Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN

TENTANG PENYAKIT ANTHRAX

Dosen Pembimbing :

Nur Haidah, SKM,M.Kes

AT. Diana Nerawati, SKM.,M.Kes

Disusun Oleh:

Ainul Putri Rhomadlona (P27833318051)

POLTEKKES KEMENKES SURABAYA

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA

PROGRAM STUDI D-IV KESEHATAN LINGKUNGAN

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Penyakit Berbasis Lingkungan
ini dengan judul Penyakit Antrax.

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi nilai mata kuliah Penyakit Berbasis
Lingkungan Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan
tangan terbuka saya menerima segala kritik dan saran dari pembaca agar dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata saya berharap semoga makalah Penyakit Berbasis Lingkungan ini dapat
memberi manfaat maupun inspirasi kepada pembaca.

Surabaya, 18 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN ................................................................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 2

1.3 Tujuan .................................................................................................................................... 2

1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................................................ 2

BAB II .................................................................................................................................................... 3

PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 3

2.1 Pengertian Penyakit Anthrax .................................................................................................... 3

2.2 Penyebab Penyakit Anthrax ...................................................................................................... 3

2.3 Jenis-Jenis Penyakit Anthrax .................................................................................................... 5

2.4 Gejala Penyakit Anthrax ............................................................................................................ 5

A. Gejala Penyakit Pada Manusia ............................................................................................... 5

B. Gejala Penyakit Pada Hewan .................................................................................................. 6

2.5 Cara Penularan Penyakit Anthrax ............................................................................................ 7

2.6 Cara Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anthrax.......................................................... 8

2.7 Faktor Resiko Penyakit Anthrax ............................................................................................ 10

2.8 Penyebaran Epidemiologi Penyakit Anthrax ......................................................................... 10

1. Spesies Rentan atau Populasi Rentan ............................................................................... 10

2. Pengaruh Lingkungan ........................................................................................................ 10

3. Sifat Penyakit ...................................................................................................................... 11

4. Distribusi Penyakit.............................................................................................................. 11

5. Faktor Predisposisi ............................................................................................................. 12

2.9 Cara Pengobatan Pada Penyakit Anthrax .............................................................................. 12

ii
BAB III................................................................................................................................................. 15

PENUTUP............................................................................................................................................ 15

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 15

3.2 Saran .......................................................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara yang beriklim tropis yang memiliki curah
hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan genangan air dimana-mana
dan juga sering menyebabkan banjir. Itulah yang menyebabkan bakteri-bakteri
penyebab anthrax dapat berkembang biak dan menyebar dengan sangat mudah di
Indonesia.

Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut.
Penyakit ini umumnya menyerang tenak domestik, seperti domba, kambing dan sapi.
Tetapi manusia juga dapat terinfeksi karena mengkonsumsi daging yang sudah terkena
bakteri, adanya kontak sembrono dengan hewan yang sedang sakit anthrax atau terkena
tanah yang tercemar bakteri. Bakteri anthrax bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit,
paru-paru atau saluran pencernaan. Gejala umum serangan anthrax pada manusia
berupa mengalami halusinasi buruk dan pernapasannya terganggu , juga bisul berwarna
hitam kemerahan yang pabila pecah akan menimbulkan luka dan meninggalkan cacat.

Penyebab Anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini bersifat aerob,
memerlukan oksigen untuk hidup. Bakteri ini berbentuk spora bertangkai dan suka
hidup serta berkembang biak di dalam tanah. Keluarnya bakteri tersebut bisa terjadi di
musim kemarau panjang, karena ternak suka menarik rerumputan kering hingga keakar-
akarnya. Akibatnya spora anthrax yang selama ini bertahan hidup dalam tanah dan
menempel di rumput, terbawa keluar dan berubah menjadi bakteri ganas. Kondisi tubuh
ternak yang lemah akibat kekurangan makanan dan stres oleh suhu udara yang panas,
juga semakin memudahkan serangan anthrax. Selain itu spora ini juga dapat menyebar
karena terbawa banjir seperti kasus di Bogor. Hewan yang mati akibat anthrax harus
langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar.

Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonotik penting ,
yang saat ini banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonotik berarti dapat

1
menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini hampir setiap tahun selalu muncul di
daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan
masyarakat luas. Infeksi antraks jarang terjadi namun hal yang sama tidak berlaku
kepada herbivora-herbivora seperti ternak, kambing, unta, dan antelop. Antraks dapat
ditemukan di seluruh dunia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Jelaskan penyebab penyakit anthrax ?
2. Sebutkan gejala penyakit anthrax ?
3. Sebutkan masa inkubasi penyakit anthrax ?
4. Bagaimana cara penularan penyakit anthrax ?
5. Bagaimana cara pencegahan penyakit anthrax ?
6. Apa faktor resiko penyakit anthrax ?
7. Bagaimana penyebaran epidemiologi penyakit anthrax ?
8. Bagaimana pengobatan penyakit anthrax ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab penyakit anthrax.
2. Untuk mengetahui gejala penyakit anthrax.
3. Untuk mengetahui masa inkubasi penyakit anthrax.
4. Untuk mengetahui cara penularan penyakit anthrax.
5. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit anthrax.
6. Untuk mengetahui faktor resiko penyakit anthrax.
7. Untuk mengetahui penyebaran epidemiologi penyakit anthrax.
8. Untuk mengetahui pengobatan penyakit anthrax.

1.4 Manfaat Penulisan

Untuk mengetahui informasi tentang penyakit antrax, sehingga bisa mencegah


dari tertularnya penyakit antraks terhadap tubuh.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Anthrax


Anthrax merupakan penyakit pada hewan terutama pada hewan berdarah panas dan
pemakan rumput (herbivora) seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kuda. Pada hewan liar,
antraks dapat ditemukan pada babi hutan, rusa, dan kelinci (Cieslak,2005). Manusia terjangkit
antraks biasanya akibat kontak langsung atau tidak langsung dengan binatang atau bahan yang
berasal dari binatang terinfeksi. Manusia relatif kebal terhadap kuman antraks dibanding
dengan herbivora.

Anthraks adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut atau perakut pada
berbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai dengan demam
tinggi dan disebabkan oleh Bacillus anthracis. Biasanya ditandai dengan perubahan-perubahan
jaringan bersifat septisemia, timbulnya infiltrasi serohemoragi pada jaringan subkutan dan
subserosa, disertai dengan pembengkakan akut limpa. Di Indonesia Anthraks menyebabkan
banyak kematian pada ternak, kehilangan tenaga kerja di sawah dan tenaga tarik, serta
kehilangan daging dan kulit karena ternak tidak boleh dipotong. Kerugian ditaksir sebesar dua
milyar rupiah pertahun (1980).

2.2 Penyebab Penyakit Anthrax

Penyakit antraks disebabkan oleh Bacillus anthracis yang termasuk genus Bacillus.
Bacillus anthracis merupakan kuman berbentuk batang, aerobik, Gram positif, tidak berflagel,

3
dengan ukuran kira-kira 1-1,5 kali 3-5 mikrometer, non motil, non hemolitik, membentuk
spora, dapat membentuk kapsul dan menghasilkan toksin (OIE, 2000). Spora akan terbentuk
jika terekspos oksigen (02), spora ini relatif tahan terhadap panas, dingin, pH, radiasi dan
desinfektan sehingga sangat sulit untuk dihilangkan jika terjadi kontaminasi.

Pada sediaan yang berasal dari darah atau binatang terinfeksi, kuman tampak
berpasangan atau tunggal. Kapsul kuman dibentuk pada jaringan terinfeksi, namun tidak in
vitro kecuali dibiak di media yang mengandung bikarbonat dan dieram pada lingkungan 5-7%
CO2. Kuman tumbuh subur pada pH media 7.0-7.4 dengan lingkungan aerob. Suhu
pertumbuhan berkisar antara 12-45°C tetapi suhu optimumnya 37°C. Setelah masa inkubasi 24
jam, koloni kuman tampak sebagai koloni yang besar, opak, putih-keabu-abuan dengan tepi tak
beraturan.

Menurut Jawetz (2010), kuman antraks tidak menyebabkan hemolisis darah domba dan
reaksi katalasanya positif. Kuman mampu meragi glukosa dan menghidrolisa gelatin tetapi
tidak meragi manitol, arabinosa dan xilosa. Karena menghasilkan lesitinasa, maka kuman yang
ditumbuhkan pada media EYA (Egg-Yolk Agar) akan membentuk zona opaq. Terdapat tiga
jenis antigen pada kuman antraks, yaitu:

1. Antigen polipeptida kapsul;


Antigen kapsul merupakan molekul besar dan tersusun atas asam D-glutamat.
Sampai saat ini diketahui hanya ada satu tipe antigen kapsul. Kapsul berperan dalam
penghambatan fagosistosis kuman dan opsonisasinya.
2. Antigen Somatik yang merupakan komponen dinding sel;
Antigen somatik merupakan polisakarida yang mengandung D-galaktosa dan N-
asetil galaktosamin. Antigen somatik ini bereaksi silang dengan darah golongan A
dan pneumokokus tipe 14. Antibodi terhadap antigen somatik tidak bersifat
melindungi.
3. Antigen Toksin
Menurut Jawetz (2010), Virulensi kuman antraks ditentukan oleh dua faktor, yaitu
kapsul kuman dan toksin. Toksin kuman yang ditemukan pada tahun 1950-an oleh
Smith dan Keppie, terdiri dari tiga komponen yaitu:
a. Faktor I (faktor edema atau EF);
b. Faktor II (faktor antigen protektif atau PA)
c. Faktor III (faktor letal atau LF)

4
Spora antraks tahan terhadap pengaruh panas, sinar ultraviolet dan beberapa
desinfektan. Endospora dapat dimatikan dengan cara otoklaf pada suhu 120°C selama 15 menit.
Bentuk vegetatifnya mudah dimatikan pada suhu 54°C selama 30 menit.

2.3 Jenis-Jenis Penyakit Anthrax


Jenis-jenis penyakit anthrax bisa dibedakan berdasarkan tempat-tempat bakterinya
menyerang.

1. Cutaneous anthrax. Yaitu penyakit anthtrax yang menyerang jaringan kulit.

2. Gastrointestinal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang perut akibat memakan
makanan yang terkontaminasi bakteri anthrax.

3. Inhalational anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang saluran pernapasan akibat
menghirup spora bakteri anthrax.

4. Oropharyngeal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang tenggorokan akibat


memakan makanan yang terkontaminasi bakteri anthrax.

Dari keempat jenis penyakit anthrax di atas, Inhalational anthrax adalah jenis yang paling
mematikan dan cutaneous anthrax adalah yang paling banyak terjadi.

2.4 Gejala Penyakit Anthrax


A. Gejala Penyakit Pada Manusia
1. Cutaneous anthrax. Gejalanya berupa benjolan yang awalnya kecil dan kemudian
membesar. Benjolan ini bisa sangat gatal. Masa inkubasinya (masa yang dibutuhkan
dari sejak masuk hingga menjadi penyakit) adalah sekitar 5 -7 hari. Lalu, benjolan
menjadi terisi cairan dengan diameter 1-3 cm. Lama-kelamaan, benjolan berair ini akan

5
membentuk luka seperti lecet dengan bagian pinggiran yang kemerah-merahan. Di hari
ke-7 hingga ke-10 terjadi pembengkakan kelenjar getah bening; sakit kepala; dan
demam.
2. Inhalational anthrax. Gejalanya pertama muncul di hri ke-1 sampai hari ke-7. Akan
tetapi menghilang setelah 60 hari. Gejala yang terjadi pada inhalational anthrax biasa
adalah berupa flu, sakit tenggorokan, demam, dan sakit otot. Adapun untuk inhalational
anthrax yang tidak biasa (membahayakan), gejala bisa ditambah dengan sesak napas
dan demam tinggi. Kematian bisa terjadi dalam 24-36 jam setelah gejala berkembang.
3. Gastrointestinal anthrax. Gejala terjadi di hari ke-1 sampai ke-6 yang berupa
kerusakan/borok lambung; borok lidah dan tonsil; sakit tenggorokan; hilang selera
makan; muntah-muntah; dan demam. Gejala ini bisa ditambah dengan sakit bagian
perut; muntah darah; dan berak darah. Dalam 2 hingga 4 hari; cairan akan mengisi
rongga perut. Kematian akan terjadi di hari ke-2 sampai hari ke-5
4. Oropharyngeal anthrax. Gejala yang terjadi berupa demam; pembengkakan kelenjar
getah bening di leher; sakit tenggorokan yang berat; susah menelan; serta sakit lambung
dan lidah.

B. Gejala Penyakit Pada Hewan


1. Perakut (sangat cepat) terjadi sangat mendadak dan segera mengikuti kematian, sesak
napas, gemetar, kemudian hewan rebah kadang terdapat gejala kejang. Pada sapi
kambing dan domba mungkin terjadi kematian yang mendadak tanpa menimbulkan
gejala penyakit terlebih dahulu.
2. Bersifat akut (cepat) pada sapi, kambing, domba dan kuda : demam (suhu tubuh
mencapai 41,50C), gelisa, sesak napas, kejang, dan diikuti kematian, kadang sesaat
sebelum kematian kelaur darah kehitaman yang tidak membeku dari lubang kumlo
(lubang hidung, mulut, telinga, anus dan alat kelamin). Pada kuda dapat terjadi nyeri
perut (kolik) diare berdarah, bengkak daerah leher dada, perut bagian bawah dan alat
kelamin bagian luar.

