Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1 % penduduk di
dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia
remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki biasanya antara 15-25tahun. Prognosis
biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan.Awitan setelah umur 40
tahun jarang terjadi. (Amir, 2010)
Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka berada
dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama dalam faseresidual yaitu fase
yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama perioderesidual, pasien lebih
menarik diri atau mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat jelas oleh
orang lain. (Amir, 2010). Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan
secara bervariasiterentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten dengan angka tersebut, penelitian
Epidemological
Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National Institue of Mental Helath (NIHM)
melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3 %. (Kaplan dkk, 1997)Skizofrenia adalah sama-
sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan
perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada
wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak
adalah 25 sampai 35 tahun. Onsetskizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah
sangat jarang. (Kaplandkk, 1997).
B. Tujuan
1. Untuk menjelaskan pengertian skizofrenia
2. Untuk menjelaskan sejarah perkembangan skizofrenia
3. Untuk menjelaskan epidemiologi skizofrenia
4. Untuk menjelaskan penyebab skizofrenia
5. Untuk menjelaskan jenis jenis skizofrenia
6. Untuk menjelaskan kriteria diagnostic skizofrenia
7. Untuk menjelaskan teori teori penyebab skizofrenia
8. Untuk menjelaskan prognosis penderita skizofrenia
9. Untuk menjelaskan jenis jenis terapi penderita skizofrenia
10. Untik menjelaskan pengertian psikotik disorder
11. Untuk menjelaskan pembagian psikotik disorder
12. Untuk menjelaskan penyebab psikotik disorder
13. Untuk menjelaskan prognosa psikotik disorder
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksut dengan skizofrenia
2. Jelaskan sejarah perkembangan skizofrenia
3. Jelaskan epidemiologi skizofrenia
4. Jelaskan penyebab skizofrenia
5. Jelaskan jenis jenis skizofrenia
6. Jelaskan kriteria diagnostic skizofrenia
7. Jelaskan teori teori penyebab skizofrenia
8. Jelaskan prognosis penderita skizofrenia
9. Jelaskan jenis jenis terapi penderita skizofrenia
10. Jelaskan pengertian psikotik disorder
11. Jelaskan pembagian psikotik disorder
12. Jelaskan penyebab psikotik disorder
13. Jelaskan prognosa psikotik disorder
BAB II
TINJAUAN TEORI
a. Pengertian skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir
serta disharmonisasi antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi
kenyataaan terutama karena waham dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi sehingga muncul
inkoherensi, afek dan emosi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan
perilaku bizar (Maramis, 2009). Skizofrenia berasal dari dua kata “skizo” yang berarti retak atau
pecah (split), dan ”frenia” yang berarti jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita
gangguan jiwa skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan atau keretakan kepribadian
(splitting of personality).
(Hawari, 2001)

b. Sejarah perkembangan istilah scizofrenia

Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri dan
neurologi yang berperan. Mula-mula Emil Kreaplin (18-1926) menyebutkan gangguan dengan
istilah dementia prekok yaitu suatu istilah yang menekankan proses kognitif yang berbeda dan
onset pada masa awal. Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (1857-
1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emmosi dan perilaku pada
pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia
yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.
Istilah skizofrenia sendiri baru muncul pada tahun 1911 oleh seorang psikiater asal swiss
yang bernama Eugen Bleuler. Skozofrenia berasal dari bahasa yunani skizofreia berarti otak yang
terpotong atau terbelah, perngertian skizofrenia tidak sama dengan gangguan identitas disasosiatif
atau bipolar disorder. Kedua gangguan psikologi tersebut berbeda. Orang yang mengalami bipolar
disorder menunjukkan2 atau lebih kepribadian lain. Namun, kepribadian-kepribadian tersebut
biasanya menunjukkan fungsi kognisi, afeksi, dan perilaku yang lebih terintegrasi dengan baik
disbanding dengan skizofrenia. Dalam skizofrenia, pemecahan ini memisahkan fungsi kognisi,
afeksi, dan tingkah laku, sehingga mungkin kurang terdapat kesesuaian antara pemikiran dan
emosi atau antara persepsi seseorang tentang realitas dan apa yang benar-benar terjadi
c. Epidemiologi scizofrenia

Insidensi skizofrenia adalah antara 15 sampai 30 kasus baru per 100.000 populasi per
tahun.prevalensi titik kurang dari 1%. Terdapat risiko seumur hidup terjadinya skizofrenia sekitar
1% pada populasi umum.

