Anda di halaman 1dari 36

6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan di sajikan konsep - konsep yang mendasari penelitian

antara lain: 2.1) konsep dasar hipertensi 2.2) konsep diagnosa 2.3) kerangka teori

2.4) kerangka konseptual.

2.1 Konsep Dasar Hipertensi

2.1.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik

sedikitnya 140 mmhg atau tekanan darah diastolik sedikitnya 90 mmhg.

Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi

juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh

darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya (Nurarif &

Dkk, 2015).

Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolok lebih

dari 120 mmhg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmhg. Hipertensi

sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat

mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. Penyelidikan

epidemiologis membuktikan bahwa tingginya tekanan darah berhubungan

erat dengan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler (Muttaqin,

2009).
7

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara terus menerus

hingga melebihi batas normal. Tekana darah normal adalah 140/90

mmhg(Manurung, 2016).

Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC* VII, 2003


Klasifikasi tekanan Tekanan darah systol Tekanan darah diastol
darah (mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Pre hipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stage 1 140-159 90-99
Hipertensi stage 2 160/>160 100/>100

2.1.2 Etiologi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan (Nurarif

& Dkk, 2015):

1. Hipertensi Primer

Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui

penyebabnya. Faktor yang mempengaruhinya yaitu: genetik,

lingkungan, hiperaktifitas saraf simpatis sistem renin. Angiostensin

dan peningkatan Na + Ca intraseluler.

Faktor-faktor yang meningkatkan resiko: obesitas, merokok, alkohol

dan polisitemia.
8

2. Hipertensi Sekunder

Penyebab yaitu: penggunaan estrogen, penyakit ginjal,

sindrom cushing dan hipertensi yang berhubungan dengan

kehamilan.

Penyebab menurut (Manurung, 2016)

Faktor resiko :

1. Adanya riwayat keluarga penderita hipertensi

2. Stress

3. Kegemukan

4. Hipernatremia

2.1.3 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala hipertensi dapat dibedakan sebagai berikut (Nurarif &

Dkk, 2015):

1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh

dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan

pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

2. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai

hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya


9

ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang

mencari pertolongan medis.

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:

a. Mengeluh sakit kepala, pusing

b. Lemas, kelelahan

c. Sesak nafas

d. Gelisah

e. Mual

f. Muntah

g. Epistaksis

h. Kesadaran menurun

i. Keresahan

j. Pusing-pusing

k. Palpitasi

l. Pandangan mata menjadi kabur

m. Epistaksis

menurut (Manurung, 2016)


10

2.1.4 Pathway

Faktor predisposisi, usia, jenis kelamin, merokok, stress, kurang Aliran darah makin cepat
olahraga, genetic, alkohol, konsentrasi garam, obesitas. Beban kerja jantung keseluruh tubuh sedangkan
nutrisi dalam sel sudah
Kerusakan vaskuler pembuluh darah HIPERTENSI Tekanan sistemik darah mencukupi kebutuhan

Perubahan struktur Perubahan Situasi Krisis Situasional Metode Koping tidak efektif

Penyumbatan pembuluh darah Informasi yang minim Defisiensi Pengetahuan Ansietas Ketidakefektifan Koping

Vasokonstriksi Resistensi pembuluh darah otak Nyeri Kepala


Resiko ketidakefektifan
Gangguan Sirkulasi Otak Suplai O2 ke otak perfusi jaringan otak

Ginjal Retina Pembuluh darah

Vasokontriksi pemb darah ginjal Spasme Arteriol


Sistemis Koroner

Blood flow darah Resiko cedera


Vasokonstriksi Iskemia Miokard

Respon RAA
Penurunan curah jantung Afterload Nyeri

Merangsang Aldosteron Kelebihan volume cairan


Fatigue

Retensi Na Edema
Intoleransi Aktivitas
(Nurarif & Dkk, 2015)
11

2.1.5 Komplikasi

Hipertensi yang dibiarkan tak tertangani, dapat mengakibatkan menurut

Menurut (Ardiansyah, 2012) :

1. Stroke

Stroke dapat timbul akibat pendarahan karena tekanan

tinggi diotak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh

nonotak. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri-

arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan nebal,

sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya

menjadi berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami

arterosklerosis dapat melemah, sehingga meningkatkan

kemungkinan terbentuknya aneurisma.

