Anda di halaman 1dari 5

EKTROPION DAN KELUMPUHAN SARAF FACIAL

Ektropion adalah suatu keadaan melipatnya kelopak mata ke arah luar. Ektropion dapat
merupakan kelainan congenital (jarang) ataupun yang di dapat dan di klasifikasikan sebagai
involusional, sikatrikal, paralisis atau mekanik. Bagaimanapun, banyak penyebab dari
ektropion berasal dari multifaktorial faktor. Penyebab dari sikatrikal ektropion dengan kulit
yang sedikit dapat meningkat sejalan dengan waktu meliputi dari kelemahan dari tendon-
tendon kelopak mata dan gabungan kedua faktor harus dilakukan penatalaksanaan.

EKTROPION INVOLUNSIONAL

Kondisi ini disebabkan karena banyak faktor: kelemahan dari tendon bagian medial dan
lateral kelopak mata di arah horizontal dan lebih jarang terjadi karena hilangnya retraksi dari
bagian tarsal bawah. Perpindahan dari preseptal orbicularis oculi menentukan apakah
ektropion ataupun entropion (Gambar 1). Pada bagian Timur, entropion terjadi lebih sering,
data ini diperoleh dari Singapore National Eye Centre (SNEC).

Semua faktor kausatif harus di tangani untuk perbaikan ektropion involusional. Perbaikan
dari kelehaman penutupan harus diselesaikan walaupun dengan tindadakan eksisi dari
konjungtiva tarsal atau melalui tarsal lateral yang dijelaskan oeh Anderson dan Gordy
(Gambar 2). Ektropion medial dapat dilakukan perbaikan dengan eksisi konjungtiva tarsal.
Kelemahan Medial canthal tendon (MCT) dapat diperbaiki dengan melipat bagian
anteriordari MCT (kelemahan ringan), melipat bagian posterior dari MCT (kelemahan
ringan) dan reseksi kelopak medial (kelemahan berat).

EKTROPION TARSAL TOTAL

Ini adalah keadaan yang berat dari ektropion dimana terjadinya eversi tarsal total kelopak
mata. Akibat dari inflamasi dan edema dari konjungtiva yang menyebabkan eversi permanen.
Kelemahan dari bagian bawah retraktor tarsus biasanya melemah dan hal ini memerlukan
tindakan operasi.

EKTROPION SIKATRIK

Ektropion sikatrikal terjadi jika tarikan dari kulit pipi atas ke bagian mata bawah.
Pemendekan kulit di atasi dengan skin graft dari bagian mata kontralateral, supclavikular atau
daerah retroaurikular. Jika terdapat kelemahan horizontal, hal ini harus di terapi sebaik
mungkin, biasanya dengan prosedur tarsal lateral strip (Gamabr 4). Pada pasien yang yang
tidak memungkinkan untuk dilakukannya skin graft. Subperiosteal medial wajah diangkat
efektif dalam menangani ektropion sikatrikal yang berat. Hal ini dapat melalui insisi
bleparoplasti.

EKTROPION PARALISIS DAN KELUMPUHAN SARAF VII

Penyebab dari kelumpuhan saraf VII adalah :

1. Bell’s palsy (lebih sering)


2. Trauma atau operasi dari parotids/mandible
3. Sindrom Ramsay Hunt
4. Tumor, misalnya: Tumor Cerebello-Pontine angle

Pengangan tergantung pada prognosis dari perbaikan dan tergantubg dari penyebab dari
kelumpuhan saraf VII.

Bell’s Palsy

Bell’s palsy merupakan kelumphan saraf akibat inflamasi dari saraf wajah yang bersifat self-
limiting idiopatik (Gambar 5). Etiologi dari Bell’s palsy masih kontroversial dengan iskemik
dan penurunan imunitass akut yang dimediasi demielinasi yang dipicu dari infeksi virus.
Kebanyakan pasien akan menampilkan perbaikan dalam 3 minggu, dengan 75% memperoleh
perbaikan total.

