Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pengertian obat secara umum, Obat adalah semua bahan
tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian
dalam maupun luar guna mencegah, meringankan ataupun menyembuhkan
penyakit.
Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam menetapkan diagnosa,mencegah, mengurangi,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau
untuk memperelok badan atau bagian badan manusia .
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang
biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan yang sesuai, tablet dapat
berbeda ukuran, bentuk, berat, kekersan, dan ketebalalan, daya hancurnya dan
aspek lain yang tergantung dengan pemakaian tablet dan Cara pembuatannya.
Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian secara oral. Kebanyakan tablet
dibuat dengan penambahan zat warna dan zat pemberi rasa. Tablet lain yang
penggunaanya dapat Cara sublingual, bukal, atau melalui vagina.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu tablet
2. Untuk mengetahui penggolongan tablet
3. Untuk mengetahui keuntunngan dan kerugian tablet
4. Untuk mengetahui kriteria tablet
5. Untuk mengetahui cara pembuatan tablet

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan.Tablet
adalah sediaan padat yang mengandung satu dosis dari beberapa bahan aktif
dan biasanya dibuat dengan mengempa sejumlah partikel yang seragam (BP
2002). Tablet yang berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus adalah
tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk tablet umumnya
berbentuk cakram pipih/gepeng, bundar, segitiga, lonjong dan sebagainya.
Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari, mencegah atau
mempersulit pemalsuan dan agar mudah dikenali orang. Warna tablet
umumnya putih. Tablet yang berwarna mungkin karena zat aktifnya memang
berwarna, tetapi ada juga tablet yang sengaja diberi warna agar tampak lebih
menarik, mencegah pemalsuan, dan untuk membedakan tablet yang satu
dengan tablet yang lain.

B. Penggolongan tablet
1. Berdasarkan Metode Pembuatan
Berdasarkan metode pembuatannya, dikenal dua jenis tablet, yaitu
tablet cetak dan tablet kempa.
a. Tablet cetak
Tablet cetak dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi yang
umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai
perbandingan. Massa serbuk dibasahi dengan etanol persentase tinggi.
Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi
dalam system pelarut, serta derajat kekerasan tablet yang diinginkan.
Massa serbuk yang lembap ditekandengan tekanan rendah ke dalam
lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet
cetak agak rapuh sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan
pendistribusian. Kepadatan tablet bergantung pada ikatan Kristal yang

2
terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak bergantung
pada kekuatan tekanan yang diberikan.
b. Tablet kempa
Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada
serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Umumnya tablet kempa
mengandung zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegrant dan
lubrikan, tetapi dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak
(pewarna yang diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak
larut) yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan pemanis.
Jenis-jenis tabletnya sebagai berikut:
1) Tablet triturat
Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk
kecil, umumnya slindris, digunakan untuk memberikan jumlah
terukur yang tepat untuk peracikan obat.
2) Tablet hipodermik
Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan
yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air, harus steril dan
dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi
hipodermik.
3) Tablet sublingual
Tablet sublingual digunakan dengan Cara meletakkan tablet
dibawah lidah sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui
mukosa mulut, diberikan secara oral atau jika diperlukan
ketersediaan obat yang cepat seperti tablet nitrogliserin.
4) Tablet bukal
Tablet bukal digunakan dengan Cara meletakkan tablet
diantara pipi dan gusi, sehingga zat aktif diserap secara langsung
melalui mukosa mulut.
5) Tablet efervesen
Tablet efervesen dibuat dengan Cara dikempa. Selain zat
aktif, tablet mengandung campuran asam (asam sitrat, asam asam
tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan

