Anda di halaman 1dari 23

INDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK

LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Praktikum Unsur dan Senyawa
Yang dibina oleh Dr. Dra. Nazriati, M. Si, dan
Safwatun Nida, S.Pd., M.Pd

Oleh
Kelompok 7
1. Desta Wahyu M. (160351606457)
2. Lubabatul Faizah (160351606454)
3. Luthfy Haidar (160351606449)
4. Putri Ratna Sari (160351606422)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Desember 2017
PERCOBAAN VII
IDENTIFIKASI SENYAWA ORGANIK

Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 30 November 2017

A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Dapat membedakan Alkana dan Alkuna
2. Dapat membedakan Alkohol dan Eter
3. Dapat membedakan Aldehid dan Keton
4. Dapat membedakan Asam Asetat dan Eter

B. ALAT DAN BAHAN


Alat Bahan
 Tabung Reaksi  1 ml Heksana
 Penangas Air  Larutan Brom
 Korek Api  1ml Ethanol
 1ml Dietil Eter
 Logam Na
 Asetaldehid
 Aseton
 Fehling A dan B
 Asam Karboksilat
 Etil Asetat
 Indikator Mo
 H2O / Akuades
 Kloroform

C. MSDS
Nama Bahan Simbol Identifikasi
Heksana Dapat menyebabkan inhalasi,
sedikit bahaya apabila
terkontak dengan kulit dan
mata (mengiritasi)

Ethanol Cairan mudah terbakar,


mengandung racun dan dapat
mengakibatkan gangguan
pencernaan apabila tertekan.
Hindari kontak langsung
dengan mata dan kulit
Dietil Eter Bahaya pada kasus kontak
kulit (iritasi) dan mata,
apabila terhirup dapat
mengakibatkan pusing dan
muntah. Apabila terkena mata
segera basuh dengan air
bersih dan apabila terhirup
segera keluar mencari udara
segar. Mudah terbakar
Logam Na Bahaya jika tertelan, bahaya
bila terkena kulit (iritasi),
menyebabkan gangguan
pencernaan. Jika terkena mata
membuat mata merah, besar
dan gatal.
Asetaldehid Berbahaya jika terkena kulit
dan terhirup, menyebabkan
iritasi serius pada mata.
Menyebabkan alergi pada
kulit.

Aseton Mudah terbakar, uap dapat


menyebabkan ledakan.
Bahaya apabila terhirup dan
tertelan. Bahaya apabila
terkena kulit dan
menyebabkan iritasi mata
Larutan Fehling Brbahaya bila terkontak
dengan kulit dan mata, dapat
menyebabkan iritasi dan luka
permanen [ada kulit.
Menyebabkan gangguan
pernapasan, korosif.
Asam Asetat Bahaya apabila terjadi kontak
mata dan kulit, apabila terjadi
kontak mata maka bilas
dengan air bersih dan segera
mendapatkan perwatan
medis. Bahaya apabila
terhirup (inhalasi) segera
mendapatkan udara segar.
Apabila tertelan jangan
dimuntahkan
Akuades

Kloroform Baracun, menyebabkan luka,


menyebabkan iritasi pada
mata dan kulit. Bersihkan
luka dengan antiseptik. Cuci
bagian tubuh yang terkontak
menggunakanair yang
mengalir

D. Prosedur Percobaan
I. Membedakan Alkana dan Alkena
1. Mengisi tabung A dengan ± 1 ml heksena
2. Mengisi tabung B dengan ± 1 ml heksana
3. Menambahkan setetes larutan brom dalam klorroform dalam masing
– masing tabung
4. Mengamati dan membandingkan kedua tabung

II. Membedakan Alkohol dengan Eter


1. Mengisi tabung A dengan ± 1 ml etanol
2. Mengisi tabung B dengan ± 1 ml dietil eter
3. Memasukan sepotong logam Na (± 1mm3) pada tabung A dan
tabung B
4. Mengamati dan membandingkan kedua tabung
III. Membedakan Aldehid dan Keton
1. Mengisi tabung A dengan ± 1 ml asetaldehid
2. Mengisi tabung B dengan ± 1 ml aseton
3. Mereaksikan masing – masing dengan larutan Fehling
4. Mengamati dan membandingkan kedua tabung
IV. Membedakan Asam Asetat dan Ester
1. Mengisi tabung A dengan 1ml Asam asetat
2. Mengisi tabung B dengan 1ml aseton
3. Membendingkan bagaimana kelarutan masing –masing zat dalam
air
4. Membandingkan keasaman masing – masing zat

