Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MENJELASKAN DAN MAMPU


MENDISKRIPSIKAN KONSEP HUMANIORA

Disusun Oleh :

Dwi yuniarti

Hepi Prihantini

Nanik Urifatin

Agustin Muntikatul Khoiroh

Program Studi DIV Kebidanan


Universitas Kadiri
2017-2017
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas karunia-Nya
makalah ini dapat penulis selesaikan. Adapun judul makalah ini adalah, “Humaniora”.
Penulis menyadari bahwa untuk menyelesaikan makalah ini diperlukan proses perjuangan
dan ketekunan.Dalam proses penyusunan makalah ini penulis tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak lain. Untuk itulah perkenankan penulis pada kesempatan ini untuk mengucapkan
terima kasih kepada yang terhormat selaku dosen yang telah membimbing penulis, kepada
teman-teman, dan kepada berbaga pihak yang terkait.
Doa penulis semoga segala bantuan dari semua pihak yang telah membantu penulis
mendapatkan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.Penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis. Untuk itu penulis menerima kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah
ini memberi manfaat bagi yang membacanya.

Sorowako, 27 Maret 2016

Penulis
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
I.1 Latar Belakang .............................................................................................................1
I.2 Tujuan Penulisan ........................................................................................................ .2
I.3 Kegunaan Penulisan ................................................................................................... .2
I.4 Cakupan Masalah ........................................................................................................ 2
I.5 Metode Pengumpulan Data ......................................................................................... 2
I.6 Sistematika Penulisan .................................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 4
II.1 Defenisi Umum .......................................................................................................... 4
II.2 Sejarah Humniora ....................................................................................................... 6
II.3 Bidang – bidang Humaniora ...................................................................................... 7
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................... .11
III.1 Etika .......................................................................................................................... 11
III.2 Retorika ..................................................................................................................... 16
III.3 Estetika ...................................................................................................................... 19
III.4 Logika ....................................................................................................................... 20
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................... .22
IV.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 22
IV.2 Saran ......................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Humaniora berasal dari program pendidikan Cicero yaitu “Humanitas” yang
bertujuan menjadikan orator yang andal (Woodhouse 2002:1) humanitas berarti kualitas,
perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif dari pada
deskriptif. Gellius mengidentikkan humanitas dengan Paideia(bahasa yunani yaitu
pendidikan yang bertujuan mempersiapkan orang menjadi manusia dan warga negara
bebas).Pada zaman modern pengertian humanitas berkembang menjadi dua makna
khusus,pertama mengacu kepada perasaan kemanusiaan & tingkah laku, kedua tujuan
pendidikan liberal (pengembangan intelektual & keterampilan). Humaniora menjadikan
manusia (humanus) lebih manusia(humanior) terdiri dari 3 bidang (trivium) : gramatika,
logika, & retorika. (J.Drost 2002: 2). Dari trivium berkembang menjadi quadrivium
:geometri, aritmatika, musik &astronomi. Ilmu Humaniora akan menghasilkan interpretasi-
interpretasi yang memungkinkan adanya suatu orientasi bagi tindakan manusia dalam
kehidupan bersama Mahasiswa harus memiliki kematangan baik intelektual maupun
emosional(J.Drost). Awal abad ke-21 ini dunia dikuasai 4 bidang teknologi yaitu : Informasi,
bio-teknologi, Nano, dan Terraformasi. (M.T. Zen pakar teknologi
Indonesia).Informasi,terkait dengan kemajuan dibidang pertelevisian, internet,
handphone,yang memudahkan penyampaian dan penerimaan informasi dlm akselerasi yang
luar biasa.Bioteknologi, terkait dengan pemanfaatan di bidang peternakan,
pertanaian,kedokteran, teknologi kloning yang memanipulasi Gen.Ilmuwan mampu
mengaturkedudukan atom-atom yang membentuk molekul-molekul dan penjajagan
manusiauntuk membuat struktur kehidupan baru diruang angkasa (planet Mars).
Hasilperkembangan ilmu humaniora tidak optimal disebabkan karena beberapa faktor,antara
lain masih kuatnya pengaruh positivistik dalam dunia akademik, sehingga ukuran ilmiah
selalu diperlakukan seragam yakni eksak, terukur, dan bermanfaat.Penomorduaan terhadap
ilmu humaniora dalam berbagai aktivitas ilmiah bahkan dalambentuk pengakuan atau opini
masyarakat (IPA Vs IPS). Gagap teknologi (Gatek)dipandang lebih memalukan dari pada
gagap budaya (Gaya) & Gagap Kemanusiaan. Rendah diri yang menghinggapi kalangan
ilmuwan di bidang humaniora. SDM yang menggeluti Ilmu Humaniora kurang serius dan
hanya dijadikan aktivitas sambilan. Rendahnya dukungan pemerintah terhadap riset ilmu
humaniora dibandingkan ilmu eksak. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai para empu
ilmu humaniora sehingga kurang kena sasaran. Ilmu humaniora kurang dilibatkan sebagai
mitra dialog/mitra riset iptek.

