Anda di halaman 1dari 43

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

Penelitian Studi Kasus ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum

Daerah Poso, beralamat di Jl. Jendral Sudirman No.33 Poso, Sulawesi

Tengah dengan tipe rumah sakit C Madya Bintang Tiga. Tempat penlitian

yang dilakukan peneliti adalah di Ruangan neuro Stroke Center, dimana

Ruangan neuro stroke center terdiri dari 1 ruangan Stroke Center dan 3

ruangan kelas. Ruangan stroke center memiliki 4 tempat tempat tidur.

Kelas 1 terdiri dari 1 ruangan dengan 2 tempat tidur, kelas 2 terdiri dari 2

ruangan dengan 3 tempat tidur, kelas 3 atau bangsal terdiri dari 2 ruangan

yang terdiri dari ruang bangsal perempuan dan laki-laki, masing-masing

ruangan memiliki 8 tempat tidur. Untuk petugas diruangan Neuro stroke

center terdiri dari 2 dokter spesialis syaraf, seorang laki-laki dan

perempuan, 1 orang kepala ruangan, 2 orang ketua tim A dan B, 16 orang

perawat dan 1 orang administrasi. Maka jumlah keseluruhan pegawai

rumah sakit di ruangan neuro stroke center berjumlah 22 orang. Profesi

Ners berjumlah 4 orang, sarjana keperawatan berjumlah 3 orang, Amd

Keperawatan berjumlah 13 orang.

B. Hasil Penelitian

1. Biodata klien

Pengkajian telah dilaksanakan pada hari selasa tanggal 07 Mei

2019 Pukul 16.00 WITA di Ruangan Neuro Stroke Center RSUD


Poso. Pasien bernama Ny. S, Usia 75 tahun, jens kelamin perempuan,

pekerjaan sebgai petani, agama islam, alamat Desa Bambal. Ny. S

masuk RSUD pada jam 10.30 tanggal 07 mei 2019 dengan diagnosa

Non Hemoragik Stroke, pasien baru pertama kali masuk Rumah Sakit

dengan Kasus Stroke. Nomor RM 132XXX. Penanggung jawab anak

pasien Ny. S usia 42 tahun.

2. Pengkajian

a. Riwayat kesahatan

1) Alasan masuk rumah sakit :

Pasien masuk RSUD Poso dengan keluhan tiba-tiba lemah

badan sebelah kiri, sudut mulut kanan tertarik.

2) Keluhan utama

Saat dilakukan pengkajian klien mengeluh tangan dan kaki

kiri sulit untuk digerakan, serta belum BAB sudah 4 hari.

3) Riwayat keluhan utama

Keluarga klien mengatakan keluhan sudah dirasakan 4 hari

sebelum klien masuk rumah sakit. Tubuh sebelah kiri klien

tiba-tiba dirasakan berat dan sulit untuk digerakan. Klien

mengeluh sulit untuk membolak – balikan tubuhnya. Klien

juga mengeluh merasa sakit pada perutnya karena belum BAB

sudah 4 hari sebelum dibawa di Rumah Sakit, klien mengeluh

perutnya terasa penuh. Klien mengatakan ada rasa ingin BAB

namun tidak mau keluar, dan tidak bisa BAB dengan posisi
berbaring. Anak klien mengatakan sempat membawa ibunya

untuk berobat ke Puskesmas Bambalo untuk mendapatkan

pengobatan dan diberikan obat Tekanan untuk diminum dan

istirahat dirumah. Keluarga klien merasa tidak adanya

perubahan pada diri klien dan semakin melemah kondisinya

maka memutuskan untuk membawa klien ke RSUD Poso pada

jam 10.30 pada tanggal 07 mei 2019 untuk dilakukan

perawatan.

b. Riwayat kesehatan sekarang

Saat ini klien menderita tekanan darah tinggi dan

cholesterol, saat dilakukan pemeriksaan Tekanan Darah klien

200/100 mmHg, dan nilai cholesterol 201 mg/dl. Klien

c. Riwayat kesehatan dahulu/Keluarga

Klien baru pertama kali dibawa ke Rumah sakit,

sebelumnya klien hanya memeriksakan kesehatannya dipusat

kesehatan Posyandu lansia di desa Bombalo. Klien menederita

tekanan darah tinggi sudah lama dan mengkonsumsi obat-obatan

penurun tekanan yang diberikan oleh dokter di posyandu. Dalam

keluarga klien belum pernah ada yang masuk Rumah sakit dengan

keluhan yang sama seperti klien.

d. Pemeriksaan fisik/ biologis

Dilakukan pemeriksaan fisik pada Ny. S didapatkan hasil

kesadaran Composmentis, keadaan umum baik dan hasil


pemeriksaan tanda-tanda vital TD : 200/100 mmHg, Suhu 36,8o C,

Nadi 106 kali/menit, dan Pernapasan 106 kali/menit. BB sebelum /

Saat sakit : 50 / 45 Kg, TB : 146 cm, IMT 21,12, Kesadaran

Compos mentis, GCS : E : 4 V : 5 M : 6. Pemeriksaan sintesis

yang dilakukan pada Ny. S dengan Head to toe,dan didapatkan

hasil sebagai berikut :

1. Kepala : Bentuk Kepala bulat, penyebaran rambut tidak

merata, rambut kotor, dan kering, warna rambut putih, tidak

ada kelainan bentuk, tidak ada lesi, tidak ada udema, tidak ada

nyeri tekan, tidak ada benjolan, tidak ada bekas luka.

2. Muka : Bentuk muka simetris, warna kulit kuning langsat,

tidak ada kelainan bentuk, tidak ada udema, tidak ada bekas

luka, tidak ada nyeri tekan.

3. Mata : Bentuk mata simetris, bola mata simetris, pupil isokor,

konjungtiva anemis, sclera berwarna putih, mata sering berair,

penglihatan menurun, tidak ada udema, tidak memakai alat

bantu penglihatan, tidak ada nyeri tekan.

4. Telinga : Bentuk telinga simetris, tidak ada pengeluaran

serumen, telinga kotor, tidak menggunakan alat bantu

pendengaran, tidak ada nyeri tekan, tidak ada bekas luka,

pendengaran tidak ada masalah

5. Hidung : Bentuk hidung simetris, tidak ada polip, tidak ada

pengeluaran cairan, tidak ada sumbatan/ perdarahan, tidak ada


masalah penciuman, tidak ada bekas luka, tidak ada nyeri

tekan, tidak ada bengkak.

6. Mulut : Bentuk mulut Asimetris tertarik ke kanan, mukosa

bibir pucat, tidak ada lesi stomatitis, gigi sudah tidak ada,

menggunakan gigi palsu, lidah kotor, tidak ada perdarahan atau

radang gusi, lidah simetris, langit-langit utuh, tidak ada luka.

7. Tenggorokan : tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada kesulitan

menelan.

8. Leher : tidak ada kelaiann bentuk, tidak ada luka, tidak ada

nyeri tekan, tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada

pembesaran kelenjar limfe.