3
menghasilkan karbon dioksida. Tablet disimpan dalam wadah
tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembap dan pada etiket
tertera informasi bahwa tablet ini tidak untuk ditelan.
6) Tablet kunyah (chewable)
Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah, meninggalkan
residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Diformulasikan
untuk anak-anak, terutama formulasi multivitamin, antasida dan
antibiotic tertentu. Dibuat dengan Cara dikempa, pada umumnya
menggunakan manitol, sorbitol dan sukrosa sebagai bahan pengikat
atau pengisi, serta mengandung bahan pewarna dan bahan
pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.
2. Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh
Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh, tablet dibedakan menjadi
dua kelompok, yaitu:
a. Bekerja lokal: misalnya tablet isap untuk pengobatan pada rongga
mulut; ovula untuk pengobatan pada infeksi di vagina.
b. Bekerja sistemik: Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan
menjadi:
1) Yang bekerja short acting (jangka pendek); dalam satu hari
memerlukan beberapa kali menelan obat
2) Yang bekerja long-acting (jangka panjang); dalam satu hari cukup
menelan satu tablet. Tablet jangka panjang ini dapat dibedakan lagi
menjadi:
c. Delayed action tablet (DAT)
Dalam tablet ini terjadi penundaan zat berkhasiat karena
pembuatannya adalah sebagai berikut. Sebelum dicetak, granul dibagi
dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama tidak diapa-apakan,
kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah
setelah beberapa saat, kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut
yang pecah lebih lama dari kelompok kedua, demikian seterusnya,
tergantung pada macam bahan penyalut dan lama kerja obat yang

4
dikehendaki. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan
baru dicetak.
d. Repeat action tablet (RAT)
Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak
dahulu menjadi tablet inti (core tablet). Kemudian granul-granul yang
kurang lama pecahnya dimampatkan di sekeliling kelompok pertama
sehingga terbentuk tablet baru.
3. Berdasarkan jenis bahan penyalut
Tujuan penyalutan tablet:
a. Melindungi zat aktif yang bersifat higroskopis atau tidak tahan
terhadap pengaruh udara, kelembapan atau cahaya.
b. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak.
c. Membuat penampilan lebih baik dan menarik.
d. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Misalnya tablet
enteric yang pecah di usus.
Macam-macam tablet salut:
a. Tablet salut biasa/ salut gula (dragee), disalut dengan gula dari
suspensi dalam air yang mengandung serbuk yang tidak larut seperti
pati, kalsium karbonat, talk atau titanium dioksida yang disuspensikan
dengan gom akasia atau gelatin. Kelemahan salut gula adalah waktu
penyalutan yang lam adan perlu penyalut tahan air. Hal ini
memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet.
Tahapan pembuatan salut gula:
1) Penyalutan dasar (subcoating):
Jika tablet mengandung zat yang higroskopis, digunakan lebih
dahulu salut penutup (sealing coat) agar air dari sirop salut-dasar
tidak masuk ke dalam tablet.
Beberpa contoh bahan penyalut dasar:
Sirop salut dasar (subcoating syrup)
 Akasia 2,25%
 Gelatin 2,25%
 Sakarosa 57,25%

5
 Aquadest 38,25%
Serbuk salut dasar (subcoating powder)
 Kalsium karbonat 35%
 Kaolin 16%
 Talk 25%
 Sakarosa 20%
 Akasia 4%
Salut penutup (sealing coat)
 Shellac 40%
 Alkohol 60%
2) Melicinkan (smoothing): yaitu proses pembasahan berganti-ganti
dengan sirop pelicin (bolak-balik) dan pengeringan dari salut dasar
tablet menjadi bulat dan licin.
Sirop pelican (smoothing syrup):
 Sakarosa 60%
 Aquadest 40%
3) Pewarnaan (coloring): dilakukan dengan memberi zat warna yang
dicampurkan pada sirp pelican.
4) Penyelesaian (finishing): proses pengeringan salut sirop yang
terakhir dengan Cara perlahan-lahan serta terkontrol. Panic
penyalut diputar perlahan-lahan dengan tangan hingga terbentuk
hasil akhir yang licin.
5) Pengilapan (polishing): merupakan tahap akhir, di sini digunakan
lapisan tipis malam yang licin. Sebagai campuran lilin digunakan
campuran pengilap (polishing mixture) yang telah dilarutkan dalam
petroleum bensin, yang isinya, adalah:
 Bees wax 90%
 Canauba wax 10%
b. Tablet salut selaput (film coated tablet, fct), disalut dengan
hidroksipropilmetilselulosa, metilselulosa, hidroksipropilselulosa, Na-
CMC, dan campuran selulosa asetat ftalat dengan PEG yang tidak
mengandung air atau mengandung air.

