Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Perusahaan Gas Negara (PGN) adalah perusahaan nasional Indonesia


terbesar di bidang transportasi dan distribusi gas bumi yang berperan besar dalam
pemenuhan gas bumi domestik. PGN sendiri memiliki Stasiun Kompressor dan
Metering yang merupakan bagian yang dioperator bagian pemeliharaan dan
maintenace oleh anak perusahann yaitu PGAS SOLUTION. Air compressor
adalah salah satu peralatan listrik yang sangat penting di Stasiun compressor
Pagardewa yang mana berfungsi untuk meningkatkan tekanan udara. Biasanya air
compressor menggunakan motor diesel/bensin ataupun motor listrik sebagai prime
mover ( penggerak utama). Air compressor di Stasiun compressor Pagardewa
memiliki dua unit yang selalu digunakan namun secara bergantian yang diganti
setiap minggunya. Saat salah satunya running maka satunya akan standby jika
salah satunya terjadi kegagalan operasi. Kemungkinan terjadinya kegagalan
operasi pada air compressor disebabkan penurunan kuliatas tahanan isolator yang
terdapat dipenghantar karena adanya loncatan tegangan antar fasa ataupun terjadi
arus bocor.

Penurunan isolator biasanya disebabkan oleh suhu motor, faktor usia,


kelembapan udara, permukaan penghantar yang dapat menyebabkan loncatan
tegangan antar fasa ataupun arus bocor sehingga maka diperlukannya
Pemeliharaan yang bertujuan untuk merawat serta mempertahankan keadaan
peralatan agar kondisi peralatan mendekati kondisi yang dispesifikasikan oleh
perusahaan pembuatannya atau paling tidak dapat dioperasikan dengan aman. Ada
beberaapa pemeliharan yang bisa dilakukan untuk perawatan motor seperti
pemeriksaan tahanan isolasi, Polarization Index, Dielectric Absorbsi Ratio,dan
toleransi temperature motor. Perawatan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya
kelemahan atau penurunan isolasi tahanan sesuai dengan peraturan.

1
Pengujian ini dilakukan secara rutin dengan menggunaan megger yang
pembacaannya langsung dalam megaohm dengan acuan standar IEEE no 43
tahun 2000 tentang index polarisasi dan resistansi isolasi baik lilitan yang baru
dan lilitan yang sudah tua. Hal-hal inilah yang mengevaluasi apakah tahanan
isolasi pada motor air compressor sesuai dengan IEEE no 43 tahun 2000 tentang
index polarisasi dan resistansi isolasi baik lilitan yang baru dan lilitan yang sudah
tua. Didasari oleh latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mempelajari dan
mengambil judul :
“EVALUASI TAHANAN ISOLASI MOTOR AIR COMPRESSOR DI STASIUN
KOMPRESSOR PAGARDEWA PT PERUSAHAAN GAS NEGARA Tbk”

1.2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut penulis ingin mengetahui kualitas tahanan


isolasi pada motor air compressor melalui parameter Polasrization Index (PI) dan
Dielectric Absorption Ratio (DAR) yang sesuai dengan IEEE no 3 tahun 2000
serta toleransi temperature motor yang sesuai dengan standar NEMA sekaligus
mendeteksi adanya pelemahan atau penurunan tahanan isolasi

1.3. Tujuan

Adapun tujuan dan manfaat dari pelaksanaan studi di kerja praktek ini
sendiri, yaitu :

1.3.1. Tujuan

1. Memahami sistem motor air compressor di Stasiun Kompressor


Pagardewa
2. Mengetahui standar IEEE no 43 tahun 2000 kualitas isolasi pada
motor air compressor di Stasiun Kompressor Pagardewa
3. Mengetahui nilai tahanan isolasi pada motor air compressor di
Stasiun Kompressor Pagardewa

2
4. Mengetahui nilai polarization index ( IP ) pada motor air
compressor motor air compressor motor air compressor di Stasiun
Kompressor Pagardewa
5. Mengetahui nilai Dielectric Absorbi Ratio ( DAR ) motor air
compressor di Stasiun Kompressor Pagardewa
6. Mengetahui toleransi temperature motor air compressor di Stasiun
Kompressor Pagardewa sudah cukup aman untuk dioperasikan

1.4 Ruang Lingkup

Dalam Laporan ini penyusun membatasi pembahasan hanya pada :


Penulis hanya membahas system motor air compressor , tahanan isolasi
,polarization index ( PI ), Dielectric arbsorbsi Ratio (DAR), dan toleransi
temperature motor pada motor air compressor di Stasiun Kompressor Pagardewa

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan

Pada Bab ini dijelaskan mengenai Latar Belakang, PerumusanMasalah,


Tujuan dan Manfaat Studi, Metode Penulisan, Pembatasan Masalah serta
Sistematika Penulisan pada Laporan Kerja Praktek ini.

BAB II Profil Perusahaan

Pada Bab ini dijelaskan mengenai sejarah berdirinya, visi, misi, tata nilai
dan makna perusahaan, serta struktur organisasi di PT Perusahaan Gas
Negara Tbk.

BAB III Tinjauan Pustakaa

Bab ini menjelaskan tentang teori motor secara umum, komponen


utama, prinsip kerja,klasifikasi motor ,tahanan isolasi, Polarization

3
Index (PI), Dielectric arbsorbsi Ratio (DAR), dan toleransi temperatur
motor

BAB IV Pembahasan

Bab ini menjelaskan tentang tahanan isolasi, Polarization Index (PI),


Dielectric arbsorbsi Ratio (DAR), dan toleransi temperatur motor pada
motor air compressor Stasiun Kompressor Pagardewa

BAB V Penutup

Pada Bab ini terdiri dari kesimpulan akan rumusan masalah dan saran
yang dapat menjadikan referensi penulis lain.

4
Bab II Profil Perusahaan

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Perkembangan PT Perusahaan Gas Negara


2.1.1 Sekilas Perusahaan
Perusahaan Gas Negara (PGN) adalah perusahaan nasional Indonesia
terbesar di bidang transportasi dan distribusi gas bumi yang berperan besar dalam
pemenuhan gas bumi domestik. Kami telah bertransformasi menjadi perusahaan
yang berdedikasi pada satu tujuan Memberikan keahliannya, energi dan
infrastruktur yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia
secara jangka panjang. PGN secara berkesinabungan mengintegrasikan rantai
bisnis gas bumi dari hulu sampai hilir demi melayani masyarakat.