9. Dada : bentuk dada simetris, tidak ada udema, tidak ada luka,

pernapasan spontan, tidak ada tanda-tanda distress pernapasan,

tidak ikterik/sianosis, tidak ada retraksi dinding dada, RR : 20

x/m tidak terdengar suara napas tambahan, perkusi paru

resonan, bunyi napas vesikuler, batas jantung jelas, terdengar

bunyi jantung S1 dan S2, tidak terdengar bunyi jantung

tambahan S3 dan S4.

10. Abdomen : Bentuk abdomen buncit, tidak ikterik, tidak ada

kelainan umbilicus, , Bising usus 6 x/m, perkusi timpani, tidak

teraba penonjolan, tidak adaa nyeri tekan, tidak ada massa dan

penumpukan cairan/ asites.


11. Integument : warna kulit kuning langsat, integritas kulit

menurun, turgor kulit tidak elastis, tidak ada luka, CRT > 2

detik.

12. Ekstremitas : jumlah ekstremitas atas dan bawah lengkap,

jumlah jari-jari tangan dan kaki lengkap, ROM Pasif, kekuatan

otot eksterimitas kiri 2 dan ekstremitas kanan 5, reflex bisep

dan trisep positif, reflex patella dan achiles positif,

3. Pemeriksaan saraf kranial dan nervus

Telah dlakukan pemeriksaan dan di dapatkan hasil refleks

fisiologis (+) dan Refleks patologis (-). Koordinasi dan kekuatan otot :

Badan sebelah kiri lemah di gerakan, kekuatan otot sebelah kiri nilai 2

( tidak mampu melawan gravitasi/gerakan pasif), sedangkan kontraksi

otot sebelah kanan nilai 5 ( mampu bergerak aktif dan melawan

tahanan). Saraf kranial : N I : Pasien mampu memejamkan mata,

mampu membedakan 2 dari 3 jenis bau-bauan yang diberikan yaitu

bau sabun dan minyak kayu putih . N II : Visus negatif (-) ,

pemeriksaan lapang pandang Negatif (-) N III : Pasien tidak mampu

mengangkat kelopak mata, tidak mampu memutar bola mata, refleks

pupil isokor N IV : pasien mampu menggerakan mata ke bawah . N V :

pasien tidak mampu menggerakan rahang ke semua sisi, mampu

memejamkan mata, ada reaksi saat pipi di sentuh dengan kertas.. N VI

: pasien tidak mampu menggerakan mata ke lateral. N VII : pasien

tidak dapat senyum, mengangkat alis mata , N VIII : pendengaran tidak


ada masalah, N IX : pasien mampu membedakan rasa gula dan garam,

N X : pasien mampu menelan, mampu mengucap kata ah, N XI :

pasien tidak mampu mengangkat bahu, N XII : pasien mampu

menjulurkan lidah dan mengarahkannya ke segala arah

4. Pola kebiasaan klien

a. Nutrisi : jenis makanan sebelum sakit nasi, ikan dan sayur sayuran,

frekuensi makan 3 kali sehari, makanan pantangan yang

mengandung yodium tinggi seperti ikan garam dan daging-

dagingan, tidak ada diet. Saat sakit jenis makanan yang dikonsumsi

bubur, ikan dan sayur sayuran, frekuensi 3 kali sehari, makanan

pantangan yang beryodium tinggi dan berlemank.

b. Eliminasi urin : frekuensi sebelum sakit 2 sampai 3 kali, warna

kuning keruh, bau khas urin, jumlah urin ± 500 cc. frekuensi saat

sakit 3 sampai 4 kali, bau khas urin, jumlah urin ± 800 cc.

c. Eliminasi fekal : frekuensi sebelum sakit seminggu 3 kali, warna

kuning, berbau khas, konsistensi lunak, tidak menggunakan obat

pencahar. Selama di rawat belum BAB.

d. Balance cairan : masukan cairan ( 24 jam) sebelum sakit ± 2000 cc,

keluaran cairan ± 1000 cc, saat sakit masukan cairan ± 2500 cc,

keluaran cairan ±1500 cc.

e. Aktivitas : aktivitas ringan sebelum sakit mengurus cucu, aktivitas

berat pergi berkebun, frekuensi 1 kali sehari. Aktifitas ringan saat


sakit tidur dan aktivitas berat tidak ada. Pengajian status fungsional

ketergantungan sedang dengan nilai 9.

f. Istirahat dan tidur : tidur siang (jumlah dan jam) sebelum sakit 1

kali sehari selama 1 jam, jumlah tidur malam 1 kali sehari selama 6

jam, gangguan tidur sulit tidur kembali jika sudah bangun,

kebiasaan sebelum tidur tidak ada. tidur siang (jumlah dan jam)

saat sakit 1 kali sehari selama 30 menit, jumlah tidur malam 1 kali

sehari selama 8 jam, gangguan tidur sulit tidur kembali jika sudah

bangun, kebiasaan sebelum tidur tidak ada

g. Data psikologis, sosiologis, spiritual dan seksualitas : psikologis

klien tidak ada masalah, mau menerima, berkomunikasi baik

dengan orang lain dan tidak mudah tersinggung. Sosiologis tidak

ada masalah. Seksualitas tidak ada masalah. Spiritual perlu bantuan

dalam beribadah.

5. Pemberian terapi pada Ny. S

Tabel 2.1 Terapy pada Ny.S

Dosis/Jalur Manfaat
No Terapi
pembeian
1 amp/ 12 jam/ Mengobati penyakit serebrovaskuler seperti
1. Citicolin stroke dan hilang ingatan
IV,
Mengurangi produksi asalm lambung,
1 amp/12 jam/ mengurangi nyeri ulu hati akibat ulkus atau
2. Ranitidin
IV tukak lambung
Mengatasi gangguan pernapasan akibat produksi
3. Ambroxol 3 x1 P.O mucus yang berlebih

4. Amlodipin 1 x 1 P.O Mengatasi hipertensi atau tekanan darah tinggi


2 x 400 mg/ Menurunkan demam, dan Meredakan nyeri
5. Ibuprofen
P.O
ringan dan sakit akibab pilek atau flu
1 amp/24 jam/ Memenuhi kebutuhan vitamin, B1, B6 dan B12
6. Drips NS
IV
Ringer Sumber elektrolit tubuh dan air untuk dehidrasi
7. 500 cc/8 jam
Laktat

6. Hasil pemeriksaan laboratorium :

Tabel 2.2 hasil pemeriksaan laboratorium Ny.s

No Hari/Tanggal Hasil Nilai Normal


Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan Pemeriksaan
1. 5 Mei 2019 Glucose 70.2 mg/dl 74.0 – 100.0 mg/dl

2. Cholesterol 201 mg/dl 0 – 200 mg/dl

3. WBC [103 / µL] 10.5 ( 4.0 – 10.0)

5.3 * 50.5 (11.0 – 7.0 / 28.0 –


4. NE [%] 78.0)
*
5. LY [%] 4.2 39.7 (0.7 – 5.1 / 17.0 – 57.0)

MO[%] 0.8 * 7.68 (0.0 – 0.9 / 0.0 – 10.0 )


6.
0.2 1.7 (0.0 – 0.9 / 0.0 – 10.0 )
7. EO [%]

