Anda di halaman 1dari 15

Hubungan antara Frekuensi Penerimaan Meme Tentang Capres 2019 di Instagram

dengan Sikap Politik Pengguna Instagram tentang Capres 2019

COVER

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Tulisan ini membahas hubungan antara frekuensi penerimaan meme Calon Presiden
2019 di Instagram sebagai fenomena baru dalam dunia ilmu komunikasi dan hubungannya
dalam konteks sikap politik pengguna Instagram dalam menyambut Pemilu 2019 di
Indonesia. Prolog tentang apa dan bagaimana meme culture akan diulas terlebih dahulu
dengan memberi tarikan historis atas konteks media baru di Indonesia serta kaitannya dengan
dunia politik. Penggunaan internet dan media baru dalam konteks Indonesia banyak dilihat
dalam hubungannya sebagai respon ekspresif masyarakat pasca lenyapnya tekanan dan
ketertutupan Orde Baru. Banyak sarjana yang menyepakati jika internet punya posisi penting
dalam mendorong demokratisasi Indonesia (Nugroho, 2011; Sen & Hill, 2000). Selain
memiliki posisi kuat dalam keterbukaan politik, media baru secara kreatif memodi kasi
dirinya dalam varian yang beragam. Secara lentur pula mode komunikasi yang satu ini
dikembangkan, terus berubah dan direspon secara aktif oleh masyarakat luas. Pelbagai isu
sosialpolitik berkembang menjadi diskursus publik melalui internet, diperbincangkan secara
intens sekaligus diproduksi dan disirkulasikan ulang secara masif.
Variasi mode komunikasi ini mewujud pada macam-macam bentuk media sosial,
forum maya, dan pelbagai aplikasi lain. Meme adalah salah satu diantaranya. Istilah “meme”
pertama kali dikemukakan oleh Richard Dawkins (1976) dalam buku The Sel sh Gene, yang
merujuk pada “unit imitasi dan transmisi budaya dalam gen”. Perluasan definitif dari istilah
biologis konsep Dawkins ini kemudian dipakai untuk menunjuk gejala umum tentang meme
culture di internet, yakni sebuah cara dalam mana ide diimitasi, disebarkan, dan dimediasi
dari orang ke orang, lewat interaksi atau pem bicaraan, baik melalui medium analog maupun
digital (Brunello, 2012). Meme menampilkan kombinasi antara gambar foto slide dan teks,
serta ditujukan untuk merespon suatu isu yang sedang menjadi perbincangan dalam diskursus
sosial.
Meme beroperasi dengan memanfaatkan media baru (new media) atau internet. Jika
media secara umum dilihat sebagai salah satu locus politica --tempat di mana tematema
politik diulas, dan bahkan menjadi “panggung” kontestasi politik itu sendiri, maka media