Usia awitan biasanya antara 15 dan 45 tahun, dengan usia awitan rerata lebih dini pada
laki-laki daripada perempuan.

Rasio jemis kelamin sama, yaitu, skizofrenia terjadi sama seringnya pada laki-laki dan
perempuan. Insidensi skizofrenia lebih tinggi pada mereka yang tidak menikah.

Skizofrenia juga diketahui paling sering terjadi pada golongan sosial IV dan V. hal tersebut
dapat disebabkan oleh social drift (penyimpangan sosial):orang tua pasien dengan skizofrenia
mempunyai distribusi.

(Huriawati Hartanto, 2001)

D. Penyebab skizofrenia

1. faktor genetic, belum terindentifikasi secara spesifik, namun pengaruh lokasi kromosom pada
gen dengan kromosom berhubungan dengan terjadinya skizofrenia

2. faktor keturunan atau bawaan merupakan faktor penyebab yang tidak besar pengaruhnya bagi
munculnya gangguan skizofrenia.

3. ketidakseimbangan neurotransmitter (dopamine dan glutamat).

4. faktor lingkungan seperti kekurangan gizi selama kehamilan, masalah dalam proses kelahiran,
stress pada ondisi lingkungan, dan stigma (penyebab kekambuhan pasien skizofrenia).

(Jakarta:EGC,2011)

e. Jenis - Jenis Skizofrenia


1) Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama ialah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir biasanya sukar
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbul secara perlahan.
Pada permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri
dari pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan atau pelajaran dan pada
akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia akan
mungkin akan menjadi “pengemis”, “pelacur” atau “penjahat” (Maramis, 2008).

2) Skizofrenia hebefrenik
Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis (2008) permulaannya
perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15–25 tahun. Gejala yang
menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.
Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini.
Waham dan halusinasi banyak sekali.

3) Skizofrenia katatonik Menurut Maramis (2008)


Skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya pertama kali antara umur 15-30
tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh
gelisah katatonik atau stupor katatonik.
a. Stupor katatonik Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali
terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau perlahan-lahan
penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.
b. Gaduh gelisah katatonik Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik,
tapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari
luar.

4) Skizofrenia Paranoid
Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan katatonia
sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala campuran
hebefrenia dan katatonia. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya
agak konstan .(Maramis, 2008).
5) Episode skizofrenia akut
Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar
dan dirinya sendiri berubah. Semuanya seakan-akan mempunyai arti yang khusus baginya.
Prognosisnya baik dalam waktu beberapa minggu atau biasanya kurang dari enam bulan
penderita sudah baik. Kadangkadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang, maka timbul
gejala-gejala salah satu jenis skizofrenia yang lainnya (Maramis, 2008).

6) Skizofrenia residual
Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya
Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah
beberapa kali serangan skizofrenia (Maramis, 2008).

7) Skizofrenia skizoafektif
Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol secara
bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk
menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis, 2008).

f. kriteria diagnostic skizofrenia


jenis skizofrenia menurut diagnostic statistic gangguan mental DSM-IV-TR (2000):
 skizofrenia tipe paranoid, ditandai dengan :
1. perasaan dianiaya atau dimata-matai
2. delusi kebesaran
3. halusinasi kesalahan yang berlebihan
4. kadang-kadang tingkah agresi atau bermusuhan
 skizofrenia tipe disorganisasi, ditandai dengan :
1. efek yang tidak tepat atau efek datar
2. bicara tidak jelas (inkhoheran)
 skizofrenia tipe katatonik ditandai dengan,
1. gangguan psikomotor yang hebat.
2. klien kaku dan tidak bergerak sama sekali (imobilisasi) atau ada gerakan motoris
yang berlebihan
3. gerakan motoris yang berlebihan ini tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh
stimulasi luar
4. cirri-ciri yang lain adalah negativisme yang berlebihan, mutisme, ekolalia
(mengulang-ulang tanpa disadari kata-kata yang diungkapkan orang lain ) dan
ekspraksis (meniru gerak-gerik orang yang dilihatnya tanpa tujuan)