I.2 Tujuan Penulisan


Dalam pembuatan makalah ini tentunya penulis mempunyai beberapa tujuan,
beberapa tujuan penulis adalah :
 Mengetahui cara beretika
 Mengetahui cara berestetika
 Mengetahui cara berlogika
 Mengetahui cara berretorika
dengan baik dan benar.
I.3 Kegunaan Penulisan
Kegunaan dari makalah ini adalah untuk menjadi pedoman pembelajaran tentang
kewarganegaraan khususnya humaniora sehingga dapat menambah pengetahuan
pembaca dan penulis tentang humaniora.
I.4 Cakupan Masalah
Karena dalam pembuatan makalah ini penulis hanya mendapatkan sedikit informasi
dan tentunya karena keterbatasan penulis dalam makalah ini penulis membatasi
masalah yaitu hanya membahas tentang cara – cara beretika, berlogika, berestetika,
berretorika dalam humaniora.
I.5 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode pengumpulan data,
agar data-data yang didapat lebih komplit dan sesuai dengan informasi yang di inginkan
pembaca, metode yang digunakan adalah metode pustaka, yaitu metode pengumpulan
data dengan melakukan pengambilan data dari situs internet.
I.6 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan sistematika sebagai berikut :
 BAB I PENDAHULUAN, dalam bab ini berisi tentang latar belakang , tujuan dan
kegunaan,pembatasan masalah, metode pengumpulan data serta sistematika penulisan.
 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, berisi tentang defenisi umum, sejarah humaniora, dan
bidang – bidang humaniora
 BAB III PEMBAHASAN, berisi tentang etika, retorika, estetika, dan logika
 BAB IV PENUTUP, dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Defenisi Umum


Secara bahasa, kita mengenal istilah humaniora (Latin), humanities (Inggris),
humanisme, humanitarian, humanitarianisme, humanis, yang semuanya berasal dari kata
human, yang berarti mankind, manusia, makhluk dengan derajat tertinggi. Humaniora
maupun humanitas, kedua-duanya dipergunakan dalam bahasa Latin/Yunani, misalnya
dalam Literae Humanitates, atau Literae Humaniores. Oleh karena literatur Yunani/Latin
adalah sumber utama dari pengetahuan, kebijaksanaan dan ekspresi, maka humanitas (Latin)
berarti bahasa dan literatur (termasuk filsafat, sejarah, ilmu pidato, dan sastra), Yunani dan
Romawi kuno. Sebagai gerakan, humaniora bangkit berbarengan dengan renaisans, sesudah
ditemukannya kembali pustaka dan peradaban Yunani/Romawi kuno, yang membangkitkan
minat kepada manusia, budaya, dan karyanya.Bahasa Indonesia, yang menerjemahkan kata-
kata Inggris dengan suku kata akhir ty, misalnya university, faculty, dan lain-lain, dengan
…tas, yang menjadi universitas dan fakultas, cenderung lebih menggunakan kata humaniora
daripada humanitas. Hal ini menunjukkan bahwa humaniora bukan terjemahan dari
humanity (Inggris), tetapi dari bahasa Latin humaniores. Selanjutnya dalam tulisan ini
dipakai kata humaniora dan bukan humanitas. Sedang kata humanitas (kb) diartikan sebagai
kodrat manusia atau perikemanusiaan (Fajri dan Senja). Perlu dicatat juga terdapat
penggunaan kata humaniora sebagai padanan dari humanisme, misalnya oleh Riyadi DS,
(2005).
Humaniora dapat berarti :
1. Studi tentang bahasa-bahasa dan sastra klasik Yunani dan Romawi
2. Cabang pengetahuan yang mempelajari manusia dan budayanya, seperti filsafat,
sastra,dan seni; tidak termasuk di dalamnya ilmu (science) seperti biologi dan ilmu
politik. Agama/kepercayaan kepada Tuhan, juga kemudian, sejak William Caxton (1422-
1491) tidak dimasukkan dalam kajian humaniora (Morris, 1981; Encycl Brit 1973
3. Dalam arti yang paling umum, humaniora adalah kualitas, perasaan dan kecenderungan,
bukan saja deskriptif tetapi juga normatif. Dalam kaitan ini humaniora mempunyai
konotasi perasaan dan perilaku manusia sebagai gentleman, orang yang berbudi luhur
dan sifat-sifat luhur yang melekat dengannya. Humaniora juga mempunyai konotasi
budaya intelektual. Humaniora dimaksudkan juga studi, pelatihan, proses yang
menghasilkan kualifikasi tersebut. Istilah inhumanitas diartikan sebagai not civilized,
tidak berbudaya, atau bar-bar.