Gambar 2.1 Logo PT Perusahaan Gas Negara

PGN terus memperkuat pondasi dan bertransformasi dari perusahaan transmisi


dan distribusi gas bumi menjadi penyedia solusi energi terintegrasi, yang
mendorong pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan masyarakat dan industri. 1859
– 2015 Resmi menjadi Perusahaan Gas Negara pada 13 Mei 1965, kiprah PGN
telah dimulai sejak era kolonial. Banyak hal terjadi selama lebih dari satu setengah
abad. PGN telah mengarungi sejarah panjang industri gas di Indonesia. Ini adalah
rangkuman perjalanan PGN menebar energi baik untuk kehidupan. Ini adalah
rangkuman perjalanan PGN menebar Energibaik untuk kehidupan. 1859-1965
Pada tahun 1859 didirikan perusahaan swasta Belanda, Firma L.J.N. Eindhoven &
CO Gravenhage. PGN baru ditetapkan sebagai perusahaan negara pada 13 Mei
1965. 1994-1998 Perluasan bisnis dan ekspansi PGN diikuti pembentukan anak

5
usaha PT Transportasi Gas Indonesia. 2003 Saham PGN dicatatkan di Bursa Efek
Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan kode PGAS Pada 15 Desember 2003.
2007-2012 Pembentukan anak usaha PT PGAS Telekomunikasi Nusantara, PT
PGAS Solution, PT Saka Energi Indonesia, PT Gagas Energi Indonesia dan PT
PGN LNG Indonesia. Pada 2016 PGN memulai pembangunan dan pengelolaan
proyek jaringan gas bumi rumah tangga di wilayah Batam, Surabaya dan Tarakan,
setelah sebelumnya ditahun 2015 ditugaskan mengelola jaringan di 11 wilayah.
PGN melakukan transformasi organisasi bersama Anak dan Afliasi dalam bentuk
ONE PGN, mengukuhkan langkah ke tahapan selanjutnya menuju perusahaan
kelas dunia di bidang gas.

2.1.2 Visi, Misi, Makna dan Tata Nilai Perusahaan

Visi Perusahaan

“Menjadi Perusahaan Energi Kelas Dunia di Bidang Gas pada Tahun 2020”

Misi Perusahaan
“Meningkatkan nilai tambah Perusahaan bagi stakeholders melalui:
a. Pelanggan
b. Masyarakat
c. Pemegang Saham/ Investor
Solusi pemenuhan kebutuhan energi yang aman, bernilai tambah, ekonomis
dan meningkatkan daya sain

2.2 Bidang Usaha dan Produk Jasa Perusahaan

2.2.1. Bidang Usaha


Sesuai dengan Anggaran Dasar PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
(PGN) sebagaimana terakhir diubah dengan Akta No. 11 Tanggal 6 April 2011,
bidang usaha PGN adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan, pembangunan dan pengembangan usaha hilir bidang gas bumi
yang meliputi kegiatan pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga.
2. Perencanaan, pembangunan, pengembangan produksi, penyediaan,
penyaluran dan distribusi gas buatan (gas hidrokarbon).

6
3. Selain kegiatan usaha utama, Perusahaan dapat melakukan kegiatan usaha
penunjang lain yang berkaitan langsung dan atau yang mendukung kegiatan
usaha utama sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

2.2.2. Produk Jasa yang Dihasilkan


Sebagai BUMN yang bergerak dalam bidang usaha transmisi dan
distribusi gas bumi, mengacu pada UU Minyak dan Gas Bumi No. 22 Tahun 2001,
yang mengharuskan adanya pemisahan entitas yang bergerak di bidang hulu dan
hilir, maka bidang usaha PGN dipusatkan pada sektor hilir, yaitu menghubungkan
Produsen Gas Bumi dengan Pengguna Gas Bumi. Untuk kepentingan manajemen,
dalam menjalankan kegiatan operasinya, PGN membagi 3 (tiga) segmen usaha
pokok, yaitu: 1. Usaha Transmisi/Transportasi, 2. Usaha Disribusi/Niaga, 3.
Minyak dan Hulu Gas 4. Segmen Usaha Lainnya (Jasa Konstruksi dan
Pemeliharaan, LNG, Sewa Kapasitas Serat Optik dan Properti). Berdasarkan
PSAK No. 5 (direvisi tahun 2009) mengenai segmen usaha operasional dan untuk
tujuan penilaian serta pelaporan manajemen, di tahun 2013 Perusahaan juga
melaporkan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sebagai segmen bisnis
perusahaan. Hal ini sejalan dengan strategi bisnis di hulu yang telah dijalankan
sejak tahun 2011.[1]

2.3 Sumber Gas, Jaringan Pipa, dan Fasilitas PGN

7
Gambar 2.2 Sumber Gas, Jaringan Pipa, dan Fasilitas PGN[1]

8
Gambar 2.3 Sumber Gas, Jaringan Pipa, dan Fasilitas PGN[1]

9
2.4 Proses Bisnis Perusahaan

Gambar 2.4 Proses Bisnis Perusahaan[1]

10
2.5 PGN Group

Tabel 2.1 Perusahaan Gas Negara Group[1]


Nama Perusahaan Bidang Usaha Status
PT Perusahaan Gas Negara Distribusi gas bumi dan transmisi Beroprasi
(perser) Tbk komersial gas bumi
Pt Transportasi Gas Indonesia Transmisi gas bumi persentase Beroprasi
(Transgasindo) kepemilikan 59,87%
PGN Euro Finance limited Keuangan, persentase Beroprasi
(PGNEF) kepemilikan 100%
PT Gas Telekomunikasi Telekomunikasi, persentase Beroprasi
Nusantara (PGASKOM) kepemilikan 99,93%
PT PGAS Solution Konstrusi, persentase kepemilikan Beroprasi
(PGASSOL) 99,91%
PT PGAS Telecomunications Telekomunikasi, persentase Beroprasi
International PTE. LTD kepemilikan tidak langsung
melalui PGASCOM sebesar 100%
PT Gas Energi Jambi Perdagangan, pembangunan dan Belum
jasa, kepemilikan langsung 40% beroprasi
PT Banten Gas Synergi Jasa, pengangkutan, perdagangan Beroprasi
dan pertambangan kepemilikan
langsung 1 %, tidak langsung 99
%
PT Nusantara Regas Pengolahan dan pengembangan Beroprasi
floating storage and Regalication
(FSRT), kepemilikan langsung 40
%

2.6 PT PGAS Solution (PGASSOL)


Berdiri pada 6 agustus 2009, PT PGAS SOLUTION (PGAS Solution) di
dedikasikan untuk fokus pada aspek teknik dan operasional dibidang gas. cikal

11
bakal perusahaan ini adalah divisi teknik PGN, yang sukses mengerjakan jaringan
transmisi dan distribusi gas dalam proyek pemasangan pipa South Sumatera-West
Java (SSWJ). Proyek gas berskala nasional tersebut menjadi inspirasi
terbentuknya PGAS Solution.

Gambar 2.5 Logo PGAS Solution[2]

2.6.1 Visi dan Misi PT PGAS Solution


visi : solusi mitra handal dalam infastruktur energi
misi : memberikan solusi inovatif dengan sumber daya yang kuat, wide
networking, GCG untuk menigkatkan nilai pemegang saham melalui
pertumbuhan dan menguntungkan. membawa perusahaan dengan bangga menjadi
pemenang dalam persaingan di masa depan

2.7 Stasiun Kompressor


Perusahaan Gas Negara (PGN) adalah perusahaan nasional Indonesia
terbesar di bidang transportasi dan distribusi gas bumi yang berperan besar dalam
pemenuhan gas bumi domestik. PGN sendiri memiliki Stasiun Kompressor dan
Metering yang merupakan bagian yang dioperator bagian pemeliharaan dan
maintenace oleh anak perusahann yaitu PGAS SOLUTION . Stasiun compressor
di desain untuk memenuhi kebutuhan aliran gas yang dibutuhkan oleh costumer
dengan kebutuhan aliaran gas pada kapasitas flow dengan tekanan tertentu baik
pada sisi upstream, downstram ataupun didalam system pipa transmisi gas pada
system transmisi sumatera selatan- jawa barat. Stasiun kompresor memilik tujuan
untuk memberikan tekanan pada gas bumi lalu di salurkan melalui pipa transmisi
dari sumatera selatan ke jawa barat. Stasisun ini memiiki kapasitas sebesar

