Anda di halaman 1dari 24

Nopianti Megarezky

Kamis, 02 Februari 2012


KTI Hiperemesis Gravidarum Tingkat II

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY . ”H” DENGAN


HIPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT II
DI RSUD TENRIAWARU KELAS B KAB.BONE
TANG\AL 24 JUNI S/D 26 JUNI 2011

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan


Pendidikan Ahli Madya Kebidanan di Akademi Kebidanan Batari Toja Watampone
Tahun 2011

NOPIANTI AMAL
BT. 08 246

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN


AKBID BATARI TOJA WATAMPONE
2011
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum tentang Kehamilan

2.1.1 Pengertian Kehamilan

Menurut Schiffmann dan Bello (1986), kehamilan terjadi ketika ovum dan sperma bertemu

dalam tuba fallopi, kemudian masuk ke dalam uterus dan mulai membelah menjadi embrio. Sel

yang tertanam (embrio) merupakan materi genetik, yaitu setengah berasal dari ayah dan setengah

dari ibu. Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan

kelahiran (38 minggu dari pembuahan).7

Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus di dalam

tubuhnya. Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan

kelahiran (38 minggu dari pembuahan).8

2.1.2 Perubahan Fisiologis Kehamilan

a. Uterus

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan

progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi

otot polos dan uterus, disamping itu serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik

akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.

Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus

menjadi 1000 gram dengan panjang kurang lebih 20 cm dan dinding kurang lebih 2,5 cm,

hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain
untuk membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologik atau hamil ganda, atau

mungkin menderita penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.

b. Serviks Uteri

Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jika korpus

uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan

ikat, hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks banyak mengandung kolagen.

Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi

serviks menjadi lunak.

Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih

banyak. Kadang-kadang wanita hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak.

Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang fisiologi.

c. Vagina dan Vulva

Vagina dan vulva akibat pengaruh hormon estrogen mengalami perubahan. Adanya

hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan

(livide). Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna portio pun tampak livide. Pembuluh-

pembuluh darah alat genitalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena

oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genitalia tersebut meningkat. Apabila terdapat kecelakaan

pada kehamilan atau persalinan, maka perdarahan akan banyak sekali sampai dapat

mengakibatkan kematian.

d. Ovarium

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya

plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter 3 cm,
korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini

diambil alih oleh plasenta.

e. Mammae (payudara)

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon somatomammatropin, estrogen dan

progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan air susu. Estrogen menimbulkan hipertropi sistem

saluran, sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada mamma. somatomammatropin

mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga

terjadi pembuatan kasein, laktalbumin, dan laktoglabulin.

Dengan demikian, mamma dipersiapkan untuk laktasi. Disamping itu, dibawah pengaruh

progesteron dan somatomammatropin, terbentuk lemak disekitar kelompok-kelompok alveolus

sehingga mamma menjadi lebih besar.

f. Sirkulasi Darah

Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus

yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamma dan alat-alat

lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Volume darah ibu dalam kehamilan

bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume

darah akan bertambah banyak, kira-kira 25% dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti

dengan kardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%. Akibat hemodilusi tersebut yang

dimulai pada kehamilan 16 minggu, ibu yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam

keadaan dekompensasi kordis.

g. Sistem Respirasi

Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa

sesak dan pendek napas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu keatas. Oleh karena usus-
usus tertekan oleh uterus yang membesar kearah diafragma sehingga diafragma kurang leluasa

bergerak.

Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita hamil

bernafas lebih dalam dan bagian bawah toraksnya juga melebar kesisi, yang sudah partus

kadang-kadang menetap jika tidak dirawat dengan baik.

h. Perubahan Pada Sistem Pencernaan

Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea). Mungkin ini akibat

kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun, sehingga

motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada didalam

lambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus-usus. Gejala muntah

(emesis) biasanya terjadi pada pagi hari yang biasa dikenal dengan morning sickness.

i. Perubahan Pada Traktus Urinarius

Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang membesar dan

akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul sehingga timbul sering

kencing. Disamping sering kencing terdapat pula poliuria.