Kata-kata yang berdekatan dengan humaniora, bahkan sering disama artikan, adalah
sebagai berikut:
 Humanitarian (kata sifat)
o Memfokuskan pada kebutuhan manusia dan menghilangkan/mengangkat penderitaan
manusia
o Berkaitan dengan pengabdian pada usaha-usaha kesejahteraan manusia dan dorongan
untuk perubahan masyarakat (social reform) = phylantopist, filantropis
 Humanitarianisme
o Pandangan, dasar-dasar, metoda dari humanitarian = filantropi
o Keyakinan, bahwa satu-satunya kewajiban moral manusia adalah bekerja untuk
kesejahteraan kemanusiaan yang lebih baik (berdekatan dengan pengertian etik)
o Keyakinan bahwa kondisi manusia dapat mencapai kesempurnaan dengan upayanya
sendiri, tanpa Tuhan
 Humanisme
o Keadaan atau kondisi atau kualitas sebagai manusia, makhluk berderajat tinggi
o Filsafat atau sikap yang menaruh perhatian terhadap manusia, perhatian dan
pencapaiannya
o Studi humaniora; ajaran tentang kesopanan dan budaya
o Gerakan/budaya dan intelektual yang terjadi pada masa renaisans
 Humanis
o Orang yang mengkaji humaniora, terutama mahasiswa tentang masalah-masalah klasik
o Orang yang menaruh perhatian kepada kajian tentang upaya dan kemampuan/pencapaian
manusia Pengkaji/mahasiswa tentang renaisans, atau pengikut dari paham humanisme
 Humanistik (ks)
Berhubungan dengan humanisme atau humaniora

Dari uraian diatas, istilah Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab, yang
dapat mewadahi humaniora ialah adab. Dalam ilmu al adab terkandung ilmu sastra, sejarah
sastra, ilmu kritik sastra, filologi. Adab juga berarti budaya yang baik. Tidak beradab berarti
tidak berbudaya, tidak berperilaku baik, sebagaimana Cicero (filsuf Yunani) mengartikan
inhumanitas dengan barbar.
Adab dapat berarti antara lain discipline of mind and manners, and of conduct or
behaviour (Huges, 2004). Karya al Makdisi (2005), dapat lebih memastikan bahwa
ilmu adab adalah Humaniora.

II.2 Sejarah Humaniora


Di dunia Barat, studi humaniora dapat dilacak hingga ke Yunani Kuno, sebagai
basis pendidikan yang besar bagi masyarakat. Selama masa Romawi, konsep tujuh seni
liberal bertingkat, termasuk grammar, retorika dan logika (trivium), bersama dengan
aritmatika, geometri, astronomi dan musik (quadrivium). Subjek-subjek ini membentuk
curahan pendidikan pertengahan, dengan penekanan pada humaniora sebagai
keterampilan atau “cara melakukan sesuatu”.
Sebuah pergeseran utama selama masa Renaissance, ketika humaniora mulai
dihargai sebagai subyek untuk lebih dipelajari daripada dipraktekkan, dengan
penyesuaian bergeser dari bidang tradisional kepada area seperti literatur dan sejarah.
Pada abad ke 20, pandangan ini ditantang oleh pergerakan paska-modernisasi, yang
dicari untuk menggambarkan kembali humaniora dalam istilah yang lebih menganut
persamaan untuk masyarakat demokratis.