12
maksimum 275 MMSCFD serta dengan kemampuan tekanan gas dari 390-490
psig menjadi maksimum 1050 psig . untuk gas, gas disuplay dari pertamina
melalui slug cather stasiun metering pagarewa masuk ke stasiun komprssor
melalui suction header. Ges tersebut kemudian mengalir ke dalam train
komperssor. Untuk kompressornya sendiri ada tiga yang mana dua beroperasi
secara normal dan satu dalam posisi standby. Suction scrubber tersedia pada
masing-masing train untuk memisahkan kondesat atau cairan yang terkandung
pada gas. Setelah gas terkompressi maka gas tersebut akan menglir ke after
cooler. Di after cooler di dingikan kemudian di alirkan ke stasiun metering
melalui discharge header. Untuk mendukung operasi stasiun compressor,
dibutuhkan system utilita sebagai berikut :

Gambar 2.6 CSCS Display : Overall Compressor Station[2]

1) Power geneRation system


2) Utility and instrument air system
3) Fuel gas system
4) Utility and potable water system
5) Closed drain system
6) Oily water system
7) Seal gas system
8) Diesel fuel system

13
9) Vent system
10) Fire and gas system
11) Motor control center
12) Distributed Control System (DCS)
13) Utilitas lainnya

2.8 Peralatan Listrik Lapangan


2.8.1 Generator
Generator merupakan sebuah mesim pembangkit yang berfungsi untuk
mengkonversikan energi kinetik menjadi energy listrik dengan menggunkan
prinsip dari elektromagnetik yang merupakan pembangkit utama akan mensuplay
energy listrik. Di Stasiun Kompressor Pagardewa sendiri memiliki 3 buah
pembangkit untuk mensuplay energy listrik yaitu dua buah gas engine generator
(GEG) dan satu buah diesel engine generator (DEG) Untuk keadaan normal gas
engine akan bekerja bergantian pada tiap minggu sehingga akan dilakukan
pergantian gas enggine generator, untuk diesel enggine generator akan posisi
standby jika kedua gas enggine generator mengalami kegagalan beroperasi.
Spesifikasi keempat generator di Stasiun Kompressor Pagardewa adalah sebagai
berikut :
1. GEG G3516 : Tahun 2007, 1088 kVA, Pf 0.8, 50 Hz, 0,4 kV, 1569 Amps,
temperature max 90˚C, temperature resistansi 40 ˚C, class H insulation.
2. DEG C18 : Tahun 2007, 591 kVA, Pf 0,8 ,50 Hz, 0.4 kV. 853 Amps,
temperature max 125˚C, temperature resistansi 40 ˚C, class H insulation.

Guna mendukung suplay listrik jika terjadi kegagalan maka juga ada UPS Dalam
kasus GEG dan DEG gagal beroperasi maka daya listrik yang akan disuplai oleh
UPS hanya meliputi :

- Instrument Panel Distribution Board - Switchgear


(CSCS, ESD, Metering) - Paging
- SFAP - PABX
- BFAP - SCCP
- CCTV

14
2.8.2 Utility & Instrument Air System
Utility & instrument air system menyediakan udara instrumen untuk
kontrol pneumatic dan utilitas lainnya di stasiun. Sistem terdiri dari peralatan
berikut:

a. Air Compressor Package

Air Compressor package terdiri dari 2 (dua) unit identik dalam konfigurasi
paralel yang beroperasi secara bergantian. Tiap package mampu menyediakan
100% kapasitas. Kebutuhan udara utilitas dan instrumen adalah 210,05 SCFM dan
203,80 SCFM. Tiap package terdiri dari screw compressor tipe flooded (20-C-
2310A/B), penyaring udara masuk, after cooler kompresor udara (20-E-1320A/B)
dan pemisah cairan. Udara panas bertekanan keluar dari kompresor udara
didinginkan menjadi 100 oF di after cooler. Pemisah cairan dipasang setelah
pendingin ini untuk memisahkan cairan yang mengembun. Untuk mencegah
tekanan berlebihan, pressure safety valve dipasang setelah kompresor dengan
tekanan setting 160 psig. Kontrol air compressor package berdasar sistem kontrol
lead - lag.

b. Air Utility Receiver (20-V-2320)

Penampung udara utilitas adalah bejana untuk menyimpan udara utilitas


sebagai output dari air compressor package. Cairan yang terkumpul di dasar
bejana akan di-drain melalui dua perangkap cairan. Dari penampung ini, udara
dikirim ke header udara utilitas dan air dryer package 20-M-2330A/B. Bejana ini
dilindungi dari tekanan berlebih dengan pressure safety valve 20-PSV-2320 yang
didesain untuk kasus kebakaran.

c. Air Dryer Package (20-M-2330A/B)

15
Air dryer package terdiri dari 2 (dua) unit paralel dengan konfigurasi
paralel dengan kapasitas masing-masing adalah 203,80 SCFM.
Peralatan utama untuk air dryer package adalah pengering udara yang dipasang
untuk mengeringkan udara bertekanan. Pengering adalah tipe desiccant dengan
dual tower, heatless & regenerative type menggunakan alumina adsorbent.
Pengering akan menyerap kelembaban, sehingga udara kering memenuhi kriteria
ISO-8573-1. Pengering udara juga dilengkapi dengan panel kontrol lokal yang
secara otomatis berpindah antar tower. Jika terjadi masalah pada air dryer
package, alarm umum akan dikirim ke CSCS melalui panel kontrol lokal untuk
mengingatkan operator. Indikator dew point dipasang untuk memeriksa
kandungan kelembaban udara. Dua pra-filter udara tipe coalescer dipasang
sebelum pengering udara, dan dua purna-filter udara tipe coalescer dipasang
setelah pengering udara. Filter-filter tersebut mampu menghilangkan 99% partikel
dan uap minyak atau cairan yang lebih besar dari 0,6 micron. Tiap filter
dilengkapi dengan perangkap drain otomatis.

d. Instrument Air Receiver (20-V-2340)

Instrument Air Receiver adalah bejana untuk menyimpan udara instrumen


sebagai output dari air dryer package. Penampung udara instrumen memiliki
kapasitas menyuplai udara instrumen dengan laju alir 203,80 SCFM selama 15
menit tanpa masukan dari air compressor. Bejana ini dilengkapi dengan liquid
trap yang secara otomatis membuang cairan yang terkumpul di dasar bejana. Dari
penampung ini, udara instrumen dikirim ke peralatan yang membutuhkan. Untuk
mencegah bejana dari tekanan berlebihan saat terjadi kebakaran, maka instrument
air receiver ini dilengkapi dengan pressure safety valve. Udara instrumen
disediakan untuk semua pengguna yang membutuhkan seperti valve actuator,
shaft seal dari kompresor gas, back washer dari air intake filter gas turbine.
Kebutuhan udara utilitas dan instrumen adalah berturut-turut 210,05 SCFM dan
203,80 SCFM. Seperti telah disebutkan, penampung udara instrumen memiliki
kapasitas untuk menyuplai udara instrumen pada aliran desain selama 15 menit.
Selama 15 menit tekanan di penampung akan turun dari 130 psig ke 80 psig.

