Anda di halaman 1dari 17

HUBUNGAN ANTARA PANJANG, INSERSI, DAN INDEKS

PILINAN TALI PUSAT DENGAN BERAT BADAN LAHIR


PADA PERSALINAN PRETERM

T Malonda, K Suwiyoga, IN Hariyasa Sanjaya,


Departemen/KSM Obstetrik dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/
RSUP Sanglah, Denpasar, Bali
Email: tom_fk06@yahoo.com

Abstrak
Kualitas kehamilan menentukan morbiditas dan mortalitas bayi dan ibu.
Penyebab morbiditas dan mortalitas tertinggi pada bayi adalah prematuritas.
Persalinan berdasarkan waktu terdiri dari tiga jenis, yaitu persalinan preterm,
persalinan aterm, dan persalinan posterm. Persalinan preterm adalah persalinan
yang terjadi pada usia 20 dan sebelum 37 minggu kehamilan (259 hari). Istilah
persalinan aterm adalah persalinan yang terjadi setelah 37 minggu kehamilan
sampai 42 minggu kehamilan (260-294 hari). Sedangkan persalinan postterm
adalah persalinan yang terjadi setelah 42 minggu kehamilan (295 hari). Tali pusat
yang terlalu pendek atau panjang dapat menyebabkan berbagai macam masalah
seperti gangguan janin intrapartum dan atau kematian. Insersi tali pusat abnormal
memiliki hubungan dengan plasenta yang lebih kecil dan kepadatan pembuluh
darah yang lebih rendah. Insufisiensi plasenta ditambah insersi tali pusat abnormal
dapat meningkatkan kecurigaan risiko perinatal. Pilinan yang abnormal
(hypocoiling dan hypercoiling) mempengaruhi pada terjadinya retardasi
pertumbuhan janin, oligohidramnion, anomali janin, denyut jantung janin
deselerasi selama persalinan, tindakan intervensi terhadap kesulitan persalinan,
mekonium dalam cairan ketuban, persalinan prematur, skor APGAR rendah, pH
arteri umbilical rendah, diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara panjang tali pusat, insersi tali pusat, dan indeks
pilinan tali pusat dengan berat lahir pada persalinan preterm. Desain penelitian
adalah studi observasional dengan cross-sectional analitik. Sampel penelitian
adalah ibu hamil diatas 20 minggu sampai di bawah 37 minggu yang melakukan
persalinan di Kamar Bersalin IGD RSUP Sanglah Denpasar, yang dipilih secara
berurutan (consecutive sampling) dari populasi terjangkau setelah memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi yang diadakan bulan Januari 2017 – Oktober 2017
berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif
tengah antara panjang tali pusat dengan berat lahir, ada korelasi negatif tengah
antara insersi tali pusat dengan berat lahir, dan ada korelasi negatif tengah antara
indeks pilinan tali pusat dengan berat lahir (p <0,05) pada persalinan preterm.

Terdapat hubungan antara panjang tali pusat, insersi tali pusat, dan indeks pilinan
tali pusat dengan berat lahir pada persalinan preterm

Kata kunci: preterm, panjang, insersi, indeks pilinan tali pusat.

Abstract
The quality of pregnancy determines the morbidity and mortality of infants and
mothers. The highest cause of morbidity and mortality of infants were
prematurity.The labor based on the time consisted of three types, namely preterm
labor, term labor, and postterm labor. Preterm labor is labor that occurs at the age
of 20 and before 37 weeks gestation (259 days). Term labor is labor that occurs
after 37 weeks gestation until 42 weeks gestation (260-294 days).While postterm
labor is labor that occurs after 42 weeks gestation (295 days). The study design
was observational analitic cross sectional. The sampel is pregnant women between
20-37 weeks which is chosen with consecutive sampling which is held on January
2017 – Oktober 2017. Study results showed that there is middle positive
correlation between the length of the umbilical cord with the birth weight, there is
middle negative correlation between the insertion umbilical cord with the birth
weight, and there is middle negative correlation between coiling index of the
umbilical cord with the birth weight ( p<0,05) in preterm pregnancy. There is a
relationship between the length of the umbilical cord, the insertion of the
umbilical cord, and coiling index of the umbilical cord with the birth weight in
preterm pregnancy.

