Anda di halaman 1dari 33

PENDAHULUAN

Sepsis neonatorum merupakan sindrom klinis penyakit sistemik akibat infeksi


yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. Infeksi dapat disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur dan protozoa.1
Kejadian sepsis berbeda pada setiap negara. Angka kejadian di Amerika
Selatan adalah sekitar 3,5 – 8,9 per 1.000 kelahiran hidup. Di Amerika Serikat
dan Australia merupakan yang terendah, berkisar 1,5 – 3,5 per 1000 kelahiran
hidup. Di Afrika dan Asia, memiliki angka kejadian paling tinggi, yaitu 23 – 38
per 1000 kelahiran hidup. Untuk di Indonesia sendiri, angka kejadian sepsis
neonatorum di beberapa rumah sakit berkisar antara 1,5% sampai dengan 3,72%
dan tingkat kematiannya sekitar 37,89% sampai 80%. 2
Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam 2
golongan besar, yaitu infeksi berat dan infeksi ringan.
1. Infeksi berat: sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare epidemik,
pielonefritis, osteitis akut, tetanus neonatorum
2. Infeksi ringan: infeksi pada kulit, oftalmia neonatorum, infeksi umbilikus
(omfalitis), moniliasis.
Sepsis neonatorum terbagi menjadi onset dini dan onset lambat. Pada bayi
baru lahir, 85% sepsis onset dini biasanya akan tampak pada 24 jam pertama, 5%
pada 24 – 48 jam pertama dan sisanya pada 48 – 72 jam berikutnya. Cepat
lambatnya onset sepsis juga dipengaruhi oleh prematuritas bayi, dimana lebih
rentan pada bayi prematur.1
Gejala dari sepsis neonatorum bervariasi, mulai dari gangguan pernapasan,
gejala gastrointestinal, ikterus, suhu tidak stabil, hipo/hiperglikemia, letargi atau
fontanela membonjol.
Diagnosis untuk sepsis neonatorum dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Anamnesis mengenai riwayat kehamilan dan persalinan
sangat membantu untuk menegakkan diagnosis sepsis pada neonatorum.
Pemeriksaan fisik pada bayi tidak kalah penting untuk mengetahui gejala-gejala
yang mendukung untuk diagnosis sepsis neonatorum.

1
Keadaan ini sering terjadi pada bayi berisiko misalnya pada bayi kurang
bulan (BKB), bayi berat lahir rendah (BBLR), bayi dengan sindrom gangguan
napas atau bayi lahir dari ibu berisiko. Kejadian sepsis juga meningkat pada BKB
(Bayi Kurang Bulan) dan BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). 2,3
Bayi berat lahir rendah adalah bayi yang dilahirkan dengan berat lahir <2500
gram tanpa memandang masa gestasi. BBLR dapat disebabkan oleh beberapa hal
misalnya, kehamilan kurang bulan, bayi kecil untuk masa kehamilan atau
kombinasi keduanya.1,3

2
KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : By. Ny. Y N
Tanggal Lahir : 19 Maret 2019
Tanggal Masuk : 19 Maret 2019
Jenis Kelamin : Perempuan
Ibu
Nama : Ny. Y N
Umur : 22 tahun
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : IRT
Ayah
Nama : Tn. M H
Umur : 22 tahun
Pendidikan terakhir : S1
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Kemiri

FAMILY TREE

: Laki-laki
: Perempuan

3
ANAMNESIS
I. Keluhan Utama : Sesak & BBLR

II. Riwayat Penyakit sekarang :


Bayi perempuan baru masuk dengan usia 0 hari pada tanggal 19 Maret 2019
pukul 08.45 WITA di IGD RSU Anutapura dengan rujukan BBLR dari
Klinik bersalin.

III. Riwayat Kelahiran :


Bayi perempuan lahir pada tanggan 19 maret 2019. Bayi lahir secara
spontan/ normal, kehamilan cukup bulan dan ditolong oleh bidan, saat lahir
bayi tidak langsung menangis. Apgar Score tidak diukur. Air ketuban
berwarna hijau kental, BBL: 1900 gr. Anus (+), Palatum (+), Sianosis (-),
sesak (+), retraksi (+), Merintih (-), BAB dan BAK (+).

IV. Riwayat Penyakit Sebelumnya :

Bayi tidak mengalami gejala yang lain, sebelum adanya keluhan.

V. Riwayat Maternal :

Riwayat kehamilan ibu G1 P0 A0, usia ibu sewaktu mengandung


berumur 23 tahun. Pada masa kehamilannya, ibu mengaku mengalami
penurunan nafsu makan. Riwayat penyakit yang diderita ibu (-) selama
kehamilan, riwayat penyakit diabetes melitus (-), hipertensi (-), riwayat
konsumsi rokok, alcohol dan obat-obatan saat hamil (-). Selama masa
kehamilannya, ibu mengaku rutin melakukan pemeriksaan (antenatal care)
pada dokter.