16
Semua instrument valve yang digerakkan udara instrumen dibuat untuk berfungsi
meski tekanan udara instrumen mencapai 80 psig.

e. Shutdown System

Udara instrumen sangat penting untuk keamanan operasi dan shutdown


Stasiun Kompresor. Karena itu, sistem ini harus selalu beroperasi kecuali saat
penghentian seluruh stasiun. Namun, beberapa local shutdown (PSD) disediakan
untuk melindungi alat dari overheating. PSD yang terjadi karena overheating pada
output after cooler akan menshutdown air compressor. Selain permasalahan ini,
pada kejadian penurunan tekanan udara instrumen sampai level low-low akan
men-trigger terjadinya station shutdown lockout (SSDL) dan menyebabkan semua
kompresor gas yang sedang beroperasi trip.

f. Emergency Shutdown

ESD adalah satu-satunya shutdown system yang dapat men-trip-kan


GEG. Sinyal ESD akan secara otomatis men-shutdown GEG. DEG didesain untuk
menyediakan daya listrik pada keadaan darurat sebagaimana menjadi vital dalam
control system dan instrument air system. Untuk mengantisipasi hal ini, maka
operator perlu melakukan langkah berikut :

1) Mengkarifikasi secara jelas penyebab terjadinya ESD

2) Memastikan bahwa DEG beroperasi secara otomatis

Namun demikian, dalam kasus kebakaran di generator building, operator harus


bisa memastikan bahwa DEG tidak mesti dioperasikan.

g. Motor air compressor


Motor induksi 3 phasa merupakan mesin listrik yang bekerja dengan
menggunakan prinsip induksi elektromagnetik. Motor berfungsi untuk mengubah
energi listrik menjadi mekanik. Pada saat stator dialiri arus listrik, lilitan-lilitan
pada stator akan menghasilkan garis-garis medan magnet (fluksi). Fluksi yang
dihasilkan disetiap phasa nya akan berbeda-beda dikarenakan arus yang mengalir
pada setiap phasa tidak sama. Hal ini mengakibatkan fluks yang dibangkitkan

17
lebih cenderung pada fasa mana yang mengalami kondisi arus paling tinggi.
Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa medan magnet yang dibangkitkan
juga ikut berputar seiring waktu. Untuk dibagian air compressor menggunakan
type GA55, press max outlet 145psig, capacity 383 SCFM, Motor power 55 KW,
motor speed 2978 rpm, dan net weight 1145kg yang digerakkan oleh motor yang
memiliki spesifikasi : SIEMEND-91056 ERLANGEN Tersedia tegangan 400 V,
50 Hz, 95 A, 55 kW, Pf 0.88. [2]

Gambar 2.7 CSCS Display : Utility & Instrument Air System[2]

Bab III Tinjauan Pustaka

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Motor Listrik


Motor listrik adalah sebuah alat elektromagnetis yang mengubah energy
listrik menjadi energy mekanik. Biasaya energy mekanik ini bisa digunkan untuk
fan, blower sedangkan utnuk di industry biasanya digunakan untuk compressor.
Motor induksi merupakan motor yang sangat efisien digunkan dimulai dari
konstruksi yang baik, harga murah dan mudahnya dalam mengatur kecepatan,
efisiensi yang tinggi dan stabil dalam berbeban. Untuk mesin induksi biasanya
digunakan mesin induksi arus bolak-balik untuk industry baik industry kecil

18
ataupu besar. Umumnya untuk industri digunakan motor induksi ac tiga fasa
karena memiliki keuntungan dan kelemahan yaitu dengan keuntungan motor
induksi tiga fasa sangat sederhana dan kuat, perawatannya mudah, memiliki
efisiensi yang tinggi serta biaya yang murah sedangkan untuk kelemahannya
kecepatan tidak bisa bervariasi tanpa meubah egisiensi, kecepatan tergntung
beban dan pada torsi start memiliki kekurangan.

3.1.1 Konstruksi Motor


Konstruksi motor terbagi menjadi rotor dan stator. Rotor merupakan
bagian yang bergerak seangkan stator yang merupakan bagian yang diam.
Diantara stator dan rotor memiliki celah udara yang jaraknya sangat kecil. Bagian
stator merupakan komponen bagian terluar dari motor untuk mengalirkan arus
phasa. Bagian stator terdiri dari atas bagian tumpukan laminasi inti yang memiliki
alur yang menjad tempat kumparan dilitkan yan berbentuk silindr. Untuk alur
tumuan pada lamnasi inti isolasi dengan kertas. Tiap laminasi inti dibentuk dari
lembaran besi. Dari lembaran besi tersebut memiliki beberapa alur dan beberapa
lubang pengikat untuk menatukan inti. Sehigga tiap kumparan tersebar dalam
beberapa alur yang disebut dengan belitan phasa dimana untuk motor tiga phasa
bbelitan phasa, belita tersebut secaralistrik sebesar 120˚. Kawat yang digunakan
terbuat dari tembaga yang dilapisi oleh sebuah isolasi. Kemudian tumpukan inti
dan belitan stator diletakkan alam cangkang silindris.
Bagian bagian dari motor memiliki 3 bagian penting yaitu:
1. stator adalah bagian yang diam dan mempunyai kumparan akan meninduksi
medan electromagnet kepada kumparan rotornya.
2. Celah adalah sebuah celah udara dimana tempat berpindahnya energy dari
satator ke rotor
3. Rotor adalah bagian yang bergerak yang diakibatkan oleh adanya induksi
magnet dari kumparan stator yang di induksikan kepada kumparan rotor

Konstruksi stator dan motor pada dasarnya terdiri dari :


Motor induksi pada dasarnya mempunyai tiga bagian penting seperti
1. Stator : merupakan bagian diam dan mempunyai kumparan yang dapat
menginduksi kumparan rotor dengan menghasilkan medan elektromagnetik

19
2. Celah : merupakan celah udara yang berfungsi untuk menjadi tempat
berpindahnya energy dari stator ke rotor
3. Rotor : merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari
kumparan stator kepada kumparan rotor

Konstruksi stator motor induksi pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian sebagai
berikut
1. Rumah stator (ranngka stator) dari besi tuang
2. Inti stator dari besi lunak atau baja silikon
3. Alur, bahannya sama dengan inti dan untuk tempat melekatkan belitan
(kumparan stator)
4. Belitan stator dari tembaga

Rangka stator induksi ini didesin dengan baik dengan tujuan


1. Melindungi bagian-bagian mesin yang bergerak dari kontak manusia dan
goresan oleh gangguan udara terbuka
2. Menutupi inti dari kumparan
3. Berguna sebagai sarana rumhan ventilasi udara sebagai pendinginan lebih
efektif
4. Menyalurkan torsi ke bagian peralatan pendukung mesin dan oleh karena itu
stator didesain agar tahan terhadap gaya putar dan goncanagan
Berdasarkan bentuk konstruksi rotornya, maka motor induksi dapat dibagi
mennjadi dua jenis yaitu :
1. Motor induksi dengan rotor sangkar (squirrel cage)
2. Motor induksi dengan rotor belitan (wound rotor)

Diantara stator dan rotor terdapat celah udara yang merupakan ruangan antara
stator dan rotor. Pada celah udara ini fluks induksi stator memotong kumparan
rotor sehingga menyebabkan rotor berputar.

