Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kondisi
1. Definisi

Frozen shoulder identik dengan capsulitis atau periarthritis sendi bahu


yang menimbulkan nyeri dan keterbatasan lingkup gerak (LGS) baik secara aktif
maupun pasif pada seluruh pola gerak sendi glenohumeral, Callient (1997).
Adanya rasa nyeri dapat mengganggu penderita dalam melakukan aktifitas,
biasanya nyeri ini akan timbul saat melakukan aktifitas, seperti : mengangkat
tangan ke atas waktu menyisir rambut, menggosok punggung sewaktu mandi,
menulis dipapan tulis, mengambil sesuatu dari saku belakang celana, mengambil
atau menaruh sesuatu di atas dan kesulitan saat memakai atau melepas baju. Hal
ini akan menyebabkan pasien enggan menggerakkan sendi bahunya yang akhirnya
dapat memperberat kondisi yang ada sehingga dapat menimbulkan gangguan
dalam gerak dan aktifitas fungsional keseharian (Wiratno, 1988).

Secara anatomi sendi bahu merupakan sendi peluru (ball and socket joint)
yang terdiri atas bonggol sendi dan mangkuk sendi. Cavitas sendi bahu sangat
dangkal, sehingga memungkinkan seseorang dapat menggerakkan lengannya
secara leluasa dan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Namun struktur yang
demikian akan menimbulkan ketidakstabilan sendi bahu dan ketidakstabilan ini
sering menimbulkan gangguan pada bahu. Sendi bahu merupakan sendi yang
komplek pada tubuh manusia dibentuk oleh tulang-tulang yaitu : scapula
(shoulder blade),clavicula (collar bone),humerus (upper arm bone), dan sternum.
Daerah persendian bahu mencakup empat sendi, yaitu sendi sternoclavicular,
sendi glenohumeral, sendi acromioclavicular, sendi scapulothoracal. Empat sendi
tersebut bekerjasama secara secara sinkron. Pada sendi glenohumeralsangat luas
lingkup geraknya karena caput humeri tidak masuk ke dalam mangkok karena
fossa glenoidalis dangkal (Sidharta, 1984).
1.1 Anatomi Shoulder
a. Sendi Glenohumeralis

Sendi ini merupakan sendi synovial yang menghubungkan tulang humerus


(caput humerus) dengan scapula (cavitas glenoidalis). Caput humerus berbentuk
hampir setengah bola berdiameter 3 centimeter bernilai sudut 153° dan cavitas
glenoidalis bernilai sudut 75º, keadaan ini yang membuat sendi tidak stabil.
Adanya labrium glenoidalis, jaringan fibrocartilaginous dan menghadapnya fossa
glenoidalis agak ke atas membuat sendi ini sedikit lebih stabil lagi. Ada 9 buah
otot yang menggerakkan sendi ini, yaitu : m.deltoideus, m.supraspinatus,
m.infraspinatus, m.subscapularis, m.teres minor, m.latasimus dorsi, m.teres
mayor, m.coracobracialis dan m.pectoralis mayor. m.deltoideus dan otot-otot
rotator cuff (m.supraspinatus, m.infraspinatus, m.subscapularis, m.teres minor)
tergolong prime mover (otot penting dalam memindahkan barang) dan fungsinya
sebagai abduktor lengan.

Gerakan abduksi sendi Glenohumeralis dipengaruhi oleh rotasi humerus


pada sumbu panjangnya. Dari posisi lengan menggantung ke bawah dan telapak
tangan menghadap tubuh, gerakan abduksi lengan secara aktif hanya mungkin
sampai 90° saja (bila dilakukan secara pasif bisa sampai 120°) dan gerakan elevasi
selanjutnya hanya mungkin apabila disertai rotasi ke luar dari humerus pada
sumbunya. Hal ini dilakukan agar turbeculum mayus humeri berputar ke belakang
acromion, sehingga gerakan selanjutnya ke atas tidak terhalang lagi. Sebaliknya
bila lengan berada dalam rotasi ke dalam, maka gerakan abduksi hanya mungkin
sampai 60° saja.

b. Sendi Acromioclavicula

Sendi ini merupakan persendian antara acromion dan extermitas


acromialis clavicula. Kedua bagian tulang ini di dalam ruang sendinya
dihubungkan melalui suatu cakram yang terdiri dari jaringan fibrocartilaginous
dan sendi ini diperkuat oleh ligamentum acromioclavicularis superior dan inferior.
Pada waktu scapula rotasi ke atas (saat lengan elevasi) maka terjadi rotasi
clavicula mengitari sumbu panjangnya. Rotasi ini akan menyebabkan elevasi
clavicula. Elevasi pada sudut 30° pertama terjadi pada sendi sternoclavicularis
kemudian 30° berikutnya terjadi akibat rotasi clavicula ini.

c. Sendi Sternoclavicularis

Sendi ini merupakan persendian antara sternum dan extermitas sternalis


clavicula. Kedua bagian tulang ini di dalam ruang sendinya juga dihubungkan
melalui suatu cakram. Sendi ini diperkuat oleh ligamentum clavicularis dan costo
clavicularis. Adanya ligamen ini maka sendi costosternalis dan costovertebralis
(costa 1) secara tidak langsung mempengaruhi gerakan sendi glenohumeralis
secara keseluruhan.

d. Sendi Suprahumeral

Sendi ini bukan merupakan sendi sebenarnya, tetapi hanya merupakan


articulatio (persendian) protektif antara caput humeri dengan suatu arcus yang
dibentuk oleh ligamentum coracoacromialis yang melebar. Ligamen ini fungsinya
untuk melindungi sendi glenohumeralis terhadap trauma dari atas dan sebaliknya
mencegah dislokasi ke atas dari caput humeri. Ligamen ini juga menjadi
hambatan pada waktu abduksi lengan. Di dalam sendi yang sempit ini terdapat
struktur-struktur yang sensitif yaitu: cursae subacromialis dan subcoracoideus,
tendon m.supraspinatus, bagian atas kapsul sendi glenohumeralis, tendon m.
biceps serta jaringan ikat.