6
2.5 Cara Penularan Penyakit Anthrax

Bacillus anthracis tidak berpindah langsung dan ternak satu ke ternak yang lain, tapi
biasanya masuk ke dalam tubuh ternak bersama makanan, perkakas kandang atau tanah
(rumput). Infeksi tanah inilah yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di
dalam tanah bisa naik ke atas oleh pengolahan tanah dan hinggap di rumput, yang kemudian
dimakan ternak bersama sporanya. Demikian juga spora itu bisa masuk ke dalam kulit, apabila
hewan itu berada dan tidur di tempat yang tercemar. Spora ini akan tumbuh dan berbiak dalam
jaringan tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita
penyakit anthrax dapat menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dan
tubuhnya. Cairan ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber

7
untuk munculnya kembali wabah di masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak penderita
sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung liar pemakan bangkai,
sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta menjadi sulit untuk
menghilangkannya.

Pintu masuknya penyakit antraks pada hewan, umumnya bisa melalui saluran
pencernaan hewan, kontak kulit dan terhirup masuk melalui saluran pernapasan. Sedangkan
pada manusia, selain bisa menular melalul kontak atau mengonsumsi daging hewan ternak
yang terkena antraks, penularan antarmanusia bisa terjadi melalui udara yang tercemar spora
antraks dan masuk ke paru-paru manusia. Dengan kata lain, bakteri Bacillus anthracis akan
bersifat menghancurkan sel-sel darah, baik pada hewan maupun manusia. Apabila gejala klinis
sudah timbul, biasanya dilkuti dengan kematian, baik pada hewan maupun manusia .Untuk itu,
orang yang mengonsumsi daging hewan terkena antraks akan sangat membahayakan. Apalagi
kondisi daging hewan tersebut tidak kita masak teriebih dahulu secara sempurna. Selain itu,
Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan
terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan,
prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter
tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada
jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun
pada jaringan hewan yang mati karena antraks. Di sinilah keistimewaan bakteri ini, apabila
keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora
akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Spora ini dapat terus bertahan hidup selama
puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati.

2.6 Cara Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anthrax


a. Pencegahan penyakit hewan adalah semua tindakan untuk mencegah
timbulnya/berjangkitnya/menjalarnya suatu penyakit hewan dalam kegiatan pengendalian dan
pemberantasan penyakit hewan.

1. Hewan/ternak divaksin secara rutin setiap tahun sesuai rekomendasi instansi


berwenang.
2. Hindarkan kontak langsung dengan hewan yang dicurigai terinfeksi antraks.
3. Apabila akan menambah jumlah ternak baru, Standard Operasional Prosedur (SOP) dan
aturan dari instansi berwenang harap dipatuhi.

8
4. Daging hendaknya dimasak hingga benar-benar matang.
5. Ketika menjumpai daging berlendir, berbau dan berwarna kusam harap dilaporkan.
6. Ketika seseorang mengalami gejala abnormal yang kuat mengarah gejala antraks segera
memeriksakan diri di fasilitas kesehatan/rumah sakit terdekat.
7. Hewan ternak yang diduga terjangkit penyakit antraks harus dipisah dari hewan-hewan
yang sehat. Apabila hewan yang diduga terjangkit antraks sudah mati dan menjadi
bangkai tidak boleh dilakukan autopsi ataupun pembedahan.
8. Bangkai hewan dibakar atau dikubur yang dalam.
9. Hewan/ternak yang terjangkit antraks diobati antibotik spektrum luas (procain penisilin
G, streptomycin, kombinasi procain penisilin G dan streptomycin dan oksitetrasiklin)
atau diberi antiserum, dengan dosis sesuai yang dianjurkan.

b. Pengendalian adalah suatu usaha terorganisir di Daerah/ Pusat untuk mengurangi


kejadian/kerugian suatu penyakit sampai tingkat terkendali/ tidak berdampak serius terhadap
kestabilan kesehatan hewan dan masyarakat.