PEMERIKSAAN TANDA VITAL :


- Denyut Jantung : 139 x/menit
- Respirasi : 65 x/menit
- Suhu : 37,8 °C
- Capillary Refill Time : < 2 detik

4
PEMERIKSAAN FISIK :
 Berat Badan : 2000 gr
 Panjang Badan Lahir : 46 cm
 Lingkar Kepala : 32 cm
 Lingkar Dada : 30 cm
 Lingkar Perut : 27 cm
 Lingkar Lengan : 8 cm
 Sistem Neurologis : - Aktivitas bayi : aktif
- Kesadaran : kompos mentis
- Fontanella : datar
- Sutura : belum menyatu
- Refleks terhadap cahaya : (+/+)
- Kejang : (-)
 Sistem Respirasi : - Sianosis (-)
- Retraksi (+)
- Nafas cuping hidung (+)
- Merintih (-)
- Apneu (-)
- Bunyi nafas : bronchovesikuler
- Bunyi nafas tambahan (-)

Down’s Score : - Frekuensi nafas : 1


- Retraksi : 1
- Sianosis : 0
- Udara Masuk : 0
- Merintih : 0
Total : 2
Kesimpulan : gangguan napas ringan.

 Sistem Kardiovaskuler : - Bunyi jantung : S1-S2 regular murni


- Bising jantung (-)
 Sistem Hematologi : - Pucat (-)

5
- Ikterus (-)
 Sistem Gastrointestinal : - Kelainan dinding abdomen (-)
- Muntah (-)
- Diare (-)
- Umbilikus : bernanah (-), iritasi (-), edema (-)
 Sistem Genital : - Anus imperforata (-)
- Labia mayoradan labia minora menonjol (+)
 Pemeriksaan lain : - Ekstremitas : Akral hangat, lengkap
- Turgor : Baik
- Trauma Lahir :-
- Kelainan Kongenital : -

Ballard’s Score : Maturitas Neuromuskular


- Sikap Tubuh :4
- Jendela pergelangan tangan : 4
- Rekoil :4
- Sudut Poplitea :3
- Tanda Selempang :4
- Tumit ke kuping :3

Maturitas Fisik
- Kulit :2
- Lanugo :3
- Permukaan Plantar : 4
- Payudara :3
- Mata/ Telinga :2
- Genitalia :2
Total : 38
38 - 40 minggu
Kesimpulan : Bayi cukup bulan, kecil masa
kehamilan.

6
KURVA LUBCHENCO

Kesimpulan klasifikasi bayi menurut Lubchenco : Bayi cukup bulan (CB),


Kecil Masa Kehamilan (KMK).

SKOR SEPSIS

Kategori A Kategori B

Kesulitan bernapas (mis: apnea, Tremor


takipneu, retraksi dada, grunting,
sianosis sentral)
Kejang Letargi atau lunglai

Tidak sadar Mengantuk atau aktivitas berkurang

Suhu tubuh tidak normal (sejak lahir & Tanda-tanda muncul setelah hari ke
tidak merespon terhadap terapi) atau empat
suhu tidak stabil sesudah pengukuran
suhu normal selama tiga kali atau lebih.

7
Persalinan di lingkungan yang kurang Iritabel atau rewel, muntah, perut
higienis kembung

Kondisi memburuk dengan cepat Air ketuban bercampur mekonium

Malas minum

Kesimpulan : Kecurigaan besar sepsis : 2 atau lebih A ; 3 atau lebih B

Hasil pemeriksaan Laboratorium (20/3/2019)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


WBC 17,0 x 103/uL 5 - 10/uL
RBC 5,75 x 106/uL 3,6 – 6,5 x 106/uL

HGB 22,0 g/Dl 12 – 18 g/dL


HCT 65,8 % 35 – 52 %
PLT 136 x 103/uL 150 – 450 x 103/uL
GDS 79 mg/dl 60-199 mg/dl

RESUME :
Bayi perempuan usia 0 hari dirujuk dengan keluhan sesak dan Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR) dari Klinik bersalin. Bayi perempuan lahir pada tanggal 19
maret 2019. Bayi lahir secara spontan/ normal, kehamilan cukup bulan dan
ditolong oleh bidan, saat lahir bayi tidak langsung menangis. Apgar Score tidak
dihitung. Air ketuban berwarna hijau kental, BBL: 1900 gr. Anus (+), Palatum
(+), Sesak (+), Retraksi (+). BAB dan BAK (+).
Riwayat kehamilan ibu G1 P0 A0, usia ibu sewaktu mengandung berumur
23 tahun. Pada saat kehamilannya, ibu mengaku mengalami penurunan nafsu
makan dan tidak pernah sakit dan mengkonsumsi rokok, alcohol, ataupun obat-

8
obatan lainnya. Ibu juga mengaku, pada saat kehamilannya rajin melakukan
pemeriksaan (antenatal care) di dokter.
Pada pemeriksaan fisik denyut jantung 139 x/menit, respirasi 65 x/menit,
suhu 37,8°C, Capillary Refill Time : < 2 detik. Berat badan masuk 1900 gram.
Panjang badan 46 cm. Pada pemeriksaan Skor Downe didapatkan Sesak (+) dan
retraksi (+) dengan total skor 2 (gangguan napas ringan). Pada pemeriksaan
Ballard Score didapatkan total skor 38 dengan estimasi kehamilah 38 – 40
minggu (Bayi cukup bulan, kecil masa kehamilan).
Pada skor sepsis didapatlan adanya kesulitan bernapas (takipneu, retraksi
dada), kejang, dan air ketuban yang bercampur mekonium sehingga disimpulkan
kecurigaan besar sepsis.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil WBC:17,0 x 103/uL, RBC:


5,75 x 106/uL, HGB: 22,0 g/dL,HCT: 65,8 %, PLT: 136 x 103/uL, GDS: 79
mg/Dl.