II.3 Bidang – Bidang Humaniora


Sebagai sebuah bidang studi, humaniora menekankan pada analisa dan pertukaran
ide-ide dibandingkan ekspresi kreatif seni atau penjelasan kuantitatif ilmu
pengetahuan.
1. Sejarah, Antropologi, dan Arkeologi mempelajari perkembangan sosial, politik dan
budaya manusia.
2. Literatur, Bahasa dan Linguistik mempelajari bagaimana kita berkomunikasi satu sama
lain, dan bagaimana ide dan pengalaman kita akan pengalaman kemanusiaan
diekspresikan dan diinterpretasikan.
3. Filosofi, Etika, dan Perbandingan Agama mempertimbangkan ide tentang makna hidup
dan alasan bagi pemikiran dan tindakan kita.
4. Yurisprudensi menguji nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang menginformasikan hukum
kita.
5. Pendekatan Historis, Kritis, dan Teoritis terhadap Seni merefleksikan dan menganalisa
proses kreatif.

Pembagian bidang humaniora :


 Sastra Klasik
 Sejarah
 Bahasa
 Hukum
 Literatur
 Seni Drama
 Musik
 Teater
 Dansa
 Filosofi
 Agama
 Seni visual
 Melukis

Humaniora dan etika


Bila humaniora memusatkan perhatian kepada manusia, etika sebagai ilmu merupakan
bagian dari filsafat yang mempelajari nilai baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas dalam
kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya (Hariadi, 2005).
Tampak ada bidang tumpang tindih antara humaniora dan etika. Humanisme atau
humanitarianisme dapat berarti juga etika, yakni faham, ajaran, bahwa satu-satunya kewajiban
moral manusia adalah bekerja untuk kebaikan, perbaikan dan kesejahteraan manusia (Moris (ed),
1981).

Humaniora dan Agama


Semula humaniora mencakup didalamnya juga agama/kepercayaan, tetapi kemudian,
sejak William Caxton (1422-1491) (Encycl Britt, 1973) agama dipisahkan dari humaniora
mempercayai adanya kekuatan supranatural merupakan naluri manusia. Nilai-nilai agama
diturunkan kepada manusia melalui wahyu, yang dibawakan oleh utusanNya. Nilai-nilai religius
seharusnya merupakan nilai-nilai yang paling dasar dari segala tata nilai dan karena itu ada titik
temu dengan nilia-nilai budaya yang dikembangkan manusia (Muljohardjono,2004).
Penguasaan ilmu dan pengembangan teknologi adalah upaya pemenuhan kebutuhan
manusia. Untuk menjaga tercapainya tujuan tersebut, perlu hal tersebut dijaga, dikoridori oleh
nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai agama. Para agamawan/ruhaniawan tidak seharusnya
terpakupada kaidah-kaidah klasik dan baku, dalam mengantar, mengawal, perkembangan ilmu
dan teknologi agar benar-benar bermanfaat bagi manusia. Agama (Islam) membuka pintu kajian-
kajian terhadap rancangan, hasil, dan pemanfaatan dari pengembangan iptek. Pintu tersebut
adalah ijtihad. Dengan persyaratan-persyaratan tertentu agamawan/ruhaniawan dapat mengkaji
masalah-masalah kemajuan iptek, dan menghasilkan fatwa-fatwa kontemporer yang menjadi
dasar yang dapat dipertanggungjawabkan bagi pemanfaatan hasil pengembangan serta rancangan
pengembangan selanjutnya

.Humaniora dan Perkembangan Ilmu dan Teknologi


Penguasaan dan pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, oleh
karena itu harus memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia. Humaniora membawa nilai-nilai
budaya manusia. Nilai-nilai tersebut adalah universal. Tanpa humaniora pengembangan ilmu dan
teknologi tidak lagi bermanfaat bagi manusia. Pengembangan/ perkembangan yang banyak
disusupi nilai-nilai bisnis menimbulkan hedonisme yang bermula di masyarakat bisnis, yang
berlanjut pada umunya.

