Anda di halaman 1dari 11

1.

Pengertian Dan Tujuan Proteksi Radiasi

Proteksi radiasi merupakan cabang ilmu pengetahuan atau teknik yang mempelajari
masalah kesehatan manusia maupun lingkungan dan berkaitan dengan pemberian
perlindungan pada seseorang atau sekelompok orang ataupun kepada keturunannya
terhadap kemungkinan yang merugikan kesehatan akibat adanya paparan radiasi.
Tujuan proteksi radiasi adalah untuk mencegah terjadinya efek deterministik yang
membahayakan dan mengurangi peluang terjadinya efek stokastik (Bapeten, 2002).
Selain itu proteksi radiasi bertujuan melindungi para pekerja radiasi serta masyarakat
umum dari bahaya radiasi yang ditimbulkan akibat penggunaan zat radioaktif atau
sumber radiasi lain (Akhadi, 2000).

2. Prinsip Dasar Proteksi Radiasi

a. Pengaturan waktu

Seorang pekerja radiasi yang berada di dalam medan radiasi akan menerima dosis
radiasi yang besarnya sebanding dengan lamanya pekerja tersebut berada di dalam
medan radiasi. Semakin lama seseorang berada di medan radiasi, akan semakin besar
dosis radiasi yang diterimanya, demikian pula sebaliknya.

b. Pengaturan jarak

Paparan radiasi berkurang dengan bertambahnya jarak dari sumber radiasi. Bila terlalu
dekat pada sumber radiasi, misalnya langsung menyentuh atau memegang sumber
radiasi, maka laju dosis pada tangan berlipat ganda besarnya. Oleh karena itu dilarang
memegang sumber radiasi langsung dengan tangan. Untuk menangani sumber radiasi
diperlukan perlengkapan khusus misalnya tang penjepit atau pinset.

c. Penggunaan perisai radiasi

Untuk penanganan sumber-sumber radiasi dengan aktifitas sangat tinggi, seringkali


pengaturan waktu dan jarak kerja tidak mampu menekan penerimaan dosis oleh
pekerja di bawah nilai batas dosis yang telah ditetapkan (Akhadi, 2000).

Sifat dari bahan perisai radiasi harus mampu menyerap energi radiasi atau
melemahkan intensitas radiasi. Perisai ini dibuat dari timbal dan beton. Ada dua jenis
perisai radiasi yaitu :

1) Perisai primer, memberi proteksi radiasi terhadap radiasi primer (berkas sinar
guna), contoh : tabung sinar-X dan kaca timbal.
2) Perisai sekunder, memberi proteksi radiasi sekunder (sinar bocor dan hambur),
contoh : tabir sarat timbal pada tabir flouroskopi, pakaian proteksi, dan perisai yang
dapat dipindah-pindahkan (Rasad, 1992).

3. Asas-Asas Proteksi Radiasi

Menurut Akhadi (2000), asas proteksi radiasi ada tiga, yaitu :

a. Asas jastifikasi atau pembenaran

Setiap kegiatan yang mengakibatkan paparan radiasi hanya boleh dilaksanakan setelah
dilakukan pengkajian yang mendalam dan manfaatnya lebih besar dibandingkan
dengan kerugiannya.

b. Asas Optimisasi

Asas ini dikenal dengan sebutan ALARA atau As Low As Reasonably Achieveble.
Asas ini menghendaki agar paparan radiasi dari suatu kegiatan harus ditekan serendah
mungkin dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial.

c. Asas pembatasan dosis perorangan

Asas ini menghendaki agar dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dalam
menjalankan suatu kegiatan tidak boleh melebihi nilai batas yang telah ditetapkan
oleh instansi yang berwenang.

4. Proteksi Radiasi Terhadap Pasien, Petugas dan Masyarakat Umum

a. Proteksi radiasi terhadap pasien

Menurut Rasad (1992), proteksi radiasi terhadap pasien dilakukan dengan cara :

1) Pemeriksaan dengan sinar-X hanya dilakukan atas permintaan dokter.

2) Pemakaian perisai maksimum pada sinar primer.

3) Pemakaian teknik kV tinggi.

4) Jarak fokus ke pasien tidak boleh terlalu dekat.

5) Daerah yang disinari harus sekecil mungkin, misalnya dengan mempergunakan


konus atau diafragma.
6) Organ reproduksi dilindungi sebisanya.

7) Pasien yang hamil, terutama trimester pertama tidak boleh diperiksa secara
radiologis.

b. Proteksi radiasi terhadap petugas

Proteksi radiasi untuk petugas menurut Batan III (1985) antara lain :

1) Selama penyinaran berlangsung, petugas berdiri di belakang penahan radiasi.

