasil pengukuran yang
terjauh dengan cara mencatat dan diperoleh disajikan pada Tabel 1.
menghitung semua jenis mangrove yang Tabel 1. Nilai Faktor Lingkungan
ditemukan dalam plot pengamatan. Suhu Salinitas
Selanjutnya, mangrove yang telah diketahui Jenis
No Stasiun Udara Substrat
Substrat
nama spesiesnya dicatat, dihitung jumlah (°𝐶) (‰)
individu setiap spesiesnya dan diukur 1 Luar 26 12 Berlumpur
diameter batangnya. Mangrove yang belum 2 Tengah 26 11 Berlumpur
1
diketahui nama spesiesnya, dilakukan
Tanah
pengidentifikasian melalui pemberian 3 Dalam 27 11
berlumpur
simbol huruf. Identifikasi lebih lanjut Rerata 26,333 11,33

2
4 Luar 26 12 Berlumpur Tabel 2. Komposisi mangrove tiap famili
Lumpur No Famili Spesies
5 2 Tengah 27 11
berpasir Rhizophora mucronata
Tanah Rhizophora apiculata
6 Dalam 27 9
berlumpur
Rerata 26,667 10,67
Bruguiera gymnorrhiza
1. Rhizophoraceae Bruguiera cylindrica
7 Luar 29 11 Berlumpur
Bruguiera parviflora
Lumpur
8 3 Tengan 28 10
berpasir
Ceriops tagal
Tanah Ceriops decandra
9 Dalam 29 10
berlumpur Sonneratia alba
2. Lythraceae
Rerata 28,667 10,33 Sonneratia ovata
Acanthus ilicifolius
2. Komposisi Jenis Mangrove 3. Acanthaceae
Avicennia marina
Hasil penelitian komposisi jenis 4. Malvaceae Heritiera littoralis
vegetasi mangrove di Suaka 5. Euphorbiaceae Exoecharia agallocha
Margasatwa Tanjung Amolengo secara Acrostichum aureum
umum diperoleh 15 jenis mangrove 6. Pteridaceae
Acrostichum speciosum
yang terbagi dalam 6 famili yaitu
Rhizophoraceae, Lythraceae, Acantha- Distribusi mangrove pada suaka
ceae, Malvaceae, Euphorbia-ceae dan margasatwa tanjung amolengo dapat dilihat
Pteridaceae. Untuk lebih jelasnya dapat pada gambar 1.
ditampilkan pada Tabel 2.

Gambar 1. Distribusi jenis mangrove

3
Keterangan :
R.m. = Rhizophora mucronata R.a. = Rhizophora apiculata
B.g. = Bruguiera gymnorrhiza B.c. = Bruguiera cylindrica
B.p. = Bruguiera parviflora S.a. = Sonneratia alba
S.o = Sonneratia ovata C.t. = Ceriops tagal
C.d. = Ceriops decandra E.a. = Exoecharia agalolocha
A.m. = Avicennia marina H.l. = Heritiera littoralis
A.i = Acanthus ilicifolius A.a. = Acrostichum aureum
A.s. = Acrostichum speciosum
3. Sruktur Vegetasi Mangrove penelitian di Suaka Margasatwa
a. Tingkat semai Tanjung Amolengo disajikan pada
Struktur vegetasi mangrove Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5.
tingkat semai pada ketiga stasiun
Tabel 3. Data tingkat semai pada stasiun pertama
Stasiun 1
Nama Spesies
K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 3,08 22,06 0,28 28 50,06
Rhizophora apiculata 2,6 18,62 0,28 28 46,62
Ceriops tagal 5 35,82 0,28 28 63,82
Acanthus ilicifolius 0,08 0,57 0,04 4 4,57
Acrostichum aureum 3,2 22,92 0,12 12 34,92
Jumlah 13,96 100 1 100 200

Tabel 4. Data tingkat semai pada stasiun kedua


Stasiun 2
Nama Spesies 2
K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 2,67 18,31 0,27 25,02 43,33
Rhizophora apiculata 1,3 8,92 0,17 15,65 24,58
Bruguiera gymnorrhiza 1,77 12,13 0,1 9,37 21,5
Bruguiera cylindrica 2,07 14,19 0,07 6,28 20,47
Sonneratia alba 0,17 1,14 0,03 3,09 4,24
Ceriops tagal 3,43 23,57 0,23 21,84 45,41
Ceriops decandra 0,93 6,41 0,07 6,28 12,69
Acanthus ilicifolius 2,23 15,33 0,13 12,46 27,8
Jumlah 14,57 100 1,07 100 200

