Anda di halaman 1dari 28

Makalah Keperawatan Medikal Bedah

Asuhan keperawatan pasien dengan “ Low Back Pain”

Disusun Oleh Kelompok 2 :

1. Aprilia Rachim (P17221172016)


2. Dwi Putri Yulianti (P17221173023)
3. Fenny Mellike (P17221173024)
4. Ana Mas’amah (P17221173035)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

PRODI S.Tr KEPERAWATAN LAWANG

TAHUN 2017/2018

KAMPUS 2 : JL. Ahmad Yani NO 2, Sumber Porong, Lawang

Telp : ( 0341 ) 427487


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada kira besarnya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan
Pasien dengan Low Back Pain” ini.

Dalam pembuatan makalah ini, kami memperoleh banyak bantuan dari


berbagai pihak. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu
pembuatan makalah ini

Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami
buat kurang tepat atau menyiggung perasaan pembaca.

Dengan ini kami persembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat bagi pembaca.

Lawang, 1 Februari 2019

Penyusu

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................................1

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................2

1.3 Tujuan..................................................................................................................2

1.4 Manfaat................................................................................................................3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................4

2.1 Definisi Low Back Pain.......................................................................................4

2.2 Etiologi Low Back Pain.......................................................................................5

2.3 Patofisiologi Low Back Pain...............................................................................5

2.4 Manifestasi Klinis Low Back Pain......................................................................6

2.5 Penatalaksanaan Medis Low Back Pain..............................................................7

2.6 Komplikasi...........................................................................................................9

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN...........................................................................10

3.1 Pengkajian..........................................................................................................10

A. Anamnesa........................................................................................................10

B. Pemeriksaan fisik..........................................................................................11

C. Pola fungsi kesehatan....................................................................................12

3.2 Penatalaksanaan.................................................................................................12

3.3 Analisa Data.......................................................................................................14

3.4 Diagnosa Keperawatan......................................................................................17

ii
3.5 Intervensi Keperawatan.....................................................................................18

3.6 Evaluasi..............................................................................................................20

BAB 4 KESIMPULAN...............................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................23

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah nyeri punggung bawah merupakan sumber data tarik, frustasi
dan kadang menjadi kebingungan pada banyak dokter dan ilmuan untuk
mempelajari dan menangani penyakit ini. Tulang belakang merupakan satu-
satunya organ yang terdiri dari tulang-tulang, sendi- sendi, ligament-ligamen,
jaringan lemak, berlapis lapis otot, syaraf tepi, ganglion sensoris, ganglion
otonom dan saraf tulang belakang. Struktur tersebut di suplay oleh satu sistem
arteri dan vena yang rumit. Selain itu pergerakan dari tulang belakang itu sendiri
sangat kompleks dan cidera pada tulang belakang dan struktur-struktur tersebut
akan menghasilakan pola nyeri yang unik. Menurut data dari Amerika, prevalensi
gangguan low back pain berkisar 15-20% dari populasi umum. Dari kelompok
usia bekerja sekitar 50% mengaku pernah mengalami low back pain setiap
tahunnya (Meliala, dkk 2005). Kelompok Jayson menemukan bahwa 35-37%
pekerja mengalami nyeri punggung dan sebagian penderita yang dimaksud
adalah mereka yang ada pada usia 49-59 tahun.

Di Indonesia, data mengenai jumlah penderita low back pain di RSUD dr.
Soedarso Pontianak didapatkan bahwa pada tahun 2010 sebanyak 189 kasus,
tahun 2011 sebanyak 63 kasus dan tahun 2012 sebanyak 959 kasus (Tuti, 2013).
Low Back Pain (LBP) sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di
Negara-negara Industri. Diperkirakan 70-85% dari seluruh populasi pernah
mengalami episode ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya bervariasi dai
15-45% dengan point prevalence (Sadeli dan Tjahjono 2004). Data epidemiologi
mengenai LBP di Indonesia belum ada, namun diperkirakan 40% penduduk Jawa
Tengah berusia di atas 65 tahun pernah menderita nyeri punggung, prevalensi
laki-laki 18,2% da pada wanita 13,6%. Insiden berdasarkan kunjungan pasien ke