1. Penanganan terhadap hewan.


Penyakit Anthrax dapat dicegah dengan vaksinasi rutin sesuai anjuran. Hewan yang
sakit dapat diobati dengan antibiotik Penicilline dikombinasi dengan roboransia
(mengandung kalsium dan lainlain). Pemberian antibiotik secara intra muskuler (IM)
untuk ternak dewasa 20.000 IU/Kg dan anak setengahnya, selama 4-5 hari berturut-
turut.
2. Penanganan terhadap kuman.
Bacillus anthracis mudah dibunuh dengan pemanasan pada suhu pasteurisasi, macam-
macam desinfektansia (formalin 10%, karbol 5%, iodine dan lain-lain) serta oleh
pembusukan. Namun kuman setelah menjadi bentuk spora lebih tahan yaitu baru
musnah dengan pemberian uap basah bersuhu 120 derajat Celcius dalam beberapa
detik, air mendidih atau uap basah bersuhu 100 derajat Celcius selama 10 menit, uap
basah bersuhu 90 derajat Celcius selama 45 menit atau panas kering pada suhu 120
derajat Celcius selama 1 jam.
3. Perlakuan terhadap hasil produksi hewan. Hasil produksi berupa susu, daging serta
bahan asal hewan seperti kulit, tulang, bulu dan lain-lain yang berasal dari hewan
penderita/mati karena Anthrax samasekali tidak boleh dikonsumsi atau dimanfaatkan,
dan harus dimusnahkan dengan jalan dibakar atau dikubur.

9
2.7 Faktor Resiko Penyakit Anthrax
1. Orang yang mengolah produk hewan
2. Dokter hewan yang bekerja dengan binatang terinfeksi
3. Peternak yang bekerja dengan binatang terinfeksi
4. Pelancong yang mengunjungi daerah berisiko tinggi
5. Pekerja laboratorium yang bekerja dengan anthrax
6. Tukang pos, anggota militer, dan relawan
7. Yang terpapar selama kejadian terorbiologis yang melibatkan spora anthrax
8. Memakan daging mentah dari binatang yang terinfeksi

2.8 Penyebaran Epidemiologi Penyakit Anthrax


1. Spesies Rentan atau Populasi Rentan
Menurut penelitian, kerentanan hewan terhadap antraks dapat dibagi dalam
beberapa kelompok sebagai berikut:
a. Hewan-hewan pemamah biak, terutama sapi dan domba, kemudian kuda, rusa,
kerbau dan pemamah biak liar lain, juga marmut dan mencit (mouse) sangat rentan.
b. Babi tidak begitu rentan.
c. Anjing, kucing, tikus (rat) dan sebagian besar bangsa burung, relatif tidak rentan
tetapi dapat diinfeksi secara buatan.
d. Hewan-hewan berdarah dingin sama sekali tidak rentan (not affected).

Anthrax terutama menyerang hewan ternak sapi,kambing, domba / biri-biri, kuda.


Endospora dari Bacillus anthracis yang mencemari tanah kemungkinan akan menempel
pada rerumputan atau tanaman lainnya dan termakan oleh ternak. Manusia umumnya
terinfeksi oleh endospora bakteri ini melalui lesi di kulit, inhalasi atau per oral.
Menghirup spora dari hewan yang sakit, spora antraks yang ada di tanah/rumput dan
lingkungan yang tercemar spora antraks maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan
yang sakit, seperti kulit, daging, tulang, dan darah. Mengkonsumsi daging hewan yang
sakit/mati dan produknya karena antraks dan Pernah dilaporkan melalui gigitan serangga
Afrika yang telah memakan bangkai hewan yang tertular kuman Antraks, serta
Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

2. Pengaruh Lingkungan
Anthraks banyak terdapat di daerah-daerah pertanian, daerah tertentu yang basah
dan lembab, dan juga daerah banjir. Di daerah-daerah tersebut anthraks timbul secara