Join play movement adalah istilah yang digunakan pada Manipulative


therapy untuk menggambarkan apa yang terjadi didalam sendi ketika dilakukan
gerakan translasi, gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara pasif oleh terapis
pada saat pemeriksaan maupun terapi. Ada 3 macam joint play movement: (1).
Traction/ traksi, (2). Compression/ kompresi, (3). Gliding.
a. Gliding

Gliding yaitu gerakan permukaan sendi dimana hanya ada satu titik
kontak pada satu permukaan sendi yang selalu kontak dengan titik kontak
yang baru (selalu berubah) pada permukaan sendi laannya. Arah gliding
permukaan sendi sesuai dengan hukum konkaf konvek yaitu : jika
permukaan sendi konkaf, maka arah gliding berlawanan dengan gerakan
tulang. Sedangkan bila permukaan sendi konvek maka arah gliding searah
dengan gerakan tulang. Untuk sendi bahu arah gliding berlawanan dengan
arah gerakan tulang, karena pertmukaan sendi konfek bergerak peda
permukaan sendi konkaf (caput humei dengan cavitas glenoidal).

b. Traksi

Traksi adalah gerakan translasi tulang yang arah geraknya tegak lurus
dan menjauhi bidang terapi sehimgga terjadi peregangan sendi, biasanya
dapat mengurangi nyeri pada sendi.

c. Kompresi

Kompresi adalah gerakan translasi tulang yang arahnyategak lurus


tetapi kedua pernukaan sendi saling mendekati, biasanya akan
menimbulkan nyeri (mudatsir, 2007).

Berdasarkan susunan intra articular adhesion, penebalan sinovial akan


berlanjut ke keterbatasan articular cartilago. Berkurangnya cairan sinovial pada
sendi sehingga terjadi perubahan kekentalan cairan tersebut yang menyebabkan
penyusutan pada kapsul sendi, sehingga sifat ekstensibilitas pada kapsul sendi
berkurang dan akhirnya terjadi perlekatan. Tendinitis bicipitalis,
calcificperitendinitis, inflamasi rotator cuff, frkatur atau kelainan ekstra articular
seperti angina pectoris, cervical sponylosis, diabetes mellitus yang tidak
mendapatkan penanganan secara tepat maka kelama-lamaan akan menimbulkan
perlekatan atau dapat menyebabkan adhesive capsulitis. Adhesive capsulitis dapat
menyebabkan patologi jaringan yang menyebabkan nyeri dan menimbulkan
spasme, degenerasi juga dapat menyebabkan nyeri dan dapat menimbulkan
spasme.

2. Etiologi

Etiologi dari frozen shoulder masih belum diketahui dengan pasti. Adapun
faktor predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama, akibat trauma,
over use, cidera atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme, penyakit
kardiovaskuler, clinical depression dan Parkinson (AAOS, 2000). Menurut
American Academy Of Orthopedic Surgeon (2000), teori yang mendasari
terjadinya frozen shoulder adalah sebagai berikut :

a. Teori hormonal
Pada umumnya frozen shoulder terjadi 60 % pada wanita bersamaan
dengan datangnya menopause.

b. Teori genetik
Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari frozen shoulder,
contohnya ada beberapa kasus dimana kembar indentik pasti menderita
pada saat yang sama.

c. Teori auto immun


Diduga penyakit ini merupakan respon auto immun terhadap hasil-
hasil rusaknya jaringan lokal.

d. Teori postur
Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan postur tegap
menyebabkan pemendekkan pada salah satu ligamen bahu.

Walaupun banyak peneliti sependapat bahwa immobilisasi merupakan


faktor penting dari penyebab frozen shoulder sendi glenohumeral. Ada beberapa
kondisi predisposisi yang lain, pertama usia pasien. Adhesive capsulitis tidak
terjadi pada usia muda, tetapi sering pada usia pertengahan. Kedua, refleks
spasme otot penting dalam perubahan fibrotic primer.

2.1 Patofisiologi

Patologinya dikarakteristikan dengan adanya kekakuan kapsul sendi oleh


jaringan fibrous yang padat dan selular. Berdasarkan susunan intra articular
adhesion, penebalan sinovial akan berlanjut ke keterbatasan articular cartilago.
Berkurangnya cairan sinovial pada sendi sehingga terjadi perubahan kekentalan
cairan tersebut yang menyebabkan penyusutan pada kapsul sendi, sehingga sifat
ekstensibilitas pada kapsul sendi berkurang dan akhirnya terjadi perlekatan.
Tendinitis bicipitalis, calcificperitendinitis, inflamasi rotator cuff, frkatur atau
kelainan ekstra articular seperti angina pectoris, cervical sponylosis, diabetes
mellitus yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat maka kelama-lamaan
akan menimbulkan perlekatan atau dapat menyebabkan adhesive capsulitis.
Adhesive capsulitis dapat menyebabkan patologi jaringan yang menyebabkan
nyeri dan menimbulkan spasme, degenerasi juga dapat menyebabkan nyeri dan
dapat menimbulkan spasme.