Tabel 5. Data tingkat semai pada stasiun ketiga


Stasiun 3
Nama Spesies 2
K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 3 16,86 0,33 30,56 47,42
Rhizophora apiculata 2,37 13,35 0,21 19,26 32,61
Bruguiera gymnorrhiza 2,5 14,05 0,08 7,68 21,73
Bruguiera cylindrica 1,5 8,43 0,08 7,68 16,11
Bruguiera parviflora 4,67 26,23 0,17 15,46 41,69

4
Ceriops tagal 3,71 20,84 0,17 15,46 36,3
Acrostichum speciosum 0,04 0,23 0,04 3,89 4,12
Jumlah 17,79 100 1,08 100 200
Keterangan :
K = Kerapatan
KR = Kerapatan Relatif
F = Frekuensi
FR = Frekuensi Relatif
INP = Indeks Nilai Penting
b. Tingkat Sapihan di Suaka Margasatwa Tanjung
Struktur vegetasi mangrove tingkat Amolengo disajikan pada Tabel 6, Tabel
sapihan pada ketiga stasiun penelitian 7 dan Tabel 8.
Tabel 6. Data tingkat sapihan pada stasiun pertama
Stasiun 1
2
Nama Spesies K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,078 26,92 0,36 32,14 1,94 26,16 85,23
Rhizophora apiculata 0,077 26,37 0,24 21,43 1,03 13,95 61,75
Bruguiera gymnorrhiza 0,011 3,85 0,08 7,14 0,23 3,13 14,12
Bruguiera cylindrica 0,006 2,2 0,04 3,57 0,09 1,19 6,96
Ceriops tagal 0,118 40,66 0,4 35,71 4,12 55,56 131,93
Jumlah 0,291 100 1,12 100 7,41 100 300
Tabel 7. Data tingkat sapihan pada stasiun kedua
Stasiun 2
Nama Spesies K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,069 29,38 0,27 23,56 2,47 31,26 84,2
Rhizophora apiculata 0,036 15,25 0,13 11,74 0,87 11,03 38,03
Bruguiera gymnorrhiza 0,016 6,78 0,1 8,83 0,53 6,78 22,39
Bruguiera cylindrica 0,012 5,08 0,07 5,91 0,33 4,16 15,16
Sonneratia alba 0,008 3,39 0,03 2,91 0,2 2,57 8,87
Ceriops tagal 0,051 21,47 0,3 26,48 1,86 23,6 71,55
Ceriops decandra 0,044 18,64 0,23 20,56 1,63 20,59 59,8
Jumlah 0,236 100 1,13 100 7,89 100 300

Tabel 8. Data tingkat sapihan pada stasiun ketiga


Stasiun 3
2
Nama Spesies K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,101 30,65 0,42 27,04 1,7 28,23 85,92
Rhizophora apiculata 0,047 14,07 0,21 13,49 0,86 14,3 41,86
Bruguiera gymnorrhiza 0,022 6,53 0,17 10,83 0,55 9,07 26,44
Bruguiera cylindrica 0,012 3,52 0,04 2,72 0,17 2,8 9,04
Bruguiera parviflora 0,05 15,07 0,21 13,49 0,96 15,92 44,49