G. teori-teori tentang penyebab skizofrenia

ada beberapa teori penyebab yang dikaitkan dengan skizofrenia yaitu :

a. Faktor genetika
Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat umum 1%, pada
orang tua 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak 15%-20%, apabila salah satu orang
tua menderita skizofrenia, walaupun anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak
dari kedua orang tua skizofrenia 30-40%. Pada kembar monozigot 40% -50%, sedangkan
untuk kembar dizigot sebesar 5%-10%. Dari penelitian epidemologi keluarga terlihat bahwa
resiko untuk keponakan adalah 3%, masih lebih tinggi dari populasi umum yang hanya 1%.
Demikian juga dari penelitian anak adopsi dikatakan anak penderita skizofrenia yang
diadopsi orang tua normal, tetap resiko 16,6% , sebaliknya anak sehat yang diadopsi
penderita skizofrenia resiko 1,6%, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin dekat
hubungan keluarga biologis semakin tinggi resiko terkena skizofrenia (Tomb, 2004).

b. Faktor biologis dan biokimia


Dari factor biologis dikenal suatu hipotesis dopamine yang menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan dibagian kortikal otak, dan
berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan
pentingnya neurotransmitter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate dan GABA.
Selain perubahan yang sifatnya ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran lateral
ventrikel, antropi koreteks atau atropi otak kecil (cerebellum), terutama pada penderita kronis
skizofrenia (Hawari,2001).