10
enzootik hampir setiap tahun dengan derajat yang berbeda-beda. Daerah yang terserang
anthraks biasanya memiliki tanah berkapur dan kaya akan bahan-bahan organik.
Di daerah iklim panas lalat pengisap darah antara lain jenis Tabanus dapat
bertindak sebagai pemindah penyakit. Wabah anthraks pada umumnya ada
hubungannya dengan tanah netral atau berkapur yang alkalis yang rnenjadi daerah
inkubator kuman tersebut. Di daerah-daerah tersebut spora tumbuh rnenjadi bentuk
vegetatif bila keadaan lingkungan serasi bagi perturnbuhannya.
3. Sifat Penyakit
Enzootik hampir setiap tahun dengan derajat yang berbeda-beda di daerah-daerah
tertentu. Derajat sakit (morbidity rate) tiap 100.000 populasi hewan dalam ancaman, tiap
propinsi dalam tahun 1975 menunjukan derajat yang paling tinggi di Jambi (530 tiap
100.000) dan terendah di Jawa Barat (0,1 tiap 100.000). Dari laporan itupun dapat
diketahui bahwa 5 (lima) daerah mempunyai derajat sakit lebih rendah dari 5 tiap
100.000 populasi dalam ancaman dan hanya Jambi yang mempunyai angka ekstrim.
4. Distribusi Penyakit
Di Indonesia berita tentang suatu penyakit yang sangat menyerupai anthraks pada
kerbau di daerah Teluk betung dimuat dalam "Javasche Courant" tahun 1884. Kemudian
berita yang lebih jelas tentang berjangkitnya Anthraks di beberapa daerah di Indonesia
di beritakan oleh "Kolonial Verslag" antara tahun 1885 dan 1886. Kemudian antara
tahun 1899 dan 1900 sampai 1914, tahun 1927 sampai 1928, tahun 1930 tercatat
kejadian-kejadian anthraks di berbagai tempat di Jawa dan di luar Jawa.
Insidensi kasus di Indonesia menurut Bulletin Veteriner tahun 1975 di Jabar,
Sultra, NTT dan NTB; tahun 1996 di Jambi, Sultra, Sulsel, NTB, NTT dan Jabar; 1977
di NTB ;1981 di DKI. Jakarta, Jabar, NTT dan NTB; 1982 di NTB, Jatim dan Sulsel;
1983 di DKI Jakarta, NTB, NTT dan Sulsel; 1986 di NTB, Jabar dan Sumbar, 1988 -
1993 di NTB;1991 di Jogya, Bali dan NTB dan 1992 -1994 di NTB.
Kasus anthrak di Jawa Tengah tahun 1990 tercatat 97 kasus pada manusia di
kabupaten marang dan Bojolali, sedang di Jawa Barat pada tahun 1975 -1974 tercatat
36 kasus di kabupaten Kawarang, 30 kasus di kabupaten Purwakarta, di kabupaten
Bekasi 22 kasus pada tahun 1983 dan 25 kasus pada tahun 1985.
Laporan kasus anthraks pada Januari tahun 2000 yang diduga telah terjadi tiga
bulan sebelumnya, menyatakan kasus terjadi pada penduduk desa Ciparungsari
kecamatan Cempaka, kabupaten Purwakarta, Jabar yang menjarah burung unta.

11
(Struthio Camelus) milik P.T. Cisada Kema Suri yang dimusnahkan karena tertular
penyakit anthraks.
Laporan kasus anthraks terakhir terjadi pada tahun 2012 di Kabupaten Boyolali dan
Kabupaten Sragen (Jawa Tengah), Kabupaten Maros dan Kabupaten Takalar (Sulawesi
Selatan), yang menyerang sapi potong dan sapi perah milik peternak.
5. Faktor Predisposisi
Anthraks merupakan penyakit yang menyerang pada hewan menyusui. Faktor-
faktor predisposisi terjadinya anthrak antara lain adalah hewan dalam kondisi
kedinginan, kekurangan makanan, dan juga keletihan dapat mempermudah timbulnya
penyakit. Hal ini terjadi terutama pada hewan-hewan yang mengandung spora yang
bersifat laten.