3.1.2 Klasifikasi Motor


Berdasarkan karakteristik dari arus listrik yang mengalr, motor AC, arus
bolak balik maka motor terbagi menjadi dua yaitu :
a. motor listrik arus bolak balik 1 fasa
b. motor lisrik arus bolak balik 3 fasa

Berdasarkan kalsifikasi tersebut motor listrik satu fas hanya memiliki satu
gulungan pada stator yang beroperasi mengunakan pasokan daya satu fasa,

20
memiliki sebuah rotor kandang tupai dan memerlukan sebuah alat untuk
menghidupkan motornya . Biasanya motor satu fasa digunakan dalam rumah
tangga seperti mesin cuci, kipas angin, dan pengering pakaian untuk penggunaan
nya biasanya 3 sampai 4 Hp motor tiga fasa mempunyai medan magnet yang
berputar, medn putar ni dihasilkan oleh pasokan tiga fase yang seimbang. Motor
tersebut memilki keampuan yang tinggi dapat mmiliki kandang tupai dan
penyalaan sendiri untuk motor tiga fasa motor di industry seperti pompa,
kompressor , jaringan listrik, belt conveyor dan grinder. Tersedia dalam ukuran
1/3 hingga ratusan Hp.

3.1.3 Prinsip Kerja Motor


Motor induksi bekerja dengan induksi elektromagnetk dari kumparan stator
kepada kumparan rotornya. Garis-garis gaya fluks yang dinduksikan dari stator
yang akan memotong kumpara ke rotor sehingga timbul gaya gerak listrik atau
tegangan induksi, dikarenakan penghatar kumparan rangkaian yang tertutup, maka
akan mengalir arus pada kumparan rotor. Penghantar kumparan rotor yang dialiri
arus ini berada dalam garis gaya fluks yang berasal dari kumparan stator sehingga
kumparan rotor akan mengalami gaya Lorenz yang menimbulkan torsi yang
cenderung menggerakkan rotor sesuai dengan arah pergerakan medan induksi
stator. Pada rangka stator terdapat kumpuran stator yang ditempatkan pada slot-
slotnya yang dililitkan pada sejumlah kutub tertentu. Jumlah kutub ini akan
menentukan kecepatan medan stator yang terjadi diinduksikan ke rotornya. Makin
besar jumlah kutub akan mengakibatkan makin kecilnya putran medan stator dan
sebaliknya, sehingga kecepatan putarnya medan putar ini disebut kecepatan
sinkron.[3]

3.2 Tahanan Isolasi


Tahanan isolasi adalah tahanan yang terdapat dianta dua kawat salurab yang
di isolasi satu sama lain atau saluran tahanan satu kawat saluran dengan tanah.
Mengetahuibesarya tahanan isolasi dari suatu peralatan listrik sangatlah penting
untuk menentukan apakah alat tersebut masih layak pakai ataupun dioperasikan.
Ada baiknya sebelum menggunakan dan mengoperasikan peralatan seperti

21
generator , trafo dan motor untuk memeriksa tahanan isolasinya, tidak peduli
apakah alat tersebut masih baru atau sudah lama pakai. Untuk memeriksa tahanan
isolasi cara yang paling sederhana menggunakan Mega Ohm Meter ( Megger).
Isolasi yang dimaksud adalah isolasi antar bagian yang bertegangan dengan
bertegangan ataupun bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak
bertegangan seperti body alat atau grounding. Isolasi mesin yang diuji meliputi :
1. Isolasi yang mengisolasi belian rotor dengan badan mesin
2. Isolasi yang mengisolasi belitan stator dengan badan mesin

Pada dasarnya pengukuran tahanan isolasi ini adalah untuk mengetahui besar
kebocoran arus yang terjadi pada isolasi mesin. Kebocorn arus yang menembus
isolasi peralatan listrik memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, salah satu
cara meyakinkan bahwa mesin cukup aman maka harus diperiksa tahanan
isolasinya. Pada dasarnya pengujian tahanan isolasi bertujuan untuk memeriksa
seberapa besar kebocoran arus yang terjadi pada tahanan isolasi. Kobocra arus
memang tidak dapat dihindaari ntuk mengukurnya dengan menggunakan rumus :

(3.1)

Dimana :
I = arus bocor
VL-L = tegangan line ke line
IR rata-rata = Nilai rata-rata tahanan isolasi

Kebocoran arus yang mmenuhi ketentuan yang ditetapkan akan memberikan


jaminan bagi motor itu sendiri sehingga terhindar dari kegagalan isolasi, berikut
formula tahanan minimum yang harus dicapai pada saat uji tahanan isolaso
dengan factor koreksi 40˚C
Tabel 3.1 Rekomendasi Tahanan Isolasi [4]
Nilai IR minimum (MΩ) Tegangan Uji DC
IR1min = kV + 1 Untuk sebagian besar jenis belitan
yang dibuat sebelum tahun 1970

22
dan semua jenis belitan medan
IR1min = 100 Untuk sebagian besar jenis belitan
yang dibuat sessudah tahun 1970
dan semua jenis belitan medan
IR1min = 5 Untuk sebagian besar mesin
dengan jenis stator random-wound
dan form-wound kurang dari 1 kV

Salah satu jenis pemeliharaan yang dilakukan dalam kegiatan combustion


inspection ( CI ) yaitu pemelihaan secara priodik yang mana setiap 8000 jam ,
kegiatan yang dilakukan berupa pengujian tahanan isolasi dan polarization index
Nilai tahanan isolasi pada stator diukur pada ruangan 40˚C, pengukuran
dilakukan, untuk melakukan peengukuran tahanan isolasi harus melepas hubung
way ( Y ) motor terhadap ground. Pengukuran dilakukan pada tiap fasa ke ground
terlebih dahulu. lead fase (berwarna merah) dari megger dihubungkaan ke salah
satu fasa belitan motor sedangkan lead ground (berwarna hitam) dihubungkan ke
grounding. Megger di atur dengan tegangan uji yang ditetapkan sesuai rating
tegangan belitan. Penerapan selama 1 menit untuk mendapatkan nilai isolasi.
Selanjutnya dilakukan pengujian yang sama pada setiap fasa. Pengujian dilakukan
untuk mendekteksi adanya kebocoran yang terjadi ada isolasi tahanan. Tahanan
menurun disebabkan lamanya tegangan yang diterapka di lilitan pada mesin. Jika
tahanan yang diperoleh tetap rendah kemungkinan terjadinya moisture sehingga
harus dikeringkan sekurang-kurangnya sampai memperoleh tahanan minimum
yang dianjurkan.
Tahanan isolasi yang bai akan terus meningkat pada saat diberikan
tegangan uji pada saat pertama kali percobaan, selanjutnya tegangan akan
cenderung stabil siring berjalannya uji coba. Tegangan yang dianjurkan saat uji
tahanan isolasi haruslah sesuai dengan rating tegangan belitan sehingga setiap
tegangan yang diberika akan berbeda-beda berikut tegangan rekomendasi pada
saat tes tahanan isolasi menurut IEEE 43-2000[5]

Tabel 3.2 Tegangan Uji Coba Tahanan Isolasi [4]

23
Rating tegangan belitan Tegangan Uji (V)
< 1.000 500
1.000-2.500 500-1.000
2.501-5.000 1.000-2.500
5.001-12.000 2.500-5.000
˃12.000 5.000-10.000