Humaniora dan Ilmu Kedokteran


Lebih khusus dalam kaitan dengan pengembangan ilmu dan teknologi, ialah Iptek
Kedokteran. Kedokteran adalah ilmu yang paling manusiawi, seni yang paling indah, dan
humaniora yang paling ilmiah (Pellegrino, 1970).
Clauser (1990) berpendapat bahwa mempelajari humaniora – sastra, filsafat, sejarah –
dapat meningkatkan kualitas pikir (qualities of mind) yang diperlukan dalam ilmu kedokteran.
Kualitas pikir tidak lagi terfokus pada hal-hal hafalan, materi baku, konsep mati, tetapi
ditingkatkan dalam hal kemampuan kritik, perspektif yang lentur, tidak terpaku pada dogma, dan
penggalian nilai-nilai yang berlaku didalam ilmu kedokteran. Menurunnya studi kedokteran
cenderung memfokuskan mindset pada ujian, diskusi yang monoton tentang pasien, hasil
laboratorium, insiden, banyak pasien, dan lain-lain. Humaniora membebaskan kita dari terkunci
dalam satu mindset. Kita perlu kelenturan dalam mengubah perspektif, dan mengubah
interpretasi bila diperlukan. Dengan sastra, seseorang (mahasiswa kedokteran) dapat
mengembangkan empati dan toleransi, mencoba menempatkan diri dalam gaya hidup, imaginasi,
keyakinan yang berbeda.
Ilmu kedokteran, selain ilmu-ilmu dasar, adalah juga profesi. Pengembangan profesi
cenderung mengkotak-kotakkan pada bidang spesialisasi. Seorang spesialis cenderung
memahami hanya bidang spesialisasinya saja. Tuntutan efektif-efisien, perhitungan cost-benefit
cenderung menghapus nilai empati, kurang dapat menempatkan diri sebagai penderita.
Hubungan dokter-pasien menjadi kurang manusiawi. Humaniora memperbaiki kondisi tersebut.

Humaniora medis
Humaniora medis merupakan bidang interdisipliner medis dimana termasuk humaniora
(literatur, filosofi, etika, sejarah dan bahasa), ilmu sosial (antropologi, studi budaya, psikologi,
sosiologi), dan seni (literatur, teater, film dan seni visual) dan aplikasinya terhadap edukasi dan
praktek medis.
Humaniora dan seni memberikan pengertian yang dalam tentang kondisi
manusia, penderitaan, kemanusiaan dan tanggung jawab kita satu sama lain, dan menawarkan
perspektif sejarah dalam praktek medis. Perhatian terhadap literatur dan seni membantu dalam
membangun dan memelihara kemampuan observasi, analisis, empati dan refleksi-diri
kemampuan yang penting bagi pengobatan medis manusia.Ilmu sosial membantu kita memahami
bagaimana biologi dan medis menempatkan diri dalam konteks sosial dan budaya dan juga
bagaimana budaya berinteraksi dengan pengalaman individual akan kesakitan dan cara ilmu
medis dipraktekkan.
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Etika
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat
internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia
bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal
dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman
pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka
senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar
perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak
bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh
kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan
prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana
yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari
kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-
ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli
berikut ini :
 Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam
berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
 Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku
perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan
oleh akal.
 Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai
nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika


memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan
sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara
tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil
keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama
bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan
demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi
kehidupan manusianya.

III.1.1 Pengertian Etika


Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti
watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan
perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk
jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan
melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang
buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-
hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang
dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu:
 Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila)
yang lebih baik (su).
 Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan Etika,
sebagai berikut:
 Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu
pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
 Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan
(adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat
dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok
perhatiannya; antara lain:
1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak
(The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari
kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of
human actions)
3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The
science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)

III.1.2 Macam – macam etika


Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau
etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah
manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka
asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani
dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya.
Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan
etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:
1. Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku
manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu
yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara
apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang
terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa
tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu
masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat
bertindak secara etis.

2. Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya
dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan
tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan
norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan
menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang
disepakati dan berlaku di masyarakat.

Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat


diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:
 Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan
tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
 Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik
buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat
kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan
tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
 Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan
evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam
hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan
merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

III.1.3 Norma dan kaidah


Di dalam kehidupan sehari-hari sering dikenal dengan istilah norma-norma atau
kaidah, yaitu biasanya suatu nilai yang mengatur dan memberikan pedoman atau patokan
tertentu bagi setiap orang atau masyarakat untuk bersikap tindak, dan berperilaku sesuai
dengan peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama. Patokan atau pedoman
tersebut sebagai norma (norm) atau kaidah yang merupakan standar yang harus ditaati
atau dipatuhi (Soekanto: 1989:7).
Kehidupan masyarakat terdapat berbagai golongan dan aliran yang beraneka
ragam, masing-masing mempunyai kepentingan sendiri, akan tetapi kepentingan bersama
itu mengharuskan adanya ketertiban dan keamanan dalam kehidupan sehari-hari dalam
bentuk peraturan yang disepakati bersama, yang mengatur tingkah laku dalam
masyarakat, yang disebut peraturan hidup.Untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan
kehidupan dengan aman, tertib dan damai tanpa gangguan tersebut, maka diperlukan
suatu tata (orde=ordnung), dan tata itu
diwujudkan dalam “aturan main” yang menjadi pedoman bagi segala pergaulan
kehidupan sehari-hari, sehingga kepentingan masing-masing anggota masyarakat
terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui “hak dan kewajibannya
masing-masing sesuai dengan tata peraturan”, dan tata itu lazim disebut “kaedah” (bahasa
Arab), dan “norma” (bahasa Latin) atau ukuran-ukuran yang menjadi pedoman, norma-
norma tersebut mempunyai dua macam menurut isinya, yaitu:
a) Perintah, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh
karena akibatnya dipandang baik.
b) Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh
karena akibatnya dipandang tidak baik.Artinya norma adalah untuk memberikan
petunjuk kepada manusia bagaimana seseorang hams bertindak dalam masyarakat
serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankannya, dan perbuatan-perbuatan
mana yang harus dihindari (Kansil, 1989:81).
III.2 Retorika
Retorika (rethoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini
lebih dikenal dengan nama Public Speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami
sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna
propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik
propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk, labelling
theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan
label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari kesan
buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya).

III.2.1 Gaya bahasa retorika


a) Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan
mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas
dan dikenal, tamsil)
b) Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang
multi-interpretatif)
c) Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa
memukau khalayak)
d) Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain)
e) Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang
berbicara)
f) Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas
sesungguhnya)
g) Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang
terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan)
h) Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit, abstrak dan tidak secara langsung
menunjuk kepada tema, jawaban normatif-diplomatis)
i) Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang
tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

III.2.2 Retorika dakwah


Retorika Dakwah dapat dimaknai sebagai pidato atau ceramah yang berisikan pesan
dakwah, yakni ajakan ke jalan Tuhan (sabili rabbi) mengacu pada pengertian
dakwah dalam QS. An-Nahl:125: “Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan
Tuhanmu dengan hikmah, nasihat
yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” Ayat tersebut juga
merupakan acuan bagi pelaksanaan retorika dakwah. Menurut Syaikh Muhammad
Abduh, ayat tersebut menunjukkan, dalam garis besarnya, umat yang dihadapi
seorang da’i (objek dakwah) dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-
masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits: “Berbicaralah
kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka”.
 Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan
cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan
alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan
mereka.
 Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis
dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini
dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang
baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.
 Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan
tersebut.Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni
dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.
III.2.3 Retorika Islam
Retorika dakwah sendiri berarti berbicara soal ajaran Islam. Dalam hal ini,Dr.
Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Retorika Islam (Khalifa, 2004), menyebutkan
prinsip-prinsip retorika Islam sebagai berikut:
1. Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.
2. Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.
3. Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.
4. Cara hikmah a.l. berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya,
ramah,memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika


Islam antara lain :
1) Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
2) Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.
3) Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.
4) Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.
5) Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
6) Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.
(www.romeltea.com).