E. DASAR TEORI
Senyawa organik adalah senyawa yang terdapat didalam organisme
yang sangat bervarisasi jumlah atom dan strukturnya. Setiap atomnya selalu
mengadung karbon sebagai unsur utamanya senyawa hidrokarbon kurang
diganti dengan gugus fungsional ( Sukmaria, 1999 )
Contoh dari senyawa organik atau molekul: asam nukleat, lemak,
protein, gula, enzim, metana, dan beberapa bahan bakar. Sedangkan contoh
dari senyawa anorganik yaitu: NaCl, logam, dan berlian. Zat yang terbuat dari
elemen tunggal dan senyawa lain yang tidak mengandung ikatan karbon-
hidrogen ( Hart, 2003 )
Sifat fisik dan kimia senyawa organik dapat membedakan satu dengan
yang lainnya. Ketika beberapa sifat kiia dan fisika senyawa senyawa organik
dan anorganik sederhana yang menceritakan apakah senyawa termasuk dalam
senyawa organik atau anorgani antara lain pemanasan, konduktifitas, dan
ionisasi ( disosiasi ) serta kelarutan ( Natsir, 2003 )
Alkana, alkena, dan alkuna merupakan senyawa hidrokarbon alifatik.
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh, sedangkan alkena dan alkuna
merupakan hidrokarbon tak jenuh (Day dan Underwood, 2002). Alkana,
alkena, dan alkuna memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat luas. Tentunya
sangat dibutuhkan bagi manusia terutama sebagai bahan bakar minyak
(misalnya kerosin, bensin, solar) dan bahan bakar gas (LPG) sebab alkana
merupakan komponen utama gas alam dan minyak bumi. Selain itu
digunakan untuk pelapisan jalan (aspal), pelumas dan parafin (lilin).
Sedangkan alkena dan alkuna biasanya digunakan sebagai bahan awal atau
pereaksi awal dalam sintesis suatu senyawa karena ikatan rangkap yang
dimilikinya (Riswiyantoro, 2009).
Sifat fisik yang dimiliki hidrokarbon disebabkan oleh sifat non polar
dari senyawa tersebut. Umumnya hidrokarbon tidak dapat bercampur dengan
pelarut polar seperti air atau etanol. Sebaliknya , hidrokarbon dapat
bercampur dengan pelarut yang relative non polar seperti karbon tetraklorida
(CCl4) atau diklorometana (CH2Cl2). Reaktivitas kimia senyawa
hidrokarbon ditentukan oleh jenis ikatannya . Hidrokarbon jenuh (alkana)
tidak reaktif terhadap sebagaian besar pereaksi. Hidrokarbon tak jenuh ,
(alkena dan alkuna ) dapat mengalami reaksi adisi pada ikatan rangkap dua
atau rangkap tiganya. Senyawa aromatic biasanya mengalami reaksi subtitusi
(Anonim, 2012)
Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus hidroksil yang
terikat pada atom jenuh. Alkohol mempunyai rumus umum ROH, dimana R
merupakan alkil, alkil tersubtitusi hidrokarbonsiklik. Alkohol disini tidak
memiliki gugus fenol (gugus hidroksil berikatan dengan aromatik), enol
(gugus hidroksil berikatan dengan karbon vinilik) karena sifat – sifatnya
berbeda. Alkohol diklasifikasikan menjadi 3 kelompok alkohol primer,
sekunder dan tersier (Riswayanto, 2009).
Alkohol dapat dibedakan dari banyak senyawa lain seperti
hidrokarbon, eter, dan ester oleh dengan natrium reaktifnya. Mendeteksi
dengan uji hidrogen aktif pada hidroksil. Oleh karena itu, hidrogen aktif
lainnya akan ikut campur, terutama air. (Bailey dkk, 1978).
Alkohol dapat bereaksi dengan logam reaktif melepaskan gas
hydrogen, sementara eter tidak dapat bereaksi. Contoh logam reaktif
adalah Natrium.
Alcohol: 2R - OH + 2Na --> 2R - ONa + H2
Eter: R - O - R’ + Na --> tidak dapat bereaksi
Contoh etanol dan dimetil eter yang saling berisomer fungsi:
2C2H5 - OH etanol + 2Na --> 2C2H5 - ONa + H2
CH3 - O - CH3 dimetil eter + Na --> tidak dapat bereaksi (Safrizal, 2011)
Eter adalah golongan senyawa organik yang mengandung unsur-unsur
C, H dan O dengan rumus umum CnH2n+2 atau R-O-R’ . Karena itu eter dapat
dianggap sebagai alkil oksida atau anhidrida alkohol. Bila R=R’ disebut eter
sederhana dan bila R≠R disebut eter campuran (mix ether), R dapat berupa
gugus alkil atau gugus fenil.
Sifat-sifat eter yaitu pada keadaan standar, hampir seluruh senyawa
eter berwujud cair, kecuali dimetil eter (gas). Jika dibandingkan dengan
senyawa alkohol, titik didih dan titik leleh eter lebih keci. Ini terjadi karena
antar molekul eter tidak membentuk ikatan hidrogen. Eter juga cenderung
bersifat nonpolar, sehingga kelarutannya dalam air sangat kecil. Selain itu
eter bersifat mudah terbakar. Dibandingkan terhadap alkohol, eter jauh
kurang reaktif kecuali dalam hal pembakaran. Eter jauh lebih mantap (lebih
kurang reaktif) dibandingkan alkohol. Eter tidak bereaksi dengan logam
natrium. Sifat ini dapat digunakan untuk membedakan alkohol dengan eter.
(Dermawan dkk, 1993)
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus
karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Aldehid
memiliki sifat lebih reaktif daripada alkohol dan dapat mengalami reaksi
adisi dan oksidasi. Aldehid dapat dioksidasi menjadi asam dan dapat
mengalami reaksi polimerisasi. Aldehid memiliki struktur dan unsur
karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Struktur rumus senyawa ini
adalah R-CHO, dimana -R adalah alkil dan –CHO adalah gugus fungsi
aldehida (Hart, 1998).
Keton adalah suatu senyawa organik yang memiliki sebuah gugus
karbonil yang terikat pada dua gugus alkil. Keton bersifat polar karena
gugus karbonilnya polar dan keton lebih mudah menguap (volatile)
daripada alkohol dan asam karboksilat. Struktur dari keton sama seperti
aldehid, yang terdiri atas atom-atom karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen
(O) dengan rumus struktur R-CO-R’, dengan R adalah alkil dan –CO-
adalah gugus fungsi keton (Fessenden, 1997).
Aldehid mudah teroksidasi sedangkan keton sedikit sulit
teroksidasi. Aldehi memiliki sifat yang lebih reaktif dibandingkan
senyawa keton terhadap reaksi adisi nukleofilik (Antoni, 1992). Karena
aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen
maka tidak terjadi ikatan hidrogen seperti alkohol. Sebaliknya aldehid dan
keton adalah senyawa polar yang dapat membentuk gaya tarik-menarik
elektrostatika yang relatif kuat antar molekulnya, bagian positif sebuah
molekul akan tertarik pada bagian negatif dari molekul yang lain (Respah,
1986).
Perbedaan dari aldehid dan keton sendiri antara lain senyawa
aldehid mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau
dua buah atom hidrogen sedangkan keton yaitu senyawa organik yang
mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil. Aldehida
mudah teroksidasi sedangkan keton agak sukar teroksidasi. Aldehida lebih
reaktif dibandingkan dengan keton terhadap adisi nukleofilik (Chang,
2009).
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang
mengandung gugus karboksil, –COOH. Gugus karboksil mengandung
gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil; antar aksi dari kedua gugus ini
mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk asam
karboksilat (Fessenden, 1997)
Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh asam karboksilat adalah:
1. Reaksi Pembentukan Garam
Garam organik yang membentuk dan memiliki sifat fisik dari garam
anorganik padatannya, NaCl dan KNO3adalah garam organik yang meleleh
pada temperatur tinggi, larut dalam air dan tidak berbau. Reaksi yang terjadi
adalah:

HCOOH + Na+ → HCOONa + H2O

2. Reaksi Esterifikasi
Ester asam karboksilat ialah senyawa yang mengandung gugus –COOR
dengan R dapat berbentuk alkil. Ester dapat dibentuk berkat reaksi langsung
antara asam karboksilat dengan alkohol. Secara umum reaksinya adalah:

RCOOH + R’OH → RCOOR + H2O


3. Reaksi Oksidasi
Reaksi terjadi pada pembakaran atau oleh reagen yang sangat kokoh dan
kuat seperti asam sulfat, CrO3, panas.Gugus asam karboksilat teroksidasi
sangat lambat.

4. Pembentukan Asam Karboksilat


Beberapa cara pembentukan asam karboksilat dengan jalan sintesa dapat
dikelompokkan dalam 3 cara yaitu: reaksi hidrolisis turunan asam
karboksilat, reaksi oksidasi, reaksi Grignat. (Fessenden, 1997).

Asam asetat (CH3COOH) sejauh ini merupakan asam karboksilat yang


paling penting diperdagangan, industri dan laboratorium. Bentuk murninya
disebut asam asetat glasial karena senyawa ini menjadi padat seperti es bila
didinginkan. Asam asetat glasial tidak berwarna, cairan mudah terbakar
(titik leleh 7ºC, titik didih 80ºC), dengan bau pedas menggigit. Dapat
bercampur dengan air dan banyak pelarut organik. (Fessenden, 1997).