Poliuria disebabkan oleh adanya peningkatan sirkulasi darah diginjal pada kehamilan,

sehingga filtrasi glomerulus juga meningkat sampai 6%. Reabsorpsi di tubulus tidak berubah,

sehingga lebih banyak dapat dikeluarkan urea, asam uric, glukosa, asam amino, asam folik dalam

kehamilan.

j. Perubahan Pada Kulit

Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini

disebabkan oleh pengaruh Melanophore Stimulating Hormone (MSH) yang meningkat, kadang-
kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung yang dikenal sebagai kloasma

gravidarum.

Di daerah leher sering terdapat hiperpigmentasi yang sama, juga di areola mamma. Linea alba

pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea grisea. Tidak jarang dijumpai kulit seolah-

olah retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan, disebut striae livide. Setelah

partus striae livide berubah warna menjadi putih, disebut striae albikantes. Pada seorang

multigravida sering tampak striae livide bersamaan dengan striae albikantes.

k. Perubahan Metabolisme

Pada wanita hamil Basal Metabolic Rate (BMR) meninggi (15-20%). Sistem endokrin juga

meninggi dan tampak jelas kelenjar gondoknya (glandula tireodea). Kalori yang dibutuhkan

untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran hidrat arang, khususnya sesudah umur kehamilan

20 minggu keatas. Akan tetapi bila dibutuhkan dipakailah lemak itu untuk mendapat tambahan

kalori dalam pekerjaan sehari-hari.

Janin membutuhkan 30-40 gram kalsium untuk pembentukan tulang-tulangnya terutama pada

trimester terakhir. Makanan tiap harinya diperkirakan telah mengandung 1,5-2,5 gram kalsium.

Diperkirakan 0,2-0,7 gram kalsium tertahan dalam badan untuk keperluan selama hamil.

Fosfor, magnesium, dan tembaga lebih banyak tertahan selama hamil daripada tidak hamil.

Kadar tembaga dalam plasma meningkat dari 109-222 mcg per 100 ml, akan tetapi dalam

eritrosit kadarnya tetap. Kebutuhan zat besi sekitar 800 mg. sebaiknya diet wanita hamil

ditambah dengan 30-50 mg besi sehari, ini dapat diberikan sebagai sulfas ferrosus atau glukonas

ferrosus sesudah makan.

Berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg rata-rata 12,5 kg. kenaikan

ini terutama pada kehamilan 20 minggu terakhir. Kenaikan berat badan dalam kehamilan
disebabkan oleh hasil konsepsi seperti fetus, plasenta, dan likuor amnii serta dari ibu sendiri

seperti uterus dan mammae yang membesar, volume darah yang meningkat, lemak dan protein

lebih banyak dan akhirnya adanya retensi urin.5

2.1.3 Perubahan Psikologis Kehamilan

a. Trimester Pertama

Segera setelah terjadi peningkatan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Maka akan

muncul berbagai macam ketidaknyamanan secara fisiologis pada ibu misalnya mual muntah,

keletihan, dan pembesaran pada payudara. Hal ini akan memicu perubahan psikologis seperti :

1. Ibu akan membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan

kesedihan.

2. Mencari tahu secara aktif apakah memang benar-benar hamil dengan memperhatikan perubahan

pada tubuhnya dan sering kali memberitahukan orang lain apa yang dirasakannya.

3. Hasrat melakukan seks berbeda-beda pada setiap wanita. Ada yang meningkat libidonya, tetapi

ada juga yang mengalami penurunan.

4. Sedangkan bagi suami sebagai calon ayah akan timbul kebanggaan, tetapi bercampur dengan

keprihatinan akan kesiapan untuk mencari nafkah bagi keluarga.

b. Trimester Kedua

Ibu merasa sehat dan sudah terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi, serta rasa tidak

nyaman akibat kehamilan sudah mulai berkurang. Perut ibu pun belum terlalu besar sehingga

belum dirasakan ibu sebagai beban. Ibu sudah menerima kehamilannya dan dapat mulai

menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat

merasakan gerakan janinnya.

c. Trimester Ketiga
Biasa disebut periode menunggu dan waspada sebab pada saat itu ibu tidak sabar menunggu

kehadiran bayinya. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-

waktu, ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya. Rasa tidak nyaman akibat

kehamilan timbul kembali dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek.9

2.1.4 Diagnosis Kehamilan

a. Tanda Tidak Pasti

Tanda tidak Pasti adalah perubahan-perubahan fisiologi yang dapat dikenali dari pengakuan

atau yang dirasakan oleh wanita hamil.

