Anda di halaman 1dari 38

BUKU PEGANGAN

KADER & TOMA

DESA SIAGA

P4K

PHBS
2
DESA SIAGA

1
DESA SIAGA

Latar Belakang

Visi Indonesia sehat tahun 2010 menggambarkan bahwa pada


tahun 2010 bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang
sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta mampu
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
dan merata, sehingga memiliki derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya. Namun demikian, fakta menunjukkan adanya
tantangan yang berat untuk mencapainya. Terutama dengan
masih tingginya angka kematian, terutama kematian ibu dan
kematian bayi, menunjukkan masih rendahnya kualitas pelayanan
kesehatan. Demikian juga dengan tingginya angka kesakitan
yang ditandai dengan munculnya kembali berbagai penyakit
lama seperti malaria dan tuberkulosis paru, merebaknya penyakit
baru seperti yang bersifat pendemik seperti HIV/AIDS, SARS, dan
flu burung, serta belum hilangnya penyakit-penyakit endemis
seperti diare dan demam berdarah. Belum lagi diperparah dengan
adanya berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan
kecelakaan massal.

Berdasarkan sasaran tersebut di atas, visi Departemen Kesehatan


adalah, ”Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat,” dengan
misi ”Membuat Masyarakat Sehat,” yang akan dicapai melalui
strategi:
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk
hidup sehat.
2. Meningkatkan askes masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang berkualitas

2
3. Meningkatkan sistem surveilans, monitoring, dan informasi
kesehatan.
4. Meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Berkaitan dengan strategi tersebut, salah satu sasaran terpenting


yang ingin dicapai adalah ”Pada Akhir Tahun 2008, Seluruh Desa
Telah Menjadi Desa Siaga.”

Apa itu Desa Siaga?

Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan


sumberdaya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah
dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri. Inti dari Desa Siaga
adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu hidup
sehat.

Untuk menuju Desa Siaga perlu dikaji berbagai kegiatan


bersumberdaya masyarakat yang ada dewasa ini, seperti
Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa, Dana Sehat, Siap-Antar-Jaga,
dan lain-lain sebagai embrio atau titik awal pengembangan
menuju Desa Siaga. Dengan Demikian, mengubah desa menjadi
Desa Siaga akan lebih cepat bila di desa tersebut telah ada
berbagai UKBM.

Bagaimana Cara Mengembangkan Desa Siaga?

Untuk mengembangkan Desa Siaga diperlukan langkah-langkah


pendekatan edukatif, yaitu upaya memfasilitasi masyarakat
untuk menjalankan proses pembelajaran berupa pemecahan
masalah kesehatan yang dihadapinya, merencanakan,
3
melaksanakan dan mengevaluasinya. Langkah-langkah pokok
pemberdayaan masyarakat dalam Desa Siaga meliputi:
1. Pertemuan tingkat desa
2. Survei Mawas Diri (SMD)
3. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
4. Tindak lanjut rencana kerja hasil MMD

Di mana posisi P4K dan PHBS?

Komponen atau unsur dari Desa Siaga meliputi Poskesdes,


UKBM, Surveillance (KLB), kegawatdaruratan, Pembiayaan
berbasis masyarakat, dan PHBS.

Di antara beberapa komponen di atas, Poskesdes menjadi


komponen paling utama. Meskipun demikian, apabila
pembentukan Poskesdes belum dapat tercapai, maka lebih
diutamakan menghidupkan komponen lain yang telah siap,
misalanya UKBM seperti Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa, Desa
Siap-Antar-Jaga (sekarang disebut P4K – Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).

Dalam bagan di bawah ini dapat dilihat bahwa pengembangan


Desa Siaga dapat dimulai dari berbagai kegiatan yang sudah ada
di masyarakat. Di antara kegiatan yang tersebut adalah P4K.

Dengan demikian, P4K dapat dikatakan sebagai embrio dari


Desa Siaga. Sedangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
adalah salah satu komponen/unsur penting dalam Desa Siaga.