5
Sonneratia alba 0,008 2,51 0,08 5,38 0,27 4,47 12,37
Ceriops tagal 0,078 23,62 0,25 16,21 1,31 21,77 61,6
Ceriops decandra 0,003 1 0,04 2,72 0,05 0,87 4,59
Avicennia marina 0,01 3 0,12 8,11 0,15 2,56 13,68
Jumlah 0,332 100 1,542 100 6,02 100 300
Keterangan :
D = Dominansi
DR = Dominansi Relatif
c. Tingkat Tiang
Struktur vegetasi mangrove Tanjung Amolengo disajikan pada tabel
tingkat tiang pada ketiga stasiun 9, Tabel 10 dan Tabel 11.
penelitian di Suaka Margasatwa
Tabel 9. Data tingkat tiang pada stasiun pertama
Stasiun 1
Nama Spesies
K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,014 40,96 0,4 33,33 1,94 40,14 114,43
Rhizophora apiculata 0,008 25,3 0,32 26,67 1,39 28,79 80,76
Bruguiera gymnorrhiza 0,004 10,84 0,16 13,33 0,47 9,82 34
Bruguiera cylindrica 0,002 4,82 0,08 6,67 0,26 5,31 16,78
Bruguiera parviflora 0,002 7,23 0,08 6,67 0,39 8,19 22,08
Ceriops tagal 0,004 10,84 0,16 13,33 0,37 7,75 31,93
Jumlah 0,033 100 1,2 100 4,82 100 300
Tabel 10. Data tingkat tiang pada stasiun kedua
Stasiun 2
Nama Spesies
K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,008 19,68 0,23 13,2 1,81 21,27 54,16
Rhizophora apiculata 0,005 11,02 0,23 13,2 1,04 12,22 36,44
Bruguiera gymnorrhiza 0,008 18,11 0,33 18,87 1,59 18,67 55,65
Bruguiera cylindrica 0,003 7,09 0,1 5,66 0,53 6,23 18,98
Bruguiera parviflora 0,0003 0,79 0,03 1,87 0,17 2,03 4,68
Sonneratia alba 0,01 23,62 0,37 20,79 1,84 21,63 66,04
Sonneratia ovate 0,001 3,15 0,07 3,8 0,22 2,62 9,57
Ceriops tagal 0,005 11,02 0,23 13,2 0,83 9,79 34,02
Ceriops decandra 0,002 3,94 0,13 7,5 0,34 3,95 15,42
Exoecharia agallocha 0,0007 1,57 0,03 1,87 0,13 1,59 5,03
Jumlah 0,0423 100 1,76 100 8,5 100 300

Tabel 11. Data tingkat tiang pada stasiun ketiga


Stasiun 3
Nama Spesies
K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,011 23,64 0,37 17,62 1,69 22,29 63,54
Rhizophora apiculata 0,009 20 0,5 24,68 1,62 21,37 66,05

6
Bruguiera gymnorrhiza 0,011 23,64 0,42 20,58 1,74 22,92 67,14
Bruguiera cylindrical 0,005 10,91 0,25 12,34 0,79 10,44 33,69
Bruguiera parviflora 0,003 6,36 0,17 8,24 0,43 6,38 20,99
Sonneratia alba 0,005 10,91 0,17 8,24 0,93 12,31 31,46
Sonneratia ovate 0,0004 0,91 0,04 2,07 0,1 1,33 4,32
Ceriops tagal 0,0004 0,91 0,04 2,07 0,02 0,34 3,32
Ceriops decandra 0,0004 0,91 0,04 2,07 0,05 0,68 3,67
Exoecharia agallocha 0,0008 1,82 0,04 2,07 0,15 1,92 5,82
Jumlah 0,0458 100 2,03 100 7,6 100 300

d. Tingkat Pohon
Struktur vegetasi mangrove Tanjung Amolengo disajikan pada
tingkat Pohon pada ketiga stasiun Tabel 12, Tabel 13 dan Tabel 14.
penelitian di Suaka Margasatwa
Tabel 12. Data tingkat pohon pada stasiun pertama
Stasiun 1
Nama Spesies K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,0035 52,23 0,32 29,63 3,02 40,66 122,53
Rhizophora apiculata 0,002 29,85 0,44 40,74 2,59 34,81 105,4
Bruguiera gymnorrhiza 0,0008 11,94 0,2 18,52 1,61 21,63 52,09
Bruguiera cylindrical 0,0002 2,98 0,08 7,4 0,12 1,68 12,07
Ceriops tagal 0,0002 2,98 0,04 3,7 0,09 1,21 7,9
Jumlah 0,0067 100 1,08 100 7,43 100 300
Tabel 13. Data tingkat pohon pada stasiun kedua
Stasiun 2
2
Nama Spesies K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,0029 32,71 0,23 14,27 2,76 35,18 82,16
Rhizophora apiculata 0,0019 21,49 0,43 26,51 2,32 29,6 77,61
Bruguiera gymnorrhiza 0,0007 7,48 0,2 12,25 0,46 5,9 25,62
Bruguiera parviflora 0,0001 0,93 0,03 2,02 0,05 0,61 3,56
Sonneratia alba 0,0024 27,1 0,47 28,6 1,68 21,38 77,08
Sonneratia ovate 0,0005 5,61 0,17 10,23 0,33 4,23 20,06
Exoecharia agallocha 0,0003 3,74 0,07 4,1 0,18 2,26 10,11
Heritiera littoralis 0,0001 0,93 0,03 2,02 0,06 0,83 3,78
Jumlah 0,0089 100 1,63 100 7,85 100 300