DIAGNOSIS : - Riwayat Asfiksia

- Gangguan Napas Ringan

- Bayi Cukup Bulan Kecil Masa Kehamilan / BBLR

- Susp. Sepsis Neonatorum

TERAPI :
 IVFD Ringer Laktat 6 tpm
 Inj. Cefotaxim 2 x 100 mg/ IV
 Inj. Gentamycin 1 x 10 mg/ IV
 Rawat incubator
 Rawat tali pusat.

ANJURAN PEMERIKSAAN : - Pemeriksaan darah Rutin

- Pemeriksaan Gula Darah

9
FOLLOW UP

Tanggal 20-03-2019 (PH : 2)


Subject Aktivitas bayi tampak mulai aktif, mengalami kejang < 10 menit.
Object DJ: 134 x/menit SB: 37,5 °C
R: 62 x/m
Berat badan: 1900 gram
- Sistem neurologis: aktivitas tidak aktif, refleks (+) kurang,
tonus otot normal, kejang (+).
- Status kardiovaskular: BJ S1 dan S2 murni reguler, HR: 134
x/m, CRT < 2 detik.
- Status respiratorius: RR: 62 x/m, sianosis (-), retraksi dada (+).
- Status hematologis: anemia (-), ikterik (-).
- Status gastrointestinal: peristaltik usus (+),Umbilikus berbau (-)
Assesment - Riwayat Asfiksia
- Gangguan Napas Ringan
- BBLR
- Susp. Sepsis Neonatorum (Skor Sepsis)
Plan IVFD RL 6 tpm
Inj. Cefotaxim 2 X 100mg/iv
Inj. Gentamycin 1 X 10mg/ iv
Inj. Cibital 5 mg/ 12 jam/ iv
02 0,5 – 2 lpm
Rawat inkubator
Rawat tali pusat

10
Down’s Score : - Frekuensi nafas : 1
- Retraksi : 1
- Sianosis : 0
- Udara Masuk : 0
- Merintih : 0
Total : 2
Kesimpulan : gangguan napas ringan.

SKOR SEPSIS

Kategori A Kategori B

Kesulitan bernapas (mis: apnea, Tremor


takipneu, retraksi dada, grunting,
sianosis sentral)
Kejang Letargi atau lunglai

Tidak sadar Mengantuk atau aktivitas berkurang

Suhu tubuh tidak normal (sejak lahir & Tanda-tanda muncul setelah hari ke
tidak merespon terhadap terapi) atau empat
suhu tidak stabil sesudah pengukuran
suhu normal selama tiga kali atau lebih.
Persalinan di lingkungan yang kurang Iritabel atau rewel, muntah, perut
higienis kembung

Kondisi memburuk dengan cepat Air ketuban bercampur mekonium

Malas minum

Kesimpulan : Kecurigaan besar sepsis : 2 atau lebih A ; 3 atau lebih B

11
Tanggal 21-3-2019 (PH: 3)
Subject Aktivitas bayi tampak mulai aktif, menangis (+), sesak (-),
merintih (-), kejang (-), bebas kejang hari 1.
Object DJ: 142 x/menit SB: 37,4 °C
R: 56 x/m
Berat badan: 1950 gram
- Sistem neurologis: aktivitas mulai aktif, refleks (+) baik, tonus
otot normal, kejang (-).
- Status kardiovaskular: BJ S1 dan S2 murni reguler, HR: 142
x/m, CRT < 2 detik.
- Status respiratorius: RR: 56 x/m, sianosis (-), retraksi dada (-).
- Status hematologis: anemia (-), ikterik (-).
- Status gastrointestinal:Peristaltik usus (+),Umbilikus berbau (-),
BAB (+)
Assesment - Riwayat Asfiksia
- BBLR
- Sepsis Neonatorum
Plan IVFD RL 6 tpm
Inj. Cefotaxim 2 X 100mg/iv
Inj. Gentamycin 1 X 10mg/ iv
ASI Ondemand
Rawat inkubator
Rawat tali pusat

Down’s Score : - Frekuensi nafas : 0


- Retraksi : 0
- Sianosis : 0
- dara Masuk : 0
- Merintih : 0
Total : 0
Kesimpulan : Tidak ada gangguan napas

12
Tanggal 22-3-2019 (PH: 4)
Subject Aktivitas bayi tampak aktif, menangis (+), sesak (-), merintih (-),

kejang (-), bebas kejang hari 2.