8. BA[%] 0.1* 0.5* (0.0 – 0.2 / 0.0 – 2.0)

9. IG [%] 0.5 4.7


10. RBC [106 / µL] 4.39 (3.76 – 5.70)

11. HGB [g/dl] 12.6 (12.0 – 18.0)

12. HCT [%] 38.9 (33.5 – 52.0)

13. MCV [fL] 88.6 (80.0 – 100)

14. MCH [pg] 28.7 (28.0 – 32.0)

15. MCHC [g/dL] 32.4 (31.0 – 35.0)

16. RDW-CV H [%] 56.3 15.9 (11.6 – 14.0)

17. RDW-SD H [fL] 56.3 (39.0 – 46.0)

18. PLT [103 / µL] 255 (150 – 350)

19. PCT [%] 0.20 (0.16 – 0.33)


20. MPV [Fl] 7.7 (7.0 – 11.0)

21. PDW[%] 17.8

7. Analisa data

Berdasarkan hasil pengkajian dan pemeriksaan fisik yang

dilakukan pada Ny. S didapatkan analisa data sebagai berikut :

Tabel 2.3 analisa data pada Ny. S

NO Analisa Data Etiologi Problem


1 Ds : Gangguan Hambatan mobilitas
- Klien mengatakan tangan dan neuromuskular fisik
kaki kiri berat untuk
digerakan
- Klien mengatakan kesulitan
untuk membolak-balikan
tubuh
- Klien mengatakan keluhan
sudah dirasakaan 4 hari
sebelum masuk Rumah sakit
Do :
- Klien terlihat lemah
- Kekuatan otot ekstermitas
kanan 5 dan kekuatan otot
ekstremitas kiri 2
2 5
2 5
2 Ds : Penurunan Konstipasi
- Keluarga mengatakan klien motilitas
sudah 4 hari belum BAB gastrointestinal
- Klien mengatakan ada rasa
BAB namum tidak bisa
keluar
- Klien megatakan tidak bisa
BAB dengan posisi berbaring
- Klien mengatakan perutnya
terasa penuh
Do :
- Klien tidak mampu
mengeluarkan feses
- Bising usus 6 kali/menit
- Distensi abdomen
3 Faktor resiko : Risiko kerusakan
1. Tirah baring yang lama integritas kulit
2. Menggunakan pakaian yang
ketat dan bahan yang panas
3. Kurangnya pergerakan untuk
membolak-bakilan posisi
tubuh
4. Adaya lipatan pada tempat
tidur yang berlebih
5. Pakaian jarang untuk diganti
6. Tidak menggunakan kasur
decubitus
7. Kurangnya edukasi kepada
keluarga tentang pencegahan
terjadinya kerusakan
integritas kulit

8. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan analisa data yang didapatkan pada klien, maka penulis

menegakkan tiga diagnosa yang muncul, hal ini sesuai dengan batasan

karakteristik pada buku diagnosa keperawatan Judith Wilkinson

(2016):

a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan

neuromuskular

b. Konstipasi berhubungan dengan Penurunan motilitas

gastrointestinal

c. Resiko kerusakan integritas kulit


9. Intervensi keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang di dapatkan maka penulis

menetapkan tujuan dan kriteria hasil serta intervensi keperawatan

berdasarkan buku NOC dan NIC Bulechek (2016) sebagai berikut :

Tabel 2.4 Intervensi keperawatan pada Ny. S

No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi keperawatan


keperawatan (NOC) (NIC)

1 Hambatan Kontrol otot Terapi latihan : mobilitas


mobilitas fisik sendi
a. Adanya pergerakan
berhubungan sendi dan otot 1. Tentukan batasan
b. Mampu melakukan pergerakan sendi dan
dengan gangguan pergerakan dengan efeknya terhadap fungsi
neuromuskular mudah sendi
c. Mengalami peningkatan 2. Bantu pasien
dalam melakukan mendapatkan posisi
ambulasi tubuh yang optimal
d. Kekuatan otot untuk pergerakan sendi
meningkat pasif maupun aktif
3. Menjelaskan cara
melakukan latihan ROM
4. Lakukan latihan ROM
pasif/aktif sesuai
indikasi
5. Sediakan dukungan
positif dalam melakukan
latihan sendi
6. Dukung ambulasi, jika
memungkinkan
7. Lakukan pengukuran
kekuatan otot
8. Kolaborasi pemberian
terapi

2 Konstipasi Pengendalian gejala Manajemen


berhubungan konstipasi konstipasi/impikasi

dengan penurunan a. Pola eliminasi adekuat 1. Memonitor tanda dan


b. Feses lunak dan gejala konstipasi
motilitas berbentuk 2. Lakukan tindakan non
c. Mengeluarkan feses farmakologis (massage
gastrointestinal
tanpa bantuan abdomen)
d. Bising usus meningkat 3. Tawari makanan ringan
(buah-buahan yang
dapat merangsang usus)
4. Intruksikan pasien untuk
minum air hangat pada
pagi hari
5. Kolaborasi pemberian
terapi
3 Risiko kerusakan Perfusi jaringan perifer Manajemen tekanan
integritas kulit a. Tidak terjadi kerusakan 1. Monitor mobilitas dan
integritas kulit aktivitas pasien
2. Ajarkan cara merubah
b. Perfusi jaringan adekuat posisi
3. Balikan posisi pasien
minimal setiap 2 jam
4. Berikan pakaian yang
tidak ketat pada pasien
5. Kolaborasi peemberian
terapi

10. Implementasi dan evaluasi keperawatan


Tabel 2.5 implementasi dan evaluasi keperawatan
Hari/tanggal No Implementasi evaluasi
Diagnosa
Rabu, 08 Mei 1 1. Menyuruh pasien untuk S:
mengangkat tangan serta kaki
2019 - Klien mengatakan
kiri dan kanan secara
Pukul 07.00 bergantian dapat menggerakan
2. Membantu pasien
badan kananya dengan
mendapatkan posisi tubuh
yang optimal untuk pergerakan mudah
sendi pasif maupun aktif
- Klien mengatakan tidak
3. Menjelaskan cara melakukan
latihan ROM pasif mampu menggerakan
4. Melakukan ROM pasif pada
anggota badannya
pasien
5. Menyuruh keluarga untuk sebelah kiri
membantu pasien dalam
- Klien mengatakan
melakukan aktivitas
6. Membantu pasien untuk duduk memahami cara
kemudian berpindah dari
melakukan latihan
tempat tidur ke kursi roda
7. Melakukan pengukuran ROM
kekuatan otot
- Keluarga mengatakan
akan membantu pasien
dalam beraktivitas
- Klien mengatakan lebih
nyaman melakukan
latihan ROM dengan
posisi terlentang

O:

- Klien terlihat lemah


menggerakan anggota
tubuh bagian kirinya
- Klien terlihat belum
pernah melakukan
latihan ROM pasif
- Posisi klien semi
fowler
- Klien dapat duduk
sekitar 15 menit
- Klien terlihat belum
mampu untuk
berpindah dari tempat
tidur ke kursi roda
- Kekuatan otot kanan 5,
kekuatan otot kiri 2
2 5
2 5
A:
Masalah Hambatan
mobilitas fisik belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 4,6
dan 7