Beberapa sifat asam karboksilat adalah:

1. Asam karboksilat merupakan asam lemah. Makin pendek rantai karbon,


kekuatan asam makin bertambah
2. Asam karboksilat dapat bereaksi dengan basa menghasilkan garam. Reaksi
ini disebut penetralan.
3. Asam karboksilat dapat bereaksi dengan alkohol menghasilkan ester.
Reaksi ini dikenal dengan nama reaksi esterifikasi.
4. Dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air sehingga pada umumnya
mempunyai titik didih tinggi.
5. Mulai dari C1 sampai dengan C4 mudah larut dalam air. Makin panjang
rantai C-nya makin sukar larut dalam air.
6. Adanya cabang akan mempengaruhi derajat keasaman. Cabang alkil akan
mengurangi keasaman, sedangkan jika cabangnya atom-atom
halogen akan menambah keasaman. (Martini, 1988)
Ester atau alkil alkanoat merupakan senyawa karbon turunan asam
karboksilat. Ester mempunyai rumus struktur:
O

R ─ C ─ OR’
Ester berbau harum, dan banyak terdapat pada buah-buahan, ester
sedikit larut dalam air, bersifat asam, serta titik didih dan titik beku ester
lebih rendah daripada asam karboksilat.
Beberapa sifat fisik ester yaitu :
• Titik didih ester hampir sama dengan titik didih aldehid/keton yang
berat molekulnya sebanding.
• Ester dapat larut dalam pelarut organik.
• Ester dengan 3-5 atom karbon dapat larut dalam air.
• Ester yang mudah menguap memiliki bau sedap.

Berikut adalah sifat kimia darai ester adalah :


• Hidrolisis ester menggunakan air yang berlebih dengan katalis asam
akan menghasilkan asam.
• Hidrolisis ester suku tinggi dengan KOH dan NaOH menghasilkan
asam dan gliserol
• Ester dapat mengalami reduksi menjadi alkohol
• Reduksi terhadap ester tak jenuh suku tinggi dapat menghasilkan
mentega. (Martini, 1988)
F. DATA
I. Membedakan Alakana dan Alkena
Tabung Keadaan awal Sesudah ditetesi larutan Brom Larutan
dalam Kloroform
A Tidak berwarna Tidak berwana Heksena
B Tidak berwarna Kuning jernih Heksana
*larutan brom dalam kloform memiliki warna kuning kecoklatan

II. Membedakan Alkohol dan Eter


Tabung Keadaan awal Diberi sepotong logam Na Larutan
C Tidak berwarna Tidak beraksi Eter
D Tidak berwarna Bereaksi berupa gelembung – Alkohol
gelembung gas sampai logam
Na habis.

III. Membedakan Aldehid dan Keton


Tabung Keadaan Awal Setelah Ditetesi Setelah Larutan
Fehling Dipanaskan
E Tidak Berubah menjadi Keruh Keton
Berwarna Biru + endapan Biru/
Keruh
F Tidak Berubah menjadi Tetap Aldehid
Berwarna hijau

IV. Membedakan Asam Asetat dan Ester

Perco Sebelum Penambahan Sesudah Penambahan Nama


baan Air Air Bahan
- Tabung G : zat tidak - Tabung G : zat tidak
berwarna dan bersifat larut dalam air Bahan G :
asam (terbentuk 2 lapisan), Ester
4 bersifat asam
- Tabung H : zat tidak - Tabung H : zat dapat Bagan H :
berwarna dan bersifat larut dalam air, Asam
asam bersifat asam Asetat
*kedua larutan bersifat asam

G. ANALISIS DATA
a) Membedakan Alkana dan Alkena
Dari data diatas dapat dianalisis sebagai berikut :
Pada percobaan ini awalnya tabung A di isi oleh larutan A
sebanyak 1 ml, kemudian ditambahkan dengan setetes larutan brom
dalam CCl₄, larutan tidak berubah warna, yaitu laruta berwarna bening.
Dalam hal ini ketika tidak perubahan warna larutan pada larutan A
menunjukkan bahwa larutan tersebut adalah alkena.
Sedangkan percobaan ini awalnya tabung B di isi oleh larutan B
sebanyak 1 ml, kemudian ditambahkan dengan setetes larutan brom
dalam CCl₄, larutan tidak berubah warna, yaitu laruta berwarna bening.
Dalam hal ini ketika tidak perubahan warna larutan pada larutan B
menunjukkan bahwa larutan tersebut adalah alkana
b) Membedakan Alkohol dan Eter
Dari data diatas dapat dianalisis sebagai berikut :
Pada percobaan kedua ini di sediakan 2 tabung rekasi dengan
masing– masing diberi tanda C dan D. Pada tabung C diberi 10 tetes
larutan dengan warna yang bening (tidak bewarna) begitu juga pada
tabung D setelah diberi suatu larutan tidak bewarna. Kemudian pada saat
tabung C dan D direaksikan dengan logam, ternyata kedua tabung
menunjukkan hasil yang berbeda. Larutan pada tabung C lebih sukar
beraksi dengan ditandai Na tetap berbentuk bongkahan. Namun pada
tabung D terjadi reaksi yaitu di tandai dengan adanya logam Na muncul
gelembung – gelembung dan logamnya semakin habis. Pada tabung D ini
antara logam demgan larutan lebih cepat beraksi dibandingkan tabung C.