Object DJ: 120 x/menit SB : 36,6 °C


R: 55 x/m CRT: < 2 detik
Berat badan: 1950 gram
- Sistem neurologis: aktivitas cukup aktif, refleks (+) baik, tonus
otot normal, kejang (-).
- Status kardiovaskular: BJ S1 dan S2 murni reguler, HR: 120
x/m, CRT < 2 detik.
- Status respiratorius: RR: 55 x/m, sianosis (-), retraksi dada (-).
- Status hematologis: anemia (-), ikterik (-).
- Status gastrointestinal: peristaltik usus (+), BAB (+)

Assesment - Riwayat Asfiksia


- BBLR
- Sepsis Neonatorum
Plan ASI ondeman
Rawat inkubator
Rawat tali pusat
Observasi kejang.
Observasi tanda vital.

13
Tanggal 23-3-2019 (PH: 5)
Subject Aktivitas bayi tampak aktif, menangis (+), sesak (-), merintih (-),

kejang (-), bebas kejang hari 3.

Object DJ: 125 x/menit SB: 37,2 °C


R: 48 x/m
Berat badan: 2000 gram
- Sistem neurologis: aktivitas cukup aktif, refleks (+) baik, tonus
otot normal, kejang (-).
- Status kardiovaskular: BJ S1 dan S2 murni reguler, HR: 125
x/m, CRT < 2 detik.
- Status respiratorius: RR: 48 x/m, sianosis (-), retraksi dada (-).
- Status hematologis: anemia (-), ikterik (-).
- Status gastrointestinal: peristaltik usus (+), BAB (+)

Assesment - Riwayat Asfiksia


- BBLR
- Sepsis Neonatorum
Plan ASI ondeman
Bayi boleh rawat jalan dan melakukan kontrol di poliklinik anak.

14
DISKUSI

Bayi perempuan usia 0 hari dirujuk dengan keluhan sesak dan Bayi

Berat Lahir Rendah (BBLR) dari Klinik bersalin. Bayi perempuan lahir

pada tanggal 19 maret 2019. Bayi lahir secara spontan/ normal, kehamilan

cukup bulan dan ditolong oleh bidan, saat lahir bayi tidak langsung

menangis. Apgar Score tidak dihitung. Air ketuban berwarna hijau kental,

BBL: 1900 gr. Anus (+), Palatum (+), Sesak (+), Retraksi (+). Merintih (-).

BAB dan BAK (+).

Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernapas
secara spontan dan teratur setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia,
hiperkapnia, dan berakhir dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita
asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi
baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin. Asfiksia dapat disebabkan oleh
berbagai faktor pada ibu, plasenta, fetus dan neonatus.(2)
Faktor resiko untuk terjadinya asfiksia neonatorum adalah:1

a. Faktor ibu
- Preeklampsia dan eklampsia
- Perdarahan antepartum abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
- Partus lama atau partus macet
- Demam sebelum dan selama persalinan
- Infeksi berat (malaria, sifilis, TB, HIV)
- Kehamilan lebih bulan (lebih 42 minggu kehamilan)
b. Faktor plasenta dan tali pusat
- Infark plasenta
- Hematom plasenta
- Lilitan tali pusat
- Tali pusat pendek
- Simpul tali pusat prolapsus tali pusat

15
c. Faktor bayi
- Bayi kurang bulan/ prematur (kurang 37 minggu kehamilan)
- Air ketuban bercampur mekonium
- Kelainan kongenital yang memberi dampak pada pernapasan bayi

Pada kasus ini faktor predisposisi terjadinya asfiksia adalah dari faktor bayi,
yaitu bayi meminum ketuban dan masuk ke alveoli paru-paru bayi sehingga terisi
cairan yang menyebabkan kesulitan bernafas ketika lahir atau beberapa saat
setelah lahir. 1,2

Pada pemeriksaan didapatkan berat badan lahir bayi adalah 1900 gram
sehingga tergolong bayi berat lahir rendah (BBLR). 1
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir 1500-2500
gram tanpa memandang usia gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
dalam 1 jam setelah lahir. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (<37
minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction/IUGR).1,3
Berdasarkan berat badan lahir, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam
beberapa kelompok, yaitu : 1

1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500-2499 gram.


2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram.
3. Bayi Berat Lahir Ekstrim rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram.

Riwayat kehamilan ibu G1 P0 A0, usia ibu sewaktu mengandung

berumur 23 tahun. Pada saat kehamilannya, ibu mengaku mengalami

penurunan nafsu makan dan tidak pernah sakit dan mengkonsumsi rokok,

alcohol, ataupun obat-obatan lainnya. Ibu juga mengaku, pada saat

kehamilannya rajin melakukan pemeriksaan (antenatal care) di dokter.

Pada anamnesis didapatkan, pada masa kehamilannya ibu pasien mengalami

penurunan nafsu makan, sehingga selama kehamillanya intake nutrisi berkurang,

16
menurut teori didapatkan bahwa beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan

lahir rendah, yaitu:

a. Faktor ibu
1) Penyakit kehamilan

Penyakit kehamilan atau komplikasi kehamilan seperti anemia,


perdarahan antepartum, preeklamsi berat, eklamsia, infeksi kandung
kemih. Dapat pula berupa penyakit infeksi seperti malaria, infeksi
menular seksual, hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol juga secara langsung
dapat memperberat kondisi ibu dan janin.