Rabu, 08 Mei 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
Pukul 06.00 menanyakan apakah sudah sudah 4 hari belum
BAB atau belum, melakukan
BAB sejak masuk RS
pengkajian CAS (Constipation
Assessment Scale) - Pasien mengatakan
2. Mengintruksikan pasien utnuk
perutnya terasa penuh
banyak mengkonsumsi buah-
buahan yang mengandung - Pasien mengatakan
serat seperti papaya.
akan makan buah
3. Mengintruksikan pada paseien
untuk konsumsi air putih papaya
hangat 500 cc setiap pagi
- Pasien mengatakan ada
4. Melakukan massage
abdoemen keinginan untuk BAB
namun tidak mau
keluar
- Pasien mengatakan
sudah meminum air
putih hangat 500 cc
- Pasien mengatakan
mau untuk dilakukan
massage abdomen
O:
- Pasien terlihat nyaman
saat dilakukan massage
abdomen
- Klien mampu
menghabiskan 500 cc
air putih hangat
- Klien flatus
- Perut klien teraba
kembung
- Bising usus 6 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale hari
pertama nilai 4 dari 8
A:
Masalah konstipasi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
1,2 dan 3

Rabu, 08 Mei 3 1. Menanyakan kepada paseien S:


aktivitas apa yang dapat
2019 - Pasien mengatakan
dilakukan selama perawatan di
Pukul 07.30 rumah sakit selama di rumah sakit
2. Mengintruksikan untuk tidak
hanya tidur dan tidak
menggunakan pakaian yang
ketat dan panas melakukan apa-apa
3. Mengajarkan kepada pasien
- Pasien mengatakan
cara untuk mengubah posisi
4. Mengintruksikan kepada sering membolak-
pasien untuk ubah posisi
balikan tubuhnya
minimal setiap 2 jam
5. Mengintruksikan kepada - Pasien mengatakan
keuarga untuk melaporkan
mengerti cara
ababila terjadi luka tekan pada
belakang pasien kepada mengubah posisi
perawat.
- Pasien mengatakan
akan mengubah posisi
setiap 2 jam
- Pasien mengatakan
akan menggunakan
pakaian yang longgar
dan dingin
- Keluarga mengatakan
akan melaporakan
apabila terjadi luka
tekan pada belakang
pasien
O:
- Pasien terlihat mampu
mengubah ubah
posisinya
- Tidak terdapat
kerusakan integritas
kulit : kulit tidak
kemerahan
- Kulit terlihat lembab
- Pasien menggunakan
pakaian yang longgar
A:
Masalah Risiko kerusakan
integritas kulit tidak
terjadi
P:
Intervensi di pertahankan

Kamis, 09 1 4. Melakukan ROM pasif pada S:


pasien
Mei 2019 - Klen mengatakan
6. Membantu pasien untuk duduk
Pukul 07.10 kemudian berpindah dari tubuh bagian kirinya
tempat tidur ke
Pukul 10.00 masih lemah untuk
kursi roda
7. Melakukan pengukuran digerakan
kekuatan otot
8. Membantu dalam pemeberian - Klien mengatakan
terapi sinar X pada
merasa tangan kirirnya
tubuh bagian kiri pasien selama
selama 20 menit sedikit lebih ringan
setelah dilakukan
latihan ROM
- Klien mengatakan
sudah melakukan
latihan ROM pada pagi
dan sore hari
- Klien mengatakan
merasa panas saat di
sinar

O:

- Tubuh bagian kiri


masih lemah digerakan
- Keluarga dapat
melakukan latihan
ROM pasif
- Klien dapat duduk
sekitar 20 menit
- Klien terlihat belum
amnmbu untuk
melaukan ambulasi
- Kekuatan otot kanan 5.
Otot kiri 2
2 5
2 5
A:
Masalah hambatan
mobilitas sendi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 4, 6
dan 7

Kamis 09 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
Mei 2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
pukul 06.15 menanyakan apakah sudah belum BAB
BAB atau belum, melakukan
- Klien mengatakan ingin
pengkajian CAS (Constipation
Assessment Scale) BAB namun tidak mau
2. Mengevaluasi konsumsi air
di atas tempat tidur
putih hangat 500 cc setiap pagi
3. Melakukan massage abdomen - Klien mengatakan ada
kelinginan untuk BAB
- Klien mengatakan
sudah meminum air
hangat 500 cc
- Klien mengatakan
merasa lebih nyaman
setelah dilakukan
massage abdomen
O:
- Klien flatus
- Perut teraba penuh
- Klien menghabiskan
500 cc air hangat
- Bisin usus 7 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale hari
ke dua nilai 2 dari 8
A:
Masalah konstipasi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 1,2,
dan 3

Kamis 08 3 1. Menanyakan kepada paseien S:


aktivitas apa yang dapat
Mei 2019
dilakukan selama perawatan di - Pasien mengatakan
pukul 08.00 rumah sakit
2. Mengintruksikan kepada sering membolak-
pasien untuk ubah posisi balikan tubuhnya
minimal setiap 2 jam
3. Mengintruksikan kepada - Pasien mengatakan
keuarga untuk melaporkan sering mengubah posisi
ababila terjadi luka tekan pada
belakang pasien kepada setiap 2 jam
perawat. O:
- Pasien terlihat mampu
mengubah ubah
posisinya
- Tidak terdapat
kerusakan integritas
kulit
- Kulit terlihat lembab
A:
Masalah Risiko kerusakan
integritas kulit tidak
terjadi
P:
Intervensi di pertahankan

Jumat, 10 1 4. Melakukan ROM pasif pada S:


pasien
Mei 2019 - Klen mengatakan
6. Membantu pasien untuk duduk
pukul 07.10 kemudian berpindah dari tangan kirinya sudah
tempat tidur ke
dapat digerakan
kursi roda
7. Melakukan pengukuran - Keluarga mengatakan
kekuatan otot selalu melakukan
latihan ROM
- Keluarga mengatakan
pasien sudah lebih lama
duduknya

O:

- Tubuh bagian kiri


sudah dapat digerakan
namun lemah
- Keluarga dapat
melakukan latihan
ROM pasif
- Pasien dapat duduk
selama 25 menit
- Pasien belum dapat
melakukan ambulasi
- Kekuatan otot kanan 5.
Otot kiri 2
2 5
2 5
A:
Masalah hambatan
mobilitas sendi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 4,6
dan 7

Jumat 10 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
Mei 2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
menanyakan apakah sudah
pukul 06.15 BAB atau belum, melakukan belum BAB
pengkajian CAS (Constipation
- Klien mengatakan ingin
Assessment Scale)
2. Mengevaluasi konsumsi air BAB namun tidak mau
putih hangat 500 cc setiap pagi
di atas tempat tidur
3. Melakukan massage abdomen
- Klien mengatakan ada
kelinginan untuk BAB
- Klien mengatakan
sudah meminum air
hangat 500 cc
O:
- Klien flatus
- Perut teraba penuh
- Klien menghabiskan
500 cc air hangat
- Bisin usus 7 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale nilai
2 dari 8
A:
Masalah konstipasi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
- 1,2, dan 3