1
beberapa rumah sakit di Indonesia berkisar antara 3-17% (Sadeli & Tjahjono,
2004). Angka kejadian low back pain di Bali berdasarkan data yang diperoleh
dari poliklinik Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar
pada tahun 2011 dan 2012 di dapatkan jumlah penderita low back pain (LBP)
yang menjalani rawat jalan sebanyak 152 pasien. (Endah, 2013).
Sebagian besar pasien dapat diatasi secara efektif dengan kombinasi dari
pemberian informasi, saran, analgesia, dan jaminan yang tepat. Selain itu pasien
juga dapat didorong untuk melakukan aktivitas, tirah baring, dan olahraga.
Medikasi dan operasi juga bisa menjadi penatalaksanaan dari Low Back Pain.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi dari Low Back Pain ?
2. Apakah etiologi dari Low Back Pain ?
3. Bagaimana klasifikasi dari Low Back Pain ?
4. Bagaimana manifestasi klinis pada penderita Low Back Pain ?
5. Bagaimana patofisiologi Low Back Pain ?
6. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien dengan Low Back Pain ?
7. Apakah komplikasi pada pasien dengan Low Back Pain ?
8. Bagaimana asuhan keperawatan yang tepat untuk menangani kasus Low
Back Pain ?

1.3 Tujuan
A. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami peran sebagai perawat
dalam pencegahan dan penanganan masalah Low Back Pain.
B. Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami definisi dari Low Back Pain
2. Mengetahui dan memahami etiologi dari Low Back Pain
3. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis pada penderita Low Back
Pain

2
4. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada pasien Low Back
Pain
5. Mengetahui dan memahami patofisiologi Low Back Pain
6. Mengetahui penatalaksaanaa medis pada Low Back Pain
7. Mengetahui dan memahami komplikasi pada pasien dengan Low Back
Pain
8. Memahami asuhan keperawatan yang tepat untuk penderita Low Back
Pain

1.4 Manfaat
Menambah pengetahuan serta keterampilan mahasiswa dalam pengerjaan
makalah dan presentasi di depan kelas. Menambah kecakapan dan rasa percaya
diri mahasiswa serta lebih memahami masalah neurobehavior terutama masalah
Low Back Pain serta memahami asuhan keperawatan pada klien dengan masalah
Low Back Pain.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Low Back Pain


Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu
gangguan musculoscletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik.
Masalah nyeri pinggang yang timbul akibat duduk lama menjadi fenomena yang
sering terjadi pada mahasiswa (Lukman, Nurna Ningsih 2011 ;128).
Kerusakan punggung dan tulang adalah penyebab ketiga ketidakmampuan
individu dalam bertahun-tahun pekerjaannya. Kebanyakan nyeri punggung bawah
disebabkan oleh masalah-masalah musculoskeletal (misalnya perenggangan
lumbosakral akut, ligament lumbosakral yang tidak stabil dan kelemahan otot,
osteotitis medulla, stenosis medulla, masalah-masalah diskus intervertebra,
panjang tungkai yang tidak sama. Pasien lansia mungkin mengalami sakit
punggung yang berkaitan dengan fraktur vertebra, osteoporosis atau metastasis
tulang. Banyak kondisi medikal dan psikomatis lain yang menyebabkan nyeri
punggung. Obesitas, stress dan kadang depresi dapat menunjang terjadinya nyeri
punggung bawah. Pasien dengan nyeri punggung bawah kronik mungkin
mengalami ketergantung pada alkohol atau analgesik.
Masalah nyeri punggung bawah merupakan sumber data tarik, frustasi dan
kadang menjadi kebingungan pada banyak dokter dan ilmuan untuk mempelajari
dan menangani penyakit ini. Tulang belakang merupakan satu- satunya organ
yang terdiri dari tulang-tulang, sendi-sendi, ligament-ligamen, jaringan lemak,
berlapis lapis otot, saraf tepi, ganglion sensoris, ganglion otonom dan saraf tulang
belakang. Struktur tersebut di suplay oleh satu sistem arteri dan vena yang rumit.
Selain itu pergerakan dari tulang belakang itu sendiri sangat kompleks dan cidera
pada tulang belakang dan struktur-struktur tersebut akan menghasilakan pola
nyeri yang unik.

