Anda di halaman 1dari 2

KEMAMPUAN KOMUNIKASI NON JURNALISTIK

Lobi
Kamampuan melakukan lobi [lobbying] adalah pendekatan non verbal yang sering digunakan
dalam mencapai kesepakatan tertentu [transaksi]. Sebagai aktivitas komunikasi, lobi tidak
jarang justru lebih efisien untuk mempengaruhi orang lain demi mengambil keputusan sesuai
dengan yang diinginkan. Malakukan lobi adalah melancarkan persuasi, yakni mempengaruhi
orang-orang lain tanpa harus merasa dipengaruhi oleh orang-orang lain itu.
Di Hamilton, New York, pernah diadakan kursus AMA-Colgate University yang dihadiri
sekelompok
eksekutif. Dalam acara itu muncul sebuah pertanyaan menarik yang kemudian menjadi salah
satu topik
pokok. “kesalahan terbesar apakah yang pernah dibuat oleh seorang eksekutif?” Pada
prinsipnya, semua kesalahan terbesar adalah hilangnya kesempatan emas yang seharusnya
bisa dimanfaatkan, karena terlambat meraihnya. Salah satu kesimpulan kursus manajemen itu
adalah “inisiatif”
Ketika peluang telah berhasil diidentifikasikan, seorang manajer harus segera mencari
alternatif-alternatif realisasinya. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab antara lain :
1. Baranga atau jasa apa yang dibutuhkan dalam peluang tersebut ?
2. Apakah barang atau jasa itu bisa dibuat, didapat, atau dilakukan sendiri ?
3. Dengan pihak siapakah peluang tersebut akan direalisasikan?
Pada saat menjawab pertanyaan terakhir itulah rencana komunikasi disusun. Aktivitas
komunikasinya meliputi pra-produksi dan pasca-produksi. Salah satu kelemahan eksekutif
dalam hal ini adalah kurangnya inisiatif untuk melakukan pendekatan langsung ke sasaran
melalui lobbying
. Sementara manajer tetap yakin dan percaya pada pendekatan prosedural, formal,
sambil menunggu dan terus menunggu. Padahal pendekatan prosedural-formal seringkali
membutuhkan waktu, karena melalui birokrasi tertentu. Selain itu, pendekatan tersebut masih
menimbulkan keraguan bagi komunikan.
Untuk menentukan sikap , masih dibutuhkan kredibilitas performance [unjuk kerja] secara
nyata.
Karenanya sikap aktif untuk mengambil inisiatif komunikasi interpersonal sangat dibutuhkan.
Dalam melakukan lobi ada beberapa pendekatan :
1. Menemui sasaran langsung pada kesempatan tertentu.
2. Memanfaatkan jasa penghubung yang memiliki keterdekatan hubungan
[proximity]dengan sumber.
3. Memanfaatkan kelompok bermain, seperti perkumpulan musik, golf, penyayang
binatang, klub jantung sehat, dan sebagainya.
4. Menggunakan alat bantu, seperti telepon.
5. Memanfaatkan otoritas tertentu secara etis.
Dalam melakukan lobi harus diperhatikan beberapa hal :
Empati, yakni berusaha menempatkan diri pada situasi dan kondisi komunikan. Ciptakan
suasana konsensus agar kerangka referensi terbentuk. Ketahui terlebih dulu sifat-sifat khas
yang dimiliki komunikan, misalnya hobi, kebiasaan, dan sebagainya.
1. Buatlah janji untuk bertemu, jangan memaksa. Persiapkanlah masak-masak segala
sesuatu
yang akan dikemukakan. Jika dinilai perlu, persiapkan pula proposal, dokumen, dsb.
2. Bersikaplah wajar, tenang, jujur, dan percaya diri.
3. Perhatikan kondisi psikologis komunikan. Apabila komunikan terlihat lelah atau tidak
sehat,
4. pembicaraan sebaiknya dilakukan secara seperlunya saja.
5. Tepatilah janji yang sudah dibuat.
Kemampuan Memimpin
Dalam manajemen organisasi, Teori X dan Teori Y dari Max Gregor dikenal luas karena
aplikasinya yang selalu aktual. Teori ini dibangun atas dua proposisi yang berbeda.
 X adalah proposisi yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah malas.
Dengan demikian tugas manajer adalah memerangi sifat manusia yang tercela ini
dengan kecakapannya menerapkan teknik “ganjaran dan hukuman”.
 Y adalah proposisi yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia berkemauan
untukbekerja, tetapi industri hanya memberinya tugas-tugas yang tidak ada
tantangannya dantidak mempunyai arti. Jadi tugas manajer adalah merancang kembali
metode pekerjaan sehingga memacu produktivitas SDM secara maksimal.
Teori tsb memberi bahan pemikiran yang sangat penting sebagai landasan produktivitas kerja,
antara lain :
1.Proses produksi membutuhkan aturan main yang kondusif, sehingga seluruh potensi SDM
terimplementasikan pada output kerja.
2.Aturan main tsb akan membentu sistem, sehingga mengatur secara jelas tentang hak dan
kewajiban, mekanisme, disiplin, dsb.
3.Pada akhirnya, sistem hany dapat berfungsi secara optimal jika kualitas pimpinan mampu
mengatasi pelbagai persoalan [problem solving]
Pada gilirannya, analisis kita memandang penting peranan kelompok pimpinan. Karena
peranan pimpinan teras sebagai pengendali sistem. Dialah yang bertugas mengambil
keputusan,mengatur pembagian tugas, wewenang dan tanggungjawab serta dia pulalah yang
memegang otoritas untuk mengontrol setiap mekanisme kerja dalam organisasinya.
Dalam penelitiannya, Joe Kelly [1974] menemukan beberapa tanda yang yang muncul dalam
kepemimpinan seseoarng. Antara lain : kecerdasan yang luar biasa, inisiatif, keterbukaan,
rasa humor, antusiasme, kejujuran, simpati, dan kepercayaan pada diri sendiri.
Sementara itu, Kerth Devis merumuskan empat sifat umum yang tampaknya mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yakni :
1.Hasil penelitian membuktikan bahwa pada umumnya seorang pemimpin mempunyai
tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada orang-orang yang dipimpin.
2.Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial seorang pemimpin cenderung menjadi matang
dan mempunyai emosi stabil, serta mempunyai perhatian luas terhadap berbagai aktivitas
sosial. Seorang pemimpin mempunyai keinginan untuk dihargai dan menghargai.
3.Para pemimpin secara relatif memiliki motivasi diri dan dorongan kuat untuk berprestasi.
Mereka bekerja demi mendapatkan penghargaan.