c. Faktor psikososial
1) Teori perkembangan
Ahli teori seperti Freud, Sullivin, dan Erikkson mengemukakan bahwa kurangnya
perhatian yang hangat dan penuh kasih saying di awal tahun kehidupan berperan dalam
menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri
dari hubungan social pada penderita skizofrenia (Isaacs, 2005).
2) Teori belajar
Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang kemudian menderita
skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berfikir irasional orang tua yang mungkin
memiliki masalah emosional yang bermakna.Hubungan interpersonal yang buruk dari
penderita skizofrenia akan berkembang karena mempelajari model yang buruk selama
anak-anak
3) Teori keluarga
Teori-teori ini yang berkaitan dengan peran keluarga dalam munculnya skizofrenia belum
divalidasi dengan penelitian. Bagian fungsi keluarga yang diimplikasikan dalam
peningkatan kekambuhan
penderita skizofrenia antara lain :
a) Faktor keluarga
Faktor keluarga yang dimaksutkan adalah factor stress yang dialami anak dan remaja
yang disebabkan kondisi keluarga yang tidak baik yaitu:
1. Hubungan kedua orang tua yang dingin atau penuh
2. ketegangan
3. Kedua orang tua jarang dirumah dan tidak ada waktu untuk
4. bersama dengan anak-anak.
5. Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak baik.
6. Kedua orang tua berpisah atau bercerai
7. Kematian salah satu atau kedua orang tua
b) Emosi yang diekspresikan atau disingkat EE (Expressed Emotion).
Dimana keluarga sering mengekspresikan emosi secara berlebihan denngan sikap kurang
sabar, bermusuhan, pemarah, keras, kasar, kritis dan otoriter (Chandra, 2005).
c) Status social ekonomi
Beberapa ahli teori telah menyatakan bahwa industrialisasi, urbanisasi dan status ekonomi
yang rendah sangat kuat hubungannya dengan skizofrenia. Itu sebabnya banyak penderita
yang dijumpai pada masyarakat golongan menengah kebawah.
d) Stres
Karena bervariasinya presentasi sintom dan prognosis skizofrenia, maka tidak ada factor
etiologic tunggal yang menyebabkan timbulnya skizofrenia. Ada model yang
mengintegrasikan factor biologis, factor psikososial dan factor lingkungan adalah model
stress diathesis. Model ini menyatakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu
kerentaan spesifik (diatesis) terhadap stress yang memungkinkkan berkembang menjadi
simtom skizofrenia. Model interaksional yang mengatakan bahwa penderita skizofrenia
mempunyai kerentanan genetic dan biologic terrhadap stress dan dianggap penyebab
utama dalam menentukan onset dan keparahan penyakit.
e) Kepribadian premorbid
Indikator premorbid (sebelum sakit) pada anak preskizofrenia antara lain ketidakmampuan
anak mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh dan
penyimpangan komunikasi seperti anak sulit melakukan pembicaraan terarah. Sedangkan
pada remaja perlu diperhatikan kepribadian premobid seperti kepribadian paranoid atau
curiga berlebihan, menganggap semua orang musuh, juga kepribbadian skizoid yaitu emosi
dingin, kurang mampu bersifat hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyindiri
(Chandra, 2005)
f) Rokok dan penyalahgunaan napza
Gangguan schizoid dapat dicetuskan atau disebabkan oleh penggunaan kanabis ganja,
gelek, marijuana (Chandra, 2005).
H. prognosis penderita scizofrenia
Permulaan nya mungkin tiba-tiba atau perlahan dan tidak diketahui tetapi kebanyakan dari klien
menujukkan gejala dan tanda seperti menarik diri, bertingkah aneh, hilang minat untuk belajar,
atau sekolah dan hygineprsonal yang terlaikan. Diagnosis scizofrenia ditentukan dengan adanya
delusi, halusinasi, pkiran terganggu dan tidak sesuai realitas (psikosis).
Umur klien pada waktu timbul gejala penyakit merupakan faktor yang penting dalam
prognosis penyakit. Mereka yang menunjukan gejala pada umur masih muda, mendapat prognosis
yang lebih jelak. Mereka ini juga mengalami gangguan kognitif yang lebih berat. Sama juga
mereka yang mengalami awitan penyakit dengan pelan cenderung untuk mengalami gejala
penyakit dalam jangka waktu yang lebih panjang, dibandingkan dengan mereka yang mengalami
gejala secara tiba-tiba dan akut ( buchanana&carpenter, 2000). Sekitar 30% dari klien dengan
scizofrenia mengalami eksaserbasi satu tahun setelah serangan akut yang pertama.
Dalam beberapa tahun setelah awitan gejala psikotis, ada dua pola klinis yang muncul
yaitu,
 pola yang klien mengalami gejala psikosis yang berlangsung terus sekalipun beratnya
gejala berkurang
 pola yang klien mengalami serangan gejala psikotis, tetapi dia juga mengalami peroide
tanpa adnya gejala psikotis.
Pada perjalanan jangka panjang, intensitas dari psikosis cenerung berkurang sesuai dengan
pertambahan usia klien. Kebanyakan klien memperoleh kembali sebagian kemampuan mereka
untuk melakukan fungsi sosial maupun pekerjaan mereka sehari-hari.
Obat-obatan anti psikosis mempunyai peranan sangat penting dalam pengendalian gejala
psikosis. Obat-obat ini tidak menyembuhkan penyakit skizofrenia, tetapi sangat menentukan
keberhasilan dalam menangani jalanya. Diagnosis yang cepat dan tepat serta pengobatan yang
agresif pada awitan skizofrenia memberi hasil yang memuaskan.
(laresn et al,2001).
i. Jenis Jenis terapi Penderita Skizofrenia
Pengobatan.

Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental.Terapist jangan
melihat kepada penderita skizofrenia sebagai penderita yang tidak dapat disembuhkan lagi atau
sebagai suatu mahluk yang aneh dan inferior. Bila sudah dapat diadakan kontak, maka dilakukan
bimbingan tentang hal-hal yang praktis. Biarpun penderita mungkin tidak sempurna sembuh, tetapi
dengan pengobatan dan bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus,
bekerja sederhana di rumah ataupun di luar rumah. Keluarga atau orang lain di lingkungan
penderita diberi penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.