2) Ibu

Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun)
dan mempunyai riwayat BBLR sebelumnya. Aktivitas fisik yang
berlebihan menyebabkan penurunan daya tahan, gizi ibu dan menambah
kerentanan pada bayi. Bayi yang tak di inginkan.

b. Faktor janin
Faktor janin meliputi kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi
sitomegali, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan kembar.

c. Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban
pecah dini.

17
Pada pemeriksaan fisik denyut jantung 134 x/menit, respirasi 65

x/menit, suhu 37,8°C, Capillary Refill Time : < 2 detik. Berat badan masuk

1900 gram. Panjang badan 46 cm.

Pada kasus ini berat badan bayi adalah 1900 gram, bayi ini termasuk dalam
kelompok Berat Bayi Lahir rendah (BBLR), Estimasi usia kehamilan setelah
dilakukan Score ballard pada pasien ini adalah 38 minggu dan termasuk dalam
kelompok dismaturitas.3,4,6

Bayi BBLR dapat di golongkan menjadi 2 golongan, yaitu :


1. Prematuritas murni
Masa gestasi kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai dengan
berat badan untuk masa gestasi tresebut atau biasa disebut dengan neonatus
kurang bulan-sesuai masa kehamilan (BKB-SMK).

2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan
merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).1,6

Bayi BBLR memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan bayi berat badan lahir
normal untuk mengalami gangguan setelah kelahiran. Beberapa gangguan yang
sering terjadi pada bayi BBLR adalah asfiksia, gangguan nafas, ikterus
neonatorum dan hipoglokemia.1,7

Pada pemeriksaan Skor Downe didapatkan Sesak (+) dan retraksi (+)

dengan total skor 2 (gangguan napas ringan). Pada pemeriksaan Ballard

Score didapatkan total skor 38 dengan estimasi kehamilah 38 – 40 minggu

(Bayi cukup bulan, kecil masa kehamilan).

18
Ballard Skor

Gambar 1. Ballard Skor

Kesimpulan : Total 38, dengan estimasi kehamilan 38-40 minggu.

19
Gambar 2. Kurva Lubchenco

Kesimpulan klasifikasi bayi menurut Lubchenco : Bayi cukup bulan (CB),


Kecil Masa Kehamilan (KMK).

Skor Downe pada kasus:

Table 1. Skor Downe

Skor
Pemeriksaan
0 1 2

Frekuensi < 60 /menit 60-80 /menit > 80/menit


napas

Retraksi Tidak ada Retraksi ringan Retraksi berat


retraksi

Sianosis Tidak ada Sianosis hilang Sianosis menetap


sianosis dengan 02 walaupun diberi O2

20
Air entry Udara masuk Penurunan Tidak ada udara masuk
ringan udara
masuk

Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar tanpa alat


dengan bantu
stetoskop

Downe score : 2, yang artinya gangguan nafas ringan

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil WBC:17,0x103/uL,

RBC: 5,75x106/uL, HGB: 22,0 g/dL, HCT: 65,8 %, PLT: 136x103/uL,

GDS:79 mg/dl.

Pada perawatan hari kedua (20-03-2019), didapatkan sesak (+), retraksi

(+), dan kejang yang berlangsung selama < 10 menit.

Kejang pada neonatus merupakan perubahan paroksimal dari fungsi

neurologik (misalnya: perilaku, motoric, sensorik, dan fungsi autonomy system

saraf), yang terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari.1

Etiologi kejang pada neonatus dapat karena kelainan SSP yang terjadi secara

primer karena proses intracranial atau sekunder karena masalah sistemik atau

metabolik. 1

Etiologi kejang pada neonatus dapat digolongkan: 1

A. Ensefalopati Iskemik Hipoksis

Merupakan penyebab tersering kejang pada bayi baru lahir (60-65%),

biasanya terjadi pada awal awal kehidupan. Dapat terjadi pada Bayi Cukup

21
Bulan ataupun Bayi kurang Bulan terutama pada bayi yang memiliki

riwayat asfiksia. Bentuk kejang subtel ataupun multifocal. 1

B. Perdarahan Intrakranial

- Perdarahan sub arachnoid

- Perdarahan sub dural

- Perdarahan intraventrikuler

C. Metabolik

- Hipoglikemia

- Hipokalsemia

- Hiponatremia/ hipernatremia

D. Infeksi

- Infeksi akut ; infeksi bakteri atau virus pada SSP dengan auapun

disertai dengan sepsis. Biasanya sering berhubungan dengan meningitis.

- Infeksi kronik ; infeksi pada intrauterine yang berlangsung lama:

TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simpleks,

Rubella).

E. Kernikterus/Encefalopati bilirubin

Gambaran klinis kejang yang terjadi pada BBL: 1

1. Subtle

Pada BBL, bentuk kejang subtle yang paling sering terjadi, hamper 50%

dari kejang BBL baik pada bayi kurang bulan ataupun bayi cukup bulan.

- Gerakan mata berkedip, juling atau berputar yang berulang,

- Gerakan mulut atau lidah yang keluar masuk berulang

22
- Gerakan tungkai yang tidak terkendali, gerakan seperti mengayuh

sepeda.