Keyword: preterm, length, insertion, coiling index of umbilical cord

Pendahuluan

Pada kehamilan dapat terjadi berbagai komplikasi dari tali pusat.

Gangguan sirkulasi tali pusat dicurigai menyebabkan 20% kematian janin,

dimana gangguan mekanis dari tali pusat dapat berupa lilitan tali pusat dan

prolaps tali pusat atau mungkin timbul dari anatomi tali pusat yang abnormal

seperti tali pusat yang tersimpul (true knot), pilinan abnormal (hypocoiling dan

hypercoiling), panjang tali pusat dan insersi tali pusat yang abnormal.
Persalinan berdasarkan waktu terdiri dari tiga, yaitu persalinan preterm,

persalinan aterm, dan persalinan postterm. Persalinan preterm adalah persalinan

yang terjadi pada usia kehamilan setelah 20 sampai sebelum 37 minggu (259

hari). Persalinan aterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 37

minggu sampai usia kehamilan 42 minggu (260-294 hari). Sedangkan persalinan

postterm adalah persalinan yang terjadi setelah usia kehamilan 42 minggu (295

hari) (Cunningham, et al., 2010).

Survival outcome dari bayi tergantung umur kehamilan dan berat bayi

lahir. Hubungan umur kehamilan dan berat badan lahir adalah kecil masa

kehamilan (KMK), sesuai masa kehamilan (SMK) dan besar masa kehamilan

(BMK). Kecil masa kehamilan adalah berat lahir kurang dari 10 persentil dari

umur gestasi, sesuai masa kehamilan adalah berat lahir antara 10 sampai 90

persentil umur gestasi, dan besar masa kehamilan adalah berat lahir di atas 90

persentil umur gestasi (Dutta, 2013).

Beberapa peneliti telah setuju bahwa tali pusat terlalu pendek atau

panjang mempunyai hubungan dengan berbagai macam problem janin seperti

intrapartum distress dan atau meninggal, sedangkan beberapa peneliti lainnya

menolak adanya hubungan gawat janin dan luaran bayi yang jelek disebabkan

oleh masalah panjang tali pusat pada literaturnya (Suzuki, 2012).

Insersi tali pusat abnormal mempunyai hubungan dengan plasenta lebih

kecil dan densitas pembuluh darah lebih rendah. Insufisiensi plasenta ditambah
insersi tali pusat abnormal mungkin meningkatkan kecurigaan terhadap risiko

perinatal (Brouillet, et al., 2014).

Gangguan aliran tali pusat 50% secara signifikan menyebabkan asfiksia

pada janin, yang menimbulkan efek terhadap organ dan metabolisme janin baik

akut maupun kronis, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi luaran bayi

lahir yang dapat mempengaruhi berat badan bayi lahir. Tali pusat merupakan

salah satu struktur dalam amnion yang memfiksasi antara salah satu sisi plasenta

dan tali pusat bayi sebagai penghubung, dengan panjang normal 50 – 60 cm

terdiri dari tiga pembuluh darah: dua arteri dan satu vena. Sebuah tali pusat

normal memiliki rata – rata 11 pilinan pembuluh darah tali pusat. Panjang tali

pusat yang sekitar 50 – 60 cm mempunyai makna bahwa outcome bayi yang

dilahirkan cukup baik terutama perihal berat badan lahirnya. Begitu pula dengan

insersi tali pusat yang terdiri dari insersi tali pusat yang terletak di sentral,

marginal, dan parasentral mempunyai makna bahwa outcome bayi yang dilahirkan

cukup baik terutama perihal berat badan lahirnya (Kuswani, 2011).

Strong, et al. (1994) dalam penelitiannya menunjukkan pilinan tali pusat

yang tidak normal (hypocoiling dan hypercoiling) berpengaruh terhadap

terjadinya pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion, anomali janin,

deselerasi denyut jantung janin selama persalinan, sehingga intervensi tindakan

terhadap kesulitan proses persalinan, mekonium dalam air ketuban, persalinan

prematur, skor APGAR yang rendah, pH arteri tali pusat yang rendah, diabetes

mellitus (Strong, et al, 1994).