2. Infark miokardium

Dapat juga terjadi infark miokardium apabila arteri koroner

mengalami arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke

miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang dapat

menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Karena

terjadi hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel, maka kebutuhan

oksigen miokardium tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia

jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi

ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran


12

listrik saat melintasi ventrikel, sehingga terjadi diritmia, hipoksia

jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan darah.

3. Gagal ginjal

Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat

tekanan tinggi pada kapiler-kapiler glomerulus. Dengan rusaknya

glomerulus, darah akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal,

neuron akan terganggu, dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan

kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus, protein akan

keluar melalui urine, sehingga tekanan osmotic koloid plasma

berkurang. Hal ini menyebabkan edema yang sering dijumpai pada

hipertensi kronik.

4. Ensefalopati

Enselofati (kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada

hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan

yang sangat tinggi akibat kelainan ini menyebabkan peningkatan

tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertestium

diseluruh susunan sistem saraf pusat. Akibatnya neuron-neuron

disekitarnya menjadi kolapsndan terjadi koma serta kematian.

Wanita dengan PIH dapat mengalami kejang. Bayi yang lahir

mungkin memiliki berat lahir rendah akibat perfusi plasenta yang

tidak memadai. Bayi juga dapat mengalami hipoksia dan asidosis

apabila ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses

persalinan.
13

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

Berikut pemeriksaan penunjang menurut (Nurarif & Dkk, 2015) :

1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume

cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko

seperti hipokoagulabilitas, anemia.

b. BUN/Kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi /

fungsi ginjal.

c. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat

diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.

d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi

ginjal dan ada DM.

2. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.

3. EKG : Dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas, peninggalan

gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

4. IUP : Mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,

perbaikan ginjal.

5. Photo dada : Menunjukkan destruksi klasifikasi pada area katup,

pembesaran jantung.

2.1.7 Penatalaksanaan

Menurut (Manurung, 2016) :

1. Diet rendah lemak dan rendah garam

2. Latihan atau olahraga


14

3. Penurunan berat badan

4. Penurunan stres

5. Pengobatan anti hipertensi : deuretic, penyekat beta ad-renergik,

penyekat saluran kalsium, penghambat enzim pengubah

angiostensin (ACE).

2.1.7.1 Penatalaksanaan Medis menurut (Manurung, 2016)

Tujuan penatalaksanaan medis pada klien dengan hipertensi adalah

mencegah terjadinya morbiditas dan mortilitas penyerta dengan mencapai

dan mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmhg. Efektivitas

setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya

perawatan dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.

a. Modifikasi gaya hidup

Beberapa penelitian menunjukkan pendekatan nonfarmakologi

yang dapat mengurangi hipertensi adalah sebagai berikut :

1. Tehnik mengurangi stres.

2. Penurunan berat badan.

3. Pembatasan alkohol, natrium, dan tembakau.

4. Olahraga/latihan (meningkatkan lipoprotein berdensitas tinggi).

5. Relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada

setiap terapi hipertensi.

Klien dengan hipertensi ringan yang berada dalam resiko tinggi

(pria, perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap diatas 85


15

atau 95 mmhg dan sistoliknya di atas 130 mmhg, perlu dimulai terapi

obat-obatan.

b. Terapi Farmakologis

Obat-obatan antihipertensi dapat dipakai sebagai obat tunggal

atau dicampur dengan obat lain, obat-obatan ini diklasifikasikan

menjadi 5 kategori, yaitu:

1. Diuretik

Hidroklorotiazid adalah diuretik yang paling sering

diresepkan untuk mengobati hipertensi ringan.

Hidroklorotiazid dapat diberikan sendiri pada klien dengan

hipertensi ringan atau klien yang baru. Banyak obat

antihipertensi dapat menyebabkan retensi cairan; karena itu,

seringkali diuretik diberi bersama hipertensi.

2. Menekan simpatetik (simpatolitik)

Penghambat (sdrenergik bekerja di sentral simpatolitik),

penghambat adrenergik alfa, dan penghambat neuron

adrenergik diklasifikasikan sebagai penekan simpatetik, atau

simpatolitik. Penghambat adrenergik beta, dibahas sebelumnya,

juga dianggap sebagai simpatolitik dan menghambat reseptor

beta.

3. Vasodilator arteriol yang bekerja langsung


16

Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III

yang bekerja dengan merelaksasikan otot-otot polos pembuluh

darah, terutama arteri sehingga menyebabkan vasodilatasi.

Dengan terjadinya vasodilatasi, tekanan darah akan turun dan

natrium serta air tertahan, sehingga terjadi edema perifer.