Saat ini, tidak ada bukti yang kuat untuk hasil yang menguntungkan dari penanganan Bell’s
Palsy selain dengan kortikosteroid atau asiklovir. Jika tidak ada perbaikan selama 6 bulan,
berati pasien bukanlah Bell’s Palsy dan di pikirkan kemungkinan penyebab lain.

TRAUMA DAN PEMBEDAHAN

Dua daerah yang biasa terkena injuri dari nervus fasial adalah diantara tulang temporal dan
melintasi kelenjar parotid dan menyebrang ramus mabndibula. Penetrasi perdarahan ke
bagian petreus dari tulang temporalis dapat menyebabkan paresis nervus fasial.

Fraktur mandibula, pembedahan parotid dan pengangkatan kulit wajah diketahui sebagai
penyebab injury nervus fasial. Prognosis dari perbaikan bergantung pada luasnya kerusakan
saraf.

SINDROM RAMSAY HUNT

Sindrom ini di karakteristikan sebagai nyeri berat pada telinga dan adanya tampilan dari ruam
herpetik pada daun telinga dan pada meatus akustikus eksterna. Hanya 60% dari pasien
menunjukkan perbaikan yang penuh dari kelumpuhan saraf fasial.

TUMOR

Tumor yang biasa di hubungkan dengan kelumpuhan saraf fasial adalah neuroma akustik.
Kelumpuhan saraf biasa nya bersifat progresif dan berhubungan dengan tinitus, kehilangan
pendengaran dan tanda cerebellar. Kelumpuhan saraf fasial terlihat lambat pada penyakit
pada kompresi saraf karena neuroma akustik. Kadang-kadang, kelemaha saraf fasial dapat
merupakan akibat dari pembedahan dari pengangkatan neuroma akustik.

TERAPI

Alogaritma klinis dari penanganan kelemahan saraf fasial dapat dilihat pada Gambar 6.
Pasien dengan kelemahan saraf fasial di hadapkan dengan 3 permasalahan: kerusakan kornea,
lakrimasi dan kepentingan kosmetika.

Kerusakan kornea terjadi karena :


1. Penurunan fungsi orbikularis sebagai akibat dari penurunan penutupan kelopak mata
dan berkedip yang tidak komplit.
2. Ektropion kelopak bawah
3. Retraksi kelopak atas

Masalah kerusakan retina diperberat dengan jika adanya penurunan dari sensitivitas kornea,
khususnya pada pasien neurima akustik, pada mata kering jika lesi proksimal pada ganglion
genikulasi dan dengan fenomena bell’s palsy dengan prognosis buruk pada 10% pasien
normal.

Lakrimasi disebabkan oleh :

1. Kegagalan pompa lakrimasi yang disebabkan oleh kelemahan dari otot orbikularis
okuli
2. Malposisi sekunder dari punctual pada kelopak mata bawah
3. Refleks pengeuaran air mata dari mata yang kering melalui saraf parasimpatik ke
kelenjar lakrimalis, yang melalui saraf fasialis
4. Crocodile tears

Efek kosmetika terlihat pada pasien meliputi ptosis dengan infeksi sekunder dermatokalasis,
rektraksi kelopak mata atas, ektropion kelopak mata bawah, lagophtalmus, kehilangan dari
fold nasolabial dan penurunanan sudut mulut.

KERUSAKAN KORNEA

Pada pasien dengan kelemahan saraf fasialis, tujuan utama untuk mencegah masalah
penurunan tajam penglihatan berasal dari kerusakan kornea. Pada kebanyakan pasien dengan
serebral palsy derajat ringan, dianjurkan melakukan terapi konservatif. Hal ini dilakukan
dengan diberikannya banyak lubrikasi setiap 15 menit dalam sehari dan pengguanaan salep
pada malam hari. Melakukan terapi mata pada malam hari mengurangi risiko untuk
terjadinya lagoftalmus. Jika kelemahan saraf berat, tidak mungkin untuk dilakukan perbaikan
atau jika terdapat keterlibatan dari nervus trigenimus (misalanya pada tumor cerebello
pontine angle), pembedahan kelopak mata merupakan indikasi mutnuk memastikan
perlindungan kornea yang maksimal.