c) Membedakan Aldehid dan Keton


Dari data diatas dapat dianalisis sebagai berikut :
Terdapat perbedaan yang mencolok pada percobaan ini. Perbedaan
tersebut terletak pada warna kedua larutan E berwarna bening dan F
berwarna bening. Ketika larutan E 20 tetes ditambahi dengan pereaksi
fehling 20 tetes terbentuk warna biru. Begitupun juga dengan larutan F 20
tetes, membentuk warna biru ketika diberi pereaksi fehling 20 tetes.
Perbedaan warna terjadi setelah kedua larutan tersebut dipanaskan
pada penangas air. Larutan E berwarna tetap biru dan terdapan endapan.
Akan tetapi larutan F berubah menjadi hijau

d) Membedakan Asam Asetat dan Ester


Dari data diatas dapat dianalisis sebagai berikut :
Pada percobaan ke-empat ini yaitu untuk membedakan senyawa
organik asam asetat dan ester. Terdapat 2 senyawa organik yang berbeda
yaitu bahan G dab bahan H. Pada tabung G di beri 1mL(20 tetes) larutan
G dan tabung H diberi 1mL(20 tetes) larutan H. Sebelum penambahan
air kedua bahan G dan bahan H tidak berwarna, jernih dan bersifat asam.
Kemudian diberi penambahan air 1mL(20 tetes) pada setiap tabung. Di
kocok kemudian diamati. Terdapat perubahan yaitu pada tabung G zat
tidak dapat larut dalam air sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas dan
lapisan bawah. Pada tabung G bersifat asam meskipun diberi tambahan
air. Pada tabung H zat dapat larut dalam air sehingga tidak terbentuk 2
lapisan yang berbeda dan bersifat asam meskipun telah diberi tambahan
air.
H. PEMBAHASAN
a) Membedakan Alkana dan Alkena
Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh.Disebut
hidrokarbon karena di dalamnya hanya terkandung atom karbon dan
hidrogen. Disebut jenuh karena hanya memiliki ikatan tunggal C-H dan C-C
saja. Alkana memiliki rumus umum CnH2n+2, di mana n adalah bilangan asli
yang menyatakan jumlah atom karbon. Alkana juga sering disebut sebagai
senyawa alifatik (Yunani = aleiphas yang berarti lemak). Hal ini dikarenakan
lemak-lemak hewani mengandung karbon rantai panjang yang mirip dengan
alkana.
Brom yang direaksikan dengan hidrokarbon tak jenuh akan
menghasilkan reaksi adisi yaitu pemutusan ikatan rangkap 2 (=C=C=) atau
rangkap 3 (- C≡C -) antar atom C menjadi ikatan tunggal antar atom C (-C-C-
) atau senyawa hirokarbon jenuh. Brom yang direaksikan dengan
hidrokarbon jenuh atau karbon-karbon dengan ikatan tunggal tidak akan
terjadi reaksi karena sifat alkana yang kurang reaktif terhadap sebagian besar
pereaksi. Brom yang direaksikan dengan senyawa karbon tak jenuh akan
menyebabkan warna berubah yang semula berwarna coklat menjadi
memudar, hal ini dikarenakan konsentrasi Br2 yang berkurang karena
digunakan untuk mengadisi senyawa karbon tak jenuh tersebut.
Hidrokarbon tek jenuh bereaksi cepat dengan bromine dalam larutan
CCl4. Reaksi yang terjadi adalah adisi bromin pada karbon ikatan rangkap.
Br Br
│ │
CH3-CH=CH-CH3 + Br2 → CH3-CH-CH-CH3
Merah tidak berwarna