Selama peradangan berkurang jaringan berkontraksi kapsul menempel


pada kaput humeri dan guset sinovial intra artikuler dapat hilang dengan
perlengketan. Frozen merupakan kelanjutan lesi rotator cuff, karena degenerasi
yang progresif. Jika berkangsung lama otot rotator akan tertarik serta
memperlengketan serta memperlihatkan tnada-tanda penipisan dan fibrotisasi.
Keadaan lebih lanjut, proses degenerasi diikuti erosi tuberculum humeri yang
akan menekan tendon bicep dan bursa subacromialis sehingga terjadi penebalan
dinding bursa.

Frozen shoulder dapat pula terjadi karena ada penimbunan kristal kalsium
fosfat dan karbonat pada rotator cuff. Garam ini tertimbun dalam tendon, ligamen,
kapsul serta dinding pembuluh darah. Penimbunan pertama kali ditemukan pada
tendon lalu kepermukaan dan menyebar keruang bawah bursa subdeltoid sehingga
terjadi rardang bursa, terjadi berulang-ulang karena tekiri terus-menerus
menyebabkan penebalan dinding bursa, pengentalan cairan bursa, perlengketan
dinding dasar dengan bursa sehingga timbul pericapsulitis adhesive akhirnya
terjadi frozen shoulder.

Faktor immobilisasi juga merupakan salah satu faktor terpenting yang juga
dapat menyebabkan perlekatan intra, ekstra selular pada kapsul dan ligamen,
kemudian kelenturan jaringan menjadi menurun dan menimbulkan kekakuan.
Semua organ yang disekeliling jaringan lunak, terutama tendon supraspinatus
terlibat dalam perubahan patologi. Fibrotic ligamen coracohumeral cenderung
normal dari tendon bicep caput longum juga rusak (robek). Keterlibatan tendon
bicep berpengaruh secara signifikan dalam penyebaran nyeri ke anterior sendi
glenohumeral yang berhubungan dengan adhesive capsulitis.

Menurut Kisner (1996) frozen shoulder dibagi dalam 3 tahap, yaitu :

a. Pain (Freezing) : ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat


istirahat, gerakan sendi bahu menjadi terbatas selama 2-3 minggu dan
masa akut ini berakhir sampai 10-36 minggu.

b. Stiffness (Frozen) : ditandai dengan nyeri saat bergerak, kekakuan atau


perlengketan yang nyata dan keterbatasan gerak dari glenohumeral yang
diikuti oleh keterbatasan gerak scapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.

c. Recovery (Thawing) : pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri
dan tidak ada synovitis tetapi terdapat keterbatasan gerak karena
perlengketan yang nyata. Fase ini berakhir 6-24 bulan atau lebih.

Frozen shoulder merupakan gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan


nyeri dan keterbatasan luas gerak sendi (LGS) pada sendi glenohumeral. Adanya
rasa nyeri dapat mengganggu penderita dalam melakukan aktifitas. Biasanya nyeri
ini akan timbul saat melakukan aktifitas, seperti : mengangkat tangan ke atas
waktu menyisir rambut, menggosok punggung sewaktu mandi, menulis dipapan
tulis, mengambil sesuatu dari saku belakang celana, mengambil atau menaruh
sesuatu di atas dan kesulitan saat memakai atau melepas baju. Hal ini akan
menyebabkan pasien enggan menggerakkan sendi bahunya yang akhirnya dapat
memperberat kondisi yang ada sehingga dapat menimbulkan gangguan dalam
gerak dan aktifitas fungsional keseharian (Wiratno, 1988).

Sedangkan sifat keterbatasan frozen shoulder ditandai dengan : (1)


mengikuti pola kapsular (capsular pattern), yang ditandai dengan gerak eksorotasi
lebih nyeri dan terbatas dari gerakan abduksi serta lebih terbatas lagi dari
endorotasi. (eksorotasi > abduksi > endorotasi), (2) bukan pola kapsuler (non
capsular pattern), yaitu keterbatasan gerak dan nyeri terjadi pada arah gerak
tertentu, tergantung dari topis lesi, misalnya keterbatasan ke arah endorotasi atau
abduksi saja (Heru Purbo Kuntono, 2007).

3. Tipe-tipe Frozen Shoulder

Ketika kapsul sendi menjadi meradang, jaringan parut terjadi dan adhesi
terbentuk. Pembentukan bekas luka ini sangat mengganggu ruang yang diperlukan
untuk gerakan di dalam sendi. Nyeri dan gerakan yang sangat terbatas sering
terjadi sebagai akibat dari pengetatan jaringan kapsul.

Ada dua jenis bahu Frozen Shoulder : Primary adhesive capsulitis dan
Secondary (or acquired) adhesive capsulitis.

a. Primary adhesive capsulitis

Penyebab spesifik dari kondisi ini belum diketahui. Kemungkinan


penyebab termasuk perubahan dalam sistem kekebalan tubuh, atau
ketidakseimbangan biokimia dan hormon. Penyakit seperti diabetes
mellitus, dan beberapa gangguan kardiovaskular dan neurologis juga dapat
menjadi faktor penyebab. Faktanya, pasien dengan diabetes memiliki
risiko tiga kali lebih tinggi terkena capsulitis adhesif daripada populasi
umum. Primary adhesive capsulitis dapat mempengaruhi kedua bahu
(meskipun ini mungkin tidak terjadi pada saat yang sama) dan mungkin
resisten terhadap sebagian besar bentuk perawatan.

b. Secondary (or acquired) adhesive capsulitis

Berkembang dari penyebab yang diketahui, seperti kekakuan setelah


cedera bahu, pembedahan, atau periode imobilisasi yang berkepanjangan.
B. Gambaran Klinis
1. Secara umum
a. Nyeri

Pasien berumur 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, seringkali


ringan, diikuti sakit pada bahu dan lengan nyeri secara berangsur-angsur
bertambah berat dan pasien sering tidak dapat tidur pada sisi yang terkena. Setelah
beberapa lama nyeri berkurang, tetapi sementara itu kekakuan semakin terjadi,
berlanjut terus selama 6-12 bulan setelah nyeri menghilang. Secara berangsur-
angsur pasien dapat bergerak kembali, tetapi tidak lagi normal.

Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari
sering dijumpai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
kesulitan penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga
penderitaakan melakukan gerakan kompensasi dengan mengangkat bahu pada
saaqtgerakan mengangkat lengan yang sakit, yaitu saat flexi dan abduksi sendi
bahudiatas 90º atau di sebut dengan shrugging mechanism. Juga dapayt di jumpai
adanya atrofi otot gelang bahu.

b. Keterbatasan Lingkup Gerak Sendi

Capsulitis adhesive ditandai dengan adanya keterbatasan luas gerak


sendiglenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Ini adalah suatu
gambaran klinis yang dapat menyertai tendinitis, infark myokard, diabetes
melitus, fraktur immobilisasi berkepanjangan atau redikulitis cervicalis. Keadaan
ini biasanya unilateral, terjadi pada usia antara 45-60 tahun dan lebih sering
padawanita. Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam
harisering sampai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
adanyakesukaran penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga
penderitaakan melakukan dengan mengangkat bahunya (srugging).
c. Penurunan Kekuatan otot dan Atropi otot

Pada pemeriksaan fisik didsapat adanya kesukaran penderita dalam


mengangkat lengannya (abduksi) karena penurunan kekuatan otot. Nyeridirasakan
pada daerah otot deltoideus, bila terjadi pada malam hari seringmenggangu tidur.
Pada pemeriksaan didapatkan adanya kesukaran penderita dalam mengangkat
lengannya (abduksi), sehingga penderita akan melakukan dengan mengangkat
bahunya (srugging). Juga dapat dijumpai adanya atropi bahu (dalam berbagai
tingkatan). Sedangkan pemeriksaan neurologik biasanya dalam batas normal.

d. Gangguan aktifitas fungsional

Dengan adanya beberapa tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada
penderita frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva seperti adanya
nyeri,keterbatasan LGS, penurunan kekuatan otot dan atropi maka secara
langsung akan mempengaruhi (mengganggu) aktifitas fungsional yang
dijalaninya.

2. Dilihat dari sudut pandang Okupasi Terapi

Akibat atau dampak yang terjadi pada penderita adalah gangguan pada
aktivitas sehari-hari, produktifitas, dan leisure. Penderita biasanya cenderung
takut untuk menggerakkan lengannya dan cenderung mempertahankan lengannya
dalam posisi mendekati badan (adduksi). Bila hal itu terjadi dan berlangsung terus
akan mengakibatkan perlengketan dan pengerutan kapsul sendi dan bertambah
nyeri. Adanya rasa nyeri dapat mengganggu dalam melakukan aktivitas. Biasanya
nyeri ini akan timbul saat melakukan aktivitas, seperti mengangkat tangan ke atas
waktu menyisir rambut, menggosok punggung sewaktu mandi, menulis di papan
tulis, mengambil sesuatu dari saku belakang celana, mengambil atau menaruh
sesuatu diatas kepala dan kesulitan saat memakai atau melepas baju. Oleh karena
itu sendi bahu harus dilatih baik dengan aktif maupun pasif (Suharto, 2008).
Okupasi terapi sebagai bagian dari profesi keterapian fisik mempunyai peranan
penting dalam membantu dan melatih penderita Frozen Shoulder yang mengalami
keterbatasan lingkup gerak sendi bahu, nyeri dan penurunan dalam aktifitas
perawatan diri, produktifitas, dan leisure, salah satunya dengan senam bahu.
Latihan senam bahu secara aktif merupakan indikasi adanya aktivitas otot otot
scapula glenohumeral tanpa gerakan pada tubuh. Latihan aktif secara terukur,
akurat dan rutin dengan toleransi rasa nyeri yang harus diperhatikan. Tujuan
pokok senam bahu adalah : (1) mengurangi sakit dan spasme otot, (2) memelihara
fungsi sendi bahu atau mencegah terjadinya gangguan fungsi sendi bahu secara
fungsional, (3) menghilangkan gangguan fungsional yang telah terjadi, atau
meningkatkan kemampuan fungsional sendi bahu semaksimal mungkin
(Cailliet,1996)
C. Prognosis

Apabila dilakukan tindakan sendiri mungkin secara tepat maka prognosis


gerak dan fungsi dari kasus frozen shoulder adalah baik. Penderita sebaiknya
diberitahu bahwa akan dapat menggerakkan bahu kembali tanpa rasa nyeri tetapi
memerlukan waktu beberapa bulan (Setiawan,1991).

Frozen shoulder mempunyai prognosis yang baik bila terapi yang


diberikan tepat dan adekuat. Latihan sedini mungkin mempengaruhi
kesembuhan karena immobilisasi yang terlalu lama menimbulkan jaringan
fibrous yang akan membatasi gerak (Sujudi, 2001).