Tabel 14. Data tingkat pohon pada stasiun ketiga


Stasiun 3
2
Nama Spesies K (Ind/m ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,0038 43,9 0,42 27,02 2,97 37,18 108,11
Rhizophora apiculata 0,0025 29,27 0,46 29,68 3,17 39,76 98,71
Bruguiera gymnorrhiza 0,0006 7,32 0,17 10,82 0,48 6,01 24,15
Bruguiera cylindrical 0,0005 6,1 0,17 10,82 0,47 5,96 22,89

7
Bruguiera parviflora 0,0001 1,22 0,04 2,72 0,06 0,7 4,64
Sonneratia alba 0,0006 7,32 0,17 10,82 0,55 6,84 24,98
Sonneratia ovate 0,0002 2,44 0,08 5,38 0,14 1,71 9,53
Exoecharia agallocha 0,0002 2,44 0,04 2,72 0,15 1,83 6,99
Jumlah 0,0085 100 1,54 100 7,98 100 300
Indeks Nilai Penting (INP) jenis mangrove di Suaka Margasatwa Tanjung
Amolengo dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15. Data Indeks Nilai Penting Jenis Mangrove
Nama Spesies K (Ind/m2 ) KR (%) F FR (%) D (cm/m2 ) DR (%) INP (%)
Rhizophora mucronata 0,753 16,27 0,325 21,571 2,256 28,872 66,712
Rhizophora apiculata 0,538 11,62 0,302 20,022 1,654 21,177 52,82
Bruguiera gymnorrhiza 0,361 7,815 0,167 11,117 0,851 10,894 29,827
Bruguiera cylindrica 0,301 6,497 0,082 5,42 0,307 3,925 15,843
Bruguiera parviflora 0,394 8,503 0,061 4,038 0,229 2,93 15,471
Sonneratia alba 0,025 0,551 0,165 10,951 0,912 11,67 23,171
Sonneratia ovata 0,0003 0,006 0,045 2,987 0,137 1,685 4,677
Ceriops tagal 1,033 22,308 0,175 11,615 0,956 12,231 46,154
Ceriops decandra 0,122 2,644 0,064 4,231 0,345 4,416 11,291
Exoecharia agallocha 0,0003 0,005 0,022 1,493 0,102 1,301 2,8
Avicennia marina 0,003 0,054 0,03 1,991 0,05 0,64 2,685
Heritiera littoralis 0,00003 0,0005 0,007 0,498 0,02 0,256 0,754
Acanthus ilicifolius 0,289 6,235 0,021 1,41 0 0 7,646
Acrostichum aureum 0,8 17,275 0,03 1,991 0 0 19,266
Acrostichum speciosum 0,01 0,216 0,01 0,663 0 0 0,88
Jumlah 4,631 100 1,507 100 7,812 100 300

4. Indeks Keanekaragaman Shannon- B. Pembahasan


Wiener
Berdasarkan hasil penelitian
Indeks keanekaragaman vegetasi
yang dilakukan di Suaka Margasatwa
mangrove tingkat semai, sapihan, tiang
Tanjung Amolengo pada 3 stasiun
dan pohon pada ketiga stasiun disajikan
pengamatan, diperoleh 15 jenis
pada Tabel 16.
spesies mangrove yang terbagi atas 6
Tabel 16. Nilai Indeks Keanekaragaman famili, yaitu Rhizophoraceae,
Shannon-Wiener pada lokasi Lythraceae, Acantha-ceae, Malvaceae,
penelitian Euphorbiaceae dan Pteridaceae. Spesies
Indeks mangrove yang diperoleh pada stasiun 1
No Stasiun
Keanekaragaman berjumlah 8 spesies, pada stasiun 2
1. 1 O,59 berjumlah 12 spesies dan pada stasiun 3
berjumlah 12 spesies. Mangrove yang
2. 2 0,71 ditemukan di Suaka Margasatwa
tersebar pada tiap stasiun pengamatan
3. 3 0,73
dengan jumlah dan jenis yang berbeda.
Rerata 0,7 Perbedaan tersebut sangat bergantung
pada faktor lingkungan suhu, salinitas
maupun jenis substrat.