Diuretik dapat diberikan bersama-sama dengan vasodilator

yang bekerja langsung, untuk mengurangi edema. Refleks

takikardia disebabkan oleh vasodilatasi dan menurunnya

tekanan darah.

4. Antagonis angiostensin (ACE inhbitor)

Obat dalam golongan ini menghambat enzim pengubah

angiostensin (ACE), yang nantinya akan menghambat

pembentukan angiostensin II(vasokonstriktor) dan

menghambat pelepasan aldosteron. Aldosteron meningkatkan

retensi natrium dan ekresi kalium, jika aldosteron dihambat,

natrium dieksresikan bersama-sama dengan air. Katopril,

analapril, dan lisinopril adalah ketiga antagonis angiostensin.

Obat-obat ini dipakai pada klien dengan kadar renin serum

yang tinggi.

5. Penghambat Adrenergik Alfa

Golongan obat ini memblok reseptor adrenergik alfa1,

menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

Penghambat beta juga menurunkan lipoprotein berdensitas


17

sangat rendah (very low-density lipoprotein-VLDL) dan

lipoprotein berdensitas rendah (low-density lipoproteins-LDL)

yang bertanggung jawab dalam penimbunan lemak di arteri

(arteriosklerosis).

6. Penghambat Neuron Adrenergik (simpatolitik yamg bekerja

perifer)

Penghambat neuron adrenergik merupakan obat

antihipertensi yang kuat yang menghambat norepineprin dari

ujung saraf simpatis, sehingga pelepasan norepineprinmenjadi

berkurang dan ini menyebabkan curah jantung maupun

tahanan vaskular perifer menurun. Reserpin dan guenitidin

(dua obat yang paling kuat) dipakai untuk mengendalikan

hipertensi berat.

Hipotensi ortostatik merupakan efek samping yang

sering terjadi klien harus dinasihatkan untuk bangkit perlahan-

lahan dari posisi berbaring atau dari posisi duduk. Obat-obat

dalam kelompok ini dapat menyebabkan retensi natrium dan

air.

2.2 Konsep Diagnosa Keperawatan

2.2.1 Dasar Diagnosa Keperawatan

Pelayanan kesehatan diberikan oleh berbagai jenis profesi kesehatan,

termasuk perawat, dokter, dan fisioterapi, ini baru sebagian saja. Hal ini
18

berlaku di rumah sakit serta tatanan lainnya secara kontinum pelayanan

(misalnya : puskesmas, klinik, perawatan rumah, perawatan jangka

panjang). Setiap disiplin kesehatan membawa keunikan batang tubuh

pengetahuan untuk perawatan klien. Bahkan, keunikan batang tubuh

pengetahuan sering disebut sebagai ciri khas dari profesi.

Kolaborasi, kadang-kadang terjadi tumpang tindih diantara profesi

dalam memberikan asuhan keperawatan. Sebagaimana contoh, seorang

dokter di tatanan rumah sakit dapat menulis anjuran bagi klien untuk

berjalan dua kali per hari. Fisioterapis berfokus pada latihan otot untuk

pergerakan yang berguna untuk berjalan . keperawatan memiliki

pandangan holistik pada pasien, termasuk keseimbangan dan kekuatan otot

yang berkaitan denagan berjalan, serta kepercayaan diri dan motivasi.

Pekerja sosial mungkinterlibat dalam jaminan kesehatan yang diperlukan

untuk peralatan.

Setiap profesi kesehatan memiliki cara untuk menggambarkan “apa”

yang profesi pahami dan “bagaimana” bertindak berdasarkan apa yang

mereka pahami. Dokter mengobati penyakit dan menggunakan toksonomi

klasifikasi. Penyakit Internasiona, ICD-10, untuk mewakili dan kode

masalah medis yang mereka obati. Psikolog, psikiater, dan profesional

kesehatan jiwa lainnya mengobati gangguan kesehatan jiwa dan

menggunakan manual diagnostik dan statistik gangguan jiwa, DSM-V.

Perawat merawat respon manusia terhadap masalah kesehatan dan atau


19

proses kehidupan dengan mengategorikan bidang yang menjadi perhatian

keperawatan(yaitu fokus dari diagnosis).

Perawat menangani respon terhadap gangguan kesehatan / proses

kehidupan antar individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Respons

tersebut merupakan pusat perhatian asuhan keperawatan. Diagnosis

keperawatan dapat berfokus pada masalah, atau tingkat promosi kesehatan

atau resiko potensial (Herdman, 2017).