1. Prognosis Medis
Dubia ad sanam : tidak tentu/ragu-ragu, cenderung sembuh/baik

2. Prognosis Fungsional
Pasien diharapkan mampu mandiri dalam aktivitas sehari-hari
tanpa alat bantu dan menjadi well-being.
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama Pasien : Ny. F
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 59 tahun
Pekerjan : Ibu rumah tangga
Alamat : Bantul, Jogjakarta
Diagnosis Medis : Frozen Shoulder Dekstra
Diagnosis Kausatif : Kolesterol tinggi dan sering mengangkat beban
berat

II. Data Subjektif


A. Data hasil observasi
Berdasarkan observasi tanggal 18 Juni 2019, saat pertama bertemu
pasien terlihat berpakaian rapi dan bersih yang menandakan bahwa
pasien mampu melakukan self care dengan baik. Pasien komunikatif
dan kooperatif karena tidak ada gangguan dalam kognitif. Postur tubuh
dan cara berjalan pasien tidak ada masalah.

B. Data screening
Berdasarkan interview pada tanggal 18 Juni 2019 diperoleh
informasi bahwa pasien memiliki riwayat kolesterol tinggi. Pasien
memiliki tekanan darah dan gula darah yang normal. Pasien kesulitan
mengangkat tangan ke atas dan ke belakang secara maksimal. Dalam
kehidupan sehari-hari pasein sering mengangkat beban yang berat.
C. Initial Assesment
Berdasarkan interview dan assesment pada tanggal 18 Juni 2019,
pasien mengeluhkan nyeri dalam memakai baju dan bra karena
merasakan nyeri pada bagian shoulder.
1. Screening test
Pasien diperintahkan untuk menggerakan
fleksi,ekstensi,abduksi horizontal,internal/eksternal rotasi pada
shoulder hasilnya pasien tidak mampu menggerakkan secara full
ROM.

2. Screening task
Pasien diperitahkan
a.) untuk memindahkan bola dari depan kebelakang serta
memasukan bola ke keranjang yang berada di atas kepala, Hasilnya
pasien mampu melakukan tetapi tidak maksimal
b.) memindahkan botol yang berisi air 600ml dari belakang
kedepan atau sebaliknya,Hasilnya pasien mampu melakukan, tetapi
merasakan nyeri
c.) mengambil penjepit yang dijepit dipunggung dari atas atau
bawah. Hasilnya pasien tidak mampu melakukan.

Sehingga dari ketiga aktfitas diatas dapat disimpulkan


bahwa flexi, ekstensi , abduksi , rotasi internal dan eksternal belum
full ROM, kekuatan otot rata rata nilai 4 karena pasien mampu
melakukan tetapi belum full ROM

III. Kerangka Acuan

Kerangka acuan yang digunakan adalah kerangka acuan Biomekanik.


IV. Data Objektif

a. Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan Screening Dewasa pada


tanggal 18 Juni 2019, pasien berinisial Ny. F berjenis kelamin perempuan
dengan diagnosis frozen shoulder. Pada tonus otot terjadi spasme pada otot
bicep, LGS terganggu,taktil (protophatic) ada nyeri pada tekanan dalam,
tidak terdapat gangguan hiposensitif dan hipersensitif,tidak ada
edema,kontraktur dan inflamasi pada shoulder,pasien mandiri dalam ADL
tetapi untuk berpakaian dan mandi membutuhkan modifikasi
gerakan,pasien memiliki daftar masalah berupa keterbatasan LGS,
kekuatan otot dan endurance pada regio shoulder.

b. Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan VAS pada tanggal 18 Juni


2019, pasien menunjukkan ekspresi gambar nomor 7 (very intens) yang
artinya kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dan kurang
mandiri

c. Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan Somatosensory pada tanggal


18 Juni 2019, pasien tidak mengalami gangguan pada sensori dan neuro
muscular.

d. Berdasarkan pemeriksaan menggunakan FIM pada tanggal 21 Juni 2019,


pasien mendapatkan skor 123 dari 17 item yang artinya mandiri.pada item
mandi,merias diri,berpakaian untuk tubuh bagian atas mendapatkan nilai 6
( mandiri dengan modifikasi)
e. Berdasarkan pemeriksaan pada tanggal 21 juni 2019 blanko LGS dan
kekuatan otot pada regio shoulder dan scapula
REGIO NORMAL HASIL
PENGUKURAN
Fleksi shoulder 180⸰ 100⸰
Ekstensi shoulder 60⸰ 20⸰
Abduksi shoulder 180⸰ 50⸰
Abd horizontal 135⸰ 95⸰
shoulder
Add horizontal 45⸰ 25⸰
shoulder
Rotasi internal 70⸰ 30⸰
shoulder
Rotasi eksternal 90⸰ 40⸰
shoulder
Elevasi scapula 10 -12 cm 7 cm
Depresi scapula 7 cm
Abduksi scapula 15 cm 10 cm
Adduksi scapula 15 cm 10 cm

Tabel hasil kekuatan otot pada regio scapula dan shoulder

GERAKAN REGIO NAMA OTOT HASIL


SCAPULA PENGUKURAN
Abduction lateral Serratus anteror 4
rotation
Elevation Upper trapezius 4
Adduction Middle trapezius 4
Adduction medial Rhomboids 4
rotation
Depression Lower trapezius 4

GERAKAN REGIO NAMA OTOT HASIL


SHOULDER PENGUKURAN
Flexion Anterior deltoid 4
Flexi – adduction Coracobrachialis 4
Extention Latissimus dorsi teres 4
major
Abduction Middle deltoid 4
suprasprinatus
Adduction Pectoralis major 4
terres major
latissimus dorsi
Horizontal adduction Pectoralis major 4
Horizontal abduction Posterior deltoid 4
Internal rotation Subcapularis 4
External rotation Infraspinatus teres 4
minor