4
Forum Masyarakat Desa

DESA SIAGA

P4K KOMPONEN UNSUR:


KOMPONEN UNSUR:
1. Memiliki Yankes Dasar
1. Pencatatan ibu hamil
(Poskesdes)
2. Sistem transportasi
3. Donor darah 2. UKBM (Usaha Kesehatan
4. Tabulin/Dasolin Berbasis Masyarakat)
5. Menemani pada saat persalinan 3. Surveillance (KLB) DESA SEHAT
6. Menyusui segera
7. Kunjungan nifas 1 (KN-1) 4. Emergency (bencana)
5. Pembiayaan kesehatan
berbasis masyarakat
DESA DENGAN POLINDES/ 6. PHBS (Perilaku Hidup
SARYANKES Bersih dan Sehat)

DESA BINAAN SEKTOR


NON KESEHATAN

5
6
P4K

7
P4K

PERAN KADER DAN TOMA DALAM P4K


(PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN
PENCEGAHAN KOMPLIKASI)

A. P4K SEBAGAI EMBRIO DESA SIAGA

Dalam Pedoman Pelaksanaan pengembangan Desa Siaga No


564/ MENKES/ SK/ VIII/ 2006, disebutkan bahwa untuk menuju
Desa Siaga perlu dikaji berbagai kegiatan bersumberdaya
masyarakat yang ada dewasa ini seperti Posyandu, Polindes, Pos
Obat, Dana Sehat, Siap-Antar-Jaga, dan lain-lain sebagai embrio
atau titik awal pengembangan menuju Desa Siaga. Dengan
demikian mengubah desa menjadi Desa Siaga akan lebih cepat
bila di desa tersebut telah ada berbagai UKBM.

Berkaitan dengan Siap-Antar-Jaga sebagai embrio Desa Siaga,


pada perkembangannya telah berubah menjadi P4K (Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).

8
Forum Masyarakat Desa

DESA SIAGA

P4K KOMPONEN UNSUR:


KOMPONEN UNSUR:
1. Memiliki Yankes Dasar
1. Pencatatan ibu hamil
(Poskesdes)
2. Sistem transportasi
3. Donor darah 2. UKBM (Usaha Kesehatan
4. Tabulin/Dasolin Berbasis Masyarakat)
5. Menemani pada saat persalinan 3. Surveillance (KLB) DESA SEHAT
6. Menyusui segera
7. Kunjungan nifas 1 (KN-1) 4. Emergency (bencana)
Bagan P4K sebagai embrio Desa Siaga.

5. Pembiayaan kesehatan
berbasis masyarakat
DESA DENGAN POLINDES/ 6. PHBS (Perilaku Hidup
SARYANKES Bersih dan Sehat)

DESA BINAAN SEKTOR


NON KESEHATAN

9
B. KOMPONEN P4K

1. Pencatatan Ibu Hamil


Suatu kegiatan pencatatan dan pelaporan keadaan ibu
bersalin di wilayah kerja Bidan dengan melibatkan peran aktif
unsur–unsur masyarakat di wilayahnya (kader dan toma).
Pada saat pencatatan, stiker P4K dipasang pada pintu depan
rumah. Pada kunjungan berikutnya, bidan menggunakan
Buku KIA sebagai media komunikasi.

2. Dasolin/Tabulin
Tabulin adalah dana yang disimpan oleh keluarga
secara bertahap sesuai dengan kemampuannya yang
pengelolaannya sesuai dengan kesepakatan serta
penggunaannya untuk segala bentuk pembiayaan persalinan
dan kegawat daruratan.

Dasolin adalah dana yang dihimpun dari masyarakat secara


sukarela dengan prinsip gotong royong sesuai dengan
kesepakatan bersama dengan tujuan membantu pembiayaan
persalinan dan kegawatdaruratan, yang bisa dikelola oleh
kader dan toma.

3. Donor Darah
Calon orang-orang yang dipersiapkan oleh ibu, keluarga dan
atau masyarakat yang sewaktu waktu bersedia mendonorkan
darahnya untuk keselamatan ibu melahirkan. Demi efektifitas
& penyediaan darah yang aman, pengurus donor darah dapat
menghubungi pihak PMI untuk melakukan pengambilan
donor darah massal di desa tersebut untuk mengisi cadangan
darah pada UTD kab/kota tersebut. Atau mekanisme lain
adalah para calon pendonor darah tersebut dapat menjadi
bank darah hidup yang sewaktu-waktu dapat diminta PMI
10
untuk memberikan darahnya untuk mengisi stok darah yang
sedang menipis.