1. Amenorea (berhentinya menstruasi)

2. Mual (nausea) dan muntah (emesis)

3. Ngidam (menginginkan makanan tertentu)

4. Syncope (pingsan)

5. Kelelahan

6. Payudara tegang

7. Sering miksi

8. Konstipasi atau obstipasi

9. Pigmentasi kulit

10. Epulis

11. varises

b. Tanda Kemungkinan (Probability Sign)

1. Pembesaran perut

Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat kehamilan.

2. Tanda Hegar
Tanda hegar adalah pelunakan dan dapat ditekannya isthmus uteri

3. Tanda Goodel

Adalah pelunakan serviks. Pada wanita yang tidak hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan

pada wanita hamil serviks melunak seperti bibir.

4. Tanda Chadwicks

Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga porsio dan

serviks.

5. Tanda Piscaseck

Merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris.

6. Kontarksi Braxton Hicks

Merupakan peregangan sel-sel otot uterus.

7. Teraba ballottement

8. Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif

c. Tanda Pasti (Positif Sign)

Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung keberadaan janin, yang dapat dilihat

langsung oleh pemeriksa, seperti :

1. Gerakan janin dalam rahim

Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa. Gerakan janin baru dapat

dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20 minggu

2. Denyut jantung janin

Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat Fetal Electro Cardiograf

(misalnya dopler). Dengan stetoskop lenek, DJJ baru dapat di dengar pada usia kehamilan 18-20

minggu.
3. Bagian-bagian janin

Bagian janin dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester terakhir). Bagian

janin ini dapat dilihat lebih sempurna lagi menggunakan USG.

4. Kerangka janin

Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun USG.9

2.2 Tinjauan Umum tentang Antenatal Care (ANC)

2.2.1 Tujuan Asuhan Antenatal

Tujuan asuhan kebidanan dalam kehamilan pada prinsipnya adalah memberikan layanan atau

bantuan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dalam rangka mewujudkan kesehatan

keluarga.

Tujuan utama asuhan antenatal :

a. Untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina

hubungan saling percaya dengan ibu

b. Mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa

c. Mempersiapkan kelahiran

d. Memberikan pendidikan

Tujuan asuhan antenatal yang lain adalah sebagai berikut :

a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu juga bayi.

c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama

hamil termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan.


d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya

dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.

f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh

kembang secara normal.9

2.2.2 Standar Minimal Kunjungan Antenatal Care

Untuk menerima manfaat yang maksimum dari kunjungan-kunjungan antenatal, maka ibu

sebaiknya memperoleh sedikitnya 4 kali kunjungan selama kehamilan yang terdistribusi dalam :

a. 1 Kali Pada Trimester Pertama (Sebelum Minggu ke-14) :

1. Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dengan ibu hamil.

2. Mendeteksi masalah dan menanganinya

3. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatrum, anemia kekurangan zat besi,

penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

4. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.

5. Mendorong prilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya).

b. 1 Kali Pada Trimester Kedua (sebelum minggu ke-28)

Sama seperti diatas. Ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (Tanya ibu tentang

gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema, periksa untuk mengetahui

proteinurian).

c. 2 Kali Pada Trimester Ketiga (antara minggu ke-28 sampai melahirkan)

Sama seperti diatas, ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda

serta deteksi letak bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah

sakit.9
2.2.3 Standar Minimal Asuhan Antenatal

a. Timbang Berat Badan

b. Ukur Tekanan Darah

c. Ukur Tinggi Fundus Uteri (TFU)

d. Imunisasi TT (Tetanus Toxoid)

e. Pemberian Tablet Zat Besi (minimum 90 tablet selama kehamilan)

f. Tes terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual)

g. Temu Wicara dalam Rangka Persiapan Rujukan.9

2.3 Tinjauan Umum tentang Hiperemesis Gravidarum

2.3.1 Pengertian Hiperemesis gravidarum

a. Hiperemesis gravidrum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, muntah

begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga

mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi dan

terdapat aseton dalam urin.10

b. Hiperemesis gravidarum adalah suatu keadaan (biasanya pada hamil muda) dimana penderita

mengalami mual-muntah yang berlebihan, sedemikian rupa sehingga mengganggu aktifitas dan

kesehatan penderita secara keseluruhan.11

c. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai

menganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk karena terjadi

dehidrasi.12
d. Hiperemesis gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala

apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun, turgor kulit kurang,

diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing.13

2.3.2 Etiologi Hiperemesis Gravidarum

Kejadian hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor

predisposisi dapat dijabarkan sebagai berikut.

a. Faktor adaptasi dan hormonal.