1. Farmakoterapi.

Neroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan skizofrenia yang
menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita dengan psikomotorik
yang meningkat. Pada penderita paranoid trifluoperazin rupanya lebih berhasil. Dengan fenotiazin
biasanya waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2 - 3 minggu. Bila tetap masih ada waham dan
halusinasi, maka penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut
serta dengan kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja. Sesudah gejala-gejala
menghilang, maka dosis dipertahankan selama beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang
pertama kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah lebih dari satu kali, maka sesu dah gejala-gejala
mereda, obat diberi terus selama satu atau dua tahun.

Kepada pasien dengan skizofrenia menahun, neroleptika diberi dalam jangka waktu yang tidak
ditentukan lamanya dengan dosis yang naik-turun sesuai dengan keadaan pasien (seperti juga
pemberian obat kepada pasien dengan penyakit badaniah yang menahun, umpamanya diabetes
mellitus, hipertensi, payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita harus awas terhadap gejala
sampingan. Hasilnya lebih baik bila neroleptika mulai diberi dalam dua tahun pertama kesem dari
penyakit Tidak ada dosis standard untuk obat ini, tetapi dosis rtimbang secara individual. Lihat
bab 20.2.1. Pengobatan psikotropik.

2.Terapi elektro-konvulsi (TEK)

Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya elektrokonvulsi belum diketahui
dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia
dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan
yang akan datang.
Bila dibandingkan dengan terapi koma insulin, maka dengan TEK lebih sering terjadi serangan
ulangan. Akan tetapi TEK lebih mudah diberikan, dapat dilakukan secara ambulant, bahaya lebih
kurang, lebih murah dan tidak memerlukan tenaga yang khusus seperti pada terapi koma insulin.
TEK baik hasilnya pada jenis katatonik skizofrenia simplex efeknya mengecewakan; bila gejala
hanya ringan lantas diberi TEK, kadang-kadang gejala menjadi lebih berat. terutama stupor.
Terhadap Tentang TEK, silakan pula melihat bab 20.2.2. Terapi elektrokonvulsi.

3. Terapi koma insulin.

Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit, hasilnya
memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah
penderita jatuh sakit. Terapi koma insulin memberi hasil yang baik pada katatonia dan skizofrenia
paranoid

4. Psikoterapi dan rehabilitasi

Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisa tidak membawa hasil yang diharapkan bahkan ada yang
berpendapat tidak boleh dilakukan pada penderita dengan skizofrenia karena justru dapat
menambah isolasi dan otisme. Yang dapat membantu penderita ialah psikoterapi suportif
individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan
penderita ke masyarakat.

Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain,
perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi, karena bila ia menarik diri
ia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau
latihan bersama. Pemikiran masalah falsafat atau kesenian bebas dalam bentuk melukis bebas atau
bermain musik bebas, tidak dianjurkan sebab dapat menambah otisme. Bila dilakukan juga, maka
harus ada pemimpin dan ada tujuan yang lebih dahulu sudah ditentukan. Perlu juga diperhatikan
lingkungan penderita. Bila mungkin diatur sedemikian rupa sehingga ia tidak mengalami stress
terlalu banyak Bila mungkin sebaiknya ia dikembalikan ke pekerjaan sebelum sakit, dan
tergantung pada kesembuhannya apakah tanggung jawabnya dalam pekerjaan itu akan penuh atau
tidak.