3.2.1 Faktor Koreksi Temperatur Mesin Pada Saat Uji Coba


Pada saat melakukan uji coba temperature temperatur sangatlah
berpengaruh sehingga harus diberikan factor koreksi temperature saat dilakukan
pengujian. Maka setiap pengukuran perlu diberikan koreksi pada terhadap
temperature dasar 40˚C, hal ini disebabkan setiap temperature belitan yang
berbeda beda pada saat pengukuran dan tidak dapat memungkinkan untuk
dikontrol. Sehingga formula yang dapat dipakai yaitu :

RC = KT . IRT (3.2)

Dimana :
RC : Tahanan isolasi (MΩ) yang dikoreksi pada temperature 40˚C
KT : Koefisien tahanan isolasi pada temperature T˚C
IRT : Tahanan isolasi yang terukur pada saat T˚C

Pada nilai KT didapatkan dari tahanan isolasi yang dikoreksi dengan factor
temperature 40˚C. Rumus penghitungan KT berdasaarkan material mesin yang
digunakan secara umum dapat dikelompokkan mejadi dua yaitu material jenis
thermoplastic dan thermosetting . Factor KT untuk material jenis thermosetting
dirumuskan sebagai berikut :

KT = (0.5)(40-T)/10 (3.3)
Dimana :
T = temperature belitan ppada saat pengukuran tahanan isolasi (˚C)

24
Material jenis thermoplastic biasanya dengan isolasi yang terbuat sebelum tahun
1960 seperti aasphaltic, sedangkan thermosetting biasaanya berupa isolasi yang
terbuat setelah tahun1960.[6]

3.2.2 Perhitungan Nilai IRrata-rata Pada Setiap Fasa


Untuk menghitung nilai IRrata-rata pada setiap fasa menggunakan rumus:

IRT = (3.4)
Dimana :
IRT = Nilai rata-rata tahanan isolasi
IR = Tahanan isolasi dari hasil pengukuran
n = Banyak jumlah data

Dari hasil pengukuran tersebut akan mendapatkan nilai rata-rata tahanan isolasi
pada setiap fasa dan dapat dibandingkan dengan standar IEEE 43- 2000 [5]

3.3 Perhitungan nilai Polarization Index (PI) motor

Polarization Index (PI) adalah salah satu perhitungan untuk mengetahui


kualitas winding motor akibat pengaruh lingkungan seperti penyerapan air, debu,
kotoran dan lan-lain. Data hasil pengukuran tahanan isolasi dapat digunakan untu
mengetahui keadaan kualitas winding motor, setiap gorganisasi memiliki formula
pengukuran masing-masing untuk standar IEEE43-2000 nilai PI dapat dihitung
menggunakan pengukuran IR 5 menit dibagi dengan IR 1 menit pertama
sehingga :

PI = (3.5)

Dimana :
PI : Polarization Index (indeks polarisasi)

25
IR 5 menit : pengukuran tahanan yang ke 5 menit
IR 1 menit : Pengukuran tahanan yang ke 1 menit

Adapun standar minimum PI menurut IEEE sesuai dengan kelas mesin yang diuji
yaitu :

Tabel 4 PI Minimum Menurut Standar IEEE 43-2000 [4]


Kelas Isolasi PI Minimum
Kelas A 1.5
Kelas B 2.0
Kelas F 2.0
Kelas H 2.0

Sedangkan untuk nilai interprestasi tingkat nilai polarization indeks pada suatu
tahahan isolasi mesin yaitu :
Tabel 5 Interprestasi Tingkat Nilai Polarization Indeks[4]
Nilai PI Kondisi Isolasi
<1.0 Sangat buruk ( berbahaya )
1.0-2.0 Buruk
2.0-4.0 Baik
˃4.0 Sangat baik

Untuk Polarization Index (PI) tidak perlu melakukan factor koreksi


temperature.[7]

3.4 Dielectric Absorption Ratio (DAR)


Dielectric Absorption Ratio biasanya digunakan sebagai gantinya jika uji
rasio diperlukan sebagai gantinya. Untuk nilai PI dan DAR biasanya digunakan
dalam pengujian tahanan isolasi untuk melihat kondisi isolasi.

DAR = (3.6)

Dimana :

26
DAR : Polarization Index (indeks polarisasi)
IR 1 menit : pengukuran tahanan yang ke 1 menit
IR 30 sekon : Pengukuran tahanan yang ke 30 sekon
Untuk nilai interprestasi tingkat nilai Dielectric Absorption Ratio pada
suatu tahahan isolasi mesin yaitu :

Tabel 6 Interprestasi Tingkat Nilai Dielectric Absorption Ratio[8]


DAR Kondisi Isolasi
1.0-1.25 Diragukan
1.25-1.6 Baik
˃1.6 Sangat baik

Untuk Dielectric Absorption Ratio (DAR) tidak perlu melakukan factor


koreksi temperature[8]

3.5 Kelas Toleransi Temperatur Maximum Motor


Mengenai tahanan isolasi berkaitan dengan seberapa baik kemampuan
isolasi yang digunakan pada kawat gulungan ( winding ) suatu motor terhadap
perubahan temperature panas atau dingin. Kelas isolasi temperature adalah
seberapa besar temperature yang dapat di toleransi bahan isolasi kawat gulungan
saat bekerja, sehingga tetap dapat berfungsi sebelum melebihi batas tembus
tegangan dan mengalami kegagalan isolasi atau terjadinya kebocoran arus atau
gengan listrik. Berikut ini tabel toleransi Kelas isolasi temperature untuk motor
dengan berpanduan ini memungkinkan untuk menghindari kegagalan tahanan
isolasi[9]
Tabel 3.3 Kelas Toleransi Temperatur Motor[9]
Tabel Kelas Toleransi Temperatur Motor
Kelas Temperatur Temperatur Temperature
Toleransi Maksimum Saat yang masih yang masih
Temperatur Operasi diperolehkan diperbolehkan
˚C ˚F Servis factor 1.0 Servis factor
˚C 1.15 ˚C
A 105 221 60 70
B 130 266 80 90

27
F 155 311 105 115
H 180 356 125 -

3.6 Alat Uji Tahanan Isolasi


Alat Uji Tahanan Isolasi atau yang dikenal dengan megger merupakan
sebuah alat ukur untuk mengukur besarnya nilai tahanan isolasi, untuk sumber
tgangan maggeer memiliki tegangan 100V, 250V, 500V, 1000V, atau 2000V.
sedangkan untuk daerah pengukuran yang efektif adalah 0.02 sampaii 20
MegaOhm dan 5 sampai 5000 MegaOhm. Megger dengan baterai biasanya lebih
bagus dibandingkan dengan megger diputar dengan tangan.