1. Diagnosis Keperawatan Berfokus Masalah

Sebuah penilaian klinis tentang respons manusia yang tidak

diingikan terhadap gangguan kesehatan / yang ada dalam proses

kehidupan individu, keluarga, kelompok, atau komunitas.

2. Diagnosis keperawatan resiko

Sebuah penilaian klinis mengenai kerentanan individu, keluarga,

kelompok atau masyarakat untuk mengembangkan respon manusia

yang tidak di inginkan terhadap gangguan kesehatan / proses

kehidupan.

3. Diagnosis keperawatan promosi kesehatan

Suatu penilaian klinis tentang motivasi dan keinginan untuk

meningkatkan kesejahteraan dan mengaktualisasikan potensi

kesehatan manusia. Respon ini diungkapkan dengan kesiapan untuk

meningkatkan perilaku kesehatan tertentu, dan dapat digunakan dalam

kondisi sehat,. Respon promosi kesehatan mungkin ada dalam

individu, keluarga, kelompok atau komunitas. (Herdman, 2017)


20

2.2.2 Proses Konsep Keperawatan

Pengetahuan tentang konsep utama, atau fokus diagnosis

keperawatan, diperlukan sebelum memulai pengkajian. Contoh konsep

kritis yang penting dalam praktik keperawatan meliputi pernapasan,

eliminasi, termoregulasi, kenyamanan fisik, perawatan diri dan integritas

kulit. Memahami konsep tersebut memungkinkan perawat untuk

mengidentifikasi pola dalam data dan mendiagnosis secara akurat. Bidang

utama yang perlu dipahami, misalnya pada nyeri, termasuk manifestasi

dari rasa nyeri, teori nyeri, populasi beresiko, konsep patofisiologi terkait,

dan manajemen nyeri. Pemahaman penuh konsep-konsep kunci juga

diperlukan untuk membedakan diagnosis. Misalnya, untuk memahami

hipotermia atau hipertermia, perawat perlu memahami konsep inti

stabilisasi termal dan termoregulasi, perawat akan dihadapkan dengan

diagnosis hipotermia (00006) (atau resiko), hipertermia (00007) (atau

resiko), tetapi juga resiko ketidakseimbangan suhu tubuh (00005) dan

ketidakefektifan termoregulasi (00008). Perawat dapat mengumpulkan

sejumlah data, tetapi tanpa pemahaman yang cukup tentang konsep inti

stabilitas termal dan termoregulasi, maka data yang diperlukan untuk

diagnosis yang akurat mungkin terabaikan dan pola dalam data

pengkajian sesuai.

Dalam membuat asuhan keperawatan ada 5 langkah :

1. Pengkajian keperawatan.

2. Diagnosais keperawatan.
21

3. Intervensi keperawatan

4. Implementasi keperawatan.

5. Evaluasi keperawatan.

(Herdman, 2017)

2.2.3 Definisi Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan sebuah label singkat yang

menggambarkan kondisi pasien yang diobservasi di lapangan. Kondisi ini

berupa masalah-masalah aktual atau potensial atau diagnosis sejahtera

(Wilkinson & Dkk, 2015).

Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons

manusia terhadap gangguan kesehatan/ proses kehidupan, atau kerentanan

respons dari seorang individu, keluarga, kelompok atau komunitas (Wiley

& Dkk, 2017).

2.2.4 Batasan Karakteristik

Batasan karakteristik merupakan tanda yang menggambarkan

tingkah laku pasien, baik yang diobservasi oleh perawat (objektif) maupun

yang dikatakan oleh pasien/keluarga (subjektif). Setelah mengkaji pasien,

perawat mengolah batasan karakteristik menjadi pola yang berarti dan

memperingatkan mereka terhadap kemungkinan adanya suatu masalah

pada pasien. Biasanya, adanya dua atau tiga batasan karakteristik dapat

memverifikasi/membuktikan suatu diagnosis keperawatan (Wilkinson &

Dkk, 2015).
22

2.2.5 Faktor yang Berhubungan

Faktor yang berhubungan menyimpulkan suatu hubungan dengan

diagnosis keperawatan. beberapa faktor mungkin digambarkan sebagai

“yang berhubungan dengan”, “mendahului”, “yang berkaitan dengan” atau

“berpengaruh pada” diagnosis. Faktor yang berhubungan untuk

mengindikasikan apa yang harus diubah pada pasien agar kembali dalam

kondisi kesehatan yang optimal, dan oleh sebab itu dapat membantu

perawat memilih intervensi keperawatan yang efektif(Wilkinson & Dkk,

2015).