8
Hasil penelitian vegetasi mangrove frekuensi tertinggi pada tingkat sapihan
di Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo sebesar 35,71%, sedangkan pada tingkat
menunjukkan bahwa Rhizophora pohon Rhizophora apiculata memiliki
mucronata memiliki kerapatan individu frekuensi tertinggi sebesar 29,68%.
tertinggi pada tingkat tiang dan pohon Frekuensi individu pada keempat tingkat
dengan nilai masing-masing 0,013 dan ini termasuk dalam kategori rendah. Hal ini
0,0038 (Ind/m2 ). Sedangkan pada tingkat disebabkan oleh persebaran spesies yang
semai dan sapihan Ceriops tagal memiliki terjadi secara berkelompok membentuk
kerapatan tertinggi dengan nilai masing- zonasi. Zonasi vegetasi mangrove ini
masing yaitu 5 dan 0,118 (Ind/m2 ). disebabkan oleh tinggi penggenangan air
Rendahnya nilai kerapatan pada tingkat laut dalam komunitas mangrove. Tiap
tiang dan pohon, serta tingginya nilai spesies mangrove memiliki kisaran
kerapatan pada tingkat semai dan sapihan toleransi terhadap tinggi penggenangan air
menunjukkan bahwa komunitas mangrove laut yang berbeda, semakin ke arah darat
telah mencapai fase klimaks, tetapi akibat maka tinggi penggenangan air laut semakin
adanya aktivitas manusia seperti kecil.
penebangan pohon untuk dijadikan kayu
Zonasi pada komunitas mangrove
bakar atau kayu dolken menyebabkan
ini terdiri atas tiga zonasi yaitu zona depan
mangrove tidak mencapai tahap tiang dan
(terdekat dengan laut) yang terdiri atas
pohon.
Rizophora mucronata dan Rhizophora
Jumlah tiang dan pohon yang sedikit apiculata. Zona tengah yang terdiri atas
menyebabkan terjadinya pembukaan tajuk Rhizophora apiculata, Bruguiera
hutan, sehingga sinar matahari dapat masuk gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica,
ke lapisan tajuk bagian bawah. Semai yang Sonneratia alba dan Sonneratia ovata.
semula tertekan karena kekurangan sinar Sedangkan zona belakang (terjauh dari
matahari tumbuh dengan baik untuk laut) terdiri atas Ceriops tagal dan Ceriops
membentuk sapihan dan sapihan akan decandra. Jamili, dkk (2009:200)
tumbuh dengan baik membentuk tiang. menyatakan bahwa adanya hubungan yang
Pada tingkat tiang inilah sebagai tanda signifikan antara faktor tinggi
kerusakan pada vegetasi mangrove, dimana penggenangan dengan zonasi mangrove,
nilai kerapatan yang rendah menunjukkan dimana zona Rhizophora mucronata
adanya eksploitasi (jumlah tiang sedikit). merupakan area yang selalu tergenang
Begitu pula pada tingkat pohon, dimana pasang harian, sedangkan zona Ceriops
rendahnya nilai kerapatan menunjukkan decandra merupakan area yang paling
bahwa telah terjadi eksploitasi pada pohon sedikit terkena genangan.
mangrove atau akibat dari adanya
Dominansi individu tertinggi pada
eksploitasi pada tingkat tiang sehingga
tingkat tiang yaitu spesies Rhizophora
mangrove pada tingkat tiang hanya sedikit
mucronata sebesar 1,94 (cm/m2 ).,
yang dapat tumbuh membentuk pohon.
sedangkan pada tingkat pohon Rhizophora
Usman, dkk (2013:13) menyatakan bahwa
apiculata memiliki dominansi tertinggi
rendahnya kerapatan semai disebabkan
sebesar 3,17 (cm/m2 ).. Rhizophora
karena cahaya matahari yang dibutuhkan
mucronata dan Rhizophora apiculata
oleh semai untuk berfotosintesis terhalang
memiliki nilai dominansi tertinggi pada
oleh pohon, sehingga semai tidak dapat
tingkat tiang dan pohon. Hal ini disebabkan
tumbuh dengan baik.
karena Rhizophora apiculata dan
Frekuensi individu tertinggi pada Rhizophora mucronata memiliki
tingkat semai dan tiang yaitu spesies persebaran yang merata pada zona depan
Rhizophora mucronata dengan nilai 28% dengan substrat berlumpur yang sesuai
dan 33,33%, Ceriops tagal memiliki untuk pertumbuhannya. Tingginya