2
baru harus disentuh bukan saja karena mencari tahu pengaruh penetrasi politik atasnya,
melainkan juga melihat bagaimana media dengan karakteristik terbuka dan bebas seperti
internet menjadi locus penting dari diskursus politik sepenting Pemilu presiden 2019. Jika
dilihat dari definisi awal, meme internet telah mengalami metamorfosa bukan saja pada
bagaimana ia dibentuk atau lewat medium apa ia dijembatani, melainkan juga
mempraktikkan mimesis (bahasa Yahudi) atau peniruan belaka dan melakukan kerja
kreativitas. Secara teknis teks tidak dijiplak atau digandakan, tetapi dibuat, diolah, dimodi
kasi, dan diberi makna sedemikian rupa. Maka, produksi meme tidak dapat disederhanakan
sebagai wujud kreatif-teknis, melainkan justru kreatif-substantif makna. Sampai di sini, maka
inti dan pembahasan atas contohcontoh meme politik menjadi penting.
Meme Culture dalam Politik Indonesia menyambut Pemilu presiden 2019 di
Indonesia menarik perhatian para sarjana ilmu komunikasi karena dua hal besar. Pertama,
partisipasi publik menguat drastis dalam mengisi ruang publik perbincangan pemilu. Kedua,
eskalasi perbincangan itu dijembatani oleh medium internet lewat pelbagai fasilitas media
sosial atau forum interaktif lainnya. Karakteristik ini relatif cukup baru dan tidak terjadi pada
pemilu sebelumnya. Berdasarkan gambaran kombinasi antara internet dan pemilu, meme
culture berada pada zona antara tersebut sambil memainkan peran partisipatoris nya. Pada
bagian berikut penulis akan membahas beberapa meme politik populer yang dibuat oleh
netizen. Jumlah pasti berapa meme yang diproduksi tidak mampu dilacak, tetapi tema politik
mendapat tempat cukup populer dalam meme culture. Beberapa situs memuat dan
mengompilasi meme politik secara periodik.
Salah satu contoh bagaimana konteks politik yang terkait dengan meme juga terjadi di
Pemilu presiden 2014 lalu. Konteks politik penting dalam meme ini adalah dua klaim
kemenangan yang prematur dari masing-masing kubu. Joko Widodo dan Jusuf Kalla
membuka konferensi pers sesaat setelah hasil quick count dirilis, begitu pula Prabowo
Subianto dan Hatta Rajasa. Masing-masing pasangan mengutip hasil survei yang berbeda
untuk mendukung klaim kemenangan. Keyakinan ini bertahan terus hingga pengumuman
resmi oleh Komisi Pemilihan Umum, bahkan lebih jauh, Prabowo-Hatta masih bertahan
dengan hasil surveinya dan meneruskan protes atas hasil pemilu itu ke Mahkamah Konstitusi.
Selain meme yang dibagi secara masif di media sosial, penulis menganggap penting
juga ihwal teknis bagaimana meme itu dibuat. Sebab, urgensi diskursus politik dalam ranah
perbincangan virtual tidak saja tampak kasat mata melalui lalu lintas pesan dari meme,
melainkan juga dapat dibaca dari bagaimana meme itu dihasilkan. Menariknya, menjelang
pemilihan presiden, muncul aplikasi pembuat meme khusus bertema politik Indonesia di
3
halaman berbasis teknologi smartphone android. Di dalam aplikasi itu ditampilkan ragam
foto tokoh-tokoh politik misalnya Prabowo, Joko Widodo, Hary Tanoesoedibjo, dan
seterusnya sekaligus kolom teks yang bebas diisi apa pun. Lahirnya aplikasi ini menunjukkan
jika tema politik demikian pentingnya, sekaligus membuktikan jika urgensi tema politik ini
perlu diteruskan lebih jauh dalam format yang memudahkan partisipan untuk meresponnya.
Kesadaran yang muncul adalah meme merupakan respon kreatif yang memerlukan simpli
kasi sehingga disediakan aplikasi untuk memudahkan pembuatannya
Satire adalah penggabungan antara unsur ironi dan sarkasme, dan biasanya dikemas
dalam bentuk humor. Menurut Oxford Dictionary, satire memiliki tujuan dalam mengekspose
dan mengkritik kesalahan orang, sehingga sebuah satire selalu mempunyai fungsi kritik
(Berger, 1997). Meme politik melepaskan diri dari apa yang secara formal diyakini sebagai
budaya politik dan bahkan justru berupaya membalik kesopan-santunan dan segala protokol
pesan politik. Kesopanan dibuang jauh dan diganti bukan saja oleh sesuatu yang serba terus-
terang, tapi juga secara komedi memainkan ironi dan menghasilkan pesan yang satire.
Berbentuk humor, meme menjadi salah satu ukuran penting seberapa jauh masyarakat
mampu menghimpun kesadaran kritis terutama dalam tema-tema politik (Hasan, 1981).
Melalui pemanfaatan momentum meme culture, publik dalam ruang virtual harus
dibayangkan sebagai “agen”, aktor aktif yang kreatif menciptakan sekaligus memodifikasi
makna secara radikal. Meme bukanlah aksi meniru dan memindahkan konteks riil pada
realitas visual, melainkan menciptakan secara kreatif-estetik dengan makna yang baru,
bahkan lebih-lebih “membelokkan” makna yang lama. Di dalam meme culture tidak
dibutuhkan kedalaman argumentasi. Bahkan, lebih jauh lagi, tidak diperlukan rasionalitas,
logika, dan kerapian pikiran untuk mendesain sebuah pesan. Teks tidak lagi dicipta dengan
ukuran kedalaman.