Rana, et al. (1995) dari penelitian mereka, didapatkan signifikansi berat

badan lahir lebih rendah pada indeks pilinan tali pusat hypercoiling ( 2742 ± 944

gram) dibandingkan dengan indeks pilinan tali pusat normocoiling (3176 ± 633

gram). Dari penelitian tersebut ditemukan hubungan antara umbilical coiling

index (indeks pilinan tali pusat) dan hasil luaran berat badan bayi baru lahir

(Rana, et al., 1995).

Beberapa hipotesis yang behubungan dengan terbentuknya pilinan

adalah akibat adanya gerakan janin, torsi aktif atau pasif dari embrio, diferensiasi

pertumbuhan pembuluh darah tali pusat, hemodinamik aliran darah janin, dan

serat otot di dinding pembuluh darah arteri tali pusat. Selain itu, kemungkinan

adanya keterlibatan faktor genetika. Dimana pada kejadian kembar non-

monozigotik ditemukan kesamaan dalam indeks pilinan tali pusat.

Pilinan tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah dan dengan indeks

pilinan tali pusat yang berlebih (hypercoiling) dapat mengakibatkan arus darah

dari ibu ke janin melalui tali pusat terhambat sebagian atau seluruhnya. Hal

tersebut menyebabkan janin mengalami kekurangan oksigen, nutrisi dan siklus

utero-plasenta tergangu (Kuswani, 2011). Sebire, et al. (2007) menemukan odds

ratio (OR) dari hypocoiling adalah 3,4 terhadap kematian janin dalam

kandungan, 5,8 terhadap kejadian Trisomi, 3,1 terhadap kejadian skor APGAR<

7, 3,0 terhadap kejadian insersi tali pusat velamentosa, 3,7 terhadap kejadian

arteri tali pusat tunggal. OR dari hypercoiling sebesar 9,3 terhadap kejadian

trisomies, 2,1 terhadap kejadian small gestational age (SGA) < 10th, 2,9
terhadap nilai pH arteri tali pusat < 7,05, dan 4,2 terhadap kejadian asfiksia

(Sebire et al., 2007). Pemeriksaan pada tali pusat direkomendasikan untuk

mendeteksi kelainan yang akan mempengaruhi proses kehamilan dan persalinan.

Dari kepustakaan disebutkan bahwa indeks pilinan tali pusat yang dinyatakan

hypercoiling berhubungan dengan luaran janin yang kurang baik. Sedangkan

indeks pilinan tali pusat yang normal berhubungan dengan kesejahteraan janin

yang baik.

Berdasarkan latar belakang diatas, disebutkan bahwa angka kejadian

terjadinya hypocoiling dan hypercoiling tali pusat, yang berpengaruh terhadap

komplikasi luaran bayi lahir. Pada tali pusat dengan indeks pilinan tali pusat

abnormal berhubungan dengan berat badan bayi lahir rendah, kejadian trisomi,

asfiksia, skor APGAR < 7, indeks cairan amnion (ICA) < 5, gangguan dalam

persalinan, pertumbuhan janin terhambat dan korioamnionitis (Kuswani, 2011).

Rana et al. ( 1995) dari penelitian mereka, didapatkan signifikansi

berat badan lahir lebih rendah pada indeks p i l i n a n tali pusat hypercoiling

dibandingkan normocoiling. Penilaian indeks p i l i n a n tali pusat ini di

anjurkan karena memiliki arti klinis yang penting (Rana et al., 1995).

Metode

Rancangan penelitian ini adalah studi observasional dengan cross-sectional

analitik. Mengetahui hubungan panjang tali pusat, insersi tali pusat dan indeks

pilinan tali pusat terhadap berat badan bayi lahir pada persalinan preterm.
Penelitian ini telah dikerjakan di Kamar Bersalin IGD RSUP Sanglah Denpasar.

Penelitian ini dilakukan Januari 2017 sampai Oktober 2017. Bahan tali pusat dan

insersi plasenta dilihat dan diukur setelah persalinan. Populasi target penelitian

adalah ibu hamil di atas 20 minggu sampai di bawah 37 minggu. Populasi

terjangkau adalah ibu hamil di atas 20 minggu sampai di bawah 37 minggu yang

melakukan persalinan di Kamar Bersalin IGD RSUP Sanglah Denpasar berjumlah

30 pasien

Hasil

Penelitian observasional dengan studi cross sectional pada 30 orang ibu hamil di

atas 20 minggu sampai di bawah 37 minggu yang melakukan persalinan di

Kamar Bersalin IGD RSUP Sanglah Denpasar mulai bulan Januari sampai dengan

bulan Desember 2017. Hasil penelitian disajikan sebagai berikut.