Mekanisme memberikan darah langsung dari orang ke orang


tanpa mekanisme penapisan dan pemeriksaan laboratorium
sangat tidak dianjurkan mengingat dapat terjadi reaksi silang
terhadap darah yang tidak cocok atau bahkan penularan
penyakit dari pendonor darah ke penerima darah. Sedangkan
untuk melakukan serangkaian test tersebut memerlukan
waktu sekitar 3 – 6 jam.

4. Transportasi/Ambulan Desa
Alat transportasi yang dapat dipergunakan untuk mengantar
calon ibu bersalin ke tempat persalinan termasuk tempat
rujukan seperti halnya mobil, ojek, sepeda, tandu, perahu, dll.

5. Suami/Keluarga Menemani Ibu pada Saat Bersalin


Upaya suami dan atau keluarga untuk memberikan motivasi
dan dukungan kepada ibu pada saat hamil-bersalin dengan
tujuan agar ibu mendapatkan kekuatan psikologis dalam
menghadapi persalinan, dan memastikan ada tenaga
kesehatan yang terampil yang mendampingi persalinannya.

6. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Inisisasi menyusu dini adalah upaya Bidan memfasilitasi
agar bayi diletakan pada dada ibunya selama satu jam pasca
persalinan agar bayi dapat menyusu sendiri.

7. Kunjungan Nifas
Kunjungan oleh Bidan terhadap ibu nifas dan bayinya pada
hari ke-3 dan ke-14 pascapersalinan. Kunjungan nifas pada
minggu ke-6 diharapkan terjadi di tempat pelayanan.

11
8. KB Pasca Persalinan
Adalah pemakaian alat kontrasepsi oleh ibu atau suami pasca
persalinan.

C. SISTEM DAN MEKANISME PENGEMBANGAN P4K

Peran kader dan toma sangat menentukan keberhasilan


program P4K. Untuk efektifitas kegiatan, para kader dan toma
dapat tergabung dalam sebuah forum di tingkat desa. Forum
P4K tersebut diharapkan dapat memanfaatkan lebih dahulu
forum-forum yang sudah ada di masyarakat antara lain: GSI.,
Forum Desa Siaga, dll. Apabila di daerah tersebut belum
terbentuk forum seperti itu bisa dilakukan pembentukan secara
partisipatif.

Pemilihan kelompok masyarakat ini sebaiknya didahului dengan


kesepakatan kriteria bagi orang-orang yang akan dipilih dalam
sebuah kelompok masyarakat. Kriteria diserahkan sepenuhnya
kepada unsur masyarakat yang hadir. Umumnya kriteria yang
muncul antara lain adalah punya waktu dan punya kemauan.

Pemilihan orang-orang juga bisa dilakukan dengan membagi


unsur masyarakat yang hadir dalam kelompok-kelompok dan
kemudian masing-masing kelompok mengajukan orang-
orang yang dipercaya untuk dipilih sebagai anggota kelompok
masyarakat dan disepakati bersama. Umumnya orang-orang
ini adalah kader potensial di tingkat desa. Setelah kelompok
terbentuk maka kelompok ini bisa dijadikan partner oleh
Bidan untuk peningkatan kesehatan masyarakat khususnya
peningkatan kesehatan ibu hamil-melahirkan dan bayi baru
lahir. Fasilitator desa yang tadinya membantu Bidan dalam

12
melakukan telaah kebutuhan hingga perencanaan partisipatif
bisa dilibatkan sebagai anggota Forum P4K.

Sebagai sebuah organisasi, Forum P4K memiliki ketua, wakil


ketua, sekretaris, bendahara dan seksi-seksi yang menangani
kegiatan dalam rangka program P4K. Seksi-seksi tersebut
biasanya terdiri dari 4 seksi utama: Seksi Pencatatan Ibu Hamil,
Seksi Donor Darah, Seksi Transportasi, dan Seksi Tabulin/ Dasolin.
Seksi lain bisa dibentuk sesuai kebutuhan, misalnya Seksi
Penyuluhan atau Seksi Lingkungan Hidup.