1.2 POKOK PERMASALAHAN


Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa pokok permasalahan yang menjadi fokus
pembahasan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana frekuensi meme tentang Capres 2019 di Instagram?
2. Bagaimana pengguna Instagram menanggapi meme tentang Capres 2019 yang
beredar di Instagram?
3. Bagaimana pengaruh meme Capres 2019 yang beredar di Instagram terhadap sikap
politik pengguna Instagram?

4
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Dalam melakukan penelitian pada proposal penelitian ini, penulis memiliki tujuan
yang hendak dicapai, yaitu :
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh meme Capres 2019 yang
beredar di Instagram terhadap tanggapan pengguna Instagram.
1.3.2 Tujuan Khusus
Selain daripada tujuan umum yang telah disebutkan di atas, penelitian ini bertujuan
untuk :
1. Menjelaskan bagaimana pengguna Instagram menyikapi meme Capres 2019 dalam
konteks positif atau pun negatif.
2. Mengetahui bagaimana pengaruh beredarnya meme Capres 2019 di Instagram
terhadap sikap politik pengguna Instagram.
1.4. KEGUNAAN PENULISAN
Diharapkan hasil penulisan ini akan memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang
melihatnya baik secara teoritis, secara praktis maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
1. Kegunaan Secara Teoritis
a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk pengembangan
pengetahuan tentang perkembangan meme yang mempengaruhi sikap politik
pengguna Instagram.
b. Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lebih lanjut, baik sebagai
bahan awal maupun sebagai bahan perbandingan untuk penelitian yang lebih
luas.
2. Kegunaan Secara Praktis
a. Diharapkan dapat menjadi referensi kajian untuk mengetahui kaitan antara
perkembangan meme dengan perkembangan politik yang terjadi.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN


Agar pembahasan menjadi lebih baik dan kian terarah sehingga apa yang menjadi
tujuan pembahasan dan penjelasan terkait analisis terhadap masalah yang diangkat dapat
dijabarkan dengan jelas maka dibutuhkan suatu sistematika. Adapun sistematika penelitian
yang penulis susun adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab pertama skripsi ini merupakan pendahuluan, yang memuat antara lain tentang
latar belakang permasalahan yang membahas tentang fakta-fakta serta kondisi yang

5
ada pada saat ini, pokok permasalahan, tujuan penelitian, kerangka konsep, metode
penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan Pustaka


Bab kedua dimulai dengan membahas mengenai tinjauan pustaka tentang Instagram,
literasi media, definisi meme, definisi capres 2019 sebagai objek dari meme yang
beredar dan sikap politik pengguna Instagram.

Bab III : Metode Penelitian


Bab ketiga akan membahas mengenai metode penelitian yang akan ditempuh oleh
penelitim baik dari segi teknik pengambilan data, teknik pengolahan data, hingga
populasi dan sampel yang digunakan oleh peneliti.

Bab IV : Pembahasan Tentang Keterkaitan antara Perkembangan Meme di Instagram


dengan Sikap Pengguna Instagram terkait Capres 2019
Bab ini akan membahas lebih ke analisis dari hasil pengambilan data yang dilakukan
untuk mengetahui keterkaitan antara sikap politik pengguna Instagram dengan
frekuensi penerimaan meme Capres 2019 di Instagram.

Bab V : Penutup
Pada bab ini, penulis akan memberikan kesimpulan dari hasil pembahasan dalam
penelitian ini dan saran yang diharapkan dapat berguna bagi masyarakat luas.