Br Br
│ │

CH3-C º C-CH3 + 2 Br2 →CH3-C ¾ C-CH3


merah │ │
Br Br
Tidak berwarna

Larutan bromin berwarna merah kecoklatan, sedangkan hasil


reaksinya tidak berwarna. Sehingga terjadinya reaksi ini ditandai dengan
hilangnnya larutan bromin. Alkana yang tidak memiliki ikatan rangkap, tidak
bereaksi denga bromin sehingga warna merah kecoklatan bromin tetap ada
Alkana dengan satu formula dapat membentuk beberapa struktur
molekul. Misalnya alkana dengan empat atom karbon dapat membentuk
normal butana dan isobutana, keduanya sama-sama memiliki rumus molekul
C4H10. Hal yang sama juga terjadi untuk C5H12, dan seterusnya. Suatu
senyawa yang memiliki jumlah dan macam atom sama tetapi berbeda dalam
penataannya disebut dengan isomer. Isomer berasal dari bahasa Yunani; isos
+ meros yang berarti terbuat dari bagian yang sama. Senyawa seperti butana
dan isobutana hanya berbeda pada urutan atom yang terikat satu sama
lainnya, disebut isomer konstitusional.
Alkena merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan
rangkap karbon-karbon. Alkena terdapat dalm jumlah berlebih di alam.
Etilena, sebagai contohnya, adalah hormon tanaman yang memacu
pematangan buah, dan α-pinen adalah senyawa terbanyak dalam turpentin.
Contoh lainnya adalah beta karoten, mengandung sebelas ikatan rangkap dua,
merupakan pigmen warna kuning yang mewarnai wortel. Beta karoten
merupakan pro vitamin A.
b) Membedakan Alkohol dan Eter
Pada Alkohol dan Eter memiliki rumus molekul yang sama yaitu
CnH2n+2O, oleh karena itu dari keduannya perlu diuji. Untuk membedakan
antara senyawa alkohol dan eter dapat dibedakan dnegan menambahkan
masing – masing larutan dengan logam aktif. Pada percobaan ini logam aktif
yang digunakan adalah logam Na. Larutan C dan D yang belum diketahui
senyawanya direaksikan dengan logam Na. Ternyata dari kedua larutan
tersebut setelah diuji memiliki hasil yang berbeda. Saat larutan C direaksikan
dengan Na, cenderung lebih sukar untuk bereaksi, namun pada larutan D
setelah direaksikan dengan Na cenderung lebih cepat bereaksi dengan
ditandai munculnya gelembung – gelembung gas pada logam Na.
Pada alkohol atom H pada gugus OH dapat digantikan oleh logam
aktif seperti Na. Reaksi antara alkohol dan Na menghasilkan garam natrium
oksida dan pembebasan gas hidrogen. Garam yang diperoleh dari reaksi ini
apabila di hidrolisis akan diperoleh kembali alkohol asalnya. Setelah
pergantian atom H oleh logam aktif apabila direaksikan lagi dengan alkil
halida akan terjadi pergantian logam aktif gugus alkil. Logam tersbut yang di
desak keluar akan bereaksi dengan halogen dari alkil halida membentuk
garam. Saat natrium dimasukkan ke alkohol mengasilkan gelembung –
gelembug gas yang merupakan gas hidrogen membentuk natrium etoksida.
Sehingga dapat dituliskan persamaan sebagai berikut
Alcohol: 2R - OH + 2Na --> 2R - ONa + H2
Sedangkan pada eter gugus fungsi kurang reaktif pada eter
menyebabkan eter sukar bereaksi dengan logam Na. Titik didih eter rendah
dan kepadatan uapnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan udara, sehingga
ia mudah terbakar. Eter tidak dapat bereaksi dengan logam natrium , karena
natrium adalah logam yang aktif. Sesuai dengan sifat eter sendiri yaitu sukar
bereaksi kecuali dengan asam halida kuat. Selain itu karena eter bersifat
kurang polar,sehingga sukar untuk beraksi.
Setelah diidentifikasi sesuai kereaktifannya, maka dapat dituliskan
larutannya. Untuk tabung C di duga merupakan eter sedangkan tabung D
diduga alkohol, karena dapat bereaksi.
c) Membedakan Aldehid dan Keton
Aldehida adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus
karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Aldehid
memiliki sifat lebih reaktif daripada alkohol, dapat mengalami reaksi adisi,
dapat mengalami reaksi oksidasi, aldehid dapat dioksidasi menjadi asam,
dapat mengalami reaksi poli-merisasi.Karakteristik dari aldehid ini
adalah berwujud gas pada suhu kamar dengan bau tidak enak, berwujud cair
pada suhu kamar dengan bau sedap, senyawa polar sehinggan titik didihnya
tinggi dan tidak berwarna. Struktur aldehid yaitu mengandung unsur C, H,
dan O dengan rumus R-CHO, dimana R adalah alkil dan –CHO adalah Gugus
fungsi aldehida
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus
karbonil terikat pada dua gugus alkil. Keton ini bersifat polar karena gugus
karbonilnya polar dan keton lebih mudah menguap daripada alkohol dan
asam karboksilat. Karak teristik dari keton ini adalah berupa cairan tak
berwarna, umumnya larut dalam air, mempunyai titik didih yang relatif lebih
tinggi daripada senyawa non polar dan dapat direduksi oleh gas
H2menghasilkan alkohol sekundernya. Struktur dari keton yaitu mengandung
unsur C, H, dan O dengan rumus R-CO-R’, dimana R adalah alkil dan -CO-
adalah gugus fungsi keton (karbonil)
Perbedaan dari aldehid dan keton sendiri antara lain senyawa aldehid
mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah
atom hidrogen sedangkan keton yaitu senyawa organik yang mempunyai
sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil. Aldehida mudah
teroksidasi sedangkan keton agak sukar teroksidasi. Aldehida lebih reaktif
dibandingkan dengan keton terhadap adisi nukleofilik
Suatu keton dengan dua gugus alkil lebih stabil daripada aldehid yang
memiliki satu gugus alkil.Salah satu cara sederhana untuk membedakannya
adalah melalui reaksi oksidasi reduksi.Hampir semua reagensia apa saja yang
mengoksidasi suatu alkohol dapat juga mengoksidasi alehid.
Pada percobaan ini menggunakan pereaksi Fehling untuk
membedakan antara aldehid dan keton.
Pada percobaan ini digunakan larutan fehling, larutan E
dan F ditetesi dengan fehling yang berwarna biru muda lalu
dipanaskan. Setelah terjadi pemanasan terdapat perubahan warna
pada larutan F, sedangkan pada larutan E tidak terjadi perubahan warna (tetap
berwarna biru tua). Perbedaan warna tersebut mengindikasikan bahwa larutan
F merupakan aldehida dan larutan E merupakan keton. Hal ini disebabkan
karena keton dengan dua gugus alkil lebih stabil dibandingkan aldehida yang
tidak memiliki ggus alkil. Keton tidak bereaksi dengan pereaksi fehling
karena gugus karbonil distabilkan oleh alkil didekatnya yang sifatnya
menolak elektron (keton tidak mudah teroksidasi, aldehida mudah
teroksidasi). Menurut teori pereaksi fehling adalah zat pengoksidasi lemah,
hanya aldehida yang dapat bereaksi dengan pereaksi fehling sehingga untuk
membedakan antara aldehid dan keton digunakan pereaksi pereaksi Fehling
dan dipanaskan.
d) Membedakan Asam Asetat dan Ester
Asam asetat (CH3COOH) sejauh ini merupakan asam karboksilat
yang paling penting diperdagangan, industri dan laboratorium. Bentuk
murninya disebut asam asetat glasial karena senyawa ini menjadi padat
seperti es bila didinginkan. Asam asetat glasial tidak berwarna, cairan mudah
terbakar (titik leleh 7ºC, titik didih 80ºC), dengan bau pedas menggigit. Dapat
bercampur dengan air dan banyak pelarut organik. (Fessenden, 1997).
Asam asetat memiliki struktur:
Hidrogen yang mengakibatkan sifat asam adalah hidrogen yang terikat
dengan oksigen. Pada saat asam asetat terionisasi terbentuklah ion asetat,
CH3COO-. Kalau dilihat dari strukturnya menunjukkan adanya dua jenis
ikatan tunggal dan rangkap pada ikatan antara karbon dan oksigen, namun
dari pengukuran panjang ikatan menunjukkan bahwa ikatan karbon dengan
kedua oksigen memiliki panjang yang sama. Dengan panjang berkisar antara
panjang ikatan tunggal dan ikatan rangkap. (Tillapia, 2014)
Ester atau alkil alkanoat merupakan senyawa karbon turunan asam
karboksilat. Ester mempunyai rumus struktur:
O