2.2.6 Faktor Resiko

Faktor resiko hanya akan ditemukan pada diagnosis keperawatan

“resiko” (potensial). Faktor resiko mirip dengan faktor yang berhubungan

dan batasan karakteristik dalam perkembangan rencana asuhan. Ketiga hal

tersebut menggambarkan kejadian dan perilaku yang menempatkan pasien

pada kondisi resiko dan menyarankan intervensi untuk melindungi

pasien(Wilkinson & Dkk, 2015).

2.2.7 Diagnosa yang sering muncul

Diagnosa yang sering muncul pada pasien hipertensi menurut (Nurarif &

Dkk, 2015) :

1. Penurunan curah jantung b.d peningkatan afterload, vasokonstriksi,

hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard.

2. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler serebral dan iskemia.

3. Kelebihan volume cairan


23

4. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan

kebutuhan oksigen.

5. Ketidakefektifan koping

6. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak.

7. Resiko cedera.

8. Defisiensi pengetahuan.

9. Ansietas.

2.2.8 Pengertian, batasan karakteristik, faktor-faktor

1. Penurunan curah jantung (Wilkinson & Dkk, 2015)

Ketidakadekuatan pompa darah oleh jantung untuk

memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :

Gangguan frekuensi dan irama jantung

a. Aritmia (takikardia, bradikardia)

b. Perubahan pola EKG

c. Palpitasi

Gangguan preload

a. Edema

b. Keletihan

c. Peningkatan atau penurunan tekanan vena sentral (CVP)

d. Peningkatan atau penurunan tekanan baji arteri pulmonal

(PAWP, Pulmonary artery wedge pressure)

e. Distensi vena jugularis


24

f. Murmur

g. Kenaikan berat badan

Gangguan afterload

a. Kulit dingin

b. Denyut perifer menurun

c. Dispnea

d. Peningkatan atau penurunan tahanan vaskular pulmonal

(PVR)

e. Peningkatan atau penurunan tahanan vaskular sistemik

(SVR)

f. Oliguria

g. Pengisian ulang kapiler menunjang

h. Perubahan warna kulit

i. Variasi pada hasil pemeriksaan tekanan darah

Gangguan Kontraktilitas

a. Bunyi crackle

b. Batuk

c. Ortopnea atau dispnea nokturnal paroksimal

d. Penurunan curah jantung

e. Penurunan indeks jantung

f. Penurunan fraksi ejeksi, indeks volume sekuncup

(SVI,stroke volume indeks), indeks kerja ventrikel kiri

g. Bunyi jantung S3 atau S4


25

Perilaku/emosi

a. Ansietas

b. Gelisah

Faktor yang berhubungan :

a. Gangguan frekuensi atau irama jantung

b. Gangguan volume sekuncup

c. Gangguan preload

d. Gangguan afterload

e. Gangguan kontraktilitas

Faktor yang berhubungan (non-Nanda Internasional)

a. Kelainan jantung

b. Toksisitas obat

c. Disfungsi konduksi listrik

d. Hipovolemia

e. Peningkatan kerja ventrikel

f. Kerusakan ventrikel

g. Iskemia ventrikel

h. Keterbatasan ventrikel

2. Nyeri akut (Wilkinson & Dkk, 2015)

Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat

adanya keruasakan jaringan yang aktual atau potensial atau

digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the


26

study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas

ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau

diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.

Batasan Karakteristik :

Subjektif

a. Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri)

dengan isyarat

Objektif

a. Posisi untuk menghindari nyeri

b. Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas tidak

bertenaga sampai kaku)

c. Respon autonomik (misalnya, diaforesis; perubahan tekanan

darah, pernapasan, atau nadi;dilatasi pupil)

d. Perubahan selera makan

e. Perilaku distraksi (misalnya, mondar-mandir, mencari orang

dan/ atau aktivitas lain, aktivitas berulang)

f. Perilaku ekspresif (misalnya; gelisah, merintih, menangis,

kewaspadaan berlebihan, peka terhadap ransang dan

menghela napas panjang)

g. Wajah topeng (nyeri)

h. Perilaku menjaga atau sikap melindungi


27

i. Faktor menyempit (misalnya; gangguan persepsi waktu,

gangguan proses pikir, interaksi dengan orang lain atau

lingkungan menurun)