V. Identifikasi Problem/ Kesimpulan dari data subjektif dan data objektif

Berdasarkan interview dan hasil pemeriksaan pada tanggal 28 Juni 2019


pasien berinisial Ny. F berjenis kelaimin perempuan denga diagnosis Frozen
Shoulder Dekstra pasien terlihat berpakaian rapi dan bersih yang menandakan
bahwa pasien mampu melakukan self care dengan baik. Pasien komunikatif dan
kooperatif karena tidak ada gangguan dalam kognitif. Postur tubuh dan cara
berjalan pasien tidak ada masalah. Pada hasil pemeriksaan menggunakan blanko
FIM mendapatkan skor 123 dengan kategori mandiri. Sedangkan dengan
pemeriksaan menggunakan Visual Analog Scale pasien menunjukan gambar
ekspresi nomor 7. Pada pemeriksaan menggunakan blanko LGS dan kekuatan otot
pada regio shoulder untuk fleksi sebesar 100⸰ , ekstensi sebesar 20⸰ , abduksi
sebesar 50⸰ , abduksi horizontal sebesar 95⸰ , adduksi shoulder sebesar 25⸰ , rotasi
internal shoulder 30⸰ , rotasi eksternal sebesar 40⸰ , pada regio scapula untuk
elevasi sebesar 7 cm, depresi scapula sebesar 7 cm, abduksi scapula sebesar 10
cm, dan adduksi scapula 10 cm.

a. Aset

Aset yang dimiliki pasien yaitu komunikatif dan kooperatif,


kekuatan otot bernilai 4,tidak ada masalah pada sensory dan neuro
muscular,postur tubuh dan pola berjalan bagus.

b. Limitasi

Limitasi yang dimiliki yaitu pasien kesulitan mandi


terutama menggosok punggung,merias diri berupa menyisir rambut
dan berpakaian bagaian tubuh atas, pasien tidak rajin dalam proses
terapi tidak mau latihan dirumah dan tidak tahan rasa nyeri,pasien
memiliki kolesterol yang tinggi.

VI. Diagnosis Okupasi Terapi

Pasien kesulitan dan merasa nyeri dalam aktivity daily living yaitu
memakai kaos dan BH karena keterbatasan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot
pada regio shoulder dan scapula
VII. Clinical Reasoning

a. Berdasarkan interview dari data subjektif kami menggunakan narrative


reasoning karena untuk memahami kondisi yang berpusat pada cerita
pasien selain itu tujuan jangka panjang kita tentukan berdasarkan
keinginan pasien yaitu mandiri dalam berpakaian tanpa rasa nyeri.
b. Untuk menentukan data objektif dan diagnosis OT kita memakai
procedural reasoning karena mengacu pada evaluasi dan intervensi yang
sesuai kondisi pasien, dan kita menentukannya berdasarkan rutinitas
sehari-hari yang mengalami kesulitan.
c. Untuk menentukan program terapi,kita menggunakan prosedural dan
conditional reasoning karena kita menggabungkan rutinitas sehari-hari
yang kesulitan kemudian memprediksi dan memutuskan intervensi yang
berfokus pada tujuan jangka panjang.
d. Kerangka acuan yang kita terapkan berdasarkan scientific reasoning yaitu
kerangka acuan biomekanik yang bertujuan meningkatkan KO, ROM, Dan
endurance sehingga dengan meningkatnya hal tersebut maka rasa nyeri
juga akan berkurang secara otomatis ADL pasien juga tidak lagi
terganggu.
e. Dalam menentukan home program kita menggunakan ethical reasoning
yaitu aktifitas latihan menggunakan handuk yang di pegang di belakang
punggung dengan gerakan naik turun (fleksi, abduksi, ekstensi, internal &
eksternal rotasi shouder). Home program ini kita berikan karena murah
biaya dan mudah untuk di aplikasikan

VIII. Menyusun Program Terapi

a. Tujuan
1. Tujuan jangka panjang 1
Pasien mampu memakai kaos secara maksimal tanpa rasa nyeri selama
8 kali sesi terapi
a. Tujuan jangka pendek 1.1
Pasien mampu memindahkan jepitan jemuran dengan gerakan
fleksi shoulder sebesar 130⸰ dalam 3 kali sesi terapi
b. Tujuan jangka pendek 1.2
Pasien mampu mengangkat botol berisi air dengan gerakan
abduksi shoulder sebesar 60⸰ dalam 3 kali sesi terapi
c. Tujuan jangka pendek 1.3
Pasien mampu memakai baju tanpa merasa nyeri

2. Tujuan jangka panjang 2


Pasien mampu memakai BH secara maksimal tanpa rasa nyeri selama
8 kali sesi terapi
a. Tujuan jangka pendek 2.1
Pasiem mampu memindahkan botol berisi air dengan gerakan
ekstensi shoulder sebesar 50⸰ dalam 3 kali sesi terapi
b. Tujuan jangka pendek 2.2
Pasiem mampu mengambil jepitan jemuran dengan gerakan
ekstensi shoulder sebesar 60⸰ disertai fleksi elbow dalam 3 kali
sesi terapi
c. Tujuan jangka pendek 2.3
Pasien mampu memakai BH tanpa merasa nyeri

b. Strategi pelaksanaan terapi


i. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 1.1
1. Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit
2. Enabling
Memberikan pasien aktifitas memindahkan jepitan jemuran
dari setinggi bahu sampai atas kepala,mengangkat botol berisis
air dari bawah keatas durasi 10 menit
3. Purposefull
Simulasi memakai baju
4. Occupation
Pasien diminta untuk memakai kaos dirumah sesuai yang
disimulasikan
5. Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.