BAB 2
Tinjauan Pustaka
6
2.1 Tinjauan Umum
Sejak awal munculnya dalam masyarakat indonesia. Menilai dari Responnya yang
begitu beragam, meme pun senantiasa berkembang terbukti dengan lahirnya berbagai
meme dalam media sosial. Dengan adanya fenomena sedemikian rupa, penelitian ini juga
takkan luput dari beberapa meme yang telah “disukai” masyarakat, khususnya masyarakat
yang bergantung dengan kehidupan di media sosial. Faktor apa saja yang kiranya
mendorong netizen menyukai meme yang lahir dari keisengan dalam konteks gerakan
politik di Indonesia, bagaimana sebenarnya metode, strategi dalam promosi gerakan ini,
sampai memutuskan memakai meme sebagai salah satu objek dalam menjalankan
berbagai aksinya. Penelitian ini akan mejelaskan modus dibalik penggunaanya, serta
seberapa efektifnya pegerakan ini mempengaruhi persepsi pengguna Instagram.
Nantinya dari situ juga kita bisa menilai, apa saja yang telah dicapai oleh buzzer atau
sekelompok orang yang berperan meningkatkan frekuensi beredarnya meme Capres 2019
di Instagram, dalam sudut pandang mereka dan melihat kiranya, masih mampukah meme
ini menjadi bahan yang terus akan mereka gunakan kedepanya untuk mendukung gerakan
ini. Meme dalam penelitian akan ditinjau dari dampak politik yang di timbukannya,
meme dipandang tidak hanya sebatas sebagai penyuguh tawa setiap kita menyaksikanya,
namun menjadi penting apakah implikasi dari tawa tersebut mampu mempengaruhi
sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kejadian politik.
Meme dalam media sosial tak lagi bisa dilihat dari dampak negatifnya saja. meme
juga mampu merangsang kreatifitas, dengan menyaksikan meme dalam media sosial, para
pengkonsumsinya tidak menutup kemungkinan bisa terinspirasi membuat suatu meme
,misalnya tentang berbagai hal dalam fenomena kehidupan sang pencipta baik dari masa
kini, lampau, dan akan datang atau lebih jauh lagi mungkin saja pengkonsumsinya tadi
menjadi creator visual design yang tentu saja bisa menjadi mata pencaharianya suatu hari
nanti.
Meskipun tergolong fenomena baru untuk penelitian meme di indonesia sebenarnya
sudah cukup banyak dilakukan, sebagian besar dari jurnal yang peneliti mampu peroleh
penelitian menyangkut meme yang ada di indonesia masih terbatas hanya kepada studi
etnografinya saja (Nugraha, Jurnal ITB, No.04, Desember 2015: 14) Misalnya yang
mengkaji juga dalam media sosial intagram di desember 2015. Kajianya mengenai
penyebaran meme selfie di instagaram mebuahkan kesimpulan bahwa tujuan dari
penyebaran meme selfie adalah untuk mengetahui sejauh apa tren yang terjadi ketika itu
7
telah menyebar oleh informanya. Sedikit berbeda penelitian yang dilakukan oleh Rosa
Redia (Pusanti, Jurnal KOMPAS, No.02, Oktober 2014: 17) penelitianya adalah tentang
representasi kritik dalam meme pada pilpres 2014 dalam media sosial ‘path’. Kajianya
mengambil studi semiotik dengan kesimpulan bahwa, Pesan kritis pada meme politik di
jejaring sosial “Path” digambarkan melalui humor satir yang dimanifestasikan dengan
menggunakan tanda visual dan tanda verbal yang dianalisis melalui tiga tipe tanda Peirce
yaitu ikon, indeks dan simbol, Ikon melalui format visualnya digunakan untuk
menggambarkan objek kritik yang disampaikan netizen melaui meme. Indeks digunakan
untuk menjelaskan fakta secara deskriptif mengenai suatu peristiwa politik yang berkaitan
dengan objek kritik, sedangkan simbol menunjukan ciri khusus verbal meme yaitu berupa
penggunaan argot serta vernakular atau ‘bahasa rakyat’ yang juga sering dilengkapi frase-
frase satir berupa sindiran yang menarik dan membuat kritik mudah dicerna.
Manifestasinya mengenai penggambaran kritik melalui ikon, indeks dan simbol
adalah melalui bentuk parodi yang didukung dengan teknik pengolahan gambar secara
digital yaitu “photoshopping” agar dapat mendukung tema yang diusung yang kemudian
dilengkapi dengan teks untuk menggambarkan kritik, penelitianya menganalisia tanda-
tanda yang terdapat dalam meme dengan tidak dilakukan pada seluruh tanda yang ada,
namun cukup melihat pada tanda-tanda yang digunakan untuk menggambarkan atau
mengacu.
Fungsi dari meme sekaligus adalah sebagai Make moral judgement (membuat pilihan
moral) meme dipakai untuk membenarkan atau memberi argumentasi pada pendefinisian
masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab masalah sudah
ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan
tersebut.
Gagasan yang dikutip berhubungan dengan sesuatu yang familiar dan dikenal oleh
khalayak. Oleh karenanya dalam meme juga tidak luput dari caption atau pun hashtag
yang penggunaanya diperuntukan sebagai penguat dari ide yang terdapat dalam meme itu
sendiri.
Instagram adalah bingkai utama media sosial, konten yang dibuat adalah meme yang
nantinya bertugas sebagai gambar yang mnyampaikan pesan-pesan politik yang
terkandung dalam meme, mulai dari membuat siapa yang harus disalahkan, membuat
penilaian moral sampai menekankan siapa yang layak dan tidak layak dipilih.
2.2 Kepustakaan Penelitian