5.Lobotomi prefrontal.
Dapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat
mengganggu lingkungannya.

jadi prognosa skizofrenia tidak begitu buruk seperti dikira orang sampai dengan pertengahan abad
ini. Lebih-lebih dengan neroleptika, lebih banyak penderita dirawat di luar rumah sakit jiwa. Dan
memang seharusnya demikian. Sedapat-dapatnya penderita harus tinggal di lingkungannya
sendiri, harus tetap melakukan hubungan dengan keluarganya untuk memudahkan proses
rehabilitasi. Dalam hal ini dokter umum dapat memegang peranan yang penting melakukan
hubungan dengan mengingat juga kekurangan ahli kedokteran jiwa di negara kita. Dokter umum
lebih mengenal penderita dengan lingkungannya, keluarganya, rumahnya dan pekerjaannya,
sehingga ia lebih dapat menolong penderita hidup terus secara wajar dengan segala suka dan
dukanya.

(W.F Maramis,1980)

j. Pengertian Psikotik Disorder

adalah kondisi pikiran yang tidak normal yang mengakibatkan kesulitan menentukan apa yang
nyata dan apa yang tidak. Gejalanya mungkin termasuk delusi halusinasi. Gejala lain mungkin
termasuk ucapan dan perilaku tidak koheren yang tidak sesuai untuk situasi tersebut. Mungkin
juga ada masalah tidur, penarikan sosial, kurangnya motivasi, dan kesulitan melakukan kegiatan
sehari hari.
(J, boller F,2005)
k. Pembagian Psikotik Disorder
a. Psikotik Akut
Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
1) Mendengar suara – suara yang tidak ada sumbernya.
2) Keyakinan dan ketakutan yang aneh atau tidak masuk akal.
3) Kebingungan atau disorientasi.
4) Perubahan perilaku menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri, kecurigaan
berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta
marah – marah atau memukul tanpa alasan.
b. Psikotik Kronik
Untuk menetapkan diagnosa medik psikotik kronik data berikut merupakan perilaku
utama yang secara umum ada.
1) Penarikan diri secara sosial.
2) Minat atau motivasi rendah dan pengabaian diri.

3) Gangguan berpikir (pembicaraan yang tidak nyambung atau aneh).

4) Perilaku aneh seperti apatis, menarik diri, tidak memperhatikan kebersihan

i. Penyebab Psikotik Disorder


Adapun faktor – faktor penyebab gangguan psikotik antara lain :
a. Faktor organo – biologik
1) Genetik (heredity)
Adanya kromosom tertentu yang membawa sifat gangguan jiwa (khususnya pada
skizofrenia). Hal ini telah dipelajari pada penelitian anak kembar, dimana pada anak
kembar monozigot (satu sel telur) kemungkinan terjadinya skizofrenia persentase
tertinggi 86,2%, sedangkan pada anak kembar dengan dua sel telur (heterozigot)
kemungkinannya hanya 14,5%.
2) Bentuk Tubuh (konstitusi)
Kretschmer (1925) dan Sheldon (1942), meneliti tentang adanya hubungan antara
bentuk tubuh dengan emosi, temperamen dan kepribadian (personality).
Contohnya, orang yang berbadan gemuk emosinya cendrung meledak – ledak, ia bisa
lompat kegirangan ketika mendapat hal yang menyenangkan baginya dan sebaliknya.
3) Terganggunya Otak Secara Organik
Contohnya, Tumor, trauma (bisa disebabkan karena gagar otak yang pernah dialami
karena kecelakaan), infeksi, gangguan vaskuler, gangguan metabolisme, toksin dan
gangguan cogenital dari otak
4) Pengaruh Cacat Cogenital
Contohnya, Down Syndrome (mongoloid).
5) Pengaruh Neurotrasmiter
Yaitu suatu zat kimia yang terdapat di otak yang berfungsi sebagai pengantar implus
antar neuron (sel saraf) yang sangat terkait dengan penelitian berbagai macam obat –
obatan yang bekerja pada susunan saraf.
Contohnya, perubahan aktivitas mental, emosi, dan perilaku yang disebabkan akibat
pemakaian zat psikoaktif.
b. Faktor Psikologik
1) Hubungan Intrapersonal