j. Bukti nyeri yang dapat diamati

k. Berfokus pada diri sendiri

l. Gangguan tidur

Batasan Karakteristik Lain (non-Nanda Internasional)

a. Mengkomunikasikan deskriptor nyeri

b. Menyeringai

c. Rentang perhatian terbatas

d. Pucat

e. Menarik diri

Faktor yang berhubungan

a. Agens cedera biologis (mis., infeksi, iskemia, neoplasma)

b. Agens cedera fisik (mis., abses, amputasi, luka bakar,

terpotong, mengangkat berat, prosedur bedah, trauma,

olahraga berlebihan)

c. Agens cedera kimiawi (mis., luka bakar, kapsaisin, metilen

klorida, agens mustard)


28

3. Kelebihan volume cairan (Wilkinson & Dkk, 2015)

Peningkatan retensi cairan isotonik

Batasan Karakteristik

Subjektif

a. Ansietas

b. Dispnea atau pendek napas

c. Gelisah

Objektif

a. Suara napas tidak normal (rale atau crackle)

b. Perubahan elektrolit

c. Anasarka

d. Ansietas

e. Azotemia

f. Perubahan tekanan darah

g. Perubahan status mental

h. Perubahan pola pernapasan

i. Penurunan hemoglobin

j. Edema

k. Peningkatan tekanan vena sentral

l. Asupan melebihi haluaran

m. Distensi vena jugularis

n. Oliguria

o. Ortopnea
29

p. Efusi pleura

q. Refleks hepatojugularis positif

r. Perubahan tekanan arteri pulmonal

s. Kongesti paru

t. Gelisah

u. Bunyi jantung S3

v. Prubahan berat jenis urine

w. Kenaikan berat badan dalam periode singkat

Faktor yang berhubungan

a. Gangguan mekanisme regulasi

b. Kelebihan asupan cairan

c. Kelebihan asupan natrium

4. Intoleransi aktivitas (Wilkinson & Dkk, 2015)

Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologisuntuk

mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-

hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

Batasan Karakteristik

a. Dispnea setelah beraktivitas

b. Keletihan

c. Ketidaknyamanan setelah beraktivitas

d. Perubahan elektrokardiogram (EKG)

e. Respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas


30

f. Respons tekanan darah abnormal terhadap aktivitas

Faktor yang berhubungan

a. Gaya hidup kurang gerak

b. Imobilitas

c. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

d. Tirah baring

5. Ketidakefektifan koping (Herdman, 2017)

Ketidakmampuan untu membentuk penilaian valid tentang

stresor ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan dan/atau

ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.

Batasan Karakteristik

a. Akses dukungan sosial tidak adekuat

b. Kesulitan mengorganisir informasi

c. Ketidakmampuan memenuhi harapan peran

d. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar

e. Ketidakmampuan meminta bantuan

f. Ketidakmampuan mengatasi masalah

g. Ketidakmampuan menghadapi situasi

h. Ketidakmampuan mengikuti informasi

i. Kurang perilaku yang berfokus pada pencapaian tujuan

j. Kurang resolusi masalah

k. Letih
31

l. Penyalahgunaan zat

m. Perilaku destruktif terhadap diri sendiri

n. Prilaku destruktif terhadap orang lain

o. Perilaku mengambil resiko

p. Perubahan konsentrasi

q. Perubahan pola komunikasi

r. Perubahan pola tidur

s. Sering sakit

t. Strategi koping tidak efektif

Faktor yang berhubungan

a. Derajat ancaman yang tinggi

b. Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh

karakteristik hubungan

c. Gangguan pola melepaskan ketegangan

d. Ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiap terhadap

stresor

e. Ketidakmampuan mengubah energi yang adaptif

f. Krisi maturasi

g. Kurang percaya diri dalam kemampuan mengatasi masalah

h. Penilaian ancaman tidak akurat

i. Perbedaan gender dalam strategi koping

j. Ragu

k. Sumber yang tersedia tidak adekuat


32

l. Tingkat persepsi kontrol yang tidak adekuat

6. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak (Herdman, 2017).