Sabtu, 11 1 4. Melakukan ROM pasif pada S:


pasien
Mei 2019 - Klen mengatakan
6. Membantu pasien untuk duduk
pukul 07.10 kemudian berpindah dari tubuh bagian kirinya
tempat tidur ke
sudah dapat digerakan
kursi roda
7. Melakukan pengukuran - Klien mengatakan
kekuatan otot sudah dapat duduk
lama

O:

- Tubuh bagian kiri


sudah dapat digerakan
- Keluarga dapat
melakukan latihan
ROM pasif
- Pasien terlihat hanya
mampu memindahkan
kedua kakinya ke
samping tempat tidur
- Kekuatan otot kanan 5.
Otot kiri 2
2 5
2 5

A:
Masalah hambatan
mobilitas sendi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi 4,6
dan 7

Sabtu 11 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
Mei 2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
pukul 06.15 menanyakan apakah sudah belum BAB
BAB atau belum, melakukan
- Klien mengatakan
pengkajian CAS (Constipation
Assessment Scale) semalam sudah mau
2. Mengevaluasi konsumsi air
BAB namun tidak
putih hangat 500 cc setiap pagi
3. Melakukan massage abdomen
keluar
- Klien mengatakan ada
kelinginan untuk BAB
- Klien mengatakan
sudah meminum air
hangat 500 cc
O:
- Klien flatus
- Perut teraba kembung
- Klien menghabiskan
500 cc air hangat
- Bisin usus 8 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale nilai
2 dari 8
A:
Masalah konstipasi belum
teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
- 1,2,3 dan 4

Minggu, 12 1 4. Melakukan ROM pasif pada S:


pasien
Mei 2019 - Klen mengatakan
6. Membantu pasien untuk duduk
pukul 07.10 kemudian berpindah dari sudah dapat
tempat tidur ke kursi roda
menggerakan tubuh
7. Melakukan pengukuran
kekuatan otot bagian kirinya
- Klien mengatakan
sudah dapat
mengangkat tangan kiri
dan kaki kirinya
- Keluarga klien
mengatakan belum
dapat memindahkan
klien dari tempat tidur
ke kursi roda karena
merasa takut jika jatuh

O:

- Tubuh bagian kiri


sudah dapat digerakan
- Klien sudah dapat
duduk lama
- Klien terlihat belum
mampu melakukan
ambulasi
- Keluarga dapat
melakukan latihan
ROM pasif
- Kekuatan otot kanan 5.
Otot kiri 3
3 5
3 5
A:
Masalah hambatan
mobilitas sudah teratasi
P:
intervensi dipertahankan

Minggu 12 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
Mei 2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
pukul 06.15 menanyakan apakah sudah sudah BAB 2 x
BAB atau belum, melakukan
pengkajian CAS (Constipation kemarin sore dan
Assessment Scale)
malam
2. Mengevaluasi konsumsi air
putih hangat 500 cc setiap pagi - Klien mengatakan BAB
3. Melakukan massage abdomen
pertama keras dan yang
kedua sedikit lunak
- Klien mengatakan
sudah meminum air
hangat 500 cc
O:
- Klien flatus
- Klien menghabiskan
500 cc air hangat
- Bisin usus 14 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale nilai
1 dari 8
A:
Masalah konstipasi sudah
teratasi
P:
Intervensi dipertahankan

Senin 12 Mei 2 1. Memonitor tanda dan gejala S:


konstipasi yaitu dengan
2019 - Klien mengatakan
mendengarkan bising usus,
pukul 06.15 menanyakan apakah sudah sudah BAB 1 x
BAB atau belum, melakukan
- Klien mengatakan BAB
pengkajian CAS (Constipation
Assessment Scale) lunak
2. Mengevaluasi konsumsi air
- Klien mengatakan
putih hangat 500 cc setiap pagi
3. Melakukan massage abdomen sudah meminum air
hangat 500 cc
- Klien mengatakan
merasa lebih baik
O:
- Klien flatus
- Klien menghabiskan
500 cc air hangat
- Bisin usus 16 x/menit
- Skala Constipation
Assessment Scale nilai
1 dari 8
A:
Masalah konstipasi sudah
teratasi
P:

intervensi dipertahankan

C. Pembahasan

Asuhan keperawatan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar

manusia melalui tahap pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi

keperawatan, implementasi dan evaluasi. Penulis akan membahas tentang

pemeberian implementasi sesuai dengan masalah yang di dapat pada Asuhan

Keperawatan dengan pasien stroke dan pemberian intervensi Massage

abdomen dan terapi minum air hangat untuk mencegah konstipasi pada

asuhan keperawatan Ny. S dengan Non Hemoragik Stroke (NHS) di ruangan

Neuro Stroke Center RSUD Poso.

1. Asuhan keperawatan pasien dengan stroke

a. Pengkajian
Pada pengkajian Pasien masuk RSUD Poso dengan keluhan lemah

badan sebelah kiri, sudut mulut kanan tertarik. Keluarga klien

mengatakan keluhan sudah dirasakan 4 hari sebelum klien masuk

rumah sakit. Ny. S juga mengeluhkan sudah 4 hari belum BAB,

perutnya terasa penuh dan ada keinginan untuk BAB namun sulit untuk

keluar. Menurut Tarwoto (2013), gejala klinis pasien penyakit NHS

adalah adanya serangan deficit neurologis/Kelumpuhan fokal seperti :

Hemiparise, yaitu adanya kelumpuhan pada sebelah badan yang kanan

atau kiri saja. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Indrawati (2012)

yang mengatakan bahwa pada pasien stroke non hemoragik yang

dirawat di RS dr. Moewardi Surakarta terdapat 20 pasien stroke non

hemoragik mengalami hemiparise pada anggota gerak baik kiri maupun

kanan. Penelitian lain yang memperkuat teori Tarwoto (2013), adalah

penelitian yang dilakukan oleh Dedeh (2018) di RS Bethesda

Yogyakarta tahun 2018 bahwa 1220 pasien stroke non hemoragik

sekitar 90,5 % mengalami gangguan motoric dan sensorik. Maka dari

itu gejala klinis yang di dapatkan oleh peneliti pada pasien Ny. S sesuai

dengan teori yang di kemukakan oleh Tarwoto (2013).

b. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan peneliti, didapatkan

masalah keperawatan pada pasien Ny. S yaitu Hambatan mobilitas fisik,

Konstipasi, dan Risiko kerusakan integritas kulit. Hal tersebut tidak

sesuai dengan teori Judith Wilkinson dalam NANDA (2016), yang


mengatakan bahwa diagnosa keperawatan yang sering muncul pada

pasien dengan kasus Non Hemoragik Stroke adalah ketidakefektifan

perfusi jaringan serebral, hambatan mobulitas fisik, risiko kerusakan

integritas kulit, hambatan komunikasi verbal, konstipasi.