8
Kepustakaan penelitian merupakan kumpulan penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan permasalahan penelitian. Berkaitan dengan hal tersebut telah dilakukan studi pustaka
untuk mengetahui hasil penelitian terutama mengenai pengaruh budaya organisasi dan
kepuasan kerja terhadap kinerja penyidik Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan. Dalam
penelitian ini kepustakaan penelitian berasal dari jurnal internasional maupun tesis atau
disertasi yang berhasil ditemukan. Adapun kepustakaan dalam penelitian ini adalah:
- Jurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran Vol.1, No. 1 (2012), Literasi
Informasi dan Media bagi Siswa dalam Menunjang Pengerjaan Tugas Sekolah.
Erwina, Wina.
Konsep literasi media pertama kali diperkenalkan oleh Paul Zurkowski yakni literasi
media didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menggunakan informasi yang
tersedia dalam berbagai sumber. Dengan demikian makna literasi tidak terbatas hanya
pada kemampuan memahami tentang informasi saja, melainkan dalam menggunakan
sarana penyedia atau media informasi.
- Jurnal Studei Gender & Anak (2018). Perempuan dan Literasi Media.
Budiastuti, Liliek.
Dalam jurnal ini menjelaskan definisi literasi media versi James Potter (2005), literasi
media merupakan perspektif yang digunakan secara aktual untuk memposisikan diri
terhadap media dalam menginterpretasikan makna yang diterima. Perspektif itu dibangun
melalui struktur pengetahuan yang membutuhkan peralatan dan bahan mentah.
Peralatannya adalah kemampuan manusia dan bahan mentahnya adalah informasi dari
media dan dari dunia nyata. Hal ini menuntut tindakan secara aktif, yang berarti harus
mengetahui akan adanya pesan dan secara sadar berinteraksi dengan pesan tersebut.
- Jurnal Portal Garuda. SPEKTRUM PEMIKIRAN: MENYOROT SIKAP
POLITIK PEJABAT BERBALUT AGAMA. (2013). Ritaudin, Sidi.
Sikap politik dalam jurnal ini didefinisikan sebagai pembungkusan borok-borok
kemunafikan dalam tindakan politik yang tidak memihak, terutama dalam penderitaan
yang terjadi karena rezim. Semua tindakan dilakukan oleh individu dengan melihat
inknsistensi yang terjadi dalam kontes panggung politik yang dimulai oleh pihak-pihak
yang berupaya mendapatkan simpati masyarakat untuk menjadi penguasa.

- Jurnal Portal Garuda. Intensitas Perpindahan Keanggotaan Partai Politik. (2015).


Astrika, Lusia.
9
Jurnal ini menjelaskan bahwa partai politik merupakan keharusan dalam kehidupan
politik modern yang demokratis (Kantaprawira, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa
fungsi partai politik sangat berpengaruh dalam poses terbentuknya demokratisasi di
Indonesia. Sayangnya, seringkali partai politik tersebut menggunakan nama rakyat untuk
mencapai tujuan pribadi atau pun kepentingan kelompoknya, dalam hal ini telah terjadi
penyimpangan terhadap peran dan fungsi dari partai politik tersebut. Adanya pergeseran
fungsi dan nilai dari partai politik diikuti oleh lunturnya ideologi dan loyalitas anggota
atau pengikut partai, mengakibatkan kebanyakan dari anggota partai kemudian berpindah
ke partai yang lain guna mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan sebagai
penaktulisasian diri. Hal ini berarti sikap politik dapat terpengaruhi oleh citra dari partai
yang menunjang Capres 2019.