4
2.2 Etiologi Low Back Pain
Menurut Lukman dan Nurna Ningsih (2011; 128). Penyebab LBP dapat dibagi
menjadi:
1. Regangan lumbosakral akut
2. Ketidak stabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot
3. Osteoartritis tulang belakang
4. Stenosis tulang belakang
5. Masalah diskus invertebralis
6. Perbedaan panjang tungkai
7. Pada lansia ; akibat fraktur tulang belakang, osteoporosis atau metastasis
tulang.
8. Penyebab lain, seperti gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal,
aneurisma abdominal dan masalah psikosomatik.

2.3 Patofisiologi Low Back Pain


Beban berat memiliki berbagai efek terhadap diskus intervertebralis, badan
dari vertebrata, faset dan ligamen-ligamen tulang belakang. Pada beban berat
yang menekan (compressive load) serabut anuker dari diskus mengalami
perenggangan. Tulang vertebra juga mengalami tekanan dan dapat patah pada
end–plate–nya. Ligamen- ligamen tulang belakang cenderung dapat melengkung
dengan mudah dan sendi faset hanya dapat sedikit menahan kompresi.
Akibatnya adalah dapat mengakibatkan herniasi. Ketika diskus hanya
menonjol, anulusnya masih sempurna. Ketika terjadi herniasi, annulus bisa robek,
sehingga menghasilkan ekstrusi dari nucleus pulpous. Kompresi dari akar saraf
tulang belakang dapat terjadi karena herniasi diskus tadi. Diskus yang
memisahkan dan memberi bantalan vertebra mendapatkan inervasi oleh ujung-
ujung halus. Ketika diskus menimpa nervus sklialitikus, kondisi ini dan denyut
nyeri yang dihasilkan disebut sebagai skiatika. Skiatika adalah bentuk nyeri yang
parah dan konstan di dareah kaki yang muncul disepanjang jalur nervus skiatik
dan cabang- cabangnya.

5
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah
tua. Pada orang muda diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matriks
gelatinus. Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tak teratur.
Degenerasi diskus merupakan penyebab nyeri punggung yang biasa diskus lumbal
bawah, L4-L5 dan L5-S1, menderita stress mekanis paling berat dan perubahan
degenerasi terberat. Penonjolan diskus (herniasi nucleus pulposus) atau kerusakan
sendi faset dapat mengakibatkan penekanan pada akar saraf ketika keluar dari
kanalis spinalis yang mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf
tersebut. Sekitar 12% orang dengan nyeri punggung bawah menderita hernia
nucleus pulposus ( Brunner & Suddarth, 2002 : 2321 ).

2.4 Manifestasi Klinis Low Back Pain


Gambaran klinis LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah,
dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri yang
berasal dari daerah punggung bawah dapat menuju ke daerah lain atau
sebaliknya , nyeri yang berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung
bawah (reffered pain/nyeri yang menjalar). Tanda dan gejala yang timbul antara
lain:
a. Cara berjalan pincang, diseret, kaku (merupakan indikasi untuk
pemeriksaan neurologis)
b. Perilaku penderita apakah konsisten dengan keluhan nyerinya
(kemungkinan kelainan psikiatrik)
c. Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal
(pinggang) sehingga penderita berjalan sangat hati-hati (kemungkinan
infeksi, peradangan, tumor atau patah tulang )

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), yang


termasuk dalam low back pain terdiri dari :
1. Lumbar Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi: superior oleh garis
transversal imajiner yang melalui ujung prosesus spinosus dari vertebra
thorakal terakhir, inferior oleh garis transversal imajiner yang melalui ujung

6
prosesus spinosus dari vertebra sakralis pertama dan lateral oleh garis vertikal
tangensial terhadap batas lateral spina lumbalis.
2. Sacral Spinal Pain, nyeri di daerah yang dibatasi superior oleh garis
transversal imajiner yang melalui ujung prosesus spinosus vertebra sakralis
pertama, inferior oleh garis transversal imajiner yang melalui sendi
sakrokoksigeal posterior dan lateral oleh garis imajiner melalui spina iliaka
superior posterior dan inferior.
3. Lumbosacral Pain, nyeri di daerah 1/3 bawah daerah lumbar spinal pain dan
1/3 atas daerah sacral spinal pain
Selain itu, IASP juga membagi low back pain ke dalam :
a. Low Back Pain Akut, telah dirasakan kurang dari 3 bulan.
b. Low Back Pain Kronik, telah dirasakan sekurangnya
c. Low Back Pain Subakut, telah dirasakan minimal 5-7 minggu, tetapi tidak
lebih dari 12 minggu.