2) Sedapat mungkin petugas tidak berada dalam kamar pesawat sinar-X pada waktu
dilaksanakan radiografi atau fluoroskopi.

3) Apabila sedang melakukan penyinaran dengan teknik khusus, seorang petugas


mungkin diperlukan berada dalam ruangan. Untuk itu petugas perlu memakai apron
dan sarung tangan proteksi.

c. Proteksi radiasi terhadap masyarakat umum

Dalam batan III (1985) dilakukan usaha proteksi radiasi untuk masyarakat umum
dengan cara :

1) Ketebalan dinding, langit-langit, pintu dan jendela berpenahan radiasi harus


diperhatikan agar masyarakat umum tidak terkena penyinaran.

2) Ruangan untuk ganti pakaian sebaiknya diberi penahan radiasi dan terpisah di luar
ruangan penyinaran.

3) Pintu berpenahan radiasi timbal harus selalu ditutup selama dilakukan penyinaran.

4) Selama penyinaran berlangsung, setiap orang termasuk perawat yang menyertainya


harus berlindung di balik penahan radiasi.

B. Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi Di Ruang Pemotretan

1. Kontruksi Ruang Pemotretan

a. Ukuran ruang

Ukuran minimum ruangan untuk sebuah pesawat sinar-X diagnostik adalah panjang 4
meter, lebar 3 meter dan tinggi 2,8 meter, tidak termasuk ruang opertor dan kabin
pasien (Bapeten, 2002). Hal ini bertujuan untuk menjamin keleluasaan bagi petugas
dalam melakukan pemeriksaan.

b. Dinding

Dinding ruang pemotretan terbuat dari beton yang tebalnya 20 cm atau batu bata
dengan plester yang tebalnya 25 cm, kira-kira setara dengan timbal yang tebalnya 2
mm (Bapeten, 2002).

c. Lantai

Jika ruang pemotretan berada di lantai bawah, maka ketebalan lantai tidak begitu
diperhatikan. Jika berada di lantai atas, maka tebal lantai setara dengan 2 mm timbal,
begitu pula dengan langit-langit ruangan tebalnya setara 2 mm timbal jika di atasnya
dipergunakan (Batan II, 1985)

d. Pintu

Menurut Batan I tahun 1985, pintu dan kusen pintu harus meliputi ketebalan
ekuivalen timbal untuk dinding di sebelahnya, dan timbal pelindung yang melapisi
daun pintu harus menutupi kusen pintu selebar sekurang-kurangnya 1,5 cm, demikian
pula timbal yang melapisi kusen pintu harus menutupi beton atau tembok dinding
yang lebar minimum sama dengan tebal tembok. Pintu dibuat sedemikian rupa
sehingga pasien dengan brankart dapat masuk.

e. Jendela

Jendela harus mempunyai ketinggian sekurang-kurangnya 2 m dari lantai di luar


kamar sinar-X dan sedikitnya 1,6 m dari lantai di dalam kamar sinar-X dan harus
ditempatkan sedemikian sehingga radiasi hambur tidak dapat secara langsung melalui
jendela tersebut masuk ke jendela lain yang berdekatan (Batan III, 1985).

2. Tata Letak Peralatan Sinar-X

Penempatan pesawat sinar-X di berbagai ruangan harus diperhatikan, serta harus


dibuat beban kerja untuk tiap-tiap kamar. Penataan peralatan dibuat sedemikian rupa
sehingga memudahkan petugas bekerja. Menurut Batan III tahun 1985, tindakan
memasang dua unit pesawat dalam satu ruangan akan membahayakan petugas dan
pasien. Untuk itu perlu dipasang lampu peringatan pada masing-masing tabung
penguat sinar-X dan panel pengendali dari generator. Survei radiasi harus dilakukan
maksimal 2 tahun sekali meskipun tidak ada perubahan pada pesawat atau ruangan.
Kamar cuci film harus ditempatkan di tengah-tengah dari bagian radiologi, dan lebih
baik jika berhubungan langsung dengan semua kamar sinar-X dan dengan jalan masuk
yang mudah ke kamar utama sinar-X.