Hal tersebut tidak didukung oleh penelitian Anisa (2015), di mana

pada hasil penelitiannya di dapatkan tiga diagnose pada pasien yang

mengalami Stroke non hemoragik yaitu Ketidakefektifan perfusi

jaringan serebral, hambatan mobilitas fisik, dan hambatan komunikasi

verbal. Berdasarkan hal tersebut maka didapatkan kesenjangan

mengenai diagnosa yang didapatkan peneliti, teori dan juga hasil

penelitian sebelumnya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor

diantaranya usia, serangan stroke yang berulang, tipe stroke, dan

keparahan kerusakan otak yang terkena. Hal tersebut diperkuat oleh

teori Chang (2009), yang mengatakan bahwa manifestasi klinis stroke

bergantung pada arteri serebri yang terkena, fungsi otak yang

dikendalikan atau diperantarai oleh keparahan kerusakan dan ukuran

daerah otak yang terkena selain itu bergantung pula pada derajat

sirkulasi kolateral.

c. Intervensi keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang didapatkan oleh peneliti,

maka peneliti melakukan semua intervensi sesuai dengan masalah yang

didapatkan pada Ny. S. Intervensi yang sesuai dengan diagnose


keperawatan pada pasien Ny. S yang dirawat di ruangan Neuro Stroke

Center RSUD Poso adalah sebagai berukut :

1) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan

neuromuscular, dengan tujuan yang ingin dicapai setelah dilakuakn

tindakan keperawatan selama 1 kali sehari selama 6 hari

diharapkan masalah hambatan mobilitas fisik teratasi dengan

kriteria adanya pergerakan sendi dan otot, mampu melakukan

pergerakan dengan mudah, mengalami peningkatan dalam

melakukan ambulasi, kekuatan otot meningkat. Intervensi yang

dilakukan yaitu : Tentukan batasan pergerakan sendi dan efeknya

terhadap fungsi sendi yaitu dengan menyuruh pasien untuk

mengangkat anggota geraknya sehingga peneliti mampu

menentukan batasan pergerakan yang dapat dilakukan oleh pasien,

bantu pasien mendapatkan posisi tubuh yang optimal untuk

pergerakan sendi pasif maupun aktif tujuannya agar selama latihan

ROM pasif pasien tidak mengalami hambatan dan merasa nyaman,

menjelaskan cara melakukan latihan ROM Pasif, lakukan latihan

ROM pasif/aktif sesuai indikasi dengan tujuan meningkatkan

kekuaatan otot dan mencegah kekakuan sendi hal ini sesuai dengan

teori Bakara (2015) latihan ROM apabila dilakukan berkala dan

berkesinambungan dapat memepercepat stimulus meningkatkan

fleksibilitas sendi dan bahkan derajat kekuatan otot pada penderita

stroke. Sediakan dukungan positif dalam melakukan latihan sendi,


dukung ambulasi jika memungkinkan, dan mengukur kekuatan otot

dengan tujuan menilai peningkatan dan penururnan kekuatan otat

setiap hari, dan kolaborasi pemberian terapi.

2) Konstipasi berhungungan dengan penurunan motalitas

gastrointestinal, dengan tujuan yang ingin di capai setelah

dilakukan tindakan keperawatan 1 kali selama 6 hari diharapkan

masalah konstipasi teratasi dengan kriteria Pola eliminasi adekuat,

Feses lunak dan berbentuk, intervensi yang dilakukan yaitu Terapi

minum air hangat 5oo cc setiap pagi dengan tujuan merangsang

gerakan peristaltik pada lambung (Lunding, dkk., 2015), maka

rangsangan dari regangan lambung ini melalui saraf otonom

ekstrinsik menjadi pemicu utama gerakan massa di kolon melalui

refleks gastrokolik dan massage abdomen. Dan massage abdomen

dengan tujuan Massage abdomen dapat menurunkan konstipasi

melalui beberapa mekanisme yang berbeda-beda antara lain dengan

menstimulasi sistem persyarafan parasimpatis sehingga dapat

menurunkan tegangan pada otot abdomen, meningkatkan motilitas

pada sistem pencernaan, meningkatkan sekresi pada sistem

intestinal serta memberikan efek pada relaksasi sfingter (Lamas,

dkk. 2015). Intervensi kolaborasi pemeberian terapi untuk

mengatasi konstipasi.

3) Risiko Infeksi dengan Tujuan yang ingin di capai adalah tidak

terjadi kerusakan integritas kulit, intervensi yang dilakukan yaitu


monitor mobilitas dan ubah posisi setiap 2 jam dengan tujuan

mencegah tekanan yang berlebih yang dapat menyebabkan

kerusakan integritas kulit atau decubitus. Hal tersebut susuai

dengan jurnal penelitian Nur Huda (2012) yaitu perubahan posisis

secara berkala setiap jam mulai jam 08.00-10.00 WIB pasien

dimiringkan kekiri dan ke kanan kemudian jam 10.00-12.00 pasien

ditelentangkan kemudian 2 jam selanjutnya dimiringkan lagi dan

begitu seterusnya, mampu mengurangi penonjolan pada tulang

serum dan trochanter mayor otot pinggang dan mampu mencegah

terjadinya luka tekan.

d. Implementasi

Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis dalam

mengatasi diagnose keperawatan pada Ny. S yaitu :

1) Hambatan mobilitas fisik tindakan keperawatan yang dilakukan

adalah menyuruh pasien untuk mengangkat tangan serta kaki kiri

dan kanan secara bergantian, membantu pasien mendapatkan posisi

tubuh yang optimal untuk pergerakan sendi pasif maupun aktif,

menjelaskan cara melakukan latihan ROM pasif, melakukan ROM

pasif pada pasien, latihan ROM dan mengukur kekuatan otot

selama 1 kali pada pagi hari selama 6 hari. Menyuruh keluarga

untuk membantu pasien dalam melakukan aktivitas, membantu

pasien untuk duduk kemudian berpindah dari tempat tidur ke kursi

roda, melakukan pengukuran kekuatan otot.


Pada hari pertama untuk diagnose hambatan mobilitas fisisk

penulis melakukan implementasi yaitu menyuruh pasien untuk

mengangkat anggota gerak kiri dan kanan secara bergantian,

implementasi ini dilakukan untuk mengukur samapai mana

kemampuan gerak pasien, membantu pasien utnuk mendapakan

posisis yang nyaman dalam melakukan latihan ROM pasif,

kemudian penulis menjelaskan kepada klien bagaimana cara

melakukan latihan ROM dan pasien serta keluarga di ajarkan cara

melakukan latihan ROM, setelah itu mengukur kekuatan otot

pasien hasilnya kekuatan otot pasien anggota tubuh kanan 5 dan

anggota tubuh kiri 2. Masalah belum teratasi Karena anggota tubuh

kiri sulit untuk di gerakan, sehingga penulis mengulangi intervensi.

Pada hari kedua penulis kembali mengukur kekuatan otat

dan hasinya masih sama seperti hari pertama kekuatan otot pasien

anggota tubuh kanan 5 dan anggota tubuh kiri 2, dan melakukan

latihan ROM pasif. Pada hari kedua pasien mendapatkan terapi

sinar X Ray Namun anggota tubuh masih belum bisa di gerakan

sehingga masalah belum teratasi.