2.9 Cara Pengobatan Pada Penyakit Anthrax


Pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus antraks inhalasi,
gastrointestinal dan meningitis. Pemberian antibiotik topikal tidak dianjurkan pada antraks
kulit. Antraks kulit dengan gejala sistemik, edema luas, atau lesi di kepala dan leher juga
membutuhkan antibiotic intravena. Walaupun sudah ditangani secara dini dan adekuat,
prognosis antraks inhalasi, gastrointestinal, dan meningeal tetap buruk. B. anthracis alami
resisten terhadap antibiotik yang sering dipergunakan pada penanganan sepsis seperti
sefalosporin dengan spektrum yang diperluas tetapi hampir sebagian besar kuman sensitif
terhadap penisilin, doksisiklin, siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin, sefazolin,
klindamisin, rifampisin, imipenem, aminoglikosida, sefazolin, tetrasiklin, linezolid, dan
makrolid. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin maka kloramfenikol, eritromisin,
tetrasikilin, atau siprofloksasin dapat diberikan. Pada antraks kulit dan intestinal yang
bukan karena bioterorisme, maka pemberian antibiotik harus tetap dilanjutkan hingga
paling tidak 14 hari setelah gejala reda. Oleh karena antraks inhalasi secara cepat dapat
memburuk, maka pemberiaan antibiotik sedini mungkin sangat perlu. Keterlambatan
pemberian antibiotik sangat mengurangi angka kemungkinan hidup. Oleh karena
pemeriksaan mikrobiologis yang cepat masih sulit dilakukan maka setiap orang yang
memiliki risiko tinggi terkena antraks harus segera diberikan antibiotik sambil menunggu
hasil pemeriksaan laboratorium. Sampai saat ini belum ada studi klinis terkontrol mengenai
pengobatan antraks inhalasi. Untuk kasus antraks inhalasi Food and Drug Administration
(FDA) menganjurkan penisilin, doksisiklin, dan siprofloksasin sebagai antibiotik pilihan.
Untuk hewan tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan sebagai berikut :
12
a. Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan (hewan besar 20-30 ml,
hewan kecil 10-1 ml)
b. Penyuntikan antibiotika
c. Penyuntikan kemoterapetika
d. Penyuntikan antiserum dan antibiotika atau antiserum dan kemoterapetika.
Cara penyuntikan antiserum homolog ialah IV atau SC, sedangkan untuk antiserum
heterolog SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul penyakit, disusul dengan vaksinasi.
1. Isolasi Hewan.
1). Hewan penderita Anthrax harus diisolasi agar tidak dapat saling kontak dengan
hewan sehat. Di dekat tempat isolasi digali lubang sedalam 2 meter untuk menampung
sisa pakan, tinja/kotoran lain yang berasal dari kandang/ tempat isolasi hewan sakit.
2). Hewan yang sekandang, sepangonan atau hewan yang digolongkan tersangka
Anthrax diisolasi di kandang/ tempat isolasi tersendiri. Hewan penderita maupun
tersangka Anthrax tidak boleh meninggalkan halaman kandang atau tempat hewan
diisolasi dan hewan-hewan lain tidak boleh dibawa masuk ke tempat tersebut.
2. Vaksinasi

Vaksinasi Anthrax pada kegiatan pengendalian dilakukan berdasarkan ketentuan


sebagai berikut:

1) Pada daerah tertular atau daerah wabah vaksinasi dilakukan terhadap semua jenis
hewan rentan yang terancam antara lain sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan
babi. Sasaran vaksinasi pada daerah lokasi atau kantong wabah 100 % dari seluruh
populasi terancam, sedang pada daerah tertular lainnya minimal 90 % dari populasi
terancam.
2) Pada daerah terancam I yaitu daerah kecamatan yang berada dekat atau berbatasan
langsung dengan daerah tertular atau daerah wabah (kecamatan). Sasaran vaksinasi
adalah 80% populasi hewan rentan yang terancam (kecuali babi).
3) Pada derah terancam II yaitu daerah kecamatan lain yang berbatasan langsung
dengan daerah terancam I dilakukan vaksinasi 80 % populasi hewan besar (kuda,
sapi dan kerbau).
4) Hewan yang divaksinasi Anthrax adalah hewan yang benarbenar sehat, umur di atas
3bulan (khusus babi di atas 3 minggu). Pada induk bunting tua atau menjelang
kelahiran (kebuntingan diatas 8 bulan untuk ternak besar) vaksinasi ditunda dan
dilakukan 3 minggu setelah melahirkan. Meskipun penyuntikan vaksin tidak

13
menimbulkan reaksi pasca vaksinasi, penggunaan harus secara hatihati pada
kambing dan domba karena kadang terjadi kebengkakan ditempat suntikan dan
dapat menimbulkan kematian. Untuk mengantisipasi reaksi shock anafilaksis saat
post vaksinasi kambing dan domba diperlukan obat antihistamin. Dianjurkan
dilakukan vaksinasi pendahuluan pada daerah yang belum pernah divaksinasi
dengan bermacam dosis berkisar 1/2 sampai 1 1/2 dosis anjuran disertai catatan
pengamatan.
5) Vaksin Anthrax yang digunakan adalah vaksin Anthravet produksi Pusat
Veterinaria Farma Surabaya, kemasan 125 ml perbotol dengan kandungan setiap ml
adalah 10 juta Spora Bacillus anthracis Galur 34 F2-Weybridge avirulen non
kapsula dengan pelarut garam faali dan gliserin sama banyak dan mengandung 0,05
% saponin.