R ─ C ─ OR’
Ester berbau harum, dan banyak terdapat pada buah-buahan, ester
sedikit larut dalam air, bersifat asam, serta titik didih dan titik beku ester lebih
rendah daripada asam karboksilat.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data dan analisis
sebagai berikut. Terdapat 2 senyawa organik yang berbeda yaitu bahan G dab
bahan H. Pada tabung G di beri 1mL(20 tetes) larutan G dan tabung H diberi
1mL(20 tetes) larutan H. Sebelum penambahan air kedua bahan G dan bahan
H tidak berwarna, jernih dan bersifat asam. Kemudian diberi penambahan air
1mL(20 tetes) pada setiap tabung. Di kocok kemudian diamati. Terdapat
perubahan yaitu pada tabung G zat tidak dapat larut dalam air sehingga
terbentuk 2 lapisan, lapisan atas dan lapisan bawah. Pada tabung G bersifat
asam meskipun diberi tambahan air. Pada tabung H zat dapat larut dalam air
sehingga tidak terbentuk 2 lapisan yang berbeda dan bersifat asam meskipun
telah diberi tambahan air. Senyawa organik G adalah ester, sedangkan
senyawa organik H adalah asam asetat.
Data diatas telah berdasarkan teori, yaitu senyawa pada tabung H
adalah asam asetet yang merupakan asam karboksilat dapat bercampur
dengan air dan banyak pelarut organik, serta bersifat asam lemah yang
apabila rantainya karbonnya semakin pendek maka kekuatan asam makin
bertambah. Mulai dari C1 sampai dengan C4 mudah larut dalam air. Makin
panjang rantai C-nya makin sukar larut dalam air. Sedangkan senyawa pada
tabung G adalah ester yang merupakan turunan asam karboksilat. Bersifat
asam karena juga merupakan turunan dari asam krboksilat yang mana apabila
rantai karbonnya semakin pendek maka kekuatan asamnya semakin kuat.
Ester dapat larut dalam air apaila memiliki jumlah karbon dengan 3-5 atom
karbon. Dan kemungkinan ester tersebut tidak larut dalam air karena jumlah
karbonnya kurang dari 3 atom karbon atau bahkan lebih dari 5 atom karbon.