a) Inteligensi.
b) Keterampilan
c) Bakat dan minat.
d) Kepribadian.
2) Hubungan Interpersonal
a) Interaksi antara kedua orang tua dengan anaknya.
b) Orang tua yang over protektif.
c) Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
d) Peran ayah dalam keluarga.
e) Persaingan antar saudara kandung.
f) Kelahiran anak yang tidak diharapkan.
c. Faktor Sosio – Agama
1) Pengaruh Rasial
Contohnya, adanya pengucilan pada warga berkulit hitam di negara Eropa.
2) Golongan Minoritas
Contohnya, pengucilan terhadap seseorang atau sekelompok orang yang menderita
penyakit HIV.
3) Masalah Nilai – Nilai yang Ada dalam Masyarakat.
4) Masalah Ekonomi
Contohnya, karena selalu hidup dalam kekurangan seorang ibu menganiyaya anaknya.
5) Masalah Pekerjaan.
6) Bencana Alam.
7) Perang.
Contohnya, karena perang yang berkepanjangan seorang anak menjadi stress.
8) Faktor Agama atau religius baik masalah intra agama ataupun inter agama.
Contoh, perasaan bingung dalam keyakinan yang dialami seorang anak karena
perbedaan keyakinan dari orang tuanya.
m. Prognosa Psikotik Disorder

Berbagai studi memiliki pendapat berbeda mengenai prognosis gangguan psikotik,


namun secara umum pasien memiliki risiko kekambuhan di masa kehidupan selain kemampuan
kembali pada fungsi premorbid.

Meskipun secara teori dinyatakan bahwa pada kondisi gangguan psikotik akut akan
kembali pada fungsi premorbid, tetapi gangguan psikotik juga dapat mengalami kekambuhan
atau berkembang menjadi gangguan psikotik kronis seperti schizophrenia. Kondisi ini lebih
sering terjadi pada pasien gangguan psikotik dengan gejala dominan halusinasi atau waham.
Studi yang dilakukan selama 9 tahun pada pasien gangguan psikotik menemukan tingkat
kekambuhan sekitar 50%, terutama pada pasien dengan gejala dominan waham.

(Castagnini, A., & Foldager, L,2014)


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Skozofrenia adalah salah satu gangguan mental yang disebut psikosis, pasien psikotik tidak dapat
mengenali atau tidak memiliki kontak dengan realitas yangditandai dengan gangguan utama dalam
pikiran emosi,
bizzare,
dan mengalami)aham dan halusinasi. Simtom klinis utama skizofrenia digolongkan dalam
tigakategori ; positif, negative dan disorganisasi, dan beberapa simtom yang tidak cukup sesuai
untuk digolongkan kedalam ketiga kategori tersebut. Setiadimenggolongkan etiologi skizofrenia
ke dalam dua pendekatan, yaitusomatogenesis dan psikogenesis.Penanganan bagi penderita
skizofrenia beragam baik menggunakan obat-obatan, maupun psikososial, tidak ada pendekatan
penanganan tunggal yang
memenuhi semua kebutuhan orang yang menderita skizofrenia, konseptual terapi.Pera)atan
kontemporer cenderung menyeluruh, menggabungkan antara pendekatan psikofarmakologis dan
psikososial.
B. SARAN
Bagi keluarga, mencari berbagai referensi dan pengetahuan tentangskizofrenia dan berperan serta
dalam memberikan dukungan kepada penderitaskizofrenia. Bila perlu, keluarga meminta bantuan
professional dari pihak-pihak yang terkait, seperti bidang medis, psikologi, dan kerohanian. Bagi
pemerintah dan bidang kesehatan, meningkatkan layanan dan penanganan lebih baik kepada para
penderita psikosis, termasuk penderitaskizofrenia.
DAFTAR PUSTAKA
Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri (Edisi VI). Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran :
EGC

Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stress Cemas Dan Depresi. Jakarta:FKUI

Ann Isaacs,2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatri. Edisi 3. Jakarta :EGC

Chandra, Budiman. 2005. Penghantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran. EGC

Maramis, W.F.2008. catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press.

Morgan H.G & Morgan M.H. 1991.Segi Praktis Psikiatri Edisi Kedua. Jakarta: Bina Rupa
Aksara