Tugas dan tanggung jawab kader dan toma (atau


Forum P4K)

1. Pengisian dan Pemasangan Stiker P4K


Pengembangan stiker P4K sudah dimulai dari tahun 2007.
Stiker P4K ini berisikan informasi tentang ibu hamil. Informasi
yang di gambarkan pada stiker adalah informasi tentang nama
ibu hamil, nama suami, golongan darah ibu hamil, rencana
tabulin, rencana nama tenaga kesehatan yang akan diminta
untuk persalinan, rencana nama pendonor darah yang akan
diminta bila ibu hamil mengalami kegawatdaruratan dan
rencana sarana transportasi/ ambulan desa yang akan dipakai
bila ibu hamil mengalami kegawatdaruratan.

Hal terpenting dalam pengembangan mekanisme dan sistem


P4K dengan Stiker adalah kerjasama antara Bidan-Dukun/
Pendamping Persalinan - Forum P4K agar semua pihak
berperan aktif dalam melakukan penggalian informasi yang
dibutuhkan pada stiker dari ibu hamil yang ada di wilayahnya
serta sekaligus peran menempelkan stiker tersebut di masing-
masing rumah ibu hamil yang juga akan berguna sebagai
notifikasi (penanda) rumah ibu hamil tersebut.
13
Program pemasangan stiker menjadi media paling utama
dalam P4K. Melalui stiker, pendataan ibu hamil dan dipantau
secara efektif oleh Bidan bersama Komite P4K. Metode
dan instrumen pendukung lainnya tetap diperlukan untuk
menopang program pemasangan stiker ini, seperti yang akan
dijelaskan di bawah ini.

2. Pengelolaan Donor Darah


Untuk memastikan kegiatan donor darah berjalan dengan
maksimal maka perlu dilakukan upaya partisipatif Bidan
berkerja sama dengan Forum P4K dan Dukun/ Pendamping
Persalinan untuk mewujudkan komitmen bersama di
masyarakat dalam melaksanakan komponen P4K tersebut.

Komitmen masyarakat terhadap pelaksanaan donor darah


dapat diwujudkan dengan pembuatan Surat Pernyataan
Kesediaan menjadi Pendonor Darah bagi warga yang bersedia
dan ikhlas sebagai calon pendonor darah atau pemakaian
kendaraannya sewaktu-waktu bila diperlukan dalam situasi
kegawatdaruratan. Surat Pernyataan Kesediaan tersebut dapat
dituangkan dalam satu lembar kertas yang memberikan
informasi tentang nama, alamat, nomor telepon, umur,
golongan darah. Selanjutnya surat pernyataan tersebut harus
menjelaskan bahwa surat dibuat secara sukarela dan tanpa ada
paksaan dari pihak manapun. Terakhir surat pernyataan harus
ditandangani oleh yang membuat pernyataan dan diketahui
oleh Kepala Desa/ Lurah wilayah setempat

Setelah adanya surat pernyataan kesediaan menjadi


pendonor darah, maka langkah selanjutnya yang perlu
dikembangkan adalah membuat daftar tertulis tentang
orang-orang yang bersedia menjadi pendonor darah. Daftar

14
ini bisa dibuat di atas kertas karton besar atau di papan tulis
dan kemudian disosialisasikan kepada masyarakat luas di
desa/kelurahan. Umumnya di pedesaan sosialisasi dilakukan
dengan penempelan daftar nama-nama orang yang bersedia
menjadi pendonor darah.

Untuk melakukan cek golongan darah di masyarakat, Bidan


bisa berkoordinasi dengan pihak PMI melalui Puskesmas.
Pada tingkat masyarakat, Forum P4K bisa membantu
memobiliasi masyarakat tentang waktu pelaksanaan cek
golongan darah masal.