Pada ibu hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Yang

termasuk dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah ibu hamil dengan anemia, wanita

primigravida, dan overdistensi rahim pada kehamilan ganda dan kehamilan mola hidatidosa.

Sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan

gonadotropin korionik, sedangkan pada kehamilan ganda dan mola hidatidosa, jumlah hormon

yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum.

b. Faktor psikologis

Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar

kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan

hubungan dengan suami, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum. Dengan

perubahan suasana dan masuk rumah sakit, penderitaannya dapat berkurang sampai menghilang.

c. Faktor alergi

Pada kehamilan, di duga terjadi invas. Jaringan vili korialis yang masuk kedalam peredaran

darah ibu sehingga faktor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis

gravidarum.14

2.3.3 Patologi
Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum menunjukkan

kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi

oleh bermacam sebab.

a. Hati. Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa

nekrosis; degenerasi lemak tersebut terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak

menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat

ditambahkan bahwa separoh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum

menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal.

b. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dari biasa dan beratnya atrofi; ini sejalan dengan lamanya

penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.

c. Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada

ensefalopati wernicke dapat dijumpai(dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah

corpora mamilaria ventrikel ketiga dan keempat).

d. Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti.5

2.3.4 Patofisiologi

Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen,

oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh psikologik hormon estrogen ini

tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan

lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan

muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.

Hiperemesis garavidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda,

bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan

alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita,
tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, disamping faktor hormonal. Yang jelas wanita

yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan

mual, akan mengalami emesis gravidarum yang berat.

Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai

untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan

tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan

cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga

cairan ekstraselurer dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula

khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke

jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan

berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat

dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, bertambahnya frekuensi muntah-muntah

yang lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.13

2.3.5 Klasifikasi Hiperemesis Gravidarum

1. Hiperemesis gravidarum tingkat pertama

a. Muntah berlangsung terus

b. Nafsu makan berkurang

c. Berat badan menurun

d. Kulit dehidrasi sehingga tonusnya lemah

e. Nyeri di daerah epigastrium

f. Tekanan darah turun dan nadi meningkat

g. Lidah kering

h. Mata tampak cekung


2. Hiperemesis gravidarum tingkat kedua

a. Penderita tampak lebih lemah

b. Gejala dehidrasi makin tampak. Mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor.

c. Tekanan darah turun, nadi meningkat

d. Berat badan makin menurun

e. Mata sedikit ikterus

f. Gejala hemokonsentrasi makin tampak : urine berkurang dan badan aseton dalam urine

meningkat.

g. Terjadinya gangguan buang air besar

h. Mulai tampak gejala gangguan kesadaran, menjadi apati

i. Napas berbau aseton

3. Hiperemesis gravidarum tingkat ketiga

a. Muntah berkurang

b. Keadaan umum ibu hamil makin menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat, dan suhu naik,

keadaan dehidrasi makin jelas

c. Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus

d. Gangguan kesadaran dalam bentuk samnolen sampai koma, komplikasi susunan saraf pusat

(ensefalopati wernicke) : nistagmus (perubahan arah bola mata), diplopia (gambar tampak

ganda), dan perubahan mental.14

2.3.6 Diagnosis Hiperemesis Gravidarum

 Amenorea yang disertai muntah hebat (segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan),

pekerjaan sehari-hari terganggu dan haus hebat.


 Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun pada keadaan berat,

subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma).

 Fisik : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, porsio lunak

pada vaginal touché, uterus besar sesuai besarnya kehamilan.

 Laboratorium : kenaikan relative hemoglobin dan hematokrit, shift to the left, benda keton dan

protein uria.2

2.3.7 Penanganan Hiperemesis Gravidarum

Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan

penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan

keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada

kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan

sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan

segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh

hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan

minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.

1. Obat-obatan. Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan

Vitamin B1 dan B6. Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik seperti Disiklomin

hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin.

2. Isolasi. Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang

baik. Tidak diberikan makan/minuman selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja

gejaia-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.