Gambar 8 Alat Uji Tahanan Isolasi


Prinsip kerja dari alat megger itu sendiri terdiri dari dua kumparan V dan C
yang diletakkan secara bersilangan. Kumparan C merupakan besarnya arus yang
mengalir adalah E/Rx, Rx merupakan tahanan yang diukur sedangkan kumparan V
merupakan besarnya arus yang mengalir E/Rp dan kumparan C merupakan
besarnya arus yang mengalir yaitu E/R x. Berikut spesifikasi alat ukur yang
digunakan dalam pengujian yaitu MIT 520/2 [10]

Tabel 3.4 Spesifikasi Magger MIT 520/2[11]


Spesifikasi Keterangan
Voltage input range 85-265 V rms, 50/60 Hz, 60 VA
Battery life Typical capacity is 6 hours continuous
testing at 5 kV with a 100 MΩ load
Test voltages 250 V, 500 V, 1000 V, 2500 V, 5000 V
Accuracy (23 °C, 5 kV) ±5% @ 1 TΩ
±20% @ 10 TΩ

28
Guard 2% error guarding 500 kΩ leakage with
100 MΩ load
Display range Digital display (3 digits) 10 kΩ to 15 TΩ
Analogue display 100 kΩ to 1 TΩ
Short circuit/charge current 3 mA @ 5 kV
Short circuit/charge current <3 seconds per μF at 3mA to 5 kV
Short circuit/charge current <120 ms per μF to discharge from 5000 V
to 50 V
Capacitance measurement 10 nF to 50 μF (dependent on test
(500 V minimum test voltage) voltage)
Capacitance measurement ±5% ±5 nF
accuracy (23 °C)
Voltage output accuracy (0 °C +4%, -0% ±10 V of nominal test voltage
to 30 °C) at 1 GΩ load
Current measurement range 0.01 nA to 5 mA
Current measurement accuracy ±5% ±0.2 nA at all voltages
(23 °C)
Interference 1 mA rms per 250 V test voltage up to a
rejection maximum of 2 mA
Timer range Counts up to 99 minutes from start of test
Test regimes Auto IR
Lead set Three flexible silicon insulated leads with
compact clamp.
Safety Meets the requirements of IEC61010-1
CAT IV 600 V
EMC Meets the requirements of IEC61326-1
Operating uncertainties Refer to www.megger.com
Operating temperature -20 °C to 50 °C
Storage temperature -25 °C to 65 °C
Ingress protection (lid closed) IP65
Humidity 90% RH non-condensing at 40 °C
Dimensions 305 x 194 x 360 (mm) (12 x 7.6 x 14.2
inches)
Weight 6.75 kg (15 lb) approx

29
Bab IV Pembahasan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tahanan Isolasi


4.1.1 Tahanan Isolasi Pada Motor A
Nilai minimum Isolation Resistance lilitan pada motor dapat dhitung melalui
rumus pada tabel 2 Rekomendasi Tahanan Isolasi sebagai berikut
IRmin = (Vrms+1) x 100 MΩ
= (0.38+1) x 100 MΩ
= 138 MΩ
Berikut hasil pengukuran dengan temperature 33˚C pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4.1 Data Aktual Tahanan Isolasi Motor Air Compressor A

URUTAN PHASA

U1 V1 W1 U2 V2 W2
WAKTU
INSULATION RESISTANCE (MΩ)

15 Detik 1250 861 998 5550 5360 5900

30 Detik 1400 998 1111 7630 6500 8150

45 Detik 1830 1250 1230 8610 7680 9330

1 Menit 2230 1580 1620 9210 8340 10200

2 Menit 2860 1860 2270 10300 9630 11900

3 Menit 3120 2110 2640 10700 10400 12600

4 Menit 3960 2670 2970 10900 10900 13200

5 Menit 4730 3260 3250 11100 11300 13500

Perhitungan Nilai Rata-rata Insulation Resistance


Perhitungan nilai avarange insulation resistance dapat dihitung melalui rumus
4 sebagai berikut.

IRT =

30
Data pengukuran IRT
a. IRT U1

IRT =

= 3380 MΩ
b. IRT V1

IRT =

= 2296 MΩ
c. IRT W1

IRT =

= 2550 MΩ
d. IRT U2

IRT =

= 10442 MΩ
e. IRT V2

IRT =

= 10114 MΩ
f. IRT W2

IRT =

= 12280 MΩ

Factor koreksi temperature 40˚C untuk tahanan isolasi


Perhitungan nilai Factor koreksi temperature 40˚C untuk tahanan isolasi
dapat dihitung melalui rumus 2 sebagai berikut.

RC = KT . IRT

31
Gambar 4.1 Temperatur Motor Saat Pengujian Tahanan Isolasi A

Untuk koefisien KT
KT = (0.5)(40-T)/10
KT = (0.5)(40-33)/10
= 0.61

Sehingga Nilai Rc yaitu :


Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Tahanan
U1 V1 W1 U2 V2 W2
Rc
2062 1400 1857 6265 6068 7368

Dengan formula yang direkomendasikan oleh IEEE 43-2000 sehingga


tahanan isolasi minimum didapatkan 138 MΩ. Dari data yang diukur dalam
pengujian tahanan isolasi dengan pengukuran 33˚C lalu dikoreksi dengan factor
koreksi temperature 40˚C sehingga nilai tahanan isolasi yang di dapatkan sudah
memenuhi tahanan isolasi minimum sehingga tahanan isolasi di motor air
compressor di Stasiun compressor Pagardewa sangat baik.

4.1.2 Tahanan Isolasi Pada Motor B


Nilai minimum Isolation Resistance lilitan pada motor dapat dhitung
melalui rumus pada tabel 2 Rekomendasi Tahanan Isolasi sebagai berikut
IRmin = (Vrms+1) x 100 MΩ
= (0.38+1) x 100 MΩ

32
= 138 MΩ
Berikut hasil pengukuran dengan temperature 33˚C pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.3 Data Aktual Tahanan Isolasi Motor Air Compressor B

URUTAN PHASA

WAKTU U1 V1 W1 U2 V2 W2

INSULATION RESISTANCE (MΩ)

15 Detik 13600 15900 12800 13200 14900 12200

30 Detik 18700 27600 19700 17200 19200 21100

45 Detik 23400 36100 24800 24600 20300 28300

1 Menit 27300 42300 26300 28500 21200 34000

2 Menit 33000 63200 32900 36900 39700 49600

3 Menit 37200 87000 41100 43700 50000 58800

4 Menit 42800 92000 41400 45100 60200 79400

5 Menit 53600 98000 48400 56900 68600 90100

Perhitungan Nilai Avarange Insulation Resistance


Perhitungan nilai avarange insulation resistance dapat dihitung melalui rumus
4 sebagai berikut.

IRT =

Data pengukuran IRT


a. IRT U1

IRT =

= 38780 MΩ
b. IRT V1

IRT =

33
= 76500 MΩ
c. IRT W1

IRT =

= 38020 MΩ
d. IRT U2

IRT =

= 42220 MΩ
e. IRT V2

IRT =

= 47940 MΩ
f. IRT W2

IRT =

= 62380 MΩ

Factor koreksi temperature 40˚C untuk tahanan isolasi


Perhitungan nilai Factor koreksi temperature 40˚C untuk tahanan isolasi
dapat dihitung melalui rumus 2 sebagai berikut.

RC = KT . IRT

Gambar 4.2 Temperatur Motor Saat Pengujian Tahanan Isolasi

34
Untuk koefisien KT
KT = (0.5)(40-T)/10
KT = (0.5)(40-33)/10
= 0.61

Sehingga Nilai Rc yaitu :

Tabel 12 Hasil Perhitungan Tahanan Isolasi Motor Air Compressor B


U1 V1 W1 U2 V2 W2
Rc
23655 46665 23182 25754 29243 38052

Dengan formula yang direkomendasikan oleh IEEE 43-2000 sehingga tahanan


isolasi minimum didapatkan 138 MΩ. Dari data yang diukur dalam pengujian
tahanan isolasi dengan pengukuran 33˚C lalu dikoreksi dengan factor koreksi
temperature 40˚C sehingga nilai tahanan isolasi yang di dapatkan sudah
memenuhi tahanan isolasi minimum sehingga tahanan isolasi di motor air
compressor di Satsiun kompressor Pagardewa sangat baik.