- Bayi masih tetap sadar.

2. Tonik

Kejang yang biasanya terjadi pada BBLR dan bayi dengan usia gertasi

kurang dari 34 mingggu. Bentuk klinis;

- Fokal ; terjadi secara asimetris baik badan maupun ekstremitas dengan

ataupun tanpa adanya gerakan mata yang abnormal

- Kejang tonik umum ; ditandai dengan fleksi tonik atau ekstensi pada

leher, badan, ataupun ekstremitas.

3. Klonik

Biasanya merupakan petunjuk apabila terdapat lesi fokal yang mendasari

seperti pada infark miokard, tetapi kejang klonik juga dapat disebabkan oleh

metabolik. Bentuk Klinis:

- Fokal ; terdiri dari gerakan bergetar daru satu ataupun dua ekstremitas

dari sisi unilateral dengan atau tanpa adanya gerakan wajah.

- Multifokal ; terdiri dari gerakan bergetar dari satu ekstremitas yang

kemudian secara acak pindah ke ekstremitas lainnya.

23
Dilakukan skoring sepsis. Didapatkan hasil:

Kategori A:

1. Kesulitan bernapas (laju napas > 60 x/menit, retraksi)

2. Kejang

3. Kondisi memburuk secara cepat dan dramatis (menyokong kearah sepsis)

Kategori B:

1. Air ketuban bercampur mekonium (ketuban hijau kental).

Interpretasi : Kecurigaan Besar Sepsis.

Sepsis neonatorum terbagi menjadi onset dini dan onset lambat. Pada bayi

baru lahir, 85% sepsis onset dini biasanya akan tampak pada 24 jam pertama, 5%

pada 24 – 48 jam pertama dan sisanya pada 48 – 72 jam berikutnya. Cepat

lambatnya onset sepsis juga dipengaruhi oleh prematuritas bayi, dimana lebih

rentan pada bayi prematur.4

Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak spesifik, sehingga skrining dan

pengelolaan terhadap faktor resiko perlu dilakukan. Terapi awal pada neonatus

yang mengalami sepsis harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil kultur.

Sepsis dapat dibedakan menjadi :1,8

A. Early Onset Sepsis (EOS), timbul dalam 3 hari pertama, berupa

gangguan multisistem dengan gejala pernapasan yang menonjol ; ditandai

dengan awitan tiba-tiba dan cepat berkembang menjadi syok septik dengan

mortalitas tinggi.

24
B. Late Onset Sepsis (LOS), timbul setelah umur 3 hari, lebih sering di atas 1

minggu. Pada sepsis awitan lambat, biasanya ditemukan fokus infeksi dan

sering disertai meningitis. Pada bayi, bayi mengalami demam, batuk, dan

muntah pada usia 16 hari.

C. Sepsis nosokomial, ditemukan pada bayi resiko tinggi yang dirawat,

berhubungan dengan monitor invasive dan berbagai teknik yang

digunakan di ruang rawat intensif.

Gejala dari sepsis neonatorum bervariasi, mulai dari gangguan pernapasan,

gejala gastrointestinal, ikterus, suhu tidak stabil, hipo/hiperglikemia, letargi atau

fontanela membonjol.

Sepsis neonatorum ditegakkan berdasarkan kriteria yang tercantum dalam

Panduan Pelayanan Medis IDAI, kriterianya sebagai berikut: 1

Kategori A Kategori B

Kesulitan bernapas (mis: apnea, Tremor


takipneu, retraksi dada, grunting,
sianosis sentral)
Kejang Letargi atau lunglai

Tidak sadar Mengantuk atau aktivitas berkurang

Suhu tubuh tidak normal (sejak lahir & Tanda-tanda muncul setelah hari ke
tidak merespon terhadap terapi) atau empat
suhu tidak stabil sesudah pengukuran
suhu normal selama tiga kali atau lebih.
Persalinan di lingkungan yang kurang Iritabel atau rewel, muntah, perut
higienis kembung

25
Kondisi memburuk dengan cepat Air ketuban bercampur mekonium

Malas minum

Kecurigaan besar sepsis : 2 atau lebih A ; 3 atau lebih B


Dugaan sepsis : 1 A dan 1/2 B

Neonatus diduga mengalami sepsis (tersangka sepsis) bila ditemukan tanda-


tanda dan gejala yang akan dijelaskan sebagai berikut:1,5

1. Untuk bayi berumur sampai dengan tiga hari


a. Bila ada riwayat ibu dengan infeksi intrauterin, demam yang
dicurigai sebagai infeksi berat atau KPD (ketuban pecah dini);
b. Bila bayi mempunyai dua tanda atau lebih pada Kategori A , atau
tiga tanda atau lebih pada Kategori B
c. Bila bayi mempunyai satu tanda pada Kategori A dan satu tanda
pada Kategori B, atau dua tanda pada Kategori B bila selama
pengamatan terdapat tambahan tanda sepsis, kapan saja timbulnya
d. Bila selama pengamatan tidak terdapat tambahan tanda sepsis, tetapi
tanda awalnya tidak membaik, lanjutkan pengamatan selama 12 jam lagi.
2. Bayi berumur lebih dari tiga hari
a. Bila bayi mempunyai dua tanda atau lebih pada Kategori A atau tiga
tanda atau lebih pada Kategori B
b. Bila bayi mempunyai satu tanda pada Kategori A dan satu tanda
pada Kategori B, atau dua tanda pada Kategori B.