3. Terapi psikologik. Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,

hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang berat serta menghilangkan

masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

4. Cairan parenteral. Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein

dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu dapat

ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada

kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.

5. Penghentian kehamilan. Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur.

Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan memburuk. Delirium,

kebutaan, tachikardi, ikterus anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik.

Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk

melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh

dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel

pada organ vital.13

6. Diet

a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan

buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1 — 2 jam sesudahnya. Makanan

ini kurang dalam semua zat - zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama

beberapa hari.

b. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai

diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan .

Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut

kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam

semua zat gizi kecuali Kalsium.13

2.4 Tinjauan Umum tentang Asuhan Kebidanan

2.4.1 Pengertian Asuhan Kebidanan

Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk

mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan,

keterampilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus

pada klien.15

2.4.2 Tahap dalam Asuhan Kebidanan

Proses asuhan kebidanan terdiri dari 7 langkah. Asuhan kebidanan dimulai dengan

pengumpulan data dan diakhiri dengan evaluasi asuhan kebidanan. Ketujuh langkah terdiri dari

keseluruhan kerangka kerja yang dapat dipakai dalam segala situasi. Langkah tersebut sebagai

berikut :

a. Langkah I. Identifikasi Data Dasar

Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua

sumber yang berkaitan dengan kondisi lain. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara

anamnese, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital,

pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang.

Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga

kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses interpretasi

yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini harus
komprehensif meliputi data subyektif, obyektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat

menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid.

b. Langkah II. Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual

Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa

dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah

tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan.

c. Langkah III. Merumuskan Diagnosa / Masalah Potensial

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah potensial berdasarkan diagnosa atau

masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan

dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah agar

masalah potensial ini tidak benar-benar terjadi

d. Langkah IV. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera dan Kolaborasi

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk

dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan

kondisi klien. Dalam hal ini bidan dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas

masalah atau kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu

dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial pada step sebelumnya, bidan

juga harus merumuskan tindakan segera untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

e. Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang merupakan kelanjutan terhadap

masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Bidan bertugas merumuskan rencana asuhan

yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh yang rasional dan benar-benar-benar valid

berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date.


f. Langkah VI. Implementasi

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan dalam langkah

kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh

bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak

melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

g. Langkah VII. Evaluasi

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi

pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan

sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif

jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.15

2.5 Pendokumentasian Hasil Asuhan Kebidanan (SOAP)

2.5.1 Pengertian Pendokumentasian

Pendokumentasian adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga

pasien dan tim kesehatan tentang hasil pemeriksaan, prosedur tindakan, pengobatan pada pasien,

pendidikan pasien dan respon pasien terhadap semua asuhan yang telah diberikan.16

2.5.2 Pendokumentasian Dalam Bentuk SOAP

a. Subyektif (S)

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamneses sebagai

langkah 1 Varney.

b. Obyektif (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test

diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah 1

Varney.

c. Assessment (A)

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan intrepetasi data subyektif dan obyektif.

Bidan harus sering melakukan analisis data yang dinamis dalam rangka mengikuti

perkembangan pasien. Analisis yang tepat dan akurat akan menjamin cepat diketahuinya

perubahan pada pasien sehingga dapat diambil keputusan/tindakan yang tepat.

d. Planning (P)

Planning adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan

disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data. Rencana asuhan bertujuan untuk

mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan

kesejahteraannya.16
Tabel 1. Skema langkah-langkah proses manajemen

Alur Pikir Bidan Pencatatan dari Asuhan Kebidanan

Proses Manajemen Kebidanan Pendokumentasian Manajemen


Kebidanan

7 Langkah 5 Langkah SOAP NOTES


(Varney) (Kompetensi Bidan)
Subjektif
Data Data
Objektif
Masalah / Diagnosa

Antisipasi masalah
potensial/diagnosa
lain. Assesment/Diagnosa
Assesment/Diagnosa
Menetapkan
kebutuhan segera
untuk konsultasi
kolaborasi
Perencanaan Perencanaan Planning :
Implementasi a. Konsul
Implementasi
b. Tes Lab
Evaluasi c. Rujukan
Evaluasi
d.Pendidikan/Konseling
e. Follow Up

Sumber : Dwana Estiwidani, DKK, “Konsep Kebidanan”, 2008


Diposting oleh Nopianti Megarezky di 04.59
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
.