Anda di halaman 1dari 5

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah

yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. Penyelidikan

epidemiologis membuktikan bahwa tingginya tekanan darah berhubungan

erat dengan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler (Muttaqin,

2009).

Tekanan darah tinggi berpengaruh pada organ lain, seperti stroke

untuk otak atau penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung

dan otot jantung. Penyakit ini menjadi salah satu masalah utama dalam

ranah kesehatan masyarakat di Indonesia maupun di dunia. Diperkirakan

sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama terjadi di negara

berkembang pada tahun 2025; dari jumlah total 639 juta kasus ditahun

2000. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 1,35 miliar kasus di

tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka hipertensi dan

pertambahan penduduk saat ini (Ardiansyah, 2012).

Perawat merawat respon manusia terhadap masalah kesehatan dan

atau proses kehidupan dengan mengategorikan bidang yang menjadi

perhatian keperawatan(yaitu fokus dari diagnosis). Perawat menangani

respon terhadap gangguan kesehatan / proses kehidupan antar individu,

keluarga, kelompok, dan masyarakat. Respons tersebut merupakan pusat

perhatian asuhan keperawatan. Diagnosis keperawatan dapat berfokus


2

pada masalah, atau tingkat promosi kesehatan atau resiko potensial

(Herdman, 2017).

Berdasarkan data dari World Health Organization (2017),

menyebutkan sekitar 1,13 miliar orang didunia menderita hipertensi.

Prevalensi peningkatan tekanan darah pada orang dewasa berusia lebih

dari 18 tahun ke atas sekitar 44% pada tahun 2015 dan penderita

hipertensi meningkat dari 600 juta pada tahun 1980 menjadi hampir 1

miliar pada tahun 2008 dan pada tahun 2015 meningkat menjadi sekitar

1,13 miliar orang (WHO, 2017).

Prevalensi hipertensi pada umur ≥18 tahun di Indonesia menurut

diagnosis dokter/ tenaga kesehatan sebesar 8,4 persen pada tahun 2018,

sedangkan yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum

obat hipertensi sendiri sebesar 8,8 persen. Jadi, terdapat 0,1 persen

penduduk yang minum obat sendiri, meskipun tidak pernah didiagnosis

hipertensi oleh nakes. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil

pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 34,1 persen pada 2018. Jadi

cakupan nakes hanya 51,3 persen, sebagian besar (48,7%) kasus hipertensi

di masyarakat tidak terdiagnosis (Riskesdas, 2018).

Hipertensi Provinsi Jawa Timur, persentase hipertensi sebesar

13,47% atau sekitar 935.736 penduduk (Kemenkes, 2017). Prevalensi

hipertensi di provinsi Jawa Timur berdasarkan pengukuran pada umur ≥18

tahun sebesar lebih dari 34,1% (Riskesdas, 2018).


3

Jumlah penduduk usia ≧ 18 di Kabupaten Mojokerto sebanyak

783.157 jiwa. Cakupan pemeriksaan tekanan darah tinggi di Kabupaten

Mojokerto sebanyak 152.902, dan yang mengalami hipertensi sebanyak

34.958 (22,86%) (Dinkes, 2016).

Hasil penelitian dari (Sampaio et al., 2017) menyebutkan dari 175

responden sebagian besar diagnosis keperawatan yang ditemukan berasal

dari aktivitas / istirahat domain (38,5%), diikuti oleh nutrisi (15,4%),

keselamatan / perlindungan (15,4%), promosi kesehatan (11,5%),

eliminasi dan debit (7,7%), koping / toleransi stres (7,7%) dan

kenyamanan (3,8%). Hasil dari studi pendahuluan di rawat jalan RSUD

Prof Dr. Soekandar kab. Mojokerto pada tanggal 26-27 Desember 2018

dengan jumlah 10 responden dengan hipertensi didapatkan diagnosa

keperawatan nyeri akut sebanyak 5 orang (50%), intoleransi aktivitas

sebanyak 4 orang (40%) dan ansietas sebanyak 1 orang (10%).

Proses keperawatan menyediakan struktur untuk praktik

keperawatan merupakan kerangka kerja penggunaan pengetahuan dan

ketrampilan yang dilakukan oleh perawat untuk mengekspresikan human

caring. Proses keperawatan digunakan secara terus menerus ketika

merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan. Perawat

menganggap pasien sebagai figur sentral dalam rencana asuhan dan

memastikan ketepatan dari semua aspek asuhan keperawatan dengan

mengobservasi respon pasien (Wilkinson & Dkk, 2015). Diagnosa yang

mungkin muncul pada pasien hipertensi adalah Penurunan curah jantung,


4

nyeri akut, kelebihan volume cairan, intoleransi aktivitas, ketidakefektifan

koping, resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak, resiko cedera,

defisiensi pengetahuan, ansietas (Nurarif & Dkk, 2015).

Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons

manusia terhadap kondisi kesehatan/proses kehidupan, atau kerentanan

terhadap respons oleh individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat. Hal

tersebut membutuhkan pengkajian keperawatan untuk mendiagnosis

pasien dengan benar. Suatu diagnosis keperawatan memberikan dasar

untuk pemilihan tidakan keperawatan demi mencapai hasil asuhan yang

bisa dipertanggungjawabkan oleh perawat. Jadi diagnosis keperawatan

penting digunakan untuk menentukan rencana asuhan keperawatan yang

tepat untuk pasien, menentukan tindakan keperawatan dan hasil asuhan

keperawatan pada pasien (Herdman, 2017).

Berdasarkan uraian diatas peneliti menyimpulkan bahwa diagnosa

keperawatan penting untuk di teliti. Dengan ditelitinya diagnosa

keperawatan maka bisa dengan tepat pula kita menentukan intervensi dan

tindakan keperawatan yang tepat untuk pasien. Setiap tahun penderita

hipertensi semakin meningkat. Setiap penderita hipertensi pasti

mempunyai masalah keperawatan yang berbeda-beda. Maka dari itu

peneliti ingin mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang sering muncul

pada pasien hipertensi.


5

1.2 Rumusan Masalah

Apa saja diagnosa keperawatan pada pasien hipertensi di RSUD Prof. Dr.

Soekandar ?

1.3 Tujuan

Menganalisis diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien

hipertensi di RSUD Prof. Dr. Soekandar.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Sebagai evidence based dalam pengembangan asuhan keperawatan

pada pasien dengan hipertensi .

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Perawat

Sebagai acuan dalam menententukan diagnosa keperawatan

pada pasien dengan hipertensi.