5.1 Distribusi Karakteristik Umur, Umur kehamilan, dan Paritas pada


Persalinan Preterm

Pada studi cross sectional ini disajikan distribusi karakteristik umur, umur

kehamilan, dan paritas pada persalinan preterm. Hasil analisis disajikan pada

Tabel 5.1.
Tabel 5.1

Distribusi Karakteristik Umur, Umur kehamilan, Paritas, Panjang Tali


Pusat, dan Berat Badan Lahir pada Persalinan Preterm

Karakteristik Sampel Rerata SD Rentangan

Umur (tahun) 30,67 5,25 20-40

Umur kehamilan (minggu) 31,33 3,21 26-36

Paritas 2,47 1,28 1-6

Panjang Tali Pusat (cm) 39,80 10,65 20-55

Berat Badan Lahir (gram) 2183,00 336,90 1400-2750

Seperti terlihat pada Table 5.1 di atas, rerata umur ibu hamil dengan

persalinan preterm adalah 30,67±5,25, tahun dan umur termuda adalah 20 tahun

dan tertua adalah 40 tahun. Rerata umur kehamilan adalah 31,33±3,21 dengan

rentang umur kehamilan 26-36 minggu. Rerata paritas adalah 2,47±1,28 dengan

rentangan 1-6 orang. Rerata panjang tali pusat adalah 39,80±10,65 dengan

rentangan 20-55 cm. Rerata berat badan lahir adalah 2183,00±336,90 gram

dengan rentangan 1400-2750 gram.


5.2 Hubungan Antara Panjang Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir pada
Persalinan Preterm

Untuk mengetahui hubungan panjang tali pusat dengan berat badan lahir

pada persalinan preterm digunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis disajikan

pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2

Hubungan Panjang Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir pada Persalinan
Preterm

Berat Badan Lahir


Variabel Keterangan
R p
Panjang tali pusat 0,437 0,016 Hubungan sedang

Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan sedang panjang

tali pusat dengan berat badan lahir pada kehamilan preterm secara bermakna

(p<0,05).

5.3 Hubungan Antara Insersi Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir pada
Persalinan Preterm

Untuk mengetahui hubungan antara insersi tali pusat dengan berat badan

lahir pada persalinan preterm digunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis

disajikan pada Tabel 5.3.


Tabel 5.3

Hubungan Antara Insersi Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir pada
Persalinan Preterm

Berat Badan Lahir


Variabel Keterangan
r p
0,007 Hubungan sedang
Insersi tali pusat 0,483

Tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan sedang insersi

tali pusat dengan berat badan lahir pada persalinan preterm secara bermakna

(p<0,05).

5.4 Hubungan Antara Indeks Pilinan Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir
pada Persalinan Preterm

Untuk mengetahui hubungan antara indeks pilinan tali pusat dengan berat

badan lahir pada persalinan preterm digunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis

disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4

Hubungan Antara Indeks Pilinan Tali Pusat dengan Berat Badan Lahir pada
Persalinan Preterm

Berat Badan Lahir


Variabel Keterangan
r p
0,014 Hubungan sedang
Indeks pilinan tali pusat 0,444
Tabel 5.4 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan sedang indeks

pilinan tali pusat dengan berat badan lahir pada kehamilan preterm secara

bermakna (p<0,05).

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini diketahui bahwa rerata umur ibu hamil dengan persalinan

preterm adalah 30,67±5,25, tahun dan umur termuda adalah 20 tahun dan tertua

adalah 40 tahun. Rerata umur kehamilan adalah 31,33±3,21 minggu dengan

rentang umur kehamilan 26-36 minggu dan rerata paritas adalah 2,47±1,28

dengan rentangan 1-6 orang.