9
dominansi Rhizophora mucronata dan berpengaruh besar terhadap vegetasi
Rhizophora apiculata pada tingkat tiang mangrove ini. Pada tingkat semai dan
dan pohon di zona depan menyebabkan sapihan Ceriops tagal memiliki nilai INP
cahaya matahari tidak dapat menyinari tertinggi, karena tumbuhan ini umumnya
lahan mangrove secara optimal, sehingga berukuran kecil sehingga lebih dominan
semai dan pancang tidak tumbuh dengan pada tingkat semai dan sapihan. Ismaini,
baik karena tidak mendapatkan cahaya dkk (2015:1400) menyatakan bahwa
matahari yang cukup untuk berfotosintesis semakin besar nilai INP suatu spesies maka
akibat terhalang oleh pohon. semakin besar tingkat penguasaan terhadap
komunitas dan sebaliknya.
Pada tingkat sapihan Ceriops tagal
memiliki dominansi tertinggi dengan nilai Indeks keanekaragaman Shannon-
4,12 (cm/m2 ). Hal ini disebabkan karena Wiener di Suaka Margasatwa Tanjung
persebaran Ceriops tagal yang merata di Amolengo termasuk dalam kategori rendah
zona belakang dengan substrat tanah dengan nilai rerata 0,67. Keanekaragaman
berlumpur yang mendukung pertumbuhan spesies dikatakan rendah apabila nilai
dan kerapatan jenis Ceriops tagal. indeks keanekaragaman lebih kecil dari 1.
Tingginya dominansi Ceriops tagal di Rendahnya nilai indeks keanekaragaman
zona belakang disebabkan karena ini menunjukkan bahwa spesies yang
kurangnya pohon-pohon besar yang dapat terdapat dalam vegetasi mangrove kurang
menghalang cahaya matahari untuk berlimpah dengan jumlah spesies yang
pertumbuhan semai dan sapihan. tidak merata. Hal ini sesuai dengan
Dominansi juga dipengaruhi oleh kondisi pernyataan Yuningsih, dkk (2013:80)
lingkungan, dimana spesies yang tumbuh bahwa keanekaragaman spesies dapat
pada kondisi lingkungan yang mendukung dikatakan rendah apabila nilai indek
pertumbuhannya dan mampu berkompetisi keanekaragaman (H’) lebih kecil dari 1.
untuk memperoleh unsur hara yang lebih
Kurang berlimpahnya jumlah
banyak dibandingkan jenis lain maka akan
spesies yang terdapat di vegetasi mangrove
lebih mendominasi. Hotden, dkk (2014:7)
ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti
menyatakan bahwa jenis yang memiliki
jenis substrat maupun aktivitas manusia.
nilai dominansi yang lebih rendah berarti
Jenis substrat pada vegetasi mangrove ini
mencerminkan ketidak-mampuannya
terdiri atas tiga, yaitu substrat berlumpur,
toleran terhadap kondisi lingkungan.
lumpur berpasir dan tanah berlumpur. Jenis
Indeks nilai penting tertinggi pada substrat yang dominan lumpur
tingkat semai dan sapihan dimiliki oleh menyebabkan kurangnya jumlah spesies
Ceriops tagal dengan nilai masing-masing yang tumbuh pada vegetasi mangrove ini.
yaitu 63,82% dan 131,93%, sedangkan Hal ini berkaitan erat dengan tipe akar pada
pada tingkat tiang dan pohon Rhizophora spesies mangrove, dimana spesies
mucronata memiliki nilai INP tertinggi mangrove yang memiliki tipe akar tunjang
yaitu 114,43% dan 122,53%. Nilai INP seperti Rhizophora mucronata lebih
menunjukkan pentingnya atau peranan dominan pada vegetasi mangrove ini. Tipe
suatu jenis dalam komunitas, semakin akar tunjang lebih kuat untuk menyokong
tinggi nilai INP maka semakin berperan spesies mangrove pada substrat berlumpur
suatu jenis dalam komunitas. Besarnya dan mengatasi hantaman angin laut
nilai INP Rhizophora mucronata sehingga mangrove pada zona depan dari
menunjukkan bahwa pada tingkat tiang dan vegetasi ini tidak tumbang. Pada substrat
pohon didominasi oleh Rhizophora lumpur berpasir didominasi oleh spesies
mucronata. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove yang memiliki tipe akar lutut
apabila terjadi gangguan terhadap seperti Bruguiera gymnorrhiza dan tipe
Rhizophora mucronata maka akan akar nafas seperti Sonneratia alba. Substrat