26
Sepsis pada bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif
dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah,
cairan sumsum tulang atau air kemih. Sepsis merupakan suatu infeksi yang
mengindikasikan sekumpulan gejala dan gambaran inflamasi sistemik berupa
suhu tubuh abnormal (hipotermi/hipertermi), leukositosis/leukopenia, takikardi
dan takipnea. 1,5

Pada kasus ini didapatkan hasil pemeriksaan pasien dengan wbc 17,0 x
103, takikardi dengan denyut jantung 139 x/menit, dan takipneu dengan
respirasi 65 x/menit.

Sejak adanya konsensus dari American College of Chest Physicians/Society


of Critical Care Medicine (ACCP/SCCM) telah muncul berbagai istilah dan
definisi dibidang infeksi yang banyak pula dibahas pada kelompok BBL dan
penyakit anak. Istilah/definisi tersebut antara lain : 11
A. Sepsis merupakan sindrom respon inflamasi sistemik (Systemic
Inflammatory Respons Syndrome) yang terjadi sebagai akibat infeksi
bakteri, virus, jamur ataupun parasit.
B. Sepsis berat adalah keadaan sepsis yang disertai disfungsi organ
kardiovaskular dan gangguan napas akut atau terdapat gangguan dua organ
lain (seperti gangguan nefrologi, hematologi, urogenital dan hepatologi).
C. Syok sepsis terjadi apabila bayi masih dalam keadaan hipotensi walaupun
telah mendapatkan cairan adekuat.
D. Sindrom disfungsi multi organ terjadi apabila bayi tidak mampu lagi
mempertahankan homeostasis tubuh sehingga terjadi perubahan fungsi dua
atau lebih organ tubuh.

27
Derajat sepsis :11
1. Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), ditandai dengan . 2 gejala
sebagai berikut:
a) Hyperthermia/hypothermia (>38,3°C; <35,6°C)
b) Takipnea (resp >20/menit)
c) Tachycardia (nadi >100/menit)
d) Leukositosis >12.000/mm atau Leukopenia <4.000/mm
e) >10% cell imature
2. Sepsis : Infeksi disertai SIRS
3. Sepsis Berat : Sepsis yang disertai MODS/MOF, hipotensi, oliguria bahkan
anuria.
4. Sepsis dengan hipotensi : Sepsis dengan hipotensi (tekanan sistolik <90
mmHg atau penurunan tekanan sistolik >40 mmHg).
5. Syok septik
Faktor-faktor yang mempengaruhi sepsis pada bayi baru lahir antara lain :9

1) Faktor ibu/maternal
a. Usia kehamilan kurang bulan.
b. Persalinan yang lama.
c. Ketuban pecah lebih dari 18-24 jam.
d. Chorioamnionitis.
e. Persalinan dengan tindakan.
f. Demam pada ibu (> 38,4 ºC).
g. Infeksi saluran kencing pada ibu.
h. Faktor sosial ekonomi dan gizi ibu.
2) Faktor bayi
a. Asfiksia perinatal.
b. Berat lahir rendah.
c. Bayi kurang bulan.
d. Prosedur invasif.
e. Kelainan bawaan.

28
3) Faktor lingkungan
Pengaruh lingkungan yang dapat menjadi predisposisi bayi yang terkena
sepsis antara lain yaitu buruknya praktek cuci tangan dan teknik persalinan
serta perawatan umbilikus dan pemberian susu formula yang tidak higienis.

Selain itu, infeksi neonatus juga dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu: 5

1. Infeksi antenatal
Kuman mencapai janin memalui sirkulasi ibu ke plasenta. Di sini kuman itu
melalui batas plasenta dan menyebabkan intervilositis. Selanjutnya infeksi
melalui sirkulasi umbilikus dan masuk ke janin.
2. Infeksi intranatal
Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi darupada cara yang lain.
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah
ketuban pecah. Ketuban pecah lama (jarak waktu antara pecahnya ketuban
dan lahirnya bayi lebih dari 12 jam) mempunyai peranan penting terhadap
timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi walaupun
ketuban masih utuh misalnya pada partus lama dan sering kali dilakukan
manipulasi vagina. Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septik
sehingga terjadi pneumonia kongenital. Selain itu infeksi dapat menyebabkan
septisemia.
3. Infeksi pascanatal
Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir dengan lengkap. Sebagian besar
infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat
kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak
steril atau sebagai akibat infeksi silang.