3. Desinfeksi
Untuk membunuh kuman yang mencemari lingkungan dilakukan desinfeksi
(pencucian/penghapusan hama) menggunakan desinfektan sebagai berikut:

Penyemprotan desinfektan dilakukan terhadap tempat, peralatan, bahan-bahan antara lain :

1) Kandang dan halamannya atau tempat-tempat dipelihara atau tempat isolasi hewan
sakit, tersangka atau diduga menderita Anthrax minimal setiap 2 minggu sekali.
2) Tempat dimana hewan mati, tanah di atas kuburan dan kendaraan bekas hewan mati
diduga Anthrax serta kendaraan yang keluar masuk lokasi isolasi hewan sakit
dipelihara. Juga tempat-tempat terutama yang berada dekat kandang dimana banyak
lalat atau serangga lainnya yang dapat menyebarkan penyakit.
3) Peralatan yang digunakan setiap hari untuk menangani hewan sakit atau yang
kontak dengan hewan sakit seperti ember, sepatu dan lain-lain. Termasuk peralatan
pemerahan susu dan pembawa susu yang pernah digunakan.
4) Petugas yang melayani hewan sakit (pakaian yang dikenakan) setiap hari/setiap saat
meninggalkan tempat hewan sakit tersebut.
5) Hewan-hewan yang berdasar persyaratan dapat dikeluarkan dari daerah tertular,
maka sebelum dikeluarkan harus disemprot desinfektan terlebih dahulu.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Antraks merupakan penyakit yang terutama menyerang herbivora. Manusia
biasanya menderita antraks akibat kontak langsung atau tidak langsung dengan
binatang atau bahan yang berasal dari binatang yang terinfeksi. Manifestasi klinik
terbesar dari antraks adalah antraks kulit, tersering kedua adalah antraks intestinal,
kemudian antraks pulmonal. Mortalitas antraks cukup tinggi diakibatkan terjadinya
penyebaran kuman secara hematogen dan limfogen yang mengakibatkan septikemia
dan toksemia. Kasus antraks merupakan kejadian alamiah yang muncul secara berulang
dan sulit diprediksi. Kejadian penyakit antraks pada manusia masih sering terjadi
mengikuti kasus antraks pada ternak, dimana perilaku manusia berpengaruh dalam
transmisi penyakit ini. Transmisi antraks ke manusia dipengaruhi oleh kondisi
kehidupan dan praktik budaya yang melekat.

3.2 Saran
Agar penularan langsung antar manusia atau antar binatang dapat dihindari,
maka perlu dilakukan tindakan universal precaution dengan baik. Hal yang penting
untuk mencegah timbulnya antraks pada manusia adalah perlu untuk mengawasi
penyakit antraks pada binatang. Live avirulent animal vaccine cukup efektif dan dapat
mengontrol antraks di daerah endemic. Sebagai upaya lain dalam pencegahan terhadap
manusia, sebaiknya memberikan vaksinasi pada manusia terutama kepada pekerja-
pekerja pabrik yang mempunyai risiko tinggi terkontaminasi dengan produk-produk
binatang. Bahkan di Amerika vaksinasi/immunisasi diberikan pada anggota militer,
berbentuk PA toxoid vaccine dan AVA (Anthrax Vaccine Adsorbed).

15
DAFTAR PUSTAKA

Diarmita. I Ketut, MP. Drh. 2016. PEDOMAN PENGENDALIAN DAN PEMBERANTASAN


PENYAKIT HEWAN MENULAR (PHM). Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Diakses pada 20 Agustus 2019.

Kemenkes. 2017. Surat Edaran Tentang Waspada Penyakit Antraks. Direktorat Jenderal
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Diakses Pada 20 Agustus 2019.

Martindah. Eny. 2017. Faktor Resiko, Sikap dan Pengetahuan Mayarakat Peternak dalam
Pengendalian Penyakit Antraks. WARTAZOA Vol.27 No.3 Hlm.135-144. Diakses
Pada 20 Agustus 2019.

Setya. Rahmat., Natalia. Lily. 2006. Pengendalian Penyakit Antraks: Diagnosis, Vaksinasi dan
Investigasi. Balai Besar Penelitian Veteriner. Diakses Pada 20 Agustus 2019.

Tanzil. Kusnadi. 2013. ASPEK BAKTERIOLOGI PENYAKIT ANTRAKS. Jurnal Ilmiah


WIDYA. Kesehatan dan Lingkungan. Diakses Pada 20 Agustus 2019.

16