Tarsorrhaphy

Jika terapi konservatif tidak dapat memberikan perbaikan yang maksimal, tarsorraphy lateral
merupakan tatalaksana yang simpel dan efektif dilakukan. Tarsorraphy di lakukan dengan
menyatukan kelopak mata menjadi satu pada bagian epitel dari kelopak mata dengan 6/0
Vicryl. Tarsorraphy latera sepanjang 5 mm biasanya dapat meningkatkan proteksi secara
maksimal secara keseluruhan dan secara kosmetik hal ini lebih baik dibandingkan tarsorraphy
yang dilakukan pada bagian medial ataupun tengah. Hal ini akan menurunkan lagoftalmus
sebnayak 80%.
Jika terdapat kerusakan yang berlanjut meskipun telah dilakukannya tarsorraphy, kelopak
mata bawah dan atas dapat di terapi dengan Mullerotomy atau Mullerectomy. Jarang sekali
reseksi otot levator dilakukan.

Ketika kelemahan saraf fasial telah di atasi, pemisahan dari tarsorraphy dilakukan dengan
mudah dengan memberikan anatesi lokal diikuti dengan pemotongan dari perlekatan antara
kelopak mata bawah dan atas.

Mulleretomy dan Mullerectomy

Otot Muller muncul dari bagian bawah dari levator, 15 mm di bagian atas insersi dari tarsal
superior. Mullerotomi dapat dilakukan dengan reseksi kelopak mata sepanjang 1,5 mm. Hal
ini lebih baik di lakukan dibandingkan dengan perlekatan dari kelopak mata yang mengalami
eversi. Kateterisi di lakukan untuk menangani insisi dari bagian tarsal superior. Jika reseksi
tidak maksimal, otot Muller dapat di diseksi bebas dari konjungtiva dan di potong. Kelopak
mata bagian atas dibiarkan dalam traksi dengan penyatuan Frost selama 1 minggu untuk
mempertahankan posisi kelopak mata.

Reseksi Levator

Pendekatan anterior lebih disukai, karena dapat memanipulasi perlekatan. Orbikularis okuli di
bedah ke arah tarsal. Perlekatan dari levator dilakukan dari tarsal dan bagian bawah otot
Muller.

Gold Implants

Penanaman gold-weight lebih sering, sebagai teknik impantasi. Lebih lagi, emas memiliki
berat volume yang perbandingan yang tinggi, dan efektif dalam menangani gejala.
Komplikasi utama dari teknik ini adalah tendensi dari berat emas.

Ektropion

Perlekatan ulang dari bagian bawah kelopak mata dengan bagian horizontal seperti strip tarsal
lateral di lakukan untuk mengatasi penyebab dari ektropion. Ektropion punctual dapat di
tangani dengan prosedur spindle medial dengan eksisi dari bagian tengah dari konjungtiva
dan memiliki kemajuan untuk retraksi kelopak mata bawah.

Air Mata

Jika terjadi pengeluaran air mata yang persisten setalh koreksi maksimal dari lagoftalmus dan
ektropion, tes Schimer dapat dilakukan untuk penanganan utama mengeringkan air mata
dengan refleks air mata. Pengeringan air mata dapat di atasi dengan pemberian lubrikasi dari
okular dan mengisi puntual. Tub

Kosmetika
Peningkatan kosmetika dapat di lakukan dengan operasi pada setiap individu dengan faktor
yang berbeda, ektropion kelopak mata bawah, retraksi kelopak mata atas dan ptosis dengan
dermatokalasis.

Kesimpulan, ketika menangani pasien dengan kelemahan saraf fasialis, proteksi kornea
merupakan hal yang utama. Penanganan secara bertahap di rekomendasikan: terapi
konservatif didahulukan sebelum dilakukannya tindakan operasi.