Tali pusat terbentuk sampai akhir trimester kedua, dengan berat 40 gram dan

mencapai diameter rata-rata 1-2 cm dan panjang 50-60 cm. Terdiri dari sel epitel

skuamosa kuboid yang disebut epitel umbilikalis yang berasal dari epitel amnion.

Abnormalitas panjang tali pusat berhubungan dengan lilitan tali pusat, tali pusat

tersimpul (knotting), insersi tali pusat, dan prolaps tali pusat. Secara singkat,

gangguan yang menghubungkan tali pusat dengan permukaan tubuh janin dapat

terjadi anomali di mana dinding abdomen anterior gagal terbentuk. Isi perut

terbuka dan tali pusat tidak sempurna atau tidak terbentuk, sehingga janin

melekat langsung ke membrane. Tali pusat sudah terbentuk dengan baik pada usia

kehamilan 9 minggu, dengan rata - rata biasanya memiliki 0 - 40 koil. Hal ini

sudah ditetapkan bahwa jumlah pilinan tali pusat berhubungan dengan aktivitas
janin dan kesejahteraan janin. Hypocoiling tali pusat terjadi pada sekitar 5% dari

kehamilan dan berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas

perinatal. Kelainan tali pusat dapat terjadi pada ukuran, derajat pilinan, dan posisi

dari insersi tali pusat. Kelainan ini memiliki implikasi penting terhadap luaran

janin.

Insersi tali pusat yang ada adalah central dan non central. Etiologi terbentuknya

insersi tali pusat non central dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tiga teori yang

dapat menjelaskan adalah pertama kegagalan implantasi blastokist , kedua adalah

keabnormalan perkembangan plasenta karena pengurangan aliran darah, dan yang

ketiga adalah migrasi plasenta / trophotropism. Insersi tali pusat non central

sangat berhubungan dengan kegagalan perkembangan dan fungsi plasenta yang

bisa menyebabkan kecilnya plasenta dan atau kurangnya aliran darah di daerah

plasenta. Karena hal inilah, insersi tali pusat yang non central bisa menyebabkan

rendahnya berat badan bayi pada waktu lahir pada kehamilan preterm

KESIMPULAN

Adapun simpulan pada penelitian ini adalah:

1. Terdapat hubungan antara panjang tali pusat dengan berat badan lahir pada

persalinan preterm secara bermakna.

2. Terdapat hubungan antara insersi tali pusat dengan berat badan lahir bayi

pada persalinan preterm secara bermakna.


3. Terdapat hubungan antara indeks pilinan tali pusat dengan berat badan lahir

bayi pada persalinan preterm secara bermakna.

DAFTAR PUSTAKA

Behery, et al. 2009. Effect of Umbilical Vein Blood Flow on Perinatal Outcome
of Fetuses with Lean and/or Hypo-coiled Umbilical Cord. Jan;283(1):53-8.

Brouillet. 2014. Influence of the Umbilical Cord Insertion Site onthe Optimal
Individual Birth Weight Achievement. Research article: Hindawi.

Creasy, et al. 2009. Prediction of Risk of Preterm Delivery by Cervical


Assessment by Transvaginal Ultrasonography. J Obstet Gynecol India 59 :
131-135.

Cunningham, F G, dkk. 2010. Obstetri Williams Volume I. Jakarta : EGC.

Damanik MS, Indarso F, Harianto A, Etika. 2008. Masalah Perawatan pada Bayi
Prematur. Pelatihan Perawatan Neonatologi 1-12.

Damanik, Sylviati M. 2008. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa
Gestasi. In: Sholeh Kosim, dkk. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI, 11-30.
Degani S, Leibovich Z, Shapiro I, Gonen R, Ohel G. 1995. Early Second-
Trimester Low Umbilical Coiling Index Predicts Small-For-Gestational-Age
Fetuses. J Ultrasound Med.20:1183–8

Dutta D.C. 2013. Immune Status of Full-Term Small-for-Gestational Age


Neonates in India. J Trop Pediatri 43(6):345-8.

Ezimokhai. 2012. Umbilical Coiling Index as a Marker of Perinatal Outcome: An


Analytical Study. Obstetrics and Gynecology International: Hindawi.

Gabbe, et al. 2012. Maternal of High Risk Pregnancy and Delivery. Obstetrics and
Gynecology International: Elsevier.