10
lumpur berpasir yang cukup padat Tenggara. Jurnal Ilmu Kelautan.
menyebabkan tipe akar lutut dan akar nafas Vol. 14(4): 36-45.
mampu menunjang pohon sehingga tidak Majid, I., Mimien, H. I., Fachur, R.,
tumbang. Sedangkan pada substrat tanah
Istamar, S. 2016. Konservasi Hutan
berlumpur didominasi oleh spesies
Mangrove Di Pesisir Pantai Kota
mangrove yang memiliki tipe akar tunjang
Ternate Terintegrasi dengan
yang kecil seperti Ceriops tagal dan Kurikulum Sekolah. Jurnal
Ceriops decandra. Bioedukasi. Vol. 4(2):488-496.
SIMPULAN Noor, Y. R., Khazali, M., dan Suryadiputra,
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu I. N. N. 2006. Panduan Pengenalan
komposisi vegetasi hutan mangrove di Mangrove di Indonesia. Wetland
Suaka Margasatwa Tanjung Amolengo International-Indonesia Programme.
terdiri atas 15 spesies mangrove yang Bogor.
terbagi atas 6 famili, yaitu Rhizophoraceae, Nurrahman, Y. A., Otong, S. D., dan Rita,
Lythraceae, Acanthaceae, Malvaceae, R. 2012. Struktur dan Komposisi
Euphorbiaceae dan Pteridaceae. Vegetasi Vegetasi Mangrove di Pesisir
ini terdiri dari 11 Jenis pada tingkat semai, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan
9 jenis pada tingkat sapihan dan tiang, serta Kabupaten Bengkayang Kalimantan
10 jenis pada tingkat pohon. INP terbesar Barat. Jurnal Perikanan dan
dimiliki oleh Rhizophora mucronata Kelautan. Vol. 3(1) : 99-107.
sebesar 66,712%, sedangkan INP terendah
dimiliki oleh Heritiera littoralis sebesar Odum, E. P. 1975. Ecology: Secong
0,754%. Dimana nilai Indeks Edition. Holt, Rinehart and Winston.
Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) New York.
yang termasuk dalam kategori rendah Pirnanda, D., Sumantri, H., Imansysah, T.,
dengan nilai rerata 0,67. Kadarisman, R., dan Prasetyo, B.
2016. Pengenalan Jenis Mangrove
DAFTAR PUSTAKA di Kawasan Taman Nasional
Hotden., Khairijon., dan Mayta, N. I. 2014. Sembilang Sumatera Selatan.
Analisis Vegetasi Mangrove Di BIOCLIME. Palembang.
Ekosistem Mangrove Desa Tapian Usman, L., Syamsuddin., dan Sri N. H.
Nauli Kecamatan Tapian Nauli 2013. Analisis Vegetasi Mangrove
Kabupaten Tapanuli Tengah Di Pulau Dudepo Kecamatan
Provinsi Sumatera Utara. Jurnal
Anggrek Kabupaten Gorontalo
Online Mahasiswa FMIPA. Vol
1(2):1-10. Utara. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan. Vol 1(
Ismaini, L., Masfiro, L., Rustandi., dan
Dadang, S. 2015. Analisis
Komposisi dan Keanekaragaman
Tumbuhan di Gunung Dempo,
Sumatera Selatan. Prosiding
Seminar Nasional Masyarakat
Biodiversitas Indonesia. Vol. 1(6):
1397-1402.
Jamili., Dede, S., Ibnul, Q., dan Edi, G.
2009. Struktur dan Komposisi
Mangrove di Pulau Kaledupa
Taman Nasional Wakatobi Sulawesi

11
12