Mikroorganisme penyebab sepsis sangat berhubungan erat dengan umur


dan status imunitas anak, kuman penyebab terbanyak terjadinya sepsis berat
adalah bakteri gram negatif yang mencapai 62%, produk yang berperan penting

29
terhadap sespsis adalah lipopolisakarida, merupakan komponen terluar dari gram
negatif. Lipopolisakarida, dapat langsung mengaktifkan sistem imun seluler dan
humoral, sehingga menimbulkan gejala septikimia. Lipopolisakarida tidak toksis,
namun merangsang pengeluaran mediator inflamasi yang bertanggung jawab
terhadap, terjadinya sepsis. Bakteri gram positif, jamur, dan virus, dapat juga
menyebabkan sepsis dengan presentasi yang sedikit. Menurut the latest eropean
prevalence of infection in intensive care (EPIC II) melaporkan penyebab kejadian
sepsis berat lebih banyak bakteri gram negatif dibandingkan gram positif. 1, 11

Tabel.2 organisme penyebab sepsis


Gram positif (46.8%) Gram negatif (62%)
Staphylococus aereus (20,5%) Pseudomonas species (19,9%)
MRSA (10,2%) Eschercia coli (16,0%)
Enterococus (10,9) Klebsiella species (12,7%)
S, epidermis (10,8) Acinobacter species (8,8%)
S.pnemonie (4,1%) Enterobacter (7,0%)
(IDAI, 2106.)

Pada kasus pasien mendapatkan terapi berupa injeksi cefotaxime 2 x

100 mg dan juga injeksi gentamicin 1 x 10 mg. Dimana terapi menggunakan

antibiotik spektrum luas untuk bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan

terjadinya sepsis.

Oleh karena itu, Terapi yang diberikan untuk sepsis yaitu dengan

memberikan antibiotik spektrum luas sambil menungggu biakan darah dan uji

resitensi.1,10

30
1) Antibiotika yang menjadi pilihan pertama ialah sefalosporin (sefotaksim)

dengan dosis 200 mg/kgBB/hari intravena dibagi dalam 2 dosis,

dikombinasikan dengan amikasin yang diberikan dengan dosis awal 10

mg/kgBB/hari intravena, atau dengan gentamisin 6 mg/kgBB/hari dibagi

dalam 2 dosis.

2) Pilihan kedua ialah ampisilin 300-400 mg/kgBB/hari intravena, dibagi

dalam 4 dosis, dikombinasikan dengan kloramfenikol 50 mg/kgBB/hari

intravena dibagi dalam 4 dosis.

3) Pilihan selanjutnya ialah kotrimoksazol 10 mg/kgBB/hari intravena dibagi

dalam 2 dosis.

Gambar 3. Tatalaksana Sepsis

31
Prognosis

Pada sepsis neonatorum, diagnosis dan penanganan yang cepat


memperbaiki prognosis pasien, dimana dapat mengurangi masalah kesehatan
jangka panjang terkait dengan sepsis neonatorum. Mortalitas untuk neonatus
dengan sepsis dan tidak tertangani sebesar 50%. Infeksi sendiri memberikan
kontribusi 13 – 15% kematian semua neonatus pada bulan pertama kehidupan.
Dalam kasus ini, prognosis pada pasien baik, dilihat dari keadaan bayi yang
cukup bulan serta kondisi bayi pada masa perawatan yang setiap harinya
semakin membaik.11

Pada kasus ini, prognosis sepsis untuk jangka pendek termasuk baik
karena bayi memberikan respon yang baik terhadap pengobatan. Hal ini
disebabkan bayi mendapatkan pengobatan yang adekuat dan tidak terlambat.
Namun, untuk prognosis jangka panjang belum bisa ditentukan dengan pasti,
mengingat besarnya sekuele yang dapat ditimbulkan dari meningitis. Oleh
karena itu, pertumbuhan dan perkembangan bayi ke depannya harus dipantau
dengan teliti.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. IDAI. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta : IDAI ; 2014

2. John Mersch FAAP, MD, 2014. Neonatal Sepsis ( Sepsis Neonatorum ).Page

available ahttp://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=98247

3. Wardlaw, T. Blanc, A. Ahman, E. et al. Low Birth Weight. World Healt

Organization (WHO). New York: 2014.

4. Pudjadi, Antonius.Dkk. Pedoman Pelayanan Media Ikatan Dokter Anak

Indonesia. Edisi II. 2011 : IDAI. Jakarta.

5. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. Rudolph ’s Pediatrics, Buku Ajar

Pediatri Rudolph, edisi ke 20. Sepsis dan Meningitis Pada Neonatus. Jakarta :

EGC.

6. Sastri, A. Bobby, I. Hubungan Antenatal Care dengan Kejadian Bayi Berat

Lahir Rendah (BBLR). Padang: 2016.

7. Wolke, D. Preterm and Low Birth Weight Babies. chap; 25. p; 497-503. 2015.

8. Munford, R. S. Severe Sepsis and Sepsis Shock. Harrison’s Infectious Diseases.

1st ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2013.

9. Owusu, S. Ansah, M. Sepsis in Infant and Children. American Academic of

Pediatric. 2017. Page available https://www.healthychildren.org.

10. Titut, S. P. Sepsis pada Neonatus. Vol. 2; Jakarta. 2013.

11. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Tatalaksana dan Diagnosis Sepsis

Pada Anak. Jakarta. IDAI; ed. 1. 2016.

33