6
c. Tablet salut kempa adalah tablet yang disalut secara kempa cetak
dengan massa granulat yang terdiri atas laktosa, kalsium fosfat, dan zat
lain yang cocok. Mula-mula dibuat tablet inti, kemudian dicetak
kembali bersama granulat kelompok lain yang sehingga terbentuk
tablet berlapis (multi layer tablet). Tablet ini sering dipergunakan
untuk pengobatan secara berulang (repeat action).
d. Tablet salut enteric (enteric-coated tablet), atau tablet lepas tunda,
yakni jika obat dapat rusak atau menjadi tidak aktif akibat cairan
lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung, maka diperlukan
penyalut enteric yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai
tablet melewati lambung.
e. Tablet lepas-lambat (sustained-release tablet), atau tablet dengan efek
diperpanjang, yang dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan
tetap tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan.
4. Berdasarkan Cara pemakaian
a. Tablet biasa/tablet telan. Dibuat tanpa penyalut, digunakan per oral
dengan Cara ditelan, pecah di lambung.
b. Tablet kunyah (chewable tablet). Bentuknya seperti tablet biasa, Cara
pakainya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan, umumnya
tidak pahit. Contohnya tablet antasida.
c. Tablet isap (lozenges, trochisi, pastiles), adalah sediaan padat yang
mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar
beraroma dan manis, yang membuat tablet melarut atau hancur
perlahan-lahan dalam mulut. Tablet ini dibuat dengan Cara tuang
(dengan bahan dasar gelatin dan/atau sukrosa yang dilelehkan atau
sorbitol) yang disebut pastiles, atau dengan Cara kempa menggunakan
bahan dasar gula yang disebut trochisi. Diisap di dalam rongga mulut,
digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau
tenggorokan. Umumnya mengandung antibiotic, antiseptic, dan
adstringensia.
d. Tablet larut (effervescent tablet). Contohnya Ca-D-Redoxon, tablet
efervesen Supradin.

7
e. Tablet implant (pelet). Tablet kecil, bulat atau oval putih, steril dan
berisi hormone steroid, dimasukkan ke bawah kulit dengan Cara
merobek kulit sedikit, kemudian tablet dimasukkan, kemudian kulit
dijahit kembali. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan.
f. Tablet hipodermik (hypodermic tablet). Tablet steril, umumnya
berbobot 30 mg, larut dalam air, digunakan dengan Cara melarutkan ke
dalam air untuk injeksi secara aseptic dan disuntikkan di bawah kulit
(subkutan).
g. Tablet bukal (buccal tablet).
h. Tablet sublingual.
i. Tablet vagina (ovula).
C. Kriteria tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan;
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil;
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik;
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan;
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan;
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan;
7. Bebas dari kerusakan fisik;
8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan;
9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu;
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

D. Keuntungan tablet
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai
keuntungan antara lain :
1. Tablet merupakan bentuk sediaan utuh dan menawarkan kemampuan
terbaik dibanding semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta
variabilitas kandungan yang paling rendah.
2. Tablet merupakan sediaan yang biaya pembuatannya paling rendah.
3. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan sehingga mudah
dibawa.

8
4. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah
untuk dikemas dan dikirim.
5. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah,
tidak memerlukan pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan
pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
6. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di
tenggorokan, terutama tablet salut yang memungkinkan pecah/ hancurnya
tablet tidak segera terjadi.
7. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus, seperti
pelepasan di usus atau produk lepas lambat.
8. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk
diproduksi secara besar-besaran.
9. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran
kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.
10. Bau, rasa, dan warna yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan
penyalutan.
11. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif
yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk
sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang
paling rendah.
12. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang
kecil.
13. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil.
14. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
15. Pemakaian oleh penderita lebih mudah.

E. Kerugian tablet
1. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung
pada keadaan amorfnya, flokulasinya, atau rendahnya berat jenis.
2. Obat yang sukar dibasakan, lambat melarut, dosisnya tinggi, absorpsi
optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat
diatas, akan sukar atau tidak mungkin diformulasi dan dipabrikasi dalam
bentuk tablet yang masih menghasilkan bioavailabilitas obat cukup

9
.
3. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan,
atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembaban udara perlu
pengapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin)
atau memerlukan penyalutan dulu. Pada keadaan ini kapsul dapat
merupakan jalan keluar yang terbaik dan lebih murah.
4. Kesulitan menelan pada anak-anak, orang sakit parah, dan pasien lanjut
usia.