ii. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 1.2


1 Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit

2 Enabling
Memberikan pasien aktifitas mengangkat botol berisi air
dengan gerakan abduksi shoulder, memindahkan bola dari
dengan gerakan abduksi soulder dengan durasi 10 menit
3 Purposefull
Simulasi memakai baju
4 Occupation
Pasien diminta untuk memakai kaos dirumah sesuai yang
disimulasikan
1. Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.

iii. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 1.3


1 Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit
2 Enabling
Memberikan pasien aktifitas memindahkan jepitan jemuran
dari setinggi bahu sampai atas kepala,mengangkat botol berisis
air dari bawah keatas dan aktifitas mengangkat botol berisi air
dengan gerakan abduksi shoulder, memindahkan bola dari
dengan gerakan abduksi soulder durasi 10 menit
3 Purposefull
Simulas memakai baju

4 Occupation
Pasien diminta untuk memakai kaos dirumah sesuai yang
disimulasikan
5 Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.

i. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 2.1


1 Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit
2 Enabling
Memberikan pasien aktifitas memindahkan botol berisi air dan
bola dari depan kebelakag menggunakan tangan, durasi 10
menit
3 Purposefull
Simulasi menyentuhkan tali BH yang berada dipunggung
4 Occupation
Pasien diminta untuk memakai BH dirumah sesuai yang
disimulasikan
5 Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.
ii. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 2.2
1. Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit
2. Enabling
Memberikan pasien aktifitas mengambil jepitan jemuran yang
dijepit di punggung dengan durasi 10 menit
3. Purposefull
Simulasi mengancingkan tali BH yang berada di punggung
4. Occupation
Pasien diminta untuk memakai BH dirumah sesuai yang
disimulasikan
5. Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.

iii. Untuk mencapai tujuan jangka pendek 2.3


1. Adjunctive
Mempersiapkan anggota gerak dan melakukan aktif dan pasif
movement ekstremits atas pada shoulder dengan durasi 15
menit

2. Enabling
Memberikan pasien aktifitas memindahkan botol berisi air dan
bola dari depan kebelakag menggunakan tangan dan
memberikan pasien aktifitas mengambil jepitan jemuran yang
dijepit di punggung dengan durasi 10 menit
3. Purposefull
Simulasi mengancingkan tali BH yang berada di punggung
4. Occupation
Pasien diminta untuk memakai BH dirumah sesuai yang
disimulasikan
5. Jelaskan bagaimana kerangka acuan yang anda pilih
diterapakan dalam terapi ini
Kami menggunakan kerangka acuan biomekanik karena pasien
tidak ada masalah pada CNS. Pasien hanya mengalami masalah
pada musculosceletal, dan untuk menambah lingkup gerak
sendi ,kekuatan otot,endurance yang sesuai permasalahan
pasien.

IX. Re – evaluasi

a. Data subjektif hasil re-evaluasi


b. Data objektif hasil re-evaluasi
c. Kesimpulan dari hasil re-evaluasi

X. Clinical reasoning dengan proses OT

a. Berdasarkan interview dari data subjektif kami menggunakan narrative


reasoning karena untuk memahami kondisi yang berpusat pada cerita
pasien selain itu tujuan jangka panjang kita tentukan berdasarkan
keinginan pasien yaitu mandiri dalam berpakaian tanpa rasa nyeri. Rogers
(dalam Corey 2006: 7) mengemukakan bahwa: Dalam konteks terapi,
Rogers menemukan dan mengembangkan teknik terapi yang dikenal
sebagai Client-centered Therapy, yakni teknik terapi yang berpusat pada
klien. Dibandingkan teknik terapi yang ada masa itu, teknik ini adalah
pembaharuan karena mengasumsikan posisi yang sejajar antara terapis dan
pasien atau klien. Hubungan terapis-klien diwarnai kehangatan, saling
percaya, dan klien diberikan diperlakukan sebagai orang dewasa yang
dapat mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas
keputusannya. Tugas terapis adalah membantu klien mengenali
masalahnya dirinya sendiri sehingga akhrinya dapat menemukan solusi
bagi dirinya sendiri.
b. Untuk menentukan data objektif dan diagnosis OT kita memakai
procedural reasoning karena mengacu pada evaluasi dan intervensi yang
sesuai kondisi pasien, dan kita menentukannya berdasarkan rutinitas
sehari-hari yang mengalami kesulitan. Menurut Chapparo 1996,
Occupational Performance adalah Kemampuan untuk memahami,
menginginkan, mengingat, merencanakan dan menjalankan peran,
rutinitas, tugas, dan sub tugas untuk memenuhi tujuan self-care,
produktivitas, leisure, dan istirahat sebagai tanggapan terhadap tuntutan
lingkungan internal dan / atau eksternal .
c. Untuk menentukan program terapi,kita menggunakan prosedural dan
conditional reasoning karena kita menggabungkan rutinitas sehari-hari
yang kesulitan kemudian memprediksi dan memutuskan tahapan
intervensi yang berfokus pada tujuan jangka panjang. Menurut Marsha
1983, keterampilan berpakaian dan membuka pakaian adalah bagian dari
kehidupan sehari-hari bagi kita semua. Bahkan, kita mungkin menganggap
remeh kemandirian kita di bidang umum ini, Jika caregivers / terapis
memiliki pemahaman tentang berbagai teknik, mereka dapat memberikan
pembelajaran, dan sedikit demi sedikit dapat menghapus bantuan untuk
memakai pakaian. Hal itu menawarkan pembelajaran strategi dan teknik
berpakaian serta saran adaptive equipment dan devices(peralatan dan
perangkat adaptif)
d. Kerangka acuan yang kita terapkan berdasarkan scientific reasoning yaitu
kerangka acuan biomekanik yang bertujuan meningkatkan KO, ROM, Dan
endurance sehingga dengan meningkatnya hal tersebut maka rasa nyeri
juga akan berkurang secara otomatis ADL pasien juga tidak lagi
terganggu. Biomekanik membahas tentang kapasitas untuk gerakan secara
khusus karena berkaitan dalam menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas.
Tiga komponen penting pada biomekanik adalah lingkup gerak sendi,
kekuatan otot atau kemampuan otot untuk menghasilkan kontraksi untuk
mempertahankan kontrol postural dan menggerakan bagian-bagian tubuh
lain, dan kemampuan untuk mempertahankan suatu gerakan berdasarkan
waktu yang diperlukan untuk melakukan suatau tugas tertentu
(Comceptual Foundation of Occupational Therapy, 1949).