III.2.4 Dasar – dasar percakapan yang berhasil


 Kejujuran
 Sikap yang benar
 Minat terhadap orang lain
 Keterbukaan terhadap diri sendiri

III.3 Estetika
Estetika (sthetics juga dieja atau estetika) adalah cabang filsafat yang berhubungan
dengan sifat keindahan, seni, dan rasa, dan dengan penciptaan dan apresiasi terhadap
keindahan . Hal ini lebih ilmiah didefinisikan sebagai studi tentang sensor atau sensori nilai
emosional, kadang-kadang disebut penilaian terhadap sentimen dan rasa. Lebih luas,
sarjana di lapangan mendefinisikan estetika sebagai "refleksi kritis pada seni, budaya dan
alam."Estetika berkaitan dengan aksiologi, cabang filsafat, dan erat terkait dengan filosofi
seni studi Estetika cara-cara baru. untuk melihat dan mengamati dunia.

Etimologi
Berasal dari bahasa Yunani (aisthetikos, yang berarti "estetis, sensitif, makhluk"),
yang pada gilirannya berasal dari (aisthanomai, yang berarti " Saya melihat, merasa, rasa
"). Istilah" estetika "adalah disesuaikan dan diciptakan dengan makna baru dalam bentuk
Jerman sthetik (ejaan modern sthetik) oleh Alexander Baumgarten pada tahun 1735

Estetika penghakiman
Hukum nilai estetika bergantung pada kemampuan kita melakukan diskriminasi
pada tingkat sensorik. Estetika memeriksa domain afektif kita respon terhadap suatu obyek
atau fenomena. Immanuel Kant, menulis pada tahun 1790, mengamati seorang pria "Jika ia
mengatakan bahwa anggur kenari adalah menyenangkan dia cukup puas jika orang lain
mengoreksi syarat dan mengingatkan dia untuk berkata sebaliknya: Sangat menyenangkan
bagimsaya," karena "Setiap orang memiliki sendiri rasa ". Kasus "keindahan" berbeda dari
sekedar "keramahan" karena, "Jika ia menyatakan sesuatu yang harus indah, maka ia
memerlukan keinginan yang sama dari orang lain, ia kemudian hakim tidak hanya untuk
dirinya sendiri tetapi untuk semua orang, dan berbicara tentang keindahan seolah-olah itu
adalah milik sesuatu. " Estetika penilaian biasanya melampaui diskriminasi sensoris. Bagi
David Hume,
kelezatan rasa bukan hanya "kemampuan untuk mendeteksi semua bahan dalam komposisi",
tetapi juga kepekaan kami "untuk sakit serta kesenangan, yang melarikan diri dari seluruh
umat manusia." (Esai Moral Politik dan Sastra. Indianapolis, Sastra Klasik 5, 1987.)
Demikian, diskriminasi sensorik ini terkait dengan kapasitas untuk kesenangan. Bagi Kant
"kenikmatan" adalah hasil ketika kenikmatan muncul dari sensasi, tapi menilai sesuatu yang
harus "indah" memiliki persyaratan ketiga: sensasi harus menimbulkan kesenangan dengan
melibatkan kapasitas kita kontemplasi reflektif. Hukum keindahan yang sensori, emosional
dan intelektual sekaligus. Viewer interpretasi keindahan memiliki dua konsep nilai: estetika
dan rasa. Estetika adalah gagasan filosofis keindahan. Taste adalah hasil dari pendidikan dan
kesadaran nilai-nilai budaya elit [klarifikasi diperlukan] [rujukan?], Sehingga rasa bisa
dipelajari [rujukan?]. Rasa bervariasi menurut kelas, latar belakang budaya, dan pendidikan
[rujukan?]. Menurut Kant,kecantikan adalah objektif dan universal, sehingga hal-hal tertentu
yang indah untuk semua orang [rujukan?] Pandangan kontemporer keindahan tidak
didasarkan pada kualitas bawaan, melainkan di spesifik budaya dan interpretasi individu.