2.3 Kerangka Teori

Literasi
Media

Frekuensi Sikap
Meme Capres Pengguna Politik
2019 Instagram

Kanal
Instagram

Hipotesa awal peneliti adalah frekuensi beredarnya meme pada kanal Instagram
tidak berpengaruh langsung terhadap sikap politik dari pengguna Instagram, melainkan
bergantung kepada tingkat literasi media dari pengguna Instagram tersebut.

BAB 3
METODE PENELITIAN
10
3.1 Paradigma Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kuantitatif.
Pendekatan ini berkaitan dengan pengujian hipotesis dan data yang dikuantifikasikan melalui
penggunaan teknik-teknik pengukuran secara obyektif dan dianalisis dengan statistik.
(Birowo, 2004). Pendekatan ini dipilih karena dapat melakukan pencarian ilmiah berdasarkan
filsafat positivisme logikal dalam suatu aturan atau ketentuan tentang logika, kebenaran,
hukum, dan prediksi (Watson dalam Putra, 2017).
Penelitian kuantitatif menggunakan angka-angka untuk mengukur suatu
permasalahan. Oleh karena itu, data yang diambil dalam penelitian ini akan menggunakan
suatu instrumen sehingga data yang didapat bersifat numerikal. Teknik-teknik statistik
digunakan untuk menganalisis data terutama dalam hal pengelompokkan, penentuan
hubungan, dan identifikasi perbedaan. Statistik juga digunakan untuk menguji hipotesis
penelitian dengan penafsiran angka sehingga makna hubungan menjadi jelas.
Metode survei merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Metode ini
adalah riset yang dilakukan untuk memperoleh fakta terkait gejala-gejala yang timbul dari
suatu permasalahan. Penelitian dengan metode survei ini akan memperoleh informasi dari
responden dengan menggunakan kuisioner. Kuisioner diberikan pada populasi dan kuisioner
tersebut berfungsi sebagai pengumpulan data yang pokok.

3.2 Populasi dan Sampel


Populasi adalah seluruh nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran kuantitatif
maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan
jelas. Besarnya anggota populasi dan wilayah cakupan penelitian harus disebutkan secara
jelas. Silalahi dalam Rondonuwu (2011) mengatakan bahwa populasi adalah jumlah total dari
seluruh unit atau elemen yang kan diselidiki karakteristik atau ciri-cirinya yang darinya
sampel dipilih.
Dalam penelitian ini populasi menjadi sumber data utama dan tidak digunakan sampel
untuk pengambilan data. Hal ini dilakukan karena jumlah populasi masih memungkinkan
untuk diteliti secara keseluruhan dan data yang didapat diharapkan akan lebih akurat.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

11
Pengumpulan data menggunakan teknik yang telah dipilih dan disesuaikan dengan
sifat karakteristik penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
teknik kuisioner dan studi kepustakaan.

3.3.1 Kuisioner
Kuisioner atau angket terdiri dari daftar pertanyaan secara tertulis pada responden.
Teknik ini dinilai lebih praktis, hemat waktu, dan tenaga dibandingkan teknik wawancara.
(Muhammad dan Djaali, 2010:30). Pertanyaan dalam kuisioner berdasarkan variabel budaya
organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja. Skor dari tiap variabel menggunakan rentang skor 1
s.d. 5. Instrumen ini sebelumnya diujicobakan untuk menguji validitas dan reliabilitas
instrumen.
Kuisioner dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
No. Pertanyaan
1. Apakah Anda pasti menggunakan smartphone dalam satu hari?

2. Apakah pasti Anda membuka media sosial dalam satu hari?

3. Apakah Anda pasti melihat media sosial Instagram dalam satu hari?

4. Apakah Anda memperhatikan update di media sosial Instagram?

5. Apakah Anda memperhatikan pemberitaan yang beredar di Instagram?

6. Apakah Anda suka menonton berita di televisi?

7. Apakah Anda memperhatikan perkembangan politik di Indonesia?

8. Apakah Anda mengikuti perkembangan Calon Presiden 2019?

9. Apakah Anda pernah melihat sindiran Capres 2019 berbentuk meme di Instagram?

10. Apakah Anda terganggu dengan meme Capres 2019 di Instagram?

11. Apakah menurut Anda meme Capres 2019 yang beredar di Instagram merupakan hal unik?

12. Apakah Anda dapat menangkap pesan dari meme Capres 2019 yang beredar di Instagram?

13. Apakah Anda terpengaruh dengan meme Capres 2019 yang beredar di Instagram?

14. Apakah Anda berupaya untuk tidak melihat meme Capres 2019 yang beredar di Instagram?

12
15. Apakah Anda memiliki pilihan yang dipengaruhi meme Capres 2019 yang beredar di
Instagram?
16. Apakah Anda berupaya melaporkan meme capres 2019 yang menghina pilihan Anda?