2.5 Penatalaksanaan Medis Low Back Pain


A. Penatalaksanaan low back pain akut
Sebagian besar pasien dapat diatasi secara efektif dengan kombinasi
dari pemberian informasi, saran, analgesia, dan jaminan yang tepat. Pasien
juga harus disemangati untuk segera kembali bekerja. Penjelasan dan saran
dapat juga dalam bentuk tertulis. Kronisitas low back pain dapat dihindari
dengan : memperhatikan aspek psikologis gejala yang ada, menghindari
pemeriksaan yang tidak perlu dan berlebihan, menghindari penatalaksanaan
yang tidak konsisten, serta memberikan saran untuk mencegah rekurensi
(menghindari pengangkatan beban yang berat).
B. Penatalaksanaan Low Back Pain Kronik yang menyebabkan Disabilitas
Penelitian telah menunjukkan bahwa pengaruh terpenting dalam
perkembangan kronisitas adalah psikologikal dibandingkan dengan
biomekanikal. Faktor-faktor psikologis yang dimaksud adalah distress berat,
kesalahpahaman tentang nyeri dan implikasinya, serta penghindaran aktivitas
karena takut membuat rasa nyeri bertambah parah.
C. Penatalaksanaan Low Back Pain Non Spesifik

7
1) Aktivitas: lakukan aktivitas normal. Penting untuk melanjutkan kerja
seperti biasanya.
2) Tirah baring: tidak dianjurkan sebagai terapi, tetapi pada beberapa kasus
dapat dilakukan tirah baring 2-3 hari pertama untuk mengurangi nyeri.
3) Medikasi: obat anti-nyeri diberikan dengan interval biasa dan digunakan
hanya jika diperlukan. Mulai dengan parasetamol atau NSAID. Jika tidak
ada perbaikan, coba campuran parasetamol dengan opioid. Pertimbangkan
tambahan muscle relaxant tetapi hanya untuk jangka pendek, mengingat
bahaya ketergantungan.
4) Olahraga : harus dievaluasi lebih lanjut jika pasien tidak kembali ke
aktivitas sehari-harinya dalam 4-6 minggu.
5) Manipulasi: dipertimbangkan untuk kasuskasus yang membutuhkan obat
penghilang nyeri ekstra dan belum dapat kembali bekerja dalam 1-2
minggu. Terapi dan intervensi lain: belum ada penelitian mengenai terapi
dengan traksi, termis ultrasound, akupuntur, sabuk penyangga, ataupun
pijatan.
D. Penatalaksanaan Low Back Pain dengan Nerve Root Affection
1. Aktivitas: pasien didorong melakukan beragam aktivitas walaupun
punggung/tungkai bawahnya nyeri.
2. Tirah baring: mungkin dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri.
3. Medikasi: obat anti nyeri diberikan dengan interval biasa dan digunakan
hanya jika diperlukan. Mulai dengan parasetamol atau dikombinasikan
dengan opioid. Pertimbangkan tambahan relaksan otot tetapi hanya untuk
jangka pendek, mengingat bahaya ketergantungan.
4. Olah raga: jika pasien menjadi pasif, olah raga ringan mungkin berguna.
5. Operasi: dilakukan pada kasus dengan tandatanda neurologis
progresif/kauda ekuina dan pengurangan nyeri yang tidak memuaskan
setelah 6-12 minggu, mungkin dengan episode nyeri yang tidak
tertahankan sebelumnya.
6. Terapi dan intervensi lain: tidak terdapat penelitian mengenai terapi
dengan traksi atau manipulasi yang dianjurkan.

2.6 Komplikasi
Komplikasi umum yang biasanya terjadi setelah pembedahan (Joyce, 2009) :

8
1. Infeksi dan peradangan
2. Cedera pada akar-akar saraf
3. Robekan pada lapisan durameter
4. Sindroma kauda ekuina
5. Hematoma
6. Tidak ada penyatuan pada area bedah

9
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

A. Anamnesa
a) Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, bangsa, alamat.
b) Keluhan utama
Biasanya pasien mengatakan nyeri punggung akut maupun kronis
lebih dari 2 bulan, nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit, nyeri
menyebar kebagian bawah belakang kaki.
c) Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan pada klien sejak kapan keluhan dirasakan, kapan timbulnya
keluhan(apakah menetap atau hilang timbul), hal apa yang mengakibatkan
terjadinya keluhan, apa saja yang dilakukan untuk mengurangi keluhan
yang dirasakan, tanyakan pada klien apakah klien sering mengkonsumsi
obat tertentu atau tidak.
d) Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada klien apakah klien dulu pernah menderita penyakit
yang sama sebelumnya, apakah klien pernah mengalami kecelakaan atau
trauma, apakah klien pernah menderita penyakit gangguan tulang atau otot
sebelumnya
e) Riwayat pekerjaan
Faktor resiko ditempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot
rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara
pengangkatan barang, posisi atau sikap tubuh selama bekerja, dan kerja
statis.

B. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum
2. Pemeriksaan persistem
3. Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan,
pendengaran, penciuman, pengecap, perasa)

10
4. Sistem persarafan (Pemeiksaan neurologik)
a) Pemeriksaan motorik
b) Pemeriksaan sensorik
c) Straight Leg Raising (SLR), test laseque (iritasi radisks L5 atau S 1)
cross laseque(HNP median) Reverse Laseque (iritasi radik lumbal
atas)
d) Sitting knee extension (iritasi lesi iskiadikus)
e) Pemeriksaan system otonom
f) Tanda Patrick (lasi coxae) dan kontra Patrick (lesi sakroiliaka)
g) Tes Naffziger
h) Tes valsava.
5. Sistem pernafasan
(Nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan jalan nafas.)
6. Sistem kardiovaskuler
(Nilai tekanan darah, nadi, irama, kualitas, dan frekuensi)
7. Sistem Gastrointestinal
(Nilai kemampuan menelan,nafsu makan, minum, peristaltic dan
eliminasi)
8. Sistem Integumen
(Nilai warna, turgor, tekstur dari kulit pasien )
9. Sistem Reproduksi
(Untuk pasien wanita)
10. Sistem Perkemihan
(Nilai Frekuensi Bak, warna, bau, volume )

C. Pola fungsi kesehatan


1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2) Pola aktifitas dan latihan
(Cara berjalan: pincang, diseret, kaku (merupakan indikasi untuk
pemeriksaan neurologis)
3) Pola nutrisi dan metabolism
4) Pola tidur dan istirahat
(Pasien LBP sering mengalami gangguan pola tidur dikarenakan
menahan nyeri yang hebat).
5) Pola kognitif dan perseptual
(Perilaku penderita apakah konsisten dengan keluhan nyerinya
(kemungkinan kelainan psikiatrik)
6) Persepsi diri/konsep diri
7) Pola toleransi dan koping stress

11
(Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal
sehingga penderita berjalan sangat hati-hati untuk mengurangi rasa sakit
tersebut (kemungkinan infeksi. Inflamasi, tumor atau fraktur)).
8) Pola seksual reproduksi
9) Pola hubungan dan peran
10) Pola nilai dan keyakinan

3.2 Penatalaksanaan
Dalam kebanyakan kasus, dokter akan mengobati sakit punggung awalnya
dengan tindakan konservatif dengan harapan bahwa koreksi bedah tidak akan
diperlukan. Badan Kebijakan Kesehatan dan Penelitian telah mengeluarkan
Pedoman Praktek Klinis yang menyarankan langkah-langkah berikut.
Pasien ditempatkan di sebuah kasur dengan tempat tidur papan bawah .
Tempat tidur tetap datar, dan pasien ditempatkan pada bedrest selama 2 sampai 3
hari. Selama periode ini, pasien didorong untuk bangun dan berjalan-jalan setiap
2 sampai 3 jam saat terjaga bahkan jika ini menyebabkan rasa sakit.
Kompres es diterapkan selama 5 sampai 10 menit pada suatu waktu setiap
jam untuk 48 jam pertama untuk mengurangi kejang otot di belakang. Setelah 48
jam panas mungkin lebih bermanfaat, bantalan pemanas, paket panas, dan panas
bekerja dengan baik. Panas diterapkan selama 20 menit setiap 1 sampai 2 jam.
traksi pelvis dapat dipesan oleh beberapa dokter, dan latihan ringan. Perawatan
ini dilakukan di bawah bimbingan seorang terapis fisik. korset yang dirancang
khusus kadang-kadang digunakan untuk menjaga keselarasan tulang belakang
ketika pasien diperbolehkan keluar dari tempat tidur. Pasien diingatkan untuk
tidak mengangkat sesuatu yang berat dari 2 sampai 5 lb dan tidak merubahnya
ketika meraih hal. Pasien harus sering berpindah tempat dari pada duduk untuk
waktu yang lama. Berjalan untuk jarak pendek sering sangat bermanfaat.
Penyesuaian oleh chiropractor juga dapat membantu meringankan rasa sakit. Jika
sakit berlanjut melebihi 3 sampai 4 minggu, ada bukti-bukti dari defisit
neurologis, atau nyeri memburuk, operasi dapat diindikasikan.