3. Pengelolaan Sarana Transportasi/ Ambulan Desa


Sama halnya dengan donor darah, untuk pengelolaan sarana
transportasi/ ambulan desa, diperlukan komitmen masyarakat
dalam bentuk pembuatan Surat Pernyataan Kesediaan Sarana
Transportasi/ Ambulan Desa bila diperlukan dalam situasi
kegawatdaruratan.

Surat Pernyataan Kesediaan tersebut dapat dituangkan


dalam satu lembar kertas yang memberikan informasi
tentang nama, alamat, nomor telepon, umur, jenis kendaraan.
Selanjutnya surat pernyataan tersebut harus menjelaskan
bahwa surat dibuat secara sukarela dan tanpa ada paksaan
dari pihak manapun. Terakhir surat pernyataan harus
ditandangani oleh yang membuat pernyataan dan diketahui
oleh Kepala Desa/ Lurah. Untuk memudahkan koordinasi
dan keperluan mendadak, diperlukan daftar pemilik sarana
transportasi/ambulan desa. Daftar ini bisa dibuat di atas
kertas karton besar atau di papan tulis dan kemudian
disosialisasikan kepada masyarakat luas di desa/kelurahan.

15
4. Penggunaan, Pengelolaan dan pengawasan Tabulin/
Dasolin
Untuk mekanisme pelaksanaan komponen Tabulin/ Dasolin,
Bidan bersama dengan Komite P4K dan Dukun harus bekerja
hati-hati. Karena pelaksanaan komponen ini berkaitan erat
dengan uang atau sumber daya yang lain. Ini merupakan hal
yang sensitif bagi sebagian besar masyarakat, sehingga perlu
upaya yang partisipatif dan komunikatif dalam melaksankan
komponen Tabulin/ Dasolin tersebut.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan
pertemuan-pertemuan bersama dengan masyarakat untuk
membahas mekanisme penggunaan, pengelolaan dan
pengawasan Tabulin/ Dasolin.

Mekanisme penggunaan, pengelolaan dan pengawasan


Tabulin/ Dasolin sebenarnya diserahkan sepenuhnya kepada
keinginan dan kesepakatan masyarakat pada pertemuan-
pertemuan yang dilakukan. Namun sebagai panduan ketika
melakukan fasilitasi mekanisme penggunaan, pengelolaan
dan pengawasan Tabulin/ Dasolin memperhatikan beberapa
hal berikut, yakni:

a. Pengumpulan dan Penyimpanan Dana


- Penyepakatan bersama jangka waktu pengumpulan
dana.
- Penyepakatan jumlah dana yang dikumpulkan.
- Penyepakatan cara pengumpulan dan penyimpanan
dana.
- Penyepakatan penanggungjawab pengumpulan dana
dan pengelolaan dana.
- Pengesahan penanggungjawab pengumpul dan
pengelola dana.
16
b. Penggunaan Dana
- Penyepakatan kategori pemanfaat.
- Penetapan bentuk pemanfaatan dana.
- Penetapan besarnya dana yang dapat dimanfaatkan.
- Penetapan bentuk dan jangka waktu pengembalian (jika
bersifat pinjaman).
- Penetapan tata cara pemanfaatan.

c. Pengawasan dan Pelaporan Dana


- Penetapan penanggungjawab pengawasan.
- Penetapan bentuk pelaporan keuangan.
- Penetapan tata cara pengawasan.

5. Pembuatan dan Penandatanganan Amanat Persalinan


Amanat persalinan adalah kesepakatan kesanggupan ibu
hamil beserta dengan suami dan/ keluarga atas komponen-
komponen P4K dengan Stiker. Amanat Persalinan juga
melibatkan warga yang sanggup menjadi pendonor darah,
warga yang memiliki sarana transportasi/ ambulan desa,
proses pencatatan perkembangan ibu hamil-bersalin dan
bayi baru lahir, rencana inisiasi menyusui dini, kesiapan Bidan
untuk kunjungan nifas, termasuk upaya penggalian dan
pengelolaan dana.

Dalam Amanat Persalinan akan tertulis lengkap informasi


kesiapan dana, transportasi, dan pendonor yang akan
membantu ibu yang melahirkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dalam lembar itu juga ditulis Bidan yang akan menolong
persalinan. Kesahihan kesepakatan ini ditentukan oleh tanda
tangan ibu hamil, suami/ keluarga terdekat dan Bidan.