4.2 Polarization Index (PI) Motor


Perhitungan nilai polarization index (PI) dapat dihitung melalui rumus 5
sebagai berikut.

PI =

4.2.1 Perhitungan Nilai Polarization Index (PI) motor A


a. PI U1

PI =

= 2.12
b. PI V1

PI =

35
= 2.06
c. PI W1

PI =

= 2.00

Sehingga dilihat dari data yang diuji dari tahanan isolasi bisa menentukan
polarization index, dari data di atas :

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan PI Motor Air Compressor A


PI U1 V1 W1
2.12 2.06 2.00

Dari data di atas menurut rekomendasi IEEE 43-2000 sesuai dengan kelas motor
yaitu F maka PI minimumnya 2.0 sehingga dapat disimpulkan bahwa PI dari data
diatas memenuhi kriteria PI minimum, dengan interprestasi tingkat nilai
polarization indeks yaitu baik sehinga motor yang digunakan pada air compressor
aman di operasikan, sedangkan U2 V2 W2 dengan IR1min sudah melebihi 5000MΩ
sehingga nilai PInya dianggap sudah baik.

4.2.2 Perhitungan nilai Polarization Index (PI) motor B

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan PI Motor Air Compressor B


Rc U1 V1 W1 U2 V2 W2
23655 46665 23182 25754 29243 38052

Dari data di atas menurut rekomendasi IEEE 43-2000 sesuai dengan kelas motor
yaitu F maka PI minimumnya 2.0, telah terlihat bahwa IR 1menit sudah melebihi
5000 MΩ sehingga untuk perhitungan PI sudah dianggap baik

4.3 Dielectric Absorption Ratio (DAR)


Perhitungan nilai Dielectric Absorption Ratio (DAR) dapat dihitung melalui rumus 6
sebagai berikut.

36
DAR =

4.3.1 Dielectric Absorption Ratio (DAR) Motor A


a. DAR U1

DAR =

= 1.59
b. DAR V1
DAR =
= 1.58
c. DAR W1

DAR =
= 1.45

Sehingga dilihat dari data yang diuji dari tahanan isolasi bisa menentukan
Dielectric Absorption Ratio, dari data di atas :

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan DAR Motor Air Compressor A


DAR U1 V1 W1
1.59 1.58 1.45

Dari data di atas menurut rekomendasi IEEE 43-2000 sesuai dengan kelas motor
yaitu F maka DAR minimumnya 1.25 sehingga dapat disimpulkan bahwa DAR
dari data diatas memenuhi kriteria DAR minimum, dengan interprestasi tingkat
nilai Dielectric Absorption Ratio yaitu baik sehinga motor bisa dioperasikan
secara aman, sedangkan U2 V2 W2 dengan IR1min sudah melebihi 5000MΩ
sehingga nilai DARnya dianggap sudah baik.

4.3.2 Dielectric Absorption Ratio (DAR) Motor B

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan DAR Motor Air Compressor B


Rc U1 V1 W1 U2 V2 W2
23655 46665 23182 25754 29243 38052

37
Dari data di atas menurut rekomendasi IEEE 43-2000 sesuai dengan kelas motor
yaitu F maka DAR minimuratmnya 1.25 sehingga dapat disimpulkan bahwa
dengan IR1min setiap phasa sudah melebihi 5000MΩ sehingga nilai DARnya
dianggap sudah baik.

4.4 Kelas Toleransi Temperatur Maximum Motor


4.4.1 Toleransi Temperatur Maximum Motor A
Untuk kelas toleransi temperature maximum motor saat sedang running
didapatan sebagai berikut :

Gambar 4.3 Temperatur Dari Motor Saat Sedang Running A

Dari hasil yang dapat disimpulkan bahwa temperature yang di dapat adalah
57.3˚C yang mana pada temperature tersebut sudah dibawah temperature yang
diperbolehkan yaitu 115 ˚C da-n temperatur maksimum yaitu 155 ˚C untuk motor
dengan servis factor 1.15 dan kelas motor F sehingga toleransi temperature
maksimum sudah baik.

4.4.2 Toleransi Temperatur Maximum Motor B


Untuk kelas toleransi temperature maximum motor saat sedang running
didapatan sebagai berikut :

38
Gambar 4.4 temperatur dari motor saat sedang running

Dari hasil yang dapat disimpulkan bahwa temperature yang di dapat adalah
52.8˚C yang mana pada temperature tersebut sudah dibawah temperature yang
diperbolehkan yaitu 115 ˚C dan temperatur maksimum yaitu 155 ˚C untuk motor
Bab V Penutup
dengan servis factor 1.15 dan kelas motor F sehingga toleransi temperature
maksimum sudah baik.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Tahanan isolasi motor pada air compressor di Stasiun Kompressor
Pagardewa baik pada motor air compressor A dan B keadaannya sudah
baik dan memenuhi standar IEEE 43-2000
2. Index polarization (PI) pada motor air compressor di Stasiun Kompressor
Pagardewa sudah memenuhi nilai minimum yaitu motor compressor A
dan B diatas PI minimum yaitu 2.0 dengan indeks prestasi yaitu baik
3. Dielectric absorpbsi Ratio (DAR) pada motor air compressor di Stasiun
Kompressor Pagardewa sudah memenuhi nilai minimum yaitu motor
compressor A dan B diatas DAR minimum yaitu 1.25 dengan indeks
prestasi yaitu baik
4. Toleransi temperature motor pada motor air compressor di Stasiun
Kompressor Pagardewa dengan nilai 52.8˚C yang mana pada temperature
tersebut sudah dibawah temperature yang diperbolehkan yaitu 115 ˚C dan
temperatur maksimum yaitu 155 ˚C untuk motor dengan servis factor
1.15 dan kelas motor F sehingga toleransi temperature maksimum sudah
baik.

39
5.2 Saran
1. Pemeliharaan tahanan isolasi , pengukuran polarization index ( PI ),
Dielectric arbsorbsi Ratio (DAR), dan toleransi temperature motor pada
motor air compressor di Stasiun Kompressor Pagardewa sangatlah
penting dilakukan paling minimal 8000jam sekali untuk meminimalisir
terjadinya penurunan nilai tahanan
2. Pengukuran polarization index ( PI ) dan Dielectric arbsorbsi Ratio
(DAR) pada motor air compressor di Stasiun Kompressor Pagardewa
sangatlah penting dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan ataupun
terkontaminasinya belitan pada motor yang diakibatkan oleh kotoran dan
debu
3. Jika indeks polarization (PI) dan Dielectric abrobsi Ratio (DAR) dibawah
nilai yang dianjurkan maka segera melakukan pemeriksaan secara lanjut.
4. Pemeliharaan toleransi temperature motor pada motor air compressor di
Stasiun Kompressor Pagardewa sangatlah penting dilakukan secara
berkala demi mencegah terjadinya temperature berlebih yang dianjurkan
sehinnga terjadinya kerusakan pada motor
5. Untuk tetap menjaga toleransi temperature motor agar tetap terjaga
dilakukan pembersihan kipas pada motor

40
DAFTAR PUSTAKA

41
LAMPIRAN

Alat Uji Tahanan Isolaasi

42
Pengambilan Data Tahanan Isolasi Pada Motor Air Compressor

43