Rentan mengalami penurunan sirkulasi jaringan otak yang

dapat menganggu kesehatan

Faktor resiko

a. Agens farmaseutikal

b. Aterosklerosis aortik

c. Baru terjadi infark miokardium

d. Diseksi arteri

e. Embolisme

f. Endokarditis infektif

g. Fibrilasi atrium

h. Hiperkolesterolemia

i. Hipertensi

j. Kardiomiopati dilatasi

k. Katup prostetik mekanis

l. Koagulasi intravaskular diseminata

m. Koagulopati (mis., anemia sel sabit)

n. Masa protombin abnormal

o. Masa tromboplastin parsial abnormal

p. Miksoma atrium

q. Neoplasma otak
33

r. Penyalagunaan zat

s. Segmen ventrikel kiri akinetik

t. Sidrom sick sinus

u. Stenosis karotid

v. Stenosis mitral

w. Terapi trombolitik

x. Tumor otak (mis., gangguan serebrovaskular, penyakit

neurologis, trauma, tumor)

7. Resiko cedera (Herdman, 2017)

Rentan mengalami cedera fisik akibat kondisi lingkungan

yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensif

individu yang dapat mengganggu kesehatan

Faktor Resiko

Eksternal

a. Agens nosokomial

b. Gangguan fungsi kognitif

c. Gangguan fungsi psikomotor

d. Hambatan fisik (mis., desain, struktur, pengaturan,

komunitas, pembangunan, peralatan)

e. Hambatn sumber nutrisi (mis., vitamin, tipe makanan)

f. Moda transportasi aman

g. Pajanan pada kimia toksik


34

h. Pajanan pada patogen

i. Tingkat imunisasi di komunitas

Internal

a. Disfungsi biokimia

b. Disfungsi efektor

c. Disfungsi imun

d. Disfungsi integrasi sensori

e. Gangguan mekanisme pertahanan primer (mis., kulit robek)

f. Gangguan orientasi afektif

g. Gangguan sensasi (akibat dari cedera medula spinalis,

diabetes mellitus, dll)

h. Hipoksia jaringan

i. Malnutrisi

j. Profil darah yang abnormal

k. Usia ekstrem

8. Defisiensi pengetahuan (Herdman, 2017)

Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan

dengan topik tertentu

Batasan Karakteristik

a. Ketidakakuratan melakukan tes

b. Ketidakakuratan mengikuti perintah

c. Kurang pengetahuan
35

d. Perilaku tidak tepat (mis., histeria, bermusuhan, agitasi,

apatis)

Faktor yang Berhubungan

a. Gangguan fungsi kognitif

b. Gangguan memori

c. Kurang informasi

d. Kurang minat untuk belajar

e. Kurang sumber pengetahuan

f. Salah pengertian terhadap orang lain

9. Ansietas (Herdman, 2017)

Perasaan tidak nyama atau kekawatiran yang samar disertai

respons otonom (sumber seringkali tidak spesifik atau tidak

diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh

antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan

yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan

memampukan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.