Amanat persalinan ini akan sangat membantu ibu


mendapatkan pertolongan yang sangat dibutuhkan pada saat
17
kritis, yakni ketika ibu tidak dapat membuat keputusan penting
menyangkut dirinya sehubungan dengan kondisinya.

Dokumen Amanat Persalinan ini memperkuat komponen


pertama P4K dengan Stiker. Stiker berfungsi sebagai notifikasi
atau pemberi tanda kesiapsiagaan, sementara Amanat
Persalinan memperkuat komitmen ibu hamil dan suami, yang
berisi komponen sebagai berikut:
- warga yang sanggup menjadi pendonor darah,
- warga yang memiliki sarana transportasi/ ambulan desa,
- proses pencatatan perkembangan ibu hamil-bersalin dan
bayi baru lahir,
- rencana pendampingan suami saat persalinan
- rencana inisiasi menyusui dini,
- rencana pengunaan KB pasca salin
- kesiapan Bidan untuk kunjungan nifas,
- termasuk upaya penggalian dan pengelolaan dana.

18
LAMPIRAN: KOMPONEN PENGEMBANGAN P4K

STIKER P4K

19
Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Pendonor Darah

Surat Pernyataan
Kesediaan Menjadi Pendonor Darah
Yang bertanda tangan di bawah ini

Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Alamat : Telp
Golongan Darah :

Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi pendonor darah secara sukarela setelah mengikuti
prosedur pemeriksaan yang berlaku.

Demikian pernyataan ini saya buat tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

200
Mengetahui, Yang Menyatakan
Kepala Desa

Disetujui oleh pihak keluarga

20
Surat Pernyataan Kesediaan sarana transportasi

Surat Pernyataan
Kesediaan Sarana Transportasi
Yang bertanda tangan di bawah ini

Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Alamat : Telp
Jenis Kendaraan : No. Pol.

Dengan ini menyatakan bersedia kendaraan saya digunakan untuk mengantar/merujuk ibu bersalin
dan situasi kegawatdaruratan ke tempat pelayanan kesehatan.

Demikian pernyataan ini saya buat tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

200
Mengetahui, Yang Menyatakan
Kepala Desa

Disetujui oleh pihak keluarga

21
Daftar Nama Pendonor Darah

Desa Kecamatan

Tahun

No. Nama L/P Umur Alamat Telepon Ket

Daftar Nama Pemilik Ambulan Desa

Desa Kecamatan

Tahun

No. Nama L/P Umur Alamat Telepon Jenis Ket


Kendaraan/
No. Pol

22
AMANAT PERSALINAN
PERNYATAAN RENCANA PERSALINAN

Desa /Kelurahan: Tanggal :


Nama Penghubung (Komite P4K/Lain):

Nama Ibu Hamil : Umur : th


Golongan Darah : Hamil ke :
Alamat : Taksiran Persalinan :
Penolong Persalinan : / Pendamping :
Nama Suami : Nama Calon Pendonor:
a.
b.
c.
Rencana Tempat Persalinan • Rumah
• Bidan/Klinik
• Puskesmas/RSU
• Dokter Spesialis

Ketersediaan Biaya Persalinan : Rp


Alat Transportasi yang Akan Digunakan dalam Keadaan Darurat:
a.
b.
c.

Alat kontraseepsi yang direncanakan digunakan pasca melahirkan:


Pernyataan kesediaan untuk melakukan:
a. Suami Merencanakan Menemani Ibu Saat Melahirkan

b. Inisiasi Menyusu Dini

c. Pelayanan Nifas akan Dilaksanakan

Penolong Persalinan Suami Ibu Hamil

23
24
PHBS

25
PHBS

MENGGUNAKAN AIR BERSIH

Mengapa kita harus


menggunakan air bersih?
Air adalah kebutuhan
dasar yang dipergunakan
sehari-hari untuk minum,
memasak, mandi, berkumur,
membersihkan lantai,
mencuci alat-alat dapur,
mencuci pakaian, dan
sebagainya, agar kita tidak
terkena penyakit atau
terhindar dari sakit

Apa syarat-syarat air bersih itu?