12
Prosedur operasi. Bagi pasien yang tidak dapat menemukan bantuan
melalui tindakan konservatif, operasi pengangkatan disk yang rusak mungkin
satu-satunya alternatif. Sebuah diskectomy sering dilakukan. Ini adalah teknik
bedah mikro yang menggunakan sayatan sangat kecil. Jika daerah tidak dapat
ditangani dengan mikro, sayatan diskectomy atau Laminektomi terbuka, yang
melibatkan penghapusan lengkungan posterior vertebrata bersama dengan disk,
dilakukan. Sebuah fusi tulang belakang yang diperlukan dalam beberapa pasien
untuk menstabilkan tulang belakang. Prosedur ini dapat dilakukan untuk kondisi
selain disc pecah, misalnya, untuk penyakit degeneratif seperti tulang belakang
sebagai penyakit Pott (TB tulang belakang), untuk patah tulang dari tulang
belakang, dan untuk dislokasi tulang belakang. (Susan, 1998)

3.3 Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah Keperawatan

13
1. DS : Perubahan postur tubuh Nyeri
1. Pasien mengeluh karena trauma primer dan
sering merasakan sekunder
nyeri pada 
punggung bagian Trauma primer seperti:
bawah trauma secara spontan.
DO: Contohnya kecelakaan
1. Skala nyeri : 2 
Kontraksi punggung

Terdesaknya otot vetebrata

Tulang belakang
menyerap goncangan
vertikal

Terjadi perubahan struktur
dengan diskus atas febri
fertigo

Nyeri punggung bawah
(low back pain)

nyeri

14
2. DS : Perubahan postur tubuh Hambatan Mobilitas
1. Klien mengatakan karena trauma primer dan
nyeri punguung sekunder
bawah 
2. Pernah terjatuh Trauma primer seperti:
dari tempat bekerja trauma secara spontan.
3. Pergerakan Contohnya kecelakaan
terbatas 
DO : Kontraksi punggung
1. Skala nyeri 8 
Terdesaknya otot vetebrata

Tulang belakang
menyerap goncangan
vertikal

Terjadi perubahan struktur
dengan diskus atas febri
fertigo

Nyeri punggung bawah
(low back pain)

Kelemahan otot

Mobilitas fisik terganggu

hambatan mobilitas

15
3. DS : Obesistas Nutrisi lebih dari
1. Klien mengeluh  kebutuhan
nyeri punggung Kelebihan beban
bagian bawah lumbalsakral
2. Klien bekerja 
didepan komputer Pembentukan kurva
selama 10 jam lumbal abnormal
perhari. 
3. Jarang untuk Rusaknya pembungkus
bergerak syaraf
DO : 
1. BB : 90 kg Hiperalgesia sekunder
2. Skala nyeri : 7 pada neuron di sekitar lesi
pada resio lumbal skral

Nyeri punggung bawah
(low back pain)

Kelemahan otot

Mobilitas fisik terganggu

Jarang bergerak

Struktur Melemah

penumpukan lemak krn
tubuh krg gerak

16
Nutrisi lebih dari
kebutuhan

3.4 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan :
a. Trauma jaringan dan reflek spasme otot
b. Inflamasi
c. Kompresi saraf
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
a. Nyeri dan ketidaknyamanan
b. Spasme otot
c. Terapi testriktif
d. Kerusanan neuromuskular
3. Ansietas/koping individu tak efektif berhubungan dengan
a. Krisis situasi
b. Atasi/ubah status kesehatan, status sosioekonomi, peran fungsi
c. Gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
d. Ketidakadekuatan metode koping
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, pragnosis,
dan tindakan berhubungan dengan :
a. Kesalahan informasi/kurang pengetahuan
b. Kesalahan interpretasi informasi kurang mengungat
c. Tidak mengenal sumber-sumber informasi
Prioritas keperawatan
1) Menurunkan stress pada spinal, spasme otot, dan nyeri
2) Meningkatkan berfungsi dengan optimal
3) Memberi dukungan pada pasien/keluarga/orang terdekat dalam proses
rehabilitasi
4) Memberikan informasi yang berhubungan dengan penyakit/prignosis
dan kebutuhan pengobatannya.