Kurit M, Hasegawa J, Mikoshiba T.2009. Ultrasound Evaluation of the Amount


of Wharton's Jelly and the Umbilical Coiling Index. Fetal diagnosis and
therapy. 26:85-90.

Kuswani L. 2011. Perbandingan Indeks Koil Tali Pusat Terhadap Luaran Berat
Badan Bayi Lahir. Available from: www.repository.usu.ac.id.

Larco, et al. 1987. Umbilical Cord. Obstetrics and Gynecology International:


Elsevier.

Machin GA, Ackerman J, Gilbert-Barness E. 2000. Abnormal Umbilical Cord


Coiling is Associated with Adverse Perinatal Outcomes. Pediatri Dev
Pathol. 3:462–71.

Malpas dan Symonds. 1966. Observations on the Structure of the Human


Umbilical Cord. Surg Gynecol Obstet. 1966 Oct;123(4):746-50.

Manuaba. 2007. Tali Pusat dan Plasenta. Jakarta: EGC.


Nakamura , 2009. Location of the Placenta or the Umbilical Cord Insertion Site in
the Lowest Uterine Segment is Associated with Low Maternal Blood
Pressure. International Journal of Obstetrics and Gynaecology 118: 1464-
1471.

Nivedita T, Sunanda J. 2013. Umbilical Cord Coiling Index and Perinatal


Outcome. J Clin Diagn Res. 8: 1675–1677.

Nivedita, et al. 2013. Coiling Index. Journal Cinical and Diagnostic Research.
Obstetet Gynecol 2340: 25-30.

Predanic M, Perni SC, Chasen ST, Baergen RN, Chervenak FA. 2005. Ultrasound
Evaluation of Abnormal Umbilical Cord Coiling in Second Trimester of
Gestation in Association with Adverse Pregnancy Outcome. Am J Obstet
Gynecol.193:387–94.

Predanic M, Perni SC. 2005. Absence of a Relationship between Umbilical Cord


Thickness and Coiling Patterns. J Ultrasound Med.24:1491–6.

Qin, et al. 2002. Second-Trimester Ultra-sonographic Assessment of the


Umbilical Coiling Index. Ultrasound Obstet Gynecol 20:458–463.

Rana J, Ebert GA, Kappy KA. 1995. Adverse Perinatal Outcome in Patients with
an abnormal umbilical coiling index. Obstet Gynecol. 85:573-579.

Reynolds, et al. 1978. The Development, Structure and Blood Flow within the
Umbilical Cord with Particular Reference to the Venous System. Obstet
Gynecol 88 : 97-102.

Roach, et al. 2007. The Roach Muscle Bundle and Umbilical Cord Coiling. Early
Hum Dev. 83(9):571-4.

Sarwono. 2014. Anatomi Tali Pusat. Jakarta: Bina Pustaka.

Schell, et al. 2013. Statistics in Aterm and Preterm Pregnancy. Implentation


Science: BioMed Central Ltd.

Sebire, et al. 2007. Effect of Body Mass Index on Pregnancy Outcomes in


Nulliparous Women Delivering Singleton Babies. Obstet Gynecol .2458: 7-
168.
Strong J, Jarles D.1994. The Umbilical Coiling Index. J Obstet Gynecol.170(Pt
1):29-32.

Suzuki. 2012. Association of Umbilical Coiling Index by Colour Doppler


Ultrasonography at 18–22 Weeks of Gestation and Perinatal Outcome.
Obstet Gynaecol India 62(6): 650–654.

Van Dijk, et al. 2002. The Umbilical Coiling Index in Normal Pregnancy. J
Maternal Fetal Neonatal Med Apr;11(4):280-3.

Ebbing C, Kiserud T, Johnsen SL, Albrechtsen S, Rasmussen S. 2013. Prevalence,


Risk Factors and Outcomes of Velamentous and Marginal Cord Insertions:
A Population-Based Study of 634,741 pregnancies. PLoS ONE. 8(7).

Misra DP, Salafia CM, Miller RK, Charles AK. 2009. Non-linear and Gender-
Specific Relationships among Placental Growth Measures and the
Fetoplacental Weight Ratio. Placenta.;30(12):1052–1057.
17