Pada hari ketiga penulis kembali mengulang intervensi di

dapatkan hasil kekuatan otot kiri 2 dan kanan 5, tubuh bagian kiri

masih lemah untuk di gerakan, sehingga masalah belum teratasi,

maka intervensi di lanjutkan.


Pada hari kelima penulis kembali mengulang intervensi

dengan hasil kekuatan otot kanan 5 dan kiri 3, anggota tubuh

bagian kiri sudah dapat di gerakan dan pasien dapat duduk dengan

lama. Maka intervensi dipertahankan masalah teratasi.

2) Masalah konstipasi berhungungan dengan penurunan motilitas

gastrointestinal tindakan keperawatan yang dilakukan adalah

Massage abdomen dan terapi minum air hangat 1 kali pada pagi

hari selama 6 hari.

Pada hari pertama penulis menginstruksikan pasien untuk

minum air hangat 500 cc pada pagi hari kemudian penulis

melakukan massage abdomen. Melakukan massage abdomen

sesuai dengan standar operasional prosedur. Namun masalah belum

teratasi karena pasien belum BAB sehingga penulis mengulangi

intervensi.

Pada hari kedua penulis kembali mengulang intervensi

melakukan massage abdomen pasien menghabiskan 500 cc air

hangat, namun masalah belum teratasi karena pasien belum BAB

juga. Maka intervensi diulangi hari selanjutnya.

Pada hari ketiga intervensi kembali diulangi melakukan

massage abdomen, pasien mengatakan semalam ada keinginan

untuk BAB namun sulit untuk keluar, pasien menghabiskan 500 cc

air hangat. Namun masalah belum teratasi maka intervensi tetap

dilanjutkan.
Pada hari keempat penulis melakukan intervensi kembali

pasien menghabiskan 500 cc air hangat, bising usus meningkat 8

kali/menit, massage abdomen dilakukan namun pasien belum

BAB. Maka masalah belum teratasi, penulis mengulangi intervensi.

Pada hari kelima penulis kembali melakukan intervensi

massage abdomen, bising usus meningkat 14 kali/ menit, air hangat

di habiskan 500 cc. pasien mengatakan BAB 2 kali dengan

konsistensi pertama padat dan yang kedua lunak. Masalah sedah

teratasi namun intervensi tetap dipertahankan.

Pada hari ke enam penulis melanjutkan intervensi massage

abdomen dan terapi minum air hangat, pasien menghabiskan 500

cc air hangat, BAB 1 kali konsistensi lunak. Masalah konstipasi

teratasi intervensi di pertahankan.

3) Risiko kerusakan integritas kulit, intervensi yang di lakukan

monitoring mobilitas dan ubah posisi setiap 2 jam.

Pada hari pertama penulis melakukan pengkajia terhadap

integritas kulit pasien terutama pada bagian belakang dan tidak di

dapatkan kerusakan integritas kulit, kulit tidak kemerahan dan

lembab. Ubah posisi setiap 2 jam dilakukan. Masalah kerusakan

integritas kulit tidak terjadi, namun intervensi di pertahankan.

Pada hari ke dua penulis kembali mengulang intervensi dan

tidak di dapatkan tanda-tanda kerusakan integritas kulit, kulit tidak

kemerahan dan lembab. Pasien mengubah posisi setiap 2 jam.


Maka penulis menganalisa risiko kerusakan integritas kulit tidak

terjadi. Intervensi dipertahankan.

2. Penerapan intervensi massage abdomen dan minum air hangat 500 cc

Penerapan intervensi dimulai sejak hari pertama pada hari rabu

tanggal 08 mei 2019 jam 06.00. Pada hari selasa tanggal 07 mei 2019

peneliti melakukan pengkajian mulai dari anamneses sampai pemeriksaan

fisik. Peneliti telah menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan

pada pasien yaitu massage abdomen dan terapi minum air hangat, pasien

diintruksikan untuk meminum air hangat 500 ml pada pagi hari sebelum

sarapan pagi.

Penerapan intervensi pada hari pertama rabu tangggal 08 mei 2019,

dimulai pada pukul 06 00 WITA, pasien minum air hangat dan hanya

menghabiskan 300 cc air hangat, pasien mengeluh merasa kenyang dan

enek maka minum air hangat akan dilanjutkan setelah pemberian massage

abdomen. Setelah 5 menit peneliti melakukan massage abdomen pada

pasien dengan menggunakan baby oil, massage dilakukan selama 10

menit. Pasien terlihat nyaman, perut teraba penuh dan flatus sebanyak 1

kali. Setelah 10 menit pasien meminum kembali 200 cc air hangat, peneliti

menilai respon pasien, Subjektif : pasien mengatakan ada keinginan untuk

BAB namun sulit untuk keluar, perut terasa penuh. Objektif : pasien

menghabiskan 500 cc air hangat, bising usus 6 kali/menit, peneliti

melakukan pengkajian Constipation Assessment Scale hari pertama nilai 4

dari 8, Assasment : masalah konstipasi belum teratasi, Planning : lanjutkan


intervensi. Penerapan intervensi yang sama dilakukan selama 6 hari

berturut-turut. Pada pemberian intervensi hari ke 5 pasien sudah dapat

BAB sebanyak 2 kali, keluarga melaporkan bahwa Ny. S pada BAB

pertama keras dan yang kedua sedikit lunak. Pada hari ke 6, keluarga Ny.

S juga melaporkan bahwa pasien BAB 1 kali dengan konsistensi sedikit

lunak.

e. Evaluasi

Setelah dilakukan implementasi selama 6 hari dan melakukan

evaluasi keperawatan akhr, masalah hambatan mobilitas fisik teratasi

dengan kriteria hasil kekuatan otot pada eksterimitas kiri meningkat, di

peroleh dari data subyektif pasien mengatakan anggota tubuh kirinya

sudah dapat digerakan. Sedangkat data objektif yang diperoleh, anggota

gerak kanan dapat digerakan dan pasien dapat duduk. Analisa masalah

hambatan mobilitas fisik teratasi Planning pertahakan intervensi. Untuk

diagnose hambatan mobilitas fisik dari 8 intervensi yang direncanakan

oleh peneliti, semuanya dapat dilaksanakan. Masalah tercapai pada hari ke

5 setelah pemberian intervensi, berdasarkan teori Harsono (2009),

program latihan ROM makin dini dilakukan dapat mencegah kekakuan

sendi, dan pasien yang diberikan ROM dapat mengalami peingkatan

kekuatan otot setelah 5 hari latihan ROM. Hal tersebut tidak sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Marlina (2014) dimana pasien yang

dilakukan ROM mengalami peningkatan kekuatan otot setelah 6 hari

pemberian intervensi.
Sedangkan untuk tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana yaitu

Adanya pergerakan sendi dan otot, mampu melakukan pergerakan dengan

mudah, mengalami peningkatan dalam melakukan ambulasi, dan kekuatan

otot meningkat. Berdasarkan teori Ginsberg (2008) mengatakan bahwa

ROM pada pasien yang mengalami kelemahan baik diberikan secepatnya

untuk mencegah terjadinya kekakuan sendi , kekakuan otot dan resiko

deformitas menetap. Hal tersebut sesuai penelitian yang dilakukan oleh

yang menyatakan bahwa setelah diberikan latihan ROM maka dapat

meningkatkan kekuatan otot. Untuk tujuan peningkatan ambulasi pasien

hanya dapat duduk dan menurunkan kaki dari tempat tidur, namun tidak

dapat untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. Hal tersebut

dikarenakan pasien masih merasa takut untuk melakukan perpindahan,

selain itu dapat juga dipengaruhi oleh tidak adanya edukasi atau kurang

pengetahuan keluarga mengenai perawatan pasien yang mengalami tirah

baring agar tidak terjai kekauan otot, maka dari itu penting dilakukan

edukasi agar pasien dan keluarga dapat memahami hal tersebut.