17
3.5 Intervensi Keperawatan
1. Dx : nyeri akut b/d agen cedera fisik (trauma) dan reflek spasme otot

Kriteria Hasil NOC Intervensi NIC


Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji adanya keluhan
keperawatan selama 3x24 jam, nyeri nyeri catat lokasi, lamanya serangan,
klien berkurang. faktor pencetus yang memperberat
Kriteria hasil : 2. Dorong klien untuk
1. Klien merasakan berkurang atau tirah baring dan perubahan posisi
hilangnya nyeri untuk memperbaiki posisi lumbal.
2. Klien dapat beristirahat dengan Pasien pada posisi semi fowler
nyaman 3. Gunakan papan
3. Mengubah posisi dengan nyaman selama melakukan perubahan posisi
4. Ajarkan klien teknik
relaksasi untuk mengontrol dan
menyesuaikan nyeri
5. Ajarkan dan
anjurkan klien untuk melakukan
pernapasan diafragma
untukmengurangi tegangan otot
6. Alihkan perhatian
klien : membaca, menonton tv,
mendengarkan lagu
7. Batasi aktivitas klien
sesuai dengan kebutuhan
8. Berikan obat sesuai
order

18
2. Dx : gangguan mobilitas fisik b/d nyeri, spasme otot

Kriteria Hasil NOC Intervensi NIC


Tujuan : setelah dilakukan perawatan 1. Memantau secara kontinu mobilitas
3x24 jam, klien dapat mengalami akan mengetahui aktivitas klien
mobilitas fisik 2. Bantu klien mengubah posisi secara
Kriteria Hasil: perlahan
1. Klien menunjukkan kembalinya 3. Ajarkan klien cara yang tepat turun dari
mobilitas fisik tempat tidur dengan nyeri yang minimal

2. Kembali ke aktivitas semula secara 4. Sampaikan dan ingatkan klien untuk


bertahap tidak diperbolehkan melakukan gerakan
3. Menghindari posisi yangmemutar atau melengok
mengakibatkan ketidaknyamanan 5. Dorong pasien untuk melakukan
dan spasme otot perubahan posisi berbaring, duduk,

4. Merencanakan atau jadwal baring berjalan. Dalam kurun waktu yang

setiap hari singkat


6. Buat jadwal periode berbaring di
tempat tidur berapa kali sehari bersama
dengan klien
7. Dorong klien untuk mematuhi jadwal
latihan yang sudah dibat dan
meningkatkan latihan secara bertahap

3. Dx : perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan b/d obesitas

Kriteria Hasil NOC Intervensi NIC


Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1. Kolaborasi penyusunan program
keperawatan 3x24 jam, nutrisi klien penurunan berat badan dan stres pada
adekuat punggung bawah
2. Berikan pengawasan terhadap rencana
Kriteria hasil :
penurunan berat badan klien

19
1. Klien mencapai berat badan yang 3. Lakukan pencatatan setiap pencapaian
ideal 4. Berikan semangat dan pujian positif
untuk mendorong kepatuhan

3.6 Evaluasi
1. Klien mengalami peredaan nyeri
a. Klien dapat beristirahat dengan nyaman
b. Klien dapat mengubah posisi dengan nyaman
2. Klien menunjukkan kembalinya mobilitas fisik
a. Klien dapat menjalankan aktivitasnya kembali secara bertahap
b. Menghindari posisi yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan
3. Klien mencapai BB yang ideal (diinginkan)
a. Mengidentifikasi perlunya penurunan BB