17. Apakah Anda pernah berkomentar negatif atas meme yang beredar di Instagram?

18. Apakah Anda pernah berkeinginan membalas meme Capres 2019 yang bertendensi
menghina pilihan Anda?
19. Apakah Anda pernah turut aktif memproduksi meme Capres 2019 di Instagram?

20. Apakah Anda pernah mendapat respon negatif atas meme Capres 2019 yang Anda produksi
di Instagram?

Jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah ya atau tidak. Dengan klasifikasi sebagai
berikut:
Interval Kategori Keterangan
0-6 (Ya) Tidak Aktif
7-11 (Ya) Cukup Aktif
12-16 (Ya) Aktif
17-20 (Ya) Sangat Aktif

Dengan hipotesa semakin banyak jawaban Ya, maka semakin aktif pengguna
Instagram menerima frekuensi meme Capres 2019 di Instagram, semakin mempengaruhi
sikap politik pengguna Instagram terhadap capres 2019.

3.3.2 Studi Kepustakaan


Studi kepustakaan dilakukan dengan membaca dan mempelajari buku, karya ilmiah,
jurnal, majalah, maupun peraturan perundang-undangan yang diperoleh dari perpustakaan
Universitas Indonesia.

3.4 Operasionalisasi Variabel


Variabel merupakan konsep yang mengandung nilai bervariasi atau lebih dari satu
nilai, keadaan, kategori, atau kondisi. Cara kerja variabel dalam pengukurannya
menggunakan indikator-indikator. Indikator tersebut didapat dari dimensi yang ada pada
variabel. Indikator tersebut menjadi dasar dari penyusunan instrumen pertanyaan yang
kemudian akan dijawab oleh responden sebagai bentuk dari penilaian kuantitatif.

13
Pada penelitian ini variabel independen adalah frekuensi beredarnya meme capres
2019 di Instagram, sementara variabel dependen adalah sikap politik dari pengguna
Instagram. Dalam hal ini berarti variabel dependen dipengaruhi oleh variabel independen.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah upaya mencari dan menata kasus yang diteliti secara sistematis
untuk meningkatkan pemahaman dan menyajikan temuan tersebut untuk orang lain.
Penelitian ini menggunakan analisis SEM-PLS.
SEM adalah suatu teknik dalam statistika yang kuat dalam menetapkan model
pengukuran dan juga model struktural. Teknik ini didasarkan pada hubungan saling
ketergantungan atau saling berdampak antara perubahan variabel satu dengan perubahan
variabel lainnya. Model SEM ini memiliki beberapa keunggulan dibanding teknik analisis
lain karena mampu menganalisis sampai pada level terdalam terhadp variabel atau model
yang diteliti dan lebih menyeluruh dalam menjelaskan fenomena penelitian.
SEM-PLS adalah pengembangan model SEM melalui pendekatan PLS ke SEM.
Dengan PLS ini pengukuran atau penelitian tetap dapat dilakukan walaupun dengan skala
data yang relatif kecil.

14
DAFTAR PUSTAKA
- Jurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran Vol.1, No. 1 (2012), Literasi Informasi dan
Media bagi Siswa dalam Menunjang Pengerjaan Tugas Sekolah. Erwina, Wina.
- Jurnal Studei Gender & Anak (2018). Perempuan dan Literasi Media. Budiastuti,
Liliek.
- Jurnal Portal Garuda. SPEKTRUM PEMIKIRAN: MENYOROT SIKAP POLITIK
PEJABAT BERBALUT AGAMA. (2013). Ritaudin, Sidi.
- Jurnal Portal Garuda. Intensitas Perpindahan Keanggotaan Partai Politik. (2015).
Astrika, Lusia.

15