3. Prosedur Kerja di Bagian Radiologi

Prosedur kerja untuk radiografi menurut Batan III (1985) yaitu :

a. Pintu kamar sinar-X harus ditutup sebelum dilakukan penyinaran.

b. Berkas sinar-X tidak boleh diarahkan ke jendela atau panel kontrol dan dinding
kamar gelap.

c. Selama dilakukan penyinaran, semua petugas harus berada di belakang panel


kontrol dengan bahan pelindung radiasi dan mengawasi pasien melalui jendela gelas
timbal.

d. Bila diperlukan pada pasien dipasang gonad shield dan lapangan penyinaran
dibatasi seluas obyek yang dikehendaki.

e. Apabila film atau pasien memerlukan penyangga, maka diusahakan untuk


menggunakan penyangga mekanik.

f. Selama dilakukan penyinaran, tidak boleh ada pasien yang lain yang menunggu atau
ganti pakaian di dalam kamar sinar-X.

g. Jika diperlukan seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama
penyinaran, maka seseorang tersebut harus memakai apron.

4. Spesifikasi Peralatan Proteksi Radiasi

Dalam Bapeten (2002), spesifikasi peralatan proteksi radiasi adalah sebagai berikut:

a. Penahanan Radiasi

1) Penahanan radiasi diletakkan di antara operator dan tabung sinar-X, dan


mempunyai ketebalan minimum yang setara dengan 1,5 mm Pb.

2) Jendela pengamat yang terpasang pada penahan radiasi setidaknya mempunyai


ketebalan yang setara dengan 1,5 mm Pb. Ketebalan yang setara dengan Pb tersebut
harus tertera pada penahan radiasi dan jendela pengamat.

b. Apron Pelindung
Apron pelindung harus mempunyai ketebalan minimum yang setara dengan 0,25 mm
Pb dan ukuran atau rancangannya harus memberikan perlindungan yang cukup pada
bagian badan dan gonad pemakai dari radiasi langsung.

c. Sarung Tangan Pelindung

Sarung tangan pelindung harus mempunyai ketebalan yang setara dengan 0,25 mm Pb
dan rancangannya harus memberikan perlindungan yang cukup dari radiasi langsung
yang mengenai tangan dan pergelangan tangan, dan harus memberikan kemudahan
gerak bagi tangan atau jari.

d. Perisai Gonad (Gonad Shield)

Perisai gonad harus mempunyai ketebalan minimum yang setara dengan 0,5 mm Pb.

e. Pass Box

Kaset pass box yang dimaksudkan dipasang di dinding ruang sinar-X harus
mempunyai perisai dengan ketebalan minimum setara dengan 2 mm Pb.
Rancangannya harus sedemikian rupa sehingga pass box hanya dapat dibuka dari satu
sisi saja.

Justifikasi:

Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber radiasi lainnya harus didasarkan pada azas manfaat. 2.

Optimasi:

Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnya

ALARA

( As Low As Reasonably Achieveable) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. 3.

Limitasi:

Dosis ekivalen yang diterima oleh pekerja radiasi atau masyarakat tidak boleh melampaui Nilai Batas
Dosis (NBD) yang ditetapkan Menurut Surat Keputusan Kepala Bapeten No. 01/Ka-BAPETEN/V-99

Pengertian radiasi eksterna adalah sumber radiasi yang berada di luar tubuh manusia. Cara
pengendalian bahaya radiasi eksterna adalah : Waktu penyinaran; Jarak antara sumber dengan manusia
dan Pemasangan penahan terhadap radiasi pengion.. Tujuan pemasangan penahan radiasi untuk
mengurangi dosis radiasi yang mengenai organ dalam tubuh. Penahan radiasi untuk instalasi sinar–X
dapat dibedakan menjadi 2 jenis

[2]

, yaitu : 1.

Penahan Radiasi Primer merupakan penahan sumber yang dibuat oleh pabrik pembuat tabung berupa
penahan timbal atau besi yang sekaligus berfungsi sebagai rumah atau wadah tabung Sinar–X dan
memberikan proteksi terhadap radiasi primer. Persyaratan penahan radiasi primer harus memenuhi
persyaratan yang direkomendasi NCRP(National council on Radiation Protection & Measurement) yaitu
laju kebocoran pesawat tipe diagnostik pada jarak 1 meter dari fokus tidak melebihi 0,1R/jam, yang
dioperasikan pada arus dan tegangan maksimum. 2.

Penahan Radiasi Sekunder merupakan disain ruangan penyinaran di rumah sakit dengan menggunakan
perhitungan ketebalan yang dibutuhkan. Penahan radiasi sekunder yang disinari terus menerus,
dianggap sebagai penahan radiasi primer Untuk menghitung tebal dinding penahan struktural dari
ruangan (dinding dan pintu), perlu diketahui variabel atau faktor yang berpengaruh

[6]

, yang meliputi : 1.

Tegangan maksimum (kV) saat tabung sinar–X dioperasikan. 2.