BAB 4
KESIMPULAN

20
Kerusakan punggung dan tulang adalah penyebab ketiga ketidakmampuan
individu dalam bertahun-tahun pekerjaannya. Pasien lansia mungkin mengalami
sakit punggung yang berkaitan dengan fraktur vertebra, osteoporosis atau
metastasis tulang. Banyak kondisi medikal dan psikomatis lain yang
menyebabkan nyeri punggung. Obesitas, stress dan kadang depresi dapat
menunjang terjadinya nyeri punggung bawah. Pasien dengan nyeri punggung
bawah kroning mungkin mengalami ketergantung pada alkohol atau analgesik.
Penyebab dari nyeri punggung masih belum dapat diketahui dengan jelas dan
masih belum dapat dijelaskan dengan detail. Banyak grup peneliti telah menyerah
dalam usaha untuk menjelaskan penyebab dari nyeri punggung bawah dan
kemudian justru menjelaskan beberapa kondisi tanda bahaya (red flag) yang
berkaitan dengan gangguan ini. Ditinjau dari kasus yang sudah dijelaskan diatas,
Etiologi dari kasus LBP yang dialami oleh klien adalah akibat trauma pada
komponen keras susunan neuromuskuloskeletal. Klien mempunyai riwayat jatuh
dari ketinggian yang dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada akar saraf di
tulang belakang (kompresi) sehingga terjadi lesi pada bantalan tulang belakang
yang menyebabkan cincin bantalan tulang belakang menjadi menonjol keluar dari
tempatnya dan menekan saraf-saraf yang ada di punggung sehingga pasien
mengeluhkan nyeri pada punggung bawahnya.
Gambaran klinis LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah,
dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri yang
berasal dari daerah punggung bawah dapat menuju ke daerah lain atau
sebaliknya , nyeri yang berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung
bawah (reffered pain/nyeri yang menjalar).
Ditinjau dari etiologinya, LBP yang dialami klien pada kasus diatas termasuk
dalam LBP traumatik. Sedangkan apabila ditinjau dari perjalanan klinisnya, kasus
LBP yang dialami oleh klien diatas termasuk dalam LBP akut karena masih
terjadi dalam waktu 1 bulan.
Sebagian besar pasien dapat diatasi secara efektif dengan kombinasi dari
pemberian informasi, saran, analgesia, dan jaminan yang tepat. Selain itu pasien

21
juga dapat didorong untuk melakukan aktivitas, tirah baring, dan olahraga.
Medikasi dan operasi juga bisa menjadi penatalaksanaan dari Low Back Pain.
Pada kasus di atas penatalaksanaan yang dapat dilakukan antara lain adalah tetap
mendorong klien untuk beraktivitas walaupun hanya aktivitas ringan, tirah baring,
dan edukasi kepada klien dan keluarga klien.
Biasanya pasien sembuh rata-rata dalam 7 minggu. Tetapi sering dijumpai
episode nyeri berulang. Dan sebanyak 80% pasien mengalami keterbatasan dalam
derajat tertentu selama 12 bulan, mungkin hanya 10-15% yang mengalami
disabilitas berat. Status pasien setelah 2 bulan terapi merupakan indikator untuk
meramalkan status pasien pada bulan ke-12.

22
DAFTAR PUSTAKA

Baughman C Diane dan Hackley C Joann. 1996. Keperawatan Medikal Bedah.


Jakarta: EGC

Black, Joyce. 2009. Keperawatan Medical Bedah Manajemen Klinis untuk Hasil
yang Diharapkan. Singapore:Elsevier

Black M. Joycem. Hawks Hokanson Jane. 2009. Keperawatan Medikal Bedah


.Elsevier: Singapore

Brunner and Suddarth. 1984. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: JB Lippincot


Company.

Bulechek, Gloria M, Howard K. Butcher, and Joanne McCloskey Dochterman. 2014.


Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth Edition. Mosby

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta:
EGC

Dewit,Susan. 1998. Essentials of Medical – Surgical Nursing. USA:W.B. Saunders


Company
DiGiulio, Mary. 2007. Medical – surgical nursing Demystified.USA: the McGraw-
Hill Companies

Doenges, M.E, dan Moorhouse M.F,Geissler A.C. 2000. Rencana Asuhan


Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

23
Fialova L, Svarcova J, Bartos A, Ridzon P, Malbohan I, Keller O, Rusina R. 2010.
Cerebrospinal fl uid and serum antibodies against neurofi laments in patients
with amyotrophic lateral sclerosis. Eur J Neurol. 2010 Apr;17(4):562-6.

Harsono. 1996. Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi 1. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

Herdman, T.H. and Kamitsuru. 2014. NANDA International Nursing


Diagnosis:Definitions & Classification, 2015-2017. Oxford: Willey Blackwell

Jokelainen M. Amyotrophic lateral sclerosis in Finland. II: Clinical characteristics.


Acta Neurol Scand. 1977;56:194–204.

24