Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN HASIL MINI RESEARCH

TRADISI SEDEKAH BUMI DI DESA GEDONGSARI KAB. BLORA


Tugas ini disusun guna memenuhi mata kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen pengampu: Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I.

Nama : Affina Melga Wardani


NIM : 173211067
Kelas : 4B Sastra Inggris

SASTRA INNGRIS
FAKULTAS ADAB DAN BAHASA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018/2019
A. Latar Belakang
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama dan telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat. Hal yang paling mendasar dari tradisi yaitu adanya informasi yang
diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu
tradisi akan punah.
Masyarakat Jawa terkenal dengan beragam jenis tradisi atau budaya yang ada di dalamnya.
Dari beragam macamnya tradisi yang ada di masyarakat jawa, hingga sangat sulit untuk
mendeteksi serta menjelaskan secara rinci terkait dengan jumlah tradisi yang ada dalam
masyarakat Jawa tersebut. Salah satu tradisi masyarakat Jawa yang sampai sekarang masih tetap
dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas bagi masyarakat Jawa pada
setiap tahunnya adalah Sedekah Bumi atau biasa dikenal dengan “gas deso”. Sedekah Bumi
biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat Jawa yang berpotensi sebagai petani, nelayan
yang menggantungkan hidup keluarga dan sanak saudara atau sanak keluarga mereka dari
mengais riski dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.
Di dalam budaya masyarakat Jawa, Sedekah Bumi merupakan salah satu jenis kegiatan adat
yang disakralkan. Hal ini dipercaya di banyak tempat di Pulau Jawa, termasuk di Kabupaten
Blora. Sedekah Bumi merupakan salah satu acara rutin setiap tahunnya di desa-desa se-
Kabupaten Blora. Selain menjadi kegiatan adat yang pantang ditinggalkan, Sedekah Bumi juga
merupakan waktu berkunjung antar warga desa untuk menikmati sajian khas Sedekah Bumi
seperti Dumbeg, Pasung, Nogosari dan Bugis.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah tradisi Sedekah Bumi di Desa Gedongsari?
2. Kapan dan dimana tradisi Sedekah Bumi di Desa Gedongsari dilaksanakan?
3. Apa hikmah dibalik tradisi Sedekah Bumi tersebut?

C. Analisis Laporan
1. Sejarah Sedekah Bumi
Sejak puluhan atau bahkan ratusan yang lalu warga desa Gedongsari sudah menggelar tradisi
Sedekah Bumi. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sejarahnya karena para leluhur yang
mengetahui sejarah tersebut sudah tiada. Sedekah Bumi merupakan tradisi yang dilakukan secara
turun temurun dan terus dilestarikan hingga kini. Tradisi ini digelar sebagai wujud rasa syukur
kepada Allah atas limpahan berkah berupa panen padi setiap tahunnya.
2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Sedekah Bumi di desa Gedongsari ini biasanya dilaksanakan usai panen raya pada hari Rabu
Pon. Tradisi ini dilaksanakan dengan para warga desa membawa sajian khas Sedekah Bumi
seperti Pasung, Dumbeg, Nogosari, dan Bugis ke Balai Desa untuk berdoa bersama dipimpin oleh
Modin desa. Setelah itu, para warga akan saling bertukar makanan dan kembali ke rumah untuk
menyaksikan pertunjukan seni yang diselenggarakan yaitu barongan. Pertunjukan seni dalam
sedekah bumi berbeda di masing – masing desa. Secara umum dalam sedekah bumi akan digelar
pertunjukan wayang kulit, kethoprak, barongan atau pertunjukan seni lainnya. Tradisi ini juga
mengundang kerabat dan teman-teman dari desa lain untuk menikmati makanan yang telah
disediakan. Dengan adanya acara ini suasana keakraban antara satu sama lain akan lebih erat,
baik itu dengan sanak keluarga, kerabat atau teman, dan juga dengan masyarakat sekitar.
3. Hikmah Sedekah Bumi
Bagi warga desa Gedongsari Sedekah Bumi merupakan wujud rasa syukur kepada Allah atas
hasil pertanian yang telah dipanen yaitu padi. Masyarakat Islam masih banyak yang melakukan
tradisi kebudayaan ini karena memang pada dasarnya mereka berkeyakinan bahwa wujud rasa
syukur atas hasil panen padi pada tiap tahunnya. Dalam Islam, acara ini memang tidak ada dalil
untuk melakukannya. Namun, Sedekah Bumi merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah
yang sudah diberikan kepada masyarakat Jawa yang niatnya untuk bersedekah. Maka dalam
Islam memperbolehkan asal tidak melanggar nilai-nilai keislaman.
Sedekah Bumi juga dapat mempererat persaudaraan, dengan menghadiri Sedekah Bumi para
warga bertemu dan berkumpul untuk berdoa dan bersyukur serta menyiapkan makanan untuk
dimakan bersama yang dapat memupuk rasa kekeluargaan dan mempererat tali persaudaraan.

Foto diambil pada tanggal 6 Mei 2019 pukul 19:45 setelah sholat Tarawih di Mushola RT.04
RW.01 wawancara bersama Imam Bapak Jawahir.

D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil laporan yang telah diuraikan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
Sedekah Bumi merupakan wujud rasa syukur kepada Allah atas hasil pertanian yang telah
dipanen yaitu padi. Sekaligus ajang silaturahim dan berbagi kepada sesama.
Sedekah Bumi merupakan warisan budaya Jawa yang sudah berakulturasi dengan nilai-nilai
Islam dan mendatangkan banyak manfaat bagi kemaslahatan sosial. Sudah sepantasnya kita
merawat dan melestarikan budaya tersebut. Karena selain sebagai umat Islam, kita juga tinggal di
Jawa dan kita harus menghormati nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat Jawa.