Batasan Karakteristik

Perilaku

a. Agitasi

b. Gelisah

c. Gerakan ekstra

d. Insomnia
36

e. Kontak mata yang buruk

f. Melihat sepintas

g. Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam

perawatan hidup

h. Penurunan produktivitas

i. Perilaku mengintai

j. Tampak waspada

Afektif

a. Berfokus pada diri sendiri

b. Distress

c. Gelisah

d. Gugup

e. Kesedihan yang mendalam

f. Ketakutan

g. Menggemerutukkan gigi

h. Menyesal

i. Peka

j. Perasaan tidak adekuat

k. Putus asa

l. Ragu

m. Sangat khawatir

n. Senang berlebihan
37

Fisiologis

a. Gemetar

b. Peningkatan keringat

c. Peningkatan ketegangan

d. Suara bergetar

e. Tremor

f. Tremor tangan

g. Wajah tegang

Simpatis

a. Anoreksia

b. Diare

c. Dilatasi pupil

d. Eksitasi kardiovaskuler

e. Gangguan pernapasan

f. Jantung berdebar-debar

g. Kedutan otot

h. Lemah

i. Mulut kering

j. Peningkatan denyut nadi

k. Peningkatan frekuensi pernapasan

l. Peningkatan refleks

m. Peningkatan tekanan darah

n. Vasokontriksi superfisial
38

o. Wajah memerah

Parasimpatis

a. Anyang-anyangan

b. Diare

c. Dorongan segera berkemih

d. Gangguan pola tidur

e. Kesemutan pada ekstremitas

f. Letih

g. Mual

h. Nyeri abdomen

i. Penurunan denyut nadi

j. Penurunan tekanan darah

k. Pusing

l. Sering berkemih

Kognitif

a. Bloking pikiran

b. Cenderung menyalahkan orang lain

c. Gangguan konsentrasi

d. Gangguan perhatian

e. Konfusi

f. Lupa

g. Melamun

h. Menyadari gejala fisilogis


39

i. Penurunan kemampuan untuk belajar

j. Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah

k. Penurunan lapang persepsi

l. Preokupasi

Faktor yang berhubungan

a. Ancaman kematian

b. Ancaman pada status terkini

c. Hereditas

d. Hubungan interperonal

e. Kebutuhan yang tidak dipenuhi

f. Konflik nilai

g. Konflik tentang tujuan hidup

h. Krisi maturasi

i. Krisis situasi

j. Pajanan pada toksin

k. Penularan interpersonal

l. Penyalahgunaan zat

m. Perubahan besar (mis., status ekonomi, lingkungan, status

kesehatan, fungsi peran, status peran)

n. Riwayat keluarga tentang ansietas

o. Stressor
40

2.3 Kerangka Teori

Etiologi : (Nurarif & Dkk, Tanda dan gejala : Diagnosa Keperawatan yang
2015) (Manurung, 2016) sering muncul : (Nurarif &
Hipertensi Primer : 1. Mengeluh sakit Dkk, 2015)
1. Genetik kepala, pusing 1. Penurunan curah jantung
2. Lingkungan 1. Batasan
Hipertensi 2. Lemas, kelelahan 2. Nyeri akut Karakteristik
3. hiperaktifitas saraf 3. Sesak nafas 3. Kelebihan volume cairan
simpatis sistem renin 2. Faktor yang
4. Gelisah 4. Intoleransi Aktivitas Berhubungan
4. obesitas 5. Mual 5. Ketidakefektifan koping
5. merokok Klasifikasi : 3. Faktor
6. Muntah 6. Resiko ketidakefektifan
6. alkohol Resiko
1. Normal 7. Epistaksis perfusi jaringan otak.
7. polisitemia. 2. Pre 8. Kesadaran 7. Resiko cedera.
Hipertensi Sekunder : Hipertensi menurun 8. Defisiensi pengetahuan.
1. penggunaan estrogen 3. Hipertensi 9. Ansietas.
2. penyakit ginjal Stage 1
3. sindrom cushing 4. Hipertensi
4. hipertensi yang Stage 2 Konsep Dasar Diagnosa Keperawatan
berhubungan dengan
kehamilan.
Dasar Diagnosis Keperawatan:
(Herdman, 2017)
Komplikasi : (Ardiansyah, Penatalaksanaan : Pemeriksaan Penunjang: : 1. Diagnosis Keperawatan
2012) (Manurung, 2016) (Nurarif & Dkk, 2015) Berfokus Masalah
1. Pecahnya pembuluh 1. Diet rendah lemak dan 1. Pemeriksaan Laboratorium 2. Diagnosis Keperawatan
darah serebral rendah garam a. Hb/Ht Resiko
2. Penyakit arteri koroner 2. Latihan atau olahraga b. BUN/Kreatinin 3. Diagnosis Keperawatan
3. Gagal ginjal 3. Penurunan berat badan c. Glucosa
4. Penurunan stres Promosi Kesehatan
4. Stroke d. Urinalisa
5. Gagal Ginjal 5. Pengobatan anti hipertensi : 2. CT Scan
6. Infark miokardium deuretic, penyekat beta ad- 3. EKG
7. Ensefalopati renergik, penyekat saluran 4. IUP
kalsium, penghambat enzim 5. Photo dada
pengubah angiostensin
(ACE).
41

2.4 Kerangka Konseptual

Penderita Hipertensi Tanda dan gejala : Diagnosa Keperawatan


1. Mengeluh sakit yang sering muncul :
kepala, pusing 1. Penurunan curah jantung
2. Lemas, 2. Nyeri akut
Klasifikasi : kelelahan 3. Kelebihan volume cairan
3. Sesak nafas 4. Intoleransi Aktivitas
1. Normal 4. Gelisah 5. Ketidakefektifan koping
2. Pre 5. Mual 6. Resiko ketidakefektifan
Hipertensi 6. Muntah perfusi jaringan otak.
3. Hipertensi 7. Epistaksis 7. Resiko cedera.
Stage 1 8. Kesadaran 8. Defisiensi pengetahuan.
4. Hipertensi menurun 9. Ansietas.
Stage 2

KETERANGAN

= yang akan diteliti

= yang tidak diteliti

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual Analisis Diagnosa Keperawatan pada Pasien Hipertensi