F. Komponen tablet
Komponen tablet atau formulasi tablet kempa terdiri atas zat aktif, bahan
pengisi, bahan pengikat, desintegran dan lubrikan, dapat juga mengandung
bahan pewarna dan lak (bahan pewarna yang diabsorpsikan pada alumunium
hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan
pemanis.
1. Zat aktif : harus memenuhi syarat yang ditentukan farmakope.
2. Eksipien atau bahan tambahan
a. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa
agar mudah dicetak atau dibuat. Bahan pengisi ditambahkan jika zat
aktifnya sedikit atau sulit dikempa. Misalnya laktosa, pati, kalsium
fosfat dibase, dan selulosa mikrokristal.
b. Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada
massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada
bahan pengisi, misalnya gom akasia, gelatin, sukrosa, povidon,
metilselulosa, CMC, pasta pati terhidrolisis, selulosa mikrokristal.
c. Bahan penghancur/pengembang (disintegrant) berfungsi membantu
hancurnya tablet setelah ditelan. Misalnya pati, pati dan selulosa yang
dimodifikasi secara kimia, asam alginate, selulosa mikrokristal, dan
povidon sambung-silang.
d. Bahan pelican (lubrikan/lubricant) berfungsi mengurangi gesekan
selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah
massa tablet melekat pada cetakan. Misalnya senyawa asam stearat
dengan logam, asam stearat, minyak nabati terhidrogenasi, dan talk.

10
Umumnya lubrikan bersifat hidrofob, sehingga dapat menurunkan
kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet. Oleh karena itu, kadar
lubrikan yang berlebih harus dihindari. PEG dan garam laurel sulfat
dapat digunakan, tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang
optimal dan diperlukan dalam kadar yang lebih tinggi.
e. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalir
serbuk, umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses
granulasi. Misalnya silica pirogenik koloidal.
f. Bahan penyalut (coating agent): (lihat pada jenis bahan penyalut)
3. Ajuvan. Ajuvan adalah bahan tambahan yang tidak mempengaruhi kerja
dari suatu obat.
a. Bahan pewarna (colouring agent) dan lak berfungsi meningkatkan
nilai estetika atau untuk identitas produk. Misalnya zat pewarna dari
tumbuhan.
b. Bahan pengaroma (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat
khasiat yang tidak enak (misalnya tablet isap penisilin), biasanya
digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Misalnya
macam-macam minyak atsiri.
G. Cara Pembuatan Tablet
Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk yang tidak
dapat langsung dicampur dan dicetak menjadi tablet karena akan langsung
hancur dan tablet menjadi mudah pecah. Campuran serbuk itu harus diubah
menjadi granul-granul, yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar
yang saling melekat satu sama lain. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini
disebut granulasi.
Tujuan granulasi adalah sebagai berikut:
1. Supaya sifat alirnya baik (free-flowing). Granul dengan volume tertentu
dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak
tablet.
2. Ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan
dengan bentuk serbuk jika diukurdalam volume yang sama. Makin banyak
udaranya, tablet makin mudah pecah.

11
3. Agar pada saat dicetak tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan
mudah lepas dari matriks (die).
Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung
butiran-butiran serbuk halus (fines) antara 10%-20% yang bermanfaat untuk
memperbaiki sifat alirnya (free-flowing).
Cara pembuatan tablet dibagi menjadi tiga cara yaitu granulasi basah,
granulasi kering (mesin rol atau mesin slug), dan kempa langsung.
1. Granulasi basah
Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap
lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung
karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Metode ini
memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang
lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat
sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.
Tahapannya adalah sebagai berikut:
a. Pengeringan bahan obat dan zat tambahan
b. Pencampuran serbuk gilingan
c. Persiapan larutan pengikat
d. Pencampuran larutan pengikat dan campuran serbuk hingga
membentuk massa yang basah.
e. Pengayak kasar dari massa yang basah menggunakan ayakan no 6-12.
f. Pengeringan granul basah dalam lemari pengering pada suhu 400-500 C
(tidak lebih dari 600 C)
g. Pengayakan granul kering dengan pelicin dan penghancur.
h. Pencampuran bahan ayakan.
i. Tablet dikempa.