e. Dalam menentukan home program kita menggunakan ethical reasoning


yaitu aktifitas latihan menggunakan handuk yang di pegang di belakang
punggung dengan gerakan naik turun (fleksi, abduksi, ekstensi, internal &
eksternal rotasi shouder). Home program ini kita berikan karena murah
biaya dan mudah untuk di aplikasikan.
Evaulasi ekonomi penuh didefinisikan sebagai penelitian dimana
membandinkan dua atau lebih alternatif yan relefan dengan memikirkan
biaya dan hasil. Hal ini termasuk analisis efektifitas biaya (analisis biaya
dan konsekuensi ) dimana hasil kesehatan yang baik dapat terwujud.
Analisi biaya dan kegunaan dimana manfaat diukur berdasarkan
keuntungan jangka panjang, analisis biaya manfaat dimana manfat diukur
dalam bentuk yang berhubungan dengan keuangan seperti willingness to
pay (kesediaan untuk membayar) (Health Technology Assesment 2012;
Vol. 16: No. 11) Management of frozen shouder : Asistematic Review and
Cost-Effectivnes Analysis
XI. Follow up

Dalam menentukan home program kita menyarankan untuk aktifitas


latihan menggunakan handuk yang di pegang di belakang punggung dengan
gerakan naik turun (fleksi, abduksi, ekstensi, internal & eksternal rotasi shouder).
Home program ini kita berikan karena murah biaya dan mudah untuk di
aplikasikan.

.
Apley. A. Graham, 1993, Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur System Appley, edisi ke Tujuh,
Widya Medika, Jakarta, hal 1-23.

Mudatsir, 2002, Manual Terapi Regio Bahu; disampaikan dalam Pelatihan ke VII Terapi
Manipulasi Extremitas, Surakarta, hal. 4-9

Cailiet, 1980, The Shoulder in Hemiplegia; Second Printing, F. A. Davis Company,


Philadelphia, hal. 11-18.

Heru P Kuntono, 2004, Aspek Fisioterapi Syndroma Nyeri Bahu; disampaikan dalam
Kupas Tuntas Frozen Shoulder, Surabaya, hal. 3-9.

Hudaya, 2002, Rematologi ; Politeknik Kesehatan Surakarta

Kisner, C. 1996 ; Therapeutic Exercise Foundation and Techniques ; Edisi 3, F.A. Davis
Company, Philadelpia.

Kisner, C., Allen Colby. 2007. Therapeutic Exercise Foundation and Techniques Six
Edition. Philadelphia : FA. Davis Company.

AAOS, 2000; Frozen Shoulder, Diaksestanggal 01/05/2012, dari


http//www.AAOS.frozen shoulder.com

Cluett,J.,2007; Frozen Shoulder; Diaksestanggal 13/05/2012,


Dari http://www.orthopedics.about.com/cs/frozenshoulder/a/frozenshoulder.htm
DepartemenKesehatan. 2005. Kepu
stusanMenteriKesehatanNomor :
1274/Menkes/SK/VIII/2005 tentangRencanaStrategisMentriKesehatan
Kisner, and colby. 2007;
Theraputic Exercise foundation and technique
, Fifth, F.A Davis
company, Philadelphia
Kuntoro, heru.2004;
KupasTuntas Frozen Sholder
,
IFI,cabang Surabaya
danFisioterapiPoltekes Surakarta
Low, J., Reed, A., and Dyson, M., 2000;
Electrotherapy Explained : Principles and Practise
;
Third Edition, Butterworth Heinemann, London, hal. 222
-
224.
Mc .Namara (2007:3) dalambukuMelayu S.P Hasibuan,
ManajemenSumberDayaManusia,
(Ed Revisi 9), Jakarta: PT. BumiAksara.
MenteriKesehatanRepublik Indonesia. 2001.
KeputusanMenteriKesehatanRepublik
Indonesia
nomor 1363/ MENKES/ SK/ XII/ 2001
tentangRegistrasidanIzinPraktikFisioterapis: Jakarta.
Pearce, C.E.
2002 ;
Anatomi Dan FisiologiUntukParamedis
; PT GramediaPustakaUmum,
Jakarta.

Management of frozen shouder : Asistematic Review and Cost-Effectivnes


Analysis

Chapparo C., & Ranka, J. (1996). Occupational performance model (Australia) Draft
Manuscript. (Available from authors, School of Occupational Therapy, The University of
Sydney, PO Box 170, Lidcombe, NSW, Australia 2141)