Untuk diagnose penelitian kasus konstipasi teratasi dengan kriteria

hasil Pola eliminasi adekuat, Feses lunak dan berbentuk. Didapatkan data

subyektif pasien mengatakan setelah 4 kali pemberian implementasi

massage abdomen dan terapi minum air hangat pasien mengalami defekasi

sebannyak 2 kali dengan konsistensi pertama padat dan yang kedua lunak.

Waktu hingga pasien dapat defeksi setelah dilakukan massage abdomen

dan terapi air hangat yaitu 4 hari atau 90 jam. Dalam Ginting (2015),
bahwa kelompok yang mendapatkan intervensi massage abdomen dan

terari minum air hangat rata-rata mengalami defekasi 3 sampai 4 hari atau

35,23 sampai 60, 35 jam. Pada intervensi kali ini pasien mengalami sedikit

lebih lama waktu defekasi hal ini di pengaruhi oleh beberapa factor

diantaranya usia, ketidakmampuan pasien untuk mengeluarkan feses,

menunda-nunda untuk melakukan defekasi, perasaan risish atau malu

untuk BAB d tempat tidur dan keinginan pasien untuk BAB di toilet. Hal

ini sesuai dengan teori Guyton and Hall (2012) dimana faktor kesengajaan

penundaan defekasi pasien karena malu dan risih bila buang air besar di

tempat tidur. Pemberian intervensi massage abdomen dan terapi minum air

hangat teratasi setelah 5 kali pemberian intervensi. Hal tersebut tidak

sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ginting (2015),

dimana rata-rata pasien yang mengalami konstipasi akan melakukan

defekasi setelah 4 kali pemberian intervensi secara rutin. Pada diagnosa

konsipasi dari 5 intervensi yang direncanakan peneliti hanya 4 yang dapat

dilakukan, yang tidak tercapai yaitu kolaborasi pemberian terapi. Hal

tersebut dikarenakan keluarga tidak melaporkan bahwa Ny. S belum BAB

lebih dari 4 hari, setelah peneliti melaporkan hal tersebut kepada perawat,

di sampaikan bahwa Ny. S asupan nutrisinya baik, ada keinginan untuk

BAB maka dari itu perawat tidak memberikan obat perangsang.

Diagnose ke tiga yaitu risiko kerusakan integritas kulit, setelah

dilakukan 2 kali pemberian implementasi pasien tidak mengalami tanda-

tanda risisko kerusakan integritas kulit. Hal ini dipengaruhi karena pasien
selalu mengubah posisi dan tidak tirah baring terus menerus. Hal tersebut

susuai dengan jurnal penelitian Nur Huda (2012) yaitu perubahan posisis

secara berkala setiap jam mulai jam 08.00-10.00 WIB pasien dimiringkan

kekiri dan ke kanan kemudian jam 10.00-12.00 pasien ditelentangkan

kemudian 2 jam selanjutnya dimiringkan lagi dan begitu seterusnya,

mampu mengurangi penonjolan pada tulang serum dan trochanter mayor

otot pinggang dan mampu mencegah terjadinya luka tekan.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah menerapkan terapi non-farmakologis yaitu dengan

melakukan implementasi sesuai dengan masalah, Hambatan Mobilitas

fisik dengan latihan ROM dan monitoring kekuatan otot, Konstipasi

dengan pemeberian Massage abdomen dan terapi minum air hangat, serta

risiko infeksi dengan monitoring mobilitas dan alih baring setiap 2 jam.

Pada Asuhan keperawatan dengan kasus Non Hemoragik Stroke di RSUD

Poso, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengkajian yang dapat didapatkan pada pasien yaitu Pasien bernama

Ny. S, Usia 75 tahun, jens kelamin perempuan, pekerjaan sebagai

petani, agama islam, alamat Desa Bambal. Ny. S masuk RSUD pada

jam 10.30 tanggal 07 mei 2019 dengan diagnosa Non Hemoragik

Stroke, serta keluhan utama mengalami tangan dan kaki sebelah kiri

sulit digerakan serta bibir tertarik ke kanan.

2. Rencana atau intervensi keperawatan yang dilakukan pada Ny. S yaitu

melakukan latihan ROM dan monitoring kekuatan otot, Massage

Abdomen dan terapi minum air hangat, ubah posisi setiap 2 jam dan

monitoring risiko kerusakan integritas kulit.

3. Pemberian implementasi dilakukan 1 kali selama 6 hari pada pagi hari,

dimana untuk diagnosa pertama Hambatan mobilitas fisik pasien

mengalami peningkatan kekuatan otot dan mampu menggeraka anggota


tubuh kirinya yang mengalami kelemahan. Diagnose kedua Konstipasi,

pasien mampu BAB setelah 4 Kali pemberian terapi massage abdomen

dan terapi minum air hangat. Serta diagnose ke tiga risiko kerusakan

integritas kulit dimana pasien tidak mengalami risiko kerusakan

integritas kulit.

4. Sebelum dilakukan penelitian, tubuh bagian kiri pasien sulit untuk

digerakan dengan slake kekuatan otot 2, setelah dilakukan pemberian

intervensi skala kekuatan otot meningkat menjadi 3, pasien mampu

menggerakan anggota gerak kirinya, intervensi dilakukan selama 6

hari. Pada masalah konstipasi intervensi juga diberikan selama 6 hari,

dan pasien mampu BAB dengan konsistensi padat kemudian lunak.

Serta masalah risiko kerusakan integritas kulit, pasien tidak mengalami

tanda2 kerusakan integritas kulit.

B. Saran

1. Bagi keluarga pasien

Diharapkan dapat melakukan latihan ROM, dan melakukan massage

abdomen dan terapi minum air hangat dengan mandiri sesuai dengan

yang telah dianjurkan oleh peneliti

2. Bagi perawat diruang stroke center RSUD Poso

Dalam mengaplikasikan intervensi sesuai dengan masalah Non

Hemoragik Stoke sesuai dengan intervensi yang telah dilakukan peneliti

3. Bagi peneliti selanjutnya


Dapat menggunakan materi penelitian ini sebagai data pembanding

serta sebagai tambahan informasi guna mengembangkan judul-judul

peneilitian yang berhungungan dengan penyakit stroke terhadap

pemenuhan kebutuhan sehingga penelitian ini akan terus dikembangkan

4. Bagi peneliti

Sebagai pembelajaran untuk lebih giat lagi mencari informasi-informasi

yang berkaitan dengan penerapan tarapi sesuai dengan kasus.