Keuntungan granulasi basah:


a. Memeperoleh aliran yang baik
b. Meningkatkan kompresibilitas
c. Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
d. Mengontrol pelepasan
e. Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses

12
f. Distribusi keseragaman kandungan
g. Meningkatkan kecepatan disolusi
Kerugian granulasi basah:
a. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
b. Biaya cukup tinggi
c. Zat aktif yang sensitive terhadap lembab dan panas tidak dapat
dikerjakan dengan Cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan
pelarut non air
2. Granulasi kering
Granulasi kering/slugging/precompression, dilakukan dengan
mencampurkan zat khasiat, zat pengisi, dan zat penghancur, serta jika
perlu ditambahkan zat pengikat dan zat pelicin hingga menjadi massa
serbuk yang homogen, lalu dikempa cetak pad tekanan tinggi, sehingga
menjadi tablet besar (slug) yang tidak berbentuk baik, kemudian digiling
dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang
diinginkan. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang
diinginkan.
Keuntungan granulasi kering :

a. Peralatan lebih sedikit karena tidak mengguanakan larutan pengikat,


mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu lama.
b. Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab.
c. Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh tidak terikat oleh
pengikat.

Kerugian granulasi kering:

a. Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug.


b. Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam.
c. Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya
kontaminasi silang.
3. Kempa langsung
Metode dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien
kering, tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini
merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya.

13
Tetapi hanya dapat digunakan pada kondisi dimana zat aktif maupun untuk
eksipiennya memiliki aliran yang bagus, zat aktif yang kecil dosisnya,
serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab.
Cetak atau kempa langsung dilakukan jika:
a. Jumlah zat berkhasiat per tabletnya cukup untuk dicetak.
b. Zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing).
c. Zat khasiat berbentuk kristal yang bersifat free-flowing.
d. Mempunyai kompresibilitas yang baik.
e. Mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet.
Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan
adalah selulosa mikrokristal, laktosa anhidrat, laktosa semprot-kering,
sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati yang termodifikasi,
misalnya tablet Hexamin, tablet NaCl, tablet KMnO4.
Keuntungan kempa langsung:
a. Prosesnya lebih singkat, metode ini lebih singkat prosesnya karena
tenaga dan mesin yang digunakan lebih sedikit.
b. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan
lembab.
c. Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melalui proses
granulasi terlebih dahulu tetapi langsung menjadi partikel.
d. Tablet kempa langsung berisi partikel halus, sehingga tidak perlu
melalui proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu
Kerugian kempa langsung:
a. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan
pengisi menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di
dalam tablet.
b. Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung, karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkan
pun semakin banyak dan mahal.

14
c. Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien ynag digunakan harus
bersifat mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan
adhesifitas yang baik.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tablet adalah campuran zat aktif dan zat pengikat, biasanya dalam
bentuk bubuk, yang dibentuk menjadi padatan.Tablet merupakan sediaan obat
padat kempak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau
sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau
lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan.
Macam-macam obat tablet diantaranya tablet kunyah, tablet hisap,
tablet sublingual, tablet efervescent, dan lain-lain.
1. Keuntungan: Pemberian obat peroral merupakan Cara yang paling banyak
dipakai karena ini adalah Cara yang paling mudah,murah, aman dan
nyaman bagi pasien.
2. Kerugian: Kelemahan dari pemberian obat peroraladlah pada aksinya yang
lambat sehingga cara ini tidak mudah dipakai pada keadaan gawat. Obat
yang diberikan peroral biasanya membutuhkan waktu 30- 45 menit
sebelum diabsorbsi dan efek puncaknya dicapai setelah 1- 1 ½ jam. Rasa
dan bau obat yang tidak enak sering mengganggu pasien.
3. Kontraindikasi: Cara peroral tidak dapat dipakai pada pasien yang
mengalami mual-mual, muntah, semi koma, pasien yang akan menjalani
pengisapan cairan lambung serta pada pasien yang mengalami gangguan
menelan.
4. Indikasi: Cara peroral dapat dipakai pada pasien yang tidak mengalami
mual-mual,muntah,semi koma, pasien yang tidak akan menjalani
pengisapan cairan lambung serta pada pasien yang tidak mengalami
gangguan menelan

16
DAFTAR PUSTAKA

Syamsuni, Drs. H. A., Apt.2007. Ilmu Resep. Jakarta: EGC


http://shiciro.blogspot.com/2010/11/teori-sediaan-tablet.html
http://adiyugatama.wordpress.com/2012/04/11/sediaan-tablet/
http://medicafarma.blogspot.com/2008/09/tablet.html

17