Arus maksimum (mA) dari aliran

mnt)-mA / (R TUW d P K

×××=

(1)
dengan , K = Faktor transmisi (R/mA-mnt). P = Penyinaran maksimum mingguan yang diperbolehkan (0,1
R/minggu untuk daerah terkontrol dan 0,01 R/minggu untuk daerah tak terkontrol). d = Jarak dari
sumber ke shielding yang akan dirancang (meter). W = Beban kerja (Workload) (mA. menit/minggu). U =
Faktor penggunaan (Use factor). T = Faktor hunian (Occupancy factor). Tebal dinding dilakukan dengan
menggunakan kurva Cember dari bahan beton atau timbal seperti pada Gambar 2a dan 2b.

Gambar 2a. Pelemahan Sinar-X (50 – 400kVp) Pada Beton (Densitas 2,35 g/cm

) Gambar 2b. Pelemahan Sinar-X (50 – 200kVp) Pada Timbal (Densitas 2,35 g/cm

Dari kurva tersebut, dicari korelasi harga K terhadap tebal dinding sesuai tegangan pesawat sinar X yang
digunakan

Dinding Penahan Radiasi Sekunder Atau Dinding Sekunder

Dinding penahan radiasi hambur Tebal dinding penahan radiasi hambur ditentukan dengan rumus K

ux

(untuk tegangan kurang dari 500 kV ) sebagai berikut :

()()

⎟⎟ ⎠ ⎞⎜⎜⎝ ⎛ ×××× ×××=

minggumenit-mAR/f FTW a 400d d P K

2sec2scaux

(2)

dengan, K

ux

= Perbandingan nilai paparan dengan beban kerja (sekunder). P = Paparan radiasi yang diperbolehkan.
a = Rasio radiasi hambur terhadap radiasi yang membahayakan F = Ukuran medan sebaran (cm

). D

sec
= Jarak penyebar ke titik tertentu (m). D

sca

= Jarak sumber ke kulit pasien (m). T = Faktor hunian.

SEMINAR NASIONAL IV SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 25 - 26 AGUSTUS 2008 ISSN 1978-0176

Djoko Maryanto dkk

683

Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir - BATAN

Dinding penahan radiasi bocor

Tebal dinding radiasi bocor ditentukan dengan menghitung faktor transmisi atau daya serap dinding, Blx
menggunakan rumus :

()

⎟ ⎠ ⎞⎜⎝ ⎛ =××××=

21BTWI600d P B

Lx 2Lx

(3) dengan: B

Lx

= Paparan radiasi bocor. P = Penyinaran maksimum mingguan yang diperbolehkan (0,1R/minggu untuk
daerah terkontrol dan 0,01R/minggu untuk daerah tak terkontrol). d = Jarak dari sumber ke

shielding
yang akan dirancang (meter). W = Beban kerja (

Workload

) (mA.menit/minggu). T = Faktor hunian (

Occupancy factor

). I = Arus Tabung Maksimum (mA) n = x / HVL Tebal dinding radiasi sekunder ditentukan berdasarkan
tebal dinding penahan radiasi hambur (X

) dan tebal dinding penahan radiasi bocor (X

) mengikuti aturan:

1.

Jika [ X

–X

] < 1 TVL, maka tebal dinding sekunder diambil harga yang terbesar antara xh dan xb kemudian
ditambahkan faktor keselamatan sebesar 1 HVL.

2.

Jika [X

–X

] > 1 TVL, maka tebal dinding sekunder cukup diambil dengan harga yang terbesar antara X

h
dan X

Pemantauan radiasi pada prinsipnya adalah kegiatan pengukuran tingkat radiasi di daerah kerja,
biasanya dinyatakan dalam laju dosis radiasi (mrem/jam, µSv/jam, mR/jam). Pemantauan dosis radiasi
harus dilakukan secara terus menerus. Pemantauan perorangan dilakukan dengan jalan memantau
paparan radiasi eksternal, menggunakan dosimeter

https://radiodiagnostik.wordpress.com/2012/05/25/pengukuran-laju-paparan-dosis-radiasi-dan-
pengukuran-kebocoran-tabung-pada-pesawat-sinar-x/

http://fitrahramadani33.blogspot.co.id/2013/05/dasar-proteksi-radiasi.html

http://www.academia.edu/8046006/ANALISIS_KESELAMATAN_KERJA_RADIASI_PESAWAT_SINAR_X_DI_
UNIT_RADIOLOGI_RSU_KOTA_YOGYAKARTA_DJOKO_MARYANTO_SOLICHIN_ZAENAL_ABIDIN