I. KESIMPULAN
1. Larutan A adalah Alkena dan Larutan B adalah Alkana
2. Tabung C merupakan senyawa eter karena tidak dapat bereaksi dengan
logam Na, sedangkan tabung D merupakan senyawa alkohol karena
dapat bereaksi dengan logam Na
3. Asam asetat (CH3COOH) sejauh ini merupakan asam karboksilat. Dapat
bercampur dengan air dan banyak pelarut organik, merupakan asam
lemah. Makin pendek rantai karbon, kekuatan asam makin bertambah.
Rumus struktur asam asetat : ( CnH2nO2)

CH3 ─ C ─ OH

Ester atau alkil alkanoat merupakan senyawa karbon turunan asam


karboksilat. Ester mempunyai rumus struktur :
( CnH2nO2)

R ─ C ─ OR’

Ester berbau harum, dan banyak terdapat pada buah-buahan, ester


sedikit larut dalam air, bersifat asam, serta titik didih dan titik beku
ester lebih rendah daripada asam karboksilat.
Berdasarkan hasil pengamatan dalam percobaan ini, dapat

disimpulkan bahwa: larutan pada tabung G adalah ester dan larutan pada

tabung H adalah asam asetat.


4. uji fehling membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel

dengan menambahkan reagen Fehling. Dalam reaksi ini terjadi reaksi

reduksi dan oksidasi. Aldehid dioksidasi membentuk asam karboksilat,

sementara ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+. Hasil uji positif

apabila dalam suatu sampel terbentuk endapan merah bata. Keduanya

memakai prinsip reduksi dan oksidasi. Aldehida pada hasil percobaan

teroksidasi oleh pereaksi fehling membentuk warna hijau setelah

dipanaskan. Keton tidak teroksidasi dengan pereaksi fehling. Larutan E

merupakan Aldehida. Larutan F merupakan Keton.


DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2012. Kimia Organik.


http://prakkimorg16a.blogspot.com/2012/10/percobaan-3.html. [Serial
Online]. [diakses pada 12 Februari 2014]
Antony, C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung: Institut
Teknologi Bandung
Bailey, dkk. 1978. Organic Chemistry. Boston: Atlantic Inc.

Chang, Raymond. 2009. Chemistry. USA: Random House


Dermawan, dkk. 1993. Kimia Organik Bagian III. Malang: IKIP Malang.

Fessenden, R.J. dan Joan, S.F. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga
Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasatr Kimia Organik.
Bina Aksara. Jakarta.
Hart, Harold. 1998. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Martini, Kus Sri,1988. Prakarya Kimia. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Respah. 1986. Pengantar Kimia Organik. Jakarta: Aksara Baru
Riswayanto, 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Safrizal, Rino. 2011. Reaksi Identifikasi Alkohol dan Eter, (Online), http://www
.jejaringkimia.web.id/2011/03/reaksi-identifikasi-alkohol-alkanol-
dan.html. Diakses 12 Desember 2017
Tillapia, 2014. Laporan Praktikum Kimia Organik 1. (online).
https://www.slideshare.net/Tillapia/identifikasi-senyawa-organik-reaksi-
m-l-teori. Diakses pada tanggal 12 Desember 2017.
LAMPIRAN