Air bersih secara fisik dapat melalui indera kita, antara lain (dapat
dilihat, dirasa, dicium dan diraba )
• Air tidak berwarna, harus bening/jernih
• Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah,
busa dan kotoran lainnya
• Air tidak berasa, tidak terasa asin, tidak terasa asam, tidak
payau, dan tidak pahit, harus bebas dari bahan kimia beracun
• Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau bau
belerang

26
Apa manfaat menggunakan air bersih?
• Terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera,
disentri, thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau
keracunan
• Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya

Dimana dapat memperoleh sumber air bersih?


• Mata air
• Air sumur atau air sumur pompa
• Air ledeng/perusahaan air minum
• Air hujan
• Air dalam kemasan

Bagaimana menjaga kebersihan sumber air bersih?


• Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat
pembuangan sampah paling sedikit 10 meter
• Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemaran
• Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus
dijaga bangunannya agar tidak rusak seperti lantai sumur
tidak boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur
sebaiknya diberi penutup
• Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada genangan
air di sekitar sumber air, tidak ada bercak=bercak kotoran,
tidak berlumut pada lantai/dinding sumur. Ember/gayung
pengambil air harus tetap bersih dan tidak diletakan di lantai
(ember/gayung digantung di tiang sumur)

Mengapa air bersih harus dimasak mendidih bila ingin


diminum?
Meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman penyakit.
Kuman penyakit dalam air mati pada suhu 100 derajat C ( saat
mendidih)
27
Apa peran kader dalam menggerakan masyarakat untuk
menggunakan air bersih?
• Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum
memiliki ketersediaan air bersih di rumahnya
• Melakukan pendataan rumha tangga yang sulit mendapatkan
air bersih
• Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang
jumlah rumah tangga yang sulit untuk mendapatkan air bersih
• Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat
setempat berupaya untuk memberi kemudahan kepada
masyarakat untuk mendapatkan air bersih di lingkungan
tempat tinggalnya
• Mengadakan arisan warga untuk membangun sumur gali atau
sumur pompa secara bergilir
• Membentuk Kelompok Pemakai Air (POKMAIR) untuk
memelihara sumber air bersih yang dipakai secara bersama
bagi daerah sulit air.
• Menggalang dunia usaha setempat untuk memberi bantuan
dalam penyediaan air bersih
• Manfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk
memberikan penyuluhan tentang pentingnya menggunakan
air bersih, misalnya melalui penyuluhan kelompok di
posyandu, pertemuan Dasa Wisma, arisan, pengajian,
pertemuan desa/kelurahan, kunjungan rumah dan lain-lain

Dimana dapat memperoleh air bersih?


Air bersih dapat diperoleh dari mata air atau air kotor yang
disaring dengan saringan pasir (kerikil, pasir, arang batok kelapa)
atau menggunakan penjernih air bisa juga dari PDAM.

Untuk apa saja air bersih dapat digunakan?


Air bersih dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti
masak, minum, mencuci dan mandi. Bila untuk diminum,
28
air bersih harus dimasak mendidih terlebih dahulu sebelum
diminum.

Mengapa air bersih harus dimasak mendidih bila ingin


diminum?
Meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman penyakit.
Kuman penyakit dalam air mati pada suhu 100 derajat C (saat
mendidih).

CUCI TANGAN DENGAN SABUN

Mengapa harus mencuci tangan dengan menggunakan air


bersih dan sabun?
• Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri
penyebab penyakit. Bila digunakan, kuman berpindah ke
tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat masuk ke
dalam tubuh, yang bisa menimbulkan penyakit.
Sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman,
karena tanpa sabun
kotoran dan kuman masih
tertinggal di tangan

Kapan saja harus mencuci


tangan dengan sabun?
• Setiap kali tangan kita
kotor ( setelah memegang
uang, memegang
binatang, berkebun, dll )
• Setelah buang air besar
• Setelah menceboki bayi
atau anak
29
• Sebelum makan dan menyuapi anak
• Sebelum memegang makanan
• Sebelum menyusui

Apa manfaat mencuci tangan?


• Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan
• Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Kolera,Disentri,
Typus, kecacingan, penyakit kuli, infeksi Saluran pernafasan
Akut (ISPA), flu burung atau Severe Acute respiratory Syndrom
(SARS)
• Tangan menjadi bersih dan bebas kuman

Bagaimana cara mencuci tangan yang benar?


• Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai
sabun
• Bersihkan telapak, pergelangan tangan, sela-sela jari dan
punggung tangan
• Setelah itu keringkan dengan lap bersih

Apa peran kader dalam membina perilaku cuci tangan?


• Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk
memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku cuci
tangan, misalnya melalui penyuluhankelompok di Posyandu,
arisan, pengajian, pertemuan kelompok dasa Wisma dan
kunjungan rumah
• Mengadakan kegiatan gerakan cuci tangan bersama untuk
menarik perhatian masyarakat, misalnya pada peringatan hari-
hari besar kesehatan atau ulang tahun kemerdekaan.

30
MENGGUNAKAN JAMBAN SEHAT

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas


pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok
atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher
angsa(vemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan
kotoran dan air untuk membersihkannya

Apa saja jenis jamban yang digunakan?


1. Jamban cemplung
Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang
berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja
ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang.
Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak
berbau
2. Jamban tangki septik/leher angsa
Adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya
berupa tangki septik
kedap air yang berfungsi
sebagai wadah proses
penguraian/dekomposisi
kotoran manusia yang
dilengkapi dengan
resapannya

Bagaimana memilih jenis


jamban?
• Jamban cemplung
digunakan untuk daerah
yang sulit air

31
• Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk
- Daerah yang cukup air
- Daerah yang padat penduduk, karena dapat menggunakan
multiple latrine yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki
septik digunakan oleh beberapa jamban (satu lubang dapat
menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban
• Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja
hendaknya ditinggikan kurang lebih 60 cm dari permukaan
pasang

Siapa yang diharapkan menggunakan jamban?


Setiap anggota rumah tangga harus menggunakan jamban
untuk buang air besar/buang air kecil

Mengapa harus Menggunakan Jamban?


• Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau
• Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya
• Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang
dapat menjadi penular penyakit diare, kolera disentri, thypus,
kecacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit dan
keracunan

Apa saja syarat jamban sehat:


• Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air
minum dengan lubang penampungan minimum 10 m)
• Tidak berbau
• Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus
• Tidak mencemari tanah disekitarnya
• Mudah dibersihkan dan aman digunakan
• Dilengkapi dinding dan atap pelindung
• Cukup penerangan dan ventilasi cukup baik
• Lantai kedap air dan luas ruangan cukup
• Tersedia air dan alat pembersih
32
Bagaimana cara memelihara jamban sehat:
• Lantai jamban hendaknya selau bersih dan kering
• Rumah jamban dalam keadaan baik
• Di dalam kloset tidak kotoran yang terlihat
• Tidak ada serangga, (kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran
• Tersedia alat pembersih
• Bila ada kerusakan, segera diperbaiki

Apa peran kader dalam dalam membina masyarakat untuk


memiliki dan menggunakan jamban sehat
• Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum
memiliki serta menggunakan jamban sehat di rumahnya
• Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang
jumlah rumah tangga yang belum memliki jamban sehat
• Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat
setempat berupaya untuk mengggerakan masyarakat untuk
memiliki jamban
• Mengadakan arisan warga untuk membangun jamban sehat
secara bergilir
• Menggalang dunia usaha setempat untuk memberi bantuan
dalam penyediaan jamban sehat
• Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk
memberikan penyuluhan tentang pentingnya memiliki dan
menggunakan jamban sehat, misalnya melalui penyuluhan
kelompok di Posyandu, pertemuan kelompok Dasa Wisma,
arisan, pengajian, pertemuan desa/kelurahan, kunjungan
rumah dan lain-lain
• Meminta bantuan petugas Puskesmas setempat untuk
memberikan bimbingan teknis tentang cara-cara membuat
jamban sehat yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerah
setempat

33