III.4 Logika
Dalam sejarah perkembangan logika, banyak definisi dikemukakan oleh para ahli,
yang secara umum memiliki banyak persamaan. Beberapa pendapat tersebut antara
lain:
The Liang Gie dalam bukunya Dictionary of Logic (Kamus Logika) menyebutkan:
Logika adalah bidang pengetahuan dalam lingkungan filsafat yang mempelajari secara
teratur asas-asas dan aturan-aturan penalaran yang betul (correct reasoning). Menurut
Mundiri dalam bukunya tersebut Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari
metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari
penalaran yang salah.
Secara etimologis, logika adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal
dari kata benda logos. Kata logos berarti: sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal
(fikiran), kata, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos berarti mengenai sesuatu yang
diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai percakapan atau
yang berkenaan dengan ungkapan lewat bahasa. Dengan demikian, dapatlah dikatakan
bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut logike episteme atau dalam bahasa
latin disebut logica scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang lazim disebut dengan
logika saja. Definisi umumnya logika adalah cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal
pada penalaran, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan
fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan
penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori
tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari suatu
pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan. Penyimpulan yang sah,
artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali yang
sekaligus juga benar, yang berarti dituntut kebenaran bentuk sesuai dengan isi. Logika
sebagai teori penyimpulan, berlandaskan pada suatu konsep yang dinyatakan dalam bentuk
kata atau istilah, dan dapat diungkapkan dalam bentuk himpunan sehingga setiap konsep
mempunyai himpunan, mempunyai keluasan. Dengan dasar himpunan karena semua unsur
penalaran dalam logika pembuktiannya menggunakan diagram himpunan, dan ini
merupakan pembuktian secara formal jika diungkapkan dengan diagram himpunan sah dan
tepat karena sah dan tepat pula penalaran tersebut. Berdasarkan proses penalarannya dan
juga sifat kesimpulan yang dihasilkannya, logika dibedakan antara logika deduktif dan
logika induktif. Logika deduktif adalah sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip
penyimpulan yang sah berdasarkan bentuknya serta kesimpulan yang dihasilkan sebagai
kemestian diturunkan dari pangkal pikirnya. Dalam logika ini yang terutama ditelaah adalah
bentuk dari kerjanya akal jika telah runtut dan sesuai dengan pertimbangan akal yang dapat
dibuktikan tidak ada kesimpulan lain karena proses penyimpulannya adalah tepat dan sah.
Logika deduktif karena berbicara tentang hubungan bentuk-bentuk pernyataan saja yang
utama terlepas isi apa yang diuraikan karena logika deduktif disebut pula logika formal.
BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Dari penulisan makalah di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1) Secara umum, definisi humaniora adalah disiplin akademik yang mempelajari kondisi
manusia, menggunakan metode yang terutama analitik, kritikal, atau spekulatif,
sebagaimana dicirikan dari sebagian besar pendekatan empiris alami dan ilmu sosial.
2) Humaniora terdiri atas unsur-unsur seni, etika, kearifan, nilai-nilai kejujuran, kebenaran,
kelembutan, memanusiakan manusia, menyingkirkan beban dari dan berbuat baik bagi
manusia. Tanpa nilai-nilai tersebut, manusia atau perilakunya dapat dikategorikan tidak
human, tidak manusiawi, tidak berbudaya atau barbar.
3) Pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, untuk kesejahteraan
manusia. Oleh karena itu perlu dipandu oleh nilai-nilai humaniora, agar terjamin
kemanfaatannya untuk manusia.
4) Agama seharusnya merupakan nilai yang paling azasi dari seluruh nilai-nilai humaniora.
Nilai-nilai agama diharapkan dapat dikembangkan oleh agamawan/ruhaniawan untuk
memandu pengembangan ilmu/teknologi dan penerapannya.
5) Ilmu kedokteran adalah ilmu yang sarat dengan nilai-nilai, namun hal ini sering
dilupakan. Oleh karena itu humaniora perlu diberikan untuk membuat profesi medik lebih
sensitif terhadap adanya nilai-nilai tersebut dan pengetrapannya dalam praktek.
6) Humaniora diharapkan dapat meningkatkan kualitas berfikir, yang ditengarai sebagai
sifat kritis, lentur dalam perspektif, tidak terpaku pada dogma, tanggap terhadap nilai-
nilai, dan sifat empati.

IV.2 Saran
Dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi pedoman penulis dan
pembaca khususnya dalam humaniora dan yang paling penting adalah etika, retorika,
estetika, dan logika.